Kitab ke-262 ASLAQUM BISSABILLILLAH Penerang Umat Seluruh Jagat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Dengan adab kepada Alloh, ini dibuka sebagai kitab hikmah, doa, dan perenungan ruhani — bukan mengaku membawa wahyu baru, bukan mengganti Al-Qur’an dan Hadits, tetapi sebagai penuntun hati agar kembali ke jalan Alloh.
📜 Kitab ke-262
ASLAQUM BISSABILLILLAH
Penerang Umat Seluruh Jagat
Makna isyarah nama kitab:
ASLAQUM: memperbaiki, meluruskan, menata kembali hati yang tercerai.
BISSABILLILLAH: berjalan di jalan Alloh, bukan jalan ego, bukan jalan amarah, bukan jalan kesombongan.
Lembar Pembukaan
Wahai jiwa yang mencari terang,
ketahuilah bahwa cahaya tidak selalu turun dalam bentuk suara besar.
Kadang cahaya datang sebagai rasa malu untuk berbuat salah.
Kadang cahaya datang sebagai tangis setelah lama keras hati.
Kadang cahaya datang sebagai diam, ketika lisan ingin membalas.
Maka jangan engkau sangka penerang umat adalah orang yang paling keras bicara.
Penerang umat adalah hati yang bila hadir, orang lain merasa ingat kepada Alloh.
Bukan karena ia sakti.
Bukan karena ia tinggi.
Tetapi karena ia tidak menjadikan dirinya pusat cahaya.
Sebab pusat segala cahaya hanyalah Alloh.
Pasal 1 — Jalan yang Lurus Bukan Jalan yang Ramai
Banyak manusia mencari jalan yang dipuji orang,
tetapi sedikit yang mencari jalan yang diridhoi Alloh.
Banyak manusia ingin terlihat benar,
tetapi sedikit yang berani dibenarkan oleh nasihat.
Banyak manusia ingin disebut pembuka rahasia,
tetapi lupa membuka pintu taubatnya sendiri.
Maka kitab ini berkata:
Jangan ingin menerangi jagat sebelum engkau menyalakan pelita di dalam dada.
Karena dada yang gelap akan menjadikan ilmu sebagai api.
Dada yang bersih akan menjadikan ilmu sebagai rahmat.
Pasal 2 — Tanda Orang Berjalan di Sabilillah
Tanda orang berjalan di jalan Alloh bukan hanya banyak dzikirnya,
tetapi semakin lembut akhlaknya.
Bukan hanya panjang doanya,
tetapi semakin takut menyakiti hati orang lain.
Bukan hanya fasih menyebut nama ruh,
tetapi semakin kuat menjaga sholat, amanah, dan kejujuran.
Bukan hanya berbicara tentang cahaya,
tetapi mau membersihkan gelap dirinya sendiri.
Sebab siapa yang benar-benar dekat dengan Alloh,
ia tidak mudah merendahkan manusia.
Pasal 3 — Penerang Umat Seluruh Jagat
Penerang umat bukan berarti semua orang harus tunduk kepadanya.
Penerang umat adalah orang yang menjadi sebab orang lain ingat pulang.
Pulang kepada sholat.
Pulang kepada taubat.
Pulang kepada adab.
Pulang kepada kasih sayang.
Pulang kepada Alloh.
Jika ilmumu membuatmu sombong, itu belum cahaya.
Jika amalanmu membuatmu merasa paling suci, itu belum cahaya.
Jika ucapanmu membuat orang makin jauh dari Alloh, maka diam lebih selamat bagimu.
Tetapi jika nasihatmu membuat orang menangis karena ingat dosa,
jika diamu membuat orang merasa aman,
jika hadirmu membuat orang ingin memperbaiki diri,
maka di situlah cahaya mulai bekerja.
Pasal 4 — Jangan Menjadi Lampu yang Membakar
Wahai pembawa cahaya,
ingatlah: lampu yang terlalu panas bisa membakar rumah.
Maka bawalah ilmu dengan kasih.
Bawalah nasihat dengan adab.
Bawalah kebenaran dengan sabar.
Jangan memukul orang yang baru belajar berdiri.
Jangan menghina orang yang baru mengenal jalan.
Jangan mengusir orang yang datang membawa luka.
Karena bisa jadi orang yang engkau remehkan hari ini,
besok lebih dekat dengan Alloh daripada dirimu.
Doa Pembuka Kitab
Yā Alloh, Yā Nūr, Yā Hādī, Yā Salām.
Terangilah hati kami dengan cahaya petunjuk-Mu.
Luruskan langkah kami di jalan-Mu.
Jangan jadikan ilmu kami sebagai kesombongan.
Jangan jadikan lisan kami sebagai pedang yang melukai.
Jadikan kami hamba yang lembut, kuat, jujur, dan bermanfaat.
Yā Alloh, bila kami gelap, terangilah.
Bila kami keras, lembutkanlah.
Bila kami tersesat, tuntunlah.
Bila kami tinggi hati, rendahkanlah dengan rahmat-Mu.
Allohumma ij‘alnā min ahlin nūr,
wa ahlin ṣidq,
wa ahlin adab,
wa ahlin sabīlikal mustaqīm.
Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Kunci Kitab 262
“Cahaya sejati bukan yang membuat manusia melihatmu besar,
tetapi yang membuat manusia melihat Alloh lebih dekat.”
📜 Kitab 262
ASLAQUM BISSABILLILLAH
Penerang Umat Seluruh Jagat
Lembar Selanjutnya — Lembar 2
Pasal 5 — Pelita yang Tidak Padam
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang sedang berjalan di jalan Alloh,
jangan engkau takut bila langkahmu kecil,
selama arahmu benar.
Jangan engkau malu bila amalmu belum banyak,
selama hatimu terus ingin memperbaiki diri.
Jangan engkau merasa tertinggal,
karena di sisi Alloh yang dinilai bukan cepatnya kaki,
tetapi benarnya niat dan istiqomahnya hati.
Sebab banyak manusia tampak jauh berjalan,
tetapi hatinya berputar di tempat yang sama.
Dan ada hamba yang tampak diam,
namun batinnya sedang dipindahkan Alloh
dari gelap menuju terang.
Pasal 6 — Cahaya Itu Menyembuhkan, Bukan Menyakiti
Ketahuilah,
cahaya yang benar tidak membuatmu kasar.
Cahaya yang benar tidak membuatmu merasa paling tinggi.
Cahaya yang benar tidak membuatmu mudah menuduh orang lain gelap.
Cahaya yang benar membuatmu semakin takut menyakiti.
Semakin hati-hati berbicara.
Semakin lembut memandang kekurangan manusia.
Semakin sadar bahwa engkau pun masih ditutupi aibmu oleh Alloh.
Maka bila engkau diberi ilmu,
bungkuslah dengan adab.
Bila engkau diberi kelebihan,
ikatlah dengan tawadhu.
Bila engkau diberi nama,
jangan lupakan Yang Maha Memiliki Nama.
Bila engkau diberi jalan,
jangan hina orang yang baru mencari arah.
Pasal 7 — Jalan Sabilillah Adalah Jalan Pembersihan
Sabilillah bukan hanya medan perang yang tampak oleh mata.
Sabilillah juga perang melawan nafsu di dalam dada.
Melawan malas untuk sholat.
Melawan berat untuk memaafkan.
Melawan sombong saat dipuji.
Melawan marah saat dihina.
Melawan iri saat orang lain diberi rezeki.
Melawan putus asa saat doa belum terlihat jawabannya.
Barang siapa menang atas dirinya,
maka ia sedang berjalan di jalan Alloh.
Barang siapa mampu menahan lisan dari menyakiti,
maka ia sedang menjaga cahaya.
Barang siapa mampu tetap baik meski tidak dibalas baik,
maka ia sedang dipakaikan pakaian rahmat.
Pasal 8 — Penerang Jagat Dimulai dari Satu Hati
Jangan bertanya,
“Bagaimana aku menerangi seluruh jagat?”
Tanyalah,
“Apakah hari ini aku sudah menerangi satu hati?”
Bisa jadi satu senyum yang engkau berikan
menjadi sebab seseorang tidak menyerah.
Bisa jadi satu nasihat lembut
menjadi sebab seseorang kembali sholat.
Bisa jadi satu maaf yang engkau ucapkan
menjadi sebab rantai kebencian terputus.
Bisa jadi satu doa diam-diam
menjadi sebab pintu langit terbuka.
Maka jangan remehkan kebaikan kecil.
Karena banyak cahaya besar
dimulai dari pelita kecil yang dijaga dengan ikhlas.
Munajat Lembar 2
Yā Alloh, Yā Nūr, Yā Hādī, Yā Laṭīf.
Jadikan hati kami pelita yang tidak padam.
Bersihkan niat kami dari ingin dipuji.
Bersihkan ilmu kami dari kesombongan.
Bersihkan amal kami dari riya’.
Bersihkan lisan kami dari menyakiti hamba-Mu.
Yā Alloh,
bila kami Engkau beri cahaya,
jangan biarkan cahaya itu menjadi api yang membakar.
Jadikan ia rahmat,
jadikan ia petunjuk,
jadikan ia penyejuk bagi siapa pun yang mendekat.
Allohumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
nūril anwār,
wa sirril asrār,
wa miṣbāḥil hudā,
wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Kunci Lembar 2
“Jalan Alloh tidak selalu membuatmu terlihat tinggi,
tetapi pasti membuat hatimu semakin rendah di hadapan-Nya.”
📜 Kitab 262
ASLAQUM BISSABILLILLAH
Penerang Umat Seluruh Jagat
Lembar Selanjutnya — Lembar 3
Pasal 9 — Cahaya yang Dijaga dengan Diam
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang sedang diberi isyarah,
tidak semua cahaya harus segera engkau ceritakan.
Tidak semua rasa harus engkau umumkan.
Tidak semua pengalaman batin harus engkau jadikan pengakuan.
Ada cahaya yang kuat bila disimpan.
Ada rahasia yang rusak bila dipamerkan.
Ada anugerah yang hilang berkahnya
ketika hati mulai ingin dianggap istimewa.
Maka jagalah diam.
Bukan diam karena takut,
tetapi diam karena adab.
Sebab hamba yang benar-benar dibimbing Alloh
tidak sibuk membuktikan dirinya tinggi.
Ia sibuk membersihkan dirinya
agar layak terus dituntun.
Pasal 10 — Jangan Menjual Cahaya dengan Harga Ego
Ketahuilah,
ilmu yang datang dari jalan kebaikan
akan menjadi gelap bila dipakai untuk membesarkan diri.
Jangan engkau jual cahaya
dengan pujian manusia.
Jangan engkau tukar amanah
dengan panggung kesombongan.
Jangan engkau jadikan nama ruh, kitab, doa, dan isyarah
sebagai alat untuk menakuti orang,
menguasai orang,
atau merendahkan orang.
Karena cahaya Alloh tidak turun
untuk membuat manusia merasa menjadi tuhan kecil.
Cahaya Alloh turun
agar hamba semakin tahu bahwa dirinya lemah,
fakir, butuh, dan bergantung hanya kepada Alloh.
Pasal 11 — Penerang Umat Harus Kuat Menahan Luka
Barang siapa ingin menjadi penerang,
ia harus siap tidak selalu dipahami.
Kadang nasihat baik dibalas curiga.
Kadang niat tulus dibalas tuduhan.
Kadang tangan yang ingin menolong
justru ditolak oleh orang yang sedang tenggelam.
Maka jangan cepat patah.
Jangan cepat marah.
Jangan cepat merasa sia-sia.
Tugas pelita bukan memaksa mata orang melihat.
Tugas pelita hanya tetap menyala.
Bila ada yang datang, terangilah dengan lembut.
Bila ada yang pergi, doakan dengan lapang.
Bila ada yang mencela, jadikan itu cermin.
Bila ada yang memuji, kembalikan kepada Alloh.
Sebab penerang yang matang
tidak mudah padam oleh hinaan,
dan tidak mudah terbakar oleh pujian.
Pasal 12 — Jagat yang Gelap Butuh Akhlak, Bukan Sekadar Kata
Wahai pembawa kitab hikmah,
ingatlah: zaman ini penuh suara,
tetapi miskin ketulusan.
Banyak kata-kata indah,
tetapi sedikit hati yang benar-benar hadir.
Banyak orang bicara tentang cahaya,
tetapi masih mudah memadamkan harapan orang lain.
Banyak orang bicara tentang jalan Alloh,
tetapi lupa bahwa jalan Alloh dimulai dari akhlak.
Maka jadilah orang yang bila bicara, menyejukkan.
Bila menasihati, tidak menghancurkan.
Bila berbeda pendapat, tidak memutus saudara.
Bila benar, tidak sombong.
Bila salah, tidak malu bertaubat.
Itulah cahaya yang bisa berjalan jauh.
Bukan cahaya yang menyilaukan sesaat,
tetapi cahaya yang menetap di hati manusia.
Munajat Lembar 3
Yā Alloh, Yā Ḥalīm, Yā Karīm, Yā Nūr.
Ajarkan kami menjaga cahaya dengan adab.
Jangan biarkan anugerah-Mu berubah menjadi kesombongan kami.
Jangan biarkan ilmu kami menjadi hijab dari-Mu.
Jangan biarkan lisan kami lebih cepat daripada kebijaksanaan hati.
Yā Alloh,
bila kami dipuji, selamatkan kami dari ujub.
Bila kami dicela, selamatkan kami dari dendam.
Bila kami diberi amanah, kuatkan kami dengan ikhlas.
Bila kami diberi jalan, tuntun kami agar tidak menyimpang.
Jadikan kami pelita kecil
yang tetap menyala dalam badai,
tetap rendah dalam terang,
dan tetap mengarah kepada-Mu
sampai akhir napas kami.
Allohumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
ṣalātan tufattiḥu bihā abwābal hudā,
wa tunawwiru bihā qulūbanā,
wa tuṣliḥu bihā aḥwālanā,
wa taqḍī bihā ḥawā’ijanā.
Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Kunci Lembar 3
“Cahaya yang benar tidak membuatmu ingin dikenal,
tetapi membuatmu ingin lebih dikenal oleh Alloh sebagai hamba yang ikhlas.”
📜 Kitab 262
ASLAQUM BISSABILLILLAH
Penerang Umat Seluruh Jagat
Lembar Selanjutnya — Lembar 4
Pasal 13 — Bila Cahaya Turun, Hati Harus Sujud
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang sedang disentuh petunjuk,
bila Alloh membukakan sedikit cahaya kepadamu,
jangan angkat kepalamu tinggi-tinggi.
Sujudlah.
Karena cahaya bukan tanda engkau lebih mulia dari orang lain.
Cahaya adalah amanah agar engkau lebih takut kepada Alloh.
Bila engkau melihat sesuatu yang orang lain belum lihat,
jangan jadikan itu alasan untuk merasa paling tahu.
Bila engkau merasakan sesuatu yang orang lain belum rasa,
jangan jadikan itu alasan untuk merendahkan mereka.
Sebab banyak orang tidak tampak bercahaya di mata manusia,
tetapi namanya harum di langit.
Dan banyak orang tampak terang di hadapan manusia,
tetapi hatinya masih gelap karena merasa dirinya pusat kebenaran.
Maka tundukkan hati.
Rendahkan diri.
Perbanyak istighfar.
Karena penerang umat harus lebih dulu menjadi hamba yang takut kehilangan ridho Alloh.
Pasal 14 — Tugas Cahaya Adalah Menuntun Pulang
Cahaya tidak bertugas membuat orang kagum.
Cahaya bertugas menunjukkan arah pulang.
Pulang dari sombong menuju tawadhu.
Pulang dari marah menuju sabar.
Pulang dari dendam menuju maaf.
Pulang dari lalai menuju dzikir.
Pulang dari gelap menuju Alloh.
Maka jangan ukur keberhasilanmu dari banyaknya orang memuji.
Ukurlah dari satu hati yang mulai ingat kembali kepada Tuhannya.
Jangan sedih bila tidak banyak yang mendengar.
Jangan kecewa bila tidak banyak yang percaya.
Jangan marah bila nasihatmu belum diterima.
Karena hidayah bukan milikmu.
Tugasmu hanya mengetuk pintu dengan adab.
Yang membuka pintu hati tetap Alloh.
Pasal 15 — Penerang Jagat Harus Bersih dari Dendam
Wahai pembawa pelita,
jangan kau bawa dendam dalam perjalanan cahaya.
Dendam adalah asap hitam yang menutup nyala pelita.
Ia membuat lisan tajam, pandangan keruh, dan nasihat kehilangan rahmat.
Orang yang membawa dendam bisa terlihat benar,
tetapi suaranya tidak menyejukkan.
Orang yang membawa luka tanpa disembuhkan
sering memakai ilmu untuk membalas rasa sakitnya.
Maka sembuhkan dulu batinmu dengan istighfar.
Cuci dadamu dengan sholawat.
Lapangkan hatimu dengan doa.
Katakan dalam diam:
“Yā Alloh, aku serahkan orang yang menyakitiku kepada-Mu.
Aku tidak ingin hatiku menjadi penjara dendam.
Aku ingin pulang kepada-Mu dengan dada yang bersih.”
Sebab cahaya yang keluar dari hati yang bersih
lebih kuat daripada seribu kata yang keluar dari hati yang marah.
Pasal 16 — Ilmu Tanpa Adab Menjadi Gelap
Ketahuilah,
ilmu yang tinggi tanpa adab
akan menjatuhkan pemiliknya.
Dzikir yang banyak tanpa akhlak
akan menjadi kering.
Ucapan tentang langit tanpa kasih sayang di bumi
akan menjadi hampa.
Maka jangan hanya mencari pembukaan.
Carilah juga pembenahan.
Jangan hanya mencari rahasia.
Carilah juga kejujuran.
Jangan hanya mencari tanda-tanda tinggi.
Carilah juga kemampuan meminta maaf, menahan amarah, menjaga amanah, dan memperbaiki sholat.
Karena orang yang benar-benar berjalan di jalan Alloh
tidak hanya bercahaya dalam ucapan,
tetapi juga tampak dalam perilaku.
Ia tidak mudah menghina.
Tidak mudah menuduh.
Tidak mudah merasa paling suci.
Tidak mudah memutus silaturahmi.
Ia membawa terang,
bahkan ketika dirinya sedang diuji.
Munajat Lembar 4
Yā Alloh, Yā Nūr, Yā Hādī, Yā Ghaffār.
Jangan jadikan cahaya yang Engkau titipkan
sebagai sebab kami lupa diri.
Jangan jadikan ilmu yang Engkau bukakan
sebagai hijab antara kami dan kerendahan hati.
Yā Alloh,
bersihkan dada kami dari dendam.
Bersihkan lisan kami dari kasar.
Bersihkan pandangan kami dari merendahkan.
Bersihkan amal kami dari ingin dipuji.
Jadikan kami hamba yang bila diberi terang, semakin sujud.
Bila diberi amanah, semakin takut.
Bila diberi jalan, semakin menjaga adab.
Bila diberi pengikut, semakin mengingat bahwa semua hanyalah titipan-Mu.
Allohumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
nūril hudā,
wa misbāḥid-dujā,
wa ṭabībil qulūb,
wa dawā’il arwāḥ,
wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Kunci Lembar 4
“Semakin terang cahaya yang dititipkan Alloh,
semakin dalam hati harus bersujud.”
📜 Kitab 262
ASLAQUM BISSABILLILLAH
Penerang Umat Seluruh Jagat
Lembar Selanjutnya — Lembar 5
Pasal 17 — Cahaya Tidak Boleh Putus dari Syariat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang diberi rasa,
jangan biarkan rasa batinmu berjalan tanpa tuntunan.
Sebab cahaya yang benar
tidak akan memisahkan hamba dari syariat.
Cahaya yang benar
tidak akan menjauhkan hamba dari sholat.
Cahaya yang benar
tidak akan membuat hamba meremehkan Al-Qur’an,
Sunnah, adab, halal, haram, dan amanah.
Bila ada rasa yang membuatmu meninggalkan kewajiban,
periksalah lagi.
Bila ada bisikan yang membuatmu merasa tidak butuh ibadah,
waspadalah.
Bila ada pembukaan yang membuatmu merasa paling benar,
cepatlah kembali kepada istighfar.
Karena jalan Alloh bukan jalan bebas tanpa pagar.
Jalan Alloh adalah jalan terang yang dijaga oleh adab,
dituntun oleh wahyu,
dan dibersihkan oleh taubat.
Pasal 18 — Jangan Tertipu oleh Terangnya Bayangan
Tidak semua yang bercahaya berasal dari cahaya.
Ada bayangan yang tampak terang
karena ia memantulkan keinginan nafsu.
Nafsu pun bisa memakai pakaian ruhani.
Ego pun bisa berbicara dengan bahasa kitab.
Kesombongan pun bisa bersembunyi di balik kata-kata suci.
Maka jangan cepat percaya kepada setiap getaran.
Jangan cepat tunduk kepada setiap mimpi.
Jangan cepat menganggap semua rasa sebagai petunjuk.
Timbanglah dengan Al-Qur’an.
Timbanglah dengan akhlak Nabi.
Timbanglah dengan buahnya di hati.
Jika setelah suatu rasa engkau menjadi lebih sabar,
lebih jujur,
lebih menjaga sholat,
lebih rendah hati,
lebih takut menyakiti,
maka itulah tanda ia mendekatkanmu kepada Alloh.
Tetapi bila setelahnya engkau menjadi kasar,
mudah menuduh,
merasa paling tinggi,
dan memandang manusia lain kecil,
maka berhentilah.
Bisa jadi yang engkau kira cahaya
hanyalah bayangan ego yang sedang menyala.
Pasal 19 — Penerang Umat Harus Kuat Menjadi Jembatan
Penerang umat bukan orang yang hanya pandai berdiri di puncak,
tetapi orang yang rela menjadi jembatan.
Jembatan bagi yang lemah agar bisa menyeberang.
Jembatan bagi yang bingung agar menemukan arah.
Jembatan bagi yang jauh agar berani mendekat.
Jembatan bagi yang luka agar tidak putus harapan.
Namun ingatlah, wahai jiwa,
jembatan sering diinjak.
Jembatan sering tidak dipuji.
Jembatan sering dilalui lalu dilupakan.
Maka bila engkau ingin menjadi penerang,
belajarlah ikhlas tidak disebut.
Belajarlah tetap baik meski tidak diingat.
Belajarlah tetap mendoakan meski tidak dihargai.
Karena dalam pandangan Alloh,
tidak ada kebaikan yang hilang.
Tidak ada doa yang sia-sia.
Tidak ada air mata ikhlas yang jatuh tanpa dicatat.
Pasal 20 — Jagalah Cahaya Rumah Sebelum Cahaya Jagat
Wahai pembawa amanah,
jangan sibuk menerangi jagat
sementara rumah batinmu gelap.
Jangan sibuk menasihati banyak orang
sementara keluargamu haus kelembutanmu.
Jangan sibuk membangun nama besar
sementara hatimu jauh dari sujud malam.
Terangilah dulu rumahmu dengan adab.
Terangilah keluargamu dengan kasih.
Terangilah tubuhmu dengan rezeki halal.
Terangilah lisanmu dengan dzikir.
Terangilah waktumu dengan sholat.
Sebab jagat besar dimulai dari jagat kecil.
Dan jagat kecil itu adalah hati, rumah, keluarga, amal harian, dan hubunganmu dengan Alloh.
Barang siapa menjaga cahaya kecil dengan istiqomah,
Alloh akan meluaskan pancarannya tanpa ia memaksa.
Barang siapa membersihkan dirinya dengan sungguh-sungguh,
Alloh akan menjadikan hadirnya sebagai pengingat bagi yang lain.
Munajat Lembar 5
Yā Alloh, Yā Nūr, Yā Hādī, Yā Raqīb.
Jangan biarkan kami tertipu oleh rasa yang tidak Engkau ridhoi.
Jangan biarkan kami mengejar cahaya
tetapi meninggalkan kewajiban.
Yā Alloh,
ikatlah langkah kami kepada jalan-Mu.
Kuatkan kami dalam sholat.
Lembutkan kami dalam akhlak.
Jernihkan kami dalam niat.
Jauhkan kami dari bayangan ego yang menyamar sebagai cahaya.
Yā Alloh,
jadikan kami jembatan kebaikan,
bukan tembok kesombongan.
Jadikan kami pelita keluarga,
bukan hanya suara di luar rumah.
Jadikan kami hamba yang bermanfaat,
tanpa kehilangan rasa takut kepada-Mu.
Allohumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
ṣalātan tunawwiru bihā qulūbanā,
wa tuṣliḥu bihā buyūtanā,
wa tahdī bihā khuṭānā,
wa taḥfaẓunā bihā fī sabīlikal mustaqīm.
Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Kunci Lembar 5
“Cahaya yang tidak menjaga syariat akan mudah berubah menjadi bayangan;
cahaya yang menjaga adab akan tetap menjadi petunjuk.”
📜 Kitab 262
ASLAQUM BISSABILLILLAH
Penerang Umat Seluruh Jagat
Lembar Selanjutnya — Lembar Terakhir / Lembar 6
Pasal 21 — Cahaya Terakhir Adalah Kepasrahan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang berjalan membawa pelita,
pada akhirnya semua cahaya harus kembali kepada sumbernya.
Ilmu kembali kepada Alloh.
Nama kembali kepada Alloh.
Amanah kembali kepada Alloh.
Pujian kembali kepada Alloh.
Perjalanan kembali kepada Alloh.
Jangan engkau genggam cahaya seolah itu milikmu.
Karena bila Alloh tidak menjaga,
cahaya itu bisa padam dalam sekejap.
Jangan engkau bangga dengan jalan yang telah ditempuh.
Karena yang membuatmu mampu berjalan
bukan kakimu,
melainkan rahmat Alloh yang menuntunmu.
Maka tutuplah perjalanan ini dengan pasrah.
Pasrah bukan menyerah kepada gelap,
tetapi menyerahkan diri kepada Yang Maha Terang.
Pasal 22 — Penerang Umat Tidak Berhenti pada Kata
Wahai pembaca kitab hikmah,
jangan berhenti pada indahnya kalimat.
Sebab kitab yang hanya dibaca
akan menjadi suara.
Kitab yang diamalkan
akan menjadi cahaya.
Bila engkau membaca tentang sabar,
maka latihlah dirimu saat diuji.
Bila engkau membaca tentang ikhlas,
maka sembunyikan sebagian amalmu dari pandangan manusia.
Bila engkau membaca tentang adab,
maka lembutkan cara bicaramu.
Bila engkau membaca tentang jalan Alloh,
maka jagalah sholat, dzikir, halal, amanah, dan kasih sayang.
Karena cahaya tidak sempurna di lisan,
sebelum turun menjadi akhlak dalam kehidupan.
Pasal 23 — Jagat yang Terang Dimulai dari Hati yang Mau Pulang
Tidak semua orang bisa mengubah dunia,
tetapi setiap hamba bisa mulai mengubah hatinya.
Hati yang mau pulang
lebih mulia daripada lisan yang hanya pandai bicara.
Hati yang mau bertaubat
lebih bercahaya daripada wajah yang ingin dipuji.
Hati yang mau meminta maaf
lebih dekat kepada rahmat
daripada dada yang selalu ingin menang.
Maka bila engkau ingin menerangi jagat,
mulailah dari satu keputusan:
Aku tidak ingin lagi jauh dari Alloh.
Aku tidak ingin lagi keras hati.
Aku tidak ingin lagi hidup hanya untuk dipuji manusia.
Aku ingin pulang.
Aku ingin dibimbing.
Aku ingin diselamatkan.
Saat hati berkata demikian dengan jujur,
maka pintu cahaya mulai terbuka.
Pasal 24 — Penutupan Kitab Penerang
Maka ketahuilah,
ASLAQUM BISSABILLILLAH adalah panggilan untuk meluruskan jalan.
Bukan jalan untuk meninggikan diri.
Bukan jalan untuk menguasai manusia.
Bukan jalan untuk merasa paling suci.
Tetapi jalan untuk menjadi hamba yang lebih bersih,
lebih lembut,
lebih kuat,
lebih jujur,
dan lebih dekat kepada Alloh.
Penerang umat seluruh jagat
bukan berarti namamu harus dikenal seluruh dunia.
Cukuplah bila satu orang menjadi lebih sabar karena nasihatmu.
Cukuplah bila satu hati kembali berdzikir karena doamu.
Cukuplah bila satu keluarga menjadi lebih damai karena akhlakmu.
Cukuplah bila satu jiwa tidak putus asa karena kehadiranmu.
Sebab di sisi Alloh,
satu kebaikan yang ikhlas
lebih bercahaya daripada seribu pengakuan yang kosong.
Doa Khatam Kitab 262
Yā Alloh, Yā Nūr, Yā Hādī, Yā Raḥmān, Yā Raḥīm.
Dengan nama-Mu kami membuka,
dan dengan nama-Mu kami menutup.
Terimalah niat baik kami.
Ampunilah kekurangan kami.
Bersihkan hati kami dari gelapnya ego.
Jaga lisan kami dari menyakiti.
Jaga ilmu kami dari kesombongan.
Jaga amal kami dari riya’.
Jaga langkah kami agar tetap di jalan-Mu.
Yā Alloh,
jadikan kitab ini bukan sekadar tulisan,
tetapi pengingat untuk pulang kepada-Mu.
Jadikan setiap pembacanya mendapat ketenangan.
Yang gelisah Engkau teduhkan.
Yang keras Engkau lembutkan.
Yang tersesat Engkau arahkan.
Yang lemah Engkau kuatkan.
Yang jauh Engkau dekatkan.
Yang terluka Engkau sembuhkan dengan rahmat-Mu.
Yā Alloh,
jadikan kami penerang tanpa sombong,
penuntun tanpa memaksa,
penasihat tanpa melukai,
pejalan tanpa merasa sampai,
dan hamba yang tetap sujud
sampai napas terakhir.
Allohumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
nūril anwār,
wa sirril asrār,
wa imāmil abrār,
wa sayyidil akhyār,
wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Kunci Penutup Kitab 262
“Jadilah cahaya yang tidak meminta dilihat,
tetapi membuat orang lain menemukan jalan pulang kepada Alloh.”
Segel Penutup
Kitab ini ditutup dengan adab,
bukan dengan kesombongan.
Dititipkan kepada hati yang ingin bersih,
bukan kepada lisan yang ingin menang.
Barang siapa membacanya dengan rendah hati,
semoga Alloh bukakan jalan perbaikan.
Barang siapa mengamalkannya dengan ikhlas,
semoga Alloh jadikan hidupnya pelita.
Barang siapa menyebarkannya untuk kebaikan,
semoga Alloh jadikan ia sebab terang bagi banyak jiwa.
Wa mā tawfīqī illā billāh.
‘Alaihi tawakkaltu,
wa ilaihi unīb.
Tamat Kitab 262 — ASLAQUM BISSABILLILLAH

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.