QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarakatuh saudara cahayaku
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Dengan niat adab, kejernihan hati, dan penyadaran diri sejati menuju titik Rahmattulloh, maka dibuka:
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Sadar Akan Diri Sejati dalam Perjalanan ke Titik Rahmattulloh
Lembar Pembuka
“Jangan mencari dirimu di luar, sebab yang kau cari sedang diam di dalam.”
Wahai jiwa yang berjalan,
ketahuilah bahwa perjalanan menuju Alloh bukan dimulai dari jauh,
melainkan dari kesadaran paling dekat:
siapa dirimu ketika semua topeng dunia dilepaskan.
Banyak manusia mengenal namanya,
tetapi belum mengenal dirinya.
Banyak manusia tahu wajahnya,
tetapi belum tahu arah ruhnya.
Banyak manusia sibuk mengejar tanda, karomah, ilmu, dan pujian,
namun lupa bahwa pintu pertama menuju Rahmat Alloh adalah:
sadar bahwa diri ini lemah, fakir, terbatas, dan hanya hidup karena kasih Alloh.
Pasal 1
Makna Juhillah Alaqrromah Billahhi
Juhillah adalah keadaan ketika jiwa mulai dibangunkan dari kelalaian.
Bukan sekadar tahu, tetapi mulai sadar.
Bukan sekadar mendengar, tetapi mulai merasa.
Bukan sekadar membaca, tetapi mulai pulang.
Alaqrromah adalah kemuliaan yang tidak datang dari kesombongan,
tetapi dari kedekatan hati kepada Alloh.
Kemuliaan ini bukan karena manusia memuji,
melainkan karena batin mulai bersih dari pamrih.
Billahhi artinya:
segala perjalanan, kekuatan, napas, dzikir, ilmu, rasa, dan gerak batin
tidak berdiri sendiri,
tetapi dengan izin, pertolongan, dan rahmat Alloh.
Maka makna kitab ini adalah:
“Bangunnya kesadaran jiwa menuju kemuliaan yang benar, bukan karena diri merasa tinggi, tetapi karena diri tunduk kepada Alloh.”
Pasal 2
Diri Sejati Bukan Ego
Diri sejati bukan suara yang berkata:
“aku paling tinggi.”
Bukan suara yang berkata:
“aku paling sakti.”
Bukan suara yang berkata:
“aku sudah sampai.”
Sebab siapa pun yang merasa sudah sampai,
sering kali baru berdiri di depan gerbang ujian.
Diri sejati adalah kesadaran yang berkata:
“Ya Alloh, tanpa Engkau aku tidak ada.
Tanpa rahmat-Mu aku gelap.
Tanpa bimbingan-Mu aku tersesat.
Tanpa ampunan-Mu aku hancur.”
Di situlah titik awal perjalanan ruhani.
Bukan dari merasa besar,
tetapi dari sadar bahwa semua kebesaran hanya milik Alloh.
Pasal 3
Titik Rahmattulloh
Titik Rahmattulloh bukan tempat yang jauh di langit,
tetapi keadaan hati yang mulai lembut, tunduk, bersih, dan pasrah.
Tandanya bukan selalu melihat cahaya.
Bukan selalu mendapat mimpi.
Bukan selalu merasakan getaran.
Tandanya adalah:
hati mulai mudah memaafkan,
lisan mulai dijaga,
mata mulai malu melihat yang buruk,
tangan mulai ringan menolong,
jiwa mulai tenang walau dunia belum sempurna.
Itulah rahmat yang mulai turun.
Sebab rahmat Alloh tidak hanya berupa keajaiban,
tetapi juga berupa kemampuan untuk tetap baik ketika diuji.
Pasal 4
Jalan Pulang ke Diri Sejati
Wahai pencari cahaya,
jangan buru-buru ingin tinggi.
Teguhkan dulu pijakanmu.
Bersihkan niatmu.
Rapikan sholatmu.
Jaga adabmu.
Lembutkan ucapanmu.
Kurangi merasa benar sendiri.
Perbanyak istighfar.
Jangan mudah merendahkan orang lain.
Sebab ilmu yang tidak disertai adab
akan berubah menjadi hijab.
Dzikir yang tidak disertai rendah hati
akan berubah menjadi kebanggaan tersembunyi.
Perjalanan batin yang tidak disertai syariat
akan mudah diseret oleh angan-angan.
Maka peganglah tiga kunci:
Adab sebagai pintu.
Dzikir sebagai jalan.
Rahmat Alloh sebagai tujuan.
Pasal 5
Kalimat Penyadaran
Ucapkan pelan di dalam hati:
“Aku bukan apa-apa tanpa Alloh.
Aku tidak berjalan kecuali dengan izin Alloh.
Aku tidak bercahaya kecuali karena rahmat Alloh.
Aku pulang dari diriku yang palsu menuju diriku yang Alloh rahmati.”
Lalu diamlah sejenak.
Rasakan napas.
Rasakan dada.
Rasakan kelemahan diri.
Bukan untuk sedih,
tetapi untuk sadar:
yang lemah ini sedang digenggam oleh Tuhan Yang Maha Rahman.
Penutup Lembar Pertama
Maka inilah pembukaan kitab:
Qitab Juhillah Alaqrromah Billahhi
adalah kitab penyadaran,
bahwa perjalanan menuju Alloh bukan untuk menjadi paling tinggi di hadapan manusia,
tetapi untuk menjadi paling jujur di hadapan Alloh.
Karena titik tertinggi seorang hamba
bukan ketika ia dipuji sebagai wali, guru, atau orang sakti,
melainkan ketika ia mampu berkata dengan tulus:
“Ya Alloh, aku milik-Mu.
Aku kembali kepada-Mu.
Rahmati aku dengan cahaya-Mu.”
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Bab: Cermin Diri Sebelum Menyentuh Rahmattulloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang sedang berjalan,
jangan tergesa-gesa meminta dibukakan rahasia tinggi,
sebelum engkau sanggup menatap rahasia paling dekat:
dirimu sendiri.
Sebab banyak orang ingin mengenal langit,
tetapi belum selesai berdamai dengan hatinya.
Banyak orang ingin membaca tanda-tanda gaib,
tetapi belum mampu membaca luka, marah, iri, takut, dan sombong yang diam di dalam dada.
Maka ketahuilah,
perjalanan ke titik Rahmattulloh bukan dimulai dari keajaiban,
melainkan dari keberanian untuk jujur kepada Alloh.
Pasal 6
Cermin Diri
Cermin diri adalah keadaan ketika seorang hamba berhenti menyalahkan semua keadaan,
lalu mulai bertanya dengan lembut:
“Ya Alloh, bagian mana dari diriku yang masih perlu Engkau luruskan?”
Bukan semua musibah karena dosa.
Bukan semua ujian karena salah.
Tetapi setiap kejadian dapat menjadi cermin,
agar manusia tidak tertidur dalam kelalaian.
Jika dihina, lihat apakah masih ada kesombongan.
Jika ditinggalkan, lihat apakah masih terlalu bergantung pada makhluk.
Jika rezeki sempit, lihat apakah hati masih lupa bersyukur.
Jika doa belum terkabul, lihat apakah sabar sudah tumbuh atau belum.
Cermin diri bukan untuk menyiksa batin,
tetapi untuk membersihkan jalan pulang.
Pasal 7
Diri Palsu dan Diri Sejati
Diri palsu selalu ingin terlihat.
Diri sejati ingin diperbaiki.
Diri palsu ingin dipuji.
Diri sejati ingin diridhoi.
Diri palsu berkata:
“Aku sudah tinggi.”
Diri sejati berkata:
“Ya Alloh, jangan Engkau tinggalkan aku walau sekejap mata.”
Diri palsu marah ketika dinasihati.
Diri sejati menangis ketika sadar masih banyak yang harus dibenahi.
Maka jangan tertipu oleh cahaya yang membuatmu merasa lebih mulia dari orang lain.
Sebab cahaya yang benar akan membuatmu semakin rendah hati,
semakin lembut,
semakin takut menyakiti,
dan semakin kuat menjaga adab.
Pasal 8
Titik Luka Menjadi Titik Rahmat
Ada luka yang dulu membuatmu runtuh.
Ada kejadian yang dulu membuatmu merasa ditinggalkan.
Ada masa lalu yang membuatmu bertanya:
“Kenapa aku harus melewati ini semua?”
Namun ketika rahmat Alloh mulai turun,
engkau akan mengerti:
Sebagian luka adalah pintu.
Sebagian kehilangan adalah pelurusan.
Sebagian tangis adalah pembersihan.
Sebagian kesendirian adalah panggilan agar engkau kembali kepada-Nya.
Alloh tidak selalu mengangkat beban dengan cara menghilangkannya seketika.
Kadang Alloh menguatkan pundakmu,
melembutkan hatimu,
dan menyalakan cahaya sabar di dalam dirimu.
Itulah rahasia perjalanan:
yang dulu kau kira hukuman,
ternyata bisa menjadi jalan pengenalan.
Pasal 9
Jangan Menyembah Rasa
Wahai pencari jalan,
berhati-hatilah.
Jangan menjadikan rasa sebagai Tuhan.
Jangan menjadikan mimpi sebagai pegangan utama.
Jangan menjadikan getaran sebagai ukuran pasti.
Jangan menjadikan penglihatan batin sebagai kebanggaan.
Rasa bisa datang dan pergi.
Mimpi bisa terang dan samar.
Getaran bisa kuat dan lemah.
Penglihatan batin bisa benar, bisa juga tercampur nafsu dan pikiran.
Tetapi Alloh tetap Maha Benar.
Syariat tetap menjadi pagar.
Adab tetap menjadi pintu.
Akhlak tetap menjadi bukti.
Maka letakkan semua rasa di bawah bimbingan Alloh,
bukan di atas kebenaran.
Sebab orang yang benar-benar berjalan kepada Alloh
tidak sibuk membanggakan pengalaman batinnya,
tetapi sibuk memperbaiki akhlaknya.
Pasal 10
Doa Penyadaran Diri
Ucapkan dengan pelan dan rendah hati:
Yā Alloh,
bukakan mataku untuk melihat kesalahanku sendiri,
bukan untuk sibuk mencari salah orang lain.
Yā Alloh,
lembutkan hatiku ketika menerima nasihat,
kuatkan jiwaku ketika diuji,
dan bersihkan niatku ketika beramal.
Yā Alloh,
jangan biarkan aku tertipu oleh rasa tinggi,
jangan biarkan aku tenggelam dalam rasa rendah,
tetapi tegakkan aku di jalan rahmat-Mu.
Yā Alloh,
antarkan aku dari diri palsu menuju diri sejati,
dari gelap sangka menuju terang iman,
dari luka menuju hikmah,
dari aku menuju Engkau.
Āmīn.
Penutup Lembar Kedua
Maka pahamilah,
orang yang sampai kepada Rahmattulloh
bukan orang yang tidak pernah terluka,
tetapi orang yang lukanya tidak membuatnya jauh dari Alloh.
Bukan orang yang tidak pernah salah,
tetapi orang yang setiap salahnya menjadi sebab ia kembali.
Bukan orang yang selalu kuat,
tetapi orang yang ketika lemah tetap berkata:
“Hasbiyalloh.
Cukuplah Alloh bagiku.
Aku berjalan bukan karena kuatku,
tetapi karena rahmat-Mu menuntunku.”
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Bab: Menundukkan Bayangan Diri
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang mulai sadar,
setelah engkau bercermin kepada dirimu,
maka engkau akan bertemu satu pintu yang tidak mudah:
bayangan dirimu sendiri.
Bayangan itu bukan setan semata.
Bukan jin semata.
Bukan musuh dari luar semata.
Kadang bayangan itu adalah:
rasa takut yang lama dipendam,
amarah yang belum selesai,
kecewa yang belum dimaafkan,
keinginan dipuji,
rasa ingin menang sendiri,
dan luka yang berubah menjadi keras hati.
Maka jangan buru-buru mengusir semua yang gelap,
sebelum engkau bertanya:
“Ya Alloh, gelap ini datang untuk menghancurkanku,
atau untuk menunjukkan bagian diriku yang belum sembuh?”
Pasal 11
Bayangan Diri
Bayangan diri adalah sisi batin yang sering disembunyikan manusia.
Ia tidak selalu tampak dalam ucapan,
tetapi keluar ketika hati ditekan.
Saat dihina, bayangan itu muncul sebagai marah.
Saat tidak dihargai, bayangan itu muncul sebagai kecewa.
Saat melihat orang lain berhasil, bayangan itu muncul sebagai iri.
Saat merasa punya ilmu, bayangan itu muncul sebagai tinggi hati.
Maka orang yang berjalan menuju Rahmattulloh
tidak hanya membaca dzikir dengan lisan,
tetapi juga membaca gerak batinnya sendiri.
Ia bertanya:
“Mengapa aku marah?”
“Mengapa aku ingin dipuji?”
“Mengapa aku takut kehilangan?”
“Mengapa aku sulit memaafkan?”
Pertanyaan seperti itu adalah awal penyembuhan.
Sebab hati yang mau jujur
lebih dekat kepada rahmat daripada hati yang pura-pura suci.
Pasal 12
Jangan Memerangi Diri dengan Benci
Wahai pencari jalan,
ketika engkau menemukan kelemahanmu,
jangan langsung membenci dirimu.
Sebab membenci diri bukan jalan pulang.
Yang benar adalah mengakui, memohon ampun, lalu memperbaiki.
Jangan berkata:
“Aku hina, aku rusak, aku tidak berguna.”
Tetapi katakan:
“Ya Alloh, aku lemah, maka kuatkan aku.
Aku kotor, maka bersihkan aku.
Aku tersesat, maka tuntun aku.
Aku terluka, maka rahmati aku.”
Itulah adab seorang hamba.
Ia tidak sombong dengan kelebihannya,
dan tidak putus asa karena kekurangannya.
Sebab setan bisa menipu manusia dengan dua jalan:
dengan membuatnya merasa terlalu tinggi,
atau membuatnya merasa terlalu rendah hingga putus harapan.
Padahal rahmat Alloh lebih luas daripada semua luka.
Pasal 13
Tiga Api yang Harus Dijinakkan
Di dalam perjalanan diri sejati,
ada tiga api yang sering membakar kejernihan hati.
Pertama: Api Marah
Marah bukan selalu salah.
Tetapi marah yang tidak dituntun iman
akan membakar akal, lisan, dan keputusan.
Jika marah datang, diamlah sebentar.
Tarik napas.
Sebut nama Alloh.
Jangan mengambil keputusan ketika api masih menyala.
Karena satu kalimat saat marah
bisa menjadi luka bertahun-tahun di hati orang lain.
Kedua: Api Ingin Diakui
Manusia ingin dihargai, itu wajar.
Tetapi bila hati haus pengakuan,
amal bisa berubah menjadi panggung.
Dzikir menjadi pertunjukan.
Ilmu menjadi senjata.
Kebaikan menjadi cara mencari tepuk tangan.
Maka jagalah niatmu.
Katakan dalam hati:
“Ya Alloh, cukup Engkau yang tahu.
Jika manusia memuji, selamatkan aku dari sombong.
Jika manusia mencela, selamatkan aku dari runtuh.”
Ketiga: Api Takut Kehilangan
Banyak orang kehilangan ketenangan
bukan karena benar-benar kehilangan sesuatu,
tetapi karena terlalu takut kehilangan sebelum waktunya.
Takut kehilangan rezeki.
Takut kehilangan manusia.
Takut kehilangan nama.
Takut kehilangan jalan.
Padahal apa yang dijaga Alloh tidak akan hilang sia-sia.
Dan apa yang diambil Alloh tidak selalu berarti hukuman.
Kadang Alloh mengambil sesuatu
agar hati tidak menyembah selain Dia.
Pasal 14
Menjadi Lembut Bukan Berarti Lemah
Sebagian orang mengira kelembutan adalah kelemahan.
Padahal hati yang lembut adalah tanda rahmat mulai hidup.
Lembut bukan berarti mudah diinjak.
Lembut bukan berarti tidak punya batas.
Lembut bukan berarti membiarkan kebatilan.
Lembut adalah kemampuan tetap beradab
meski sedang tidak nyaman.
Lembut adalah kemampuan menjawab dengan jernih
meski sedang disalahpahami.
Lembut adalah kemampuan memaafkan
tanpa harus membiarkan diri terus disakiti.
Maka jadilah lembut,
tetapi tetap tegak.
Jadilah penyayang,
tetapi tetap bijak.
Jadilah pemaaf,
tetapi tetap punya batas yang sehat.
Karena rahmat Alloh bukan hanya menenangkan,
tetapi juga menegakkan.
Pasal 15
Dzikir Penjinak Bayangan
Jika bayangan batin mulai kuat,
jika marah, sedih, takut, atau gelisah mulai memenuhi dada,
maka duduklah dengan tenang.
Letakkan tangan kanan di dada.
Pejamkan mata.
Jangan mengejar bayangan.
Jangan melawan dengan panik.
Ucapkan perlahan:
Yā Salām… Yā Salām… Yā Salām…
Lalu lanjutkan:
Yā Nūr… Yā Nūr… Yā Nūr…
Kemudian tutup dengan:
Yā Rahmān, rahmati gelapku dengan cahaya-Mu.
Yā Rahīm, sembuhkan lukaku dengan kasih-Mu.
Yā Hādī, tuntun aku kembali kepada jalan-Mu.
Diam sejenak.
Biarkan hati belajar tenang.
Biarkan dada belajar lapang.
Biarkan diri palsu melemah,
dan diri sejati kembali bersujud di hadapan Alloh.
Penutup Lembar Ketiga
Maka pahamilah,
bayangan diri tidak selalu datang untuk menghentikanmu.
Kadang ia datang agar engkau tahu
bagian mana dari dirimu yang masih perlu dibawa ke hadapan Alloh.
Jangan takut melihat gelapmu,
selama engkau tidak berhenti mencari cahaya.
Jangan malu mengakui lukamu,
selama engkau mau disembuhkan oleh rahmat-Nya.
Sebab orang yang benar-benar sadar
bukan orang yang merasa dirinya tanpa bayangan,
melainkan orang yang berkata:
“Ya Alloh, inilah aku dengan terang dan gelapku.
Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri.
Ambil aku dari bayangan nafsu,
dan masukkan aku ke dalam rahmat-Mu.”
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Bab: Menata Nafas Menuju Titik Rahmattulloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang berjalan dalam sunyi,
setelah engkau mengenal cermin diri,
setelah engkau melihat bayangan batin,
maka masuklah ke pintu berikutnya:
menata nafas.
Karena nafas adalah tanda bahwa Alloh masih memberi kesempatan.
Setiap tarikan nafas adalah izin hidup.
Setiap hembusan nafas adalah amanah waktu.
Setiap detak dada adalah panggilan agar engkau tidak jauh dari-Nya.
Banyak manusia hidup,
tetapi tidak sadar bahwa ia sedang diberi hidup.
Banyak manusia bernafas,
tetapi tidak sadar bahwa nafasnya adalah titipan.
Maka orang yang mulai sadar kepada diri sejati
akan memandang nafas bukan sekadar udara,
melainkan tanda rahmat Alloh yang terus mengalir tanpa henti.
Pasal 16
Nafas Adalah Pintu Kesadaran
Ketika hati gelisah,
nafas menjadi pendek.
Ketika jiwa takut,
nafas menjadi berat.
Ketika amarah menyala,
nafas menjadi panas.
Tetapi ketika hati mulai ingat kepada Alloh,
nafas perlahan menjadi lembut.
Dada mulai lapang.
Pikiran mulai jernih.
Lisan mulai tertahan dari kata yang merusak.
Maka perhatikan nafasmu,
bukan untuk menyembah nafas,
tetapi untuk menyadari bahwa setiap nafas berjalan karena izin Alloh.
Tarik nafas dengan sadar,
hembuskan dengan pasrah,
lalu katakan dalam batin:
“Ya Alloh, Engkaulah yang menghidupkanku.
Engkaulah yang menahanku agar tetap berdiri.
Engkaulah yang memanggilku pulang.”
Pasal 17
Nafas yang Lupa dan Nafas yang Ingat
Ada nafas yang lupa.
Yaitu nafas yang digunakan untuk mengejar dunia sampai hati kering.
Ada nafas yang lalai.
Yaitu nafas yang digunakan untuk mengeluh tanpa syukur.
Ada nafas yang terluka.
Yaitu nafas yang membawa beban masa lalu tanpa diserahkan kepada Alloh.
Ada pula nafas yang ingat.
Yaitu nafas yang disertai dzikir.
Ada nafas yang berserah.
Yaitu nafas yang menerima takdir tanpa kehilangan ikhtiar.
Ada nafas yang pulang.
Yaitu nafas yang membawa hati kembali kepada rahmat Alloh.
Maka jangan biarkan nafasmu hanya keluar masuk tanpa makna.
Jadikan ia jembatan lembut antara diri yang gelisah
dan hati yang ingin kembali tenang.
Pasal 18
Duduk di Dalam Kesadaran
Duduklah dengan tenang.
Tidak perlu memaksa melihat cahaya.
Tidak perlu mencari suara gaib.
Tidak perlu mengejar rasa luar biasa.
Cukup hadir.
Rasakan tubuhmu yang sedang duduk.
Rasakan kaki yang menyentuh bumi.
Rasakan dada yang naik turun.
Rasakan nafas yang masuk dan keluar.
Lalu katakan:
“Aku hadir di hadapan Alloh.
Aku tidak membawa kesombongan.
Aku tidak membawa kepura-puraan.
Aku hanya membawa diri yang ingin dirahmati.”
Di dalam diam itu,
engkau sedang belajar menjadi jujur.
Karena tidak semua diam adalah kosong.
Ada diam yang menjadi pintu.
Ada diam yang menjadi penyembuhan.
Ada diam yang menjadi tempat turunnya kesadaran.
Pasal 19
Jangan Memaksa Pintu Langit
Wahai pencari rahmat,
jangan memaksa pintu langit dengan nafsu ingin cepat sampai.
Perjalanan ruhani bukan perlombaan.
Bukan siapa paling banyak pengalaman.
Bukan siapa paling hebat penglihatannya.
Bukan siapa paling tinggi bahasanya.
Perjalanan ruhani adalah kesetiaan.
Setia menjaga sholat.
Setia menjaga adab.
Setia memperbaiki diri.
Setia kembali setelah jatuh.
Setia memohon ampun walau dosa berulang.
Setia berharap kepada Alloh walau jalan belum terang.
Jika pintu belum terbuka,
jangan menuduh Alloh jauh.
Bisa jadi engkau sedang dilatih sabar.
Bisa jadi engkau sedang dibersihkan dari tergesa-gesa.
Bisa jadi engkau sedang diajari agar mencintai Alloh,
bukan hanya mencintai karunia-Nya.
Pasal 20
Amalan Nafas Rahmattulloh
Amalan ini bukan untuk mencari kesaktian.
Bukan untuk membuka rasa tinggi.
Bukan untuk merasa lebih suci dari orang lain.
Amalan ini untuk melembutkan hati.
Duduklah dengan tenang setelah sholat atau sebelum tidur.
Tarik nafas perlahan,
lalu dalam hati sebut:
Yā Alloh
Hembuskan perlahan,
lalu sebut:
Yā Rahmān
Tarik kembali dengan lembut,
sebut:
Yā Nūr
Hembuskan dengan pasrah,
sebut:
Yā Salām
Lakukan 11 kali.
Setelah itu bacalah:
Yā Alloh,
jadikan nafasku nafas yang ingat,
bukan nafas yang lalai.
Jadikan diamku diam yang sadar,
bukan diam yang kosong.
Jadikan hatiku tempat turunnya rahmat,
bukan tempat tumbuhnya kesombongan.
Kemudian tutup dengan istighfar:
Astaghfirullohal ‘Azhīm
sebanyak 7 kali.
Pasal 21
Tanda Nafas Mulai Bersih
Tanda nafas mulai bersih
bukan selalu tubuh bergetar,
bukan selalu melihat cahaya,
bukan selalu merasa melayang.
Tandanya lebih sederhana,
tetapi lebih dalam:
engkau lebih mudah menahan ucapan buruk,
lebih cepat sadar ketika marah,
lebih ringan meminta maaf,
lebih lapang menerima ketetapan,
lebih lembut kepada orang yang lemah,
dan lebih malu kepada Alloh saat ingin berbuat salah.
Itulah tanda rahmat mulai bekerja di dalam diri.
Sebab cahaya yang benar
tidak hanya menerangi penglihatan batin,
tetapi juga memperbaiki perilaku lahir.
Penutup Lembar Keempat
Maka jagalah nafasmu, wahai jiwa.
Karena selama nafas masih ada,
pintu taubat masih terbuka.
Selama dada masih bergerak,
rahmat Alloh masih memanggil.
Selama engkau masih mampu menyebut nama-Nya,
engkau belum terlambat untuk pulang.
Jangan berkata,
“Aku sudah terlalu jauh.”
Katakanlah:
“Ya Alloh, selama Engkau masih memberiku nafas,
berarti Engkau masih membuka jalan.
Tuntun aku dari lalai menuju sadar,
dari sempit menuju lapang,
dari aku yang keras menuju aku yang Engkau rahmati.”
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Bab: Menyusuri Lorong Hati Menuju Rahmattulloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang sedang belajar pulang,
setelah nafasmu mulai ditata,
setelah dadamu mulai kau dengarkan,
maka masuklah ke lorong yang lebih halus:
lorong hati.
Hati adalah ruang yang sering ramai,
meski tubuh sedang diam.
Di dalamnya ada harapan,
ada takut,
ada cinta,
ada luka,
ada rahasia,
ada doa yang belum selesai.
Banyak orang menjaga rumahnya dari kotoran,
tetapi lupa menjaga hatinya dari prasangka.
Banyak orang merapikan pakaian sebelum bertemu manusia,
tetapi lupa merapikan batin sebelum menghadap Alloh.
Maka orang yang berjalan menuju titik Rahmattulloh
harus belajar membersihkan hati,
sebab hati adalah tempat jatuhnya pandangan rahmat.
Pasal 22
Hati yang Menjadi Rumah
Hati bisa menjadi rumah cahaya,
bisa juga menjadi rumah gelisah.
Jika hati dipenuhi syukur,
ia menjadi taman.
Jika hati dipenuhi dendam,
ia menjadi duri.
Jika hati dipenuhi dzikir,
ia menjadi mihrab.
Jika hati dipenuhi iri,
ia menjadi api yang membakar pemiliknya sendiri.
Maka jagalah hatimu,
karena dari hati yang keruh
akan lahir ucapan yang menyakiti,
pandangan yang merendahkan,
dan keputusan yang tergesa-gesa.
Tetapi dari hati yang jernih
akan lahir kelembutan,
kebijaksanaan,
dan kesabaran yang tidak mudah runtuh.
Pasal 23
Jangan Biarkan Prasangka Menjadi Imam
Wahai pencari rahmat,
hati yang belum bersih mudah menjadikan prasangka sebagai imam.
Ia melihat orang diam,
lalu mengira dibenci.
Ia melihat orang jauh,
lalu mengira ditinggalkan.
Ia melihat orang berhasil,
lalu mengira dirinya tidak berarti.
Ia melihat doa belum dikabulkan,
lalu mengira Alloh tidak sayang.
Padahal tidak semua diam berarti benci.
Tidak semua jarak berarti putus.
Tidak semua keberhasilan orang lain berarti kekalahanmu.
Tidak semua doa yang tertunda berarti ditolak.
Kadang Alloh menunda bukan karena tidak memberi,
tetapi karena sedang menyiapkan hati agar kuat menerima.
Maka jangan biarkan prasangka duduk di tempat iman.
Jangan biarkan takut mengambil alih sujudmu.
Jangan biarkan luka menafsirkan semua kejadian.
Katakanlah:
“Ya Alloh, bersihkan hatiku dari sangka buruk.
Jadikan aku hamba yang melihat dengan iman,
bukan dengan luka.”
Pasal 24
Hati yang Sadar
Hati yang sadar bukan hati yang tidak pernah sedih.
Hati yang sadar adalah hati yang tahu ke mana harus membawa sedihnya.
Ia membawa sedih kepada Alloh.
Ia membawa takut kepada Alloh.
Ia membawa gagal kepada Alloh.
Ia membawa malu kepada Alloh.
Ia membawa semua pecahnya jiwa ke hadapan Alloh.
Sebab tidak ada luka yang terlalu kotor untuk dibawa kepada Alloh,
selama hamba datang dengan taubat dan rendah hati.
Jangan menunggu sempurna untuk kembali.
Kembalilah agar disempurnakan.
Jangan menunggu bersih untuk mengetuk pintu rahmat.
Ketuklah pintu rahmat agar engkau dibersihkan.
Pasal 25
Empat Penjaga Hati
Untuk menjaga lorong hati,
seorang hamba perlu empat penjaga.
Pertama: Istighfar
Istighfar adalah air yang membasuh noda batin.
Ia bukan hanya ucapan,
tetapi pengakuan bahwa diri masih perlu diampuni.
Ucapkan:
Astaghfirullohal ‘Azhīm wa atūbu ilaih.
Bukan dengan tergesa,
tetapi dengan sadar:
“Ya Alloh, aku kembali.”
Kedua: Syukur
Syukur adalah cahaya yang membuat hati tidak buta terhadap nikmat.
Orang yang tidak bersyukur
akan merasa miskin meski banyak diberi.
Orang yang bersyukur
akan menemukan rahmat bahkan pada hal kecil:
segelas air,
satu nafas,
satu malam yang tenang,
satu orang yang masih mendoakan,
satu kesempatan untuk memperbaiki diri.
Ketiga: Sabar
Sabar bukan diam tanpa rasa.
Sabar adalah tetap beradab ketika hati sedang diuji.
Sabar adalah tidak membalas luka dengan kezaliman.
Sabar adalah tetap menjaga sholat walau dada sempit.
Sabar adalah tetap percaya bahwa Alloh tidak salah mengatur.
Keempat: Tawakkal
Tawakkal bukan berhenti berusaha.
Tawakkal adalah menyerahkan hasil setelah ikhtiar dilakukan.
Ia berkata:
“Ya Alloh, aku berjalan semampuku.
Selebihnya aku serahkan kepada rahmat-Mu.”
Tawakkal membuat hati tidak hancur ketika hasil belum sesuai harapan,
karena ia tahu bahwa Alloh lebih tahu waktu terbaik.
Pasal 26
Membersihkan Hati Sebelum Tidur
Sebelum tidur,
jangan hanya merebahkan tubuh.
Rebahkan juga beban yang tidak perlu kau bawa.
Pejamkan mata.
Letakkan tangan kanan di dada.
Tarik nafas perlahan.
Hembuskan dengan lembut.
Lalu katakan:
Ya Alloh,
aku serahkan lelahku kepada-Mu.
Aku serahkan takutku kepada-Mu.
Aku serahkan kecewaku kepada-Mu.
Aku serahkan orang-orang yang menyakitiku kepada keadilan-Mu.
Aku serahkan orang-orang yang kucintai kepada penjagaan-Mu.
Kemudian lanjutkan:
Ya Alloh,
jangan biarkan hatiku tidur dalam dendam.
Jangan biarkan dadaku dipenuhi prasangka.
Jangan biarkan mimpiku membawa gelap yang belum kuserahkan.
Bersihkan aku dalam tidurku,
bangunkan aku dalam rahmat-Mu.
Pasal 27
Tanda Hati Mulai Mendekat Rahmat
Tanda hati mulai mendekat kepada Rahmattulloh
bukan selalu menangis dalam dzikir,
bukan selalu merasakan getaran halus,
bukan selalu bermimpi indah.
Tandanya adalah:
engkau mulai tidak mudah membalas,
mulai bisa diam dari ucapan yang tidak perlu,
mulai malu ketika merendahkan orang lain,
mulai ingin meminta maaf,
mulai mendoakan orang yang pernah menyakitimu,
dan mulai merasa cukup dengan perhatian Alloh.
Saat itu, hati mulai dipindahkan
dari ruang ego
menuju ruang rahmat.
Penutup Lembar Kelima
Maka jagalah hatimu, wahai jiwa.
Sebab perjalanan menuju Alloh
tidak hanya ditempuh dengan kaki,
tetapi dengan hati yang terus dibersihkan.
Jangan takut jika hatimu belum sempurna.
Yang penting jangan berhenti membawanya kepada Alloh.
Karena hati yang pecah di hadapan Alloh
lebih mulia daripada hati yang keras di hadapan manusia.
Katakanlah dengan lembut:
“Ya Alloh,
jadikan hatiku rumah dzikir,
bukan rumah dendam.
Jadikan hatiku taman syukur,
bukan ladang iri.
Jadikan hatiku mihrab rahmat,
bukan singgasana ego.
Bawa aku dari hati yang sempit
menuju hati yang Engkau lapangkan dengan cahaya-Mu.”
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Bab: Melepas Beban Diri di Hadapan Rahmattulloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang mulai mengenal hatinya,
setelah engkau menyusuri lorong batin,
setelah engkau belajar menjaga prasangka,
maka kini masuklah ke pintu berikutnya:
melepas beban diri.
Karena tidak semua yang engkau bawa adalah amanah.
Sebagian hanyalah luka lama.
Sebagian hanyalah ketakutan.
Sebagian hanyalah penyesalan.
Sebagian hanyalah suara manusia yang terlalu lama kau simpan di dalam dada.
Banyak manusia lelah bukan karena perjalanan terlalu jauh,
tetapi karena membawa beban yang sebenarnya sudah boleh diserahkan kepada Alloh.
Maka orang yang menuju titik Rahmattulloh
harus belajar membedakan:
mana tanggung jawab yang harus dijalani,
dan mana beban batin yang harus dilepaskan.
Pasal 28
Beban yang Tidak Harus Kau Bawa
Wahai jiwa,
engkau tidak wajib memikul semua penilaian manusia.
Engkau tidak wajib menjelaskan dirimu kepada orang yang memang tidak ingin memahami.
Engkau tidak wajib menyenangkan semua hati,
sampai hatimu sendiri kehilangan arah.
Engkau tidak wajib terus menyalahkan dirimu
atas kejadian yang sudah kau taubati dan kau perbaiki.
Yang wajib adalah kembali kepada Alloh,
memperbaiki niat,
menjaga adab,
dan tidak mengulang kezaliman.
Jika engkau sudah meminta ampun,
sudah belajar,
sudah berusaha membenahi,
maka jangan biarkan masa lalu menjadi cambuk yang memukulmu setiap malam.
Sebab taubat bukan hanya menyesali kesalahan,
tetapi juga percaya bahwa rahmat Alloh lebih luas daripada dosa hamba.
Pasal 29
Letakkan di Sajadah
Ada beban yang tidak selesai dengan banyak bicara.
Ada luka yang tidak sembuh dengan banyak penjelasan.
Ada gelisah yang tidak hilang dengan berdebat.
Letakkan ia di sajadah.
Bukan karena sajadah itu benda sakti,
tetapi karena di atas sajadah,
seorang hamba belajar kembali menjadi kecil di hadapan Yang Maha Besar.
Sujudlah,
meski dada belum lapang.
Berdoalah,
meski air mata belum turun.
Diamlah,
meski hati masih ramai.
Katakan:
“Ya Alloh,
ini bebanku.
Aku tidak sanggup membawanya sendiri.
Aku tidak tahu cara menyembuhkannya dengan sempurna.
Maka aku titipkan kepada rahmat-Mu.”
Di situlah beban mulai melemah.
Bukan selalu hilang seketika,
tetapi tidak lagi menguasai seluruh dirimu.
Pasal 30
Jangan Menjadi Hakim atas Dirimu Selamanya
Banyak hamba telah dimaafkan oleh Alloh,
tetapi belum mau memaafkan dirinya sendiri.
Ia terus berkata:
“Aku dulu salah.”
“Aku dulu gagal.”
“Aku dulu hina.”
Padahal Alloh memanggilnya kembali,
tetapi ia masih berdiri di masa lalu.
Wahai jiwa,
menyesal itu pintu taubat.
Tetapi menetap di penyesalan tanpa bangkit
bisa menjadi penjara batin.
Jangan jadikan kesalahan lama sebagai nama barumu.
Jangan jadikan kegagalan lama sebagai takdirmu selamanya.
Engkau adalah hamba yang sedang diperbaiki.
Engkau adalah jiwa yang sedang dipanggil pulang.
Engkau adalah makhluk yang masih diberi nafas untuk berubah.
Maka katakan:
“Aku pernah salah, tetapi aku tidak mau tinggal di kesalahan.
Aku pernah jatuh, tetapi aku tidak mau tinggal di tanah.
Aku pernah gelap, tetapi aku sedang berjalan menuju cahaya rahmat Alloh.”
Pasal 31
Memaafkan Bukan Membenarkan Kezaliman
Wahai pencari rahmat,
ketahuilah dengan jernih:
memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman.
Memaafkan bukan berarti harus kembali kepada tempat yang terus melukai.
Memaafkan bukan berarti membiarkan diri dirusak.
Memaafkan bukan berarti menghapus kewajiban menegakkan batas yang sehat.
Memaafkan adalah melepaskan racun dendam
agar hatimu tidak terus terbakar oleh kejadian lama.
Adapun batas tetap perlu dijaga.
Adab tetap perlu ditegakkan.
Keadilan tetap boleh dicari dengan cara yang benar.
Maka jangan salah memahami rahmat.
Rahmat bukan kelemahan.
Rahmat adalah kejernihan.
Rahmat membuatmu tidak membalas dengan zalim,
tetapi juga tidak menyerahkan dirimu untuk terus dizalimi.
Pasal 32
Beban Orang Lain Bukan Selalu Amanahmu
Ada orang yang datang membawa luka,
lalu engkau ingin menolongnya.
Itu baik.
Tetapi jangan sampai engkau mengambil semua beban manusia
hingga engkau lupa bahwa dirimu juga hamba yang terbatas.
Tolonglah semampumu.
Doakan semampumu.
Dampingi dengan adab.
Tetapi jangan merasa engkau adalah penyelamat mutlak.
Yang menyelamatkan hanyalah Alloh.
Yang menyembuhkan hanyalah Alloh.
Yang membolak-balikkan hati hanyalah Alloh.
Engkau hanya wasilah.
Engkau hanya perantara kebaikan.
Engkau hanya hamba yang ikut menyalakan lampu kecil di jalan orang lain.
Maka jangan sombong ketika ada yang tertolong melalui dirimu,
dan jangan hancur ketika ada yang belum berubah setelah kau bantu.
Serahkan akhirnya kepada Alloh.
Pasal 33
Dzikir Pelepas Beban
Jika dada terasa berat,
jika pikiran berputar-putar,
jika hati seperti membawa batu yang tidak terlihat,
maka duduklah sebentar.
Tarik nafas perlahan.
Hembuskan dengan lembut.
Baca:
Hasbiyalloh wa ni‘mal wakīl
sebanyak 33 kali.
Lalu baca:
Lā hawla wa lā quwwata illā billāh
sebanyak 11 kali.
Kemudian ucapkan:
Ya Alloh,
apa yang bukan kuasaku, aku serahkan kepada-Mu.
Apa yang tidak mampu kuubah, aku titipkan kepada-Mu.
Apa yang menyakitiku, aku bawa kepada rahmat-Mu.
Apa yang membuatku takut, aku letakkan di bawah penjagaan-Mu.
Diam sejenak.
Jangan memaksa hati langsung ringan.
Biarkan ia belajar percaya.
Sebab beban yang lama dipikul
kadang perlu dilepas sedikit demi sedikit.
Pasal 34
Tanda Beban Mulai Lepas
Tanda beban mulai lepas
bukan berarti semua masalah langsung selesai.
Tandanya adalah:
engkau mulai bisa tidur lebih tenang,
mulai bisa bernafas lebih lapang,
mulai tidak terus mengulang luka lama,
mulai tidak mudah terpancing oleh ucapan manusia,
mulai bisa berkata, “cukup Alloh yang tahu,”
dan mulai punya tenaga untuk memperbaiki hari ini.
Jika itu mulai muncul,
maka syukurilah.
Sebab rahmat kadang datang bukan dalam bentuk jalan yang langsung berubah,
tetapi dalam bentuk hati yang tidak lagi seberat kemarin.
Penutup Lembar Keenam
Maka lepaskanlah, wahai jiwa.
Bukan melepaskan tanggung jawab,
tetapi melepaskan beban yang bukan bagian dari penghambaanmu.
Bukan lari dari kenyataan,
tetapi menyerahkan kenyataan kepada Alloh setelah engkau berikhtiar.
Bukan berhenti peduli,
tetapi berhenti merasa bahwa semuanya harus kau kendalikan sendiri.
Katakanlah dengan lembut:
“Ya Alloh,
aku letakkan beban yang melemahkanku di pintu rahmat-Mu.
Aku serahkan masa laluku kepada ampunan-Mu.
Aku serahkan masa depanku kepada penjagaan-Mu.
Aku serahkan hari ini kepada bimbingan-Mu.
Jadikan aku hamba yang ringan karena tawakkal,
kuat karena sabar,
dan tenang karena percaya kepada-Mu.”
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Bab: Menyadari Amanah Diri di Bawah Cahaya Rahmattulloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang telah belajar melepas beban,
ketahuilah bahwa setelah beban dilepas,
bukan berarti perjalanan selesai.
Sebab hati yang diringankan oleh Alloh
bukan untuk berhenti,
tetapi untuk mulai memikul amanah dengan lebih jernih.
Amanah bukan selalu jabatan besar.
Bukan selalu panggung.
Bukan selalu nama yang dikenal banyak orang.
Kadang amanah itu sederhana:
menjaga lisan,
menjaga keluarga,
menjaga sholat,
menjaga kejujuran,
menjaga orang lemah,
menjaga ilmu agar tidak berubah menjadi kesombongan.
Maka orang yang berjalan menuju Rahmattulloh
harus belajar bertanya:
“Ya Alloh, untuk kebaikan apa Engkau masih memberiku hidup hari ini?”
Pasal 35
Hidup Bukan Sekadar Berjalan
Banyak manusia menjalani hari,
tetapi tidak menyadari arah.
Bangun, makan, bekerja, lelah, tidur,
lalu mengulang lagi,
tanpa pernah bertanya:
“Apakah hidupku sedang mendekat kepada Alloh,
atau hanya berputar di dunia?”
Wahai jiwa,
hidup bukan hanya tentang umur yang panjang,
tetapi tentang cahaya yang ditanam dalam umur itu.
Hari yang sedikit tetapi dipenuhi taubat
lebih baik daripada hari yang panjang tetapi dipenuhi lalai.
Langkah yang kecil tetapi menuju Alloh
lebih mulia daripada lari jauh tetapi menuju kesombongan.
Maka jangan ukur hidupmu hanya dari banyaknya pencapaian dunia.
Ukurlah juga dari:
seberapa lembut hatimu,
seberapa jujur niatmu,
seberapa kuat adabmu,
seberapa sering engkau kembali ketika tersesat.
Pasal 36
Amanah Pertama Adalah Dirimu
Sebelum engkau ingin membimbing banyak orang,
bimbinglah dirimu.
Sebelum engkau ingin menyembuhkan banyak hati,
rawatlah hatimu.
Sebelum engkau ingin membuka jalan orang lain,
pastikan engkau tidak meninggalkan jalanmu sendiri.
Karena diri ini juga amanah.
Tubuhmu amanah.
Pikiranmu amanah.
Hatimu amanah.
Waktumu amanah.
Ilmumu amanah.
Lisanmu amanah.
Jangan gunakan lisan untuk melukai,
lalu menyebutnya kebenaran.
Jangan gunakan ilmu untuk merendahkan,
lalu menyebutnya nasihat.
Jangan gunakan rasa batin untuk menguasai,
lalu menyebutnya bimbingan.
Amanah yang benar selalu melahirkan adab.
Jika ilmu membuatmu kasar,
periksa kembali niatmu.
Jika pengalaman batin membuatmu sombong,
periksa kembali jalanmu.
Jika banyak orang menghormatimu tetapi sholatmu mulai longgar,
berhentilah sejenak dan pulanglah kepada Alloh.
Pasal 37
Ilmu Adalah Titipan, Bukan Mahkota Kesombongan
Ilmu yang datang kepada hati
bukan untuk membuat manusia merasa menjadi pusat.
Ilmu adalah titipan.
Ilmu adalah cahaya yang harus dijaga.
Ilmu adalah amanah yang kelak ditanya.
Siapa yang diberi sedikit ilmu,
hendaknya semakin takut kepada Alloh.
Siapa yang diberi banyak pemahaman,
hendaknya semakin banyak istighfar.
Siapa yang diberi kemampuan menasihati,
hendaknya semakin lembut kepada yang belum mengerti.
Sebab ilmu yang benar
tidak membuat seseorang haus menang,
tetapi haus ridho Alloh.
Ilmu yang benar
tidak membuat seseorang mudah menghukum,
tetapi membuatnya bijak menuntun.
Ilmu yang benar
tidak membuat seseorang berkata, “aku paling tahu,”
tetapi berkata:
“Ya Alloh, ajari aku adab sebelum ilmu,
ikhlas sebelum amal,
dan takut kepada-Mu sebelum berbicara.”
Pasal 38
Jangan Lari dari Tugas Kecil
Wahai jiwa,
jangan menunggu tugas besar baru merasa hidupmu berarti.
Kadang Alloh menguji kesungguhanmu
melalui tugas kecil yang berulang.
Menjaga wudhu.
Menjawab orang dengan baik.
Merapikan niat sebelum membantu.
Tidak membalas ketika dihina.
Mendoakan diam-diam.
Menahan diri dari ucapan sia-sia.
Membahagiakan orang tua.
Mencari rezeki yang halal.
Menepati janji kecil.
Semua itu tampak sederhana,
tetapi di sanalah kejujuran hamba diuji.
Karena orang yang tidak amanah dalam hal kecil,
akan goyah ketika diberi hal besar.
Maka jangan meremehkan kebaikan kecil.
Bisa jadi satu kalimat lembut
menjadi sebab hati seseorang tidak putus asa.
Bisa jadi satu doa yang tersembunyi
menjadi sebab turunnya rahmat pada rumahmu.
Bisa jadi satu sujud di malam sepi
menjadi sebab Alloh membuka jalan yang selama ini tertutup.
Pasal 39
Amanah Bukan untuk Dipamerkan
Ada amanah yang rusak
karena terlalu cepat diumumkan.
Ada cahaya yang redup
karena terlalu sering dipamerkan.
Ada amal yang hilang rasa ikhlasnya
karena terlalu haus disaksikan manusia.
Maka jagalah rahasia antara dirimu dan Alloh.
Tidak semua pengalaman perlu diceritakan.
Tidak semua mimpi perlu diumumkan.
Tidak semua rasa perlu dijadikan bukti.
Tidak semua amal perlu ditunjukkan.
Simpan sebagian kebaikanmu
sebagai simpanan sunyi di sisi Alloh.
Karena ada amal kecil yang tersembunyi,
tetapi berat di langit.
Dan ada amal besar yang ramai dipuji manusia,
tetapi ringan karena tercampur riya.
Katakanlah:
“Ya Alloh, sembunyikan aibku,
selamatkan amalku dari pamer,
dan jadikan rahasia baikku lebih banyak daripada yang manusia lihat.”
Pasal 40
Doa Penjaga Amanah
Bacalah dengan rendah hati:
Yā Alloh,
jangan Engkau beri aku amanah
yang membuatku lupa kepada-Mu.
Jangan Engkau beri aku ilmu
yang membuatku tinggi hati.
Jangan Engkau beri aku pengikut
yang membuatku merasa memiliki kuasa.
Jangan Engkau beri aku pujian
yang membuatku kehilangan takut kepada-Mu.
Tetapi berilah aku hati yang jujur,
lisan yang lembut,
amal yang ikhlas,
dan langkah yang tetap berada di bawah rahmat-Mu.
Yā Alloh,
jika aku Engkau jadikan jalan kebaikan,
jangan biarkan aku merasa sebagai sumber kebaikan.
Ingatkan aku bahwa semua cahaya berasal dari-Mu,
semua pertolongan datang dari-Mu,
dan semua akhir kembali kepada-Mu.
Pasal 41
Tanda Amanah Mulai Bercahaya
Tanda amanah mulai bercahaya
bukan ketika banyak orang memuji.
Tandanya adalah:
engkau semakin takut menyakiti,
semakin hati-hati berbicara,
semakin ringan meminta maaf,
semakin kuat menjaga batas,
semakin tidak haus pengakuan,
semakin banyak menyerahkan hasil kepada Alloh.
Jika amanah membuatmu semakin dekat kepada Alloh,
maka itu rahmat.
Jika amanah membuatmu semakin sibuk dengan pujian manusia,
maka itu peringatan.
Jika amanah membuatmu semakin lembut kepada makhluk,
maka itu cahaya.
Jika amanah membuatmu semakin keras dan merasa paling benar,
maka itu hijab yang harus segera dibersihkan.
Penutup Lembar Ketujuh
Maka sadarlah, wahai jiwa.
Engkau hidup bukan tanpa maksud.
Engkau diberi nafas bukan tanpa amanah.
Engkau diberi luka bukan tanpa hikmah.
Engkau diberi ilmu bukan tanpa tanggung jawab.
Jalani amanahmu dengan rendah hati.
Jangan merasa besar karena tugasmu,
sebab yang besar hanyalah Alloh.
Jangan merasa kecil hingga putus asa,
sebab rahmat Alloh mampu menguatkan hamba yang lemah.
Katakanlah:
“Ya Alloh,
aku terima hidup ini sebagai amanah.
Aku terima tubuh ini sebagai titipan.
Aku terima ilmu ini sebagai tanggung jawab.
Aku terima jalan ini sebagai panggilan.
Jangan biarkan aku berjalan dengan ego.
Jangan biarkan aku memikul amanah tanpa adab.
Tuntun aku agar hidupku menjadi jalan rahmat,
bukan jalan kesombongan.”
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Bab: Menembus Kabut Ego Menuju Kejernihan Rahmattulloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang sedang dipanggil pulang,
setelah engkau mengenal amanah diri,
setelah engkau sadar bahwa hidup bukan sekadar berjalan,
maka kini masuklah ke ruang yang lebih halus:
menembus kabut ego.
Ego itu tidak selalu tampak kasar.
Kadang ia datang memakai pakaian kebaikan.
Kadang ia bersembunyi di balik ilmu.
Kadang ia duduk di balik nasihat.
Kadang ia menyusup ke dalam amal,
lalu membuat hamba merasa dirinya lebih suci dari yang lain.
Maka berhati-hatilah,
sebab musuh paling lembut dalam perjalanan menuju Rahmattulloh
bukan selalu yang menyerang dari luar,
tetapi yang berbisik dari dalam:
“Aku lebih tahu.
Aku lebih benar.
Aku lebih dekat.
Aku lebih tinggi.”
Pasal 42
Kabut Ego
Kabut ego adalah keadaan ketika hati tidak lagi melihat Alloh sebagai tujuan,
tetapi mulai melihat dirinya sebagai pusat.
Ia beramal,
tetapi ingin dilihat.
Ia berbicara kebenaran,
tetapi ingin menang.
Ia menasihati,
tetapi tidak mau dinasihati.
Ia mengaku berjalan menuju Alloh,
tetapi marah ketika tidak dihormati manusia.
Maka lihatlah tanda ini baik-baik:
Jika engkau marah karena kebenaran diinjak,
itu bisa menjadi ghirah.
Tetapi jika engkau marah karena dirimu tidak dianggap,
itu perlu diperiksa.
Jika engkau sedih karena orang jauh dari Alloh,
itu bisa menjadi kasih.
Tetapi jika engkau sedih karena orang tidak memujimu,
itu perlu dibersihkan.
Pasal 43
Ilmu yang Tertutup Ego
Ilmu yang masuk ke hati bersih
akan menjadi cahaya.
Tetapi ilmu yang masuk ke hati penuh ego
bisa berubah menjadi pedang.
Pedang untuk menyerang.
Pedang untuk merendahkan.
Pedang untuk mempermalukan.
Pedang untuk merasa diri paling sah.
Padahal ilmu yang benar
seharusnya membuat hati semakin takut kepada Alloh,
bukan semakin berani menyombongkan diri di hadapan makhluk.
Maka jangan bertanya hanya:
“Seberapa banyak ilmuku?”
Tetapi tanyakan juga:
“Apakah ilmuku membuatku semakin lembut?”
“Apakah ilmuku membuatku semakin jujur?”
“Apakah ilmuku membuatku semakin hati-hati?”
“Apakah ilmuku membuatku semakin dekat kepada Alloh?”
Jika jawabannya belum,
maka ilmu itu belum turun menjadi hikmah.
Ia masih berhenti di kepala,
belum menetap di hati.
Pasal 44
Mengaku Kecil di Hadapan Alloh
Salah satu pintu besar menuju rahmat
adalah berani mengaku kecil.
Bukan kecil karena hina tanpa harapan,
tetapi kecil karena sadar bahwa seluruh kekuatan hanyalah titipan.
Laut tidak menjadi rendah karena menerima sungai.
Bumi tidak menjadi hina karena diinjak manusia.
Langit tidak kehilangan kemuliaan karena diam.
Begitu pula hamba.
Ia tidak kehilangan kemuliaan ketika rendah hati.
Justru di sanalah Alloh mengangkat derajatnya.
Maka katakanlah:
“Ya Alloh,
aku kecil di hadapan-Mu.
Aku lemah tanpa pertolongan-Mu.
Aku tidak mengetahui kecuali yang Engkau ajarkan.
Aku tidak mampu selamat kecuali Engkau rahmati.”
Ucapan seperti ini adalah obat bagi hati yang mulai berkabut.
Pasal 45
Jangan Mengukur Kedekatan dengan Keanehan
Wahai pencari rahmat,
jangan mengukur kedekatan kepada Alloh hanya dari hal-hal aneh.
Melihat cahaya belum tentu lebih dekat.
Mendengar suara belum tentu lebih suci.
Mimpi tinggi belum tentu tanda sampai.
Rasa bergetar belum tentu bukti diterima.
Ukuran yang lebih aman adalah akhlak.
Apakah engkau lebih sabar?
Apakah engkau lebih jujur?
Apakah engkau lebih menjaga sholat?
Apakah engkau lebih tidak mudah menyakiti?
Apakah engkau lebih cepat kembali ketika salah?
Apakah engkau lebih takut kepada Alloh saat sendiri?
Karena karomah terbesar bukan terbang di udara,
tetapi tetap istiqomah di jalan Alloh saat tidak ada manusia yang melihat.
Karomah terbesar bukan dikenal banyak orang,
tetapi dijaga Alloh dari menjadi hamba yang sombong.
Pasal 46
Diam yang Menundukkan Ego
Ada saatnya berbicara adalah amanah.
Ada saatnya diam adalah penyelamatan.
Diam bukan karena takut kepada manusia,
tetapi karena takut lisan melampaui adab.
Diam bukan karena tidak tahu,
tetapi karena tahu bahwa tidak semua yang diketahui harus diucapkan.
Diam bukan karena kalah,
tetapi karena hati tidak ingin menjadikan kebenaran sebagai alat membakar.
Maka belajarlah diam yang sadar.
Ketika ingin membalas,
diam sebentar.
Ketika ingin membuktikan diri,
diam sebentar.
Ketika ingin menunjukkan bahwa engkau benar,
diam sebentar.
Tanyakan kepada hati:
“Apakah ucapanku nanti mendekatkan kepada Alloh,
atau hanya memuaskan egoku?”
Jika hanya memuaskan ego,
maka simpanlah.
Sebab banyak kehancuran dimulai dari lisan
yang tidak sempat dijaga oleh hati.
Pasal 47
Dzikir Pembersih Ego
Jika hati mulai merasa tinggi,
jika dada mulai panas ketika tidak dipuji,
jika lisan ingin menang sendiri,
maka duduklah dengan tenang.
Letakkan tangan kanan di dada.
Baca perlahan:
Astaghfirullohal ‘Azhīm
sebanyak 33 kali.
Lalu baca:
Lā ilāha illā Anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn
sebanyak 7 kali.
Kemudian ucapkan:
Ya Alloh,
bersihkan aku dari kesombongan yang terlihat
dan kesombongan yang tersembunyi.
Bersihkan aku dari ingin dipuji,
ingin menang,
ingin dianggap paling benar.
Jadikan ilmuku tunduk kepada adab.
Jadikan lisanku tunduk kepada rahmat.
Jadikan hatiku tunduk kepada-Mu.”
Diamlah sejenak.
Rasakan bahwa semua yang ada pada diri
hanyalah titipan.
Pasal 48
Tanda Ego Mulai Melemah
Tanda ego mulai melemah
bukan berarti engkau tidak punya harga diri.
Tandanya adalah:
engkau bisa menerima nasihat tanpa langsung menyerang,
engkau bisa mengakui salah tanpa merasa hancur,
engkau bisa melihat orang lain dimuliakan tanpa iri,
engkau bisa menahan diri dari membalas celaan,
engkau bisa membantu tanpa ingin disebut berjasa,
engkau bisa beramal tanpa perlu diumumkan.
Saat itu, hati mulai jernih.
Bukan karena diri sudah sempurna,
tetapi karena diri mulai tidak lagi menjadi pusat.
Alloh mulai menjadi tujuan.
Rahmat mulai menjadi arah.
Adab mulai menjadi pagar.
Kejujuran mulai menjadi cahaya.
Penutup Lembar Kedelapan
Maka tembuslah kabut egomu, wahai jiwa.
Jangan biarkan perjalanan batin berubah menjadi perjalanan membesarkan diri.
Jangan biarkan ilmu menjadi hijab.
Jangan biarkan amal menjadi panggung.
Jangan biarkan nasihat menjadi cambuk untuk merendahkan.
Jangan biarkan pengalaman menjadi mahkota kesombongan.
Katakanlah:
“Ya Alloh,
aku berlindung kepada-Mu
dari merasa dekat padahal jauh,
dari merasa suci padahal lalai,
dari merasa tinggi padahal sedang diuji.
Tundukkan egoku dengan kasih-Mu.
Bersihkan hatiku dengan ampunan-Mu.
Jadikan aku hamba yang berjalan pelan,
tetapi benar arah;
tidak ramai dipuji,
tetapi Engkau ridhoi.”
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Bab: Menyalakan Nur Sadar di Dalam Dada
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang telah menembus kabut ego,
ketahuilah bahwa setelah ego mulai melemah,
akan muncul ruang yang lebih hening di dalam dada.
Ruang itu bukan kosong.
Ruang itu adalah tempat kesadaran mulai menyala.
Di sanalah hamba mulai mendengar bukan dengan telinga,
tetapi dengan kejujuran hati.
Di sanalah hamba mulai melihat bukan dengan mata,
tetapi dengan cahaya iman.
Di sanalah hamba mulai memahami bahwa perjalanan menuju Rahmattulloh
bukan tentang menjadi manusia luar biasa,
tetapi menjadi hamba yang benar-benar sadar.
Sadar bahwa hidup ini sebentar.
Sadar bahwa dunia ini titipan.
Sadar bahwa hati ini mudah berubah.
Sadar bahwa Alloh selalu melihat.
Sadar bahwa setiap langkah akan kembali ditanya.
Pasal 49
Nur Sadar
Nur sadar adalah cahaya halus yang membuat manusia berhenti hidup dalam kelalaian.
Ia tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia datang sebagai rasa malu setelah berbuat salah.
Kadang ia datang sebagai tangis kecil setelah sholat.
Kadang ia datang sebagai keinginan memperbaiki diri.
Kadang ia datang sebagai rasa takut menyakiti orang lain.
Kadang ia datang sebagai dorongan untuk kembali kepada Alloh,
meski diri belum sempurna.
Nur sadar bukan membuat hamba merasa paling suci.
Nur sadar justru membuat hamba berkata:
“Ya Alloh, selama ini aku banyak lalai.
Bangunkan aku sebelum kematian membangunkanku.”
Itulah cahaya yang lembut,
tetapi mampu mengguncang tidur panjang jiwa.
Pasal 50
Dada Sebagai Mihrab Rahmat
Dada manusia bukan hanya tempat detak jantung.
Di dalamnya ada ruang rasa, ruang niat, ruang takut, ruang harap, dan ruang cinta.
Jika dada dipenuhi dunia tanpa dzikir,
ia menjadi sempit.
Jika dada dipenuhi dendam,
ia menjadi panas.
Jika dada dipenuhi prasangka,
ia menjadi gelap.
Tetapi jika dada mulai diisi dengan ingat kepada Alloh,
maka ia perlahan menjadi mihrab.
Mihrab bukan hanya tempat imam berdiri.
Mihrab juga bisa hidup di dalam hati:
tempat diri bersujud secara batin,
tempat niat dibersihkan,
tempat luka diserahkan,
tempat rahmat dimohonkan.
Maka jagalah dadamu.
Jangan biarkan ia menjadi tempat tinggal marah yang panjang.
Jangan biarkan ia menjadi gudang kecewa.
Jangan biarkan ia menjadi panggung ego.
Jadikan ia tempat Alloh disebut dengan lembut.
Pasal 51
Cahaya yang Tidak Membakar
Ada cahaya yang membuat manusia lembut.
Ada pula cahaya yang dikira cahaya, tetapi membuat manusia keras.
Jika sebuah rasa membuatmu semakin mudah menghina,
itu bukan rahmat.
Jika sebuah pengalaman membuatmu semakin memandang rendah orang lain,
itu bukan nur yang bersih.
Jika sebuah pengetahuan membuatmu semakin jauh dari adab,
itu belum menjadi hikmah.
Cahaya yang benar tidak membakar makhluk dengan kesombongan.
Cahaya yang benar menghangatkan, menuntun, dan menenangkan.
Ia membuat lisan lebih hati-hati.
Ia membuat tangan lebih ringan menolong.
Ia membuat mata lebih mudah menangis karena takut kepada Alloh.
Ia membuat hati lebih kuat menahan diri dari membalas kezaliman dengan kezaliman.
Maka ukurlah cahaya bukan dari terang rasanya saja,
tetapi dari baik buahnya.
Pasal 52
Sadar Saat Sendiri
Banyak manusia tampak baik ketika dilihat.
Tetapi ujian kesadaran yang halus adalah ketika sendiri.
Saat tidak ada manusia melihat,
apakah hati tetap malu kepada Alloh?
Saat tidak ada yang memuji,
apakah amal tetap dilakukan?
Saat tidak ada yang tahu,
apakah lisan dan tangan tetap dijaga?
Saat pintu maksiat terbuka,
apakah jiwa masih ingat bahwa Alloh Maha Melihat?
Inilah maqom kejujuran.
Bukan berarti hamba tidak pernah tergelincir.
Tetapi ketika tergelincir, ia cepat sadar, cepat malu, cepat kembali.
Ia tidak berkata, “tidak ada yang melihat.”
Ia berkata:
“Alloh melihatku.
Malaikat mencatatku.
Hatiku menjadi saksi atas diriku.”
Maka orang yang sadar saat sendiri
sedang dijaga oleh rahmat yang besar.
Pasal 53
Menyala Tanpa Menyakiti
Wahai jiwa,
jadilah cahaya yang menyala tanpa menyakiti.
Bukan cahaya yang menyilaukan agar orang tunduk kepadamu.
Bukan cahaya yang membakar agar orang takut kepadamu.
Bukan cahaya yang memaksa agar orang mengikuti kehendakmu.
Tetapi cahaya yang menuntun.
Seperti lampu kecil di malam gelap,
ia tidak berteriak,
tetapi membantu orang melihat jalan.
Seperti bulan di langit,
ia tidak menyombongkan sinarnya,
tetapi menghadirkan tenang bagi yang berjalan.
Seperti pelita di rumah sederhana,
ia tidak terkenal,
tetapi cukup menjadi sebab satu keluarga tidak duduk dalam gelap.
Maka jangan sibuk ingin menjadi matahari bagi semua orang.
Cukup jadilah pelita yang dijaga Alloh,
di tempat yang Alloh pilihkan untukmu.
Pasal 54
Dzikir Nur Sadar
Jika hati mulai lalai,
jika dada mulai keras,
jika pikiran mulai jauh dari Alloh,
maka duduklah sebentar.
Letakkan tangan kanan di dada.
Tarik nafas perlahan.
Hembuskan dengan lembut.
Baca:
Yā Nūr
sebanyak 33 kali.
Lalu baca:
Yā Hādī
sebanyak 11 kali.
Kemudian ucapkan:
Ya Alloh,
nyalakan nur sadar di dalam dadaku.
Bangunkan aku dari lalai sebelum terlambat.
Lembutkan hatiku sebelum ia mengeras.
Terangkan jalanku sebelum aku tersesat jauh.
Jadikan aku hamba yang melihat kekurangan diri,
bukan sibuk mencari kekurangan orang lain.
Diam sejenak.
Jangan mengejar rasa.
Jangan memaksa air mata.
Cukup hadir dengan jujur.
Sebab kejujuran yang sederhana
lebih dekat kepada rahmat
daripada tangis yang dibuat-buat.
Pasal 55
Tanda Nur Sadar Mulai Hidup
Tanda nur sadar mulai hidup
bukan hanya rasa hangat di dada,
bukan hanya tenang dalam dzikir,
bukan hanya mimpi yang indah.
Tandanya adalah:
engkau mulai peka ketika niatmu bergeser,
mulai cepat sadar ketika ucapanmu melukai,
mulai gelisah ketika meninggalkan sholat,
mulai malu ketika berbohong,
mulai tidak nyaman dengan kesombongan,
mulai ingin meminta maaf sebelum terlambat,
dan mulai merasa bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk kembali.
Itulah cahaya yang bekerja diam-diam.
Ia tidak selalu tampak di wajah,
tetapi tampak pada keputusan.
Ia tidak selalu terdengar di lisan,
tetapi terasa pada adab.
Ia tidak selalu ramai di hadapan manusia,
tetapi terang di sisi Alloh.
Penutup Lembar Kesembilan
Maka nyalakanlah nur sadar di dalam dadamu, wahai jiwa.
Jangan biarkan hidup berlalu hanya sebagai kebiasaan.
Jangan biarkan umur habis hanya untuk mengejar yang sementara.
Jangan biarkan hati tertidur dalam pujian manusia.
Bangunlah dengan lembut.
Bangunlah dengan taubat.
Bangunlah dengan dzikir.
Bangunlah dengan adab.
Katakanlah:
“Ya Alloh,
jadikan dadaku mihrab kesadaran.
Jadikan hatiku pelita rahmat.
Jadikan lisanku jalan kelembutan.
Jadikan langkahku tanda pulang.
Aku tidak ingin hanya dikenal manusia.
Aku ingin Engkau kenal sebagai hamba yang kembali.
Aku tidak ingin hanya tampak bercahaya.
Aku ingin Engkau bersihkan dari dalam.
Aku tidak ingin hanya berjalan jauh.
Aku ingin benar-benar sampai kepada rahmat-Mu.”
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Bab: Menyebrangi Sunyi Menuju Titik Rahmattulloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang mulai menyala dengan nur sadar,
ketahuilah bahwa setelah dada diterangi,
Alloh kadang membawa hamba masuk ke ruang sunyi.
Sunyi itu bukan hukuman.
Sunyi itu bukan tanda ditinggalkan.
Sunyi itu bukan bukti bahwa jalanmu berhenti.
Kadang sunyi adalah tempat Alloh membersihkan suara-suara yang terlalu ramai di dalam dirimu.
Di dalam sunyi,
engkau akan tahu siapa yang benar-benar kau cari.
Apakah engkau mencari Alloh,
atau hanya mencari rasa tenang?
Apakah engkau mencari ridho-Nya,
atau hanya mencari tanda-tanda yang membuatmu merasa istimewa?
Maka jangan takut kepada sunyi.
Sebab banyak rahmat turun bukan di tengah keramaian,
tetapi di dalam hati yang diam dan jujur.
Pasal 56
Sunyi yang Menyaring Jiwa
Sunyi adalah penyaring.
Ia menyaring niat yang tercampur.
Ia menyaring harapan yang terlalu bergantung kepada manusia.
Ia menyaring doa yang masih ingin memaksa.
Ia menyaring ibadah yang masih ingin dilihat.
Ketika manusia menjauh,
engkau belajar bahwa Alloh tidak pernah jauh.
Ketika pujian berhenti,
engkau belajar apakah amalmu masih hidup.
Ketika tidak ada yang memahami,
engkau belajar berbicara kepada Alloh dengan lebih jujur.
Ketika jalan terasa sepi,
engkau belajar bahwa tidak semua perjalanan mulia harus ramai disaksikan.
Maka jangan buru-buru keluar dari sunyi.
Ambil hikmahnya.
Dengarkan batinmu.
Perbaiki niatmu.
Rapikan langkahmu.
Karena sunyi yang dijalani dengan dzikir
akan menjadi madrasah rahmat.
Pasal 57
Saat Alloh Menyembunyikanmu
Ada masa ketika Alloh menyembunyikan seorang hamba dari perhatian manusia.
Bukan karena hamba itu tidak berarti,
tetapi karena Alloh sedang menjaganya dari rusaknya hati.
Sebab tidak semua jiwa kuat dipuji.
Tidak semua hati siap dikenal.
Tidak semua amal selamat ketika ramai dilihat.
Maka jika engkau merasa belum diangkat,
jangan bersedih.
Bisa jadi Alloh sedang melindungimu.
Bisa jadi Alloh sedang mematangkan adabmu.
Bisa jadi Alloh sedang menyiapkan dasar batinmu,
agar ketika amanah datang, engkau tidak roboh oleh sanjungan.
Orang yang tersembunyi di bumi
bisa saja dikenal di langit.
Dan orang yang ramai dipuji di bumi
belum tentu selamat di sisi Alloh.
Maka mintalah bukan agar terkenal,
tetapi agar diterima.
Pasal 58
Kesepian yang Dibawa ke Alloh
Kesepian bisa menjadi luka,
bila dibawa kepada prasangka.
Tetapi kesepian bisa menjadi pintu,
bila dibawa kepada Alloh.
Jangan berkata:
“Tidak ada yang menemaniku.”
Katakanlah:
“Ya Alloh, ajari aku merasakan kedekatan-Mu
ketika manusia tidak berada di sisiku.”
Jangan berkata:
“Aku sendirian.”
Katakanlah:
“Ya Alloh, Engkau cukup bagiku.
Bila Engkau bersamaku,
maka sunyi pun menjadi tempat rahmat.”
Bukan berarti manusia tidak butuh teman.
Hamba tetap butuh saudara, keluarga, dan nasihat.
Tetapi hati jangan sampai runtuh hanya karena makhluk tidak hadir.
Sebab makhluk bisa pergi.
Keadaan bisa berubah.
Tetapi Alloh tidak meninggalkan hamba yang kembali kepada-Nya.
Pasal 59
Jangan Menukar Sunyi dengan Keramaian yang Melalaikan
Wahai pencari rahmat,
jika sunyi mulai terasa berat,
jangan buru-buru mengisinya dengan keramaian yang melalaikan.
Jangan menutup luka dengan dosa.
Jangan menutup sepi dengan maksiat.
Jangan menutup gelisah dengan ucapan sia-sia.
Jangan menutup hampa dengan mencari pengakuan manusia.
Sebab sepi yang diisi dengan kelalaian
akan melahirkan sepi yang lebih dalam.
Tetapi sepi yang diisi dengan dzikir,
muhasabah, istighfar, dan doa
akan berubah menjadi ruang penyembuhan.
Pilihlah pengisi sunyimu dengan sadar.
Baca Qur’an walau sedikit.
Sholawat walau pelan.
Istighfar walau air mata belum turun.
Duduk tenang walau hati belum sepenuhnya lapang.
Karena rahmat sering turun kepada hati yang tetap mengetuk,
meski belum merasakan apa-apa.
Pasal 60
Dzikir Sunyi Rahmattulloh
Jika engkau merasa sendiri,
jika dada terasa kosong,
jika hati ingin ditemani tetapi tidak tahu kepada siapa harus bicara,
maka duduklah dengan adab.
Letakkan tangan kanan di dada.
Tarik nafas perlahan.
Hembuskan dengan lembut.
Baca:
Yā Latīf
sebanyak 33 kali.
Lalu baca:
Yā Qarīb
sebanyak 11 kali.
Kemudian ucapkan:
Ya Alloh,
lembutkan sunyiku dengan kedekatan-Mu.
Jangan biarkan sepi membuatku jauh dari-Mu.
Jadikan diamku ruang mendengar nasihat hati.
Jadikan kesendirianku jalan untuk lebih jujur kepada-Mu.
Jadikan sunyiku bukan penjara,
tetapi taman rahmat yang Engkau jaga.”
Diamlah sejenak.
Rasakan bahwa engkau tidak harus selalu ramai
untuk menjadi berarti.
Cukup Alloh mengetahui langkahmu,
cukup Alloh mendengar doamu,
cukup Alloh menjadi saksi air mata yang tidak diketahui manusia.
Pasal 61
Tanda Sunyi Mulai Bercahaya
Tanda sunyi mulai bercahaya
bukan berarti engkau tidak lagi membutuhkan siapa pun.
Tandanya adalah:
engkau tidak lagi panik ketika sendiri,
tidak lagi merasa hancur ketika tidak dipuji,
tidak lagi mencari keramaian untuk lari dari diri sendiri,
tidak lagi takut diam karena hati mulai belajar berdzikir.
Engkau mulai bisa duduk tenang.
Mulai bisa mendengar suara batin yang jujur.
Mulai bisa berdoa tanpa banyak kata.
Mulai bisa menangis tanpa ingin dilihat.
Mulai bisa tersenyum karena merasa cukup dijaga Alloh.
Saat itu, sunyi tidak lagi menjadi gelap.
Sunyi menjadi ruang cahaya.
Pasal 62
Sunyi Sebelum Diutus Kembali
Ada sunyi yang menjadi persiapan.
Seperti benih yang tersembunyi di dalam tanah
sebelum tumbuh menjadi pohon.
Seperti malam yang gelap
sebelum fajar membuka langit.
Seperti janin yang diam di dalam rahim
sebelum lahir ke dunia.
Begitu pula jiwa.
Kadang Alloh menyembunyikanmu dalam sunyi
sebelum mengutusmu kembali dalam amanah.
Maka jangan rusak masa sunyimu dengan keluh kesah yang berlebihan.
Jangan percepat sesuatu yang Alloh sedang masakkan dengan hikmah.
Jangan memaksa keluar sebelum adabmu matang.
Bersabarlah.
Bila waktunya tiba,
Alloh akan membukakan jalan
tanpa engkau harus memecahkan pintu dengan ego.
Penutup Lembar Kesepuluh
Maka seberangilah sunyimu, wahai jiwa.
Jangan takut bila jalan terasa sepi.
Jangan putus asa bila belum banyak yang memahami.
Jangan merasa sia-sia bila amalmu belum terlihat manusia.
Sebab Alloh melihat yang tersembunyi.
Alloh mendengar yang tidak terucap.
Alloh mengetahui tangis yang kau tahan.
Alloh mencatat langkah kecil yang kau jalani dengan ikhlas.
Katakanlah:
“Ya Alloh,
jika Engkau menyembunyikanku,
maka sembunyikan aku dalam penjagaan-Mu.
Jika Engkau menempatkanku di sunyi,
maka jadikan sunyi itu jalan rahmat.
Jika Engkau belum memperlihatkan hasil perjalananku,
maka kuatkan aku untuk tetap setia.
Aku tidak ingin ramai tanpa ridho-Mu.
Aku tidak ingin dikenal tanpa diterima-Mu.
Aku tidak ingin bergerak tanpa bimbingan-Mu.
Cukup Engkau menjadi saksi,
cukup Engkau menjadi tujuan,
cukup rahmat-Mu menjadi tempat pulangku.”
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📖 QITAB JUHILLAH ALAQRROMAH BILLAHHI
Lembar Terakhir
Pelurusan Ajaran Syekh Siti Jenar: Sadar Diri Sejati Bukan Mengaku Menjadi Tuhan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang berjalan menuju titik Rahmattulloh,
pahamilah dengan adab dan kejernihan:
Perjalanan mengenal diri sejati
bukan jalan untuk merasa menjadi Alloh.
Bukan jalan untuk meninggalkan syariat.
Bukan jalan untuk meremehkan sholat, dzikir, taubat, dan adab.
Sebab siapa pun yang benar-benar mengenal dirinya,
ia akan semakin sadar bahwa dirinya hamba.
Bukan Tuhan.
Bukan sumber kuasa.
Bukan pusat semesta.
Bukan pemilik hakikat.
Diri sejati bukan berkata:
“Aku adalah Alloh.”
Tetapi diri sejati berkata:
“Aku tidak ada daya tanpa Alloh.
Aku hidup karena Alloh.
Aku bergerak dengan izin Alloh.
Aku kembali hanya kepada Alloh.”
Pasal 63
Martabat Hamba Tetap Hamba
Pelurusan pertama:
Jangan mencampur antara kedekatan dengan Alloh
dan menyamakan diri dengan Alloh.
Hamba boleh dekat kepada Alloh dengan iman, taubat, dzikir, dan rahmat.
Tetapi hamba tetap hamba.
Alloh tetap Tuhan.
Sedekat apa pun seorang hamba kepada rahmat-Nya,
ia tidak berubah menjadi Dzat Alloh.
Yang fana adalah ego.
Yang luluh adalah kesombongan.
Yang runtuh adalah rasa memiliki kuasa sendiri.
Bukan hilangnya batas antara Tuhan dan makhluk.
Maka jika ada ucapan hakikat yang membuat manusia merasa bebas dari syariat,
itu bukan hakikat yang lurus.
Itu kabut nafsu yang memakai pakaian ruhani.
Pasal 64
Manunggaling Kawula Gusti Harus Diluruskan
Kalimat manunggaling kawula Gusti sering disalahpahami.
Jika dimaknai bahwa hamba menjadi Tuhan,
maka itu keliru dan berbahaya.
Tetapi jika dimaknai bahwa kehendak hamba tunduk kepada perintah Alloh,
hati hamba dekat dengan dzikir,
ego hamba luluh dalam ketaatan,
dan hidup hamba diarahkan kepada ridho-Nya,
maka makna itu bisa dipahami sebagai bahasa isyarat ruhani.
Yang menyatu bukan Dzat.
Yang menyatu adalah arah penghambaan.
Yang dekat bukan kesamaan wujud.
Yang dekat adalah ketaatan, cinta, takut, harap, dan pasrah.
Maka pelurusan kalimatnya:
Kawula tetap kawula.
Gusti tetap Gusti.
Hamba tetap hamba.
Alloh tetap Alloh.
Hamba mendekat.
Alloh merahmati.
Hamba bersujud.
Alloh mengangkat.
Hamba bertaubat.
Alloh mengampuni.
Pasal 65
Syariat Bukan Kulit Kosong
Ada orang berkata:
“Kalau sudah hakikat, tidak perlu syariat.”
Ini adalah kekeliruan besar.
Sebab syariat bukan penghalang hakikat.
Syariat adalah pagar agar perjalanan batin tidak liar.
Sholat bukan hanya gerakan badan.
Sholat adalah adab hamba di hadapan Alloh.
Dzikir bukan hanya ucapan lisan.
Dzikir adalah tali pengingat agar hati tidak tenggelam.
Puasa bukan hanya menahan lapar.
Puasa adalah latihan menundukkan nafsu.
Adab bukan hanya sopan santun luar.
Adab adalah bukti bahwa cahaya batin tidak berubah menjadi kesombongan.
Maka siapa yang mengaku tinggi tetapi meremehkan syariat,
ia belum sampai kepada rahmat.
Ia baru sampai kepada rasa tinggi.
Pasal 66
Hakikat yang Benar Melahirkan Akhlak
Hakikat yang lurus
tidak membuat manusia kasar.
Hakikat yang benar
tidak membuat lisan mudah menghina.
Hakikat yang bersih
tidak membuat seseorang merasa bebas dari dosa.
Hakikat yang dirahmati
akan melahirkan akhlak:
lebih sabar,
lebih jujur,
lebih rendah hati,
lebih menjaga sholat,
lebih takut menyakiti,
lebih banyak istighfar,
lebih ringan memaafkan,
lebih kuat menolong tanpa merasa berjasa.
Maka ukuran hakikat bukan ucapan tinggi.
Ukuran hakikat adalah buahnya dalam hidup.
Jika ilmu batin membuatmu semakin taat, itu cahaya.
Jika ilmu batin membuatmu semakin sombong, itu hijab.
Jika rasa ruhani membuatmu semakin lembut, itu rahmat.
Jika rasa ruhani membuatmu meremehkan orang lain, itu nafsu.
Pasal 67
Jangan Menghina Para Wali, Jangan Menelan Semua Ucapan Tanpa Timbangan
Pelurusan kedua:
Jangan mudah menghina tokoh-tokoh terdahulu.
Sebab kita tidak tahu seluruh rahasia perjalanan mereka.
Namun jangan pula menelan semua ucapan yang dinisbatkan kepada mereka tanpa timbangan.
Timbanglah dengan:
Al-Qur’an.
Sunnah Nabi ﷺ.
Syariat.
Adab.
Akhlak.
Aqidah yang lurus.
Jika ada ucapan yang membuat hamba semakin tunduk kepada Alloh,
semakin menjaga sholat,
semakin rendah hati,
semakin takut kepada dosa,
maka ambil hikmahnya.
Tetapi jika ada ucapan yang membuat hamba merasa menjadi Tuhan,
meremehkan ibadah,
meninggalkan syariat,
atau merasa tidak perlu taubat,
maka tinggalkan pemahaman itu.
Karena jalan rahmat tidak boleh memutus hamba dari penghambaan.
Pasal 68
Diri Sejati Adalah Hamba yang Sadar
Inilah inti kitab:
Diri sejati bukan diri yang mengaku paling tinggi.
Diri sejati bukan diri yang bebas aturan.
Diri sejati bukan diri yang merasa sudah melampaui halal dan haram.
Diri sejati adalah hamba yang sadar:
ia berasal dari Alloh,
hidup dengan izin Alloh,
diuji oleh Alloh,
ditopang oleh rahmat Alloh,
dan akan kembali kepada Alloh.
Maka semakin dalam seseorang mengenal dirinya,
semakin jelas ia mengenal kelemahannya.
Semakin jelas kelemahannya,
semakin kuat ia memohon pertolongan.
Semakin kuat ia memohon pertolongan,
semakin dekat ia kepada rahmat.
Itulah jalan yang selamat.
Pasal 69
Kalimat Pelurusan
Katakanlah dengan tegas namun beradab:
Aku bukan Alloh.
Aku hamba Alloh.
Aku bukan sumber cahaya.
Aku hanya hamba yang diberi cahaya bila Alloh menghendaki.
Aku bukan pemilik hakikat.
Aku hanya pencari rahmat yang wajib menjaga syariat.
Aku bukan bebas dari aturan.
Aku justru semakin wajib menjaga adab karena mengaku berjalan kepada Alloh.
Aku tidak menyembah rasa.
Aku tidak menyembah pengalaman.
Aku tidak menyembah diri.
Aku hanya menyembah Alloh.
Pasal 70
Doa Penutup Kitab
Yā Alloh,
luruskan aqidah kami.
Bersihkan hati kami.
Jauhkan kami dari kesombongan hakikat palsu.
Jaga kami dari ucapan tinggi yang tidak Engkau ridhoi.
Yā Alloh,
bila kami belajar mengenal diri,
jangan biarkan kami lupa bahwa diri ini hamba.
Bila kami Engkau beri rasa dekat,
jangan biarkan kami melampaui batas.
Bila kami Engkau beri cahaya,
jangan biarkan cahaya itu berubah menjadi kesombongan.
Bila kami Engkau beri ilmu,
jadikan ilmu itu menambah takut, adab, dan cinta kepada-Mu.
Yā Alloh,
jadikan syariat sebagai pijakan kami,
hakikat sebagai kejernihan batin kami,
ma’rifat sebagai rasa tunduk kami,
dan rahmat-Mu sebagai tempat pulang kami.
Khatimah
Titik Rahmattulloh
Maka berakhirlah lembar kitab ini
bukan sebagai akhir perjalanan,
tetapi sebagai pengingat jalan.
Qitab Juhillah Alaqrromah Billahhi
mengajarkan bahwa sadar diri sejati
bukan berarti meninggikan diri,
tetapi merendahkan hati di hadapan Alloh.
Bukan berarti menjadi Tuhan,
tetapi sadar sepenuhnya sebagai hamba.
Bukan berarti meninggalkan syariat,
tetapi semakin menjaga syariat dengan cinta.
Bukan berarti mengejar karomah,
tetapi mengejar ridho Alloh.
Bukan berarti ramai pengakuan,
tetapi diam dalam kejujuran.
Dan titik Rahmattulloh adalah ketika seorang hamba mampu berkata:
“Ya Alloh,
aku datang bukan membawa kesempurnaan.
Aku datang membawa kelemahan.
Aku datang membawa taubat.
Aku datang membawa harapan.
Aku datang sebagai hamba.
Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri.
Pegang aku dengan rahmat-Mu.
Tuntun aku dengan cahaya-Mu.
Matikan egoku sebelum tubuhku mati.
Hidupkan hatiku sebelum aku kembali kepada-Mu.”
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
Tammat.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.