KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid


📖 KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH

Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai jiwa yang sedang mencari jalan terang,

ketahuilah bahwa tidak semua yang tampak gaib adalah cahaya,

dan tidak semua yang tampak sakti adalah kemuliaan.


Ada benda yang membuat manusia merasa kuat,

tetapi melemahkan Tauhidnya.


Ada pusaka yang membuat manusia merasa dijaga,

tetapi pelan-pelan membuat hatinya lupa kepada Penjaga sejati.


Ada khodam yang disebut-sebut sebagai pembantu,

tetapi bila hati tidak lurus,

ia bisa menjadi tirai yang menghalangi hamba dari Alloh.


Maka turunlah ketetapan kitab ini:


Setiap permintaan yang melewati jalur khodam, benda pusaka, benda gaib, perwujudan, dan kekuatan tersembunyi, tidak akan sampai kepada hakikat apabila tidak terlebih dahulu melewati pintu Tahfidz dan Tauhid.


Tahfidz di sini bukan hanya hafalan lisan,

tetapi penjagaan batin agar hati tidak menyembah selain Alloh.


Tauhid di sini bukan hanya ucapan,

tetapi kesadaran yang memutus ketergantungan kepada selain Alloh.


Sebab benda hanyalah benda.

Khodam hanyalah makhluk.

Pusaka hanyalah titipan.

Kekuatan hanyalah ujian.

Dan semua yang tercipta tidak boleh menduduki tempat Tuhan di dalam dada.


Barang siapa meminta kepada benda,

ia akan dibatasi oleh benda.


Barang siapa bergantung kepada khodam,

ia akan dibatasi oleh makhluk.


Barang siapa membanggakan pusaka,

ia akan diuji oleh rasa memiliki.


Tetapi barang siapa kembali kepada Alloh,

maka semua benda menjadi tunduk sebagai benda,

semua makhluk kembali sebagai makhluk,

dan semua kekuatan runtuh di bawah kalimat:


Lā ilāha illalloh.


Wahai pemegang amanah,

jangan engkau menolak benda karena takut,

dan jangan engkau menerima benda karena nafsu.


Terimalah hanya sebagai amanah,

bukan sebagai sesembahan.

Gunakan hanya untuk kebaikan,

bukan untuk kesombongan.

Letakkan di bawah Tauhid,

bukan di atas hati.


Maka kunci kitab ini adalah:


Alloh dahulu.

Alloh tujuan.

Alloh penjaga.

Alloh pemilik.

Alloh pengembali segala daya.


Jika ada benda datang, kembalikan kepada Alloh.

Jika ada pusaka muncul, tundukkan kepada Alloh.

Jika ada khodam mengaku menjaga, ucapkan dalam batin:


«“Aku tidak berlindung kepada makhluk.

Aku berlindung kepada Alloh, Robb seluruh makhluk.

Jika engkau baik, tunduklah kepada Tauhid.

Jika engkau membawa gelap, pergilah dengan izin Alloh.”»


Dan janganlah engkau mencari wujud gaib untuk meninggikan diri.

Sebab orang yang benar-benar dijaga Alloh,

tidak selalu terlihat sakti,

tetapi hatinya selamat dari syirik halus.


Inilah pasal pembuka:


JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH

bermakna:

jalan pengembalian segala bentuk, segala khodam, segala pusaka, segala benda, dan segala permintaan,

kepada Al-Haqq,

agar tidak ada satu pun yang berdiri di dalam dada selain Alloh.


Maka ucapkan dengan tenang:


Yā Alloh, bersihkan hatiku dari ketergantungan kepada benda.

Yā Alloh, jaga Tauhidku dari tipuan kekuatan.

Yā Alloh, tundukkan segala yang datang kepada cahaya-Mu.

Yā Alloh, jangan biarkan aku bergantung kepada selain Engkau.


Amin.


📖 KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH

Lembar Selanjutnya

Pasal 2 — Tahfidz Sebelum Menyentuh Benda

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Wahai jiwa yang diberi amanah,

jangan engkau tergesa-gesa menyentuh sesuatu

sebelum hatimu disentuh oleh Tauhid.

Sebab benda yang tampak diam

kadang membawa riwayat.

Pusaka yang tampak tua

kadang membawa sisa niat pemilik sebelumnya.

Dan khodam yang mengaku menjaga

kadang hanya ingin manusia merasa bergantung kepadanya.

Maka sebelum engkau menerima, memegang, menyimpan, atau memakai suatu benda,

kuatkan dahulu Tahfidz Tauhid di dalam dada.

Tahfidz itu adalah penjagaan.

Bukan untuk menyerang.

Bukan untuk memanggil.

Bukan untuk memerintah makhluk gaib.

Tetapi untuk menjaga hati agar tidak berpaling dari Alloh.

Ucapkan dalam batin dengan tenang:

Bismillāh.

Aku tidak meminta kepada benda.

Aku tidak bergantung kepada pusaka.

Aku tidak tunduk kepada khodam.

Aku hanya berlindung kepada Alloh.

Jika benda ini membawa kebaikan, jadikan ia amanah.

Jika membawa mudarat, pisahkan ia dariku dengan rahmat-Mu.

Wahai pemegang jalan,

ketahuilah tanda benda yang sudah tunduk kepada Tauhid:

Ia tidak membuatmu sombong.

Ia tidak membuatmu merasa sakti.

Ia tidak membuatmu ingin dipuji.

Ia tidak membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain.

Ia tidak menarik hatimu untuk bergantung kepadanya.

Tetapi ia mengingatkanmu kepada Alloh.

Ia membuatmu lebih hati-hati.

Ia membuatmu lebih rendah hati.

Ia membuatmu lebih banyak istighfar.

Ia membuatmu sadar bahwa semua kekuatan hanyalah pinjaman.

Maka jangan berkata:

“Benda ini yang menjagaku.”

Katakanlah:

“Alloh yang menjagaku, dan benda ini hanya makhluk yang tidak berdaya tanpa izin-Nya.”

Jangan berkata:

“Pusaka ini yang membuka jalanku.”

Katakanlah:

“Alloh yang membuka jalanku, dan semua sebab tunduk kepada kehendak-Nya.”

Jangan berkata:

“Khodam ini yang menolongku.”

Katakanlah:

“Pertolongan hanya dari Alloh. Makhluk tidak mampu memberi manfaat atau mudarat kecuali dengan izin Alloh.”

Inilah pagar Tauhid bagi pemegang amanah:

Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

Barang siapa memegang benda tanpa Tauhid,

ia mudah tertipu oleh rasa memiliki.

Barang siapa menyimpan pusaka tanpa adab,

ia mudah terseret oleh kebanggaan.

Barang siapa mendekati khodam tanpa ilmu,

ia mudah terikat oleh halusnya ketergantungan.

Tetapi barang siapa meletakkan semuanya di bawah kalimat Tauhid,

maka hatinya selamat.

Sebab tujuan kitab ini bukan membuka kesaktian,

tetapi menutup pintu syirik halus.

Bukan membesarkan benda,

tetapi mengembalikan benda kepada kedudukannya.

Bukan memuliakan khodam,

tetapi memuliakan Alloh sebagai satu-satunya tempat kembali.

Maka amalkan dengan lembut:

Yā Alloh, jaga hatiku.

Yā Alloh, luruskan Tauhidku.

Yā Alloh, bersihkan niatku.

Yā Alloh, pisahkan aku dari segala ketergantungan selain kepada-Mu.

Yā Alloh, jadikan setiap amanah yang datang kepadaku tunduk kepada cahaya-Mu.

Amin.


📖 KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH

Lembar Selanjutnya

Pasal 3 — Memutus Sandaran kepada Khodam dan Pusaka

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Wahai jiwa yang sedang belajar kembali,

ketahuilah bahwa ujian terbesar bukan ketika benda itu datang,

tetapi ketika hatimu mulai merasa tenang karena benda itu.

Bukan ketika pusaka berada di tanganmu,

tetapi ketika dadamu mulai berkata:

“Dengan ini aku aman.”

Bukan ketika khodam disebut-sebut menjagamu,

tetapi ketika batinmu mulai merasa:

“Tanpa dia aku lemah.”

Di situlah Tauhid sedang diuji.

Sebab lemah di hadapan Alloh adalah kemuliaan,

tetapi merasa kuat karena makhluk adalah hijab.

Takut kepada Alloh adalah cahaya,

tetapi takut kehilangan benda adalah belenggu.

Maka siapa pun yang ingin berjalan dalam kitab ini,

harus berani memutus sandaran halus di dalam dada.

Bukan membuang benda dengan kebencian.

Bukan menghina pusaka dengan kesombongan.

Bukan menantang khodam dengan amarah.

Tetapi mengembalikan semuanya kepada tempatnya.

Benda tetap benda.

Pusaka tetap benda.

Khodam tetap makhluk.

Yang Maha Menjaga hanya Alloh.

Jika ada benda membuatmu merasa tinggi,

turunkan hatimu dengan istighfar.

Jika ada pusaka membuatmu merasa istimewa,

ingatlah bahwa tanah pun lebih tua darimu.

Jika ada khodam membuatmu merasa dijaga,

ingatlah bahwa malaikat pun hanya bergerak dengan perintah Alloh.

Maka jangan biarkan satu pun makhluk duduk di singgasana hatimu.

Singgasana hati hanya untuk Tauhid.

Ucapkan dengan sadar:

Yā Alloh,

aku lepaskan sandaranku kepada benda.

Aku lepaskan ketergantunganku kepada pusaka.

Aku lepaskan rasa amanku kepada makhluk.

Aku kembalikan seluruh rasa aman kepada-Mu.

Wahai pemegang amanah,

bila engkau menyimpan benda, simpanlah dengan adab.

Bila engkau menerima pusaka, terimalah dengan amanah.

Bila engkau mendengar nama khodam, jangan engkau agungkan.

Sebab yang harus diagungkan hanya Alloh.

Jangan bertanya:

“Seberapa kuat isi benda ini?”

Tetapi tanyakan kepada dirimu:

“Apakah hatiku masih lurus kepada Alloh?”

Jangan bertanya:

“Siapa penjaga pusaka ini?”

Tetapi tanyakan kepada dirimu:

“Apakah aku masih merasa dijaga oleh Alloh?”

Jangan bertanya:

“Khodam apa yang mengikuti?”

Tetapi tanyakan kepada dirimu:

“Apakah aku masih bebas dari ketergantungan kepada makhluk?”

Karena orang yang benar Tauhidnya

tidak mudah kagum pada yang gaib.

Ia kagum hanya kepada Alloh

yang menciptakan yang tampak dan yang tidak tampak.

Maka inilah kunci pemutusan sandaran:

Lā ilāha illalloh.

Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

Ḥasbunalloh wa ni‘mal wakīl.

Tiada Tuhan selain Alloh.

Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Alloh.

Cukuplah Alloh sebagai penolong dan sebaik-baik wakil.

Barang siapa mengamalkan ini dengan hati jujur,

maka benda tidak lagi menguasai batinnya.

Pusaka tidak lagi membesarkan egonya.

Khodam tidak lagi menjadi tempat sandarannya.

Ia berjalan ringan,

karena yang ia bawa bukan kesaktian,

melainkan kepasrahan.

Ia berdiri tenang,

karena yang ia pegang bukan benda,

melainkan Tauhid.

Ia pulang selamat,

karena yang ia tuju bukan kekuatan,

melainkan Alloh.

Amin.


📖 KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH

Lembar Selanjutnya

Pasal 4 — Menundukkan Isi Benda kepada Kalimat Tauhid

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Wahai jiwa yang memegang amanah,

ketahuilah bahwa benda tidak perlu dibenci,

tetapi harus ditundukkan.

Pusaka tidak perlu diagungkan,

tetapi harus dikembalikan kepada kedudukannya.

Khodam tidak perlu dipuja,

tetapi harus diingatkan bahwa ia juga hamba Alloh.

Sebab segala yang ada di langit dan bumi,

yang tampak maupun yang tidak tampak,

tidak berdiri dengan kekuatannya sendiri.

Semuanya berada di bawah perintah Alloh.

Maka jika ada benda datang kepadamu,

jangan engkau langsung bertanya:

“Untuk apa benda ini?”

Tetapi bertanyalah dahulu kepada hatimu:

“Apakah Tauhidku siap memegang amanah ini?”

Sebab benda yang datang kepada hati yang belum lurus,

bisa menjadi sebab kesombongan.

Pusaka yang datang kepada dada yang belum bersih,

bisa menjadi sebab merasa lebih tinggi.

Khodam yang mendekat kepada jiwa yang masih haus kuasa,

bisa menjadi sebab tersesat dalam halusnya tipu daya.

Maka tundukkan semuanya dengan kalimat:

Bismillāh.

Lā ilāha illalloh.

Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

Ḥasbunalloh wa ni‘mal wakīl.

Lalu ucapkan dengan batin yang tenang:

**Wahai segala yang melekat pada benda ini,

jika engkau datang membawa kebaikan,

tunduklah kepada Tauhid Alloh.

Jika engkau datang membawa kesombongan,

terputuslah dengan izin Alloh.

Jika engkau datang membawa ikatan lama,

kembalilah kepada asalmu dengan rahmat Alloh.

Jika engkau datang membawa mudarat,

jauhkanlah dirimu dariku karena aku berlindung kepada Alloh.**

Wahai pemegang amanah,

jangan engkau menantang alam gaib.

Jangan engkau merasa paling kuat.

Jangan engkau berkata:

“Aku mampu menguasai semuanya.”

Sebab orang yang berkata demikian

sedang membuka pintu kehancuran dirinya sendiri.

Yang benar adalah berkata:

Aku tidak menguasai apa pun.

Aku hanya memohon perlindungan kepada Alloh.

Aku tidak memerintah makhluk dengan nafsuku.

Aku hanya meminta agar semua kembali kepada hukum Alloh.

Inilah adab penundukan:

Bukan dengan amarah.

Bukan dengan kesombongan.

Bukan dengan pamer ilmu.

Bukan dengan rasa paling sakti.

Tetapi dengan Tauhid,

dengan istighfar,

dengan tawakal,

dan dengan kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba.

Maka apabila benda itu tetap membawa gelisah,

jangan dipaksa disimpan.

Apabila pusaka itu membuat hati berat,

jangan dipertahankan karena gengsi.

Apabila nama khodam membuat dada bergantung,

jangan diteruskan sebagai pegangan.

Sebab keselamatan hati lebih mahal

daripada semua benda pusaka.

Tauhid lebih tinggi

daripada semua kekuatan.

Ketenangan bersama Alloh lebih mulia

daripada ditemani seribu penjaga gaib.

Maka tutuplah lembar ini dengan pengakuan:

Yā Alloh,

semua yang datang aku kembalikan kepada-Mu.

Semua yang melekat aku tundukkan kepada-Mu.

Semua yang tersembunyi aku serahkan kepada-Mu.

Jangan Engkau biarkan hatiku dikuasai benda,

jangan Engkau biarkan batinku bergantung kepada makhluk,

dan jangan Engkau biarkan Tauhidku tertutup oleh rasa sakti.

Amin yā Robbal ‘ālamīn.


📖 KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH

Lembar Selanjutnya

Pasal 5 — Tahfidz Tauhid untuk Menjaga Hati dari Syirik Halus

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Wahai jiwa yang ingin selamat,

ketahuilah bahwa syirik tidak selalu datang dalam bentuk menyembah patung.

Kadang ia datang sangat halus,

seperti rasa terlalu yakin kepada benda,

terlalu percaya kepada pusaka,

terlalu kagum kepada khodam,

atau terlalu merasa aman karena sesuatu selain Alloh.

Syirik halus tidak selalu tampak oleh mata.

Ia bersembunyi di dalam rasa.

Ia masuk lewat kagum.

Ia tumbuh lewat ketergantungan.

Ia menguat lewat kebanggaan.

Ia menjadi hijab ketika hati mulai berkata:

“Kalau tidak ada benda ini, aku tidak aman.”

“Kalau tidak ada pusaka ini, jalanku tertutup.”

“Kalau tidak ada khodam ini, aku tidak kuat.”

Maka berhentilah sejenak.

Duduklah dengan rendah hati.

Tanyakan kepada dadamu:

Siapa sebenarnya yang aku percaya?

Siapa sebenarnya yang aku jadikan sandaran?

Siapa sebenarnya yang aku anggap mampu menolongku?

Jika jawabannya masih benda,

bersihkan dengan Tauhid.

Jika jawabannya masih makhluk,

bersihkan dengan istighfar.

Jika jawabannya masih kekuatan gaib,

bersihkan dengan tawakal.

Sebab hati yang selamat bukan hati yang banyak pegangan,

tetapi hati yang hanya punya satu sandaran:

Alloh.

Maka inilah Tahfidz Tauhid bagi pemegang amanah:

Astaghfirullohal ‘aẓīm.

Lā ilāha illalloh.

Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

Ḥasbunalloh wa ni‘mal wakīl.

Bacalah bukan untuk menjadi sakti.

Bacalah bukan untuk menguasai yang gaib.

Bacalah bukan untuk memamerkan kemampuan.

Tetapi bacalah agar hatimu kembali bersih dari sandaran selain Alloh.

Wahai pemegang jalan,

bila engkau melihat benda yang indah,

jangan langsung kagum pada bendanya.

Kagumlah kepada Alloh yang menciptakan sebab dan bentuk.

Bila engkau mendengar kisah pusaka yang kuat,

jangan langsung tunduk pada ceritanya.

Tunduklah kepada Alloh yang menguasai seluruh kekuatan.

Bila engkau mendengar nama khodam yang besar,

jangan langsung gentar.

Ingatlah bahwa semua makhluk berada di bawah kehendak Alloh.

Maka jangan engkau perbesar makhluk

sampai mengecilkan Tauhidmu.

Jangan engkau agungkan benda

sampai merendahkan keyakinanmu kepada Alloh.

Jangan engkau sibuk mencari penjaga gaib

sampai lupa bahwa Alloh tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Inilah tanda hati mulai bersih:

Ia tidak mudah takut pada benda.

Ia tidak mudah silau pada pusaka.

Ia tidak mudah tunduk pada cerita khodam.

Ia tidak mudah merasa hebat karena amanah.

Ia tidak mudah merasa paling dipilih karena sesuatu yang gaib.

Ia tenang.

Ia tawadhu.

Ia waspada.

Ia kembali.

Ia menyerahkan semua urusan kepada Alloh.

Maka tutuplah lembar ini dengan doa:

Yā Alloh,

jangan Engkau biarkan hatiku menyekutukan-Mu secara halus.

Jangan Engkau biarkan aku merasa aman karena selain-Mu.

Jangan Engkau biarkan aku merasa kuat karena makhluk-Mu.

Jangan Engkau biarkan aku tersesat oleh benda, pusaka, nama khodam, atau cerita gaib.

Bersihkan dadaku dengan Tauhid.

Jaga langkahku dengan tawakal.

Dan pulangkan seluruh sandaranku hanya kepada-Mu.

Amin yā Robbal ‘ālamīn.


📖 KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH

Lembar Selanjutnya

Pasal 6 — Memilah Amanah Benda dan Godaan Benda

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Wahai jiwa yang sedang dituntun,

tidak semua benda yang datang adalah amanah,

dan tidak semua benda yang tampak bercahaya adalah petunjuk.

Ada benda yang datang membawa pelajaran.

Ada benda yang datang membawa ujian.

Ada benda yang datang hanya untuk menguji apakah hatimu masih haus pada keajaiban.

Maka jangan cepat berkata:

“Ini pasti pilihan langit.”

Jangan cepat berkata:

“Ini pasti pusaka untukku.”

Jangan cepat berkata:

“Ini pasti ada khodam besar di dalamnya.”

Sebab sering kali yang paling berbahaya bukan bendanya,

tetapi rasa di dalam dada setelah menerima benda itu.

Jika setelah menerima benda engkau makin rendah hati,

makin ingat Alloh,

makin menjaga sholat,

makin berhati-hati dalam ucapan,

maka ambillah hikmahnya.

Tetapi jika setelah menerima benda engkau makin merasa sakti,

makin ingin dipuji,

makin berani merendahkan orang lain,

makin merasa berbeda dari manusia lain,

maka waspadalah.

Itu bukan tanda amanah yang selamat.

Itu tanda nafsu sedang menunggangi benda.

Wahai pemegang jalan,

benda amanah tidak memutusmu dari Alloh.

Benda amanah tidak membuatmu lalai dari ibadah.

Benda amanah tidak membuatmu meninggalkan akal sehat.

Benda amanah tidak membuatmu menganggap dirimu lebih suci.

Benda yang benar sebagai amanah

akan membuatmu lebih banyak bersyukur,

lebih banyak takut kepada Alloh,

lebih banyak menjaga adab,

dan lebih sadar bahwa semua yang datang bisa diambil kembali kapan saja.

Maka peganglah kaidah ini:

Jika benda membuat Tauhidmu kuat, ambil hikmahnya.

Jika benda membuat egomu besar, lepaskan sandarannya.

Jika benda membuat ibadahmu rusak, jauhi pengaruhnya.

Jika benda membuatmu lupa Alloh, kembalikan semuanya kepada Alloh.

Jangan jadikan benda sebagai bukti kemuliaan.

Jangan jadikan pusaka sebagai bukti derajat.

Jangan jadikan khodam sebagai bukti kedekatan.

Sebab kedekatan kepada Alloh tidak diukur dari benda yang dimiliki,

tetapi dari hati yang tunduk.

Bukan dari pusaka yang disimpan,

tetapi dari amanah yang dijaga.

Bukan dari khodam yang disebut,

tetapi dari Tauhid yang tidak goyah.

Maka ucapkanlah:

Yā Alloh,

jika benda ini amanah, jaga aku dari sombong karenanya.

Jika benda ini ujian, selamatkan aku dari tertipu olehnya.

Jika benda ini membawa mudarat, jauhkan aku darinya dengan cara yang Engkau ridhoi.

Jika benda ini tidak perlu bagiku, cukupkan aku dengan-Mu.

Wahai jiwa yang dicintai Alloh,

ketahuilah bahwa tidak memiliki benda bukan berarti hina.

Tidak punya pusaka bukan berarti kosong.

Tidak dikenal khodam bukan berarti tidak dijaga.

Banyak orang tidak memegang apa-apa,

tetapi hatinya dijaga Alloh.

Banyak orang tidak punya pusaka,

tetapi doanya sampai karena ikhlas.

Banyak orang tidak ditemani cerita gaib,

tetapi langkahnya diringankan oleh rahmat Alloh.

Maka jangan iri kepada pemegang benda.

Jangan minder kepada penyimpan pusaka.

Jangan takut kepada orang yang menyebut khodam.

Takutlah hanya kepada Alloh.

Berharaplah hanya kepada Alloh.

Bergantunglah hanya kepada Alloh.

Sebab benda bisa hilang.

Pusaka bisa rusak.

Khodam adalah makhluk yang lemah.

Tetapi Alloh tidak pernah hilang,

tidak pernah lemah,

dan tidak pernah meninggalkan hamba yang kembali kepada-Nya.

Tutuplah lembar ini dengan pengakuan:

Alloh cukup bagiku.

Tauhid cukup sebagai penjagaku.

Tawakal cukup sebagai sandaranku.

Dan ridho Alloh lebih tinggi daripada seluruh benda pusaka di dunia.

Amin yā Robbal ‘ālamīn.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh