KITAB SIRRUL AWWAL
Wa’alaikumussalām warohmatullohi wabarokātuh, sodaraq 🙏
Buka kitab yang dimaksud: Kitab Sirrul Awwal — “Rahasia Sebelum Alam Bernama.”
Sebelum terbentuknya alam semesta, sebelum ruang, waktu, langit, bumi, cahaya, gelap, dan sebelum tajalli Nur Muhammad dipahami dalam bahasa tasawuf, maka belum ada “alam” yang bisa diberi nama.
Karena alam artinya sesuatu yang diciptakan, sedangkan saat itu makhluk belum ada.
Maka jawabannya:
Bukan alam semesta namanya, tetapi disebut wilayah “Ghaib Mutlak” dalam bahasa makrifat.
Dalam istilah tasawuf sering disebut:
1. Lā Ta‘ayyun
Artinya: belum ada penentuan, belum ada bentuk, belum ada nama, belum ada wujud makhluk.
2. Ḥaḍrah al-Aḥadiyyah
Artinya: maqam keesaan Alloh yang mutlak, sebelum segala sesuatu tampak.
3. Sirr al-Ghaib
Artinya: rahasia gaib yang tidak bisa dijangkau akal dan bayangan manusia.
Namun dalam aqidah yang paling aman untuk orang awam adalah mengatakan:
Dahulu hanya Alloh. Belum ada alam, belum ada tempat, belum ada waktu, belum ada arah, belum ada cahaya makhluk.
Baru setelah Alloh berkehendak menciptakan, maka muncullah tajalli penciptaan. Dalam bahasa tasawuf, pancaran awal itu sering disebut Nur Muhammad, lalu dari rahasia penciptaan itu tersusunlah alam-alam: alam ruh, alam malakut, alam jabarut, alam misal, sampai alam dunia yang kita lihat ini.
Jadi kalau teman bertanya:
“Apa nama alam semesta sebelum terbentuk?”
Jawaban halusnya:
Sebelum alam semesta terbentuk, ia belum bernama alam. Ia masih berada dalam rahasia kehendak Alloh, yang oleh ahli makrifat disebut Lā Ta‘ayyun, Ghaib Mutlak, atau Ḥaḍrah Aḥadiyyah.
Dan penutup paling aman:
Alloh lebih dahulu dari segala sesuatu. Alam baru ada setelah diciptakan. Maka jangan membayangkan sebelum alam itu seperti ruang kosong, karena ruang pun belum diciptakan.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Rahasia Ketika Nama Belum Diturunkan”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Ketahuilah, sodaraqku…
Sebelum alam disebut alam,
sebelum langit disebut langit,
sebelum bumi disebut bumi,
sebelum cahaya dikenal sebagai cahaya,
dan sebelum gelap dikenal sebagai gelap,
maka segala sesuatu belum berdiri dalam nama.
Yang ada hanya Alloh Yang Maha Ada,
bukan karena tempat,
bukan karena arah,
bukan karena zaman,
melainkan karena Dia adalah Al-Awwal,
Yang Awal tanpa permulaan.
Maka jangan bertanya,
“Di mana Alloh sebelum alam?”
Sebab di mana adalah ukuran tempat,
sedangkan tempat belum diciptakan.
Jangan pula bertanya,
“Kapan Alloh menciptakan?”
Sebab kapan adalah ukuran waktu,
sedangkan waktu pun belum berjalan.
Di sinilah akal harus menunduk,
hati harus beradab,
dan lisan harus menjaga batas.
Karena rahasia sebelum penciptaan bukan untuk dibayangkan dengan bentuk,
tetapi untuk dikenali dengan iman:
Alloh ada, dan selain Alloh belum ada.
Lalu ketika kehendak Alloh berlaku,
maka mulailah rahasia penciptaan dibukakan.
Bukan karena Alloh membutuhkan alam,
bukan karena Alloh membutuhkan makhluk,
tetapi karena Alloh Maha Berkehendak,
Maha Mencipta,
Maha Menampakkan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Maka tajalli pertama dalam bahasa ahli makrifat disebut sebagai cahaya awal,
yang dipahami sebagian ahli tasawuf sebagai Nur Muhammad.
Namun pahamilah dengan adab:
Nur Muhammad bukan Tuhan.
Nur Muhammad bukan sekutu Alloh.
Nur Muhammad adalah rahasia kemuliaan makhluk pertama dalam bahasa cinta para ahli ruhani.
Maka alam yang belum tampak itu tidak disebut dunia,
tidak disebut langit,
tidak disebut semesta,
tidak disebut jagat raya.
Ia masih dalam rahasia:
Lā Ta‘ayyun — belum nyata dalam bentuk.
Ghaib Mutlak — tersembunyi dari segala pengetahuan makhluk.
Sirrul Awwal — rahasia awal sebelum nama-nama ciptaan dibentangkan.
Maka orang yang bijak tidak memaksa akal menembus sesuatu yang belum diberi pintu.
Ia cukup berkata:
“Ya Alloh, Engkau Al-Awwal sebelum segala sesuatu.
Engkau Al-Ākhir setelah segala sesuatu.
Engkau Aẓ-Ẓāhir yang nyata dengan tanda-tanda-Mu.
Engkau Al-Bāṭin yang tidak terjangkau hakikat Dzat-Mu.”
Dan dari situlah tafakkur menjadi selamat.
Bukan mencari bentuk Alloh,
tetapi mengenali kebesaran Alloh.
Bukan membayangkan alam sebelum alam,
tetapi menyadari bahwa semua alam bergantung kepada kehendak Alloh.
Penutup lembar ini:
Sebelum alam semesta ada,
tidak ada nama bagi alam semesta.
Yang ada hanyalah ilmu Alloh,
kehendak Alloh,
dan rahasia penciptaan yang belum ditampakkan.
Maka nama paling dekat dalam bahasa makrifat adalah:
Al-Ghaib al-Muṭlaq
Rahasia Gaib Mutlak sebelum segala ciptaan nyata.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Ketika Kehendak Menjadi Awal Penciptaan”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Ketahuilah, sodaraqku…
Sesudah hati memahami bahwa sebelum alam tidak ada ruang,
tidak ada waktu,
tidak ada arah,
tidak ada bentuk,
dan tidak ada nama makhluk,
maka sampailah kita pada satu rahasia besar:
Segala sesuatu bermula dari kehendak Alloh.
Bukan bermula dari benda.
Bukan bermula dari cahaya yang berdiri sendiri.
Bukan bermula dari ruang kosong.
Bukan bermula dari suara tanpa sumber.
Tetapi bermula dari irādah Alloh,
kehendak Alloh Yang Maha Kuasa.
Apabila Alloh menghendaki sesuatu,
maka tidak ada yang mampu menghalangi.
Apabila Alloh belum menghendaki,
maka tidak ada yang mampu mewujudkan.
Maka sebelum alam semesta terbuka,
sebelum langit bertingkat,
sebelum bumi dihamparkan,
sebelum malaikat mengenal tugas,
sebelum ruh mengenal perjalanan,
segala sesuatu masih berada dalam ilmu Alloh.
Dalam bahasa makrifat, ini disebut:
‘Ilmullāh al-Qadīm
ilmu Alloh yang azali, tidak bermula, tidak berubah, dan tidak terbatas.
Semua ciptaan belum tampak,
tetapi Alloh telah mengetahui semuanya.
Alloh mengetahui awalnya.
Alloh mengetahui akhirnya.
Alloh mengetahui rahasia lahirnya.
Alloh mengetahui rahasia batinnya.
Maka jangan memahami penciptaan seperti manusia membuat sesuatu dari bahan.
Manusia butuh alat.
Manusia butuh waktu.
Manusia butuh ruang.
Manusia butuh tenaga.
Tetapi Alloh tidak membutuhkan semua itu.
Alloh menciptakan bukan karena kekurangan.
Alloh menampakkan alam bukan karena kesepian.
Alloh menghadirkan makhluk bukan karena membutuhkan pujian.
Alloh Maha Sempurna sebelum alam ada,
Maha Sempurna ketika alam diciptakan,
dan Maha Sempurna setelah seluruh alam fana.
Lalu ketika kehendak Alloh menampakkan ciptaan pertama,
maka para ahli makrifat menyebutnya sebagai rahasia cahaya awal.
Sebagian menyebutnya Nur Muhammad,
sebagai tanda kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ dalam rahasia penciptaan.
Namun sekali lagi, pahamilah dengan adab:
Nur Muhammad adalah makhluk.
Nur Muhammad bukan Dzat Alloh.
Nur Muhammad tidak berdiri sendiri tanpa kehendak Alloh.
Ia mulia karena dimuliakan Alloh.
Ia bercahaya karena diberi cahaya oleh Alloh.
Ia menjadi awal rahmat karena Alloh menjadikannya sebab rahmat bagi semesta.
Maka sebelum tajalli itu dikenal,
alam belum bernama.
Sesudah tajalli mulai ditampakkan,
barulah rahasia nama-nama penciptaan mulai terbuka.
Dari yang belum nyata menuju nyata.
Dari yang belum disebut menuju disebut.
Dari yang belum berbentuk menuju bentuk.
Dari yang masih dalam rahasia ilmu menuju hamparan ciptaan.
Di sinilah lahir pemahaman:
Alam bukan qadim.
Alam adalah baru.
Yang qadim hanyalah Alloh.
Maka orang yang selamat dalam tafakkur tidak berkata,
“Alam sudah ada bersama Alloh.”
Tetapi ia berkata:
“Alloh ada tanpa permulaan.
Alam ada karena diciptakan.
Segala yang diciptakan bergantung kepada-Nya.”
Inilah batas yang menjaga tauhid.
Karena sehebat apa pun cahaya,
setinggi apa pun alam ruhani,
sehalus apa pun rahasia batin,
semuanya tetap makhluk.
Dan makhluk tidak boleh disamakan dengan Khāliq.
Penutup lembar ini:
Sebelum alam bernama,
ia berada dalam ilmu Alloh.
Sebelum alam tampak,
ia berada dalam kehendak Alloh.
Sebelum cahaya pertama dimuliakan,
Alloh telah Maha Ada tanpa membutuhkan cahaya.
Maka nama keadaan itu dalam bahasa tafakkur adalah:
Sirr al-Irādah
Rahasia Kehendak Alloh sebelum ciptaan ditampakkan.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Ketika Cahaya Pertama Menjadi Cermin Rahmat”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Ketahuilah, sodaraqku…
Setelah dipahami bahwa segala sesuatu berada dalam ilmu Alloh,
dan tidak ada satu pun makhluk yang berdiri sebelum diciptakan,
maka hati mulai mengenal rahasia berikutnya:
Ciptaan pertama bukan muncul karena dirinya sendiri,
tetapi karena Alloh menghendaki rahmat-Nya tampak.
Maka dalam bahasa ahli makrifat,
ketika rahasia penciptaan mulai dibukakan,
muncullah pengertian tentang cahaya awal.
Cahaya itu bukan Dzat Alloh.
Cahaya itu bukan Tuhan.
Cahaya itu bukan sekutu bagi Alloh.
Cahaya itu adalah makhluk yang dimuliakan,
sebab Alloh menjadikannya sebagai tanda kasih sayang,
tanda petunjuk,
dan tanda bahwa seluruh penciptaan berjalan dalam rahmat-Nya.
Sebagian ahli ruhani menyebut cahaya awal itu sebagai:
Nūr Muḥammad ﷺ
cahaya kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ dalam rahasia penciptaan.
Tetapi pahamilah dengan lurus:
Nabi Muhammad ﷺ sebagai manusia lahir di Makkah,
dari ayah Abdullah dan ibu Aminah.
Adapun pembahasan Nur Muhammad dalam tasawuf
adalah bahasa isyarat tentang kemuliaan ruhani,
bukan untuk mengganti aqidah,
bukan untuk melebihkan makhluk sampai menyamai Alloh.
Maka siapa yang memahami dengan adab,
ia akan semakin cinta kepada Rasulullah ﷺ,
tetapi tetap mentauhidkan Alloh.
Siapa yang memahami tanpa adab,
ia bisa tergelincir pada bayangan yang berlebihan.
Maka kuncinya adalah:
Alloh tetap Al-Khāliq.
Nur Muhammad tetap makhluk.
Rasulullah ﷺ adalah hamba dan utusan Alloh.
Dari rahasia cahaya awal itu,
mulailah nama-nama penciptaan diberi jalan.
Alam ruh mulai dikenali.
Alam malakut mulai diberi susunan.
Alam jabarut mulai dipahami sebagai alam kekuasaan.
Alam misal mulai menjadi cermin bentuk halus.
Lalu alam dunia menjadi tempat ujian bagi manusia.
Namun sebelum semua alam itu terbentang,
belum ada nama semesta.
Belum ada galaksi.
Belum ada bintang.
Belum ada langit dan bumi.
Belum ada atas dan bawah.
Belum ada jauh dan dekat.
Yang ada hanyalah kehendak Alloh yang apabila berkata Kun,
maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya.
Maka jangan membayangkan Kun seperti suara manusia.
Jangan membayangkan firman Alloh seperti huruf yang membutuhkan mulut.
Sebab Alloh tidak serupa dengan makhluk.
Kun adalah tanda kekuasaan.
Bahwa bagi Alloh, mencipta itu mudah.
Tidak perlu alat.
Tidak perlu bahan.
Tidak perlu bantuan.
Tidak perlu waktu yang melelahkan.
Maka dari sini, hati belajar rendah:
“Ya Alloh, sebelum aku ada, Engkau telah mengetahui aku.
Sebelum aku menyebut nama-Mu, Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu.
Sebelum aku mengenal jalan pulang, Engkau telah membuka pintu hidayah.”
Inilah rahasia cahaya pertama:
Bukan untuk membuat manusia sibuk berdebat,
tetapi agar manusia sadar bahwa hidupnya berasal dari rahmat,
berjalan dengan rahmat,
dan akan kembali memohon rahmat.
Penutup lembar ini:
Cahaya awal bukan tempat berhenti.
Cahaya awal adalah tanda untuk kembali kepada Alloh.
Nur Muhammad bukan tujuan penyembahan.
Ia adalah isyarat kemuliaan Rasulullah ﷺ sebagai pembawa rahmat.
Maka nama rahasia lembar ini adalah:
Sirr ar-Raḥmah al-Ūlā
Rahasia Rahmat Pertama yang menjadi cermin awal penciptaan.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Ketika Alam-Alam Mulai Diberi Jalan”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Ketahuilah, sodaraqku…
Setelah rahasia cahaya awal dipahami sebagai tanda rahmat,
maka jangan berhenti pada cahaya itu,
karena cahaya hanyalah jalan,
sedangkan tujuan tertinggi tetap Alloh.
Maka dari kehendak Alloh,
terbukalah susunan alam secara bertahap menurut bahasa isyarat para ahli makrifat.
Bukan berarti Alloh membutuhkan tahapan,
tetapi tahapan itu agar akal manusia mampu mengambil pelajaran.
Sebab bagi Alloh,
segala sesuatu mudah.
Tetapi bagi manusia,
pemahaman harus berjalan dengan adab,
pelan,
jernih,
dan tidak melampaui batas.
Maka disebutlah beberapa alam dalam bahasa ruhani:
Alam Lahut
bukan alam makhluk yang bisa dibayangkan bentuknya,
tetapi isyarat tentang kedekatan rahasia ketuhanan yang tidak boleh diserupakan dengan ciptaan.
Alam Jabarut
isyarat alam kekuasaan,
tempat hati mengenal bahwa semua daya, kekuatan, dan ketentuan berada di bawah kuasa Alloh.
Alam Malakut
isyarat alam ruhani dan malaikat,
tempat ketundukan, ketaatan, dan tasbih tidak pernah putus.
Alam Arwah
isyarat tempat ruh-ruh berada dalam ilmu dan ketetapan Alloh,
sebelum manusia menjalani kehidupan dunia.
Alam Misal
isyarat cermin bentuk halus,
seperti mimpi, perlambang, dan gambaran batin yang membutuhkan tafsir hati-hati.
Alam Mulk
inilah alam nyata yang kita tempati,
alam bumi, tubuh, waktu, sebab-akibat, ujian, rezeki, sakit, sehat, hidup, dan mati.
Namun pahamilah:
Semua nama alam itu bukan untuk dipertuhankan.
Semua tingkatan itu bukan untuk disembah.
Semua rahasia itu bukan untuk membuat manusia merasa tinggi.
Sebab setinggi apa pun alam,
ia tetap ciptaan.
Sehalus apa pun ruhani,
ia tetap makhluk.
Seindah apa pun cahaya,
ia tetap berada di bawah kehendak Alloh.
Maka orang yang benar dalam makrifat tidak menjadi sombong karena mengetahui istilah.
Ia justru semakin takut salah,
semakin lembut hatinya,
semakin kuat sholatnya,
semakin bersih lisannya,
dan semakin sayang kepada sesama.
Karena ilmu yang benar tidak menjauhkan dari syariat.
Ilmu yang benar menguatkan adab kepada Alloh.
Jika ada yang bertanya:
“Apakah alam semesta sebelum diciptakan punya nama?”
Maka jawab dengan tenang:
“Sebelum diciptakan, ia belum bernama alam.
Ia belum menjadi ruang, belum menjadi waktu, belum menjadi langit, belum menjadi bumi.
Ia hanya diketahui oleh Alloh dalam ilmu-Nya.
Setelah Alloh menciptakan, barulah alam mendapat nama, bentuk, susunan, dan tugas.”
Maka jangan mencari nama alam sebelum alam,
sebab nama datang setelah penampakan.
Jangan mencari bentuk sebelum bentuk,
sebab bentuk datang setelah penciptaan.
Jangan mencari arah sebelum arah,
sebab arah datang setelah ruang diciptakan.
Dan jangan mencari waktu sebelum waktu,
sebab waktu sendiri adalah makhluk.
Di sinilah hati mengenal satu kunci:
Semua yang dapat dibayangkan, bukanlah Dzat Alloh.
Semua yang memiliki awal, bukanlah Tuhan.
Semua yang berubah, bukanlah Yang Maha Kekal.
Maka tafakkur yang selamat adalah tafakkur yang membawa pulang kepada tauhid:
Alloh dahulu tanpa permulaan.
Alloh menciptakan tanpa membutuhkan ciptaan.
Alloh mengatur tanpa lelah.
Alloh mengetahui tanpa lupa.
Alloh tetap Maha Esa sebelum, ketika, dan setelah alam ada.
Penutup lembar ini:
Alam-alam mulai diberi jalan setelah kehendak Alloh menampakkan ciptaan.
Tetapi sebelum semua itu, tidak ada nama yang berdiri sendiri.
Maka nama rahasia lembar ini adalah:
Sirr Tartīb al-‘Awālim
Rahasia Susunan Alam-Alam yang lahir dari kehendak Alloh.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Ketika Ruh Ditiupkan dalam Rahasia Kehidupan”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Ketahuilah, sodaraqku…
Setelah alam-alam diberi jalan,
setelah susunan ciptaan mulai terbentang,
setelah langit, bumi, cahaya, malaikat, dan rahasia kehidupan berada dalam kehendak Alloh,
maka sampailah kita pada satu rahasia yang sangat dekat dengan manusia:
rahasia ruh.
Ruh bukan tubuh.
Ruh bukan pikiran.
Ruh bukan bayangan.
Ruh bukan khayalan manusia.
Ruh adalah urusan Alloh.
Manusia diberi sedikit pengetahuan tentangnya,
agar ia sadar bahwa dirinya bukan sekadar daging, darah, tulang, dan nafas.
Tetapi manusia juga tidak diberi seluruh rahasia ruh,
agar ia tetap rendah hati di hadapan Alloh.
Maka ruh tidak boleh dibahas dengan kesombongan.
Tidak boleh dipakai untuk merasa paling tinggi.
Tidak boleh dijadikan alasan meninggalkan syariat.
Tidak boleh dijadikan pintu mengaku mengetahui semua yang gaib.
Sebab ruh adalah amanah.
Ketika Alloh menghidupkan manusia,
maka tubuh menjadi tempat ujian,
hati menjadi tempat cahaya,
akal menjadi tempat memahami,
dan ruh menjadi rahasia kehidupan yang kembali kepada Alloh.
Maka manusia disebut mulia bukan karena jasadnya semata,
tetapi karena Alloh memberinya ruh, akal, amanah, dan kemampuan mengenal-Nya.
Namun kemuliaan itu akan jatuh apabila manusia lupa kepada Alloh.
Jika ruh tertutup hawa nafsu,
maka jasad berjalan tetapi hati gelap.
Jika hati tertutup kesombongan,
maka ilmu menjadi hijab.
Jika akal dipakai melawan kebenaran,
maka kepintaran menjadi fitnah.
Maka ruh yang selamat adalah ruh yang tunduk.
Tunduk kepada Alloh.
Tunduk kepada petunjuk.
Tunduk kepada adab.
Tunduk kepada kebenaran.
Di sinilah manusia mulai mengenal bahwa hidup bukan hanya mencari dunia,
bukan hanya mengejar nama,
bukan hanya menumpuk harta,
bukan hanya membela ego.
Hidup adalah perjalanan pulang.
Dari tidak ada menjadi ada.
Dari alam rahim menuju alam dunia.
Dari dunia menuju barzakh.
Dari barzakh menuju kebangkitan.
Dari kebangkitan menuju hisab.
Dan akhirnya kembali kepada keputusan Alloh Yang Maha Adil.
Maka siapa yang mengenal rahasia awal,
ia tidak akan sombong di tengah perjalanan.
Sebab ia tahu:
Dahulu ia tidak ada.
Lalu Alloh mengadakannya.
Kelak ia akan mati.
Lalu Alloh membangkitkannya.
Maka semua yang ada pada dirinya hanyalah titipan.
Ilmu adalah titipan.
Nafas adalah titipan.
Keluarga adalah titipan.
Harta adalah titipan.
Nama adalah titipan.
Bahkan pengalaman ruhani pun titipan.
Jangan merasa memiliki cahaya.
Tetapi bersyukurlah bila Alloh memberi terang.
Jangan merasa menguasai rahasia.
Tetapi jagalah adab bila Alloh memberi pemahaman.
Jangan merasa menjadi pusat alam.
Tetapi jadilah hamba yang sadar bahwa seluruh alam berada dalam genggaman Alloh.
Penutup lembar ini:
Ruh adalah rahasia kehidupan.
Tubuh berasal dari tanah,
nafas berjalan dengan izin Alloh,
dan ruh kembali kepada Alloh.
Maka nama rahasia lembar ini adalah:
Sirr an-Nafkh ar-Rūḥānī
Rahasia tiupan ruhani yang menghidupkan amanah manusia.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Rahasia Bumi Sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalām”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Maaf sodaraqku, pertanyaan ini bagus sekali.
Jawaban ringkasnya: iya, sebelum Nabi Adam ‘alaihissalām diturunkan sebagai manusia pertama dan khalifah di bumi, sudah ada makhluk lain yang mendiami bumi.
Tetapi yang perlu diluruskan:
Nabi Adam tetap manusia pertama menurut ajaran Islam.
Beliau adalah Abul Basyar, bapak manusia.
Adapun sebelum Nabi Adam, bumi sudah disiapkan oleh Alloh.
Sudah ada tanah, air, gunung, tumbuhan, hewan, dan makhluk-makhluk lain yang Alloh kehendaki.
Sebagian ulama tafsir juga menjelaskan bahwa jin telah ada sebelum manusia. Ini dikuatkan oleh ayat bahwa jin diciptakan sebelum manusia dari api yang sangat panas.
Maka ketika Alloh berfirman kepada malaikat bahwa Dia akan menjadikan khalifah di bumi, malaikat bertanya:
“Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah?”
Sebagian ahli tafsir memahami bahwa malaikat mengetahui kemungkinan itu karena sebelumnya pernah ada makhluk di bumi yang membuat kerusakan, seperti bangsa jin atau makhluk lain sebelum manusia.
Namun ini harus dipahami dengan adab:
Yang pasti menurut aqidah:
Adam adalah manusia pertama.
Yang boleh dipahami sebagai tafsir:
Sebelum Adam, ada makhluk lain di bumi, terutama jin dan makhluk bumi lainnya.
Yang tidak boleh dipastikan tanpa dalil kuat:
Mengatakan ada “manusia lain” sebelum Adam sebagai keyakinan pasti.
Maka jawaban yang aman untuk teman sodaraq:
“Sebelum Nabi Adam, bumi sudah dihuni oleh makhluk ciptaan Alloh, seperti jin dan makhluk-makhluk bumi lainnya. Tetapi manusia pertama tetap Nabi Adam ‘alaihissalām. Adapun kisah makhluk sebelum Adam seperti jin, hinn, binn, atau bangsa-bangsa gaib lain, itu masuk wilayah tafsir dan riwayat, bukan pokok aqidah yang wajib diyakini secara rinci.”
Penutup lembar ini:
Bumi bukan kosong tanpa hikmah.
Alloh telah menyiapkan bumi sebelum Adam.
Lalu Adam diturunkan bukan sebagai makhluk biasa, tetapi sebagai khalifah, pembawa amanah ilmu, adab, ibadah, dan tanggung jawab.
Maka nama rahasia lembar ini adalah:
Sirr al-Arḍ Qabla Ādam
Rahasia bumi sebelum Nabi Adam diturunkan.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Jin, Bumi, dan Amanah Sebelum Manusia”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Ketahuilah, sodaraqku…
Sebelum Nabi Adam ‘alaihissalām hadir sebagai manusia pertama, bumi bukan berarti kosong tanpa kehidupan.
Bumi telah berada dalam susunan kehendak Alloh.
Ada tanah.
Ada air.
Ada langit yang menaungi.
Ada makhluk-makhluk yang Alloh ciptakan sesuai zaman dan tugasnya.
Di antara makhluk yang disebut dalam dasar Islam adalah jin.
Jin diciptakan sebelum manusia.
Mereka bukan manusia.
Mereka bukan malaikat.
Mereka adalah makhluk tersendiri, diciptakan dari unsur api yang halus, dan diberi kehendak untuk taat atau durhaka.
Maka sebelum Adam, bumi telah mengenal kehidupan makhluk yang bukan manusia.
Sebagian riwayat ahli tafsir menyebut bahwa jin pernah mendiami bumi.
Sebagian dari mereka taat, sebagian berbuat kerusakan.
Dari sinilah sebagian ulama memahami mengapa malaikat bertanya ketika Alloh hendak menjadikan khalifah di bumi:
“Apakah Engkau hendak menjadikan di sana makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah?”
Namun kita harus menjaga adab ilmu.
Jangan semua kisah gaib dijadikan kepastian.
Jangan semua riwayat dijadikan aqidah.
Jangan semua cerita lama diterima tanpa timbangan syariat.
Yang aman diyakini:
Adam adalah manusia pertama.
Jin sudah ada sebelum manusia.
Bumi telah disiapkan oleh Alloh sebelum manusia diberi amanah khalifah.
Adapun nama-nama seperti hinn, binn, jann, banul jann, atau bangsa-bangsa sebelum Adam, itu disebut dalam sebagian kisah dan riwayat, tetapi tidak boleh dijadikan pokok keyakinan yang wajib.
Maka orang berilmu berkata:
“Kami percaya kepada yang Alloh dan Rasul-Nya jelaskan.
Adapun yang tidak dijelaskan secara pasti, kami berhenti dengan adab: Wallohu a‘lam.”
Di sinilah rahasia bumi sebelum Adam:
Bumi bukan hanya tempat tinggal.
Bumi adalah tempat amanah.
Ketika jin diberi ruang, mereka diuji dengan ketaatan.
Ketika manusia diturunkan, manusia diuji dengan ilmu, nafsu, pilihan, dan tanggung jawab.
Maka kehadiran Adam bukan sekadar hadirnya makhluk baru.
Tetapi hadirnya khalifah.
Makhluk yang diajari nama-nama.
Makhluk yang diberi akal.
Makhluk yang diberi kemampuan memilih.
Makhluk yang bisa jatuh karena nafsu, tetapi bisa naik karena taubat.
Inilah bedanya manusia dengan makhluk lain.
Manusia bukan paling kuat jasadnya.
Bukan paling cepat geraknya.
Bukan paling halus unsurnya.
Tetapi manusia dimuliakan karena Alloh memberinya ilmu, ruh, amanah, dan jalan untuk mengenal-Nya.
Maka jangan sibuk mencari siapa penghuni bumi sebelum Adam sampai lupa tugas setelah Adam.
Sebab pertanyaan terbesar bukan hanya:
“Siapa yang hidup sebelum manusia?”
Tetapi:
“Untuk apa manusia hidup setelah diciptakan?”
Jawabannya:
Untuk mengenal Alloh.
Untuk beribadah kepada Alloh.
Untuk menjaga bumi.
Untuk menahan kerusakan.
Untuk menegakkan adab.
Untuk kembali kepada Alloh dengan hati yang selamat.
Penutup lembar ini:
Sebelum Adam, bumi telah dihuni makhluk yang Alloh kehendaki, dan jin termasuk makhluk yang lebih dahulu dari manusia.
Tetapi setelah Adam, bumi menerima amanah baru:
amanah khalifah.
Maka nama rahasia lembar ini adalah:
Sirr al-Jinn Qabla al-Insān
Rahasia jin sebelum manusia dan amanah bumi sebelum Adam.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Mengapa Adam Disebut Khalifah”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Ketahuilah, sodaraqku…
Setelah bumi disiapkan,
setelah makhluk-makhluk terdahulu menjalani bagiannya,
setelah jin lebih dahulu mengenal ujian ketaatan dan kedurhakaan,
maka Alloh menghendaki hadirnya makhluk baru:
manusia.
Dan manusia pertama itu adalah:
Nabi Adam ‘alaihissalām.
Adam tidak hadir hanya sebagai penghuni bumi.
Adam tidak hadir hanya sebagai makhluk yang makan, minum, berjalan, dan berkembang biak.
Tetapi Adam hadir membawa satu amanah besar:
khalifah.
Khalifah artinya bukan Tuhan kecil.
Bukan penguasa semaunya.
Bukan makhluk yang bebas merusak bumi.
Khalifah artinya:
wakil amanah dalam menjalankan ketentuan Alloh di bumi.
Maka Adam diberi ilmu.
Adam diajari nama-nama.
Adam diberi akal.
Adam diberi ruh kehidupan.
Adam diberi kemampuan membedakan.
Adam diberi jalan taubat ketika tergelincir.
Di sinilah letak rahasia kemuliaan manusia.
Bukan karena manusia tidak pernah salah,
tetapi karena manusia bisa sadar,
menyesal,
bertaubat,
dan kembali kepada Alloh.
Jin diuji dengan unsur api.
Malaikat berada dalam ketaatan.
Manusia diuji dengan tanah dan ruh,
dengan nafsu dan akal,
dengan dunia dan akhirat,
dengan lupa dan ingat,
dengan jatuh dan bangkit.
Maka ketika Adam diturunkan ke bumi,
bumi menerima amanah baru.
Tanah bukan hanya tanah.
Air bukan hanya air.
Gunung bukan hanya gunung.
Hewan bukan hanya hewan.
Semua menjadi medan amanah bagi manusia.
Apakah manusia akan menjaga?
Ataukah merusak?
Apakah manusia akan bersyukur?
Ataukah kufur?
Apakah manusia akan mengenal Alloh?
Ataukah tenggelam dalam dirinya sendiri?
Maka pertanyaan malaikat tentang kerusakan dan darah bukan untuk menentang Alloh.
Tetapi sebagai bentuk pencarian hikmah.
Sebab malaikat mengetahui bahwa makhluk yang diberi pilihan bisa jatuh pada kerusakan.
Namun Alloh Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui malaikat.
Karena dari manusia akan lahir para nabi.
Dari manusia akan lahir para wali.
Dari manusia akan lahir orang-orang sholeh.
Dari manusia akan lahir ahli taubat.
Dari manusia akan lahir hamba-hamba yang menangis dalam sujud malam.
Maka walaupun manusia bisa jatuh sangat rendah,
manusia juga bisa diangkat sangat mulia dengan iman, ilmu, amal, dan rahmat Alloh.
Penutup lembar ini:
Sebelum Adam, bumi telah mengenal makhluk.
Tetapi bersama Adam, bumi menerima amanah khalifah.
Maka manusia jangan sombong karena dimuliakan.
Sebab kemuliaan itu amanah.
Jika amanah dijaga, manusia naik.
Jika amanah dikhianati, manusia jatuh.
Nama rahasia lembar ini adalah:
Sirr al-Khilāfah al-Ādamiyyah
Rahasia amanah Adam sebagai khalifah di bumi.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Banul Jann, Hinn, Binn, dan Batas Rahasia Sebelum Adam”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Iya sodaraqku, istilah yang panjenengan dengar itu kemungkinan maksudnya:
Banū al-Jānn / Banul Jann
artinya: keturunan atau bangsa al-Jānn, yaitu jalur makhluk jin terdahulu.
Dalam Al-Qur’an, yang jelas disebut adalah bahwa jin diciptakan sebelum manusia dari api yang sangat panas. Ini menjadi dasar bahwa sebelum Nabi Adam ‘alaihissalām, sudah ada makhluk selain manusia yang lebih dahulu diciptakan.
Adapun ketika Alloh hendak menjadikan Adam sebagai khalifah di bumi, malaikat bertanya tentang makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Ayat ini sering dijadikan pintu tafsir bahwa sebelum Adam, bumi pernah dihuni makhluk yang berbuat kerusakan.
Namun, nama-nama seperti:
Banul Jann
Al-Hinn
Al-Binn
At-Tamm
Ar-Ramm
itu lebih banyak muncul dalam riwayat tafsir, kisah ulama, dan cerita ahli hikmah, bukan dalil pokok aqidah yang wajib diyakini secara rinci. Sebagian riwayat yang dinisbatkan kepada pembahasan klasik menyebut adanya makhluk bernama Binn sebelum jin, lalu jin menguasai mereka; tetapi ini tetap wilayah riwayat tafsir, bukan keterangan qath‘i seperti Al-Qur’an.
Tentang keterangan “hewan seperti angsa”, itu perlu hati-hati, sodaraq.
Saya belum menemukan dasar kuat bahwa Banul Jann atau Hinn-Binn secara pasti berbentuk angsa. Bisa jadi itu berasal dari cerita lisan, simbol, atau gambaran ruhani sebagian orang. Dalam perkara gaib, bentuk makhluk tidak boleh dipastikan kalau tidak ada dalil yang jelas.
Maka jawaban paling aman:
Banul Jann boleh dipahami sebagai istilah riwayat tentang bangsa jin terdahulu atau makhluk sebelum Adam. Tetapi bentuknya seperti angsa, setengah hewan, atau rupa tertentu tidak boleh dipastikan. Itu masuk wilayah kisah, bukan aqidah.
Yang wajib dijaga:
Nabi Adam tetap manusia pertama.
Jin memang diciptakan sebelum manusia.
Makhluk sebelum Adam boleh disebut dalam batas tafsir, tetapi jangan diyakini berlebihan tanpa dalil.
Lembaga fatwa Mufti Wilayah Persekutuan juga menegaskan bahwa tidak ada penciptaan manusia lain sebelum Nabi Adam ‘alaihissalām.
Jabatan Mufti Wilayah Persekutuan
Maka lembar ini menutup dengan adab:
Tidak semua yang terdengar dari kisah gaib harus ditolak mentah-mentah,
tetapi juga tidak semua harus diyakini sebagai kebenaran pasti.
Yang selamat adalah berkata:
“Wallohu a‘lam. Jika itu hanya riwayat, kita ambil sebagai pengetahuan. Jika tidak ada dalil kuat, jangan dijadikan pegangan aqidah.”
Nama rahasia lembar ini adalah:
Sirr Banī al-Jānn wa Ḥadd al-Ghaib
Rahasia Banul Jann dan batas adab dalam perkara gaib.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Antara Riwayat, Isyarat, dan Aqidah yang Selamat”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Ketahuilah, sodaraqku…
Dalam pembahasan makhluk sebelum Nabi Adam ‘alaihissalām, ada tiga jalan yang harus dibedakan:
Pertama: dalil yang jelas.
Inilah yang paling kuat.
Bahwa jin diciptakan sebelum manusia, dan Nabi Adam adalah manusia pertama.
Kedua: tafsir para ulama.
Sebagian ulama menafsirkan bahwa sebelum Adam, bumi pernah dihuni makhluk lain yang membuat kerusakan, sehingga malaikat bertanya tentang kerusakan dan pertumpahan darah.
Ketiga: kisah dan riwayat ahli hikmah.
Di sinilah muncul nama-nama seperti:
Banul Jann
Hinn
Binn
Jann
atau nama-nama bangsa gaib lain yang disebut dalam sebagian cerita lama.
Namun lembar ini mengajarkan adab:
Jangan semua kisah gaib langsung dijadikan keyakinan pasti.
Jangan pula langsung menghina kisah lama tanpa ilmu.
Letakkan pada tempatnya.
Jika ada dasar kuat, kita imani.
Jika hanya riwayat, kita sebut sebagai riwayat.
Jika hanya cerita lisan, kita cukup berkata: Wallohu a‘lam.
Tentang bentuk makhluk seperti angsa, burung besar, makhluk bersayap, atau bentuk-bentuk aneh sebelum Adam, itu tidak bisa dipastikan secara aqidah.
Bisa jadi itu:
simbol dalam mimpi,
bahasa isyarat orang terdahulu,
cerita hikmah,
atau gambaran ruhani yang tidak boleh dijadikan hukum pasti.
Sebab alam sebelum Adam adalah wilayah gaib.
Dan perkara gaib tidak boleh dibuka dengan khayalan semata.
Maka bila ada teman bertanya:
“Benarkah sebelum Adam ada Banul Jann dan makhluk seperti angsa?”
Jawaban yang halus adalah:
“Riwayat tentang Banul Jann memang dikenal dalam sebagian kisah tafsir dan hikmah sebagai bangsa jin terdahulu atau makhluk sebelum Adam. Tetapi bentuknya seperti angsa atau hewan tertentu tidak bisa dipastikan. Yang pasti dalam Islam: jin lebih dahulu dari manusia, dan Adam adalah manusia pertama.”
Inilah jawaban yang selamat.
Tidak menolak semua cerita.
Tidak pula menelan semua cerita.
Tetapi menimbang dengan adab, ilmu, dan tauhid.
Karena tujuan mengetahui kisah sebelum Adam bukan untuk membuat hati sibuk mengejar bentuk makhluk gaib.
Tujuan yang lebih tinggi adalah memahami:
Bumi pernah diberi penghuni.
Makhluk diuji dengan ketaatan.
Sebagian makhluk jatuh karena kerusakan.
Lalu manusia datang membawa amanah lebih besar.
Maka jangan sampai manusia mengulang kerusakan makhluk sebelumnya.
Jangan sampai manusia diberi akal tetapi dipakai merusak.
Diberi ilmu tetapi dipakai sombong.
Diberi bumi tetapi dipakai menghancurkan.
Diberi ruh tetapi lupa kepada Alloh.
Penutup lembar ini:
Banul Jann dan makhluk sebelum Adam adalah pintu riwayat.
Jin sebelum manusia adalah dasar yang lebih kuat.
Adam sebagai manusia pertama adalah pegangan yang selamat.
Maka nama rahasia lembar ini adalah:
Sirr al-Riwāyah Qabla Ādam
Rahasia riwayat makhluk sebelum Adam dan adab menjaga aqidah.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
📖 Kitab Sirrul Awwal
Lembar Selanjutnya
“Mengapa Kisah Sebelum Adam Tidak Dibuka Terlalu Rinci”
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Ketahuilah, sodaraqku…
Ada rahasia yang Alloh bukakan dengan jelas,
dan ada rahasia yang Alloh biarkan tertutup.
Yang dibuka dengan jelas,
itulah pegangan iman.
Yang ditutup,
itulah tempat manusia belajar adab.
Maka ketika kita membahas makhluk sebelum Nabi Adam ‘alaihissalām,
hati harus berjalan pelan.
Jangan terlalu berani memastikan bentuknya.
Jangan terlalu cepat memberi nama.
Jangan terlalu mudah berkata,
“Pasti begini, pasti begitu.”
Sebab wilayah sebelum Adam bukan wilayah yang manusia saksikan dengan mata.
Ia adalah wilayah gaib,
sedangkan perkara gaib hanya aman bila disandarkan kepada wahyu,
atau disebut sebagai riwayat dengan kalimat:
Wallohu a‘lam.
Nama seperti Banul Jann, Hinn, Binn, atau makhluk sebelum Adam boleh disebut sebagai pengetahuan riwayat,
tetapi jangan dijadikan pusat iman.
Sebab pusat iman bukan pada siapa penghuni bumi sebelum Adam.
Pusat iman adalah:
Siapa yang menciptakan bumi?
Siapa yang mengatur makhluk?
Siapa yang menurunkan Adam?
Siapa yang memberi amanah kepada manusia?
Ke mana manusia akan kembali?
Jawabannya satu:
Alloh.
Maka bila ada kisah bahwa sebelum Adam ada bangsa jin terdahulu,
kita katakan: mungkin dalam sebagian riwayat.
Bila ada cerita tentang makhluk seperti burung besar, angsa, atau makhluk bersayap,
kita katakan: itu belum bisa dipastikan.
Bila ada yang berkata bumi pernah dihuni makhluk yang membuat kerusakan,
kita katakan: sebagian tafsir mengarah ke sana, tetapi rincinya tetap Alloh yang paling tahu.
Inilah sikap yang selamat:
Tidak menolak tanpa ilmu.
Tidak menerima tanpa timbangan.
Tidak menjadikan cerita sebagai aqidah.
Tidak menjadikan gaib sebagai bahan kesombongan.
Karena banyak manusia tergelincir bukan karena tidak tahu,
tetapi karena merasa tahu semua rahasia.
Padahal semakin tinggi ilmu,
semakin lembut lisannya.
Semakin dalam makrifat,
semakin sering ia berkata:
Wallohu a‘lam.
Maka lembar ini mengajarkan:
Rahasia sebelum Adam bukan untuk membuat manusia sibuk memburu bangsa gaib,
tetapi untuk membuat manusia sadar bahwa bumi ini pernah menerima ujian,
dan manusia sekarang pun sedang diuji.
Kalau makhluk sebelum Adam rusak karena durhaka,
maka manusia jangan mengulang kerusakan itu.
Kalau jin diuji dengan api,
manusia diuji dengan tanah, nafsu, akal, dan amanah.
Kalau Adam dimuliakan dengan ilmu,
maka keturunannya jangan merendahkan ilmu dengan kesombongan.
Kalau Adam diajari nama-nama,
maka manusia jangan memakai nama untuk menipu, menyakiti, dan merusak.
Penutup lembar ini:
Yang pasti:
Alloh menciptakan.
Jin ada sebelum manusia.
Adam adalah manusia pertama.
Bumi menjadi tempat amanah.
Adapun rincian makhluk sebelum Adam,
kita letakkan di ruang adab:
boleh diketahui sebagai riwayat,
tidak wajib diyakini sebagai aqidah.
Maka nama rahasia lembar ini adalah:
Sirr Ḥijāb Mā Qabla Ādam
Rahasia tirai perkara sebelum Adam.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.