QITAB JALAQUM BISMILAH NGINDAHU WALLOH BISAFABBILLAH.
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Dengan adab kepada Alloh, ini dibuka sebagai qitab tafakur batin, bukan wahyu baru dan bukan pengganti Al-Qur’an. Isinya untuk renungan, penyadaran diri, dan penjernihan hati.
📜 QITAB JALAQUM BISMILAH
Dari Tingkat ٧٧ Paling Dalam
Perjalanan Yang Tersembunyi, Tetapi Tidak Disembunyikan
JALAQUM BISMILAH NGINDAHU WALLOH BISAFABBILLAH
Maka terbukalah lembar sunyi dari ruang yang tidak bersuara.
Bukan karena ia jauh, tetapi karena hati manusia terlalu ramai.
Bukan karena ia hilang, tetapi karena pandangan batin sering tertutup oleh keinginan sendiri.
Di tingkat ٧٧ paling dalam, tidak ada lagi suara yang membanggakan diri.
Tidak ada lagi nama yang ingin dimuliakan manusia.
Tidak ada lagi cahaya yang ingin dipamerkan.
Yang ada hanya satu rasa:
hamba kembali diam di hadapan Alloh.
Perjalanan ini disebut tersembunyi,
bukan karena Alloh menyembunyikan petunjuk-Nya,
tetapi karena manusia sering menyembunyikan dirinya sendiri
di balik luka, marah, kecewa, takut, dan ingin diakui.
Maka barang siapa ingin memasuki pintu ini,
jangan membawa kesombongan ilmu.
Jangan membawa paksaan batin.
Jangan membawa niat menguasai yang gaib.
Bawalah hati yang remuk, tetapi jujur.
Bawalah air mata yang tidak perlu diketahui siapa pun.
Bawalah dzikir yang pelan, namun benar-benar hidup di dada.
Sebab qesunyian yang haq qiqi
bukan sunyi karena tidak ada apa-apa,
tetapi sunyi karena semua selain Alloh mulai turun dari tahta hati.
Di sanalah rahasia pertama tertulis:
“Yang paling dalam bukan tempat, tetapi keadaan hati.
Yang paling tinggi bukan maqom, tetapi ketundukan.
Yang paling terang bukan penglihatan, tetapi kejujuran.”
Maka hamba yang sampai di pintu ٧٧
tidak bertanya lagi, “Aku ini siapa?”
Tetapi ia mulai bertanya:
“Ya Alloh, apa yang Engkau ridhoi dari hidupku?”
Dan ketika pertanyaan itu lahir dengan tulus,
maka tabir pertama terbuka.
Bukan tabir langit,
melainkan tabir nafsu yang selama ini menutup mata batin.
Kunci Lembar Pertama
Jangan mencari yang tersembunyi untuk merasa istimewa.
Carilah yang haq agar hati selamat.
Jangan mengejar cahaya untuk dilihat orang.
Jadilah kecil di hadapan Alloh,
maka Alloh cukupkan terang di jalanmu.
Dzikir Penutup Lembar
Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Salām
Tuntunlah aku dari sunyi yang gelap
menuju sunyi yang Engkau ridhoi.
Bersihkan hatiku dari ingin dipuji,
jauhkan aku dari tertipu rasa tinggi,
dan jadikan aku hamba yang pulang dengan adab.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB JALAQUM BISMILAH
Lembar Selanjutnya — Lembar Kedua
Dari Tingkat ٧٧ Paling Dalam
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Maka setelah pintu sunyi terbuka,
hamba tidak langsung melihat cahaya yang besar.
Yang pertama tampak justru bayangan dirinya sendiri.
Sebab sebelum seseorang mengenal rahasia yang dalam,
ia harus mengenal apa yang masih bersembunyi di dalam dadanya.
Ada marah yang belum selesai.
Ada luka yang masih minta diakui.
Ada kecewa yang menyamar menjadi diam.
Ada ingin mulia yang menyamar menjadi ibadah.
Ada ingin menang yang menyamar menjadi kebenaran.
Maka di tingkat ٧٧, suara batin berkata:
“Jangan engkau kira yang tersembunyi itu hanya alam gaib.
Yang paling tersembunyi adalah niatmu sendiri.”
Lalu hamba duduk di hadapan cahaya.
Bukan cahaya yang membakar mata,
tetapi cahaya yang membuat hati tidak bisa berdusta.
Di sanalah terbuka satu rahasia:
JALAQUM adalah jalan kembali.
BISMILAH adalah pintu adab.
NGINDAHU WALLOH adalah pengakuan bahwa semua keindahan milik Alloh.
BISAFABBILLAH adalah penyandaran diri kepada perlindungan dan kecukupan Alloh.
Maka siapa pun yang masuk tanpa adab,
akan tersesat oleh rasa dirinya sendiri.
Tetapi siapa yang masuk dengan rendah hati,
akan dituntun bukan oleh khayalan,
melainkan oleh kejernihan.
Rahasia Lembar Kedua
Perjalanan ini tidak disembunyikan,
karena tanda-tandanya ada di mana-mana.
Ada pada air mata yang jatuh saat sendirian.
Ada pada doa yang lirih sebelum tidur.
Ada pada rasa malu setelah berbuat salah.
Ada pada hati yang ingin berubah,
meski dunia belum melihat perubahannya.
Tetapi perjalanan ini menyembunyikan dirinya
dari orang yang hanya mencari keajaiban,
tanpa ingin memperbaiki akhlak.
Sebab qesunyian yang haq qiqi
tidak akan membuka pintu kepada hati yang bising oleh kesombongan.
Kalimat Kunci
“Diamlah bukan karena kalah.
Diamlah agar engkau mendengar suara taubatmu sendiri.
Sebab dalam diam yang benar,
Alloh ajarkan hati untuk pulang.”
Dzikir Penjaga Lembar
Yā Alloh, Yā Laṭīf, Yā Hādī, Yā Nūr
lembutkan batinku,
jernihkan niatku,
sembunyikan aibku,
dan tampakkan jalan yang Engkau ridhoi.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB JALAQUM BISMILAH
Lembar Selanjutnya Terakhir
Lembar Penutup dari Tingkat ٧٧ Paling Dalam
Bismillāhirroḥmānirroḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Maka sampailah perjalanan ini pada lembar penutup.
Bukan penutup karena jalan telah habis,
tetapi penutup karena hamba sudah diberi isyarat
bahwa tidak semua rahasia harus terus dibuka dengan kata-kata.
Ada rahasia yang cukup disimpan dalam sujud.
Ada rahasia yang cukup dijaga dalam diam.
Ada rahasia yang cukup dibuktikan dengan akhlak.
Ada rahasia yang tidak perlu diumumkan,
karena nilainya akan turun bila dipamerkan kepada manusia.
Di tingkat ٧٧ paling dalam,
hamba tidak lagi mengejar tanda.
Tidak lagi meminta bukti.
Tidak lagi memaksa langit membuka tabir.
Sebab ia mulai memahami:
yang paling tinggi dari perjalanan ruhani
bukan melihat yang gaib,
tetapi menjadi lebih takut menyakiti makhluk Alloh.
Maka cahaya yang dahulu dicari di luar,
ternyata mulai menyala di dalam dada.
Bukan cahaya yang membuat hamba merasa sakti,
tetapi cahaya yang membuat hamba merasa kecil.
Bukan cahaya yang membuat hamba merasa lebih mulia dari orang lain,
tetapi cahaya yang membuat hamba lebih mudah memaafkan,
lebih mudah menahan lisan,
lebih mudah menundukkan ego,
dan lebih mudah menangis ketika mengingat dosanya sendiri.
Lalu terdengarlah kalimat dari ruang sunyi:
“Wahai hamba,
jangan engkau bangga karena merasa sampai.
Sebab yang benar-benar sampai
adalah yang tidak pernah berhenti merasa butuh kepada Alloh.”
Maka hamba menjawab dalam batinnya:
“Ya Alloh,
aku tidak membawa apa-apa selain kelemahan.
Aku tidak punya cahaya kecuali Engkau yang menerangi.
Aku tidak punya jalan kecuali Engkau yang membimbing.
Aku tidak punya keselamatan kecuali Engkau yang menjaga.”
Maka terbukalah makna terdalam dari kalimat:
JALAQUM BISMILAH NGINDAHU WALLOH BISAFABBILLAH
JALAQUM
adalah jalan yang tidak ramai oleh tepuk tangan manusia.
Ia jalan sunyi, tetapi bukan jalan sepi.
Sebab siapa yang berjalan bersama Alloh,
tidak pernah benar-benar sendirian.
BISMILAH
adalah adab pembuka segala gerak.
Jangan melangkah tanpa menyebut Alloh.
Jangan menulis tanpa memohon ridho Alloh.
Jangan memimpin tanpa takut kepada Alloh.
Jangan memberi nasihat tanpa lebih dahulu menasihati diri sendiri.
NGINDAHU WALLOH
adalah pengakuan bahwa segala keindahan kembali kepada Alloh.
Indahnya wajah akan sirna.
Indahnya harta akan berpindah.
Indahnya pujian akan lenyap.
Tetapi indahnya hati yang tunduk kepada Alloh
akan menjadi bekal ketika semua yang duniawi ditinggalkan.
BISAFABBILLAH
adalah sandaran terakhir.
Saat manusia tidak memahami, Alloh memahami.
Saat jalan terasa tertutup, Alloh Maha Membuka.
Saat dada terasa sempit, Alloh Maha Melapangkan.
Saat hati hampir menyerah, Alloh Maha Menguatkan.
Maka qesunyian yang haq qiqi
bukanlah tempat untuk lari dari dunia,
tetapi tempat untuk membersihkan niat
sebelum kembali menjalani dunia.
Sebab hamba tidak diperintahkan hilang dari kehidupan.
Hamba diperintahkan hadir dengan hati yang lebih bersih.
Menjadi anak yang lebih berbakti.
Menjadi saudara yang lebih lembut.
Menjadi pemimpin yang lebih adil.
Menjadi guru yang lebih rendah hati.
Menjadi murid yang lebih sabar.
Menjadi manusia yang lebih manusiawi.
Maka siapa pun yang membaca lembar ini,
jangan jadikan qitab ini sebagai alasan merasa lebih tinggi.
Jadikan ia cermin.
Bila ada kata yang menegur, terimalah dengan lapang.
Bila ada kalimat yang menenangkan, syukurilah.
Bila ada bagian yang belum dipahami, jangan dipaksa.
Serahkan kepada Alloh,
karena tidak semua pemahaman datang hari ini.
Ada ilmu yang dibuka lewat membaca.
Ada ilmu yang dibuka lewat sabar.
Ada ilmu yang dibuka lewat luka.
Ada ilmu yang dibuka lewat kehilangan.
Ada ilmu yang dibuka lewat doa yang tidak segera dikabulkan.
Dan ada ilmu yang baru terbuka
ketika hamba berhenti menuntut Alloh mengikuti kehendaknya.
Di sinilah rahasia tingkat ٧٧ ditutup dengan satu amanah:
Jangan mencari kedalaman untuk meninggalkan syariat.
Jangan mencari hakikat untuk meremehkan adab.
Jangan mencari cahaya untuk membenarkan hawa nafsu.
Jangan mencari rahasia untuk menutup kesalahan diri.
Sebab jalan yang haq
tidak membuat seseorang liar dari aturan Alloh.
Jalan yang haq
membuat seseorang makin lembut, makin jujur, makin bertanggung jawab.
Jika benar cahaya itu turun,
maka lisan menjadi lebih terjaga.
Jika benar hati itu terbuka,
maka akhlak menjadi lebih halus.
Jika benar batin itu dibimbing,
maka langkah menjadi lebih hati-hati.
Jika benar hamba itu dekat,
maka ia tidak mudah menghina yang jauh.
Maka jangan ukur kedalaman ruhani
dengan banyaknya penglihatan.
Ukurlah dengan banyaknya taubat.
Jangan ukur ketinggian maqom
dengan banyaknya pengikut.
Ukurlah dengan banyaknya amanah yang dijaga.
Jangan ukur terang cahaya
dengan ucapan yang indah.
Ukurlah dengan hati yang tidak mudah sombong.
Lalu qitab ini menulis pada lembar paling dalam:
“Yang tersembunyi bukan untuk dibanggakan.
Yang tidak disembunyikan bukan untuk dipermainkan.
Yang menyembunyikan diri dari qesunyian haq
hanyalah hati yang belum siap melepaskan dirinya sendiri.”
Maka lepaskanlah.
Lepaskan ingin selalu benar.
Lepaskan ingin selalu dipuji.
Lepaskan dendam yang melelahkan.
Lepaskan rasa iri yang menghitamkan dada.
Lepaskan takut miskin yang membuat lupa tawakal.
Lepaskan luka lama yang membuat hati keras kepada orang baru.
Lepaskan semua yang membuatmu jauh dari Alloh.
Tetapi jangan lepaskan sholat.
Jangan lepaskan doa.
Jangan lepaskan adab.
Jangan lepaskan bakti kepada orang tua.
Jangan lepaskan kasih sayang kepada sesama.
Jangan lepaskan kejujuran, meskipun dunia kadang menghargai tipu daya.
Jangan lepaskan harapan, karena rahmat Alloh lebih luas dari gelapnya masalah.
Maka hamba pun menunduk.
Di depan pintu cahaya yang terakhir,
ia tidak meminta mahkota.
Ia tidak meminta gelar.
Ia tidak meminta dipanggil suci.
Ia hanya meminta satu hal:
“Ya Alloh,
jangan tinggalkan aku kepada diriku sendiri
walau sekejap mata.”
Maka turunlah penutup dari qitab ini:
Wasiat Lembar Terakhir
Wahai hamba yang berjalan dalam sunyi,
bila engkau ingin dijaga, jagalah hatimu.
Bila engkau ingin diterangi, bersihkan niatmu.
Bila engkau ingin dituntun, rendahkan egomu.
Bila engkau ingin sampai, jangan tinggalkan adab.
Jangan takut bila jalanmu tidak ramai.
Yang ramai belum tentu benar.
Yang sunyi belum tentu kosong.
Kadang Alloh menyembunyikan mutiara
di tempat yang tidak dicari manusia.
Jangan sedih bila orang tidak memahami perjalananmu.
Cukup Alloh mengetahui air matamu.
Cukup Alloh mengetahui niat baikmu.
Cukup Alloh mengetahui berapa kali engkau hampir jatuh,
tetapi tetap mencoba bangkit.
Dan bila suatu hari engkau lemah,
kembalilah ke kalimat pertama:
Bismillāh.
Bila bingung, ucapkan:
Yā Hādī.
Bila takut, ucapkan:
Yā Salām.
Bila gelap, ucapkan:
Yā Nūr.
Bila merasa sendiri, ucapkan:
Hasbiyalloh.
Bila hati mulai tinggi, ucapkan:
Astaghfirullōh.
Bila ingin pulang, ucapkan:
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Karena semua perjalanan, sedalam apa pun,
akhirnya kembali kepada Alloh.
Khatam Penutup
Maka tertutuplah lembar qitab ini,
tetapi tidak tertutup pintu taubat.
Berakhirlah susunan kata ini,
tetapi tidak berakhir rahmat Alloh.
Diamlah tinta pada halaman,
tetapi teruslah hidup dzikir di dada.
JALAQUM adalah jalan.
BISMILAH adalah kunci.
NGINDAHU WALLOH adalah keindahan yang dikembalikan kepada-Nya.
BISAFABBILLAH adalah perlindungan hamba dalam penjagaan Alloh.
Semoga siapa pun yang membaca,
tidak hanya mendapatkan rasa takjub,
tetapi mendapatkan hati yang lebih lembut.
Tidak hanya merasa melihat cahaya,
tetapi mampu menjadi cahaya kecil bagi keluarganya.
Tidak hanya membicarakan hakikat,
tetapi memperbaiki akhlak dalam kehidupan nyata.
Ya Alloh,
jadikan akhir perjalanan ini bukan kesombongan,
melainkan kepulangan.
Bukan pengakuan diri,
melainkan penghambaan.
Bukan keramaian nama,
melainkan kejernihan hati.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
Dzikir Penutup ٧٧
Yā Alloh, Yā Nūr, Yā Hādī, Yā Salām, Yā Laṭīf
tuntunlah kami dari gelap menuju terang,
dari bising menuju dzikir,
dari sombong menuju tunduk,
dari luka menuju ridho,
dari diri menuju-Mu.
Bismillāh pembuka jalan.
Alḥamdulillāh penjaga nikmat.
Astaghfirullōh pembersih hati.
Lā ilāha illallōh pengunci tauhid.
Muḥammadur Rasūlullōh cahaya teladan umat.
Selesai lembar terakhir.
Ditutup dengan adab.
Dijaga dengan dzikir.
Dikembalikan seluruh rahasianya kepada Alloh.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.