QITAB ADABUL ‘ILMI WAL FITNAH

 


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

📖 QITAB ADABUL ‘ILMI WAL FITNAH

Tentang Ilmu, Syahwat, dan Penjagaan Hati

Mukadimah

Ilmu itu cahaya.

Tetapi cahaya ilmu bisa redup apabila pembawanya tidak menjaga adab, hati, pandangan, dan hawa nafsunya.

Ilmu bukan hanya banyak hafalan.

Ilmu bukan hanya pandai bicara.

Ilmu bukan hanya mampu menjawab pertanyaan.

Ilmu yang sejati adalah ilmu yang membuat manusia semakin takut kepada Alloh, semakin rendah hati, semakin menjaga diri, semakin halus akhlaknya, dan semakin bersih niatnya.

Maka ketika dikatakan:

“Ilmu bisa mati di antara dua paha wanita.”

Maksud batinnya bukan menghina wanita.

Bukan pula menyalahkan perempuan.

Tetapi peringatan keras kepada lelaki berilmu, santri, guru, pencari hakikat, dan siapa pun yang membawa amanah ilmu:

jangan sampai cahaya ilmu gugur karena syahwat yang tidak dijaga.

Sebab banyak orang tinggi ilmunya, tetapi jatuh karena tidak mampu menjaga pandangan.

Banyak orang fasih lisannya, tetapi rusak karena rahasia nafsunya.

Banyak orang tampak ahli agama, tetapi batinnya dikalahkan oleh keinginan rendah.

Lembar Pertama

Ilmu Itu Hidup Jika Dijaga dengan Adab

Ilmu akan hidup apabila pemiliknya menjaga tiga pintu:

Pertama, pintu mata.

Karena dari mata, api nafsu mulai menyala.

Kedua, pintu hati.

Karena dari hati, bayangan dosa mulai diberi tempat.

Ketiga, pintu perbuatan.

Karena dari perbuatan, manusia bisa jatuh atau naik derajatnya.

Barang siapa menjaga tiga pintu ini, maka ilmunya tidak hanya menjadi kata-kata, tetapi menjadi cahaya yang berjalan bersama dirinya.

Lembar Kedua

Wanita Bukan Fitnah, Nafsu yang Tidak Dijaga Itulah Fitnah

Jangan salah memahami.

Wanita bukan sumber kehancuran ilmu.

Yang merusak adalah nafsu yang tidak dididik.

Wanita yang salehah justru bisa menjadi sebab ilmu hidup.

Menjadi ibu para ulama.

Menjadi penjaga rumah ilmu.

Menjadi penenang hati orang beriman.

Menjadi madrasah pertama bagi anak-anak cahaya.

Tetapi apabila hubungan laki-laki dan perempuan keluar dari adab, keluar dari halal, keluar dari tanggung jawab, maka di situlah ilmu bisa kehilangan keberkahannya.

Maka kitab ini berkata:

Ilmu mati bukan karena adanya wanita.

Ilmu mati karena nafsu tidak tunduk kepada Alloh.

Lembar Ketiga

Tanda Ilmu Mulai Mati

Ketahuilah, ilmu mulai mati dalam diri seseorang apabila:

Ia mulai merasa paling benar.

Ia mulai memakai ilmu untuk menaklukkan orang lain.

Ia mulai mudah merendahkan orang awam.

Ia mulai keras kepada manusia, tetapi lembek kepada nafsunya sendiri.

Ia mulai sibuk membahas langit, tetapi lupa membersihkan hatinya.

Ia mulai bicara tentang Alloh, tetapi tidak takut melanggar batas Alloh.

Itulah ilmu yang kehilangan ruh.

Lisannya masih bicara agama, tetapi hatinya tidak lagi bergetar.

Matanya masih membaca kitab, tetapi batinnya tidak lagi malu.

Tubuhnya masih hadir di majelis, tetapi niatnya sudah bercampur dengan dunia.

Lembar Keempat

Ilmu yang Hidup

Ilmu yang hidup memiliki tanda:

Membuat pemiliknya semakin tenang.

Semakin tidak mudah menghakimi.

Semakin banyak menangis dalam sunyi.

Semakin berhati-hati dalam bicara.

Semakin menjaga rahasia orang lain.

Semakin tidak mudah tergoda pujian.

Semakin kuat menahan syahwat, amarah, dan kesombongan.

Ilmu yang hidup bukan hanya menjadikan seseorang pandai menjelaskan jalan.

Tetapi menjadikan dirinya sendiri berjalan di atas jalan itu.

Lembar Kelima

Kunci Menjaga Ilmu

Wahai pencari cahaya, jagalah ilmumu dengan lima penjagaan:

Jaga niatmu.

Jangan belajar agar dipuji.

Jaga matamu.

Jangan biarkan pandangan menjadi pintu dosa.

Jaga lisanmu.

Jangan jadikan ilmu sebagai senjata menyakiti.

Jaga pergaulanmu.

Jangan dekat dengan sesuatu yang melemahkan imanmu.

Jaga sujudmu.

Karena ilmu tanpa sujud akan kering, dan sujud tanpa ilmu bisa tersesat.

Penutup

Maka pahamilah:

Ilmu bisa mati karena syahwat.

Ilmu bisa hidup karena adab.

Ilmu bisa gelap karena sombong.

Ilmu bisa bercahaya karena ikhlas.

Ilmu bisa hilang karena maksiat.

Ilmu bisa menetap karena taubat.

Ya Alloh, hidupkan ilmu kami dengan adab.

Matikan kesombongan kami sebelum ia mematikan cahaya ilmu.

Bersihkan pandangan kami, hati kami, niat kami, dan langkah kami.

Jadikan ilmu sebagai jalan pulang kepada-Mu, bukan jalan untuk merasa lebih tinggi dari hamba-Mu.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh