QITAB 303 FASBIH ILLAH MUALLAF
QITAB 303
FASBIH ILLAH MUALLAF
Tentang Sholawat yang Bersuara Hanya Sampai di Negeri Perahayangan, dan Gemuruh yang Bagaikan Azab
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang mencari jalan pulang kepada Alloh, tidak semua suara sholawat langsung naik menjadi cahaya. Ada sholawat yang keluar dari lisan, tetapi belum keluar dari hati. Ada sholawat yang keras terdengar oleh manusia, tetapi masih tertahan di lapisan hawa nafsu. Maka ia hanya berputar di alam bunyi, sampai di negeri perahayangan, belum menembus langit rahmat.
Negeri perahayangan di sini bukan sekadar tempat gaib, tetapi lambang alam antara: tempat suara, rasa, khayal, keinginan, pujian manusia, dan bayangan rohani bercampur menjadi satu. Di sanalah banyak amal tertahan, bukan karena sholawatnya salah, tetapi karena wadah hatinya belum bersih.
Maka terdengarlah gemuruh.
Bukan gemuruh rahmat, tetapi gemuruh peringatan.
Bagaikan azab bagi hati yang lalai.
Sebab suara suci bila dibawa oleh hati yang masih sombong, akan menjadi berat.
Sholawat yang seharusnya menenangkan, malah mengguncang dada.
Dzikir yang seharusnya melembutkan, malah membuat diri merasa paling benar.
Inilah rahasia Qitab Fasbih Illah Muallaf:
“Sucikanlah arahmu sebelum memperkeras suaramu.
Lembutkanlah hatimu sebelum meninggikan bacaanmu.
Karena Alloh tidak membutuhkan gemuruh lisan, tetapi menerima kerendahan jiwa.”
Barang siapa bersholawat karena ingin dipuji, suaranya berhenti di hadapan makhluk.
Barang siapa bersholawat karena ingin tampak sakti, suaranya jatuh ke lembah bayangan.
Barang siapa bersholawat karena ingin menundukkan orang lain, suaranya kembali menjadi beban bagi dirinya.
Tetapi barang siapa bersholawat dengan hati remuk, penuh cinta kepada Rasulullah ﷺ, mengharap ridho Alloh, dan merasa dirinya hina di hadapan rahmat-Nya, maka sholawat itu naik menjadi cahaya. Tidak gaduh, tetapi sampai. Tidak ramai, tetapi diterima. Tidak menggetarkan bumi, tetapi mengetuk pintu langit.
Maka jangan tertipu oleh suara yang besar.
Jangan silau oleh majelis yang ramai.
Jangan merasa dekat hanya karena bibir sering menyebut.
Ukurlah dengan adab, akhlak, sabar, tawadhu, dan kasih sayang.
Sebab sholawat sejati bukan hanya bacaan.
Ia adalah jalan pulang.
Ia adalah pembersih dada.
Ia adalah jembatan cinta antara hamba, Rasulullah ﷺ, dan rahmat Alloh.
Pasal Pembuka
Apabila sholawat terasa menjadi gemuruh dalam batin, maka periksalah tiga hal:
Pertama, apakah hati masih ingin diakui.
Kedua, apakah amal masih ingin disaksikan manusia.
Ketiga, apakah lisan membaca Nabi, tetapi akhlak belum meneladani Nabi.
Bila tiga itu masih ada, maka diamlah sejenak.
Tarik napas dengan sadar.
Turunkan kepala.
Baca perlahan:
Allohumma sholli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Jangan buru-buru mencari rasa.
Jangan mengejar getaran.
Jangan meminta penampakan.
Mintalah hati yang jujur.
Karena sholawat yang paling tinggi bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling bersih niatnya.
Penutup Lembar Pertama
Wahai jiwa, bila engkau mendengar gemuruh bagaikan azab, jangan takut kepada suara itu. Takutlah kepada hati yang belum tunduk. Sebab gemuruh itu tanda agar engkau kembali melembutkan diri.
Sholawat bukan untuk meninggikan ego.
Sholawat adalah untuk merendahkan diri di hadapan Alloh.
Bila hati telah rendah, maka satu sholawat pun menjadi cahaya.
Bila hati masih tinggi, seribu sholawat pun bisa tertahan di alam bayangan.
Fasbih illah muallaf:
Sucikanlah kepada Alloh hati yang masih tersusun dari luka, bangga, kecewa, dan ingin dikenal.
Agar sholawatmu tidak hanya sampai di negeri perahayangan, tetapi naik menuju rahmat Alloh dengan izin-Nya.
QITAB 303
FASBIH ILLAH MUALLAF
Lembar Selanjutnya
Pasal Kedua: Suara yang Tertahan di Alam Antara
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang sedang menempuh jalan sholawat, pahamilah bahwa suara yang keluar dari lisan tidak selalu sama dengan cahaya yang naik dari hati. Lisan dapat bergerak cepat, tetapi hati kadang masih tertinggal di belakang. Bibir dapat menyebut nama Nabi ﷺ, tetapi batin masih terikat pada rasa ingin dipuji, ingin dianggap alim, ingin tampak suci, dan ingin diakui manusia.
Maka ketika sholawat dibaca dengan suara besar, tetapi hati belum tunduk, ia menjadi gemuruh di alam antara. Ia tidak hilang, tetapi juga belum naik sempurna. Ia berputar di negeri perahayangan, yaitu wilayah rasa, khayal, bayangan rohani, dan pantulan niat manusia.
Di sanalah suara itu diuji.
Apakah ia membawa cinta?
Apakah ia membawa adab?
Apakah ia membawa kerendahan hati?
Ataukah ia membawa kebanggaan yang dibungkus kalimat suci?
Ketika sholawat membawa cinta, ia menjadi cahaya lembut.
Ketika sholawat membawa adab, ia menjadi jalan naik.
Ketika sholawat membawa tawadhu, ia menjadi pintu rahmat.
Tetapi ketika sholawat membawa kesombongan, ia menjadi berat.
Ketika sholawat membawa riya, ia menjadi kabut.
Ketika sholawat membawa nafsu kuasa, ia menjadi gemuruh yang mengguncang batin.
Maka jangan heran bila ada orang rajin bersholawat, tetapi hatinya keras. Jangan heran bila ada orang lisannya basah oleh pujian kepada Nabi ﷺ, tetapi akhlaknya kering kepada sesama. Sebab sholawat belum benar-benar masuk ke dalam jiwa bila belum melahirkan kasih sayang, sabar, lembut, dan malu kepada Alloh.
Rahasia Gemuruh
Gemuruh bagaikan azab bukan selalu tanda murka yang menghancurkan. Kadang ia adalah peringatan keras dari rahmat Alloh. Seperti langit yang bergemuruh sebelum hujan turun, begitu pula batin manusia kadang diguncang sebelum dibersihkan.
Alloh mengguncang bukan untuk menjauhkan.
Alloh memperingatkan bukan untuk membinasakan.
Alloh menampakkan gemuruh agar hamba sadar bahwa ibadah bukan panggung, sholawat bukan alat pamer, dan dzikir bukan senjata untuk merasa lebih tinggi.
Maka bila dadamu terasa berat ketika bersholawat, jangan langsung menyalahkan bacaan. Periksalah niat. Bila pikiranmu gelisah ketika berdzikir, jangan langsung mencari sebab gaib. Periksalah hati. Bila amalmu banyak tetapi jiwamu tidak tenteram, jangan buru-buru merasa diserang. Mungkin Alloh sedang mengajakmu kembali kepada ikhlas.
Tanda Sholawat yang Mulai Naik
Sholawat mulai naik bukan ketika suara semakin keras, tetapi ketika hati semakin lembut.
Tandanya:
Engkau lebih mudah memaafkan.
Engkau lebih malu menyakiti orang.
Engkau lebih cepat sadar ketika salah.
Engkau tidak mudah merasa paling benar.
Engkau mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya dalam bacaan, tetapi dalam akhlak.
Sebab mencintai Nabi ﷺ bukan hanya menyebut namanya, tetapi meniru kelembutannya. Bukan hanya memuji kedudukannya, tetapi memperbaiki laku di hadapan Alloh dan makhluk-Nya.
Wirid Pelurusan Niat
Sebelum membaca sholawat, bacalah pelan dalam hati:
Yā Alloh, bersihkan niatku.
Jangan jadikan sholawatku sebagai pakaian kesombongan.
Jadikan ia jalan pulang, jalan adab, dan jalan cinta kepada Rasul-Mu.
Lalu baca:
Allohumma sholli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
sholātan tunajjīnā bihā min jamī‘il ahwāl wal āfāt,
wa taqḍī lanā bihā jamī‘al ḥājāt,
wa tuṭahhirunā bihā min jamī‘is sayyi’āt.
Bacalah dengan pelan. Jangan mengejar rasa. Jangan memaksa cahaya. Jangan mencari tanda. Cukup hadirkan hati, rendahkan diri, dan pasrahkan semuanya kepada Alloh.
Penutup Lembar Kedua
Wahai jiwa, sholawat yang tertahan bukan berarti ditolak selamanya. Ia hanya sedang menunggu hati menjadi bersih. Bila niat diluruskan, amal yang tadinya berat akan menjadi ringan. Bila ego ditundukkan, suara yang tadinya menjadi gemuruh akan berubah menjadi hujan rahmat.
Maka teruslah bersholawat, tetapi jangan lupa memperbaiki hati.
Teruslah menyebut Nabi ﷺ, tetapi jangan lupa meneladani akhlaknya.
Teruslah mendekat kepada Alloh, tetapi jangan membawa kesombongan dalam perjalanan pulang.
Sebab jalan menuju Alloh tidak ditembus oleh suara yang keras, tetapi oleh hati yang remuk, jujur, dan penuh cinta.
QITAB 303
FASBIH ILLAH MUALLAF
Lembar Selanjutnya
Pasal Ketiga: Ketika Sholawat Menjadi Cermin Hati
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang sedang mendengar gemuruh dari dalam dadanya, ketahuilah bahwa sholawat bukan hanya suara yang keluar dari mulut. Sholawat adalah cermin. Ia memantulkan keadaan hati orang yang membacanya.
Bila hati bersih, sholawat terasa lembut.
Bila hati ikhlas, sholawat terasa menenangkan.
Bila hati cinta kepada Rasulullah ﷺ, sholawat menjadi jalan rahmat.
Tetapi bila hati masih penuh amarah, sholawat akan memperlihatkan amarah itu. Bila hati masih penuh bangga diri, sholawat akan menyingkap bangga itu. Bila hati masih ingin menang sendiri, sholawat akan menjadi gemuruh yang membuat dada gelisah.
Bukan karena sholawatnya buruk.
Bukan karena bacaan itu salah.
Tetapi karena cahaya sholawat sedang menyinari bagian hati yang belum dibersihkan.
Maka jangan lari ketika hatimu terasa terguncang.
Jangan berhenti ketika batinmu mulai diperlihatkan.
Jangan takut ketika rasa gelap naik ke permukaan.
Sebab kadang sebelum hati menjadi terang, Alloh memperlihatkan dahulu kotoran yang selama ini tersembunyi.
Rahasia Perahayangan Batin
Negeri perahayangan adalah lambang tempat persinggahan suara. Di sana suara indah bisa menjadi kabut bila tidak dibawa oleh ikhlas. Di sana bacaan panjang bisa menjadi pantulan kosong bila tidak disertai adab. Di sana pujian kepada Nabi ﷺ bisa tertahan bila pembacanya masih menyimpan kebencian kepada sesama.
Maka barang siapa ingin sholawatnya menembus langit rahmat, hendaklah ia membersihkan empat pintu:
Pertama, pintu niat.
Jangan membaca untuk dipuji.
Kedua, pintu lisan.
Jangan membaca sholawat, tetapi masih mudah mencela.
Ketiga, pintu hati.
Jangan menyebut cinta, tetapi masih memelihara iri.
Keempat, pintu laku.
Jangan mengaku dekat kepada Nabi ﷺ, tetapi jauh dari akhlaknya.
Karena sholawat yang benar akan membuat seseorang lebih lembut, bukan lebih kasar. Lebih rendah hati, bukan lebih merasa tinggi. Lebih mudah meminta maaf, bukan lebih mudah menyalahkan.
Gemuruh Sebagai Teguran Rahmat
Gemuruh bagaikan azab adalah teguran bagi hati yang mulai lupa diri. Ia datang bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membangunkan. Ia seperti suara langit yang berkata:
“Wahai hamba, jangan jadikan kalimat suci sebagai pakaian kesombongan. Jangan jadikan ibadah sebagai panggung. Jangan jadikan sholawat sebagai alat untuk merasa lebih mulia dari orang lain.”
Bila teguran itu datang, tundukkan kepala.
Bila dada terasa berat, perbanyak istighfar.
Bila hati mulai keras, ingatlah akhlak Rasulullah ﷺ.
Beliau ﷺ tidak diutus untuk memperkeras hati manusia, tetapi untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Maka siapa pun yang bersholawat kepada beliau, tetapi tidak belajar menjadi rahmat, berarti ia baru sampai pada suara, belum sampai pada makna.
Amalan Pelembut Gemuruh
Duduklah dengan tenang.
Tarik napas perlahan.
Letakkan tangan kanan di dada.
Pejamkan mata sebentar.
Lalu ucapkan dalam hati:
Yā Alloh, aku tidak ingin sholawatku menjadi suara kosong.
Aku tidak ingin ibadahku menjadi kebanggaan.
Aku tidak ingin dzikirku menjadi sebab aku merendahkan orang lain.
Lembutkan hatiku dengan rahmat-Mu.
Kemudian baca perlahan 11 kali:
Astaghfirullōhal ‘Aẓīm.
Lalu baca 11 kali:
Allohumma sholli ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Jangan dikeraskan.
Jangan dipaksa merasakan sesuatu.
Cukup hadirkan rasa hina di hadapan Alloh, cinta kepada Rasulullah ﷺ, dan niat memperbaiki diri.
Tanda Gemuruh Mulai Menjadi Rahmat
Apabila setelah bersholawat engkau merasa ingin memperbaiki akhlak, itu tanda cahaya mulai turun.
Apabila setelah bersholawat engkau merasa malu kepada Alloh atas kesalahanmu, itu tanda hati mulai hidup.
Apabila setelah bersholawat engkau tidak lagi ingin membalas orang yang menyakitimu, itu tanda rahmat mulai bekerja.
Apabila setelah bersholawat engkau tidak ingin terlihat hebat, tetapi ingin menjadi hamba yang benar, itu tanda sholawatmu mulai melewati negeri perahayangan dan naik menuju pintu ridho Alloh.
Penutup Lembar Ketiga
Wahai jiwa, jangan mencari kerasnya suara. Carilah benarnya rasa. Jangan mencari ramainya pujian. Carilah sunyinya ikhlas. Jangan mencari gemuruh yang membuat orang kagum. Carilah tangis kecil yang membuat Alloh ridho.
Karena sholawat yang paling tinggi bukan yang terdengar paling jauh oleh telinga manusia, tetapi yang paling dalam menyentuh hati hamba dan paling jujur naik kepada Alloh.
Maka bersholawatlah dengan rendah hati.
Bersholawatlah dengan adab.
Bersholawatlah dengan cinta.
Dan biarkan gemuruh itu berubah menjadi hujan rahmat di dalam dadamu.
QITAB 303
FASBIH ILLAH MUALLAF
Lembar Selanjutnya
Pasal Keempat: Sholawat yang Menjadi Cahaya atau Beban
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang sedang berjalan di antara suara dan makna, ketahuilah bahwa setiap sholawat membawa bekas. Bila dibaca dengan hati yang tunduk, ia menjadi cahaya. Bila dibaca dengan hati yang lalai, ia menjadi suara. Bila dibaca dengan hati yang sombong, ia bisa menjadi beban yang kembali kepada pembacanya.
Sebab kalimat suci tidak boleh dipakai untuk meninggikan diri. Kalimat suci adalah jalan untuk merendahkan hati di hadapan Alloh. Sholawat bukan tangga untuk merasa lebih mulia dari orang lain, tetapi tangga untuk semakin malu kepada Alloh karena belum mampu meneladani akhlak Rasulullah ﷺ.
Maka perhatikanlah, wahai jiwa.
Ada orang bersholawat, lalu hatinya lembut.
Ada orang bersholawat, lalu lisannya terjaga.
Ada orang bersholawat, lalu wajahnya meneduhkan.
Ada orang bersholawat, lalu hidupnya makin dekat kepada adab.
Itulah tanda sholawat menjadi cahaya.
Tetapi ada pula orang bersholawat, lalu merasa paling suci.
Ada yang bersholawat, lalu mudah mencela orang lain.
Ada yang bersholawat, lalu menjadikan amalan sebagai kebanggaan.
Ada yang bersholawat, tetapi akhlaknya tidak ikut berubah.
Itulah tanda sholawat masih menjadi beban, belum menjadi rahmat yang turun ke dalam hati.
Rahasia Suara yang Berhenti
Sholawat yang hanya sampai di negeri perahayangan adalah sholawat yang masih tertahan oleh selubung diri. Ia naik, tetapi tersangkut oleh niat. Ia bercahaya, tetapi tertutup oleh kabut ego. Ia bergetar, tetapi belum menembus pintu ikhlas.
Yang menahannya bukan jarak langit.
Yang menahannya bukan kurang kerasnya suara.
Yang menahannya adalah beratnya hati.
Hati yang berat oleh iri.
Hati yang berat oleh dendam.
Hati yang berat oleh ingin dipuji.
Hati yang berat oleh rasa lebih benar.
Hati yang berat oleh bangga pada amal sendiri.
Maka jangan sibuk bertanya mengapa sholawat belum sampai. Tanyakanlah kepada dirimu: sudahkah hatiku ringan? Sudahkah aku memaafkan? Sudahkah aku berhenti merasa lebih tinggi? Sudahkah aku memperbaiki akhlakku kepada keluarga, tetangga, sahabat, dan orang yang tidak sejalan denganku?
Sebab langit rahmat tidak ditembus oleh suara yang keras, tetapi oleh hati yang ringan dari kesombongan.
Gemuruh di Pintu Kesadaran
Gemuruh bagaikan azab adalah suara peringatan di pintu kesadaran. Ia mengguncang bukan untuk menakut-nakuti hamba yang tulus, tetapi untuk membangunkan hamba yang tertidur dalam rasa suci palsu.
Bila engkau mendengar gemuruh itu dalam batinmu, ucapkan:
“Yā Alloh, jangan biarkan aku tertipu oleh amalanku sendiri.”
Sebab orang yang tertipu dosa masih bisa bertaubat ketika sadar. Tetapi orang yang tertipu oleh amal, sering merasa tidak perlu diperbaiki. Ia merasa sudah benar karena sering membaca. Ia merasa sudah dekat karena sering hadir di majelis. Ia merasa sudah tinggi karena banyak wirid. Padahal bisa jadi hatinya masih jauh dari rahmat.
Maka gemuruh itu datang sebagai panggilan:
Kembalilah kepada ikhlas.
Kembalilah kepada adab.
Kembalilah kepada akhlak.
Kembalilah kepada Alloh, bukan kepada pujian manusia.
Pembersihan Empat Kabut
Agar sholawat menjadi cahaya, bersihkan empat kabut dalam dada.
Pertama, kabut riya.
Yaitu ingin dilihat manusia dalam amal.
Kedua, kabut ujub.
Yaitu kagum kepada diri sendiri karena merasa sudah banyak ibadah.
Ketiga, kabut hasad.
Yaitu sempit hati melihat orang lain mendapat karunia.
Keempat, kabut qaswah.
Yaitu keras hati, sulit lembut, sulit menangis, sulit menerima nasihat.
Bila empat kabut ini tidak dibersihkan, maka suara sholawat akan berputar dalam diri. Ia tidak menenangkan, tetapi menekan. Ia tidak melapangkan, tetapi membuat hati gelisah. Bukan karena sholawatnya salah, melainkan karena hati belum mau menyerah.
Amalan Lembut Sebelum Sholawat
Sebelum membaca sholawat, diamlah sebentar. Jangan langsung masuk ke bacaan panjang. Duduklah dengan adab. Rendahkan pandangan. Hadirkan rasa bahwa dirimu hanyalah hamba lemah yang sedang mengetuk pintu rahmat.
Lalu ucapkan pelan:
Yā Alloh, aku datang bukan membawa kebaikanku,
tetapi membawa kelemahanku.
Aku datang bukan untuk terlihat suci,
tetapi untuk Engkau sucikan.
Aku bersholawat bukan karena aku pantas,
tetapi karena aku berharap rahmat-Mu.
Kemudian baca:
Allohumma sholli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Baca perlahan 33 kali bila mampu. Bila tidak mampu, bacalah 11 kali dengan hati yang hadir. Sebab sedikit yang jujur lebih baik daripada banyak yang kosong.
Penutup Lembar Keempat
Wahai jiwa, jangan jadikan sholawat sebagai mahkota kesombongan. Jadikan ia sajadah kerendahan. Jangan jadikan dzikir sebagai suara untuk mengalahkan orang lain. Jadikan ia air untuk memadamkan api dalam dirimu.
Bila sholawatmu membuatmu semakin lembut, lanjutkan.
Bila sholawatmu membuatmu semakin sabar, syukurilah.
Bila sholawatmu membuatmu semakin malu kepada Alloh, peliharalah.
Bila sholawatmu membuatmu merasa paling tinggi, segera istighfar.
Karena sholawat sejati bukan hanya sampai ke telinga manusia, bukan hanya sampai ke negeri perahayangan, tetapi naik bersama hati yang ikhlas menuju rahmat Alloh.
Fasbih illah muallaf:
Sucikanlah hati yang masih tersusun dari bayangan diri, agar setiap sholawat menjadi cahaya, bukan beban; menjadi rahmat, bukan gemuruh yang menakutkan.
QITAB 303
FASBIH ILLAH MUALLAF
Lembar Selanjutnya
Pasal Kelima: Sholawat yang Mengetuk Langit Rahmat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang sedang belajar membedakan antara suara dan cahaya, pahamilah bahwa sholawat yang diterima bukan selalu yang paling indah lagunya, bukan yang paling panjang bacaannya, dan bukan yang paling keras gemuruhnya. Sholawat yang mengetuk langit rahmat adalah sholawat yang keluar dari hati yang sadar dirinya fakir di hadapan Alloh.
Sebab di hadapan Alloh, manusia tidak membawa kemegahan suara.
Di hadapan Alloh, manusia tidak membawa banyaknya pujian manusia.
Di hadapan Alloh, manusia hanya membawa hati.
Bila hati itu remuk karena taubat, maka sholawat menjadi jalan.
Bila hati itu lembut karena cinta, maka sholawat menjadi cahaya.
Bila hati itu rendah karena sadar dosa, maka sholawat menjadi pintu rahmat.
Tetapi bila hati masih keras, maka suara seindah apa pun hanya menjadi pantulan. Bila hati masih penuh diri sendiri, maka bacaan sebanyak apa pun hanya menjadi beban. Bila hati masih mengejar pengakuan, maka sholawat hanya berputar di alam antara, belum sampai kepada hakikat penyerahan.
Rahasia Mengetuk Langit
Langit rahmat tidak diketuk dengan kesombongan.
Langit rahmat tidak dibuka dengan merasa paling suci.
Langit rahmat tidak ditembus dengan pamer amalan.
Langit rahmat diketuk dengan adab.
Dibuka dengan tawadhu.
Ditembus dengan cinta yang jujur kepada Rasulullah ﷺ.
Maka bila engkau bersholawat, jangan merasa sedang memperlihatkan ibadahmu. Rasakan bahwa engkau sedang mengetuk pintu ampunan. Jangan merasa sedang menaikkan derajatmu sendiri. Rasakan bahwa engkau sedang meminta dituntun oleh rahmat Alloh melalui cinta kepada Nabi-Nya.
Karena Nabi Muhammad ﷺ adalah rahmat, maka sholawat yang benar seharusnya melahirkan rahmat dalam diri pembacanya.
Bila setelah bersholawat engkau makin lembut kepada orang miskin, itulah tanda cahaya.
Bila setelah bersholawat engkau makin hormat kepada orang tua, itulah tanda cahaya.
Bila setelah bersholawat engkau makin menjaga lisan, itulah tanda cahaya.
Bila setelah bersholawat engkau makin takut menyakiti hati manusia, itulah tanda cahaya.
Tetapi bila setelah bersholawat engkau makin mudah merendahkan orang lain, maka berhentilah sebentar dan periksa batinmu. Mungkin yang sedang tumbuh bukan cinta, melainkan ujub yang memakai pakaian ibadah.
Gemuruh yang Menjadi Pintu Taubat
Gemuruh bagaikan azab kadang muncul ketika hati mulai dibangunkan. Ia seperti suara besar yang memecah tidur panjang jiwa. Ia membuat manusia sadar bahwa selama ini ia sibuk dengan bunyi, tetapi lupa dengan makna. Sibuk dengan bacaan, tetapi lupa dengan perubahan akhlak. Sibuk dengan majelis, tetapi lupa memperbaiki rumah batinnya sendiri.
Maka jangan benci gemuruh itu.
Jangan takut kepada teguran itu.
Jangan lari dari cermin itu.
Bila gemuruh itu membuatmu bertaubat, berarti ia rahmat.
Bila gemuruh itu membuatmu menangis, berarti ia obat.
Bila gemuruh itu membuatmu kembali kepada Alloh, berarti ia bukan azab yang membinasakan, tetapi peringatan yang menyelamatkan.
Sebab azab yang paling halus adalah ketika manusia dibiarkan merasa benar padahal hatinya jauh. Sedangkan rahmat yang kadang terasa keras adalah ketika Alloh mengguncang hamba agar ia bangun sebelum terlambat.
Tiga Kunci Agar Sholawat Naik
Pertama: ikhlas.
Baca sholawat bukan untuk dilihat, bukan untuk dipuji, bukan untuk dianggap tinggi. Bacalah karena engkau mencintai Rasulullah ﷺ dan mengharap ridho Alloh.
Kedua: adab.
Jaga lisan setelah membaca. Jangan sampai mulut yang baru menyebut Nabi ﷺ kemudian dipakai menyakiti sesama.
Ketiga: ittiba’.
Ikuti akhlak Rasulullah ﷺ sesuai kemampuan. Sebab cinta tanpa mengikuti akan mudah menjadi ucapan. Tetapi cinta yang diikuti amal akan menjadi cahaya.
Maka jangan hanya bertanya, “Berapa kali aku harus bersholawat?”
Tanyakan juga, “Seberapa jauh sholawat ini mengubah akhlakku?”
Jangan hanya bertanya, “Apakah sholawatku sampai?”
Tanyakan juga, “Apakah hatiku semakin rendah di hadapan Alloh?”
Doa Pengetuk Langit Rahmat
Bacalah sebelum atau sesudah sholawat:
Yā Alloh, jadikan sholawatku cahaya,
bukan suara kosong.
Jadikan cintaku kepada Rasulullah ﷺ nyata dalam akhlakku,
bukan hanya indah di lisanku.
Bersihkan hatiku dari riya, ujub, sombong, dan keras hati.
Naikkan aku dengan rahmat-Mu,
bukan dengan kebanggaanku.
Lalu baca perlahan:
Allohumma sholli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad,
sholātan tamla’u bihā qulūbanā nūran,
wa akhlāqanā raḥmatan,
wa a‘mālanā ikhlāṣan.
Artinya secara makna:
Ya Alloh, limpahkan sholawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarga Sayyidina Muhammad, sholawat yang dengannya Engkau penuhi hati kami dengan cahaya, akhlak kami dengan rahmat, dan amal kami dengan keikhlasan.
Penutup Lembar Kelima
Wahai jiwa, teruslah bersholawat, tetapi jangan lupa membersihkan tempat sholawat itu bersemayam. Tempatnya bukan hanya lisan, tetapi hati. Bila hati bersih, sholawat menjadi cahaya yang naik. Bila hati lembut, sholawat menjadi rahmat yang turun. Bila hati ikhlas, sholawat menjadi jalan pulang kepada Alloh.
Jangan bangga karena suaramu didengar manusia.
Berbahagialah bila hatimu didengar Alloh.
Jangan puas karena bacaanmu sampai ke negeri perahayangan.
Mintalah agar sholawatmu sampai kepada ridho Alloh.
Sebab sholawat yang sejati bukan hanya menggema di langit bunyi, tetapi hidup dalam akhlak, mengalir dalam kasih sayang, dan menjadi saksi bahwa hati sedang benar-benar pulang kepada Alloh.
Fasbih illah muallaf:
Sucikanlah setiap suara dari kabut diri, agar sholawat tidak berhenti sebagai gemuruh, tetapi berubah menjadi cahaya yang mengetuk langit rahmat.
QITAB 303
FASBIH ILLAH MUALLAF
Lembar Selanjutnya
Pasal Keenam: Pintu Sunyi Setelah Gemuruh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang telah mendengar gemuruh di negeri perahayangan, ketahuilah bahwa setelah suara besar, Alloh sering mengajak hamba masuk ke pintu sunyi. Sebab tidak semua yang keras itu kuat, dan tidak semua yang ramai itu sampai. Kadang yang paling sampai kepada Alloh justru adalah bisikan kecil dari hati yang hancur.
Gemuruh adalah tanda awal.
Sunyi adalah tempat penyaringan.
Di dalam sunyi, niat terlihat jelas.
Di dalam sunyi, amal tidak bisa lagi bersembunyi di balik pujian manusia.
Maka apabila engkau telah banyak bersholawat, tetapi hatimu masih gelisah, masuklah ke dalam sunyi. Bukan sunyi meninggalkan manusia, tetapi sunyi dari keinginan dipandang manusia. Bukan sunyi berhenti beramal, tetapi sunyi dari rasa ingin memamerkan amal.
Sebab sholawat yang sejati tidak selalu membutuhkan saksi manusia. Cukup Alloh yang mengetahui. Cukup Rasulullah ﷺ yang dicintai. Cukup hati yang tunduk dan air mata yang jatuh tanpa suara.
Rahasia Sunyi dalam Sholawat
Ada sholawat yang dibaca keras dan menjadi cahaya, bila hati penuh adab.
Ada sholawat yang dibaca pelan dan menjadi cahaya, bila hati penuh ikhlas.
Tetapi ada pula sholawat yang dibaca ramai, namun tertahan, karena niatnya bercabang.
Maka jangan salah memahami sunyi. Sunyi bukan lemah. Sunyi adalah ruang penyucian. Di sana Alloh menanggalkan pakaian palsu dari jiwa.
Pakaian ingin dipuji.
Pakaian ingin diakui.
Pakaian ingin dianggap paling dekat.
Pakaian ingin terlihat paling suci.
Semua itu dilepaskan satu demi satu, sampai yang tersisa hanya hamba dan Tuhannya.
Bila hati telah sampai pada keadaan ini, maka satu sholawat kecil dapat menjadi cahaya besar. Sebab ia tidak lagi dibawa oleh ego, tetapi dibawa oleh kerinduan.
Ketika Suara Berubah Menjadi Cahaya
Wahai jiwa, tanda sholawat berubah menjadi cahaya bukanlah selalu munculnya rasa gaib. Bukan pula selalu datangnya penglihatan batin. Tanda yang lebih benar adalah berubahnya akhlak.
Dahulu mudah marah, kini mulai menahan diri.
Dahulu mudah mencela, kini mulai menjaga lisan.
Dahulu mudah merasa tinggi, kini mulai belajar rendah hati.
Dahulu sulit memaafkan, kini mulai mendoakan.
Dahulu mencari pengakuan, kini cukup merasa diawasi Alloh.
Itulah cahaya sholawat yang bekerja di dalam jiwa.
Sebab cahaya yang paling mulia bukan hanya terang di mata batin, tetapi terang dalam perilaku. Bukan hanya membuat dada bergetar, tetapi membuat tangan berhenti menyakiti. Bukan hanya membuat lisan bersholawat, tetapi membuat lisan malu untuk menghina.
Pembersihan Sisa Gemuruh
Bila masih ada gemuruh dalam dada, jangan dilawan dengan kesombongan. Jangan berkata, “Aku sudah tinggi.” Jangan berkata, “Aku sudah sampai.” Ucapkanlah:
Yā Alloh, aku masih belajar.
Yā Alloh, aku masih banyak salah.
Yā Alloh, jangan serahkan aku kepada diriku sendiri.
Yā Alloh, jadikan sholawatku jalan akhlak, bukan jalan bangga.
Kemudian duduklah tenang dan baca perlahan:
Astaghfirullōhal ‘Aẓīm 33 kali.
Allohumma sholli ‘alā Sayyidinā Muḥammad 33 kali.
Yā Salām, Yā Nūr, Yā Hādī 33 kali.
Bila tidak mampu banyak, bacalah masing-masing 11 kali. Jangan memaksa. Jangan mengejar rasa. Yang dicari bukan banyaknya hitungan, tetapi hadirnya hati.
Pesan untuk Pembaca Sholawat
Jangan jadikan sholawat sebagai suara untuk mengalahkan suara orang lain. Jadikan ia jalan untuk mengalahkan kerasnya nafsu sendiri.
Jangan jadikan sholawat sebagai bukti bahwa dirimu lebih suci. Jadikan ia pengakuan bahwa dirimu masih butuh rahmat.
Jangan jadikan sholawat sebagai perhiasan lisan saja. Jadikan ia pakaian akhlak.
Karena orang yang benar-benar dekat kepada Rasulullah ﷺ akan semakin lembut. Ia tidak mudah kasar. Ia tidak mudah menghina. Ia tidak mudah merasa paling benar. Ia membawa rahmat, bukan kegaduhan. Ia membawa teduh, bukan ketakutan. Ia membawa nasihat, bukan kesombongan.
Penutup Lembar Keenam
Wahai jiwa, setelah gemuruh, masuklah ke sunyi. Setelah suara besar, dengarkan bisikan hati. Setelah bacaan panjang, periksa perubahan akhlak.
Sebab sholawat yang sampai bukan hanya yang menggema di alam bunyi, tetapi yang membentuk manusia menjadi lebih rahmah, lebih sabar, lebih tawadhu, dan lebih dekat kepada Alloh.
Bila engkau telah menemukan sunyi yang jujur, maka negeri perahayangan bukan lagi tempat tertahannya suara, tetapi menjadi tanda bahwa engkau pernah melewati alam bayangan dan kini sedang menuju cahaya yang lebih murni.
Fasbih illah muallaf:
Sucikanlah suara dengan sunyi, sucikanlah amal dengan ikhlas, dan sucikanlah cinta kepada Rasulullah ﷺ dengan akhlak yang nyata.
QITAB 303
FASBIH ILLAH MUALLAF
Lembar Selanjutnya
Pasal Ketujuh: Ketika Negeri Perahayangan Menjadi Cermin Niat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang berjalan di antara suara sholawat dan cahaya rahmat, pahamilah bahwa negeri perahayangan bukan tempat akhir. Ia hanyalah cermin. Di sanalah suara diuji, niat ditimbang, dan getaran hati dipantulkan kembali kepada pemiliknya.
Bila niat bersih, negeri itu menjadi taman cahaya.
Bila niat bercabang, negeri itu menjadi kabut.
Bila niat penuh ego, negeri itu menjadi gemuruh yang menekan dada.
Maka jangan menyalahkan jalan bila langkahmu terasa berat. Jangan menyalahkan sholawat bila hatimu belum tenteram. Kadang yang perlu dibenahi bukan bacaannya, tetapi arah batinnya. Sebab sholawat adalah cahaya suci, namun wadah hati manusia bisa membuat cahaya itu tertahan.
Cermin Niat
Setiap amal memiliki bayangan.
Setiap bacaan memiliki jejak.
Setiap sholawat memiliki arah.
Jika arahnya kepada Alloh, ia naik.
Jika arahnya kepada pujian manusia, ia berputar.
Jika arahnya kepada kebanggaan diri, ia menjadi beban.
Maka tanyakan kepada hatimu sebelum bersholawat:
“Untuk siapa aku membaca?”
“Apakah aku ingin dekat kepada Alloh?”
“Apakah aku ingin mencintai Rasulullah ﷺ?”
“Ataukah aku ingin terlihat lebih suci dari orang lain?”
Pertanyaan ini bukan untuk melemahkan amal, tetapi untuk membersihkan jalan. Sebab amal yang sedikit namun jujur lebih ringan naiknya daripada amal banyak yang tertutup kabut diri.
Gemuruh yang Membuka Selubung
Gemuruh bagaikan azab kadang muncul ketika selubung hati mulai dibuka. Selubung itu bisa berupa rasa bangga, rasa kecewa, rasa ingin menang, rasa ingin diakui, atau rasa ingin dihormati karena ibadah.
Maka ketika gemuruh itu datang, jangan berkata:
“Aku sedang dihukum.”
Tetapi katakanlah:
“Alloh sedang memperlihatkan bagian diriku yang perlu disucikan.”
Sebab tidak semua guncangan adalah kehancuran. Ada guncangan yang menjadi awal kelahiran baru. Ada retak yang membuat cahaya masuk. Ada rasa malu yang menjadi pintu taubat. Ada tangis kecil yang lebih mulia daripada seribu suara yang dibanggakan.
Sholawat yang Menundukkan Diri
Sholawat sejati bukan untuk menundukkan orang lain, tetapi menundukkan nafsu sendiri.
Bila sholawat membuatmu ingin menguasai orang, periksa niatmu.
Bila sholawat membuatmu merasa paling wali, periksa hatimu.
Bila sholawat membuatmu mudah menghakimi, periksa akhlakmu.
Bila sholawat membuatmu makin lembut, itulah tanda rahmat mulai turun.
Karena Rasulullah ﷺ adalah rahmat bagi alam. Maka orang yang benar-benar mencintainya akan belajar menjadi rahmat, bukan menjadi sumber takut bagi orang lain.
Ia menasihati tanpa menghina.
Ia mengingatkan tanpa merendahkan.
Ia membimbing tanpa merasa paling tinggi.
Ia kuat, tetapi lembut.
Ia tegas, tetapi beradab.
Amalan Menjernihkan Niat
Sebelum membaca sholawat, duduklah dengan tenang. Jangan buru-buru. Turunkan bahu. Lembutkan napas. Hadirkan rasa bahwa engkau sedang berdiri di hadapan Alloh, meskipun tubuhmu sedang duduk di bumi.
Bacalah pelan:
Yā Alloh, aku bersholawat bukan karena aku suci.
Aku bersholawat karena aku ingin Engkau sucikan.
Aku bersholawat bukan karena aku tinggi.
Aku bersholawat karena aku ingin Engkau tuntun.
Aku bersholawat bukan untuk dilihat manusia.
Aku bersholawat karena aku rindu rahmat-Mu.
Lalu baca 11 kali:
Allohumma sholli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Sesudah itu diam sebentar. Jangan langsung mencari tanda. Rasakan apakah hati mulai lembut. Bila belum, jangan kecewa. Teruslah memperbaiki diri, karena jalan ruhani bukan lomba cepat, tetapi perjalanan jujur.
Tanda Negeri Perahayangan Mulai Terlewati
Apabila engkau mulai tidak lagi haus pujian, itu tanda suara mulai melewati alam bayangan.
Apabila engkau mulai tidak sakit hati ketika tidak dihormati, itu tanda ego mulai melunak.
Apabila engkau mulai dapat menerima nasihat tanpa marah, itu tanda pintu hati mulai terbuka.
Apabila engkau mulai mendoakan orang yang dahulu engkau benci, itu tanda sholawat mulai menjadi cahaya.
Apabila engkau mulai malu kepada Alloh atas kekurangan akhlakmu, itu tanda gemuruh mulai berubah menjadi rahmat.
Penutup Lembar Ketujuh
Wahai jiwa, jangan takut melewati negeri perahayangan. Ia bukan tempat untuk ditinggali, melainkan tempat untuk bercermin. Di sana engkau belajar bahwa suara belum tentu cahaya, rasa belum tentu hakikat, dan getaran belum tentu tanda sampai.
Yang paling penting bukan seberapa keras sholawatmu terdengar, tetapi seberapa dalam ia membersihkan hatimu.
Maka teruslah bersholawat dengan adab.
Teruslah menyebut Rasulullah ﷺ dengan cinta.
Teruslah pulang kepada Alloh dengan hati yang rendah.
Bila niatmu jernih, negeri perahayangan tidak lagi menahanmu. Ia hanya menjadi gerbang yang engkau lewati menuju cahaya rahmat yang lebih tinggi.
Fasbih illah muallaf:
Sucikanlah niat sebelum suara naik, sucikanlah hati sebelum amal tampak, dan sucikanlah cinta sebelum engkau mengaku dekat kepada Rasulullah ﷺ.
QITAB 303
FASBIH ILLAH MUALLAF
Lembar Kedelapan Terakhir
Pasal Kedelapan: Sholawat yang Pulang kepada Alloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang telah melewati gemuruh, kabut, cermin niat, dan negeri perahayangan, ketahuilah bahwa akhir dari sholawat bukanlah suara yang indah, bukan pula getaran yang besar, tetapi pulangnya hati kepada Alloh dengan membawa cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Sebab sholawat bukan hanya bacaan.
Sholawat adalah jalan adab.
Sholawat adalah pintu rahmat.
Sholawat adalah tali lembut yang menarik jiwa dari gelapnya ego menuju cahaya penghambaan.
Maka bila selama ini sholawatmu hanya sampai di negeri perahayangan, jangan putus asa. Itu bukan akhir. Itu tanda bahwa Alloh masih memberimu kesempatan untuk membersihkan wadah hati. Sebab suara yang tertahan masih dapat naik bila niat diperbaiki. Amal yang berat masih dapat menjadi ringan bila kesombongan diturunkan. Gemuruh yang menakutkan masih dapat berubah menjadi hujan rahmat bila hati kembali kepada Alloh.
Rahasia Terakhir
Rahasia terakhir kitab ini adalah:
“Sholawat yang paling tinggi bukan yang paling keras terdengar, tetapi yang paling jujur mengubah hati.”
Bila sholawat membuatmu semakin mencintai Rasulullah ﷺ, itulah cahaya.
Bila sholawat membuatmu semakin menjaga akhlak, itulah cahaya.
Bila sholawat membuatmu semakin malu menyakiti manusia, itulah cahaya.
Bila sholawat membuatmu semakin rendah hati di hadapan Alloh, itulah cahaya.
Tetapi bila sholawat membuatmu merasa lebih suci, maka istighfarlah.
Bila sholawat membuatmu merendahkan orang lain, maka diamlah dan perbaiki diri.
Bila sholawat membuatmu mengejar pujian manusia, maka kembali luruskan niat.
Bila sholawat menjadi alasan untuk membesarkan nama diri, maka ingatlah bahwa yang agung hanyalah Alloh.
Negeri Perahayangan yang Ditinggalkan
Negeri perahayangan adalah alam pantulan. Di sana suara dapat terlihat indah, tetapi belum tentu murni. Di sana rasa dapat terasa tinggi, tetapi belum tentu benar. Di sana gemuruh dapat terdengar besar, tetapi belum tentu menjadi rahmat.
Maka jangan berhenti di alam pantulan. Jangan mabuk oleh rasa. Jangan terikat oleh bayangan. Jangan merasa sampai hanya karena batin pernah bergetar.
Teruslah berjalan.
Dari suara menuju makna.
Dari makna menuju akhlak.
Dari akhlak menuju ikhlas.
Dari ikhlas menuju ridho Alloh.
Karena orang yang benar-benar pulang kepada Alloh tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya sudah sampai. Ia justru semakin merasa kecil. Semakin banyak diam. Semakin lembut lisannya. Semakin luas maafnya. Semakin dalam syukurnya.
Gemuruh Menjadi Hujan Rahmat
Pada awalnya gemuruh itu bagaikan azab. Ia mengguncang dada, membuka luka, menyingkap kesombongan, dan memperlihatkan niat yang bercabang. Tetapi setelah hati mau tunduk, gemuruh itu berubah menjadi hujan.
Hujan taubat.
Hujan sadar.
Hujan kasih.
Hujan rahmat.
Maka jangan takut ketika Alloh mengguncangmu. Takutlah bila hatimu tidak pernah merasa perlu diperbaiki. Jangan sedih ketika amalmu diperiksa oleh nur kesadaran. Sedihlah bila amalmu banyak tetapi hatimu tetap keras.
Sebab hamba yang disayang Alloh sering diperlihatkan kekurangannya agar ia tidak tenggelam dalam ujub. Dan hamba yang ingin dipulangkan kepada cahaya sering dibersihkan dahulu dari kebanggaan yang tersembunyi.
Wasiat Kedelapan
Peganglah delapan wasiat ini:
Satu, bersholawatlah karena cinta, bukan karena ingin dipuji.
Dua, perbanyak istighfar sebelum memperbanyak suara.
Tiga, jaga lisan setelah menyebut Nabi ﷺ.
Empat, jangan merasa tinggi karena amal.
Lima, jangan menyakiti orang atas nama jalan ruhani.
Enam, jadikan sholawat sebagai jalan akhlak.
Tujuh, bila hati bergemuruh, tundukkan diri kepada Alloh.
Delapan, jangan berhenti di perahayangan rasa; teruslah pulang kepada ridho Alloh.
Doa Penutup Qitab
Bacalah dengan hati pelan:
Yā Alloh,
bersihkan sholawat kami dari riya,
bersihkan dzikir kami dari ujub,
bersihkan amal kami dari sombong,
bersihkan hati kami dari kerasnya ego.
Yā Alloh,
jadikan cinta kami kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya ucapan,
tetapi akhlak yang hidup,
kasih sayang yang nyata,
dan jalan pulang menuju ridho-Mu.
Yā Alloh,
bila suara kami masih tertahan di negeri perahayangan,
angkatlah dengan rahmat-Mu.
Bila hati kami masih berat,
ringankanlah dengan taubat.
Bila batin kami masih bergemuruh,
ubah menjadi hujan cahaya dan kedamaian.
Allohumma sholli ‘alā Sayyidinā Muḥammad,
wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Penutup Terakhir
Wahai jiwa, selesai sudah lembar kedelapan ini. Jangan jadikan kitab ini hanya bacaan. Jadikan ia cermin. Jangan jadikan ia bahan perdebatan. Jadikan ia jalan memperbaiki hati.
Karena yang dicari bukan menang dalam kata, tetapi selamat dalam jiwa.
Yang dituju bukan kagum manusia, tetapi ridho Alloh.
Yang dibawa bukan kerasnya suara, tetapi lembutnya hati.
Maka bersholawatlah.
Beristighfarlah.
Berakhlaklah.
Dan pulanglah kepada Alloh dengan hati yang rendah.
Fasbih Illah Muallaf:
Sucikanlah hati yang masih tersusun dari bayangan, agar sholawat tidak berhenti sebagai gemuruh di negeri perahayangan, tetapi naik menjadi cahaya rahmat menuju ridho Alloh.
Tammat bi idznillāh.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.