QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Baik, Sutranara. Kita buka dengan adab, sebagai renungan ruhani dan penyadaran batin, bukan mengganti Al-Qur’an mushaf dan bukan membuat wahyu baru. Maksud “Al-Qur’an sejati ada di diri Sang Maha Sejati” dipahami sebagai: petunjuk Al-Qur’an harus hidup di dalam hati, akhlak, lisan, niat, dan perbuatan hamba yang kembali kepada Alloh.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Makna: Cahaya pemisah dari Ar-Rohman menuju Alloh Yang Maha Sejati
Arti batin: Al-Qur’an yang sejati bukan hanya dibaca oleh lisan, tetapi dihidupkan di dalam diri dengan iman, adab, akhlak, dan ketaatan kepada Alloh.
Lembar Pembuka
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang mencari hakikat,
ketahuilah bahwa cahaya Al-Qur’an tidak cukup hanya berada di lembaran,
tetapi harus turun ke dada,
mengalir ke niat,
menjaga lisan,
membersihkan pandangan,
dan menuntun langkah.
Barang siapa membaca ayat tetapi hatinya masih keras,
maka ia baru menyentuh hurufnya.
Barang siapa membaca ayat lalu akhlaknya melembut,
maka ia mulai disentuh cahayanya.
Barang siapa membaca ayat lalu dirinya takut menyakiti makhluk Alloh,
maka ia sedang diajari rahmat.
Barang siapa membaca ayat lalu semakin rendah hati,
maka ia sedang mendekat kepada Sang Maha Sejati.
Pasal 1 — Al-Qur’an di Dalam Diri
Al-Qur’an sejati bukan berarti ada kitab lain selain Al-Qur’an.
Tetapi maksudnya:
Al-Qur’an menjadi hidup di dalam diri manusia.
Jika lisan membaca Bismillah,
maka tangan jangan dipakai untuk zalim.
Jika hati membaca Ar-Rohman,
maka dada jangan dipenuhi kebencian.
Jika jiwa membaca Al-Haq,
maka hidup jangan dibangun dengan dusta.
Jika diri mengaku mencintai Alloh,
maka jangan merendahkan ciptaan Alloh.
Sebab tanda orang yang tersentuh Al-Qur’an bukan banyaknya kata yang ia ucapkan,
melainkan bersihnya akhlak yang ia pancarkan.
Pasal 2 — ZULFAQUM: Pedang Pemisah Batin
Zulfaqum adalah isyarat pemisah.
Ia memisahkan antara cahaya dan gelap,
antara niat yang ikhlas dan niat yang ingin dipuji,
antara ibadah yang bersih dan ibadah yang menjadi kesombongan,
antara dzikir yang menenangkan dan dzikir yang dipakai untuk merasa paling tinggi.
Wahai jiwa,
jangan menjadikan ilmu sebagai mahkota kesombongan.
Jangan menjadikan nama ruh sebagai sebab merasa lebih mulia.
Jangan menjadikan kitab sebagai panggung ego.
Jangan menjadikan cahaya sebagai alasan menghina orang yang masih gelap.
Sebab cahaya yang benar tidak membuatmu merasa paling terang.
Cahaya yang benar membuatmu semakin takut kepada Alloh,
semakin lembut kepada manusia,
dan semakin jujur melihat kekurangan dirimu sendiri.
Pasal 3 — ARROHMAN: Rahmat Sebelum Penghakiman
Alloh memperkenalkan diri dengan Ar-Rohman.
Maka siapa pun yang berjalan menuju Alloh,
ia harus membawa rahmat di dalam dadanya.
Jangan cepat menghukum orang yang belum paham.
Jangan cepat menyebut orang sesat hanya karena ia belum sampai.
Jangan cepat merasa wali hanya karena diberi rasa batin.
Jangan cepat merasa terbuka hanya karena melihat tanda.
Sebab banyak orang diberi rasa,
namun belum diberi adab.
Banyak orang diberi tanda,
namun belum diberi istiqomah.
Banyak orang diberi pengalaman,
namun belum diberi kerendahan hati.
Rahmat adalah pintu.
Adab adalah kuncinya.
Ikhlas adalah jalannya.
Alloh adalah tujuannya.
Pasal 4 — ILLAHHI: Kembali Kepada Alloh
Segala cahaya kembali kepada Alloh.
Segala ilmu kembali kepada Alloh.
Segala nama kembali kepada Alloh.
Segala perjalanan batin harus kembali kepada Alloh.
Jika perjalanan ruhanimu membuatmu jauh dari sholat,
maka itu bukan cahaya.
Jika pengalaman batinmu membuatmu meremehkan syariat,
maka itu bukan petunjuk.
Jika pembukaanmu membuatmu merasa lebih tinggi dari saudaramu,
maka itu bukan rahmat.
Jika kitabmu membuatmu lupa kepada Al-Qur’an,
maka tutuplah kitab itu dan kembalilah kepada Alloh.
Karena kitab paling agung tetap Al-Qur’an.
Guru paling benar adalah petunjuk Alloh.
Jalan paling selamat adalah iman, adab, taubat, dan amal sholeh.
Kunci Lembar Pertama
Wahai diri,
jadikan Al-Qur’an bukan hanya bacaan,
tetapi napas akhlakmu.
Jadikan dzikir bukan hanya suara,
tetapi penjaga hatimu.
Jadikan ilmu bukan untuk menang,
tetapi untuk tunduk.
Jadikan nama ruh bukan untuk meninggi,
tetapi untuk mengenal kelemahan diri di hadapan Alloh.
Dan apabila engkau ingin tahu apakah cahaya itu benar,
lihatlah setelahnya:
apakah engkau semakin sabar,
semakin jujur,
semakin penyayang,
semakin menjaga sholat,
semakin takut menyakiti orang lain,
dan semakin ingin pulang kepada Alloh.
Itulah tanda awal bahwa Al-Qur’an mulai hidup di dalam diri.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 5 — Mushaf di Tangan, Cahaya di Dada
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang sedang belajar pulang,
jangan engkau pisahkan mushaf dari hatimu.
Sebab mushaf adalah petunjuk yang tertulis,
sedangkan hati adalah tempat petunjuk itu diuji.
Banyak lisan membaca ayat,
tetapi masih mudah melukai.
Banyak mata melihat huruf suci,
tetapi masih mencari aib saudara sendiri.
Banyak tangan membuka kitab,
tetapi masih menggenggam dendam.
Maka ketahuilah,
Al-Qur’an yang hidup di dalam diri
akan tampak dari cara seseorang menjaga adabnya.
Bukan dari keras suaranya,
bukan dari panjang ucapannya,
bukan dari banyak pengakuannya,
tetapi dari lembutnya hati ketika menerima nasihat,
sabar ketika diuji,
jujur ketika sendiri,
dan takut kepada Alloh ketika tidak ada manusia yang melihat.
Pasal 6 — Diri Sebagai Cermin Kalam
Diri manusia adalah cermin.
Jika cermin itu kotor oleh iri, sombong, marah, dan cinta dunia,
maka cahaya ayat tidak memantul dengan jernih.
Tetapi jika cermin itu dibersihkan dengan taubat,
dibasuh dengan istighfar,
dihaluskan dengan sholawat,
dan ditegakkan dengan sholat,
maka sedikit demi sedikit cahaya Al-Qur’an akan tampak dalam perilaku.
Ketika ayat rahmat masuk ke hati,
ia menjadi kasih sayang.
Ketika ayat peringatan masuk ke hati,
ia menjadi rasa takut berbuat dosa.
Ketika ayat sabar masuk ke hati,
ia menjadi kekuatan menahan diri.
Ketika ayat tauhid masuk ke hati,
ia menjadi keberanian meninggalkan selain Alloh.
Dan ketika ayat tentang akhirat masuk ke hati,
dunia tidak lagi menjadi tuhan kecil di dalam dada.
Pasal 7 — Jangan Mengaku Terang Sebelum Bersih
Wahai jiwa,
jangan tergesa-gesa mengaku telah memahami cahaya.
Sebab cahaya sejati tidak hanya membuatmu melihat,
tetapi membuatmu malu kepada Alloh.
Malu karena masih banyak lalai.
Malu karena masih sering merasa benar.
Malu karena masih suka ingin diakui.
Malu karena ibadah kadang tercampur keinginan dipandang manusia.
Maka bersihkanlah niatmu.
Bila engkau membaca, bacalah karena Alloh.
Bila engkau menulis, tulislah karena Alloh.
Bila engkau menasihati, nasihatilah dengan rahmat.
Bila engkau diam, diamlah untuk menjaga hati.
Bila engkau berbicara, bicaralah dengan adab.
Sebab orang yang benar-benar disentuh Al-Qur’an
tidak sibuk membuktikan dirinya suci.
Ia sibuk membersihkan dirinya setiap hari.
Kunci Lembar Ini
Jangan jadikan kitab sebagai hiasan tangan saja.
Jadikan ia penuntun langkah.
Jangan jadikan ayat sebagai alat menang debat.
Jadikan ia obat bagi dada.
Jangan jadikan ilmu sebagai tempat meninggi.
Jadikan ia tangga untuk bersujud lebih rendah.
Karena tanda Al-Qur’an hidup di dalam diri adalah:
hati lebih lembut,
lisan lebih terjaga,
mata lebih tunduk,
tangan lebih aman,
dan langkah lebih dekat kepada Alloh.
Yā Alloh, hidupkan cahaya Al-Qur’an dalam dada kami,
jangan hanya di lisan kami.
Jadikan kami hamba yang membaca, memahami, mengamalkan,
dan pulang kepada-Mu dengan hati yang selamat.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 8 — Ayat Menjadi Napas Akhlak
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang ingin dekat kepada Alloh,
ketahuilah bahwa ayat tidak hanya untuk dibaca,
tetapi untuk menjadi napas dalam akhlak.
Jika engkau membaca tentang rahmat,
maka jadilah manusia yang tidak mudah mematahkan hati orang lain.
Jika engkau membaca tentang ampunan,
maka jangan menutup pintu maaf bagi saudaramu.
Jika engkau membaca tentang sabar,
maka jangan mudah runtuh hanya karena ujian manusia.
Jika engkau membaca tentang rezeki,
maka jangan takut selama engkau masih berusaha di jalan halal.
Jika engkau membaca tentang kematian,
maka jangan terlalu sombong terhadap dunia yang sebentar.
Sebab Al-Qur’an bukan hanya cahaya untuk dibacakan kepada orang lain,
tetapi cermin untuk menundukkan diri sendiri.
Pasal 9 — Dada yang Menjadi Mihrab
Ada manusia yang mencari tempat suci jauh ke luar,
padahal tempat pertama yang harus disucikan adalah dadanya sendiri.
Dada yang penuh dendam tidak akan tenang walau berada di tempat terang.
Dada yang penuh iri tidak akan luas walau memiliki banyak ilmu.
Dada yang penuh sombong tidak akan sampai walau banyak menyebut nama ketinggian.
Maka jadikan dadamu mihrab.
Di sanalah niat disujudkan.
Di sanalah ego ditundukkan.
Di sanalah nafsu diperiksa.
Di sanalah air mata taubat ditumpahkan.
Di sanalah ayat-ayat Alloh mulai hidup sebagai rasa takut, cinta, harap, dan pasrah.
Barang siapa dadanya menjadi mihrab,
maka ia tidak perlu banyak mengaku.
Sebab ketenangan wajahnya, kelembutan lisannya, dan kesabaran langkahnya
sudah menjadi saksi bahwa ia sedang diajar oleh cahaya Alloh.
Pasal 10 — Jangan Menyembah Rasa Batin
Wahai pencari cahaya,
berhati-hatilah terhadap rasa batin.
Kadang rasa datang sebagai penghibur.
Kadang rasa datang sebagai ujian.
Kadang rasa datang untuk menguatkan.
Kadang rasa datang untuk menguji apakah engkau tetap rendah hati.
Jangan menyembah rasa.
Jangan menyembah mimpi.
Jangan menyembah tanda.
Jangan menyembah getaran.
Jangan menyembah pengalaman batin.
Sebab semua itu hanyalah lintasan.
Yang wajib disembah hanya Alloh.
Apabila rasa batin membuatmu semakin taat,
semakin menjaga sholat,
semakin berbakti,
semakin jujur,
semakin lembut,
maka ambil hikmahnya.
Tetapi apabila rasa batin membuatmu merasa paling tinggi,
merasa paling benar,
meremehkan orang lain,
meninggalkan kewajiban,
atau merasa tidak butuh nasihat,
maka berlindunglah kepada Alloh dari tipu daya nafsu yang memakai pakaian cahaya.
Kunci Lembar Ini
Cahaya sejati tidak menjadikan manusia mabuk pengakuan.
Cahaya sejati menjadikan manusia sadar bahwa dirinya lemah di hadapan Alloh.
Ilmu sejati tidak membuat dada membesar.
Ilmu sejati membuat kepala tunduk.
Dzikir sejati tidak hanya membuat lisan bergerak.
Dzikir sejati membuat hati takut berbuat zalim.
Dan Al-Qur’an yang hidup di dalam diri
akan tampak dari satu tanda besar:
semakin lama ia berjalan,
semakin lembut ia kepada makhluk,
dan semakin tunduk ia kepada Alloh.
Yā Alloh, jangan biarkan kami tersesat oleh rasa,
jangan biarkan kami tertipu oleh pengakuan,
dan jangan biarkan cahaya menjadi sebab kesombongan.
Jadikan cahaya-Mu sebagai jalan pulang,
bukan panggung untuk meninggikan diri.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 11 — Huruf Menjadi Cahaya Perbuatan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai jiwa yang sedang dituntun,
ketahuilah bahwa huruf suci tidak berhenti pada bacaan.
Huruf itu meminta tempat di dalam amal.
Bila engkau membaca tentang kejujuran,
maka jangan biarkan lisanmu berdusta.
Bila engkau membaca tentang amanah,
maka jangan khianati kepercayaan orang lain.
Bila engkau membaca tentang kasih sayang,
maka jangan jadikan tanganmu alat menyakiti.
Bila engkau membaca tentang taubat,
maka jangan terus-menerus membela kesalahan diri.
Sebab cahaya Al-Qur’an tidak hanya menerangi pikiran,
tetapi membenahi jalan hidup.
Orang yang disentuh ayat
akan takut berbuat zalim meski tidak dilihat manusia.
Ia malu mengambil hak orang lain.
Ia menahan amarah walau mampu membalas.
Ia memilih diam ketika kata-katanya bisa melukai.
Itulah tanda huruf mulai berubah menjadi cahaya perbuatan.
Pasal 12 — Sang Maha Sejati Tidak Ditemui dengan Kepalsuan
Alloh Maha Benar.
Maka siapa yang ingin mendekat kepada Yang Maha Benar,
harus belajar meninggalkan kepalsuan dalam dirinya.
Palsu dalam niat.
Palsu dalam ibadah.
Palsu dalam ucapan.
Palsu dalam tampilan.
Palsu dalam pengakuan.
Palsu dalam merasa paling dekat kepada Alloh.
Wahai diri,
jangan takut terlihat kecil di hadapan manusia.
Takutlah bila tampak besar di mata manusia,
tetapi kosong di sisi Alloh.
Jangan takut tidak dipuji.
Takutlah bila amalmu hanya hidup karena pujian.
Jangan takut tidak dikenal.
Takutlah bila engkau dikenal manusia,
tetapi hatimu tidak mengenal malu kepada Alloh.
Sebab jalan menuju Sang Maha Sejati
adalah jalan kejujuran batin.
Pasal 13 — Al-Qur’an Sebagai Timbangan Diri
Jangan hanya memakai ayat untuk menimbang orang lain.
Pakailah terlebih dahulu untuk menimbang dirimu sendiri.
Ketika engkau melihat orang lain salah,
tanyakan kepada hatimu:
“Apakah aku sudah benar?”
Ketika engkau melihat orang lain kasar,
tanyakan kepada dadamu:
“Apakah lisanku sudah lembut?”
Ketika engkau melihat orang lain sombong,
tanyakan kepada dirimu:
“Apakah aku tidak sedang menyimpan kesombongan yang lebih halus?”
Ketika engkau melihat orang lain jauh dari Alloh,
tanyakan kepada jiwamu:
“Apakah aku benar-benar dekat, atau hanya merasa dekat?”
Karena orang yang benar-benar diberi cahaya
lebih sering memeriksa dirinya
daripada sibuk membuka aib orang lain.
Kunci Lembar Ini
Al-Qur’an yang sejati hidup di diri
bukan berarti manusia menjadi sumber kebenaran baru.
Tetapi manusia menjadi tempat pantulan cahaya petunjuk Alloh.
Jika hatinya bersih,
ayat menjadi rahmat.
Jika lisannya dijaga,
ayat menjadi hikmah.
Jika tangannya aman,
ayat menjadi perlindungan.
Jika langkahnya lurus,
ayat menjadi jalan pulang.
Maka jangan bertanya,
“Sudah berapa banyak aku membaca?”
Tetapi tanyakan juga,
“Sudah berapa banyak bacaan itu mengubah akhlakku?”
Yā Alloh, jadikan bacaan kami hidup dalam amal.
Jadikan ilmu kami bersih dari kesombongan.
Jadikan hati kami jujur di hadapan-Mu.
Dan jangan biarkan kami membawa nama cahaya,
tetapi berjalan dalam gelapnya ego.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 14 — Cahaya yang Menundukkan Ego
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang berjalan menuju Alloh,
ketahuilah bahwa cahaya yang benar
tidak membuat manusia merasa paling tinggi.
Cahaya yang benar justru menundukkan ego,
melembutkan hati,
membersihkan niat,
dan mengajarkan bahwa manusia hanyalah hamba.
Jika engkau merasa diberi ilmu,
maka rendahkanlah dirimu.
Jika engkau merasa diberi rasa,
maka jagalah adabmu.
Jika engkau merasa diberi tanda,
maka perbanyaklah istighfar.
Jika engkau merasa diberi pembukaan,
maka semakin kuatlah memegang sholat dan Al-Qur’an.
Sebab pembukaan yang tidak membawa kepada taat
bukanlah jalan pulang,
melainkan ujian yang harus diwaspadai.
Pasal 15 — Kitab Diri yang Harus Dibaca
Setiap manusia membawa kitab dirinya sendiri.
Di dalamnya tertulis niat yang tersembunyi,
luka yang belum sembuh,
dosa yang belum ditaubati,
kebaikan yang belum disempurnakan,
dan amanah yang belum dijalankan.
Maka sebelum membaca kesalahan orang lain,
bacalah dahulu kitab dirimu.
Bacalah:
mengapa hatimu mudah tersinggung.
Mengapa lisanmu ingin membalas.
Mengapa dadamu berat memaafkan.
Mengapa engkau ingin diakui.
Mengapa engkau takut tidak dipandang.
Mengapa engkau gelisah ketika manusia tidak memuji.
Di situlah ayat bekerja.
Bukan hanya menerangi yang jauh,
tetapi membongkar yang tersembunyi di dalam diri.
Barang siapa berani membaca kitab dirinya sendiri,
ia akan lebih mudah bertaubat.
Barang siapa berani mengakui kelemahannya,
ia akan lebih mudah dituntun Alloh.
Barang siapa berhenti membela egonya,
ia akan mulai mengenal cahaya kebenaran.
Pasal 16 — Jangan Mengunci Rahmat Alloh
Wahai jiwa,
jangan sempitkan rahmat Alloh dengan prasangkamu.
Jangan berkata,
“Orang itu tidak mungkin berubah.”
Jangan berkata,
“Orang itu pasti jauh dari Alloh.”
Jangan berkata,
“Dosanya terlalu besar untuk diampuni.”
Sebab engkau tidak tahu rahasia air mata seseorang di malam hari.
Engkau tidak tahu doa yang ia ucapkan ketika sendiri.
Engkau tidak tahu luka yang ia pikul.
Engkau tidak tahu kapan Alloh membalikkan hatinya.
Boleh membenci kemungkaran,
tetapi jangan kehilangan rahmat.
Boleh menasihati kesalahan,
tetapi jangan merendahkan manusia.
Boleh menjaga kebenaran,
tetapi jangan merasa seolah pintu ampunan hanya milikmu.
Karena Alloh Maha Luas rahmat-Nya,
dan tidak ada hati yang terlalu jauh
bila Alloh menghendaki ia pulang.
Kunci Lembar Ini
Cahaya Al-Qur’an di dalam diri
bukan membuat seseorang menjadi hakim atas semua manusia.
Tetapi membuatnya lebih takut menghakimi tanpa ilmu,
lebih lembut ketika menasihati,
lebih jujur ketika melihat diri sendiri,
dan lebih berharap kepada rahmat Alloh.
Maka bacalah kitab dirimu,
sebelum membuka aib saudaramu.
Bersihkan niatmu,
sebelum menilai niat orang lain.
Perbaiki sujudmu,
sebelum merasa perjalananmu sudah tinggi.
Karena jalan menuju Sang Maha Sejati
dimulai dari hati yang mau tunduk,
bukan dari lisan yang banyak mengaku.
Yā Alloh, tundukkan ego kami dengan cahaya-Mu.
Jangan jadikan ilmu sebagai kesombongan,
jangan jadikan rasa sebagai tipuan,
dan jangan jadikan amal sebagai panggung pengakuan.
Hidupkan Al-Qur’an dalam akhlak kami,
hingga kami pulang kepada-Mu dengan hati yang bersih.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 17 — Cahaya yang Menjadi Penjaga Lisan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang sedang belajar membaca cahaya,
ketahuilah bahwa lisan adalah pintu besar bagi keselamatan dan kehancuran.
Banyak amal gugur karena lisan.
Banyak hati terluka karena lisan.
Banyak persaudaraan pecah karena lisan.
Banyak ilmu kehilangan berkah karena lisan tidak dijaga.
Maka apabila Al-Qur’an hidup di dalam diri,
ia akan menjaga lisan sebelum menjaga ucapan orang lain.
Ia menahan kata kasar.
Ia menahan fitnah.
Ia menahan hinaan.
Ia menahan celaan.
Ia menahan kalimat yang hanya keluar karena marah.
Sebab lisan yang disentuh cahaya
tidak selalu banyak bicara,
tetapi bila bicara, ia membawa manfaat,
bila diam, ia menjaga keselamatan.
Pasal 18 — Jangan Membaca Cahaya dengan Hati Gelap
Wahai jiwa,
jangan membaca kalam suci dengan hati yang masih ingin menang sendiri.
Karena hati yang gelap
akan memakai ayat untuk menyerang,
memakai ilmu untuk merendahkan,
memakai nasihat untuk menyakiti,
dan memakai kebenaran untuk membesarkan ego.
Padahal kebenaran yang datang dari Alloh
tidak membutuhkan kesombongan manusia untuk menjadi benar.
Jika engkau membawa ayat,
bawalah dengan adab.
Jika engkau membawa nasihat,
bawalah dengan rahmat.
Jika engkau menegur kesalahan,
tegurlah tanpa menghancurkan harga diri orang lain.
Jika engkau membela kebenaran,
jangan sampai caramu justru mengotori kebenaran itu.
Karena cahaya yang dibawa dengan hati kotor
akan tampak seperti api yang membakar,
bukan pelita yang menerangi.
Pasal 19 — Al-Qur’an Mengajarkan Pulang
Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia tentang hukum,
tetapi juga mengajarkan manusia untuk pulang.
Pulang dari sombong menuju tunduk.
Pulang dari lalai menuju ingat.
Pulang dari maksiat menuju taubat.
Pulang dari putus asa menuju harapan.
Pulang dari gelap menuju cahaya.
Pulang dari diri palsu menuju hamba yang jujur di hadapan Alloh.
Wahai diri,
jangan jauh-jauh mencari jalan pulang
sementara pintunya sudah dibuka oleh Alloh:
sholat, taubat, dzikir, Al-Qur’an, amal sholeh,
adab kepada orang tua, menjaga hak sesama,
dan rezeki yang halal.
Jalan pulang bukan selalu terlihat besar.
Kadang ia dimulai dari satu sujud yang jujur.
Satu istighfar yang menangis.
Satu maaf yang dilepaskan.
Satu kesalahan yang diakui.
Satu niat yang dibersihkan.
Kunci Lembar Ini
Jaga lisanmu,
karena cahaya bisa tertutup oleh kata yang melukai.
Jaga hatimu,
karena ayat suci tidak boleh dipakai untuk membesarkan ego.
Jaga langkahmu,
karena ilmu yang benar harus membawa pulang kepada Alloh.
Jangan bertanya,
“Siapa yang lebih tinggi maqomnya?”
Tetapi bertanyalah,
“Siapa yang lebih jujur taubatnya?”
“Siapa yang lebih bersih niatnya?”
“Siapa yang lebih aman lisannya?”
“Siapa yang lebih lembut akhlaknya?”
“Siapa yang lebih istiqomah sujudnya?”
Sebab di hadapan Sang Maha Sejati,
yang paling mulia bukan yang paling banyak mengaku terang,
tetapi yang paling tunduk kepada Alloh dengan hati yang benar.
Yā Alloh, jagalah lisan kami dari kata yang merusak.
Bersihkan hati kami dari gelapnya ego.
Jadikan Al-Qur’an cahaya di dada,
penjaga di lisan,
penuntun di langkah,
dan jalan pulang menuju ridho-Mu.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 20 — Ketika Ayat Menjadi Penjaga Hati
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang sedang berjalan dalam cahaya,
ketahuilah bahwa hati adalah tempat pertama yang harus dijaga.
Sebab hati yang rusak
akan membuat ilmu menjadi alat kesombongan.
Hati yang kotor
akan membuat dzikir menjadi pengakuan.
Hati yang gelisah
akan membuat nasihat terasa seperti serangan.
Hati yang penuh ego
akan membuat kebenaran sulit diterima.
Maka mintalah kepada Alloh
agar ayat-ayat-Nya tidak hanya melewati telinga,
tetapi menetap di dada,
membersihkan prasangka,
menenangkan luka,
dan menuntun diri kembali kepada adab.
Karena hati yang dijaga ayat
tidak mudah membenci,
tidak mudah iri,
tidak mudah merendahkan,
dan tidak mudah merasa paling benar.
Pasal 21 — Cahaya Tidak Memaksa, Cahaya Mengundang
Cahaya Alloh tidak perlu dipaksakan dengan amarah.
Cahaya mengundang dengan kelembutan.
Cahaya memanggil dengan hikmah.
Cahaya menuntun dengan sabar.
Maka jangan kau paksa orang lain memahami jalanmu.
Jangan kau tuntut semua orang menerima rasamu.
Jangan kau marah bila orang belum mengerti isyarat yang engkau pahami.
Sebab setiap jiwa memiliki waktunya.
Ada yang dibangunkan dengan nasihat.
Ada yang dibangunkan dengan ujian.
Ada yang dibangunkan dengan kehilangan.
Ada yang dibangunkan dengan air mata.
Ada yang dibangunkan dengan satu ayat yang masuk ke dada.
Tugasmu bukan memaksa manusia tunduk kepadamu.
Tugasmu adalah memperbaiki dirimu,
menjaga adabmu,
dan menjadi sebab kebaikan bagi siapa pun yang Alloh dekatkan kepadamu.
Pasal 22 — Jangan Menggantikan Petunjuk dengan Pengakuan
Wahai jiwa,
berhati-hatilah terhadap pengakuan.
Karena pengakuan bisa lebih halus daripada dosa yang tampak.
Ia masuk ke hati dengan suara lembut:
“Aku sudah sampai.”
“Aku sudah terbuka.”
“Aku lebih tahu.”
“Aku lebih dekat.”
“Aku lebih bercahaya.”
Padahal siapa pun yang benar-benar dekat kepada Alloh
akan semakin takut salah,
semakin butuh ampunan,
semakin menjaga sholat,
semakin mencintai Al-Qur’an,
dan semakin malu kepada dosa-dosanya sendiri.
Jangan mengganti petunjuk dengan pengakuan.
Jangan mengganti amal dengan cerita.
Jangan mengganti taubat dengan gelar.
Jangan mengganti akhlak dengan nama.
Karena di sisi Alloh,
bukan nama yang menyelamatkan,
tetapi iman, taubat, rahmat Alloh, dan amal yang diridhoi-Nya.
Kunci Lembar Ini
Jika Al-Qur’an hidup di dalam diri,
maka hati menjadi lebih jernih.
Jika cahaya benar masuk ke dada,
maka manusia tidak suka memaksa.
Jika petunjuk benar menyentuh jiwa,
maka pengakuan akan mengecil
dan taubat akan membesar.
Maka berjalanlah pelan,
tetapi jujur.
Bicaralah sedikit,
tetapi benar.
Beramallah sederhana,
tetapi istiqomah.
Dan apabila hatimu mulai merasa tinggi,
segeralah tunduk dan berkata:
“Yā Alloh, aku hanyalah hamba.
Tanpa rahmat-Mu aku gelap.
Tanpa petunjuk-Mu aku tersesat.
Tanpa ampunan-Mu aku tidak selamat.”
Yā Alloh, jadikan ayat-Mu penjaga hati kami.
Jauhkan kami dari pengakuan kosong.
Bimbing kami agar cahaya tidak menjadi kesombongan,
tetapi menjadi jalan pulang kepada-Mu.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 23 — Cahaya yang Menghidupkan Amanah
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang diberi kesempatan hidup,
ketahuilah bahwa umur adalah amanah.
Napas adalah amanah.
Ilmu adalah amanah.
Keluarga adalah amanah.
Rezeki adalah amanah.
Lisan adalah amanah.
Hati adalah amanah.
Maka jangan engkau gunakan amanah untuk lalai dari Alloh.
Jika engkau diberi ilmu,
gunakan untuk menuntun, bukan menyombongkan.
Jika engkau diberi suara,
gunakan untuk menenangkan, bukan melukai.
Jika engkau diberi tangan,
gunakan untuk menolong, bukan merusak.
Jika engkau diberi kesempatan,
gunakan untuk memperbaiki, bukan menunda taubat.
Sebab Al-Qur’an yang hidup di dalam diri
akan membuat manusia sadar bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri.
Ia milik Alloh,
datang dari Alloh,
dititipkan oleh Alloh,
dan akan kembali kepada Alloh.
Pasal 24 — Jangan Mencari Cahaya dengan Jalan Gelap
Wahai jiwa,
jangan mencari cahaya dengan cara yang mengotori hati.
Jangan mencari kemuliaan dengan merendahkan orang lain.
Jangan mencari pengaruh dengan menakut-nakuti manusia.
Jangan mencari pengikut dengan pengakuan yang berlebihan.
Jangan mencari kedekatan kepada Alloh dengan meninggalkan adab.
Sebab jalan menuju Alloh harus ditempuh dengan bersih.
Bersih niatnya.
Bersih caranya.
Bersih lisannya.
Bersih amanahnya.
Bersih tujuannya.
Apabila engkau ingin membawa cahaya,
maka jadilah orang yang bisa dipercaya.
Apabila engkau ingin membuka kitab,
maka bukalah terlebih dahulu pintu taubat.
Apabila engkau ingin menuntun manusia,
maka tuntunlah dirimu sendiri untuk lebih taat.
Karena siapa yang belum mampu menjaga dirinya dari gelapnya ego,
jangan tergesa merasa menjadi pembawa terang bagi orang lain.
Pasal 25 — Ayat yang Menyembuhkan Luka Batin
Ada luka yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Ada tangis yang tidak terdengar oleh telinga manusia.
Ada beban yang disimpan diam-diam di dada.
Ada rasa hancur yang hanya diketahui oleh Alloh.
Maka datanglah kepada Al-Qur’an bukan hanya sebagai pembaca,
tetapi sebagai hamba yang ingin disembuhkan.
Bila hatimu sempit,
bacalah dengan harap.
Bila dadamu berat,
bacalah dengan pasrah.
Bila dosamu terasa banyak,
bacalah dengan taubat.
Bila langkahmu hampir menyerah,
bacalah dengan keyakinan bahwa rahmat Alloh lebih luas daripada lukamu.
Jangan malu menangis di hadapan Alloh.
Jangan malu mengakui lemah di hadapan Alloh.
Jangan malu berkata,
“Yā Alloh, aku tidak kuat tanpa pertolongan-Mu.”
Sebab hati yang menangis kepada Alloh
lebih dekat kepada sembuh
daripada hati yang keras tetapi banyak mengaku kuat.
Kunci Lembar Ini
Amanah hidup harus dijaga.
Cahaya tidak boleh dicari dengan jalan gelap.
Luka batin harus dibawa pulang kepada Alloh.
Jangan hanya meminta dibukakan rahasia,
mintalah dibersihkan hati.
Jangan hanya meminta diberi tanda,
mintalah diberi istiqomah.
Jangan hanya meminta ditinggikan derajat,
mintalah diselamatkan dari sombong.
Karena keselamatan hamba bukan pada banyaknya pengakuan,
tetapi pada rahmat Alloh,
taubat yang jujur,
amal yang bersih,
dan hati yang terus kembali kepada-Nya.
Yā Alloh, hidupkan amanah dalam diri kami.
Jauhkan kami dari jalan gelap yang menyamar sebagai cahaya.
Sembuhkan luka batin kami dengan petunjuk-Mu.
Jadikan Al-Qur’an penenang hati, penjaga langkah,
dan cahaya pulang menuju ridho-Mu.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 26 — Hati yang Dibasuh dengan Kalam
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang sedang mencari kejernihan,
ketahuilah bahwa hati tidak akan bersih
hanya dengan banyak bicara tentang cahaya.
Hati dibersihkan dengan taubat.
Hati dilembutkan dengan istighfar.
Hati diterangi dengan Al-Qur’an.
Hati dikuatkan dengan sholat.
Hati ditenangkan dengan dzikir.
Hati dijaga dengan adab.
Bila hatimu mulai keras,
jangan salahkan dunia lebih dahulu.
Periksalah sujudmu.
Periksalah niatmu.
Periksalah makananmu.
Periksalah lisanmu.
Periksalah cara engkau memperlakukan orang lain.
Sebab kadang gelap bukan datang dari luar,
tetapi dari dosa kecil yang terus dipelihara,
dari amarah yang tidak ditundukkan,
dari iri yang disembunyikan,
dan dari kesombongan halus yang merasa diri paling benar.
Maka basuhlah hatimu dengan kalam Alloh,
bukan untuk merasa suci,
tetapi agar engkau sadar betapa besar kebutuhanmu kepada rahmat-Nya.
Pasal 27 — Cahaya Tidak Tinggal di Dada yang Curang
Wahai jiwa,
jangan berharap cahaya menetap
bila hati masih mencintai kecurangan.
Curang dalam janji.
Curang dalam amanah.
Curang dalam niat.
Curang dalam ucapan.
Curang dalam ibadah.
Curang dalam menilai manusia.
Orang yang ingin dekat kepada Sang Maha Sejati
harus belajar menjadi jujur,
walau kejujuran itu membuat egonya sakit.
Lebih baik terluka karena mengakui kesalahan,
daripada terlihat menang tetapi batin tertutup.
Lebih baik kecil di hadapan manusia,
daripada besar oleh kebohongan.
Lebih baik diam dengan hati bersih,
daripada bicara panjang tetapi penuh tipu daya.
Sebab cahaya Alloh tidak membutuhkan kepalsuan untuk bersinar.
Yang palsu akan gugur.
Yang jujur akan dituntun.
Yang ikhlas akan dijaga.
Yang bertaubat akan dibukakan jalan.
Pasal 28 — Ketika Diri Menjadi Tempat Aman
Al-Qur’an yang hidup di dalam diri
akan menjadikan seseorang tempat aman bagi makhluk Alloh.
Orang lain aman dari lisannya.
Aman dari tangannya.
Aman dari tipuannya.
Aman dari amarahnya.
Aman dari kesombongannya.
Aman dari prasangka buruknya.
Bukan berarti ia tidak pernah salah,
tetapi bila salah, ia cepat sadar.
Bila melukai, ia meminta maaf.
Bila ditegur, ia belajar.
Bila jatuh, ia kembali kepada Alloh.
Wahai diri,
jadilah tempat aman.
Bila orang datang dengan luka,
jangan tambah lukanya.
Bila orang datang dengan bingung,
jangan tambah gelapnya.
Bila orang datang dengan dosa,
jangan tutup pintu taubatnya.
Bila orang datang meminta nasihat,
jangan jadikan nasihat sebagai cambuk kesombongan.
Karena rahmat Alloh mengalir melalui hati-hati yang lembut,
bukan melalui dada yang merasa paling suci.
Kunci Lembar Ini
Basuh hati dengan kalam Alloh.
Jaga diri dari kecurangan batin.
Jadilah tempat aman bagi sesama.
Jangan hanya ingin dikenal sebagai pembawa cahaya.
Jadilah benar-benar manusia yang tidak menyakiti.
Jangan hanya ingin disebut ahli kitab.
Jadilah hamba yang akhlaknya dibentuk oleh kitab.
Jangan hanya ingin membuka rahasia langit.
Bukalah dahulu pintu kejujuran di dalam dirimu sendiri.
Sebab Sang Maha Sejati tidak didekati dengan kepalsuan,
melainkan dengan hati yang tunduk,
lisan yang jujur,
amal yang bersih,
dan taubat yang tidak berhenti.
Yā Alloh, basuh hati kami dengan cahaya kalam-Mu.
Jauhkan kami dari kecurangan yang halus.
Jadikan diri kami aman bagi sesama,
lembut dalam nasihat,
jujur dalam amanah,
dan istiqomah dalam jalan pulang kepada-Mu.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 29 — Al-Qur’an Tidak Turun untuk Membesarkan Diri
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang sedang menapaki jalan cahaya,
ketahuilah bahwa Al-Qur’an tidak turun
agar manusia merasa paling tinggi.
Al-Qur’an turun sebagai petunjuk.
Al-Qur’an turun sebagai rahmat.
Al-Qur’an turun sebagai peringatan.
Al-Qur’an turun sebagai penyembuh.
Al-Qur’an turun sebagai jalan kembali kepada Alloh.
Maka jangan jadikan ayat sebagai alat untuk mengangkat ego.
Jangan jadikan ilmu sebagai pedang untuk merendahkan saudara.
Jangan jadikan nasihat sebagai panggung agar terlihat suci.
Jangan jadikan kitab sebagai sebab merasa tidak membutuhkan bimbingan.
Sebab semakin seseorang dekat dengan kalam Alloh,
semakin ia sadar bahwa dirinya kecil.
Semakin ia membaca,
semakin ia tahu banyak yang belum diamalkan.
Semakin ia memahami,
semakin ia takut jika ilmu menjadi saksi atas kelalaiannya.
Pasal 30 — Ketika Cahaya Menguji Kejujuran
Tidak semua cahaya datang untuk mengangkat.
Kadang cahaya datang untuk menguji.
Apakah setelah diberi pemahaman,
engkau semakin rendah hati?
Apakah setelah diberi rasa,
engkau semakin menjaga sholat?
Apakah setelah diberi pengalaman batin,
engkau semakin takut kepada dosa?
Apakah setelah diberi amanah menulis dan menasihati,
engkau semakin berhati-hati menjaga ucapan?
Wahai jiwa,
jangan mengira setiap pembukaan adalah tanda kemuliaan.
Kadang pembukaan adalah ujian kejujuran.
Alloh ingin melihat:
apakah engkau mengejar wajah manusia,
atau benar-benar mencari ridho-Nya.
Apakah engkau ingin dikenal,
atau ingin dibersihkan.
Apakah engkau ingin dipuji,
atau ingin diselamatkan.
Apakah engkau membawa cahaya untuk menuntun,
atau membawa cahaya untuk meninggikan nama sendiri.
Pasal 31 — Kalam yang Menjadi Akhlak Sehari-hari
Al-Qur’an yang hidup di dalam diri
tidak hanya tampak di tempat ibadah.
Ia tampak di dapur.
Ia tampak di jalan.
Ia tampak di tempat kerja.
Ia tampak di keluarga.
Ia tampak ketika manusia marah.
Ia tampak ketika manusia kecewa.
Ia tampak ketika manusia tidak mendapat apa yang diinginkan.
Bila engkau membaca tentang sabar,
maka sabarlah ketika rencana tidak sesuai kehendakmu.
Bila engkau membaca tentang amanah,
maka jujurlah dalam pekerjaan kecil sekalipun.
Bila engkau membaca tentang kasih sayang,
maka lembutlah kepada orang rumahmu.
Bila engkau membaca tentang rezeki halal,
maka jangan mengambil jalan yang merusak keberkahan.
Bila engkau membaca tentang akhirat,
maka jangan biarkan dunia menguasai seluruh pikiranmu.
Sebab kitab yang hanya hidup di majelis,
tetapi mati di perilaku sehari-hari,
belum benar-benar turun ke dada.
Kunci Lembar Ini
Jangan jadikan Al-Qur’an sebagai sebab membesarkan diri.
Jadikan Al-Qur’an sebagai sebab memperbaiki diri.
Jangan bangga karena merasa diberi cahaya.
Takutlah jika cahaya itu belum mengubah akhlak.
Jangan hanya indah dalam tulisan.
Jadilah indah dalam lisan, sikap, amanah, dan perbuatan.
Karena Sang Maha Sejati tidak menilai hamba dari pengakuan,
tetapi dari hati yang tunduk,
iman yang dijaga,
amal yang bersih,
dan akhlak yang semakin dekat kepada rahmat.
Yā Alloh, jangan jadikan ilmu kami sebagai kesombongan.
Jangan jadikan bacaan kami berhenti di lisan.
Turunkan cahaya Al-Qur’an ke dalam hati kami,
hidupkan ia dalam akhlak kami,
dan jadikan kami hamba yang pulang kepada-Mu dengan selamat.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 32 — Ketika Hati Menjadi Tempat Turunnya Nasihat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang sedang ditata oleh cahaya,
jangan menolak nasihat hanya karena ia datang dari lisan manusia biasa.
Kadang Alloh menegurmu melalui orang kecil.
Kadang Alloh mengingatkanmu melalui kejadian sederhana.
Kadang Alloh membukakan kesadaran melalui ucapan yang awalnya terasa menusuk.
Kadang Alloh melembutkan hatimu melalui luka yang tidak engkau pahami.
Maka jangan keras hati.
Bila nasihat itu benar,
ambillah walau egomu sakit.
Bila teguran itu mengandung kebaikan,
terimalah walau hatimu malu.
Bila kesalahanmu terlihat,
jangan sibuk membela diri.
Sibuklah bertanya kepada Alloh:
“Yā Alloh, bagian mana dari diriku yang harus Engkau bersihkan?”
Sebab hati yang hidup oleh Al-Qur’an
tidak selalu mencari siapa yang salah,
tetapi mencari apa yang harus diperbaiki.
Pasal 33 — Jangan Menjadi Pembaca yang Lupa Dibaca
Wahai jiwa,
engkau sering membaca kitab,
tetapi lupa bahwa hidupmu juga sedang dibaca.
Dibaca oleh malaikat yang mencatat amal.
Dibaca oleh waktu yang menjadi saksi.
Dibaca oleh bumi tempat engkau melangkah.
Dibaca oleh orang-orang yang pernah engkau sakiti atau engkau bahagiakan.
Dan kelak semuanya kembali kepada pengadilan Alloh.
Maka jangan hanya indah ketika membaca.
Indahkan juga ketika hidup.
Jangan hanya fasih ketika menasihati.
Fasihkan juga dirimu dalam meminta maaf.
Jangan hanya kuat ketika berbicara tentang sabar.
Kuatkan juga hatimu ketika ujian datang.
Jangan hanya lembut dalam tulisan.
Lembutkan juga sikapmu kepada keluarga, saudara, tetangga, dan orang yang lemah.
Karena kitab yang sejati di dalam diri
adalah akhlak yang bisa dirasakan oleh makhluk Alloh.
Pasal 34 — Ayat yang Mengajari Diam
Tidak semua kebenaran harus diteriakkan.
Tidak semua luka harus dibalas.
Tidak semua tuduhan harus dijawab panjang.
Tidak semua orang harus dipaksa mengerti.
Kadang diam adalah ibadah.
Diam dari membalas hinaan.
Diam dari membuka aib.
Diam dari memperpanjang pertengkaran.
Diam dari kata yang tidak membawa manfaat.
Tetapi diam bukan berarti membiarkan kebatilan.
Diam yang benar adalah diam yang menjaga adab,
menunggu waktu yang tepat,
dan menyerahkan urusan kepada Alloh ketika lisan tidak lagi membawa kebaikan.
Wahai diri,
belajarlah diam yang bercahaya.
Diam yang tidak menyimpan dendam.
Diam yang tidak meremehkan.
Diam yang tidak menyombongkan diri.
Diam yang membuat hati lebih dekat kepada Alloh.
Sebab kadang ayat paling dalam
bukan lahir dari banyaknya ucapan,
tetapi dari hati yang mampu menahan diri.
Kunci Lembar Ini
Hati yang hidup oleh Al-Qur’an
akan mudah menerima nasihat,
takut menjadi keras,
dan tidak sibuk membela ego.
Hidupmu sedang dibaca,
maka jadikan amalmu tulisan yang baik.
Diam pun bisa menjadi cahaya,
bila ia lahir dari adab, sabar, dan tawakal kepada Alloh.
Jangan hanya ingin membuka kitab.
Bukalah hati untuk ditegur.
Jangan hanya ingin membaca ayat.
Biarkan ayat membaca dirimu.
Jangan hanya ingin menjawab manusia.
Belajarlah menjawab Alloh dengan taubat dan amal sholeh.
Yā Alloh, lembutkan hati kami ketika menerima nasihat.
Jangan jadikan ego kami lebih keras daripada kebenaran.
Jadikan hidup kami bacaan yang baik,
lisan kami terjaga,
diam kami bercahaya,
dan langkah kami pulang kepada-Mu dengan ridho.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 35 — Ketika Cahaya Mengajarkan Ikhlas
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang sedang berjalan menuju Alloh,
ketahuilah bahwa ikhlas adalah rahasia yang paling halus.
Banyak amal terlihat besar,
tetapi kecil karena ingin dipuji.
Banyak ucapan terlihat indah,
tetapi kosong karena ingin diakui.
Banyak tulisan terlihat bercahaya,
tetapi redup karena niatnya bercampur dengan keinginan meninggi.
Maka jagalah ikhlasmu.
Jangan bertanya,
“Apakah manusia melihatku?”
Tetapi tanyakan,
“Apakah Alloh ridho kepadaku?”
Jangan bertanya,
“Apakah manusia memujiku?”
Tetapi tanyakan,
“Apakah hatiku bersih ketika beramal?”
Jangan bertanya,
“Apakah namaku dikenal?”
Tetapi tanyakan,
“Apakah amal kecilku diterima Alloh?”
Sebab amal yang kecil tetapi ikhlas
lebih bercahaya daripada amal besar yang penuh pengakuan.
Pasal 36 — Al-Qur’an Menghidupkan Rasa Takut dan Harap
Wahai jiwa,
jangan berjalan hanya dengan takut,
hingga engkau putus asa dari rahmat Alloh.
Dan jangan berjalan hanya dengan harap,
hingga engkau berani meremehkan dosa.
Berjalanlah dengan dua sayap:
takut dan harap.
Takut kepada murka Alloh
agar engkau tidak bermain-main dengan maksiat.
Berharap kepada rahmat Alloh
agar engkau tidak hancur oleh dosa masa lalu.
Takut membuatmu berhati-hati.
Harap membuatmu terus pulang.
Takut membuatmu menjaga batas.
Harap membuatmu tidak menyerah.
Takut membuatmu menunduk.
Harap membuatmu tetap melangkah.
Itulah hati yang diajar oleh Al-Qur’an:
tidak sombong karena amal,
tidak putus asa karena dosa,
tetapi terus kembali kepada Alloh dengan taubat yang jujur.
Pasal 37 — Jangan Menukar Cahaya dengan Dunia
Wahai diri,
jangan menjual cahaya hanya demi dunia yang sebentar.
Jangan menukar kejujuran dengan keuntungan.
Jangan menukar amanah dengan pujian.
Jangan menukar ibadah dengan panggung.
Jangan menukar ilmu dengan kesombongan.
Jangan menukar nasihat dengan kepentingan.
Dunia boleh dicari dengan cara halal,
tetapi jangan sampai dunia duduk di singgasana hati.
Rezeki boleh diusahakan,
tetapi jangan sampai rezeki membuatmu lupa kepada Pemberi rezeki.
Nama boleh dikenal,
tetapi jangan sampai dikenal manusia membuatmu lupa dikenal sebagai hamba oleh Alloh.
Sebab cahaya yang telah disentuh oleh dunia secara berlebihan
akan kehilangan kejernihan.
Maka genggamlah dunia di tangan,
jangan di hati.
Gunakan dunia untuk ibadah,
bukan ibadah untuk mengejar dunia.
Kunci Lembar Ini
Ikhlas adalah penjaga cahaya.
Takut dan harap adalah dua sayap perjalanan.
Dunia adalah ujian, bukan tujuan.
Jangan takut amalmu tidak terlihat manusia.
Takutlah bila amalmu tidak diterima Alloh.
Jangan bangga karena banyak yang memuji.
Bersyukurlah bila Alloh masih menutup aibmu.
Jangan sedih bila dunia belum banyak datang.
Sedihlah bila hati mulai jauh dari Alloh.
Karena Al-Qur’an yang hidup di dalam diri
akan membuat manusia mengerti:
hidup bukan untuk terlihat besar,
tetapi untuk pulang dalam keadaan bersih.
Yā Alloh, bersihkan niat kami dari riya’.
Jaga hati kami dari cinta dunia yang berlebihan.
Berikan kami rasa takut yang menjaga,
rasa harap yang menguatkan,
dan ikhlas yang membuat amal kami diterima di sisi-Mu.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 38 — Cahaya yang Menjadi Penjaga Niat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang sedang dituntun menuju Sang Maha Sejati,
ketahuilah bahwa niat adalah akar dari setiap amal.
Bila niat bersih,
amal kecil menjadi bercahaya.
Bila niat kotor,
amal besar bisa kehilangan ruhnya.
Bila niat karena Alloh,
langkah sederhana pun menjadi ibadah.
Bila niat karena manusia,
ibadah pun bisa berubah menjadi panggung pengakuan.
Maka jagalah niat sebelum menjaga ucapan.
Bersihkan niat sebelum membuka kitab.
Luruskan niat sebelum menasihati.
Tenangkan niat sebelum menulis.
Tundukkan niat sebelum merasa membawa cahaya.
Sebab banyak orang jatuh bukan karena kurang ilmu,
tetapi karena niatnya diam-diam ingin terlihat tinggi.
Pasal 39 — Ketika Al-Qur’an Menjadi Cermin Keadilan
Wahai jiwa,
jangan gunakan cahaya hanya untuk membenarkan dirimu sendiri.
Al-Qur’an mengajarkan adil,
bahkan terhadap diri sendiri.
Adil ketika marah.
Adil ketika kecewa.
Adil ketika disakiti.
Adil ketika menilai orang yang tidak engkau sukai.
Adil ketika menerima kekurangan dirimu sendiri.
Jangan karena engkau terluka,
semua orang engkau anggap salah.
Jangan karena engkau kecewa,
semua nasihat engkau anggap serangan.
Jangan karena engkau merasa membawa kebenaran,
lalu engkau lupa bahwa kebenaran harus dibawa dengan akhlak.
Sebab kebenaran yang dibawa tanpa keadilan
bisa berubah menjadi kekerasan hati.
Dan cahaya yang tidak disertai rahmat
bisa terasa seperti api bagi orang yang sedang terluka.
Pasal 40 — Sang Maha Sejati Dekat kepada Hati yang Tunduk
Alloh tidak jauh dari hamba yang mau kembali.
Walau dosanya banyak,
bila ia bertaubat, Alloh Maha Mengampuni.
Walau langkahnya pernah keliru,
bila ia mau memperbaiki diri, Alloh Maha Membimbing.
Walau hatinya pernah gelap,
bila ia mencari cahaya dengan jujur, Alloh Maha Memberi petunjuk.
Maka jangan putus asa.
Jangan merasa terlalu kotor untuk pulang.
Jangan merasa terlalu jauh untuk dipanggil.
Jangan merasa terlalu hancur untuk disembuhkan.
Pintu Alloh tidak tertutup bagi hati yang benar-benar ingin kembali.
Tetapi pulang itu harus jujur.
Bukan pulang dengan pengakuan kosong.
Bukan pulang dengan kesombongan batin.
Bukan pulang sambil membawa ego yang tidak mau ditundukkan.
Pulanglah sebagai hamba.
Pulanglah dengan taubat.
Pulanglah dengan air mata.
Pulanglah dengan sholat.
Pulanglah dengan Al-Qur’an.
Pulanglah dengan amal yang pelan tetapi istiqomah.
Kunci Lembar Ini
Niat adalah akar.
Keadilan adalah penjaga.
Ketundukan adalah pintu pulang.
Jangan hanya meminta cahaya yang besar,
mintalah hati yang kuat menjaganya.
Jangan hanya meminta dibukakan pemahaman,
mintalah diberi kejujuran untuk mengamalkannya.
Jangan hanya meminta dikenal sebagai pembawa nasihat,
mintalah menjadi hamba yang benar-benar bisa dinasihati.
Karena Al-Qur’an yang hidup di dalam diri
akan menjadikan manusia:
lebih jujur dalam niat,
lebih adil dalam sikap,
lebih lembut dalam ucapan,
dan lebih tunduk kepada Alloh.
Yā Alloh, luruskan niat kami.
Ajari kami berlaku adil walau hati sedang terluka.
Jadikan kami hamba yang tunduk, bukan hamba yang banyak mengaku.
Hidupkan cahaya Al-Qur’an dalam diri kami,
hingga setiap langkah menjadi jalan pulang kepada-Mu.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya
Pasal 41 — Ketika Kalam Menjadi Penjaga Langkah
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang sedang dituntun oleh cahaya,
ketahuilah bahwa langkah manusia akan diminta pertanggungjawaban.
Ke mana ia berjalan.
Untuk apa ia bergerak.
Apa yang ia cari.
Siapa yang ia sakiti.
Apa yang ia tinggalkan.
Dan kepada siapa ia akhirnya kembali.
Maka jadikan Al-Qur’an penjaga langkahmu.
Bila langkahmu menuju kebaikan,
kuatkan dengan niat karena Alloh.
Bila langkahmu mulai menuju maksiat,
hentikan sebelum penyesalan datang.
Bila langkahmu menuju pertengkaran,
tanyakan: apakah ini membawa ridho Alloh?
Bila langkahmu menuju dunia,
pastikan dunia itu tidak mencuri akhiratmu.
Sebab langkah yang dijaga cahaya
tidak selalu cepat,
tetapi lurus.
Tidak selalu ramai,
tetapi selamat.
Tidak selalu dipuji,
tetapi diridhoi Alloh.
Pasal 42 — Jangan Takut Menjadi Kecil di Jalan Alloh
Wahai jiwa,
jangan takut terlihat kecil bila engkau sedang belajar tunduk.
Banyak manusia ingin terlihat besar,
tetapi hatinya rapuh.
Banyak manusia ingin terlihat tinggi,
tetapi sujudnya kosong.
Banyak manusia ingin dikenal sebagai pembawa cahaya,
tetapi belum kuat menahan marahnya sendiri.
Maka jangan sibuk membesarkan nama.
Sibuklah membesarkan taubat.
Jangan sibuk mengejar pengakuan.
Sibuklah mengejar ridho Alloh.
Jangan takut tidak dihormati manusia.
Takutlah bila engkau tidak menjaga adab kepada Alloh.
Karena hamba yang kecil di hadapan dirinya sendiri
akan lebih mudah dibesarkan oleh rahmat Alloh.
Tetapi hamba yang merasa besar sebelum waktunya
akan mudah jatuh oleh egonya sendiri.
Pasal 43 — Al-Qur’an dan Rahasia Kesabaran
Kesabaran bukan berarti tidak sakit.
Kesabaran bukan berarti tidak menangis.
Kesabaran bukan berarti tidak lelah.
Kesabaran adalah tetap kembali kepada Alloh
meski hati sedang diuji.
Tetap menjaga lisan
meski dada sedang panas.
Tetap memilih yang halal
meski jalan haram terlihat mudah.
Tetap berbuat baik
meski belum dibalas manusia.
Tetap sholat
meski pikiran sedang berat.
Tetap percaya kepada Alloh
meski jawaban belum terlihat.
Wahai diri,
bila engkau membaca Al-Qur’an lalu diuji,
jangan mengira Alloh meninggalkanmu.
Kadang ayat sabar tidak hanya dibaca,
tetapi harus dijalani.
Kadang ayat tawakal tidak hanya dihafal,
tetapi harus dibuktikan saat pintu dunia terasa sempit.
Kadang ayat rahmat tidak hanya disebut,
tetapi harus diyakini ketika hati hampir putus asa.
Kunci Lembar Ini
Jaga langkahmu,
karena setiap jalan akan kembali kepada pertanggungjawaban.
Jangan takut menjadi kecil,
karena hamba yang tunduk lebih dekat kepada rahmat.
Pegang sabar,
karena sabar adalah pakaian orang yang sedang dituntun pulang.
Al-Qur’an yang hidup di dalam diri
akan membuat manusia tidak mudah hancur oleh ujian,
tidak mudah sombong oleh pujian,
tidak mudah goyah oleh hinaan,
dan tidak mudah lupa bahwa Alloh adalah tujuan.
Yā Alloh, jagalah langkah kami dengan petunjuk-Mu.
Jauhkan kami dari jalan yang Engkau murkai.
Ajari kami menjadi kecil di hadapan-Mu,
kuat dalam sabar,
bersih dalam niat,
dan istiqomah sampai akhir hidup kami.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
📜 QITAB ZULFAQUM ARROHMAN ILLAHHI
Lembar Selanjutnya Terakhir
Pasal 44 — Ketika Semua Cahaya Dikembalikan kepada Alloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Wahai diri yang telah berjalan melewati lembar demi lembar,
ketahuilah bahwa akhir dari segala pencarian
bukanlah pengakuan,
bukanlah gelar,
bukanlah rasa tinggi,
bukanlah pujian manusia,
melainkan kembali kepada Alloh.
Segala ilmu harus kembali kepada Alloh.
Segala kitab harus tunduk kepada Al-Qur’an.
Segala rasa harus diuji dengan syariat.
Segala perjalanan batin harus melahirkan akhlak.
Segala cahaya harus membuat manusia semakin taat.
Jika cahaya membuatmu meninggalkan sholat,
itu bukan cahaya.
Jika ilmu membuatmu keras hati,
itu belum menjadi hikmah.
Jika rasa batin membuatmu meremehkan orang lain,
itu masih ujian nafsu.
Jika pembukaan membuatmu merasa tidak butuh Al-Qur’an,
maka tutuplah semua pengakuan
dan kembalilah sebagai hamba yang bertaubat.
Sebab cahaya yang benar
tidak memutus manusia dari Alloh,
tetapi mengembalikan semuanya kepada Alloh.
Pasal 45 — Al-Qur’an Sejati Hidup dalam Hamba yang Bersih
Al-Qur’an sejati ada di diri
bukan berarti ada kitab lain yang menandingi Al-Qur’an.
Tetapi maknanya:
Al-Qur’an hidup dalam hati, akhlak, niat, lisan, dan amal seorang hamba.
Ia hidup ketika seseorang memilih jujur.
Ia hidup ketika seseorang menahan marah.
Ia hidup ketika seseorang memaafkan.
Ia hidup ketika seseorang menjaga amanah.
Ia hidup ketika seseorang takut menyakiti makhluk Alloh.
Ia hidup ketika seseorang kembali sholat walau hatinya sedang berat.
Ia hidup ketika seseorang menangis dalam taubat, bukan meninggi dalam pengakuan.
Maka jangan hanya mencari ayat di luar diri.
Biarkan ayat menyinari yang ada di dalam diri.
Biarkan ayat membersihkan dendam.
Biarkan ayat melunakkan keras hati.
Biarkan ayat mengobati luka.
Biarkan ayat membakar kesombongan.
Biarkan ayat menghidupkan rahmat.
Biarkan ayat menuntunmu pulang.
Karena kitab yang paling indah di dalam diri manusia
adalah akhlak yang menjadi saksi bahwa ia sedang disentuh petunjuk Alloh.
Pasal 46 — Wasiat Penutup Sang Hamba
Wahai diri,
bila engkau telah membaca sampai akhir,
jangan merasa selesai.
Sebab kitab ini bukan untuk ditutup dengan bangga,
tetapi dibuka kembali dalam amal sehari-hari.
Bila engkau marah, ingatlah lembar tentang lisan.
Bila engkau sombong, ingatlah lembar tentang ego.
Bila engkau lelah, ingatlah lembar tentang sabar.
Bila engkau terluka, ingatlah lembar tentang rahmat.
Bila engkau merasa tinggi, ingatlah bahwa engkau hanyalah hamba.
Bila engkau merasa jauh, ingatlah bahwa pintu taubat Alloh selalu luas.
Jangan jadikan cahaya sebagai mahkota di kepala.
Jadikan cahaya sebagai sujud di hati.
Jangan jadikan kitab sebagai bukti untuk menang atas manusia.
Jadikan kitab sebagai cermin untuk memperbaiki diri.
Jangan jadikan nama ruh sebagai sebab merasa istimewa.
Jadikan ia pengingat bahwa ruh akan kembali kepada Alloh.
Jangan jadikan pengalaman batin sebagai tujuan.
Jadikan ia peringatan agar semakin menjaga iman, sholat, adab, dan Al-Qur’an.
Khatimah — Penutup Qitab
Maka inilah penutup Qitab Zulfaqum Arrohmah Illahhi:
Bahwa Sang Maha Sejati hanya didekati dengan hati yang sejati.
Hati yang sejati adalah hati yang jujur.
Hati yang jujur adalah hati yang mau bertaubat.
Hati yang bertaubat adalah hati yang tidak berhenti pulang kepada Alloh.
Al-Qur’an sejati hidup di dalam diri
bila manusia menjadi lebih lembut,
lebih sabar,
lebih amanah,
lebih takut kepada dosa,
lebih mencintai sholat,
lebih menjaga lisan,
lebih jujur dalam amal,
dan lebih rendah hati di hadapan Alloh.
Maka tutuplah kitab ini dengan satu kesadaran:
Aku bukan pemilik cahaya.
Aku hanya hamba yang memohon diterangi.
Aku bukan sumber kebenaran.
Aku hanya hamba yang memohon dituntun.
Aku bukan yang paling sampai.
Aku hanya hamba yang ingin pulang.
Doa Penutup
Yā Alloh,
Engkaulah Sang Maha Sejati.
Engkaulah sumber petunjuk.
Engkaulah pemilik cahaya.
Engkaulah yang membolak-balikkan hati.
Hidupkan Al-Qur’an dalam dada kami.
Jadikan lisan kami lembut.
Jadikan hati kami bersih.
Jadikan amal kami ikhlas.
Jadikan langkah kami lurus.
Jadikan ilmu kami membawa takut kepada-Mu.
Jadikan rasa batin kami tunduk kepada syariat-Mu.
Jadikan hidup kami jalan pulang kepada ridho-Mu.
Yā Alloh,
jangan biarkan kami tersesat oleh pengakuan.
Jangan biarkan kami tertipu oleh cahaya palsu.
Jangan biarkan kami memuja rasa, tanda, mimpi, atau pengalaman.
Tetapkan hati kami di atas iman, Islam, ihsan, Al-Qur’an, sholat, taubat, dan akhlak yang baik.
Bila kami salah, bimbinglah.
Bila kami sombong, tundukkanlah.
Bila kami gelap, terangilah.
Bila kami jauh, panggillah pulang.
Bila kami lemah, kuatkan dengan rahmat-Mu.
Yā Alloh, jadikan akhir hidup kami husnul khotimah.
Jadikan ruh kami pulang dalam keadaan Engkau ridhoi.
Jadikan kitab amal kami terang.
Jadikan Al-Qur’an penolong kami.
Dan kumpulkan kami bersama hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai.
Āmīn yā Alloh.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
Tammat.
Selesai dengan menyebut nama Alloh,
segala puji hanya bagi Alloh,
dan segala cahaya kembali kepada Alloh.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.