QITAB SHEALLH HIJABBULLOH ALARROHIM

 


QITAB SHEALLH HIJABBULLOH ALARROHIM


Qesucian Hakiki untuk Kembali kepada Illahi Robbi yang Sejati


Bismillahirrohmanirrohim.


Segala puji bagi Alloh, Tuhan Yang Maha Suci, Yang menutup aib hamba-Nya dengan hijab kasih sayang, Yang membuka jalan pulang bagi hati yang lelah, dan Yang memanggil jiwa manusia agar kembali kepada sumber cahaya asalnya.


Qitab ini bukan kitab untuk memuja alam gaib.

Qitab ini bukan jalan untuk menyembah penjaga, ratu, bidadari, bulan, laut, api, atau rupa-rupa kegaiban.


Qitab ini adalah lembar penyadaran.


Bahwa setiap simbol yang datang kepada manusia harus dikembalikan kepada tauhid.

Air dikembalikan kepada Alloh.

Bulan dikembalikan kepada Alloh.

Langit dikembalikan kepada Alloh.

Api kehidupan dikembalikan kepada Alloh.

Dan seluruh cahaya yang tampak maupun tidak tampak, semuanya hanyalah tanda agar manusia semakin mengenal Penciptanya.


SHEALLH HIJABBULLOH ALARROHIM adalah isyarat tentang hijab kasih sayang Alloh yang menutupi manusia dari kehancuran batin. Banyak manusia berjalan di dunia dengan hati kotor, pikiran berat, luka lama, amarah tersembunyi, dan kesedihan yang belum selesai. Namun Alloh masih menutupinya dengan rahmat, agar manusia punya kesempatan untuk pulang.


Kesucian hakiki bukan berarti manusia tidak pernah salah.

Kesucian hakiki adalah ketika manusia sadar dari kesalahan, lalu kembali bersujud kepada Alloh dengan hati yang lebih jujur.


Maka barang siapa membaca qitab ini, jangan mencari kesaktian.

Carilah kejernihan.

Jangan mencari khodam.

Carilah ampunan.

Jangan mencari kemuliaan di mata manusia.

Carilah ridho Alloh di dalam dada.


Karena jalan pulang menuju Illahi Robbi yang sejati tidak dibuka oleh kesombongan ilmu, melainkan oleh hati yang bersih, rendah, lembut, dan penuh adab.


Inilah lembar pertama:

air menyucikan niat, bulan melembutkan rasa, doa mengangkat luka, dan api kasih menghidupkan kembali semangat memberi.


Semua kembali kepada satu kalimat:


Lā ilāha illalloh.

Tiada yang layak disembah selain Alloh.


Lembar Selanjutnya


Bab 1 — Hijab Kasih Sayang Alloh


Bismillahirrohmanirrohim.


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang berjalan pulang, bahwa tidak semua yang tertutup adalah hukuman. Ada penutup yang datang sebagai rahmat. Ada hijab yang bukan untuk menjauhkan hamba dari Alloh, tetapi untuk menjaga hamba agar tidak hancur sebelum waktunya memahami cahaya.


Itulah Hijabbulloh Alarrohim — hijab kasih sayang Alloh Yang Maha Penyayang.


Manusia sering ingin semua terbuka.

Ingin rahasia hidup segera diketahui.

Ingin jalan takdir segera tampak.

Ingin luka cepat selesai.

Ingin doa langsung menjadi kenyataan.


Padahal, jika semua dibuka sekaligus, banyak hati tidak sanggup menanggungnya. Maka Alloh menutup sebagian rahasia dengan kelembutan-Nya. Alloh menyimpan sebagian jawaban di balik waktu. Alloh menahan sebagian keinginan agar manusia tidak tersesat oleh nafsunya sendiri.


Hijab itu bukan penolakan.

Hijab itu penjagaan.

Hijab itu bukan gelap.

Hijab itu cahaya yang diturunkan perlahan, sesuai kesiapan jiwa.


Maka jangan marah ketika jalan hidup belum terbuka. Jangan merasa ditinggalkan ketika doa belum dijawab. Jangan merasa gagal ketika langkahmu masih berat. Bisa jadi Alloh sedang menata hatimu lebih dahulu, sebelum menurunkan amanah yang lebih besar.


Kesucian hakiki dimulai ketika manusia berhenti memaksa langit, lalu belajar menerima bimbingan Alloh dengan sabar.


Air mengajarkan kejernihan.

Bulan mengajarkan kelembutan.

Doa mengajarkan kepasrahan.

Api kehidupan mengajarkan semangat untuk tetap memberi.


Namun semua tanda itu harus kembali kepada satu tujuan:

bukan berhenti pada simbol, bukan berhenti pada nama, bukan berhenti pada rupa, tetapi kembali kepada Alloh Robbul ‘Alamin.


Barang siapa memandang alam, hendaknya ia melihat kebesaran Alloh.

Barang siapa merasakan cahaya, hendaknya ia ingat kepada Pemberi Cahaya.

Barang siapa menerima ilham kebaikan, hendaknya ia semakin rendah hati, bukan semakin merasa tinggi.


Karena cahaya yang benar tidak membuat manusia sombong.

Cahaya yang benar membuat manusia lebih lembut, lebih jujur, lebih menjaga lisan, lebih menjaga niat, dan lebih takut menyakiti sesama makhluk Alloh.


Maka lembar ini ditutup dengan pesan:


Jangan meminta semua hijab terbuka.

Mintalah agar hati disucikan.

Sebab hati yang suci akan melihat petunjuk Alloh, meski jalan masih tertutup kabut.


Lā ilāha illalloh.

Tiada tempat kembali selain kepada Alloh.


Lembar Selanjutnya


Bab 2 — Empat Tanda Penjagaan dalam Diri Manusia


Bismillahirrohmanirrohim.


Di dalam diri manusia ada empat tanda penjagaan yang sering tidak disadari.


Pertama adalah air batin, yaitu kejernihan niat.

Kedua adalah cahaya bulan, yaitu kelembutan rasa.

Ketiga adalah langit doa, yaitu hubungan hamba dengan Alloh.

Keempat adalah api kehidupan, yaitu semangat untuk berbuat baik.


Apabila air batin keruh, manusia mudah marah, mudah curiga, dan sulit menerima nasihat.

Apabila cahaya bulan padam, manusia kehilangan kasih sayang dan menjadi keras dalam ucapan.

Apabila langit doa tertutup, manusia merasa hidupnya berat walau dunia tampak cukup.

Apabila api kehidupan melemah, manusia kehilangan semangat memberi dan hanya sibuk mengambil.


Maka Qitab Sheallh Hijabbulloh Alarrohim mengajarkan bahwa kesucian hakiki bukan hanya tampak dari pakaian, ucapan, atau amalan lahir. Kesucian hakiki tampak dari niat yang jernih, hati yang lembut, doa yang hidup, dan perbuatan yang memberi manfaat.


Kanjeng Ratu Kidul dalam bahasa simbolik adalah panggilan untuk menjaga air kehidupan.

Nawang Wulan adalah panggilan untuk menjaga cahaya kelembutan.

Bidadari Ungu adalah panggilan untuk membuka kembali pintu doa.

Bidadari Oranye adalah panggilan untuk menghidupkan semangat kasih dan pengabdian.


Namun jangan berhenti pada nama-nama itu.

Jangan menyembah lambang.

Jangan memuja bayangan.

Jangan menjadikan simbol sebagai tujuan.


Sebab semua simbol hanyalah pintu pengingat.

Yang dituju tetap Alloh.

Yang disembah tetap Alloh.

Yang diminta pertolongan tetap Alloh.

Yang menjadi tempat kembali tetap Alloh.


Apabila manusia mampu membaca tanda tanpa terjebak pada rupa, maka ia akan selamat.

Ia melihat laut, lalu ingat kepada Alloh.

Ia melihat bulan, lalu ingat kepada Alloh.

Ia merasakan doa, lalu tunduk kepada Alloh.

Ia memiliki semangat hidup, lalu menggunakannya untuk berbuat baik karena Alloh.


Inilah awal kesucian:

bukan mengaku suci, tetapi berani membersihkan diri.

Bukan merasa tinggi, tetapi semakin rendah hati.

Bukan merasa paling dekat dengan langit, tetapi semakin takut menyakiti bumi.


Maka wahai jiwa yang berjalan pulang, jagalah empat tanda ini:


Jernihkan niatmu seperti air.

Lembutkan hatimu seperti cahaya bulan.

Hidupkan doamu seperti langit yang terbuka.

Nyalakan kebaikanmu seperti fajar yang menghangatkan.


Barang siapa menjaga empat tanda ini, maka hijab rahmat akan melindunginya dari kesombongan, kekeringan batin, dan kesesatan memuja selain Alloh.


Lā ilāha illalloh.

Tidak ada cahaya sejati selain cahaya yang datang dari Alloh.


Lembar Selanjutnya Terakhir


Bab Penutup — Kembali kepada Kesucian Illahi Robbi yang Sejati


Bismillahirrohmanirrohim.


Wahai jiwa yang sedang dipanggil pulang, ketahuilah bahwa perjalanan hidup manusia bukan hanya perjalanan dari lahir menuju mati. Perjalanan yang lebih dalam adalah perjalanan dari lupa menuju ingat, dari keruh menuju jernih, dari takut menuju yakin, dari nafsu menuju tunduk, dan dari bayangan menuju cahaya Alloh.


Banyak manusia berjalan di muka bumi, tetapi tidak benar-benar mengenal arah pulangnya. Ia mengejar nama, mengejar pengakuan, mengejar harta, mengejar kemenangan, mengejar kebenaran menurut dirinya sendiri, namun lupa membersihkan tempat yang paling penting: hatinya.


Padahal hati adalah rumah rahasia.

Di sanalah niat lahir.

Di sanalah doa naik.

Di sanalah cahaya diterima.

Di sanalah gelap juga dapat bersembunyi.


Maka Qitab Sheallh Hijabbulloh Alarrohim ditutup dengan satu penyadaran besar: kesucian yang hakiki bukan milik orang yang merasa suci, tetapi milik orang yang terus mau disucikan oleh Alloh.


Orang yang merasa dirinya paling terang justru sering tertutup oleh cahaya palsu.

Orang yang merasa dirinya paling tahu justru sering jauh dari hikmah.

Orang yang merasa dirinya paling dekat dengan langit justru dapat lupa menundukkan ego di bumi.

Karena itu, jangan jadikan pengalaman batin sebagai mahkota kesombongan. Jadikan ia sebagai pengingat untuk semakin rendah hati.


Apabila engkau melihat air, ingatlah bahwa hidupmu harus dibersihkan.

Air tidak pernah sombong meski ia dibutuhkan seluruh makhluk. Ia turun dari tempat tinggi menuju tempat rendah. Ia menghidupkan, menyegarkan, dan membersihkan. Maka manusia yang belajar dari air akan mengerti bahwa kemuliaan bukan pada meninggi, tetapi pada memberi manfaat.


Apabila engkau melihat bulan, ingatlah bahwa kelembutan tidak berarti kelemahan.

Bulan tidak membakar seperti matahari, tetapi ia tetap menerangi malam. Ia hadir dengan tenang, tanpa memaksa siapa pun memandangnya. Maka manusia yang belajar dari bulan akan mengerti bahwa hati yang lembut dapat menjadi cahaya bagi orang lain yang sedang berada dalam gelap.


Apabila engkau merasakan doa, ingatlah bahwa engkau tidak pernah benar-benar sendirian.

Doa adalah tali rahasia antara hamba dan Robb-nya. Doa tidak selalu mengubah keadaan seketika, tetapi doa selalu mengubah kedalaman hati orang yang memanjatkannya. Kadang Alloh tidak langsung memberikan apa yang diminta, karena Alloh sedang memberikan sesuatu yang lebih besar: kekuatan, kesabaran, keikhlasan, dan petunjuk.


Apabila engkau merasakan api kehidupan, ingatlah bahwa semangat hidup bukan untuk membakar orang lain, tetapi untuk menghangatkan sesama.

Api yang suci adalah semangat memberi, menolong, membangun, menghidupkan harapan, dan menyalakan kembali jiwa yang hampir padam. Tetapi api yang dikuasai nafsu akan menjadi amarah, ambisi, iri hati, dan keinginan menguasai. Maka sucikan apimu dengan niat karena Alloh.


Empat tanda ini bukan untuk disembah.

Air bukan Tuhan.

Bulan bukan Tuhan.

Langit bukan Tuhan.

Api bukan Tuhan.

Penjaga bukan Tuhan.

Simbol bukan Tuhan.

Nama-nama gaib bukan Tuhan.


Semuanya hanyalah tanda, dan tanda tidak boleh menggantikan Yang Memberi tanda.


Barang siapa berhenti pada tanda, ia akan tersesat dalam rupa.

Barang siapa menembus makna tanda, ia akan kembali kepada Alloh.


Maka jangan takut kepada laut, tetapi takutlah jika hatimu menjadi sedalam laut namun penuh kegelapan.

Jangan memuja bulan, tetapi jagalah agar nur kasih dalam dadamu tidak padam.

Jangan mengejar langit hanya untuk merasa tinggi, tetapi bukalah langit doamu dengan tangisan yang jujur.

Jangan menyalakan api untuk membakar sesama, tetapi nyalakan api cinta Ilahi untuk menolong bumi yang sedang lelah.


Wahai jiwa yang membaca lembar ini, bersihkanlah dirimu sebelum engkau meminta dunia berubah. Banyak orang ingin bumi damai, tetapi hatinya masih penuh peperangan. Banyak orang ingin manusia saling mengasihi, tetapi lisannya masih mudah melukai. Banyak orang ingin langit membuka rezeki, tetapi tangannya masih berat memberi. Banyak orang ingin doa dikabulkan, tetapi niatnya belum dibersihkan dari ego dan keinginan dipuji.


Maka pulanglah.


Pulang bukan berarti meninggalkan dunia.

Pulang berarti mengembalikan dunia kepada tempatnya.

Harta di tangan, bukan di hati.

Ilmu di dada, bukan untuk menyombongkan diri.

Kedudukan sebagai amanah, bukan panggung ego.

Pengalaman batin sebagai pengingat, bukan alasan merasa paling mulia.


Inilah hijab kasih sayang Alloh: ketika Alloh masih menegur sebelum menghukum, masih menutup aib sebelum membuka, masih memberi waktu sebelum mencabut kesempatan, masih mengirim nasihat sebelum manusia benar-benar jatuh dalam gelap.


Jika hari ini engkau masih dapat menangis, berarti hatimu belum mati.

Jika hari ini engkau masih dapat menyesal, berarti pintu pulang masih terbuka.

Jika hari ini engkau masih ingin memperbaiki diri, berarti rahmat Alloh masih memanggilmu.

Jika hari ini engkau masih ingat kepada Alloh, berarti cahaya itu belum padam.


Maka jangan sia-siakan panggilan itu.


Duduklah sejenak dalam sunyi.

Tarik napas dengan lembut.

Letakkan semua beban di hadapan Alloh.

Akui kelemahanmu.

Akui kesalahanmu.

Akui bahwa engkau tidak sanggup berjalan tanpa pertolongan-Nya.


Lalu ucapkan dalam hati:


Yā Alloh, sucikan niatku.

Yā Alloh, lembutkan hatiku.

Yā Alloh, hidupkan doaku.

Yā Alloh, nyalakan kebaikan dalam hidupku.

Yā Alloh, jangan biarkan aku tersesat oleh simbol, rupa, nama, atau bayangan.

Kembalikan aku kepada-Mu dengan hati yang selamat.


Itulah inti qitab ini.


Bukan mencari kegaiban.

Bukan mengejar kesaktian.

Bukan memuja penjaga.

Bukan membesarkan nama makhluk.

Tetapi membersihkan batin agar manusia kembali kepada Illahi Robbi yang sejati.


Kesucian hakiki adalah ketika manusia mampu berkata:


Aku bukan siapa-siapa tanpa Alloh.

Aku tidak memiliki apa-apa kecuali yang Alloh titipkan.

Aku tidak kuat kecuali Alloh yang menguatkan.

Aku tidak terang kecuali Alloh yang memberi cahaya.

Aku tidak selamat kecuali Alloh yang menyelamatkan.


Maka lembar terakhir ini ditutup dengan pesan:


Jaga air batinmu agar tetap jernih.

Jaga bulan hatimu agar tetap lembut.

Jaga langit doamu agar tetap terbuka.

Jaga api hidupmu agar tetap memberi hangat, bukan membakar.

Dan di atas semua itu, jagalah tauhidmu.


Karena semua jalan yang benar akan berakhir pada satu pintu:

pintu kembali kepada Alloh.


Semua cahaya yang benar akan membawa manusia pada satu kesadaran:

bahwa tiada cahaya sejati selain cahaya dari Alloh.


Semua ilmu yang benar akan melahirkan satu buah:

kerendahan hati.


Semua perjalanan ruhani yang benar akan menundukkan manusia pada satu kalimat:


Lā ilāha illalloh.

Tiada Tuhan selain Alloh.

Tiada tempat bersandar selain Alloh.

Tiada tempat kembali selain Alloh.


Ya Alloh, jadikan qitab ini sebagai pengingat, bukan kesombongan.

Jadikan setiap hurufnya sebagai jalan penyadaran.

Jadikan setiap maknanya sebagai pembersih hati.

Jadikan siapa pun yang membacanya semakin dekat kepada-Mu, semakin lembut kepada makhluk-Mu, semakin menjaga bumi-Mu, dan semakin takut menyakiti sesama ciptaan-Mu.


Aamiin ya Robbal ‘alamin.


Tammat dengan izin Alloh.

Kembali kepada kesucian.

Kembali kepada tauhid.

Kembali kepada Illahi Robbi yang sejati.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh