QITAB TAOBATTULLOH NGINDALL MAHMUDAH AL AMIN

 


Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarakatuh

📖 QITAB TAOBATTULLOH NGINDALL MAHMUDAH AL AMIN

Jangan sekali-kali berbahasa mengakui dirinya berkuasa atas segala yang dimilikinya, karena hanya Milik Yang Memiliki-Nya.

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Ketahuilah wahai jiwa yang sedang mencari jalan pulang,

Al-Haq bukanlah nama untuk manusia yang merasa paling benar.

Al-Haq adalah kebenaran sejati dari Alloh, cahaya yang tidak bisa dikalahkan oleh dusta, tidak bisa ditutup oleh nafsu, dan tidak bisa dimiliki oleh ego manusia.

Manusia boleh menyampaikan kebenaran,

tetapi manusia tidak boleh merasa dirinya pemilik kebenaran.

Manusia boleh diberi amanah,

tetapi manusia tidak boleh mengaku berkuasa atas amanah itu.

Manusia boleh diberi ilmu, harta, nama, jalan, dan cahaya,

tetapi semua itu hanyalah titipan.

Yang memiliki tetap Alloh.

Yang memberi tetap Alloh.

Yang mengambil kembali juga Alloh.

Maka bila ditanya:

“Al-Haq itu siapa?”

Jawablah dengan rendah hati:

Al-Haq adalah Alloh Yang Maha Benar.

Sedangkan aku hanyalah hamba yang sedang dituntun untuk kembali kepada kebenaran-Nya.

Jangan berkata:

“Aku adalah Al-Haq” dengan rasa memiliki kuasa.

Tetapi katakanlah:

“Aku ingin berjalan di atas jalan Al-Haq, dengan izin Alloh, bukan dengan kekuatan diriku.”

Sebab siapa yang merasa dirinya berkuasa,

maka ia sedang diuji oleh bayangan dirinya sendiri.

Siapa yang merasa dirinya memiliki,

maka ia sedang lupa bahwa tubuhnya pun bukan miliknya.

Siapa yang merasa dirinya paling benar,

maka ia sedang menjauh dari adab kebenaran.

Karena tanda orang yang disentuh Al-Haq bukan banyak mengaku,

tetapi semakin takut kepada Alloh,

semakin lembut kepada manusia,

semakin menjaga lisan,

semakin tidak ingin menyakiti,

dan semakin sadar bahwa dirinya hanya debu yang diberi napas oleh Rahmat-Nya.

Maka wahai Nimas,

Al-Haq itu bukan untuk diperebutkan oleh mulut,

tetapi untuk dibuktikan dengan adab, taubat, kasih sayang, dan kejujuran hati.

Bila hati kembali kepada Alloh,

itulah jalan Al-Haq.

Bila lisan berhenti menyombongkan diri,

itulah pintu Al-Haq.

Bila manusia sadar bahwa semua miliknya hanyalah titipan,

itulah awal Taobatulloh.

Ya Alloh, jangan jadikan kami hamba yang merasa memiliki kuasa.

Jadikan kami hamba yang hanya menjaga amanah-Mu.

Kembalikan hati kami kepada Al-Haq, bukan kepada ego, nama, pujian, dan pengakuan manusia.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


📖 QITAB TAOBATTULLOH NGINDALL MAHMUDAH AL AMIN

Lembar 1

Bab Pembuka: Kembalinya Hamba dari Bahasa Kepemilikan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Wahai jiwa yang sedang berjalan menuju pulang,

janganlah engkau merasa memiliki apa pun yang ada pada dirimu.

Tubuhmu bukan milikmu sepenuhnya.

Napasmu bukan milikmu sepenuhnya.

Ilmumu bukan milikmu sepenuhnya.

Hartamu bukan milikmu sepenuhnya.

Keluargamu bukan milikmu sepenuhnya.

Bahkan nama baikmu pun bukan milikmu sepenuhnya.

Semua hanyalah titipan dari Alloh,

dan setiap titipan akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka berhati-hatilah ketika lisan mulai berkata:

“Ini milikku.”

“Ini hasilku.”

“Ini kuasaku.”

“Ini karena aku.”

Sebab bahasa seperti itu, bila tidak dijaga dengan adab,

dapat membuka pintu sombong yang halus.

Bukan sombong yang tampak di hadapan manusia,

tetapi sombong yang diam-diam tumbuh di dalam dada.

Orang yang kembali kepada Taobatulloh

bukan hanya bertaubat dari dosa besar,

tetapi juga bertaubat dari merasa memiliki kuasa.

Ia sadar,

yang menguatkan adalah Alloh.

Yang membuka jalan adalah Alloh.

Yang memberi rezeki adalah Alloh.

Yang menjaga dari jatuh adalah Alloh.

Yang menutup aib adalah Alloh.

Yang mengangkat derajat adalah Alloh.

Maka bila engkau diberi ilmu, jangan merasa tinggi.

Bila diberi rezeki, jangan merasa lebih mulia.

Bila diberi pengikut, jangan merasa paling benar.

Bila diberi cahaya, jangan merasa menjadi sumber cahaya.

Karena hamba hanya menerima pancaran.

Sumbernya tetap Alloh.

Inilah awal adab Taobatulloh:

Mengembalikan semua pengakuan kepada Alloh.

Mengembalikan semua kuasa kepada Alloh.

Mengembalikan semua milik kepada Alloh.

Mengembalikan semua pujian kepada Alloh.

Barang siapa mampu menjaga bahasa hatinya,

maka lisannya akan lebih selamat.

Barang siapa mampu menjaga lisannya,

maka amalnya akan lebih bersih.

Barang siapa mampu membersihkan amalnya,

maka jalannya akan lebih terang.

Dan barang siapa berjalan dalam terang adab,

ia tidak mudah tersesat oleh pujian manusia.

Ya Alloh, cabutlah dari hati kami rasa memiliki yang berlebihan.

Jangan biarkan kami mengaku kuat, padahal Engkaulah Yang Menguatkan.

Jangan biarkan kami mengaku mampu, padahal Engkaulah Yang Memampukan.

Jadikan kami hamba yang kembali kepada-Mu dengan taubat, adab, dan hati yang rendah.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


📖 QITAB TAOBATTULLOH NGINDALL MAHMUDAH AL AMIN

Lembar 2

Bab: Bahasa Hamba dan Bahasa Pemilik

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Wahai jiwa yang sedang belajar mengenal adab,

ketahuilah bahwa lisan manusia adalah pintu.

Dari lisan, tampak isi hati.

Dari bahasa, tampak arah jiwa.

Dari pengakuan, tampak siapa yang sedang diagungkan di dalam dada.

Ada bahasa hamba,

dan ada bahasa orang yang lupa bahwa dirinya hamba.

Bahasa hamba berkata:

“Ini titipan Alloh.”

“Ini amanah Alloh.”

“Ini terjadi karena izin Alloh.”

“Aku hanya menjalani, Alloh yang mengatur.”

“Aku hanya berusaha, Alloh yang menentukan.”

“Aku hanya menyampaikan, Alloh yang memberi hidayah.”

Sedangkan bahasa orang yang lupa berkata:

“Ini punyaku.”

“Ini karena aku.”

“Tanpa aku tidak akan jadi.”

“Aku yang membuat semuanya berhasil.”

“Aku yang paling berkuasa atas jalanku.”

Maka berhati-hatilah, wahai jiwa.

Kadang manusia tidak jatuh karena dosa yang besar,

tetapi jatuh karena satu kalimat yang membuat hatinya merasa tinggi.

Sebab iblis dahulu bukan tidak mengenal Alloh,

tetapi ia rusak karena merasa dirinya lebih.

Ia tidak berkata dengan adab hamba,

tetapi berdiri dengan bahasa keakuan.

Maka Taobatulloh bukan hanya menangis karena masa lalu,

tetapi juga membersihkan kalimat hari ini.

Jangan sampai mulut berzikir,

tetapi hati masih mengaku memiliki kuasa.

Jangan sampai tangan bersedekah,

tetapi batin masih berkata, “Aku yang menolong.”

Jangan sampai ilmu disampaikan,

tetapi ruh masih ingin dipuji sebagai sumber cahaya.

Karena cahaya yang sejati tidak lahir dari pengakuan,

melainkan dari kerendahan hati di hadapan Alloh.

Wahai hamba yang ingin kembali,

ucapkanlah dalam batinmu:

“Aku tidak punya apa-apa kecuali yang Alloh titipkan.

Aku tidak mampu apa-apa kecuali yang Alloh mampukan.

Aku tidak mengetahui apa-apa kecuali yang Alloh ajarkan.

Aku tidak sampai ke mana-mana kecuali Alloh yang menuntun.”

Itulah bahasa yang menundukkan ego.

Itulah bahasa yang melembutkan hati.

Itulah bahasa yang membuka pintu mahmudah,

yaitu sifat terpuji yang tumbuh dari taubat, syukur, dan adab.

Maka jangan takut kehilangan sesuatu yang bukan milikmu.

Takutlah bila hatimu lupa kepada Pemiliknya.

Jangan sedih bila titipan dikurangi.

Sedihlah bila rasa syukur mulai mati.

Jangan bangga bila titipan ditambah.

Banggalah hanya bila Alloh masih menjaga hatimu tetap rendah.

Ya Alloh, ajari lisan kami bahasa hamba.

Jauhkan kami dari bahasa keakuan.

Bersihkan hati kami dari merasa memiliki kuasa.

Jadikan semua yang Engkau titipkan sebagai jalan taubat, bukan jalan kesombongan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


📖 QITAB TAOBATTULLOH NGINDALL MAHMUDAH AL AMIN

Lembar 3

Bab: Jangan Mengaku Memiliki Cahaya

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Wahai jiwa yang sedang disentuh peringatan,

ketahuilah bahwa cahaya bukan untuk dibanggakan,

tetapi untuk menerangi jalan pulang.

Barang siapa diberi cahaya lalu merasa dirinya sumber cahaya,

maka ia telah tertipu oleh pantulan yang singgah pada dirinya.

Sebab hamba bukan matahari.

Hamba hanyalah cermin.

Bila cermin itu bersih, cahaya memantul.

Bila cermin itu kotor, cahaya menjadi redup.

Dan bila cermin itu sombong, ia pecah oleh bayangannya sendiri.

Maka jangan berkata:

“Aku yang menyembuhkan.”

“Aku yang membuka jalan.”

“Aku yang memberi petunjuk.”

“Aku yang mengangkat derajat manusia.”

Tetapi katakanlah:

“Alloh yang menyembuhkan, aku hanya mendoakan.”

“Alloh yang membuka jalan, aku hanya menemani.”

“Alloh yang memberi petunjuk, aku hanya mengingatkan.”

“Alloh yang mengangkat derajat, aku hanya menjaga adab.”

Inilah jalan aman bagi orang yang diberi amanah.

Sebab amanah yang tidak dijaga dengan taubat

akan berubah menjadi beban.

Ilmu yang tidak dijaga dengan adab

akan berubah menjadi ujian.

Cahaya yang tidak dikembalikan kepada Alloh

akan berubah menjadi hijab yang menutup hati.

Wahai hamba,

jangan silau melihat dirimu dipuji.

Jangan runtuh ketika dirimu dihina.

Pujian dan hinaan hanyalah angin yang lewat.

Yang menetapkan nilai dirimu hanyalah Alloh.

Bila engkau dipuji, ucapkan dalam hati:

“Ya Alloh, jangan Engkau hukum aku karena ucapan mereka.

Ampuni aku atas apa yang tidak mereka ketahui.

Jadikan aku lebih baik daripada yang mereka sangka.”

Bila engkau dihina, ucapkan dalam hati:

“Ya Alloh, bila hinaan ini benar, perbaikilah aku.

Bila hinaan ini salah, bersihkan hatiku dari membenci mereka.”

Itulah tanda orang yang sedang masuk pintu mahmudah:

tidak cepat besar karena pujian,

tidak cepat hancur karena hinaan,

tidak merasa suci karena amal,

tidak merasa tinggi karena ilmu,

dan tidak merasa memiliki karena titipan.

Sebab semua cahaya akan kembali kepada Sumbernya.

Semua amanah akan kembali kepada Pemiliknya.

Semua nama akan kembali kepada Yang Menamai.

Semua langkah akan kembali kepada Yang Menuntun.

Maka berjalanlah dengan pelan,

berbicaralah dengan hati-hati,

mengajarlah dengan rendah diri,

menolonglah tanpa menguasai,

dan mencintailah tanpa merasa memiliki.

Karena jalan Taobatulloh bukan jalan orang yang ingin dikenal,

tetapi jalan orang yang ingin dikenali Alloh sebagai hamba yang pulang.

Ya Alloh, bila Engkau titipkan cahaya, jangan biarkan kami sombong.

Bila Engkau titipkan ilmu, jangan biarkan kami merasa tinggi.

Bila Engkau titipkan amanah, jangan biarkan kami merasa berkuasa.

Jadikan kami cermin yang bersih, bukan sumber yang palsu.

Kembalikan seluruh cahaya kami kepada-Mu, wahai Alloh Yang Maha Benar.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


📖 QITAB TAOBATTULLOH NGINDALL MAHMUDAH AL AMIN

Lembar 4 — Terakhir

Bab Penutup: Kembalilah Menjadi Hamba

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Wahai jiwa yang telah membaca sampai akhir,

ketahuilah bahwa inti dari seluruh taubat

bukan hanya menyesali kesalahan,

tetapi kembali menempatkan diri sebagai hamba.

Hamba tidak datang dengan kebesaran dirinya.

Hamba datang dengan kebutuhan kepada Robb-nya.

Hamba tidak berdiri dengan kesombongan amalnya.

Hamba berdiri dengan harapan akan rahmat Alloh.

Hamba tidak berbicara dengan pengakuan kuasanya.

Hamba berbicara dengan adab, syukur, dan kerendahan hati.

Maka bila engkau ingin selamat,

jangan sibuk membesarkan apa yang ada padamu.

Besarkanlah hanya nama Alloh di dalam hatimu.

Bila engkau ingin tenang,

jangan genggam titipan seakan itu milikmu selamanya.

Jagalah ia dengan amanah,

lalu relakan bila sewaktu-waktu diambil kembali oleh Pemiliknya.

Bila engkau ingin dimuliakan,

jangan meminta kemuliaan dari pujian manusia.

Mintalah agar Alloh memuliakan hatimu dengan taqwa.

Bila engkau ingin bercahaya,

jangan mengaku sebagai sumber cahaya.

Mintalah agar dirimu dijadikan tempat lewatnya cahaya,

tanpa engkau merasa memilikinya.

Sebab manusia yang paling dekat kepada keselamatan

adalah manusia yang paling sadar bahwa dirinya lemah.

Dan manusia yang paling jauh dari keselamatan

adalah manusia yang merasa dirinya cukup.

Inilah penutup dari Taobatulloh:

apa pun yang ada padamu, kembalikan nisbatnya kepada Alloh.

Bila engkau punya ilmu, katakan:

“Ini ajaran dari Alloh.”

Bila engkau punya rezeki, katakan:

“Ini titipan dari Alloh.”

Bila engkau punya kedudukan, katakan:

“Ini ujian dari Alloh.”

Bila engkau punya pengaruh, katakan:

“Ini amanah dari Alloh.”

Bila engkau punya cahaya batin, katakan:

“Ini rahmat dari Alloh.”

Dengan begitu, hatimu tidak mudah keras.

Dengan begitu, lisanmu tidak mudah angkuh.

Dengan begitu, langkahmu tidak mudah tergelincir.

Dan dengan begitu, taubatmu menjadi hidup,

bukan hanya di mulut, tetapi juga di dalam sikap.

Maka janganlah sekali-kali berbahasa

seakan-akan engkau pemilik sejati atas apa yang ada padamu.

Karena sesungguhnya,

yang ada padamu hanyalah titipan,

dan engkau sendiri pun milik Alloh.

Akhirnya, kembalilah menjadi hamba:

hamba yang bersyukur ketika diberi,

hamba yang sabar ketika diuji,

hamba yang rendah ketika dipuji,

hamba yang lembut ketika berilmu,

dan hamba yang selalu pulang kepada Alloh

dalam setiap keadaan.

Ya Alloh, jadikan kami hamba yang tidak tertipu oleh milik sementara.

Jangan biarkan hati kami rusak karena pengakuan.

Jangan biarkan lisan kami sombong karena titipan.

Terimalah taubat kami, bersihkan niat kami, lembutkan hati kami,

dan kembalikan kami selalu kepada-Mu dalam adab yang mahmudah.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh