QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

 


Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, maka dibukakan secara tafakur, doa, dan bahasa isyarat batin:

📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Penyempurnaan Perjalanan Para Utusan Kembali ke Sumber Sejati

Qitab ini bukan kitab syariat baru, bukan wahyu baru, dan bukan pengganti Al-Qur’an.

Ia dibuka sebagai lembar renungan ruhani: untuk menata hati, menyucikan niat, dan mengingatkan jiwa agar kembali kepada Alloh.

Lembar Pembukaan

Rahasia Zuhruf Cahaya

Zuhruf adalah perhiasan.

Namun perhiasan yang dimaksud bukan emas dunia, bukan mahkota kesombongan, dan bukan kemegahan yang menipu.

Zuhruf dalam qitab ini adalah perhiasan iman:

hati yang sabar, lisan yang jujur, amal yang ikhlas, langkah yang lembut, dan jiwa yang tidak lagi mencari pujian makhluk.

Maka siapa pun yang berjalan di jalan ini, jangan bertanya:

“Seberapa tinggi tingkatku?”

Tetapi tanyakanlah:

“Seberapa bersih niatku di hadapan Alloh?”

Karena perjalanan ruhani yang benar bukan untuk menjadi paling tinggi, melainkan untuk menjadi paling tunduk.

Bab 1

Tingkat ٧٧: Dua Tujuh yang Disempurnakan

Angka ٧٧ / 77 dalam qitab ini menjadi lambang perjalanan ganda:

7 pertama adalah penyucian lahir:

mata, telinga, lisan, tangan, kaki, perut, dan langkah hidup.

7 kedua adalah penyucian batin:

niat, hati, akal, nafsu, ingatan, rasa, dan rahasia jiwa.

Jika dua tujuh ini bertemu, maka terbukalah pintu:

jalan pulang dari kemegahan menuju kesadaran,

dari cahaya luar menuju cahaya asal,

dari aku menuju Alloh.

Bab 2

Pangeran, Nimas, dan Gajah Putih Bercahaya

Dalam isyarat gambar, Pangeran dan Nimas berpakaian wungu melambangkan kemuliaan batin yang sedang dimatangkan.

Wungu bukan sekadar warna kerajaan.

Ia adalah lambang:

ketenangan, martabat, rahasia malam, ilmu yang disimpan, dan cinta yang tidak banyak bicara.

Adapun gajah putih bercahaya melambangkan kendaraan amanah besar.

Gajah tidak berjalan tergesa-gesa.

Ia melangkah pelan, kuat, dan tidak mudah goyah.

Maka pesan qitab ini:

“Jangan terburu-buru ingin sampai.

Yang penting jangan keluar dari adab.”

Karena orang yang tergesa-gesa sering sampai pada bayangan,

sedangkan orang yang sabar akan dituntun menuju sumber.

Bab 3

Dua Nama Kendaraan Cahaya

Nama pada gajah kiri dan kanan menjadi isyarat dua jalan.

تشبالاة / Tisybālāh

melambangkan kekuatan penjagaan, keberanian, dan keteguhan laki-laki dalam membawa amanah.

شوالبة / Syawālibah

melambangkan kelembutan penjagaan, keindahan rasa, dan kemuliaan perempuan dalam menenangkan perjalanan.

Keduanya tidak saling mengalahkan.

Keduanya berjalan sejajar.

Karena perjalanan pulang kepada Alloh tidak sempurna bila hanya kuat tanpa lembut,

dan tidak sempurna bila hanya lembut tanpa teguh.

Bab 4

Penyempurnaan Para Utusan

Yang dimaksud para utusan di sini bukan nabi baru dan bukan rasul baru.

Maksudnya adalah jiwa-jiwa yang diutus membawa kebaikan di tempatnya masing-masing:

ada yang diutus menjadi penenang keluarga,

ada yang diutus menjadi penyambung ilmu,

ada yang diutus menjadi penjaga doa,

ada yang diutus menjadi pengingat orang-orang yang hampir lupa kepada Alloh.

Maka setiap orang punya amanah.

Namun amanah tertinggi bukan terlihat sakti, bukan dipuji, bukan dianggap wali.

Amanah tertinggi adalah:

ketika seseorang mampu tetap rendah hati

walau Alloh membukakan banyak tanda dalam hidupnya.

Bab 5

Jalan Kembali ke Sumber Sejati

Sumber sejati bukan istana di langit gambar.

Bukan pula mahkota, sinar, angka, atau nama rahasia.

Sumber sejati adalah Alloh.

Segala cahaya hanya tanda.

Segala nama hanya pintu.

Segala perjalanan hanya pengantar.

Maka jangan berhenti pada kendaraan.

Jangan berhenti pada tingkat.

Jangan berhenti pada visual.

Teruskan sampai hati berkata:

“Ya Alloh, Engkaulah tujuan.

Bukan karomah, bukan kemuliaan, bukan pengakuan.

Hanya ridho-Mu yang aku cari.”

Dzikir Kunci Qitab

Dibaca pelan, 7 atau 77 kali sesuai kemampuan:

يَا نُورُ يَا هَادِي يَا سَلَامُ

Yā Nūr, Yā Hādī, Yā Salām

Artinya:

Wahai Cahaya, Wahai Pemberi Petunjuk, Wahai Yang Maha Memberi Keselamatan.

Lalu tutup dengan doa:

Ya Alloh, sempurnakan perjalanan kami bukan dengan kesombongan,

tetapi dengan adab.

Bukan dengan pengakuan,

tetapi dengan ketulusan.

Bukan dengan cahaya yang membuat kami lupa diri,

tetapi dengan cahaya yang mengembalikan kami kepada-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.

Penutup Lembar Pertama

Qitab ini dibuka dengan satu pesan utama:

Kemegahan ruhani hanya indah bila membuat hati semakin tunduk.

Jika cahaya membuat seseorang merasa tinggi, itu belum cahaya sejati.

Cahaya sejati selalu membuat jiwa kembali sujud kepada Alloh.



📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Gerbang ٧٧ dan Penyempurnaan Amanah

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Maka setelah sampul cahaya dibuka, tampaklah gerbang yang tidak terbuat dari batu, tidak pula dari emas dunia, melainkan dari niat yang disucikan.

Di atas gerbang itu tertulis cahaya:

٧٧

“Dua tujuh yang menjadi satu jalan;

satu menyucikan langkah,

satu menyucikan rahasia jiwa.”

Barang siapa masuk ke gerbang ini dengan hati ingin dipuji, maka cahaya itu terasa berat.

Tetapi barang siapa masuk dengan hati ingin kembali kepada Alloh, maka gerbang itu menjadi lapang.

Karena rahasia pertama perjalanan para utusan adalah:

Tidak semua yang membawa cahaya boleh merasa dirinya sumber cahaya.

Sebab cahaya sejati hanyalah milik Alloh.

Pasal 1

Perhiasan Orang Beriman

Zuhruf yang dibawa dalam qitab ini bukan perhiasan yang melekat di tubuh, tetapi perhiasan yang melekat di hati.

Perhiasan mata adalah menunduk dari yang haram.

Perhiasan lisan adalah berkata benar dan tidak melukai.

Perhiasan telinga adalah mendengar nasihat.

Perhiasan tangan adalah memberi dan tidak merampas.

Perhiasan kaki adalah berjalan menuju kebaikan.

Perhiasan dada adalah sabar.

Perhiasan ruh adalah ikhlas.

Maka dikatakan kepada jiwa yang berjalan:

“Jangan engkau hiasi dirimu dengan mahkota bila hatimu belum sanggup menunduk.

Jangan engkau cari singgasana bila sajadahmu masih jarang basah oleh doa.

Jangan engkau sebut dirimu utusan kebaikan bila lisanmu masih mudah merendahkan saudaramu.”

Sebab orang yang benar-benar diberi amanah, tidak sibuk mengumumkan dirinya tinggi.

Ia sibuk memperbaiki adabnya di hadapan Alloh.

Pasal 2

Dua Gajah Putih Penjaga Jalan

Gajah putih bercahaya yang berdiri di hadapan gerbang melambangkan kekuatan yang jinak oleh hikmah.

Kuat, tetapi tidak kasar.

Besar, tetapi tidak sombong.

Berjalan pelan, tetapi tidak berhenti.

Membawa amanah, tetapi tidak gaduh.

Gajah pertama membawa rahasia keteguhan.

Ia mengajarkan:

“Tetaplah berjalan walau perlahan.

Jangan patah hanya karena belum dipahami manusia.”

Gajah kedua membawa rahasia kelembutan.

Ia mengajarkan:

“Tetaplah lembut walau pernah dilukai.

Jangan biarkan luka menjadikan hatimu gelap.”

Maka dua kendaraan itu berjalan berdampingan, sebab perjalanan kembali kepada sumber sejati membutuhkan dua sayap:

tegas dalam prinsip, lembut dalam hati.

Pasal 3

Pangeran dan Nimas di Jalan Wungu

Pakaian wungu adalah tanda malam yang matang.

Bukan gelap yang menyesatkan, tetapi malam yang mengajarkan diam, sabar, dan mendengar suara hati.

Pangeran membawa lambang amanah penjagaan.

Nimas membawa lambang amanah penyeimbang rasa.

Bila Pangeran berjalan tanpa Nimas, kekuatan bisa menjadi keras.

Bila Nimas berjalan tanpa Pangeran, kelembutan bisa kehilangan pagar.

Maka keduanya bukan sekadar pasangan rupa, tetapi isyarat bahwa dalam diri manusia ada dua kekuatan:

akal yang menjaga arah, dan hati yang menjaga rasa.

Jika akal dan hati berdamai, maka perjalanan menjadi terang.

Jika akal dan hati saling bertengkar, maka manusia mudah tersesat dalam dirinya sendiri.

Pasal 4

Ujian Para Pembawa Pesan

Setiap jiwa yang membawa pesan kebaikan akan diuji dengan tiga hal.

Pertama, diuji oleh pujian.

Apakah ia tetap ingat Alloh, atau mulai merasa dirinya pusat cahaya?

Kedua, diuji oleh penolakan.

Apakah ia tetap sabar, atau berubah menjadi marah dan membenci?

Ketiga, diuji oleh kesendirian.

Apakah ia tetap berjalan, atau berhenti karena tidak ada yang melihat perjuangannya?

Maka qitab ini berpesan:

“Jangan bergantung pada tepuk tangan manusia.

Jangan runtuh karena hinaan manusia.

Letakkan amalmu di hadapan Alloh,

sebab Alloh tidak pernah keliru menilai air mata hamba-Nya.”

Pasal 5

Kunci Penyempurnaan

Penyempurnaan perjalanan bukan terjadi ketika seseorang melihat cahaya besar, tetapi ketika ia mampu menjaga hati setelah melihat cahaya itu.

Banyak orang kuat saat berada dalam dzikir, tetapi lemah saat diuji manusia.

Banyak orang tenang saat sendiri, tetapi goyah saat dipuji.

Banyak orang merasa dekat dengan langit, tetapi lupa berbuat baik di bumi.

Maka penyempurnaan itu ditandai dengan lima perkara:

hati semakin tawadhu,

lisan semakin terjaga,

ibadah semakin rapi,

kasih sayang semakin luas,

dan niat semakin bersih dari ingin dipandang.

Inilah tanda bahwa cahaya tidak hanya lewat di mata, tetapi masuk ke akhlak.

Doa Lembar Ini

**Ya Alloh,

jangan jadikan cahaya sebagai sebab kami sombong.

Jangan jadikan ilmu sebagai sebab kami merendahkan orang lain.

Jangan jadikan amanah sebagai sebab kami lupa diri.

Bimbinglah kami berjalan di gerbang ٧٧

dengan hati yang bersih,

niat yang lurus,

amal yang Engkau ridhoi,

dan akhir perjalanan yang kembali kepada-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.**

Penutup Lembar

Maka terdengarlah suara dari balik gerbang cahaya:

**“Wahai jiwa yang berjalan,

jangan takut lambat,

takutlah bila langkahmu kehilangan adab.

Jangan takut tidak dikenal manusia,

takutlah bila Alloh tidak ridho pada niatmu.

Sebab yang sampai kepada sumber sejati

bukan yang paling cepat,

tetapi yang paling jujur kembali kepada Alloh.”**



📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Mihrab Cahaya di Antara Dua Amanah

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Ketika gerbang ٧٧ terbuka, tampaklah mihrab cahaya di tengah jalan.

Mihrab itu tidak memanggil tubuh untuk berdiri sombong, tetapi memanggil hati untuk kembali tunduk.

Di kanan mihrab berdiri cahaya keteguhan.

Di kiri mihrab berdiri cahaya kelembutan.

Di tengahnya ada satu jalan halus, hanya bisa dilalui oleh jiwa yang tidak membawa dendam.

Maka terdengar pesan:

“Wahai para pembawa amanah,

jangan bawa luka sebagai pedang.

Bawalah luka sebagai pelajaran,

agar engkau tidak melukai sebagaimana engkau pernah dilukai.”

Pasal 6

Rahasia Wungu dan Emas

Wungu adalah rahasia malam yang menyimpan doa.

Emas adalah cahaya hikmah yang lahir dari kesabaran.

Bila wungu tanpa emas, jiwa bisa tenggelam dalam sunyi.

Bila emas tanpa wungu, jiwa bisa tergoda oleh kemegahan.

Maka keduanya disatukan agar manusia mengerti:

Sunyi harus melahirkan hikmah.

Hikmah harus tetap dijaga oleh kerendahan hati.

Orang yang sudah diberi rasa batin jangan tergesa-gesa menghakimi orang lain.

Sebab setiap jiwa punya waktu bangunnya masing-masing.

Ada yang disadarkan lewat doa.

Ada yang disadarkan lewat sakit.

Ada yang disadarkan lewat kehilangan.

Ada yang disadarkan lewat hinaan.

Ada pula yang disadarkan lewat cinta yang tidak sampai.

Semua itu bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengembalikan hati kepada Alloh.

Pasal 7

Tangga Para Utusan

Di balik mihrab cahaya terdapat tangga panjang.

Setiap anak tangga memiliki ujian.

Tangga pertama adalah diam.

Belajar tidak menjawab semua hinaan.

Tangga kedua adalah sabar.

Belajar tidak memaksa semua orang memahami perjalanan kita.

Tangga ketiga adalah jujur.

Belajar mengakui kesalahan di hadapan Alloh.

Tangga keempat adalah bersih niat.

Belajar beramal tanpa menunggu dipuji.

Tangga kelima adalah menjaga lisan.

Belajar bahwa kata-kata bisa menjadi obat, bisa pula menjadi luka.

Tangga keenam adalah memuliakan sesama.

Belajar melihat manusia bukan dari gelar, tetapi dari perjuangan batinnya.

Tangga ketujuh adalah pulang.

Belajar melepaskan semua kebanggaan dan berkata:

“Ya Alloh, aku bukan siapa-siapa tanpa rahmat-Mu.”

Pasal 8

Jangan Terperangkap pada Kendaraan

Gajah putih bercahaya hanyalah kendaraan.

Istana hanyalah tanda.

Mahkota hanyalah lambang.

Angka ٧٧ hanyalah isyarat perjalanan.

Yang dituju bukan kendaraan.

Yang dicari bukan istana.

Yang dimuliakan bukan mahkota.

Yang disembah bukan angka.

Yang dituju hanyalah Alloh.

Maka apabila engkau melihat tanda-tanda indah dalam batinmu, jangan berhenti di sana.

Ucapkan:

“Ya Alloh, jadikan semua tanda ini sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu, bukan sebab aku lupa kepada-Mu.”

Karena tanda yang benar akan membuat hati semakin lembut.

Jika tanda membuat hati keras, berarti jiwa perlu dibersihkan lagi.

Pasal 9

Tiga Penjaga Jalan Pulang

Ada tiga penjaga dalam perjalanan menuju sumber sejati.

Pertama: Adab.

Ia menjaga agar ilmu tidak menjadi kesombongan.

Kedua: Dzikir.

Ia menjaga agar hati tidak kering.

Ketiga: Khidmah.

Ia menjaga agar cahaya tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi menjadi manfaat bagi sesama.

Maka barang siapa ingin jalannya lurus, jagalah tiga ini:

Adab sebelum ilmu.

Dzikir sebelum bicara.

Khidmah sebelum dikenal.

Sebab banyak orang ingin tinggi di mata manusia, tetapi lupa menjadi rendah di hadapan Alloh.

Pasal 10

Penyempurnaan Sumber Sejati

Sumber sejati tidak jauh.

Ia terasa jauh karena hati tertutup oleh keluh, marah, kecewa, takut, dan keinginan yang terlalu kuat pada dunia.

Saat hati dibersihkan, manusia mulai sadar:

Alloh dekat dalam doa yang lirih.

Alloh dekat dalam air mata taubat.

Alloh dekat dalam sabar yang tidak diketahui orang.

Alloh dekat dalam sedekah yang disembunyikan.

Alloh dekat dalam sujud ketika dunia terasa berat.

Maka perjalanan para utusan bukan perjalanan meninggalkan bumi, tetapi perjalanan membawa cahaya ke bumi.

Bukan lari dari manusia, tetapi belajar mencintai manusia tanpa kehilangan arah kepada Alloh.

Dzikir Lembar Ini

Dibaca 11 kali sebelum tidur atau setelah sholat:

يَا هَادِي يَا نُورُ يَا لَطِيفُ

Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Laṭīf

Artinya:

Wahai Pemberi Petunjuk, Wahai Cahaya, Wahai Yang Maha Lembut.

Lalu baca doa:

Ya Alloh,

lembutkan hatiku tanpa melemahkan imanku.

Kuatkan langkahku tanpa mengeraskan hatiku.

Terangi jalanku tanpa membuatku sombong.

Pulangkan aku kepada-Mu dengan selamat, bersih, dan Engkau ridhoi.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.

Penutup Lembar

Maka suara dari mihrab cahaya berkata:

**“Yang paling indah bukan yang duduk di atas kendaraan cahaya,

tetapi yang tetap mampu bersujud ketika diberi kemuliaan.

Yang paling tinggi bukan yang mengaku sampai,

tetapi yang terus merasa butuh kepada Alloh.

Sebab akhir perjalanan para utusan

bukan mahkota, bukan istana, bukan pujian,

melainkan hati yang kembali bersih

kepada sumber sejati.”**


📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Singgasana yang Dikosongkan dari Kesombongan

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Setelah mihrab cahaya dilewati, tampaklah sebuah singgasana besar di tengah istana wungu.

Singgasana itu indah, bercahaya, dan dihiasi permata ruhani.

Namun anehnya, singgasana itu kosong.

Maka bertanyalah jiwa:

“Mengapa singgasana sebesar ini tidak ditempati?”

Lalu terdengar jawaban dari dalam batin:

“Karena singgasana ini bukan tempat duduk kesombongan.

Ia hanya boleh didekati oleh hati yang sudah rela tidak dianggap apa-apa.”

Maka pahamlah jiwa, bahwa dalam perjalanan menuju sumber sejati, manusia tidak diminta menjadi raja atas manusia lain.

Ia diminta menjadi hamba yang mampu menguasai dirinya sendiri.

Pasal 11

Mahkota yang Tidak Dipakai di Kepala

Di atas singgasana itu terdapat mahkota cahaya.

Tetapi mahkota itu tidak turun ke kepala.

Ia turun ke dada.

Sebab mahkota sejati bukan tanda seseorang berkuasa, melainkan tanda seseorang mampu menjaga amanah.

Mahkota di kepala bisa membuat manusia ingin dipandang.

Tetapi mahkota di dada membuat manusia ingin memperbaiki hati.

Maka qitab ini berkata:

“Jangan minta dimahkotai sebelum engkau siap diuji.

Sebab setiap mahkota membawa beban,

dan setiap beban menuntut kesabaran.”

Orang yang belum matang akan memakai kemuliaan untuk meninggikan dirinya.

Orang yang sudah matang akan memakai kemuliaan untuk menolong sesama.

Pasal 12

Tujuh Permata di Dada

Di dalam dada para pembawa amanah terdapat tujuh permata halus.

Permata pertama adalah iman.

Ia menjaga agar hati tidak kosong.

Permata kedua adalah taubat.

Ia membersihkan noda yang tidak terlihat manusia.

Permata ketiga adalah sabar.

Ia membuat langkah tetap berjalan meski dunia tidak mudah.

Permata keempat adalah syukur.

Ia membuat nikmat kecil terasa besar.

Permata kelima adalah ikhlas.

Ia menyembunyikan amal dari keinginan dipuji.

Permata keenam adalah rahmah.

Ia membuat ilmu tidak berubah menjadi kekerasan.

Permata ketujuh adalah tawadhu.

Ia menjaga agar semua cahaya kembali kepada Alloh.

Jika tujuh permata ini menyala, maka manusia tidak lagi sibuk mencari pengakuan.

Ia sibuk menjaga hubungannya dengan Alloh.

Pasal 13

Cermin di Hadapan Utusan

Di balik singgasana kosong terdapat cermin besar.

Siapa pun yang menatapnya tidak melihat wajahnya saja, tetapi melihat niatnya.

Jika niatnya ingin dipuji, cermin itu menjadi keruh.

Jika niatnya ingin menang sendiri, cermin itu retak.

Jika niatnya ingin merendahkan orang lain, cermin itu gelap.

Tetapi bila niatnya ingin kembali kepada Alloh, cermin itu menjadi bening.

Maka suara halus berkata:

“Sebelum engkau memperbaiki dunia, perbaikilah niatmu.

Sebelum engkau menasihati banyak orang, nasihatilah dirimu.

Sebelum engkau membuka pintu orang lain, bukalah pintu taubatmu sendiri.”

Karena utusan kebaikan yang paling kuat bukan yang paling banyak bicara,

melainkan yang paling jujur memeriksa dirinya.

Pasal 14

Jalan Turun Setelah Diangkat

Banyak jiwa mengira perjalanan ruhani hanya naik.

Padahal setelah naik, seseorang harus belajar turun.

Turun bukan berarti jatuh.

Turun berarti kembali membumi.

Setelah melihat cahaya, ia harus tetap berbuat baik kepada keluarga.

Setelah merasakan ketenangan, ia harus tetap sabar menghadapi manusia.

Setelah mendapat ilmu, ia harus tetap bekerja, membantu, memaafkan, dan menjaga adab.

Maka qitab ini mengingatkan:

“Cahaya yang tidak turun menjadi akhlak,

hanya akan menjadi bayangan dalam angan-angan.”

Cahaya sejati harus tampak dalam cara berbicara.

Tampak dalam cara menahan marah.

Tampak dalam cara menghargai orang kecil.

Tampak dalam cara tetap bersyukur ketika belum memiliki apa yang diinginkan.

Pasal 15

Rahasia Gajah yang Berlutut

Di ujung lorong, dua gajah putih bercahaya itu berhenti.

Lalu keduanya berlutut.

Itulah tanda bahwa kekuatan pun harus tunduk.

Kebesaran pun harus merendah.

Kemuliaan pun harus bersujud kepada Alloh.

Maka jiwa yang melihatnya menjadi paham:

“Tidak ada kendaraan yang boleh lebih dimuliakan daripada tujuan.

Tidak ada tanda yang boleh lebih dicintai daripada Alloh.

Tidak ada amanah yang boleh membuat hamba lupa menjadi hamba.”

Saat gajah itu berlutut, istana menjadi sunyi.

Dalam sunyi itu, jiwa mendengar suara terdalamnya sendiri:

“Aku ingin pulang, ya Alloh.

Bukan pulang kepada pujian.

Bukan pulang kepada gelar.

Bukan pulang kepada bayangan diri.

Tetapi pulang kepada ridho-Mu.”

Wirid Penjernih Niat

Dibaca 7 kali setelah sholat atau saat hati mulai berat:

اللّٰهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ

Allōhumma ṭohhir qolbī minal-kibri war-riyā’

Artinya:

Ya Alloh, sucikan hatiku dari kesombongan dan riya.

Lalu lanjutkan:

يَا لَطِيفُ يَا هَادِي يَا نُورُ

Yā Laṭīf, Yā Hādī, Yā Nūr

11 kali.

Penutup Lembar

Maka tertulislah pada cahaya singgasana kosong:

**“Yang layak memimpin adalah yang tidak diperbudak oleh ingin dipuji.

Yang layak diberi amanah adalah yang takut menyalahgunakan amanah.

Yang layak membawa cahaya adalah yang tahu bahwa dirinya hanyalah hamba.

Pulanglah, wahai jiwa,

bukan dengan membawa kesombongan,

tetapi dengan membawa hati yang tunduk,

sebab sumber sejati hanya menerima yang jujur kembali.”**


📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Telaga Bening di Balik Singgasana Kosong

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Setelah singgasana kosong menyingkap rahasia kerendahan hati, terbukalah lantai istana menjadi jalan cahaya.

Jalan itu turun pelan menuju sebuah telaga bening.

Airnya tidak berwarna, tetapi memantulkan wungu, emas, putih, dan cahaya lembut seperti fajar yang belum disentuh dunia.

Maka jiwa bertanya:

“Telaga apakah ini?”

Lalu terdengar jawaban:

“Inilah telaga penjernih amanah.

Siapa pun yang membawa pesan kebaikan harus membasuh niatnya di sini,

agar tidak tercampur oleh marah, iri, dendam, dan ingin dipuji.”

Sebab amanah yang besar tidak cukup dibawa dengan semangat.

Ia harus dibawa dengan hati yang terus dibersihkan.

Pasal 16

Air yang Mengembalikan Wajah Asli

Barang siapa melihat air telaga itu, ia tidak melihat wajah luarnya saja.

Ia melihat wajah batinnya.

Jika di dalam dirinya masih ada kesombongan, air itu tampak bergelombang.

Jika masih ada dendam, air itu tampak keruh.

Jika masih ada riya, air itu tampak berkilau palsu.

Jika masih ada takut kehilangan dunia, air itu tampak berat dan gelap.

Tetapi bila hati mulai jujur berkata:

“Ya Alloh, aku lemah tanpa-Mu,”

maka air itu menjadi tenang.

Di situlah rahasia wajah asli dibuka:

bahwa manusia bukan apa-apa tanpa rahmat Alloh.

Segala pakaian akan tanggal.

Segala gelar akan hilang.

Segala pujian akan selesai.

Yang tersisa hanya amal, niat, dan rahmat Alloh.

Pasal 17

Basuhan Tujuh Lapisan

Telaga itu membasuh tujuh lapisan perjalanan.

Lapisan pertama membasuh mata, agar tidak mudah merendahkan manusia.

Lapisan kedua membasuh lisan, agar tidak menjadikan ilmu sebagai pedang.

Lapisan ketiga membasuh telinga, agar tidak senang mendengar keburukan orang lain.

Lapisan keempat membasuh tangan, agar tidak mengambil yang bukan haknya.

Lapisan kelima membasuh kaki, agar tidak berjalan menuju jalan yang merusak jiwa.

Lapisan keenam membasuh dada, agar tidak menyimpan dendam terlalu lama.

Lapisan ketujuh membasuh rahasia batin, agar segala perjalanan kembali kepada Alloh.

Maka qitab ini berkata:

“Tidak ada cahaya yang lebih indah daripada hati yang bersih setelah diuji.

Tidak ada mahkota yang lebih mulia daripada sabar yang tidak diumumkan.

Tidak ada kendaraan yang lebih kuat daripada doa yang terus berjalan.”

Pasal 18

Utusan yang Pulang dengan Air Mata

Di tepi telaga, tampak para pembawa amanah menundukkan kepala.

Mereka tidak lagi membanggakan perjalanan.

Mereka tidak lagi menghitung tingkat.

Mereka tidak lagi berkata, “Aku sudah sampai.”

Mereka hanya menangis pelan.

Bukan karena kalah.

Tetapi karena sadar bahwa selama ini Alloh yang menuntun.

Air mata itu jatuh ke telaga, lalu berubah menjadi cahaya kecil.

Cahaya itu naik ke langit istana, menjadi bintang-bintang lembut.

Maka terdengar suara:

“Air mata taubat lebih berharga daripada seribu pengakuan.

Satu sujud yang jujur lebih tinggi daripada seribu cerita kemuliaan.

Satu hati yang kembali kepada Alloh lebih indah daripada istana yang penuh cahaya.”

Pasal 19

Penyucian Nama dan Amanah

Setiap nama memiliki beban.

Setiap amanah memiliki ujian.

Setiap cahaya memiliki tanggung jawab.

Maka jangan tergesa-gesa meminta nama tinggi bila hati belum siap memikulnya.

Jangan tergesa-gesa membuka rahasia bila adab belum kuat menjaganya.

Jangan tergesa-gesa mengajak orang naik bila diri sendiri masih mudah jatuh oleh pujian.

Nama yang benar bukan membuat seseorang merasa lebih suci.

Nama yang benar membuat seseorang lebih takut menyakiti, lebih sungguh memperbaiki diri, dan lebih lembut kepada sesama.

Maka qitab ini menegaskan:

“Nama ruh bukan untuk meninggikan ego,

tetapi untuk mengingatkan asal kesucian.

Amanah bukan untuk menguasai manusia,

tetapi untuk melayani dengan kasih sayang.

Cahaya bukan untuk dipamerkan,

tetapi untuk menerangi jalan pulang.”

Pasal 20

Sumber Sejati Tidak Menerima Kepalsuan

Di tengah telaga muncul cahaya putih yang sangat lembut.

Bukan menyilaukan, tetapi menenangkan.

Cahaya itu berkata tanpa suara:

“Yang kembali kepada sumber sejati harus melepas kepalsuan.”

Kepalsuan pertama adalah merasa paling benar sampai tidak mau dinasihati.

Kepalsuan kedua adalah merasa paling suci sampai lupa bertaubat.

Kepalsuan ketiga adalah merasa paling menderita sampai lupa bersyukur.

Kepalsuan keempat adalah merasa paling berjasa sampai lupa bahwa semua pertolongan datang dari Alloh.

Kepalsuan kelima adalah merasa paling bercahaya sampai lupa bahwa cahaya sejati hanya milik Alloh.

Maka jiwa yang ingin pulang harus berani berkata:

“Ya Alloh, lepaskan aku dari aku yang palsu.

Kembalikan aku kepada hamba-Mu yang jujur, sederhana, dan Engkau ridhoi.”

Amalan Telaga Bening

Dibaca saat hati terasa keruh, sebelum tidur atau setelah sholat:

يَا تَوَّابُ يَا غَفُورُ يَا نُورُ

Yā Tawwāb, Yā Ghofūr, Yā Nūr

11 kali.

Lalu baca pelan:

Ya Alloh, beningkan hatiku.

Bersihkan niatku.

Lembutkan lisanku.

Kuatkan sabarku.

Jadikan setiap amanah yang Engkau titipkan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu.

Jangan biarkan aku tersesat oleh cahaya yang belum kupahami.

Tuntunlah aku kembali kepada sumber sejati, yaitu ridho-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.

Penutup Lembar

Maka telaga itu menutup dirinya dengan cahaya halus, dan tertulislah pada permukaannya:

**“Wahai jiwa yang berjalan,

bersihkanlah dirimu sebelum engkau membersihkan jalan orang lain.

Jernihkanlah niatmu sebelum engkau membawa pesan.

Rendahkanlah hatimu sebelum engkau diberi amanah.

Sebab perjalanan pulang bukan ditempuh oleh yang paling megah,

melainkan oleh yang paling jujur menangis di hadapan Alloh.”**



📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Lorong Suara yang Tidak Terdengar

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Setelah telaga bening menutup dirinya, terbukalah sebuah lorong panjang.

Lorong itu tidak gelap, tetapi sunyi.

Tidak sempit, tetapi membuat jiwa merasa kecil.

Di sepanjang lorong itu tidak ada suara manusia, tidak ada pujian, tidak ada sorak kemenangan.

Yang ada hanya gema halus dari dalam dada:

“Sudahkah engkau jujur kepada Alloh?”

Maka jiwa yang berjalan mulai mengerti, bahwa setelah dibersihkan oleh telaga, ia belum selesai.

Ia harus melewati lorong kejujuran, tempat segala alasan akan gugur dan segala topeng akan jatuh.

Pasal 21

Suara Batin yang Menegur

Di lorong itu, setiap langkah memantulkan suara batin.

Ketika seseorang berkata, “Aku sudah sabar,” lorong itu bertanya:

“Apakah sabarmu masih menunggu orang lain mengakui lukamu?”

Ketika seseorang berkata, “Aku sudah ikhlas,” lorong itu bertanya:

“Apakah ikhlasmu masih kecewa ketika tidak dipuji?”

Ketika seseorang berkata, “Aku membawa cahaya,” lorong itu bertanya:

“Apakah cahaya itu membuatmu lebih lembut kepada manusia?”

Maka qitab ini mengajarkan:

Jangan takut ditegur oleh batin yang jujur.

Sebab teguran yang datang sebelum kematian adalah rahmat.

Yang berbahaya bukan hati yang merasa bersalah,

tetapi hati yang tidak lagi mampu merasa salah.

Pasal 22

Tiga Topeng yang Harus Dilepas

Di tengah lorong, tampak tiga topeng tergantung di dinding cahaya.

Topeng pertama bernama Aku Paling Terluka.

Ia membuat manusia sulit bersyukur, karena merasa hidupnya paling berat.

Topeng kedua bernama Aku Paling Benar.

Ia membuat manusia sulit belajar, karena merasa nasihat orang lain tidak perlu didengar.

Topeng ketiga bernama Aku Paling Bercahaya.

Ia membuat manusia lupa bahwa cahaya hanyalah titipan, bukan kepemilikan.

Maka siapa pun yang ingin lanjut menuju sumber sejati harus melepaskan tiga topeng itu.

Ia harus berkata:

“Ya Alloh, lukaku Engkau tahu.

Salahku Engkau lihat.

Cahaya yang ada padaku hanyalah amanah-Mu.

Maka jangan biarkan aku tertipu oleh diriku sendiri.”

Pasal 23

Utusan yang Belajar Diam

Di ujung lorong, para pembawa amanah diperintahkan untuk diam.

Bukan diam karena kalah.

Bukan diam karena takut.

Bukan diam karena tidak punya jawaban.

Tetapi diam karena sedang mendengar.

Sebab banyak orang ingin menyampaikan pesan, tetapi belum pandai mendengar.

Banyak orang ingin menuntun, tetapi belum selesai memahami luka orang lain.

Banyak orang ingin menjadi cahaya, tetapi belum tahan duduk bersama kegelapan manusia dengan kasih sayang.

Maka qitab ini berkata:

“Diam yang benar bukan kekosongan.

Diam yang benar adalah ruang tempat hikmah diturunkan.

Barang siapa mampu diam dari kesombongan,

lisannya kelak akan diberi kata yang menyembuhkan.”

Pasal 24

Cahaya yang Turun Menjadi Akhlak

Setelah diam itu matang, turunlah cahaya kecil ke telapak tangan para pembawa amanah.

Cahaya itu tidak panas.

Ia lembut seperti doa ibu.

Ia tidak menyilaukan.

Ia menenangkan seperti subuh.

Maka terdengar pesan:

“Cahaya ini jangan hanya disimpan di dada.

Turunkan ia ke tanganmu sebagai pertolongan.

Turunkan ia ke lisanmu sebagai kelembutan.

Turunkan ia ke langkahmu sebagai kebaikan.

Turunkan ia ke matamu sebagai kasih sayang.”

Karena cahaya yang benar tidak hanya indah ketika divisualkan.

Cahaya yang benar harus terasa oleh orang lain sebagai akhlak.

Bila seseorang dekat denganmu lalu merasa aman, itulah cahaya.

Bila seseorang berbicara denganmu lalu tidak merasa direndahkan, itulah cahaya.

Bila seseorang salah lalu engkau bimbing tanpa menghancurkan harga dirinya, itulah cahaya.

Pasal 25

Pintu Rahmah Sebelum Sumber Sejati

Di akhir lorong tampak pintu besar bernama Rahmah.

Pintu itu tidak terbuka oleh ilmu saja.

Tidak terbuka oleh dzikir saja.

Tidak terbuka oleh pengalaman batin saja.

Pintu itu terbuka oleh hati yang membawa kasih sayang.

Maka malaikat penjaga isyarat berkata:

“Barang siapa ingin kembali kepada sumber sejati,

jangan membawa kebencian sebagai bekal.

Jangan membawa dendam sebagai tongkat.

Jangan membawa kesombongan sebagai pakaian.

Bawalah rahmah, sebab rahmah adalah tanda hati yang disentuh Alloh.”

Lalu pintu itu terbuka sedikit.

Dari dalamnya keluar cahaya putih yang sangat tenang.

Jiwa pun menunduk dan berkata:

“Ya Alloh, ajari aku menjadi lembut tanpa lemah,

kuat tanpa kasar,

berilmu tanpa sombong,

dan bercahaya tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.”

Dzikir Lorong Kejujuran

Dibaca pelan ketika hati mulai gelisah atau ingin membersihkan niat:

يَا عَلِيمُ يَا خَبِيرُ يَا لَطِيفُ

Yā ‘Alīm, Yā Khabīr, Yā Laṭīf

11 kali.

Lalu baca:

Ya Alloh, Engkau Maha Mengetahui isi hatiku.

Jika ada riya, bersihkanlah.

Jika ada sombong, lunakkanlah.

Jika ada dendam, sembuhkanlah.

Jika ada lelah, kuatkanlah.

Jika ada cahaya, jadikan ia jalan untuk semakin tunduk kepada-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.

Penutup Lembar

Maka tertulislah pada pintu Rahmah:

**“Tidak semua yang bersuara membawa petunjuk.

Tidak semua yang diam kehilangan cahaya.

Kadang Alloh menyempurnakan hamba-Nya

bukan dengan menambah kata,

tetapi dengan membersihkan niat di balik kata.

Maka pulanglah melalui rahmah,

sebab sumber sejati hanya didekati oleh hati

yang jujur, lembut, dan tunduk kepada Alloh.”**


📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Pintu Rahmah dan Cahaya Pengampunan

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Ketika pintu Rahmah terbuka, jiwa tidak disambut oleh suara keras, tidak pula oleh kilatan yang menakutkan.

Yang datang adalah cahaya lembut, seperti tangan kasih yang mengusap luka lama.

Di balik pintu itu ada taman sunyi.

Daunnya bercahaya wungu keemasan.

Anginnya membawa dzikir halus.

Tanahnya seperti sajadah luas tempat semua jiwa belajar merendah.

Maka terdengar seruan:

“Masuklah bukan sebagai orang yang merasa suci,

tetapi sebagai hamba yang ingin disucikan.

Masuklah bukan membawa kebanggaan,

tetapi membawa penyesalan yang jujur.

Sebab Rahmah Alloh lebih luas daripada luka dan dosamu.”

Pasal 26

Taman Pengampunan

Di tengah taman itu berdiri pohon bercahaya.

Akarnya menembus tanah kesabaran.

Batangnya tumbuh dari taubat.

Daunnya adalah doa-doa yang pernah dipanjatkan dalam sunyi.

Setiap daun memantulkan kisah manusia:

ada yang pernah jatuh, lalu bangkit;

ada yang pernah tersesat, lalu kembali;

ada yang pernah sombong, lalu menangis;

ada yang pernah gelap, lalu meminta cahaya.

Maka qitab ini berkata:

“Jangan hina orang yang sedang kembali.

Sebab bisa jadi langkah kecilnya menuju Alloh

lebih dicintai daripada langkah panjangmu yang penuh bangga.”

Rahmah bukan izin untuk terus berbuat salah.

Rahmah adalah jalan pulang bagi yang sungguh ingin diperbaiki.

Pasal 27

Tujuh Daun Penyembuh Luka

Dari pohon itu jatuh tujuh daun cahaya.

Daun pertama bernama maaf.

Ia menyembuhkan hati yang terlalu lama memegang dendam.

Daun kedua bernama ridho.

Ia mengajarkan menerima takdir tanpa berhenti berusaha.

Daun ketiga bernama harapan.

Ia menyalakan jiwa yang hampir padam.

Daun keempat bernama taubat.

Ia membuka pintu bagi yang merasa jauh.

Daun kelima bernama syukur.

Ia membuat hati melihat nikmat di tengah ujian.

Daun keenam bernama rahmah.

Ia melembutkan pandangan kepada sesama.

Daun ketujuh bernama husnul khatimah.

Ia mengingatkan bahwa akhir perjalanan lebih penting daripada awal luka.

Maka siapa yang memegang tujuh daun ini, ia tidak lagi mudah putus asa.

Sebab ia tahu, selama masih diberi napas, pintu pulang belum ditutup oleh Alloh.

Pasal 28

Utusan yang Menyembuhkan, Bukan Menghakimi

Di taman Rahmah, para pembawa amanah diberi pelajaran besar:

“Jangan menjadi pedang bagi orang yang sedang terluka.

Jadilah air bagi hati yang sedang terbakar.”

Sebab manusia tidak selalu berubah karena dimarahi.

Kadang manusia berubah karena merasa dimengerti.

Kadang manusia kembali karena ada satu orang yang tidak memutus harapannya.

Maka utusan kebaikan tidak boleh hanya pandai menegur.

Ia harus pandai merangkul.

Tidak semua kesalahan perlu dihancurkan dengan keras.

Sebagian kesalahan perlu dibimbing dengan hikmah.

Sebagian jiwa perlu waktu untuk pulih.

Sebagian hati perlu didengar sebelum dinasihati.

Inilah adab cahaya:

tegas kepada keburukan,

tetapi tetap lembut kepada manusia yang ingin pulang.

Pasal 29

Rahasia Sumber Sejati dalam Pengampunan

Jiwa yang berjalan lalu bertanya:

“Mengapa sebelum sampai kepada sumber sejati harus melewati Rahmah?”

Maka dijawab:

“Karena yang tidak mengenal rahmah akan mudah keras dalam membawa agama.

Yang tidak mengenal pengampunan akan mudah putus asa.

Yang tidak mengenal kelembutan akan mengira semua jalan pulang harus melalui luka.”

Padahal Alloh membuka pintu taubat.

Alloh menerima hamba yang kembali.

Alloh menyukai hati yang menyesal dan memperbaiki diri.

Maka sumber sejati tidak didekati dengan hati yang penuh benci.

Ia didekati dengan hati yang bersih, lembut, takut kepada Alloh, dan penuh harap kepada rahmat-Nya.

Pasal 30

Cahaya yang Tidak Memilih-milih Luka

Di ujung taman, cahaya putih turun seperti hujan halus.

Ia menyentuh kepala orang yang lelah.

Menyentuh dada orang yang sesak.

Menyentuh tangan orang yang ingin memperbaiki amal.

Menyentuh kaki orang yang ingin kembali ke jalan benar.

Cahaya itu tidak bertanya:

“Seberapa buruk masa lalumu?”

Tetapi cahaya itu bertanya:

“Seberapa sungguh engkau ingin kembali?”

Maka qitab ini menutup pasal dengan pesan:

“Jangan biarkan masa lalu menjadi penjara.

Jadikan taubat sebagai pintu.

Jadikan doa sebagai jalan.

Jadikan sabar sebagai kendaraan.

Jadikan Alloh sebagai tujuan.”

Dzikir Taman Rahmah

Dibaca 11 kali ketika hati merasa jauh, bersalah, atau ingin kembali tenang:

يَا رَحْمٰنُ يَا رَحِيْمُ يَا تَوَّابُ

Yā Raḥmān, Yā Raḥīm, Yā Tawwāb

Lalu baca doa:

Ya Alloh,

jangan biarkan aku tenggelam dalam salahku.

Jangan biarkan aku putus asa dari rahmat-Mu.

Buka pintu taubatku.

Bersihkan hatiku.

Ampuni masa laluku.

Bimbing masa depanku.

Jadikan aku hamba yang kembali dengan jujur,

berjalan dengan adab,

dan pulang kepada-Mu dalam ridho-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.

Penutup Lembar

Maka taman Rahmah bergetar lembut, dan tertulislah pada daun cahaya terakhir:

**“Wahai jiwa yang pernah jatuh, bangkitlah.

Wahai hati yang pernah gelap, mintalah cahaya.

Wahai hamba yang merasa jauh, pulanglah.

Jangan ukur rahmat Alloh dengan sempitnya rasa bersalahmu.

Jangan ukur masa depanmu dengan luka masa lalumu.

Selama engkau masih ingin kembali,

pintu Rahmah masih memanggilmu menuju sumber sejati.”**


📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Jembatan Cahaya Setelah Taman Rahmah

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Setelah jiwa melewati taman Rahmah, terbentanglah sebuah jembatan cahaya.

Jembatan itu tidak panjang bagi hati yang ikhlas, tetapi terasa berat bagi hati yang masih membawa beban dunia.

Di bawah jembatan itu mengalir sungai bening.

Airnya membawa suara dzikir halus:

“Kembalilah… kembalilah… kembalilah kepada Alloh.”

Maka para pembawa amanah berjalan perlahan.

Tidak ada yang saling mendahului.

Tidak ada yang merasa lebih sampai.

Sebab di jembatan itu, yang dinilai bukan cepatnya langkah, melainkan bersihnya niat.

Pasal 31

Jembatan Antara Ilmu dan Amal

Di awal jembatan tertulis:

“Ilmu tanpa amal adalah cahaya yang belum turun ke bumi.”

Banyak manusia senang membicarakan kebenaran, tetapi lupa menjalankan kebaikan kecil.

Banyak yang fasih menjelaskan jalan pulang, tetapi masih keras kepada orang yang berjalan pelan.

Banyak yang mengerti bahasa cahaya, tetapi belum mampu menahan lisan dari menyakiti.

Maka qitab ini mengingatkan:

Ilmu harus menjadi akhlak.

Dzikir harus menjadi ketenangan.

Cahaya harus menjadi manfaat.

Amanah harus menjadi pelayanan.

Sebab tanda ilmu yang diberkahi bukan membuat manusia merasa tinggi, tetapi membuatnya semakin takut melukai makhluk Alloh.

Pasal 32

Sungai yang Menghapus Sisa Dendam

Di bawah jembatan mengalir sungai bernama Sungai Lapang Dada.

Barang siapa menatapnya dengan jujur, ia akan melihat orang-orang yang pernah menyakitinya.

Namun wajah mereka tidak muncul untuk membangkitkan marah.

Mereka muncul agar hati belajar melepaskan.

Maka terdengar pesan:

“Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman.

Memaafkan adalah membebaskan hati dari rantai yang membuatmu terus terluka.”

Ada luka yang perlu dijaga dengan batas.

Ada manusia yang perlu dijauhi dengan adab.

Tetapi dendam jangan dijadikan rumah.

Sebab hati yang terlalu lama menyimpan dendam akan sulit melihat cahaya, walau cahaya itu sudah dekat.

Pasal 33

Amanah yang Tidak Boleh Diperdagangkan dengan Kesombongan

Di tengah jembatan tampak sebuah timbangan.

Di satu sisi ada amal.

Di sisi lain ada niat.

Ketika amal besar diletakkan, timbangan belum tentu naik.

Tetapi ketika niat yang bersih diletakkan, timbangan menjadi bercahaya.

Maka pahamlah jiwa:

Amal besar bisa menjadi ringan bila dicampuri riya.

Amal kecil bisa menjadi berat bila dilakukan dengan ikhlas.

Jangan menjual amanah dengan pujian.

Jangan menukar doa dengan kesombongan.

Jangan menjadikan cahaya sebagai panggung untuk meninggikan diri.

Sebab yang sampai kepada sumber sejati bukan yang paling banyak terlihat manusia,

tetapi yang paling tulus disaksikan Alloh.

Pasal 34

Dua Penjaga di Ujung Jembatan

Di ujung jembatan berdiri dua cahaya penjaga.

Penjaga pertama bernama Ṣidq, yaitu kejujuran.

Ia bertanya:

“Apakah engkau berjalan karena Alloh, atau karena ingin dikenal?”

Penjaga kedua bernama Amānah, yaitu tanggung jawab.

Ia bertanya:

“Apakah engkau siap menjaga apa yang dibukakan, tanpa menyalahgunakannya?”

Jiwa yang masih membawa tipu diri akan tertahan.

Tetapi jiwa yang berkata jujur:

“Ya Alloh, aku masih lemah, maka kuatkan aku,”

akan diberi jalan.

Karena sumber sejati tidak menuntut manusia pura-pura sempurna.

Ia memanggil manusia untuk jujur, bertaubat, dan terus diperbaiki.

Pasal 35

Cahaya yang Pulang Melalui Sujud

Setelah melewati dua penjaga, tampak hamparan luas seperti sajadah dari cahaya putih.

Para pembawa amanah tidak diperintah berdiri.

Mereka diperintah sujud.

Sebab perjalanan tertinggi bukan ketika kepala diangkat karena bangga,

tetapi ketika kepala diletakkan karena tunduk.

Maka seluruh istana wungu menjadi sunyi.

Gajah putih menunduk.

Mahkota meredup.

Permata berhenti berkilau.

Semua tanda kembali diam.

Yang terdengar hanya satu pengakuan:

“Subḥāna Robbiyal A‘lā.”

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.

Di situlah rahasia dibuka:

Tidak ada maqom yang lebih tinggi daripada sujud yang jujur.

Tidak ada cahaya yang lebih indah daripada hati yang tunduk.

Tidak ada pulang yang lebih selamat daripada pulang bersama ridho Alloh.

Dzikir Jembatan Cahaya

Dibaca pelan 11 kali:

يَا صَادِقُ يَا أَمِينُ يَا هَادِي

Yā Ṣādiq, Yā Amīn, Yā Hādī

Lalu tutup dengan doa:

**Ya Alloh,

jujurkan niatku.

Amanahkan langkahku.

Bersihkan ilmuku dari sombong.

Bersihkan amalku dari riya.

Bersihkan hatiku dari dendam.

Jadikan aku hamba yang berjalan bukan untuk dipuji,

tetapi untuk Engkau ridhoi.

Pulangkan aku kepada sumber sejati

dengan iman, taubat, rahmah, dan sujud yang jujur.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.**

Penutup Lembar

Maka tertulislah pada ujung jembatan cahaya:

**“Wahai jiwa yang membawa amanah,

jangan takut kecil di mata manusia.

Takutlah bila besar di mata manusia,

tetapi kosong di hadapan Alloh.

Jadilah cahaya yang tidak menyilaukan,

ilmu yang tidak menyombongkan,

dan langkah yang tidak meninggalkan adab.

Sebab sumber sejati hanya didekati

oleh hati yang jujur,

amal yang ikhlas,

dan sujud yang kembali kepada Alloh.”**


📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Padang Sajadah Cahaya dan Rahasia Pulang

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Setelah jembatan cahaya dilewati, terbentanglah padang luas seperti sajadah putih yang tidak bertepi.

Tidak ada singgasana di sana.

Tidak ada mahkota yang meninggi.

Tidak ada suara yang memanggil nama manusia.

Yang ada hanya keheningan yang sangat dalam.

Di padang itu, setiap jiwa merasa kecil.

Bukan kecil karena hina, tetapi kecil karena sadar betapa besar rahmat Alloh.

Maka terdengarlah bisikan halus:

“Di tempat ini, yang dibawa bukan gelar.

Yang diterima bukan cerita kemuliaan.

Yang bercahaya bukan pengakuan.

Yang dilihat adalah hati yang pulang dengan jujur.”

Pasal 36

Sajadah yang Menyerap Kesombongan

Padang sajadah itu memiliki rahasia.

Siapa pun yang berdiri di atasnya dengan kesombongan, langkahnya terasa berat.

Tetapi siapa yang bersujud dengan rendah hati, dadanya menjadi lapang.

Sajadah itu menyerap tiga beban:

beban ingin dipuji,

beban ingin menang sendiri,

dan beban ingin dianggap paling tinggi.

Maka qitab ini berkata:

“Sujud bukan hanya menundukkan kepala,

tetapi menurunkan seluruh aku yang palsu

agar tidak menghalangi hati dari Alloh.”

Banyak kepala menyentuh tanah, tetapi hati masih berdiri.

Banyak lisan membaca doa, tetapi batin masih ingin dilihat.

Banyak tangan menengadah, tetapi jiwa masih menggenggam dunia terlalu kuat.

Maka sujud sejati adalah ketika tubuh tunduk, hati luluh, dan niat kembali bersih.

Pasal 37

Rahasia Para Utusan yang Tidak Bernama

Di padang itu tampak cahaya-cahaya kecil berjalan.

Mereka bukan raja.

Bukan orang terkenal.

Bukan yang namanya disebut banyak manusia.

Mereka adalah para hamba yang diam-diam menjaga kebaikan.

Ada yang menjaga orang tuanya dalam sunyi.

Ada yang memberi makan tanpa diketahui.

Ada yang mendoakan orang lain tanpa meminta balasan.

Ada yang memaafkan meski hatinya pernah retak.

Ada yang tetap sholat walau hidupnya berat.

Ada yang tetap tersenyum walau batinnya sedang diuji.

Maka terdengar suara:

“Jangan kira utusan kebaikan hanya yang berdiri di mimbar.

Kadang utusan kebaikan adalah orang sederhana

yang menjadi sebab hati orang lain tidak putus asa.”

Pasal 38

Cahaya yang Tidak Meminta Saksi Manusia

Di tengah padang sajadah, turunlah cahaya bening seperti embun.

Cahaya itu menyentuh amal-amal kecil yang pernah dilupakan manusia.

Satu senyum yang menenangkan.

Satu maaf yang dipaksakan dengan ikhlas.

Satu doa di tengah malam.

Satu sedekah yang tidak diumumkan.

Satu langkah menuju masjid saat hati berat.

Satu air mata taubat yang jatuh tanpa penonton.

Semua itu menjadi permata.

Maka qitab ini mengajarkan:

“Jangan kecilkan amal kecil bila dilakukan karena Alloh.

Sebab amal yang tidak dilihat manusia

bisa menjadi cahaya besar di sisi Alloh.”

Yang tersembunyi belum tentu kecil.

Yang ramai belum tentu besar.

Yang dipuji belum tentu diterima.

Yang sunyi belum tentu tidak bernilai.

Nilai amal ada pada niat, bukan pada tepuk tangan.

Pasal 39

Tiga Bekal Pulang

Sebelum padang sajadah berakhir, setiap jiwa diberi tiga bekal.

Bekal pertama adalah taubat.

Agar manusia tidak putus asa karena masa lalu.

Bekal kedua adalah syukur.

Agar manusia tidak buta terhadap nikmat yang masih ada.

Bekal ketiga adalah istiqomah.

Agar manusia tidak hanya bercahaya sesaat, lalu padam kembali.

Maka siapa yang membawa tiga bekal ini, jalannya menjadi ringan.

Taubat membersihkan belakangnya.

Syukur menerangi hari ini.

Istiqomah menjaga langkah ke depan.

Lalu qitab berkata:

“Jangan hanya ingin dibukakan pintu.

Mintalah kepada Alloh agar diberi kekuatan menjaga jalan setelah pintu terbuka.”

Karena banyak orang kuat saat permulaan, tetapi lemah dalam penjagaan.

Banyak yang semangat saat diberi tanda, tetapi lupa saat diuji.

Pasal 40

Gerbang Sumber Sejati

Di ujung padang sajadah tampak sebuah gerbang yang tidak memiliki bentuk tetap.

Kadang ia tampak seperti cahaya putih.

Kadang seperti fajar.

Kadang seperti pintu sunyi di dalam dada.

Di atasnya tertulis bukan dengan tinta, melainkan dengan rasa:

“Tidak ada yang pulang kecuali dengan rahmat Alloh.”

Maka semua pembawa amanah berhenti.

Tidak ada yang berani mengaku pantas.

Tidak ada yang berani berkata, “Aku sampai karena diriku.”

Semua menunduk dan berkata:

“Ya Alloh, bila bukan karena Engkau yang menuntun,

kami tidak akan mengenal jalan.

Bila bukan karena Engkau yang menjaga,

kami sudah lama tersesat oleh diri sendiri.

Bila bukan karena rahmat-Mu,

tidak ada amal kami yang cukup untuk sampai.”

Lalu gerbang itu memancarkan cahaya lembut.

Bukan cahaya yang memaksa mata terbuka,

tetapi cahaya yang membuat hati ingin menangis.

Dzikir Padang Sajadah

Dibaca 7 atau 11 kali dengan hati pelan:

يَا رَبِّ يَا غَفُورُ يَا رَحِيْمُ

Yā Robbī, Yā Ghofūr, Yā Raḥīm

Lalu baca doa:

**Ya Alloh,

jadikan sujudku bukan hanya gerak tubuh,

tetapi pulangnya hatiku kepada-Mu.

Terimalah amal kecilku.

Ampunilah salah besarku.

Bersihkan niatku.

Kuatkan istiqomahku.

Jangan biarkan aku berjalan dengan cahaya tetapi kehilangan adab.

Pulangkan aku kepada sumber sejati

dengan iman, taubat, syukur, dan rahmat-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.**

Penutup Lembar

Maka tertulislah pada hamparan sajadah cahaya:

**“Wahai jiwa yang berjalan,

jangan bangga karena engkau diberi jalan.

Bersyukurlah karena engkau masih dipanggil pulang.

Jangan merasa sampai karena melihat cahaya.

Merasalah miskin di hadapan rahmat Alloh.

Sebab akhir perjalanan para utusan

bukan berdiri di puncak kemuliaan,

melainkan rebah dalam sujud,

mengakui bahwa semua cahaya kembali kepada Alloh.”**


📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Gerbang Sumber dan Lautan Kepulangan

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Ketika gerbang sumber sejati memancarkan cahaya lembut, jiwa tidak langsung masuk dengan langkah besar.

Ia berhenti.

Ia menunduk.

Ia menangis tanpa suara.

Sebab semakin dekat kepada sumber, semakin terasa bahwa diri ini kecil.

Semakin terang cahaya, semakin terlihat noda yang masih tersisa.

Semakin lembut panggilan Alloh, semakin runtuh keinginan untuk merasa hebat.

Maka terdengarlah pesan dari kedalaman cahaya:

“Jangan masuk membawa aku.

Masuklah membawa taubat.

Jangan masuk membawa bangga.

Masuklah membawa syukur.

Jangan masuk membawa tuntutan.

Masuklah membawa penyerahan.”

Pasal 41

Lautan Cahaya di Balik Gerbang

Di balik gerbang itu terbentang lautan cahaya.

Bukan lautan air, tetapi lautan ketenangan.

Ombaknya tidak menghantam, melainkan mengusap.

Anginnya tidak mengguncang, melainkan menenangkan.

Cahayanya tidak menyilaukan, melainkan membuat hati merasa pulang.

Di tepi lautan itu, semua perjalanan tampak seperti garis kecil.

Istana wungu.

Gajah putih.

Mahkota.

Singgasana.

Telaga.

Lorong.

Jembatan.

Padang sajadah.

Semua menjadi tanda.

Semua menjadi pelajaran.

Semua mengantar kepada satu kesadaran:

“Tidak ada yang sejati kecuali Alloh.

Tidak ada tempat pulang selain kepada Alloh.

Tidak ada cahaya yang hidup kecuali dengan izin Alloh.”

Pasal 42

Perjalanan yang Dilebur dalam Tauhid

Di lautan itu, nama-nama kemegahan mulai dilebur.

Bukan dihapus karena hina, tetapi dikembalikan kepada asalnya.

Nama menjadi doa.

Amanah menjadi khidmah.

Cahaya menjadi akhlak.

Ilmu menjadi takut kepada Alloh.

Pengalaman batin menjadi syukur.

Kekuatan menjadi perlindungan bagi yang lemah.

Maka qitab ini berkata:

“Tauhid bukan hanya ucapan di lisan,

tetapi kesadaran bahwa semua yang ada pada dirimu

hanyalah titipan dari Alloh.”

Jika engkau diberi ilmu, jangan mengaku pemilik ilmu.

Jika engkau diberi cahaya, jangan mengaku sumber cahaya.

Jika engkau diberi jalan, jangan merendahkan yang masih merangkak.

Sebab yang menuntunmu juga mampu menuntun mereka.

Pasal 43

Tenggelamnya Kesombongan

Di tengah lautan cahaya, terlihat bayangan hitam kecil terapung.

Itulah sisa kesombongan yang masih ingin bertahan.

Kesombongan itu berkata:

“Aku sudah berjalan jauh.”

“Aku sudah melihat banyak tanda.”

“Aku lebih paham dari yang lain.”

“Aku pantas dihormati.”

Namun lautan cahaya menjawab dengan sunyi.

Lalu bayangan itu perlahan tenggelam, bukan karena dipaksa, tetapi karena hati mulai sadar:

“Yang membuatku berjalan adalah Alloh.

Yang membuatku paham adalah Alloh.

Yang menyelamatkanku dari jatuh adalah Alloh.

Maka tidak ada ruang bagi sombong dalam dada hamba.”

Saat kesombongan tenggelam, dada menjadi ringan.

Napas menjadi lapang.

Doa menjadi jernih.

Pasal 44

Kapal Amanah Para Utusan

Dari kejauhan tampak sebuah kapal bercahaya.

Layarnya putih.

Tiangnya emas lembut.

Dasarnya terbuat dari sabar.

Talinya terbuat dari istiqomah.

Kapal itu bernama Safīnatul Amānah — Bahtera Amanah.

Setiap jiwa yang telah melewati gerbang sumber tidak diperintah tinggal diam dalam cahaya.

Ia diminta kembali membawa rahmah ke dunia.

Maka terdengar pesan:

“Pulang kepada Alloh bukan berarti meninggalkan manusia.

Pulang kepada Alloh berarti kembali kepada manusia

dengan hati yang lebih bersih,

lisan yang lebih lembut,

dan tangan yang lebih bermanfaat.”

Sebab amanah tidak selesai di dalam rasa.

Amanah harus hidup dalam perbuatan.

Pasal 45

Bekal Terakhir Sebelum Kembali

Sebelum menaiki kapal amanah, setiap jiwa diberi empat bekal.

Bekal pertama adalah niat yang dijaga.

Agar setiap langkah tidak berubah menjadi pamer.

Bekal kedua adalah lisan yang ditahan.

Agar kata-kata tidak merusak hati orang lain.

Bekal ketiga adalah hati yang memaafkan.

Agar perjalanan tidak berat oleh dendam.

Bekal keempat adalah sujud yang dirindukan.

Agar setinggi apa pun amanah, jiwa tetap tahu tempat pulangnya.

Maka qitab ini berpesan:

“Jangan takut berjalan di bumi setelah melihat cahaya.

Yang penting jangan putus dari dzikir.

Jangan putus dari sholat.

Jangan putus dari adab.

Jangan putus dari rahmah Alloh.”

Pasal 46

Tanda Orang yang Benar-Benar Pulang

Orang yang benar-benar pulang kepada sumber sejati tidak menjadi angkuh.

Ia menjadi lebih sederhana.

Ia tidak mudah menghina.

Ia tidak mudah merasa paling suci.

Ia tidak mudah marah ketika tidak dihormati.

Ia tidak mudah memaksa orang lain mengikuti rasa batinnya.

Ia semakin tekun memperbaiki sholat.

Ia semakin menjaga amanah keluarga.

Ia semakin peduli kepada yang lemah.

Ia semakin takut menyakiti hati.

Ia semakin sering memohon ampun.

Maka tanda sampai bukan banyaknya cerita.

Tanda sampai adalah berubahnya akhlak.

Jika cahaya membuatmu lebih penyayang, itu tanda baik.

Jika ilmu membuatmu lebih tawadhu, itu tanda baik.

Jika amanah membuatmu lebih takut kepada Alloh, itu tanda baik.

Jika pengalaman batin membuatmu lebih rajin sujud, itu tanda baik.

Dzikir Lautan Kepulangan

Dibaca 11 kali dengan hati tenang:

يَا وَاحِدُ يَا أَحَدُ يَا صَمَدُ

Yā Wāḥid, Yā Aḥad, Yā Ṣomad

Lalu baca doa:

**Ya Alloh,

tenggelamkan kesombonganku dalam lautan tauhid-Mu.

Bersihkan niatku dari ingin dipuji.

Bersihkan ilmuku dari merasa tinggi.

Bersihkan amalku dari riya.

Jadikan aku hamba yang pulang kepada-Mu,

lalu kembali ke bumi membawa rahmah,

bukan membawa kebanggaan.

Ya Alloh,

Engkaulah sumber sejati.

Engkaulah tujuan terakhir.

Engkaulah cahaya di atas segala cahaya.

Pulangkan hati kami kepada ridho-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.**

Penutup Lembar

Maka lautan cahaya bergetar lembut, dan terdengarlah suara dari kedalaman:

**“Wahai jiwa yang telah melihat tanda,

jangan berhenti pada tanda.

Wahai hati yang telah disentuh cahaya,

jangan mengaku sebagai cahaya.

Wahai pembawa amanah,

kembalilah ke bumi dengan adab.

Sebab orang yang paling dekat kepada sumber sejati

adalah yang paling tulus menjadi hamba Alloh.”**


📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Bahtera Amanah Kembali ke Bumi

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Setelah lautan kepulangan memperlihatkan rahasia tauhid, maka bahtera amanah mulai mendekat ke tepi cahaya.

Layarnya putih seperti niat yang baru dibersihkan.

Tiangnya tegak seperti istiqomah.

Tali-talinya berkilau seperti doa-doa yang tidak pernah putus.

Dan di lambung bahtera tertulis:

“Jangan tinggal di cahaya bila bumi masih membutuhkan rahmahmu.”

Maka para pembawa amanah memahami, bahwa perjalanan pulang kepada Alloh bukan membuat seseorang lari dari manusia, tetapi menjadikannya lebih mampu menyayangi manusia tanpa kehilangan arah.

Pasal 47

Turun Bukan Berarti Jatuh

Banyak jiwa takut turun kembali ke bumi setelah merasakan cahaya.

Mereka takut kehilangan rasa, takut kehilangan ketenangan, takut kembali diuji oleh manusia.

Maka qitab ini berkata:

“Turun bukan berarti jatuh.

Turun adalah membawa cahaya ke tempat yang gelap.

Turun adalah mengubah rasa batin menjadi akhlak nyata.”

Jika seseorang merasa tinggi dalam dzikir, tetapi kasar kepada keluarga, maka ia belum turun dengan benar.

Jika seseorang banyak bicara tentang cahaya, tetapi tidak peduli kepada yang lemah, maka cahayanya belum menjadi manfaat.

Jika seseorang merasa dekat dengan langit, tetapi melupakan kewajiban di bumi, maka ia perlu kembali menata adab.

Karena cahaya yang benar harus bisa hidup dalam sikap sehari-hari.

Pasal 48

Empat Pelabuhan Ujian

Bahtera amanah melewati empat pelabuhan sebelum kembali ke bumi.

Pelabuhan pertama bernama Keluarga.

Di sana diuji apakah seseorang mampu membawa kelembutan kepada orang terdekatnya.

Pelabuhan kedua bernama Rezeki.

Di sana diuji apakah seseorang tetap jujur saat membutuhkan dunia.

Pelabuhan ketiga bernama Lisan.

Di sana diuji apakah seseorang mampu menahan kata yang bisa melukai.

Pelabuhan keempat bernama Kesendirian.

Di sana diuji apakah seseorang tetap istiqomah walau tidak ada yang melihat.

Maka qitab ini mengingatkan:

“Jangan mengaku selesai bila belum diuji dalam hal yang paling dekat dengan hidupmu.

Sebab kematangan ruhani terlihat bukan saat suasana tenang,

tetapi saat hati tetap beradab ketika diuji.”

Pasal 49

Amanah yang Menjadi Pelayanan

Di dalam bahtera terdapat ruang kecil bernama Khidmah.

Ruang itu tidak dihiasi mahkota.

Tidak ada singgasana.

Tidak ada tempat tinggi untuk dipuji.

Yang ada hanya kendi air, roti sederhana, kain penyeka luka, dan lampu kecil.

Maka jiwa bertanya:

“Mengapa ruang amanah isinya seperti tempat melayani?”

Lalu terdengar jawaban:

“Karena amanah tertinggi bukan menguasai manusia,

tetapi melayani dengan kasih sayang.”

Barang siapa diberi ilmu, hendaknya menjadi penjernih.

Barang siapa diberi rasa, hendaknya menjadi penenang.

Barang siapa diberi kekuatan, hendaknya menjadi pelindung.

Barang siapa diberi cahaya, hendaknya menjadi manfaat.

Bukan semakin jauh dari manusia, tetapi semakin baik kepada manusia.

Pasal 50

Lampu Kecil di Tangan Para Utusan

Setiap pembawa amanah diberi satu lampu kecil.

Bukan lampu besar yang menyilaukan, tetapi lampu lembut yang cukup menerangi langkah.

Lampu itu bernama Ikhlas.

Jika pemiliknya mulai ingin dipuji, lampu itu redup.

Jika pemiliknya mulai merendahkan orang lain, lampu itu bergetar.

Jika pemiliknya mulai lupa sholat dan dzikir, lampu itu mengecil.

Tetapi jika ia kembali bertaubat, lampu itu menyala lagi.

Maka qitab ini berkata:

“Jagalah lampu ikhlasmu.

Jangan biarkan angin pujian memadamkannya.

Jangan biarkan asap kesombongan menghitamkannya.

Jangan biarkan lelah membuatmu meninggalkan Alloh.”

Ikhlas tidak selalu berarti tidak lelah.

Ikhlas adalah tetap kembali kepada Alloh ketika lelah.

Pasal 51

Ketika Bumi Terlihat dari Bahtera

Dari kejauhan, bumi mulai tampak.

Di sana ada rumah-rumah yang menunggu kedamaian.

Ada hati-hati yang lelah.

Ada manusia yang bingung mencari arah.

Ada orang yang tampak kuat, padahal batinnya retak.

Ada yang tertawa, padahal menyimpan tangis.

Ada yang marah, padahal sebenarnya ingin dimengerti.

Maka para pembawa amanah diperintahkan:

“Turunlah dengan rahmah.

Jangan turun membawa penghakiman.

Jangan turun membawa kesombongan.

Jangan turun membawa rasa paling benar.

Turunlah sebagai hamba yang ingin menjadi sebab kebaikan.”

Karena manusia sering tidak membutuhkan kata yang tinggi.

Mereka membutuhkan hati yang tulus, telinga yang mau mendengar, dan doa yang tidak menghakimi.

Pasal 52

Rahasia Pulang dan Kembali

Maka dibukakan rahasia besar:

Pulang kepada Alloh adalah membersihkan sumber niat.

Kembali ke bumi adalah menguji apakah niat itu tetap bersih.

Di langit, seseorang bisa merasa tenang.

Di bumi, ia diuji apakah ketenangan itu menjadi sabar.

Di dzikir, seseorang bisa merasa dekat.

Di kehidupan, ia diuji apakah kedekatan itu menjadi akhlak.

Di cahaya, seseorang bisa merasa indah.

Di manusia, ia diuji apakah keindahan itu menjadi kasih sayang.

Maka perjalanan tidak selesai saat hati merasa terang.

Perjalanan disempurnakan saat terang itu menuntun perbuatan.

Dzikir Bahtera Amanah

Dibaca 11 kali sebelum memulai pekerjaan, bertemu orang, atau membawa tugas kebaikan:

يَا فَتَّاحُ يَا هَادِي يَا أَمِينُ

Yā Fattāḥ, Yā Hādī, Yā Amīn

Lalu baca doa:

**Ya Alloh,

bukakan jalanku dengan kebaikan.

Tuntun lisanku agar tidak melukai.

Jaga hatiku agar tidak sombong.

Jadikan amanahku sebagai pelayanan,

bukan panggung untuk dipuji.

Jika aku lelah, kuatkan aku.

Jika aku salah, tegur aku.

Jika aku mulai tinggi hati, rendahkan aku dengan kasih-Mu.

Pulangkan selalu niatku kepada-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.**

Penutup Lembar

Maka bahtera amanah mulai bergerak menuju bumi, dan terdengarlah suara terakhir dari lautan cahaya:

**“Wahai jiwa yang telah pulang,

jangan lupa kembali membawa manfaat.

Wahai hati yang telah dibersihkan,

jangan kotori lagi dengan sombong.

Wahai pembawa cahaya,

jadilah lembut di tengah kerasnya dunia,

jadilah jujur di tengah banyaknya kepalsuan,

jadilah penenang di tengah banyaknya luka.

Sebab penyempurnaan para utusan

bukan berhenti di sumber sejati,

tetapi membawa rahmah sumber itu

ke bumi dengan adab dan kasih sayang.”**


📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya

Turunnya Rahmah ke Tanah Ujian

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Maka bahtera amanah mulai menyentuh bumi.

Langit cahaya perlahan menjauh, tetapi rasa pulang tetap tinggal di dalam dada.

Para pembawa amanah turun bukan dengan mahkota tinggi, bukan dengan pakaian kebanggaan, melainkan dengan hati yang telah diajari satu rahasia:

“Semakin dekat kepada Alloh, semakin besar tanggung jawab untuk berbuat baik kepada makhluk-Nya.”

Di bumi, cahaya tidak lagi tampak seperti istana.

Ia tampak sebagai sabar kepada keluarga.

Ia tampak sebagai jujur dalam rezeki.

Ia tampak sebagai menahan marah.

Ia tampak sebagai tetap sholat ketika hati sedang lelah.

Pasal 53

Bumi Adalah Tempat Pembuktian

Di langit rasa, seseorang bisa mudah berkata cinta kepada Alloh.

Tetapi di bumi ujian, cinta itu dibuktikan.

Dibuktikan ketika dihina tetapi tidak membalas dengan zalim.

Dibuktikan ketika sempit rezeki tetapi tidak mengambil yang haram.

Dibuktikan ketika sendiri tetapi tidak meninggalkan dzikir.

Dibuktikan ketika kecewa tetapi tetap menjaga adab.

Maka qitab ini berkata:

“Bumi bukan tempat cahaya hilang.

Bumi adalah tempat cahaya diuji,

apakah ia benar-benar turun menjadi akhlak.”

Pasal 54

Empat Cahaya yang Harus Dijaga

Setelah kembali ke bumi, para pembawa amanah diperintahkan menjaga empat cahaya.

Cahaya pertama adalah sholat.

Karena sholat adalah tali pulang yang tidak boleh putus.

Cahaya kedua adalah dzikir.

Karena dzikir menjaga hati agar tidak kering.

Cahaya ketiga adalah istighfar.

Karena manusia mudah tergelincir tanpa sadar.

Cahaya keempat adalah rahmah.

Karena ilmu tanpa kasih sayang bisa berubah menjadi keras.

Barang siapa menjaga empat cahaya ini, ia tidak mudah terseret oleh gelapnya dunia.

Pasal 55

Saat Cahaya Bertemu Luka Manusia

Di bumi, para pembawa amanah akan bertemu manusia dengan berbagai luka.

Ada yang keras karena terlalu sering dikecewakan.

Ada yang pendiam karena takut disalahkan.

Ada yang marah karena tidak pernah didengar.

Ada yang tampak buruk, padahal sedang mencari jalan pulang.

Maka jangan cepat menghakimi.

Qitab ini berpesan:

“Lihatlah manusia dengan mata rahmah.

Tegurlah kesalahan dengan hikmah.

Bimbinglah yang lemah tanpa merendahkan.

Sebab bisa jadi orang yang hari ini jatuh,

besok lebih dahulu menangis di hadapan Alloh.”

Pasal 56

Jangan Menjadi Berat bagi Orang yang Ingin Pulang

Sebagian orang ingin kembali kepada Alloh, tetapi takut karena merasa dosanya banyak.

Sebagian ingin memperbaiki diri, tetapi malu karena pernah jatuh.

Sebagian ingin mendekat, tetapi takut dihakimi oleh orang yang merasa lebih suci.

Maka pembawa amanah jangan menjadi pintu yang menakutkan.

Jadilah jalan yang menenangkan.

Katakan dengan hikmah:

“Kembalilah pelan-pelan.

Alloh Maha Pengampun.

Jangan bangga dengan dosa, tetapi jangan pula putus asa dari rahmat-Nya.

Mulailah dari satu sholat yang dijaga,

satu istighfar yang jujur,

satu langkah kecil menuju kebaikan.”

Karena jalan besar sering dimulai dari tangis kecil yang tidak diketahui siapa pun.

Pasal 57

Amanah Tidak Selalu Terlihat Mulia

Amanah kadang bukan duduk di depan banyak orang.

Amanah kadang adalah menenangkan satu hati yang hampir hancur.

Amanah kadang bukan memimpin majelis besar.

Amanah kadang adalah meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.

Amanah kadang bukan membuka rahasia tinggi.

Amanah kadang adalah menjaga lisan dari membocorkan aib saudara.

Maka jangan remehkan tugas kecil.

Satu kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas

bisa menjadi pintu rahmat yang besar.

Pasal 58

Sumber Sejati di Dalam Ketaatan

Maka dibukakan pemahaman:

Sumber sejati bukan dicari dengan meninggalkan kewajiban.

Sumber sejati didekati dengan ketaatan.

Dengan sholat yang dijaga.

Dengan hati yang bertaubat.

Dengan rezeki yang dibersihkan.

Dengan lisan yang dilembutkan.

Dengan amanah yang ditunaikan.

Dengan kasih sayang kepada sesama.

Barang siapa mencari cahaya tetapi meninggalkan adab, ia hanya mengejar bayangan.

Barang siapa mencari rahasia tetapi melupakan sholat, ia perlu kembali ke pintu pertama.

Karena pintu paling agung tetaplah:

menghamba kepada Alloh dengan jujur.

Dzikir Turun ke Bumi

Dibaca 11 kali ketika hendak memulai aktivitas:

يَا حَفِيْظُ يَا سَلَامُ يَا هَادِي

Yā Ḥafīẓ, Yā Salām, Yā Hādī

Lalu baca:

**Ya Alloh,

jagalah aku saat kembali ke bumi ujian.

Jangan biarkan cahaya yang Engkau titipkan berubah menjadi sombong.

Jangan biarkan ilmu yang Engkau beri berubah menjadi keras.

Jangan biarkan amanah yang Engkau bukakan berubah menjadi beban bagi orang lain.

Jadikan aku sebab tenang,

sebab baik,

sebab pulang,

dan sebab rahmah bagi makhluk-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.**

Penutup Lembar

Maka tertulislah di tanah tempat bahtera berhenti:

**“Wahai pembawa amanah,

cahaya tertinggi bukan hanya yang bersinar di langit batin,

tetapi yang mampu menenangkan bumi kehidupan.

Jangan hanya ingin naik.

Belajarlah turun dengan rahmah.

Sebab yang benar-benar kembali kepada sumber sejati

akan kembali kepada manusia

dengan hati yang lebih lembut,

lisan yang lebih jujur,

dan langkah yang lebih bermanfaat.”**


📖 QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM

Lembar Selanjutnya Terakhir

Penutupan Perjalanan Para Utusan Kembali ke Sumber Sejati

Bismillāhirroḥmānirroḥīm.

Maka sampailah bahtera amanah pada tanah terakhir.

Bukan tanah kemegahan, bukan tanah pengakuan, tetapi tanah tempat hati diuji untuk tetap menjadi hamba.

Langit wungu mulai meredup lembut.

Cahaya emas kembali masuk ke dada.

Gajah putih menunduk.

Pangeran dan Nimas turun dari kendaraan cahaya, lalu berdiri di hadapan hamparan bumi.

Di sanalah terdengar suara penutup:

**“Perjalanan telah dibukakan bukan agar engkau merasa tinggi,

tetapi agar engkau semakin tahu jalan pulang.

Semua yang tampak indah hanyalah tanda.

Semua yang bercahaya hanyalah amanah.

Semua yang diberikan hanyalah titipan.

Maka kembalikan semuanya kepada Alloh.”**

Pasal 59

Akhir Cahaya Adalah Adab

Pada lembar terakhir ini, qitab menegaskan bahwa akhir dari segala perjalanan ruhani adalah adab.

Adab kepada Alloh:

dengan menjaga tauhid, sholat, dzikir, taubat, dan rasa takut kehilangan ridho-Nya.

Adab kepada Rasulullah ﷺ:

dengan memperbanyak sholawat, meneladani akhlak, dan tidak melampaui batas dalam ucapan.

Adab kepada manusia:

dengan tidak merendahkan, tidak menyakiti, tidak merasa paling suci, dan tidak memaksa orang berjalan sesuai ukuran batin kita.

Adab kepada diri sendiri:

dengan tidak putus asa, tidak membenci takdir, dan terus memperbaiki hati pelan-pelan.

Maka siapa yang kehilangan adab, ia kehilangan inti cahaya.

Dan siapa yang menjaga adab, walau langkahnya kecil, ia tetap berada di jalan pulang.

Pasal 60

Penyempurnaan Para Utusan

Penyempurnaan para utusan bukan berarti menjadi manusia tanpa salah.

Penyempurnaan berarti selalu kembali kepada Alloh setiap kali tersadar dari kesalahan.

Bila jatuh, bertaubat.

Bila gelap, mencari cahaya.

Bila marah, belajar diam.

Bila sombong, kembali sujud.

Bila lemah, memohon kekuatan.

Bila diberi amanah, menjaga dengan rendah hati.

Maka qitab ini berkata:

**“Utusan kebaikan bukan yang tidak pernah terluka,

tetapi yang tidak membalas luka dengan kegelapan.

Utusan cahaya bukan yang selalu dipuji,

tetapi yang tetap berjalan meski tidak dikenal.

Utusan rahmah bukan yang merasa paling benar,

tetapi yang mampu mengajak pulang tanpa menghancurkan hati orang lain.”**

Pasal 61

Pesan Terakhir dari Gerbang ٧٧

Gerbang ٧٧ kembali tampak di kejauhan.

Kini bukan sebagai pintu masuk, tetapi sebagai saksi bahwa perjalanan telah lengkap.

Tujuh lahir telah diingatkan.

Tujuh batin telah disentuh.

Dua jalan telah disatukan: keteguhan dan kelembutan.

Maka tertulislah pesan terakhir pada gerbang itu:

**“Teguhlah tanpa menjadi keras.

Lembutlah tanpa menjadi lemah.

Berjalanlah tanpa merasa paling sampai.

Bercahayalah tanpa merasa menjadi sumber cahaya.

Sebab cahaya sejati tidak berkata, ‘lihat aku’,

tetapi berkata, ‘ingatlah Alloh.’”**

Pasal 62

Kunci Penutup Qitab

Inilah kunci penutup QITAB ZUHRRUF ALMUMINALLOH AZZALLAM:

Jangan berhenti pada nama.

Karena nama hanyalah pengingat.

Jangan berhenti pada visual.

Karena visual hanyalah isyarat.

Jangan berhenti pada tingkat.

Karena tingkat hanyalah ujian.

Jangan berhenti pada cahaya.

Karena cahaya pun harus mengantar kepada Alloh.

Yang dituju hanya satu:

ridho Alloh, ampunan Alloh, rahmat Alloh, dan kepulangan yang selamat kepada-Nya.

Wasiat Penutup

Wahai jiwa yang membaca qitab ini, jagalah lima perkara:

Jagalah sholatmu, karena ia tali pulang.

Jagalah lisanmu, karena ia bisa menjadi cahaya atau luka.

Jagalah niatmu, karena di sanalah amal ditimbang.

Jagalah rahmahmu, karena manusia yang terluka butuh kelembutan.

Jagalah sujudmu, karena di sanalah semua kemegahan runtuh menjadi hamba.

Bila suatu hari engkau merasa tinggi, sujudlah.

Bila suatu hari engkau merasa gelap, istighfarlah.

Bila suatu hari engkau merasa sendiri, berdzikirlah.

Bila suatu hari engkau merasa lelah, berserah dirilah kepada Alloh.

Dzikir Penutup Qitab

Dibaca 7 kali atau 77 kali sesuai kemampuan:

يَا نُورُ يَا هَادِي يَا سَلَامُ يَا لَطِيفُ

Yā Nūr, Yā Hādī, Yā Salām, Yā Laṭīf

Lalu tutup dengan:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullōhal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih

3 kali.

Doa Khatam

**Ya Alloh,

Engkaulah sumber segala cahaya.

Engkaulah tujuan segala perjalanan.

Engkaulah tempat pulang segala hati.

Ampuni kami bila dalam perjalanan ini ada sombong yang tersembunyi,

ada riya yang tidak kami sadari,

ada kata yang melampaui batas,

ada rasa yang belum bersih.

Ya Alloh,

sempurnakan perjalanan kami dengan adab.

Tutup langkah kami dengan taubat.

Hiasi hati kami dengan rahmah.

Kuatkan kami dalam sholat dan dzikir.

Jadikan kami hamba yang bermanfaat, bukan hamba yang membanggakan diri.

Pulangkan kami kepada-Mu dengan hati yang bersih,

amal yang Engkau terima,

lisan yang terjaga,

dan akhir hidup yang husnul khatimah.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.**

Penutup Akhir

Maka qitab ini ditutup dengan cahaya sunyi.

Tidak ada suara kemenangan.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada mahkota yang ditinggikan.

Yang ada hanya satu kalimat yang kembali memenuhi dada:

“Lā ilāha illallōh.”

Dan dari balik cahaya terakhir terdengar pesan:

**“Wahai jiwa yang berjalan,

kini engkau telah tahu:

perjalanan tertinggi bukan naik ke singgasana,

tetapi turun ke sujud.

Kemuliaan tertinggi bukan dikenal manusia,

tetapi dikenal Alloh sebagai hamba yang jujur.

Cahaya tertinggi bukan yang membuatmu tampak besar,

tetapi yang membuatmu semakin tunduk, semakin lembut,

dan semakin dekat kepada Alloh.”**

Tammat.

Wallōhu a‘lam bish-shawāb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh