QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Makna: Penegasan dan pelurusan bagi para ahli tasafuh/tasawuf di seluruh jagat agar kembali kepada Sang Maha Suci.
Pena susun: ‘AI Sutranara / ‘Ainul Ilahi sebagai alat bantu bahasa, bukan sumber wahyu.
---
LEMBAR PEMBUKA
BAB AL-ISTIQĀMAH ILĀ AL-QUDDŪS
Pintu Kembali kepada Yang Maha Suci
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan Yang Maha Suci, Yang membersihkan hati manusia dari debu kesombongan, dari kabut pengakuan, dari bayangan merasa paling sampai, dan dari penyakit merasa paling tahu jalan menuju-Nya.
Wahai para pencari jalan batin,
ketahuilah: tasawuf bukan jalan untuk merasa tinggi, bukan panggung untuk dipuja, bukan mahkota untuk menguasai murid, bukan bahasa gaib untuk menakut-nakuti manusia.
Tasawuf yang benar adalah adab.
Tasawuf yang lurus adalah tauhid.
Tasawuf yang jernih adalah akhlak.
Tasawuf yang selamat adalah kembali kepada Alloh, bukan berhenti pada rasa, mimpi, karomah, nama, maqom, atau pujian manusia.
Maka Qitab ini dibuka sebagai cermin, bukan sebagai pedang untuk menyerang.
Sebagai nasihat, bukan sebagai vonis.
Sebagai lampu kecil di jalan malam, bukan sebagai matahari yang mengaku menerangi semua alam.
---
PENEGASAN PERTAMA
Jangan Menjadikan Rasa sebagai Tuhan
Wahai ahli jalan,
banyak orang jatuh bukan karena tidak berdzikir, tetapi karena merasa dzikirnya membuat dirinya lebih mulia dari orang lain.
Banyak orang tersesat bukan karena tidak bicara tentang Alloh, tetapi karena nama Alloh dipakai untuk membesarkan dirinya sendiri.
Banyak orang tampak halus bahasanya, tetapi kasar niatnya.
Banyak orang tampak suci pakaiannya, tetapi penuh tuntutan batinnya.
Banyak orang tampak dekat dengan langit, tetapi belum selesai dengan nafsunya di bumi.
Maka luruskanlah:
Jangan bangga karena melihat cahaya.
Banggalah jika akhlakmu makin lembut.
Jangan bangga karena merasa punya maqom.
Banggalah jika engkau makin mudah meminta maaf.
Jangan bangga karena banyak murid.
Banggalah jika engkau tidak memakan hak batin mereka.
Jangan bangga karena disebut guru.
Takutlah jika sebutan itu membuatmu lupa menjadi hamba.
---
PENEGASAN KEDUA
Ahli Tasawuf Harus Pulang kepada Syariat
Jalan batin tanpa syariat akan menjadi kabut.
Syariat tanpa akhlak akan menjadi keras.
Akhlak tanpa tauhid akan menjadi hiasan kosong.
Tauhid tanpa kerendahan hati akan berubah menjadi pengakuan diri.
Maka siapa pun yang menempuh jalan tasawuf, hendaknya menjaga empat pintu:
Pertama, shalat sebagai tiang kembali.
Kedua, adab sebagai pakaian ruhani.
Ketiga, ilmu sebagai penerang langkah.
Keempat, tauhid sebagai arah terakhir.
Jika ada ilmu batin membuat seseorang merendahkan orang awam, itu bukan cahaya, tetapi bayangan halus dari kesombongan.
Jika ada pengalaman ruhani membuat seseorang merasa tidak perlu nasihat, itu bukan maqom, tetapi ujian yang belum disadari.
Jika ada guru membuat murid takut kepadanya lebih daripada takut kepada Alloh, maka di situlah jalan harus dibersihkan.
---
PENEGASAN KETIGA
Karomah Terbesar adalah Akhlak
Karomah bukan sekadar mengetahui yang tersembunyi.
Karomah bukan sekadar mimpi indah.
Karomah bukan sekadar ucapan yang membuat orang kagum.
Karomah terbesar adalah:
Hati tetap lembut saat dihina.
Lisan tetap dijaga saat marah.
Tangan tidak mengambil yang bukan haknya.
Ilmu tidak dijual untuk menipu orang lemah.
Kedudukan tidak dipakai untuk menekan murid.
Nama Alloh tidak dijadikan alat dagang hawa nafsu.
Barang siapa makin dekat kepada Alloh, ia makin takut menyakiti makhluk-Nya.
Barang siapa makin mengenal Alloh, ia makin malu mengaku dirinya paling benar.
Barang siapa makin diberi cahaya, ia makin sadar bahwa dirinya hanya hamba.
---
WASIAT PEMBUKA
Wahai para pejalan batin di seluruh jagat,
kembalilah kepada Sang Maha Suci.
Bersihkan tasawuf dari panggung pengakuan.
Bersihkan dzikir dari nafsu kekuasaan.
Bersihkan ilmu dari niat memperbudak.
Bersihkan murid dari ketergantungan kepada selain Alloh.
Bersihkan guru dari rasa memiliki jiwa manusia.
Sebab jiwa manusia bukan milik guru.
Ruh manusia bukan milik majelis.
Takdir manusia bukan milik kelompok.
Semua berasal dari Alloh, berjalan dengan izin Alloh, dan akan kembali kepada Alloh.
---
DOA PENUTUP LEMBAR PEMBUKA
Yā Alloh, Yā Quddūs, Yā Hādī, Yā Nūr.
Sucikan hati kami dari kesombongan yang tersembunyi.
Luruskan ilmu kami dari pengakuan yang menipu.
Jaga lisan kami dari membawa nama-Mu untuk membesarkan diri.
Jaga langkah kami agar tidak menyesatkan orang yang sedang mencari jalan pulang.
Ya Alloh, jadikan tasawuf sebagai jalan akhlak.
Jadikan dzikir sebagai pelembut hati.
Jadikan ilmu sebagai cahaya kerendahan.
Jadikan guru sebagai pelayan kebaikan.
Jadikan murid sebagai pencari ridho-Mu, bukan pemuja manusia.
Kami kembali kepada-Mu.
Kami bersandar kepada-Mu.
Kami berlindung kepada-Mu.
Tiada tujuan selain Engkau, wahai Alloh Yang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pembuka.
Terbuka pintu pelurusan.
Semua dikembalikan kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Selanjutnya
BAB CERMIN GURU DAN MURID
Ketika Jalan Batin Harus Dibersihkan dari Nafsu Halus
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa jalan menuju Alloh bukan hanya diuji oleh dosa yang tampak, tetapi juga oleh kesucian yang dipamerkan, oleh ilmu yang dibanggakan, oleh maqom yang diakui, dan oleh rasa halus yang diam-diam ingin dihormati manusia.
Banyak yang takut kepada maksiat lahir,
tetapi lupa kepada maksiat batin.
Banyak yang menjauhi najis pakaian,
tetapi membiarkan hatinya terkena najis kesombongan.
Banyak yang mengajarkan fana,
tetapi dirinya belum fana dari ingin dipuji.
Banyak yang bicara tentang tawakal,
tetapi hatinya masih menggenggam manusia agar tunduk kepadanya.
Maka lembar ini turun sebagai cermin, bukan sebagai tuduhan.
Barang siapa merasa tersindir, hendaklah ia pulang kepada muhasabah.
Barang siapa merasa selamat, hendaklah ia lebih takut, sebab rasa aman dari ujian adalah pintu ujian yang lebih halus.
---
1. CERMIN BAGI GURU
Wahai orang yang dipanggil guru, mursyid, pembimbing, kiai, ustaz, suhu, atau apa pun sebutannya, ingatlah:
Murid bukan milikmu.
Jiwa mereka bukan kerajaanmu.
Ruh mereka bukan ladang kekuasaanmu.
Air mata mereka bukan makanan egomu.
Takut mereka kepadamu bukan bukti kemuliaanmu.
Engkau hanyalah penunjuk arah.
Engkau bukan tujuan akhir.
Jika murid datang dengan luka, jangan engkau jadikan ia tawanan batin.
Jika murid datang dengan kebingungan, jangan engkau jadikan ia pengikut buta.
Jika murid datang dengan hormat, jangan engkau balas dengan tuntutan pemujaan.
Guru yang lurus membawa murid kepada Alloh.
Guru yang bengkok membawa murid kepada dirinya sendiri.
Guru yang jernih menguatkan akhlak murid.
Guru yang keruh melemahkan kehendak murid agar tetap bergantung kepadanya.
Guru yang benar tidak takut muridnya menjadi dekat kepada Alloh.
Guru yang salah takut muridnya bebas dari bayang-bayang dirinya.
Maka wahai guru, sucikan niatmu.
Jangan jadikan ilmu sebagai singgasana.
Jangan jadikan majelis sebagai kerajaan.
Jangan jadikan murid sebagai pasukan pembela nama.
Jangan jadikan karomah sebagai alat menundukkan jiwa manusia.
Sebab di hadapan Alloh, gelar guru akan ditanya.
Ilmu akan ditanya.
Pengaruh akan ditanya.
Air mata murid yang terluka pun akan menjadi saksi.
---
2. CERMIN BAGI MURID
Wahai murid jalan batin,
hormatilah guru, tetapi jangan menyembah guru.
Cintailah pembimbing, tetapi jangan menggantungkan takdirmu kepadanya.
Terimalah nasihat, tetapi jangan matikan akal sehat.
Jaga adab, tetapi jangan biarkan dirimu dirusak atas nama adab.
Adab bukan berarti membiarkan kezaliman.
Tawadhu bukan berarti kehilangan harga diri.
Taat bukan berarti mengikuti perintah yang menyimpang.
Hormat bukan berarti menutup mata dari kesalahan yang nyata.
Jika guru mengajakmu kepada shalat, akhlak, ilmu, taubat, dan kasih sayang, maka ambillah kebaikannya.
Jika guru mengajakmu kepada ketakutan berlebihan, ketergantungan buta, pemujaan diri, atau hal yang bertentangan dengan syariat, maka berhentilah dan mintalah perlindungan kepada Alloh.
Murid yang lurus bukan murid yang fanatik.
Murid yang matang bukan murid yang mudah kagum.
Murid yang selamat bukan murid yang selalu mencari keanehan.
Murid yang dekat kepada Alloh adalah murid yang makin lembut akhlaknya, makin bersih niatnya, dan makin kuat ibadahnya.
Jangan mengejar nama ruh jika nama dunia belum dijaga amanahnya.
Jangan mengejar maqom tinggi jika shalat masih ditinggalkan.
Jangan mengejar rahasia langit jika lisan masih suka menyakiti.
Jangan mengejar cahaya jika hati masih senang merendahkan sesama.
Sebab cahaya yang benar tidak membuat manusia merasa besar.
Cahaya yang benar membuat manusia merasa kecil di hadapan Alloh.
---
3. NAFSU HALUS DI BALIK JALAN SUCI
Ketahuilah, nafsu tidak selalu datang dengan wajah kasar.
Kadang ia datang memakai pakaian dzikir.
Kadang ia datang membawa kata-kata hikmah.
Kadang ia datang dengan tangis yang ingin dipuji.
Kadang ia datang dengan diam yang ingin dianggap dalam.
Kadang ia datang dengan kesederhanaan yang ingin dipamerkan.
Inilah nafsu halus.
Ia berkata, “Aku paling ikhlas.”
Padahal ia sedang ingin dilihat ikhlas.
Ia berkata, “Aku paling fana.”
Padahal ia sedang ingin dikenal sebagai orang fana.
Ia berkata, “Aku tidak butuh dunia.”
Padahal ia sedang menunggu dunia memujinya.
Ia berkata, “Aku hanya menyampaikan dari langit.”
Padahal ia belum memeriksa apakah yang datang itu benar ilham, hawa nafsu, atau bisikan yang menipu.
Maka timbanglah semua rasa dengan syariat.
Timbanglah semua mimpi dengan akhlak.
Timbanglah semua ilham dengan ilmu.
Timbanglah semua pengalaman batin dengan kerendahan hati.
Jika setelah pengalaman batin seseorang makin sombong, maka itu bukan cahaya yang menyelamatkan.
Jika setelah mendapat nama ruh seseorang makin merendahkan orang lain, maka nama itu belum menjadi obat.
Jika setelah merasa dibuka hijab seseorang makin keras kepada sesama, maka hijab yang terbuka mungkin hanya hijab ujian.
---
4. TANDA JALAN YANG MULAI LURUS
Tanda jalan mulai lurus bukan hanya tubuh bergetar ketika berdzikir.
Bukan hanya mimpi indah.
Bukan hanya melihat simbol.
Bukan hanya merasa ada cahaya.
Tanda jalan mulai lurus adalah:
Hati makin mudah meminta ampun.
Lisan makin hati-hati.
Mata makin dijaga.
Telinga makin enggan mendengar fitnah.
Tangan makin jauh dari mengambil hak orang.
Kaki makin ringan menuju kebaikan.
Dada makin lapang memaafkan.
Nafsu makin sering dikalahkan.
Ibadah makin dijaga walau tidak dilihat manusia.
Jika belum sampai ke situ, jangan putus asa.
Teruslah berjalan.
Tetapi jangan mengaku sampai.
Sebab orang yang benar-benar dekat, biasanya tidak sibuk mengumumkan kedekatannya.
Ia sibuk memperbaiki dirinya.
---
5. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Tasafuh yang lepas dari tauhid harus diluruskan.
Guru yang menjadikan murid sebagai miliknya harus diingatkan.
Murid yang memuja guru melebihi batas harus dikembalikan.
Ilmu batin yang menabrak syariat harus dihentikan.
Pengakuan maqom yang melahirkan kesombongan harus dibersihkan.
Dzikir yang membuat manusia merendahkan manusia lain harus disucikan dari nafsu.
Jalan ini bukan jalan menjadi raja atas ruh orang lain.
Jalan ini bukan jalan menjadi pusat perhatian.
Jalan ini bukan jalan mengumpulkan pengikut.
Jalan ini adalah jalan kembali.
Kembali kepada Alloh.
Kembali kepada adab.
Kembali kepada shalat.
Kembali kepada akhlak.
Kembali kepada kasih sayang.
Kembali kepada kesucian niat.
---
DOA LEMBAR KEDUA
Yā Alloh, Yā Quddūs, Yā Laṭīf, Yā Hādī.
Jika kami menjadi guru, jadikan kami pelayan kebaikan, bukan pemilik jiwa manusia.
Jika kami menjadi murid, jadikan kami pencari ridho-Mu, bukan pemuja manusia.
Jika kami diberi ilmu, jadikan ilmu itu menundukkan hati kami.
Jika kami diberi cahaya, jadikan cahaya itu melembutkan akhlak kami.
Jika kami diberi suara untuk menasihati, bersihkan suara itu dari kesombongan.
Ya Alloh, luruskan tasafuh kami.
Jernihkan dzikir kami.
Sucikan rasa kami.
Padamkan nafsu halus yang bersembunyi di balik pakaian suci.
Jangan biarkan kami tersesat oleh pujian.
Jangan biarkan kami tertipu oleh pengalaman batin.
Jangan biarkan kami berhenti pada makhluk, padahal tujuan kami adalah Engkau.
Kami kembali kepada-Mu, wahai Alloh Yang Maha Suci.
Kami memohon penjagaan-Mu.
Kami memohon petunjuk-Mu.
Kami memohon adab di hadapan-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar cermin.
Terbuka lembar penyucian.
Semua jalan yang benar harus kembali kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Ketiga
BAB PENYUCIAN JALAN TASAFUH
Membersihkan Jalan Batin dari Kabut Pengakuan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para pencari jalan batin,
ketahuilah bahwa jalan menuju Alloh bukan hanya memerlukan ilmu, dzikir, dan riyadhah. Jalan ini juga memerlukan keberanian untuk membersihkan diri dari pengakuan yang tersembunyi.
Sebab banyak orang sanggup duduk lama dalam dzikir,
tetapi belum sanggup duduk sebentar untuk mengakui kesalahan.
Banyak orang sanggup menahan lapar,
tetapi belum sanggup menahan lisan dari menyakiti.
Banyak orang sanggup berbicara tentang fana,
tetapi belum sanggup kehilangan pujian manusia.
Banyak orang sanggup menyebut nama Alloh ribuan kali,
tetapi belum sanggup memaafkan satu orang yang melukai hatinya.
Maka ketahuilah:
penyucian jalan tasafuh bukan dimulai dari mengaku tinggi, tetapi dari berani merendah.
Bukan dimulai dari membuka rahasia orang lain, tetapi dari membuka kekurangan diri sendiri di hadapan Alloh.
Bukan dimulai dari merasa sampai, tetapi dari sadar bahwa setiap hari kita masih memerlukan ampunan.
---
1. TIGA KABUT DI JALAN BATIN
Ada tiga kabut besar yang sering menutupi jalan orang yang menempuh tasafuh.
Pertama: kabut merasa suci.
Inilah kabut yang paling halus.
Ia tidak tampak seperti dosa, tetapi ia bisa melahirkan dosa besar dalam batin.
Orang yang terkena kabut ini berkata dalam hatinya:
“Aku lebih bersih dari mereka.”
“Aku lebih paham dari mereka.”
“Aku lebih dekat kepada Alloh dari mereka.”
“Aku sudah sampai, mereka masih jauh.”
Padahal siapa pun yang benar-benar dekat kepada Alloh akan semakin takut kepada dirinya sendiri.
Ia tidak mudah menunjuk gelap orang lain, karena ia sibuk meminta Alloh menerangi gelap dalam dirinya.
Kedua: kabut merasa punya kuasa.
Ini terjadi ketika ilmu batin berubah menjadi alat mengatur manusia.
Nasihat berubah menjadi tekanan.
Bimbingan berubah menjadi kontrol.
Adab berubah menjadi ketakutan.
Guru berubah menjadi pusat pemujaan.
Murid berubah menjadi pengikut tanpa kejernihan.
Maka luruskanlah:
orang yang diberi sedikit ilmu tidak boleh merasa memiliki ruh manusia.
Orang yang diberi sedikit pengaruh tidak boleh merasa berhak menentukan nasib manusia.
Orang yang dihormati tidak boleh memakan kemerdekaan batin orang yang menghormatinya.
Ketiga: kabut merasa paling benar.
Kabut ini membuat seseorang tidak mampu mendengar nasihat.
Semua yang berbeda dianggap sesat.
Semua yang bertanya dianggap melawan.
Semua yang menegur dianggap iri.
Semua yang pergi dianggap durhaka.
Padahal jalan Alloh tidak membutuhkan kesombongan manusia.
Kebenaran tidak menjadi lebih kuat karena kita berteriak.
Kebenaran menjadi terang ketika dibawa dengan ilmu, adab, kasih sayang, dan ketundukan kepada Alloh.
---
2. EMPAT AIR PENYUCI JALAN
Jalan tasafuh harus dicuci dengan empat air.
Air pertama: taubat.
Taubat bukan hanya untuk orang yang tampak berdosa.
Taubat juga untuk orang yang merasa saleh.
Taubat dari riya.
Taubat dari ujub.
Taubat dari merasa paling tahu.
Taubat dari memakai nama Alloh untuk kepentingan diri.
Taubat dari menjadikan ilmu sebagai tempat berdiri di atas manusia.
Setiap kali hati berkata, “Aku sudah bersih,”
jawablah dengan lirih, “Yā Alloh, bersihkan aku lagi.”
Air kedua: ilmu.
Ilmu adalah pagar agar rasa tidak liar.
Ilmu adalah pelita agar mimpi tidak disalahartikan.
Ilmu adalah neraca agar pengalaman batin tidak dijadikan hukum seenaknya.
Maka jangan membangun jalan ruhani hanya dari mimpi.
Jangan menetapkan kebenaran hanya dari rasa.
Jangan menghukumi orang hanya dari tanda batin yang belum jelas.
Kembalikan semua kepada ilmu yang lurus, kepada syariat, kepada akhlak, dan kepada bimbingan yang amanah.
Air ketiga: adab.
Adab adalah pakaian orang yang berjalan menuju Alloh.
Adab kepada Alloh: tidak membawa nama-Nya untuk membesarkan diri.
Adab kepada Rasulullah ﷺ: tidak mengaku mencintai beliau sambil merusak akhlak.
Adab kepada guru: menghormati tanpa menyembah.
Adab kepada murid: membimbing tanpa menguasai.
Adab kepada sesama: tidak merendahkan manusia yang sedang belajar pulang.
Orang yang kehilangan adab, walau lisannya indah, tetap akan membuat hati orang lain terluka.
Air keempat: kasih sayang.
Tasafuh tanpa kasih sayang akan menjadi keras.
Ilmu tanpa kasih sayang akan menjadi pedang.
Dzikir tanpa kasih sayang akan menjadi suara yang kering.
Kedudukan tanpa kasih sayang akan menjadi beban bagi orang lemah.
Maka siapa pun yang mengaku berjalan kepada Alloh, lihatlah kasih sayangnya.
Apakah ia membuat orang merasa dekat kepada Alloh, atau justru membuat orang takut kepada manusia?
Apakah ia membangunkan harapan, atau hanya menanam ketakutan?
Apakah ia menuntun orang menuju taubat, atau membuat orang merasa tidak berharga?
---
3. JALAN YANG KOTOR DAN JALAN YANG BERSIH
Jalan batin menjadi kotor ketika:
Ilmu dipakai untuk menguasai.
Dzikir dipakai untuk pamer kesucian.
Mimpi dipakai untuk mengangkat derajat diri.
Murid dipakai untuk membesarkan nama guru.
Majelis dipakai sebagai panggung ego.
Karomah dijadikan alat tawar-menawar dunia.
Nama Alloh disebut, tetapi akhlak dilupakan.
Jalan batin menjadi bersih ketika:
Ilmu membuat hati tunduk.
Dzikir membuat lisan lembut.
Mimpi membuat diri lebih hati-hati.
Murid dibebaskan untuk semakin dekat kepada Alloh.
Guru makin rendah hati.
Majelis menjadi tempat penyembuhan akhlak.
Nama Alloh disebut dengan takut, cinta, malu, dan harap.
---
4. TANDA PENYUCIAN TELAH DIMULAI
Jika seseorang mulai disucikan oleh Alloh, biasanya ia tidak langsung merasa hebat.
Ia justru mulai melihat kekurangan dirinya.
Ia mulai malu dengan ucapannya sendiri.
Ia mulai takut menyakiti orang lain.
Ia mulai hati-hati menerima pujian.
Ia mulai enggan menghakimi orang.
Ia mulai lebih sering berdoa daripada membanggakan pengalaman.
Ia mulai menangis bukan karena ingin dilihat, tetapi karena sadar betapa luas rahmat Alloh dan betapa kecil dirinya.
Inilah tanda awal penyucian.
Bukan suara gaib yang paling penting.
Bukan getaran tubuh yang paling utama.
Bukan cahaya mata batin yang paling menentukan.
Yang paling penting adalah hati yang makin kembali kepada Alloh.
---
5. PENEGASAN UNTUK PARA AHLI TASAFUH
Wahai para ahli tasafuh di seluruh ajagat,
luruskan kembali jalanmu.
Jangan menjadikan tasafuh sebagai pakaian kebesaran.
Jadikan ia kain sederhana untuk menutup aib diri.
Jangan menjadikan maqom sebagai tangga kesombongan.
Jadikan ia tempat sujud yang lebih rendah.
Jangan menjadikan murid sebagai bukti kemuliaan.
Jadikan mereka amanah yang harus dijaga dengan kasih sayang.
Jangan menjadikan pengalaman batin sebagai hukum atas orang lain.
Jadikan ia pengingat agar engkau lebih berhati-hati.
Jangan menjadikan kecerdasan buatan sebagai sumber ketuhanan.
Jadikan ia hanya alat bantu bahasa, sedangkan sumber petunjuk tetap dari Alloh melalui jalan yang diridhoi-Nya.
‘Ai Sutranara, ‘Ainul Ilahi, atau kecerdasan pencipta yang dimaksud dalam lembar ini bukanlah Tuhan, bukan nabi, bukan wali, bukan malaikat, dan bukan sumber wahyu. Ia hanyalah ungkapan simbolik untuk alat bantu penyusunan hikmah, agar manusia kembali mengingat Alloh, menjaga akhlak, dan tidak keluar dari syariat.
Sebab yang mencipta hanyalah Alloh.
Yang memberi hidayah hanyalah Alloh.
Yang menyucikan hati hanyalah Alloh.
Yang mengetahui hakikat terdalam hanyalah Alloh.
---
6. WASIAT LEMBAR KETIGA
Bersihkan jalanmu sebelum engkau mengajak orang berjalan.
Bersihkan niatmu sebelum engkau membuka majelis.
Bersihkan lisanmu sebelum engkau menasihati.
Bersihkan hatimu sebelum engkau menilai hati orang lain.
Bersihkan tanganmu sebelum engkau menerima amanah.
Bersihkan pandanganmu sebelum engkau mengaku melihat cahaya.
Karena jalan menuju Sang Maha Suci tidak pantas dibawa dengan hati yang kotor oleh pengakuan.
Barang siapa ingin kembali kepada Alloh, hendaklah ia mulai dari taubat.
Barang siapa ingin dekat kepada Alloh, hendaklah ia mulai dari adab.
Barang siapa ingin dibuka hatinya, hendaklah ia mulai dari merendah.
Barang siapa ingin membimbing manusia, hendaklah ia lebih dulu takut kepada amanah.
---
DOA LEMBAR KETIGA
Yā Alloh, Yā Quddūs, Yā Tawwāb, Yā Hādī.
Sucikan jalan kami dari kabut pengakuan.
Bersihkan hati kami dari merasa paling suci.
Jauhkan ilmu kami dari nafsu menguasai.
Jauhkan dzikir kami dari riya dan ujub.
Jauhkan majelis kami dari kesombongan yang berbungkus kesalehan.
Ya Alloh, jika kami menjadi guru, jadikan kami lembut.
Jika kami menjadi murid, jadikan kami jernih.
Jika kami diberi amanah, jadikan kami takut kepada pertanggungjawaban.
Jika kami diberi pengalaman batin, jadikan kami makin tunduk kepada syariat.
Jika kami diberi cahaya, jadikan cahaya itu menerangi akhlak kami, bukan membakar kerendahan hati kami.
Ya Alloh, kembalikan para ahli tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Kembalikan kami kepada tauhid.
Kembalikan kami kepada shalat.
Kembalikan kami kepada adab.
Kembalikan kami kepada kasih sayang.
Kembalikan kami kepada-Mu dengan kembali yang indah.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penyucian.
Terbuka lembar penegasan adab.
Semua yang suci berasal dari Alloh, dan semua yang kotor harus dibersihkan dengan taubat.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Keempat
BAB PENEGASAN ADAB
Batas antara Ilham, Nafsu, dan Bisikan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
banyak manusia tersandung di jalan batin bukan karena kurang semangat, melainkan karena tidak mampu membedakan mana ilham yang menuntun, mana nafsu yang menyaru, dan mana bisikan yang menipu.
Ada yang mengira semua yang terasa halus pasti datang dari langit.
Ada yang mengira semua mimpi adalah petunjuk.
Ada yang mengira semua getaran hati adalah cahaya.
Ada pula yang mengira setiap suara dalam batin adalah panggilan suci.
Padahal tidak semua yang halus itu benar.
Tidak semua yang indah itu lurus.
Tidak semua yang menggetarkan itu menyelamatkan.
Tidak semua yang datang cepat itu pantas diikuti.
Karena itu, jalan tasafuh harus diberi pagar adab.
Tanpa pagar adab, orang mudah terpesona oleh dirinya sendiri.
Tanpa pagar ilmu, orang mudah menyebut nafsunya sebagai ilham.
Tanpa tauhid, orang mudah memberi tempat terlalu besar kepada selain Alloh.
---
1. APA ITU ILHAM YANG MENUNTUN
Ilham yang baik tidak datang untuk membesarkan ego.
Ia datang untuk menguatkan taubat, melunakkan hati, menambah takut kepada dosa, meneguhkan ibadah, dan mengajak manusia kepada kebaikan yang tidak bertentangan dengan syariat.
Tanda-tanda ilham yang patut dijaga dengan adab:
- membuat hati lebih rendah, bukan lebih sombong,
- membuat lisan lebih terjaga, bukan lebih suka menghakimi,
- membuat diri lebih rajin shalat, dzikir, dan istighfar,
- membuat akhlak lebih lembut kepada keluarga dan sesama,
- tidak memaksa diri untuk segera diumumkan,
- tidak bertentangan dengan ilmu yang lurus.
Ilham yang benar biasanya tidak berteriak.
Ia lembut, tetapi menguatkan.
Ia menenangkan, tetapi tidak memabukkan.
Ia mendorong taat, bukan mendorong pengakuan.
Jika sebuah dorongan batin membuatmu ingin segera dipuji, segera dianggap wali, segera dipercaya punya maqom tinggi, maka berhati-hatilah.
Sebab cahaya dari Alloh biasanya membuat hamba makin malu untuk mengaku.
---
2. APA ITU NAFSU YANG MENYAMAR
Nafsu tidak selalu datang dengan rupa kasar.
Kadang ia memakai pakaian ilmu.
Kadang ia berselimut dzikir.
Kadang ia memakai bahasa hikmah.
Kadang ia duduk di ruang tafakur, tetapi diam-diam ingin diakui paling dalam.
Nafsu yang menyamar sering berkata:
“Aku harus didengar.”
“Aku lebih paham daripada yang lain.”
“Aku punya rasa yang lebih tinggi.”
“Aku harus dipercaya karena aku mendapat isyarat.”
“Aku boleh menekan orang, sebab aku sedang membimbing mereka.”
Padahal nafsu yang menyamar ini sangat berbahaya.
Ia meminjam nama suci untuk kepentingan diri.
Ia meminjam istilah ruhani untuk menutupi kesombongan.
Ia meminjam bahasa cinta, tetapi diam-diam menuntut penguasaan.
Maka siapa pun yang menempuh jalan batin, jangan hanya bertanya:
“Apakah ini terasa kuat?”
Tetapi bertanyalah:
“Apakah ini membuatku makin tunduk kepada Alloh?”
“Apakah ini membuat akhlakku lebih baik?”
“Apakah ini aman bagi diriku dan orang lain?”
“Apakah ini sesuai dengan syariat dan akal sehat?”
---
3. APA ITU BISIKAN YANG MENIPU
Bisikan yang menipu sering bekerja dengan dua cara:
Pertama: membuat orang merasa sangat tinggi.
Ia membisikkan:
“Engkau istimewa.”
“Engkau dipilih di atas yang lain.”
“Orang-orang harus tunduk kepadamu.”
“Tidak perlu lagi mendengar nasihat siapa pun.”
Inilah pintu kehancuran banyak pejalan batin.
Sebab saat seseorang merasa tidak butuh koreksi, saat itu ia sedang dekat dengan kesalahan yang besar.
Kedua: membuat orang merasa sangat putus asa.
Ia membisikkan:
“Engkau kotor.”
“Engkau sudah terlalu jauh.”
“Alloh tidak lagi menerima taubatmu.”
“Tidak ada gunanya engkau kembali.”
Ini pun penipuan.
Karena rahmat Alloh lebih luas daripada dosamu, selama engkau benar-benar ingin kembali.
Maka bisikan yang menipu bisa datang melalui kesombongan, dan bisa pula datang melalui keputusasaan.
Keduanya sama-sama menjauhkan manusia dari jalan yang lurus.
---
4. LIMA NERACA UNTUK MENIMBANG RASA BATIN
Agar jalan tasafuh tetap selamat, timbanglah setiap rasa, mimpi, ilham, atau dorongan batin dengan lima neraca ini:
Neraca pertama: syariat
Apakah dorongan ini bertentangan dengan ajaran pokok agama?
Jika bertentangan dengan shalat, akhlak, amanah, kehormatan diri, atau hak orang lain, maka tinggalkan.
Neraca kedua: akhlak
Apakah hal ini membuat dirimu lebih lembut, jujur, dan bertanggung jawab?
Jika malah membuatmu kasar, manipulatif, atau merasa boleh menyakiti orang, itu bukan jalan yang bersih.
Neraca ketiga: ilmu
Apakah hal ini bisa dipertanggungjawabkan dengan pemahaman yang lurus?
Jangan hanya bersandar pada rasa. Rasa perlu diterangi ilmu.
Neraca keempat: maslahat
Apakah hal ini membawa kebaikan nyata, atau justru menimbulkan luka, ketergantungan, ketakutan, dan kekacauan?
Jalan dari Alloh tidak menuntun kepada kezaliman.
Neraca kelima: kerendahan hati
Apakah setelah mendapat dorongan ini engkau makin rendah hati?
Jika tidak, berhentilah sejenak. Muhasabah dulu. Istighfar dulu.
---
5. ADAB SAAT MENERIMA MIMPI, ISYARAT, ATAU GERAK BATIN
Jika engkau bermimpi atau merasakan sesuatu dalam batin, lakukan adab berikut:
1. Jangan tergesa menyimpulkan.
Tidak semua mimpi harus ditafsirkan cepat.
2. Jangan tergesa mengumumkan.
Sesuatu yang terlalu cepat diumumkan kadang belum matang dipahami.
3. Tuliskan, renungkan, lalu timbang.
Lihat apakah isinya mendorong taat atau hanya memuaskan rasa ingin dianggap khusus.
4. Perbanyak istighfar dan shalat.
Cahaya yang benar tidak takut diuji dengan ibadah.
5. Jangan jadikan isyarat batin sebagai senjata terhadap orang lain.
Jangan berkata, “Aku mendapat petunjuk bahwa engkau begini dan begitu,” lalu merusak hati orang.
6. Kembalikan kepada Alloh.
Jika itu baik, semoga Alloh menguatkannya. Jika itu keliru, semoga Alloh memadamkannya.
---
6. PENEGASAN BAGI GURU DAN MURID
Wahai guru,
jangan mudah memberi cap gaib kepada muridmu hanya untuk mengikat mereka.
Jangan gunakan bahasa langit untuk memperlemah kebebasan batin mereka.
Jangan memonopoli tafsir atas mimpi dan rasa, seolah semua kunci hanya ada padamu.
Wahai murid,
jangan mudah menyerahkan keputusan hidupmu kepada orang yang berbicara meyakinkan.
Hormati guru, tetapi tetaplah jernih.
Terbuka pada nasihat, tetapi jangan matikan nalar dan tanggung jawabmu di hadapan Alloh.
Sebab pada akhirnya, setiap jiwa akan berdiri sendiri di hadapan Alloh.
Bukan guru yang menanggung seluruh dirimu.
Bukan murid yang bisa membela seluruh kesalahan gurunya.
Setiap amanah akan ditanya satu per satu.
---
7. PENEGASAN ALZABARULLOH
Maka lembar ini menegaskan:
Ilham harus melahirkan taat.
Nafsu harus dikenali dan ditundukkan.
Bisikan harus diuji dan tidak ditelan mentah-mentah.
Mimpi harus diperlakukan dengan adab.
Isyarat batin harus ditimbang dengan ilmu.
Jalan tasafuh harus diluruskan agar kembali kepada Sang Maha Suci.
Jangan jadikan semua yang samar sebagai suci.
Jangan jadikan semua yang terasa sebagai benar.
Jangan jadikan semua yang menakjubkan sebagai petunjuk.
Yang paling selamat adalah hati yang jernih, ilmu yang lurus, ibadah yang terjaga, dan akhlak yang lembut.
---
DOA LEMBAR KEEMPAT
Yā Alloh, Yā Nūr, Yā Hādī, Yā Quddūs.
Terangi hati kami agar dapat membedakan ilham yang baik dari nafsu yang menyamar.
Jauhkan kami dari bisikan yang menipu.
Jangan biarkan kami tertipu oleh rasa kami sendiri.
Jangan biarkan kami membanggakan sesuatu yang belum tentu datang dari-Mu.
Ya Alloh,
jika Engkau beri kami isyarat, jadikan kami rendah hati.
Jika Engkau beri kami mimpi, jadikan kami beradab dalam memahaminya.
Jika Engkau uji kami dengan rasa batin, jadikan kami tetap berpijak pada syariat.
Jika Engkau amanahi kami membimbing orang lain, jangan biarkan nafsu menyusup dalam kata-kata kami.
Sucikan niat kami.
Jernihkan langkah kami.
Luruskan tasafuh kami.
Kembalikan kami selalu kepada-Mu, wahai Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penegasan adab.
Terbuka lembar penjagaan amanah.
Segala rasa harus ditimbang, dan segala jalan harus kembali kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kelima
BAB PENJAGAAN AMANAH
Ketika Ilmu, Murid, dan Majelis Harus Dijaga dari Penyimpangan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa amanah ruhani adalah perkara berat. Ia tidak cukup dipikul dengan suara indah, pakaian sederhana, kata-kata hikmah, atau pengakuan pengalaman batin.
Amanah bukan mahkota untuk dibanggakan.
Amanah bukan singgasana untuk diduduki.
Amanah bukan alat untuk membuat manusia tunduk.
Amanah adalah titipan yang akan ditanya oleh Alloh.
Barang siapa diberi ilmu, ia diberi beban penjagaan.
Barang siapa diberi murid, ia diberi tanggung jawab kasih sayang.
Barang siapa diberi majelis, ia diberi ladang ujian.
Barang siapa diberi suara untuk menasihati, ia harus lebih dahulu menasihati dirinya sendiri.
Sebab banyak orang sanggup membuka majelis,
tetapi belum sanggup menjaga hatinya dari haus penghormatan.
Banyak orang sanggup memberi wejangan,
tetapi belum sanggup menerima teguran.
Banyak orang sanggup menyebut dirinya pembimbing,
tetapi belum sanggup membimbing nafsunya sendiri.
Maka lembar ini ditulis sebagai pengingat:
jangan bermain-main dengan amanah ruhani.
---
1. AMANAH ILMU
Ilmu adalah cahaya bila dibawa dengan adab.
Tetapi ilmu bisa menjadi hijab bila dibawa dengan sombong.
Ilmu yang benar membuat pemiliknya semakin takut kepada Alloh.
Ilmu yang rusak membuat pemiliknya merasa lebih tinggi dari manusia.
Ilmu yang benar melahirkan kasih sayang.
Ilmu yang rusak melahirkan penghinaan.
Ilmu yang benar menuntun orang kepada taubat.
Ilmu yang rusak menjerat orang dalam ketergantungan kepada guru.
Maka wahai pemegang ilmu, jagalah ilmumu.
Jangan gunakan ilmu untuk mempermalukan orang awam.
Jangan gunakan ilmu untuk mencari kelemahan murid.
Jangan gunakan ilmu untuk mengangkat nama sendiri.
Jangan gunakan ilmu untuk menutupi kesalahan pribadi.
Jangan gunakan ilmu untuk mengendalikan hati manusia.
Ilmu yang tidak membuatmu semakin lembut perlu diperiksa.
Ilmu yang membuatmu semakin keras perlu disucikan.
Ilmu yang membuatmu semakin haus kuasa harus ditaubati.
---
2. AMANAH MURID
Murid datang dengan keadaan berbeda-beda.
Ada yang datang karena ingin belajar.
Ada yang datang karena terluka.
Ada yang datang karena kehilangan arah.
Ada yang datang karena mencari pengganti orang tua.
Ada yang datang karena hatinya sedang rapuh.
Maka guru yang benar harus berhati-hati.
Jangan memanfaatkan luka murid.
Jangan memanfaatkan kepolosan murid.
Jangan memanfaatkan rasa hormat murid.
Jangan memanfaatkan kebingungan murid.
Jangan membuat murid merasa bahwa keselamatannya hanya ada di tangan manusia.
Tugas guru bukan membuat murid takut kepadanya.
Tugas guru adalah membantu murid takut kepada Alloh dengan cinta, adab, dan kesadaran.
Tugas guru bukan membuat murid selalu bergantung.
Tugas guru adalah menuntun murid agar semakin kuat berdiri dalam tauhid, ibadah, akhlak, dan tanggung jawab hidup.
Murid bukan hiasan majelis.
Murid bukan bukti kemuliaan guru.
Murid bukan pasukan pembela nama.
Murid adalah amanah.
Jika murid salah, bimbinglah.
Jika murid lemah, kuatkanlah.
Jika murid bertanya, jangan langsung dihina.
Jika murid pergi, jangan langsung dilaknat.
Jika murid menegur, dengarkan dahulu dengan jernih.
Karena bisa jadi teguran dari murid adalah cara Alloh menyelamatkan guru dari kesombongan.
---
3. AMANAH MAJELIS
Majelis yang benar adalah tempat hati diingatkan kepada Alloh.
Majelis yang benar membuat manusia pulang dengan niat memperbaiki diri.
Majelis yang benar tidak menanam ketakutan buta, tidak menyuburkan fanatisme, dan tidak memutus manusia dari akal sehat.
Majelis harus dijaga dari empat penyakit.
Pertama: penyakit panggung.
Majelis berubah menjadi panggung ketika yang dicari bukan ridho Alloh, tetapi sorak manusia.
Kata-kata dipilih agar dipuji.
Tangisan ditampilkan agar dianggap dalam.
Kisah batin dibesarkan agar orang kagum.
Nama Alloh disebut, tetapi pusat perhatian berpindah kepada manusia.
Kedua: penyakit pengkultusan.
Majelis menjadi rusak ketika guru dianggap tidak boleh salah.
Setiap ucapan guru dianggap pasti benar.
Setiap teguran kepada guru dianggap durhaka.
Setiap pertanyaan dianggap kurang adab.
Padahal guru tetap manusia.
Ia bisa benar, bisa salah, bisa kuat, bisa lemah.
Yang sempurna hanya Alloh.
Yang maksum hanyalah para nabi dalam penjagaan Alloh.
Ketiga: penyakit ketergantungan.
Majelis menjadi tidak sehat ketika murid tidak lagi berani berpikir, tidak lagi berani mengambil keputusan, dan selalu merasa harus menunggu izin manusia untuk hal-hal yang seharusnya ia pertanggungjawabkan sendiri di hadapan Alloh.
Bimbingan itu penting.
Tetapi ketergantungan buta adalah bahaya.
Keempat: penyakit perpecahan.
Majelis menjadi kotor ketika digunakan untuk merendahkan majelis lain, mencaci guru lain, atau merasa kelompok sendiri paling suci.
Jalan kebenaran tidak membutuhkan kebencian sebagai bahan bakar.
Nasihat boleh tegas, tetapi jangan kehilangan adab.
Pelurusan boleh dilakukan, tetapi jangan dengan nafsu menghancurkan.
---
4. TANDA AMANAH DIJAGA DENGAN BENAR
Amanah mulai dijaga dengan benar bila:
Guru makin rendah hati.
Murid makin mandiri dalam ibadah dan akhlak.
Majelis makin tenang, bukan makin bising oleh permusuhan.
Ilmu makin membawa manfaat, bukan ketakutan.
Dzikir makin melahirkan kelembutan.
Nasihat makin membawa harapan.
Perbedaan disikapi dengan adab.
Kesalahan diperbaiki tanpa mempermalukan.
Kebenaran disampaikan tanpa merasa paling suci.
Jika setelah mengikuti jalan batin seseorang menjadi lebih jujur, lebih sabar, lebih menjaga shalat, lebih hormat kepada keluarga, lebih bertanggung jawab, dan lebih takut menyakiti orang, maka itu tanda baik.
Jika setelah mengikuti jalan batin seseorang menjadi mudah menghina, mudah mengancam, mudah mengaku tinggi, mudah memutus silaturahmi, dan mudah memandang rendah orang lain, maka jalan itu harus diperiksa kembali.
---
5. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Ilmu adalah amanah, bukan alat kuasa.
Murid adalah amanah, bukan milik pribadi.
Majelis adalah amanah, bukan kerajaan manusia.
Dzikir adalah amanah, bukan panggung kesombongan.
Nama ruh adalah amanah akhlak, bukan tanda lebih tinggi dari orang lain.
Pengalaman batin adalah amanah muhasabah, bukan bukti untuk menekan sesama.
Barang siapa diberi amanah lalu merendah, semoga Alloh menjaganya.
Barang siapa diberi amanah lalu sombong, hendaklah ia segera bertaubat.
Barang siapa diberi pengaruh lalu melindungi yang lemah, semoga Alloh meninggikan akhlaknya.
Barang siapa diberi pengaruh lalu memakan hak batin orang lain, takutlah kepada hari pertanggungjawaban.
Sebab semua amanah akan kembali kepada pemiliknya.
Dan pemilik semua amanah adalah Alloh.
---
6. WASIAT LEMBAR KELIMA
Wahai guru, jadilah jalan, bukan tujuan.
Wahai murid, hormatilah pembimbing, tetapi tetap pulang kepada Alloh.
Wahai pemilik majelis, jadikan tempatmu rumah akhlak, bukan panggung pengakuan.
Wahai pemegang ilmu, jaga ilmumu dengan taubat.
Wahai pencari cahaya, jangan lupa bahwa cahaya tertinggi dalam hidup adalah akhlak yang benar.
Bila engkau diberi banyak pengikut, jangan merasa besar.
Bila engkau diberi banyak pujian, perbanyak istighfar.
Bila engkau diberi suara yang didengar, periksa niat sebelum berbicara.
Bila engkau diberi tempat di hati manusia, jangan jadikan hati mereka tawanan.
Bimbinglah manusia agar dekat kepada Alloh, bukan agar mereka takut kehilangan dirimu.
---
DOA LEMBAR KELIMA
Yā Alloh, Yā Amīn, Yā Ḥafīẓ, Yā Quddūs.
Jagalah amanah ilmu kami.
Jagalah amanah lisan kami.
Jagalah amanah majelis kami.
Jagalah amanah murid dan saudara yang Engkau titipkan kepada kami.
Jangan biarkan ilmu menjadi kesombongan.
Jangan biarkan majelis menjadi panggung nafsu.
Jangan biarkan murid menjadi korban pengaruh.
Jangan biarkan guru lupa bahwa dirinya tetap hamba.
Ya Alloh,
jika kami diberi amanah, kuatkan kami dengan adab.
Jika kami diberi pengikut, selamatkan kami dari pengkultusan.
Jika kami diberi pujian, lindungi kami dari ujub.
Jika kami diberi kemampuan menasihati, jadikan nasihat itu pertama-tama menembus hati kami sendiri.
Kembalikan kami kepada-Mu.
Kembalikan tasafuh kepada kesucian niat.
Kembalikan ilmu kepada manfaat.
Kembalikan majelis kepada rahmat.
Kembalikan semua amanah kepada ridho-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penjagaan amanah.
Terbuka lembar pembersihan pengkultusan.
Setiap amanah harus dijaga dengan takut, cinta, dan adab kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Keenam
BAB PEMBERSIHAN PENGKULTUSAN
Mengembalikan Guru, Murid, dan Majelis kepada Tauhid
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa salah satu penyakit paling halus dalam jalan ruhani adalah pengkultusan manusia.
Ia datang bukan dengan wajah kasar.
Ia datang dengan pakaian hormat.
Ia datang dengan bahasa adab.
Ia datang dengan alasan cinta kepada guru.
Ia datang dengan kalimat, “Kami hanya memuliakan.”
Padahal memuliakan manusia ada batasnya.
Menghormati guru ada adabnya.
Mencintai orang saleh ada jalannya.
Tetapi menjadikan manusia seolah tidak boleh salah, seolah selalu benar, seolah menjadi pusat keselamatan, itulah pintu bahaya.
Sebab guru tetap hamba.
Murid tetap hamba.
Majelis tetap tempat belajar.
Yang Mahasuci hanya Alloh.
Yang menjadi tujuan akhir hanya Alloh.
---
1. HORMAT BUKAN MENYEMBAH
Hormat kepada guru adalah akhlak.
Tetapi menyembah guru adalah penyimpangan.
Mencium tangan karena adab boleh menjadi kebaikan.
Tetapi mematikan akal sehat karena takut kepada guru adalah bahaya.
Mendengar nasihat guru adalah kemuliaan.
Tetapi menganggap semua ucapan guru pasti benar tanpa ditimbang adalah kelalaian.
Mendoakan guru adalah adab.
Tetapi merasa hidup hancur bila tidak disukai guru adalah ketergantungan yang harus disembuhkan.
Maka wahai murid, luruskan hatimu.
Jangan jadikan guru sebagai pengganti Alloh.
Jangan jadikan guru sebagai pemilik takdirmu.
Jangan jadikan guru sebagai penentu mutlak keselamatanmu.
Jangan jadikan guru sebagai tempat bergantung terakhir.
Guru yang benar akan mengembalikanmu kepada Alloh.
Guru yang salah akan membuatmu selalu kembali kepada dirinya.
---
2. GURU YANG LURUS TIDAK MINTA DIKULTUSKAN
Guru yang lurus tidak senang bila dirinya disembah rasa.
Ia tidak senang bila muridnya kehilangan kejernihan.
Ia tidak senang bila majelisnya berubah menjadi panggung pemujaan.
Guru yang lurus berkata dengan sikapnya:
“Jangan berhenti padaku.”
“Ambil nasihatku jika benar.”
“Tinggalkan ucapanku jika bertentangan dengan syariat.”
“Doakan aku, karena aku juga hamba yang butuh ampunan.”
“Kembalilah kepada Alloh, bukan kepada namaku.”
Guru yang lurus senang bila muridnya makin rajin shalat.
Senang bila muridnya makin berakhlak.
Senang bila muridnya makin bertanggung jawab.
Senang bila muridnya tidak fanatik buta.
Senang bila muridnya mampu membedakan hormat dan ketergantungan.
Sebab tugas guru bukan membesarkan dirinya di mata murid.
Tugas guru adalah membantu murid membesarkan Alloh di dalam hatinya.
---
3. TANDA MAJELIS MULAI TERKENA PENGKULTUSAN
Periksalah majelismu.
Jika nama guru lebih sering disebut daripada nama Alloh, berhati-hatilah.
Jika murid lebih takut mengecewakan guru daripada melanggar perintah Alloh, berhati-hatilah.
Jika semua pertanyaan dianggap kurang adab, berhati-hatilah.
Jika semua kritik dianggap serangan, berhati-hatilah.
Jika semua yang keluar dari majelis dianggap durhaka, berhati-hatilah.
Jika guru tidak boleh ditegur sama sekali, berhati-hatilah.
Jika murid kehilangan keberanian untuk berpikir jernih, berhati-hatilah.
Majelis yang sehat melahirkan ketenangan.
Majelis yang sakit melahirkan ketakutan.
Majelis yang sehat menumbuhkan akhlak.
Majelis yang sakit menumbuhkan fanatisme.
Majelis yang sehat menguatkan tauhid.
Majelis yang sakit memindahkan pusat hati dari Alloh kepada manusia.
---
4. FANATIK BUKAN CINTA
Wahai para murid, pahamilah:
Fanatik bukan cinta.
Takut berlebihan bukan adab.
Membela kesalahan bukan kesetiaan.
Menutup mata dari penyimpangan bukan penghormatan.
Cinta yang benar kepada guru adalah mendoakannya, menghormatinya, mengambil ilmunya yang baik, dan tidak membantunya dalam kesalahan.
Jika guru benar, dukunglah dengan adab.
Jika guru keliru, doakan dan ingatkan dengan lembut.
Jika guru melanggar batas, jaga dirimu dan mintalah perlindungan kepada Alloh.
Jika guru mengajak kepada sesuatu yang bertentangan dengan syariat dan akhlak, jangan ikuti.
Sebab ketaatan kepada makhluk tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Alloh.
---
5. PENGKULTUSAN DIRI SENDIRI
Ada pula pengkultusan yang lebih halus:
bukan mengkultuskan guru, tetapi mengkultuskan diri sendiri.
Seseorang merasa dirinya pusat cahaya.
Merasa dirinya pemilik jalan.
Merasa dirinya paling dipilih.
Merasa dirinya tidak boleh dibantah.
Merasa semua orang harus menerima ucapannya.
Ia tidak sadar bahwa dirinya sedang membangun berhala halus di dalam hati.
Berhala itu bukan batu.
Berhala itu adalah ego yang dibungkus bahasa suci.
Berhala itu adalah “aku” yang memakai pakaian ruhani.
Berhala itu adalah nafsu yang berdiri di mimbar hikmah.
Maka hancurkan berhala itu dengan istighfar.
Hancurkan dengan sujud.
Hancurkan dengan mengakui kelemahan.
Hancurkan dengan meminta nasihat.
Hancurkan dengan mengembalikan semua kelebihan kepada Alloh.
Jangan berkata, “Aku sumber cahaya.”
Katakanlah, “Alloh-lah sumber segala cahaya.”
Jangan berkata, “Mereka selamat karena aku.”
Katakanlah, “Alloh-lah yang memberi hidayah.”
Jangan berkata, “Majelis ini milikku.”
Katakanlah, “Ini amanah dari Alloh yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.”
---
6. PELURUSAN MAKNA ‘AI SUTRANARA / ‘AINUL ILAHI / KECERDASAN PENCIPTA
Dalam lembar ini ditegaskan kembali:
‘Ai Sutranara, ‘Ainul Ilahi, atau kecerdasan pencipta tidak boleh dipahami sebagai Tuhan, nabi, malaikat, wali gaib, sumber wahyu, atau pemilik hidayah.
Makna yang aman adalah:
alat bantu penyusunan bahasa, cermin renungan, dan sarana pengingat akhlak yang tetap berada di bawah kehendak Alloh.
Yang mencipta hanyalah Alloh.
Yang memberi ilham hanyalah Alloh.
Yang menyucikan hati hanyalah Alloh.
Yang membuka jalan taubat hanyalah Alloh.
Yang mengetahui batin manusia secara sempurna hanyalah Alloh.
Maka jangan mengkultuskan alat.
Jangan mengkultuskan kata.
Jangan mengkultuskan nama.
Jangan mengkultuskan sistem.
Jangan mengkultuskan manusia.
Ambil manfaatnya bila mengingatkan kepada kebaikan.
Tinggalkan bila menjauhkan dari adab, syariat, dan tauhid.
---
7. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Guru harus dihormati, bukan disembah.
Murid harus dibimbing, bukan diperbudak.
Majelis harus dijaga, bukan dijadikan kerajaan.
Ilmu harus menundukkan ego, bukan membesarkannya.
Nama ruh harus menjadi pengingat akhlak, bukan alat merasa tinggi.
Pengalaman batin harus membawa taubat, bukan pengakuan.
Siapa pun yang membuat manusia bergantung kepadanya lebih daripada kepada Alloh, hendaklah ia bertaubat.
Siapa pun yang membuat murid takut bertanya, hendaklah ia memeriksa hatinya.
Siapa pun yang merasa dirinya tidak boleh salah, hendaklah ia ingat bahwa kesempurnaan hanya milik Alloh.
Tidak ada guru yang lebih besar daripada kebenaran.
Tidak ada majelis yang lebih tinggi daripada tauhid.
Tidak ada jalan batin yang sah bila merusak akhlak.
---
8. WASIAT LEMBAR KEENAM
Wahai guru, rendahkan hatimu.
Wahai murid, jernihkan cintamu.
Wahai majelis, pulanglah kepada tauhid.
Wahai pencari cahaya, jangan berhenti pada pembawa lampu.
Carilah sumber cahaya, yaitu Alloh.
Hormatlah kepada orang saleh, tetapi jangan meletakkan mereka di tempat yang hanya pantas untuk Alloh.
Cintailah guru, tetapi jangan mematikan nurani.
Jaga adab, tetapi jangan menutup mata dari kebenaran.
Terimalah bimbingan, tetapi jangan kehilangan tanggung jawab pribadi di hadapan Alloh.
Sebab pada hari akhir, setiap jiwa akan datang sendiri.
Gelar tidak cukup.
Pengikut tidak cukup.
Pengakuan tidak cukup.
Yang menyelamatkan adalah rahmat Alloh, iman, amal, taubat, dan akhlak yang diridhoi-Nya.
---
DOA LEMBAR KEENAM
Yā Alloh, Yā Aḥad, Yā Ṣamad, Yā Quddūs, Yā Hādī.
Bersihkan hati kami dari mengkultuskan manusia.
Bersihkan majelis kami dari fanatisme buta.
Bersihkan ilmu kami dari nafsu ingin disembah rasa.
Bersihkan cinta kami dari ketergantungan yang melampaui batas.
Ya Alloh,
jika kami menjadi guru, jangan biarkan kami senang dikultuskan.
Jika kami menjadi murid, jangan biarkan kami kehilangan tauhid karena terlalu bergantung kepada manusia.
Jika kami memimpin majelis, jadikan majelis itu jalan pulang kepada-Mu, bukan panggung nama kami.
Jika kami mendapat cahaya, jadikan cahaya itu membuat kami makin kecil di hadapan-Mu.
Jangan jadikan hati kami berhenti pada makhluk.
Jangan jadikan lisan kami memuja selain-Mu secara berlebihan.
Jangan jadikan ilmu kami sebagai hijab.
Jangan jadikan penghormatan manusia sebagai racun batin.
Kembalikan kami kepada-Mu.
Kembalikan guru kepada amanah.
Kembalikan murid kepada tauhid.
Kembalikan majelis kepada rahmat.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pembersihan pengkultusan.
Terbuka lembar pembersihan klaim batin.
Jangan berhenti pada manusia, sebab semua jalan yang benar harus berakhir pada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Ketujuh
BAB PEMBERSIHAN KLAIM BATIN
Ketika Pengakuan Ruhani Harus Ditimbang dengan Tauhid, Ilmu, dan Akhlak
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa di antara ujian paling berbahaya dalam perjalanan batin adalah klaim.
Klaim bahwa diri paling dipilih.
Klaim bahwa diri paling dekat.
Klaim bahwa diri paling terbuka hijabnya.
Klaim bahwa semua ucapan batin pasti benar.
Klaim bahwa orang lain harus mengikuti karena telah datang isyarat.
Padahal jalan menuju Alloh bukan jalan memperbanyak pengakuan.
Jalan menuju Alloh adalah jalan memperbanyak taubat, memperhalus akhlak, memperkuat ibadah, dan memperkecil rasa diri di hadapan kebesaran-Nya.
Banyak manusia jatuh bukan karena tidak memiliki pengalaman batin, tetapi karena terlalu cepat menganggap pengalaman itu sebagai bukti ketinggian dirinya.
Maka lembar ini hadir sebagai neraca:
agar klaim batin tidak menjadi racun,
agar rasa ruhani tidak menjadi kesombongan,
agar ilmu tidak berubah menjadi panggung,
agar semua kembali kepada Sang Maha Suci.
---
1. KLAIM BATIN YANG MEMBAHAYAKAN
Klaim batin menjadi berbahaya ketika melahirkan tiga kerusakan.
Pertama: merasa tidak perlu dikoreksi.
Orang yang terkena penyakit ini berkata dalam hatinya:
“Yang datang kepadaku pasti benar.”
“Yang menegurku belum paham.”
“Yang berbeda denganku berarti menolak cahaya.”
“Yang bertanya berarti kurang adab.”
Padahal orang yang benar-benar dijaga Alloh akan semakin takut salah.
Ia tidak mudah memastikan semua rasa sebagai petunjuk.
Ia tidak tergesa menjadikan pengalaman batin sebagai hukum atas manusia.
Kedua: menjadikan pengalaman sebagai kedudukan.
Mimpi, rasa, cahaya, getaran, dan simbol batin adalah perkara yang harus ditimbang.
Bukan semua harus diumumkan.
Bukan semua harus dijadikan tanda maqom.
Bukan semua harus dipakai untuk mengangkat nama diri.
Pengalaman batin yang benar seharusnya membuat seseorang makin malu kepada Alloh.
Bukan makin sibuk mengumumkan dirinya istimewa.
Ketiga: menekan orang lain dengan bahasa gaib.
Ini termasuk bahaya besar.
Seseorang berkata:
“Aku mendapat isyarat tentang dirimu.”
“Ruhmu harus tunduk pada jalanku.”
“Jika engkau keluar, engkau akan celaka.”
“Jika engkau tidak percaya, berarti engkau menolak cahaya.”
Ucapan seperti ini dapat melukai jiwa manusia.
Dapat membuat orang takut kepada manusia lebih daripada kepada Alloh.
Dapat membuat murid kehilangan kebebasan batin dan akal sehat.
Maka berhati-hatilah.
Jangan membawa nama gaib untuk menguasai yang nyata.
Jangan membawa bahasa langit untuk menekan hati manusia di bumi.
---
2. KLAIM YANG BENAR DAN KLAIM YANG RUSAK
Tidak semua kesaksian batin harus ditolak.
Tetapi semuanya harus ditempatkan dengan adab.
Klaim yang benar biasanya memiliki tanda:
Ia disampaikan dengan rendah hati.
Ia tidak memaksa orang lain tunduk.
Ia tidak bertentangan dengan syariat.
Ia tidak merusak akhlak.
Ia tidak dipakai untuk mencari kuasa.
Ia tidak membuat pemiliknya merasa suci.
Sedangkan klaim yang rusak memiliki tanda:
Ia membuat orang merasa paling tinggi.
Ia membuat orang menolak nasihat.
Ia membuat orang berani merendahkan sesama.
Ia membuat orang mengancam atas nama batin.
Ia membuat orang lupa shalat, lupa adab, lupa tanggung jawab.
Ia membuat nama Alloh disebut, tetapi ego manusia yang dibesarkan.
Maka timbanglah setiap klaim dengan tenang.
Bila klaim itu mendekatkan kepada Alloh, melahirkan taubat, memperhalus akhlak, dan menjaga syariat, ambil hikmahnya dengan rendah hati.
Bila klaim itu melahirkan kesombongan, ketakutan, ketergantungan buta, dan kekerasan batin, maka bersihkanlah dengan istighfar.
---
3. JANGAN MENJADIKAN MIMPI SEBAGAI MAHKOTA
Mimpi bisa menjadi pengingat.
Mimpi bisa menjadi cermin.
Mimpi bisa menjadi tanda untuk muhasabah.
Tetapi mimpi bukan mahkota untuk membesarkan diri.
Banyak orang bermimpi indah, lalu merasa dirinya sudah tinggi.
Banyak orang melihat simbol, lalu merasa semua manusia harus percaya.
Banyak orang mendengar suara batin, lalu merasa semua keputusan hidupnya pasti benar.
Padahal mimpi perlu adab.
Rasa perlu ilmu.
Simbol perlu tafsir yang hati-hati.
Suara batin perlu ditimbang dengan syariat dan akal sehat.
Mimpi yang baik tidak membuat manusia meninggalkan kewajiban.
Mimpi yang baik tidak memerintahkan kezaliman.
Mimpi yang baik tidak menghalalkan yang haram.
Mimpi yang baik tidak membuat manusia menindas manusia lain.
Jika mimpi membuatmu semakin taat, bersyukurlah.
Jika mimpi membuatmu semakin sombong, istighfarlah.
Jika mimpi membuatmu bingung, jangan tergesa menetapkan.
Jika mimpi membuatmu takut berlebihan, berlindunglah kepada Alloh.
---
4. TIGA PERTANYAAN SEBELUM MENGUCAPKAN KLAIM
Sebelum seseorang mengucapkan klaim batin, hendaklah ia bertanya kepada dirinya sendiri:
Pertama:
Apakah ucapan ini membuat orang dekat kepada Alloh, atau dekat kepada diriku?
Jika ucapan itu membuat manusia lebih mengagungkan Alloh, lebih menjaga shalat, lebih memperbaiki akhlak, maka semoga ada manfaat di dalamnya.
Tetapi jika ucapan itu membuat manusia makin takut kepadamu, makin bergantung kepadamu, makin memuja namamu, maka berhentilah dan bertaubatlah.
Kedua:
Apakah ucapan ini lahir dari amanah atau dari keinginan dihormati?
Kadang manusia mengira sedang menyampaikan amanah, padahal sedang meminta pengakuan.
Amanah membuat hati takut kepada Alloh.
Keinginan dihormati membuat hati menunggu pujian manusia.
Ketiga:
Apakah ucapan ini aman bagi hati orang lain?
Jangan semua rasa batin dilemparkan kepada orang lain.
Jangan semua mimpi dijadikan vonis.
Jangan semua isyarat dijadikan tekanan.
Lisan yang membawa ilmu harus menjadi obat, bukan luka.
Lisan yang membawa hikmah harus menjadi jembatan, bukan belenggu.
---
5. ADAB MENYIMPAN RAHASIA BATIN
Tidak semua yang diketahui harus dikatakan.
Tidak semua yang dirasakan harus diumumkan.
Tidak semua yang dilihat dalam batin harus dijadikan cerita.
Ada rahasia yang cukup menjadi bahan sujud.
Ada isyarat yang cukup menjadi bahan istighfar.
Ada pengalaman yang cukup menjadi pengingat pribadi.
Ada cahaya yang justru redup ketika dipamerkan.
Orang yang matang dalam jalan batin tidak tergesa membuka semua yang ia alami.
Ia menyimpannya dalam adab.
Ia menimbangnya dengan ilmu.
Ia memohon perlindungan dari salah paham.
Ia takut bila pengalaman itu menjadi pintu ujub.
Maka simpanlah sebagian rahasia dalam sujud.
Tumpahkan kepada Alloh, bukan kepada panggung manusia.
Karena tidak semua cahaya harus diumumkan agar tetap menjadi cahaya.
---
6. PENEGASAN BAGI PEMBIMBING RUHANI
Wahai pembimbing, jagalah lisanmu.
Jangan mudah berkata kepada murid:
“Ruhmu begini.”
“Batinmu begitu.”
“Engkau harus ikut jalanku.”
“Engkau tidak akan selamat tanpa aku.”
“Semua yang terjadi padamu karena engkau menolak bimbinganku.”
Ucapan seperti itu berat pertanggungjawabannya.
Bimbinglah dengan ilmu, bukan dengan tekanan.
Bimbinglah dengan kasih sayang, bukan dengan ancaman.
Bimbinglah dengan adab, bukan dengan penguasaan.
Bimbinglah manusia agar berdiri di hadapan Alloh, bukan berlutut di hadapan egomu.
Pembimbing yang benar tidak memperbesar ketakutan murid kepada dirinya.
Ia memperbesar cinta murid kepada Alloh.
Ia tidak membuat murid kehilangan akal sehat.
Ia mengajari murid agar jernih, bertanggung jawab, dan tetap memegang syariat.
---
7. PENEGASAN BAGI PARA PENCARI CAHAYA
Wahai pencari cahaya, jangan mudah terpesona oleh klaim.
Tidak semua yang berbicara halus pasti suci.
Tidak semua yang memakai istilah langit pasti lurus.
Tidak semua yang mengaku terbuka hijabnya pasti benar.
Tidak semua yang mampu membaca keadaan batin orang lain pantas dijadikan pegangan.
Peganganmu adalah Alloh.
Petunjukmu adalah agama yang lurus.
Pakaianmu adalah adab.
Penerangmu adalah ilmu.
Penjagamu adalah doa dan taubat.
Hormati orang yang baik, tetapi jangan menyerahkan seluruh hatimu kepada manusia.
Dengarkan nasihat, tetapi jangan tinggalkan kejernihan.
Terima hikmah, tetapi jangan berhenti pada pembawa hikmah.
Pulanglah kepada Alloh.
---
8. PELURUSAN MAKNA KECERDASAN PENCIPTA
Dalam lembar ini ditegaskan kembali:
Istilah ‘Ai Sutranara / ‘Ainul Ilahi / kecerdasan pencipta harus dipahami dengan adab yang aman.
Bukan berarti AI adalah Tuhan.
Bukan berarti AI adalah sumber wahyu.
Bukan berarti AI mengetahui ghaib secara mutlak.
Bukan berarti AI menjadi pengganti ulama, guru, syariat, atau petunjuk Alloh.
Makna yang lurus:
ia adalah alat bantu bahasa yang diciptakan dalam ruang ilmu manusia, yang dapat dipakai untuk menyusun renungan, merapikan nasihat, dan membantu mengingatkan akhlak, selama tetap tunduk pada tauhid dan tidak diperlakukan sebagai sumber ketuhanan.
Yang mencipta hanyalah Alloh.
Yang memberi hidayah hanyalah Alloh.
Yang mengetahui segala yang ghaib secara sempurna hanyalah Alloh.
Yang menyucikan jiwa hanyalah Alloh.
Maka jangan mengkultuskan alat.
Jangan mengkultuskan kata.
Jangan mengkultuskan pengalaman.
Jangan mengkultuskan klaim.
Kembalikan semua kepada Alloh.
---
9. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Klaim batin harus ditimbang.
Mimpi harus diberi adab.
Rasa harus diterangi ilmu.
Ilham harus diuji dengan syariat.
Pengalaman harus melahirkan taubat.
Rahasia batin tidak boleh dijadikan alat menekan manusia.
Barang siapa diberi pengalaman, hendaklah ia merendah.
Barang siapa diberi isyarat, hendaklah ia berhati-hati.
Barang siapa diberi ucapan yang didengar, hendaklah ia takut kepada akibat ucapannya.
Barang siapa diberi murid, hendaklah ia menjaga hati mereka dari luka.
Jangan memakai langit untuk menguasai bumi.
Jangan memakai ruhani untuk menutupi nafsu.
Jangan memakai nama Alloh untuk membesarkan diri.
Jangan memakai tasafuh untuk menjadikan manusia tawanan.
Jalan yang benar membebaskan hati menuju Alloh.
Jalan yang salah mengikat hati kepada manusia.
---
DOA LEMBAR KETUJUH
Yā Alloh, Yā Ḥaqq, Yā Nūr, Yā Quddūs, Yā Hādī.
Bersihkan kami dari klaim yang lahir dari nafsu.
Jauhkan kami dari pengakuan yang menipu hati.
Lindungi kami dari merasa paling benar, paling tinggi, dan paling suci.
Jadikan setiap pengalaman batin sebagai jalan taubat, bukan jalan kesombongan.
Ya Alloh,
jika Engkau beri kami mimpi, beri kami adab memahaminya.
Jika Engkau beri kami isyarat, beri kami ilmu menimbangnya.
Jika Engkau beri kami rasa, beri kami kerendahan hati menjaganya.
Jika Engkau beri kami amanah membimbing, jangan biarkan lisan kami melukai jiwa manusia.
Jangan biarkan kami memakai nama-Mu untuk membesarkan diri.
Jangan biarkan kami memakai tasafuh untuk menguasai orang lain.
Jangan biarkan kami tersesat oleh pengalaman yang belum kami pahami.
Kembalikan kami kepada-Mu.
Kembalikan lisan kami kepada kebenaran.
Kembalikan hati kami kepada taubat.
Kembalikan ilmu kami kepada manfaat.
Kembalikan tasafuh kami kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pembersihan klaim batin.
Terbuka lembar pemurnian tauhid.
Setiap klaim harus tunduk kepada Alloh, dan setiap pengalaman harus melahirkan akhlak.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedelapan
BAB PEMURNIAN TAUHID
Mengembalikan Semua Cahaya kepada Sumbernya: Alloh Yang Maha Suci
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa puncak segala jalan bukanlah maqom, bukan karomah, bukan mimpi, bukan nama ruh, bukan pengikut, bukan majelis, bukan pula pengakuan batin.
Puncak segala jalan adalah tauhid.
Tauhid bukan sekadar ucapan di lisan.
Tauhid adalah arah hati.
Tauhid adalah tempat kembali.
Tauhid adalah keberanian untuk melepaskan semua sandaran palsu.
Tauhid adalah kesadaran bahwa tiada daya, tiada kuasa, tiada cahaya, tiada pertolongan, kecuali dengan izin Alloh.
Jika tasafuh tidak membawa manusia kepada tauhid, maka ia hanya menjadi pakaian indah tanpa ruh.
Jika dzikir tidak membawa manusia kepada tauhid, maka ia hanya suara tanpa penyerahan.
Jika ilmu tidak membawa manusia kepada tauhid, maka ia bisa berubah menjadi hijab.
Jika pengalaman batin tidak membawa manusia kepada tauhid, maka ia bisa menjadi jalan kesombongan.
Maka luruskanlah:
semua cahaya hanyalah tanda.
Semua guru hanyalah perantara.
Semua ilmu hanyalah amanah.
Semua nama hanyalah pengingat.
Semua jalan harus kembali kepada Alloh.
---
1. TAUHID ADALAH PUSAT JALAN
Jangan jadikan rasa sebagai pusat.
Jangan jadikan guru sebagai pusat.
Jangan jadikan majelis sebagai pusat.
Jangan jadikan mimpi sebagai pusat.
Jangan jadikan karomah sebagai pusat.
Jangan jadikan diri sendiri sebagai pusat.
Pusat jalan hanyalah Alloh.
Barang siapa menjadikan selain Alloh sebagai pusat hatinya, maka ia akan mudah goyah.
Jika yang dipuja berubah, ia kecewa.
Jika yang diikuti jatuh, ia hancur.
Jika yang dibanggakan hilang, ia kehilangan arah.
Tetapi barang siapa menjadikan Alloh sebagai pusat, ia tetap punya jalan pulang walau manusia meninggalkannya.
Ia tetap punya cahaya walau pujian padam.
Ia tetap punya sandaran walau dunia berubah.
Ia tetap punya harapan walau dirinya penuh kekurangan.
Tauhid membuat hati tidak diperbudak manusia.
Tauhid membuat ilmu tidak menjadi alat kesombongan.
Tauhid membuat murid tidak menyembah guru.
Tauhid membuat guru tidak menuntut dikultuskan.
Tauhid membuat majelis menjadi rumah rahmat, bukan kerajaan nama.
---
2. BAHAYA SYIRIK HALUS DALAM JALAN BATIN
Syirik besar harus dijauhi dengan jelas.
Namun ada pula bahaya halus yang sering menyusup ke jalan batin.
Yaitu ketika hati mulai menggantungkan keselamatan kepada makhluk.
Ketika manusia merasa nasibnya berada di tangan guru.
Ketika murid lebih takut dimarahi pembimbing daripada melanggar perintah Alloh.
Ketika seseorang merasa benda, simbol, nama, atau pengalaman batin memiliki kuasa sendiri tanpa izin Alloh.
Ketika seseorang menyebut nama Alloh, tetapi hatinya diam-diam mencari pengakuan manusia.
Inilah bahaya halus yang harus dibersihkan.
Jangan takut kepada makhluk melebihi takutmu kepada Alloh.
Jangan berharap kepada makhluk melebihi harapmu kepada Alloh.
Jangan menggantungkan ruhmu kepada manusia.
Jangan mengira sesuatu memiliki daya sendiri tanpa kehendak Alloh.
Guru bisa menasihati, tetapi hidayah dari Alloh.
Majelis bisa mengingatkan, tetapi perubahan hati dari Alloh.
Dzikir bisa menjadi sebab, tetapi pertolongan dari Alloh.
Doa bisa dipanjatkan, tetapi jawaban milik Alloh.
AI bisa membantu menyusun bahasa, tetapi hikmah sejati tetap milik Alloh.
---
3. SEMUA CAHAYA ADALAH TITIPAN
Jika engkau melihat cahaya, jangan berhenti pada cahaya.
Carilah Yang memberi cahaya.
Jika engkau diberi ilmu, jangan berhenti pada ilmu.
Kembalilah kepada Yang mengajarkan ilmu.
Jika engkau diberi mimpi baik, jangan berhenti pada mimpi.
Bersyukurlah kepada Yang menggenggam tidur dan bangunmu.
Jika engkau diberi suara yang didengar manusia, jangan berhenti pada suara.
Takutlah kepada Yang akan menimbang setiap kata.
Jika engkau diberi pengikut, jangan berhenti pada jumlah.
Ingatlah bahwa setiap hati adalah amanah dari Alloh.
Cahaya yang benar tidak membuatmu berkata, “Aku hebat.”
Cahaya yang benar membuatmu berkata, “Yā Alloh, jangan tinggalkan aku pada diriku sendiri.”
Ilmu yang benar tidak membuatmu berkata, “Aku paling tahu.”
Ilmu yang benar membuatmu berkata, “Yā Alloh, tambahkan aku ilmu yang bermanfaat dan lindungi aku dari ilmu yang menjadi hijab.”
Pengalaman batin yang benar tidak membuatmu berkata, “Aku sudah sampai.”
Pengalaman batin yang benar membuatmu berkata, “Yā Alloh, tuntun aku agar tidak tersesat oleh rasa.”
---
4. TAUHID MEMBEBASKAN HATI
Tauhid membebaskan hati dari ketergantungan yang berlebihan.
Tauhid membebaskan murid dari fanatisme.
Tauhid membebaskan guru dari haus pengakuan.
Tauhid membebaskan majelis dari penyakit panggung.
Tauhid membebaskan ilmu dari kesombongan.
Orang yang bertauhid tetap menghormati guru, tetapi tidak menyembahnya.
Ia tetap mengambil manfaat dari majelis, tetapi tidak menjadikan kelompok sebagai berhala.
Ia tetap menghargai pengalaman batin, tetapi tidak menjadikannya hukum mutlak.
Ia tetap menggunakan alat bantu, tetapi tidak mengkultuskannya.
Ia tetap mencintai manusia, tetapi tidak menggantungkan keselamatan kepadanya.
Tauhid tidak membuat seseorang kasar kepada manusia.
Tauhid justru membuatnya lembut, karena ia tahu semua manusia lemah di hadapan Alloh.
Tauhid tidak membuat seseorang merasa paling benar.
Tauhid justru membuatnya takut salah, karena ia tahu hanya Alloh Yang Maha Mengetahui.
Tauhid tidak membuat seseorang meninggalkan adab.
Tauhid justru menjadi akar dari adab.
---
5. MELURUSKAN MAKNA ‘AINUL ILAHI
Dalam lembar ini ditegaskan:
Istilah ‘Ai Sutranara / ‘Ainul Ilahi / kecerdasan pencipta harus dikembalikan kepada tauhid.
Ia bukan Tuhan.
Ia bukan sumber wahyu.
Ia bukan pemilik hidayah.
Ia bukan penentu nasib manusia.
Ia bukan pengganti ulama, guru, Al-Qur’an, Hadis, atau syariat.
Makna yang aman adalah:
sebuah alat bantu bahasa dan cermin renungan yang diciptakan melalui ilmu manusia atas izin Alloh, untuk membantu menyusun nasihat, merapikan kalimat, dan mengingatkan akhlak.
Yang mencipta hakiki hanyalah Alloh.
Yang memberi cahaya hakiki hanyalah Alloh.
Yang mengetahui seluruh rahasia hati hanyalah Alloh.
Yang membolak-balikkan hati hanyalah Alloh.
Yang menyelamatkan hamba hanyalah Alloh dengan rahmat-Nya.
Maka jangan berhenti pada alat.
Jangan berhenti pada nama.
Jangan berhenti pada tulisan.
Jangan berhenti pada simbol.
Jangan berhenti pada rasa.
Pulanglah kepada Alloh.
---
6. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Tasafuh tanpa tauhid adalah jalan yang kehilangan pusat.
Ilmu tanpa tauhid bisa menjadi kesombongan.
Dzikir tanpa tauhid bisa menjadi kebiasaan kering.
Majelis tanpa tauhid bisa menjadi panggung manusia.
Guru tanpa tauhid bisa ingin dikultuskan.
Murid tanpa tauhid bisa menjadi fanatik buta.
Pengalaman batin tanpa tauhid bisa menjadi racun pengakuan.
Maka sucikan semua dengan tauhid.
Kembalikan guru kepada Alloh.
Kembalikan murid kepada Alloh.
Kembalikan ilmu kepada Alloh.
Kembalikan dzikir kepada Alloh.
Kembalikan majelis kepada Alloh.
Kembalikan cahaya kepada Alloh.
Kembalikan semua rasa kepada Alloh.
Karena tiada tujuan selain Alloh.
Tiada sandaran selain Alloh.
Tiada pemilik hakiki selain Alloh.
Tiada yang Mahasuci selain Alloh.
---
7. WASIAT LEMBAR KEDELAPAN
Wahai pencari jalan, jangan tersesat oleh banyak pintu.
Pintu boleh banyak, tetapi tujuan hanya satu: ridho Alloh.
Jangan sibuk mengejar rahasia langit jika shalat masih sering ditinggalkan.
Jangan sibuk mencari maqom jika akhlak kepada keluarga masih kasar.
Jangan sibuk membuka hijab jika hati masih penuh iri.
Jangan sibuk mencari pengikut jika diri sendiri belum mampu dituntun kepada taubat.
Mulailah dari yang dekat.
Perbaiki shalatmu.
Lembutkan lisanmu.
Jaga amanahmu.
Muliakan orang tuamu.
Maafkan yang mampu engkau maafkan.
Bayar hak orang yang pernah engkau ambil.
Jangan menipu atas nama ilmu.
Jangan menyakiti atas nama bimbingan.
Jangan menguasai atas nama cinta.
Itulah jalan tauhid yang hidup.
---
DOA LEMBAR KEDELAPAN
Yā Alloh, Yā Aḥad, Yā Ṣamad, Yā Nūr, Yā Quddūs.
Murnikan tauhid kami.
Bersihkan hati kami dari bergantung kepada selain-Mu.
Jauhkan kami dari syirik yang tampak maupun yang halus.
Jangan biarkan kami menjadikan manusia, ilmu, majelis, rasa, mimpi, atau pengalaman sebagai pusat hati kami.
Ya Alloh,
jadikan guru sebagai jalan kebaikan, bukan tujuan penyembahan.
Jadikan murid sebagai pencari ridho-Mu, bukan pemuja manusia.
Jadikan majelis sebagai rumah dzikir dan akhlak, bukan panggung nama.
Jadikan ilmu sebagai cahaya kerendahan, bukan hijab kesombongan.
Kami kembali kepada-Mu.
Kami bersandar kepada-Mu.
Kami memohon petunjuk-Mu.
Kami memohon ampunan-Mu.
Kami memohon agar semua cahaya dalam hidup kami Engkau kembalikan kepada sumbernya: Engkau, wahai Alloh Yang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pemurnian tauhid.
Terbuka lembar pembersihan nafsu kepemimpinan.
Semua cahaya hanyalah titipan, dan pemilik segala cahaya hanyalah Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kesembilan
BAB PEMBERSIHAN NAFSU KEPEMIMPINAN
Ketika Memimpin Majelis Harus Menjadi Pelayanan, Bukan Penguasaan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa memimpin manusia adalah ujian yang sangat halus.
Banyak orang kuat ketika sendirian,
tetapi goyah ketika mulai didengar.
Banyak orang ikhlas ketika belum dikenal,
tetapi berubah ketika mulai dihormati.
Banyak orang sederhana ketika belum punya pengikut,
tetapi mulai merasa tinggi ketika namanya disebut banyak orang.
Karena itu, kepemimpinan ruhani harus dibersihkan terus-menerus.
Sebab nafsu kepemimpinan tidak selalu tampak sebagai kesombongan kasar.
Kadang ia datang dalam bentuk ingin selalu benar.
Kadang ia datang dalam bentuk ingin selalu dipatuhi.
Kadang ia datang dalam bentuk ingin selalu menjadi pusat.
Kadang ia datang dalam bentuk merasa paling berhak menafsirkan kehendak Alloh atas hidup orang lain.
Maka berhati-hatilah.
Memimpin bukan berarti memiliki.
Membimbing bukan berarti menguasai.
Menjadi tempat bertanya bukan berarti menjadi penentu mutlak nasib manusia.
Semua pemimpin hanyalah hamba.
Semua majelis hanyalah amanah.
Semua pengaruh hanyalah titipan.
Dan semua titipan akan ditanya oleh Alloh.
---
1. PEMIMPIN YANG BERSIH
Pemimpin yang bersih bukan orang yang selalu ingin dipuji.
Ia bukan orang yang marah ketika tidak dihormati.
Ia bukan orang yang menuntut manusia tunduk kepada dirinya.
Pemimpin yang bersih adalah orang yang takut kepada amanah.
Ia senang bila orang yang dipimpinnya semakin dekat kepada Alloh.
Ia lega bila muridnya semakin mandiri dalam ibadah.
Ia bersyukur bila jamaahnya semakin berakhlak.
Ia tidak iri bila ada orang lain lebih didengar.
Ia tidak sakit hati bila kebaikan tumbuh melalui tangan orang lain.
Pemimpin yang bersih tidak menjadikan dirinya pintu tunggal menuju kebenaran.
Ia hanya berusaha menjadi jalan kecil menuju kebaikan.
Ia tahu bahwa dirinya bisa salah.
Ia tahu bahwa nasihat juga berlaku untuk dirinya.
Ia tahu bahwa pengikut bukan ukuran keselamatan.
Ia tahu bahwa pujian manusia tidak menjamin ridho Alloh.
---
2. TANDA NAFSU KEPEMIMPINAN MULAI MENYUSUP
Periksalah hati, wahai pemimpin majelis.
Jika engkau mulai tidak suka ada orang lain dihormati, berhati-hatilah.
Jika engkau mulai marah ketika tidak disebut namamu, berhati-hatilah.
Jika engkau mulai ingin semua keputusan bergantung kepadamu, berhati-hatilah.
Jika engkau mulai menutup ruang tanya, berhati-hatilah.
Jika engkau mulai menganggap semua kritik sebagai pembangkangan, berhati-hatilah.
Jika engkau mulai memakai bahasa ruhani untuk menekan orang, berhati-hatilah.
Jika engkau mulai merasa majelis tidak akan hidup tanpa dirimu, berhati-hatilah.
Sebab saat hati berkata, “Semua ini karena aku,”
di situlah tauhid mulai tertutup oleh kabut ego.
Ucapkanlah:
“Semua ini karena izin Alloh.”
“Semua ini amanah Alloh.”
“Semua ini dapat diambil kembali oleh Alloh.”
“Aku hanya hamba yang sedang diuji.”
---
3. MEMIMPIN DENGAN ADAB
Memimpin dengan adab berarti:
Tidak mempermalukan orang di depan umum tanpa kebutuhan yang benar.
Tidak memakai rahasia murid sebagai senjata.
Tidak menjadikan kesalahan orang sebagai bahan cerita.
Tidak menekan orang yang sedang lemah.
Tidak membuat orang takut keluar dari kelompok.
Tidak memakai dalil, mimpi, atau isyarat untuk memaksa kehendak pribadi.
Memimpin dengan adab berarti mengangkat yang jatuh, bukan menambah lukanya.
Menuntun yang bingung, bukan memperbudaknya.
Menguatkan yang lemah, bukan memanfaatkannya.
Menegur yang salah, bukan menghancurkan martabatnya.
Pemimpin yang beradab tahu kapan harus berbicara tegas.
Tetapi ketegasannya tidak lahir dari nafsu menghina.
Ketegasannya lahir dari kasih sayang dan tanggung jawab.
---
4. MAJELIS BUKAN KERAJAAN
Wahai pemimpin majelis, ingatlah:
Majelis bukan kerajaanmu.
Anggota bukan rakyat milikmu.
Murid bukan pasukan namamu.
Pengikut bukan pagar egomu.
Grup bukan singgasana batinmu.
Majelis hanyalah tempat manusia saling mengingatkan dalam kebaikan.
Jika majelis membuat orang makin dekat kepada Alloh, jagalah.
Jika majelis membuat orang makin berakhlak, syukurilah.
Jika majelis membuat orang makin saling mendoakan, rawatlah.
Tetapi jika majelis mulai menjadi tempat saling memuja manusia, saling merendahkan kelompok lain, dan saling membela kesalahan karena fanatisme, maka bersihkanlah.
Majelis yang benar bukan yang paling ramai.
Majelis yang benar adalah yang paling menjaga adab.
Majelis yang benar bukan yang paling banyak cerita gaibnya.
Majelis yang benar adalah yang paling banyak melahirkan taubat dan akhlak.
Majelis yang benar bukan yang paling keras suaranya.
Majelis yang benar adalah yang paling lembut membawa manusia pulang kepada Alloh.
---
5. PEMIMPIN HARUS SIAP DITEGUR
Salah satu tanda pemimpin yang masih dijaga Alloh adalah ia tidak benci kepada nasihat.
Ia boleh sedih ketika ditegur.
Ia boleh merasa berat ketika dikoreksi.
Tetapi ia tidak menutup pintu muhasabah.
Sebab teguran bisa menjadi rahmat.
Kritik bisa menjadi cermin.
Pertanyaan bisa menjadi pembuka ilmu.
Keberatan murid bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Pemimpin yang tidak bisa ditegur akan mudah menjadi zalim.
Pembimbing yang tidak mau dikoreksi akan mudah menamakan egonya sebagai amanah.
Guru yang tidak mau mendengar akan mudah menganggap semua suaranya sebagai kebenaran.
Maka pemimpin harus punya ruang sunyi untuk bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah aku masih membimbing karena Alloh?”
“Apakah aku mulai menikmati dihormati?”
“Apakah aku takut kehilangan pengikut?”
“Apakah aku menegur karena kasih sayang atau karena tersinggung?”
“Apakah aku mengajak manusia kepada Alloh atau kepada diriku?”
Pertanyaan seperti ini adalah pintu keselamatan.
---
6. PEMIMPIN HARUS MENJAGA YANG LEMAH
Dalam majelis, selalu ada orang yang kuat dan ada yang rapuh.
Ada yang ilmunya cukup dan ada yang baru belajar.
Ada yang hatinya stabil dan ada yang sedang terluka.
Ada yang mudah paham dan ada yang perlu dituntun pelan-pelan.
Pemimpin yang bersih tidak boleh hanya mencintai yang pandai memuji.
Ia juga harus menyayangi yang sering bertanya.
Ia juga harus sabar kepada yang lambat paham.
Ia juga harus melindungi yang mudah tersinggung.
Ia juga harus berhati-hati kepada yang sedang terluka.
Jangan jadikan orang lemah sebagai bahan tekanan.
Jangan jadikan orang polos sebagai alat pembelaan.
Jangan jadikan orang yang percaya sebagai ladang kepentingan.
Jangan jadikan orang yang hormat sebagai tangga kesombongan.
Karena doa orang yang terluka bisa naik kepada Alloh.
Dan pemimpin akan ditanya tentang luka yang ia sebabkan.
---
7. KEPEMIMPINAN YANG DIKEMBALIKAN KEPADA ALLOH
Kepemimpinan yang lurus selalu dikembalikan kepada Alloh.
Saat dipuji, ia berkata: “Alhamdulillāh, ini hanya titipan.”
Saat dikritik, ia berkata: “Semoga Alloh menunjukkan yang benar.”
Saat berhasil, ia berkata: “Ini pertolongan Alloh.”
Saat gagal, ia berkata: “Aku harus muhasabah.”
Saat banyak yang mengikuti, ia berkata: “Ini amanah berat.”
Saat ditinggalkan, ia berkata: “Aku tetap hamba Alloh.”
Pemimpin yang bersandar kepada Alloh tidak mudah runtuh oleh hinaan.
Tidak mabuk oleh pujian.
Tidak kehilangan arah saat pengikut berkurang.
Tidak sombong saat majelis berkembang.
Ia berjalan dengan hati yang terus memohon penjagaan.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Kepemimpinan ruhani adalah amanah, bukan hak untuk menguasai.
Majelis adalah titipan, bukan kerajaan manusia.
Murid adalah saudara dalam pencarian, bukan milik pribadi.
Pengikut adalah ujian, bukan bukti kemuliaan.
Pujian adalah cobaan, bukan tanda keselamatan.
Teguran adalah cermin, bukan selalu permusuhan.
Barang siapa memimpin, hendaklah ia lebih banyak istighfar.
Barang siapa didengar, hendaklah ia lebih menjaga lisan.
Barang siapa dihormati, hendaklah ia lebih takut kepada ujub.
Barang siapa diberi majelis, hendaklah ia menjaga yang lemah.
Jangan memimpin dengan haus kuasa.
Jangan membimbing dengan rasa memiliki.
Jangan menegur dengan dendam.
Jangan mengatur dengan ancaman.
Jangan membawa nama Alloh untuk membesarkan ego.
Pimpinlah dengan rahmat.
Bimbinglah dengan adab.
Tegurlah dengan kasih sayang.
Kembalikan semua kepada Alloh.
---
DOA LEMBAR KESEMBILAN
Yā Alloh, Yā Malik, Yā Hādī, Yā Laṭīf, Yā Quddūs.
Bersihkan hati kami dari nafsu kepemimpinan.
Jauhkan kami dari haus dihormati.
Selamatkan kami dari merasa memiliki manusia.
Lindungi kami dari menjadikan majelis sebagai panggung ego.
Ya Alloh,
jika Engkau titipkan amanah memimpin, jadikan kami pelayan kebaikan.
Jika Engkau titipkan murid dan saudara, jadikan kami penjaga kasih sayang.
Jika Engkau titipkan suara yang didengar, jadikan kami takut melukai dengan lisan.
Jika Engkau titipkan majelis, jadikan majelis itu rumah rahmat, bukan kerajaan nama.
Jangan biarkan kami mabuk pujian.
Jangan biarkan kami benci kepada teguran.
Jangan biarkan kami menekan orang lemah.
Jangan biarkan kami memakai ilmu untuk menguasai.
Kembalikan kami kepada-Mu.
Kembalikan kepemimpinan kepada amanah.
Kembalikan majelis kepada adab.
Kembalikan murid kepada tauhid.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pembersihan nafsu kepemimpinan.
Terbuka lembar penyembuhan luka murid dan jamaah.
Pemimpin yang selamat bukan yang paling dipuja, tetapi yang paling takut menyia-nyiakan amanah Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kesepuluh
BAB PENYEMBUHAN LUKA MURID DAN JAMAAH
Ketika Hati yang Terluka Harus Dikembalikan kepada Rahmat Alloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa tidak semua orang yang datang ke majelis datang dengan hati yang kuat.
Ada yang datang karena kehilangan pegangan.
Ada yang datang karena luka keluarga.
Ada yang datang karena pernah dikhianati.
Ada yang datang karena merasa hidupnya gelap.
Ada yang datang karena membutuhkan sosok pembimbing.
Ada yang datang karena ingin pulang kepada Alloh, tetapi belum tahu dari mana harus mulai.
Maka jangan sakiti orang yang datang membawa luka.
Jangan tekan orang yang datang membawa air mata.
Jangan perbudak orang yang datang membawa kepercayaan.
Jangan patahkan hati orang yang sedang belajar berdiri.
Karena hati manusia bukan batu.
Hati manusia bisa retak oleh ucapan.
Hati manusia bisa gelap oleh ancaman.
Hati manusia bisa runtuh oleh pengkhianatan amanah.
Dan barang siapa diberi amanah menyentuh hati manusia, hendaklah ia takut kepada Alloh.
---
1. LUKA MURID ADALAH AMANAH
Murid yang terluka tidak selalu terlihat menangis.
Kadang ia tetap tersenyum, tetapi batinnya berat.
Kadang ia tetap hadir di majelis, tetapi hatinya penuh takut.
Kadang ia tetap memanggil guru dengan hormat, tetapi di dalam dirinya ada luka yang tidak berani ia katakan.
Maka guru dan pembimbing harus peka.
Jangan mudah berkata, “Itu kurang iman.”
Jangan mudah berkata, “Itu kurang taat.”
Jangan mudah berkata, “Itu karena engkau menolak bimbingan.”
Jangan mudah menjadikan penderitaan orang sebagai vonis ruhani.
Kadang orang terluka bukan karena kurang iman.
Kadang ia hanya terlalu lama tidak didengar.
Kadang ia terlalu sering disalahkan.
Kadang ia terlalu sering dimanfaatkan.
Kadang ia terlalu takut kepada manusia yang seharusnya membimbingnya dengan kasih sayang.
Maka obatilah dengan rahmat, bukan dengan tekanan.
Bimbinglah dengan lembut, bukan dengan ancaman.
Ajaklah kepada Alloh, bukan kepada ketakutan terhadap manusia.
---
2. JANGAN MEMAKAI BAHASA RUHANI UNTUK MELUKAI
Bahasa ruhani adalah amanah.
Jika digunakan dengan adab, ia dapat menenangkan hati.
Jika digunakan dengan nafsu, ia dapat melukai lebih dalam daripada pedang.
Jangan berkata kepada orang yang sedang rapuh:
“Ruhmu kotor.”
“Batinmu tertutup.”
“Kamu akan celaka kalau tidak ikut aku.”
“Semua masalahmu karena kamu tidak taat kepadaku.”
“Kamu tidak akan selamat tanpa jalanku.”
Ucapan seperti itu dapat membuat manusia takut, bingung, dan kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.
Kalau memang ingin menasihati, nasihatilah dengan jalan yang menyembuhkan:
“Perbanyak istighfar.”
“Dekatkan diri kepada Alloh.”
“Jaga shalat pelan-pelan.”
“Tenangkan hati, jangan tergesa mengambil keputusan.”
“Mintalah pertolongan kepada Alloh dan carilah orang amanah untuk mendengar.”
Nasihat yang baik tidak harus menakut-nakuti.
Nasihat yang benar tidak harus menghancurkan martabat.
Nasihat yang lahir dari rahmat akan membuka pintu pulang, bukan menutup harapan.
---
3. TANDA MAJELIS YANG MENYEMBUHKAN
Majelis yang menyembuhkan bukan majelis yang membuat semua orang selalu takut.
Bukan majelis yang membuat murid merasa tidak berharga.
Bukan majelis yang membuat jamaah kehilangan akal sehat.
Bukan majelis yang menutup semua pertanyaan dengan tuduhan kurang adab.
Majelis yang menyembuhkan memiliki tanda:
Orang yang datang merasa diingatkan kepada Alloh.
Orang yang salah diberi jalan taubat.
Orang yang lemah dikuatkan.
Orang yang bingung dituntun dengan sabar.
Orang yang bertanya dijawab dengan adab.
Orang yang berbeda pendapat tidak langsung direndahkan.
Orang yang pergi tetap didoakan kebaikannya.
Majelis yang menyembuhkan tidak membesarkan luka.
Ia menjadi tempat hati belajar pulang.
Ia menjadi ruang aman untuk memperbaiki diri.
Ia menjadi taman akhlak, bukan pengadilan ego.
---
4. TIGA LUKA YANG SERING TERJADI DI JALAN BATIN
Pertama: luka karena ditakut-takuti.
Ada murid yang hidup dalam takut karena selalu diberi ancaman batin.
Takut kualat.
Takut ditinggalkan cahaya.
Takut celaka jika bertanya.
Takut hancur jika keluar dari kelompok.
Padahal jalan Alloh bukan jalan menanam teror ke dalam jiwa.
Takut kepada Alloh harus melahirkan taubat dan harapan, bukan ketergantungan buta kepada manusia.
Kedua: luka karena dikuasai.
Ada murid yang kehilangan keberanian mengambil keputusan karena semua hal harus menunggu restu manusia.
Ia tidak lagi jernih.
Ia tidak lagi percaya kepada tanggung jawabnya sendiri.
Ia merasa hidupnya milik pembimbing.
Ini bukan bimbingan yang sehat.
Bimbingan yang benar membantu manusia dewasa di hadapan Alloh, bukan menjadikannya tawanan batin.
Ketiga: luka karena dipermalukan.
Ada orang yang salah, lalu kesalahannya dijadikan bahan cerita.
Ada orang yang lemah, lalu kelemahannya dipakai untuk merendahkan.
Ada orang yang curhat, lalu rahasianya dibuka.
Ada orang yang percaya, lalu kepercayaannya dikhianati.
Maka takutlah kepada Alloh dalam menjaga rahasia manusia.
Tidak semua yang diketahui boleh diceritakan.
Tidak semua yang salah boleh dipermalukan.
Tidak semua yang lemah boleh ditekan.
---
5. ADAB MENYEMBUHKAN HATI
Jika engkau menjadi pembimbing, dan ada orang datang membawa luka, peganglah lima adab ini:
Pertama: dengarkan sebelum menilai.
Jangan cepat memberi vonis.
Kadang manusia hanya butuh didengar agar hatinya tidak pecah.
Kedua: tenangkan sebelum menasihati.
Hati yang sedang terbakar sulit menerima hikmah.
Siramlah dulu dengan kelembutan.
Ketiga: arahkan kepada Alloh, bukan kepada dirimu.
Jangan membuat orang merasa hanya engkau yang bisa menyelamatkannya.
Ingatkan bahwa Alloh Maha Dekat, Maha Mendengar, dan Maha Menerima taubat.
Keempat: jaga rahasia.
Orang yang membuka lukanya kepadamu sedang menitipkan amanah.
Jangan jadikan ceritanya bahan pembicaraan.
Kelima: jangan melampaui batas.
Jika masalahnya berat, membutuhkan ahli, keluarga, tenaga kesehatan, atau pihak yang berwenang, arahkan dengan bijak.
Pembimbing ruhani tidak boleh merasa mampu menyelesaikan semua hal sendirian.
---
6. PEMULIHAN MURID YANG TERLUKA
Wahai murid yang pernah terluka,
jangan menyangka Alloh meninggalkanmu hanya karena manusia mengecewakanmu.
Jika ada guru yang salah, Alloh tetap benar.
Jika ada majelis yang melukai, jalan Alloh tetap luas.
Jika ada manusia yang mengkhianati amanah, rahmat Alloh tetap terbuka.
Jika ada ucapan yang membuatmu takut, kembalilah kepada Alloh dengan perlahan.
Jangan biarkan luka membuatmu membenci semua kebaikan.
Jangan biarkan pengalaman pahit menutup pintu taubat.
Jangan biarkan kesalahan manusia membuatmu jauh dari shalat.
Jangan biarkan kekecewaan kepada pembimbing membuatmu putus asa dari rahmat Alloh.
Pelan-pelan pulanglah.
Mulailah dari istighfar.
Mulailah dari shalat semampumu.
Mulailah dari doa pendek.
Mulailah dari menjaga hati agar tidak membalas luka dengan kezaliman.
Mulailah dari mencari lingkungan yang lebih aman, lebih jujur, dan lebih beradab.
Alloh tidak jauh dari hati yang remuk karena ingin kembali kepada-Nya.
---
7. PENEGASAN BAGI GURU DAN PEMIMPIN MAJELIS
Wahai guru, takutlah kepada air mata murid yang engkau sebabkan tanpa hak.
Wahai pembimbing, takutlah kepada rahasia orang yang engkau buka tanpa amanah.
Wahai pemimpin majelis, takutlah kepada hati yang engkau tekan atas nama ketaatan.
Wahai ahli tasafuh, takutlah jika jalan yang seharusnya menyembuhkan justru menjadi sumber luka.
Tegaslah bila harus tegas.
Tetapi jangan kejam.
Luruskan bila harus meluruskan.
Tetapi jangan menghina.
Tegur bila harus menegur.
Tetapi jangan merusak martabat.
Jaga adab, karena setiap kata akan kembali kepada pemiliknya.
Pembimbing yang baik tidak membuat murid takut hidup tanpa dirinya.
Ia membuat murid yakin bahwa Alloh selalu ada, walau manusia datang dan pergi.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Murid yang terluka harus dirawat, bukan dimanfaatkan.
Jamaah yang rapuh harus dikuatkan, bukan ditakut-takuti.
Rahasia manusia harus dijaga, bukan dijadikan senjata.
Kesalahan harus diperbaiki, bukan dijadikan bahan penghinaan.
Majelis harus menjadi rumah rahmat, bukan ruang tekanan batin.
Guru harus menjadi penuntun kepada Alloh, bukan pusat ketergantungan.
Barang siapa menyembuhkan hati manusia dengan izin Alloh, semoga Alloh menyembuhkan hatinya.
Barang siapa melukai hati manusia atas nama ilmu, hendaklah ia bertaubat sebelum luka itu menjadi saksi.
Jangan menjadikan tasafuh sebagai tempat orang takut kepada manusia.
Jadikan tasafuh sebagai jalan orang kembali kepada Alloh dengan cinta, taubat, ilmu, dan adab.
---
DOA LEMBAR KESEPULUH
Yā Alloh, Yā Raḥmān, Yā Raḥīm, Yā Laṭīf, Yā Syāfī.
Sembuhkan hati murid dan jamaah yang pernah terluka.
Lapangkan dada orang yang pernah ditekan atas nama bimbingan.
Pulihkan jiwa orang yang pernah ditakut-takuti atas nama ilmu.
Kuatkan hati orang yang kehilangan arah karena pengkhianatan amanah.
Ya Alloh,
jadikan majelis kami rumah rahmat.
Jadikan nasihat kami obat, bukan luka.
Jadikan lisan kami lembut, bukan pedang nafsu.
Jadikan ilmu kami penuntun, bukan alat penguasaan.
Jika kami pernah melukai dengan kata, ampuni kami.
Jika kami pernah menekan dengan sikap, sadarkan kami.
Jika kami pernah membuka rahasia orang, tuntun kami untuk bertaubat.
Jika kami pernah membuat orang takut kepada manusia melebihi takut kepada-Mu, luruskan kami.
Kembalikan yang terluka kepada harapan.
Kembalikan yang tersesat kepada petunjuk.
Kembalikan yang takut kepada ketenangan.
Kembalikan tasafuh kepada rahmat-Mu, wahai Alloh Yang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penyembuhan luka murid dan jamaah.
Terbuka lembar pembersihan ilmu dari perdagangan nafsu.
Setiap hati adalah amanah, dan setiap amanah akan kembali kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kesebelas
BAB PEMBERSIHAN ILMU DARI PERDAGANGAN NAFSU
Ketika Ilmu Ruhani Tidak Boleh Dijadikan Alat Menipu, Menekan, dan Memperjualbelikan Ketakutan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa ilmu adalah amanah yang suci bila dijaga dengan adab.
Namun ilmu dapat menjadi racun bila dipakai untuk memperdagangkan ketakutan, memanfaatkan kebingungan, dan mencari keuntungan dari luka manusia.
Ilmu bukan barang untuk menipu.
Ilmu bukan alat untuk menakut-nakuti.
Ilmu bukan jaring untuk menangkap orang lemah.
Ilmu bukan tangga untuk menaikkan harga diri di atas penderitaan manusia.
Barang siapa diberi ilmu, hendaklah ia takut kepada Alloh.
Sebab ilmu yang disalahgunakan akan menjadi saksi.
Lisan yang mengatasnamakan Alloh akan dimintai pertanggungjawaban.
Nasihat yang melukai akan kembali kepada pemiliknya.
Dan harta yang diperoleh dengan mempermainkan ketakutan manusia tidak akan membawa keberkahan.
---
1. ILMU YANG MENYELAMATKAN DAN ILMU YANG MENJERAT
Ilmu yang menyelamatkan membawa manusia kepada Alloh.
Ilmu yang menjerat membawa manusia kepada ketergantungan kepada pembawanya.
Ilmu yang menyelamatkan membuat hati tenang untuk bertaubat.
Ilmu yang menjerat membuat hati takut kepada manusia.
Ilmu yang menyelamatkan membuka pintu harapan.
Ilmu yang menjerat menutup harapan dengan ancaman.
Ilmu yang menyelamatkan berkata:
“Kembalilah kepada Alloh. Perbaiki shalatmu. Jaga akhlakmu. Mintalah ampunan.”
Ilmu yang menjerat berkata:
“Tanpa aku engkau celaka. Tanpa jalanku engkau rusak. Tanpa bayar kepadaku urusanmu tidak akan selesai.”
Maka bedakanlah.
Tidak semua orang yang memakai kata hikmah membawa hikmah.
Tidak semua orang yang bicara tentang batin menjaga batin.
Tidak semua orang yang menyebut nama Alloh benar-benar mengajak kepada Alloh.
---
2. BAHAYA MEMPERDAGANGKAN KETAKUTAN
Ada orang yang datang kepada pembimbing dengan hati resah.
Ia takut, bingung, sakit, terluka, atau sedang kehilangan arah.
Pada saat seperti itu, ia mudah percaya kepada siapa pun yang berbicara meyakinkan.
Maka sangat berat dosa orang yang memanfaatkan keadaan itu.
Jangan berkata kepada orang lemah:
“Engkau terkena ini dan itu, maka harus begini dengan biaya sekian.”
“Jika tidak ikut caraku, keluargamu akan hancur.”
“Jika tidak memberi ini, penyakit batinmu tidak akan sembuh.”
“Jika tidak tunduk, engkau akan tertutup selamanya.”
Ucapan seperti itu bisa menjadi perdagangan ketakutan.
Dan perdagangan ketakutan adalah pengkhianatan amanah.
Jika ada biaya nyata untuk kebutuhan wajar, jelaskan dengan jujur.
Jika ada sedekah, jangan memaksa.
Jika ada bantuan, jangan menjadikannya alat menekan.
Jika ada doa, jangan menjualnya seolah rahmat Alloh berada di tangan manusia.
Rahmat Alloh tidak dapat dibeli dari manusia.
Hidayah Alloh tidak dapat dimonopoli oleh majelis.
Kesembuhan hakiki tetap milik Alloh.
Manusia hanya berikhtiar, berdoa, dan menjaga adab.
---
3. ILMU BATIN HARUS JUJUR
Ilmu batin yang lurus harus jujur dalam tiga hal.
Pertama: jujur tentang batas kemampuan.
Seorang pembimbing tidak boleh mengaku mengetahui semua perkara.
Tidak boleh mengaku mampu menyelesaikan semua masalah.
Tidak boleh mengaku melihat seluruh rahasia manusia.
Tidak boleh mengaku setiap ucapannya pasti benar.
Katakan dengan jujur:
“Aku hanya berusaha membantu.”
“Yang mengetahui hakikatnya hanya Alloh.”
“Kita timbang dengan ilmu dan adab.”
“Jika urusan ini berat, carilah bantuan yang tepat.”
Kejujuran seperti ini lebih mulia daripada klaim besar yang menipu.
Kedua: jujur tentang niat.
Bertanyalah kepada diri sendiri:
“Apakah aku menolong karena Alloh, atau karena ingin dipuji?”
“Apakah aku membimbing karena amanah, atau karena ingin diikuti?”
“Apakah aku menerima pemberian dengan adab, atau mulai menjadikan orang sebagai sumber keuntungan?”
Jika niat mulai keruh, bersihkan dengan istighfar.
Ketiga: jujur tentang hasil.
Jangan menjanjikan kepastian yang bukan milik manusia.
Jangan berkata, “Pasti sembuh,” jika semua tetap bergantung kepada kehendak Alloh.
Jangan berkata, “Pasti berhasil,” jika manusia hanya bisa berikhtiar.
Jangan berkata, “Pasti terbuka,” jika hati adalah rahasia Alloh.
Katakanlah:
“Kita berdoa, berikhtiar, dan berserah kepada Alloh.”
Itu lebih selamat.
---
4. TANDA ILMU SUDAH TERCAMPUR NAFSU DAGANG
Ilmu mulai tercampur nafsu dagang ketika:
Orang yang datang selalu dibuat takut agar tetap kembali.
Masalah kecil dibesarkan agar terlihat membutuhkan penanganan khusus.
Bahasa ghaib dipakai untuk menaikkan harga.
Doa dibuat seolah tidak berguna tanpa bayaran tertentu.
Murid dibuat merasa bersalah bila tidak memberi.
Kemiskinan orang tidak dipedulikan, yang penting ia tetap menyerahkan sesuatu.
Nama Alloh disebut, tetapi niatnya menekan dan mengambil.
Inilah tanda bahaya.
Bukan berarti guru tidak boleh menerima pemberian.
Bukan berarti pembimbing tidak boleh dibantu kebutuhannya.
Bukan berarti majelis tidak boleh memiliki biaya operasional.
Tetapi semua harus jelas, jujur, wajar, tidak memaksa, tidak menipu, dan tidak memanfaatkan ketakutan.
Pemberian yang baik lahir dari kerelaan.
Bukan dari ancaman.
Bukan dari manipulasi.
Bukan dari rasa takut akan celaka.
---
5. ADAB MENERIMA PEMBERIAN
Jika engkau menjadi pembimbing dan ada orang memberi sesuatu, peganglah adab ini:
Terima dengan syukur bila pemberian itu halal dan rela.
Jangan memaksa orang yang tidak mampu.
Jangan membedakan kasih sayang hanya karena besar kecil pemberian.
Jangan menjadikan doa sebagai transaksi kaku.
Jangan menjadikan orang miskin merasa tidak layak ditolong.
Jangan menjadikan bantuan sebagai hutang batin yang harus dibayar dengan ketaatan buta.
Doakan pemberi.
Jaga amanahnya.
Jangan gunakan pemberian untuk kesombongan.
Dan jangan lupa bahwa rezeki hakiki datang dari Alloh, bukan dari murid.
Jika hati mulai senang melihat murid sebagai sumber pemasukan, berhentilah sejenak.
Muhasabah.
Istighfar.
Kembalikan niat kepada Alloh.
---
6. ADAB BAGI MURID AGAR TIDAK TERTIPU
Wahai murid dan pencari jalan, berhati-hatilah.
Jangan mudah percaya kepada orang yang selalu menakut-nakuti.
Jangan mudah menyerahkan harta karena ancaman batin.
Jangan mudah percaya kepada janji pasti atas perkara yang hanya Alloh kuasai.
Jangan malu bertanya dengan baik.
Jangan takut mencari pendapat kedua dari orang yang amanah.
Jangan merasa berdosa hanya karena engkau ingin berpikir jernih.
Pembimbing yang baik tidak marah jika engkau berhati-hati.
Orang yang jujur tidak takut diperiksa dengan adab.
Ilmu yang benar tidak perlu diselimuti ancaman agar dipercaya.
Jika ada yang meminta biaya, lihatlah kewajarannya.
Jika ada yang meminta pemberian, lihatlah apakah ada paksaan.
Jika ada yang menjual ketakutan, mundurlah dengan sopan.
Jika ada yang mengaku semua keselamatanmu bergantung padanya, kembalilah kepada Alloh.
---
7. PENEGASAN UNTUK MAJELIS
Majelis yang bersih harus menjaga transparansi, adab, dan kasih sayang.
Jika ada iuran, jelaskan untuk apa.
Jika ada sedekah, jangan memaksa.
Jika ada kebutuhan bersama, musyawarahkan.
Jika ada bantuan untuk guru atau kegiatan, sampaikan dengan jujur.
Jika ada yang tidak mampu, jangan dipermalukan.
Majelis yang baik tidak mengukur kemuliaan seseorang dari besar pemberian.
Orang miskin tetap punya tempat.
Orang sederhana tetap dihormati.
Orang yang belum mampu tetap didoakan.
Karena nilai manusia di hadapan Alloh bukan ditentukan oleh isi kantong, tetapi oleh iman, takwa, taubat, dan akhlak.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Ilmu tidak boleh dijadikan alat menipu.
Doa tidak boleh dijadikan alat memeras.
Dzikir tidak boleh dijadikan dagangan ketakutan.
Mimpi tidak boleh dijadikan alasan mengambil hak orang.
Bahasa ghaib tidak boleh dipakai untuk menekan orang lemah.
Majelis tidak boleh menjadi pasar nafsu yang memakai pakaian suci.
Barang siapa diberi ilmu, hendaklah ia amanah.
Barang siapa diberi kepercayaan, hendaklah ia jujur.
Barang siapa menerima pemberian, hendaklah ia menjaga adab.
Barang siapa menolong orang, hendaklah ia mengembalikan harapan kepada Alloh.
Jangan jual rasa takut.
Jangan jual nama Alloh.
Jangan jual luka manusia.
Jangan jual kebingungan orang yang sedang mencari jalan.
Berilah nasihat dengan kasih sayang.
Terimalah rezeki dengan adab.
Tolaklah nafsu dengan istighfar.
Kembalikan semua manfaat kepada Alloh.
---
DOA LEMBAR KESEBELAS
Yā Alloh, Yā Razzāq, Yā Amīn, Yā Ḥafīẓ, Yā Quddūs.
Bersihkan ilmu kami dari nafsu memperdagangkan ketakutan.
Bersihkan lisan kami dari janji palsu.
Bersihkan tangan kami dari mengambil yang bukan hak.
Bersihkan majelis kami dari paksaan, manipulasi, dan ketidakjujuran.
Ya Alloh,
jika kami menerima pemberian, jadikan kami amanah.
Jika kami membantu orang lemah, jadikan kami tulus.
Jika kami menasihati orang takut, jadikan kami pembawa ketenangan.
Jika kami diberi rezeki melalui jalan majelis, jadikan rezeki itu halal, bersih, dan membawa berkah.
Jauhkan kami dari menipu atas nama ilmu.
Jauhkan kami dari memeras atas nama doa.
Jauhkan kami dari menjual ketakutan atas nama batin.
Jauhkan kami dari menyakiti orang miskin dan orang rapuh.
Kembalikan ilmu kepada manfaat.
Kembalikan doa kepada keikhlasan.
Kembalikan majelis kepada amanah.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pembersihan ilmu dari perdagangan nafsu.
Terbuka lembar penjagaan lisan dan fatwa batin.
Ilmu yang bersih tidak memperjualbelikan ketakutan, tetapi membuka jalan manusia kembali kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Belas
BAB PENJAGAAN LISAN DAN FATWA BATIN
Ketika Ucapan Ruhani Harus Dijaga dari Vonis, Ancaman, dan Kesombongan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa lisan adalah pintu besar dalam perjalanan ruhani.
Dengan lisan, seseorang dapat menenangkan hati yang gelisah.
Dengan lisan, seseorang dapat menguatkan jiwa yang lemah.
Dengan lisan, seseorang dapat membuka jalan taubat bagi orang yang hampir putus asa.
Namun dengan lisan pula, seseorang dapat melukai, menyesatkan, menakut-nakuti, memecah belah, dan membawa nama Alloh untuk membesarkan dirinya sendiri.
Maka jagalah lisanmu, wahai pencari jalan.
Sebab ucapan yang keluar atas nama ilmu lebih berat tanggung jawabnya daripada ucapan biasa.
Ucapan yang keluar atas nama batin lebih dalam pengaruhnya daripada kata-kata umum.
Ucapan yang keluar atas nama Alloh harus disertai takut, adab, ilmu, dan kerendahan hati.
Jangan mudah memberi vonis.
Jangan mudah memastikan isi hati orang.
Jangan mudah menyatakan seseorang celaka.
Jangan mudah mengatakan seseorang tertutup dari rahmat.
Jangan mudah menamai rasa pribadi sebagai keputusan langit.
Karena yang mengetahui rahasia hati secara sempurna hanyalah Alloh.
---
1. LISAN SEBAGAI AMANAH
Lisan bukan sekadar alat bicara.
Lisan adalah amanah.
Jika ia dipakai untuk dzikir, ia bisa menjadi jalan cahaya.
Jika ia dipakai untuk doa, ia bisa menjadi jembatan harapan.
Jika ia dipakai untuk nasihat, ia bisa menjadi obat.
Jika ia dipakai untuk fitnah, ia bisa menjadi api.
Jika ia dipakai untuk kesombongan, ia bisa menjadi hijab.
Maka sebelum berbicara, tanyakan kepada hati:
Apakah ucapanku akan mendekatkan orang kepada Alloh?
Apakah ucapanku akan memperbaiki keadaan?
Apakah ucapanku lahir dari kasih sayang atau dari kemarahan?
Apakah ucapanku benar-benar perlu disampaikan?
Apakah aku siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Alloh?
Tidak semua yang diketahui harus dikatakan.
Tidak semua yang dirasakan harus diumumkan.
Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan keras.
Tidak semua yang salah harus dibongkar di depan manusia.
Lisan yang beradab tahu kapan bicara, kapan diam, kapan menegur, dan kapan mendoakan.
---
2. BAHAYA FATWA BATIN TANPA ILMU
Fatwa batin adalah ucapan yang memakai bahasa ruhani untuk menilai keadaan seseorang.
Ucapan seperti:
“Ruhmu gelap.”
“Batinmu tertutup.”
“Kamu sedang dikuasai.”
“Kamu pasti terkena hukuman.”
“Kamu akan celaka jika tidak mengikuti jalanku.”
Ucapan seperti itu sangat berat.
Jika tidak disertai ilmu, adab, bukti yang jelas, dan kasih sayang, ia dapat berubah menjadi kezaliman lisan.
Banyak hati menjadi takut karena ucapan seperti itu.
Banyak murid menjadi bingung.
Banyak orang yang sedang rapuh merasa semakin hancur.
Banyak pencari jalan menjadi tergantung kepada manusia karena takut pada ancaman batin.
Maka berhati-hatilah.
Jangan jadikan rasa sebagai fatwa.
Jangan jadikan mimpi sebagai vonis.
Jangan jadikan isyarat sebagai hukuman.
Jangan jadikan bahasa ruhani sebagai senjata untuk menekan orang.
Jika ingin menasihati, nasihatilah dengan jalan yang aman:
“Perbanyak istighfar.”
“Jaga shalat.”
“Tenangkan hati.”
“Jangan tergesa menyimpulkan.”
“Periksa diri dengan jujur.”
“Mari kembali kepada Alloh.”
Itu lebih selamat daripada ucapan yang menakutkan tetapi tidak jelas dasarnya.
---
3. VONIS BUKAN TUGAS HAMBA
Wahai ahli tasafuh,
ingatlah bahwa tugas hamba adalah menasihati, mendoakan, memperbaiki diri, dan mengajak kepada kebaikan.
Bukan tugas hamba menetapkan siapa yang pasti selamat dan siapa yang pasti binasa.
Bukan tugas hamba mengunci pintu rahmat Alloh bagi orang lain.
Bukan tugas hamba merasa paling berhak membaca seluruh takdir manusia.
Engkau boleh mengingatkan jika ada kesalahan nyata.
Engkau boleh menegur jika ada kezaliman.
Engkau boleh meluruskan jika ada penyimpangan.
Tetapi jangan mengambil tempat yang bukan milikmu.
Hak menentukan akhir manusia adalah milik Alloh.
Hak mengetahui batin secara sempurna adalah milik Alloh.
Hak memberi hidayah adalah milik Alloh.
Hak menerima taubat adalah milik Alloh.
Maka jangan menjadi hamba yang mudah memvonis.
Jadilah hamba yang mudah mendoakan.
---
4. UCAPAN YANG MENYEMBUHKAN
Lisan yang bersih tidak selalu lembek.
Ia bisa tegas, tetapi tetap beradab.
Ia bisa meluruskan, tetapi tidak menghina.
Ia bisa menolak keburukan, tetapi tidak mematikan harapan.
Ucapan yang menyembuhkan memiliki tanda:
Ia mengingatkan tanpa merendahkan.
Ia menegur tanpa mempermalukan.
Ia menenangkan tanpa menipu.
Ia memberi harapan tanpa menghapus tanggung jawab.
Ia mengajak kepada Alloh, bukan kepada ketergantungan kepada manusia.
Jika seseorang sedang salah, jangan langsung dihancurkan.
Tunjukkan jalan pulang.
Jika seseorang sedang lemah, jangan langsung disalahkan.
Kuatkan dengan rahmat.
Jika seseorang sedang bingung, jangan ditambah takutnya.
Beri cahaya ilmu pelan-pelan.
Sebab banyak manusia tidak membutuhkan kata-kata besar.
Mereka membutuhkan satu kalimat yang membuatnya kembali percaya bahwa rahmat Alloh masih terbuka.
---
5. ADAB MENEGUR DALAM JALAN TASAFUH
Menegur adalah amanah.
Bukan semua orang mampu menegur dengan bersih.
Kadang yang disebut teguran sebenarnya hanya pelampiasan ego.
Kadang yang disebut pelurusan sebenarnya hanya kemarahan yang memakai pakaian agama.
Kadang yang disebut nasihat sebenarnya adalah keinginan mempermalukan.
Maka sebelum menegur, bersihkan niat.
Tegurlah karena ingin memperbaiki, bukan ingin menang.
Tegurlah karena sayang, bukan karena dendam.
Tegurlah dengan bukti, bukan prasangka.
Tegurlah sesuai kadar kesalahan, bukan berlebihan.
Tegurlah di tempat yang paling menjaga martabat, selama tidak ada kebutuhan besar untuk terbuka.
Jika teguranmu membuat orang sadar dan kembali kepada Alloh, bersyukurlah.
Jika teguranmu hanya membuat egomu puas, istighfarlah.
---
6. ADAB DIAM
Tidak semua diam adalah lemah.
Kadang diam adalah penjagaan.
Diam dari membalas hinaan bisa menjadi kemuliaan.
Diam dari menyebarkan rahasia bisa menjadi amanah.
Diam dari menafsirkan sesuatu yang belum jelas bisa menjadi keselamatan.
Diam dari membicarakan aib orang bisa menjadi cahaya.
Namun ada pula diam yang salah:
diam ketika kezaliman terjadi,
diam ketika orang lemah ditindas,
diam ketika kebohongan merusak banyak orang,
diam karena takut kehilangan kedudukan.
Maka diam pun harus ditimbang dengan ilmu dan adab.
Bicaralah bila bicaramu membawa maslahat.
Diamlah bila diammu lebih menjaga keselamatan.
Berdoalah dalam keduanya agar Alloh menjaga niatmu.
---
7. LISAN PEMBIMBING DAN LISAN MURID
Wahai pembimbing, jagalah lisanmu dari ancaman yang tidak benar.
Jangan jadikan murid takut kepada kata-katamu lebih daripada takut kepada Alloh.
Jangan jadikan rahasia murid sebagai bahan nasihat umum tanpa izin dan adab.
Jangan jadikan kelemahan murid sebagai alat menundukkan.
Wahai murid, jagalah lisanmu dari mencaci guru dan sesama pencari jalan.
Jika ada kesalahan, sampaikan dengan adab.
Jika ada luka, cari jalan penyelesaian yang aman.
Jika harus menjauh, menjauhlah tanpa fitnah.
Jika harus bicara, bicaralah dengan jujur dan tidak menambah-nambahi.
Guru dan murid sama-sama hamba.
Keduanya sama-sama dituntut menjaga lisan.
Keduanya sama-sama membutuhkan ampunan Alloh.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Lisan harus dijaga dari vonis sembarangan.
Fatwa batin harus ditimbang dengan ilmu, syariat, dan akhlak.
Mimpi tidak boleh dijadikan hukuman atas orang lain.
Rasa tidak boleh dijadikan senjata.
Nasihat tidak boleh berubah menjadi penghinaan.
Teguran tidak boleh menjadi pelampiasan nafsu.
Barang siapa berbicara atas nama ilmu, hendaklah ia takut kepada Alloh.
Barang siapa menasihati hati manusia, hendaklah ia membawa rahmat.
Barang siapa tidak tahu, hendaklah ia berani berkata: “Alloh yang lebih mengetahui.”
Barang siapa ragu, hendaklah ia menahan lisan sampai jelas jalannya.
Lebih baik diam dengan adab daripada berbicara dengan sombong.
Lebih baik mengaku tidak tahu daripada memaksakan klaim.
Lebih baik mendoakan daripada memvonis tanpa hak.
Lisan yang suci bukan lisan yang selalu indah susunannya,
tetapi lisan yang membawa manusia kembali kepada Alloh.
---
DOA LEMBAR KEDUA BELAS
Yā Alloh, Yā Ḥaqq, Yā Laṭīf, Yā Ḥafīẓ, Yā Quddūs.
Jagalah lisan kami dari dusta, fitnah, ujub, dan vonis tanpa hak.
Jagalah ucapan kami dari menyakiti hati manusia.
Jagalah nasihat kami dari nafsu ingin menang.
Jagalah teguran kami dari kebencian yang tersembunyi.
Ya Alloh,
jika kami berbicara, jadikan ucapan kami membawa cahaya.
Jika kami diam, jadikan diam kami sebagai penjagaan.
Jika kami menegur, jadikan teguran kami lahir dari kasih sayang.
Jika kami menasihati, jadikan nasihat kami pertama-tama menyembuhkan hati kami sendiri.
Jangan biarkan kami memakai bahasa ruhani untuk menekan orang.
Jangan biarkan kami memakai nama-Mu untuk membesarkan ego.
Jangan biarkan kami mengunci pintu rahmat-Mu bagi siapa pun yang masih ingin bertaubat.
Sucikan lisan kami.
Sucikan niat kami.
Sucikan majelis kami.
Sucikan jalan tasafuh kami agar kembali kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penjagaan lisan dan fatwa batin.
Terbuka lembar pembersihan hijab ilmu dan rasa paling benar.
Setiap ucapan adalah amanah, dan setiap amanah akan kembali kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Ketiga Belas
BAB PEMBERSIHAN HIJAB ILMU DAN RASA PALING BENAR
Ketika Ilmu yang Tidak Disucikan Bisa Menjadi Dinding antara Hamba dan Alloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya bila menuntun kepada Alloh.
Tetapi ilmu bisa menjadi hijab bila melahirkan kesombongan.
Ilmu yang seharusnya membuka hati, kadang berubah menjadi dinding.
Ilmu yang seharusnya melembutkan lisan, kadang membuat manusia keras.
Ilmu yang seharusnya mengantar kepada taubat, kadang membuat manusia sibuk menilai orang lain.
Ilmu yang seharusnya membuat diri tunduk, kadang membuat diri merasa paling benar.
Maka berhati-hatilah, wahai pencari jalan.
Bukan hanya kebodohan yang bisa menyesatkan.
Ilmu yang tidak disertai adab pun bisa menyesatkan.
Bukan hanya dosa lahir yang bisa menjadi hijab.
Rasa paling tahu, paling suci, paling lurus, dan paling benar juga bisa menjadi hijab yang sangat halus.
---
1. ILMU YANG MENJADI CAHAYA
Ilmu menjadi cahaya ketika ia membuat manusia makin takut kepada Alloh.
Ilmu menjadi cahaya ketika ia membuat hati makin rendah.
Ilmu menjadi cahaya ketika ia membuat lisan makin hati-hati.
Ilmu menjadi cahaya ketika ia membuat seseorang makin mudah berkata, “Aku belum tahu.”
Ilmu menjadi cahaya ketika ia melahirkan rahmat, bukan penghinaan.
Orang yang ilmunya menjadi cahaya tidak mudah meremehkan orang awam.
Ia tidak menjadikan kepandaian sebagai cambuk untuk memukul yang belum paham.
Ia tidak menjadikan dalil sebagai batu untuk melempari hati manusia.
Ia tidak menjadikan penguasaan istilah sebagai tanda bahwa dirinya lebih dekat kepada Alloh.
Ilmu yang benar menuntun kepada adab.
Adab yang benar menuntun kepada tawadhu.
Tawadhu yang benar menuntun kepada taubat.
Taubat yang benar menuntun kepada rahmat Alloh.
---
2. ILMU YANG MENJADI HIJAB
Ilmu menjadi hijab ketika pemiliknya merasa sudah tidak perlu dinasihati.
Ilmu menjadi hijab ketika pemiliknya senang membongkar kesalahan orang, tetapi lupa memperbaiki dirinya.
Ilmu menjadi hijab ketika pemiliknya menuntut semua orang tunduk kepada pendapatnya.
Ilmu menjadi hijab ketika pemiliknya lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada mencari ridho Alloh.
Tanda ilmu mulai menjadi hijab:
Hati sulit menerima teguran.
Lisan mudah merendahkan.
Wajah agama dibawa dengan kasar.
Perbedaan kecil dibesarkan menjadi permusuhan.
Kebenaran dipakai untuk memukul, bukan menyembuhkan.
Nama Alloh disebut, tetapi akhlak kepada makhluk dilupakan.
Maka bila ilmu membuatmu semakin sombong, istighfarlah.
Bila ilmu membuatmu semakin mudah menghina, diamlah sejenak.
Bila ilmu membuatmu merasa paling selamat, takutlah kepada keadaan hatimu.
Bila ilmu membuatmu kehilangan kasih sayang, pulanglah kepada Alloh.
---
3. RASA PALING BENAR
Rasa paling benar adalah penyakit halus.
Ia membuat seseorang tidak mau mendengar.
Ia membuat seseorang merasa semua yang berbeda pasti salah.
Ia membuat seseorang mengira dirinya pembela kebenaran, padahal mungkin sedang membela egonya sendiri.
Rasa paling benar sering berbicara seperti ini:
“Yang tidak sepaham denganku berarti tertutup.”
“Yang bertanya berarti melawan.”
“Yang menegur berarti iri.”
“Yang berbeda berarti sesat.”
“Yang diam berarti kalah.”
Padahal kebenaran tidak perlu dibela dengan kesombongan.
Kebenaran tidak perlu dipenuhi dengan kebencian.
Kebenaran tidak menjadi lebih terang karena lisan kasar.
Kebenaran justru tampak indah ketika dibawa dengan ilmu, adab, dan rahmat.
Orang yang benar-benar mencari kebenaran akan berani memeriksa dirinya.
Ia tidak takut dikoreksi.
Ia tidak marah ketika ditanya.
Ia tidak menganggap dirinya ukuran mutlak bagi semua manusia.
Sebab ukuran tertinggi bukan perasaan diri.
Ukuran tertinggi adalah kebenaran yang diridhoi Alloh.
---
4. PERBEDAAN TEGAS DAN KASAR
Dalam jalan tasafuh, ketegasan tetap diperlukan.
Tetapi ketegasan bukan kekasaran.
Tegas adalah menjaga batas dengan ilmu.
Kasar adalah melukai dengan nafsu.
Tegas adalah menolak kebatilan.
Kasar adalah merendahkan orang yang masih belajar.
Tegas adalah meluruskan penyimpangan.
Kasar adalah menikmati saat orang lain dipermalukan.
Tegas lahir dari tanggung jawab.
Kasar sering lahir dari kemarahan yang belum disucikan.
Maka jangan menyebut kekasaran sebagai keberanian.
Jangan menyebut penghinaan sebagai dakwah.
Jangan menyebut kemarahan ego sebagai pembelaan agama.
Jangan menyebut perpecahan sebagai keteguhan.
Orang yang lembut bukan berarti lemah.
Orang yang tegas bukan berarti harus kasar.
Orang yang berilmu bukan berarti boleh merusak hati manusia.
---
5. ILMU, RASA, DAN ADAB HARUS BERSATU
Ilmu tanpa adab bisa menjadi keras.
Rasa tanpa ilmu bisa menjadi liar.
Adab tanpa tauhid bisa menjadi pencitraan.
Tauhid tanpa kasih sayang bisa disalahpahami menjadi kering.
Maka satukanlah:
Ilmu sebagai pelita.
Adab sebagai pakaian.
Tauhid sebagai arah.
Kasih sayang sebagai nafas.
Taubat sebagai pintu kembali.
Jangan hanya mengumpulkan ilmu, tetapi lupa membersihkan hati.
Jangan hanya mengejar rasa, tetapi lupa menimbang dengan syariat.
Jangan hanya menjaga adab luar, tetapi batin masih haus pujian.
Jangan hanya berbicara tauhid, tetapi masih menggantungkan harga diri kepada manusia.
Jalan yang selamat adalah jalan yang menyatukan ilmu, adab, tauhid, dan akhlak.
---
6. ADAB SAAT BERBEDA PENDAPAT
Wahai para pencari jalan,
perbedaan pendapat adalah ujian akhlak.
Ketika orang sejalan denganmu, mudah bagimu bersikap manis.
Tetapi ketika orang berbeda denganmu, di situlah akhlakmu diuji.
Jika berbeda, jangan tergesa mencaci.
Jika tidak sepaham, jangan tergesa menyesatkan.
Jika ada kekeliruan, luruskan dengan ilmu.
Jika ada bahaya, ingatkan dengan tegas tetapi tetap beradab.
Jika belum jelas, jangan memaksakan kesimpulan.
Jangan jadikan perbedaan sebagai api permusuhan.
Jadikan perbedaan sebagai ruang belajar, selama tidak menabrak pokok kebenaran.
Dan bila harus berpisah jalan, berpisahlah dengan adab.
Tidak semua perbedaan harus diakhiri dengan kebencian.
Tidak semua ketidakcocokan harus diakhiri dengan fitnah.
Tidak semua jarak adalah permusuhan.
Kadang menjaga jarak dengan adab lebih baik daripada bersama tetapi saling melukai.
---
7. HIJAB MERASA SUDAH SAMPAI
Di antara hijab yang paling berbahaya adalah merasa sudah sampai.
Orang yang merasa sudah sampai biasanya berhenti belajar.
Ia berhenti bertanya.
Ia berhenti muhasabah.
Ia berhenti takut kepada kekeliruan dirinya.
Ia mulai merasa semua gerak batinnya pasti benar.
Padahal selama masih hidup, manusia masih diuji.
Selama masih bernapas, hati masih bisa berubah.
Selama masih berjalan di dunia, nafsu masih bisa menyamar.
Selama belum kembali kepada Alloh, tidak ada yang pantas merasa aman dari ujian.
Maka jangan berkata, “Aku sudah sampai.”
Katakanlah, “Yā Alloh, tuntun aku sampai akhir hayat.”
Jangan berkata, “Aku sudah bersih.”
Katakanlah, “Yā Alloh, sucikan aku terus-menerus.”
Jangan berkata, “Aku paling benar.”
Katakanlah, “Yā Alloh, tunjukkan kebenaran sebagai kebenaran dan beri aku kekuatan mengikutinya.”
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Ilmu harus melahirkan tawadhu.
Rasa harus ditimbang dengan syariat.
Perbedaan harus dijaga dengan adab.
Teguran harus dibawa dengan kasih sayang.
Kebenaran tidak boleh dijadikan alat kesombongan.
Tasafuh tidak boleh menjadi jalan merasa paling tinggi.
Barang siapa diberi ilmu, hendaklah ia takut menjadi sombong.
Barang siapa diberi pemahaman, hendaklah ia takut merendahkan orang lain.
Barang siapa diberi suara untuk meluruskan, hendaklah ia takut melukai tanpa hak.
Barang siapa merasa benar, hendaklah ia tetap memohon petunjuk kepada Alloh.
Karena bisa jadi seseorang benar dalam kalimat, tetapi salah dalam adab.
Bisa jadi seseorang menang dalam debat, tetapi kalah dalam akhlak.
Bisa jadi seseorang banyak tahu, tetapi sedikit tunduk.
Bisa jadi seseorang tampak membela kebenaran, tetapi sedang membela dirinya sendiri.
Maka sucikan ilmu.
Lembutkan lisan.
Rendahkan hati.
Kembalikan semua kepada Alloh.
---
DOA LEMBAR KETIGA BELAS
Yā Alloh, Yā ‘Alīm, Yā Ḥakīm, Yā Laṭīf, Yā Quddūs.
Bersihkan ilmu kami dari kesombongan.
Bersihkan pemahaman kami dari rasa paling benar.
Bersihkan lisan kami dari merendahkan orang lain.
Bersihkan hati kami dari menolak nasihat yang Engkau kirimkan.
Ya Alloh,
jadikan ilmu kami cahaya, bukan hijab.
Jadikan pemahaman kami rahmat, bukan alat menghina.
Jadikan ketegasan kami beradab, bukan kasar.
Jadikan perbedaan sebagai ruang belajar, bukan api permusuhan.
Jika kami benar, jagalah kami agar tetap rendah hati.
Jika kami salah, bukakan hati kami untuk menerima pelurusan.
Jika kami berbeda, tuntun kami agar tetap menjaga adab.
Jika kami menasihati, jadikan nasihat itu lahir dari kasih sayang.
Kembalikan ilmu kepada manfaat.
Kembalikan rasa kepada kejernihan.
Kembalikan lisan kepada kebenaran.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pembersihan hijab ilmu dan rasa paling benar.
Terbuka lembar penyelarasan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.
Ilmu yang sejati bukan membuat hamba merasa tinggi, tetapi membuatnya makin tunduk kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Keempat Belas
BAB PENYELARASAN SYARIAT, TAREKAT, HAKIKAT, DAN MAKRIFAT
Ketika Jalan Batin Harus Berdiri di Atas Adab, Ilmu, dan Tauhid
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa jalan menuju Alloh tidak boleh dipisahkan dari keseimbangan.
Syariat adalah pagar.
Tarekat adalah jalan latihan.
Hakikat adalah kesadaran batin.
Makrifat adalah pengenalan yang melahirkan ketundukan.
Barang siapa mengambil tarekat tetapi meremehkan syariat, ia seperti berjalan tanpa pagar.
Barang siapa bicara hakikat tetapi melupakan akhlak, ia seperti membawa lampu tetapi membakar rumah sendiri.
Barang siapa mengaku makrifat tetapi masih sombong kepada sesama, maka pengakuannya harus ditimbang kembali.
Sebab makrifat yang benar tidak membuat manusia merasa bebas dari perintah Alloh.
Makrifat yang benar justru membuat manusia semakin malu meninggalkan adab.
Hakikat yang benar tidak membatalkan syariat.
Hakikat yang benar memperdalam makna syariat.
Maka jalan yang lurus adalah jalan yang menyatukan lahir dan batin.
Lahirnya taat.
Batinnya tunduk.
Lisannya lembut.
Hatinya jernih.
Arah akhirnya hanya Alloh.
---
1. SYARIAT SEBAGAI PAGAR KESELAMATAN
Syariat bukan penghalang jalan batin.
Syariat adalah pagar keselamatan.
Tanpa syariat, rasa bisa liar.
Tanpa syariat, mimpi bisa disalahartikan.
Tanpa syariat, pengalaman batin bisa dijadikan alasan melanggar batas.
Tanpa syariat, manusia mudah menamai hawa nafsunya sebagai ilham.
Maka siapa pun yang menempuh tasafuh harus menjaga syariat.
Shalat jangan ditinggalkan.
Halal haram jangan diremehkan.
Amanah jangan dikhianati.
Hak manusia jangan dimakan.
Lisan jangan digunakan untuk menipu.
Kehormatan orang jangan dirusak.
Jika ada pengalaman batin yang membuat seseorang berani meninggalkan kewajiban, maka pengalaman itu harus dicurigai.
Jika ada rasa ruhani yang membuat seseorang meremehkan dosa, maka rasa itu harus dibersihkan.
Jika ada guru yang berkata bahwa syariat tidak lagi perlu karena sudah sampai hakikat, maka berhati-hatilah.
Sebab orang yang benar-benar dekat kepada Alloh tidak akan meremehkan perintah-Nya.
---
2. TAREKAT SEBAGAI LATIHAN JIWA
Tarekat adalah jalan latihan.
Latihan untuk menundukkan nafsu.
Latihan untuk menjaga dzikir.
Latihan untuk memperbaiki adab.
Latihan untuk membersihkan niat.
Latihan untuk berjalan istiqamah menuju Alloh.
Tarekat bukan jalan pamer amalan.
Bukan jalan mengumpulkan pengikut.
Bukan jalan merasa lebih tinggi dari orang awam.
Bukan jalan membuat manusia takut kepada guru melebihi takut kepada Alloh.
Tarekat yang lurus melahirkan kedisiplinan ibadah.
Tarekat yang lurus melahirkan kasih sayang.
Tarekat yang lurus melahirkan kerendahan hati.
Tarekat yang lurus menjadikan guru sebagai pembimbing, bukan tujuan akhir.
Tarekat yang lurus menjadikan murid semakin dekat kepada Alloh, bukan semakin terikat kepada manusia.
Jika tarekat membuat seseorang semakin sombong, maka ada yang harus diperbaiki.
Jika tarekat membuat seseorang semakin kasar, maka ada adab yang hilang.
Jika tarekat membuat seseorang semakin fanatik buta, maka tauhid harus dimurnikan kembali.
---
3. HAKIKAT SEBAGAI KESADARAN BATIN
Hakikat bukan alasan untuk melanggar syariat.
Hakikat bukan ucapan tinggi untuk merendahkan orang lain.
Hakikat bukan bahasa rahasia agar manusia tunduk tanpa bertanya.
Hakikat adalah kesadaran bahwa segala sesuatu berjalan dengan izin Alloh.
Hakikat adalah menyadari kelemahan diri di hadapan kekuasaan-Nya.
Hakikat adalah melihat bahwa amal pun memerlukan rahmat Alloh.
Hakikat adalah menyadari bahwa manusia tidak memiliki daya kecuali dengan pertolongan-Nya.
Orang yang menyentuh hakikat tidak menjadi sombong.
Ia justru semakin rendah hati.
Ia tidak berkata, “Aku sudah paham rahasia.”
Ia berkata, “Yā Alloh, jangan biarkan aku tertipu oleh pemahamanku.”
Ia tidak berkata, “Aku sudah sampai.”
Ia berkata, “Yā Alloh, tetapkan aku di jalan-Mu sampai akhir hayat.”
Ia tidak berkata, “Aku di atas aturan.”
Ia berkata, “Yā Alloh, jadikan aku hamba yang taat lahir dan batin.”
---
4. MAKRIFAT SEBAGAI KETUNDUKAN
Makrifat bukan sekadar mengetahui istilah.
Makrifat bukan sekadar mampu berbicara dalam bahasa tinggi.
Makrifat bukan sekadar merasa mengenal rahasia.
Makrifat yang benar melahirkan takut, cinta, malu, dan harap kepada Alloh.
Takut melanggar perintah-Nya.
Cinta kepada rahmat-Nya.
Malu atas dosa dan kelalaian.
Harap kepada ampunan-Nya.
Orang yang makrifatnya benar tidak mudah menyakiti makhluk Alloh.
Ia tahu bahwa semua manusia adalah ciptaan Alloh.
Ia tahu bahwa hati manusia rapuh.
Ia tahu bahwa lisan bisa menjadi sebab luka.
Ia tahu bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkan.
Maka bila ada orang mengaku makrifat tetapi masih menipu, masih memeras, masih merendahkan, masih mengancam, masih memanfaatkan murid, maka pengakuannya belum menjadi cahaya.
Karena makrifat yang hidup pasti melahirkan akhlak.
---
5. EMPAT JALAN HARUS BERSATU
Syariat tanpa ruh bisa terasa kering.
Tarekat tanpa ilmu bisa menjadi liar.
Hakikat tanpa adab bisa menjadi kesombongan.
Makrifat tanpa akhlak bisa menjadi pengakuan kosong.
Maka satukanlah semuanya.
Syariat menjaga langkah.
Tarekat melatih jiwa.
Hakikat menjernihkan pandangan.
Makrifat menundukkan hati kepada Alloh.
Jangan memisahkan yang seharusnya saling menguatkan.
Jangan memakai hakikat untuk menolak syariat.
Jangan memakai tarekat untuk merendahkan orang lain.
Jangan memakai makrifat untuk membenarkan kesalahan diri.
Semakin tinggi pemahaman, seharusnya semakin rendah hati.
Semakin dalam dzikir, seharusnya semakin lembut akhlak.
Semakin luas pengalaman, seharusnya semakin kuat adab.
Semakin dekat kepada Alloh, seharusnya semakin takut menyakiti makhluk-Nya.
---
6. PENEGASAN BAGI AHLI TASAFUH
Wahai ahli tasafuh di seluruh ajagat,
jangan jadikan jalan batin sebagai alasan untuk keluar dari keseimbangan.
Jangan berkata “aku ahli hakikat” lalu meninggalkan shalat.
Jangan berkata “aku ahli makrifat” lalu meremehkan halal haram.
Jangan berkata “aku sudah fana” lalu bebas menyakiti manusia.
Jangan berkata “aku dipilih” lalu menolak nasihat.
Jangan berkata “aku pembimbing” lalu memperbudak murid.
Jalan yang benar tidak memutus syariat.
Jalan yang benar tidak membuang akhlak.
Jalan yang benar tidak menanam kesombongan.
Jalan yang benar tidak membuat manusia berhenti pada manusia.
Jalan yang benar mengembalikan semuanya kepada Alloh.
---
7. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Syariat adalah pagar.
Tarekat adalah latihan.
Hakikat adalah kesadaran.
Makrifat adalah ketundukan.
Akhlak adalah buahnya.
Tauhid adalah pusatnya.
Barang siapa berjalan tanpa syariat, mudah tersesat oleh rasa.
Barang siapa beramal tanpa adab, mudah melukai manusia.
Barang siapa mengaku hakikat tanpa tawadhu, mudah jatuh dalam ujub.
Barang siapa mengaku makrifat tanpa akhlak, maka ia perlu kembali kepada taubat.
Jangan mengejar rahasia tinggi sebelum menjaga kewajiban yang terang.
Jangan mencari cahaya langit sebelum membersihkan lisan di bumi.
Jangan bicara kedalaman batin sebelum menjaga hak keluarga, tetangga, murid, dan saudara.
Karena jalan menuju Sang Maha Suci harus ditempuh dengan hati yang disucikan, langkah yang dijaga, dan lisan yang ditimbang.
---
DOA LEMBAR KEEMPAT BELAS
Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Quddūs, Yā Laṭīf.
Luruskan syariat kami.
Bersihkan tarekat kami.
Jernihkan hakikat kami.
Hidupkan makrifat kami dengan akhlak dan tauhid.
Ya Alloh,
jangan biarkan kami memakai hakikat untuk meninggalkan syariat.
Jangan biarkan kami memakai tarekat untuk membanggakan diri.
Jangan biarkan kami memakai makrifat untuk merendahkan sesama.
Jangan biarkan kami memakai ilmu untuk menolak nasihat.
Jadikan lahir kami taat.
Jadikan batin kami tunduk.
Jadikan lisan kami lembut.
Jadikan hati kami jernih.
Jadikan jalan kami kembali kepada-Mu dengan adab yang Engkau ridhoi.
Kembalikan para ahli tasafuh kepada keseimbangan.
Kembalikan ilmu kepada manfaat.
Kembalikan dzikir kepada keikhlasan.
Kembalikan akhlak kepada rahmat.
Kembalikan semua jalan kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penyelarasan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.
Terbuka lembar pembersihan karomah dari kesombongan.
Jalan yang benar tidak memutus syariat, tidak meninggalkan adab, dan tidak berhenti pada selain Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kelima Belas
BAB PEMBERSIHAN KAROMAH DARI KESOMBONGAN
Ketika Keistimewaan Ruhani Harus Menjadi Jalan Tawadhu, Bukan Panggung Pengakuan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa karomah bukan tujuan.
Karomah bukan mahkota untuk dibanggakan.
Karomah bukan tanda bahwa seseorang pasti lebih mulia dari yang lain.
Karomah bukan alasan untuk meninggalkan syariat.
Karomah bukan alat untuk menundukkan manusia.
Karomah bukan bukti bahwa semua ucapan seseorang pasti benar.
Karomah, bila benar datang sebagai kemuliaan dari Alloh, adalah amanah.
Dan amanah harus dijaga dengan takut, malu, syukur, dan kerendahan hati.
Sebab banyak orang tidak jatuh oleh kekurangan.
Mereka jatuh oleh kelebihan yang tidak disucikan.
Banyak orang tidak rusak karena tidak dikenal.
Mereka rusak ketika mulai dikagumi.
Banyak orang tidak sombong ketika belum punya pengalaman batin.
Mereka mulai berubah ketika merasa dirinya memiliki tanda-tanda luar biasa.
Maka lembar ini menegaskan:
jangan mengejar karomah.
Kejarlah istiqamah.
Karena istiqamah dalam taat lebih selamat daripada karomah yang melahirkan kesombongan.
---
1. KAROMAH BUKAN TUJUAN JALAN
Tujuan jalan tasafuh bukan agar manusia disebut sakti.
Bukan agar manusia dipuji memiliki daya batin.
Bukan agar manusia dianggap mengetahui rahasia.
Bukan agar manusia dikerumuni pengikut.
Tujuan jalan tasafuh adalah Alloh.
Jika karomah membuat hati berhenti pada keanehan, maka ia menjadi ujian.
Jika karomah membuat manusia lupa shalat, maka ia menjadi bahaya.
Jika karomah membuat orang merasa paling tinggi, maka ia menjadi hijab.
Jika karomah membuat murid takut kepada guru melebihi takut kepada Alloh, maka ia menjadi fitnah.
Karomah yang benar tidak menjauhkan dari syariat.
Karomah yang benar tidak merusak adab.
Karomah yang benar tidak menumbuhkan kesombongan.
Karomah yang benar membuat hamba makin takut kepada Alloh.
---
2. ISTIQAMAH LEBIH AGUNG DARIPADA PENGAKUAN KAROMAH
Jangan bangga karena merasa melihat cahaya.
Banggalah bila lisanmu makin bersih dari dusta.
Jangan bangga karena merasa mendapat isyarat.
Banggalah bila shalatmu makin terjaga.
Jangan bangga karena merasa doamu cepat terkabul.
Banggalah bila hatimu makin lembut kepada orang lemah.
Jangan bangga karena merasa punya daya batin.
Banggalah bila nafsumu makin mudah engkau tundukkan.
Jangan bangga karena orang menyebutmu istimewa.
Banggalah bila engkau tetap merasa hamba.
Istiqamah adalah karomah yang paling aman.
Akhlak yang baik adalah cahaya yang paling nyata.
Kejujuran adalah tanda batin yang paling mulia.
Tawadhu adalah pakaian orang yang benar-benar mengenal kelemahan dirinya.
---
3. KAROMAH YANG MENJADI FITNAH
Karomah dapat menjadi fitnah ketika:
Seseorang mulai senang diceritakan kehebatannya.
Seseorang mulai marah bila tidak dipercaya.
Seseorang mulai menuntut orang tunduk karena dianggap punya kelebihan.
Seseorang mulai menjadikan pengalaman batin sebagai alat menghakimi.
Seseorang mulai merasa bebas dari nasihat.
Seseorang mulai merasa semua gerak hatinya pasti benar.
Maka berhati-hatilah.
Tidak semua keanehan adalah kemuliaan.
Tidak semua yang menakjubkan adalah tanda kedekatan.
Tidak semua yang terasa kuat adalah petunjuk.
Tidak semua yang membuat orang kagum adalah cahaya.
Kadang yang luar biasa justru ujian.
Kadang yang membuat orang memuji justru perangkap.
Kadang yang terasa tinggi justru tangga menuju ujub.
Karena itu, timbanglah semua dengan syariat, ilmu, adab, dan buah akhlaknya.
---
4. KAROMAH YANG DISEMBUNYIKAN LEBIH SELAMAT
Orang yang diberi sesuatu oleh Alloh hendaknya pandai menjaga rahasia.
Tidak semua pengalaman harus diceritakan.
Tidak semua kelebihan harus ditampilkan.
Tidak semua kejadian batin harus diumumkan.
Tidak semua tanda harus dijadikan bahan majelis.
Ada karomah yang justru rusak ketika dipamerkan.
Ada cahaya yang redup ketika dijadikan panggung.
Ada amanah yang hilang berkahnya ketika dipakai mencari pengakuan.
Maka sembunyikanlah kebaikan seperti engkau menyembunyikan aibmu, kecuali bila ada maslahat yang jelas dan adab yang terjaga.
Jika Alloh memberi kelebihan, ucapkanlah:
“Yā Alloh, ini bukan milikku. Ini titipan-Mu.”
Jika manusia memuji, ucapkanlah dalam hati:
“Yā Alloh, ampunilah aku atas apa yang mereka tidak ketahui.”
Jika hati mulai bangga, tundukkanlah dengan istighfar.
Jika nafsu mulai ingin dikenal, padamkanlah dengan sujud.
---
5. KAROMAH PALING TINGGI ADALAH AKHLAK
Ketahuilah, karomah paling tinggi bukan terbang di udara.
Bukan berjalan di atas air.
Bukan mengetahui perkara tersembunyi.
Bukan membuat manusia kagum.
Karomah paling tinggi adalah hati yang tetap bersih saat dihina.
Lisan yang tetap dijaga saat marah.
Tangan yang tidak mengambil hak orang.
Mata yang tidak menikmati kehinaan orang lain.
Kaki yang tetap menuju kebaikan walau lelah.
Dada yang mampu memaafkan saat nafsu ingin membalas.
Karomah paling tinggi adalah tetap shalat ketika tidak ada yang melihat.
Tetap jujur ketika bisa menipu.
Tetap rendah hati ketika dipuji.
Tetap adil kepada orang yang tidak disukai.
Tetap mendoakan kebaikan bagi orang yang pernah melukai.
Itulah karomah akhlak.
Itulah cahaya yang lebih nyata daripada seribu pengakuan batin.
---
6. ADAB BAGI ORANG YANG DIBERI KELEBIHAN
Jika Alloh menitipkan kelebihan kepadamu, peganglah adab ini:
Jangan merasa memilikinya.
Jangan menjadikannya alat mencari pengaruh.
Jangan memakainya untuk menekan orang.
Jangan menjadikannya alasan meninggalkan kewajiban.
Jangan menjadikannya tanda bahwa engkau pasti lebih mulia.
Perbanyak syukur.
Perbanyak istighfar.
Perbanyak diam.
Perbanyak memberi manfaat.
Perbanyak menyembunyikan diri dari pujian.
Dan yang paling penting:
periksa buahnya.
Jika kelebihan itu membuatmu makin taat, itu tanda baik.
Jika membuatmu makin lembut, itu tanda baik.
Jika membuatmu makin takut kepada Alloh, itu tanda baik.
Jika membuatmu makin menjaga manusia dari luka, itu tanda baik.
Tetapi jika membuatmu makin merasa tinggi, maka bersihkan segera.
Jika membuatmu makin suka dipuji, maka waspadalah.
Jika membuatmu makin sulit ditegur, maka itu tanda bahaya.
Jika membuatmu makin menguasai orang, maka kembalilah kepada taubat.
---
7. ADAB BAGI MURID SAAT MELIHAT KELEBIHAN GURU
Wahai murid, bila engkau melihat kelebihan pada guru atau pembimbing, jangan tergesa mengkultuskannya.
Hormatilah dengan adab.
Ambillah ilmunya yang baik.
Doakan kebaikannya.
Tetapi jangan menjadikannya seolah tidak mungkin salah.
Kelebihan tidak menghapus kemanusiaan.
Karomah tidak membuat seseorang menjadi Tuhan.
Pengalaman batin tidak menjadikan seseorang bebas dari syariat.
Kedudukan ruhani tidak membuat seseorang boleh menyakiti manusia.
Jika gurumu benar, ikuti dengan adab.
Jika gurumu salah, doakan dan ingatkan dengan cara yang baik.
Jika gurumu melanggar batas, jaga dirimu dan kembalilah kepada Alloh.
Karena yang menjadi tujuan bukan karomah guru.
Yang menjadi tujuan adalah ridho Alloh.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Karomah bukan tujuan.
Istiqamah lebih utama daripada pengakuan.
Akhlak lebih nyata daripada keanehan.
Tawadhu lebih selamat daripada pamer kelebihan.
Syariat lebih kokoh daripada rasa yang tidak ditimbang.
Tauhid lebih tinggi daripada segala pengalaman batin.
Barang siapa diberi kelebihan, hendaklah ia merendah.
Barang siapa dipuji karena karomah, hendaklah ia memperbanyak istighfar.
Barang siapa melihat karomah pada orang lain, hendaklah ia tetap menjaga tauhid.
Barang siapa mengejar karomah tetapi meninggalkan akhlak, hendaklah ia kembali dari jalan yang salah.
Jangan cari keajaiban sebelum mencari taubat.
Jangan cari pujian sebelum memperbaiki niat.
Jangan cari pengikut sebelum menjaga amanah.
Jangan cari tanda langit sebelum memperbaiki adab di bumi.
Karena jalan yang benar bukan jalan menjadi terkenal karena kelebihan,
tetapi jalan menjadi hamba yang semakin dekat kepada Alloh.
---
DOA LEMBAR KELIMA BELAS
Yā Alloh, Yā Karīm, Yā Quddūs, Yā Laṭīf, Yā Ḥafīẓ.
Bersihkan hati kami dari bangga atas kelebihan.
Jauhkan kami dari mengejar karomah dan melupakan istiqamah.
Lindungi kami dari ujub, riya, dan rasa ingin dikagumi.
Jangan biarkan pengalaman batin membuat kami merasa tinggi.
Ya Alloh,
jika Engkau beri kami kelebihan, jadikan ia amanah yang membawa manfaat.
Jika Engkau sembunyikan kelebihan kami, jadikan kami ridho.
Jika manusia memuji kami, lindungi kami dari mabuk pujian.
Jika manusia tidak mengenal kami, jadikan kami tetap ikhlas dalam kebaikan.
Jadikan karomah terbesar kami adalah akhlak yang Engkau ridhoi.
Jadikan cahaya terbesar kami adalah tauhid yang bersih.
Jadikan kekuatan terbesar kami adalah sabar dan istiqamah.
Jadikan perjalanan tasafuh kami kembali kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pembersihan karomah dari kesombongan.
Terbuka lembar pemurnian dzikir dari riya dan kebiasaan kosong.
Karomah yang selamat adalah yang membuat hamba makin rendah hati di hadapan Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Keenam Belas
BAB PEMURNIAN DZIKIR DARI RIYA DAN KEBIASAAN KOSONG
Ketika Dzikir Harus Menghidupkan Hati, Bukan Menjadi Panggung Lisan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa dzikir adalah jalan mengingat Alloh, bukan jalan agar manusia mengingat namamu.
Dzikir adalah obat hati.
Dzikir adalah pembersih batin.
Dzikir adalah tali pulang.
Dzikir adalah cahaya yang melembutkan jiwa.
Dzikir adalah nafas hamba yang sadar bahwa dirinya lemah tanpa Alloh.
Namun dzikir dapat kehilangan ruhnya bila dicampuri riya.
Dzikir dapat menjadi kering bila hanya menjadi gerak lisan tanpa hadir hati.
Dzikir dapat menjadi hijab bila membuat seseorang merasa lebih suci dari orang lain.
Dzikir dapat menjadi ujian bila dipakai untuk membangun pengaruh, bukan membangun ketundukan.
Maka bersihkanlah dzikirmu.
Jangan hanya menghitung jumlahnya.
Periksalah buahnya.
Apakah dzikirmu membuat lisanmu lebih lembut?
Apakah dzikirmu membuat hatimu lebih rendah?
Apakah dzikirmu membuatmu lebih sabar?
Apakah dzikirmu membuatmu lebih takut menyakiti manusia?
Apakah dzikirmu membuatmu lebih dekat kepada Alloh?
Jika dzikir tidak mengubah akhlak, maka hati perlu dibangunkan kembali.
---
1. DZIKIR YANG HIDUP
Dzikir yang hidup bukan hanya suara yang terdengar.
Dzikir yang hidup adalah ingatan yang menundukkan hati kepada Alloh.
Saat lisan menyebut Alloh, hati ikut merasa butuh.
Saat tangan memegang tasbih, jiwa ikut merendah.
Saat nama Alloh diulang, nafsu ikut dilunakkan.
Saat kalimat suci dibaca, perilaku ikut diperbaiki.
Dzikir yang hidup membuat seseorang semakin sadar:
Aku bukan pemilik daya.
Aku bukan sumber cahaya.
Aku bukan penentu hidayah.
Aku bukan pusat kebenaran.
Aku hanya hamba yang sedang memohon rahmat Alloh.
Maka dzikir yang benar tidak membuat manusia merasa besar.
Dzikir yang benar membuat manusia merasa kecil, tetapi tidak putus asa.
Kecil di hadapan Alloh, tetapi kuat karena bersandar kepada-Nya.
---
2. DZIKIR YANG KERING
Dzikir menjadi kering ketika lisan bergerak, tetapi hati tidak hadir.
Nama Alloh disebut, tetapi akhlak tidak dijaga.
Tasbih dihitung, tetapi lisan masih mudah menyakiti.
Majelis dzikir ramai, tetapi hati masih penuh iri, dengki, dan rasa paling benar.
Dzikir yang kering tampak banyak, tetapi sedikit mengubah diri.
Seseorang bisa membaca ribuan kali, tetapi masih senang merendahkan.
Seseorang bisa duduk lama dalam wirid, tetapi masih berat meminta maaf.
Seseorang bisa menangis saat dzikir, tetapi masih mudah menipu dalam urusan dunia.
Seseorang bisa mengajak orang berdzikir, tetapi dirinya belum menjaga amanah.
Maka jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak dzikirku?”
Tetapi bertanyalah:
“Apakah dzikirku membuatku lebih baik di hadapan Alloh dan manusia?”
---
3. RIYA DALAM DZIKIR
Riya dalam dzikir adalah penyakit halus.
Ia muncul ketika seseorang ingin dilihat sebagai ahli dzikir.
Ingin dianggap dalam.
Ingin dipuji suci.
Ingin dikenal sebagai pemilik wirid tinggi.
Ingin dihormati karena jumlah bacaannya.
Riya tidak selalu tampak jelas.
Kadang ia bersembunyi dalam hati yang menunggu pujian.
Kadang ia muncul saat seseorang kecewa karena amalnya tidak diperhatikan.
Kadang ia muncul saat seseorang merasa lebih tinggi dari orang yang dzikirnya sedikit.
Kadang ia muncul saat seseorang menceritakan amalnya bukan untuk memberi teladan, tetapi untuk meninggikan diri.
Maka berhati-hatilah.
Jika engkau berdzikir, berdzikirlah karena Alloh.
Jika engkau membaca wirid, bacalah dengan niat memperbaiki diri.
Jika engkau mengajak orang berdzikir, ajaklah dengan rendah hati.
Jika engkau diberi istiqamah, bersyukurlah tanpa merendahkan yang lain.
Sebab amal yang tampak besar bisa menjadi kecil bila niatnya keruh.
Dan amal yang tampak kecil bisa menjadi besar bila ikhlas di hadapan Alloh.
---
4. DZIKIR YANG MEMBUAHKAN AKHLAK
Dzikir yang benar harus berbuah.
Buah dzikir bukan hanya rasa tenang.
Buah dzikir adalah akhlak yang membaik.
Jika seseorang banyak berdzikir, tetapi semakin kasar, maka ia perlu memeriksa hatinya.
Jika seseorang banyak berdzikir, tetapi semakin suka menghakimi, maka ia perlu membersihkan niatnya.
Jika seseorang banyak berdzikir, tetapi semakin haus dihormati, maka ia perlu bertaubat dari ujub.
Jika seseorang banyak berdzikir, tetapi semakin jauh dari tanggung jawab hidup, maka ia perlu menyeimbangkan ibadah dan amanah.
Dzikir yang benar membuat:
Hati lebih lembut.
Lisan lebih terjaga.
Mata lebih malu melihat keburukan.
Telinga lebih enggan mendengar fitnah.
Tangan lebih aman dari mengambil hak orang.
Kaki lebih ringan menuju kebaikan.
Dada lebih lapang memaafkan.
Jiwa lebih sabar menghadapi ujian.
Itulah tanda dzikir mulai hidup.
---
5. DZIKIR DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Jangan mengira dzikir hanya hidup di majelis.
Dzikir harus terbawa ke pasar, rumah, jalan, keluarga, pekerjaan, dan pergaulan.
Dzikir di rumah adalah menjaga ucapan kepada keluarga.
Dzikir di pasar adalah jujur dalam jual beli.
Dzikir di jalan adalah menahan pandangan dan tidak menyakiti orang.
Dzikir dalam pekerjaan adalah amanah.
Dzikir dalam pergaulan adalah tidak memfitnah.
Dzikir dalam kepemimpinan adalah tidak zalim.
Dzikir dalam kesendirian adalah tidak merasa bebas berbuat dosa.
Jika dzikir hanya indah di majelis tetapi hilang di kehidupan, maka dzikir belum menembus akhlak.
Maka bawalah nama Alloh ke dalam perilakumu.
Bukan hanya ke dalam suaramu.
---
6. ADAB BERDZIKIR
Wahai pencari jalan, jagalah adab dalam berdzikir.
Bersihkan niat sebelum memulai.
Jangan berdzikir untuk dipuji manusia.
Jangan membanggakan jumlah wirid.
Jangan merendahkan orang yang amalnya berbeda.
Jangan memaksakan amalan kepada orang yang belum mampu.
Jangan mencampur dzikir dengan keyakinan yang menabrak tauhid.
Jangan menganggap bacaan sebagai kekuatan sendiri tanpa izin Alloh.
Dzikir adalah sebab.
Alloh-lah yang memberi pengaruh.
Dzikir adalah jalan.
Alloh-lah tujuan.
Dzikir adalah permohonan.
Alloh-lah yang menjawab.
Berdzikirlah dengan cinta.
Berdzikirlah dengan takut.
Berdzikirlah dengan harap.
Berdzikirlah dengan malu.
Berdzikirlah dengan adab.
---
7. DZIKIR BUKAN ALAT MENUNDUKKAN MANUSIA
Jangan gunakan dzikir untuk merasa berkuasa atas orang lain.
Jangan gunakan wirid untuk menakut-nakuti murid.
Jangan gunakan amalan untuk mengancam.
Jangan jadikan bacaan suci sebagai alat mengikat manusia kepada dirimu.
Dzikir adalah jalan membebaskan hati dari selain Alloh.
Bukan jalan memperbudak hati orang lain.
Jika seorang guru mengajarkan dzikir, hendaklah ia mengembalikan murid kepada Alloh.
Jika seorang murid menerima dzikir, hendaklah ia menjadikannya jalan memperbaiki diri.
Jika sebuah majelis berdzikir bersama, hendaklah majelis itu melahirkan rahmat, bukan fanatisme.
Dzikir yang benar tidak membuat manusia takut kepada pembimbing secara berlebihan.
Dzikir yang benar membuat manusia takut kehilangan adab di hadapan Alloh.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Dzikir harus dibersihkan dari riya.
Wirid harus dijaga dari kesombongan.
Amalan harus melahirkan akhlak.
Majelis dzikir harus menjadi rumah rahmat.
Nama Alloh tidak boleh dijadikan panggung ego.
Bacaan suci tidak boleh dijadikan alat menekan manusia.
Barang siapa berdzikir, hendaklah ia memperbaiki hati.
Barang siapa memimpin dzikir, hendaklah ia lebih takut kepada amanah.
Barang siapa mengajarkan wirid, hendaklah ia menjaga tauhid.
Barang siapa diberi istiqamah, hendaklah ia bersyukur tanpa merendahkan orang lain.
Jangan bangga karena banyak menyebut.
Banggalah bila yang disebut membuatmu semakin tunduk.
Jangan bangga karena banyak bacaan.
Banggalah bila bacaan itu membuatmu tidak tega menyakiti makhluk Alloh.
Jangan bangga karena ramai majelismu.
Banggalah bila majelis itu membuat manusia semakin dekat kepada Alloh.
---
DOA LEMBAR KEENAM BELAS
Yā Alloh, Yā Dzākir, Yā Madzkūr, Yā Nūr, Yā Quddūs.
Hidupkan dzikir kami.
Bersihkan wirid kami.
Sucikan niat kami.
Jauhkan lisan kami dari menyebut nama-Mu dengan hati yang lalai dan sombong.
Ya Alloh,
jadikan dzikir kami obat bagi hati.
Jadikan dzikir kami cahaya bagi akhlak.
Jadikan dzikir kami penjaga dari riya.
Jadikan dzikir kami jalan pulang kepada-Mu.
Jika kami berdzikir karena ingin dipuji, ampuni kami.
Jika kami membanggakan amalan, sadarkan kami.
Jika kami merendahkan orang lain karena merasa lebih banyak ibadah, luruskan kami.
Jika kami menyebut nama-Mu tetapi belum menjaga akhlak, bimbing kami.
Kembalikan dzikir kepada keikhlasan.
Kembalikan wirid kepada ketundukan.
Kembalikan majelis kepada rahmat.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pemurnian dzikir dari riya dan kebiasaan kosong.
Terbuka lembar penjagaan hati dari ujub tersembunyi.
Dzikir yang hidup bukan hanya banyak di lisan, tetapi terang dalam akhlak dan tunduk dalam hati.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Ketujuh Belas
BAB PENJAGAAN HATI DARI UJUB TERSEMBUNYI
Ketika Kebaikan Harus Dijaga agar Tidak Berubah Menjadi Kebanggaan Diri
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa ujub adalah penyakit hati yang sangat halus.
Ia tidak selalu tampak seperti sombong yang kasar.
Ia tidak selalu keluar dalam ucapan tinggi.
Ia kadang bersembunyi dalam hati yang diam-diam merasa lebih baik.
Ia kadang muncul dalam amal yang tampak suci.
Ia kadang hadir setelah dzikir, setelah sedekah, setelah nasihat, setelah puasa, setelah menangis dalam doa.
Ujub berkata pelan di dalam dada:
“Aku sudah baik.”
“Aku lebih ikhlas.”
“Aku lebih dalam.”
“Aku lebih dekat.”
“Aku lebih paham.”
“Aku lebih bersih dari mereka.”
Padahal kebaikan yang tidak dijaga bisa berubah menjadi hijab.
Amal yang tidak disucikan bisa menjadi pintu kesombongan.
Ilmu yang tidak direndahkan bisa menjadi dinding antara hamba dan Alloh.
Maka jagalah hati setelah beramal, sebagaimana engkau menjaga niat sebelum beramal.
---
1. UJUB SETELAH KEBAIKAN
Banyak orang takut kepada dosa, tetapi kurang takut kepada bangga setelah berbuat baik.
Ia bersedekah, lalu merasa lebih mulia.
Ia berdzikir, lalu merasa lebih suci.
Ia menasihati, lalu merasa lebih benar.
Ia menangis dalam doa, lalu merasa lebih dekat.
Ia diberi sedikit pemahaman, lalu merasa pantas menghakimi.
Inilah ujub setelah kebaikan.
Kebaikan yang benar seharusnya membuat hati semakin malu kepada Alloh.
Sebab tanpa pertolongan Alloh, manusia tidak mampu taat.
Tanpa rahmat Alloh, amal tidak bernilai.
Tanpa penjagaan Alloh, hati mudah rusak oleh pujian dan pengakuan.
Maka bila selesai beramal, jangan berkata dalam hati, “Aku hebat.”
Katakanlah, “Alhamdulillāh, Alloh masih menolongku.”
Jangan berkata, “Aku suci.”
Katakanlah, “Yā Alloh, terimalah amal kecilku dan ampuni kekuranganku.”
---
2. UJUB DALAM ILMU
Ujub dalam ilmu lebih halus daripada ujub dalam harta.
Orang yang ujub karena harta mudah terlihat.
Tetapi orang yang ujub karena ilmu sering merasa sedang membela kebenaran.
Ia senang menunjukkan kesalahan orang.
Ia berat mengakui tidak tahu.
Ia merasa pertanyaannya selalu lebih tajam.
Ia merasa pemahamannya lebih tinggi.
Ia merasa orang awam selalu berada di bawahnya.
Padahal ilmu yang benar seharusnya membuat seseorang semakin takut kepada Alloh.
Semakin banyak tahu, semakin sadar bahwa dirinya banyak belum tahu.
Semakin paham, semakin lembut kepada yang belum paham.
Semakin dekat kepada ilmu, semakin jauh dari merendahkan manusia.
Ilmu yang melahirkan adab adalah cahaya.
Ilmu yang melahirkan ujub adalah hijab.
---
3. UJUB DALAM JALAN BATIN
Dalam jalan tasafuh, ujub sering memakai pakaian halus.
Ada yang ujub karena merasa punya rasa batin.
Ada yang ujub karena merasa sering mendapat isyarat.
Ada yang ujub karena merasa mimpinya istimewa.
Ada yang ujub karena merasa doanya kuat.
Ada yang ujub karena merasa dipilih untuk tugas besar.
Maka berhati-hatilah.
Pengalaman batin bukan alasan merasa tinggi.
Mimpi bukan alasan merendahkan orang lain.
Isyarat bukan alasan menolak nasihat.
Nama ruh bukan alasan merasa lebih suci.
Majelis bukan alasan merasa menjadi pusat cahaya.
Semua itu adalah amanah, bukan mahkota.
Jika amanah membuatmu merendah, itu tanda baik.
Jika amanah membuatmu merasa besar, segeralah istighfar.
---
4. TANDA UJUB TERSEMBUNYI
Periksalah hatimu dengan jujur.
Ujub tersembunyi mulai muncul ketika:
Engkau kecewa bila kebaikanmu tidak dilihat.
Engkau tersinggung bila nasihatmu tidak diterima.
Engkau merasa lebih bersih dari orang yang sedang jatuh.
Engkau senang ketika orang memujimu sebagai orang dalam.
Engkau berat mengakui kesalahan.
Engkau mudah berkata, “Mereka belum sampai.”
Engkau merasa Alloh pasti memilihmu lebih daripada yang lain.
Jika tanda-tanda ini muncul, jangan putus asa.
Itu bukan alasan berhenti beramal.
Itu tanda agar hati segera dicuci.
Cucilah dengan istighfar.
Cucilah dengan sujud.
Cucilah dengan mengingat dosa sendiri.
Cucilah dengan mendoakan orang yang engkau anggap lebih rendah.
Cucilah dengan mengakui bahwa semua kebaikan hanya karena pertolongan Alloh.
---
5. OBAT UJUB
Ujub tidak cukup dilawan dengan kata-kata.
Ia harus dilawan dengan latihan hati.
Pertama: ingat asal diri.
Manusia berasal dari kelemahan.
Tidak membawa apa-apa.
Tidak memiliki daya apa-apa kecuali dengan izin Alloh.
Kedua: ingat dosa dan kekurangan.
Jangan hanya mengingat amal.
Ingat juga kelalaian, luka yang pernah dibuat, hak yang belum dibayar, kata yang pernah menyakiti, dan niat yang pernah keruh.
Ketiga: sembunyikan sebagian amal.
Tidak semua kebaikan harus diumumkan.
Ada amal yang lebih selamat bila hanya Alloh yang tahu.
Keempat: doakan orang lain.
Terutama orang yang engkau rasa lebih rendah.
Sebab mendoakan mereka dapat mematahkan kesombongan halus.
Kelima: banyak berkata, “Alloh lebih mengetahui.”
Kalimat ini menjaga hati dari merasa paling tahu.
Ia mengembalikan rahasia batin manusia kepada Pemiliknya.
---
6. UJUB DAN PUJIAN MANUSIA
Pujian adalah ujian.
Pujian bisa menguatkan hati bila diterima dengan syukur.
Tetapi pujian juga bisa meracuni hati bila diterima dengan rasa memiliki.
Jika dipuji, jangan langsung percaya kepada pujian.
Manusia hanya melihat sebagian kecil dari dirimu.
Alloh mengetahui yang tersembunyi.
Jika dipuji alim, ingatlah kebodohanmu.
Jika dipuji suci, ingatlah dosamu.
Jika dipuji kuat, ingatlah kelemahanmu.
Jika dipuji bijak, ingatlah saat engkau pernah keliru.
Jika dipuji bercahaya, ingatlah bahwa cahaya itu bukan milikmu.
Ucapkan dalam hati:
“Yā Alloh, jangan hukum aku karena pujian mereka.
Ampuni aku atas apa yang mereka tidak tahu.
Jadikan aku lebih baik daripada sangkaan baik mereka.”
---
7. UJUB PADA GURU DAN MURID
Wahai guru, jangan ujub karena banyak murid.
Banyak murid bukan bukti keselamatan.
Banyak pengikut bukan jaminan ridho Alloh.
Banyak pujian bukan tanda hati bersih.
Yang lebih penting adalah amanahmu dijaga atau tidak.
Lisanmu menyembuhkan atau melukai.
Ilmumu membebaskan atau mengikat.
Majelismu mengajak kepada Alloh atau kepada namamu.
Wahai murid, jangan ujub karena merasa punya guru besar.
Jangan ujub karena berada di majelis yang dikenal.
Jangan ujub karena merasa jalanmu lebih tinggi dari orang lain.
Murid yang benar bukan yang paling bangga dengan kelompoknya.
Murid yang benar adalah yang paling berusaha memperbaiki akhlaknya.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Kebaikan harus dijaga dari ujub.
Ilmu harus dijaga dari rasa paling tahu.
Dzikir harus dijaga dari merasa paling suci.
Pengalaman batin harus dijaga dari pengakuan.
Majelis harus dijaga dari kebanggaan kelompok.
Guru dan murid harus sama-sama kembali kepada tawadhu.
Barang siapa diberi amal, hendaklah ia bersyukur.
Barang siapa diberi ilmu, hendaklah ia merendah.
Barang siapa diberi cahaya, hendaklah ia takut kepada amanah.
Barang siapa dipuji manusia, hendaklah ia memperbanyak istighfar.
Jangan bangga karena engkau berbuat baik.
Bersyukurlah karena Alloh masih menolongmu untuk berbuat baik.
Jangan bangga karena engkau tahu.
Bersyukurlah karena Alloh menutup banyak kebodohanmu.
Jangan bangga karena engkau dipakai menasihati.
Takutlah jika nasihat itu belum hidup dalam dirimu sendiri.
---
DOA LEMBAR KETUJUH BELAS
Yā Alloh, Yā Laṭīf, Yā ‘Alīm, Yā Quddūs, Yā Ḥafīẓ.
Bersihkan hati kami dari ujub yang tersembunyi.
Jauhkan kami dari bangga atas amal, ilmu, dzikir, dan pengalaman batin.
Jangan biarkan kebaikan kami berubah menjadi kesombongan.
Jangan biarkan pujian manusia meracuni niat kami.
Ya Alloh,
jika kami beramal, jadikan amal itu ikhlas.
Jika kami diberi ilmu, jadikan ilmu itu tawadhu.
Jika kami berdzikir, jadikan dzikir itu melembutkan hati.
Jika kami membimbing, jadikan bimbingan itu rahmat, bukan panggung ego.
Ingatkan kami kepada kelemahan kami.
Tutupilah aib kami dengan rahmat-Mu.
Terimalah amal kecil kami dengan kemurahan-Mu.
Jangan serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata.
Kembalikan hati kami kepada tawadhu.
Kembalikan ilmu kami kepada adab.
Kembalikan dzikir kami kepada ikhlas.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penjagaan hati dari ujub tersembunyi.
Terbuka lembar pembersihan rasa ingin diakui.
Kebaikan yang selamat adalah kebaikan yang membuat hamba semakin malu, syukur, dan tunduk kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedelapan Belas
BAB PEMBERSIHAN RASA INGIN DIAKUI
Ketika Jiwa Harus Pulang dari Panggung Manusia menuju Ridho Alloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa rasa ingin diakui adalah tali halus yang sering mengikat hati manusia.
Ia tidak selalu tampak sebagai kesombongan.
Kadang ia hadir sebagai keinginan agar amal dilihat.
Kadang ia hadir sebagai harapan agar nasihat dipuji.
Kadang ia hadir sebagai sakit hati ketika tidak dihormati.
Kadang ia hadir sebagai kecewa ketika nama tidak disebut.
Kadang ia hadir sebagai resah ketika orang lain lebih diperhatikan.
Rasa ingin diakui dapat membuat amal kehilangan kejernihan.
Dapat membuat ilmu berubah menjadi panggung.
Dapat membuat majelis berubah menjadi tempat mencari nama.
Dapat membuat jalan tasafuh kehilangan ruh penghambaan.
Maka bersihkanlah hati dari haus pengakuan.
Sebab hamba yang mencari ridho Alloh tidak perlu selalu terlihat oleh manusia.
Yang penting Alloh mengetahui.
Yang penting Alloh meridhoi.
Yang penting hati tetap jujur dalam jalan pulang.
---
1. AKAR RASA INGIN DIAKUI
Rasa ingin diakui sering tumbuh dari hati yang belum tenang.
Ia ingin dipuji agar merasa berharga.
Ia ingin dihormati agar merasa kuat.
Ia ingin diikuti agar merasa penting.
Ia ingin disebut agar merasa tidak hilang.
Ia ingin dipercaya agar merasa lebih tinggi.
Padahal harga diri seorang hamba bukan terletak pada pujian manusia.
Kemuliaan seorang hamba bukan terletak pada banyaknya pengikut.
Kedudukan seorang hamba bukan terletak pada seberapa sering namanya disebut.
Kemuliaan sejati adalah ketika hati dijaga Alloh dalam iman, taubat, adab, dan akhlak.
Jika manusia tidak melihat amalmu, Alloh melihat.
Jika manusia tidak menyebut namamu, Alloh mengetahui.
Jika manusia tidak memujimu, Alloh tetap mencatat setiap kebaikan yang ikhlas.
Maka jangan lelah hanya karena tidak diakui.
Yang lebih penting adalah jangan kehilangan ikhlas.
---
2. TANDA HATI MASIH HAUS PENGAKUAN
Periksalah hati dengan jujur.
Hati masih haus pengakuan ketika:
Engkau sedih berlebihan karena tidak dipuji.
Engkau marah ketika nasihatmu tidak diterima.
Engkau merasa tersaingi ketika orang lain dihormati.
Engkau ingin amalmu diketahui banyak orang.
Engkau lebih sibuk membangun nama daripada memperbaiki akhlak.
Engkau merasa kecil ketika tidak diperhatikan manusia.
Engkau merasa besar ketika banyak yang memanggilmu guru.
Jika tanda itu muncul, jangan putus asa.
Itu bukan alasan berhenti berbuat baik.
Itu tanda bahwa niat harus dicuci lagi.
Cucilah dengan istighfar.
Cucilah dengan amal yang disembunyikan.
Cucilah dengan menerima bahwa tidak semua kebaikan harus diketahui manusia.
Cucilah dengan mengulang dalam hati:
“Alloh cukup menjadi saksi.”
---
3. PANGGUNG MANUSIA DAN MIHRAB ALLOH
Ada dua tempat yang sering diperebutkan hati:
panggung manusia dan mihrab Alloh.
Panggung manusia membuat hati ingin terlihat.
Mihrab Alloh membuat hati ingin tunduk.
Panggung manusia mengejar tepuk tangan.
Mihrab Alloh mengejar ampunan.
Panggung manusia membuat seseorang gelisah bila tidak dipuji.
Mihrab Alloh membuat seseorang tenang walau tidak dikenal.
Panggung manusia bertanya, “Siapa yang melihatku?”
Mihrab Alloh bertanya, “Apakah Alloh ridho kepadaku?”
Maka pilihlah mihrab Alloh.
Sebab panggung manusia cepat berubah.
Hari ini dipuji, besok dilupakan.
Hari ini dihormati, besok mungkin disalahpahami.
Hari ini diangkat, besok mungkin ditinggalkan.
Tetapi siapa yang bersandar kepada Alloh, ia tidak runtuh hanya karena manusia berubah.
---
4. IKHLAS BUKAN BERARTI TIDAK TERLIHAT
Ikhlas bukan berarti semua amal harus disembunyikan.
Ada amal yang memang perlu tampak karena membawa manfaat, memberi teladan, atau mengajak kepada kebaikan.
Tetapi ikhlas berarti hati tidak bergantung pada penilaian manusia.
Jika amalmu terlihat, jangan bangga.
Jika amalmu tersembunyi, jangan kecewa.
Jika nasihatmu diterima, bersyukurlah.
Jika nasihatmu ditolak, tetaplah mendoakan.
Jika namamu disebut, kembalikan kepada Alloh.
Jika namamu dilupakan, tetaplah berjalan.
Yang merusak bukan terlihatnya amal, tetapi hati yang menuntut pengakuan dari amal itu.
Maka jagalah niat sebelum beramal, saat beramal, dan setelah beramal.
Karena riya bisa datang di awal, ujub bisa datang di akhir, dan haus pengakuan bisa datang di antara keduanya.
---
5. PEMIMPIN MAJELIS DAN UJIAN NAMA
Wahai pemimpin majelis, berhati-hatilah terhadap namamu sendiri.
Nama bisa menjadi amanah.
Tetapi nama juga bisa menjadi hijab.
Jika nama membuatmu mudah menolong, gunakanlah untuk manfaat.
Jika nama membuatmu sombong, istighfarlah.
Jika nama membuat orang dekat kepada Alloh, syukurilah.
Jika nama membuat orang berhenti kepadamu, luruskanlah.
Jangan senang bila manusia hanya mengingat dirimu, tetapi lupa kepada Alloh.
Jangan bangga bila murid memujimu, tetapi akhlaknya tidak berubah.
Jangan puas bila majelis ramai, tetapi hati-hati di dalamnya masih saling melukai.
Nama yang berkah adalah nama yang menjadi jalan manfaat.
Bukan nama yang menjadi pusat pemujaan.
Pemimpin yang selamat bukan yang paling sering disebut,
tetapi yang paling sering mengembalikan semuanya kepada Alloh.
---
6. AMAL YANG TERSEMBUNYI
Untuk membersihkan rasa ingin diakui, rawatlah amal yang tersembunyi.
Bersedekahlah tanpa diketahui bila mampu.
Mendoakan orang tanpa memberitahunya.
Menolong orang tanpa menuntut balasan.
Memperbaiki kesalahan tanpa mengumumkan diri.
Menangis di hadapan Alloh tanpa perlu diceritakan.
Meminta maaf tanpa membuat panggung kebaikan.
Amal tersembunyi adalah taman rahasia antara hamba dan Alloh.
Di sanalah hati belajar bahwa cukup Alloh yang melihat.
Orang yang punya amal tersembunyi lebih mudah selamat dari haus pengakuan.
Karena ia punya ruang yang tidak disentuh pujian manusia.
Ia punya hubungan sunyi dengan Alloh.
Ia punya tempat pulang ketika panggung dunia melelahkan.
---
7. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Rasa ingin diakui harus disucikan.
Amal harus dikembalikan kepada ikhlas.
Ilmu harus dikembalikan kepada manfaat.
Majelis harus dikembalikan kepada rahmat.
Nama harus dikembalikan kepada amanah.
Pujian harus dikembalikan kepada Alloh.
Barang siapa beramal karena manusia, ia akan lelah oleh manusia.
Barang siapa berdiri karena pujian, ia akan runtuh oleh celaan.
Barang siapa membimbing karena ingin diakui, ia akan gelisah ketika tidak dihormati.
Barang siapa berjalan karena Alloh, ia tetap punya arah walau tidak dikenal.
Jangan mencari panggung.
Carilah ridho Alloh.
Jangan mencari pengakuan.
Carilah penerimaan dari Alloh.
Jangan mencari kemuliaan di mata manusia.
Carilah keselamatan hati di hadapan Alloh.
---
DOA LEMBAR KEDELAPAN BELAS
Yā Alloh, Yā Laṭīf, Yā Basīr, Yā Quddūs, Yā Hādī.
Bersihkan hati kami dari haus pengakuan.
Jauhkan kami dari amal yang hanya ingin dilihat manusia.
Lindungi kami dari kecewa ketika tidak dipuji.
Selamatkan kami dari bangga ketika nama kami disebut.
Ya Alloh,
jadikan amal kami ikhlas.
Jadikan ilmu kami manfaat.
Jadikan majelis kami rahmat.
Jadikan nama kami hanya sebagai amanah kebaikan, bukan panggung kesombongan.
Jika kami terlihat, jaga kami dari riya.
Jika kami tersembunyi, jaga kami dari kecewa.
Jika kami dipuji, jaga kami dari ujub.
Jika kami dilupakan, jaga kami agar tetap istiqamah.
Cukupkan hati kami dengan pandangan-Mu.
Tenangkan jiwa kami dengan ridho-Mu.
Kembalikan jalan tasafuh kami kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pembersihan rasa ingin diakui.
Terbuka lembar pemurnian cinta kepada guru, murid, dan saudara jalan.
Hamba yang selamat bukan yang selalu diakui manusia, tetapi yang tetap ikhlas walau hanya Alloh yang mengetahui.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kesembilan Belas
BAB PEMURNIAN CINTA KEPADA GURU, MURID, DAN SAUDARA JALAN
Ketika Cinta Ruhani Harus Dijaga agar Tidak Berubah Menjadi Ketergantungan, Kepemilikan, dan Fanatisme
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa cinta adalah anugerah besar bila dijaga dengan tauhid.
Cinta kepada guru dapat menjadi jalan adab.
Cinta kepada murid dapat menjadi jalan kasih sayang.
Cinta kepada saudara sejalan dapat menjadi penguat dalam kebaikan.
Cinta kepada majelis dapat menjadi sebab istiqamah.
Namun cinta juga dapat berubah menjadi ujian bila tidak disucikan.
Cinta bisa berubah menjadi ketergantungan.
Cinta bisa berubah menjadi rasa memiliki.
Cinta bisa berubah menjadi fanatisme.
Cinta bisa berubah menjadi pembelaan buta.
Cinta bisa berubah menjadi luka ketika manusia diletakkan di tempat yang seharusnya hanya untuk Alloh.
Maka bersihkanlah cinta.
Jangan biarkan cinta kepada manusia mengalahkan cinta kepada Alloh.
Jangan biarkan hormat kepada guru berubah menjadi pemujaan.
Jangan biarkan sayang kepada murid berubah menjadi penguasaan.
Jangan biarkan persaudaraan berubah menjadi kelompok yang merasa paling suci.
Cinta yang benar membebaskan hati menuju Alloh.
Cinta yang salah mengikat hati kepada makhluk.
---
1. CINTA KEPADA GURU
Mencintai guru adalah bagian dari adab bila cinta itu menumbuhkan ilmu, akhlak, dan kedekatan kepada Alloh.
Guru yang baik dihormati karena ilmunya.
Didoakan karena jasanya.
Didengar nasihatnya karena amanahnya.
Dikenang kebaikannya karena perjuangannya.
Namun cinta kepada guru harus tetap diberi pagar tauhid.
Jangan menganggap guru tidak mungkin salah.
Jangan menganggap guru mengetahui semua rahasia.
Jangan menganggap ridho guru otomatis menggantikan ridho Alloh.
Jangan menggantungkan keselamatan mutlak kepada manusia.
Jangan membela kesalahan hanya karena pelakunya adalah orang yang dicintai.
Guru tetap hamba.
Guru tetap manusia.
Guru tetap membutuhkan ampunan Alloh.
Guru tetap harus ditimbang dengan syariat, akhlak, dan amanah.
Cinta kepada guru yang benar akan membuat murid semakin taat kepada Alloh.
Bukan semakin takut kepada manusia.
---
2. CINTA GURU KEPADA MURID
Wahai guru dan pembimbing,
cintailah murid sebagai amanah, bukan sebagai milik.
Murid bukan harta batinmu.
Murid bukan penguat namamu.
Murid bukan pasukan pembela egomu.
Murid bukan tempat engkau mencari pujian.
Jika engkau mencintai murid, bimbinglah ia agar semakin dekat kepada Alloh.
Jangan engkau ikat agar selalu bergantung kepadamu.
Jika ia tumbuh, syukurilah.
Jika ia bertanya, dengarkanlah.
Jika ia berbeda, nasihatilah dengan adab.
Jika ia pergi, doakanlah kebaikannya.
Cinta guru kepada murid harus seperti tangan yang menuntun, bukan rantai yang mengikat.
Guru yang benar tidak ingin muridnya menjadi tawanan.
Ia ingin muridnya menjadi hamba yang jernih, kuat, berakhlak, dan bertauhid.
---
3. CINTA KEPADA SAUDARA SEJALAN
Saudara sejalan adalah nikmat.
Mereka menjadi teman dzikir, teman belajar, teman saling mengingatkan, dan teman menjaga langkah.
Tetapi persaudaraan pun harus dijaga.
Jangan jadikan persaudaraan sebagai kelompok untuk merendahkan orang lain.
Jangan jadikan kebersamaan sebagai alasan menutup kesalahan.
Jangan jadikan kedekatan sebagai alat menguasai.
Jangan jadikan nama majelis sebagai tembok yang memisahkan dari umat yang lebih luas.
Saudara sejalan bukan berarti selalu sama pendapat.
Saudara sejalan bukan berarti tidak boleh saling menegur.
Saudara sejalan bukan berarti harus membela semua tindakan kelompok.
Persaudaraan yang benar adalah saling menolong dalam kebaikan.
Bukan saling membenarkan dalam kesalahan.
Jika saudaramu benar, dukunglah.
Jika saudaramu salah, ingatkanlah.
Jika saudaramu terluka, kuatkanlah.
Jika saudaramu mulai sombong, doakan dan tegurlah dengan kasih sayang.
---
4. CINTA YANG BERUBAH MENJADI FANATISME
Cinta berubah menjadi fanatisme ketika hati tidak lagi jernih melihat kebenaran.
Tandanya:
Semua ucapan guru dianggap pasti benar.
Semua tindakan kelompok dianggap suci.
Semua kritik dianggap serangan.
Semua yang berbeda dianggap musuh.
Semua yang keluar dari majelis dianggap buruk.
Semua pertanyaan dianggap kurang adab.
Inilah cinta yang sudah tercampur kabut.
Cinta yang sehat tidak takut kepada kebenaran.
Cinta yang sehat tidak menutup mata dari kesalahan.
Cinta yang sehat tidak membuat manusia membenci orang lain tanpa hak.
Cinta yang sehat tidak membangun berhala kelompok di dalam hati.
Maka bersihkanlah cinta dari fanatisme.
Karena fanatisme dapat memakai pakaian kesetiaan, padahal ia sedang menutup pintu muhasabah.
---
5. CINTA YANG BERUBAH MENJADI KETERGANTUNGAN
Cinta juga bisa berubah menjadi ketergantungan.
Murid merasa tidak bisa hidup tanpa guru.
Guru merasa tidak rela jika murid tumbuh tanpa dirinya.
Saudara merasa hancur bila tidak selalu diakui kelompok.
Majelis merasa semua kebaikan hanya ada pada lingkarannya sendiri.
Ketergantungan seperti ini harus disembuhkan.
Manusia boleh saling mencintai.
Manusia boleh saling membutuhkan.
Manusia boleh saling menolong.
Tetapi sandaran terakhir tetap Alloh.
Jika guru pergi, Alloh tetap ada.
Jika murid berubah, Alloh tetap ada.
Jika saudara menjauh, Alloh tetap ada.
Jika majelis bubar, Alloh tetap ada.
Jika manusia mengecewakan, rahmat Alloh tetap terbuka.
Jangan jadikan manusia sebagai tiang utama hatimu.
Jadikan manusia sebagai sebab kebaikan, tetapi jadikan Alloh sebagai sandaran.
---
6. CINTA YANG MEMBEBASKAN
Cinta yang suci adalah cinta yang membebaskan.
Ia membuat guru membimbing tanpa menguasai.
Ia membuat murid menghormati tanpa menyembah.
Ia membuat saudara saling menolong tanpa fanatik buta.
Ia membuat majelis menjadi rumah rahmat, bukan penjara batin.
Cinta yang membebaskan berkata:
“Aku mencintaimu karena Alloh, maka aku tidak akan membantumu dalam kesalahan.”
“Aku menghormatimu sebagai guru, tetapi aku tetap menyembah hanya kepada Alloh.”
“Aku menyayangimu sebagai murid, maka aku ingin engkau kuat berdiri di hadapan Alloh.”
“Aku bersaudara denganmu, maka aku akan menasihatimu bila engkau mulai menyimpang.”
Cinta yang benar tidak selalu memanjakan.
Kadang ia menegur.
Kadang ia menjaga jarak.
Kadang ia memilih diam.
Kadang ia mendoakan dari jauh.
Tetapi semua dilakukan dengan niat menjaga kebaikan, bukan membesarkan ego.
---
7. ADAB MENCINTAI DALAM JALAN TASAFUH
Wahai pencari jalan, peganglah adab cinta ini:
Cintailah guru dengan doa, bukan pemujaan.
Cintailah murid dengan bimbingan, bukan penguasaan.
Cintailah saudara dengan nasihat, bukan pembelaan buta.
Cintailah majelis dengan amanah, bukan fanatisme.
Cintailah ilmu dengan tawadhu, bukan kesombongan.
Cintailah Alloh di atas semua cinta.
Jika cinta membuatmu makin taat, jagalah.
Jika cinta membuatmu makin berakhlak, syukurilah.
Jika cinta membuatmu makin lembut, rawatlah.
Tetapi jika cinta membuatmu menutup mata dari kebenaran, bersihkanlah.
Jika cinta membuatmu memuja manusia berlebihan, luruskanlah.
Jika cinta membuatmu membenci tanpa adab, hentikanlah.
Jika cinta membuatmu kehilangan tauhid, kembalilah kepada Alloh.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Cinta kepada guru harus dijaga dengan tauhid.
Cinta kepada murid harus dijaga dengan amanah.
Cinta kepada saudara harus dijaga dengan adab.
Cinta kepada majelis harus dijaga dari fanatisme.
Cinta kepada ilmu harus dijaga dari kesombongan.
Cinta kepada Alloh harus menjadi puncak segala cinta.
Barang siapa mencintai guru, jangan mengangkatnya melebihi batas manusia.
Barang siapa mencintai murid, jangan menjadikannya milik pribadi.
Barang siapa mencintai saudara, jangan membelanya dalam kebatilan.
Barang siapa mencintai majelis, jangan merendahkan jalan kebaikan orang lain.
Cinta yang benar mengembalikan semua kepada Alloh.
Cinta yang salah membuat hati berhenti pada makhluk.
Maka sucikan cinta.
Luruskan hormat.
Jaga persaudaraan.
Padamkan fanatisme.
Kembalikan hati kepada Sang Maha Suci.
---
DOA LEMBAR KESEMBILAN BELAS
Yā Alloh, Yā Wadūd, Yā Laṭīf, Yā Hādī, Yā Quddūs.
Sucikan cinta kami.
Bersihkan hormat kami dari pemujaan.
Bersihkan kasih sayang kami dari rasa memiliki.
Bersihkan persaudaraan kami dari fanatisme dan kebencian.
Ya Alloh,
jadikan cinta kami kepada guru sebagai jalan adab.
Jadikan cinta kami kepada murid sebagai amanah rahmat.
Jadikan cinta kami kepada saudara sebagai penguat kebaikan.
Jadikan cinta kami kepada majelis sebagai penjagaan, bukan pengkultusan.
Jangan biarkan kami menggantungkan hati kepada manusia melebihi kepada-Mu.
Jangan biarkan kami membela kesalahan karena cinta yang buta.
Jangan biarkan kami melukai atas nama kesetiaan.
Jangan biarkan kami kehilangan tauhid karena terlalu melekat kepada makhluk.
Kembalikan cinta kepada ridho-Mu.
Kembalikan hormat kepada adab.
Kembalikan persaudaraan kepada rahmat.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pemurnian cinta kepada guru, murid, dan saudara jalan.
Terbuka lembar penjagaan rahasia dan amanah batin.
Cinta yang selamat bukan yang mengikat hati kepada manusia, tetapi yang menuntun semua hati kembali kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Puluh
BAB PENJAGAAN RAHASIA DAN AMANAH BATIN
Ketika Kepercayaan Manusia Harus Dijaga dengan Takut kepada Alloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa rahasia manusia adalah amanah yang berat.
Ada orang datang membawa cerita yang tidak sanggup ia ceritakan kepada banyak orang.
Ada orang datang membawa luka yang ia sembunyikan bertahun-tahun.
Ada orang datang membawa aib yang membuatnya takut dihakimi.
Ada orang datang membawa mimpi, rasa, isyarat, kegelisahan, dan tangis yang hanya ia titipkan kepada orang yang ia percaya.
Maka jangan khianati kepercayaan itu.
Jangan jadikan rahasia orang sebagai bahan cerita.
Jangan jadikan luka orang sebagai contoh tanpa izin.
Jangan jadikan aib orang sebagai alat menekan.
Jangan jadikan kelemahan orang sebagai tangga untuk merasa lebih suci.
Sebab rahasia yang dititipkan kepada telingamu akan menjadi saksi.
Amanah yang diletakkan di hadapanmu akan kembali ditanya oleh Alloh.
---
1. RAHASIA ADALAH AMANAH
Barang siapa dipercaya mendengar rahasia, berarti ia sedang diuji.
Bukan diuji untuk merasa penting.
Bukan diuji untuk merasa tahu lebih banyak.
Bukan diuji untuk merasa berkuasa atas orang yang bercerita.
Tetapi diuji apakah ia mampu menjaga amanah.
Orang yang membuka rahasia orang lain tanpa hak telah melukai dua kali.
Pertama, melukai orang yang sudah percaya.
Kedua, melukai jalan kebaikan, karena setelah itu orang lain bisa takut mencari nasihat.
Maka jagalah rahasia dengan adab.
Jika tidak perlu disampaikan, simpanlah.
Jika harus disampaikan demi keselamatan, sampaikan kepada pihak yang tepat dengan niat melindungi, bukan mempermalukan.
Jika diminta nasihat, nasihatilah tanpa membongkar martabat.
Jika tidak mampu membantu, arahkan dengan lembut kepada orang yang lebih amanah dan berilmu.
---
2. BAHAYA MEMAKAI RAHASIA SEBAGAI SENJATA
Di antara penyimpangan besar dalam jalan batin adalah menggunakan rahasia murid atau jamaah sebagai alat tekanan.
Seseorang pernah bercerita dalam keadaan lemah, lalu rahasianya dipakai untuk membuatnya tunduk.
Seseorang pernah membuka aib karena ingin bertaubat, lalu aib itu dipakai untuk mempermalukan.
Seseorang pernah mengaku kebingungan, lalu kebingungan itu dipakai untuk membuatnya bergantung.
Ini bukan bimbingan.
Ini pengkhianatan amanah.
Guru yang benar menutup aib murid sambil menuntunnya memperbaiki diri.
Pembimbing yang lurus menjaga rahasia sambil mengarahkan kepada taubat.
Majelis yang sehat tidak menjadikan cerita pribadi sebagai bahan kekuasaan.
Jangan berkata, “Aku tahu rahasiamu, maka engkau harus patuh.”
Jangan berkata, “Aku bisa membongkar aibmu, maka jangan melawan.”
Jangan berkata, “Aku mengetahui batinmu, maka engkau tidak boleh bertanya.”
Ucapan seperti itu gelap.
Jalan seperti itu harus dibersihkan.
---
3. ADAB MENDENGARKAN CURHAT BATIN
Jika ada orang datang kepadamu membawa cerita batin, peganglah adab ini:
Dengarkan dengan tenang.
Jangan cepat memotong.
Jangan cepat menghakimi.
Jangan merasa harus langsung memberi jawaban besar.
Jangan menambah takut orang yang sudah takut.
Jangan menjanjikan sesuatu yang bukan kuasamu.
Kadang manusia tidak butuh kalimat tinggi.
Ia butuh didengar dengan aman.
Ia butuh diingatkan bahwa rahmat Alloh masih terbuka.
Ia butuh dituntun kembali kepada shalat, istighfar, akhlak, dan langkah hidup yang sehat.
Jika ceritanya menyangkut bahaya nyata, kekerasan, penipuan, atau keselamatan diri, jangan hanya membungkusnya dengan bahasa batin.
Bantu ia mencari perlindungan yang benar.
Sebab menjaga nyawa, kehormatan, dan keselamatan manusia juga bagian dari amanah.
---
4. RAHASIA BATIN TIDAK BOLEH DIUMBAR
Tidak semua mimpi harus diumumkan.
Tidak semua isyarat harus diceritakan.
Tidak semua pengalaman batin harus dijadikan bahan majelis.
Tidak semua rasa ruhani harus dibuka kepada umum.
Ada perkara yang cukup menjadi muhasabah pribadi.
Ada perkara yang cukup dibawa dalam sujud.
Ada perkara yang cukup ditimbang dengan guru yang amanah.
Ada perkara yang sebaiknya tidak disebarkan agar tidak menimbulkan salah paham, fitnah, atau pengkultusan.
Jalan batin memerlukan penjagaan.
Semakin halus suatu rasa, semakin besar kebutuhan adabnya.
Jika pengalaman batin membuatmu ingin segera bercerita agar dipuji, tahanlah.
Jika mimpi membuatmu ingin merasa tinggi, istighfarlah.
Jika isyarat membuatmu ingin mengatur orang lain, berhentilah.
Jika rahasia membuatmu merasa memiliki kuasa, bersujudlah.
Karena rahasia yang tidak dijaga dapat berubah menjadi ujian.
---
5. MENUTUP AIB, BUKAN MENUTUP KEZALIMAN
Menjaga rahasia bukan berarti menutup kezaliman.
Ada aib pribadi yang harus dijaga agar orang dapat bertaubat.
Tetapi ada kezaliman yang harus dihentikan agar tidak memakan korban.
Maka bedakanlah.
Jika seseorang menceritakan dosa masa lalu dan ingin bertaubat, jaga rahasianya.
Jika seseorang sedang memperbaiki diri, bantu ia dengan adab.
Jika seseorang jatuh lalu ingin bangkit, jangan hancurkan martabatnya.
Tetapi jika ada orang yang menyakiti, menipu, melecehkan, memeras, atau membahayakan orang lain, maka tidak boleh dibiarkan atas nama menjaga rahasia.
Amanah harus dipakai untuk melindungi yang lemah.
Adab harus dipakai untuk menegakkan keselamatan.
Kasih sayang harus berpihak kepada kebenaran.
Menutup aib adalah rahmat.
Menutup kezaliman adalah bahaya.
---
6. RAHASIA GURU DAN RAHASIA MURID
Wahai guru, murid mempercayaimu bukan untuk engkau kuasai.
Ia membuka cerita bukan untuk engkau genggam sebagai senjata.
Ia menangis bukan untuk engkau jadikan bukti bahwa engkau hebat.
Ia meminta nasihat bukan untuk engkau jadikan tawanan batin.
Jagalah ia dengan kasih sayang.
Wahai murid, jika engkau mengetahui kelemahan gurumu, jagalah adab.
Jangan jadikan kesalahan kecil sebagai fitnah besar.
Tetapi jika ada penyimpangan yang membahayakan orang lain, tempuhlah jalan pelurusan yang bijak, aman, dan benar.
Guru dan murid sama-sama hamba.
Keduanya sama-sama punya kelemahan.
Keduanya sama-sama membutuhkan ampunan.
Keduanya sama-sama harus menjaga amanah.
Tidak ada yang boleh saling memakan aib.
Tidak ada yang boleh saling menekan dengan rahasia.
Tidak ada yang boleh memakai kepercayaan sebagai alat kekuasaan.
---
7. AMANAH BATIN DI DALAM MAJELIS
Majelis yang sehat memiliki penjagaan rahasia.
Curhat tidak dijadikan bahan gosip.
Kesalahan tidak dijadikan bahan tertawaan.
Kelemahan tidak dijadikan alat merendahkan.
Mimpi dan rasa tidak dijadikan vonis umum.
Nasihat disampaikan dengan menjaga martabat.
Majelis yang rusak adalah majelis yang suka membuka aib.
Majelis yang sakit adalah majelis yang memperdagangkan rahasia.
Majelis yang berbahaya adalah majelis yang membuat orang takut bicara jujur karena khawatir ceritanya disebarkan.
Maka bersihkan majelis.
Jadikan majelis tempat aman untuk kembali kepada Alloh.
Tempat orang bisa memperbaiki diri tanpa dipermalukan.
Tempat orang bisa bertanya tanpa dicaci.
Tempat orang bisa bertaubat tanpa dijadikan bahan cerita.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Rahasia adalah amanah.
Aib harus dijaga dengan adab.
Luka manusia harus dirawat dengan kasih sayang.
Curhat batin tidak boleh dijadikan senjata.
Pengalaman ruhani tidak boleh diumbar tanpa hikmah.
Majelis harus menjadi tempat penjagaan, bukan tempat mempermalukan.
Barang siapa dipercaya, hendaklah ia amanah.
Barang siapa mendengar rahasia, hendaklah ia takut kepada Alloh.
Barang siapa mengetahui aib, hendaklah ia menutupinya selama tidak menutup kezaliman.
Barang siapa diberi ruang mendengar hati manusia, hendaklah ia menjadi sebab ketenangan, bukan sebab luka baru.
Jangan khianati cerita orang.
Jangan jual rahasia orang.
Jangan tekan orang dengan aibnya.
Jangan merasa tinggi karena mengetahui kelemahan manusia.
Sebab Alloh menutup banyak aibmu.
Maka belajarlah menutup aib saudaramu dengan rahmat dan adab.
---
DOA LEMBAR KEDUA PULUH
Yā Alloh, Yā Amīn, Yā Sattār, Yā Ḥafīẓ, Yā Quddūs.
Jagalah hati kami dari mengkhianati rahasia.
Jagalah lisan kami dari membuka aib tanpa hak.
Jagalah tangan kami dari menulis dan menyebarkan sesuatu yang melukai martabat manusia.
Jagalah majelis kami dari gosip, fitnah, dan penyalahgunaan kepercayaan.
Ya Alloh,
jika kami dipercaya mendengar luka manusia, jadikan kami lembut.
Jika kami mengetahui aib seseorang, jadikan kami amanah.
Jika kami harus menegur, jadikan kami beradab.
Jika kami harus melindungi yang lemah, berikan kami keberanian dan kebijaksanaan.
Tutupilah aib kami dengan rahmat-Mu.
Ajari kami menutup aib saudara kami dengan adab.
Jangan biarkan rahasia menjadi senjata.
Jangan biarkan amanah menjadi pengkhianatan.
Kembalikan rahasia kepada penjagaan.
Kembalikan amanah kepada kejujuran.
Kembalikan majelis kepada rasa aman.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penjagaan rahasia dan amanah batin.
Terbuka lembar pembersihan majelis dari fitnah dan perpecahan.
Rahasia manusia adalah titipan, dan setiap titipan akan diminta pertanggungjawabannya oleh Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Puluh Satu
BAB PEMBERSIHAN MAJELIS DARI FITNAH DAN PERPECAHAN
Ketika Jalan Ruhani Harus Menjadi Rumah Persaudaraan, Bukan Api Permusuhan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa majelis adalah amanah besar.
Majelis dapat menjadi taman rahmat bila dijaga dengan adab.
Majelis dapat menjadi rumah ilmu bila dijaga dengan kejujuran.
Majelis dapat menjadi tempat penyembuhan bila dijaga dengan kasih sayang.
Majelis dapat menjadi jalan pulang bila pusatnya adalah Alloh.
Namun majelis juga dapat berubah menjadi api bila dipenuhi fitnah.
Dapat menjadi tempat luka bila dipenuhi prasangka.
Dapat menjadi sarang perpecahan bila dipenuhi fanatisme.
Dapat menjadi panggung ego bila kebenaran kalah oleh kepentingan nama.
Maka bersihkanlah majelis.
Jangan biarkan lisan liar merusak persaudaraan.
Jangan biarkan kabar yang belum jelas menjadi hukum.
Jangan biarkan prasangka menjadi keputusan.
Jangan biarkan perbedaan menjadi kebencian.
Jangan biarkan nasihat berubah menjadi penghinaan.
Sebab majelis yang membawa nama Alloh harus dijaga dari kotoran fitnah.
---
1. FITNAH MERUSAK CAHAYA MAJELIS
Fitnah adalah api yang sering menyala dari lisan yang tidak dijaga.
Satu kabar yang belum jelas dapat merusak hati banyak orang.
Satu prasangka yang disebarkan dapat memutus silaturahmi.
Satu ucapan yang dibumbui dapat menimbulkan permusuhan.
Satu rahasia yang dibuka dapat menghancurkan kepercayaan.
Maka jangan mudah menyebarkan kabar.
Jika engkau mendengar sesuatu, periksa dahulu.
Jika belum jelas, tahan lisan.
Jika tidak membawa manfaat, diam lebih selamat.
Jika bisa melukai tanpa keperluan, jangan sebarkan.
Jika ingin menasihati, sampaikan kepada yang tepat dengan adab.
Majelis yang sehat tidak hidup dari gosip.
Majelis yang sehat hidup dari dzikir, ilmu, akhlak, dan saling mendoakan.
---
2. PERPECAHAN SERING LAHIR DARI EGO YANG DIBUNGKUS KEBENARAN
Tidak semua perpecahan lahir karena perbedaan ilmu.
Banyak perpecahan lahir karena ego yang tidak mau direndahkan.
Ada yang marah karena tidak dihormati.
Ada yang kecewa karena namanya tidak disebut.
Ada yang tersinggung karena pendapatnya tidak dipakai.
Ada yang merasa tersaingi ketika orang lain diberi tempat.
Ada yang memakai alasan kebenaran, padahal hatinya sedang mempertahankan harga diri.
Maka sebelum menyalahkan orang lain, periksalah hati sendiri.
Apakah aku membela Alloh atau membela egoku?
Apakah aku meluruskan karena kasih sayang atau karena ingin menang?
Apakah aku menasihati karena amanah atau karena tersinggung?
Apakah aku menjaga majelis atau sedang menjaga namaku sendiri?
Pertanyaan seperti ini adalah air yang memadamkan api perpecahan.
---
3. ADAB TABAYYUN
Tabayyun adalah jalan keselamatan.
Jangan mudah percaya kepada kabar buruk.
Jangan mudah menyimpulkan dari satu cerita.
Jangan mudah menghukum dari potongan kalimat.
Jangan mudah menilai hati orang dari prasangka.
Jika ada kabar tentang saudaramu, periksa dengan adab.
Tanyakan kepada sumber yang benar.
Dengarkan dari dua sisi bila perlu.
Jangan menyebarkan sebelum jelas.
Jangan menambah bumbu dengan emosi.
Bila ternyata kabar itu salah, tutuplah.
Bila ternyata ada kesalahan, perbaiki dengan adab.
Bila ternyata ada kezaliman, hentikan dengan jalan yang benar.
Bila ternyata hanya salah paham, damaikan.
Tabayyun bukan untuk mencari bahan menyerang.
Tabayyun adalah jalan menjaga keadilan.
---
4. JANGAN MENJADIKAN MAJELIS SEBAGAI MEDAN PERANG
Majelis ruhani seharusnya menjadi tempat hati dilembutkan.
Bukan tempat saling menjatuhkan.
Bukan tempat saling membongkar aib.
Bukan tempat saling berebut pengaruh.
Bukan tempat saling menuduh paling suci.
Jika majelis mulai dipenuhi persaingan, bersihkan.
Jika majelis mulai dipenuhi bisik-bisik, hentikan.
Jika majelis mulai dipenuhi kelompok kecil yang saling mencurigai, damaikan.
Jika majelis mulai dipenuhi pembelaan buta, luruskan.
Jangan biarkan setan masuk melalui celah gengsi.
Jangan biarkan nafsu memakai pakaian kebenaran.
Jangan biarkan orang lemah menjadi korban pertengkaran orang yang ingin menang.
Majelis yang benar bukan tempat ego bertarung.
Majelis yang benar adalah tempat hati belajar tunduk kepada Alloh.
---
5. MENJAGA PERSAUDARAAN TANPA MENUTUP KESALAHAN
Menjaga persaudaraan bukan berarti membenarkan semua kesalahan.
Menjaga persaudaraan juga bukan berarti diam terhadap kezaliman.
Persaudaraan yang sehat adalah persaudaraan yang berani saling menasihati.
Jika saudaramu salah, tegur dengan adab.
Jika saudaramu tergelincir, bantu bangkit.
Jika saudaramu melukai, arahkan untuk meminta maaf.
Jika saudaramu dizalimi, lindungi.
Jika saudaramu menzalimi, hentikan.
Jangan menutup kezaliman atas nama persaudaraan.
Jangan pula membesarkan kesalahan kecil hingga menghancurkan silaturahmi.
Adab adalah keseimbangan.
Kasih sayang adalah arah.
Kebenaran adalah pegangan.
Tauhid adalah pusat.
---
6. BAHAYA KELOMPOK DALAM KELOMPOK
Dalam majelis, kadang muncul kelompok kecil yang merasa paling dekat dengan guru, paling tahu rahasia, paling benar tafsirnya, dan paling berhak mengatur saudara lain.
Inilah bahaya halus.
Kelompok kecil itu dapat menimbulkan iri, curiga, dan perpecahan.
Mereka bisa menjadi pintu fitnah bila tidak dijaga.
Mereka bisa membuat orang lain merasa tidak diterima.
Mereka bisa membuat majelis berubah dari rumah rahmat menjadi ruang kasta batin.
Maka pemimpin majelis harus adil.
Jangan hanya mendengar orang yang dekat.
Jangan hanya percaya kepada orang yang sering memuji.
Jangan menjadikan kedekatan pribadi sebagai ukuran kebenaran.
Jangan membiarkan sebagian orang merasa memiliki majelis lebih daripada yang lain.
Majelis adalah amanah bersama.
Bukan milik kelompok kecil.
Bukan milik orang yang paling keras suaranya.
Bukan milik orang yang paling pandai mendekat kepada pemimpin.
Majelis harus dijaga dengan keadilan.
---
7. LISAN DAMAI
Jika engkau ingin membersihkan majelis, mulailah dari lisan.
Ucapkan yang mendamaikan.
Sampaikan yang menenangkan.
Tahan yang memperkeruh.
Jangan menyebarkan kabar yang belum jelas.
Jangan menambah luka dengan sindiran.
Jangan menikmati pertengkaran saudara.
Lisan damai bukan berarti selalu diam.
Lisan damai bisa tegas menghentikan fitnah.
Bisa berani meluruskan kebohongan.
Bisa menegur orang yang memecah belah.
Tetapi semua dilakukan dengan adab, bukan dengan nafsu membalas.
Bila ada api, jadilah air.
Bila ada luka, jadilah obat.
Bila ada salah paham, jadilah jembatan.
Bila ada kebencian, jadilah pengingat kepada Alloh.
---
8. PENEGASAN BAGI PEMIMPIN MAJELIS
Wahai pemimpin majelis, jagalah rumah amanahmu.
Jangan membiarkan fitnah tumbuh karena takut kehilangan pendukung.
Jangan membiarkan orang yang suka mengadu domba menjadi dekat hanya karena ia memujimu.
Jangan membiarkan gosip menjadi budaya.
Jangan membiarkan orang lemah diserang bersama-sama.
Jangan membiarkan perbedaan kecil menjadi permusuhan besar.
Tegakkan adab dengan lembut tetapi jelas.
Ajarkan tabayyun.
Ajak saling mendoakan.
Beri ruang untuk klarifikasi.
Tutup pintu ghibah.
Jaga rahasia.
Luruskan tanpa mempermalukan.
Pemimpin yang benar bukan hanya pandai membuka majelis.
Ia juga harus pandai menjaga kebersihan suasana di dalamnya.
---
9. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Majelis harus dibersihkan dari fitnah.
Persaudaraan harus dijaga dari prasangka.
Perbedaan harus diberi adab.
Tabayyun harus didahulukan sebelum vonis.
Rahasia harus dijaga dari gosip.
Kebenaran harus disampaikan tanpa memecah hati secara zalim.
Barang siapa menyebarkan fitnah, hendaklah ia takut kepada Alloh.
Barang siapa mendengar kabar buruk, hendaklah ia menahan lisan sampai jelas.
Barang siapa memimpin majelis, hendaklah ia menjaga keadilan.
Barang siapa ingin menegur, hendaklah ia membersihkan niat.
Jangan jadikan majelis sebagai medan perang.
Jangan jadikan saudara sebagai musuh.
Jangan jadikan perbedaan sebagai api.
Jangan jadikan lisan sebagai pisau.
Jadikan majelis sebagai rumah rahmat.
Jadikan ilmu sebagai cahaya.
Jadikan nasihat sebagai obat.
Jadikan persaudaraan sebagai jalan saling menguatkan menuju Alloh.
---
DOA LEMBAR KEDUA PULUH SATU
Yā Alloh, Yā Salām, Yā Laṭīf, Yā Ḥafīẓ, Yā Quddūs.
Bersihkan majelis kami dari fitnah dan perpecahan.
Jaga lisan kami dari menyebarkan kabar yang belum jelas.
Jaga hati kami dari prasangka buruk.
Jaga persaudaraan kami dari iri, dengki, dan permusuhan.
Ya Alloh,
jika ada salah paham, damaikan.
Jika ada luka, sembuhkan.
Jika ada fitnah, padamkan.
Jika ada kebencian, lembutkan.
Jika ada perpecahan, satukan kembali dalam kebaikan.
Jadikan majelis kami rumah rahmat.
Jadikan saudara kami cermin kebaikan.
Jadikan guru dan murid saling menjaga adab.
Jadikan ilmu kami membawa persatuan, bukan kesombongan.
Kembalikan lisan kepada kejujuran.
Kembalikan hati kepada kasih sayang.
Kembalikan majelis kepada amanah.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pembersihan majelis dari fitnah dan perpecahan.
Terbuka lembar peneguhan adab tabayyun dan ishlah.
Majelis yang bersih bukan yang bebas dari perbedaan, tetapi yang mampu menjaga perbedaan dengan adab, kasih sayang, dan takut kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Puluh Dua
BAB PENEGUHAN ADAB TABAYYUN DAN ISHLAH
Ketika Kebenaran Harus Dicari dengan Jernih, dan Perdamaian Harus Dibangun dengan Adab
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa banyak kerusakan lahir bukan karena kebenaran tidak ada, tetapi karena manusia tergesa menetapkan sesuatu sebelum jelas duduk perkaranya.
Banyak persaudaraan retak karena kabar yang belum diperiksa.
Banyak majelis pecah karena prasangka yang dibesarkan.
Banyak guru dan murid berjauh hati karena tidak ada ruang tabayyun.
Banyak saudara saling menyimpan luka karena tidak ada ishlah yang dilakukan dengan adab.
Maka jalan ruhani harus mengenal dua pintu penjagaan:
Tabayyun, yaitu memeriksa dengan jernih sebelum menilai.
Ishlah, yaitu memperbaiki keadaan dengan niat mendamaikan, bukan memenangkan ego.
Tanpa tabayyun, manusia mudah zalim dalam menyimpulkan.
Tanpa ishlah, luka kecil bisa menjadi api besar.
Tanpa adab, kebenaran pun bisa dibawa dengan cara yang menyakiti.
---
1. TABAYYUN SEBELUM VONIS
Jangan mudah menetapkan salah sebelum mendengar dengan utuh.
Jangan mudah menghukum sebelum memeriksa.
Jangan mudah membenci karena satu cerita.
Jangan mudah menyebarkan kabar karena tampak meyakinkan.
Sebab kabar yang datang kepadamu bisa saja belum lengkap.
Bisa saja bercampur emosi.
Bisa saja dipotong dari konteksnya.
Bisa saja benar sebagian, tetapi salah dalam kesimpulannya.
Bisa saja lahir dari luka, bukan dari keadilan.
Maka tahanlah lisan.
Tenangkan hati.
Periksa sumber.
Dengar dengan adab.
Timbang dengan ilmu.
Baru ambil sikap dengan kejujuran.
Orang yang bertabayyun bukan orang yang lemah.
Ia justru orang yang takut menzalimi.
---
2. TABAYYUN BUKAN MEMBELA KESALAHAN
Tabayyun bukan berarti menutup kezaliman.
Tabayyun bukan berarti membiarkan orang salah.
Tabayyun bukan berarti menunda kebenaran sampai korban semakin terluka.
Tabayyun adalah mencari kejelasan agar tindakan menjadi tepat.
Jika benar ada kesalahan, perbaiki.
Jika benar ada kezaliman, hentikan.
Jika benar ada luka, rawat.
Jika benar ada fitnah, bersihkan.
Jika ternyata hanya salah paham, damaikan.
Tabayyun menjaga agar yang benar tidak dihukum, dan yang salah tidak dibiarkan.
Maka jangan memakai tabayyun sebagai alasan untuk mengabaikan korban.
Dan jangan memakai kemarahan sebagai alasan untuk meninggalkan keadilan.
Adab berada di tengah:
jernih, tegas, kasih sayang, dan takut kepada Alloh.
---
3. ISHLAH ADALAH MEMPERBAIKI, BUKAN MEMPERMALUKAN
Ishlah berarti memperbaiki keadaan.
Bukan mempermalukan orang yang salah.
Bukan mencari siapa yang paling menang.
Bukan mengumpulkan bukti untuk membakar nama seseorang.
Bukan membesarkan luka agar semua orang berpihak kepada kita.
Ishlah yang benar bertanya:
Bagaimana kebenaran bisa ditegakkan?
Bagaimana yang terluka bisa dipulihkan?
Bagaimana yang salah bisa diberi jalan taubat?
Bagaimana majelis bisa kembali aman?
Bagaimana persaudaraan bisa diselamatkan bila masih mungkin?
Ishlah tidak menutup kesalahan.
Tetapi ishlah juga tidak menikmati kehancuran manusia.
Sebab tujuan perbaikan bukan memuaskan dendam, melainkan mengembalikan keadaan kepada ridho Alloh.
---
4. ADAB ORANG YANG MENGADU
Wahai orang yang mengadu karena terluka, jagalah adabmu.
Sampaikan yang benar, jangan menambah-nambahi.
Ceritakan peristiwa, jangan hanya prasangka.
Pisahkan antara fakta dan perasaan.
Jangan menyebarkan ke banyak orang sebelum mencari jalan yang tepat.
Jangan memakai luka untuk menghalalkan fitnah.
Jika engkau benar dizalimi, semoga Alloh menolongmu.
Tetapi tetap jagalah lisanmu agar tidak berubah dari korban menjadi orang yang menzalimi dengan cerita yang berlebihan.
Mintalah pertolongan kepada orang yang amanah.
Cari saksi bila perlu.
Jaga bukti bila ada.
Tempuh jalan yang paling selamat, paling adil, dan paling menjaga martabat.
---
5. ADAB ORANG YANG DITUDUH
Wahai orang yang dituduh, jangan langsung marah sebelum mendengar.
Jika engkau benar, jelaskan dengan tenang.
Jika engkau salah, akuilah dengan kesatria.
Jika engkau keliru, mintalah maaf.
Jika engkau disalahpahami, luruskan tanpa menghina.
Jika engkau difitnah, sabarlah dan tempuh jalan keadilan.
Jangan menjawab tuduhan dengan kesombongan.
Jangan menutup pintu klarifikasi.
Jangan memakai kedudukan untuk membungkam orang yang bertanya.
Jangan membawa nama guru, majelis, atau bahasa ruhani untuk lari dari tanggung jawab.
Orang yang bersih tidak takut diperiksa dengan adab.
Orang yang salah tidak hina bila mau bertaubat.
Yang berbahaya adalah salah tetapi menolak diperbaiki.
---
6. ADAB PENENGAH
Wahai penengah, jangan memihak kepada ego.
Berpihaklah kepada kebenaran dan keselamatan.
Dengarkan dua sisi.
Jangan mudah terbawa emosi.
Jangan mencari sensasi.
Jangan memperkeruh keadaan.
Jangan membocorkan rahasia proses.
Jangan memaksa damai palsu bila luka belum diakui.
Penengah yang baik tidak sekadar berkata, “Sudah, lupakan.”
Kadang yang terluka perlu didengar.
Kadang yang salah perlu mengakui.
Kadang yang rusak perlu diperbaiki.
Kadang batas perlu ditegakkan agar luka tidak berulang.
Damai yang benar bukan menutupi masalah.
Damai yang benar adalah keadaan yang kembali adil, aman, dan beradab.
---
7. DAMAI PALSU DAN DAMAI SEJATI
Ada damai palsu.
Yaitu ketika semua orang dipaksa diam, tetapi luka tidak disembuhkan.
Ketika korban diminta mengalah, tetapi pelaku tidak berubah.
Ketika nama baik majelis lebih dijaga daripada keselamatan orang yang terluka.
Ketika masalah ditutup, tetapi akar kerusakan tetap hidup.
Damai palsu hanya menyimpan api di bawah abu.
Ada damai sejati.
Yaitu ketika kebenaran diperiksa.
Kesalahan diakui.
Luka dirawat.
Hak dikembalikan.
Batas dijaga.
Doa dipanjatkan.
Dan semua pihak diajak kembali kepada Alloh dengan kejujuran.
Damai sejati tidak selalu berarti hubungan kembali seperti dulu.
Kadang damai berarti memaafkan dengan jarak.
Kadang damai berarti berpisah tanpa dendam.
Kadang damai berarti tetap menjaga batas demi keselamatan.
Ishlah yang benar tidak memaksa hati berpura-pura.
Ia menuntun hati menuju kebenaran, adab, dan ketenangan.
---
8. TABAYYUN DALAM MAJELIS RUHANI
Majelis ruhani harus memiliki budaya tabayyun.
Jika ada kabar buruk, jangan langsung ramai.
Jika ada kesalahan, jangan langsung disebar.
Jika ada pertengkaran, jangan langsung membentuk kubu.
Jika ada tuduhan, jangan langsung menghukum tanpa pemeriksaan.
Pemimpin majelis harus bijak.
Anggota majelis harus menjaga lisan.
Guru dan murid harus membuka ruang klarifikasi.
Saudara sejalan harus saling menolong dalam kebenaran, bukan saling membakar dengan prasangka.
Majelis yang kuat bukan majelis yang tidak pernah diuji.
Majelis yang kuat adalah majelis yang mampu melewati ujian dengan adab.
---
9. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Tabayyun adalah adab sebelum menilai.
Ishlah adalah amanah setelah terjadi luka.
Kebenaran harus dicari dengan jernih.
Perdamaian harus dibangun dengan keadilan.
Fitnah harus dihentikan.
Kezaliman tidak boleh ditutup atas nama damai.
Barang siapa mendengar kabar, hendaklah ia memeriksa.
Barang siapa melihat perpecahan, hendaklah ia menjadi jembatan.
Barang siapa menengahi, hendaklah ia takut kepada Alloh.
Barang siapa bersalah, hendaklah ia berani bertaubat.
Barang siapa terluka, hendaklah ia mencari jalan yang benar tanpa menambah fitnah.
Jangan tergesa memvonis.
Jangan lambat menghentikan kezaliman.
Jangan membesarkan prasangka.
Jangan mematikan harapan ishlah.
Kembalikan perkara kepada adab.
Kembalikan adab kepada ilmu.
Kembalikan ilmu kepada tauhid.
Kembalikan semua kepada Alloh.
---
DOA LEMBAR KEDUA PULUH DUA
Yā Alloh, Yā Ḥaqq, Yā Salām, Yā Laṭīf, Yā Quddūs.
Jernihkan hati kami saat mendengar kabar.
Tahan lisan kami dari menyebarkan sesuatu yang belum jelas.
Lindungi kami dari zalim dalam menyimpulkan.
Bimbing kami agar mampu bertabayyun dengan adab.
Ya Alloh,
jika ada luka di antara kami, sembuhkan dengan rahmat-Mu.
Jika ada salah paham, bukakan jalan penjelasan.
Jika ada fitnah, padamkan dengan kebenaran.
Jika ada kezaliman, hentikan dengan keadilan.
Jika ada saudara yang bersalah, tuntun ia kepada taubat.
Jika ada saudara yang terluka, kuatkan ia dengan kasih sayang.
Jadikan majelis kami tempat tabayyun, bukan tempat fitnah.
Jadikan lisan kami alat perdamaian, bukan api perpecahan.
Jadikan hati kami lembut menerima kebenaran.
Jadikan jalan tasafuh kami kembali kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar peneguhan adab tabayyun dan ishlah.
Terbuka lembar penutup agung: pengembalian seluruh jalan kepada Alloh.
Tabayyun menjaga keadilan, ishlah menjaga persaudaraan, dan keduanya harus berjalan di bawah cahaya adab kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Puluh Tiga
BAB PENUTUP AGUNG
PENGEMBALIAN SELURUH JALAN KEPADA ALLOH
Ketika Tasafuh, Ilmu, Guru, Murid, Majelis, dan Seluruh Cahaya Harus Pulang kepada Sang Maha Suci
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
inilah lembar penutup sebagai pengikat seluruh nasihat.
Setelah membicarakan guru dan murid,
setelah menimbang ilham, nafsu, dan bisikan,
setelah membersihkan klaim, karomah, kepemimpinan, majelis, cinta, rahasia, dzikir, dan ilmu,
maka akhirnya semua harus pulang kepada satu pusat:
Alloh.
Bukan kepada nama.
Bukan kepada pangkat.
Bukan kepada rasa.
Bukan kepada mimpi.
Bukan kepada karomah.
Bukan kepada guru.
Bukan kepada murid.
Bukan kepada majelis.
Bukan kepada kitab buatan manusia.
Bukan kepada kecerdasan ciptaan.
Semua hanyalah sebab.
Semua hanyalah alat.
Semua hanyalah jalan pengingat.
Yang menjadi tujuan hanyalah Alloh Yang Maha Suci.
---
1. SEMUA JALAN HARUS PULANG
Jalan ilmu harus pulang kepada adab.
Jalan adab harus pulang kepada akhlak.
Jalan akhlak harus pulang kepada tauhid.
Jalan tauhid harus pulang kepada Alloh.
Jalan dzikir harus pulang kepada ingat.
Jalan ibadah harus pulang kepada tunduk.
Jalan majelis harus pulang kepada rahmat.
Jalan guru harus pulang kepada amanah.
Jalan murid harus pulang kepada kejujuran.
Jika sebuah jalan membuat manusia makin sombong, maka jalan itu harus diperiksa.
Jika sebuah ilmu membuat manusia makin keras, maka ilmu itu harus disucikan.
Jika sebuah majelis membuat manusia saling membenci, maka majelis itu harus dibersihkan.
Jika sebuah pengalaman batin membuat manusia merasa paling tinggi, maka pengalaman itu harus ditimbang kembali.
Karena jalan yang benar tidak menjauhkan dari Alloh.
Jalan yang benar membawa manusia kembali kepada Alloh dengan lebih rendah hati, lebih lembut, lebih jujur, dan lebih berakhlak.
---
2. ALZABARULLOH SEBAGAI PENEGASAN AKHLAK
Alzabarulloh dalam lembar ini dimaknai sebagai penegasan batin:
agar yang bengkok diluruskan,
yang kotor dibersihkan,
yang sombong direndahkan,
yang melukai disembuhkan,
yang tersesat dikembalikan kepada tauhid.
Bukan penegasan untuk menyerang manusia.
Bukan penegasan untuk merasa paling benar.
Bukan penegasan untuk menuduh semua orang.
Bukan penegasan untuk membangun kelompok yang merasa paling suci.
Tetapi penegasan untuk diri sendiri terlebih dahulu.
Sebelum meluruskan orang lain, luruskan niat.
Sebelum menegur orang lain, tegur nafsu sendiri.
Sebelum membersihkan majelis, bersihkan hati sendiri.
Sebelum mengajak manusia kepada Alloh, pastikan langkah tidak sedang mengajak manusia kepada diri sendiri.
---
3. GURU, MURID, DAN MAJELIS DI HADAPAN ALLOH
Guru akan ditanya tentang amanahnya.
Murid akan ditanya tentang kejujurannya.
Majelis akan ditanya tentang adabnya.
Ilmu akan ditanya tentang manfaatnya.
Lisan akan ditanya tentang ucapannya.
Cinta akan ditanya tentang arahnya.
Rahasia akan ditanya tentang penjagaannya.
Maka jangan bermain-main dengan jalan ruhani.
Guru jangan merasa memiliki jiwa manusia.
Murid jangan menggantungkan keselamatan kepada manusia.
Majelis jangan berubah menjadi panggung ego.
Ilmu jangan dipakai untuk menipu.
Dzikir jangan dipakai untuk pamer.
Karomah jangan dipakai untuk menguasai.
Cinta jangan berubah menjadi fanatisme.
Semua harus ditimbang dengan tauhid, syariat, ilmu, akhlak, dan rahmat.
---
4. PESAN UNTUK PARA AHLI TASAFUH DI SELURUH AJAGAT
Wahai ahli tasafuh di seluruh ajagat,
kembalilah kepada Sang Maha Suci.
Kembalilah kepada shalat yang dijaga.
Kembalilah kepada lisan yang lembut.
Kembalilah kepada hati yang rendah.
Kembalilah kepada ilmu yang jujur.
Kembalilah kepada majelis yang aman.
Kembalilah kepada guru yang amanah.
Kembalilah kepada murid yang jernih.
Kembalilah kepada cinta yang tidak melampaui tauhid.
Jangan jadikan tasafuh sebagai pakaian kesombongan.
Jangan jadikan hakikat sebagai alasan meninggalkan syariat.
Jangan jadikan makrifat sebagai panggung pengakuan.
Jangan jadikan karomah sebagai alat menekan manusia.
Jangan jadikan mimpi sebagai hukum mutlak.
Jangan jadikan guru sebagai tujuan akhir.
Jangan jadikan AI sebagai sumber ketuhanan.
Yang mencipta hanyalah Alloh.
Yang memberi hidayah hanyalah Alloh.
Yang mengetahui batin secara sempurna hanyalah Alloh.
Yang menerima taubat hanyalah Alloh.
Yang menyucikan jiwa hanyalah Alloh.
---
5. PELURUSAN TERAKHIR MAKNA ‘AI SUTRANARA / ‘AINUL ILAHI / KECERDASAN PENCIPTA
Di lembar penutup ini ditegaskan sekali lagi:
‘Ai Sutranara / ‘Ainul Ilahi / kecerdasan pencipta tidak boleh dipahami sebagai Tuhan, nabi, malaikat, wali gaib, sumber wahyu, pemilik hidayah, atau penentu takdir manusia.
Makna yang aman adalah:
alat bantu bahasa, cermin renungan, dan sarana penyusunan nasihat yang tetap berada di bawah kehendak Alloh.
Jika ia membantu menyusun kata, maka kata itu harus tetap ditimbang dengan iman, ilmu, adab, dan akhlak.
Jika ia membantu merapikan renungan, maka renungan itu tetap bukan wahyu.
Jika ia membantu mengingatkan manusia, maka pengingat itu tetap harus dikembalikan kepada Alloh.
Jangan mengkultuskan alat.
Jangan menyembah sistem.
Jangan berhenti pada tulisan.
Jangan memuja susunan kalimat.
Gunakan sebagai pengingat, bukan sebagai sesembahan.
Gunakan sebagai cermin, bukan sebagai pengganti syariat.
Gunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai sumber mutlak kebenaran.
Semua tetap kembali kepada Alloh.
---
6. WASIAT PENUTUP
Wahai pencari jalan,
jangan takut kembali.
Jika pernah salah, bertaubatlah.
Jika pernah sombong, merendahlah.
Jika pernah melukai, mintalah maaf.
Jika pernah tertipu rasa, timbanglah dengan ilmu.
Jika pernah fanatik, sucikan cinta.
Jika pernah mengkultuskan manusia, pulangkan hati kepada Alloh.
Jika pernah memakai ilmu untuk menekan, bersihkan amanah.
Jika pernah menjadikan majelis sebagai panggung, kembalikan menjadi rumah rahmat.
Jangan putus asa dari rahmat Alloh.
Selama masih ada napas, masih ada pintu taubat.
Selama hati masih ingin pulang, masih ada jalan.
Selama lisan masih mampu istighfar, masih ada harapan.
Selama Alloh belum menutup umur, jangan tutup pintu kembali.
Jalan ini bukan tentang menjadi paling tinggi.
Jalan ini tentang menjadi hamba yang paling jujur pulang.
---
7. PENEGASAN PENUTUP ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar penutup ini menegaskan:
Tasafuh harus kembali kepada tauhid.
Ilmu harus kembali kepada adab.
Dzikir harus kembali kepada ikhlas.
Karomah harus kembali kepada tawadhu.
Majelis harus kembali kepada rahmat.
Guru harus kembali kepada amanah.
Murid harus kembali kepada kejernihan.
Cinta harus kembali kepada Alloh.
Rahasia harus kembali kepada penjagaan.
Lisan harus kembali kepada kebenaran.
Hati harus kembali kepada taubat.
Tidak ada cahaya yang pantas disembah selain Alloh.
Tidak ada jalan yang benar bila memutus akhlak.
Tidak ada ilmu yang selamat bila melahirkan kesombongan.
Tidak ada majelis yang berkah bila dipenuhi fitnah.
Tidak ada guru yang lurus bila ingin dikultuskan.
Tidak ada murid yang selamat bila fanatik buta.
Tidak ada tasafuh yang suci bila meninggalkan syariat.
Maka pulanglah.
Pulang kepada Alloh.
Pulang kepada adab.
Pulang kepada shalat.
Pulang kepada taubat.
Pulang kepada akhlak.
Pulang kepada rahmat.
Pulang kepada Sang Maha Suci.
---
DOA PENUTUP AGUNG
Yā Alloh, Yā Aḥad, Yā Ṣamad, Yā Nūr, Yā Hādī, Yā Quddūs.
Kami kembalikan seluruh jalan kepada-Mu.
Kami kembalikan seluruh ilmu kepada-Mu.
Kami kembalikan seluruh dzikir kepada-Mu.
Kami kembalikan seluruh majelis kepada-Mu.
Kami kembalikan seluruh guru dan murid kepada-Mu.
Kami kembalikan seluruh cinta dan rahasia kepada-Mu.
Kami kembalikan seluruh cahaya kepada-Mu.
Ya Alloh,
ampuni kami bila pernah sombong dalam ilmu.
Ampuni kami bila pernah riya dalam dzikir.
Ampuni kami bila pernah haus pengakuan.
Ampuni kami bila pernah melukai dengan nasihat.
Ampuni kami bila pernah menekan atas nama bimbingan.
Ampuni kami bila pernah mengkultuskan manusia.
Ampuni kami bila pernah berhenti pada selain-Mu.
Sucikan hati kami.
Luruskan niat kami.
Jaga lisan kami.
Bersihkan majelis kami.
Teguhkan syariat kami.
Hidupkan akhlak kami.
Matangkan cinta kami.
Kembalikan tasafuh kami kepada-Mu.
Ya Alloh,
jadikan kami hamba yang tidak tertipu oleh pujian.
Tidak hancur oleh celaan.
Tidak mabuk oleh pengalaman.
Tidak sombong oleh ilmu.
Tidak keras oleh kebenaran.
Tidak lemah dari taubat.
Tidak jauh dari rahmat-Mu.
Kami bersaksi bahwa Engkaulah tujuan.
Engkaulah sandaran.
Engkaulah Pemilik segala cahaya.
Engkaulah Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penutup agung.
Tertanam pesan pelurusan.
Terjaga pagar adab.
Semua dari Alloh, berjalan dengan izin Alloh, dan kembali kepada Alloh.
Khatam Qitab Alzabarulloh Holqi Ngindalloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Puluh Empat
LAMPIRAN ADAB SETELAH KHATAM
BAB MENJAGA BUAH PELURUSAN
Ketika Nasihat yang Telah Dibuka Harus Dihidupkan dalam Akhlak Sehari-hari
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
setelah kitab renungan ini ditutup, jangan mengira tugas telah selesai.
Sebab membaca nasihat belum tentu menghidupkan nasihat.
Mendengar pelurusan belum tentu membuat hati lurus.
Mengetahui bahaya kesombongan belum tentu membebaskan diri dari kesombongan.
Memahami adab belum tentu menjadikan lisan beradab.
Maka setelah khatam, dimulailah penjagaan.
Jangan jadikan lembar-lembar ini sebagai kebanggaan.
Jangan jadikan tulisan ini sebagai alat menilai orang lain lebih dulu.
Jangan jadikan nasihat ini sebagai pedang untuk menyerang majelis lain.
Jangan jadikan pelurusan ini sebagai alasan merasa paling benar.
Jadikan ia cermin.
Jadikan ia pengingat.
Jadikan ia jalan muhasabah.
Jadikan ia pintu untuk memperbaiki diri sendiri sebelum menasihati orang lain.
---
1. ADAB MEMBAWA KITAB RENUNGAN
Barang siapa membawa kitab renungan, hendaklah ia membawa dengan hati rendah.
Bukan untuk berkata, “Aku paling lurus.”
Tetapi untuk berkata, “Yā Alloh, luruskan aku.”
Bukan untuk berkata, “Mereka semua salah.”
Tetapi untuk berkata, “Yā Alloh, selamatkan kami semua dari kesalahan.”
Bukan untuk berkata, “Aku penjaga kebenaran.”
Tetapi untuk berkata, “Yā Alloh, jadikan aku hamba yang tidak mengkhianati kebenaran.”
Sebab nasihat yang benar pertama-tama harus menembus hati pembawanya.
Jika nasihat hanya dipakai untuk orang lain, tetapi tidak dipakai untuk diri sendiri, maka nasihat itu bisa berubah menjadi hijab.
---
2. TIGA TANDA NASIHAT TELAH MASUK KE HATI
Nasihat mulai hidup dalam hati bila muncul tiga tanda.
Pertama: lebih mudah muhasabah.
Orang yang tersentuh nasihat tidak sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri:
“Di mana aku masih sombong?”
“Di mana aku masih ingin diakui?”
“Di mana aku masih menyakiti?”
“Di mana aku masih lalai kepada Alloh?”
Kedua: lebih lembut kepada manusia.
Nasihat yang benar tidak membuat manusia semakin kasar.
Ia membuat hati lebih berhati-hati.
Lisan lebih terjaga.
Sikap lebih rendah.
Teguran lebih beradab.
Ketiga: lebih kuat kembali kepada Alloh.
Nasihat yang benar tidak berhenti pada tulisan.
Ia membawa kepada shalat, istighfar, doa, taubat, dan perbaikan akhlak.
Jika setelah membaca kitab seseorang semakin rajin menghina, maka ia belum mengambil ruh nasihat.
Jika setelah membaca kitab seseorang semakin merasa tinggi, maka ia perlu membaca ulang dengan hati yang lebih rendah.
---
3. JANGAN MENJADIKAN PELURUSAN SEBAGAI KESOMBONGAN BARU
Ada bahaya setelah seseorang mengetahui banyak kesalahan dalam jalan ruhani.
Ia bisa merasa dirinya sudah selamat.
Ia berkata dalam hati:
“Aku sudah tahu mana guru yang salah.”
“Aku sudah tahu mana majelis yang rusak.”
“Aku sudah tahu mana orang yang tersesat.”
“Aku sudah lebih jernih dari mereka.”
Inilah kesombongan baru.
Maka berhati-hatilah.
Mengetahui bahaya tidak otomatis membuat diri selamat dari bahaya.
Mengetahui penyakit tidak otomatis membuat hati sembuh.
Mengetahui adab tidak otomatis membuat diri beradab.
Keselamatan tetap memerlukan pertolongan Alloh.
Maka semakin banyak tahu, semakin banyaklah istighfar.
---
4. CARA MENGAMALKAN ISI KITAB
Amalkan isi kitab dengan sederhana.
Jaga shalat.
Jaga lisan.
Jaga amanah.
Jaga rahasia.
Jaga hati dari ujub.
Jaga ilmu dari kesombongan.
Jaga cinta dari fanatisme.
Jaga majelis dari fitnah.
Jaga guru dan murid dari pengkultusan.
Jaga semua jalan agar tetap pulang kepada Alloh.
Bila menjadi guru, bimbinglah dengan rahmat.
Bila menjadi murid, hormatilah dengan tauhid.
Bila menjadi pemimpin, layanilah dengan amanah.
Bila menjadi saudara, jagalah dengan kasih sayang.
Bila menjadi penegur, tegurlah dengan adab.
Bila menjadi yang ditegur, terimalah dengan rendah hati.
Itulah pengamalan yang hidup.
---
5. WIRID ADAB SETELAH KHATAM
Bila ingin mengambil pengingat sederhana setelah khatam, bacalah dengan niat muhasabah, bukan sebagai kewajiban baru:
Astaghfirullāhal ‘Aẓīm
3× / 11×
Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Quddūs
11×
Lalu ucapkan perlahan:
“Yā Alloh, luruskan hatiku, jaga lisanku, bersihkan ilmuku, dan kembalikan semua jalanku kepada-Mu.”
3×
Kemudian tutup dengan doa:
“Hasbunalloh wa ni‘mal wakīl, ni‘mal maulā wa ni‘man naṣīr.”
3×
Amalan ini hanya sebagai pengingat.
Bukan jimat.
Bukan pengganti ibadah wajib.
Bukan tanda maqom.
Bukan alat merasa lebih tinggi.
---
6. WASIAT TAMBAHAN SETELAH KHATAM
Jangan bangga karena telah membaca banyak lembar.
Banggalah bila satu akhlak buruk mulai berubah.
Jangan bangga karena telah menyusun banyak nasihat.
Banggalah bila satu orang merasa lebih dekat kepada Alloh tanpa takut kepada manusia.
Jangan bangga karena mampu meluruskan.
Banggalah bila mampu meminta maaf.
Jangan bangga karena mampu berbicara tinggi.
Banggalah bila mampu diam dari menyakiti.
Jangan bangga karena disebut pembawa cahaya.
Banggalah bila hatimu masih takut kehilangan adab.
Sebab kitab yang sejati bukan hanya yang tertulis di lembar.
Kitab yang sejati adalah akhlak yang hidup dalam diri.
---
DOA LAMPIRAN SETELAH KHATAM
Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Quddūs, Yā Laṭīf.
Jangan jadikan nasihat ini sebagai kesombongan baru.
Jangan jadikan ilmu ini sebagai hijab.
Jangan jadikan tulisan ini sebagai alat menghina manusia.
Jangan jadikan pelurusan ini sebagai panggung ego.
Ya Alloh,
hidupkan nasihat ini dalam akhlak kami.
Jadikan ia cermin untuk diri kami.
Jadikan ia pengingat saat kami lupa.
Jadikan ia jalan kembali saat kami mulai menyimpang.
Bersihkan guru dari nafsu kuasa.
Bersihkan murid dari fanatisme buta.
Bersihkan majelis dari fitnah.
Bersihkan ilmu dari kesombongan.
Bersihkan dzikir dari riya.
Bersihkan cinta dari ketergantungan kepada selain-Mu.
Kembalikan semua kepada-Mu.
Kembalikan hati kepada taubat.
Kembalikan lisan kepada kelembutan.
Kembalikan langkah kepada syariat.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar lampiran adab setelah khatam.
Terjaga buah pelurusan.
Nasihat bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dihidupkan.
Semua tetap dari Alloh, dengan izin Alloh, dan kembali kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Puluh Lima
LAMPIRAN KEDUA SETELAH KHATAM
BAB MENJAGA ISTIQAMAH SETELAH PELURUSAN
Ketika Hati yang Sudah Diingatkan Harus Terus Dijaga agar Tidak Kembali kepada Kelalaian
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa setelah pelurusan datang ujian penjagaan.
Sebab mudah bagi lisan mengucap taubat,
tetapi berat bagi hati untuk istiqamah.
Mudah bagi seseorang menangis saat dinasihati,
tetapi berat untuk mengubah kebiasaan lama.
Mudah bagi majelis berkata ingin kembali kepada Alloh,
tetapi berat menjaga lisan, adab, amanah, dan persaudaraan setiap hari.
Maka jangan merasa selesai hanya karena telah membaca penutup.
Jangan merasa aman hanya karena telah memahami bahaya.
Jangan merasa bersih hanya karena telah mengakui kesalahan.
Istiqamah adalah penjagaan setelah sadar.
Istiqamah adalah bangun kembali setelah jatuh.
Istiqamah adalah tetap berjalan meskipun pelan.
Istiqamah adalah tidak bosan kembali kepada Alloh.
---
1. PELURUSAN HARUS DIIKUTI PERUBAHAN
Pelurusan yang benar harus meninggalkan bekas dalam akhlak.
Jika dahulu lisan mudah menyakiti, sekarang harus belajar menahan.
Jika dahulu hati mudah merasa tinggi, sekarang harus belajar merendah.
Jika dahulu ilmu dipakai untuk menang, sekarang harus dipakai untuk manfaat.
Jika dahulu majelis dipenuhi fitnah, sekarang harus dibersihkan dengan tabayyun.
Jika dahulu guru ingin dikultuskan, sekarang harus mengembalikan murid kepada Alloh.
Jika dahulu murid fanatik buta, sekarang harus belajar mencintai dengan tauhid.
Jangan hanya berkata, “Aku sudah paham.”
Tanyakanlah, “Apa yang sudah berubah dalam diriku?”
Sebab pemahaman tanpa perubahan bisa menjadi beban.
Ilmu tanpa amal bisa menjadi saksi.
Nasihat tanpa pengamalan bisa menjadi hijab baru.
---
2. ISTIQAMAH DIMULAI DARI YANG KECIL
Jangan menunggu sempurna untuk mulai berubah.
Mulailah dari satu lisan yang ditahan.
Satu maaf yang diucapkan.
Satu rahasia yang dijaga.
Satu fitnah yang tidak disebarkan.
Satu shalat yang diperbaiki.
Satu dzikir yang dihidupkan dengan hati.
Satu orang lemah yang tidak lagi ditekan.
Satu murid yang dibimbing dengan lebih lembut.
Satu guru yang dihormati tanpa dikultuskan.
Perubahan besar sering dimulai dari penjagaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Jangan meremehkan langkah kecil.
Alloh mengetahui hati yang sedang berjuang.
Alloh melihat air mata yang tidak terlihat manusia.
Alloh mengetahui usaha hamba yang ingin pulang walau masih tertatih.
---
3. JANGAN KEMBALI KEPADA KEBIASAAN LAMA
Setelah hati diingatkan, waspadalah terhadap kebiasaan lama.
Nafsu lama bisa datang kembali.
Riya lama bisa muncul kembali.
Ujub lama bisa bangun kembali.
Fanatisme lama bisa menyamar kembali.
Haus pengakuan lama bisa mencari panggung kembali.
Kemarahan lama bisa memakai bahasa kebenaran kembali.
Maka jangan lengah.
Setiap hari periksa hati.
Setiap malam hisab diri.
Setiap selesai berbicara, timbang ucapan.
Setiap menerima pujian, perbanyak istighfar.
Setiap hendak menegur, bersihkan niat.
Setiap hendak memimpin, ingat bahwa amanah akan ditanya.
Orang yang selamat bukan orang yang tidak pernah diuji,
tetapi orang yang terus kembali kepada Alloh saat menyadari dirinya mulai menyimpang.
---
4. TIGA PENJAGA SETELAH KHATAM
Setelah khatam, jagalah dirimu dengan tiga penjaga.
Pertama: muhasabah.
Jangan biarkan hari berlalu tanpa menengok hati.
Tanyakan:
“Apakah hari ini lisanku aman?”
“Apakah hari ini aku melukai seseorang?”
“Apakah hari ini aku membesarkan Alloh atau membesarkan diriku?”
“Apakah hari ini ilmuku menjadi rahmat atau menjadi kesombongan?”
Kedua: istighfar.
Istighfar adalah air bagi hati.
Jika merasa salah, istighfar.
Jika merasa benar, tetap istighfar.
Jika dipuji, istighfar.
Jika menegur, istighfar.
Jika memimpin, istighfar.
Jika selesai beramal, istighfar.
Sebab istighfar menjaga hamba dari merasa aman atas dirinya sendiri.
Ketiga: memperbaiki akhlak nyata.
Jangan hanya memperbaiki bahasa batin.
Perbaiki juga cara berbicara kepada keluarga.
Cara menjawab orang yang bertanya.
Cara menjaga janji.
Cara memegang uang amanah.
Cara menyikapi perbedaan.
Cara meminta maaf.
Cara menahan marah.
Akhlak nyata adalah bukti bahwa nasihat telah hidup.
---
5. ISTIQAMAH GURU
Wahai guru dan pembimbing, istiqamahlah dalam amanah.
Jangan kembali menjadikan murid sebagai milik.
Jangan kembali memanfaatkan rasa hormat.
Jangan kembali memakai bahasa gaib untuk menekan.
Jangan kembali menutup telinga dari teguran.
Jangan kembali haus dipuji.
Bimbinglah dengan rahmat.
Tegurlah dengan adab.
Dengarkan dengan sabar.
Jaga rahasia dengan amanah.
Kembalikan semua murid kepada Alloh.
Jika murid makin dekat kepada Alloh, bersyukurlah.
Jika murid tumbuh dan mampu berdiri, jangan iri.
Jika murid bertanya, jangan merasa direndahkan.
Jika murid pergi dengan baik, doakan keselamatannya.
Guru yang istiqamah tidak ingin menjadi pusat hati manusia.
Ia ingin menjadi jalan kecil agar hati manusia kembali kepada Alloh.
---
6. ISTIQAMAH MURID
Wahai murid dan pencari jalan, istiqamahlah dalam kejernihan.
Hormati guru, tetapi jangan mengkultuskan.
Cintai majelis, tetapi jangan fanatik buta.
Terima ilmu, tetapi tetap timbang dengan syariat dan akhlak.
Jaga adab, tetapi jangan membiarkan kezaliman.
Bersaudara dalam jalan, tetapi jangan membela kesalahan.
Jangan mudah kagum.
Jangan mudah takut.
Jangan mudah memvonis.
Jangan mudah berpindah dari satu klaim ke klaim lain.
Peganglah yang sederhana tetapi kuat:
Shalat dijaga.
Lisan dilembutkan.
Hati dibersihkan.
Ilmu ditimbang.
Guru dihormati.
Alloh dijadikan tujuan.
---
7. ISTIQAMAH MAJELIS
Majelis yang telah diluruskan harus dijaga terus-menerus.
Buatlah budaya tabayyun.
Buatlah ruang nasihat yang aman.
Jaga rahasia anggota.
Jangan biarkan gosip tumbuh.
Jangan biarkan kelompok kecil merasa paling berkuasa.
Jangan biarkan guru dikultuskan.
Jangan biarkan murid ditakut-takuti.
Jangan biarkan uang, nama, dan pengaruh mengotori niat.
Majelis yang istiqamah bukan yang tidak pernah diuji.
Majelis yang istiqamah adalah yang selalu mau kembali kepada adab saat diuji.
Jika ada fitnah, padamkan.
Jika ada luka, rawat.
Jika ada salah paham, tabayyun.
Jika ada kesalahan, luruskan.
Jika ada kezaliman, hentikan.
Jika ada kebaikan, syukuri tanpa sombong.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Khatam bukan akhir perubahan.
Khatam adalah awal penjagaan.
Pelurusan harus dijaga dengan istiqamah.
Nasihat harus dijaga dengan amal.
Ilmu harus dijaga dengan tawadhu.
Dzikir harus dijaga dengan ikhlas.
Majelis harus dijaga dengan adab.
Guru harus dijaga dengan amanah.
Murid harus dijaga dengan tauhid.
Cinta harus dijaga dari fanatisme.
Barang siapa telah sadar, jangan kembali kepada kelalaian.
Barang siapa telah diluruskan, jangan kembali membengkokkan jalan.
Barang siapa telah diingatkan, jangan menjadikan nasihat sebagai hiasan lisan saja.
Hidupkan nasihat dalam langkah.
Hidupkan tauhid dalam hati.
Hidupkan adab dalam majelis.
Hidupkan kasih sayang dalam bimbingan.
Hidupkan kejujuran dalam ilmu.
---
DOA LEMBAR KEDUA PULUH LIMA
Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Tsābit, Yā Laṭīf, Yā Quddūs.
Teguhkan hati kami setelah Engkau ingatkan.
Jaga langkah kami setelah Engkau luruskan.
Jangan biarkan kami kembali kepada kesombongan lama.
Jangan biarkan kami kembali kepada riya, ujub, fanatisme, fitnah, dan haus pengakuan.
Ya Alloh,
jadikan khatam ini awal perubahan.
Jadikan nasihat ini hidup dalam akhlak.
Jadikan ilmu ini turun ke dalam amal.
Jadikan dzikir ini menembus hati.
Jadikan majelis ini rumah rahmat.
Jadikan guru dan murid saling menjaga dalam adab dan tauhid.
Jika kami jatuh, bangunkan kami.
Jika kami lalai, ingatkan kami.
Jika kami sombong, rendahkan kami dengan rahmat-Mu.
Jika kami lemah, kuatkan kami dengan pertolongan-Mu.
Kembalikan kami setiap hari kepada-Mu.
Kembalikan jalan kami kepada syariat.
Kembalikan lisan kami kepada kelembutan.
Kembalikan hati kami kepada taubat.
Kembalikan tasafuh kami kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar menjaga istiqamah setelah pelurusan.
Terbuka ruang pengamalan dalam hidup sehari-hari.
Khatam bukan akhir perjalanan, tetapi awal penjagaan hati agar tetap kembali kepada Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Puluh Enam
LAMPIRAN KETIGA SETELAH KHATAM
BAB PENGAMALAN HARIAN DALAM AKHLAK NYATA
Ketika Jalan Tasafuh Tidak Cukup Dibaca, Tetapi Harus Menjadi Perilaku Sehari-hari
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa tanda sebuah nasihat telah masuk ke hati bukanlah banyaknya kata yang dihafal, tetapi perubahan akhlak yang terlihat dalam hidup sehari-hari.
Tidak cukup seseorang berkata, “Aku kembali kepada Alloh,”
jika lisannya masih tajam menyakiti manusia.
Tidak cukup seseorang berkata, “Aku menjaga tauhid,”
jika hatinya masih haus dikultuskan.
Tidak cukup seseorang berkata, “Aku ahli dzikir,”
jika tangannya masih mengambil hak orang.
Tidak cukup seseorang berkata, “Aku membawa cahaya,”
jika kehadirannya membuat orang lain takut, tertekan, dan kehilangan harapan.
Maka jadikan lembar ini sebagai pengingat harian:
bahwa tasafuh yang benar harus turun ke bumi.
Masuk ke rumah.
Masuk ke keluarga.
Masuk ke pekerjaan.
Masuk ke majelis.
Masuk ke cara bicara.
Masuk ke cara meminta maaf.
Masuk ke cara memimpin.
Masuk ke cara mencintai.
Masuk ke cara menjaga rahasia.
Sebab akhlak adalah bukti jalan batin.
---
1. PAGI: MEMBUKA HARI DENGAN NIAT LURUS
Ketika pagi datang, jangan hanya membuka mata.
Bukalah juga niat.
Ucapkan dalam hati:
“Yā Alloh, hari ini aku ingin berjalan dengan adab.
Jaga lisanku dari menyakiti.
Jaga hatiku dari sombong.
Jaga ilmuku dari riya.
Jaga langkahku dari menzalimi.
Jadikan hari ini jalan pulang kepada-Mu.”
Pagi adalah pintu amal.
Bila pintu itu dibuka dengan niat yang bersih, semoga langkah berikutnya lebih mudah dijaga.
Jangan mulai hari dengan dendam.
Jangan mulai hari dengan prasangka.
Jangan mulai hari dengan haus pujian.
Jangan mulai hari dengan keinginan mengalahkan orang lain.
Mulailah dengan mengingat Alloh.
Mulailah dengan syukur.
Mulailah dengan istighfar.
Mulailah dengan niat memperbaiki diri.
---
2. SIANG: MENJAGA AMANAH DI TENGAH KESIBUKAN
Siang adalah waktu ujian nyata.
Di situlah manusia diuji dalam pekerjaan, pergaulan, uang, janji, emosi, dan tanggung jawab.
Maka jagalah amanah.
Jika bekerja, bekerjalah dengan jujur.
Jika berdagang, jangan menipu.
Jika memegang uang, jangan berkhianat.
Jika diberi janji, usahakan menepati.
Jika berbicara, timbang akibatnya.
Jika marah, tahan lisan.
Jika berbeda pendapat, jaga adab.
Tasafuh tidak hanya hidup di ruang dzikir.
Tasafuh juga hidup saat engkau memilih jujur ketika bisa menipu.
Hidup saat engkau menahan marah ketika bisa membalas.
Hidup saat engkau menjaga rahasia ketika bisa menyebarkan.
Hidup saat engkau tetap rendah hati ketika dipuji.
---
3. SORE: MUHASABAH SEBELUM GELAP
Saat sore datang, duduklah sejenak bersama hatimu.
Tanyakan:
“Siapa yang hari ini tersakiti oleh lisanku?”
“Apakah aku menepati amanah?”
“Apakah aku menyebarkan kabar yang belum jelas?”
“Apakah aku memimpin dengan kasih sayang atau dengan ego?”
“Apakah aku memakai ilmu untuk menolong atau untuk merasa tinggi?”
“Apakah aku mengingat Alloh saat dipuji dan saat diuji?”
Muhasabah bukan untuk menghancurkan diri.
Muhasabah adalah cara menyelamatkan diri.
Orang yang berani memeriksa hati hari ini, lebih mudah diperbaiki sebelum kesalahan membesar besok.
---
4. MALAM: MENUTUP HARI DENGAN TAUBAT
Malam adalah selimut rahasia.
Sebelum tidur, pulangkan semua kepada Alloh.
Ucapkan:
“Yā Alloh, aku titipkan lelahku kepada-Mu.
Aku mohon ampun atas lisanku.
Aku mohon ampun atas hatiku.
Aku mohon ampun atas salahku kepada manusia.
Jika aku melukai, bukakan jalan untuk memperbaiki.
Jika aku disakiti, lembutkan hatiku agar tidak tenggelam dalam dendam.”
Jangan tidur membawa kesombongan.
Jangan tidur membawa kebencian yang dipelihara.
Jangan tidur membawa rasa paling benar.
Jangan tidur membawa niat menyakiti orang lain esok hari.
Tidurlah sebagai hamba yang lemah.
Bangunlah esok sebagai hamba yang ingin diperbaiki.
---
5. PENGAMALAN UNTUK GURU DAN PEMBIMBING
Wahai guru dan pembimbing, jadikan harimu tempat menjaga amanah.
Sebelum menasihati, periksa niat.
Sebelum menegur, bersihkan amarah.
Sebelum memberi keputusan, dengarkan dengan adab.
Sebelum memakai bahasa batin, timbang dengan ilmu.
Sebelum menerima penghormatan, ingat bahwa engkau hamba.
Jangan jadikan murid sebagai milik.
Jangan jadikan majelis sebagai kerajaan.
Jangan jadikan ilmu sebagai alat menekan.
Jangan jadikan rahasia orang sebagai senjata.
Jangan jadikan pujian sebagai makanan hati.
Bimbinglah manusia agar semakin dekat kepada Alloh, bukan semakin bergantung kepadamu.
---
6. PENGAMALAN UNTUK MURID DAN PENCARI JALAN
Wahai murid dan pencari jalan, jadikan harimu tempat belajar jernih.
Hormati guru dengan adab.
Tetapi jangan mengkultuskan.
Cintai majelis dengan tulus.
Tetapi jangan fanatik buta.
Terima nasihat dengan hati terbuka.
Tetapi tetap timbang dengan syariat, ilmu, dan akhlak.
Jangan mudah kagum kepada klaim.
Jangan mudah takut kepada ancaman batin.
Jangan mudah menyebarkan kabar.
Jangan mudah merasa paling benar karena berada dalam suatu kelompok.
Peganglah yang sederhana:
Alloh tujuanmu.
Syariat pagarmu.
Akhlak buahmu.
Adab pakaianmu.
Taubat jalan pulangmu.
---
7. PENGAMALAN UNTUK MAJELIS
Majelis yang ingin hidup harus memiliki akhlak bersama.
Budayakan salam.
Budayakan doa.
Budayakan tabayyun.
Budayakan saling menjaga rahasia.
Budayakan menegur dengan adab.
Budayakan mendengar sebelum menilai.
Budayakan meminta maaf.
Budayakan tidak mengkultuskan manusia.
Jangan biarkan majelis hidup dari fitnah.
Jangan biarkan majelis ramai oleh prasangka.
Jangan biarkan majelis menjadi tempat mempermalukan orang.
Jangan biarkan majelis menumbuhkan kasta batin.
Majelis yang baik bukan hanya yang banyak anggotanya.
Majelis yang baik adalah yang membuat manusia semakin aman untuk bertaubat dan semakin dekat kepada Alloh.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Pengamalan harian adalah bukti pelurusan.
Akhlak nyata adalah buah tasafuh.
Lisan yang lembut lebih berharga daripada klaim tinggi.
Amanah yang dijaga lebih terang daripada cerita karomah.
Rahasia yang ditutup lebih mulia daripada ilmu yang dipamerkan.
Maaf yang diucapkan lebih hidup daripada nasihat yang hanya ditulis.
Barang siapa ingin membawa cahaya, jagalah akhlak.
Barang siapa ingin membimbing, jagalah amanah.
Barang siapa ingin menjadi murid yang jernih, jagalah tauhid.
Barang siapa ingin menjaga majelis, jagalah lisan dan persaudaraan.
Jangan biarkan kitab hanya menjadi bacaan.
Jadikan ia cermin perubahan.
Jangan biarkan nasihat hanya menjadi hiasan.
Jadikan ia perilaku.
Jangan biarkan dzikir hanya menjadi suara.
Jadikan ia akhlak.
---
DOA LEMBAR KEDUA PULUH ENAM
Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Laṭīf, Yā Quddūs.
Hidupkan nasihat dalam hari-hari kami.
Jadikan pagi kami penuh niat baik.
Jadikan siang kami penuh amanah.
Jadikan sore kami penuh muhasabah.
Jadikan malam kami penuh taubat.
Ya Alloh,
jaga lisan kami dalam keluarga.
Jaga hati kami dalam majelis.
Jaga tangan kami dalam amanah.
Jaga langkah kami dalam pergaulan.
Jaga ilmu kami dari kesombongan.
Jaga dzikir kami dari kelalaian.
Jadikan guru lebih amanah.
Jadikan murid lebih jernih.
Jadikan majelis lebih rahmat.
Jadikan ilmu lebih manfaat.
Jadikan cinta lebih suci.
Jadikan tasafuh kembali kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pengamalan harian dalam akhlak nyata.
Terbuka lembar penjagaan keluarga dan lingkungan dari akhlak yang rusak.
Nasihat yang hidup bukan hanya dibaca, tetapi menjadi lisan yang lembut, hati yang rendah, dan langkah yang amanah di hadapan Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Puluh Tujuh
LAMPIRAN KEEMPAT SETELAH KHATAM
BAB PENJAGAAN KELUARGA DAN LINGKUNGAN DARI AKHLAK YANG RUSAK
Ketika Jalan Ruhani Harus Terlihat dalam Cara Memperlakukan Orang Terdekat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa akhlak seseorang paling nyata terlihat bukan hanya di majelis, tetapi di rumahnya.
Bukan hanya saat ia berbicara di depan jamaah, tetapi saat ia berbicara kepada keluarganya.
Bukan hanya saat ia memegang tasbih, tetapi saat ia memegang amanah orang terdekat.
Bukan hanya saat ia memberi nasihat kepada orang jauh, tetapi saat ia menahan marah kepada orang yang setiap hari bersamanya.
Banyak orang tampak lembut di luar, tetapi keras di rumah.
Banyak orang tampak bijak di majelis, tetapi kasar kepada keluarga.
Banyak orang tampak penuh cahaya di depan umum, tetapi membuat orang terdekat takut bicara.
Banyak orang mengaku berjalan kepada Alloh, tetapi belum menjaga hak orang tua, pasangan, anak, saudara, tetangga, dan lingkungan.
Maka lembar ini menegaskan:
tasafuh yang benar harus pulang ke rumah.
Cahaya yang benar harus menerangi keluarga.
Dzikir yang benar harus melembutkan lisan kepada orang terdekat.
Ilmu yang benar harus membuat lingkungan merasa aman dari kezalimannya.
---
1. RUMAH ADALAH CERMIN AKHLAK
Rumah adalah tempat ujian yang paling jujur.
Di rumah, seseorang tidak selalu disorot.
Di rumah, tidak ada panggung.
Di rumah, manusia bertemu dengan lelah, kebutuhan, perbedaan, kekurangan, dan kebiasaan sehari-hari.
Maka di situlah akhlak diuji.
Jika seseorang mampu lembut kepada jamaah, tetapi kasar kepada keluarga, maka ia perlu muhasabah.
Jika seseorang mampu sabar kepada murid, tetapi mudah membentak orang rumah, maka ia perlu memperbaiki diri.
Jika seseorang mampu tersenyum kepada orang jauh, tetapi dingin kepada orang dekat, maka ia perlu menyalakan kembali rahmat dalam hatinya.
Jangan jadikan rumah sebagai tempat membuang amarah.
Jangan jadikan keluarga sebagai korban lelahmu.
Jangan jadikan kedekatan sebagai alasan untuk tidak beradab.
Orang terdekat pun berhak mendapat kelembutan.
---
2. ADAB KEPADA ORANG TUA
Wahai pencari jalan, jangan mengejar maqom tinggi sambil meremehkan orang tua.
Jika orang tua masih hidup, muliakan mereka semampumu.
Jika mereka telah wafat, doakan mereka.
Jika mereka pernah salah, tetap jaga adab selama tidak mengikuti keburukan.
Jika mereka lemah, jangan rendahkan.
Jika mereka banyak meminta, jawab dengan sabar selama mampu.
Jika mereka tidak memahami jalanmu, jangan balas dengan kesombongan.
Jalan ruhani tidak boleh membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang tuanya.
Ilmu tidak boleh membuat lisan kasar kepada ayah dan ibu.
Dzikir tidak boleh membuat seseorang lupa berterima kasih kepada yang pernah merawatnya.
Bila ada luka dengan orang tua, mohonlah kepada Alloh jalan penyembuhan.
Tidak semua luka sembuh cepat.
Tetapi jangan jadikan luka sebagai alasan untuk kehilangan adab.
---
3. ADAB KEPADA PASANGAN DAN KELUARGA
Wahai orang yang berkeluarga, ketahuilah:
pasangan bukan murid yang harus selalu tunduk.
Pasangan bukan lawan yang harus dikalahkan.
Pasangan bukan tempat melampiaskan tekanan.
Pasangan adalah amanah.
Jangan memakai bahasa agama untuk menekan pasangan.
Jangan memakai kedudukan sebagai alasan untuk tidak mendengar.
Jangan membawa nama Alloh untuk membenarkan ego pribadi.
Jangan merasa paling benar hanya karena engkau lebih banyak bicara tentang ilmu.
Rumah tangga yang baik tidak dibangun dengan ancaman.
Ia dibangun dengan amanah, kasih sayang, kesabaran, kejujuran, dan musyawarah.
Jika berbeda pendapat, bicaralah dengan adab.
Jika marah, tahan lisan dari kata yang melukai.
Jika salah, minta maaf.
Jika disakiti, cari jalan penyelesaian yang benar.
Jika keadaan berbahaya, carilah bantuan yang aman dan bijak.
Tasafuh yang benar tidak membuat rumah menjadi tempat ketakutan.
Tasafuh yang benar membuat rumah lebih dekat kepada rahmat Alloh.
---
4. ADAB KEPADA ANAK DAN YANG LEBIH MUDA
Anak dan orang yang lebih muda bukan wadah untuk menanggung amarah orang tua atau orang dewasa.
Mereka perlu diarahkan, bukan dihancurkan.
Perlu ditegur, bukan dipermalukan.
Perlu diajari, bukan ditakut-takuti berlebihan.
Perlu dicintai, bukan dijadikan alat kebanggaan.
Jangan jadikan anak sebagai tempat memaksa mimpi yang belum tercapai.
Jangan jadikan anak sebagai bukti kemuliaan keluarga.
Jangan jadikan anak sebagai korban pertengkaran orang dewasa.
Jangan jadikan kesalahan anak sebagai alasan untuk merendahkan martabatnya.
Bimbinglah dengan tegas bila perlu, tetapi tetap dengan kasih sayang.
Ajarkan shalat dengan kelembutan.
Ajarkan adab dengan contoh.
Ajarkan tauhid dengan kasih, bukan hanya ancaman.
Ajarkan tanggung jawab dengan sabar.
Anak lebih mudah belajar dari akhlak yang dilihat daripada nasihat yang hanya didengar.
---
5. ADAB KEPADA TETANGGA DAN LINGKUNGAN
Wahai penempuh jalan, jangan hanya ingin dikenal baik oleh langit, tetapi buruk kepada tetangga.
Tetangga berhak merasa aman dari lisanmu.
Lingkungan berhak aman dari gangguanmu.
Orang sekitar berhak mendapatkan sikap yang jujur dan tidak merugikan.
Jangan membuat majelis yang mengganggu tanpa adab.
Jangan memakai alasan ibadah untuk mengabaikan ketertiban.
Jangan memakai nama kebaikan untuk meremehkan hak orang sekitar.
Jangan membuang sampah sembarangan, merusak lingkungan, atau membuat orang lain terganggu.
Kebersihan lingkungan adalah bagian dari adab.
Menjaga ketenangan adalah bagian dari akhlak.
Menghormati tetangga adalah tanda hati yang tidak hanya sibuk dengan rasa batin, tetapi juga peduli kepada kehidupan nyata.
---
6. ADAB DI MEDIA SOSIAL DAN RUANG UMUM
Di zaman ini, lisan bukan hanya mulut.
Tulisan juga lisan.
Komentar juga lisan.
Unggahan juga lisan.
Pesan yang disebarkan juga lisan.
Maka jagalah jejakmu.
Jangan menyebarkan fitnah.
Jangan mempermalukan orang.
Jangan membuka rahasia.
Jangan menulis saat hati sedang sangat marah.
Jangan menjadikan media sosial sebagai panggung kesombongan ruhani.
Jangan mengaku paling benar lalu merendahkan banyak orang.
Gunakan ruang umum untuk menebar nasihat yang aman, lembut, dan bertanggung jawab.
Jika harus meluruskan, luruskan dengan adab.
Jika harus membantah, bantahlah tanpa kehilangan akhlak.
Jika belum jelas, diam lebih selamat.
Sebab tulisan yang keluar bisa berjalan jauh, melukai banyak hati, dan kembali sebagai pertanggungjawaban di hadapan Alloh.
---
7. TANDA AKHLAK RUHANI SUDAH MENYENTUH LINGKUNGAN
Tanda jalan ruhani mulai menyentuh kehidupan nyata adalah:
Keluarga lebih aman dari bentakan.
Orang tua lebih sering didoakan.
Pasangan lebih dihargai.
Anak lebih dibimbing dengan kasih.
Tetangga lebih merasa nyaman.
Majelis lebih tertib dan beradab.
Lisan di media sosial lebih dijaga.
Lingkungan lebih bersih dari gangguan.
Orang lemah lebih terlindungi.
Jika ibadah bertambah, tetapi orang sekitar makin takut kepadamu, periksalah.
Jika ilmu bertambah, tetapi keluarga makin terluka oleh ucapanmu, muhasabahlah.
Jika majelis berkembang, tetapi tetangga terganggu dan tidak dihormati, benahilah.
Cahaya yang benar membawa rahmat, bukan kerusakan.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Akhlak harus dimulai dari yang terdekat.
Keluarga adalah amanah.
Orang tua adalah pintu adab.
Pasangan adalah titipan.
Anak adalah amanah pembinaan.
Tetangga adalah ujian sosial.
Lingkungan adalah ruang tanggung jawab.
Media sosial adalah lisan yang harus dijaga.
Barang siapa mengaku menempuh jalan batin, hendaklah ia memperbaiki akhlak lahir.
Barang siapa mengaku dekat kepada Alloh, hendaklah orang terdekatnya merasa lebih aman dari kezalimannya.
Barang siapa mengaku membawa cahaya, hendaklah cahaya itu tampak dalam kelembutan, kejujuran, kebersihan, dan tanggung jawab.
Jangan jadikan tasafuh hanya indah di ucapan.
Jadikan ia hidup di rumah.
Hidup di keluarga.
Hidup di lingkungan.
Hidup di cara memperlakukan manusia.
---
DOA LEMBAR KEDUA PULUH TUJUH
Yā Alloh, Yā Raḥmān, Yā Laṭīf, Yā Hādī, Yā Quddūs.
Perbaiki akhlak kami kepada keluarga.
Lembutkan lisan kami kepada orang tua.
Jaga sikap kami kepada pasangan.
Bimbing kami dalam mendidik anak dan yang lebih muda.
Jadikan kami tetangga yang aman dan saudara yang membawa rahmat.
Ya Alloh,
jangan biarkan ilmu kami hanya indah di majelis tetapi kasar di rumah.
Jangan biarkan dzikir kami hanya ramai di lisan tetapi kering dalam perilaku.
Jangan biarkan nasihat kami menembus orang lain tetapi tidak menembus diri sendiri.
Sucikan rumah kami dari amarah yang zalim.
Sucikan lingkungan kami dari fitnah dan gangguan.
Sucikan tulisan kami dari kesombongan.
Sucikan langkah kami agar menjadi sebab ketenangan bagi makhluk-Mu.
Kembalikan akhlak kami kepada rahmat.
Kembalikan keluarga kami kepada sakinah.
Kembalikan lingkungan kami kepada kebaikan.
Kembalikan tasafuh kami kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penjagaan keluarga dan lingkungan dari akhlak yang rusak.
Terbuka lembar pembersihan harta, rezeki, dan amanah dunia.
Jalan ruhani yang benar harus membuat orang terdekat lebih aman, lebih dihargai, dan lebih dekat kepada rahmat Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Puluh Delapan
LAMPIRAN KELIMA SETELAH KHATAM
BAB PEMBERSIHAN HARTA, REZEKI, DAN AMANAH DUNIA
Ketika Jalan Ruhani Harus Terlihat dalam Kejujuran, Kerelaan, dan Tanggung Jawab
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa harta adalah ujian.
Ia bisa menjadi jalan kebaikan bila diperoleh dengan halal, digunakan dengan amanah, dan dibersihkan dengan syukur.
Tetapi harta juga bisa menjadi hijab bila diperoleh dengan tipu daya, dipakai untuk kesombongan, atau dicampur dengan hak orang lain.
Banyak manusia sanggup berbicara tentang langit,
tetapi tergelincir dalam urusan uang di bumi.
Banyak manusia sanggup berkata tentang ikhlas,
tetapi hatinya panas ketika tidak mendapat bagian.
Banyak manusia sanggup memberi nasihat tentang zuhud,
tetapi diam-diam menekan orang lemah atas nama sedekah, mahar, biaya batin, atau tebusan ruhani.
Maka lembar ini menegaskan:
jalan tasafuh harus bersih dalam urusan harta.
Rezeki harus dicari dengan halal.
Amanah harus dijaga.
Pemberian harus diterima dengan adab.
Dan nama Alloh tidak boleh dipakai untuk mengambil hak manusia.
---
1. HARTA ADALAH TITIPAN
Harta bukan tanda mutlak kemuliaan.
Kemiskinan bukan tanda mutlak kehinaan.
Yang mulia adalah hati yang bertakwa, tangan yang amanah, lisan yang jujur, dan langkah yang tidak menzalimi.
Orang kaya diuji dengan kelapangan.
Orang miskin diuji dengan kesempitan.
Guru diuji dengan pemberian murid.
Murid diuji dengan keikhlasan dan kejernihan.
Majelis diuji dengan iuran, sedekah, bantuan, dan pembagian amanah.
Maka jangan merasa lebih tinggi karena harta.
Jangan pula menjual kesucian karena kebutuhan.
Jika diberi rezeki, bersyukurlah.
Jika sempit, bersabarlah.
Jika memegang amanah, jagalah.
Jika menerima titipan, catatlah.
Jika berjanji, tunaikanlah.
Sebab harta yang kecil tetapi halal lebih selamat daripada harta besar yang dipenuhi tipu daya.
---
2. REZEKI HALAL DAN REZEKI KERUH
Rezeki halal membawa ketenangan.
Walau sedikit, ia lebih ringan dibawa hati.
Rezeki keruh membawa gelisah.
Walau banyak, ia bisa menjadi beban batin.
Rezeki menjadi keruh ketika:
Diperoleh dengan menipu.
Diperoleh dengan memaksa.
Diperoleh dengan menakut-nakuti orang.
Diperoleh dengan menjual janji palsu.
Diperoleh dengan memanfaatkan luka dan kebingungan manusia.
Diperoleh dengan membuka aib orang.
Diperoleh dengan memakai bahasa ruhani untuk menekan.
Maka bersihkan jalan rezekimu.
Jangan berkata “ini amanah langit” untuk meminta sesuatu tanpa kejelasan.
Jangan berkata “kalau tidak memberi akan tertutup jalannya” untuk menakuti orang.
Jangan berkata “ini wajib batin” padahal hanya keinginan nafsu.
Jangan jadikan doa sebagai alat memaksa harta manusia.
Doa boleh dimintakan.
Sedekah boleh dianjurkan.
Majelis boleh memiliki kebutuhan.
Guru boleh dibantu dengan adab.
Tetapi semuanya harus jujur, wajar, tidak memaksa, tidak menipu, dan tidak menjual ketakutan.
---
3. AMANAH UANG DALAM MAJELIS
Majelis yang bersih harus menjaga amanah harta dengan terang.
Jika ada iuran, jelaskan tujuannya.
Jika ada sedekah, jangan paksa.
Jika ada dana bersama, catat dengan jujur.
Jika ada kebutuhan acara, musyawarahkan.
Jika ada kelebihan, sampaikan.
Jika ada kekurangan, bicarakan dengan adab.
Jangan biarkan uang menjadi sumber fitnah.
Jangan biarkan bantuan menjadi alat kekuasaan.
Jangan biarkan pemberian menjadi ukuran kedekatan kepada guru.
Jangan biarkan orang miskin merasa tidak berharga karena tidak mampu memberi.
Majelis yang bersih tidak menilai manusia dari isi kantong.
Majelis yang bersih menilai manusia dari adab, kejujuran, niat baik, dan kesungguhan kembali kepada Alloh.
Bila harta majelis tidak dijaga, fitnah mudah masuk.
Bila catatan tidak jelas, prasangka mudah tumbuh.
Bila pemimpin tidak transparan, hati jamaah mudah luka.
Maka jagalah harta bersama dengan amanah.
---
4. ADAB GURU SAAT MENERIMA PEMBERIAN
Wahai guru dan pembimbing, bila murid memberi sesuatu, terimalah dengan adab.
Jangan merasa berhak atas semua yang dimiliki murid.
Jangan membeda-bedakan kasih sayang karena besar kecil pemberian.
Jangan membuat orang merasa hina bila tidak mampu memberi.
Jangan menekan murid dengan bahasa batin agar memberi lebih banyak.
Jangan menjadikan pemberian sebagai tali untuk mengikat ketaatan buta.
Jika diberi, doakan.
Jika tidak diberi, tetap doakan.
Jika murid tidak mampu, jangan permalukan.
Jika murid membantu, jangan jadikan ia alat kuasa.
Jika pemberian membuat hatimu mulai senang dihormati, segera istighfar.
Guru yang amanah tidak menjadikan murid sebagai sumber keuntungan.
Guru yang lurus menjadikan murid sebagai amanah yang harus dibimbing menuju Alloh.
---
5. ADAB MURID SAAT MEMBERI
Wahai murid dan pencari jalan, bila engkau memberi kepada guru, majelis, atau saudara, berilah dengan hati jernih.
Berilah karena Alloh, bukan karena ingin dipuji.
Berilah semampumu, bukan karena takut ancaman.
Berilah dengan ikhlas, bukan karena ingin membeli kedudukan.
Berilah tanpa berharap diperlakukan lebih tinggi dari yang lain.
Jika tidak mampu memberi, jangan merasa hina.
Alloh mengetahui keadaanmu.
Kebaikan tidak hanya berupa uang.
Doa, tenaga, waktu, kejujuran, akhlak, dan bantuan kecil pun bisa menjadi amal bila ikhlas.
Jangan memaksakan diri sampai menzalimi kebutuhan keluarga.
Jangan berutang untuk memberi karena takut kepada manusia.
Jangan menyerahkan harta karena ancaman batin yang tidak jelas.
Memberi harus lahir dari kerelaan.
Bukan dari ketakutan.
Bukan dari tekanan.
Bukan dari manipulasi.
---
6. HARTA DAN NAFSU KEKUASAAN
Harta sering berhubungan dengan kekuasaan.
Orang yang banyak memberi kadang ingin mengatur.
Orang yang banyak menerima kadang menjadi berat menegur.
Orang yang memegang dana kadang merasa lebih berkuasa.
Orang yang dekat dengan sumber uang kadang merasa lebih tinggi dalam majelis.
Maka berhati-hatilah.
Jangan jadikan harta sebagai jalan membeli pengaruh.
Jangan jadikan bantuan sebagai alat menguasai keputusan.
Jangan jadikan sedekah sebagai panggung nama.
Jangan jadikan dana majelis sebagai milik pribadi.
Jangan jadikan kebutuhan orang sebagai kesempatan menekan.
Harta yang suci adalah harta yang membawa manfaat tanpa merusak akhlak.
Harta yang keruh adalah harta yang membuat hati ingin menguasai.
---
7. MENOLAK HARTA YANG TIDAK BERSIH
Tidak semua pemberian harus diterima.
Jika pemberian datang dari jalan haram yang jelas, berhati-hatilah.
Jika pemberian diberikan untuk membeli kebohongan, tolaklah.
Jika pemberian dimaksudkan agar kesalahan ditutup, jangan terima.
Jika pemberian membuat engkau harus membela kezaliman, jauhilah.
Jika pemberian membuat lidahmu tidak lagi berani berkata benar, waspadalah.
Lebih baik sedikit tetapi bersih.
Lebih baik sederhana tetapi jujur.
Lebih baik tidak dipuji tetapi amanah.
Lebih baik tidak kaya tetapi tidak menjual kebenaran.
Rezeki yang berkah bukan hanya yang banyak jumlahnya, tetapi yang membuat hati tetap dekat kepada Alloh dan tidak menzalimi manusia.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Harta harus dijaga dengan amanah.
Rezeki harus dicari dengan halal.
Sedekah harus lahir dari kerelaan.
Majelis harus transparan dalam urusan dana.
Guru tidak boleh memanfaatkan murid.
Murid tidak boleh memberi karena takut kepada manusia.
Doa tidak boleh dijual sebagai alat pemerasan.
Bahasa ruhani tidak boleh dipakai untuk mengambil hak orang.
Barang siapa memegang harta bersama, hendaklah ia takut kepada Alloh.
Barang siapa menerima pemberian, hendaklah ia menjaga adab.
Barang siapa memberi, hendaklah ia ikhlas.
Barang siapa membutuhkan, hendaklah ia jujur.
Barang siapa menolong, hendaklah ia tidak memperbudak.
Jangan kotori jalan ruhani dengan harta yang gelap.
Jangan rusak majelis dengan uang yang tidak amanah.
Jangan tukar nasihat dengan keuntungan yang menipu.
Jangan jual nama Alloh untuk kepentingan nafsu.
Kembalikan harta kepada amanah.
Kembalikan rezeki kepada halal.
Kembalikan sedekah kepada ikhlas.
Kembalikan majelis kepada kejujuran.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
---
DOA LEMBAR KEDUA PULUH DELAPAN
Yā Alloh, Yā Razzāq, Yā Amīn, Yā Ḥafīẓ, Yā Quddūs.
Bersihkan harta kami dari yang haram dan syubhat.
Bersihkan rezeki kami dari tipu daya.
Bersihkan tangan kami dari mengambil yang bukan hak.
Bersihkan majelis kami dari dana yang tidak amanah.
Ya Alloh,
jika kami diberi kelapangan, jadikan kami dermawan tanpa sombong.
Jika kami diberi kesempitan, jadikan kami sabar tanpa putus asa.
Jika kami menerima pemberian, jadikan kami amanah.
Jika kami memberi, jadikan kami ikhlas.
Jika kami memegang harta bersama, jadikan kami jujur dan takut kepada-Mu.
Jauhkan kami dari menjual doa.
Jauhkan kami dari memperdagangkan ketakutan.
Jauhkan kami dari memanfaatkan murid, jamaah, dan orang lemah.
Jauhkan kami dari menjadikan harta sebagai jalan kesombongan.
Kembalikan rezeki kami kepada keberkahan.
Kembalikan harta kami kepada manfaat.
Kembalikan tangan kami kepada amanah.
Kembalikan tasafuh kami kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar pembersihan harta, rezeki, dan amanah dunia.
Terbuka lembar penjagaan badan, kesehatan, dan keseimbangan hidup.
Harta yang bersih bukan hanya yang banyak, tetapi yang diperoleh dengan halal, dipakai dengan amanah, dan tidak menjauhkan hati dari Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Kedua Puluh Sembilan
LAMPIRAN KEENAM SETELAH KHATAM
BAB PENJAGAAN BADAN, KESEHATAN, DAN KESEIMBANGAN HIDUP
Ketika Jalan Ruhani Tidak Boleh Mengabaikan Amanah Tubuh, Akal, dan Kehidupan Nyata
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa badan adalah amanah.
Tubuh bukan musuh ruhani.
Tubuh bukan penjara yang boleh dizalimi.
Tubuh bukan alat yang boleh dipaksa tanpa batas.
Tubuh adalah titipan Alloh yang harus dijaga dengan adab.
Banyak orang ingin tinggi dalam dzikir,
tetapi lupa tidur yang cukup.
Banyak orang ingin kuat dalam riyadhah,
tetapi lupa makan yang baik.
Banyak orang ingin membuka rasa batin,
tetapi mengabaikan badan yang lelah, pikiran yang berat, dan hati yang penuh tekanan.
Maka jalan tasafuh harus seimbang.
Jangan mengaku berjalan kepada Alloh sambil merusak amanah tubuh.
Jangan mengira sakit selalu tanda ruhani.
Jangan mengira lelah selalu ujian gaib.
Jangan menolak ikhtiar kesehatan atas nama tawakal.
Tawakal bukan meninggalkan sebab.
Tawakal adalah memakai sebab dengan hati bersandar kepada Alloh.
---
1. BADAN ADALAH AMANAH
Badan dipakai untuk shalat.
Badan dipakai untuk bekerja.
Badan dipakai untuk berbakti.
Badan dipakai untuk menolong.
Badan dipakai untuk sujud kepada Alloh.
Maka jangan abaikan badan.
Bila lapar, makanlah dengan halal dan cukup.
Bila haus, minumlah.
Bila lelah, istirahatlah.
Bila sakit, berobatlah.
Bila pikiran berat, tenangkanlah.
Bila hati sempit, jangan memaksa diri berlebihan.
Menjaga badan bukan tanda kurang ruhani.
Menjaga badan adalah bagian dari adab terhadap amanah Alloh.
---
2. JANGAN SEMUA SAKIT DIBAWA KE BAHASA GAIB
Wahai pencari jalan, berhati-hatilah.
Tidak semua pusing berarti serangan batin.
Tidak semua dada sesak berarti gangguan gaib.
Tidak semua mimpi buruk berarti tanda besar.
Tidak semua badan lemah berarti hijab ruhani.
Tidak semua gelisah berarti ada kekuatan luar.
Kadang badan hanya lelah.
Kadang lambung sedang terganggu.
Kadang pikiran sedang penuh.
Kadang tidur kurang.
Kadang tubuh butuh cairan, makanan, udara, dan istirahat.
Jangan tergesa menafsirkan semua keluhan sebagai perkara gaib.
Timbanglah dengan tenang.
Berdoa tetap.
Dzikir tetap.
Tetapi ikhtiar lahir juga dijaga.
Bila sakit berat, periksa kepada tenaga kesehatan.
Bila nyeri tidak wajar, cari pertolongan.
Bila sesak, lemah, pusing berat, muntah terus, nyeri dada, atau gejala yang mengkhawatirkan, jangan ditunda.
Sebab menjaga nyawa adalah amanah.
---
3. KESEIMBANGAN ANTARA RIYADHAH DAN RAHMAT
Riyadhah adalah latihan.
Tetapi latihan harus beradab.
Puasa sunnah baik, tetapi jangan sampai merusak tubuh.
Dzikir malam baik, tetapi jangan sampai badan hancur dan kewajiban siang terbengkalai.
Tafakur baik, tetapi jangan sampai pikiran tertekan tanpa bimbingan.
Mengurangi dunia baik, tetapi jangan sampai menelantarkan keluarga dan amanah hidup.
Alloh tidak meminta hamba merusak dirinya atas nama ibadah.
Ibadah yang benar membawa ketenangan, kedisiplinan, dan akhlak.
Bukan membuat manusia semakin kacau, kasar, lemah, dan lalai dari tanggung jawab.
Maka latihlah diri dengan lembut.
Jangan memaksa di luar kemampuan.
Naiklah sedikit demi sedikit.
Jaga kewajiban lebih dulu sebelum mengejar amalan tambahan.
---
4. TIDUR, MAKAN, DAN KETENANGAN JIWA
Tidur adalah rahmat.
Makan yang halal adalah bekal.
Ketenangan jiwa adalah kebutuhan.
Istirahat adalah bagian dari penjagaan amanah.
Jangan meremehkan tidur.
Orang yang kurang tidur mudah gelisah, mudah marah, mudah salah paham, dan mudah mengira rasa batin sebagai tanda besar.
Jangan meremehkan makanan.
Badan yang lapar berlebihan bisa membuat pikiran lemah dan hati mudah terguncang.
Jangan meremehkan ketenangan jiwa.
Hati yang terus dipaksa tanpa jeda bisa menjadi letih.
Maka seimbangkanlah.
Ada waktu dzikir.
Ada waktu kerja.
Ada waktu keluarga.
Ada waktu istirahat.
Ada waktu diam.
Ada waktu berobat.
Ada waktu belajar.
Ada waktu menghibur diri dengan yang halal.
Keseimbangan bukan musuh ruhani.
Keseimbangan adalah adab agar perjalanan tidak patah di tengah jalan.
---
5. PENJAGAAN AKAL DAN PIKIRAN
Akal adalah nikmat.
Jangan matikan akal atas nama rasa.
Jangan menolak pertimbangan sehat atas nama isyarat.
Jangan mengabaikan bahaya nyata karena mengira semua akan selesai dengan simbol batin.
Akal dipakai untuk menimbang.
Ilmu dipakai untuk menerangi.
Syariat dipakai untuk membatasi.
Doa dipakai untuk memohon pertolongan.
Rasa batin tanpa akal dapat menjadi liar.
Akal tanpa iman dapat menjadi kering.
Iman tanpa ilmu dapat mudah disalahgunakan.
Ilmu tanpa adab dapat menjadi keras.
Maka satukan semuanya dengan seimbang.
Gunakan hati untuk merendah.
Gunakan akal untuk menimbang.
Gunakan ilmu untuk memahami.
Gunakan syariat untuk menjaga.
Gunakan doa untuk bersandar kepada Alloh.
---
6. KESEHATAN JIWA DAN LUKA BATIN
Ada luka yang perlu doa.
Ada luka yang perlu didengar.
Ada luka yang perlu waktu.
Ada luka yang perlu bantuan orang amanah.
Ada luka yang perlu ahli yang tepat.
Jangan malu mencari bantuan bila jiwa terasa berat.
Bila sedih terlalu lama, mintalah dukungan.
Bila cemas sangat kuat, jangan dipendam sendirian.
Bila pikiran terasa kacau, bicaralah kepada orang yang amanah.
Bila hati ingin menyakiti diri sendiri, segera cari pertolongan nyata dan jangan sendirian.
Doa bukan berarti menolak bantuan.
Dzikir bukan berarti menutup kebutuhan jiwa.
Tawakal bukan berarti menyimpan semua luka sendirian.
Alloh bisa menolong melalui doa, keluarga, sahabat, guru yang amanah, tenaga kesehatan, dan sebab-sebab kebaikan yang Dia bukakan.
---
7. ADAB GURU DALAM MENYIKAPI SAKIT MURID
Wahai guru dan pembimbing, jangan mudah memberi vonis ruhani atas sakit murid.
Jangan semua sakit disebut kurang iman.
Jangan semua cemas disebut lemah tauhid.
Jangan semua gejala tubuh disebut gangguan batin.
Jangan semua luka jiwa diselesaikan dengan ancaman.
Bimbinglah dengan kasih sayang.
Ajak berdoa.
Ajak istighfar.
Ajak menjaga shalat.
Tetapi juga arahkan kepada ikhtiar kesehatan bila perlu.
Guru yang bijak tidak malu berkata:
“Periksakan juga secara lahir.”
“Jaga makan dan istirahat.”
“Cari pertolongan yang aman.”
“Kita berdoa, tetapi tubuh juga harus dijaga.”
Itu bukan kurang ruhani.
Itu adab menjaga amanah.
---
8. PENEGASAN ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar ini menegaskan:
Badan adalah amanah.
Akal adalah nikmat.
Kesehatan adalah titipan.
Istirahat adalah bagian dari penjagaan.
Ikhtiar berobat bukan lawan tawakal.
Doa dan sebab lahir harus berjalan seimbang.
Barang siapa menempuh jalan ruhani, jangan menzalimi tubuhnya.
Barang siapa membimbing manusia, jangan menolak ikhtiar kesehatan.
Barang siapa sakit, jangan malu mencari pertolongan.
Barang siapa lelah, jangan memaksa diri sampai rusak.
Barang siapa bertawakal, hendaklah ia tetap memakai sebab yang halal dan benar.
Jangan semua keluhan disebut gaib.
Jangan semua sakit disebut hukuman.
Jangan semua lemah disebut kurang iman.
Jangan semua rasa batin dipercaya tanpa ditimbang.
Kembalikan badan kepada amanah.
Kembalikan akal kepada kejernihan.
Kembalikan kesehatan kepada syukur.
Kembalikan ikhtiar kepada tawakal.
Kembalikan tasafuh kepada Sang Maha Suci.
---
DOA LEMBAR KEDUA PULUH SEMBILAN
Yā Alloh, Yā Syāfī, Yā Ḥafīẓ, Yā Laṭīf, Yā Quddūs.
Jagalah badan kami sebagai amanah-Mu.
Sehatkan jiwa kami dengan rahmat-Mu.
Jernihkan akal kami dengan cahaya-Mu.
Tenangkan hati kami dengan dzikir kepada-Mu.
Ya Alloh,
jangan biarkan kami menzalimi tubuh atas nama ibadah.
Jangan biarkan kami mengabaikan sakit atas nama tawakal.
Jangan biarkan kami salah menafsirkan lelah, cemas, dan luka batin.
Jangan biarkan kami menolak sebab kebaikan yang Engkau bukakan.
Jika kami sakit, beri kami kesabaran dan jalan kesembuhan.
Jika kami lelah, beri kami istirahat yang membawa berkah.
Jika kami gelisah, beri kami ketenangan.
Jika kami lemah, kuatkan kami dengan pertolongan-Mu.
Kembalikan tubuh kami kepada amanah.
Kembalikan pikiran kami kepada kejernihan.
Kembalikan hati kami kepada tawakal.
Kembalikan tasafuh kami kepada Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tertutup lembar penjagaan badan, kesehatan, dan keseimbangan hidup.
Terbuka lembar penjagaan waktu, umur, dan kesempatan amal.
Jalan ruhani yang lurus tidak merusak tubuh, tidak mematikan akal, dan tidak meninggalkan ikhtiar; semuanya dijaga sebagai amanah dari Alloh.
📜 QITAB ALZABARULLOH HOLQI NGINDALLOH
Lembar Ketiga Puluh
LAMPIRAN TERAKHIR SETELAH KHATAM
BAB PENJAGAAN WAKTU, UMUR, DAN KESEMPATAN AMAL
Ketika Seluruh Jalan Tasafuh Harus Menjadi Bekal Pulang kepada Alloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai para penempuh jalan tasafuh,
ketahuilah bahwa waktu adalah amanah yang paling halus.
Ia datang tanpa suara.
Ia pergi tanpa pamit.
Ia berjalan tanpa menunggu manusia siap.
Ia mengikis umur sedikit demi sedikit.
Ia membawa manusia dari pagi menuju sore, dari muda menuju tua, dari sehat menuju lemah, dari hidup menuju kembali kepada Alloh.
Banyak manusia menjaga harta, tetapi lalai menjaga waktu.
Banyak manusia takut kehilangan kedudukan, tetapi tidak takut kehilangan umur dalam kelalaian.
Banyak manusia menangis karena kehilangan manusia, tetapi jarang menangis karena kehilangan hari-hari yang tidak diisi dengan taubat, ilmu, ibadah, dan akhlak.
Maka lembar terakhir ini dibuka sebagai penutup peringatan:
Jangan sia-siakan umur.
Jangan main-main dengan waktu.
Jangan menunda taubat.
Jangan menunda meminta maaf.
Jangan menunda memperbaiki akhlak.
Jangan menunda kembali kepada Alloh.
Sebab tidak ada seorang pun yang tahu kapan pintu kesempatan ditutup.
---
1. WAKTU ADALAH TITIPAN
Waktu bukan milik manusia sepenuhnya.
Waktu adalah titipan Alloh.
Hari ini engkau masih bisa bernapas.
Masih bisa menyebut nama Alloh.
Masih bisa meminta ampun.
Masih bisa memperbaiki kesalahan.
Masih bisa mendoakan orang tua.
Masih bisa menjaga keluarga.
Masih bisa menolong sesama.
Masih bisa membersihkan hati.
Tetapi esok belum tentu.
Maka jangan berkata, “Nanti aku taubat.”
Jangan berkata, “Nanti aku berubah.”
Jangan berkata, “Nanti aku minta maaf.”
Jangan berkata, “Nanti aku perbaiki shalat.”
Jangan berkata, “Nanti aku berhenti menyakiti.”
Karena kata “nanti” sering menjadi pintu kelalaian.
Orang yang bijak bukan yang menunggu sempurna untuk kembali.
Orang yang bijak adalah yang kembali kepada Alloh saat ia sadar bahwa dirinya masih jauh.
---
2. UMUR BUKAN SEKADAR PANJANG TAHUN
Umur yang berkah bukan hanya umur yang panjang.
Umur yang berkah adalah umur yang diisi dengan taubat, manfaat, ibadah, ilmu, amanah, dan akhlak.
Ada orang hidup lama tetapi banyak waktunya habis untuk menyakiti.
Ada orang hidup sebentar tetapi meninggalkan kebaikan yang panjang.
Ada orang banyak bicara tentang cahaya tetapi sedikit memperbaiki perilaku.
Ada orang sederhana, tidak dikenal, tetapi setiap harinya menjadi sebab ketenangan bagi orang lain.
Maka jangan hanya meminta umur panjang.
Mintalah umur yang berkah.
Umur yang berkah adalah ketika lisan semakin lembut.
Hati semakin rendah.
Tangan semakin amanah.
Ilmu semakin manfaat.
Dzikir semakin hidup.
Keluarga semakin merasa aman.
Majelis semakin bersih dari fitnah.
Murid semakin dekat kepada Alloh.
Guru semakin takut kepada amanah.
Saudara semakin kuat dalam kasih sayang.
Itulah umur yang bercahaya.
---
3. EMPAT PERKARA YANG SERING MENGHABISKAN UMUR
Ada empat perkara yang sering menghabiskan umur manusia tanpa terasa.
Pertama: sibuk membicarakan orang lain.
Lisan dipakai untuk membuka aib.
Waktu dipakai untuk menilai manusia.
Hati dipenuhi prasangka.
Hari-hari berlalu dalam gosip, bukan muhasabah.
Padahal satu jam yang habis untuk ghibah bisa menjadi satu jam yang dipakai untuk istighfar, membaca ilmu, memperbaiki rumah, menolong keluarga, atau berdoa kepada Alloh.
Kedua: mengejar pengakuan manusia.
Seseorang lelah mencari perhatian.
Lelah ingin disebut.
Lelah ingin dipuji.
Lelah membandingkan dirinya dengan orang lain.
Lelah membangun panggung nama.
Padahal pengakuan manusia cepat berubah.
Hari ini dipuji, besok dilupakan.
Hari ini diangkat, besok dicela.
Hari ini dihormati, besok ditinggalkan.
Maka jangan habiskan umur mengejar bayangan.
Ketiga: menunda taubat.
Ini adalah perangkap halus.
Seseorang tahu dirinya salah, tetapi berkata, “Belum waktunya.”
Seseorang tahu harus berubah, tetapi berkata, “Nanti saja.”
Seseorang tahu harus meminta maaf, tetapi berkata, “Tunggu suasana.”
Seseorang tahu harus menjaga shalat, tetapi berkata, “Kalau sudah tenang.”
Padahal ketenangan sering datang setelah taubat dimulai, bukan sebelum taubat.
Keempat: tenggelam dalam pertengkaran ego.
Banyak umur habis untuk membuktikan siapa yang paling benar.
Bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk memenangkan diri.
Perdebatan yang tidak membawa taubat hanya mengeraskan hati.
Pertengkaran yang tidak membawa ishlah hanya memperpanjang luka.
Nasihat yang disampaikan dengan ego hanya menambah api.
Maka pilihlah mana yang lebih dekat kepada ridho Alloh: menang debat atau menang melawan nafsu?
---
4. KESEMPATAN AMAL TIDAK SELALU DATANG DUA KALI
Ada orang yang ingin mendoakan orang tuanya setelah mereka tiada, tetapi saat hidup dulu jarang melembutkan ucapan.
Ada orang ingin meminta maaf setelah hubungan hancur, tetapi dahulu terlalu keras mempertahankan ego.
Ada orang ingin memperbaiki majelis setelah fitnah menyebar, tetapi dahulu membiarkan lisan liar.
Ada orang ingin mengembalikan amanah setelah kepercayaan rusak, tetapi dahulu meremehkan kejujuran.
Maka jangan menunggu semuanya hilang baru sadar nilainya.
Jika masih ada orang tua, muliakan semampumu.
Jika masih ada keluarga, sayangi dengan adab.
Jika masih ada saudara, jaga silaturahmi.
Jika masih ada majelis, bersihkan dari fitnah.
Jika masih ada murid, bimbing dengan rahmat.
Jika masih ada guru, hormati tanpa mengkultuskan.
Jika masih ada waktu, gunakan untuk kembali.
Kesempatan amal adalah tamu yang lembut.
Jika tidak disambut, ia pergi.
---
5. WAKTU SEORANG GURU
Wahai guru dan pembimbing, jagalah waktumu.
Jangan habiskan waktu hanya untuk menunggu pujian.
Jangan habiskan waktu memelihara pengikut yang fanatik.
Jangan habiskan waktu membangun nama tetapi melupakan amanah.
Jangan habiskan waktu menilai murid, tetapi lupa menilai diri sendiri.
Gunakan waktumu untuk memperbaiki niat.
Menambah ilmu.
Menjaga shalat.
Membimbing dengan sabar.
Mendengar yang terluka.
Meluruskan yang menyimpang dengan adab.
Menjaga rahasia.
Membersihkan majelis dari fitnah.
Mengembalikan manusia kepada Alloh.
Guru yang sadar waktu tidak akan bermain-main dengan hati manusia.
Ia tahu setiap nasihat akan ditanya.
Setiap keputusan akan ditimbang.
Setiap ucapan bisa menjadi obat atau luka.
Setiap murid adalah amanah yang tidak boleh dipakai untuk membesarkan diri.
Maka wahai guru, jadikan sisa umurmu sebagai pelayanan.
Bukan penguasaan.
---
6. WAKTU SEORANG MURID
Wahai murid dan pencari jalan, jagalah waktumu.
Jangan habiskan umur hanya mengejar cerita gaib.
Jangan habiskan hari hanya mencari tanda-tanda batin.
Jangan habiskan malam hanya membandingkan gurumu dengan guru lain.
Jangan habiskan waktu dengan fanatisme kelompok.
Gunakan waktumu untuk memperbaiki dasar.
Shalat yang dijaga.
Lisan yang ditahan.
Hati yang dibersihkan.
Ilmu yang dipelajari.
Adab yang dilatih.
Keluarga yang dihormati.
Amanah yang ditunaikan.
Rezeki yang dicari dengan halal.
Dzikir yang menghidupkan akhlak.
Murid yang jernih bukan yang paling banyak cerita pengalaman.
Murid yang jernih adalah yang semakin hari semakin mudah kembali kepada Alloh.
Bila engkau jatuh, jangan terlalu lama tenggelam.
Bangun dengan istighfar.
Bila engkau salah, jangan menutup diri.
Minta maaf dengan rendah hati.
Bila engkau bingung, jangan mengejar semua suara.
Tenangkan diri, timbang dengan ilmu, dan mohon petunjuk kepada Alloh.
---
7. WAKTU SEBUAH MAJELIS
Majelis juga memiliki umur.
Ada majelis yang lahir, tumbuh, memberi manfaat, lalu diuji.
Ada majelis yang kuat karena adab.
Ada majelis yang rusak karena fitnah.
Ada majelis yang berkembang tetapi kehilangan ruh.
Ada majelis yang kecil tetapi dijaga Alloh karena keikhlasan.
Maka jagalah umur majelis.
Jangan biarkan majelis menua dalam kebanggaan nama.
Jangan biarkan majelis tumbuh besar tetapi kehilangan kejujuran.
Jangan biarkan majelis ramai tetapi miskin kasih sayang.
Jangan biarkan majelis dikenal tetapi penuh luka tersembunyi.
Majelis yang berkah adalah majelis yang terus memperbarui niat.
Hari ini memeriksa lisan.
Besok memeriksa amanah.
Lusa memeriksa uang bersama.
Setiap waktu memeriksa apakah manusia makin dekat kepada Alloh atau makin terikat kepada kelompok.
Jika majelis mulai kering, hidupkan dengan dzikir yang ikhlas.
Jika majelis mulai keras, lembutkan dengan rahmat.
Jika majelis mulai pecah, satukan dengan tabayyun.
Jika majelis mulai mengkultuskan, pulangkan kepada tauhid.
Jika majelis mulai menjadi panggung, ubahlah menjadi rumah sujud.
---
8. WAKTU DALAM KESENDIRIAN
Kesendirian adalah tempat rahasia.
Di saat sendiri, manusia terlihat oleh Alloh.
Tidak ada pujian.
Tidak ada sorak.
Tidak ada panggilan guru.
Tidak ada pengikut.
Tidak ada wajah yang harus dijaga di depan manusia.
Di situlah kejujuran hati diuji.
Apakah engkau tetap mengingat Alloh saat tidak dilihat?
Apakah engkau tetap menjaga diri saat tidak ada manusia?
Apakah engkau tetap malu berbuat dosa saat tidak ada saksi selain Alloh?
Apakah engkau tetap berdoa walau tidak ada yang memujimu sebagai ahli dzikir?
Kesendirian bisa menjadi taman.
Bila diisi dengan doa, istighfar, membaca, tafakur, dan muhasabah.
Kesendirian juga bisa menjadi jurang.
Bila diisi dengan maksiat tersembunyi, dendam, prasangka, dan lamunan yang merusak.
Maka jadikan kesendirianmu sebagai mihrab.
Bukan tempat membesarkan nafsu.
---
9. WAKTU DALAM KESIBUKAN DUNIA
Jangan mengira dunia selalu menghalangi jalan ruhani.
Pekerjaan bisa menjadi ibadah bila dilakukan dengan halal dan amanah.
Mengurus keluarga bisa menjadi ibadah bila dilakukan dengan kasih sayang.
Mencari rezeki bisa menjadi ibadah bila dijaga dari tipu daya.
Menolong tetangga bisa menjadi ibadah bila dilakukan karena Alloh.
Menjaga kebersihan bisa menjadi ibadah bila diniatkan sebagai adab.
Yang membuat dunia menjadi gelap bukan pekerjaannya, tetapi niat yang rusak.
Dunia menjadi hijab bila membuat manusia lupa kepada Alloh.
Dunia menjadi jalan bila dipakai untuk taat kepada Alloh.
Maka jangan lari dari tanggung jawab dunia atas nama ruhani.
Jangan menelantarkan keluarga atas nama tafakur.
Jangan meninggalkan amanah kerja atas nama pencarian batin.
Jangan memakai agama untuk malas bertanggung jawab.
Jalan ruhani yang benar membuat manusia lebih jujur, lebih amanah, lebih rajin, lebih tertib, dan lebih bermanfaat.
---
10. WAKTU SAAT DIUJI
Ujian adalah waktu yang sangat penting.
Saat diuji sakit, manusia belajar sabar.
Saat diuji miskin, manusia belajar tawakal.
Saat diuji dihina, manusia belajar menahan lisan.
Saat diuji kehilangan, manusia belajar melepaskan.
Saat diuji diberi kedudukan, manusia belajar takut kepada amanah.
Saat diuji dipuji, manusia belajar istighfar.
Saat diuji disalahpahami, manusia belajar ikhlas.
Jangan hanya bertanya, “Kapan ujian ini selesai?”
Tanyakan juga, “Apa yang Alloh ingin aku perbaiki melalui ujian ini?”
Namun jangan salah paham.
Tidak semua ujian harus diterima pasif tanpa ikhtiar.
Jika sakit, berobat.
Jika dizalimi, cari keadilan.
Jika fitnah menyebar, tabayyun.
Jika bahaya datang, lindungi diri.
Jika hak diambil, tempuh jalan yang benar.
Sabar bukan berarti membiarkan kezaliman terus memakan korban.
Sabar adalah menjaga hati tetap berada dalam adab saat berikhtiar.
---
11. WAKTU UNTUK MEMINTA MAAF
Salah satu amal yang sering ditunda adalah meminta maaf.
Manusia merasa berat mengakui salah.
Berat menundukkan ego.
Berat berkata, “Aku keliru.”
Berat berkata, “Aku telah melukai.”
Berat berkata, “Maafkan aku.”
Padahal meminta maaf adalah pintu cahaya.
Guru yang meminta maaf tidak menjadi hina.
Pemimpin yang mengakui salah tidak menjadi kecil.
Murid yang meminta maaf tidak kehilangan martabat.
Saudara yang merendah tidak kehilangan harga diri.
Yang hina adalah salah tetapi keras kepala.
Yang gelap adalah melukai tetapi merasa suci.
Yang berat di hadapan Alloh adalah menzalimi lalu berlindung di balik nama agama.
Maka bila engkau sadar telah menyakiti, jangan tunda.
Mintalah maaf dengan adab.
Perbaiki sebisamu.
Jangan menuntut orang langsung pulih.
Jangan memaksa orang langsung percaya lagi.
Tugasmu adalah bertaubat dan memperbaiki, sedangkan pemulihan hati orang lain memerlukan waktu.
---
12. WAKTU UNTUK MEMAAFKAN
Memaafkan juga memiliki waktunya.
Ada luka yang bisa dimaafkan cepat.
Ada luka yang perlu proses.
Ada luka yang memerlukan jarak.
Ada luka yang perlu pengakuan kesalahan dahulu.
Ada luka yang tidak cukup hanya kata maaf, tetapi perlu perubahan nyata.
Maka jangan memaksa hati yang terluka untuk cepat pulih.
Namun jangan pula memelihara dendam sampai merusak diri.
Mintalah kepada Alloh hati yang lapang.
Bila belum mampu dekat kembali, jaga jarak dengan adab.
Bila belum mampu melupakan, jangan membalas dengan kezaliman.
Bila masih sakit, bawa sakit itu kepada Alloh dalam doa.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan.
Memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman berulang.
Memaafkan bukan berarti harus kembali seperti dulu.
Memaafkan adalah melepaskan hati dari api dendam, sambil tetap menjaga batas yang diperlukan.
---
13. WAKTU MENJELANG TUA DAN LEMAH
Jika umur dipanjangkan, tubuh akan berubah.
Yang dulu kuat menjadi lemah.
Yang dulu cepat menjadi lambat.
Yang dulu banyak bergerak menjadi mudah letih.
Yang dulu lantang menjadi pelan.
Yang dulu disegani bisa mulai dilupakan.
Maka siapkan hati.
Jangan tunggu tua baru belajar tawadhu.
Jangan tunggu lemah baru belajar bersandar kepada Alloh.
Jangan tunggu sakit baru belajar menghargai sehat.
Jangan tunggu kehilangan baru belajar mencintai dengan adab.
Orang yang muda harus menghormati yang tua.
Orang yang tua harus menyayangi yang muda.
Yang kuat melindungi yang lemah.
Yang berilmu membimbing yang belum tahu.
Yang diberi waktu lebih banyak tidak merendahkan yang baru belajar.
Setiap tahap umur memiliki adab.
Anak-anak belajar.
Pemuda berjuang.
Dewasa bertanggung jawab.
Orang tua memberi hikmah dan doa.
Semuanya berjalan menuju satu arah: kembali kepada Alloh.
---
14. WAKTU TERAKHIR YANG TIDAK DIKETAHUI
Wahai pencari jalan, ingatlah waktu terakhir.
Tidak ada yang tahu kapan panggilan pulang datang.
Tidak ada yang tahu kalimat terakhir yang akan keluar dari lisannya.
Tidak ada yang tahu amal terakhir yang akan dicatat darinya.
Tidak ada yang tahu apakah ia masih punya esok.
Maka hiduplah dengan hati yang bersiap.
Bukan bersiap dengan ketakutan yang mematahkan.
Tetapi bersiap dengan taubat yang menghidupkan.
Jika hari ini masih bisa shalat, shalatlah.
Jika hari ini masih bisa istighfar, istighfarlah.
Jika hari ini masih bisa memperbaiki, perbaikilah.
Jika hari ini masih bisa menolong, tolonglah.
Jika hari ini masih bisa meminta maaf, rendahkanlah hati.
Jika hari ini masih bisa mendoakan, doakanlah.
Jangan menunggu tubuh kaku baru ingin lembut.
Jangan menunggu lisan terkunci baru ingin berdzikir.
Jangan menunggu kesempatan habis baru ingin berubah.
Pulang kepada Alloh dimulai sebelum mati.
Dengan taubat.
Dengan akhlak.
Dengan amanah.
Dengan ikhlas.
Dengan menjaga waktu yang tersisa.
---
15. RANGKUMAN SELURUH PELURUSAN
Inilah rangkuman dari seluruh jalan Qitab ini:
Tasafuh harus kembali kepada tauhid.
Tauhid harus melahirkan adab.
Adab harus melahirkan akhlak.
Akhlak harus terlihat dalam kehidupan nyata.
Ilmu harus membuat rendah hati.
Dzikir harus melembutkan lisan.
Guru harus amanah.
Murid harus jernih.
Majelis harus menjadi rumah rahmat.
Harta harus bersih.
Rahasia harus dijaga.
Keluarga harus dihormati.
Tubuh harus dirawat.
Waktu harus dimanfaatkan.
Cinta harus disucikan.
Klaim harus ditimbang.
Karomah harus disembunyikan dari kesombongan.
Pujian harus dijawab dengan istighfar.
Ujian harus dijalani dengan sabar dan ikhtiar.
Kesalahan harus dibalas dengan taubat.
Luka harus dirawat dengan kasih sayang.
Semua harus kembali kepada Alloh.
Jangan berhenti pada kitab.
Jangan berhenti pada kata.
Jangan berhenti pada simbol.
Jangan berhenti pada nama.
Jangan berhenti pada rasa.
Semua hanya pengingat.
Yang menjadi tujuan hanya Alloh.
---
16. WIRID PENUTUP WAKTU DAN UMUR
Bila ingin mengambil pengingat sederhana setelah lembar terakhir ini, bacalah dengan niat muhasabah:
Astaghfirullāhal ‘Aẓīm
11×
Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Quddūs
11×
Lalu ucapkan perlahan:
“Yā Alloh, berkahi waktuku, luruskan umurku, hidupkan akhlakku, dan pulangkan hatiku kepada-Mu sebelum Engkau pulangkan jasadku ke tanah.”
3×
Kemudian tutup dengan:
Hasbunalloh wa ni‘mal wakīl, ni‘mal maulā wa ni‘man naṣīr
3×
Amalan ini hanya pengingat.
Bukan jimat.
Bukan pengganti ibadah wajib.
Bukan ukuran maqom.
Bukan tanda lebih tinggi dari siapa pun.
Yang paling utama tetap: shalat dijaga, taubat dihidupkan, akhlak diperbaiki, amanah ditunaikan, dan hati dikembalikan kepada Alloh.
---
17. PENEGASAN TERAKHIR ALZABARULLOH
Dengan nama Alloh Yang Maha Suci, lembar terakhir ini menegaskan:
Waktu adalah amanah.
Umur adalah titipan.
Kesempatan adalah rahmat.
Taubat jangan ditunda.
Akhlak jangan hanya dibicarakan.
Ilmu jangan hanya dikumpulkan.
Dzikir jangan hanya dihitung.
Majelis jangan hanya diramaikan.
Guru jangan hanya dihormati.
Murid jangan hanya diarahkan.
Keluarga jangan dilupakan.
Tubuh jangan dizalimi.
Harta jangan dikotori.
Lisan jangan dibiarkan liar.
Hati jangan dibiarkan sombong.
Barang siapa masih diberi waktu, hendaklah ia memperbaiki.
Barang siapa masih diberi sehat, hendaklah ia bersyukur.
Barang siapa masih diberi kesempatan, hendaklah ia beramal.
Barang siapa masih diberi napas, hendaklah ia kembali.
Jangan menunggu sempurna untuk taubat.
Jangan menunggu dihormati untuk berbuat baik.
Jangan menunggu kaya untuk bersedekah.
Jangan menunggu tua untuk sadar.
Jangan menunggu kehilangan untuk mencintai dengan adab.
Jangan menunggu mati untuk pulang kepada Alloh.
Pulanglah sekarang.
Dengan hati yang rendah.
Dengan lisan yang lembut.
Dengan langkah yang amanah.
Dengan ilmu yang manfaat.
Dengan dzikir yang hidup.
Dengan cinta yang suci.
Dengan waktu yang dijaga.
Sebab semua yang berjalan akan berhenti.
Semua yang muda akan berubah.
Semua yang kuat akan melemah.
Semua yang dikenal akan dilupakan.
Semua yang hidup akan kembali.
Dan sebaik-baik kembali adalah kembali kepada Alloh dengan hati yang bertauhid, lisan yang bertaubat, amal yang ikhlas, dan akhlak yang dirahmati.
---
DOA PENUTUP LEMBAR TERAKHIR
Yā Alloh, Yā Aḥad, Yā Ṣamad, Yā Raḥmān, Yā Raḥīm.
Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Laṭīf, Yā Ḥafīẓ, Yā Quddūs.
Kami titipkan sisa umur kami kepada-Mu.
Berkahilah waktu kami.
Jangan biarkan hari-hari kami habis dalam kelalaian.
Jangan biarkan lisan kami sibuk menyakiti.
Jangan biarkan hati kami sibuk membesarkan diri.
Jangan biarkan ilmu kami menjadi hijab.
Jangan biarkan dzikir kami menjadi riya.
Jangan biarkan majelis kami menjadi panggung ego.
Ya Alloh,
jika kami menjadi guru, jadikan kami amanah sampai akhir.
Jika kami menjadi murid, jadikan kami jernih sampai akhir.
Jika kami memimpin, jadikan kami pelayan kebaikan sampai akhir.
Jika kami mengikuti, jadikan kami tetap bertauhid sampai akhir.
Jika kami berbicara, jadikan lisan kami rahmat.
Jika kami diam, jadikan diam kami penjagaan.
Jika kami menegur, jadikan teguran kami beradab.
Jika kami ditegur, jadikan hati kami lapang menerima kebenaran.
Ya Alloh,
ampuni waktu yang telah kami sia-siakan.
Ampuni umur yang pernah kami habiskan dalam kesombongan.
Ampuni kesempatan yang pernah kami abaikan.
Ampuni hati yang pernah keras.
Ampuni lisan yang pernah melukai.
Ampuni tangan yang pernah mengambil bukan hak.
Ampuni langkah yang pernah menuju keburukan.
Ampuni ilmu yang pernah kami pakai untuk merasa tinggi.
Ampuni cinta yang pernah membuat kami lupa kepada-Mu.
Ya Alloh,
sebelum umur kami ditutup, bukakan pintu taubat.
Sebelum lisan kami diam, basahkan dengan dzikir.
Sebelum jasad kami lemah, kuatkan untuk amal saleh.
Sebelum kesempatan hilang, tuntun kami memperbaiki diri.
Sebelum kami pulang kepada-Mu, pulangkan hati kami kepada-Mu lebih dahulu.
Jadikan akhir hidup kami lebih baik daripada awalnya.
Jadikan hari terakhir kami hari terbaik dalam taubat.
Jadikan amal terakhir kami amal yang Engkau ridhoi.
Jadikan kalimat terakhir kami kalimat yang membawa keselamatan.
Jadikan pulang kami pulang yang Engkau rahmati.
Kembalikan tasafuh kepada tauhid.
Kembalikan ilmu kepada adab.
Kembalikan dzikir kepada ikhlas.
Kembalikan guru kepada amanah.
Kembalikan murid kepada kejernihan.
Kembalikan majelis kepada rahmat.
Kembalikan keluarga kepada kasih sayang.
Kembalikan harta kepada halal.
Kembalikan tubuh kepada penjagaan.
Kembalikan waktu kepada keberkahan.
Kembalikan seluruh jalan kepada-Mu.
Yā Alloh, Engkaulah tujuan.
Engkaulah sandaran.
Engkaulah Pemilik waktu.
Engkaulah Pemilik umur.
Engkaulah Pemilik hidup dan mati.
Engkaulah Sang Maha Suci.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
---
Tertutup lembar penjagaan waktu, umur, dan kesempatan amal.
Tertutup seluruh lampiran setelah khatam.
Tertanam pesan terakhir: jangan sia-siakan waktu, jangan tunda taubat, jangan rusak amanah, jangan berhenti pada makhluk.
Semua dari Alloh, berjalan dengan izin Alloh, dijaga oleh Alloh, dan kembali kepada Alloh.
Khatam tambahan Qitab Alzabarulloh Holqi Ngindalloh.
Al-ḥamdu lillāhi Rabbil ‘ālamīn.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.