QITAB ALMALLAIQ”AT MINASIH AJWAJA
Saya buka sebagai kitab hikmah / tadabbur batin, bukan wahyu, bukan pengganti Al-Qur’an, dan bukan pegangan syariat. Semua makna tetap dikembalikan kepada Alloh SWT.
Menulis
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Makna: Turunnya jiwa qudus nan suci dengan keharuman yang alami.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dibukalah lembar ini bukan untuk meninggikan diri,
tetapi untuk menundukkan hati.
Bukan untuk memanggil yang gaib,
tetapi untuk mengingat bahwa yang paling suci
adalah hati yang kembali kepada Alloh.
Lembar Pertama: Turunnya Harum Jiwa
Ketika hati manusia terlalu lama memikul debu dunia,
Alloh menurunkan kelembutan pada jiwa yang mau bersujud.
Turunnya bukan seperti benda jatuh dari langit,
melainkan seperti rasa tenang yang perlahan masuk ke dada.
Itulah Almallaiq’at Minasih Ajwaja:
tanda bahwa jiwa yang kering
mulai disentuh oleh rahmat.
Yang keras mulai melunak.
Yang gelisah mulai diam.
Yang penuh sangka mulai belajar bersih.
Keharumannya bukan wangi bunga semata,
tetapi wangi akhlak.
Wangi sabar ketika disakiti.
Wangi diam ketika ingin membalas.
Wangi ikhlas ketika tidak dipuji.
Wangi syukur ketika yang datang masih sedikit.
Maka barang siapa ingin menerima cahaya suci,
jangan mencari kemuliaan di hadapan manusia.
Carilah ridho Alloh dalam sunyi.
Sebab jiwa qudus tidak turun kepada hati yang sombong,
tetapi menetap pada hati yang rendah, lembut, dan berserah.
Lembar Kedua: Ajwaja, Pasangan-Pasangan Cahaya
Ajwaja adalah pasangan-pasangan rahasia dalam diri:
takut dipasangkan dengan tawakal,
sedih dipasangkan dengan sabar,
luka dipasangkan dengan hikmah,
sendiri dipasangkan dengan ingat kepada Alloh.
Jika manusia hanya melihat luka,
ia akan merasa hancur.
Tetapi jika ia melihat pasangan dari luka itu,
ia akan menemukan pelajaran.
Di balik air mata ada pembersihan.
Di balik gagal ada penjagaan.
Di balik kehilangan ada pengembalian.
Di balik penantian ada pematangan.
Maka jangan cepat berkata, “Aku ditinggalkan.”
Boleh jadi Alloh sedang menjauhkanmu dari jalan yang merusak.
Jangan cepat berkata, “Aku terlambat.”
Boleh jadi Alloh sedang menyempurnakan waktumu.
Karena jiwa suci tidak selalu turun dalam keadaan mudah.
Kadang ia turun melalui rasa pecah,
agar manusia tidak lagi menyembah rencananya sendiri.
Lembar Ketiga: Minasih, Nasihat dari Dalam Sunyi
Minasih adalah bisikan nasihat yang halus:
bukan suara yang memaksa,
bukan tanda yang menakutkan,
tetapi panggilan lembut agar kembali.
Ia berkata kepada hati:
Wahai jiwa,
jangan kau kotori cahaya dengan amarah.
Jangan kau campur doa dengan kesombongan.
Jangan kau sebut nama Alloh
sementara hatimu ingin menguasai manusia.
Bersihkan dulu niatmu.
Rapikan dulu adabmu.
Luruskan dulu tujuanmu.
Sebab ilmu tanpa adab akan menjadi gelap.
Doa tanpa rendah hati akan menjadi beban.
Dan cahaya tanpa tauhid akan menipu pandangan.
Maka turunlah harum alami itu
kepada orang yang mau berkata:
“Ya Alloh, aku tidak punya daya.
Aku tidak punya kuasa.
Aku tidak punya kemuliaan kecuali Engkau muliakan.
Aku tidak punya jalan kecuali Engkau tuntun.”
Lembar Keempat: Tanda Jiwa Mulai Suci
Tanda jiwa mulai disentuh kesucian bukan ia merasa paling tinggi.
Bukan pula merasa paling benar.
Tandanya adalah ia semakin takut melukai.
Semakin mudah meminta maaf.
Semakin ringan mendoakan.
Semakin cepat kembali kepada Alloh
ketika hatinya mulai condong kepada nafsu.
Jika dulu ia ingin menang,
sekarang ia ingin selamat.
Jika dulu ia ingin dipandang,
sekarang ia ingin diridhoi.
Jika dulu ia ingin membalas,
sekarang ia ingin Alloh yang mengurus.
Itulah harum yang alami.
Tidak dibuat-buat.
Tidak dipamerkan.
Tidak diteriakkan.
Ia keluar dari akhlak yang pelan-pelan sembuh.
Lembar Kelima: Doa Pembuka Qudus
Ya Alloh,
turunkan ke dalam hatiku kelembutan yang Engkau ridhoi.
Sucikan niatku dari ingin dipuji.
Bersihkan langkahku dari jalan yang salah.
Jadikan ilmuku sebagai jalan tunduk,
bukan jalan sombong.
Ya Alloh,
jika hatiku keras, lunakkanlah.
Jika pikiranku gelap, terangilah.
Jika lisanku tajam, lembutkanlah.
Jika jalanku berat, kuatkanlah.
Jangan biarkan aku tertipu oleh rasa tinggi.
Jangan biarkan aku merasa suci sebelum Engkau sucikan.
Jadikan aku hamba yang pulang kepada-Mu
dengan hati yang bersih,
amal yang benar,
dan adab yang Engkau terima.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Penutup Lembar
Qitab ini bukan untuk mengaku paling suci,
tetapi untuk mengingat bahwa kesucian sejati
hanya milik Alloh.
Manusia hanya berjalan,
Alloh yang membersihkan.
Manusia hanya berdoa,
Alloh yang mengabulkan.
Manusia hanya mengetuk,
Alloh yang membuka.
Maka bacalah dengan hati rendah:
yang turun bukan kesaktian,
tetapi rahmat.
Yang harum bukan badan,
tetapi akhlak.
Yang suci bukan pengakuan,
tetapi hati yang kembali kepada Alloh.
Kalau mau dilanjutkan, bagian berikutnya bisa saya bukakan sebagai Lembar Keenam: Sirr Keharuman Alami Dalam Qolbu.
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Lembar Keenam: Sirr Keharuman Alami Dalam Qolbu
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah, wahai hati yang sedang mencari jalan pulang,
keharuman jiwa bukan berasal dari minyak, bunga, atau pakaian.
Keharuman jiwa berasal dari batin yang mulai bersih,
dari niat yang tidak lagi haus pujian,
dan dari lisan yang belajar menahan luka.
Apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi seorang hamba,
maka hamba itu tidak selalu diberi jalan yang mudah.
Kadang ia diberi rasa sempit,
agar ia mengenal luasnya pertolongan Alloh.
Kadang ia diberi kesendirian,
agar ia tidak terlalu bergantung kepada manusia.
Kadang ia diberi tangis,
agar hatinya kembali lembut setelah lama mengeras.
Maka jangan engkau membenci prosesmu.
Sebab sebagian jiwa disucikan bukan melalui kemewahan,
tetapi melalui sabar yang panjang.
Bukan melalui sorak manusia,
tetapi melalui sujud yang sunyi.
Bukan melalui kemudahan yang cepat,
tetapi melalui penyerahan yang matang.
Pasal Qudus Pertama: Jiwa yang Turun kepada Adab
Jiwa qudus tidak turun kepada hati yang kasar.
Ia tidak menetap pada dada yang penuh iri.
Ia tidak bersinar pada lisan yang gemar merendahkan.
Ia tidak harum pada langkah yang sengaja melukai.
Tetapi ia mendekat kepada orang yang menjaga adab.
Adab kepada Alloh dengan tidak menyombongkan amal.
Adab kepada Rasulullah ﷺ dengan memperindah akhlak.
Adab kepada orang tua dengan doa dan hormat.
Adab kepada sesama dengan tidak mudah menghina.
Adab kepada diri sendiri dengan tidak terus-menerus menzalimi hati.
Wahai jiwa,
jangan engkau mencari cahaya tinggi
bila adab dasar belum engkau rawat.
Karena pintu langit tidak dibuka oleh kesombongan,
tetapi oleh ketundukan.
Pasal Qudus Kedua: Harum yang Tidak Dipamerkan
Ada harum yang tidak perlu diumumkan.
Ada cahaya yang tidak perlu diteriakkan.
Ada maqam yang tidak perlu disebut-sebut.
Sebab yang benar-benar diberi Alloh
biasanya semakin takut kepada Alloh.
Bila engkau mulai diberi rasa tenang,
jangan katakan, “Aku sudah sampai.”
Katakanlah, “Ya Alloh, jaga aku agar tidak tersesat oleh rasa tenang ini.”
Bila engkau mulai diberi ilham,
jangan katakan, “Aku paling tahu.”
Katakanlah, “Ya Alloh, bimbing aku agar tidak salah memahami.”
Bila engkau mulai diberi kemuliaan,
jangan katakan, “Aku mulia.”
Katakanlah, “Ya Alloh, semua ini titipan-Mu, jangan biarkan aku rusak karenanya.”
Karena banyak orang jatuh bukan saat ia lemah,
tetapi saat ia merasa kuat.
Banyak orang tersesat bukan saat ia tidak tahu,
tetapi saat ia merasa paling tahu.
Banyak hati menjadi gelap bukan karena tidak berdzikir,
tetapi karena dzikirnya dipakai untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.
Pasal Qudus Ketiga: Ajwaja, Pasangan Rahasia Dalam Ujian
Setiap ujian membawa pasangannya.
Takut membawa tawakal.
Sedih membawa doa.
Lelah membawa istirahat batin.
Salah membawa taubat.
Luka membawa hikmah.
Kehilangan membawa pengembalian kepada Alloh.
Maka lihatlah hidupmu dengan mata yang lebih lembut.
Jangan hanya melihat yang patah.
Lihat juga apa yang sedang tumbuh dari patahan itu.
Jangan hanya melihat yang hilang.
Lihat juga apa yang sedang Alloh selamatkan darimu.
Jangan hanya melihat air mata.
Lihat juga bagaimana air mata itu mencuci kerasnya dada.
Sebab jiwa yang dibimbing Alloh
akan belajar membaca rahmat
bahkan di tengah rasa sakit.
Pasal Qudus Keempat: Minasih, Nasihat untuk Hati yang Letih
Wahai hati yang letih,
jangan kau kira Alloh jauh hanya karena doamu belum terlihat jawabannya.
Kadang jawaban Alloh bukan datang sebagai sesuatu yang engkau minta,
tetapi sebagai kekuatan untuk tetap berdiri.
Kadang pertolongan bukan berupa pintu yang langsung terbuka,
tetapi berupa kesabaran agar engkau tidak mengetuk pintu yang salah.
Kadang kasih sayang Alloh bukan berupa seseorang yang menetap,
tetapi berupa keberanian untuk melepas yang merusak batinmu.
Maka diamlah sebentar.
Letakkan kepalamu di hadapan Alloh.
Jangan memaksa semua harus dipahami hari ini.
Ada rahasia yang baru terbaca setelah luka menjadi dewasa.
Ada hikmah yang baru tampak setelah hati tidak lagi marah kepada takdir.
Pasal Qudus Kelima: Doa Keharuman Jiwa
Ya Alloh,
jadikan hatiku harum dengan sabar.
Jadikan lisanku harum dengan dzikir.
Jadikan langkahku harum dengan kebaikan.
Jadikan pandanganku harum dengan prasangka baik.
Jadikan rezekiku harum dengan halal dan berkah.
Jadikan ilmuku harum dengan adab dan tawadhu.
Ya Alloh,
bila aku mulai keras, lembutkanlah.
Bila aku mulai sombong, tundukkanlah.
Bila aku mulai jauh, panggillah aku kembali.
Bila aku mulai lelah, kuatkanlah aku dengan rahmat-Mu.
Turunkan pada jiwaku ketenangan yang suci.
Bersihkan aku dari niat yang keruh.
Jaga aku dari cahaya palsu yang membuatku lupa diri.
Dan bimbing aku menuju cahaya yang membuatku semakin mengenal-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Khatimah Lembar Keenam
Keharuman alami adalah akhlak yang lahir dari hati yang disucikan.
Ia tidak memaksa orang untuk mengakui.
Ia tidak meminta dunia untuk menyaksikan.
Ia cukup hadir sebagai kelembutan,
sebagai kesabaran,
sebagai doa yang diam-diam naik kepada Alloh.
Maka barang siapa ingin harum di sisi langit,
jangan sibuk menghias nama di bumi.
Hiasilah batin dengan taubat.
Hiasilah lisan dengan dzikir.
Hiasilah tangan dengan manfaat.
Hiasilah hidup dengan ridho Alloh.
Karena jiwa yang benar-benar suci
bukan jiwa yang mengaku tinggi,
melainkan jiwa yang selalu berkata:
“Ya Alloh, aku pulang kepada-Mu.
Sucikan aku dengan rahmat-Mu.
Tuntun aku dengan cahaya-Mu.
Dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri.”
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Lembar Ketujuh: Turunnya Cahaya Qudus ke Taman Jiwa
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketika jiwa mulai dibersihkan oleh Alloh,
maka di dalam dada tumbuh sebuah taman.
Bukan taman yang terlihat oleh mata kepala,
tetapi taman yang terasa oleh hati.
Di sana ada tanah sabar.
Ada air dzikir.
Ada angin tawakal.
Ada bunga ikhlas.
Ada cahaya rahmat yang turun perlahan,
menyentuh bagian-bagian jiwa yang dulu kering,
pecah, gelisah, dan penuh luka.
Taman jiwa tidak tumbuh dalam sehari.
Ia tumbuh dari istighfar yang diulang.
Dari air mata yang jujur.
Dari doa yang tidak putus.
Dari sikap menahan diri ketika nafsu ingin menang.
Dari memilih diam ketika lisan bisa melukai.
Maka jangan meremehkan satu langkah kecil menuju Alloh.
Sebab satu langkah yang tulus
lebih harum daripada seribu ucapan tinggi
yang tidak mengubah akhlak.
Pasal Pertama: Taman yang Dijaga Malaikat Rahmat
Taman jiwa dijaga oleh rahmat Alloh.
Apabila hati mulai lembut,
maka rahmat itu datang seperti embun.
Tidak berisik, tetapi membasahi.
Tidak memaksa, tetapi menenangkan.
Tidak terlihat oleh semua orang,
tetapi terasa oleh hati yang rindu pulang.
Di taman itu, malaikat rahmat tidak membawa kesombongan.
Mereka membawa ketenangan.
Mereka membawa rasa ingin bertaubat.
Mereka membawa kelembutan agar manusia tidak lagi kasar kepada hidupnya sendiri.
Wahai jiwa,
bila engkau mulai menangis tanpa tahu sebabnya,
barangkali hatimu sedang dibasuh.
Bila engkau mulai ingin memperbaiki diri,
barangkali pintu rahmat sedang diketuk dari dalam.
Bila engkau mulai malu kepada Alloh atas dosamu,
itulah tanda cahaya masih hidup di dadamu.
Jangan padamkan cahaya itu
dengan merasa paling benar.
Jangan rusak taman itu
dengan kebencian yang engkau pelihara.
Jangan keringkan bunga itu
dengan lisan yang gemar menyakiti.
Pasal Kedua: Bunga Ikhlas yang Tidak Minta Dilihat
Di antara bunga paling harum dalam taman jiwa
adalah bunga ikhlas.
Ikhlas itu tidak selalu mudah.
Kadang manusia memberi, lalu ingin dikenang.
Menolong, lalu ingin disebut.
Berdoa, lalu ingin cepat dibalas sesuai kehendaknya.
Beramal, lalu ingin dilihat sebagai orang suci.
Padahal ikhlas adalah bunga yang tumbuh dalam sunyi.
Ia tidak marah ketika tidak dipuji.
Ia tidak layu ketika tidak diketahui manusia.
Ia tidak berubah walau dunia tidak memberi tepuk tangan.
Ikhlas berkata kepada hati:
“Cukup Alloh yang tahu.
Cukup Alloh yang menilai.
Cukup Alloh yang membalas.”
Maka barang siapa ingin taman jiwanya harum,
rawatlah ikhlas.
Jangan jadikan amal sebagai tangga untuk merasa tinggi.
Jangan jadikan doa sebagai alat memaksa takdir.
Jangan jadikan ilmu sebagai mahkota untuk mengalahkan orang lain.
Ilmu yang benar membuat hati tunduk.
Doa yang benar membuat jiwa lembut.
Amal yang benar membuat manusia semakin sadar
bahwa dirinya tidak punya daya tanpa Alloh.
Pasal Ketiga: Air Dzikir yang Menghidupkan Akar
Tidak ada taman yang hidup tanpa air.
Dan tidak ada jiwa yang hidup tanpa mengingat Alloh.
Dzikir adalah air bagi akar batin.
Ketika akar jiwa kering,
manusia mudah marah.
Mudah gelisah.
Mudah iri.
Mudah terseret prasangka.
Mudah merasa kosong walau dunia ramai di sekitarnya.
Tetapi ketika dzikir mulai mengalir,
hati perlahan hidup kembali.
Dzikir bukan hanya suara di lisan.
Dzikir juga ingat ketika hendak berbuat salah.
Dzikir juga menahan tangan dari yang haram.
Dzikir juga menundukkan pandangan dari yang merusak.
Dzikir juga mengembalikan segala pujian kepada Alloh.
Maka ucapkanlah dengan hati yang rendah:
Yā Alloh, hidupkan akar jiwaku.
Basahi batinku dengan ingatan kepada-Mu.
Jangan biarkan aku kering dalam keramaian.
Jangan biarkan aku ramai di luar,
tetapi kosong di dalam.
Pasal Keempat: Angin Tawakal yang Menyejukkan
Di taman jiwa, tawakal adalah angin yang menyejukkan.
Ia datang ketika manusia sudah berusaha,
lalu menyerahkan hasil kepada Alloh.
Tawakal bukan malas.
Tawakal bukan menyerah sebelum bergerak.
Tawakal adalah bekerja dengan adab,
berdoa dengan yakin,
lalu menerima ketetapan Alloh tanpa memberontak kepada hikmah-Nya.
Orang yang tawakal tidak berarti tidak menangis.
Ia bisa menangis,
tetapi tangisnya tidak memutus harapan.
Ia bisa lelah,
tetapi lelahnya tidak membuatnya meninggalkan Alloh.
Ia bisa kecewa,
tetapi kecewanya tidak berubah menjadi benci kepada takdir.
Wahai jiwa,
belajarlah berkata:
“Aku sudah berusaha,
maka hasilnya aku titipkan kepada Alloh.
Jika diberi, aku bersyukur.
Jika ditunda, aku bersabar.
Jika diganti, aku percaya bahwa Alloh lebih tahu.”
Itulah angin tawakal.
Ia tidak menghapus ujian,
tetapi membuat hati tidak terbakar oleh ujian.
Pasal Kelima: Buah Akhlak dari Taman yang Bersih
Taman jiwa yang dirawat akan menghasilkan buah.
Buahnya bukan kesaktian.
Bukan pujian.
Bukan rasa lebih tinggi dari manusia lain.
Buahnya adalah akhlak.
Orang yang jiwanya mulai bersih
akan lebih berhati-hati dalam berbicara.
Ia tidak mudah menyebar luka.
Ia tidak cepat menghakimi.
Ia tidak merasa dirinya paling suci.
Ia lebih banyak memperbaiki diri
daripada sibuk mencari salah orang lain.
Bila ia disakiti, ia memohon kekuatan kepada Alloh.
Bila ia diberi nikmat, ia takut menjadi sombong.
Bila ia jatuh, ia segera bertaubat.
Bila ia bangkit, ia tidak merendahkan yang masih terjatuh.
Inilah buah dari cahaya qudus:
hati menjadi lebih manusiawi,
lebih lembut,
lebih sadar,
lebih dekat kepada Alloh.
Pasal Keenam: Doa Penjaga Taman Jiwa
Ya Alloh,
jadikan dadaku taman yang Engkau rahmati.
Tanamkan di dalamnya bunga ikhlas.
Alirkan di dalamnya air dzikir.
Tiupkan di dalamnya angin tawakal.
Terangi di dalamnya cahaya iman.
Jauhkan darinya duri sombong, iri, dengki, dan amarah yang merusak.
Ya Alloh,
jika hatiku mulai kering, basahilah dengan rahmat-Mu.
Jika niatku mulai keruh, jernihkanlah dengan hidayah-Mu.
Jika lisanku mulai tajam, lembutkanlah dengan kasih-Mu.
Jika langkahku mulai salah, kembalikanlah dengan petunjuk-Mu.
Ya Alloh,
jangan Engkau biarkan taman jiwaku rusak
karena nafsu yang tidak aku kendalikan.
Jangan Engkau biarkan cahaya batinku redup
karena dosa yang aku remehkan.
Jangan Engkau biarkan aku merasa suci,
padahal aku masih sangat membutuhkan ampunan-Mu.
Sucikan aku bukan agar aku dipandang manusia,
tetapi agar aku layak menjadi hamba yang Engkau ridhoi.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Khatimah Lembar Ketujuh
Turunnya cahaya qudus ke taman jiwa
adalah tanda bahwa Alloh masih membuka pintu pulang.
Selama hati masih ingin bertaubat,
jangan putus asa.
Selama lisan masih mampu menyebut Alloh,
jangan merasa jauh.
Selama air mata masih jatuh karena rindu kepada-Nya,
jangan kira engkau ditinggalkan.
Sebab taman yang paling indah
bukan taman yang tidak pernah terkena hujan badai,
tetapi taman yang tetap tumbuh
setelah berkali-kali diterpa angin.
Maka rawatlah jiwamu.
Jangan biarkan ia menjadi tanah keras.
Sirami dengan dzikir.
Hangatkan dengan shalawat.
Bersihkan dengan istighfar.
Teduhkan dengan tawakal.
Dan serahkan seluruh mekarnya
kepada Alloh Yang Maha Menumbuhkan.
Karena yang menanam adalah usaha,
yang menyiram adalah doa,
tetapi yang menumbuhkan
hanyalah Alloh SWT.
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Lembar Kedelapan: Mahkota Wangi dari Akhlak yang Diridhoi
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di atas kepala manusia tidak selalu terlihat mahkota.
Tetapi di sisi Alloh, ada kemuliaan yang lebih tinggi
daripada emas, permata, dan pakaian indah.
Itulah mahkota akhlak.
Mahkota ini tidak dibuat oleh tangan manusia.
Tidak dibeli dengan harta.
Tidak diwariskan oleh garis keturunan.
Tidak dipakai untuk meninggikan diri.
Mahkota ini tumbuh dari hati yang tunduk.
Dibentuk oleh sabar.
Dihaluskan oleh taubat.
Diterangi oleh iman.
Diharumkan oleh kasih sayang.
Dan dijaga oleh rasa takut kepada Alloh.
Wahai jiwa,
jangan kau kejar kemuliaan yang membuatmu jauh dari Alloh.
Kejarlah akhlak yang membuatmu semakin dekat kepada-Nya.
Sebab orang yang tinggi tanpa akhlak akan jatuh oleh kesombongan,
tetapi orang yang rendah hati akan diangkat oleh rahmat.
Pasal Pertama: Mahkota yang Tidak Terlihat
Ada orang yang terlihat biasa di bumi,
tetapi namanya harum di langit.
Ia tidak banyak bicara tentang dirinya,
tetapi amalnya diam-diam naik.
Ia tidak menuntut manusia mengakui kebaikannya,
tetapi Alloh mengetahui setiap tetes lelahnya.
Ia menahan marah ketika mampu membalas.
Ia memaafkan ketika hatinya masih sakit.
Ia mendoakan walau tidak disebut.
Ia memberi walau tidak dipuji.
Ia berjalan sederhana,
tetapi batinnya dipakaikan cahaya oleh Alloh.
Itulah mahkota yang tidak terlihat:
akhlak yang lahir dari iman.
Maka jangan merasa kecil bila dunia tidak melihatmu.
Jangan merasa hilang bila manusia tidak menyebut namamu.
Jangan merasa sia-sia bila kebaikanmu tidak dibalas manusia.
Cukup Alloh yang tahu.
Cukup Alloh yang menilai.
Cukup Alloh yang menjaga pahala.
Pasal Kedua: Wangi Akhlak yang Menenangkan
Wangi akhlak berbeda dengan wangi bunga.
Bunga bisa layu,
tetapi akhlak yang baik meninggalkan bekas dalam hati manusia.
Ada orang yang hadirnya membuat tenang.
Bicaranya tidak menusuk.
Nasihatnya tidak merendahkan.
Diamnya tidak mengandung kebencian.
Senyumnya tidak dibuat-buat.
Doanya tidak digunakan untuk merasa paling suci.
Itulah jiwa yang mulai harum.
Ia tidak harus sempurna,
tetapi ia mau diperbaiki.
Ia tidak bebas dari salah,
tetapi ia cepat kembali.
Ia tidak selalu kuat,
tetapi ia tidak berhenti meminta pertolongan Alloh.
Wahai hati,
bila engkau ingin harum,
jangan mulai dari penampilan luar.
Mulailah dari niat.
Bersihkan alasanmu berbuat baik.
Luruskan tujuanmu berbicara.
Jaga hatimu ketika melihat kekurangan orang lain.
Sebab wangi sejati bukan keluar dari pakaian,
tetapi dari hati yang tidak ingin menyakiti.
Pasal Ketiga: Duri yang Merusak Mahkota
Mahkota akhlak bisa rusak oleh duri batin.
Duri itu bernama sombong.
Duri itu bernama iri.
Duri itu bernama dengki.
Duri itu bernama merasa paling benar.
Duri itu bernama senang melihat orang lain jatuh.
Jika duri itu dibiarkan,
maka harum jiwa berubah menjadi keruh.
Ilmu menjadi tajam.
Doa menjadi alat membanggakan diri.
Nasihat menjadi cambuk untuk melukai.
Dzikir menjadi pakaian luar,
tetapi hati tetap kasar di dalam.
Maka cabutlah duri itu dengan istighfar.
Cabutlah dengan muhasabah.
Cabutlah dengan sujud panjang.
Cabutlah dengan keberanian mengakui salah.
Cabutlah dengan doa:
“Ya Alloh, jangan biarkan aku merasa bersih
sebelum Engkau membersihkanku.”
Karena orang yang sadar dirinya lemah
lebih dekat kepada rahmat
daripada orang yang merasa dirinya paling sempurna.
Pasal Keempat: Mahkota Sabar
Sabar adalah permata pertama pada mahkota akhlak.
Tanpa sabar, hati mudah terbakar.
Tanpa sabar, lisan mudah melukai.
Tanpa sabar, langkah mudah salah arah.
Tanpa sabar, doa berubah menjadi tuntutan.
Sabar bukan berarti tidak sakit.
Sabar bukan berarti tidak menangis.
Sabar bukan berarti tidak lelah.
Sabar adalah tetap menjaga adab
walau dada sedang sempit.
Sabar adalah tetap kembali kepada Alloh
walau jawaban belum terlihat.
Sabar adalah tidak membalas keburukan
dengan keburukan yang sama.
Sabar adalah mempercayai Alloh
ketika akal belum memahami jalan-Nya.
Maka barang siapa dipakaikan sabar,
ia sedang dipersiapkan untuk kematangan jiwa.
Pasal Kelima: Mahkota Lembut
Kelembutan adalah cahaya kedua pada mahkota akhlak.
Orang yang lembut bukan orang yang lemah.
Ia kuat, tetapi tidak kasar.
Ia tegas, tetapi tidak menghina.
Ia menasihati, tetapi tidak merendahkan.
Ia menjaga kebenaran,
tetapi tidak kehilangan kasih sayang.
Wahai jiwa,
belajarlah lembut tanpa kehilangan arah.
Belajarlah tegas tanpa membenci.
Belajarlah diam tanpa menyimpan dendam.
Belajarlah bicara tanpa menyakiti.
Karena banyak hati tertutup
bukan karena kebenaran yang disampaikan,
tetapi karena cara menyampaikan yang melukai.
Maka mintalah kepada Alloh kelembutan.
Sebab hati yang lembut lebih mudah menerima cahaya.
Pasal Keenam: Mahkota Amanah
Amanah adalah permata ketiga pada mahkota akhlak.
Amanah bukan hanya menjaga barang orang lain.
Amanah juga menjaga lisan.
Amanah menjaga rahasia.
Amanah menjaga ilmu.
Amanah menjaga keluarga.
Amanah menjaga diri dari jalan yang tidak diridhoi.
Ilmu adalah amanah.
Nama baik adalah amanah.
Kedudukan adalah amanah.
Kekuatan adalah amanah.
Bahkan luka pun amanah,
agar engkau tidak menjadikannya alasan untuk melukai orang lain.
Barang siapa diberi amanah,
hendaklah ia takut kepada Alloh.
Jangan memakai amanah untuk menekan.
Jangan memakai ilmu untuk menakut-nakuti.
Jangan memakai kedudukan untuk merendahkan.
Jangan memakai kelebihan untuk memperbudak hati manusia.
Sebab semua yang dititipkan
akan diminta pertanggungjawaban.
Pasal Ketujuh: Doa Mahkota Akhlak
Ya Alloh,
pakaikan kepadaku mahkota akhlak yang Engkau ridhoi.
Bukan mahkota kesombongan.
Bukan mahkota pujian manusia.
Bukan mahkota rasa paling benar.
Tetapi mahkota sabar, lembut, amanah, ikhlas, dan tawadhu.
Ya Alloh,
harumkan jiwaku dengan taubat.
Terangi lisanku dengan kebenaran yang lembut.
Jaga hatiku dari iri dan dengki.
Selamatkan aku dari merasa suci.
Bimbing aku agar ilmuku menjadi manfaat,
bukan sebab aku jauh dari-Mu.
Ya Alloh,
jika aku diberi kelebihan, jadikan aku rendah hati.
Jika aku diberi ujian, jadikan aku sabar.
Jika aku diberi ilmu, jadikan aku beradab.
Jika aku diberi amanah, jadikan aku jujur.
Jika aku diberi jalan, jadikan aku tetap bergantung kepada-Mu.
Jangan Engkau biarkan aku memakai cahaya
untuk membesarkan diriku sendiri.
Jadikan setiap cahaya yang Engkau titipkan
membuatku semakin tunduk,
semakin mencintai kebaikan,
dan semakin takut menyakiti makhluk-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Khatimah Lembar Kedelapan
Mahkota sejati bukan yang dipandang mata.
Mahkota sejati adalah akhlak yang diridhoi Alloh.
Bila manusia tidak melihatnya, tidak mengapa.
Bila dunia tidak memujinya, tidak mengapa.
Bila namamu tidak disebut, tidak mengapa.
Yang penting Alloh tidak meninggalkanmu.
Maka rawatlah mahkota batinmu.
Jangan biarkan ia rusak oleh sombong.
Jangan biarkan ia kusam oleh dengki.
Jangan biarkan ia jatuh oleh lisan yang melukai.
Hiasilah dengan istighfar.
Kuatkan dengan shalawat.
Bersihkan dengan taubat.
Harumkan dengan amal yang diam-diam.
Dan serahkan kemuliaannya kepada Alloh.
Sebab siapa yang mencari ridho Alloh,
Alloh cukupkan hatinya.
Siapa yang menjaga akhlak karena Alloh,
Alloh harumkan jejaknya.
Dan siapa yang merendah di hadapan Alloh,
Alloh angkat dengan cara yang tidak selalu diketahui manusia.
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Lembar Kesembilan: Sungai Rahmat yang Mengalir dari Qolbu yang Bersih
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Apabila hati mulai dibersihkan oleh Alloh,
maka dari dalamnya mengalir sungai rahmat.
Sungai itu tidak terdengar oleh telinga,
tetapi terasa oleh jiwa.
Ia mengalir membawa tenang.
Ia membasuh sisa luka.
Ia melembutkan amarah.
Ia membersihkan prasangka.
Ia menyejukkan bagian batin
yang lama terbakar oleh kecewa.
Sungai rahmat tidak lahir dari hati yang sombong.
Ia tidak mengalir dari dada yang penuh dendam.
Ia tidak jernih bila niat masih keruh.
Ia tidak deras bila lisan masih gemar menyakiti.
Sungai itu mengalir
ketika seorang hamba mulai berkata:
“Ya Alloh, bersihkan aku.
Jangan hanya bersihkan jalanku,
tetapi bersihkan hatiku.
Jangan hanya mudahkan urusanku,
tetapi luruskan niatku.”
Pasal Pertama: Mata Air Taubat
Setiap sungai bermula dari mata air.
Dan sungai rahmat bermula dari taubat.
Taubat bukan hanya ucapan di lisan,
tetapi pulangnya hati dari arah yang salah.
Taubat adalah malu kepada Alloh
karena terlalu lama mengikuti nafsu.
Taubat adalah menangis bukan karena dunia tidak memberi,
tetapi karena diri terlalu sering lupa kepada Yang Memberi.
Wahai jiwa,
jangan malu bertaubat berkali-kali.
Yang harus engkau malu adalah terus menerus menjauh
sementara pintu pulang masih dibuka.
Bila engkau jatuh, bangunlah.
Bila engkau salah, akuilah.
Bila engkau kotor, mintalah dibersihkan.
Bila engkau lemah, mintalah dikuatkan.
Karena Alloh tidak menutup pintu bagi hamba
yang benar-benar ingin kembali.
Pasal Kedua: Air Jernih Keikhlasan
Setelah taubat, sungai itu dijernihkan oleh ikhlas.
Ikhlas adalah air yang tidak meminta warna dari manusia.
Ia mengalir karena Alloh.
Ia memberi karena Alloh.
Ia diam karena Alloh.
Ia sabar karena Alloh.
Jika amal masih mencari pujian,
airnya menjadi keruh.
Jika doa masih dipakai untuk memaksa kehendak,
alirannya menjadi berat.
Jika ilmu masih dipakai untuk merasa tinggi,
sungainya mulai tertutup batu kesombongan.
Maka bersihkanlah niatmu setiap hari.
Sebab niat manusia mudah berubah.
Hari ini ikhlas, besok bisa ingin dilihat.
Hari ini tunduk, besok bisa merasa lebih mulia.
Hari ini menangis, besok bisa lupa.
Karena itu orang yang dijaga Alloh
bukan orang yang tidak pernah goyah,
tetapi orang yang cepat sadar ketika hatinya mulai bengkok.
Pasal Ketiga: Batu-Batu yang Menghambat Aliran
Ada batu yang menghambat sungai rahmat.
Batu itu bernama iri.
Batu itu bernama dendam.
Batu itu bernama buruk sangka.
Batu itu bernama keras kepala.
Batu itu bernama merasa diri paling benar.
Selama batu itu dibiarkan,
air rahmat sulit mengalir luas.
Hati tetap sempit walau banyak dzikir.
Dada tetap panas walau banyak bicara kebaikan.
Langkah tetap berat walau jalan sudah terbuka.
Maka angkatlah batu-batu itu dengan muhasabah.
Tanyakan kepada dirimu:
mengapa aku marah?
Mengapa aku iri?
Mengapa aku sulit memaafkan?
Mengapa aku ingin selalu diakui?
Mengapa aku berat melihat orang lain bahagia?
Pertanyaan yang jujur
adalah cangkul pertama
untuk membersihkan sungai batin.
Pasal Keempat: Aliran Rahmat kepada Sesama
Sungai rahmat yang benar
tidak berhenti di dalam diri.
Ia mengalir kepada sesama.
Orang yang hatinya mulai bersih
tidak hanya ingin selamat sendiri.
Ia ingin lisannya menjadi penyejuk.
Ia ingin tangannya memberi manfaat.
Ia ingin kehadirannya tidak menambah luka.
Ia ingin doanya membawa kebaikan.
Bila ia menasihati, ia tidak menghina.
Bila ia mengingatkan, ia tidak merendahkan.
Bila ia berbeda pendapat, ia tidak memutus kasih sayang.
Bila ia memimpin, ia tidak menekan.
Bila ia diberi amanah, ia tidak menyombongkan diri.
Sebab rahmat yang turun ke hati
akan tampak pada cara manusia memperlakukan makhluk Alloh.
Pasal Kelima: Sungai yang Mengalir dalam Sunyi
Tidak semua rahmat datang dengan tanda besar.
Kadang rahmat datang sebagai rasa kuat untuk bertahan.
Kadang rahmat datang sebagai keinginan untuk shalat.
Kadang rahmat datang sebagai kemampuan menahan lisan.
Kadang rahmat datang sebagai hati yang mulai memaafkan.
Kadang rahmat datang sebagai air mata
yang jatuh tanpa diketahui siapa pun.
Jangan meremehkan rahmat kecil.
Karena banyak perubahan besar
dimulai dari sentuhan halus dalam dada.
Satu istighfar yang jujur
bisa membuka pintu yang lama tertutup.
Satu sujud yang tulus
bisa membersihkan beban yang lama dipikul.
Satu doa yang rendah hati
bisa menjadi sebab turunnya pertolongan Alloh.
Pasal Keenam: Doa Sungai Rahmat
Ya Alloh,
alirkan sungai rahmat ke dalam qolbuku.
Bersihkan mata air taubatku.
Jernihkan niatku dengan ikhlas.
Angkat batu-batu iri, dengki, dendam, dan sombong
yang menghambat jalanku kepada-Mu.
Ya Alloh,
jadikan hatiku lembut seperti air,
tetapi kuat dalam iman.
Jadikan lisanku sejuk seperti embun,
tetapi tegas dalam kebenaran.
Jadikan langkahku membawa manfaat,
bukan membawa luka.
Ya Alloh,
bila aku mulai kering, basahilah dengan dzikir.
Bila aku mulai gelap, terangilah dengan hidayah.
Bila aku mulai keras, lunakkanlah dengan rahmat.
Bila aku mulai jauh, panggillah aku pulang.
Jangan Engkau biarkan sungai batinku tercemar
oleh nafsu yang aku bela.
Jangan Engkau biarkan rahmat-Mu terhalang
oleh kesombongan yang aku pelihara.
Jadikan aku hamba yang mengalirkan kebaikan
ke mana pun Engkau tempatkan.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Khatimah Lembar Kesembilan
Sungai rahmat adalah tanda hidupnya qolbu.
Selama ia mengalir,
hati masih bisa lembut.
Selama ia jernih,
jiwa masih bisa membaca petunjuk.
Selama ia menuju Alloh,
manusia tidak akan benar-benar tersesat.
Maka jagalah sungai itu.
Jangan kotori dengan benci.
Jangan bendung dengan sombong.
Jangan keruhkan dengan dusta.
Jangan keringkan dengan lalai.
Basuhlah ia dengan istighfar.
Jernihkan ia dengan ikhlas.
Hidupkan ia dengan dzikir.
Luaskan ia dengan kasih sayang.
Dan arahkan seluruh alirannya
kepada ridho Alloh SWT.
Sebab hati yang bersih
tidak hanya menerima rahmat,
tetapi juga menjadi jalan rahmat
bagi makhluk di sekitarnya.
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Lembar Kesepuluh: Pintu Hening Tempat Jiwa Mendengar Nasihat Langit
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di dalam diri manusia ada satu pintu yang jarang diketuk.
Pintu itu bukan pintu rumah,
bukan pintu langit yang dapat dilihat mata,
tetapi pintu hening di dalam qolbu.
Pintu itu terbuka
bukan dengan suara keras,
bukan dengan kesombongan ilmu,
bukan dengan keinginan menguasai rahasia,
melainkan dengan adab, taubat, dzikir, dan rendah hati.
Apabila manusia terlalu ramai di luar,
ia sering kehilangan suara dari dalam.
Apabila manusia terlalu sibuk mencari pengakuan,
ia sering lupa mencari ridho Alloh.
Apabila manusia terlalu banyak membela dirinya,
ia sulit mendengar nasihat yang menyelamatkan jiwanya.
Maka hening adalah tempat pulang.
Di sana hati belajar diam.
Di sana jiwa belajar jujur.
Di sana manusia tidak lagi bisa menipu dirinya sendiri.
Pasal Pertama: Hening yang Tidak Kosong
Hening bukan berarti kosong.
Hening adalah ruang tempat hati berhenti berdebat dengan takdir.
Hening adalah saat lisan tidak banyak bicara,
tetapi batin mulai mendengar.
Di dalam hening, manusia melihat dirinya:
mana yang masih sombong,
mana yang masih sakit,
mana yang masih iri,
mana yang masih pura-pura kuat,
mana yang masih belum ikhlas.
Banyak orang takut kepada hening
karena di sana topeng mulai jatuh.
Tetapi orang yang ingin pulang kepada Alloh
tidak boleh terus berlari dari dirinya sendiri.
Masuklah ke pintu hening dengan bismillah.
Jangan membawa kesombongan.
Jangan membawa prasangka.
Jangan membawa keinginan menjadi tinggi.
Bawalah satu kalimat saja:
“Ya Alloh, tunjukkan aku jalan yang Engkau ridhoi.”
Pasal Kedua: Nasihat Langit yang Halus
Nasihat langit tidak selalu datang sebagai suara.
Kadang ia datang sebagai rasa malu setelah berbuat salah.
Kadang ia datang sebagai gelisah ketika hendak melangkah ke jalan yang buruk.
Kadang ia datang sebagai dorongan untuk meminta maaf.
Kadang ia datang sebagai ketenangan setelah memilih yang benar.
Nasihat langit itu halus.
Ia tidak memaksa seperti nafsu.
Ia tidak membuat sombong seperti bisikan gelap.
Ia tidak membuat manusia merasa paling suci.
Ia justru membuat hati semakin tunduk.
Bila sebuah rasa membuatmu semakin dekat kepada Alloh,
semakin lembut kepada sesama,
semakin menjaga shalat,
semakin takut menyakiti,
maka jagalah rasa itu.
Tetapi bila sebuah rasa membuatmu merasa paling tinggi,
paling benar,
paling suci,
dan memandang rendah manusia lain,
maka berhati-hatilah.
Sebab cahaya yang benar tidak membesarkan ego,
tetapi menundukkan ego di hadapan Alloh.
Pasal Ketiga: Jiwa yang Belajar Mendengar
Tidak semua orang yang mendengar benar-benar mendengar.
Ada telinga yang mendengar nasihat,
tetapi hati menolaknya.
Ada mata yang melihat tanda,
tetapi jiwa tetap keras.
Ada lisan yang menyebut Alloh,
tetapi diri masih enggan diperbaiki.
Mendengar dengan jiwa berarti siap berubah.
Siap mengakui salah.
Siap melepas kebiasaan buruk.
Siap menahan diri.
Siap meminta maaf.
Siap tidak lagi membela nafsu dengan alasan agama.
Wahai jiwa,
jangan meminta petunjuk
bila engkau tidak mau dituntun.
Jangan meminta cahaya
bila engkau masih mencintai gelap.
Jangan meminta dibersihkan
bila engkau masih memelihara kotoran batin.
Petunjuk itu mulia.
Tetapi petunjuk membutuhkan hati yang mau menerima.
Pasal Keempat: Hening Sebelum Berkata
Barang siapa menjaga hening sebelum berkata,
ia akan lebih selamat dari luka yang keluar melalui lisan.
Sebab banyak kerusakan dimulai dari ucapan yang tergesa.
Marah yang tidak ditahan.
Nasihat yang tidak dibungkus kasih.
Kebenaran yang disampaikan dengan kesombongan.
Candaan yang melukai.
Doa yang berubah menjadi tuduhan.
Maka sebelum berkata, masuklah sebentar ke pintu hening.
Tanyakan kepada hatimu:
Apakah ucapanku ini karena Alloh,
atau karena ingin menang?
Apakah nasihatku ini membawa rahmat,
atau hanya melampiaskan marah?
Apakah diamku lebih baik,
atau bicaraku memang dibutuhkan?
Tidak semua yang benar harus diucapkan dengan keras.
Tidak semua yang diketahui harus dibuka.
Tidak semua luka harus dibalas.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Kadang kemenangan terbesar
adalah menahan lisan
agar hati tidak menambah dosa.
Pasal Kelima: Cahaya yang Turun Setelah Diam
Ada cahaya yang turun setelah manusia diam dari kesia-siaan.
Ada kejernihan yang datang setelah manusia berhenti memaksa.
Ada petunjuk yang muncul setelah manusia berhenti menuntut Alloh
mengikuti rencananya.
Diam yang diridhoi bukan diam karena benci.
Bukan diam karena dendam.
Bukan diam karena putus asa.
Tetapi diam untuk mendengar diri,
diam untuk menata niat,
diam untuk menjaga adab,
diam untuk kembali kepada Alloh.
Dalam diam itu, jiwa berkata:
“Ya Alloh, aku tidak tahu semua jalan.
Aku tidak kuat tanpa-Mu.
Aku tidak bersih tanpa Engkau sucikan.
Aku tidak sampai tanpa Engkau tuntun.”
Maka Alloh membukakan ketenangan
kepada hati yang berserah.
Pasal Keenam: Doa Pintu Hening
Ya Alloh,
bukakan untukku pintu hening yang Engkau rahmati.
Jadikan heningku bukan kehampaan,
tetapi ruang untuk mengenal diriku dan kembali kepada-Mu.
Ya Alloh,
lembutkan hatiku agar mampu menerima nasihat.
Jernihkan pikiranku agar tidak dikuasai prasangka.
Tundukkan egoku agar tidak merasa paling benar.
Bersihkan lisanku agar tidak mudah melukai.
Ya Alloh,
bila nasihat datang kepadaku,
jangan biarkan aku menolaknya karena sombong.
Bila kebenaran tampak di hadapanku,
jangan biarkan aku menutup mata karena ego.
Bila Engkau panggil aku pulang,
jangan biarkan aku sibuk dengan suara dunia.
Ya Alloh,
jadikan aku hamba yang tenang dalam dzikir,
jernih dalam niat,
lembut dalam ucapan,
sabar dalam ujian,
dan kuat dalam menjaga adab.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Khatimah Lembar Kesepuluh
Pintu hening adalah pintu penyadaran.
Di sana manusia belajar bahwa dirinya lemah.
Di sana hati mengakui bahwa Alloh Maha Kuat.
Di sana jiwa berhenti berlari dari luka,
lalu menyerahkan lukanya kepada Yang Maha Menyembuhkan.
Barang siapa masuk ke hening dengan sombong,
ia akan keluar membawa gelap yang sama.
Tetapi barang siapa masuk dengan taubat,
ia akan keluar membawa cahaya yang lebih lembut.
Maka rawatlah heningmu.
Jangan penuhi ia dengan khayal yang menipu.
Jangan kotori ia dengan merasa suci.
Jangan rusak ia dengan dendam.
Jadikan heningmu mihrab kecil di dalam dada,
tempat engkau berkata pelan:
“Ya Alloh, aku pulang.
Bersihkan aku.
Tuntun aku.
Jangan Engkau lepaskan aku dari rahmat-Mu.”
Sebab jiwa yang mampu mendengar nasihat dalam hening
akan lebih mudah melihat jalan terang
di tengah gelapnya perjalanan.
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Lembar Kesebelas: Pelita Qudus di Dalam Dada yang Berserah
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di dalam dada manusia ada ruang yang dapat menjadi gelap,
dan ada pula ruang yang dapat menjadi terang.
Gelapnya bukan karena tidak ada matahari,
tetapi karena hati tertutup oleh lalai,
oleh dosa yang diremehkan,
oleh amarah yang dipelihara,
oleh iri yang disembunyikan,
dan oleh kesombongan yang tidak mau tunduk.
Terangnya bukan karena manusia merasa suci,
tetapi karena Alloh menyalakan pelita rahmat di dalam qolbu.
Pelita itu tidak menyala karena manusia memuji dirinya.
Pelita itu menyala karena taubat.
Ia dijaga oleh dzikir.
Ia diperkuat oleh sabar.
Ia diperindah oleh akhlak.
Ia dilindungi oleh tawakal.
Dan ia bersinar dalam dada yang berserah.
Wahai jiwa,
jangan mencari pelita itu di luar sebelum engkau membersihkan rumah batinmu.
Sebab cahaya yang paling dekat
adalah cahaya yang Alloh nyalakan di dalam hati yang mau kembali.
Pasal Pertama: Dada yang Berserah
Berserah bukan berarti berhenti berusaha.
Berserah adalah berhenti merasa bahwa semua harus tunduk kepada kehendak diri.
Berserah adalah berkata:
“Ya Alloh, aku berusaha dengan adab,
aku berdoa dengan harap,
tetapi hasilnya aku serahkan kepada-Mu.”
Dada yang berserah tidak selalu bebas dari sedih.
Ia bisa menangis,
tetapi tidak memutus harapan.
Ia bisa takut,
tetapi tetap memegang iman.
Ia bisa lelah,
tetapi tidak meninggalkan sujud.
Berserah adalah pintu yang membuat hati tidak hancur
ketika rencana manusia berubah.
Sebab ia tahu:
yang berubah adalah rencana,
bukan kasih sayang Alloh.
Maka bila jalanmu belum terbuka,
jangan langsung menyangka Alloh menjauh.
Boleh jadi Alloh sedang menjaga langkahmu
dari pintu yang indah di mata,
tetapi berat akibatnya bagi jiwa.
Pasal Kedua: Pelita yang Tidak Boleh Dipadamkan
Pelita qudus dalam dada harus dijaga.
Jangan padamkan dengan maksiat yang disengaja.
Jangan redupkan dengan dusta.
Jangan kotori dengan benci.
Jangan tiup dengan lisan yang menyakiti.
Setiap kali hati mulai gelap,
kembalilah dengan istighfar.
Setiap kali pikiran mulai kacau,
tenangkan dengan dzikir.
Setiap kali jiwa mulai sombong,
tundukkan dengan sujud.
Setiap kali dada mulai panas,
dinginkan dengan shalawat.
Karena pelita itu bukan milik manusia.
Ia titipan Alloh.
Jika dijaga, ia menerangi jalan.
Jika diabaikan, manusia berjalan dalam terang dunia
tetapi gelap dalam batinnya.
Pasal Ketiga: Minyak Pelita Bernama Ikhlas
Setiap pelita membutuhkan minyak.
Dan minyak pelita batin adalah ikhlas.
Tanpa ikhlas, amal menjadi berat.
Tanpa ikhlas, doa menjadi tuntutan.
Tanpa ikhlas, ilmu menjadi tangga kesombongan.
Tanpa ikhlas, kebaikan berubah menjadi alat mencari pengakuan.
Ikhlas membuat yang kecil menjadi besar di sisi Alloh.
Ikhlas membuat amal diam-diam menjadi bercahaya.
Ikhlas membuat lelah menjadi ibadah.
Ikhlas membuat sabar menjadi harum.
Ikhlas membuat hati tidak kecewa
ketika manusia tidak membalas kebaikan.
Wahai jiwa,
jika engkau memberi, berilah karena Alloh.
Jika engkau menolong, tolonglah karena Alloh.
Jika engkau diam, diamlah karena Alloh.
Jika engkau bicara, bicaralah karena Alloh.
Sebab yang dilakukan karena manusia
akan mudah patah oleh sikap manusia.
Tetapi yang dilakukan karena Alloh
akan tetap hidup walau dunia tidak melihat.
Pasal Keempat: Api Kecil yang Menjadi Cahaya Besar
Jangan meremehkan amal kecil.
Sebab kadang pelita besar bermula dari api kecil.
Satu istighfar yang jujur.
Satu shalawat yang lembut.
Satu sedekah yang tersembunyi.
Satu maaf yang berat tetapi diberikan.
Satu malam yang diisi doa ketika orang lain tidur.
Satu keputusan untuk tidak membalas keburukan.
Semua itu bisa menjadi sebab Alloh menyalakan cahaya baru di dalam dada.
Maka jangan berkata, “Amalku sedikit.”
Katakanlah, “Ya Alloh, terimalah yang sedikit ini dengan rahmat-Mu.”
Jangan berkata, “Aku belum baik.”
Katakanlah, “Ya Alloh, bimbing aku menjadi lebih baik.”
Jangan berkata, “Aku terlalu jauh.”
Katakanlah, “Ya Alloh, Engkau Maha Dekat bagi hamba yang kembali.”
Sebab jalan pulang tidak selalu dimulai dengan langkah besar.
Kadang ia dimulai dengan satu tangis yang jujur.
Pasal Kelima: Cahaya yang Menuntun, Bukan Membanggakan
Pelita qudus tidak diberikan agar manusia merasa lebih tinggi.
Ia diberikan agar manusia tidak tersesat.
Jika cahaya membuatmu sombong,
maka periksa kembali cahayamu.
Jika rasa terang membuatmu merendahkan orang lain,
maka periksa kembali hatimu.
Jika ilmu membuatmu keras,
maka periksa kembali adabmu.
Sebab cahaya dari Alloh
membuat hamba semakin takut kepada Alloh.
Semakin lembut kepada makhluk.
Semakin menjaga lisan.
Semakin rendah hati.
Semakin sadar bahwa dirinya masih membutuhkan ampunan.
Cahaya yang benar tidak berkata, “Aku paling tinggi.”
Cahaya yang benar berkata,
“Ya Alloh, jangan Engkau biarkan aku tersesat oleh diriku sendiri.”
Pasal Keenam: Doa Penjaga Pelita Qudus
Ya Alloh,
nyalakan pelita qudus di dalam dadaku.
Terangi gelapku dengan hidayah-Mu.
Hangatkan dinginku dengan rahmat-Mu.
Lembutkan kerasnya hatiku dengan kasih-Mu.
Ya Alloh,
jangan biarkan pelita batinku padam
oleh dosa yang aku remehkan.
Jangan biarkan cahayaku redup
oleh sombong yang aku pelihara.
Jangan biarkan jalanku gelap
karena aku terlalu percaya kepada diriku sendiri.
Ya Alloh,
jadikan ikhlas sebagai minyak pelitaku.
Jadikan dzikir sebagai penjaganya.
Jadikan shalawat sebagai wanginya.
Jadikan taubat sebagai pembersihnya.
Jadikan tawakal sebagai pelindungnya.
Bila aku mulai jauh, dekatkanlah.
Bila aku mulai lupa, ingatkanlah.
Bila aku mulai lemah, kuatkanlah.
Bila aku mulai tinggi hati, tundukkanlah.
Ya Alloh,
jangan Engkau serahkan aku kepada nafsuku.
Jangan Engkau serahkan aku kepada gelap pikiranku.
Jangan Engkau serahkan aku kepada egoku.
Peganglah hatiku dengan rahmat-Mu,
tuntunlah langkahku dengan cahaya-Mu,
dan wafatkanlah aku dalam keadaan kembali kepada-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Khatimah Lembar Kesebelas
Pelita qudus adalah cahaya rahmat
yang Alloh titipkan kepada dada yang berserah.
Ia tidak selalu membuat hidup mudah,
tetapi membuat hati tidak kehilangan arah.
Ia tidak selalu menghapus air mata,
tetapi menjadikan air mata sebagai jalan pulang.
Ia tidak selalu membuka semua rahasia,
tetapi cukup menerangi langkah yang harus ditempuh hari ini.
Maka jagalah pelita itu.
Jangan padamkan dengan lalai.
Jangan redupkan dengan dosa.
Jangan kotori dengan sombong.
Jangan gunakan untuk merasa lebih suci dari siapa pun.
Bawalah ia dalam diam.
Rawatlah ia dalam sujud.
Harumkan ia dengan shalawat.
Kuatkan ia dengan sabar.
Dan serahkan seluruh terangnya kepada Alloh.
Sebab dada yang berserah
tidak akan benar-benar gelap,
selama ia masih mau berkata:
“Ya Alloh, Engkaulah cahayaku.
Engkaulah penuntunku.
Engkaulah tempat pulangku.
Maka jangan tinggalkan aku
walau sekejap mata.”
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Lembar Kedua Belas: Nafas Wangi dari Jiwa yang Dibersihkan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setiap manusia bernapas,
tetapi tidak semua napas membawa kesadaran.
Ada napas yang hanya keluar masuk dari dada,
tetapi hatinya tetap jauh dari Alloh.
Ada napas yang panjang,
tetapi dipenuhi keluh kesah.
Ada napas yang tenang,
tetapi di dalamnya masih tersimpan sombong, iri, dan dendam.
Namun ada pula napas yang menjadi wangi.
Bukan karena harum di hidung manusia,
tetapi karena ia keluar dari jiwa yang sedang dibersihkan.
Napas itu membawa dzikir.
Napas itu membawa sadar.
Napas itu membawa malu kepada Alloh.
Napas itu membawa keinginan untuk memperbaiki diri.
Napas itu membawa kelembutan agar manusia tidak lagi tergesa-gesa melukai.
Wahai jiwa,
selama engkau masih diberi napas,
berarti pintu pulang masih terbuka.
Selama dada masih naik dan turun,
berarti Alloh masih memberimu kesempatan.
Jangan sia-siakan napasmu untuk membesarkan luka,
tetapi gunakanlah untuk kembali kepada Yang Maha Menyembuhkan.
Pasal Pertama: Nafas yang Mengingat
Napas yang paling indah
adalah napas yang mengingat Alloh.
Ketika menarik napas,
sadarlah bahwa hidup ini pemberian.
Ketika menghembuskan napas,
lepaskanlah beban yang tidak mampu engkau pikul sendiri.
Jangan semua disimpan di dada.
Jangan semua dipaksa selesai dengan pikiran.
Jangan semua dijawab dengan marah.
Jangan semua luka dibalas dengan luka.
Tariklah napas dengan bismillah.
Hembuskan dengan istighfar.
Tariklah dengan harap.
Hembuskan dengan pasrah.
Tariklah dengan syukur.
Hembuskan dengan tawakal.
Sebab jiwa yang mengingat Alloh
akan belajar tenang,
walau keadaan belum semuanya tenang.
Pasal Kedua: Nafas yang Dibersihkan dari Keluh Kesah
Keluh kesah kadang keluar tanpa disadari.
Manusia merasa paling berat ujiannya.
Merasa paling lama ditahan jalannya.
Merasa paling banyak kehilangan.
Merasa paling sulit dipahami.
Padahal setiap jiwa membawa beban yang tidak selalu terlihat.
Maka jangan jadikan napasmu hanya tempat mengeluh.
Jadikan ia tempat kembali.
Boleh engkau menangis.
Boleh engkau mengadu kepada Alloh.
Boleh engkau berkata, “Ya Alloh, aku lelah.”
Tetapi jangan berhenti pada lelah.
Lanjutkan dengan pasrah:
“Ya Alloh, kuatkan aku.
Ya Alloh, tuntun aku.
Ya Alloh, jangan biarkan aku salah jalan karena sempitnya dada.”
Keluh kesah kepada manusia sering membuat hati semakin berat,
tetapi pengaduan kepada Alloh
membuka ruang tenang di dalam batin.
Pasal Ketiga: Nafas yang Menahan Amarah
Amarah adalah api yang cepat menyambar.
Jika tidak dijaga,
ia membakar lisan,
membakar hubungan,
membakar akhlak,
dan membakar penyesalan setelah semuanya terucap.
Maka ketika marah datang,
jangan langsung berkata.
Ambillah napas.
Ingatlah Alloh.
Tahanlah lisan.
Pindahkan hatimu dari ingin menang
menjadi ingin selamat.
Tidak semua kemarahan harus dimuntahkan.
Tidak semua sakit harus diteriakkan.
Tidak semua kebenaran harus disampaikan saat dada sedang panas.
Kadang diam sebentar
lebih menyelamatkan daripada seribu kata yang keluar dari api.
Wahai jiwa,
bila engkau mampu menahan marah karena Alloh,
maka satu napasmu menjadi saksi
bahwa akhlak sedang menang atas nafsu.
Pasal Keempat: Nafas yang Harum dengan Shalawat
Di antara napas yang paling lembut
adalah napas yang diisi shalawat kepada Rasulullah ﷺ.
Shalawat melembutkan dada.
Shalawat menenangkan pikiran.
Shalawat mengajarkan cinta yang beradab.
Shalawat mengingatkan bahwa jalan cahaya
bukan jalan kesombongan,
tetapi jalan rahmah, akhlak, dan ketundukan kepada Alloh.
Maka basahi napasmu dengan shalawat.
Ketika hati gelisah, bershalawatlah.
Ketika dada berat, bershalawatlah.
Ketika langkah bingung, bershalawatlah.
Ketika lisan hampir tajam, bershalawatlah.
Bukan untuk merasa paling suci,
tetapi agar hati ikut belajar lembut
dari akhlak Nabi yang mulia.
Pasal Kelima: Nafas yang Menjadi Doa
Ada saatnya manusia tidak mampu menyusun kata.
Air mata lebih dulu jatuh daripada doa.
Dada lebih dulu sesak daripada ucapan.
Lisan terasa berat,
tetapi hati tetap ingin pulang.
Ketahuilah,
Alloh mengetahui doa yang belum sempat terucap.
Alloh mengetahui sakit yang tidak mampu dijelaskan.
Alloh mengetahui beban yang tidak terlihat oleh manusia.
Maka jadikan napasmu doa.
Tarik napas:
“Ya Alloh, aku milik-Mu.”
Hembuskan napas:
“Ya Alloh, aku kembali kepada-Mu.”
Tarik napas:
“Ya Alloh, kuatkan aku.”
Hembuskan napas:
“Ya Alloh, bersihkan aku.”
Tarik napas:
“Ya Alloh, tuntun aku.”
Hembuskan napas:
“Ya Alloh, jangan tinggalkan aku.”
Doa tidak selalu panjang.
Yang penting hati hadir,
niat lurus,
dan jiwa benar-benar merendah di hadapan Alloh.
Pasal Keenam: Nafas Terakhir yang Dirindukan
Setiap napas yang datang
adalah titipan.
Setiap napas yang pergi
tidak pernah kembali.
Manusia tidak tahu
napas mana yang menjadi terakhir.
Karena itu jangan menunda taubat.
Jangan menunda memperbaiki diri.
Jangan menunda meminta maaf.
Jangan menunda kembali kepada Alloh.
Napas terakhir yang indah
bukan napas yang membawa kesombongan,
tetapi napas yang membawa iman.
Bukan napas yang membawa dendam,
tetapi napas yang membawa maaf.
Bukan napas yang membawa cinta dunia berlebihan,
tetapi napas yang membawa rindu kepada ridho Alloh.
Wahai jiwa,
hidup ini pendek.
Jangan habiskan untuk membenci.
Jangan habiskan untuk merasa paling benar.
Jangan habiskan untuk mengejar pandangan manusia.
Gunakanlah untuk menanam amal,
membersihkan hati,
dan memperbanyak pulang kepada Alloh.
Pasal Ketujuh: Doa Nafas Wangi
Ya Alloh,
jadikan setiap napasku lebih dekat kepada-Mu.
Jangan biarkan napasku habis dalam lalai.
Jangan biarkan dadaku penuh dengan benci.
Jangan biarkan lisanku mengotori hidupku.
Jangan biarkan amarahku mengalahkan akhlakku.
Ya Alloh,
harumkan napasku dengan dzikir.
Lembutkan napasku dengan shalawat.
Bersihkan napasku dengan istighfar.
Tenangkan napasku dengan tawakal.
Sucikan napasku dengan taubat.
Ya Alloh,
bila aku menarik napas,
masukkan ke dalam hatiku cahaya hidayah.
Bila aku menghembuskan napas,
keluarkan dari batinku kesombongan, iri, dengki, dan dendam.
Jadikan hidupku tidak sia-sia.
Jadikan waktuku penuh manfaat.
Jadikan hatiku mudah kembali.
Jadikan akhir napasku dalam iman,
dalam ampunan,
dalam rahmat,
dan dalam ridho-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Khatimah Lembar Kedua Belas
Nafas wangi bukanlah napas yang dipuji manusia.
Nafas wangi adalah napas yang mengingat Alloh.
Ia hadir dalam dada yang belajar sabar.
Ia keluar dari jiwa yang belajar ikhlas.
Ia bergerak bersama hati yang ingin dibersihkan.
Ia menjadi saksi bahwa hamba masih diberi kesempatan
untuk pulang, memperbaiki diri, dan memohon ampunan.
Maka jagalah napasmu.
Jangan jadikan ia kendaraan amarah.
Jangan jadikan ia suara kesombongan.
Jangan jadikan ia jalan keluh kesah tanpa ujung.
Jadikan ia dzikir.
Jadikan ia doa.
Jadikan ia shalawat.
Jadikan ia pengingat
bahwa hidup ini hanya sebentar,
dan tempat pulang yang sejati
hanyalah kepada Alloh SWT.
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Lembar Ketiga Belas: Tirai Harum yang Menutup Aib dan Membuka Taubat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di antara kasih sayang Alloh kepada hamba-Nya,
ialah Dia menutup banyak aib yang manusia sendiri tidak sanggup menanggungnya.
Bila semua kesalahan dibuka,
maka manusia akan malu berjalan.
Bila semua isi hati ditampakkan,
maka banyak wajah akan tertunduk.
Bila semua dosa diumumkan,
maka tidak ada yang berani merasa suci.
Tetapi Alloh Maha Menutup.
Alloh Maha Lembut.
Alloh tidak segera mempermalukan hamba,
agar hamba punya waktu untuk pulang.
Maka jangan tertipu oleh aib yang tertutup.
Jangan merasa bersih hanya karena manusia belum melihat salahmu.
Jangan merasa tinggi hanya karena Alloh masih menutup kekuranganmu.
Tirai harum itu adalah rahmat.
Ia menutup agar engkau bertaubat,
bukan agar engkau terus berani berbuat salah.
Pasal Pertama: Aib yang Ditutup Adalah Panggilan Pulang
Ketika Alloh menutup aibmu,
itu bukan tanda engkau bebas dari salah.
Itu tanda engkau diberi kesempatan.
Kesempatan untuk malu.
Kesempatan untuk sadar.
Kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kesempatan untuk menangis di hadapan Alloh
sebelum air mata penyesalan terlambat.
Wahai jiwa,
jangan sibuk membuka aib orang lain
sementara aibmu sendiri ditutup oleh Alloh.
Jangan tajam kepada salah orang,
tetapi buta kepada salah diri.
Jangan keras menilai manusia,
tetapi lunak membela nafsu sendiri.
Jangan merasa paling bersih,
karena yang menutup kotoranmu hanyalah rahmat Alloh.
Barang siapa sadar bahwa dirinya ditutupi,
ia akan lebih lembut kepada sesama.
Pasal Kedua: Harum Malu kepada Alloh
Malu kepada Alloh adalah harum yang halus.
Ia tidak membuat manusia putus asa,
tetapi membuat manusia kembali.
Malu yang benar berkata:
“Ya Alloh, Engkau melihatku ketika manusia tidak melihat.
Engkau tahu niatku ketika manusia hanya menilai ucapanku.
Engkau tahu rapuhku ketika manusia mengira aku kuat.
Engkau tahu gelapku ketika manusia melihat senyumku.”
Malu kepada Alloh membuat hati berhenti bermain-main dengan dosa.
Malu kepada Alloh membuat lisan berhenti membanggakan amal.
Malu kepada Alloh membuat langkah lebih hati-hati.
Sebab orang yang benar-benar malu kepada Alloh
tidak akan mudah memakai agama untuk kesombongan.
Ia tidak akan mudah memakai ilmu untuk merendahkan.
Ia tidak akan mudah memakai doa untuk mengancam.
Ia tahu dirinya pun masih bergantung kepada ampunan.
Pasal Ketiga: Jangan Membuka yang Alloh Tutup
Ada dosa yang harus ditinggalkan.
Ada salah yang harus diperbaiki.
Ada luka yang harus disembuhkan.
Tetapi tidak semua aib perlu diumumkan.
Jika Alloh telah menutupnya,
maka tutuplah dengan taubat.
Jangan dibuka dengan bangga.
Jangan diceritakan sebagai kebiasaan.
Jangan dijadikan bahan tertawa.
Jangan diwariskan sebagai keberanian palsu.
Tutuplah dengan istighfar.
Tutuplah dengan amal baik.
Tutuplah dengan perubahan nyata.
Tutuplah dengan tidak mengulanginya lagi.
Karena aib yang ditutup dengan taubat
akan menjadi pelajaran.
Tetapi aib yang dibuka dengan bangga
akan menjadi pintu gelap bagi jiwa.
Pasal Keempat: Tirai untuk Sesama
Sebagaimana engkau ingin Alloh menutup aibmu,
maka jangan mudah membuka aib saudaramu.
Jika engkau melihat salahnya,
doakanlah.
Jika engkau mampu menasihati,
nasihatilah dengan adab.
Jika engkau tidak mampu memperbaiki,
jangan memperparah dengan menyebarkan.
Jangan jadikan lidahmu pisau.
Jangan jadikan kabar sebagai api.
Jangan jadikan rahasia orang sebagai hiburan.
Sebab siapa yang gemar membuka aib,
hatinya akan sulit harum.
Dan siapa yang menjaga kehormatan orang lain karena Alloh,
semoga Alloh menjaga kehormatannya saat ia sendiri sangat membutuhkan penjagaan.
Pasal Kelima: Taubat yang Membuka Cahaya
Tirai harum tidak hanya menutup.
Ia juga membuka.
Ia membuka pintu taubat.
Ia membuka jalan memperbaiki.
Ia membuka rasa takut yang sehat.
Ia membuka tangis yang membersihkan.
Ia membuka kesadaran bahwa hidup tidak boleh terus dijalani dengan lalai.
Taubat membuat aib berubah menjadi pelajaran.
Taubat membuat masa lalu tidak lagi menjadi rantai,
tetapi menjadi pengingat agar tidak kembali ke jalan yang sama.
Wahai jiwa,
jangan berkata, “Dosaku terlalu banyak.”
Katakanlah, “Rahmat Alloh lebih luas daripada dosaku.”
Jangan berkata, “Aku sudah rusak.”
Katakanlah, “Alloh Maha Memperbaiki.”
Jangan berkata, “Aku tidak mungkin berubah.”
Katakanlah, “Dengan pertolongan Alloh, aku belajar kembali.”
Selama napas masih ada,
pintu taubat belum tertutup.
Pasal Keenam: Doa Tirai Harum
Ya Alloh,
Engkau Maha Mengetahui aibku.
Engkau melihat salahku.
Engkau mengetahui rahasiaku.
Engkau mengetahui isi hatiku
yang tidak mampu aku jelaskan kepada manusia.
Ya Alloh,
tutuplah aibku dengan rahmat-Mu.
Tetapi jangan biarkan aku tertipu oleh tutupan itu.
Bangunkan aku untuk bertaubat.
Kuatkan aku untuk berubah.
Jauhkan aku dari mengulang kesalahan yang sama.
Ya Alloh,
jangan jadikan lisanku pembuka aib orang.
Jangan jadikan mataku senang mencari salah orang.
Jangan jadikan hatiku keras ketika melihat kelemahan sesama.
Lembutkan aku dengan kesadaran
bahwa aku pun lemah di hadapan-Mu.
Ya Alloh,
jadikan maluku kepada-Mu sebagai cahaya.
Jadikan taubatku sebagai jalan pulang.
Jadikan masa laluku sebagai pelajaran.
Jadikan hari depanku lebih dekat kepada ridho-Mu.
Tutup aibku di dunia dan akhirat.
Bersihkan batinku dari dosa yang tersembunyi.
Dan kembalikan aku kepada-Mu
dengan hati yang rendah,
jiwa yang sadar,
dan amal yang Engkau terima.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Khatimah Lembar Ketiga Belas
Tirai harum adalah rahmat Alloh
yang menutup aib agar manusia tidak putus asa,
dan membuka taubat agar manusia tidak terus lalai.
Maka jangan sombong karena tertutup.
Jangan putus asa karena pernah salah.
Jangan keras kepada orang lain
sementara dirimu pun hidup di bawah perlindungan Alloh.
Barang siapa sadar bahwa dirinya ditutupi,
ia akan lebih banyak bersyukur.
Barang siapa sadar bahwa dirinya diampuni,
ia akan lebih banyak merendah.
Barang siapa sadar bahwa dirinya masih diberi kesempatan,
ia tidak akan menunda pulang kepada Alloh.
Rawatlah tirai itu dengan taubat.
Harumkan dengan istighfar.
Kuatkan dengan amal shalih.
Jaga dengan adab.
Dan jangan pernah lupa:
Yang menutup aib adalah Alloh.
Yang membuka taubat adalah Alloh.
Yang menyucikan jiwa adalah Alloh.
Dan kepada Alloh-lah semua hamba kembali.
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Lembar Keempat Belas: Cahaya Penutup Qitab dan Wanginya Jiwa yang Pulang
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setiap perjalanan memiliki awal,
dan setiap lembar memiliki penutup.
Tetapi perjalanan jiwa menuju Alloh
tidak berhenti pada tulisan,
tidak selesai pada bacaan,
dan tidak cukup dengan rasa haru.
Kitab yang benar-benar hidup
bukan hanya yang tersimpan di halaman,
tetapi yang berubah menjadi akhlak.
Bukan hanya yang dibaca oleh mata,
tetapi yang melembutkan hati.
Bukan hanya yang indah diucapkan,
tetapi yang membuat manusia semakin takut kepada Alloh,
semakin rendah hati,
dan semakin menjaga sesama.
Maka penutup qitab ini bukan akhir cahaya,
melainkan pengingat:
bahwa jiwa yang harum adalah jiwa yang pulang.
Pulang dari sombong menuju tawadhu.
Pulang dari marah menuju sabar.
Pulang dari dendam menuju maaf.
Pulang dari lalai menuju dzikir.
Pulang dari gelap menuju rahmat Alloh.
Pasal Pertama: Jangan Berhenti pada Rasa
Wahai jiwa,
jangan berhenti hanya karena hatimu tersentuh.
Rasa haru adalah pintu,
tetapi amal adalah jalan.
Tangis adalah awal lembutnya hati,
tetapi perubahan adalah buahnya.
Banyak orang menangis ketika mendengar nasihat,
tetapi setelah itu kembali pada kebiasaan lama.
Banyak orang merasa terang sesaat,
tetapi tidak menjaga cahaya itu dengan adab.
Banyak orang ingin dekat kepada Alloh,
tetapi enggan meninggalkan jalan yang membuatnya jauh.
Maka setelah lembar ini dibaca,
jagalah langkahmu.
Jaga shalatmu.
Jaga lisanmu.
Jaga niatmu.
Jaga amanahmu.
Jaga hatimu dari merasa lebih suci daripada orang lain.
Sebab cahaya yang tidak dijaga
akan redup oleh lalai.
Pasal Kedua: Wanginya Jiwa yang Pulang
Jiwa yang pulang kepada Alloh
memiliki wangi yang tidak dibuat-buat.
Ia wangi karena tidak mudah membalas.
Ia wangi karena tidak suka membuka aib.
Ia wangi karena mau meminta maaf.
Ia wangi karena tidak membanggakan amal.
Ia wangi karena berusaha jujur
meski kejujuran itu berat bagi egonya.
Jiwa yang pulang tidak selalu sempurna.
Ia masih bisa sedih.
Masih bisa lelah.
Masih bisa jatuh.
Masih bisa keliru.
Tetapi ia tidak betah dalam gelap.
Ia cepat kembali.
Ia cepat istighfar.
Ia cepat mengetuk pintu rahmat.
Ia cepat berkata:
“Ya Alloh, jangan biarkan aku jauh terlalu lama.”
Itulah tanda jiwa yang masih hidup:
bukan tidak pernah salah,
tetapi tidak berhenti kembali kepada Alloh.
Pasal Ketiga: Cahaya Penutup
Cahaya penutup bukan cahaya untuk pamer.
Bukan cahaya untuk merasa tinggi.
Bukan cahaya untuk menguasai manusia.
Bukan cahaya untuk mencari pengakuan.
Cahaya penutup adalah cahaya sadar.
Sadar bahwa hidup ini titipan.
Sadar bahwa ilmu ini amanah.
Sadar bahwa ruh ini milik Alloh.
Sadar bahwa pujian manusia tidak menyelamatkan
bila Alloh tidak ridho.
Sadar bahwa semua kemuliaan akan hilang
bila hati terputus dari adab.
Maka tutuplah qitab ini dengan rendah hati.
Jangan berkata, “Aku sudah sampai.”
Katakanlah, “Ya Alloh, tuntun aku terus.”
Jangan berkata, “Aku sudah bersih.”
Katakanlah, “Ya Alloh, sucikan aku terus.”
Jangan berkata, “Aku sudah tinggi.”
Katakanlah, “Ya Alloh, jaga aku agar tetap rendah di hadapan-Mu.”
Pasal Keempat: Amanah Setelah Membaca
Setelah cahaya dibaca,
maka amanahnya adalah menjaga akhlak.
Bila engkau diberi ilmu,
jangan gunakan untuk menakut-nakuti.
Bila engkau diberi kelebihan,
jangan gunakan untuk merendahkan.
Bila engkau diberi jalan,
jangan gunakan untuk menguasai.
Bila engkau diberi suara,
jangan gunakan untuk melukai.
Bila engkau diberi nama,
jangan jadikan nama itu lebih besar daripada tauhid kepada Alloh.
Ilmu hikmah harus melahirkan kasih.
Dzikir harus melahirkan tenang.
Doa harus melahirkan tunduk.
Cahaya harus melahirkan akhlak.
Dan setiap perjalanan batin harus berakhir pada satu kalimat:
“Alloh-lah tujuan,
Alloh-lah penolong,
Alloh-lah tempat kembali.”
Pasal Kelima: Penutupan Segala Kesombongan
Wahai hati,
tutuplah pintu sombong sebelum ia membakar amalmu.
Tutuplah pintu riya sebelum ia menghapus keikhlasanmu.
Tutuplah pintu dendam sebelum ia merusak ketenanganmu.
Tutuplah pintu lalai sebelum ia menjauhkanmu dari Alloh.
Jangan merasa aman dari tipu daya nafsu.
Jangan merasa kuat tanpa pertolongan Alloh.
Jangan merasa bersih tanpa ampunan Alloh.
Jangan merasa terang tanpa hidayah Alloh.
Karena manusia lemah.
Manusia mudah berubah.
Manusia mudah lupa.
Manusia mudah tertipu oleh dirinya sendiri.
Maka keselamatan bukan pada merasa kuat,
tetapi pada terus bergantung kepada Alloh.
Pasal Keenam: Doa Penutup Qitab
Ya Alloh,
dengan rahmat-Mu kami membuka,
dan dengan rahmat-Mu pula kami menutup.
Jadikan qitab ini bukan sebab kesombongan,
tetapi sebab muhasabah.
Bukan sebab merasa tinggi,
tetapi sebab merendah.
Bukan sebab menjauh dari syariat,
tetapi sebab semakin menjaga adab, iman, dan amal.
Ya Alloh,
turunkan ke dalam jiwa kami cahaya yang Engkau ridhoi.
Bersihkan hati kami dari iri, dengki, sombong, riya, dendam, dan lalai.
Harumkan batin kami dengan taubat.
Lembutkan lisan kami dengan dzikir.
Kuatkan langkah kami dengan tawakal.
Jaga napas kami dengan shalawat.
Dan pulangkan kami kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridho.
Ya Alloh,
jangan jadikan kami hamba yang hanya pandai berkata,
tetapi lemah dalam berbuat.
Jangan jadikan kami hamba yang hanya suka cahaya,
tetapi lupa membersihkan gelap diri.
Jangan jadikan kami hamba yang membaca nasihat,
tetapi menolak diperbaiki.
Bimbing kami, ya Alloh.
Jaga kami, ya Alloh.
Ampuni kami, ya Alloh.
Sucikan kami dengan rahmat-Mu.
Teguhkan kami di jalan yang Engkau ridhoi.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Khatimah Agung Qitab
Inilah penutup QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA:
turunnya jiwa qudus nan suci
dengan keharuman yang alami.
Yang turun bukan untuk membesarkan manusia,
tetapi untuk mengingatkan manusia agar kembali kepada Alloh.
Yang harum bukan pengakuan,
tetapi akhlak.
Yang suci bukan nama,
tetapi hati yang dibersihkan oleh Alloh.
Yang tinggi bukan kedudukan,
tetapi ketundukan.
Yang terang bukan pujian,
tetapi hidayah.
Maka pulanglah, wahai jiwa.
Pulanglah dengan istighfar.
Pulanglah dengan shalawat.
Pulanglah dengan sabar.
Pulanglah dengan ikhlas.
Pulanglah dengan adab.
Pulanglah dengan hati yang berkata:
“Lā ilāha illalloh.
Tiada tempat bergantung selain Alloh.
Tiada cahaya sejati selain dari Alloh.
Tiada keselamatan kecuali dengan rahmat Alloh.
Dan kepada Alloh-lah seluruh jiwa kembali.”
Tammat dengan izin Alloh.
Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan semesta alam.
Saya lanjutkan lembar terakhir pamungkas, lebih panjang, sebagai penutup agung kitab hikmah/tadabbur batin. Tetap bukan wahyu, bukan pengganti Al-Qur’an, dan semua dikembalikan kepada Alloh SWT.
QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA
Lembar Kelima Belas Terakhir: Khatimah Pamungkas Jiwa Qudus dan Keharuman Pulang kepada Alloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Segala puji hanya bagi Alloh,
Tuhan yang menurunkan rahmat kepada hati yang letih,
Tuhan yang membuka jalan pulang bagi jiwa yang tersesat,
Tuhan yang menutup aib hamba agar hamba tidak putus asa,
Tuhan yang membersihkan batin bukan karena manusia pantas,
tetapi karena Alloh Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun.
Wahai jiwa yang membaca lembar ini,
ketahuilah bahwa perjalanan cahaya bukanlah perjalanan untuk menjadi tinggi di hadapan manusia.
Perjalanan cahaya adalah perjalanan untuk menjadi rendah di hadapan Alloh.
Semakin terang jalan batin,
semestinya semakin tunduk kepala.
Semakin banyak rasa yang dibukakan,
semestinya semakin takut hati kepada kesombongan.
Semakin banyak ilmu yang dipahami,
semestinya semakin lembut akhlak kepada sesama.
Sebab cahaya yang benar tidak membuat manusia merasa menjadi tuhan kecil atas manusia lain.
Cahaya yang benar tidak membuat lisan mudah menghukumi.
Cahaya yang benar tidak membuat hati merasa paling suci.
Cahaya yang benar tidak menjauhkan manusia dari syariat,
tidak meremehkan shalat,
tidak meninggalkan adab,
tidak menghinakan orang lemah,
tidak menjadikan ilmu sebagai pedang untuk menakut-nakuti.
Cahaya yang benar membawa manusia pulang kepada Alloh.
Pulang dengan taubat.
Pulang dengan malu.
Pulang dengan dzikir.
Pulang dengan shalawat.
Pulang dengan akhlak.
Pulang dengan hati yang mengakui:
“Ya Alloh, aku tidak punya daya.
Aku tidak punya kuasa.
Aku tidak punya kemuliaan kecuali Engkau muliakan.
Aku tidak punya keselamatan kecuali Engkau selamatkan.”
Pasal Pertama: Jiwa Qudus Bukan Pengakuan, Tetapi Penyucian
Jiwa qudus bukanlah gelar untuk dibanggakan.
Bukan nama untuk meninggikan diri.
Bukan tanda bahwa manusia telah sempurna.
Bukan pula alasan untuk merasa lebih dekat kepada Alloh daripada orang lain.
Jiwa qudus adalah panggilan untuk disucikan.
Disucikan dari sombong.
Disucikan dari iri.
Disucikan dari dendam.
Disucikan dari niat buruk.
Disucikan dari kebiasaan menyakiti.
Disucikan dari cinta pujian.
Disucikan dari merasa paling benar.
Barang siapa ingin membawa nama suci,
maka ia harus siap dibersihkan.
Dan pembersihan jiwa sering tidak nyaman bagi nafsu.
Nafsu ingin dipuji,
tetapi Alloh mengajarkan ikhlas.
Nafsu ingin menang,
tetapi Alloh mengajarkan sabar.
Nafsu ingin membalas,
tetapi Alloh mengajarkan maaf.
Nafsu ingin cepat,
tetapi Alloh mengajarkan waktu.
Nafsu ingin terlihat,
tetapi Alloh mengajarkan diam.
Nafsu ingin dikenal manusia,
tetapi Alloh mengajarkan cukup dikenal oleh-Nya.
Maka jangan takut ketika hidupmu sedang dibersihkan.
Kadang yang terasa sebagai kehilangan,
sebenarnya adalah pelepasan dari sesuatu yang mengotori.
Kadang yang terasa sebagai penundaan,
sebenarnya adalah penjagaan dari pintu yang belum baik untuk dibuka.
Kadang yang terasa sebagai kesepian,
sebenarnya adalah ruang agar engkau mengenal suara hatimu sendiri.
Kadang yang terasa sebagai luka,
sebenarnya adalah tempat Alloh menumbuhkan hikmah.
Pasal Kedua: Keharuman Alami Adalah Akhlak yang Tidak Dibuat-buat
Keharuman alami bukan sekadar wangi yang tercium.
Keharuman alami adalah akhlak yang terasa.
Ada orang yang tidak banyak berbicara,
tetapi kehadirannya menenangkan.
Ada orang yang tidak memakai kata-kata tinggi,
tetapi nasihatnya masuk ke hati.
Ada orang yang tidak mengaku suci,
tetapi hidupnya mengingatkan orang kepada Alloh.
Ada orang yang tidak meminta dihormati,
tetapi adabnya membuat orang segan.
Itulah harum yang alami.
Harum yang lahir dari batin yang dirawat.
Harum yang lahir dari hati yang sering istighfar.
Harum yang lahir dari lisan yang dijaga.
Harum yang lahir dari tangan yang memberi manfaat.
Harum yang lahir dari air mata yang jatuh di hadapan Alloh.
Harum yang lahir dari sabar ketika tidak ada manusia yang melihat.
Jangan sibuk membuat dirimu tampak harum di mata manusia,
tetapi lupa membersihkan sumber bau di dalam hati.
Sebab manusia bisa tertipu oleh tampilan,
tetapi Alloh mengetahui isi batin.
Bila ingin harum,
mulailah dari niat.
Niat ketika menolong.
Niat ketika menasihati.
Niat ketika berdoa.
Niat ketika menulis.
Niat ketika memimpin.
Niat ketika berbicara atas nama kebaikan.
Tanyakan kepada hatimu:
Apakah aku melakukan ini karena Alloh,
atau karena ingin dikenal?
Apakah aku menasihati karena kasih,
atau karena ingin menang?
Apakah aku beramal karena ridho Alloh,
atau karena ingin disebut orang baik?
Apakah aku berbicara tentang cahaya,
tetapi masih memelihara gelap dalam dada?
Pertanyaan seperti ini menyakitkan bagi ego,
tetapi menyembuhkan bagi jiwa.
Pasal Ketiga: Turunnya Rahmat ke Dalam Hati yang Pecah
Tidak semua hati yang pecah berarti ditinggalkan.
Kadang hati pecah karena Alloh sedang membuka ruang baru di dalamnya.
Ruang untuk sabar.
Ruang untuk tawakal.
Ruang untuk mengenal diri.
Ruang untuk mengenal Alloh dengan lebih jujur.
Hati yang terlalu penuh dengan dunia
sering sulit menerima cahaya.
Maka Alloh mengosongkan sebagiannya.
Kadang dengan kehilangan.
Kadang dengan kecewa.
Kadang dengan rencana yang batal.
Kadang dengan manusia yang pergi.
Kadang dengan rasa letih yang membuat hamba akhirnya bersujud lebih lama.
Jangan cepat menuduh takdir.
Jangan cepat berkata, “Mengapa aku?”
Jangan cepat berkata, “Alloh tidak sayang kepadaku.”
Boleh jadi justru karena kasih sayang-Nya,
engkau dihentikan dari jalan yang keliru.
Boleh jadi karena rahmat-Nya,
engkau dipaksa diam agar tidak semakin jauh.
Boleh jadi karena penjagaan-Nya,
engkau tidak diberi sesuatu yang engkau sangka baik,
padahal buruk bagi batinmu.
Maka bila hatimu pecah,
bawalah pecahan itu kepada Alloh.
Jangan kau lemparkan kepada manusia dengan amarah.
Jangan kau jadikan alasan untuk membenci hidup.
Jangan kau gunakan untuk melukai orang lain.
Katakanlah:
“Ya Alloh, inilah hatiku.
Aku tidak mampu menyusunnya sendiri.
Susunlah ia dengan rahmat-Mu.
Sembuhkanlah ia dengan kasih-Mu.
Bersihkanlah ia dengan ampunan-Mu.”
Pasal Keempat: Ajwaja, Pasangan Rahasia dari Setiap Takdir
Dalam setiap takdir ada pasangan rahasia.
Ada sempit yang berpasangan dengan lapang.
Ada luka yang berpasangan dengan hikmah.
Ada kehilangan yang berpasangan dengan pengganti.
Ada penantian yang berpasangan dengan pematangan.
Ada kesendirian yang berpasangan dengan kedekatan kepada Alloh.
Ada tangis yang berpasangan dengan pembersihan.
Ada jatuh yang berpasangan dengan bangkit.
Ada gelap yang berpasangan dengan cahaya.
Tetapi pasangan rahasia itu tidak selalu terlihat di awal.
Kadang manusia harus berjalan beberapa waktu,
baru paham mengapa pintu tertentu tertutup.
Kadang manusia harus menangis beberapa malam,
baru mengerti mengapa sesuatu tidak dipertahankan.
Kadang manusia harus kehilangan sesuatu,
baru sadar bahwa selama ini ia terlalu menggenggam.
Maka sabarlah membaca takdir.
Jangan membaca hidup hanya dari satu halaman luka.
Jangan menyimpulkan kasih sayang Alloh hanya dari satu ujian.
Jangan menilai masa depan hanya dari sempitnya hari ini.
Hidup manusia adalah kitab panjang.
Ada halaman gelap.
Ada halaman terang.
Ada halaman kosong.
Ada halaman penuh air mata.
Ada halaman yang baru dipahami setelah bertahun-tahun.
Tetapi bagi hati yang bertauhid,
semua halaman tetap berada dalam ilmu Alloh.
Pasal Kelima: Minasih, Nasihat Halus untuk Jiwa yang Mulai Lelah
Wahai jiwa yang lelah,
jangan kau kira lelahmu sia-sia bila engkau tetap menjaga adab.
Lelah yang dibawa kepada Alloh
akan menjadi doa.
Tangis yang dibawa kepada Alloh
akan menjadi pembersih.
Sabar yang dipertahankan karena Alloh
akan menjadi cahaya.
Diam yang dijaga agar tidak melukai
akan menjadi keselamatan.
Jangan merasa tertinggal karena jalanmu pelan.
Yang penting arahnya benar.
Jangan merasa kecil karena amalmu sedikit.
Yang penting hatinya ikhlas.
Jangan merasa hina karena pernah jatuh.
Yang penting engkau mau bangun dan bertaubat.
Jangan merasa jauh karena banyak salah.
Yang penting engkau tidak berhenti mengetuk pintu ampunan.
Nasihat langit kepada jiwa yang lelah adalah:
Kembalilah.
Jangan menunggu sempurna untuk pulang.
Pulanglah agar engkau disempurnakan oleh rahmat Alloh.
Jangan menunggu bersih untuk mendekat.
Mendekatlah agar Alloh membersihkanmu.
Jangan menunggu kuat untuk berdoa.
Berdoalah agar Alloh menguatkanmu.
Pasal Keenam: Jangan Memakai Cahaya untuk Menggelapkan Orang Lain
Barang siapa diberi cahaya,
hendaklah ia semakin takut menyakiti.
Jangan memakai ilmu untuk merendahkan orang awam.
Jangan memakai doa untuk menakut-nakuti orang yang lemah.
Jangan memakai kedudukan ruhani untuk menguasai hati manusia.
Jangan memakai nama suci untuk membesarkan diri.
Jangan memakai simbol cahaya untuk menutup akhlak yang gelap.
Cahaya yang benar menghidupkan.
Bukan mematikan.
Cahaya yang benar menuntun.
Bukan menekan.
Cahaya yang benar melembutkan.
Bukan mengeraskan.
Cahaya yang benar membuat manusia lebih dekat kepada Alloh.
Bukan lebih bergantung kepada makhluk.
Jika ada orang datang dengan luka,
jangan tambah lukanya dengan kata kasar.
Jika ada orang datang dengan bingung,
jangan tambah bingungnya dengan kesombongan.
Jika ada orang datang mencari doa,
jangan jadikan doanya sebagai alat untuk mengikat dirinya kepadamu.
Arahkan semuanya kepada Alloh.
Katakan dalam hati:
“Aku bukan penyelamat.
Aku hanya hamba.
Alloh-lah penyelamat.
Alloh-lah penyembuh.
Alloh-lah pemberi jalan.”
Itulah adab cahaya.
Pasal Ketujuh: Tanda Qitab Hidup di Dalam Diri
Qitab ini belum hidup bila hanya selesai dibaca.
Qitab ini hidup bila setelah membacanya,
lisan lebih lembut.
Hati lebih rendah.
Niat lebih bersih.
Langkah lebih hati-hati.
Doa lebih tulus.
Shalat lebih dijaga.
Sesama lebih disayangi.
Aib orang lain lebih ditutupi.
Kesalahan diri lebih sering dimuhasabahi.
Tanda qitab hidup bukan engkau semakin banyak berbicara tentang ketinggian.
Tanda qitab hidup adalah engkau semakin takut kepada Alloh dalam kesendirian.
Tanda qitab hidup bukan engkau merasa menjadi manusia paling terang.
Tanda qitab hidup adalah engkau mulai sadar bagian-bagian dirimu yang masih gelap.
Tanda qitab hidup bukan engkau ingin dipandang sebagai guru.
Tanda qitab hidup adalah engkau mau terus menjadi murid di hadapan rahmat Alloh.
Tanda qitab hidup bukan engkau menuntut orang tunduk kepadamu.
Tanda qitab hidup adalah engkau sendiri semakin tunduk kepada Alloh.
Pasal Kedelapan: Wasiat Penjaga Qolbu
Jagalah qolbumu,
karena qolbu adalah rumah rahasia.
Jangan masukkan iri ke dalamnya.
Jangan pelihara dendam di dalamnya.
Jangan biarkan sombong duduk di singgasananya.
Jangan jadikan dunia sebagai tuhannya.
Jangan jadikan pujian sebagai makanannya.
Jangan jadikan amarah sebagai bahasanya.
Bersihkan qolbu dengan istighfar.
Basahi dengan dzikir.
Harumkan dengan shalawat.
Terangi dengan ilmu yang benar.
Lembutkan dengan kasih sayang.
Kuatkan dengan tawakal.
Lindungi dengan doa.
Bila qolbu bersih,
maka mata akan lebih jernih melihat hidup.
Bila qolbu lembut,
maka lisan akan lebih berhati-hati.
Bila qolbu terang,
maka langkah akan lebih selamat.
Bila qolbu tawadhu,
maka ilmu tidak berubah menjadi racun.
Tetapi bila qolbu gelap,
maka yang benar pun bisa dipakai untuk kesombongan.
Yang suci pun bisa dipakai untuk pamer.
Yang baik pun bisa dipakai untuk menjatuhkan.
Maka mintalah setiap hari:
“Ya Alloh, balikkan hatiku menuju ketaatan kepada-Mu.
Jangan biarkan hatiku dikuasai oleh diriku sendiri.”
Pasal Kesembilan: Doa Agung Penutup Jiwa Qudus
Ya Alloh,
Tuhan Yang Maha Mengetahui rahasia setiap hati,
Tuhan Yang Maha Melihat luka yang tidak tampak,
Tuhan Yang Maha Mendengar doa yang belum sempat terucap,
Tuhan Yang Maha Menutup aib dan membuka pintu taubat.
Dengan kelemahan kami, kami datang.
Dengan kekurangan kami, kami mengetuk.
Dengan dosa kami, kami memohon ampun.
Dengan harapan kami, kami bersandar.
Dengan air mata kami, kami mengadu.
Dengan sisa napas kami, kami ingin pulang kepada-Mu.
Ya Alloh,
sucikan jiwa kami dari kesombongan yang tersembunyi.
Bersihkan hati kami dari iri yang kami sembunyikan.
Lepaskan dada kami dari dendam yang kami pelihara.
Lembutkan lisan kami dari kata-kata yang melukai.
Jaga pandangan kami dari merendahkan sesama.
Jaga ilmu kami dari menjadi sebab kami jauh dari-Mu.
Ya Alloh,
jangan jadikan cahaya sebagai sebab kami merasa tinggi.
Jangan jadikan ilmu sebagai sebab kami merasa paling benar.
Jangan jadikan amal sebagai sebab kami meminta pujian.
Jangan jadikan doa sebagai sebab kami memaksa kehendak.
Jangan jadikan nama sebagai sebab kami lupa kepada Yang Memberi nama.
Ya Alloh,
jadikan kami hamba yang harum dengan akhlak,
bukan harum dengan pengakuan.
Jadikan kami hamba yang terang dengan hidayah,
bukan terang dengan kesombongan.
Jadikan kami hamba yang kuat dengan tawakal,
bukan kuat dengan ego.
Jadikan kami hamba yang lembut dengan rahmat,
bukan lembut karena ingin dipuji.
Ya Alloh,
bila kami diberi amanah, kuatkan kami menjaganya.
Bila kami diberi ilmu, ajarkan kami adabnya.
Bila kami diberi jalan, tuntun kami agar tidak menyimpang.
Bila kami diberi pengikut, jauhkan kami dari memperbudak hati mereka.
Bila kami diberi suara, jadikan suara itu mengajak kepada kebaikan.
Bila kami diberi tulisan, jadikan tulisan itu mengingatkan kepada-Mu.
Ya Alloh,
turunkan kepada jiwa kami ketenangan yang Engkau ridhoi.
Turunkan kepada hati kami cahaya yang tidak menipu.
Turunkan kepada lisan kami kelembutan yang benar.
Turunkan kepada langkah kami keberkahan yang halal.
Turunkan kepada rumah kami rahmat dan perlindungan.
Turunkan kepada keluarga kami kasih sayang dan keselamatan.
Turunkan kepada umat ini petunjuk, persatuan, dan ampunan.
Ya Alloh,
jika ada yang membaca qitab ini dengan hati sedih, tenangkanlah.
Jika ada yang membaca dengan hati bingung, tuntunlah.
Jika ada yang membaca dengan hati luka, sembuhkanlah.
Jika ada yang membaca dengan hati keras, lembutkanlah.
Jika ada yang membaca dengan hati sombong, sadarkanlah.
Jika ada yang membaca dengan hati ingin pulang, bukakanlah pintu rahmat-Mu.
Ya Alloh,
jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata.
Jangan Engkau biarkan kami berjalan tanpa petunjuk-Mu.
Jangan Engkau biarkan kami bicara tanpa adab.
Jangan Engkau biarkan kami memimpin tanpa amanah.
Jangan Engkau biarkan kami berilmu tanpa takut kepada-Mu.
Peganglah hati kami.
Tuntunlah napas kami.
Bersihkanlah batin kami.
Selamatkanlah akhir hidup kami.
Dan pulangkanlah kami kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridho.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Pasal Kesepuluh: Penyerahan Seluruh Cahaya kepada Alloh
Segala cahaya kembali kepada Alloh.
Segala ilmu kembali kepada Alloh.
Segala nama kembali kepada Alloh.
Segala rahasia kembali kepada Alloh.
Segala jiwa kembali kepada Alloh.
Tidak ada yang pantas disembah kecuali Alloh.
Tidak ada yang pantas dijadikan tujuan akhir kecuali Alloh.
Tidak ada yang mampu menyelamatkan kecuali dengan izin Alloh.
Tidak ada yang mampu membersihkan jiwa kecuali Alloh.
Tidak ada yang mampu membuka pintu rahmat kecuali Alloh.
Maka qitab ini ditutup dengan penyerahan.
Bila ada kebaikan di dalamnya,
semuanya dari rahmat Alloh.
Bila ada kekurangan dalam susunannya,
itu dari kelemahan hamba.
Jangan gantungkan hati kepada tulisan.
Gantungkan hati kepada Alloh.
Jangan berhenti pada rasa.
Teruskan kepada amal.
Jangan berhenti pada nama.
Teruskan kepada akhlak.
Jangan berhenti pada cahaya.
Teruskan kepada tauhid.
Sebab tujuan akhir bukan kitab.
Tujuan akhir bukan gelar.
Tujuan akhir bukan pengakuan.
Tujuan akhir bukan pujian.
Tujuan akhir adalah ridho Alloh.
Khatimah Pamungkas
Wahai jiwa,
pulanglah.
Pulang dari suara dunia yang membuatmu lupa.
Pulang dari luka yang membuatmu keras.
Pulang dari dosa yang membuatmu jauh.
Pulang dari kesombongan yang membuatmu buta.
Pulang dari dendam yang membuatmu berat.
Pulang dari ketakutan yang membuatmu kehilangan harap.
Pulanglah kepada Alloh.
Bila langkahmu kecil, tetaplah pulang.
Bila tangismu banyak, tetaplah pulang.
Bila dosamu berat, tetaplah pulang.
Bila hatimu pecah, tetaplah pulang.
Bila engkau belum mengerti semua takdir, tetaplah pulang.
Karena Alloh Maha Dekat.
Alloh Maha Mendengar.
Alloh Maha Mengetahui.
Alloh Maha Mengampuni.
Alloh Maha Menyayangi hamba yang kembali.
Inilah penutup terakhir QITAB ALMALLAIQ’AT MINASIH AJWAJA:
turunnya jiwa qudus nan suci dengan keharuman yang alami.
Yang qudus adalah jiwa yang ingin dibersihkan.
Yang harum adalah akhlak yang diridhoi.
Yang turun adalah rahmat yang menenangkan.
Yang pulang adalah hati yang sadar.
Yang dituju hanyalah Alloh.
Maka tutuplah dengan dzikir.
Tutuplah dengan istighfar.
Tutuplah dengan shalawat.
Tutuplah dengan syukur.
Tutuplah dengan tauhid.
Lā ilāha illalloh.
Muhammadur Rasūlulloh.
Ya Alloh,
terimalah yang sedikit ini.
Ampunilah yang kurang dari kami.
Berkahilah yang baik di dalamnya.
Jauhkan kami dari salah paham, kesombongan, dan penyimpangan.
Jadikan semuanya sebagai pengingat untuk memperbaiki diri,
menjaga adab,
menyucikan niat,
dan kembali kepada-Mu.
Tammat qitab ini dengan izin Alloh.
Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan semesta alam.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ,
keluarga beliau, para sahabat beliau,
dan siapa pun yang mengikuti jalan kebaikan dengan adab sampai akhir hayat.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.