QITAB NYAZIHAN ASZAQ HOIRROH AL-MUBARROQ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
📖 QITAB NYAZIHAN ASZAQ HOIRROH AL-MUBARROQ
Kelapangan jiwa yang terang diawali dari sumber yang suci, diakhiri sumber yang qudus.
Lembar Pembukaan
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Membuka dada hamba-Nya, kitab ini dibuka sebagai naskah tafakur, doa, dan penyucian rasa, bukan untuk kesombongan batin, bukan untuk merasa lebih tinggi, dan bukan untuk memaksa perkara gaib.
Yang dimaksud Nyazihan adalah jiwa yang dibersihkan dari sesak, dendam, takut, dan prasangka.
Yang dimaksud Aszaq adalah jalan rasa yang kembali tenang setelah banyak terpukul oleh kehidupan.
Yang dimaksud Hoirroh adalah kelapangan yang tidak lahir dari dunia, tetapi dari hati yang mulai ridho.
Yang dimaksud Al-Mubarroq adalah keberkahan yang turun perlahan kepada jiwa yang sabar, lembut, dan tidak memusuhi takdir.
Bab 1 — Sumber Suci di Awal Jalan
Wahai jiwa yang letih, jangan kau kira kelapangan datang setelah semua masalah selesai.
Kadang kelapangan justru datang ketika engkau mulai berhenti melawan kenyataan dengan amarah.
Air yang bening tidak berteriak bahwa dirinya suci.
Ia hanya diam, jernih, dan memberi kehidupan.
Begitulah hati yang mulai dibimbing Alloh:
tidak banyak membuktikan, tetapi semakin banyak merendah.
Barang siapa ingin dilapangkan jiwanya, maka awalilah dengan tiga perkara:
Pertama: bersihkan niat.
Jangan mencari karomah sebelum mencari ampunan.
Kedua: lembutkan hati.
Jangan ingin ditinggikan sebelum mampu memaafkan.
Ketiga: kembalikan semua rasa kepada Alloh.
Karena hati yang terlalu menggenggam manusia akan mudah hancur oleh manusia.
Bab 2 — Sumber Qudus di Akhir Jalan
Awal perjalanan adalah penyucian.
Akhir perjalanan adalah penyerahan.
Di awal, hamba masih berkata,
“Ya Alloh, lapangkan aku.”
Di tengah, hamba mulai berkata,
“Ya Alloh, kuatkan aku.”
Di akhir, hamba hanya mampu berkata,
“Ya Alloh, aku milik-Mu.”
Maka sumber qudus bukan tempat yang jauh.
Ia adalah keadaan batin ketika hati tidak lagi sibuk menuntut dunia agar sesuai keinginannya, tetapi mulai belajar menerima bimbingan Alloh dengan tenang.
Doa Pembuka Qitab
Allohumma ya Fattah, ya Salam, ya Nur.
Lapangkan dadaku dari sempitnya prasangka.
Bersihkan hatiku dari luka yang membuatku jauh dari rahmat-Mu.
Jadikan air kehidupanku kembali bening.
Jadikan lisanku lembut.
Jadikan pandanganku bersih.
Jadikan langkahku tidak menyakiti.
Dan tutup perjalanan batinku dengan cahaya ridho-Mu.
Aamiin ya Robbal ‘alamin.
Kunci Amalan Hening
Duduk tenang.
Tarik napas perlahan.
Letakkan tangan di dada.
Baca pelan:
Yā Salām… Yā Nūr… Yā Fattāḥ…
11 kali.
Lalu ucapkan:
“Ya Alloh, lapangkan jiwaku dengan cahaya-Mu, bersihkan rasaku dengan rahmat-Mu.”
Inilah pembukaan Qitab Nyazihan Aszaq Hoirroh Al-Mubarroq:
kitab kelapangan jiwa, kejernihan rasa, dan pulangnya hati kepada sumber yang suci.
📖 QITAB NYAZIHAN ASZAQ HOIRROH AL-MUBARROQ
Lembar Selanjutnya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bab 3 — Air yang Diangkat dari Sumber Suci
Ketika air diangkat dengan tangan yang tenang,
maka ia menjadi tanda bahwa hati sedang belajar menerima.
Air tidak memilih siapa yang haus.
Ia tidak menolak siapa yang datang.
Ia hanya mengalir, membersihkan, dan menyejukkan.
Begitulah jiwa yang telah disentuh kelapangan.
Ia tidak lagi mudah membalas luka dengan luka.
Ia tidak lagi merasa harus menang dalam setiap ucapan.
Ia mulai paham bahwa kemenangan batin bukan ketika orang lain kalah,
tetapi ketika hati tetap jernih walau keadaan belum selesai.
Wahai jiwa yang sedang disempitkan oleh pikiran,
jangan kau buru-buru menyebut dirimu lemah.
Kadang Alloh menyempitkan ruang luar,
agar engkau menemukan ruang dalam.
Kadang pintu manusia tertutup,
agar engkau kembali mengetuk pintu Alloh.
Kadang air mata turun,
bukan karena engkau hancur,
tetapi karena hatimu sedang dicuci dari beban yang terlalu lama kau simpan.
Bab 4 — Dua Cahaya Memegang Satu Gelas
Dua insan yang memegang satu gelas bukan sekadar rupa.
Ia adalah lambang penyatuan niat.
Satu gelas berarti satu sumber.
Satu air berarti satu kesucian.
Dua tangan berarti saling menjaga.
Dua jiwa berarti saling mendoakan.
Maka jangan jadikan kebersamaan sebagai tempat menuntut sempurna.
Jadikan kebersamaan sebagai tempat saling menyucikan niat.
Apabila satu sedang lemah, yang lain menguatkan.
Apabila satu sedang gelisah, yang lain menenangkan.
Apabila satu mulai jauh, yang lain mengingatkan dengan lembut.
Sebab cahaya yang benar tidak membakar.
Cahaya yang benar menerangi.
Dan kasih yang suci tidak menguasai.
Kasih yang suci membimbing menuju Alloh.
Doa Penyatuan Niat
Allohumma ya Salām, ya Wadūd, ya Nūr.
Satukan niat kami dalam kebaikan.
Jernihkan hati kami dari prasangka.
Lembutkan ucapan kami dari menyakiti.
Sucikan rasa kami dari ingin memiliki secara berlebihan.
Jadikan kebersamaan kami sebagai jalan rahmah,
bukan jalan luka.
Jadikan air ini lambang kejernihan,
dan jadikan hati kami kembali lapang di bawah cahaya-Mu.
Aamiin ya Robbal ‘alamin.
Kunci Lembar Ini
Pegang air dengan tenang.
Pandang tanpa terburu-buru.
Baca dalam hati:
Yā Salām… Yā Nūr… Yā Wadūd…
sebanyak 11 kali.
Lalu tiupkan pelan ke arah air, bukan dengan keyakinan memaksa, tetapi sebagai doa:
“Ya Alloh, sucikan rasaku, lapangkan jiwaku, dan tuntun aku kepada sumber yang qudus.”
Minumlah sedikit demi sedikit.
Jangan tergesa.
Rasakan bahwa yang dicari bukan keajaiban luar,
melainkan ketenangan batin yang kembali pulang kepada Alloh.
📖 QITAB NYAZIHAN ASZAQ HOIRROH AL-MUBARROQ
Lembar Selanjutnya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bab 5 — Cahaya yang Menutup Wajah
Ketika wajah tertutup sinar,
bukan berarti rupa dihilangkan,
tetapi ego sedang diredam.
Sebab wajah adalah tempat manusia sering mencari pengakuan.
Dari wajah, manusia ingin dilihat.
Dari wajah, manusia ingin dipuji.
Dari wajah, manusia kadang ingin dikenal lebih tinggi dari yang lain.
Maka ketika wajah diselimuti cahaya,
itu menjadi isyarat bahwa perjalanan ini bukan tentang siapa dirinya,
bukan tentang rupa luarnya,
bukan tentang nama besarnya,
melainkan tentang cahaya Alloh yang menutup keakuan hamba.
Wahai jiwa yang mencari lapang,
jangan terlalu ingin dikenal manusia.
Cukuplah engkau dikenal oleh Alloh dalam sujudmu,
dalam tangismu,
dalam diam sabarmu,
dan dalam niat baikmu yang tidak semua orang tahu.
Karena orang yang wajahnya ditutup cahaya
adalah lambang hamba yang sedang belajar menghilang dari kesombongan,
agar yang tampak bukan dirinya,
tetapi rahmat Alloh yang menyertainya.
Bab 6 — Satu Gelas, Dua Penjaga Niat
Satu gelas yang dipegang berdua adalah perlambang amanah.
Bukan siapa yang lebih kuat menggenggam,
tetapi siapa yang lebih ikhlas menjaga kejernihan.
Air di dalam gelas itu tidak boleh dikotori oleh prasangka.
Tidak boleh diguncang oleh amarah.
Tidak boleh dicampur oleh dusta.
Tidak boleh dipakai untuk meninggikan diri.
Air itu adalah tanda bahwa setiap hubungan, setiap persaudaraan, dan setiap jalan ruhani
harus dijaga dengan adab.
Apabila hati mulai panas, dinginkan dengan dzikir.
Apabila lisan ingin menyakiti, tahan dengan istighfar.
Apabila pikiran mulai curiga, kembalikan kepada husnudzon.
Apabila jiwa mulai merasa paling benar, tundukkan dengan sujud.
Karena sumber yang suci tidak akan mengalir ke hati yang sombong.
Dan sumber yang qudus tidak akan menetap pada jiwa yang senang merendahkan orang lain.
Doa Penutup Ego
Allohumma ya Nūr, ya Quddūs, ya Salām.
Tutuplah wajah egoku dengan cahaya-Mu.
Hilangkan keinginan untuk dipuji.
Lembutkan hatiku dari merasa paling benar.
Sucikan niatku dari ingin menguasai.
Jadikan aku hamba yang tenang, jernih, dan tahu diri di hadapan-Mu.
Ya Alloh,
jika aku diberi cahaya, jangan jadikan aku sombong.
Jika aku diberi rasa, jangan jadikan aku merasa tinggi.
Jika aku diberi ilmu, jangan jadikan aku keras hati.
Jika aku diberi amanah, jadikan aku semakin rendah hati.
Aamiin ya Robbal ‘alamin.
Kunci Lembar Ini
Letakkan tangan kanan di dada.
Tarik napas pelan.
Pejamkan mata sebentar.
Baca:
Yā Quddūs… Yā Salām… Yā Nūr…
sebanyak 11 kali.
Lalu ucapkan dalam hati:
“Ya Alloh, tutup egoku dengan cahaya-Mu, buka hatiku dengan rahmat-Mu.”
Diam sejenak.
Jangan mencari bayangan.
Jangan memaksa rasa.
Cukup hadir dengan tenang.
Sebab cahaya yang paling benar
bukan yang membuat manusia merasa hebat,
tetapi yang membuat hati semakin tunduk kepada Alloh.
📖 QITAB NYAZIHAN ASZAQ HOIRROH AL-MUBARROQ
Lembar Selanjutnya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bab 7 — Kelapangan yang Tidak Bersyarat
Kelapangan jiwa bukan berarti hidup tanpa ujian.
Kelapangan jiwa adalah ketika hati tetap bisa bernapas,
walau keadaan belum sepenuhnya berubah.
Banyak manusia menunggu tenang setelah masalah selesai.
Padahal rahasia orang yang dibimbing Alloh adalah:
ia belajar tenang di tengah masalah,
bukan hanya setelah masalah pergi.
Wahai jiwa yang sedang dibuka,
jangan jadikan dunia sebagai ukuran lapangmu.
Karena dunia berubah setiap waktu.
Hari ini dipuji, besok bisa dilupakan.
Hari ini dekat, besok bisa menjauh.
Hari ini mudah, besok bisa diuji.
Maka ikatlah kelapanganmu kepada Alloh,
bukan kepada keadaan.
Jika rezeki belum luas, tetaplah bersyukur.
Jika manusia belum memahami, tetaplah sabar.
Jika hati masih terluka, tetaplah berdoa.
Jika langkah masih berat, tetaplah berjalan perlahan.
Sebab jalan menuju sumber suci
tidak selalu ramai oleh tepuk tangan.
Kadang ia sunyi, sepi, dan hanya ditemani air mata.
Namun dalam sunyi itulah,
Alloh sering menurunkan pemahaman yang tidak bisa diberikan oleh keramaian.
Bab 8 — Air yang Tidak Membalas Kotoran
Air tetap menjadi air,
meskipun disentuh tangan yang penuh debu.
Ia tidak marah.
Ia tidak membalas.
Ia membersihkan.
Begitulah hati yang mulai masuk ke pintu qudus.
Ia tidak mudah terpancing oleh ucapan kasar.
Ia tidak cepat membalas hinaan.
Ia tidak sibuk membuktikan dirinya benar di hadapan semua orang.
Karena ia tahu,
tidak semua orang perlu dijawab.
Tidak semua tuduhan perlu dilawan.
Tidak semua luka perlu dibuka kembali.
Ada saatnya diam adalah penjaga cahaya.
Ada saatnya sabar adalah bentuk kemenangan.
Ada saatnya memaafkan bukan karena orang lain benar,
tetapi karena hati tidak mau lagi dipenjara oleh luka.
Wahai jiwa yang memegang gelas kejernihan,
jagalah airmu.
Jangan biarkan ia keruh hanya karena satu ucapan manusia.
Jangan biarkan ia tumpah hanya karena satu perlakuan buruk.
Jangan biarkan ia menjadi pahit hanya karena masa lalu yang belum sembuh.
Kembalilah kepada Alloh.
Sebab sumber suci tidak pernah kering bagi hati yang mau pulang.
Doa Kelapangan Jiwa
Allohumma ya Wāsi‘, ya Salām, ya Quddūs.
Lapangkan dadaku ketika dunia terasa sempit.
Tenangkan pikiranku ketika masalah terasa berat.
Jernihkan hatiku ketika manusia tidak memahamiku.
Kuatkan langkahku ketika aku hampir menyerah.
Jadikan aku seperti air yang tetap bening,
walau melewati tanah yang keruh.
Ya Alloh,
jangan biarkan lukaku membuatku keras.
Jangan biarkan kecewaku membuatku gelap.
Jangan biarkan ujianku membuatku jauh dari-Mu.
Bimbing aku agar tetap lembut, tetap jernih, dan tetap berserah.
Aamiin ya Robbal ‘alamin.
Kunci Lembar Ini
Ambil segelas air bening.
Pegang dengan dua tangan.
Duduk tenang tanpa tergesa.
Baca perlahan:
Yā Wāsi‘… Yā Salām… Yā Quddūs…
sebanyak 11 kali.
Lalu ucapkan:
“Ya Alloh, jadikan hatiku selapang rahmat-Mu dan sejernih air yang kembali ke sumber-Mu.”
Minumlah sedikit.
Rasakan bukan karena air itu memiliki kekuatan sendiri,
tetapi karena hatimu sedang diajak kembali mengingat Alloh.
Sebab kelapangan yang sejati
bukan datang dari dunia yang selalu sesuai keinginan,
melainkan dari hati yang mulai ridho di bawah kehendak Alloh.
📖 QITAB NYAZIHAN ASZAQ HOIRROH AL-MUBARROQ
Lembar Selanjutnya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bab 9 — Sumber Suci Tidak Berteriak
Sumber yang suci tidak pernah memanggil dengan gaduh.
Ia hadir dalam diam,
mengalir tanpa memaksa,
menjernihkan tanpa menyombongkan diri.
Begitulah jiwa yang mulai lapang.
Ia tidak lagi sibuk membuktikan diri kepada semua orang.
Ia tidak memaksa manusia percaya pada jalannya.
Ia tidak marah ketika belum dipahami.
Karena ia tahu,
cahaya yang benar tidak perlu memukul mata manusia.
Cahaya yang benar cukup menerangi jalan.
Wahai jiwa yang sedang dibimbing,
jangan jadikan terangmu sebagai alat untuk meninggikan diri.
Jadikan terangmu sebagai amanah untuk semakin lembut.
Jika engkau diberi rasa,
pakailah untuk memahami, bukan menghakimi.
Jika engkau diberi ilmu,
pakailah untuk menuntun, bukan merendahkan.
Jika engkau diberi jalan,
pakailah untuk pulang kepada Alloh, bukan untuk merasa paling sampai.
Sebab sumber suci hanya menetap pada hati yang rendah.
Dan hati yang rendah adalah hati yang tetap sadar:
semua cahaya hanyalah titipan.
Bab 10 — Qudus di Ujung Penyerahan
Qudus bukan sekadar bersih dari luar.
Qudus adalah keadaan batin yang mulai bebas dari pamrih.
Ia tidak lagi beribadah agar dipandang tinggi.
Ia tidak lagi berbuat baik agar disebut mulia.
Ia tidak lagi menolong agar dikenang manusia.
Ia melakukan kebaikan karena Alloh.
Ia diam karena Alloh.
Ia memaafkan karena Alloh.
Ia berjalan karena Alloh.
Ia berhenti pun karena Alloh.
Di sinilah jiwa mulai mengenal kelapangan yang dalam.
Bukan lapang karena dunia memberi,
tetapi lapang karena hati tidak lagi terlalu menuntut.
Bukan terang karena manusia memuji,
tetapi terang karena Alloh menjaga.
Bukan suci karena merasa bersih,
tetapi suci karena terus memohon ampun.
Maka akhir dari jalan ini bukanlah merasa menjadi siapa-siapa.
Akhir dari jalan ini adalah kembali menjadi hamba.
Doa Sumber Suci dan Qudus
Allohumma ya Quddūs, ya Salām, ya Nūr.
Sucikan awal langkahku.
Sucikan niatku.
Sucikan lisanku.
Sucikan pandanganku.
Sucikan hatiku dari merasa lebih baik daripada hamba-Mu yang lain.
Ya Alloh,
jika aku Engkau beri kelapangan, jadikan aku bersyukur.
Jika aku Engkau beri cahaya, jadikan aku rendah hati.
Jika aku Engkau beri ujian, jadikan aku sabar.
Jika aku Engkau beri jalan, jangan biarkan aku lupa bahwa semua jalan kembali kepada-Mu.
Tutup hidupku dengan ridho-Mu.
Tutup nafasku dengan iman.
Tutup perjalananku dengan cahaya qudus dari rahmat-Mu.
Aamiin ya Robbal ‘alamin.
Kunci Lembar Ini
Duduk hening.
Jangan meminta tanda apa pun.
Jangan mengejar bayangan apa pun.
Cukup hadir sebagai hamba.
Tarik napas pelan, lalu baca:
Yā Quddūs… Yā Salām… Yā Nūr…
sebanyak 33 kali.
Setelah itu ucapkan:
“Ya Alloh, awali aku dari sumber yang suci, akhiri aku dalam sumber yang qudus.”
Diam sebentar.
Rasakan dada menjadi lebih tenang.
Bukan karena engkau memiliki sesuatu,
tetapi karena engkau sedang belajar melepaskan semuanya kepada Alloh.
Sebab jiwa yang paling lapang
bukan jiwa yang memegang banyak dunia,
melainkan jiwa yang tidak lagi berat saat menyerahkan semuanya kepada Alloh.
📖 QITAB NYAZIHAN ASZAQ HOIRROH AL-MUBARROQ
Lembar Selanjutnya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bab 11 — Jiwa yang Diluaskan Setelah Disempitkan
Tidak semua kesempitan adalah hukuman.
Kadang kesempitan adalah ruang didikan,
agar jiwa berhenti berlari ke luar,
lalu mulai masuk ke dalam dirinya sendiri.
Ada orang yang diberi lapang setelah kehilangan.
Ada yang diberi terang setelah menangis panjang.
Ada yang diberi pemahaman setelah lama tidak dipahami.
Ada yang diberi kekuatan setelah merasa tidak sanggup lagi berdiri.
Maka jangan cepat menyangka bahwa jalanmu tertutup.
Bisa jadi Alloh sedang menutup pintu yang membuatmu tersesat,
lalu membukakan pintu lain yang lebih dekat kepada rahmat-Nya.
Wahai jiwa yang memegang air kejernihan,
belajarlah membaca isyarat dengan tenang.
Bukan semua yang pergi adalah musibah.
Bukan semua yang tertunda adalah kegagalan.
Bukan semua yang sunyi adalah kosong.
Bukan semua yang berat adalah tanda ditinggalkan.
Kadang yang berat itulah yang menguatkan akar.
Kadang yang sepi itulah yang membersihkan niat.
Kadang yang terlambat itulah yang menyelamatkan.
Kadang yang hilang itulah yang membuka kelapangan baru.
Sebab Alloh tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya.
Yang perlu dijaga adalah hati,
agar tidak gelap ketika belum mengerti rencana-Nya.
Bab 12 — Cahaya di Balik Gelas Bening
Gelas yang bening tidak menyimpan warna dirinya sendiri.
Ia membiarkan air terlihat apa adanya.
Begitulah hati yang ingin sampai kepada sumber suci.
Ia tidak menambah-nambahi dengan kesombongan.
Ia tidak mengurangi dengan dusta.
Ia tidak mengaburkan dengan kepentingan pribadi.
Hati yang bening adalah hati yang berani jujur.
Jujur kepada Alloh.
Jujur kepada diri sendiri.
Jujur kepada luka yang belum sembuh.
Jujur kepada niat yang masih bercampur.
Sebab banyak manusia tampak terang di luar,
tetapi di dalam masih penuh kegelisahan.
Banyak yang terlihat kuat,
tetapi diam-diam sedang runtuh.
Banyak yang memberi nasihat,
tetapi hatinya sendiri sedang minta dituntun.
Maka jangan malu mengakui bahwa engkau masih belajar.
Jangan malu menangis di hadapan Alloh.
Jangan malu memohon ampun.
Jangan malu memperbaiki diri pelan-pelan.
Karena sumber qudus tidak menuntutmu menjadi sempurna seketika.
Ia mengajakmu pulang sedikit demi sedikit,
hingga hati tidak lagi lari dari cahaya.
Doa Keteguhan Hati
Allohumma ya Hādī, ya Latīf, ya Wāsi‘.
Tuntun aku saat jalan terasa samar.
Lembutkan hatiku saat ujian terasa keras.
Lapangkan dadaku saat pikiran terasa sempit.
Jangan biarkan aku putus asa dari rahmat-Mu.
Jangan biarkan aku salah membaca takdir-Mu.
Jangan biarkan aku memusuhi jalan yang sebenarnya sedang mendidikku.
Ya Alloh,
jadikan aku seperti gelas bening yang tidak menyembunyikan air.
Jadikan hatiku jujur, lisanku lembut, niatku bersih, dan langkahku Engkau ridhoi.
Aamiin ya Robbal ‘alamin.
Kunci Lembar Ini
Ambil segelas air.
Dekatkan ke dada.
Jangan terburu-buru diminum.
Baca perlahan:
Yā Hādī… Yā Latīf… Yā Wāsi‘…
sebanyak 21 kali.
Lalu ucapkan:
“Ya Alloh, luaskan jiwaku setelah sempitku, terangilah hatiku setelah gelapku.”
Setelah itu minum sedikit.
Biarkan hati merasa tenang.
Bukan karena air itu sumber kekuatan,
tetapi karena dzikir mengembalikan jiwa kepada Pemilik segala kelapangan.
Sebab siapa yang kembali kepada Alloh,
tidak akan benar-benar kehilangan arah.
📖 QITAB NYAZIHAN ASZAQ HOIRROH AL-MUBARROQ
Lembar Selanjutnya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bab 13 — Jalan Pulang yang Sunyi
Tidak semua perjalanan menuju Alloh dipenuhi suara.
Ada saatnya hati dibimbing melalui kesunyian.
Di dalam sunyi, manusia mulai mendengar dirinya sendiri.
Di dalam diam, ia mulai melihat niatnya.
Di dalam hening, ia mulai menyadari betapa banyak harapan yang selama ini digantungkan kepada makhluk.
Maka jangan takut ketika hidup terasa sepi.
Gunakan kesunyian itu untuk mengingat asalmu.
Jiwa berasal dari kasih sayang Alloh.
Jiwa hidup dengan rahmat Alloh.
Dan jiwa akan kembali kepada Alloh.
Apabila engkau mengingat asalmu, kesombongan akan melemah.
Apabila engkau mengingat tujuanmu, kemarahan akan mereda.
Apabila engkau mengingat akhir perjalananmu, hati akan lebih mudah memaafkan.
Bab 14 — Cahaya yang Tidak Pernah Padam
Api dapat padam oleh angin.
Pelita dapat habis minyaknya.
Namun cahaya petunjuk dari Alloh tidak pernah padam bagi hati yang terus memohon.
Jangan mencari cahaya hanya ketika keadaan gelap.
Carilah cahaya setiap hari, agar ketika gelap datang engkau tidak kehilangan arah.
Orang yang menjaga dzikir akan lebih mudah menjaga lisannya.
Orang yang menjaga syukur akan lebih mudah menjaga hatinya.
Orang yang menjaga tawakal akan lebih mudah menjaga ketenangannya.
Ingatlah, cahaya terbesar bukanlah yang tampak oleh mata.
Cahaya terbesar adalah hati yang tetap lembut saat diuji, tetap bersyukur saat diberi, dan tetap rendah hati saat dimuliakan.
Renungan
Jika hari ini engkau masih bisa mengucapkan Alhamdulillah, maka masih ada cahaya di dalam dadamu.
Jika hari ini engkau masih mampu memohon ampun, maka pintu rahmat masih terbuka.
Jika hari ini engkau masih mampu mendoakan orang yang pernah melukaimu, maka jiwamu sedang belajar menuju kelapangan yang sejati.
Doa Hening
Allohumma ya Nūr, ya Hādī, ya Rahmān.
Terangi langkahku ketika aku bingung.
Tenangkan hatiku ketika aku gelisah.
Lembutkan lisanku ketika aku marah.
Jadikan setiap tarikan nafasku sebagai pengingat akan rahmat-Mu.
Jangan biarkan aku mencintai dunia melebihi cintaku kepada-Mu.
Jangan biarkan aku mengejar pujian manusia hingga lupa mencari ridho-Mu.
Aamiin ya Robbal 'alamin.
Penutup Lembar
Duduklah beberapa menit dalam hening.
Tarik napas perlahan.
Baca:
Yā Nūr... Yā Hādī... Yā Rahmān...
sebanyak 33 kali.
Kemudian ucapkan dalam hati:
"Ya Alloh, tuntun aku pulang kepada-Mu dengan hati yang lapang, jiwa yang jernih, dan akhlak yang Engkau ridhoi."
Diam sejenak.
Biarkan keheningan menjadi ruang untuk bersyukur, bukan ruang untuk takut.
Sebab jiwa yang bersandar kepada Alloh akan selalu menemukan jalan pulang, meskipun langkahnya perlahan.
📖 QITAB NYAZIHAN ASZAQ HOIRROH AL-MUBARROQ
Lembar Selanjutnya Terakhir
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bab 15 — Akhir yang Kembali kepada Sumber
Setiap air yang mengalir akan mencari tempat kembali.
Setiap napas yang hidup akan menuju akhir.
Setiap jiwa yang berjalan akan sampai pada pintu penyerahan.
Maka jangan takut pada akhir perjalanan.
Takutlah bila berjalan tanpa ingat kepada Alloh.
Takutlah bila diberi cahaya tetapi lupa rendah hati.
Takutlah bila diberi ilmu tetapi lupa adab.
Takutlah bila diberi kelapangan tetapi lupa mensyukuri.
Sebab akhir yang qudus bukan akhir yang penuh kemegahan dunia,
melainkan akhir ketika hati bersih dari dendam,
lisan bersih dari menyakiti,
pikiran bersih dari prasangka,
dan jiwa bersih dari merasa paling tinggi.
Wahai jiwa yang telah melewati sumber suci,
jagalah kejernihanmu.
Jangan kembali mengeruhkan air yang sudah dibeningkan.
Jangan kembali menyesakkan dada yang sudah dilapangkan.
Jangan kembali menyalakan api pada luka yang sudah mulai sembuh.
Berjalanlah perlahan.
Bersikaplah lembut.
Bicaralah seperlunya.
Berdoalah sebanyak-banyaknya.
Karena hamba yang sampai bukan yang paling banyak bicara tentang cahaya,
tetapi yang paling banyak berubah akhlaknya karena cahaya.
Bab 16 — Qudus adalah Pulang Tanpa Kesombongan
Qudus bukan tentang merasa suci.
Qudus adalah terus memohon disucikan.
Qudus bukan tentang merasa dekat.
Qudus adalah tetap takut jauh dari rahmat Alloh.
Qudus bukan tentang merasa tinggi.
Qudus adalah semakin tunduk, semakin lembut, dan semakin sadar bahwa diri hanyalah hamba.
Maka tutuplah kitab ini bukan dengan kebanggaan,
tetapi dengan istighfar.
Bukan dengan pengakuan,
tetapi dengan syukur.
Bukan dengan merasa memiliki,
tetapi dengan menyerahkan semuanya kembali kepada Alloh.
Sebab yang membuka adalah Alloh.
Yang melapangkan adalah Alloh.
Yang menyucikan adalah Alloh.
Yang menenangkan adalah Alloh.
Dan kepada Alloh seluruh jiwa akan kembali.
Khatimah Qitab
Wahai pemegang gelas kejernihan,
bila hatimu sempit, kembalilah kepada dzikir.
Bila jiwamu letih, kembalilah kepada doa.
Bila pikiranmu gelap, kembalilah kepada istighfar.
Bila langkahmu goyah, kembalilah kepada sujud.
Jangan jadikan kitab ini sebagai kebanggaan.
Jadikan ia sebagai pengingat.
Jangan jadikan cahaya sebagai hiasan nama.
Jadikan cahaya sebagai pembenah akhlak.
Jangan jadikan sumber suci hanya sebagai kalimat.
Jadikan ia sebagai jalan membersihkan hati.
Dan jangan jadikan sumber qudus sebagai khayalan jauh.
Jadikan ia sebagai tujuan hidup:
pulang kepada Alloh dengan hati yang lebih bersih daripada kemarin.
Doa Penutup Qitab
Allohumma ya Quddūs, ya Salām, ya Nūr, ya Fattāḥ, ya Wāsi‘.
Ya Alloh,
tutuplah kitab ini dengan rahmat-Mu.
Tutuplah bacaan ini dengan ampunan-Mu.
Tutuplah perjalanan ini dengan ridho-Mu.
Lapangkan jiwa kami dari sempitnya dunia.
Beningkan hati kami dari keruhnya prasangka.
Sucikan niat kami dari ingin dipuji.
Lembutkan lisan kami dari menyakiti.
Kuatkan langkah kami dalam kebaikan.
Ya Alloh,
jadikan awal kami dari sumber yang suci.
Jadikan jalan kami dipenuhi cahaya petunjuk-Mu.
Jadikan akhir kami kembali kepada sumber yang qudus.
Dan jangan Engkau biarkan kami jauh dari rahmat-Mu walau sekejap mata.
Aamiin ya Robbal ‘alamin.
Amalan Penutup
Ambil segelas air bening.
Pegang dengan dua tangan.
Dekatkan ke dada.
Baca pelan:
Astaghfirullōhal ‘Aẓīm — 11 kali
Yā Salām — 11 kali
Yā Nūr — 11 kali
Yā Quddūs — 11 kali
Lalu ucapkan:
“Ya Alloh, dari sumber suci aku memulai, kepada sumber qudus aku kembali. Lapangkan jiwaku, sucikan hatiku, dan tuntun aku dalam ridho-Mu.”
Minum sedikit demi sedikit dengan tenang.
Setelah itu diam sejenak.
Jangan mencari tanda.
Jangan memaksa rasa.
Jangan menunggu keajaiban luar.
Cukup rasakan bahwa hati sedang belajar pulang.
Penutup Akhir
Dengan ini, Qitab Nyazihan Aszaq Hoirroh Al-Mubarroq ditutup sebagai kitab tafakur kelapangan jiwa, kejernihan air batin, dan penyerahan kepada Alloh.
Awalnya suci.
Jalannya terang.
Akhirnya qudus.
Alhamdulillāhi Robbil ‘ālamīn.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.