QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
"Semua perjalanan apa pun yang bisa membolak-balikkan keadaan hanyalah milik Sang Maha Al-Haq."
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Kepada-Nya segala permulaan berasal, kepada-Nya segala perjalanan kembali, dan di tangan-Nya segala perubahan terjadi.
Pasal 1 – Hakikat Perubahan
Manusia sering mengira dirinya yang mengatur arah kehidupan. Padahal hati dapat berubah, keadaan dapat berbalik, kekuatan dapat melemah, dan kelemahan dapat menjadi kekuatan hanya karena izin Alloh.
Tidak ada kekuasaan yang mampu mempertahankan sesuatu bila Alloh menghendaki perubahan. Tidak ada kesulitan yang kekal bila Alloh menghendaki kemudahan.
Maka jangan bergantung kepada keadaan, karena keadaan selalu berubah. Bergantunglah kepada Alloh Yang tidak pernah berubah.
---
Pasal 2 – Membolak-balikkan Keadaan
Hari ini seseorang berada di puncak, esok ia berada di bawah.
Hari ini seseorang menangis, esok ia tersenyum.
Hari ini seseorang kehilangan, esok ia menemukan.
Hari ini seseorang tersesat, esok ia mendapat petunjuk.
Semua itu bukan semata-mata hasil kekuatan manusia, melainkan bagian dari sunnatullah yang berjalan atas kehendak-Nya.
Karena itu jangan sombong ketika diberi, dan jangan putus asa ketika diuji.
---
Pasal 3 – Manusia Hanya Berikhtiar
Tugas manusia adalah berusaha dengan sebaik-baiknya, menjaga adab, memperbaiki akhlak, serta memperbanyak doa.
Sedangkan hasil akhirnya adalah hak mutlak Alloh.
Barang siapa menyadari hal ini, maka ia akan tenang dalam keberhasilan dan sabar dalam kegagalan.
Ia tidak mudah dipuji oleh keberuntungan dan tidak mudah dihancurkan oleh musibah, karena hatinya bersandar kepada Yang Maha Membolak-balikkan segala keadaan.
---
Penutup
Wahai hamba Alloh, apabila hidupmu sedang berubah, jangan takut kepada perubahan itu.
Takutlah hanya apabila perubahan itu menjauhkanmu dari Alloh.
Karena sesungguhnya yang paling besar bukan berubahnya dunia, melainkan berubahnya hati dari mengingat Robbnya.
Semoga Alloh menjadikan setiap perubahan sebagai jalan menuju cahaya, hikmah, dan kedekatan kepada-Nya. Āmīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kedua
Pasal 4 — Jalan yang Berbalik Bukan Berarti Tersesat
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Ada perjalanan yang tampak maju, tetapi sesungguhnya menjauh.
Ada perjalanan yang tampak mundur, tetapi sebenarnya sedang diselamatkan.
Ada pintu yang terbuka karena rahmat.
Ada pula pintu yang ditutup karena penjagaan.
Maka jangan terlalu cepat menilai arah hanya dari apa yang terlihat oleh mata.
Sebab pandangan manusia hanya melihat satu belokan, sedangkan ilmu Alloh meliputi seluruh jalan.
Kadang seseorang dipindahkan dari tempat yang dicintainya agar terhindar dari keburukan yang belum ia ketahui.
Kadang seseorang dipertemukan dengan kesulitan agar kesombongannya runtuh.
Kadang seseorang kehilangan sesuatu agar hatinya kembali mengenal Sang Pemilik.
Dan kadang seseorang menerima sesuatu setelah lama menunggu agar ia belajar bahwa hasil bukan datang karena tergesa-gesa, tetapi karena waktu yang telah ditentukan.
Pasal 5 — Pemilik Arah
Manusia boleh memilih langkah.
Manusia boleh membuat rencana.
Manusia boleh berusaha menjaga perjalanan.
Tetapi arah akhir tetap berada dalam kekuasaan Alloh.
Tidak ada kapal yang sampai hanya karena layar.
Tidak ada musafir yang tiba hanya karena peta.
Tidak ada usaha yang berbuah hanya karena kekuatan diri.
Semua sebab bergerak karena Alloh mengizinkannya bergerak.
Semua jalan terbuka karena Alloh mengizinkannya terbuka.
Semua perubahan terjadi karena Alloh menetapkan waktunya.
Karena itu, orang yang mengenal hakikat perjalanan tidak akan menyembah sebab.
Ia memakai sebab, tetapi hatinya bergantung kepada Alloh.
Ia bekerja, tetapi tidak menganggap dirinya paling menentukan.
Ia berdoa, tetapi tidak memaksa ketetapan.
Ia berharap, tetapi tetap tunduk kepada kehendak-Nya.
Pasal 6 — Rahasia Jalan yang Diputar
Ada kalanya hidup diputar melalui jalan yang panjang.
Bukan karena Alloh ingin menyulitkan.
Namun karena jiwa belum siap menerima apa yang dimintanya.
Jalan yang panjang sering kali dipakai untuk mematangkan kesabaran.
Jalan yang berliku sering kali dipakai untuk membersihkan niat.
Jalan yang sunyi sering kali dipakai untuk mengenalkan isi hati.
Jalan yang tertunda sering kali dipakai untuk menyempurnakan waktu.
Maka apabila perjalanan terasa membolak-balikkan keadaan, jangan hanya bertanya:
“Kenapa jalanku dipersulit?”
Tetapi bertanyalah:
“Apa yang sedang Alloh ajarkan kepadaku melalui jalan ini?”
Sebab orang yang hanya melihat kesulitan akan menemukan keluhan.
Sedangkan orang yang mencari hikmah akan menemukan cahaya.
Pasal 7 — Ketika Hati Tidak Lagi Melawan
Puncak ketenangan bukan ketika semua keinginan terpenuhi.
Puncak ketenangan adalah ketika hati tidak lagi memberontak terhadap ketetapan Alloh.
Bukan berarti manusia berhenti berusaha.
Bukan pula berarti manusia pasrah tanpa ikhtiar.
Tetapi ia belajar berjalan tanpa memusuhi takdir.
Ia tetap memperbaiki diri.
Ia tetap mencari jalan halal.
Ia tetap menjaga doa.
Ia tetap menolak kezaliman.
Namun di dalam batinnya ia berkata:
“Ya Alloh, aku berusaha semampuku, tetapi Engkaulah Pemilik seluruh arah.”
Ketika kesadaran ini tumbuh, perjalanan tidak lagi terasa kosong.
Kegagalan menjadi pelajaran.
Keberhasilan menjadi amanah.
Kehilangan menjadi pengingat.
Pertemuan menjadi titipan.
Dan setiap perubahan menjadi jalan untuk mengenal Alloh lebih dalam.
Hikmah Lembar Kedua
Jangan takut kepada jalan yang berbelok.
Takutlah apabila hatimu kehilangan arah kepada Alloh.
Jangan terlalu bangga ketika jalan terasa mudah.
Jangan terlalu hancur ketika jalan terasa sempit.
Sebab luas dan sempit hanyalah keadaan.
Sedangkan Alloh adalah Pemilik seluruh keadaan.
Doa:
Allāhumma yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbanā ‘alā ṭā‘atik.
Wa yā Muṣarrifal-umūr, ṣarrif umūranā ilā mā tuḥibbu wa tarḍā.
“Ya Alloh, Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami dalam ketaatan kepada-Mu. Wahai Dzat Yang mengatur segala urusan, arahkan urusan kami kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridai.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Ketiga
Pasal 8 — Rahasia Hati yang Dibolak-balikkan
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Hati manusia bukan batu yang tidak berubah.
Ia dapat tenang, lalu gelisah.
Ia dapat yakin, lalu ragu.
Ia dapat mencintai, lalu menjauh.
Ia dapat merasa kuat, lalu tiba-tiba lemah.
Karena itu, jangan merasa paling suci hanya karena hari ini hatimu lembut.
Dan jangan merasa paling hina hanya karena hari ini hatimu sedang berat.
Hati berada dalam pemeliharaan Alloh.
Tugas manusia adalah menjaganya dengan zikir, doa, ilmu, taubat, dan amal yang jujur.
Sebab hati yang tidak dijaga mudah dibolak-balikkan oleh pujian, ketakutan, hawa nafsu, luka, dan keinginan dunia.
Namun hati yang dikembalikan kepada Alloh akan belajar tenang, sekalipun keadaan di sekelilingnya terus berubah.
Pasal 9 — Jangan Menjadikan Keadaan sebagai Tuhan
Ada orang yang taat ketika hidupnya lapang, tetapi menjauh ketika diuji.
Ada orang yang bersyukur ketika mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi marah ketika kehendaknya tidak terjadi.
Ia merasa dekat kepada Alloh selama doanya terkabul menurut waktunya.
Namun ketika jawaban tertunda, ia mulai mencurigai rahmat-Nya.
Inilah tanda bahwa hati belum sepenuhnya bersandar kepada Alloh, tetapi masih bersandar kepada keadaan.
Padahal Alloh tetap Alloh ketika engkau diberi.
Alloh tetap Alloh ketika engkau kehilangan.
Alloh tetap Alloh ketika engkau dipuji.
Alloh tetap Alloh ketika engkau dilupakan manusia.
Alloh tidak berubah hanya karena hidupmu berubah.
Maka jangan menjadikan kelapangan sebagai bukti satu-satunya bahwa Alloh mencintaimu.
Dan jangan menjadikan kesempitan sebagai bukti bahwa Alloh meninggalkanmu.
Kadang kelapangan adalah ujian.
Kadang kesempitan adalah perlindungan.
Kadang pemberian adalah amanah yang berat.
Kadang kehilangan adalah jalan penyelamatan.
Pasal 10 — Ketetapan Tidak Selalu Datang seperti Keinginan
Manusia sering meminta satu pintu.
Namun Alloh membukakan jalan yang lain.
Manusia meminta dipercepat.
Namun Alloh menundanya.
Manusia meminta sesuatu tetap tinggal.
Namun Alloh memindahkannya.
Manusia meminta jawaban yang jelas.
Namun Alloh mengajarkannya melalui kejadian demi kejadian.
Maka pahamilah:
Jawaban Alloh tidak selalu berbentuk “iya” sesuai keinginanmu.
Kadang jawabannya adalah:
“Belum.”
Kadang:
“Bukan melalui jalan itu.”
Kadang:
“Aku akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih selamat.”
Dan kadang:
“Aku sedang membentuk dirimu sebelum memberikan apa yang engkau minta.”
Orang yang terburu-buru hanya melihat tertundanya hasil.
Tetapi orang yang belajar tawakal akan melihat bahwa dirinya sedang dipersiapkan.
Pasal 11 — Al-Haq Tidak Pernah Salah Menempatkan
Segala yang datang dari ketetapan Alloh tidak keluar dari ilmu dan hikmah-Nya.
Manusia mungkin salah memilih.
Manusia mungkin salah membaca tanda.
Manusia mungkin salah menilai seseorang.
Namun Alloh tidak pernah salah mengetahui apa yang tersembunyi.
Dia mengetahui niat di balik senyuman.
Dia mengetahui bahaya di balik kemudahan.
Dia mengetahui rahmat di balik kehilangan.
Dia mengetahui akhir dari jalan yang baru saja dimulai.
Maka ketika hidup terasa dipindahkan dari satu keadaan menuju keadaan lain, jangan segera menuduh perjalanan itu sia-sia.
Boleh jadi engkau sedang dijauhkan dari sesuatu yang tampak indah, tetapi merusak.
Boleh jadi engkau sedang diarahkan kepada sesuatu yang tampak kecil, tetapi menyimpan keberkahan.
Boleh jadi engkau sedang diturunkan dari tempat tinggi agar tidak jatuh lebih keras.
Boleh jadi engkau sedang disendirikan agar kembali mendengar suara nurani.
Pasal 12 — Tanda Hamba yang Mulai Mengenal Pemilik Perjalanan
Hamba yang mulai mengenal Alloh tidak lagi menuntut semua jalan harus mudah.
Ia hanya memohon agar setiap jalan dijaga.
Ia tidak menuntut semua keinginan segera menjadi nyata.
Ia hanya memohon agar yang datang tidak menjauhkannya dari Alloh.
Ia tidak terlalu terpukau oleh pujian.
Ia tidak terlalu runtuh oleh penolakan.
Ia tidak menganggap manusia sebagai pemegang mutlak nasibnya.
Ia tidak pula berhenti berusaha.
Ia berjalan dengan dua kaki:
ikhtiar dan tawakal.
Ia menjaga dua cahaya:
kesabaran dan syukur.
Ia memegang dua adab:
rendah hati ketika diberi dan tidak berputus asa ketika diuji.
Hikmah Lembar Ketiga
Apabila hari ini hatimu berubah, kembalikan ia kepada Alloh.
Apabila arah hidupmu berubah, periksa kembali niatmu.
Apabila rencanamu berubah, jangan biarkan imanmu ikut runtuh.
Sebab perjalanan dapat berbelok.
Manusia dapat meninggalkan.
Kesempatan dapat hilang.
Kekuatan dapat melemah.
Tetapi pintu kembali kepada Alloh tetap terbuka selama hidup masih diberikan.
Doa
Allāhumma lā taj‘al qulūbanā asīratan lil-aḥwāl,
waj‘alhā muta‘alliqatan bika fī kulli ḥāl.
“Ya Alloh, jangan jadikan hati kami tawanan keadaan. Jadikanlah hati kami tetap bergantung kepada-Mu dalam setiap keadaan.”
Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alal-ḥaqq.
Yā Hādī, ihdinā ilā ṣirāṭika al-mustaqīm.
“Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas kebenaran. Wahai Maha Pemberi Petunjuk, tunjukilah kami menuju jalan-Mu yang lurus.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Keempat
Pasal 13 — Ketika Jalan Lama Harus Ditinggalkan
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Tidak semua jalan yang pernah membawamu maju harus terus dipertahankan selamanya.
Ada jalan yang hanya ditetapkan untuk satu masa.
Ada tempat yang hanya menjadi ruang belajar.
Ada pertemuan yang hanya menjadi pembuka kesadaran.
Ada kehilangan yang justru menjadi pintu perpindahan.
Manusia sering menderita bukan hanya karena jalan ditutup, tetapi karena ia memaksa kembali kepada jalan yang memang telah selesai.
Ia terus mengetuk pintu yang sudah tidak lagi menjadi arah hidupnya.
Ia memanggil sesuatu yang telah dilepaskan oleh ketetapan.
Ia menyangka bahwa melepaskan berarti kalah.
Padahal kadang melepaskan adalah bentuk ketaatan yang paling berat.
Maka belajarlah memahami:
Tidak semua yang pergi harus dikejar.
Tidak semua yang berubah harus dikembalikan seperti semula.
Tidak semua yang runtuh harus dibangun kembali dengan bentuk yang sama.
Ada saatnya manusia diperintah bertahan.
Ada saatnya manusia diperintah berpindah.
Dan hikmah keduanya hanya menjadi terang bagi hati yang jujur.
Pasal 14 — Jangan Berjalan dengan Luka sebagai Penunjuk Arah
Luka dapat memberi pelajaran.
Tetapi luka tidak boleh menjadi pemimpin perjalanan.
Orang yang berjalan hanya berdasarkan luka akan mudah mencurigai semua orang.
Ia melihat pengkhianatan pada setiap kedekatan.
Ia melihat ancaman pada setiap perubahan.
Ia melihat kegagalan pada setiap permulaan.
Padahal satu peristiwa tidak selalu menjadi ukuran seluruh kehidupan.
Satu manusia yang menyakiti tidak berarti semua manusia akan menyakiti.
Satu pintu yang tertutup tidak berarti semua pintu telah tertutup.
Satu doa yang tertunda tidak berarti Alloh tidak mendengar.
Maka rawatlah luka dengan doa, ilmu, waktu, dan keberanian untuk jujur kepada diri sendiri.
Jangan menutupi luka dengan kesombongan.
Jangan menghias luka dengan kemarahan.
Jangan menjadikan luka sebagai alasan untuk menzalimi orang lain.
Sebab luka yang tidak disembuhkan akan mengubah cara manusia melihat seluruh perjalanan.
Pasal 15 — Perjalanan yang Benar Selalu Memperbaiki Akhlak
Tidak semua perjalanan yang terasa luar biasa adalah perjalanan yang mendekatkan diri kepada Alloh.
Ada perjalanan yang membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain.
Ada pengalaman yang membuat seseorang ingin dipuji.
Ada ilmu yang justru menambah kesombongan.
Ada kedudukan yang menjauhkan hati dari kelembutan.
Karena itu, ukuran perjalanan bukan hanya seberapa jauh engkau berjalan.
Ukuran perjalanan adalah:
Apakah engkau menjadi lebih jujur?
Apakah engkau menjadi lebih sabar?
Apakah engkau menjadi lebih amanah?
Apakah engkau lebih mudah meminta maaf?
Apakah engkau lebih mampu menahan lisan?
Apakah engkau lebih takut menzalimi?
Apakah engkau lebih lembut kepada keluarga?
Apakah engkau semakin sadar bahwa semua kelebihan hanyalah titipan?
Jika perjalananmu membuat akhlak memburuk, maka periksalah kembali arahmu.
Jika pengetahuanmu membuatmu merasa paling suci, maka periksalah kembali niatmu.
Jika kedekatanmu kepada agama membuatmu mudah merendahkan, maka mungkin yang tumbuh bukan cahaya, tetapi rasa besar diri.
Pasal 16 — Al-Haq Tidak Membutuhkan Pembelaan dengan Kezaliman
Kebenaran tidak menjadi mulia karena kemarahan manusia.
Kebenaran tidak menjadi kuat karena penghinaan.
Kebenaran tidak menjadi tinggi karena orang lain direndahkan.
Al-Haq adalah milik Alloh.
Maka membela kebenaran harus tetap dengan adab, ilmu, kesabaran, dan kejujuran.
Jangan mengatasnamakan Alloh untuk melampiaskan luka pribadi.
Jangan memakai agama untuk memenangkan pertengkaran.
Jangan menjadikan nasihat sebagai alat mempermalukan.
Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan memutus kasih sayang.
Tegas bukan berarti kasar.
Lembut bukan berarti lemah.
Diam bukan selalu takut.
Berbicara bukan selalu berani.
Yang paling penting adalah:
Apakah ucapanmu menjaga kebenaran?
Apakah caramu tetap menjaga martabat manusia?
Apakah niatmu benar-benar karena Alloh?
Sebab banyak orang merasa sedang membela agama, padahal sebenarnya sedang membela harga dirinya.
Pasal 17 — Perubahan yang Tidak Disertai Kesadaran Akan Berulang
Manusia dapat berpindah tempat tanpa berubah.
Ia dapat mengganti lingkungan tanpa memperbaiki sikap.
Ia dapat meninggalkan seseorang, tetapi membawa pola luka yang sama.
Ia dapat memulai pekerjaan baru, tetapi tetap memelihara kelalaian lama.
Karena itu, perubahan luar belum tentu menjadi perubahan batin.
Jika kesombongan tidak diperbaiki, ia akan muncul di tempat baru.
Jika rasa iri tidak dibersihkan, ia akan mengikuti ke mana pun seseorang pergi.
Jika kebiasaan menunda tidak dihentikan, peluang baru pun akan rusak.
Jika lisan tidak dijaga, hubungan baru akan mengalami luka yang serupa.
Maka sebelum meminta Alloh mengubah keadaan, mintalah juga kekuatan untuk mengubah diri.
Jangan hanya berdoa:
“Ya Alloh, pindahkan aku dari kesulitan ini.”
Tetapi berdoalah pula:
“Ya Alloh, keluarkan sifat burukku yang membuat kesulitan ini terus berulang.”
Pasal 18 — Tanda Jalan yang Diberkahi
Jalan yang diberkahi tidak selalu paling ramai.
Tidak selalu paling cepat.
Tidak selalu paling banyak dipuji.
Namun di dalamnya ada ketenangan yang bersih.
Ada rezeki yang tidak mematikan hati.
Ada pertemuan yang memperbaiki iman.
Ada pekerjaan yang menjaga kehormatan.
Ada ilmu yang menumbuhkan kerendahan hati.
Ada keberhasilan yang membuat seseorang semakin bersyukur.
Ada kesulitan yang membuatnya semakin dewasa.
Jalan yang diberkahi membuat manusia tetap ingat kepada Alloh ketika lapang dan sempit.
Ia tidak hanya rajin berdoa saat membutuhkan pertolongan.
Ia juga bersyukur ketika keadaan telah membaik.
Ia tidak melupakan orang yang pernah menolong.
Ia tidak menjadi sombong setelah berhasil.
Ia tidak memutus hubungan setelah mendapatkan kedudukan.
Itulah salah satu tanda bahwa perjalanan tidak hanya membawa perubahan keadaan, tetapi juga membawa kematangan jiwa.
Hikmah Lembar Keempat
Wahai penempuh perjalanan,
Jangan meminta jalan selalu lurus menurut pandanganmu.
Mintalah agar hatimu tetap lurus ketika jalan berbelok.
Jangan meminta semua yang hilang kembali.
Mintalah agar kehilangan itu tidak merusak imanmu.
Jangan meminta semua manusia memahami dirimu.
Mintalah agar engkau tetap mampu berlaku adil sekalipun disalahpahami.
Jangan meminta hidup tanpa luka.
Mintalah agar setiap luka menjadi ilmu, bukan racun.
Sebab perjalanan milik Alloh.
Belokan milik Alloh.
Pertemuan dan perpisahan berada dalam ilmu Alloh.
Sedangkan tugasmu adalah berjalan dengan adab, ikhtiar, dan hati yang terus kembali kepada Al-Haq.
Doa
Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnattibā‘ah,
wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnajtinābah.
“Ya Alloh, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kemampuan untuk menjauhinya.”
Allāhumma aṣliḥ qulūbanā qabla an tuṣliḥ aḥwālanā,
wahdinā fī kulli ṭarīq ilā mā turḍīk.
“Ya Alloh, perbaikilah hati kami sebelum Engkau memperbaiki keadaan kami, dan tuntunlah kami pada setiap jalan menuju sesuatu yang Engkau ridai.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kelima
Pasal 19 — Ketika Keinginan Tidak Menjadi Ketetapan
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Tidak semua yang sangat diinginkan akan ditetapkan menjadi milik.
Tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir seperti yang direncanakan.
Tidak semua doa dijawab dalam bentuk yang sama dengan permintaan.
Sebab keinginan manusia lahir dari pandangan yang terbatas, sedangkan ketetapan Alloh bersumber dari ilmu yang meliputi awal, pertengahan, dan akhir.
Manusia melihat apa yang disukai.
Alloh mengetahui apa yang menyelamatkan.
Manusia mengejar apa yang tampak indah.
Alloh mengetahui apa yang tersembunyi di balik keindahan itu.
Manusia ingin sesuatu segera hadir.
Alloh mengetahui apakah hati telah siap menjaganya.
Maka apabila keinginan tidak menjadi kenyataan, jangan segera menganggap doa telah sia-sia.
Boleh jadi doa itu sedang menjadi penjagaan.
Boleh jadi ia sedang dialihkan menjadi kekuatan.
Boleh jadi ia sedang disimpan menjadi pengganti.
Boleh jadi jawaban terbaiknya adalah dijauhkan dari sesuatu yang belum diketahui bahayanya.
Pasal 20 — Jangan Memaksa Takdir dengan Hawa Nafsu
Ada orang yang menyebut keinginannya sebagai petunjuk.
Ia merasa apa yang sangat disukai pasti menjadi jalan terbaik.
Ia menganggap rasa kuat di dalam hati sebagai tanda bahwa sesuatu harus dimiliki.
Padahal kuatnya keinginan belum tentu kuatnya kebenaran.
Rasa rindu belum tentu petunjuk.
Kenyamanan belum tentu keberkahan.
Kesulitan belum tentu larangan.
Karena itu, setiap keinginan harus dibawa kepada tiga timbangan:
kebenaran, kemaslahatan, dan akhlak.
Apakah jalan itu halal?
Apakah tidak menzalimi?
Apakah tidak merusak amanah?
Apakah membuatmu semakin jujur?
Apakah membuatmu semakin dekat kepada Alloh?
Apakah membawa ketenangan yang bersih, bukan sekadar kesenangan sesaat?
Jika sebuah keinginan membuatmu berbohong, merampas hak, memutus silaturahmi, atau mengabaikan kewajiban, maka keinginan itu bukan petunjuk, melainkan hawa nafsu yang sedang memakai pakaian pembenaran.
Pasal 21 — Jalan yang Benar Tidak Takut Diuji
Sesuatu yang benar tidak rusak karena diperiksa.
Niat yang jujur tidak takut ditanya.
Ilmu yang baik tidak takut dibandingkan dengan dalil dan akal sehat.
Keputusan yang matang tidak takut dipertimbangkan kembali.
Maka jangan marah ketika orang lain mengingatkan.
Jangan merasa direndahkan ketika nasihat datang.
Jangan menolak pertanyaan hanya karena engkau merasa telah yakin.
Sebab kadang Alloh menyelamatkan seseorang melalui lisan orang yang tidak ia sukai.
Kadang peringatan datang melalui kegagalan kecil.
Kadang jalan dikoreksi melalui rasa tidak nyaman.
Kadang kesalahan dibuka agar tidak berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.
Orang yang benar-benar mencari Al-Haq akan lebih mencintai koreksi daripada pujian palsu.
Ia tidak takut mengakui:
“Aku pernah salah.”
Ia tidak malu berkata:
“Aku perlu belajar lagi.”
Ia tidak gengsi untuk kembali.
Sebab kembali kepada kebenaran lebih mulia daripada bertahan dalam kekeliruan.
Pasal 22 — Membolak-balikkan Bukan Berarti Mempermainkan
Ketika keadaan berubah berulang kali, manusia kadang merasa hidup sedang mempermainkannya.
Hari ini ada harapan.
Esok ada penundaan.
Hari ini pintu terbuka.
Esok ia tertutup.
Hari ini hati terasa yakin.
Esok muncul keraguan.
Namun perubahan yang berulang bukan berarti Alloh mempermainkan hamba-Nya.
Alloh Mahasuci dari kesia-siaan.
Yang sering terjadi adalah manusia sedang diajarkan untuk tidak menggantungkan seluruh hidup kepada satu keadaan.
Ia sedang dilatih agar tidak menyembah hasil.
Ia sedang dibimbing untuk membedakan antara keyakinan kepada Alloh dan keterikatan kepada keinginannya sendiri.
Selama hati masih berkata:
“Aku hanya akan tenang bila ini terjadi,”
maka hati masih menjadi tawanan sesuatu selain Alloh.
Namun ketika hati mulai mampu berkata:
“Aku akan tetap berusaha, tetapi ketenanganku tidak hanya bergantung pada hasil ini,”
maka ia mulai merasakan kemerdekaan batin.
Pasal 23 — Tawakal Bukan Menyerah sebelum Berjalan
Tawakal bukan alasan untuk malas.
Bukan alasan untuk berhenti mencari ilmu.
Bukan alasan untuk menunda kewajiban.
Bukan alasan untuk membiarkan kezaliman.
Bukan pula alasan untuk menerima semua keadaan tanpa ikhtiar.
Tawakal adalah menyempurnakan usaha tanpa mengaku sebagai penguasa hasil.
Petani menanam, tetapi ia tidak menciptakan hujan.
Pedagang berusaha, tetapi ia tidak memegang hati semua pembeli.
Orang sakit berobat, tetapi kesembuhan tetap milik Alloh.
Seorang murid belajar, tetapi kejernihan pemahaman adalah karunia.
Seorang pemimpin menyusun rencana, tetapi keberhasilan memerlukan pertolongan-Nya.
Maka tawakal memiliki dua sayap:
usaha yang sungguh-sungguh dan penyerahan yang jernih.
Usaha tanpa tawakal melahirkan kesombongan.
Tawakal tanpa usaha berubah menjadi kemalasan yang dibungkus bahasa agama.
Pasal 24 — Ketika Alloh Mengubah Arah melalui Manusia
Kadang perubahan datang melalui perkataan seseorang.
Kadang melalui penolakan.
Kadang melalui pertemuan yang singkat.
Kadang melalui orang yang mengecewakan.
Kadang melalui orang yang menolong tanpa diminta.
Namun jangan menganggap manusia sebagai sumber mutlak perubahan.
Manusia hanyalah sebab.
Alloh-lah yang mengizinkan sebab itu hadir.
Seseorang dapat menjadi pintu rezeki, tetapi ia bukan pemilik rezeki.
Seseorang dapat menjadi sebab luka, tetapi ia bukan penguasa seluruh masa depanmu.
Seseorang dapat memberi petunjuk, tetapi hidayah tetap milik Alloh.
Seseorang dapat meninggalkanmu, tetapi ia tidak dapat menutup seluruh pintu rahmat.
Maka jangan terlalu mengagungkan orang yang menolong.
Dan jangan memberikan seluruh kuasa hidupmu kepada orang yang menyakiti.
Ambillah hikmah dari keduanya.
Berterima kasihlah kepada yang berbuat baik.
Jagalah batas kepada yang berbuat buruk.
Lalu kembalikan hati kepada Sang Pemilik segala sebab.
Pasal 25 — Rahasia Menunggu
Menunggu bukan selalu kekosongan.
Dalam penantian, niat diuji.
Dalam penantian, kesabaran dibentuk.
Dalam penantian, ketergantungan dibersihkan.
Dalam penantian, manusia belajar apakah ia benar-benar menginginkan kebaikan atau hanya menginginkan kecepatan.
Ada buah yang rusak bila dipetik sebelum matang.
Ada amanah yang berubah menjadi bencana bila datang sebelum kesiapan.
Ada pertemuan yang menjadi luka bila terjadi sebelum kedewasaan.
Ada kekayaan yang menghancurkan bila hadir sebelum akhlak mampu menjaganya.
Maka keterlambatan tidak selalu penolakan.
Kadang ia adalah bentuk rahmat yang belum dipahami.
Hikmah Lembar Kelima
Wahai penempuh jalan,
Jangan ukur kasih sayang Alloh hanya dari cepatnya jawaban.
Jangan ukur kebenaran hanya dari kuatnya keinginan.
Jangan ukur keberkahan hanya dari mudahnya perjalanan.
Jangan ukur petunjuk hanya dari rasa nyaman.
Ukurlah semuanya dengan adab, kebenaran, kemaslahatan, dan kedekatan kepada Alloh.
Sebab yang menyenangkan belum tentu menyelamatkan.
Yang tertunda belum tentu ditolak.
Yang hilang belum tentu buruk.
Yang berubah belum tentu hukuman.
Dan yang tidak engkau pahami hari ini, boleh jadi kelak menjadi sebab engkau bersujud dengan penuh syukur.
Doa
Allāhumma ikhtar lanā wa lā tukhayyirnā li-anfusinā,
waqdur lanal-khayra ḥaytsu kāna, tsumma arḍinā bih.
“Ya Alloh, pilihkanlah yang terbaik untuk kami dan jangan serahkan kami kepada pilihan hawa nafsu kami. Tetapkanlah kebaikan bagi kami di mana pun ia berada, lalu ridakan hati kami menerimanya.”
Allāhumma lā ta‘allaq qulūbanā illā bika,
wa lā taj‘al murādanā ḥijāban ‘an murādik.
“Ya Alloh, jangan biarkan hati kami bergantung selain kepada-Mu, dan jangan jadikan keinginan kami sebagai penghalang untuk menerima kehendak-Mu.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Keenam
Pasal 26 — Ketika Arah Berubah setelah Doa
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Ada orang yang berdoa agar jalannya dimudahkan, tetapi setelah berdoa justru arah hidupnya berubah.
Pekerjaan yang dahulu dikejar tidak lagi terasa tepat.
Hubungan yang dahulu dipertahankan mulai tampak melelahkan.
Tempat yang dahulu dianggap tujuan ternyata hanya persinggahan.
Rencana yang telah disusun lama tiba-tiba harus diperbaiki.
Lalu manusia bertanya:
“Bukankah aku telah berdoa? Mengapa jalanku justru berubah?”
Ketahuilah, perubahan setelah doa tidak selalu berarti doa ditolak.
Kadang itulah jawaban doa.
Engkau meminta jalan yang baik, lalu Alloh menjauhkanmu dari jalan yang hanya terlihat baik.
Engkau meminta keselamatan, lalu Alloh membuka hakikat sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Engkau meminta ketenangan, lalu Alloh memisahkanmu dari sumber kegelisahan.
Engkau meminta petunjuk, lalu Alloh mengguncangkan keyakinan yang dibangun di atas prasangka.
Maka jangan hanya menunggu jawaban dalam bentuk datangnya sesuatu.
Perhatikan pula apa yang mulai dijauhkan.
Sebab rahmat tidak selalu datang dengan penambahan.
Kadang rahmat datang melalui pengurangan.
Pasal 27 — Perjalanan Tidak Selalu Menjawab dengan Kata-kata
Tidak semua petunjuk hadir dalam mimpi.
Tidak semua jawaban datang melalui suara batin.
Tidak semua perubahan harus dianggap sebagai tanda ghaib.
Banyak jawaban Alloh hadir melalui kenyataan yang sederhana:
melalui hasil usaha,
melalui nasihat orang yang bijaksana,
melalui terbukanya fakta,
melalui keadaan yang terus berulang,
melalui hati yang semakin jernih setelah berdoa,
dan melalui pertimbangan yang matang.
Karena itu, jangan meninggalkan akal ketika mencari petunjuk.
Akal yang sehat adalah amanah.
Ilmu adalah pelita.
Musyawarah adalah penjagaan.
Doa adalah pengikat hati.
Sedangkan kenyataan adalah tempat manusia membaca akibat.
Petunjuk yang benar tidak membuat manusia kehilangan tanggung jawab.
Ia justru membuat manusia semakin hati-hati, jujur, dan berani memeriksa keputusan.
Pasal 28 — Tanda Peringatan dan Tanda Ketakutan
Tidak setiap rasa takut adalah peringatan.
Kadang rasa takut berasal dari luka lama.
Kadang berasal dari kurangnya persiapan.
Kadang muncul karena manusia sedang memasuki wilayah baru.
Kadang ia hanyalah kegelisahan yang perlu ditenangkan, bukan tanda untuk berhenti.
Demikian pula, tidak setiap rasa berani adalah petunjuk.
Kadang keberanian tumbuh dari kesombongan.
Kadang karena tidak memahami bahaya.
Kadang karena terlalu yakin kepada kemampuan diri.
Maka rasa takut dan rasa berani harus diperiksa.
Tanyakan:
Apakah ketakutan ini disertai alasan yang nyata?
Apakah ada bahaya yang benar-benar perlu dihindari?
Apakah aku hanya takut gagal atau takut melanggar kebenaran?
Apakah keberanianku lahir dari persiapan atau sekadar dorongan sesaat?
Hati yang matang tidak diperintah oleh perasaan semata.
Ia mendengarkan rasa, tetapi menimbangnya dengan ilmu dan kenyataan.
Pasal 29 — Jangan Memaknai Semua Perubahan sebagai Hukuman
Ketika sesuatu hilang, manusia sering merasa sedang dihukum.
Ketika usaha gagal, ia menganggap Alloh murka.
Ketika hubungan berakhir, ia merasa dirinya tidak layak dicintai.
Ketika rezeki menyempit, ia mengira seluruh amalnya ditolak.
Padahal tidak semua kesulitan adalah hukuman.
Ada kesulitan yang menjadi latihan.
Ada yang menjadi peringatan.
Ada yang menjadi akibat keputusan manusia.
Ada yang menjadi bagian dari kehidupan dunia.
Ada pula yang menjadi jalan peningkatan kedewasaan.
Karena itu, jangan mudah menetapkan makna yang tidak engkau ketahui.
Muhasabahlah tanpa menyiksa diri.
Bertaubatlah tanpa kehilangan harapan.
Perbaikilah kesalahan tanpa merasa seluruh hidup telah rusak.
Alloh adalah Al-Haq dan Ar-Rahīm.
Dia mengetahui perbedaan antara hamba yang membangkang dengan hamba yang sedang belajar.
Dia mengetahui orang yang sengaja menzalimi dengan orang yang terjatuh lalu ingin kembali.
Pasal 30 — Mengakui Akibat Perbuatan Sendiri
Berserah kepada ketetapan Alloh bukan berarti menyalahkan takdir atas semua kesalahan.
Ada kesulitan yang lahir karena keputusan terburu-buru.
Ada hubungan yang rusak karena lisan tidak dijaga.
Ada rezeki yang sempit karena amanah diabaikan.
Ada kesempatan yang hilang karena kemalasan.
Ada kepercayaan yang runtuh karena kebohongan.
Dalam keadaan seperti itu, jangan berkata:
“Memang sudah takdir.”
Berkatalah dengan jujur:
“Aku telah salah dan harus memperbaikinya.”
Takdir tidak menghapus tanggung jawab.
Tawakal tidak menggugurkan kewajiban meminta maaf.
Doa tidak menggantikan hutang yang harus dibayar.
Zikir tidak menjadi alasan untuk mengabaikan usaha.
Orang yang mengenal Alloh tidak memakai kehendak-Nya sebagai tempat bersembunyi dari kesalahan dirinya.
Ia mengakui akibat, memperbaiki kerusakan, dan memohon pertolongan agar tidak mengulanginya.
Pasal 31 — Jalan Kembali Selalu Dimulai dari Kejujuran
Orang yang tersesat tidak akan menemukan jalan selama ia terus menyangkal bahwa dirinya telah salah arah.
Orang yang terluka tidak akan pulih selama ia terus berpura-pura kuat.
Orang yang menzalimi tidak akan berubah selama ia terus merasa sebagai korban.
Orang yang lalai tidak akan bangun selama ia selalu menyalahkan keadaan.
Maka pintu kembali dimulai dari kejujuran:
jujur tentang kelemahan,
jujur tentang niat,
jujur tentang kesalahan,
jujur tentang batas kemampuan,
dan jujur tentang pertolongan yang dibutuhkan.
Kejujuran mungkin terasa pahit pada awalnya.
Namun kepalsuan akan lebih pahit bila terus dipelihara.
Alloh tidak meminta manusia menjadi tanpa cacat.
Alloh memerintahkan manusia untuk bertaubat, memperbaiki diri, dan kembali kepada kebenaran.
Pasal 32 — Mengapa Jalan yang Sama Diberikan Kembali
Kadang seseorang menghadapi pelajaran yang serupa berkali-kali.
Ia bertemu jenis masalah yang sama.
Ia masuk ke pola hubungan yang sama.
Ia mengulang kesalahan yang sama.
Ia bertanya:
“Mengapa perjalanan ini kembali lagi?”
Boleh jadi karena keadaan telah berubah, tetapi kesadarannya belum berubah.
Ia mengganti orang, tetapi tidak mengganti pola.
Ia mengganti tempat, tetapi tidak mengganti kebiasaan.
Ia membuat janji baru, tetapi tidak membangun disiplin.
Ia memohon hidup yang baru, tetapi tetap memelihara cara lama.
Maka pengulangan tidak selalu berarti Alloh menolakmu.
Kadang ia menunjukkan bagian dirimu yang belum sungguh-sungguh diperbaiki.
Berhentilah sejenak.
Lihat polanya.
Cari akar masalahnya.
Lalu ubah cara berjalan, bukan hanya tempat berjalan.
Pasal 33 — Pemilik Perjalanan Tidak Kehilangan Kendali
Ketika dunia terasa kacau, ingatlah:
Alloh tidak pernah kehilangan kendali.
Ketika rencanamu runtuh, ilmu Alloh tidak runtuh.
Ketika manusia berubah, kesetiaan Alloh terhadap janji-Nya tidak berubah.
Ketika engkau tidak tahu jalan keluar, Alloh mengetahui seluruh pintu.
Namun keyakinan ini bukan alasan untuk menunggu tanpa bergerak.
Justru karena Alloh Maha Mengetahui, manusia diperintahkan untuk meminta petunjuk dan menempuh sebab yang benar.
Justru karena Alloh Maha Berkuasa, manusia tidak perlu menempuh jalan haram karena ketakutan.
Justru karena rezeki milik Alloh, manusia tidak perlu mengkhianati amanah untuk mendapatkannya.
Justru karena masa depan berada dalam ilmu-Nya, manusia dapat berjalan tanpa harus menguasai semuanya.
Hikmah Lembar Keenam
Wahai penempuh jalan,
Apabila hidup berubah setelah engkau berdoa, jangan tergesa menyebutnya kegagalan.
Periksalah apa yang sedang dibuka.
Perhatikan apa yang sedang ditutup.
Lihatlah apa yang sedang dibersihkan dari hatimu.
Namun jangan memaknai setiap kejadian sesuka hati.
Gunakan ilmu.
Gunakan akal sehat.
Lakukan musyawarah.
Periksa kenyataan.
Jaga ibadah.
Lalu berjalanlah dengan rendah hati.
Sebab Al-Haq tidak menuntun manusia menuju kebohongan.
Al-Haq tidak menyuruh manusia meninggalkan tanggung jawab.
Al-Haq tidak menjadikan hawa nafsu sebagai ukuran kebenaran.
Dan Al-Haq tidak pernah kehilangan kuasa atas perjalanan hamba-Nya.
Doa
Allāhumma alhimnā rusydanā,
wa a‘idznā min syurūri anfusinā.
“Ya Alloh, ilhamkanlah kepada kami jalan kedewasaan dan lindungilah kami dari keburukan diri kami sendiri.”
Allāhumma in kāna fī ṭarīqinā khayrun fatsabbitnā fīh,
wa in kāna fīhi syarrun faṣrifnā ‘anhu waṣrifhu ‘annā.
“Ya Alloh, apabila pada jalan kami terdapat kebaikan, teguhkanlah kami di dalamnya. Apabila terdapat keburukan, palingkanlah kami darinya dan jauhkanlah keburukan itu dari kami.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Ketujuh
Pasal 34 — Jalan yang Diterangi Bukan Jalan Tanpa Ujian
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Banyak manusia mengira bahwa apabila suatu jalan berasal dari petunjuk Alloh, maka jalan itu harus selalu mudah.
Ia mengira tidak akan ada penolakan.
Tidak akan ada kelelahan.
Tidak akan ada kebingungan.
Tidak akan ada pengorbanan.
Padahal jalan yang benar tetap dapat terasa berat.
Nabi-nabi menempuh jalan yang benar, tetapi mereka menghadapi penolakan.
Orang-orang saleh menjaga amanah, tetapi mereka tetap diuji.
Para pencari ilmu berjalan menuju cahaya, tetapi mereka harus melewati kebodohan, kesabaran, dan kerendahan hati.
Maka jangan menjadikan kesulitan sebagai satu-satunya tanda bahwa jalanmu salah.
Namun jangan pula menganggap setiap kesulitan sebagai bukti bahwa engkau sedang berada di jalan yang benar.
Periksalah buahnya.
Apakah kesulitan itu membuatmu semakin jujur?
Apakah ia mendewasakanmu?
Apakah ia menguatkan akhlak?
Apakah ia tetap berada dalam batas yang halal?
Apakah engkau masih dapat menerima nasihat?
Apakah engkau tetap mampu mengakui kesalahan?
Jalan yang benar dapat melelahkan tubuh, tetapi tidak seharusnya mematikan nurani.
Pasal 35 — Cahaya Tidak Membenarkan Segala Cara
Tujuan yang baik tidak menghalalkan cara yang buruk.
Niat menolong tidak membenarkan kebohongan.
Niat berdakwah tidak membenarkan penghinaan.
Niat menjaga keluarga tidak membenarkan kezaliman kepada orang lain.
Niat memperoleh rezeki tidak membenarkan penipuan.
Niat membela kebenaran tidak membenarkan fitnah.
Sebab Al-Haq tidak membutuhkan kebatilan untuk menegakkan kebenaran.
Alloh Mahakuasa menolong hamba-Nya tanpa memerintahkannya mengkhianati amanah.
Maka apabila perjalananmu memaksamu terus-menerus berdusta, manipulatif, merampas hak, atau menyakiti yang tidak bersalah, berhentilah dan periksa arah.
Jangan menamai hawa nafsu sebagai perjuangan.
Jangan menamai ambisi sebagai amanah.
Jangan menamai kemarahan sebagai ketegasan.
Jangan menamai keterikatan sebagai cinta suci.
Nama yang indah tidak mengubah perbuatan yang salah menjadi benar.
Pasal 36 — Ketika Hasil Besar Datang
Keberhasilan juga dapat membolak-balikkan hati.
Orang yang dahulu rendah hati dapat menjadi sombong.
Orang yang dahulu sederhana dapat menjadi rakus.
Orang yang dahulu mudah bersyukur dapat merasa semua keberhasilan berasal dari dirinya.
Maka hasil besar bukan hanya nikmat.
Ia juga ujian.
Ketika rezeki meluas, ujilah dirimu:
Apakah engkau semakin murah hati?
Ketika pengikut bertambah, ujilah dirimu:
Apakah engkau semakin berhati-hati dalam berbicara?
Ketika kedudukan naik, ujilah dirimu:
Apakah engkau masih menghormati orang kecil?
Ketika ilmu bertambah, ujilah dirimu:
Apakah engkau semakin sadar akan luasnya kebodohanmu?
Jika keberhasilan membuatmu kehilangan akhlak, maka engkau telah memperoleh hasil tetapi kehilangan arah.
Pasal 37 — Ketika Hasil Kecil Datang
Jangan meremehkan hasil yang kecil.
Satu langkah yang jujur lebih berharga daripada lompatan besar yang dibangun di atas kepalsuan.
Satu orang yang tertolong dengan benar lebih baik daripada banyak orang yang terpesona tetapi tidak mendapat manfaat.
Satu kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus dapat mengubah seluruh perjalanan.
Satu permintaan maaf dapat menyelamatkan hubungan.
Satu keputusan untuk berhenti berbohong dapat membuka jalan baru.
Satu malam taubat dapat menjadi awal kehidupan yang berbeda.
Manusia sering menunggu perubahan besar, padahal Alloh sering membukanya melalui langkah kecil yang dijaga.
Jangan hina permulaan.
Benih tidak langsung menjadi pohon.
Cahaya fajar tidak langsung menjadi siang.
Anak tangga pertama tampak rendah, tetapi tanpanya tidak ada jalan menuju atas.
Pasal 38 — Menilai Arah melalui Buahnya
Setiap jalan akan menunjukkan buah.
Bukan selalu seketika, tetapi perlahan-lahan.
Jalan kebohongan melahirkan ketakutan terbongkar.
Jalan kesombongan melahirkan kesepian.
Jalan iri melahirkan kegelisahan.
Jalan amanah melahirkan kepercayaan.
Jalan sabar melahirkan keluasan hati.
Jalan ilmu melahirkan kehati-hatian.
Jalan taubat melahirkan kerendahan hati.
Maka jangan hanya mendengar nama sebuah jalan.
Lihat buahnya.
Jangan hanya melihat pakaian dan ucapannya.
Lihat akhlaknya.
Jangan hanya terpesona oleh cerita luar biasa.
Lihat apakah orang-orang di sekitarnya menjadi lebih aman atau justru lebih takut.
Lihat apakah kehadirannya membawa ketenangan atau membuat orang kehilangan kebebasan berpikir.
Lihat apakah ilmunya membuat manusia semakin bertanggung jawab atau semakin bergantung kepadanya secara berlebihan.
Kebenaran tidak takut diuji melalui buah.
Pasal 39 — Guru, Penunjuk, dan Pemilik Hidayah
Dalam perjalanan, manusia membutuhkan guru, sahabat, orang tua, dan penunjuk.
Namun jangan menempatkan mereka sebagai pemilik mutlak hidayah.
Guru dapat menjelaskan.
Tetapi Alloh yang membuka pemahaman.
Sahabat dapat mengingatkan.
Tetapi Alloh yang melembutkan hati.
Orang tua dapat mendidik.
Tetapi Alloh yang menanamkan kesadaran.
Pemimpin dapat memberi arah.
Tetapi ia tidak berhak menguasai jiwa manusia.
Maka hormatilah guru tanpa menghilangkan akal sehat.
Cintailah pembimbing tanpa menuhankannya.
Terimalah nasihat tanpa kehilangan tanggung jawab pribadi.
Guru yang benar tidak membuat murid menggantungkan seluruh keselamatan kepadanya.
Ia justru mengarahkan murid semakin mengenal Alloh, semakin dewasa, semakin amanah, dan semakin mampu membedakan kebenaran dari kepentingan pribadi.
Pasal 40 — Jangan Menjadi Tawanan Masa Lalu
Masa lalu adalah guru, bukan penjara.
Kesalahan masa lalu harus diambil pelajarannya.
Luka masa lalu harus dirawat.
Nikmat masa lalu harus disyukuri.
Namun jangan tinggal di sana.
Ada orang yang tidak dapat berjalan karena terus mengulang penyesalan.
Ada yang tidak berani mencintai karena pernah dikhianati.
Ada yang tidak berani mencoba karena pernah gagal.
Ada yang terus merasa besar karena pernah berhasil.
Keduanya sama-sama terikat masa lalu.
Yang satu terikat oleh luka.
Yang lain terikat oleh kebanggaan.
Perjalanan menuju Al-Haq meminta manusia hadir pada amanah hari ini.
Engkau tidak dapat mengubah kemarin.
Tetapi engkau dapat memilih sikap hari ini.
Engkau tidak dapat menghapus seluruh akibat.
Tetapi engkau dapat berhenti menambah kerusakan.
Engkau tidak dapat memaksa semua orang memaafkan.
Tetapi engkau dapat benar-benar berubah.
Pasal 41 — Hari Ini adalah Pintu Perjalanan
Jangan terus berkata:
“Nanti ketika aku siap.”
“Nanti ketika keadaan tenang.”
“Nanti ketika orang lain berubah.”
“Nanti ketika rezeki cukup.”
Sebab banyak kehidupan habis di dalam kata nanti.
Perjalanan dimulai dari apa yang dapat dilakukan hari ini.
Hari ini engkau dapat menjaga satu ucapan.
Hari ini engkau dapat menyelesaikan satu tanggung jawab.
Hari ini engkau dapat meminta maaf.
Hari ini engkau dapat berhenti dari satu kebiasaan buruk.
Hari ini engkau dapat berdoa dengan jujur.
Hari ini engkau dapat menolong seseorang tanpa ingin diketahui.
Hari ini mungkin tampak kecil.
Namun hari-hari kecil yang dijaga akan menjadi arah besar.
Hikmah Lembar Ketujuh
Wahai penempuh jalan,
Jangan meminta cahaya hanya agar terlihat istimewa.
Mintalah cahaya agar dapat melihat kesalahan diri.
Jangan meminta kedudukan hanya agar dihormati.
Mintalah kekuatan agar dapat menjaga amanah.
Jangan meminta hasil besar sebelum engkau siap memikul akibatnya.
Jangan pula meremehkan hasil kecil yang datang bersama kejujuran.
Sebab perjalanan milik Alloh.
Petunjuk milik Alloh.
Hasil milik Alloh.
Namun pilihan untuk berlaku jujur, belajar, bertaubat, dan menjaga amanah adalah tanggung jawab manusia.
Doa
Allāhumma aj‘al nūranā hidāyatan lā fitnatan,
wa ‘ilmanā tawāḍu‘an lā kibran,
wa ni‘amanā syukran lā ghaflah.
“Ya Alloh, jadikan cahaya kami sebagai petunjuk, bukan fitnah. Jadikan ilmu kami sebagai kerendahan hati, bukan kesombongan. Jadikan nikmat kami sebagai syukur, bukan kelalaian.”
Allāhumma bārik lanā fī khuṭuwātinā aṣ-ṣaghīrah,
wa ballighnā bihā riḍāka wal-ḥaqq.
“Ya Alloh, berkahilah langkah-langkah kecil kami dan sampaikanlah kami melaluinya kepada keridaan-Mu dan kebenaran.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kedelapan
Pasal 42 — Rahasia Belokan yang Tidak Dipahami
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Tidak semua belokan dalam hidup harus segera dipahami.
Ada hikmah yang baru tampak setelah bertahun-tahun.
Ada jawaban yang baru dimengerti setelah hati menjadi lebih dewasa.
Ada peristiwa yang dahulu dianggap musibah, ternyata menjadi pintu keselamatan.
Ada kehilangan yang dahulu ditangisi, ternyata menyelamatkan dari kerusakan yang lebih besar.
Maka jangan memaksa dirimu memahami seluruh rahasia hari ini.
Cukuplah engkau mengetahui bahwa Alloh tidak pernah menetapkan sesuatu dengan sia-sia.
Ketika akal belum mampu memahami, jangan biarkan hati kehilangan adab.
Tetaplah berdoa.
Tetaplah berusaha.
Tetaplah memperbaiki diri.
Sebab hikmah sering datang setelah kesabaran, bukan sebelum kesabaran.
Pasal 43 — Jangan Menjadikan Dunia Sebagai Tujuan Terakhir
Dunia adalah jalan.
Bukan tujuan akhir.
Harta adalah titipan.
Bukan kemuliaan.
Jabatan adalah amanah.
Bukan kemuliaan.
Ilmu adalah cahaya.
Bukan alat meninggikan diri.
Popularitas adalah ujian.
Bukan bukti kedekatan kepada Alloh.
Maka apabila perjalananmu hanya berakhir pada pencapaian dunia, engkau baru sampai di persinggahan, belum sampai pada tujuan.
Tujuan sejati adalah hati yang kembali kepada Alloh dalam keadaan bersih.
Pasal 44 — Rahasia Kesederhanaan
Banyak manusia mengejar sesuatu yang besar sehingga melupakan yang sederhana.
Padahal kehidupan dibangun oleh perkara-perkara kecil yang dijaga setiap hari.
Senyum yang tulus.
Ucapan yang jujur.
Janji yang ditepati.
Shalat yang khusyuk.
Doa yang ikhlas.
Sedekah yang sembunyi-sembunyi.
Maaf yang diberikan tanpa dendam.
Kesederhanaan seperti inilah yang menjaga cahaya hati tetap hidup.
Jangan mencari keajaiban sambil meninggalkan kewajiban.
Jangan mengejar kemuliaan sambil meremehkan akhlak.
Karena Alloh lebih mencintai amal yang istiqamah meskipun sedikit daripada amal yang besar tetapi tidak bertahan.
Pasal 45 — Cahaya yang Tidak Pernah Padam
Cahaya dunia dapat redup.
Matahari tenggelam.
Bulan menghilang.
Lampu dapat padam.
Tetapi cahaya petunjuk dari Alloh tidak pernah padam bagi hamba yang terus mencari-Nya.
Selama hati masih mau bertaubat.
Selama lisan masih mau berdoa.
Selama kaki masih mau melangkah menuju kebaikan.
Selama akal masih mau menerima kebenaran.
Selama itu pula pintu cahaya tetap terbuka.
Maka jangan pernah berkata:
"Aku sudah terlalu jauh."
Karena rahmat Alloh lebih luas daripada dosa yang engkau hitung.
Jangan berkata:
"Aku sudah terlambat."
Karena satu taubat yang tulus dapat mengubah arah seluruh perjalanan.
Pasal 46 — Al-Haq Adalah Tujuan Segala Perjalanan
Semua jalan akan berhenti.
Semua usia akan selesai.
Semua harta akan ditinggalkan.
Semua jabatan akan dilepas.
Semua nama akan dilupakan oleh dunia.
Namun satu perkara akan tetap tinggal, yaitu apa yang telah dibawa hati menghadap Alloh.
Apakah hati itu penuh syukur?
Apakah penuh amanah?
Apakah penuh kasih sayang?
Apakah penuh kejujuran?
Ataukah penuh kesombongan, kebencian, dan tipu daya?
Karena pada akhirnya, perjalanan manusia bukan diukur dari seberapa jauh ia berjalan di bumi.
Melainkan sejauh mana hatinya kembali kepada Al-Haq.
Penutup Kitab
QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH mengajarkan bahwa seluruh perubahan, seluruh belokan kehidupan, seluruh pertemuan dan perpisahan, seluruh kemudahan dan kesulitan, seluruh keberhasilan dan kegagalan berada di bawah kehendak Alloh Yang Maha Benar.
Tugas manusia bukan menguasai takdir.
Tugas manusia adalah menjaga iman ketika takdir berubah.
Menjaga akhlak ketika keadaan berubah.
Menjaga amanah ketika kekuasaan berubah.
Menjaga syukur ketika nikmat datang.
Menjaga sabar ketika ujian datang.
Dan menjaga hati agar tetap mengenal Sang Pemilik seluruh perjalanan.
Barang siapa mengenal Al-Haq, ia tidak akan takut kepada perubahan.
Karena ia tahu bahwa yang berubah hanyalah keadaan.
Sedangkan Alloh tetap Maha Hidup, Maha Mengatur, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana.
Doa Penutup
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Allāhumma yā Nūr, yā Hādī, yā Ḥaqq, yā Wakīl.
Terangilah hati kami dengan cahaya petunjuk-Mu.
Teguhkan langkah kami di jalan yang Engkau ridai.
Jangan biarkan kami tertipu oleh perubahan dunia.
Jadikan setiap perjalanan sebagai jalan menuju keridaan-Mu.
Ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, keluarga kami, dan seluruh kaum mukminin.
Akhirilah hidup kami dalam husnul khatimah, dengan hati yang tenang, lisan yang mengingat-Mu, dan jiwa yang kembali kepada-Mu dengan penuh cinta.
Āmīn Yā Rabbal-'Ālamīn.
Walḥamdulillāhi Rabbil-'Ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kesembilan
Pasal 47 — Setelah Perjalanan Dianggap Selesai
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Banyak manusia mengira bahwa perjalanan telah selesai ketika tujuan lahiriah tercapai.
Ketika rumah telah dimiliki.
Ketika pekerjaan telah didapat.
Ketika jabatan telah diraih.
Ketika seseorang telah kembali.
Ketika penyakit telah sembuh.
Ketika doa yang lama dipanjatkan akhirnya menjadi nyata.
Padahal tercapainya tujuan sering kali bukan akhir perjalanan.
Ia justru awal dari amanah yang baru.
Mendapatkan sesuatu adalah satu perkara.
Menjaganya adalah perkara yang lain.
Meminta rezeki adalah satu urusan.
Menggunakannya dengan benar adalah ujian berikutnya.
Meminta kedudukan adalah satu hal.
Tetap rendah hati setelah mendapatkannya adalah perjalanan yang lebih panjang.
Meminta pasangan adalah satu doa.
Menjaga kasih sayang, kesetiaan, kesabaran, dan tanggung jawab adalah ibadah yang terus berjalan.
Maka jangan hanya memohon agar sampai.
Mohonlah pula kekuatan agar tidak tersesat setelah sampai.
Pasal 48 — Ujian Setelah Keberhasilan
Kegagalan menguji kesabaran.
Keberhasilan menguji kesadaran.
Ketika manusia gagal, ia mudah mengingat Alloh karena merasa membutuhkan pertolongan.
Namun ketika berhasil, ia dapat merasa tidak lagi membutuhkan siapa pun.
Di sinilah hati diuji.
Apakah ia tetap bersyukur?
Apakah ia masih menjaga shalat dan doa?
Apakah ia masih menghormati orang yang dahulu menolong?
Apakah ia masih mau mendengar nasihat?
Apakah ia menggunakan keberhasilannya untuk manfaat atau hanya untuk meninggikan nama?
Tidak sedikit manusia selamat dari kesulitan, tetapi jatuh setelah mendapatkan kelapangan.
Ia kuat ketika miskin, tetapi lalai ketika kaya.
Ia rendah hati ketika belum dikenal, tetapi berubah setelah banyak dipuji.
Ia mudah meminta pertolongan ketika lemah, tetapi merendahkan orang lain ketika kuat.
Maka keberhasilan bukan bukti perjalanan telah aman.
Keberhasilan adalah tempat amanah diperiksa.
Pasal 49 — Jangan Mengira Diri Telah Sampai kepada Al-Haq
Orang yang benar-benar mendekat kepada kebenaran justru semakin berhati-hati terhadap dirinya.
Ia tidak mudah berkata:
“Aku telah sampai.”
Ia tidak mudah merasa:
“Aku sudah paling memahami.”
Ia tidak menganggap dirinya paling suci hanya karena memiliki pengalaman batin.
Sebab semakin luas ilmu seseorang, semakin ia menyadari luasnya yang belum diketahui.
Semakin dalam ia mengenal kelemahan manusia, semakin ia takut kepada kesombongan.
Semakin ia mengerti rahmat Alloh, semakin lembut ia kepada orang yang sedang belajar.
Orang yang merasa telah sampai sering berhenti memeriksa diri.
Ia menganggap setiap perasaannya sebagai petunjuk.
Ia menolak koreksi.
Ia sulit mengakui kesalahan.
Ia menggunakan pengalaman untuk menuntut penghormatan.
Padahal jalan menuju Al-Haq tidak berakhir dengan kebesaran diri.
Ia berakhir pada kehambaan yang semakin jernih.
Pasal 50 — Tanda Cahaya yang Benar
Cahaya yang benar tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi.
Ia membuatnya lebih sadar terhadap tanggung jawab.
Cahaya yang benar tidak membuat seseorang ingin disembah, diikuti tanpa pertanyaan, atau dipercaya tanpa pemeriksaan.
Ia membuatnya semakin jujur, terbuka, dan berhati-hati.
Cahaya yang benar tidak membuat manusia meninggalkan kenyataan.
Ia justru menolongnya menghadapi kenyataan dengan hati yang tenang.
Cahaya yang benar tidak menjadikan seseorang kebal dari kesalahan.
Ia membuatnya lebih cepat mengakui kesalahan dan kembali.
Cahaya yang benar tidak hanya tampak dalam kata-kata indah.
Ia terlihat dalam:
cara memperlakukan keluarga,
cara menjaga janji,
cara mengelola uang,
cara menghadapi orang yang berbeda,
cara meminta maaf,
cara menahan marah,
dan cara menjaga hak orang lain.
Maka jangan ukur cahaya hanya dari rasa.
Ukurlah dari akhlak yang tumbuh.
Pasal 51 — Amanah untuk Menjadi Jalan, Bukan Pusat
Apabila Alloh memberi seseorang ilmu, kedudukan, rezeki, atau kemampuan menolong, maka semua itu bukan untuk menjadikannya pusat segala perhatian.
Ia diberi agar menjadi jalan manfaat.
Air tidak meminum dirinya sendiri.
Pohon tidak memakan seluruh buahnya sendiri.
Lampu tidak menyimpan cahaya hanya untuk dirinya.
Demikian pula manusia.
Ilmu yang hanya dipakai untuk meninggikan diri akan kehilangan berkah.
Harta yang hanya dikumpulkan tanpa manfaat akan menjadi beban.
Kedudukan yang hanya dipakai mencari penghormatan akan merusak hati.
Kemampuan menolong yang dipakai untuk membuat orang bergantung secara berlebihan akan berubah menjadi bentuk penguasaan.
Maka jadilah jalan.
Jangan menuntut semua orang berhenti padamu.
Arahkan mereka kepada kebaikan, kedewasaan, tanggung jawab, dan pengenalan kepada Alloh.
Pasal 52 — Ketika Orang Lain Meninggalkan Jalanmu
Tidak semua orang akan berjalan bersamamu hingga akhir.
Ada yang hanya menemani pada satu tahap.
Ada yang datang membawa pelajaran.
Ada yang pergi setelah tugas pertemuan selesai.
Ada yang berubah arah karena pilihan sendiri.
Ada yang menjauh karena kesalahanmu.
Ada pula yang meninggalkanmu tanpa penjelasan yang memuaskan.
Jangan menahan setiap orang dengan paksaan.
Jangan membuat rasa bersalah agar seseorang tetap tinggal.
Jangan memakai agama, rasa takut, atau janji besar untuk mengikat manusia.
Cinta yang sehat memberi ruang bagi tanggung jawab.
Bimbingan yang benar tidak mencabut kebebasan berpikir.
Persaudaraan yang baik tidak dibangun di atas ancaman.
Apabila seseorang pergi, periksalah dirimu dengan jujur.
Bila engkau salah, perbaikilah.
Bila engkau telah berbuat baik, lepaskan dengan doa.
Sebab tidak semua perpisahan harus berubah menjadi permusuhan.
Pasal 53 — Kesetiaan kepada Kebenaran, Bukan kepada Ego
Kesetiaan bukan berarti membenarkan semua kesalahan.
Mencintai seseorang bukan berarti harus mengikuti seluruh keinginannya.
Menghormati guru bukan berarti menutup mata terhadap kekeliruan.
Menjaga kelompok bukan berarti melindungi kezaliman.
Kesetiaan tertinggi adalah kepada Al-Haq.
Apabila orang yang dicintai salah, nasihatilah dengan adab.
Apabila pemimpin menyimpang, jangan ikut menyimpang hanya karena takut kehilangan kedudukan.
Apabila kelompok melakukan ketidakadilan, jangan menyebut diam sebagai persaudaraan.
Kebenaran tidak berubah hanya karena pelakunya dekat denganmu.
Kesalahan tidak menjadi benar hanya karena dilakukan orang yang engkau hormati.
Namun mengoreksi juga harus dengan ilmu, keadilan, dan tidak melampaui batas.
Jangan memakai kebenaran untuk melampiaskan kebencian.
Jangan pula memakai kasih sayang untuk menutupi kerusakan.
Pasal 54 — Perjalanan yang Diteruskan oleh Amal
Setelah manusia tiada, langkah kakinya berhenti.
Namun jejak perjalanannya dapat terus berjalan melalui amal.
Ilmu yang bermanfaat terus menerangi.
Kebaikan yang diajarkan dapat diwariskan.
Anak yang dibimbing dengan kasih sayang dapat melanjutkan nilai baik.
Sedekah yang tepat dapat terus membawa manfaat.
Ucapan yang menyembuhkan dapat hidup lama di hati manusia.
Demikian pula keburukan.
Kebohongan dapat diwariskan.
Kebencian dapat terus menyebar.
Kezaliman dapat meninggalkan luka lintas generasi.
Maka setiap manusia sedang menulis jejak.
Bukan hanya melalui kitab dan perkataan.
Tetapi melalui kebiasaan yang ia tanamkan kepada orang di sekitarnya.
Tanyakan kepada dirimu:
Bila perjalanan ini berakhir hari ini, jejak apakah yang tertinggal?
Apakah orang merasa lebih dekat kepada kebaikan setelah mengenalmu?
Ataukah mereka membawa ketakutan, kebingungan, dan luka?
Hikmah Lembar Kesembilan
Wahai penempuh jalan,
Jangan mengira perjalanan selesai ketika keinginanmu tercapai.
Setelah pemberian datang, amanah dimulai.
Setelah ilmu datang, tanggung jawab bertambah.
Setelah manusia mempercayaimu, kewajiban menjaga mereka menjadi lebih berat.
Setelah engkau menemukan jalan, jangan merasa menjadi pemilik jalan.
Engkau hanya hamba yang sedang dituntun.
Maka tetaplah belajar.
Tetaplah memeriksa niat.
Tetaplah menerima nasihat.
Tetaplah menjaga orang-orang yang dipercayakan kepadamu.
Dan jangan menjadikan keberhasilan sebagai hijab yang menutup pandanganmu dari Al-Haq.
Doa
Allāhumma lā taj‘al ni‘amaka sababān li-ghaflatinā,
wa lā taj‘al ‘ilmanā sababān li-kibrinā.
“Ya Alloh, jangan jadikan nikmat-Mu sebagai sebab kelalaian kami dan jangan jadikan ilmu kami sebagai sebab kesombongan kami.”
Allāhumma ista‘milnā fī mā turḍīk,
wa lā tastabdilnā bisū’i a‘mālinā.
“Ya Alloh, gunakanlah hidup kami dalam perkara yang Engkau ridai dan jangan Engkau gantikan kami karena buruknya amal kami.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kesepuluh
Pasal 55 — Ketika Perjalanan Memasuki Kesunyian
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Ada masa ketika perjalanan menjadi sunyi.
Tidak banyak orang memahami.
Tidak ada pujian.
Tidak ada tanda-tanda besar.
Tidak ada jawaban yang segera terlihat.
Doa tetap dipanjatkan, tetapi hati belum melihat hasilnya.
Usaha tetap dilakukan, tetapi pintu belum terbuka.
Pada saat seperti itu, manusia mudah merasa dilupakan.
Padahal kesunyian bukan selalu tanda ditinggalkan.
Kadang Alloh sedang menjauhkan suara-suara luar agar manusia mendengar isi hatinya sendiri.
Kadang jalan dibuat sepi agar niat menjadi murni.
Kadang pertolongan belum ditampakkan agar manusia belajar berdiri dengan sabar.
Kadang hasil ditahan agar manusia tidak menyembah hasil.
Kesunyian adalah ruang pemeriksaan.
Di dalamnya akan tampak apakah manusia beribadah karena cinta kepada Alloh atau hanya karena ingin segera memperoleh balasan.
Pasal 56 — Jangan Takut Tidak Dikenal
Banyak manusia ingin menjadi dikenal.
Ia merasa amal baru berharga bila dilihat.
Ia merasa nasihat baru bermakna bila didengar banyak orang.
Ia merasa perjalanan baru berhasil bila namanya disebut.
Padahal tidak semua kebaikan harus memiliki panggung.
Banyak doa besar lahir dari tempat yang tidak diketahui.
Banyak sedekah menyelamatkan hidup tanpa pernah disebut.
Banyak orang tua menjaga keluarga dalam diam.
Banyak guru menanam ilmu tanpa dikenal luas.
Banyak hamba dicintai Alloh meskipun tidak dikenal manusia.
Jangan takut tidak dikenal.
Takutlah apabila dikenal manusia tetapi tidak jujur di hadapan Alloh.
Jangan takut sedikit pengikut.
Takutlah apabila banyak yang mengikuti tetapi engkau menuntun mereka menuju dirimu, bukan menuju kebenaran.
Nilai amal tidak ditentukan oleh keramaian.
Ia ditentukan oleh keikhlasan, kebenaran, manfaat, dan keridaan Alloh.
Pasal 57 — Amal yang Disembunyikan
Ada amal yang sebaiknya diketahui agar menjadi teladan.
Ada pula amal yang lebih selamat bila disembunyikan.
Amal tersembunyi menjaga hati dari ketergantungan kepada pujian.
Ia menjadi rahasia antara hamba dengan Alloh.
Air mata yang tidak diketahui.
Sedekah yang tidak diumumkan.
Doa untuk orang lain tanpa diberitahukan.
Pertolongan yang tidak ditagih balasannya.
Taubat yang tidak dipamerkan.
Semua itu dapat menjadi ruang perlindungan bagi niat.
Namun menyembunyikan amal bukan berarti menyembunyikan tanggung jawab.
Jangan memakai alasan ikhlas untuk menghindari laporan amanah.
Jangan memakai alasan rahasia untuk menutup penyalahgunaan.
Jangan menolak keterbukaan dalam urusan yang menyangkut hak orang lain.
Keikhlasan tidak bertentangan dengan kejujuran.
Rahasia batin tidak boleh menjadi tempat berlindung bagi ketidakadilan.
Pasal 58 — Ketika Pujian Datang
Pujian dapat menjadi angin yang mengangkat.
Tetapi juga dapat menjadi angin yang menjatuhkan.
Ketika dipuji, jangan segera percaya bahwa engkau telah menjadi sebagaimana ucapan manusia.
Mereka hanya melihat sebagian.
Alloh mengetahui keseluruhan.
Manusia melihat hasil.
Alloh mengetahui niat.
Manusia melihat wajah yang tenang.
Alloh mengetahui pertarungan di dalam hati.
Maka terimalah pujian dengan syukur, tetapi jangan menjadikannya makanan jiwa.
Jangan hidup hanya untuk mempertahankan gambaran baik di mata manusia.
Lebih baik kehilangan pujian daripada kehilangan kejujuran.
Lebih baik mengakui kesalahan daripada terus mempertahankan citra palsu.
Katakan di dalam hati:
“Ya Alloh, jangan hukum aku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah apa yang tidak mereka ketahui dan jadikan aku lebih baik daripada sangkaan mereka.”
Pasal 59 — Ketika Celaan Datang
Tidak semua celaan benar.
Tidak semua kritik salah.
Ada celaan yang lahir dari iri.
Ada yang lahir dari salah paham.
Ada pula yang membuka kesalahan yang memang perlu diperbaiki.
Maka jangan langsung membalas.
Periksa dahulu isi ucapannya.
Jika benar, ambillah pelajaran meskipun cara penyampaiannya buruk.
Jika salah, jelaskan seperlunya tanpa kehilangan adab.
Jika hanya bertujuan melukai, jagalah batas dan jangan ikut tenggelam dalam keburukan.
Orang yang terlalu haus pujian akan hancur oleh celaan.
Orang yang terlalu takut celaan akan berhenti melakukan kebaikan.
Maka jangan jadikan manusia sebagai timbangan utama.
Gunakan kebenaran, akhlak, ilmu, dan muhasabah sebagai ukuran.
Pasal 60 — Rahasia Tidak Membalas Semua Perkara
Tidak semua ucapan harus dijawab.
Tidak semua fitnah harus dikejar.
Tidak semua kesalahpahaman harus dijelaskan kepada seluruh manusia.
Kadang diam lebih menjaga.
Kadang menjauh lebih menyelamatkan.
Kadang jawaban terbaik adalah memperbaiki diri dan membiarkan waktu membuka kenyataan.
Namun diam juga tidak selalu benar.
Jika hak orang lemah dirampas, berbicaralah.
Jika kebohongan membahayakan banyak orang, jelaskan dengan bukti.
Jika amanah diselewengkan, jangan bersembunyi di balik kesabaran.
Hikmah adalah mengetahui kapan berbicara dan kapan diam.
Keberanian bukan banyaknya suara.
Keberanian adalah menempatkan suara pada tempat yang benar.
Pasal 61 — Kesunyian yang Menumbuhkan Kebijaksanaan
Orang yang tidak pernah diam akan sulit mendengar.
Orang yang selalu ingin menjawab akan sulit memahami.
Orang yang selalu ingin menjadi pusat akan sulit melihat kebutuhan orang lain.
Kesunyian yang sehat mengajarkan manusia menimbang kata.
Ia mengajarkan bahwa tidak semua pikiran harus diucapkan.
Tidak semua perasaan harus diikuti.
Tidak semua dorongan harus segera dilakukan.
Dalam diam, manusia dapat melihat:
apakah ia marah karena kebenaran atau karena harga diri,
apakah ia menolong karena kasih atau karena ingin dipuji,
apakah ia menolak karena prinsip atau karena takut,
apakah ia mengejar sesuatu karena kebutuhan atau karena iri.
Kesunyian yang demikian bukan pelarian.
Ia adalah tempat batin dibersihkan sebelum kembali berjalan.
Pasal 62 — Jangan Menutup Diri dari Pertolongan
Kesunyian berbeda dengan mengasingkan diri secara berlebihan.
Manusia tetap membutuhkan pertolongan.
Membutuhkan keluarga.
Membutuhkan sahabat yang jujur.
Membutuhkan guru yang berilmu.
Membutuhkan tenaga ahli ketika masalah melampaui kemampuan.
Jangan menganggap meminta pertolongan sebagai kelemahan.
Jangan merasa semua masalah harus ditanggung sendiri.
Kadang Alloh mengirim jawaban melalui manusia.
Kadang ketenangan datang melalui percakapan yang sehat.
Kadang jalan keluar muncul melalui ilmu orang lain.
Kadang beban menjadi ringan hanya karena dibagi dengan orang yang amanah.
Namun pilihlah tempat bercerita dengan bijak.
Tidak semua telinga mampu menjaga.
Tidak semua nasihat layak diikuti.
Carilah orang yang tidak hanya mendengar, tetapi juga jujur, berilmu, menjaga rahasia, dan tidak memanfaatkan kelemahanmu.
Pasal 63 — Sunyi Bukan Berarti Kosong
Di dalam sunyi, banyak hal sedang tumbuh.
Akar bekerja tanpa terlihat.
Benih pecah di dalam tanah.
Luka menutup perlahan.
Pemahaman matang tanpa suara.
Doa naik tanpa tepuk tangan.
Maka jangan menilai hidup hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Boleh jadi engkau belum melihat hasil, tetapi kesabaranmu sedang dibentuk.
Boleh jadi belum ada pintu terbuka, tetapi dirimu sedang dipersiapkan.
Boleh jadi belum ada manusia yang memahami, tetapi Alloh sedang mengajarkanmu berdiri tanpa bergantung pada penilaian mereka.
Tetaplah bergerak dalam kebaikan.
Sebab pertumbuhan yang paling penting sering terjadi dalam diam.
Hikmah Lembar Kesepuluh
Wahai penempuh jalan,
Apabila perjalananmu sunyi, jangan buru-buru menganggap dirimu ditinggalkan.
Periksa niatmu.
Jaga amalmu.
Rawat hatimu.
Kurangi suara yang tidak perlu.
Tetapi jangan pula mengurung diri dari pertolongan.
Kesunyian yang benar membuat hati jernih.
Bukan membuat manusia semakin tenggelam dalam prasangka.
Kesunyian yang benar menumbuhkan kebijaksanaan.
Bukan menjadikannya menolak ilmu dan nasihat.
Kesunyian yang benar membuat seorang hamba semakin dekat kepada Alloh, semakin lembut kepada manusia, dan semakin jujur terhadap dirinya sendiri.
Doa
Allāhumma aj‘al khalwatanā ma‘aka unsan,
wa ṣamtanā ḥikmatan,
wa kalāmanā ḥaqqan wa raḥmah.
“Ya Alloh, jadikan kesunyian kami bersama-Mu sebagai ketenteraman, diam kami sebagai kebijaksanaan, dan ucapan kami sebagai kebenaran serta kasih sayang.”
Allāhumma lā taj‘alnā asrā lil-madḥi wa lā lil-dzam,
waj‘al qalbanā muta‘alliqan biriḍāk.
“Ya Alloh, jangan jadikan kami tawanan pujian maupun celaan. Jadikan hati kami bergantung kepada keridaan-Mu.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kesebelas
Pasal 64 — Amanah Terbesar adalah Menjaga Hati
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Segala sesuatu dapat hilang.
Harta dapat habis.
Jabatan dapat dicabut.
Kesehatan dapat berkurang.
Sahabat dapat berpisah.
Keluarga dapat berpulang.
Namun selama hati masih hidup dalam mengingat Alloh, harapan belum pernah padam.
Karena itu, amanah terbesar bukan sekadar menjaga apa yang ada di tangan, tetapi menjaga apa yang ada di dalam dada.
Hati yang bersih akan melihat ujian sebagai jalan belajar.
Hati yang kotor akan melihat nikmat pun sebagai alasan untuk sombong.
Maka bersihkanlah hati setiap hari sebagaimana engkau membersihkan tubuhmu.
Dengan istighfar.
Dengan muhasabah.
Dengan memaafkan.
Dengan memperbaiki niat.
Dengan mengurangi kesibukan yang menjauhkanmu dari Alloh.
Pasal 65 — Jangan Menunda Taubat
Tidak ada manusia yang bebas dari salah.
Yang membedakan bukan banyaknya kesalahan.
Melainkan seberapa cepat ia kembali.
Ada yang jatuh lalu segera bangkit.
Ada yang jatuh lalu terus menyalahkan orang lain.
Ada yang jatuh lalu membenarkan dosanya.
Ada yang jatuh lalu menutup pintu taubat dengan keputusasaan.
Padahal pintu taubat tidak ditutup oleh Alloh.
Sering kali manusialah yang menutupnya karena malu, takut, atau merasa dosanya terlalu besar.
Ketahuilah, dosa yang diakui lebih dekat kepada ampunan daripada amal yang melahirkan kesombongan.
Jangan berkata:
"Nanti kalau sudah tua."
"Nanti kalau sudah tenang."
"Nanti kalau sudah selesai urusan dunia."
Karena tidak seorang pun mengetahui kapan perjalanan hidupnya berakhir.
Pasal 66 — Menjaga Lisan dalam Perjalanan
Banyak perjalanan rusak bukan karena kaki melangkah ke tempat yang salah.
Tetapi karena lisan mengucapkan kata yang salah.
Satu dusta dapat menghancurkan kepercayaan.
Satu fitnah dapat memecah persaudaraan.
Satu ejekan dapat melukai hati bertahun-tahun.
Satu janji yang diingkari dapat meruntuhkan amanah.
Maka sebelum berbicara, tanyakan kepada dirimu:
Apakah ini benar?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah ini perlu diucapkan?
Apakah ini akan mendekatkan kepada kebaikan?
Jika tidak, maka diam lebih mulia.
Karena lisan adalah cermin hati.
Pasal 67 — Waktu adalah Amanah yang Tidak Kembali
Harta yang hilang dapat dicari.
Ilmu yang kurang dapat dipelajari.
Teman yang pergi dapat diganti.
Namun waktu yang berlalu tidak akan kembali.
Maka jangan habiskan umur hanya untuk penyesalan.
Jangan habiskan hari hanya untuk membandingkan diri dengan orang lain.
Jangan habiskan malam hanya untuk mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
Gunakan waktumu untuk:
Beribadah dengan khusyuk.
Bekerja dengan jujur.
Belajar dengan rendah hati.
Melayani dengan kasih sayang.
Beristirahat secukupnya.
Dan memperbaiki diri setiap hari.
Orang yang menghormati waktu sedang menghormati amanah kehidupan.
Pasal 68 — Kemenangan Sejati
Kemenangan bukan ketika engkau mengalahkan manusia lain.
Kemenangan adalah ketika engkau mampu mengalahkan kesombonganmu.
Kemenangan bukan ketika semua orang memujimu.
Kemenangan adalah ketika engkau tetap ikhlas walau tidak dipuji.
Kemenangan bukan ketika semua keinginanmu tercapai.
Kemenangan adalah ketika engkau tetap ridha kepada ketetapan Alloh.
Kemenangan bukan ketika dunia mengakuimu.
Kemenangan adalah ketika engkau dipanggil sebagai hamba yang taat di sisi-Nya.
Itulah kemenangan yang tidak akan dirampas oleh waktu.
Pasal 69 — Manusia Kembali, Al-Haq Tetap Abadi
Segala yang bernyawa akan kembali.
Kerajaan akan runtuh.
Bangunan akan hancur.
Nama akan terlupakan.
Generasi akan berganti.
Tetapi Al-Haq tetap ada.
Dia tidak bertambah karena pujian.
Tidak berkurang karena penolakan.
Tidak berubah karena pergantian zaman.
Maka sandarkanlah hatimu kepada Yang Abadi.
Jangan kepada yang fana.
Karena hanya kepada-Nya seluruh perjalanan bermula dan berakhir.
Hikmah Lembar Kesebelas
Jangan sibuk menghitung berapa jauh engkau telah berjalan.
Hitunglah seberapa banyak hatimu telah berubah menjadi lebih baik.
Jangan sibuk mengejar penghormatan manusia.
Kejarlah keridaan Alloh.
Jangan takut perjalanan berakhir.
Takutlah bila perjalanan berakhir sebelum engkau kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih.
Sesungguhnya seluruh perjalanan yang membolak-balikkan kehidupan hanyalah berada dalam kekuasaan Al-Haq, sedangkan manusia hanyalah musafir yang diperintahkan berjalan dengan iman, ilmu, amanah, dan akhlak.
Doa
Allāhumma yā Al-Ḥaqq, yā Nūr, yā Hādī.
Teguhkan hati kami di atas kebenaran.
Jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.
Jadikan akhir perjalanan kami sebagai perjumpaan yang penuh rahmat dengan-Mu.
Terimalah amal kami, ampunilah dosa kami, lapangkan kubur kami, dan kumpulkan kami bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.
Innaka Antas-Samī‘ul-'Alīm, wa Antat-Tawwābur-Raḥīm.
Walḥamdulillāhi Rabbil-'Ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kedua Belas
Pasal 70 — Ketika Hamba Dipanggil Kembali kepada Kesadaran
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Ada masa ketika manusia berjalan begitu jauh hingga lupa mengapa ia memulai.
Ia sibuk mengejar hasil, tetapi lupa menjaga hati.
Ia sibuk membangun nama, tetapi lupa membangun akhlak.
Ia sibuk mencari pengakuan, tetapi lupa mencari keridaan Alloh.
Ia sibuk memikirkan bagaimana dilihat manusia, tetapi lupa bagaimana dirinya dilihat oleh Sang Maha Mengetahui.
Lalu Alloh menghadirkan peristiwa yang mengguncang.
Bukan selalu untuk menghancurkan.
Kadang justru untuk membangunkan.
Kehilangan dapat menjadi panggilan.
Kegagalan dapat menjadi panggilan.
Kesunyian dapat menjadi panggilan.
Kelelahan dapat menjadi panggilan.
Pertemuan dengan seseorang juga dapat menjadi panggilan.
Semua itu seakan berkata:
“Berhentilah sejenak. Lihat kembali arahmu.”
Maka jangan hanya bertanya:
“Kenapa ini terjadi kepadaku?”
Tanyakan pula:
“Apa yang sedang diminta untuk kuperbaiki?”
Sebab banyak manusia ingin keadaannya berubah, tetapi tidak ingin dirinya dikoreksi.
Padahal perubahan terbesar dimulai ketika hati bersedia mendengar.
Pasal 71 — Tidak Semua yang Hilang Harus Dicari Kembali
Ada yang hilang karena kelalaian.
Maka carilah dan perbaikilah.
Ada yang hilang karena kezaliman orang lain.
Maka perjuangkan hak dengan adab dan cara yang benar.
Namun ada pula yang hilang karena masanya memang telah selesai.
Tidak semua kehilangan harus dipaksa kembali.
Tidak semua pintu lama harus dibuka lagi.
Tidak semua hubungan harus dipulihkan dalam bentuk semula.
Tidak semua kedudukan harus dikejar kembali.
Kadang manusia sulit maju karena terus hidup di depan pintu yang telah ditutup.
Ia tidak melihat jalan baru karena matanya hanya tertuju kepada yang telah pergi.
Melepaskan bukan berarti melupakan pelajaran.
Melepaskan berarti menerima bahwa hidup tidak selalu harus kembali ke bentuk lama.
Yang telah berlalu boleh menjadi hikmah.
Namun jangan biarkan ia menjadi rantai.
Pasal 72 — Pengulangan adalah Cermin
Apabila masalah yang sama berulang, jangan selalu menyalahkan dunia.
Periksalah pola yang dibawa oleh dirimu.
Mungkin engkau terlalu cepat percaya.
Mungkin engkau terlalu takut berkata tidak.
Mungkin engkau selalu menunda.
Mungkin engkau terlalu mudah marah.
Mungkin engkau terlalu haus pengakuan.
Mungkin engkau terus berharap manusia berubah tanpa membangun batas yang sehat.
Pengulangan adalah cermin.
Ia menunjukkan bagian yang belum selesai.
Bukan untuk mempermalukan.
Tetapi untuk menyadarkan.
Orang yang menolak bercermin akan terus mengulang luka.
Orang yang berani melihat akan menemukan pintu perubahan.
Maka jangan hanya mengganti tempat.
Gantilah kebiasaan yang rusak.
Jangan hanya mengganti orang.
Perbaiki cara memilih dan cara menjaga hubungan.
Jangan hanya mengganti doa.
Perbaiki ikhtiar dan niat.
Pasal 73 — Ketika Alloh Membalikkan Kedudukan
Yang tinggi dapat menjadi rendah.
Yang rendah dapat diangkat.
Yang dikenal dapat dilupakan.
Yang tidak dianggap dapat menjadi sebab pertolongan.
Semua itu menunjukkan bahwa kedudukan dunia tidak tetap.
Maka jangan meremehkan siapa pun.
Orang yang hari ini membutuhkan pertolonganmu, esok dapat menjadi sebab keselamatanmu.
Orang yang hari ini tidak dikenal, boleh jadi menyimpan doa yang lebih tulus daripada orang yang dipuji banyak manusia.
Jangan menghina karena kemiskinan.
Jangan mengagungkan hanya karena kekayaan.
Jangan menilai kemuliaan dari pakaian, pengikut, jabatan, atau luasnya pengaruh.
Sesungguhnya kemuliaan di sisi Alloh berada pada ketakwaan, kejujuran, dan akhlak.
Jabatan hanya tempat ujian.
Kekayaan hanya alat.
Ilmu hanya amanah.
Pengikut hanya tanggung jawab.
Apabila semua itu membuat seseorang lebih dekat kepada Alloh, ia menjadi nikmat.
Apabila membuatnya sombong, ia menjadi hijab.
Pasal 74 — Bahaya Merasa Menjadi Pemilik Manusia
Tidak seorang pun memiliki hati manusia secara mutlak.
Orang tua membimbing anak, tetapi tidak memiliki jiwanya.
Guru mendidik murid, tetapi tidak memiliki akalnya.
Pemimpin menjaga masyarakat, tetapi tidak memiliki kehendak mereka.
Pasangan saling mencintai, tetapi tidak berhak saling menguasai.
Setiap manusia adalah hamba Alloh.
Maka jangan mengikat manusia dengan ketakutan.
Jangan membuat mereka merasa berdosa hanya karena tidak selalu mengikuti keinginanmu.
Jangan memakai kebaikan yang pernah diberikan sebagai alat menuntut ketaatan mutlak.
Pertolongan yang disertai penguasaan bukan lagi pertolongan yang bersih.
Bimbingan yang mematikan akal bukan lagi bimbingan yang sehat.
Cinta yang menutup kebebasan bukan lagi cinta yang menenteramkan.
Siapa yang benar-benar membawa manusia kepada Alloh akan membantu mereka menjadi lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, lebih jernih, dan lebih mampu berdiri dalam kebenaran.
Pasal 75 — Perjalanan yang Diberkahi Tidak Membuat Orang Kehilangan Diri
Ada jalan yang tampak bercahaya, tetapi membuat manusia kehilangan dirinya.
Ia tidak lagi berani bertanya.
Tidak berani berbeda.
Tidak berani berkata bahwa ia lelah.
Tidak berani mengakui bahwa sesuatu terasa salah.
Ia takut kehilangan tempat, perhatian, atau pengakuan.
Ketahuilah:
Jalan yang sehat tidak menuntut manusia mematikan nurani.
Jalan yang benar tidak melarang pertanyaan yang jujur.
Jalan yang diberkahi tidak membuat manusia hidup terus-menerus dalam ketakutan.
Ia memang memiliki disiplin.
Ia memiliki adab.
Ia memiliki batas.
Namun semua itu bertujuan membentuk tanggung jawab, bukan perbudakan batin.
Apabila sebuah jalan membuat seseorang semakin jujur, tenang, mandiri, berakhlak, dan dekat kepada Alloh, maka di sana ada tanda kebaikan.
Apabila membuatnya semakin takut, bingung, bergantung secara tidak sehat, dan kehilangan kemampuan menilai, maka ia harus berhenti dan memeriksa.
Pasal 76 — Ketika Hati Harus Memilih antara Benar dan Nyaman
Tidak semua yang benar terasa nyaman.
Kadang meminta maaf terasa berat.
Kadang mengakui kesalahan terasa memalukan.
Kadang meninggalkan kebiasaan lama terasa menyakitkan.
Kadang berkata jujur berisiko kehilangan pujian.
Kadang menjaga amanah membuat seseorang tidak disukai.
Namun kenyamanan bukan ukuran tertinggi.
Ada kenyamanan yang menipu.
Ada rasa aman yang dibangun di atas penyangkalan.
Ada hubungan yang terasa nyaman karena tidak pernah ada kejujuran.
Ada kelompok yang terasa hangat karena semua orang takut berbeda.
Maka apabila harus memilih, pilihlah kebenaran yang disertai adab.
Sebab kenyamanan yang dibangun di atas kebohongan akan runtuh.
Sedangkan kebenaran yang ditempuh dengan sabar akan menumbuhkan ketenangan yang lebih dalam.
Pasal 77 — Rahasia Memulai Kembali
Memulai kembali bukan tanda gagal.
Ia adalah tanda bahwa manusia masih diberi kesempatan.
Jangan malu membangun dari awal.
Jangan malu belajar dari dasar.
Jangan malu memperbaiki yang pernah rusak.
Jangan malu berkata:
“Aku dulu belum mengerti.”
Banyak orang bertahan pada jalan yang salah hanya karena takut dianggap berubah.
Padahal perubahan menuju kebenaran adalah kemuliaan.
Alloh tidak menilai manusia hanya dari masa lalunya.
Alloh melihat kejujuran langkahnya hari ini.
Maka mulai kembali dengan cara yang lebih baik.
Dengan niat yang lebih bersih.
Dengan batas yang lebih sehat.
Dengan ilmu yang lebih matang.
Dengan hati yang lebih rendah.
Permulaan kedua sering kali lebih jernih daripada permulaan pertama karena telah dibasuh oleh pengalaman.
Pasal 78 — Tidak Ada Perjalanan yang Sia-sia Bila Melahirkan Kesadaran
Ada perjalanan yang tidak menghasilkan apa yang diinginkan.
Namun ia mengajarkan kesabaran.
Ada hubungan yang tidak bertahan.
Namun ia mengajarkan batas dan harga diri.
Ada usaha yang gagal.
Namun ia mengajarkan disiplin dan kehati-hatian.
Ada masa gelap.
Namun ia mengajarkan arti cahaya.
Maka suatu perjalanan tidak selalu gagal hanya karena hasilnya tidak sesuai rencana.
Bila ia membuatmu lebih jujur, lebih sadar, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Alloh, maka ada buah yang telah lahir.
Jangan ukur semua keberhasilan dengan apa yang dibawa pulang oleh tangan.
Ada keberhasilan yang dibawa pulang oleh hati.
Hikmah Lembar Kedua Belas
Wahai penempuh jalan,
Apabila Alloh membolak-balikkan keadaanmu, jangan hanya melihat apa yang berubah di luar.
Lihat pula apa yang sedang dibentuk di dalam.
Mungkin engkau sedang diajarkan melepaskan.
Mungkin sedang diajarkan berkata tidak.
Mungkin sedang diajarkan mengakui salah.
Mungkin sedang diajarkan untuk tidak menguasai manusia.
Mungkin sedang diajarkan memulai kembali.
Jangan takut terhadap perubahan yang membawamu semakin dekat kepada Al-Haq.
Takutlah terhadap kenyamanan yang membuatmu semakin jauh dari kebenaran.
Sebab semua perjalanan berada dalam milik Alloh.
Namun setiap hamba tetap bertanggung jawab memilih kejujuran, akhlak, ilmu, dan jalan yang tidak menzalimi.
Doa
Allāhumma ayyqiẓ qulūbanā min ghaflatinā,
wa arinā ‘uyūbanā biraḥmatika.
“Ya Alloh, bangunkan hati kami dari kelalaian dan perlihatkan kekurangan kami dengan rahmat-Mu.”
Allāhumma ruddana ilal-ḥaqqi raddan jamīlā,
wa lā taj‘al rāḥatanā fī mā yub‘idunā ‘anka.
“Ya Alloh, kembalikan kami kepada kebenaran dengan pengembalian yang indah, dan jangan jadikan kenyamanan kami berada pada sesuatu yang menjauhkan kami dari-Mu.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Ketiga Belas
Pasal 79 — Rahasia Perjalanan yang Mengubah Penilaian
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Pada awal perjalanan, manusia sering menilai segala sesuatu dengan cepat.
Yang menyenangkan dianggap baik.
Yang menyakitkan dianggap buruk.
Yang datang dianggap rezeki.
Yang pergi dianggap kehilangan.
Yang memuji dianggap sahabat.
Yang mengkritik dianggap lawan.
Namun semakin matang jiwa seseorang, semakin ia memahami bahwa kenyataan tidak selalu sesederhana itu.
Ada pujian yang melemahkan kewaspadaan.
Ada kritik yang menyelamatkan.
Ada pemberian yang mengikat.
Ada kehilangan yang membebaskan.
Ada pertemuan yang membuka pintu.
Ada perpisahan yang menutup jalan kerusakan.
Maka salah satu tanda kedewasaan adalah tidak tergesa menetapkan makna sebelum melihat buahnya.
Biarkan waktu menampakkan.
Biarkan akhlak membuktikan.
Biarkan kenyataan menguji.
Sebab sesuatu yang tampak bercahaya belum tentu cahaya.
Dan sesuatu yang tampak gelap belum tentu tanpa hikmah.
Pasal 80 — Jangan Menghukum Diri dengan Masa Lalu
Kesalahan harus diakui.
Akibat harus diperbaiki.
Hak orang lain harus dikembalikan.
Namun setelah taubat dilakukan dengan sungguh-sungguh, jangan terus-menerus menghukum diri hingga kehilangan harapan.
Ada orang yang telah berhenti dari kesalahan, tetapi masih hidup di dalam rasa bersalah tanpa akhir.
Ia merasa tidak layak dicintai.
Tidak layak menerima kebaikan.
Tidak layak memulai kembali.
Padahal taubat bukan hanya meninggalkan dosa.
Taubat juga belajar menerima rahmat Alloh.
Menyesali tanpa memperbaiki adalah kesedihan yang mandek.
Memperbaiki tanpa berharap ampunan adalah keputusasaan.
Sedangkan taubat yang sehat melahirkan tiga perkara:
pengakuan,
perbaikan,
dan harapan.
Maka jangan jadikan masa lalu sebagai berhala yang terus engkau sembah melalui penyesalan.
Ambillah ilmunya.
Lunasi tanggung jawabnya.
Lalu berjalanlah dengan lebih jujur.
Pasal 81 — Ketika Jalan Baru Membutuhkan Identitas Baru
Ada kalanya seseorang ingin memulai hidup baru, tetapi masih mempertahankan kebiasaan lama.
Ia ingin dipercaya, tetapi masih suka menyembunyikan kebenaran.
Ia ingin dihormati, tetapi belum belajar menghormati.
Ia ingin hidup tenang, tetapi masih memelihara pertengkaran.
Ia ingin rezeki luas, tetapi belum menjaga amanah.
Jalan baru membutuhkan cara hidup yang baru.
Bukan nama baru semata.
Bukan pakaian baru.
Bukan tempat baru.
Bukan pengakuan baru.
Tetapi kebiasaan baru.
Disiplin baru.
Kejujuran baru.
Cara berbicara baru.
Cara mengelola waktu baru.
Cara memperlakukan manusia yang lebih baik.
Perubahan sejati bukan ketika orang lain melihatmu berbeda.
Perubahan sejati adalah ketika dirimu tidak lagi nyaman mengulangi kesalahan lama.
Pasal 82 — Tidak Semua Pintu Harus Dibuka
Manusia sering berdoa agar semua pintu terbuka.
Padahal tidak semua pintu baik untuk dimasuki.
Ada pintu yang membuka rezeki halal.
Ada pintu yang membuka kesombongan.
Ada pintu yang membuka pertemanan baik.
Ada pintu yang membuka ketergantungan yang merusak.
Ada pintu yang tampak megah, tetapi di dalamnya ada amanah yang belum mampu dipikul.
Maka doa yang lebih jernih bukan:
“Ya Alloh, bukakan semua pintu.”
Melainkan:
“Ya Alloh, bukakan pintu yang baik dan jauhkan aku dari pintu yang akan merusakku.”
Pintu tertutup tidak selalu berarti kegagalan.
Kadang ia adalah penjagaan yang tidak disadari.
Dan pintu terbuka tidak selalu berarti perintah untuk masuk.
Tetaplah menimbang dengan ilmu, maslahat, dan akhlak.
Pasal 83 — Rahasia Berhenti Tepat Waktu
Tidak semua ketekunan berarti kebajikan.
Kadang manusia bertahan karena sabar.
Kadang ia bertahan karena takut mengakui bahwa jalannya salah.
Ada perbedaan antara istiqamah dan keras kepala.
Istiqamah bertahan dalam kebenaran.
Keras kepala bertahan pada ego.
Istiqamah terbuka terhadap nasihat.
Keras kepala menolak semua koreksi.
Istiqamah memperbaiki cara.
Keras kepala mengulang kesalahan yang sama.
Maka berhenti tepat waktu bukan selalu kekalahan.
Kadang itulah bentuk keberanian.
Berhenti dari bisnis yang haram.
Berhenti dari hubungan yang zalim.
Berhenti dari ucapan yang menyakiti.
Berhenti dari ambisi yang merusak keluarga.
Berhenti dari kebiasaan yang menghabiskan hidup.
Orang bijaksana mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus melepaskan.
Pasal 84 — Jangan Menukar Ketenangan dengan Pengakuan
Banyak manusia kehilangan ketenangan karena ingin dikenal.
Ia memaksakan diri tampil kuat.
Menutupi kelemahan.
Mengikuti semua tuntutan.
Menjaga citra yang melelahkan.
Lalu hatinya perlahan kosong.
Ketahuilah, pengakuan manusia tidak pernah cukup.
Hari ini dipuji.
Esok dibandingkan.
Hari ini diangkat.
Esok dilupakan.
Maka jangan menukar kesehatan hati dengan perhatian yang sementara.
Lebih baik hidup sederhana dengan hati jernih daripada tampak besar tetapi terus takut kehilangan pujian.
Ketenangan bukan berarti tidak punya cita-cita.
Ketenangan adalah cita-cita yang tidak membuat manusia kehilangan dirinya.
Pasal 85 — Jalan yang Benar Menjaga Hak Tubuh
Tubuh juga amanah.
Jangan menganggap kelelahan tanpa batas sebagai tanda kesalehan.
Jangan menganggap kurang tidur sebagai bukti kekuatan ruhani.
Jangan mengabaikan sakit dengan alasan tawakal.
Jangan memaksakan ibadah tambahan hingga kewajiban lain rusak.
Makan secukupnya adalah amanah.
Tidur secukupnya adalah amanah.
Berobat ketika sakit adalah amanah.
Beristirahat setelah bekerja adalah amanah.
Tubuh bukan musuh ruh.
Tubuh adalah kendaraan perjalanan.
Apabila kendaraan rusak karena kelalaian, perjalanan pun terganggu.
Maka jagalah keseimbangan.
Ibadah yang benar tidak menghancurkan kehidupan.
Ia menata kehidupan agar lebih dekat kepada Alloh.
Pasal 86 — Ketika Hamba Tidak Lagi Menuntut Penjelasan untuk Segala Hal
Ada tingkat kedewasaan ketika manusia tetap mencari ilmu, tetapi tidak memaksa semua perkara harus segera dijelaskan.
Ia berusaha memahami.
Namun bila jawaban belum ada, ia tidak menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk memberontak.
Ia berkata:
“Aku belum mengerti, tetapi aku akan tetap menjaga adab.”
Ini bukan kebodohan.
Ini adalah kesadaran akan batas akal.
Manusia tidak mengetahui seluruh masa depan.
Tidak mengetahui isi hati semua orang.
Tidak mengetahui seluruh akibat dari satu keputusan.
Maka rendah hati terhadap ketidaktahuan adalah bagian dari kebijaksanaan.
Yang tidak diketahui jangan diisi dengan prasangka.
Yang belum jelas jangan dipastikan seolah-olah wahyu.
Yang masih samar jangan dipakai untuk mengatur hidup orang lain.
Pasal 87 — Perjalanan Menuju Al-Haq Membebaskan dari Kepalsuan
Semakin dekat seseorang kepada kebenaran, semakin berat baginya untuk hidup palsu.
Ia mulai lelah berpura-pura.
Lelah mengatakan “iya” ketika batinnya tahu harus berkata “tidak.”
Lelah memuji demi keuntungan.
Lelah menyembunyikan kesalahan demi citra.
Lelah mengaku tahu ketika sebenarnya tidak tahu.
Cahaya kebenaran membuat kepalsuan terasa sempit.
Maka perjalanan menuju Al-Haq bukan hanya menambah pengetahuan.
Ia mengurangi kepura-puraan.
Ia mengajarkan seseorang untuk berkata:
“Aku belum tahu.”
“Aku salah.”
“Aku butuh bantuan.”
“Aku tidak sanggup.”
“Aku akan memperbaiki.”
Kalimat-kalimat itu tidak membuat manusia kecil.
Justru itulah tanda kekuatan yang jujur.
Pasal 88 — Seluruh Perjalanan Kembali Menjadi Kesaksian
Pada akhirnya, seluruh perjalanan akan menjadi kesaksian.
Waktu akan bersaksi bagaimana ia digunakan.
Harta akan bersaksi dari mana ia diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.
Lisan akan bersaksi apa yang pernah diucapkan.
Tubuh akan bersaksi ke mana ia dibawa.
Amanah akan bersaksi apakah dijaga atau dikhianati.
Orang-orang yang pernah bersentuhan dengan hidupmu akan membawa jejak dari sikapmu.
Maka hiduplah dengan kesadaran bahwa tidak ada langkah yang benar-benar hilang.
Kebaikan kecil tercatat.
Kezaliman kecil pun tercatat.
Namun rahmat Alloh tetap lebih luas bagi hamba yang jujur bertaubat dan memperbaiki.
Hikmah Lembar Ketiga Belas
Wahai penempuh jalan,
Jangan hanya meminta hidup berubah.
Mintalah pula agar penilaianmu menjadi lebih jernih.
Jangan hanya meminta pintu terbuka.
Mintalah kemampuan memilih pintu yang benar.
Jangan hanya meminta kekuatan untuk bertahan.
Mintalah kebijaksanaan untuk berhenti ketika jalan telah menyimpang.
Jangan hanya meminta dikenal.
Mintalah hati yang tidak bergantung pada pengakuan.
Jangan hanya menjaga ruh.
Jagalah tubuh, waktu, amanah, dan akhlak.
Sebab seluruh perjalanan, yang lurus maupun berbelok, yang naik maupun turun, yang datang maupun pergi, tetap berada dalam kekuasaan Alloh Sang Maha Al-Haq.
Doa
Allāhumma arzuqnā baṣīratan tubṣirunā biḥaqīqatil-umūr,
wa qalban lā yaghurruhu ẓāhiruhā.
“Ya Alloh, karuniakan kepada kami pandangan batin yang mampu melihat hakikat berbagai urusan dan hati yang tidak tertipu oleh penampilan luarnya.”
Allāhumma aj‘alnā ṣādiqīna ma‘aka wa ma‘a anfusinā wa ma‘a khalqik.
“Ya Alloh, jadikan kami orang-orang yang jujur kepada-Mu, kepada diri kami sendiri, dan kepada seluruh makhluk-Mu.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Keempat Belas
Pasal 89 — Rahasia Menjaga Cahaya Setelah Memahaminya
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Banyak manusia berusaha mencari cahaya.
Namun setelah cahaya diberikan, tidak semua mampu menjaganya.
Ilmu dapat datang dalam satu hari.
Tetapi menjaga ilmu memerlukan seluruh umur.
Kesadaran dapat hadir dalam satu peristiwa.
Namun mempertahankan kesadaran memerlukan latihan setiap hari.
Jangan merasa aman hanya karena pernah memahami.
Sebab hati dapat lalai.
Lisan dapat tergelincir.
Niat dapat berubah.
Akhlak dapat memudar bila tidak dipelihara.
Maka sebagaimana engkau memohon cahaya, mohonlah pula kekuatan untuk menjaganya.
Karena cahaya bukan sekadar ditemukan.
Ia harus dirawat dengan amal.
Pasal 90 — Jangan Menyimpan Dendam dalam Perjalanan
Dendam adalah beban yang dipikul oleh hati sendiri.
Orang yang disimpan di dalam kebencian sering kali telah berjalan jauh.
Tetapi hati yang menyimpan dendam tetap tinggal di masa lalu.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman.
Memaafkan bukan berarti melupakan pelajaran.
Memaafkan bukan berarti menghapus keadilan.
Memaafkan berarti membebaskan hati agar tidak terus diperbudak oleh luka.
Orang yang memaafkan menjadi ringan.
Orang yang memelihara kebencian menjadi lelah.
Karena setiap dendam memakan sebagian ketenangan.
Maka serahkan urusan pembalasan kepada Alloh.
Sedangkan dirimu, sibukkanlah dengan memperbaiki perjalanan.
Pasal 91 — Amanah Tidak Diukur dari Besarnya Tugas
Ada yang diberi amanah memimpin ribuan manusia.
Ada yang diberi amanah menjaga satu keluarga.
Ada yang diberi amanah mengajar satu murid.
Ada yang diberi amanah merawat satu orang tua.
Tidak ada amanah yang kecil apabila dijalankan dengan ikhlas.
Dan tidak ada amanah yang besar apabila dikhianati.
Alloh tidak bertanya seberapa besar panggungmu.
Alloh melihat seberapa jujur engkau menjaga titipan.
Satu janji yang ditepati lebih berat nilainya daripada seribu janji yang hanya diucapkan.
Pasal 92 — Jalan yang Paling Dekat kepada Al-Haq
Jalan menuju Alloh bukan hanya melalui kata-kata.
Ia juga melalui:
kejujuran dalam berdagang,
kesabaran dalam keluarga,
kelembutan kepada anak-anak,
bakti kepada orang tua,
keadilan kepada bawahan,
amanah dalam pekerjaan,
dan kasih sayang kepada sesama makhluk.
Jangan mencari jalan yang jauh sementara jalan yang dekat engkau abaikan.
Karena sering kali pintu terbesar menuju keridaan Alloh berada pada kewajiban yang dikerjakan dengan benar setiap hari.
Pasal 93 — Jangan Takut Berjalan Sendiri dalam Kebenaran
Ada waktu ketika engkau tidak diikuti.
Ada waktu ketika pendapatmu ditolak.
Ada waktu ketika kejujuran membuatmu kehilangan keuntungan.
Ada waktu ketika menjaga amanah membuatmu tampak berbeda.
Jangan takut.
Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena sedikit yang mengikutinya.
Dan kebatilan tidak menjadi benar hanya karena banyak yang melakukannya.
Tetaplah menjaga adab.
Tetaplah rendah hati.
Tetaplah membuka diri terhadap ilmu.
Namun jangan menjual kebenaran demi diterima manusia.
Pasal 94 — Seluruh Kehidupan Adalah Titipan
Tubuhmu adalah titipan.
Akalmu adalah titipan.
Hartamu adalah titipan.
Keluargamu adalah titipan.
Ilmumu adalah titipan.
Bahkan waktumu pun adalah titipan.
Tidak ada yang benar-benar menjadi milikmu selain amal yang engkau bawa menghadap Alloh.
Maka gunakan titipan itu sesuai kehendak Sang Pemilik.
Jangan rusakkan apa yang dipinjamkan.
Jangan sombong atas apa yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.
Pasal 95 — Kesaksian Terakhir Seorang Musafir
Ketika perjalanan dunia berakhir, bukan dunia yang akan ditanya.
Yang ditanya adalah hati.
Apakah ia mengenal Robb-nya?
Apakah ia menjaga amanah?
Apakah ia berlaku adil?
Apakah ia mencintai kebenaran?
Apakah ia bertaubat ketika salah?
Apakah ia bersyukur ketika diberi?
Apakah ia bersabar ketika diuji?
Inilah bekal yang tidak akan ditinggalkan oleh kematian.
Hikmah Lembar Keempat Belas
Wahai penempuh jalan,
Jagalah cahaya dengan amal.
Jagalah ilmu dengan kerendahan hati.
Jagalah amanah dengan kejujuran.
Jagalah hati dengan zikir.
Jagalah lisan dengan kebenaran.
Jagalah langkah dengan akhlak.
Sebab seluruh perjalanan akan kembali kepada Sang Maha Al-Haq.
Dan pada hari ketika segala rahasia dibukakan, tidak ada yang menyelamatkan selain rahmat Alloh dan amal yang dilakukan dengan ikhlas.
Doa
Allāhumma yā Al-Ḥaqq, yā Nūr, yā Karīm.
Jadikan akhir perjalanan kami lebih baik daripada permulaannya.
Jadikan hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu.
Jangan palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk.
Karuniakan kepada kami kejujuran, amanah, kesabaran, dan husnul khātimah.
Terimalah seluruh amal kami dan jadikan hidup kami sebagai perjalanan yang selalu kembali kepada cahaya-Mu.
Innaka Anta Al-Barrur-Raḥīm.
Walḥamdulillāhi Rabbil-'Ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kelima Belas
Pasal 96 — Ketika Hamba Menyadari bahwa Ia Tidak Pernah Berjalan Sendiri
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Manusia sering merasa bahwa seluruh beban hidup dipikulnya sendiri.
Ia melihat dirinya bekerja sendiri.
Menangis sendiri.
Memilih sendiri.
Bertahan sendiri.
Lalu ia menyangka bahwa tidak ada yang mengetahui beratnya perjalanan itu.
Padahal Alloh mengetahui setiap langkah yang tidak dilihat manusia.
Mengetahui air mata yang disembunyikan.
Mengetahui doa yang hanya bergetar di dalam dada.
Mengetahui kelelahan yang tidak sempat diceritakan.
Mengetahui usaha yang tidak dihargai.
Mengetahui niat baik yang disalahpahami.
Alloh tidak selalu menghilangkan beban dengan segera.
Namun Dia dapat memberi kekuatan agar beban itu tidak menghancurkan.
Dia dapat menahan satu jalan agar hamba tidak masuk ke dalam kerusakan.
Dia dapat mengirim pertolongan melalui seseorang.
Dia dapat menumbuhkan ketenangan sebelum masalah selesai.
Maka jangan menyangka bahwa sunyinya perjalanan berarti tidak adanya penjagaan.
Ada pertolongan yang bekerja tanpa terlihat.
Pasal 97 — Pertolongan Tidak Selalu Datang Seperti yang Dibayangkan
Manusia sering membayangkan pertolongan sebagai datangnya hasil yang diinginkan.
Padahal pertolongan dapat berbentuk:
keberanian untuk berkata tidak,
kesadaran untuk berhenti,
kekuatan untuk meminta maaf,
kejernihan untuk melihat kebohongan,
kesabaran untuk menunggu,
atau pertemuan dengan orang yang membawa nasihat.
Kadang pertolongan bukan mengubah orang lain.
Kadang pertolongan adalah mengubah cara kita menghadapi mereka.
Kadang pertolongan bukan menghapus kesulitan.
Kadang pertolongan adalah mengeluarkan kita dari kebiasaan buruk yang membuat kesulitan itu terus berulang.
Kadang pertolongan bukan membuat jalan menjadi pendek.
Kadang pertolongan adalah membuat hati tidak tersesat meskipun jalannya panjang.
Maka jangan membatasi rahmat Alloh hanya kepada satu bentuk.
Rahmat-Nya lebih luas daripada bayangan manusia.
Pasal 98 — Jangan Menuntut Semua Luka Pulih dengan Cepat
Ada luka yang pulih dalam beberapa hari.
Ada yang membutuhkan waktu panjang.
Ada luka yang selesai dengan permintaan maaf.
Ada yang membutuhkan perubahan nyata.
Ada yang mengharuskan jarak.
Ada yang memerlukan bantuan ahli.
Jangan merasa gagal hanya karena engkau belum sepenuhnya pulih.
Pemulihan bukan perlombaan.
Tidak semua jiwa memiliki waktu yang sama.
Namun jangan pula menjadikan luka sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh.
Rawatlah.
Kenali pemicunya.
Bangun batas.
Carilah pertolongan.
Belajarlah mengampuni tanpa membiarkan kezaliman berulang.
Kesabaran terhadap proses bukan berarti pasrah terhadap kerusakan.
Kesabaran adalah tetap berjalan dengan cara yang sehat.
Pasal 99 — Kesalahan dalam Memahami Ridha
Ridha bukan berarti tidak boleh sedih.
Ridha bukan berarti tidak boleh menangis.
Ridha bukan berarti harus tersenyum di tengah kehilangan.
Ridha juga bukan berarti membiarkan orang lain menzalimi.
Ridha adalah menerima bahwa sesuatu telah terjadi, lalu memilih respons yang tidak menjauhkan diri dari Alloh.
Seseorang boleh berduka.
Boleh merasa berat.
Boleh memohon agar keadaan berubah.
Boleh mencari keadilan.
Namun ia tidak membiarkan kesedihan berubah menjadi kebencian kepada Alloh.
Ia tidak membiarkan luka mendorongnya menzalimi.
Ia tidak membiarkan kekecewaan menghapus seluruh syukur.
Itulah ridha yang hidup:
bukan mati rasa, tetapi hati yang tetap terarah.
Pasal 100 — Ketika Arah Harus Dikoreksi
Setiap musafir memerlukan saat untuk memeriksa peta.
Demikian pula hidup.
Jangan terus berjalan hanya karena sudah terlalu jauh.
Jangan bertahan hanya karena telah banyak berkorban.
Jangan melanjutkan kesalahan hanya karena takut dianggap gagal.
Tanyakan secara jujur:
Apakah jalanku masih benar?
Apakah tujuan ini masih membawa manfaat?
Apakah caraku masih menjaga hak orang lain?
Apakah aku menjadi lebih baik atau justru lebih rusak?
Apakah aku bertahan karena amanah atau karena gengsi?
Mengoreksi arah bukan pengkhianatan terhadap perjuangan.
Justru itulah bentuk kesetiaan kepada kebenaran.
Lebih baik berbalik menuju jalan benar daripada terus maju ke arah yang keliru.
Pasal 101 — Keberanian untuk Mengakui Batas
Tidak semua beban harus engkau pikul.
Tidak semua masalah harus engkau selesaikan.
Tidak semua orang dapat engkau selamatkan.
Tidak semua pertanyaan harus engkau jawab.
Tidak semua tanggung jawab adalah milikmu.
Ada saatnya berkata:
“Aku tidak mampu.”
“Aku tidak tahu.”
“Aku perlu bantuan.”
“Aku tidak dapat meneruskan ini.”
Kalimat-kalimat itu bukan kelemahan bila diucapkan dengan jujur.
Batas adalah bagian dari amanah.
Orang yang tidak mengenal batas akan mudah lelah, marah, dan akhirnya menzalimi diri sendiri maupun orang lain.
Mengetahui batas bukan berarti berhenti bermanfaat.
Ia berarti menempatkan manfaat dengan lebih tepat.
Pasal 102 — Ketika Perjalanan Mengajarkan Kerendahan Hati
Pada awalnya, manusia ingin menaklukkan hidup.
Ia ingin semua rencana berjalan.
Ia ingin semua orang memahami.
Ia ingin seluruh pintu terbuka.
Namun perjalanan mengajarkan bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan.
Ada waktu ketika ilmu tidak cukup.
Ada kekuatan yang terbatas.
Ada peristiwa yang tidak dapat dicegah.
Ada kehilangan yang tidak dapat dikembalikan.
Di situlah kerendahan hati lahir.
Bukan karena manusia tidak berharga.
Tetapi karena ia sadar bahwa dirinya bukan penguasa.
Ia adalah hamba.
Ia berusaha, tetapi tidak menentukan segalanya.
Ia berdoa, tetapi tidak memaksa.
Ia berharap, tetapi tidak menjadikan harapannya sebagai hukum bagi Alloh.
Kerendahan hati membuat hati ringan.
Sebab ia berhenti memikul peran yang bukan miliknya.
Pasal 103 — Kesetiaan kepada Jalan yang Lurus
Jalan lurus bukan jalan tanpa belokan.
Jalan lurus adalah arah yang tetap menuju kebenaran meskipun bentuk perjalanannya berubah.
Hari ini seseorang berjalan melalui ilmu.
Esok melalui kesabaran.
Lusa melalui taubat.
Pada masa lain melalui pelayanan.
Bentuk amal dapat berubah.
Tempat dapat berubah.
Tugas dapat berubah.
Namun arah hati tetap sama:
mencari keridaan Alloh,
menjaga amanah,
menolak kezaliman,
dan memperbaiki akhlak.
Maka jangan mengikat jalan lurus hanya kepada satu bentuk lahiriah.
Yang terpenting adalah apakah perubahan itu tetap membawa kepada Al-Haq.
Pasal 104 — Rahasia Pulang Sebelum Waktunya Pulang
Sebelum jasad kembali ke tanah, hati harus belajar pulang.
Pulang dari kesombongan menuju kehambaan.
Pulang dari dendam menuju kelapangan.
Pulang dari kebohongan menuju kejujuran.
Pulang dari keterikatan berlebihan menuju tawakal.
Pulang dari kelalaian menuju zikir.
Pulang bukan berarti meninggalkan dunia.
Pulang berarti menempatkan dunia di tangan, bukan di dalam hati.
Manusia tetap bekerja.
Tetap mencintai keluarga.
Tetap membangun.
Tetap belajar.
Namun ia tidak lupa bahwa semua itu hanyalah perjalanan.
Tujuan akhirnya adalah Alloh.
Hikmah Lembar Kelima Belas
Wahai penempuh jalan,
Engkau tidak diminta mengetahui seluruh rahasia.
Engkau hanya diminta menjaga arah.
Engkau tidak diminta kuat setiap saat.
Engkau diminta jujur ketika lemah.
Engkau tidak diminta memikul seluruh dunia.
Engkau diminta menjaga amanah yang benar-benar berada di tanganmu.
Engkau tidak diminta membuat perjalanan selalu mudah.
Engkau diminta agar kesulitan tidak memalingkanmu dari Al-Haq.
Sebab semua yang membolak-balikkan hidup tetap berada dalam kekuasaan Alloh.
Dan hamba yang selamat bukanlah hamba yang tidak pernah salah arah, melainkan hamba yang mau berhenti, mengakui, memperbaiki, dan kembali.
Doa
Allāhumma lā takilnā ilā anfusinā ṭarfata ‘ayn,
wahdinā fī kulli taqallubin ilā ṣirāṭikal-mustaqīm.
“Ya Alloh, jangan serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata, dan tuntunlah kami dalam setiap perubahan menuju jalan-Mu yang lurus.”
Allāhumma rudd qulūbanā ilaika raddan jamīlā,
waj‘al akhir safarinā riḍāka wa raḥmatak.
“Ya Alloh, kembalikan hati kami kepada-Mu dengan pengembalian yang indah, dan jadikan akhir perjalanan kami berada dalam keridaan serta rahmat-Mu.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Keenam Belas
Pasal 105 — Hakikat Kembali kepada Al-Haq
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Seluruh perjalanan manusia pada hakikatnya bukan menuju dunia.
Bukan menuju kemuliaan di mata manusia.
Bukan menuju banyaknya harta.
Bukan pula menuju panjangnya usia.
Seluruh perjalanan adalah perjalanan kembali kepada Al-Haq.
Sejak ruh ditiupkan, perjalanan telah dimulai.
Setiap tarikan napas mendekatkan manusia kepada perjumpaan.
Setiap detik adalah bagian dari safar menuju Rabb-nya.
Maka jangan sia-siakan perjalanan dengan mengejar bayangan.
Carilah Yang Kekal.
Jangan habiskan umur hanya memperindah tempat singgah.
Bangunlah bekal untuk kampung yang abadi.
Karena dunia hanyalah persinggahan.
Sedangkan akhirat adalah tempat kembali.
Pasal 106 — Rahasia Nafas Seorang Musafir
Setiap tarikan napas adalah amanah.
Tidak ada satu tarikan yang kembali.
Maka jangan biarkan napas berlalu tanpa makna.
Bernapaslah dengan syukur.
Berbicaralah dengan jujur.
Bergeraklah dengan amanah.
Berhentilah dari kezaliman.
Karena suatu hari akan datang satu napas terakhir.
Sesudah itu, seluruh kesempatan berubah menjadi hisab.
Maka orang yang bijaksana tidak menunggu usia tua untuk memperbaiki diri.
Ia memperbaiki dirinya sejak hari ini.
Pasal 107 — Timbangan yang Tidak Pernah Keliru
Manusia dapat salah menilai.
Manusia dapat tertipu oleh penampilan.
Manusia dapat menyembunyikan niat.
Namun timbangan Alloh tidak pernah keliru.
Yang sedikit tetapi ikhlas lebih berat daripada yang banyak tetapi riya.
Yang sunyi tetapi jujur lebih mulia daripada yang ramai tetapi penuh kepalsuan.
Yang sederhana tetapi amanah lebih tinggi daripada yang megah tetapi zalim.
Maka jangan sibuk membangun penilaian manusia.
Bangunlah amal yang layak di hadapan Alloh.
Karena seluruh topeng akan gugur.
Yang tersisa hanyalah kejujuran amal.
Pasal 108 — Cahaya yang Dibawa Pulang
Ketika dunia selesai, tidak ada yang ikut masuk ke alam berikutnya selain apa yang telah melekat pada jiwa.
Bukan rumah.
Bukan kendaraan.
Bukan kedudukan.
Bukan sanjungan.
Yang ikut hanyalah:
Iman yang dijaga.
Taubat yang tulus.
Doa yang ikhlas.
Sedekah yang bersih.
Ilmu yang diamalkan.
Kasih sayang yang diberikan.
Amanah yang ditunaikan.
Akhlak yang dipelihara.
Itulah cahaya yang akan menerangi perjalanan berikutnya.
Pasal 109 — Jangan Takut kepada Akhir Perjalanan
Orang yang mencintai dunia akan takut berpisah dengannya.
Tetapi orang yang mencintai Alloh akan merindukan perjumpaan dengan rahmat-Nya.
Bukan karena ia membenci kehidupan.
Melainkan karena ia yakin bahwa kehidupan sejati berada di sisi Alloh.
Maka persiapkan akhir perjalanan bukan dengan rasa takut yang melumpuhkan.
Tetapi dengan amal yang memperindah perjumpaan.
Setiap taubat adalah persiapan.
Setiap sedekah adalah persiapan.
Setiap kejujuran adalah persiapan.
Setiap sujud yang ikhlas adalah persiapan.
Pasal 110 — Penutup Amanah Kitab
Wahai musafir kehidupan...
Apabila engkau membaca lembar demi lembar kitab ini, jangan berhenti pada kata-kata.
Hidupkanlah maknanya.
Jangan hanya mengetahui.
Amalkanlah.
Jangan hanya mengagumi.
Perbaikilah dirimu.
Jangan hanya mencari cahaya.
Jadilah pembawa cahaya melalui akhlakmu.
Karena sesungguhnya seluruh perjalanan yang membolak-balikkan kehidupan hanyalah berada di bawah kekuasaan Alloh, Al-Haq Yang Maha Mengatur.
Tidak ada satu daun pun gugur tanpa ilmu-Nya.
Tidak ada satu air mata pun jatuh tanpa pengetahuan-Nya.
Tidak ada satu langkah pun terjadi di luar kehendak-Nya.
Maka berjalanlah...
Dengan hati yang bersih.
Dengan lisan yang jujur.
Dengan amal yang ikhlas.
Dengan akhlak yang mulia.
Hingga tiba saat engkau dipanggil pulang kepada-Nya dalam keadaan yang diridhai.
Khatimah Kitab
Semoga QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH menjadi pengingat bahwa perubahan bukanlah musuh manusia.
Perubahan adalah bahasa kehidupan yang Alloh ciptakan agar manusia tidak bergantung kepada dunia, tetapi kembali kepada Al-Haq.
Siapa yang mengenal Al-Haq akan tenang ketika dunia berubah.
Siapa yang mengenal Al-Haq akan sabar ketika diuji.
Siapa yang mengenal Al-Haq akan bersyukur ketika diberi.
Dan siapa yang mengenal Al-Haq akan pulang dengan hati yang damai.
Doa Khatam
Allāhumma yā Al-Ḥaqq, yā Nūr, yā Hādī, yā Wakīl.
Terimalah perjalanan hidup kami sebagai ibadah.
Jadikan setiap langkah kami mendekat kepada-Mu.
Ampunilah dosa kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, keluarga kami, dan seluruh kaum mukminin.
Jangan palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk.
Karuniakan kepada kami husnul khātimah, keluasan rahmat-Mu, dan tempatkan kami bersama hamba-hamba-Mu yang saleh.
Innaka Antal-'Afuwwul Karīm, wa Anta Arḥamur-Rāḥimīn.
Walḥamdulillāhi Rabbil-'Ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Ketujuh Belas
Pasal 111 — Perjalanan Sesudah Kesadaran
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Setelah manusia sadar bahwa seluruh perjalanan berada dalam kekuasaan Alloh, bukan berarti ia berhenti berjalan.
Kesadaran bukan tempat berdiam.
Kesadaran adalah awal tanggung jawab.
Orang yang telah memahami bahwa keadaan dapat dibolak-balikkan tidak lagi hidup dengan sembarangan.
Ia lebih berhati-hati memilih langkah.
Ia tidak mudah membanggakan keberhasilan.
Ia tidak cepat menyerah karena kegagalan.
Ia mengetahui bahwa hari ini adalah amanah, bukan kepastian yang dapat dimiliki selamanya.
Maka setelah mengenal Al-Haq, manusia harus semakin giat memperbaiki amal.
Sebab ilmu yang tidak mengubah kehidupan hanya menjadi pengetahuan yang berhenti di kepala.
Pasal 112 — Tanda Kesadaran Telah Menjadi Amal
Kesadaran yang benar akan terlihat dari perubahan kecil.
Lisan menjadi lebih terjaga.
Janji menjadi lebih diperhatikan.
Waktu menjadi lebih dihargai.
Kesalahan lebih cepat diakui.
Pujian tidak lagi terlalu memabukkan.
Celaan tidak lagi mudah menghancurkan.
Orang yang benar-benar sadar tidak hanya pandai berbicara tentang tawakal.
Ia membayar hutangnya.
Ia menunaikan pekerjaannya.
Ia menjaga keluarganya.
Ia meminta maaf apabila menyakiti.
Ia berhenti menyalahkan takdir atas kelalaiannya sendiri.
Kesadaran yang tidak melahirkan tanggung jawab belumlah sempurna.
Pasal 113 — Jangan Menunggu Keadaan Sempurna
Ada manusia yang menunda berbuat baik karena menunggu keadaan sempurna.
Ia berkata:
“Aku akan bersedekah ketika kaya.”
“Aku akan tenang ketika seluruh masalah selesai.”
“Aku akan beribadah lebih baik ketika waktuku lapang.”
“Aku akan meminta maaf ketika suasana tepat.”
Padahal keadaan sempurna hampir tidak pernah datang.
Kehidupan selalu membawa urusan baru.
Apabila kebaikan terus menunggu keadaan tanpa gangguan, umur dapat habis sebelum amal dimulai.
Mulailah dari yang tersedia.
Sedekahlah meskipun sedikit.
Berdoalah meskipun hati masih berat.
Belajarlah meskipun belum mengerti semuanya.
Perbaikilah satu kebiasaan meskipun belum mampu mengubah seluruh hidup.
Alloh melihat kejujuran langkah, bukan hanya besarnya hasil.
Pasal 114 — Perjalanan yang Tidak Membandingkan
Setiap manusia memiliki waktu dan jalan yang berbeda.
Ada yang cepat mendapat kelapangan.
Ada yang lama dibentuk oleh kesulitan.
Ada yang dikenal banyak manusia.
Ada yang beramal dalam sunyi.
Ada yang mendapat amanah besar di usia muda.
Ada yang baru menemukan arah setelah perjalanan panjang.
Maka jangan mengukur hidupmu dengan perjalanan orang lain.
Perbandingan yang berlebihan dapat merusak syukur.
Engkau melihat buah orang lain, tetapi tidak melihat musim panjang yang telah mereka lalui.
Engkau melihat keberhasilannya, tetapi tidak mengetahui air mata yang disembunyikan.
Engkau melihat keterlambatanmu, tetapi tidak mengetahui bahaya yang sedang dijauhkan.
Tugasmu bukan menjadi salinan perjalanan orang lain.
Tugasmu adalah menjalankan amanahmu dengan jujur.
Pasal 115 — Ketika Jalan Orang Lain Tampak Lebih Mudah
Jangan iri kepada jalan yang tampak mudah.
Kemudahan juga mempunyai ujian.
Harta harus dipertanggungjawabkan.
Kedudukan membawa beban.
Keindahan dapat mengundang kesombongan.
Banyaknya pengikut dapat mengaburkan niat.
Sebaliknya, jangan pula menganggap kesulitanmu selalu menjadikanmu lebih mulia.
Kesulitan hanya menjadi mulia apabila melahirkan sabar, ilmu, dan akhlak.
Apabila kesulitan hanya melahirkan kebencian, ia belum menjadi cahaya.
Setiap keadaan adalah ujian dengan bentuk yang berbeda.
Yang lapang diuji dengan syukur.
Yang sempit diuji dengan sabar dan ikhtiar.
Pasal 116 — Rahasia Rezeki yang Membolak-balikkan Hati
Rezeki bukan hanya uang.
Kesehatan adalah rezeki.
Waktu adalah rezeki.
Keluarga yang baik adalah rezeki.
Ilmu adalah rezeki.
Pertemuan dengan orang jujur adalah rezeki.
Hati yang mampu bertaubat adalah rezeki.
Namun rezeki dapat menjadi jalan dekat atau jalan jauh.
Apabila rezeki membuat seseorang bersyukur, berbagi, dan menjaga amanah, ia menjadi cahaya.
Apabila membuatnya merasa tidak membutuhkan Alloh, ia menjadi hijab.
Karena itu jangan hanya meminta rezeki yang banyak.
Mintalah rezeki yang halal, cukup, bermanfaat, dan tidak merusak hati.
Pasal 117 — Ketika Rezeki Menyempit
Penyempitan rezeki tidak selalu berarti kehinaan.
Kadang ia menjadi peringatan agar pengeluaran diperbaiki.
Kadang ia mengajarkan manusia hidup sederhana.
Kadang ia menghentikan langkah menuju perkara yang berbahaya.
Kadang ia menjadi akibat yang harus diperbaiki dengan kerja, ilmu, dan disiplin.
Dalam kesempitan, jangan menempuh jalan haram.
Jangan menipu karena takut.
Jangan mengambil hak orang lain.
Jangan menjual amanah demi kelapangan sementara.
Sebab rezeki yang datang melalui kezaliman membawa beban lebih besar daripada kemiskinan.
Berusahalah.
Belajarlah.
Mintalah pertolongan yang wajar.
Namun jagalah kehormatan hati.
Pasal 118 — Rezeki yang Tidak Terlihat
Ada rezeki yang baru dikenali setelah berlalu.
Tidak jadi pergi ke suatu tempat dapat menjadi rezeki keselamatan.
Tidak diterima dalam suatu pekerjaan dapat menjadi jalan menuju tempat yang lebih baik.
Dijauhkan dari seseorang dapat menjadi rezeki perlindungan.
Dipaksa beristirahat dapat menjadi rezeki bagi tubuh yang telah lama diabaikan.
Maka jangan menilai rezeki hanya dari apa yang diperoleh.
Perhatikan pula apa yang dicegah.
Alloh memberi melalui kedatangan.
Alloh juga memberi melalui penjagaan.
Pasal 119 — Jangan Mengaku Mengetahui Seluruh Maksud Alloh
Manusia boleh mengambil hikmah dari kejadian.
Namun jangan mudah berkata dengan pasti:
“Alloh melakukan ini karena itu.”
Ilmu manusia terbatas.
Tidak semua rahasia ketetapan dibukakan.
Katakanlah dengan rendah hati:
“Mungkin ada pelajaran yang dapat kuambil.”
“Boleh jadi ini menjadi penjagaan.”
“Aku belum mengetahui seluruh hikmahnya.”
Sikap seperti ini menjaga manusia dari mengatasnamakan Alloh untuk mendukung prasangka pribadi.
Jangan menjadikan perkiraan sebagai kepastian.
Jangan menjadikan perasaan sebagai wahyu.
Jangan memakai nama Alloh untuk memaksa orang menerima penafsiranmu.
Al-Haq tidak membutuhkan kebohongan yang dibungkus keyakinan.
Pasal 120 — Menjadi Saksi Kebaikan dalam Setiap Perubahan
Seorang hamba tidak selalu mampu menghentikan perubahan.
Namun ia dapat memilih menjadi pembawa kebaikan di dalam perubahan itu.
Ketika keluarga mengalami kesulitan, ia menjadi penenang.
Ketika pekerjaan berubah, ia tetap menjaga amanah.
Ketika terjadi perbedaan, ia menjaga lisan.
Ketika kehilangan datang, ia tidak menambah luka dengan kezaliman.
Ketika mendapat kelapangan, ia mengingat orang yang membutuhkan.
Inilah perjalanan orang yang telah mengenal Al-Haq:
Ia tidak hanya bertanya apa yang akan diterimanya.
Ia bertanya manfaat apa yang dapat diberikan melalui keadaan yang sedang dijalani.
Hikmah Lembar Ketujuh Belas
Wahai penempuh jalan,
Setelah memahami bahwa seluruh perjalanan berada dalam kekuasaan Alloh, jangan berhenti pada rasa kagum.
Ubahlah kesadaran menjadi amal.
Jangan menunggu hidup sempurna untuk memulai kebaikan.
Jangan membandingkan jalanmu dengan jalan manusia lain.
Jangan meminta rezeki hanya dalam bentuk banyaknya harta.
Mintalah keberkahan, keselamatan, kecukupan, dan hati yang tidak diperbudak oleh pemberian.
Dan jangan mengaku mengetahui seluruh rahasia Alloh.
Berjalanlah dengan ilmu, kerendahan hati, serta tanggung jawab.
Sebab hamba yang mengenal Al-Haq tidak menjadi pasif.
Ia justru menjadi lebih jujur, lebih bermanfaat, dan lebih siap menghadapi setiap perubahan.
Doa
Allāhumma bārik lanā fīmā razaqtanā,
wa lā taj‘al rizqanā ḥijāban ‘anka.
“Ya Alloh, berkahilah segala yang Engkau rezekikan kepada kami dan jangan jadikan rezeki itu sebagai penghalang dari-Mu.”
Allāhumma ḥawwil ‘ilmanā ilā ‘amalin ṣāliḥ,
wa wa‘yanā ilā akhlāqin karīmah.
“Ya Alloh, ubahlah ilmu kami menjadi amal saleh dan kesadaran kami menjadi akhlak yang mulia.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kedelapan Belas
Pasal 121 — Ketika Perjalanan Meminta Kesabaran yang Baru
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Ada kesabaran yang dipakai untuk menunggu.
Ada kesabaran yang dipakai untuk bertahan.
Ada kesabaran yang dipakai untuk melepaskan.
Ada pula kesabaran yang dipakai untuk memulai kembali.
Manusia sering mengira sabar hanya berarti diam menghadapi keadaan.
Padahal sabar adalah kemampuan menjaga arah ketika hati sedang tertekan.
Sabar bukan membiarkan diri dizalimi.
Sabar bukan menutup mata terhadap kesalahan.
Sabar bukan bertahan di jalan yang jelas-jelas merusak.
Sabar adalah tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Sabar adalah tetap memilih yang halal ketika jalan haram tampak lebih cepat.
Sabar adalah menahan lisan ketika kemarahan ingin menguasai.
Sabar adalah terus memperbaiki diri meskipun perubahan belum terlihat.
Maka jangan bertanya hanya:
“Berapa lama aku harus sabar?”
Tanyakan pula:
“Dengan cara seperti apa aku harus sabar?”
Sebab kesabaran yang benar bukan hanya panjang waktunya, tetapi bersih caranya.
Pasal 122 — Ketika Jawaban Belum Datang
Ada doa yang segera dijawab.
Ada doa yang ditunda.
Ada doa yang mengubah orang yang berdoa sebelum mengubah keadaan.
Dalam masa menunggu, manusia mudah menuduh dirinya tidak didengar.
Padahal tidak terdengarnya jawaban oleh telinga bukan berarti tidak adanya jawaban.
Boleh jadi Alloh sedang menahan sesuatu sampai waktunya tepat.
Boleh jadi Dia sedang membersihkan niat.
Boleh jadi Dia sedang membuka jalan yang belum terlihat.
Boleh jadi Dia sedang mengganti permintaan dengan sesuatu yang lebih selamat.
Namun penantian tidak berarti berhenti berikhtiar.
Doa harus berjalan bersama usaha.
Tawakal harus berjalan bersama perencanaan.
Harapan harus berjalan bersama kedisiplinan.
Jangan meminta pintu dibuka sambil tetap duduk jauh dari pintu.
Jangan meminta rezeki tetapi malas belajar.
Jangan meminta hubungan membaik tetapi menolak meminta maaf.
Jangan meminta ketenangan tetapi terus memelihara kebiasaan yang merusak hati.
Pasal 123 — Kesabaran yang Tidak Berubah Menjadi Kebencian
Ujian yang panjang dapat membuat hati keras.
Manusia dapat merasa lelah, lalu mulai menyalahkan semua orang.
Ia dapat merasa tidak dipahami, lalu menjadi kasar.
Ia dapat merasa banyak berkorban, lalu menuntut penghormatan.
Di sinilah kesabaran harus dijaga agar tidak berubah menjadi kebencian.
Jangan biarkan penderitaan membuatmu merasa berhak menyakiti.
Jangan jadikan luka sebagai izin untuk merendahkan.
Jangan jadikan kesulitan sebagai alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.
Orang yang terluka tetap harus menjaga akhlak.
Orang yang lelah tetap boleh beristirahat.
Orang yang terbebani boleh meminta pertolongan.
Namun ia tidak boleh menjadikan sakitnya sebagai alat menguasai orang lain.
Pasal 124 — Meminta Pertolongan Adalah Bagian dari Perjalanan
Ada beban yang memang harus dipikul sendiri.
Namun ada pula beban yang menjadi lebih ringan bila dibagi kepada orang yang tepat.
Manusia tidak diciptakan untuk hidup tanpa bantuan.
Orang sakit membutuhkan tenaga kesehatan.
Orang yang bingung membutuhkan nasihat.
Orang yang berhutang membutuhkan perencanaan.
Orang yang terluka membutuhkan ruang aman.
Orang yang tersesat membutuhkan penunjuk.
Maka jangan malu meminta pertolongan.
Tetapi mintalah kepada pihak yang amanah, berilmu, dan tidak memanfaatkan kelemahanmu.
Jangan menyerahkan seluruh keputusan hidup kepada orang lain.
Pertolongan yang sehat membantu seseorang kembali berdiri.
Bukan membuatnya semakin bergantung.
Pembimbing yang baik memberi arah.
Bukan mengambil alih seluruh kehendak.
Sahabat yang baik menguatkan kejujuran.
Bukan membenarkan semua kesalahan.
Pasal 125 — Ketika Hati Perlu Beristirahat
Hati juga dapat lelah.
Terlalu banyak kabar dapat melelahkan.
Terlalu banyak pertengkaran dapat mengeraskan.
Terlalu banyak membandingkan diri dapat menghilangkan syukur.
Terlalu banyak menanggung urusan orang lain dapat membuat amanah diri terbengkalai.
Maka beristirahatlah tanpa merasa bersalah.
Kurangi suara yang tidak perlu.
Jauhkan diri sejenak dari pertengkaran.
Tidurlah dengan cukup.
Duduklah bersama keluarga.
Bacalah sesuatu yang menenangkan.
Berjalanlah di tempat yang membuat napas lebih lapang.
Namun jangan memakai istirahat untuk melarikan diri selamanya.
Istirahat bertujuan memulihkan tenaga agar kembali menjalankan amanah.
Bukan meninggalkan amanah.
Pasal 126 — Tidak Semua Perkara Harus Diselesaikan Hari Ini
Ada manusia yang ingin semua masalah selesai sekaligus.
Ia ingin hutang lunas segera.
Hubungan pulih segera.
Tubuh sehat segera.
Hati tenang segera.
Rencana berhasil segera.
Ketika semua itu belum terjadi, ia menganggap dirinya gagal.
Padahal kehidupan sering diperbaiki sedikit demi sedikit.
Satu keputusan benar hari ini.
Satu kebiasaan buruk dihentikan.
Satu kewajiban ditunaikan.
Satu percakapan jujur dilakukan.
Satu malam digunakan untuk beristirahat.
Langkah kecil yang terus dijaga lebih kuat daripada ledakan semangat yang segera padam.
Maka jangan menghina proses.
Alloh dapat membalikkan keadaan melalui langkah yang tampak sederhana.
Pasal 127 — Rahasia Konsistensi
Konsistensi bukan melakukan banyak perkara dalam satu waktu.
Konsistensi adalah menjaga perkara baik agar tidak hilang ketika semangat menurun.
Berdoa tidak hanya ketika takut.
Bersyukur tidak hanya ketika diberi.
Bekerja jujur tidak hanya ketika diawasi.
Berbuat baik tidak hanya ketika dipuji.
Menjaga lisan tidak hanya di hadapan orang yang dihormati.
Inilah tanda amal telah berakar.
Amal yang hanya hidup karena suasana akan mati ketika suasana berubah.
Namun amal yang dibangun karena kesadaran akan tetap berjalan meskipun tidak ada yang melihat.
Mulailah dari sedikit.
Tetapi jaga.
Karena jalan panjang ditempuh bukan oleh satu lompatan, melainkan oleh langkah yang terus diulang.
Pasal 128 — Ketika Perjalanan Terasa Lambat
Jangan mengira lambat berarti tidak bergerak.
Akar tumbuh dalam gelap.
Pemulihan terjadi perlahan.
Ilmu masuk sedikit demi sedikit.
Akhlak berubah melalui latihan yang berulang.
Ada perubahan yang tidak tampak dari luar, tetapi sangat besar di dalam.
Seseorang mungkin belum kaya, tetapi ia telah berhenti berhutang tanpa perhitungan.
Seseorang mungkin belum sepenuhnya tenang, tetapi ia tidak lagi melukai orang ketika marah.
Seseorang mungkin belum sampai, tetapi ia telah meninggalkan jalan yang salah.
Itu semua adalah kemajuan.
Jangan hanya melihat jarak yang belum ditempuh.
Lihat pula keburukan yang telah ditinggalkan.
Pasal 129 — Ketika Hasil Tidak Sesuai dengan Pengorbanan
Manusia sering berkata:
“Aku telah berusaha banyak, mengapa hasilnya kecil?”
Namun pengorbanan tidak selalu dibayar melalui bentuk yang sama.
Ada usaha yang tidak menghasilkan uang, tetapi menghasilkan ilmu.
Ada perjuangan yang tidak menghasilkan kedudukan, tetapi menghasilkan keteguhan.
Ada hubungan yang tidak bertahan, tetapi mengajarkan batas.
Ada kegagalan yang menyelamatkan dari kesombongan.
Bukan berarti manusia harus menerima ketidakadilan tanpa koreksi.
Bila hak dirampas, perjuangkan.
Bila sistem keliru, perbaiki.
Namun jangan menyimpulkan seluruh pengorbanan sia-sia hanya karena hasil yang diinginkan belum datang.
Kadang buah tumbuh di tempat lain.
Pasal 130 — Kesabaran sebagai Penjaga Arah
Kesabaran bukan tujuan akhir.
Ia adalah penjaga agar manusia tetap berada pada arah yang benar sampai waktunya tiba.
Dengan sabar, manusia tidak menjual iman karena tekanan.
Dengan sabar, manusia tidak menggadaikan amanah karena kesempitan.
Dengan sabar, manusia tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika marah.
Dengan sabar, manusia mampu menunggu kejernihan sebelum bertindak.
Namun kesabaran harus ditemani ilmu.
Tanpa ilmu, sabar dapat berubah menjadi pasrah kepada kezaliman.
Kesabaran harus ditemani batas.
Tanpa batas, sabar dapat berubah menjadi penghancuran diri.
Kesabaran harus ditemani usaha.
Tanpa usaha, sabar dapat berubah menjadi alasan untuk tidak bergerak.
Hikmah Lembar Kedelapan Belas
Wahai penempuh jalan,
Jangan hanya meminta agar ujian segera selesai.
Mintalah agar engkau tetap jujur selama menjalaninya.
Jangan hanya meminta keadaan berubah.
Mintalah agar kesulitan tidak mengubahmu menjadi keras.
Jangan malu meminta bantuan.
Jangan merasa bersalah ketika perlu beristirahat.
Jangan memaksa seluruh hidup selesai hari ini.
Jagalah satu langkah baik, lalu lanjutkan langkah berikutnya.
Sebab perjalanan berada dalam kuasa Alloh.
Namun cara berjalan adalah amanah manusia.
Kesabaran yang benar bukan diam tanpa arah.
Kesabaran adalah tetap menuju Al-Haq tanpa memilih jalan yang merusak.
Doa
Allāhumma afrigh ‘alainā ṣabran,
wa tsabbit aqdāmanā ‘alal-ḥaqq.
“Ya Alloh, limpahkan kepada kami kesabaran dan teguhkan langkah kami di atas kebenaran.”
Allāhumma lā taj‘al ṣabranā dzullan,
wa lā ‘ajalatanā fitnatan,
wahdinā limā fīhi riḍāka.
“Ya Alloh, jangan jadikan kesabaran kami sebagai kehinaan dan jangan jadikan ketergesa-gesaan kami sebagai fitnah. Tuntunlah kami kepada perkara yang mengandung keridaan-Mu.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kesembilan Belas
Pasal 131 — Ketika Hamba Belajar Menyerahkan Hasil
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Manusia diberi kemampuan untuk berniat, memilih, merencanakan, dan berusaha.
Namun manusia tidak diberi kuasa mutlak atas hasil.
Ia dapat menanam, tetapi tidak menciptakan pertumbuhan.
Ia dapat mengetuk, tetapi tidak memaksa setiap pintu terbuka.
Ia dapat berkata jujur, tetapi tidak dapat memaksa semua orang mempercayainya.
Ia dapat mencintai dengan baik, tetapi tidak dapat memaksa hati orang lain tetap tinggal.
Ia dapat berobat, tetapi kesembuhan tetap berada dalam izin Alloh.
Maka salah satu ilmu terbesar dalam perjalanan adalah membedakan antara tugas manusia dan hak Alloh.
Tugas manusia adalah memperbaiki sebab.
Hak Alloh adalah menetapkan hasil.
Ketika dua perkara ini tertukar, hati mudah lelah.
Manusia merasa harus mengendalikan semuanya.
Ia menganggap penolakan sebagai kehancuran.
Ia memandang kegagalan sebagai hilangnya harga diri.
Padahal hasil yang berbeda dari rencana tidak selalu berarti usaha itu sia-sia.
Kadang usaha diterima sebagai amal, meskipun hasil lahirnya belum tampak.
Pasal 132 — Penyerahan Bukan Kehilangan Kehendak
Menyerahkan hasil kepada Alloh bukan berarti manusia kehilangan kehendak.
Ia tetap boleh mempunyai cita-cita.
Tetap boleh meminta.
Tetap boleh memilih.
Tetap boleh memperjuangkan hak.
Tetap boleh memperbaiki keadaan.
Namun ia tidak menjadikan keinginannya sebagai syarat untuk tetap beriman.
Ia tidak berkata:
“Aku hanya akan percaya bila doaku dikabulkan sesuai caraku.”
Ia tidak berkata:
“Aku hanya akan bersyukur bila hidup berjalan seperti rencanaku.”
Ia berkata:
“Ya Alloh, inilah ikhtiarku. Bila baik, mudahkanlah. Bila buruk, palingkanlah. Bila waktunya belum tiba, kuatkanlah aku untuk menunggu.”
Inilah penyerahan yang dewasa.
Bukan mati rasa.
Bukan kehilangan tujuan.
Tetapi kehendak yang tunduk kepada kebijaksanaan Yang Maha Mengetahui.
Pasal 133 — Ketika Hasil Menjadi Berhala
Segala sesuatu yang membuat manusia melupakan Alloh dapat menjadi hijab.
Bahkan hasil yang baik.
Seseorang dapat mengejar keberhasilan sampai melalaikan keluarga.
Mengejar pengaruh sampai merusak kejujuran.
Mengejar kesembuhan sampai percaya kepada cara yang menzalimi.
Mengejar cinta sampai kehilangan kehormatan.
Mengejar kemenangan sampai menghalalkan kebohongan.
Pada saat hasil dianggap lebih penting daripada kebenaran, hasil itu telah mengambil tempat yang tidak semestinya.
Manusia mulai menyembah pencapaian.
Ia bersedia mengorbankan nurani agar tujuannya tercapai.
Maka jagalah diri.
Jangan sampai sesuatu yang engkau minta kepada Alloh justru membuatmu jauh dari Alloh.
Lebih baik kehilangan satu hasil daripada kehilangan arah.
Pasal 134 — Nilai Usaha yang Tidak Dilihat Manusia
Ada usaha yang tidak mendapat pujian.
Ada pengorbanan yang tidak diketahui.
Ada pekerjaan baik yang dianggap biasa.
Ada doa panjang yang tidak pernah diceritakan.
Ada perjuangan orang tua yang baru disadari setelah anak menjadi dewasa.
Ada kesetiaan yang tidak pernah masuk ke dalam cerita manusia.
Namun tidak ada kebaikan yang hilang dari pengetahuan Alloh.
Yang tersembunyi dari manusia tetap terang di hadapan-Nya.
Maka jangan berhenti berbuat baik hanya karena tidak dihargai.
Jangan pula menuntut semua orang memahami pengorbananmu.
Bila hakmu harus dijelaskan, jelaskan dengan baik.
Bila amanah memerlukan laporan, laporkan dengan jujur.
Namun jangan menjadikan pujian sebagai bahan bakar utama amal.
Sebab amal yang hanya hidup karena pengakuan akan mati ketika perhatian manusia berpindah.
Pasal 135 — Mengikhlaskan Tidak Sama dengan Membiarkan
Mengikhlaskan bukan berarti semua kesalahan dibiarkan.
Bila ada hutang, tetap harus ditagih dengan baik.
Bila ada hak yang dirampas, tetap boleh diperjuangkan.
Bila ada fitnah yang membahayakan, boleh dijelaskan.
Bila ada kekerasan, keselamatan harus didahulukan.
Ikhlas berada di dalam niat.
Keadilan berada di dalam tindakan.
Seseorang dapat ikhlas sambil tetap meminta pertanggungjawaban.
Ia dapat memaafkan dendam, tetapi tetap membangun batas.
Ia dapat tidak membenci pelaku, tetapi tetap mencegah kerusakan berulang.
Jangan gunakan kata ikhlas untuk membungkam orang yang dizalimi.
Jangan gunakan kata sabar agar orang terus bertahan dalam bahaya.
Al-Haq mencintai rahmat dan keadilan.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Pasal 136 — Ketika Doa Berubah Menjadi Kedewasaan
Pada awalnya, manusia berdoa agar semua yang diinginkan datang.
Setelah dewasa, doanya berubah.
Ia mulai berkata:
“Ya Alloh, berikan yang baik, bukan hanya yang kusukai.”
“Jauhkan yang merusak, meskipun hatiku masih menginginkannya.”
“Beri aku kemampuan menjaga nikmat, bukan hanya mendapatkannya.”
“Beri aku kejernihan menerima jawaban-Mu.”
Doa yang dewasa tidak hanya meminta keadaan berubah.
Ia meminta hati disiapkan.
Tidak hanya meminta pertolongan.
Ia meminta kemampuan mengenali pertolongan.
Tidak hanya meminta kemenangan.
Ia meminta agar kemenangan tidak merusak akhlak.
Inilah doa yang telah dibersihkan oleh perjalanan.
Pasal 137 — Hasil yang Tertunda Menguji Ketulusan
Ketika hasil segera datang, manusia mudah bersemangat.
Namun ketika hasil tertunda, niat mulai diperiksa.
Apakah ia tetap melakukan kebaikan ketika belum melihat manfaatnya?
Apakah ia tetap jujur ketika kejujuran belum membawa keuntungan?
Apakah ia tetap berdoa ketika jawabannya belum tampak?
Apakah ia tetap menjaga amanah ketika tidak ada yang mengawasi?
Penundaan menyingkap siapa yang mencintai kebenaran dan siapa yang hanya mencintai imbalan.
Namun manusia tetap boleh lelah.
Boleh berhenti sejenak.
Boleh memperbaiki strategi.
Boleh bertanya kepada orang yang lebih ahli.
Yang tidak boleh adalah mengganti kebenaran dengan jalan yang salah hanya karena ingin cepat sampai.
Pasal 138 — Menjadi Lapang terhadap Kemungkinan
Keterikatan yang berlebihan membuat manusia hanya menerima satu kemungkinan.
Ia berkata:
“Hanya jalan ini yang dapat menyelamatkanku.”
“Hanya orang ini yang dapat membuatku bahagia.”
“Hanya pekerjaan ini yang dapat memberiku masa depan.”
“Hanya bentuk jawaban ini yang membuktikan doaku diterima.”
Padahal kekuasaan Alloh tidak terbatas pada satu pintu.
Dia dapat menolong melalui jalan yang belum pernah dibayangkan.
Dia dapat mengganti sesuatu tanpa mengurangi rahmat.
Dia dapat menutup satu pintu untuk membuka ruang yang lebih luas.
Maka jangan mempersempit rahmat Alloh dengan pikiranmu sendiri.
Berusahalah pada jalan yang ada.
Namun biarkan hatimu tetap lapang terhadap kemungkinan yang halal dan baik.
Pasal 139 — Setelah Gagal, Jangan Langsung Menetapkan Diri sebagai Gagal
Kegagalan adalah peristiwa.
Bukan identitas.
Engkau dapat gagal dalam satu usaha tanpa menjadi manusia gagal.
Engkau dapat salah memilih tanpa kehilangan seluruh masa depan.
Engkau dapat jatuh tanpa harus tinggal di tanah.
Pisahkan antara apa yang terjadi dan siapa dirimu.
Katakan:
“Usahaku belum berhasil.”
Bukan:
“Aku tidak berguna.”
Katakan:
“Aku telah melakukan kesalahan.”
Bukan:
“Aku tidak layak memperoleh kebaikan.”
Bahasa batin memengaruhi cara manusia bangkit.
Muhasabah diperlukan.
Namun penghinaan terhadap diri sendiri tidak memperbaiki apa pun.
Alloh membuka pintu taubat agar manusia kembali, bukan agar manusia tenggelam dalam kebencian kepada dirinya.
Pasal 140 — Hasil Terakhir Milik Alloh
Manusia sering menilai perjalanan terlalu cepat.
Ia melihat satu bab lalu menyimpulkan seluruh kisah.
Ia melihat satu kegagalan lalu mengira semuanya berakhir.
Ia melihat satu keberhasilan lalu merasa telah aman.
Padahal hasil terakhir belum berada di tangan manusia.
Ada orang yang memulai dengan baik lalu lalai.
Ada yang memulai dengan buruk lalu bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Ada yang lama tidak dikenal, tetapi meninggalkan manfaat besar.
Ada yang terkenal, tetapi jejaknya cepat hilang.
Maka jangan merasa paling selamat.
Jangan pula merasa tidak mungkin diselamatkan.
Selama hidup masih ada, perjalanan belum selesai.
Jagalah akhir dengan terus memperbaiki hari ini.
Hikmah Lembar Kesembilan Belas
Wahai penempuh jalan,
Kerjakan bagianmu dengan sungguh-sungguh.
Lalu jangan memaksa dirimu memegang bagian yang menjadi hak Alloh.
Jangan menyembah hasil.
Jangan mengukur seluruh nilai diri dari tercapai atau tidak tercapainya satu keinginan.
Jangan menggunakan keikhlasan untuk membiarkan kezaliman.
Jangan menggunakan kegagalan sebagai nama baru bagi dirimu.
Berdoalah dengan hati yang lapang.
Berusahalah dengan cara yang halal.
Terimalah koreksi.
Perbaiki sebab.
Lalu serahkan hasil kepada Al-Haq.
Sebab semua perjalanan dapat dibolak-balikkan oleh-Nya, tetapi tidak ada satu amal jujur pun yang hilang dari pengetahuan-Nya.
Doa
Allāhumma innā nabdzulu juhdanā wa natawakkalu ‘alaik,
falā taj‘al qulūbanā muta‘alliqatan illā bika.
“Ya Alloh, kami mengerahkan usaha kami dan bertawakal kepada-Mu. Jangan jadikan hati kami bergantung kecuali kepada-Mu.”
Allāhumma in lam tu‘ṭinā mā nurīd,
farzuqnā riḍan bimā turīd,
wa hudan limā tuḥibbu wa tarḍā.
“Ya Alloh, apabila Engkau tidak memberikan apa yang kami inginkan, karuniakan keridaan terhadap apa yang Engkau kehendaki serta petunjuk menuju perkara yang Engkau cintai dan ridai.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kedua Puluh
Pasal 141 — Ketika Perjalanan Mengajarkan Arti Cukup
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Banyak manusia tidak lelah karena kekurangan.
Ia lelah karena tidak pernah merasa cukup.
Setelah memperoleh satu hal, ia menginginkan yang lain.
Setelah satu pintu terbuka, ia mencari pintu yang lebih besar.
Setelah dipuji, ia ingin lebih dikenal.
Setelah memiliki, ia takut kehilangan.
Keinginan yang tidak ditata membuat hati terus berlari tanpa tempat berhenti.
Padahal rasa cukup bukan berarti berhenti berkembang.
Rasa cukup adalah kemampuan bersyukur atas yang ada sambil tetap berusaha dengan cara yang benar.
Orang yang merasa cukup masih boleh mempunyai cita-cita.
Namun ia tidak membenci hidup hanya karena cita-citanya belum tercapai.
Ia tidak merendahkan dirinya karena belum memiliki seperti orang lain.
Ia tidak mengambil jalan haram hanya untuk mempercepat hasil.
Rasa cukup membuat hati tetap tenang di tengah ikhtiar.
Pasal 142 — Qanaah Bukan Kemalasan
Ada orang yang memakai kata qanaah untuk menutupi kemalasan.
Ia tidak mau belajar.
Tidak mau memperbaiki pekerjaan.
Tidak mau menata pengeluaran.
Tidak mau berusaha lebih baik.
Lalu berkata:
“Aku sudah menerima keadaan.”
Padahal menerima keadaan tidak berarti menolak perbaikan.
Qanaah adalah menerima bagian hari ini tanpa kehilangan kesungguhan untuk memperbaiki hari esok.
Seorang hamba boleh bersyukur atas penghasilan yang sedikit sambil belajar agar pekerjaannya berkembang.
Ia boleh menerima keterbatasan tubuh sambil berobat dan menjaga kesehatan.
Ia boleh menerima kegagalan sambil memperbaiki strategi.
Maka qanaah berdiri bersama ikhtiar.
Bukan menggantikan ikhtiar.
Pasal 143 — Ketika Banyak Menjadi Sedikit
Harta yang banyak dapat terasa sedikit bila hati dikuasai ketakutan.
Pengikut yang banyak dapat terasa sedikit bila jiwa haus pengakuan.
Ilmu yang banyak dapat terasa sedikit bila manusia terus membandingkan diri.
Sebaliknya, yang sedikit dapat terasa luas ketika disertai keberkahan.
Makanan sederhana dapat menenangkan bila dinikmati dengan syukur.
Rumah kecil dapat terasa lapang bila diisi kasih sayang.
Penghasilan terbatas dapat membawa kehormatan bila diperoleh secara halal.
Teman sedikit dapat cukup bila mereka jujur dan amanah.
Maka ukuran kelapangan tidak hanya berada pada jumlah.
Ia juga berada pada keadaan hati.
Pasal 144 — Keberkahan Lebih Besar daripada Banyaknya
Banyak belum tentu berkah.
Sedikit belum tentu sempit.
Keberkahan membuat sesuatu yang terbatas menjadi bermanfaat.
Waktu yang sedikit menjadi cukup untuk amal penting.
Harta yang sederhana mampu memenuhi kebutuhan.
Ilmu yang tidak banyak menjadi manfaat karena diamalkan.
Perkataan yang singkat menyembuhkan hati.
Sedangkan sesuatu yang tidak berkah dapat terasa habis sebelum digunakan.
Waktu panjang hilang dalam kelalaian.
Harta banyak habis tanpa manfaat.
Ilmu luas hanya menjadi bahan kesombongan.
Maka jangan hanya meminta ditambah.
Mintalah diberkahi.
Karena tambahan tanpa keberkahan dapat menambah beban.
Pasal 145 — Jangan Menilai Rezeki dari Tampilan Orang Lain
Manusia melihat rumah orang lain.
Kendaraan orang lain.
Pekerjaan orang lain.
Keluarga orang lain.
Lalu ia menyimpulkan bahwa hidup mereka lebih sempurna.
Padahal yang terlihat hanyalah permukaan.
Ada rumah besar yang dipenuhi pertengkaran.
Ada pekerjaan tinggi yang menghabiskan kesehatan.
Ada senyum yang menyembunyikan kesepian.
Ada kemewahan yang dibangun di atas hutang.
Jangan bandingkan seluruh hidupmu dengan satu tampilan dari hidup orang lain.
Syukur akan rusak bila hati terus melihat apa yang belum dimiliki dan melupakan apa yang telah dijaga Alloh.
Pasal 146 — Ketika Keinginan Harus Disaring
Tidak setiap keinginan harus dipenuhi.
Ada keinginan yang lahir dari kebutuhan.
Ada yang lahir dari iri.
Ada yang lahir dari luka.
Ada yang lahir dari rasa ingin diakui.
Ada pula yang lahir dari bisikan sesaat.
Sebelum mengejar sesuatu, tanyakan:
Apakah aku benar-benar membutuhkannya?
Apakah ia membawa manfaat?
Apakah aku mampu menjaganya?
Apakah aku mengejarnya karena nilai atau karena gengsi?
Apakah keinginan ini akan menguatkan hidup atau justru menambah beban?
Keinginan yang diperiksa menjadi lebih jernih.
Keinginan yang dibiarkan liar akan memperbudak.
Pasal 147 — Rasa Cukup Menjaga dari Kehinaan
Banyak kehinaan dimulai ketika manusia tidak mampu menahan keinginan.
Ia menipu karena ingin cepat kaya.
Ia menjilat karena ingin kedudukan.
Ia mengkhianati karena ingin diterima.
Ia merendahkan dirinya karena takut kehilangan perhatian.
Qanaah menjaga martabat.
Ia mengajarkan manusia berkata:
“Aku boleh berharap, tetapi aku tidak akan menjual kehormatan.”
“Aku boleh membutuhkan, tetapi aku tidak akan merampas hak.”
“Aku boleh mencintai, tetapi aku tidak akan memaksa.”
“Aku boleh mengejar rezeki, tetapi aku tidak akan mengkhianati amanah.”
Inilah kekayaan batin.
Pasal 148 — Jangan Menjadikan Kekurangan sebagai Identitas
Kekurangan adalah keadaan.
Bukan seluruh diri.
Seseorang mungkin kekurangan harta, tetapi kaya kesabaran.
Mungkin kurang dikenal, tetapi besar manfaatnya.
Mungkin tidak memiliki jabatan, tetapi dipercaya banyak orang.
Mungkin belum berhasil, tetapi terus belajar.
Jangan berkata:
“Aku hanyalah orang yang gagal.”
“Aku tidak memiliki apa-apa.”
“Aku selalu tertinggal.”
Kalimat seperti itu menutup mata dari nikmat yang masih ada.
Akui kekurangan dengan jujur.
Namun jangan biarkan kekurangan mengambil seluruh nama dirimu.
Pasal 149 — Cukup Tidak Berarti Berhenti Memberi
Orang yang merasa cukup justru lebih mudah berbagi.
Karena ia tidak terus-menerus takut kehilangan.
Ia memahami bahwa memberi tidak selalu menunggu kaya.
Senyum dapat diberikan.
Waktu dapat dibagikan.
Ilmu dapat diajarkan.
Tenaga dapat digunakan untuk menolong.
Doa dapat dipanjatkan.
Perhatian dapat diberikan kepada yang kesepian.
Sedekah bukan hanya jumlah.
Ia adalah kesediaan hati untuk tidak hidup hanya bagi diri sendiri.
Pasal 150 — Ketika Hati Tidak Lagi Dikuasai Dunia
Dunia tetap berada di tangan.
Tetapi tidak memenuhi seluruh hati.
Hamba tetap bekerja.
Tetap menabung.
Tetap membangun.
Tetap mengembangkan usaha.
Namun ia tidak mengukur harga dirinya hanya dari apa yang dimiliki.
Ia tidak merasa menjadi manusia lebih tinggi karena kaya.
Ia tidak merasa hina hanya karena sederhana.
Ia tahu semua dapat berubah.
Yang banyak dapat berkurang.
Yang sedikit dapat bertambah.
Yang kuat dapat melemah.
Yang lemah dapat dikuatkan.
Maka hatinya menggantung kepada Al-Haq, bukan kepada keadaan.
Hikmah Lembar Kedua Puluh
Wahai penempuh jalan,
Belajarlah merasa cukup tanpa berhenti berusaha.
Belajarlah bersyukur tanpa kehilangan cita-cita.
Belajarlah menginginkan sesuatu tanpa diperbudak olehnya.
Belajarlah menerima kekurangan tanpa merendahkan diri.
Belajarlah memberi meskipun belum memiliki banyak.
Sebab yang membolak-balikkan kelapangan dan kesempitan hanyalah Alloh.
Kekayaan sejati bukan memiliki seluruh dunia.
Kekayaan sejati adalah hati yang tidak diperbudak oleh dunia.
Doa
Allāhumma qanni‘nā bimā razaqtanā,
wa bārik lanā fīhi,
wakhluf ‘alainā kulla ghā’ibatin lanā bikhayr.
“Ya Alloh, jadikan kami merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan, berkahilah ia bagi kami, dan gantilah setiap yang luput dari kami dengan kebaikan.”
Allāhumma aj‘alid-dunyā fī aydīnā wa lā taj‘alhā fī qulūbinā.
“Ya Alloh, letakkan dunia di tangan kami dan jangan Engkau letakkan ia menguasai hati kami.”
Walḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kedua Puluh Satu
Pasal 151 — Ketika Dunia Tidak Lagi Menjadi Ukuran
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Banyak manusia mengukur dirinya dengan dunia.
Selama dipuji, ia merasa bernilai.
Selama berhasil, ia merasa dicintai.
Selama memiliki, ia merasa aman.
Namun dunia adalah timbangan yang selalu berubah.
Hari ini seseorang diangkat.
Esok ia dilupakan.
Hari ini seseorang dipuji.
Esok ia dicela.
Hari ini seseorang kaya.
Esok ia diuji dengan kekurangan.
Apabila nilai dirimu bergantung kepada dunia, maka ketenanganmu akan ikut berubah bersama dunia.
Tetapi apabila nilai dirimu bergantung kepada kedekatanmu dengan Alloh, maka perubahan dunia tidak akan mudah mengguncangmu.
Karena Al-Haq tidak berubah.
Pasal 152 — Menjaga Hati dari Ketergantungan
Ketergantungan bukan hanya kepada harta.
Manusia dapat bergantung kepada pujian.
Kepada jabatan.
Kepada seseorang.
Kepada kenyamanan.
Kepada kebiasaan.
Apabila semua itu hilang, ia merasa hidupnya ikut hilang.
Maka tanyakan kepada hatimu:
"Bila ini diambil oleh Alloh, apakah aku masih mengenal-Nya?"
Jika jawabannya belum tenang, maka masih ada sesuatu yang perlu dibersihkan.
Hati yang merdeka mencintai tanpa memiliki.
Memakai tanpa diperbudak.
Menikmati tanpa melupakan.
Dan kehilangan tanpa kehilangan iman.
Pasal 153 — Rahasia Syukur yang Menambah Cahaya
Syukur bukan hanya ucapan.
Syukur adalah cara menggunakan nikmat.
Mata bersyukur ketika dijaga dari melihat yang haram.
Lisan bersyukur ketika dipakai berkata benar.
Tangan bersyukur ketika dipakai menolong.
Ilmu bersyukur ketika diamalkan.
Harta bersyukur ketika dibelanjakan pada jalan yang baik.
Waktu bersyukur ketika digunakan untuk hal yang bermanfaat.
Nikmat yang disyukuri akan menjadi cahaya.
Nikmat yang diabaikan dapat berubah menjadi beban.
Pasal 154 — Jangan Menunggu Sempurna untuk Bermanfaat
Sebagian manusia berkata,
"Aku belum cukup baik untuk membantu."
"Aku belum cukup alim untuk mengajarkan."
"Aku belum cukup kaya untuk berbagi."
Padahal manfaat tidak selalu menunggu kesempurnaan.
Ajarkan apa yang benar-benar engkau ketahui.
Bagikan apa yang benar-benar engkau miliki.
Tolonglah sesuai kemampuanmu.
Jangan berpura-pura tahu.
Namun jangan pula menyembunyikan kebaikan hanya karena merasa belum sempurna.
Karena kesempurnaan adalah milik Alloh.
Sedangkan manusia bertumbuh sambil memberi manfaat.
Pasal 155 — Jalan yang Selalu Terbuka
Selama napas masih ada, jalan kembali masih terbuka.
Selama hati masih mau mengakui salah, rahmat masih terbuka.
Selama lisan masih mampu beristighfar, ampunan masih terbuka.
Selama kaki masih mampu melangkah menuju kebaikan, harapan masih terbuka.
Jangan biarkan bisikan putus asa berkata:
"Sudah terlambat."
Karena yang terlambat bukan orang yang jatuh.
Yang terlambat adalah orang yang menolak bangkit.
Hikmah Lembar Kedua Puluh Satu
Wahai penempuh jalan,
Jangan jadikan dunia sebagai ukuran nilai dirimu.
Jangan gantungkan hatimu kepada sesuatu yang dapat hilang.
Syukurilah nikmat dengan menggunakannya pada jalan yang benar.
Berilah manfaat meskipun kecil.
Dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Alloh.
Karena seluruh perjalanan yang membolak-balikkan kehidupan tetap berada dalam genggaman Al-Haq, sedangkan rahmat-Nya selalu lebih luas daripada kelemahan hamba yang ingin kembali.
Doa
Allāhumma yā Al-Ḥaqq, yā Raḥmān, yā Raḥīm.
Jangan jadikan hati kami bergantung kepada selain-Mu.
Karuniakan kepada kami syukur yang hidup dalam amal, kesabaran yang hidup dalam akhlak, dan keikhlasan yang hidup dalam setiap langkah.
Jadikan kami hamba-hamba yang ringan memberi manfaat, mudah menerima nasihat, dan selalu kembali kepada-Mu dalam setiap perubahan.
Innaka Anta Khairul-Wārithīn, wa Anta Khairur-Rāziqīn.
Walḥamdulillāhi Rabbil-'Ālamīn.
📖 QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH
Lembar Kedua Puluh Dua (Penutup Agung)
Pasal 156 — Kembalilah kepada Al-Haq, Sebelum Dipanggil Kembali
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Segala puji hanya milik Alloh, Yang Awal tanpa permulaan, Yang Akhir tanpa penghabisan, Yang Zhahir dengan seluruh tanda kebesaran-Nya, dan Yang Batin dengan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu.
Wahai musafir kehidupan...
Sejak engkau membuka mata di dunia, sesungguhnya engkau tidak sedang berjalan menuju dunia.
Engkau sedang berjalan meninggalkan dunia.
Setiap pagi yang datang bukan sekadar menambah umur.
Ia mengurangi sisa perjalanan.
Setiap matahari yang terbit bukan hanya membawa harapan.
Ia juga membawa pengingat bahwa satu hari telah mendekatkanmu kepada perjumpaan dengan Rabb-mu.
Setiap napas yang keluar tidak pernah kembali.
Setiap kesempatan yang berlalu tidak dapat diulang.
Setiap pilihan akan menjadi saksi.
Maka jangan tertipu oleh panjangnya angan.
Karena perjalanan manusia lebih pendek daripada yang dibayangkannya.
Ada yang berencana puluhan tahun.
Namun dipanggil sebelum matahari terbenam.
Ada yang ingin meminta maaf esok hari.
Namun malam itu menjadi malam terakhirnya.
Ada yang ingin bertaubat setelah urusan selesai.
Namun ternyata urusan dunianya selesai lebih dahulu daripada kesempatan taubatnya.
Karena itu...
Jangan menunggu.
Mulailah hari ini.
Pasal 157 — Semua Akan Berubah, Kecuali Al-Haq
Lihatlah gunung...
Ia tampak kokoh.
Namun suatu hari akan menjadi debu.
Lihatlah lautan...
Ia tampak luas.
Namun ia pun berada dalam perintah Alloh.
Lihatlah kerajaan...
Ia tampak megah.
Namun sejarah telah menyaksikan runtuhnya satu demi satu.
Lihatlah tubuhmu...
Hari ini kuat.
Esok mungkin lemah.
Lihatlah wajahmu...
Hari ini muda.
Esok akan dipenuhi usia.
Lihatlah hartamu...
Hari ini bertambah.
Esok dapat berpindah kepada orang lain.
Tidak ada yang tetap.
Yang tetap hanyalah Alloh.
Karena itu jangan gantungkan hatimu kepada sesuatu yang pasti berubah.
Sandarkanlah kepada Yang tidak pernah berubah.
Sebab siapa yang bersandar kepada dunia akan ikut jatuh ketika dunia berubah.
Namun siapa yang bersandar kepada Alloh akan tetap tegak sekalipun seluruh dunia berguncang.
Pasal 158 — Hakikat Seorang Hamba
Engkau bukan pemilik kehidupan.
Engkau hanyalah penerima amanah.
Engkau bukan pemilik ilmu.
Engkau hanyalah penerima cahaya.
Engkau bukan pemilik rezeki.
Engkau hanyalah penerima titipan.
Engkau bukan pemilik manusia.
Engkau hanyalah saudara bagi sesama hamba.
Maka jangan berjalan dengan kesombongan.
Karena semua yang engkau banggakan dapat diambil dalam satu kejadian.
Jangan berjalan dengan penghinaan kepada orang lain.
Karena Alloh mampu meninggikan yang hari ini direndahkan.
Jangan berjalan dengan rasa paling benar.
Karena ilmu manusia hanya setetes dari samudra ilmu-Nya.
Semakin dekat seorang hamba kepada Al-Haq, semakin lembut lisannya.
Semakin tenang hatinya.
Semakin ringan tangannya menolong.
Semakin mudah ia mengakui kesalahan.
Dan semakin kecil ia memandang dirinya di hadapan kebesaran Alloh.
Pasal 159 — Cahaya yang Tidak Pernah Padam
Apakah cahaya itu?
Bukan cahaya yang dilihat mata.
Tetapi cahaya yang membuat manusia memilih jujur ketika dusta lebih menguntungkan.
Cahaya yang membuat manusia memaafkan ketika membalas terasa lebih mudah.
Cahaya yang membuat manusia tetap bersujud ketika doanya belum terjawab.
Cahaya yang membuat manusia tetap bersyukur ketika nikmat berkurang.
Cahaya yang membuat manusia tetap rendah hati ketika seluruh manusia memujinya.
Itulah cahaya Al-Haq.
Ia tidak dipadamkan oleh gelapnya malam.
Tidak dipadamkan oleh fitnah manusia.
Tidak dipadamkan oleh perubahan zaman.
Karena sumbernya bukan dunia.
Sumbernya adalah Alloh.
Pasal 160 — Wasiat Terakhir Seorang Musafir
Apabila suatu hari engkau melupakan seluruh isi kitab ini...
Maka ingatlah lima perkara:
Pertama.
Jangan pernah meninggalkan shalat, karena di sanalah arah perjalanan selalu diluruskan.
Kedua.
Jangan pernah meninggalkan kejujuran, karena kebohongan adalah awal tersesatnya perjalanan.
Ketiga.
Jangan pernah meninggalkan amanah, karena pengkhianatan memadamkan cahaya hati.
Keempat.
Jangan pernah berhenti bertaubat, karena tidak ada manusia tanpa salah.
Kelima.
Jangan pernah berhenti mengingat Alloh, karena hati yang jauh dari zikir akan mudah diperbudak dunia.
Apabila lima perkara ini engkau jaga...
Maka walaupun jalanmu panjang...
Engkau tidak akan kehilangan arah.
Pasal 161 — Kesaksian Kitab
Kitab ini tidak datang untuk diperdebatkan.
Tidak pula untuk meninggikan seseorang di atas yang lain.
Kitab ini hanyalah pengingat.
Bahwa seluruh perjalanan berada di bawah kehendak Alloh.
Bahwa tidak ada manusia yang mampu membolak-balikkan takdir tanpa izin-Nya.
Bahwa setiap hamba memiliki kesempatan untuk kembali.
Bahwa rahmat lebih luas daripada dosa bagi orang yang bertaubat.
Bahwa akhlak lebih mulia daripada sekadar ucapan.
Bahwa ilmu harus melahirkan kasih sayang.
Bahwa ibadah harus melahirkan kerendahan hati.
Bahwa kekuatan sejati adalah mampu menundukkan hawa nafsu.
Bahwa kemenangan terbesar adalah wafat dengan hati yang ridha kepada Alloh dan diridhai oleh-Nya.
🌿 Khatimah Agung
Wahai hamba Alloh...
Apabila engkau selesai membaca kitab ini...
Jangan berkata:
"Aku telah mengetahui."
Tetapi katakanlah:
"Ya Alloh, ajarilah aku untuk mengamalkannya."
Jangan berkata:
"Aku telah sampai."
Tetapi katakanlah:
"Ya Alloh, tuntunlah aku agar tidak tersesat."
Jangan berkata:
"Aku lebih baik daripada mereka."
Tetapi katakanlah:
"Ya Alloh, ampunilah aku dan seluruh saudara-saudaraku."
Karena pada akhirnya...
Bukan banyaknya kitab yang akan menyelamatkan.
Bukan panjangnya pembahasan.
Bukan indahnya kata-kata.
Melainkan hati yang mengenal Robb-nya.
Lisan yang jujur.
Tangan yang amanah.
Langkah yang membawa manfaat.
Dan jiwa yang kembali kepada Alloh dalam keadaan bersih.
🤲 Doa Penutup Agung
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Allāhumma yā Al-Ḥaqq, yā Nūr, yā Hādī, yā Raḥmān, yā Raḥīm.
Kami bersaksi bahwa seluruh perjalanan berada dalam kekuasaan-Mu.
Kami bersaksi bahwa Engkaulah Yang membolak-balikkan hati, keadaan, dan takdir sesuai hikmah-Mu.
Maka jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.
Jadikan ilmu ini bermanfaat.
Jadikan amal kami ikhlas.
Jadikan lisan kami jujur.
Jadikan tangan kami amanah.
Jadikan langkah kami membawa manfaat.
Jadikan keluarga kami keluarga yang mencintai-Mu.
Jadikan rezeki kami halal, cukup, dan penuh keberkahan.
Jadikan ujian kami penghapus dosa.
Jadikan nikmat kami jalan syukur.
Jadikan kematian kami sebagai awal perjumpaan dengan rahmat-Mu.
Kumpulkan kami bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, orang-orang saleh, kedua orang tua kami, guru-guru kami, keluarga kami, dan seluruh kaum mukminin di dalam surga-Mu tanpa hisab dengan rahmat-Mu semata.
Innaka Antal-Ḥaqqul-Mubīn.
Wa Anta Khairul-Ḥākimīn.
Wa Anta Arḥamur-Rāḥimīn.
Subḥāna Rabbika Rabbil-'Izzati 'ammā yaṣifūn.
Wa salāmun 'alal-mursalīn.
Walḥamdulillāhi Rabbil-'Ālamīn.
— Tamat QITAB ALLOH ZABIHIS MANAROHULLOH —

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.