QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH

 


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Jalan yang Lurus Harus Ditempuh dengan Kejujuran dan Penuh Kasih Sayang


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan yang membuka jalan bagi hati yang tersesat, meneguhkan langkah orang yang ingin kembali, membersihkan jiwa dari kepalsuan, serta menurunkan kasih sayang agar manusia tidak saling melukai dalam perjalanan hidupnya.


Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, pembawa jalan kebenaran, teladan kejujuran, kelembutan, amanah, kesabaran, dan kasih sayang bagi seluruh alam.


Lembar Pembuka


Pintu Kejujuran di Jalan yang Lurus


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang mencari jalan pulang.


Jalan yang lurus bukan hanya jalan yang diucapkan oleh lisan, bukan pula jalan yang ditunjukkan dengan pakaian, gelar, perkataan indah, atau pengakuan kesucian.


Jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh dengan hati yang jujur.


Orang yang ingin berjalan menuju Alloh harus terlebih dahulu berani melihat dirinya sendiri. Ia harus mengenali niatnya, mengakui kesalahannya, memperbaiki perkataannya, menunaikan amanahnya, serta berhenti menyembunyikan keburukan di balik nama kebaikan.


Sebab dusta adalah kabut yang menutup jalan.


Kesombongan adalah batu yang memberatkan langkah.


Kebencian adalah duri yang melukai kaki perjalanan.


Sedangkan kejujuran adalah pelita.


Kerendahan hati adalah tongkat penyangga.


Kasih sayang adalah air yang menyejukkan perjalanan panjang.


Barang siapa berbicara tentang kebenaran tetapi lisannya suka menyakiti, maka ia baru mengenal nama jalan, belum mengenal adab perjalanan.


Barang siapa mengaku dekat kepada Alloh tetapi merendahkan sesama manusia, maka ia masih berdiri di depan pintu, belum masuk ke dalam taman kasih sayang.


Barang siapa rajin beribadah tetapi menipu dalam urusan dunia, maka ia telah memisahkan ibadah dari akhlak, padahal keduanya harus berjalan bersama.


Sabdo Alzalaqum Ngindalloh


“Janganlah engkau mencari jalan yang lurus dengan menginjak hati orang lain. Sebab jalan menuju Alloh tidak dibangun dari luka, kebohongan, kesombongan, dan kebencian.”


Jalan yang lurus harus berjalan dengan kejujuran.


Kejujuran kepada Alloh berarti tidak berpura-pura ikhlas ketika hati masih menginginkan pujian.


Kejujuran kepada diri sendiri berarti berani mengakui kelemahan tanpa membenci diri.


Kejujuran kepada sesama berarti menjaga ucapan, menepati janji, tidak mengambil hak orang lain, dan tidak menyembunyikan tipu daya di balik keramahan.


Namun kejujuran tidak boleh berubah menjadi kekerasan.


Ada orang berkata kasar lalu mengaku sedang jujur.


Ada orang membuka aib orang lain lalu berkata sedang menegakkan kebenaran.


Ada orang menghukum tanpa memahami, mencela tanpa menasihati, dan menyakiti tanpa penyesalan.


Itu bukan kejujuran yang diterangi kasih sayang.


Kejujuran yang benar tidak bertujuan mempermalukan.


Kejujuran yang benar bertujuan memperbaiki.


Kejujuran yang benar memiliki adab, waktu, tempat, dan cara penyampaian yang baik.


Sebab kebenaran yang disampaikan tanpa kasih sayang dapat berubah menjadi pedang yang melukai, sedangkan kasih sayang tanpa kejujuran dapat berubah menjadi pembiaran terhadap kesalahan.


Maka keduanya harus dipersatukan.


Jujur tanpa kasar.

Tegas tanpa membenci.

Lembut tanpa berdusta.

Memaafkan tanpa membenarkan kezaliman.

Menolong tanpa menguasai.

Menasihati tanpa merendahkan.


Empat Tiang Jalan yang Lurus


Pertama: Kejujuran Niat


Sebelum melakukan sesuatu, bertanyalah kepada hati:


“Apakah aku melakukan ini karena Alloh, atau karena ingin dipandang manusia?”


Jangan takut apabila menemukan niat yang belum bersih. Akuilah, lalu perbaikilah. Sebab mengakui niat yang masih bercampur lebih baik daripada merasa suci dalam kepalsuan.


Niat manusia dapat berubah-ubah. Karena itu, niat harus diperbarui sebagaimana tubuh membutuhkan air.


Kedua: Kejujuran Lisan


Lisan adalah pintu yang dapat mengantarkan manusia kepada keselamatan atau penyesalan.


Jangan berkata mengetahui apabila tidak mengetahui.


Jangan berjanji apabila tidak berniat menunaikan.


Jangan membawa kabar yang belum jelas.


Jangan memuji berlebihan demi keuntungan.


Jangan pula memakai ayat, doa, atau nama Alloh untuk menutupi kepentingan diri.


Lisan yang jujur bukan lisan yang banyak berbicara, melainkan lisan yang dapat dipercaya.


Ketiga: Kejujuran Perbuatan


Perbuatan adalah kesaksian yang lebih kuat daripada ucapan.


Apabila engkau mengajarkan kasih sayang, mulailah dari keluargamu.


Apabila engkau menyerukan kesabaran, latihlah dirimu ketika sedang marah.


Apabila engkau berbicara tentang amanah, jagalah titipan sekecil apa pun.


Apabila engkau memohon rezeki halal, jangan mengambil sesuatu melalui jalan yang merugikan orang lain.


Jangan sampai lisan berjalan ke timur, tetapi perbuatan berjalan ke barat.


Keempat: Kasih Sayang


Kasih sayang bukan kelemahan.


Kasih sayang adalah kekuatan yang telah ditundukkan oleh kebijaksanaan.


Orang yang penuh kasih tidak berarti membiarkan semua kesalahan. Ia tetap menegur, tetapi tidak menghina. Ia tetap membatasi, tetapi tidak membalas dengan kezaliman. Ia tetap menjaga dirinya, tetapi tidak memelihara dendam.


Kasih sayang dimulai dari hal-hal sederhana:


Memberi kesempatan orang lain berbicara.


Tidak cepat menuduh.


Memaafkan kesalahan yang dapat dimaafkan.


Mendoakan orang yang sedang kesulitan.


Menolong tanpa mengungkit.


Menjaga hewan, tumbuhan, alam, dan seluruh makhluk ciptaan Alloh.


Tanda Hati Mulai Menemukan Jalan


Hati yang mulai berada di jalan yang lurus tidak selalu melihat cahaya yang luar biasa.


Tandanya sering kali sederhana.


Ia mulai malu untuk berdusta.


Ia mulai berhati-hati menyakiti orang.


Ia mulai berani meminta maaf.


Ia mulai mengembalikan hak yang bukan miliknya.


Ia tidak lagi merasa paling benar.


Ia dapat menerima nasihat tanpa merasa direndahkan.


Ia mampu berkata, “Aku belum tahu.”


Ia tidak senang melihat orang lain jatuh.


Ia semakin lembut kepada yang lemah dan semakin tegas terhadap hawa nafsunya sendiri.


Ketika dipuji, ia tidak mabuk.


Ketika dicela, ia tidak segera membalas.


Ketika memperoleh rezeki, ia bersyukur.


Ketika diuji, ia berusaha bersabar.


Ketika bersalah, ia kembali kepada Alloh.


Itulah langkah-langkah kecil yang menegakkan jalan besar.


Peringatan bagi Para Penempuh Jalan


Jangan merasa telah sampai hanya karena telah membaca banyak kitab.


Jangan merasa suci hanya karena telah menghafal banyak doa.


Jangan merasa lebih tinggi hanya karena orang lain memanggilmu guru, ustadz, pemimpin, sesepuh, atau orang yang memiliki pengetahuan ruhani.


Semakin tinggi pengetahuan seseorang, seharusnya semakin dalam rasa takutnya kepada Alloh dan semakin lembut akhlaknya kepada makhluk.


Apabila ilmu membuatmu suka merendahkan, maka ada kesombongan yang belum dibersihkan.


Apabila ibadah membuatmu merasa pasti lebih mulia daripada orang lain, maka ada penyakit hati yang sedang memakai pakaian agama.


Apabila nasihatmu selalu membuat orang takut kepadamu, tetapi tidak membuat mereka mencintai kebaikan, periksalah kembali cara penyampaiannya.


Jalan Alloh bukan jalan untuk membesarkan diri.


Jalan Alloh adalah jalan untuk merendahkan ego, membersihkan niat, dan memperindah akhlak.


Amalan Muhasabah Alzalaqum


Amalan ini bukan untuk mencari kesaktian, kekuatan gaib, atau kedudukan di hadapan manusia. Amalan ini merupakan latihan kejujuran, ketenangan, dan perbaikan akhlak.


Sesudah sholat atau sebelum tidur, duduklah dengan tenang.


Tarik napas perlahan, lalu bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 11 kali

Allohumma ṣolli ‘alā Sayyidinā Muḥammad — 11 kali

Yā Hādī — 33 kali

Yā Ṣādiq — 33 kali

Yā Raḥmān — 33 kali

Yā Raḥīm — 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, tuntunlah aku menuju jalan-Mu yang lurus. Bersihkan niatku dari kepalsuan, lisanku dari kebohongan, perbuatanku dari pengkhianatan, dan hatiku dari kebencian. Ajarkan aku menyampaikan kebenaran dengan kelembutan, menjaga kejujuran dengan kasih sayang, serta memperlakukan seluruh makhluk dengan akhlak yang Engkau ridhoi.»


Setelah itu, renungkan tiga pertanyaan:


Apakah hari ini aku berkata tidak jujur?


Apakah hari ini ada hati yang terluka karena perkataanku?


Kebaikan apa yang dapat kuperbaiki mulai esok hari?


Jangan hanya menjawab dalam pikiran. Apabila ada kesalahan yang menyangkut hak manusia, perbaikilah dengan tindakan: meminta maaf, meluruskan ucapan, membayar utang, mengembalikan titipan, atau menghentikan perbuatan yang merugikan.


Penutup Lembar Pembuka


Wahai jiwa yang sedang kembali.


Jangan takut berjalan perlahan selama langkahmu jujur.


Jangan malu mengakui kesalahan selama engkau bersedia memperbaikinya.


Jangan putus asa apabila hari ini masih jatuh, sebab Alloh membuka pintu taubat bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali.


Jalan yang lurus bukan berarti hidup tanpa kesalahan.


Jalan yang lurus berarti setiap kali tersesat, engkau bersedia kembali.


Setiap kali berdusta, engkau berusaha meluruskannya.


Setiap kali menyakiti, engkau memohon maaf dan memperbaiki.


Setiap kali membenci, engkau memohon agar hati dibersihkan.


Setiap kali menerima nikmat, engkau mengingat Alloh dan tidak melupakan sesama.


Maka berjalanlah dengan jujur.


Berbicaralah dengan lembut.


Berlakulah dengan adil.


Tolonglah dengan ikhlas.


Maafkan dengan bijaksana.


Jagalah dirimu tanpa membenci orang lain.


Sebab jalan yang lurus tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari seberapa aman manusia lain berada di dekat lisan, tangan, keputusan, dan kekuasaanmu.


Sabdo penutup:


«“Kejujuran adalah arah langkah, kasih sayang adalah cahaya perjalanan, dan ridho Alloh adalah tujuan pulang.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh menuntun kita menuju jalan yang lurus, meneguhkan hati dalam kejujuran, melembutkan jiwa dengan kasih sayang, serta menjadikan seluruh langkah kita sebagai jalan menuju ridho-Nya.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Kedua


Jalan Lurus Dimulai dari Kejujuran terhadap Diri Sendiri


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang menata langkah menuju ridho Alloh.


Sebelum seseorang mampu berlaku jujur kepada orang lain, ia harus terlebih dahulu belajar jujur terhadap dirinya sendiri.


Banyak manusia dapat menyembunyikan sesuatu dari pandangan orang lain. Mereka dapat menutup kesedihan dengan senyuman, menyembunyikan kesalahan dengan alasan, menutupi ketakutan dengan kemarahan, serta menyamarkan keinginan pribadi dengan perkataan seolah-olah demi kebaikan bersama.


Namun manusia tidak akan mampu selamanya bersembunyi dari suara batinnya sendiri.


Di dalam keheningan, hati mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Hati mengetahui ketika lisan berkata ikhlas, tetapi diri masih mengharapkan pujian.


Hati mengetahui ketika seseorang berkata telah memaafkan, tetapi diam-diam masih memelihara dendam.


Hati mengetahui ketika seseorang mengaku menolong, tetapi sesungguhnya ingin menguasai.


Hati juga mengetahui ketika seseorang berbicara tentang kebenaran, tetapi sebenarnya hanya ingin memenangkan dirinya sendiri.


Karena itulah jalan yang lurus dimulai dari keberanian untuk berkata kepada diri sendiri:


“Aku masih memiliki kekurangan.”


“Aku pernah melakukan kesalahan.”


“Hatiku belum sepenuhnya bersih.”


“Aku membutuhkan pertolongan dan ampunan Alloh.”


Pengakuan seperti itu bukanlah kehinaan.


Pengakuan itu adalah awal kebangkitan.


Orang yang merasa tidak mempunyai kesalahan akan sulit menerima nasihat. Orang yang selalu merasa benar akan sulit memperbaiki diri. Orang yang menolak melihat kelemahannya akan terus membawa kelemahan itu ke mana pun ia berjalan.


Sebaliknya, orang yang berani melihat kekurangannya telah membuka pintu perbaikan.


Cermin Batin


Hati manusia seperti cermin.


Apabila cermin tertutup debu, cahaya tetap ada, tetapi pantulannya menjadi kabur.


Debu hati dapat berupa kesombongan, iri, amarah, dusta, dendam, ketamakan, prasangka buruk, keinginan dipuji, dan kebiasaan menyalahkan orang lain.


Debu itu tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali.


Kadang kesombongan memakai pakaian ilmu.


Kadang kebencian memakai pakaian ketegasan.


Kadang rasa ingin menguasai memakai pakaian kepedulian.


Kadang ketakutan memakai pakaian kemarahan.


Kadang keputusasaan memakai pakaian kepasrahan.


Kadang kemalasan memakai pakaian menunggu waktu yang tepat.


Maka jangan hanya menilai suatu perbuatan dari namanya. Lihatlah niat yang bersembunyi di belakangnya.


Ketika menasihati seseorang, tanyakan kepada dirimu:


“Apakah aku benar-benar ingin menolongnya, atau aku ingin menunjukkan bahwa diriku lebih mengetahui?”


Ketika marah, tanyakan:


“Apakah aku sedang membela kebenaran, atau harga diriku sedang terluka?”


Ketika melakukan kebaikan, tanyakan:


“Apakah aku tetap akan melakukannya apabila tidak ada seorang pun yang mengetahuinya?”


Ketika kecewa kepada manusia, tanyakan:


“Apakah aku telah menggantungkan harapan terlalu besar kepada makhluk?”


Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menghukum diri.


Pertanyaan itu adalah air yang membersihkan cermin batin.


Jangan Membenci Diri ketika Menemukan Kesalahan


Ada manusia yang setelah menyadari kesalahannya justru jatuh ke dalam kebencian kepada dirinya sendiri.


Ia terus mengingat masa lalu.


Ia merasa tidak pantas mendapat kebaikan.


Ia menganggap hidupnya telah rusak.


Ia menutup pintu harapan, seolah-olah rahmat Alloh lebih kecil daripada kesalahannya.


Janganlah demikian.


Mengakui kesalahan bukan berarti menghancurkan diri.


Mengakui kesalahan berarti menerima kenyataan agar dapat memperbaikinya.


Jangan berkata:


“Aku adalah manusia yang buruk dan tidak berguna.”


Tetapi katakanlah:


“Aku telah melakukan kesalahan, dan aku harus memperbaikinya.”


Jangan berkata:


“Masa laluku telah menutup seluruh masa depanku.”


Tetapi katakanlah:


“Masa lalu adalah pelajaran, sedangkan hari ini adalah kesempatan untuk kembali.”


Jangan pula menggunakan kelemahan sebagai alasan untuk terus mengulangi kesalahan.


Kasih sayang kepada diri bukan berarti membiarkan diri berjalan tanpa batas.


Kasih sayang yang benar tetap memiliki ketegasan.


Ia menghibur hati yang terluka, tetapi juga mendidik hawa nafsu.


Ia memaafkan masa lalu, tetapi tidak menyerah kepada kebiasaan buruk.


Ia menerima keadaan diri, tetapi tetap berusaha tumbuh menjadi lebih baik.


Tiga Kejujuran dalam Diri


Pertama: Jujur terhadap Perasaan


Jangan berpura-pura kuat apabila sebenarnya engkau sedang membutuhkan pertolongan.


Jangan memaksa diri tersenyum ketika hati sedang sangat lelah.


Akuilah rasa sedih, takut, kecewa, marah, dan bingung.


Namun jangan biarkan perasaan menjadi penguasa seluruh kehidupan.


Perasaan adalah tamu.


Ia datang membawa pesan, lalu seharusnya pergi setelah pesannya dipahami.


Kesedihan mungkin datang untuk mengajarkan bahwa ada kehilangan yang harus diterima.


Kemarahan mungkin datang untuk menunjukkan adanya batas yang telah dilanggar.


Ketakutan mungkin datang untuk mengingatkan agar lebih berhati-hati.


Kekecewaan mungkin datang untuk menunjukkan bahwa harapan telah diletakkan pada tempat yang salah.


Dengarkan perasaan dengan jujur, tetapi bimbinglah ia dengan iman, akal sehat, doa, dan tindakan yang benar.


Kedua: Jujur terhadap Kebutuhan


Ada orang yang terus memberi kepada orang lain, tetapi melupakan kesehatan dan ketenangan dirinya sendiri.


Ada pula orang yang terus meminta diperhatikan, tetapi tidak pernah belajar memperhatikan orang lain.


Kejujuran membuat manusia mengenali kebutuhan secara seimbang.


Tubuh membutuhkan istirahat.


Pikiran membutuhkan ketenangan.


Hati membutuhkan doa dan kasih sayang.


Keluarga membutuhkan kehadiran.


Amanah membutuhkan tanggung jawab.


Kehidupan membutuhkan usaha.


Jangan menyebut kelalaian sebagai tawakal.


Jangan menyebut kelelahan yang disengaja sebagai pengorbanan.


Jangan menyebut ketergantungan sebagai cinta.


Jangan menyebut ketakutan mengambil keputusan sebagai kesabaran.


Kenalilah apa yang benar-benar dibutuhkan, lalu tempuhlah jalan yang halal, baik, dan masuk akal untuk memenuhinya.


Ketiga: Jujur terhadap Tanggung Jawab


Setiap manusia memiliki bagian yang harus ia kerjakan.


Tidak semua persoalan berasal dari orang lain.


Tidak setiap kegagalan disebabkan oleh keadaan.


Tidak semua luka dapat sembuh hanya dengan menunggu.


Kadang manusia harus berani mengubah kebiasaan.


Kadang ia harus meminta maaf.


Kadang ia harus meninggalkan lingkungan yang merusak.


Kadang ia harus belajar keterampilan baru.


Kadang ia harus berobat.


Kadang ia harus menata keuangan.


Kadang ia harus berhenti menunda pekerjaan.


Kadang ia harus menerima bahwa tidak semua orang dapat dipaksa memahami dirinya.


Kejujuran berkata:


“Aku tidak mampu mengendalikan seluruh kejadian, tetapi aku bertanggung jawab terhadap sikap dan langkahku sendiri.”


Sabdo Lembar Kedua


«“Orang yang jujur kepada dirinya tidak akan sibuk membangun citra kesucian. Ia lebih memilih memperbaiki satu kesalahan nyata daripada menunjukkan seribu kata indah di hadapan manusia.”»


Wahai penempuh jalan.


Jangan mengukur kemajuan batin hanya dari pengalaman yang luar biasa.


Jangan merasa telah dekat kepada Alloh hanya karena melihat cahaya, mengalami mimpi tertentu, merasakan getaran, atau mendengar kata-kata yang dianggap rahasia.


Semua pengalaman harus ditimbang melalui akhlak dan kenyataan hidup.


Apakah setelah pengalaman itu engkau menjadi lebih jujur?


Apakah engkau menjadi lebih sabar?


Apakah semakin menjaga sholat dan amanah?


Apakah semakin lembut kepada keluarga?


Apakah semakin berhati-hati terhadap hak orang lain?


Apakah semakin rendah hati?


Apabila suatu pengalaman membuat seseorang merasa paling istimewa, paling suci, paling tinggi, dan tidak boleh dikoreksi, maka ia harus berhenti dan memeriksa kembali keadaan dirinya.


Sebab jalan yang lurus tidak membesarkan kesombongan.


Jalan yang lurus mengecilkan ego dan membesarkan rasa tanggung jawab.


Ketika Hati Mencari Pembenaran


Hawa nafsu sering kali tidak meminta manusia melakukan kesalahan secara terang-terangan.


Ia membisikkan alasan agar kesalahan terlihat benar.


Ketika malas, ia berkata:


“Aku sedang menunggu petunjuk.”


Ketika takut, ia berkata:


“Ini bukan waktunya bertindak.”


Ketika iri, ia berkata:


“Aku hanya sedang menilai dengan objektif.”


Ketika ingin dipuji, ia berkata:


“Aku hanya ingin menginspirasi.”


Ketika marah, ia berkata:


“Aku sedang membela kebenaran.”


Ketika merendahkan orang lain, ia berkata:


“Aku sedang mendidiknya.”


Karena itulah manusia membutuhkan muhasabah.


Tidak semua alasan yang terdengar baik benar-benar lahir dari niat yang baik.


Periksalah buahnya.


Kebenaran biasanya melahirkan ketenangan, tanggung jawab, keadilan, dan perbaikan.


Sedangkan pembenaran diri sering melahirkan pertengkaran, kesombongan, pengulangan kesalahan, dan penolakan terhadap nasihat.


Latihan Kejujuran Tujuh Malam


Selama tujuh malam, sebelum tidur, ambillah waktu beberapa menit untuk duduk dalam keadaan tenang.


Tidak perlu mencari pengalaman aneh.


Tidak perlu memaksa melihat cahaya.


Tidak perlu menunggu tanda-tanda luar biasa.


Cukup hadir dengan sadar di hadapan Alloh.


Bacalah:


Astaghfirulloh — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā Hādī — 33 kali

Yā Raḥmān, Yā Raḥīm — masing-masing 33 kali


Kemudian letakkan tangan di dada dengan lembut dan berdoalah:


«Yā Alloh, tunjukkanlah kepadaku kekurangan yang harus kuperbaiki tanpa membuatku berputus asa. Tunjukkan pula kebaikan yang harus kujaga tanpa membuatku menjadi sombong. Ajarkan aku melihat diriku dengan jujur, lembut, dan bertanggung jawab.»


Sesudah itu, tuliskan tiga hal:


Satu kesalahan yang harus diperbaiki.


Satu nikmat yang harus disyukuri.


Satu kebaikan yang akan dilakukan esok hari.


Apabila kesalahanmu berkaitan dengan manusia, jangan berhenti pada tulisan.


Perbaikilah dengan tindakan nyata.


Apabila memiliki utang, rencanakan pembayarannya.


Apabila telah menyakiti seseorang, mintalah maaf dengan tulus.


Apabila menyebarkan kabar yang tidak benar, luruskanlah.


Apabila mengabaikan keluarga, mulailah hadir.


Apabila tubuh sedang sakit, carilah pertolongan yang tepat.


Apabila pekerjaan terbengkalai, mulailah dari tugas terkecil.


Sebab jalan yang lurus dibangun oleh langkah nyata, bukan hanya oleh perasaan suci.


Penutup Lembar Kedua


Wahai jiwa yang sedang kembali.


Jangan takut menatap dirimu sendiri.


Di balik kekurangan masih ada kesempatan bertumbuh.


Di balik kesalahan masih ada pintu taubat.


Di balik luka masih ada ruang penyembuhan.


Di balik kebingungan masih ada jalan belajar.


Dan di balik seluruh kelemahan manusia, terdapat rahmat Alloh yang selalu layak untuk diharapkan.


Jujurlah kepada dirimu tanpa membencinya.


Tegurlah dirimu tanpa menghancurkannya.


Didiklah dirimu tanpa merendahkannya.


Maafkan masa lalumu tanpa mengulangi kesalahannya.


Jagalah harapan, tetapi jangan meninggalkan tanggung jawab.


Sebab orang yang mengenal kelemahannya akan lebih mudah merendahkan hati.


Orang yang mengakui kesalahannya akan lebih mudah memohon ampun.


Orang yang jujur kepada dirinya akan lebih berhati-hati dalam menilai sesama.


Dan orang yang telah berdamai dengan kebenaran di dalam dirinya akan mampu berjalan membawa kasih sayang bagi kehidupan di sekelilingnya.


«“Jalan lurus tidak dimulai dari keinginan terlihat sempurna, melainkan dari keberanian mengakui kekurangan dan kesungguhan memperbaikinya.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh memberi kita keberanian untuk melihat diri dengan jujur, kelembutan untuk memaafkan, kekuatan untuk memperbaiki, serta keteguhan untuk tetap berjalan menuju ridho-Nya.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Ketiga


Kejujuran kepada Sesama dan Adab Menjaga Perasaan


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang belajar berjalan di atas jalan yang lurus.


Kejujuran tidak hanya berada di dalam hati. Kejujuran harus tampak dalam perkataan, perbuatan, janji, keputusan, perdagangan, persahabatan, keluarga, dan seluruh amanah kehidupan.


Namun kejujuran tidak boleh dilepaskan dari kasih sayang.


Sebab perkataan yang benar dapat menjadi obat apabila disampaikan dengan adab, tetapi dapat berubah menjadi luka apabila dilemparkan dengan kemarahan, penghinaan, dan kesombongan.


Tidak semua yang benar harus disampaikan pada setiap waktu.


Tidak semua yang diketahui harus diceritakan kepada semua orang.


Tidak semua kesalahan harus diumumkan.


Tidak semua nasihat harus disampaikan di hadapan banyak manusia.


Kebenaran mempunyai waktu.


Kebenaran mempunyai tempat.


Kebenaran mempunyai cara.


Kebenaran juga mempunyai tujuan.


Apabila tujuan perkataan adalah memperbaiki, maka caranya harus menjaga kehormatan.


Apabila tujuan perkataan adalah menolong, maka nadanya harus mengandung kelembutan.


Apabila tujuan perkataan adalah menyelamatkan, maka janganlah lisan justru menjadi sebab kehancuran hati seseorang.


Kejujuran Bukan Kekasaran


Ada manusia yang berkata:


“Aku hanya mengatakan kenyataan.”


Namun perkataannya dipenuhi penghinaan.


Ada yang berkata:


“Aku memang orangnya terus terang.”


Namun ia tidak peduli terhadap luka yang ditimbulkan.


Ada pula yang membuka kelemahan orang lain, lalu berlindung di balik alasan kejujuran.


Ketahuilah bahwa kejujuran tidak sama dengan kekasaran.


Orang yang jujur tetap menjaga adab.


Orang yang jujur tidak menambah-nambahkan keburukan.


Orang yang jujur tidak memutarbalikkan kenyataan.


Orang yang jujur tidak menggunakan kelemahan orang lain untuk meninggikan dirinya.


Orang yang jujur tidak merasa puas ketika perkataannya membuat orang lain dipermalukan.


Kejujuran yang tidak disertai kasih sayang dapat berubah menjadi senjata hawa nafsu.


Sedangkan kasih sayang yang meninggalkan kejujuran dapat berubah menjadi pembiaran.


Maka jalan yang lurus adalah menyatukan keduanya:


Benar dalam isi.


Baik dalam cara.


Tepat dalam waktu.


Bersih dalam tujuan.


Empat Timbangan sebelum Berbicara


Sebelum menyampaikan sesuatu, timbanglah perkataan dengan empat pertanyaan.


Pertama: Apakah Perkataan Ini Benar?


Jangan menyampaikan kabar hanya karena banyak orang membicarakannya.


Jangan mempercayai tuduhan hanya karena sesuai dengan prasangka.


Jangan menambah cerita agar terdengar lebih menarik.


Jangan mengubah kejadian demi membela orang yang disukai.


Jangan mengurangi kebenaran demi menjatuhkan orang yang dibenci.


Apabila belum mengetahui dengan jelas, katakan:


“Aku belum mengetahui kebenarannya.”


Apabila hanya mendengar dari orang lain, jangan menyampaikannya seolah-olah engkau menyaksikan sendiri.


Satu kabar yang tidak diperiksa dapat menimbulkan pertengkaran panjang.


Satu tuduhan yang keliru dapat merusak nama baik seseorang.


Satu perkataan yang dilebihkan dapat memutuskan persaudaraan.


Lisan yang lurus tidak terburu-buru membawa berita.


Kedua: Apakah Perkataan Ini Perlu?


Tidak semua yang benar harus dibicarakan.


Ada kebenaran yang cukup disimpan sebagai pelajaran.


Ada kelemahan orang lain yang harus ditutup.


Ada masa lalu yang tidak perlu terus dibangkitkan.


Ada perkara yang tidak mendatangkan manfaat apabila disebarkan.


Apabila suatu perkataan tidak memperbaiki keadaan, tidak mencegah bahaya, tidak menolong siapa pun, dan hanya memuaskan rasa ingin tahu, diam sering kali lebih mulia.


Diam bukan selalu tanda kelemahan.


Kadang diam adalah penjagaan.


Kadang diam adalah kebijaksanaan.


Kadang diam adalah cara menyelamatkan diri dari dosa lisan.


Ketiga: Apakah Waktunya Tepat?


Nasihat yang benar dapat ditolak apabila diberikan pada waktu yang salah.


Seseorang yang sedang marah mungkin belum mampu mendengar.


Seseorang yang sedang sangat sedih mungkin membutuhkan pelukan sebelum nasihat.


Seseorang yang baru melakukan kesalahan mungkin membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.


Jangan memaksakan pembicaraan ketika hati sedang terbakar.


Tunggulah hingga keadaan lebih tenang.


Sebab tujuan nasihat bukan hanya agar perkataan keluar dari mulut, melainkan agar kebaikan dapat masuk ke dalam hati.


Keempat: Apakah Caranya Penuh Kasih Sayang?


Perhatikan nada suara.


Perhatikan pilihan kata.


Perhatikan tempat berbicara.


Perhatikan keadaan orang yang mendengarkan.


Nasihatilah secara pribadi apabila kesalahannya bersifat pribadi.


Jangan merendahkan manusia di hadapan keluarganya.


Jangan membuka aib sahabat di hadapan banyak orang.


Jangan memakai panggilan buruk.


Jangan mengungkit seluruh kesalahan masa lalu hanya karena satu kesalahan hari ini.


Sampaikan perkara yang perlu diperbaiki tanpa menghancurkan harga dirinya.


Sebab orang yang melakukan kesalahan tetaplah manusia yang mempunyai kehormatan.


Menjaga Rahasia dan Amanah


Rahasia adalah titipan.


Ketika seseorang mempercayakan cerita kepadamu, jangan menjadikannya bahan pembicaraan.


Jangan menyampaikan rahasia dengan alasan:


“Aku hanya bercerita kepada satu orang.”


Sebab orang kedua dapat menyampaikannya kepada orang ketiga, kemudian rahasia itu berjalan tanpa batas.


Jangan pula menggunakan rahasia seseorang sebagai alat untuk menguasainya.


Jangan mengancam membuka masa lalunya.


Jangan memanfaatkan kelemahannya demi keuntungan pribadi.


Barang siapa menjaga rahasia, ia menjaga kehormatan saudaranya.


Namun apabila rahasia itu berkaitan dengan bahaya nyata, kezaliman, kekerasan, penipuan, atau ancaman terhadap keselamatan seseorang, maka carilah pertolongan kepada pihak yang tepat dan dapat dipercaya.


Menjaga rahasia bukan berarti membiarkan kejahatan berlangsung.


Kasih sayang harus berjalan bersama kebijaksanaan dan perlindungan.


Kejujuran dalam Janji


Janji adalah utang kehormatan.


Jangan mudah berkata:


“Aku pasti datang.”


Apabila belum mengetahui kemampuanmu.


Jangan berkata:


“Aku akan membantu.”


Apabila sejak awal tidak mempunyai niat untuk melakukannya.


Jangan membuat seseorang menunggu tanpa kabar.


Apabila tidak mampu menepati janji, beritahukan dengan jujur.


Mintalah maaf.


Jelaskan secukupnya.


Jangan menghilang dan membiarkan orang lain bertanya-tanya.


Manusia mungkin dapat memaafkan keterlambatan, tetapi kepercayaan akan sulit tumbuh apabila kebohongan terus diulang.


Lebih baik berkata:


“Aku akan berusaha, tetapi belum dapat memastikan.”


Daripada memberi kepastian palsu.


Lebih baik menolak dengan sopan daripada menerima amanah kemudian mengabaikannya.


Kejujuran dalam Perdagangan dan Rezeki


Jalan yang lurus juga harus hadir dalam urusan rezeki.


Jangan menyembunyikan cacat barang.


Jangan mengurangi timbangan.


Jangan memberikan kesaksian palsu.


Jangan mengambil keuntungan dengan menipu orang yang tidak memahami.


Jangan memakai nama agama, doa, karomah, kesaktian, atau janji keberuntungan untuk mengambil harta manusia dengan cara yang batil.


Rezeki yang terlihat banyak belum tentu membawa keberkahan.


Harta yang diperoleh melalui kebohongan dapat menjadi kegelisahan di dalam rumah.


Sedangkan rezeki yang sederhana tetapi halal dapat menjadi cahaya ketenteraman.


Jangan takut kehilangan pelanggan karena berkata jujur.


Jangan takut kehilangan keuntungan karena menolak penipuan.


Sebab apa yang ditinggalkan karena menjaga kebenaran tidak pernah sia-sia di hadapan Alloh.


Kejujuran dalam Keluarga


Orang sering menjaga perkataannya di hadapan orang luar, tetapi berlaku kasar kepada keluarganya.


Ia ramah kepada tamu, tetapi mudah membentak pasangan.


Ia lembut kepada sahabat, tetapi merendahkan anak.


Ia menjaga kehormatan pemimpin, tetapi melupakan hati orang tuanya.


Ketahuilah bahwa akhlak seseorang paling nyata terlihat di rumahnya.


Keluarga bukan tempat untuk menumpahkan seluruh kemarahan.


Kedekatan bukan alasan untuk berkata sesuka hati.


Cinta bukan izin untuk menguasai.


Nasihat bukan alasan untuk mempermalukan.


Apabila ada persoalan, bicarakan dengan jujur.


Jangan memendam hingga berubah menjadi kebencian.


Jangan menggunakan diam sebagai hukuman berhari-hari.


Jangan mengancam pergi hanya untuk membuat orang lain takut.


Jangan membawa kesalahan pasangan atau keluarga kepada banyak orang tanpa kebutuhan yang benar.


Carilah penyelesaian, bukan kemenangan.


Dalam rumah tangga dan keluarga, tidak semua perbedaan harus menghasilkan pihak yang menang dan pihak yang kalah.


Kadang keduanya harus duduk bersama, mengakui kesalahan, saling mendengar, dan membangun jalan baru.


Ketika Kejujuran Menimbulkan Risiko


Ada saatnya berkata jujur terasa berat.


Kejujuran dapat membuat seseorang kehilangan pujian.


Kejujuran dapat membuat kesalahan terbuka.


Kejujuran dapat menuntut pengembalian hak.


Kejujuran dapat membuat seseorang harus meminta maaf kepada orang yang lebih muda, lebih miskin, atau lebih rendah kedudukannya.


Namun rasa malu sesaat lebih ringan daripada membawa kebohongan sepanjang hidup.


Apabila engkau telah melakukan kesalahan, jangan terus menutupinya dengan kesalahan baru.


Satu kebohongan sering membutuhkan kebohongan berikutnya agar tetap tersembunyi.


Akhirnya hati hidup dalam ketakutan.


Ia takut diketahui.


Ia takut ditanya.


Ia takut masa lalu terbuka.


Maka berhentilah.


Akuilah yang harus diakui.


Perbaikilah yang masih dapat diperbaiki.


Kembalikan hak yang bukan milikmu.


Mintalah maaf tanpa mencari alasan yang berlebihan.


Kejujuran mungkin terasa pahit pada awalnya, tetapi ia membuka pintu ketenangan.


Adab Menyampaikan Kesalahan Orang Lain


Apabila engkau melihat saudaramu melakukan kesalahan, jangan segera merasa dirimu lebih suci.


Ingatlah bahwa engkau pun mempunyai kekurangan yang mungkin tidak diketahui orang lain.


Nasihatilah dengan niat menyelamatkan, bukan mempermalukan.


Gunakan kata-kata yang lembut:


“Saudaraku, mungkin ada hal yang perlu kita periksa kembali.”


“Aku menyampaikan ini karena tidak ingin engkau mengalami kerugian.”


“Marilah kita mencari jalan yang lebih baik.”


Hindari perkataan:


“Engkau memang selalu salah.”


“Tidak ada kebaikan dalam dirimu.”


“Aku sudah tahu engkau seperti ini.”


Jangan menilai seluruh diri seseorang hanya dari satu kesalahan.


Manusia dapat berubah.


Manusia dapat bertobat.


Manusia dapat tumbuh setelah mendapatkan kesempatan.


Kasih sayang tidak menutup mata terhadap kesalahan, tetapi kasih sayang juga tidak menutup pintu perubahan.


Sabdo Lembar Ketiga


«“Kebenaran yang keluar dari hati penuh kasih akan menjadi pelita. Kebenaran yang keluar dari hati penuh kesombongan dapat berubah menjadi api yang membakar persaudaraan.”»


Maka periksalah hatimu sebelum menasihati.


Apakah engkau merasa sedih karena saudaramu tersesat?


Ataukah engkau merasa senang karena mempunyai kesempatan menunjukkan kesalahannya?


Apakah engkau ingin ia kembali kepada kebaikan?


Ataukah engkau ingin orang lain melihat bahwa dirimu lebih benar?


Niat yang tersembunyi akan memengaruhi setiap kata.


Lisan hanya menyampaikan apa yang telah tumbuh di dalam hati.


Apabila hati dipenuhi kasih sayang, nasihat akan terasa menenangkan walaupun tegas.


Apabila hati dipenuhi kebencian, kata-kata lembut pun dapat mengandung racun.


Latihan Menjaga Lisan


Selama tujuh hari, jagalah lisanmu dengan latihan berikut:


Sebelum berbicara tentang seseorang yang tidak hadir, berhentilah sejenak.


Tanyakan:


“Apakah aku rela perkataan ini disampaikan langsung kepadanya?”


Apabila tidak rela, lebih baik jangan diucapkan.


Apabila menerima berita, jangan langsung menyebarkan.


Periksa terlebih dahulu.


Apabila marah, tundalah pesan, panggilan, atau keputusan penting sampai keadaan lebih tenang.


Apabila melakukan kesalahan dalam perkataan, segera minta maaf.


Jangan menunggu terlalu lama hingga luka semakin dalam.


Sesudah sholat atau sebelum tidur, bacalah:


Astaghfirulloh — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā Ṣādiq — 33 kali

Yā Laṭīf — 33 kali

Yā Raḥmān — 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, luruskan lisanku dengan kebenaran, lembutkan ucapanku dengan kasih sayang, dan bersihkan niatku dari keinginan merendahkan. Jadikan perkataanku sebagai jalan perdamaian, nasihat, penghiburan, dan perbaikan. Lindungilah aku dari dusta, fitnah, ghibah, tuduhan, penghinaan, serta perkataan yang melukai tanpa manfaat.»


Penutup Lembar Ketiga


Wahai jiwa yang sedang berjalan.


Jagalah lisanmu sebagaimana engkau menjaga barang yang paling berharga.


Sebab luka pada tubuh mungkin terlihat dan dapat segera diobati.


Namun luka karena perkataan sering tersembunyi bertahun-tahun di dalam hati.


Satu kalimat dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri.


Satu penghinaan dapat diingat sepanjang hidup.


Satu tuduhan dapat menghancurkan nama baik.


Tetapi satu perkataan yang baik juga dapat menghidupkan harapan.


Satu permintaan maaf dapat menyambung persaudaraan.


Satu nasihat yang lembut dapat menyelamatkan langkah.


Satu ucapan terima kasih dapat menguatkan orang yang hampir menyerah.


Maka gunakanlah lisan untuk menanam kebaikan.


Berkatalah benar tanpa menjadi kasar.


Berkatalah lembut tanpa meninggalkan ketegasan.


Jagalah rahasia.


Tepatilah janji.


Luruskan kesalahan.


Minta maaf apabila melukai.


Maafkan apabila orang lain sungguh-sungguh memperbaiki diri.


Sebab jalan menuju ridho Alloh tidak hanya dilalui oleh kaki, tetapi juga oleh setiap perkataan yang keluar dari lisan manusia.


«“Kejujuran adalah isi perkataan, adab adalah cara menyampaikannya, dan kasih sayang adalah ruh yang menghidupkannya.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh menjaga lisan kita dari kebohongan, membersihkan hati dari kebencian, serta menjadikan perkataan kita sebagai cahaya yang membawa kedamaian bagi sesama.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Keempat


Kejujuran dalam Perbuatan dan Kasih Sayang dalam Menegakkan Keadilan


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang menapaki jalan yang lurus.


Kejujuran tidak berhenti pada ucapan.


Seseorang belum dapat disebut berjalan dalam kejujuran apabila lisannya berkata benar, tetapi perbuatannya bertentangan dengan apa yang ia ucapkan.


Ada manusia yang berbicara tentang amanah, tetapi mengabaikan tanggung jawabnya.


Ada yang menyerukan kesederhanaan, tetapi hatinya dikuasai keinginan dipuji.


Ada yang mengajarkan kasih sayang, tetapi berlaku keras kepada orang yang berada di bawah kekuasaannya.


Ada pula yang berbicara tentang keadilan, tetapi hanya membela orang yang disukai dan menghukum orang yang dibenci.


Karena itu, jalan yang lurus menuntut keselarasan.


Apa yang diyakini oleh hati harus dijaga oleh lisan.


Apa yang diucapkan oleh lisan harus dibuktikan oleh perbuatan.


Apa yang dilakukan oleh tangan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh.


Sebab perbuatan adalah bentuk kejujuran yang dapat dilihat.


Ketika Ucapan dan Perbuatan Berpisah


Perpisahan antara ucapan dan perbuatan adalah salah satu sebab hati kehilangan ketenangan.


Seseorang mungkin dapat meyakinkan banyak manusia dengan kata-kata, tetapi batinnya mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Ia berkata sabar, tetapi cepat marah.


Ia berkata ikhlas, tetapi kecewa ketika tidak dipuji.


Ia berkata memaafkan, tetapi terus mengungkit kesalahan.


Ia berkata ingin menolong, tetapi selalu meminta balasan.


Ia berkata tidak mencintai dunia, tetapi hatinya gelisah ketika kehilangan kedudukan.


Keadaan seperti ini tidak harus membuat seseorang berputus asa.


Namun ia harus berani memperbaikinya.


Jangan sibuk menyusun perkataan yang indah sebelum memperbaiki perbuatan yang nyata.


Jangan menuntut orang lain menjadi baik sebelum menata diri sendiri.


Jangan memerintah manusia untuk hidup sederhana apabila dirimu masih mengambil sesuatu yang bukan hakmu.


Jangan meminta orang lain menghormatimu apabila engkau belum menghormati mereka.


Jangan menuntut kejujuran dari keluarga apabila engkau sendiri suka menyembunyikan kebenaran.


Perubahan yang paling kuat dimulai dari teladan.


Amal Kecil yang Jujur


Banyak manusia menunggu kesempatan besar untuk berbuat baik.


Mereka ingin melakukan sesuatu yang terlihat luar biasa, dikenal banyak orang, atau dipuji sebagai amal yang besar.


Padahal jalan yang lurus sering dibangun melalui amal kecil yang dilakukan dengan jujur.


Mengembalikan barang yang ditemukan.


Menyelesaikan pekerjaan meskipun tidak diawasi.


Membayar utang sesuai kemampuan.


Menepati waktu.


Mengakui kesalahan.


Tidak mengambil bagian yang bukan haknya.


Memberikan informasi yang sebenarnya.


Membantu tanpa memamerkan.


Menutup aib orang lain.


Menyampaikan kabar dengan tepat.


Menjaga kebersihan tempat bersama.


Memperlakukan pekerja, bawahan, pelayan, pedagang kecil, dan orang miskin dengan hormat.


Amal-amal seperti itu mungkin tidak membuat nama seseorang dikenal.


Namun setiap perbuatan yang jujur adalah batu yang memperkuat jalan menuju ridho Alloh.


Jangan meremehkan kebaikan kecil.


Sebab kebaikan kecil yang terus dilakukan dapat membentuk akhlak.


Sedangkan kebaikan besar yang hanya dilakukan demi pujian dapat kehilangan ruhnya.


Kejujuran ketika Tidak Ada yang Melihat


Ukuran kejujuran yang sebenarnya tampak ketika tidak ada manusia yang mengawasi.


Ketika seseorang berada di hadapan banyak orang, ia mungkin menjaga perilakunya.


Namun bagaimana sikapnya ketika sendirian?


Apakah ia tetap menjaga amanah?


Apakah ia tetap menolak kebohongan?


Apakah ia tetap menyelesaikan pekerjaan?


Apakah ia tetap menjaga pandangan?


Apakah ia tetap menolak mengambil sesuatu yang bukan miliknya?


Apakah ia tetap bersikap baik kepada orang yang tidak dapat memberinya keuntungan?


Kejujuran yang bergantung pada pandangan manusia belum sepenuhnya kuat.


Kejujuran yang sejati tumbuh dari kesadaran bahwa Alloh mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi.


Maka janganlah engkau melakukan kebaikan hanya karena dilihat manusia.


Dan janganlah engkau meninggalkan keburukan hanya karena takut diketahui manusia.


Lakukan yang benar karena engkau mengetahui bahwa kebenaran itu dicintai Alloh.


Keadilan Tidak Boleh Dikuasai Kebencian


Jalan yang lurus menuntut keadilan.


Namun keadilan harus dijaga agar tidak berubah menjadi pembalasan.


Ada manusia yang menuntut keadilan, tetapi hatinya dipenuhi kebencian.


Ia tidak lagi ingin memperbaiki keadaan.


Ia hanya ingin melihat orang lain menderita.


Ia tidak lagi mencari kebenaran.


Ia hanya mencari alasan untuk menghukum.


Ketahuilah bahwa keadilan berbeda dari dendam.


Keadilan mengembalikan sesuatu pada tempatnya.


Dendam ingin menambah penderitaan.


Keadilan bertujuan melindungi.


Dendam bertujuan memuaskan amarah.


Keadilan memperhatikan bukti.


Dendam mengikuti prasangka.


Keadilan menjaga batas.


Dendam selalu ingin melampaui batas.


Karena itu, ketika engkau dizalimi, jangan sampai perjuanganmu melawan kezaliman membuatmu berubah menjadi orang yang zalim.


Tegakkan hak tanpa merampas hak orang lain.


Sampaikan kebenaran tanpa menambah kebohongan.


Lindungi dirimu tanpa menyebarkan kebencian.


Ambil jarak apabila diperlukan, tetapi jangan memelihara niat untuk menghancurkan.


Kasih sayang tidak berarti membiarkan kezaliman.


Namun kasih sayang menjaga agar keadilan tidak kehilangan kemanusiaan.


Ketegasan yang Penuh Kasih


Ada saatnya seseorang harus berkata tidak.


Ada saatnya hubungan harus dibatasi.


Ada saatnya amanah harus dicabut.


Ada saatnya kesalahan harus dihentikan.


Ada saatnya seseorang harus melapor kepada pihak yang berwenang.


Ada pula saatnya engkau harus meninggalkan tempat yang terus merusak jiwa, tubuh, dan kehormatanmu.


Semua itu dapat dilakukan tanpa kebencian.


Ketegasan bukan berarti kekasaran.


Batas bukan berarti permusuhan.


Menjauh bukan berarti dendam.


Melindungi diri bukan berarti tidak memiliki kasih sayang.


Kasih sayang yang sehat mengenal batas.


Ia tidak membiarkan seseorang terus menyakiti dengan alasan memaafkan.


Ia tidak membiarkan penipuan berulang dengan alasan ingin menjaga hubungan.


Ia tidak membiarkan kekerasan berlangsung dengan alasan takut dianggap tidak sabar.


Ia tidak menutup kezaliman dengan alasan menjaga nama baik.


Kasih sayang yang benar berusaha menyelamatkan semua pihak dari kerusakan, termasuk menyelamatkan pelaku kesalahan agar tidak terus tenggelam dalam perbuatannya.


Empat Bentuk Keadilan dalam Kehidupan


Pertama: Adil kepada Diri Sendiri


Jangan terlalu memanjakan dirimu hingga kehilangan disiplin.


Namun jangan pula terlalu keras hingga membenci dirimu sendiri.


Tubuh memiliki hak untuk beristirahat.


Pikiran memiliki hak untuk tenang.


Jiwa memiliki hak untuk mendapatkan nasihat yang lembut.


Namun dirimu juga mempunyai tanggung jawab untuk bekerja, belajar, menjaga kesehatan, menunaikan ibadah, dan memperbaiki kesalahan.


Adil kepada diri berarti mengetahui kapan harus beristirahat dan kapan harus bangkit.


Mengetahui kapan harus memaafkan diri dan kapan harus mendisiplinkannya.


Mengetahui kapan harus menunggu dan kapan harus bertindak.


Kedua: Adil kepada Keluarga


Jangan hanya menuntut dipahami tanpa berusaha memahami.


Jangan meminta dihormati tanpa memberikan penghormatan.


Jangan menggunakan usia, kedudukan, penghasilan, atau pengetahuan sebagai alasan untuk menguasai seluruh keputusan.


Dengarkan keluarga.


Berikan kesempatan mereka menjelaskan.


Jangan membandingkan anak dengan anak lain.


Jangan merendahkan pasangan karena kekurangannya.


Jangan mengabaikan orang tua ketika mereka mulai lemah.


Jangan pula menutup mata apabila di dalam keluarga terjadi kekerasan atau ketidakadilan.


Kasih sayang dalam keluarga harus diwujudkan melalui perhatian, komunikasi, batas yang sehat, tanggung jawab, dan perlindungan.


Ketiga: Adil dalam Pekerjaan dan Perdagangan


Bayarlah upah sesuai kesepakatan.


Jangan menunda pembayaran ketika mampu.


Jangan memanfaatkan kebutuhan orang lain untuk menekan mereka secara tidak wajar.


Jangan mencuri waktu kerja.


Jangan mengaku menyelesaikan tugas yang belum dikerjakan.


Jangan mengambil hasil kerja orang lain lalu mengakuinya sebagai milikmu.


Jangan memberikan beban yang tidak seimbang hanya karena seseorang tidak berani menolak.


Pemimpin yang adil tidak hanya menuntut hasil.


Ia juga memperhatikan kemampuan, kesehatan, keselamatan, dan martabat orang yang dipimpinnya.


Pekerja yang jujur tidak hanya hadir ketika diawasi.


Ia menjaga kualitas amanah walaupun tidak dipuji.


Keempat: Adil kepada Orang yang Tidak Disukai


Inilah salah satu ujian terbesar.


Manusia mudah berlaku adil kepada orang yang dicintai.


Namun dapatkah ia tetap jujur ketika menilai orang yang tidak disukai?


Apabila musuhmu berkata benar, akuilah kebenarannya.


Apabila sahabatmu bersalah, jangan menutupi kesalahannya.


Apabila orang yang tidak kau sukai dizalimi, jangan membenarkan kezaliman itu.


Apabila orang yang kau cintai mengambil hak orang lain, jangan membelanya karena kedekatan.


Kebenaran tidak berubah hanya karena siapa yang mengucapkannya.


Kesalahan tidak berubah menjadi benar hanya karena dilakukan oleh orang yang engkau cintai.


Inilah jalan keadilan yang berat, tetapi mulia.


Mengembalikan Hak


Taubat yang berkaitan dengan hak manusia tidak cukup hanya dengan penyesalan di dalam hati.


Hak harus dikembalikan.


Apabila mengambil barang, kembalikan.


Apabila mempunyai utang, bayarlah sesuai kemampuan dan buatlah kesepakatan yang jujur.


Apabila merusak nama baik seseorang, luruskan perkataanmu.


Apabila melakukan fitnah, mintalah maaf dan hentikan penyebarannya.


Apabila mengambil hasil karya, akuilah pemiliknya.


Apabila menahan upah, tunaikan.


Apabila membuat seseorang menunggu karena janji yang tidak ditepati, jelaskan dengan jujur.


Jangan hanya berkata:


“Aku sudah memohon ampun kepada Alloh.”


Sementara hak manusia masih berada di tanganmu.


Memohon ampun adalah pintu.


Mengembalikan hak adalah langkah nyata.


Permintaan maaf tanpa perubahan hanya menjadi ucapan.


Penyesalan tanpa perbaikan belum menyelesaikan amanah.


Ketika Tidak Mampu Memperbaiki Semuanya Sekaligus


Ada orang yang menyadari banyak kesalahan sekaligus.


Ia merasa terlalu berat untuk memperbaiki semuanya.


Lalu ia memilih tidak melakukan apa pun.


Jangan demikian.


Mulailah dari satu perkara yang paling nyata.


Bayarlah satu bagian utang.


Selesaikan satu pekerjaan.


Minta maaf kepada satu orang.


Hentikan satu kebiasaan buruk.


Perbaiki satu janji.


Kembalikan satu titipan.


Kecilnya langkah tidak menjadi masalah selama arahnya benar.


Alloh tidak meminta manusia menjadi sempurna dalam satu malam.


Namun manusia harus menunjukkan kesungguhan untuk berubah.


Jangan menunggu hati benar-benar siap.


Kadang kesiapan tumbuh setelah langkah pertama dilakukan.


Sabdo Lembar Keempat


«“Kejujuran yang tidak diwujudkan dalam perbuatan hanyalah suara. Kasih sayang yang tidak melindungi hak hanyalah perasaan. Jalan lurus menyatukan kebenaran, tindakan, keadilan, dan kelembutan.”»


Wahai jiwa yang sedang berjalan.


Janganlah engkau merasa cukup karena telah memahami banyak nasihat.


Ilmu yang tidak diamalkan dapat menjadi beban.


Perkataan yang tidak diwujudkan dapat menjadi kesaksian atas diri sendiri.


Semakin banyak engkau mengetahui kebenaran, semakin besar tanggung jawab untuk menjaganya.


Tidak perlu melakukan semuanya di hadapan manusia.


Banyak amal terbaik justru tumbuh dalam kesunyian.


Seseorang mengembalikan hak tanpa diumumkan.


Seseorang membantu keluarga tanpa memamerkan.


Seseorang menolak suap walaupun tidak ada yang melihat.


Seseorang meminta maaf dengan rendah hati.


Seseorang berhenti menyebarkan fitnah.


Seseorang menahan tangannya dari mengambil yang bukan haknya.


Itulah cahaya kejujuran dalam perbuatan.


Latihan Amal Nyata Tujuh Hari


Selama tujuh hari, pilihlah satu bentuk kejujuran untuk diwujudkan setiap hari.


Hari pertama: Periksa satu janji yang belum ditepati.


Hari kedua: Selesaikan satu tugas yang selama ini ditunda.


Hari ketiga: Kembalikan satu hak, barang, atau utang sesuai kemampuan.


Hari keempat: Minta maaf atas satu perkataan atau perbuatan yang melukai.


Hari kelima: Lakukan satu kebaikan tanpa memberitahukannya kepada siapa pun.


Hari keenam: Berlaku adil kepada orang yang tidak engkau sukai.


Hari ketujuh: Renungkan perubahan yang terjadi di dalam hati.


Sebelum memulai, bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā ‘Adl — 33 kali

Yā Laṭīf — 33 kali

Yā Hādī — 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, satukanlah perkataanku dengan perbuatanku. Jadikan aku jujur ketika dilihat maupun ketika tersembunyi. Ajarkan aku menegakkan keadilan tanpa kebencian, menjaga batas tanpa kezaliman, serta mengembalikan setiap hak yang masih menjadi tanggunganku. Kuatkanlah langkahku untuk memperbaiki kesalahan dengan tindakan yang nyata.»


Setelah itu, jangan hanya menunggu rasa tenang.


Bangkitlah dan lakukan langkah yang telah dipilih.


Sebab doa yang benar mendorong manusia menuju perbaikan.


Penutup Lembar Keempat


Wahai jiwa yang mencari jalan lurus.


Jangan hanya dikenal sebagai orang yang pandai berkata benar.


Jadilah orang yang dapat dipercaya dalam perbuatan.


Jangan hanya berbicara tentang kasih sayang.


Jadilah tempat yang aman bagi keluarga, sahabat, pekerja, tetangga, dan seluruh makhluk di sekitarmu.


Jangan hanya meminta keadilan bagi dirimu.


Tegakkan pula keadilan bagi orang yang lemah dan tidak mampu membela dirinya.


Jangan hanya menangis ketika mengingat kesalahan.


Perbaikilah akibatnya.


Jangan hanya memohon kelapangan rezeki.


Bersihkan pula jalan rezekimu dari penipuan dan hak manusia.


Jangan hanya ingin dekat kepada Alloh melalui ibadah yang terlihat.


Dekatlah kepada-Nya melalui amanah yang dijaga, janji yang ditepati, hak yang dikembalikan, dan kezaliman yang dihentikan.


Sebab jalan yang lurus bukan hanya jalan perasaan.


Ia adalah jalan keputusan.


Jalan tanggung jawab.


Jalan perbuatan.


Jalan keadilan.


Dan jalan kasih sayang yang tetap menjaga kebenaran.


«“Orang yang lurus bukanlah orang yang tidak pernah bersalah, melainkan orang yang ketika mengetahui kesalahannya, ia berani berhenti, mengakui, memperbaiki, dan mengembalikan hak.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh menjadikan hati kita jujur, lisan kita benar, tangan kita amanah, keputusan kita adil, dan seluruh perbuatan kita dipenuhi kasih sayang serta ridho-Nya.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Kelima


Menjaga Jalan Lurus ketika Disakiti, Dikhianati, dan Diperlakukan Tidak Adil


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang berusaha berjalan menuju ridho Alloh.


Berjalan di atas jalan yang lurus terasa mudah ketika keadaan sedang tenang, manusia memperlakukanmu dengan baik, perkataanmu didengar, dan kebaikanmu dibalas dengan kebaikan.


Namun kekuatan akhlak yang sebenarnya mulai terlihat ketika engkau disakiti.


Ketika perkataanmu disalahpahami.


Ketika kebaikanmu dilupakan.


Ketika kepercayaanmu dikhianati.


Ketika nama baikmu direndahkan.


Ketika hakmu diambil.


Ketika engkau telah berusaha jujur, tetapi justru dituduh berdusta.


Pada saat seperti itulah hati diuji.


Apakah engkau tetap berada di jalan yang lurus?


Ataukah luka membuatmu meninggalkan kejujuran, kasih sayang, dan keadilan?


Jalan yang lurus bukan jalan bagi manusia yang tidak pernah terluka.


Jalan yang lurus adalah jalan bagi manusia yang terluka, tetapi tidak membiarkan luka mengubah dirinya menjadi sumber luka bagi orang lain.


Luka Tidak Boleh Menjadi Guru yang Menyesatkan


Setiap luka membawa pelajaran.


Namun tidak semua pelajaran yang dibisikkan oleh luka harus dipercaya.


Luka dapat berkata:


“Jangan percaya kepada siapa pun.”


Padahal yang benar adalah:


“Belajarlah memberikan kepercayaan dengan bijaksana.”


Luka dapat berkata:


“Balaslah agar mereka merasakan apa yang engkau rasakan.”


Padahal yang benar adalah:


“Lindungilah dirimu dan tempuhlah jalan keadilan tanpa berubah menjadi zalim.”


Luka dapat berkata:


“Semua manusia sama buruknya.”


Padahal yang benar adalah:


“Ada orang yang salah, tetapi tidak semua manusia harus dihukum karena kesalahan satu orang.”


Luka dapat berkata:


“Dirimu tidak berharga.”


Padahal yang benar adalah:


“Perlakuan buruk seseorang tidak menentukan nilai dirimu di hadapan Alloh.”


Maka dengarkan lukamu, tetapi jangan serahkan seluruh arah hidup kepadanya.


Luka harus dirawat.


Luka harus dipahami.


Luka harus disembuhkan.


Namun luka tidak boleh dijadikan pemimpin.


Memaafkan Bukan Berarti Melupakan Pelajaran


Banyak manusia salah memahami makna memaafkan.


Mereka mengira memaafkan berarti harus melupakan seluruh kejadian, membuka kembali kepercayaan seperti semula, membiarkan pelaku mendekat tanpa batas, atau berpura-pura bahwa tidak pernah terjadi kesalahan.


Memaafkan tidak selalu berarti demikian.


Memaafkan adalah melepaskan keinginan untuk membalas dengan kezaliman.


Memaafkan adalah berusaha membersihkan hati dari kebencian yang terus membakar diri.


Memaafkan adalah menyerahkan penghakiman terakhir kepada Alloh sambil tetap menempuh langkah yang benar.


Namun kepercayaan harus dibangun kembali melalui bukti.


Kedekatan membutuhkan keamanan.


Hubungan membutuhkan perubahan.


Janji membutuhkan tindakan.


Seseorang dapat engkau maafkan, tetapi tetap engkau batasi.


Seseorang dapat engkau doakan, tetapi tidak harus engkau izinkan kembali menguasai hidupmu.


Seseorang dapat engkau bebaskan dari dendam di dalam hati, tetapi hak dan tanggung jawab tetap harus diselesaikan.


Jangan memaksa dirimu kembali ke tempat yang membahayakan hanya karena takut dianggap belum memaafkan.


Jangan membiarkan kesalahan berulang hanya karena ingin terlihat memiliki kasih sayang.


Kasih sayang yang sehat tidak memusuhi batas.


Perbedaan antara Memaafkan dan Membiarkan


Memaafkan adalah membersihkan hati.


Membiarkan adalah tidak melakukan apa pun ketika kesalahan terus berlangsung.


Keduanya bukan perkara yang sama.


Apabila seseorang menipumu sekali, engkau dapat memaafkannya.


Namun engkau tetap berhak meminta kejelasan dan pengembalian hak.


Apabila seseorang terus berkata kasar, engkau dapat menjaga hati dari dendam.


Namun engkau juga berhak menghentikan percakapan dan mengambil jarak.


Apabila seseorang melakukan kekerasan, engkau tidak diwajibkan tinggal diam atas nama kesabaran.


Lindungilah keselamatanmu.


Carilah bantuan.


Sampaikan kepada orang yang dapat dipercaya.


Tempuhlah jalan hukum atau perlindungan yang tersedia apabila diperlukan.


Kesabaran bukan berarti menyerahkan diri kepada kezaliman.


Kesabaran adalah menahan diri agar tidak bertindak melampaui batas, sambil tetap memilih tindakan yang benar.


Jangan Membalas Dusta dengan Dusta


Ketika seseorang berdusta tentang dirimu, hati mungkin terdorong untuk membalas dengan membongkar semua kesalahannya.


Ketika seseorang mempermalukanmu, engkau mungkin ingin mempermalukannya kembali.


Ketika seseorang menyebarkan cerita buruk, engkau mungkin ingin menambahkan cerita yang lebih buruk.


Berhentilah sejenak.


Jangan biarkan kesalahan orang lain menentukan akhlakmu.


Apabila engkau membalas fitnah dengan fitnah, maka engkau telah turun ke jalan yang sama.


Apabila engkau membalas penghinaan dengan penghinaan, luka hanya berpindah dari satu hati menuju hati yang lain.


Apabila engkau membalas dusta dengan dusta, kebenaran tidak lagi mempunyai tempat untuk berdiri.


Luruskan yang perlu diluruskan.


Sampaikan bukti.


Bela kehormatanmu dengan cara yang benar.


Namun jangan menambahkan keburukan yang tidak terjadi.


Jangan membuka aib yang tidak berkaitan.


Jangan mengajak orang lain membenci.


Jangan mengubah perjuangan mencari keadilan menjadi pesta penghancuran.


Menjaga Kejujuran ketika Sedang Marah


Marah adalah bagian dari perasaan manusia.


Marah dapat muncul ketika hak dilanggar, ketika ketidakadilan terjadi, atau ketika seseorang yang dicintai disakiti.


Marah tidak selalu menjadi dosa.


Namun kemarahan harus dijaga agar tidak menguasai lisan, tangan, dan keputusan.


Ketika sedang marah, manusia mudah melebihkan cerita.


Ia berkata:


“Engkau selalu begitu.”


Padahal kesalahan itu tidak selalu terjadi.


Ia berkata:


“Tidak pernah ada kebaikan darimu.”


Padahal pernah ada kebaikan yang ia terima.


Ia berkata:


“Semua orang tahu engkau buruk.”


Padahal itu hanya perasaan yang dibesarkan oleh amarah.


Karena itu, jangan mengambil keputusan besar ketika hati sedang terbakar.


Jangan langsung mengirim pesan panjang.


Jangan segera menyebarkan kejadian.


Jangan mengucapkan ancaman.


Jangan membawa nama keluarga, masa lalu, dan seluruh kelemahan seseorang hanya karena satu pertengkaran.


Ambillah jarak.


Tenangkan napas.


Berwudhulah apabila memungkinkan.


Diamlah sampai perkataanmu dapat dikendalikan.


Kemarahan yang ditunda bukan berarti kelemahan.


Ia adalah kekuatan yang sedang diarahkan.


Tiga Jalan ketika Menghadapi Kezaliman


Pertama: Jalan Perlindungan


Apabila keadaan membahayakan tubuh, jiwa, kehormatan, keluarga, atau harta, dahulukan keselamatan.


Keluar dari tempat berbahaya bukanlah bentuk kekalahan.


Meminta pertolongan bukanlah tanda kelemahan iman.


Menyimpan nomor orang tepercaya, mencari tempat aman, berobat, melapor, atau meminta pendampingan adalah bagian dari ikhtiar.


Jangan menunggu keadaan menjadi lebih buruk karena takut dianggap membuka masalah keluarga.


Rahasia tidak boleh dijaga apabila di dalamnya terdapat bahaya yang terus mengancam.


Kedua: Jalan Keadilan


Kumpulkan keterangan dengan jujur.


Pisahkan fakta dari dugaan.


Simpan bukti apabila diperlukan.


Sampaikan kepada pihak yang tepat.


Jangan mengubah jumlah kerugian.


Jangan menambah cerita.


Jangan mengurangi kesalahan hanya karena pelakunya dekat.


Jangan pula membesar-besarkan hanya karena pelakunya dibenci.


Keadilan membutuhkan kejernihan.


Kemarahan boleh menjadi tenaga untuk bergerak, tetapi tidak boleh menjadi penentu kebenaran.


Ketiga: Jalan Pemulihan


Setelah bahaya dihentikan dan hak diperjuangkan, hati juga membutuhkan pemulihan.


Tidak semua luka sembuh hanya karena perkara telah selesai.


Tubuh mungkin masih tegang.


Pikiran masih mengulang kejadian.


Tidur masih terganggu.


Hati masih sulit percaya.


Berilah waktu.


Berbicaralah kepada orang yang dapat dipercaya.


Carilah bantuan yang tepat apabila luka terasa berat.


Jangan memaksa dirimu terlihat kuat.


Penyembuhan bukan perlombaan.


Setiap jiwa mempunyai waktu yang berbeda untuk kembali tenang.


Jangan Menjadikan Diri Sendiri sebagai Terdakwa Selamanya


Orang yang disakiti sering menyalahkan dirinya sendiri.


Ia berkata:


“Mungkin aku terlalu bodoh.”


“Mungkin aku pantas menerima ini.”


“Seharusnya aku mengetahui sejak awal.”


Ketahuilah bahwa kelalaian dapat menjadi pelajaran, tetapi kezaliman tetap menjadi tanggung jawab pelakunya.


Engkau dapat mengakui bahwa dahulu kurang berhati-hati.


Engkau dapat memperbaiki batas.


Engkau dapat belajar membaca keadaan.


Namun jangan mengambil seluruh dosa orang lain lalu meletakkannya di pundakmu.


Tidak semua pengkhianatan terjadi karena engkau kurang baik.


Tidak semua penipuan terjadi karena engkau lemah.


Tidak semua kekerasan terjadi karena engkau memancingnya.


Pelaku tetap bertanggung jawab atas tindakannya.


Sedangkan tanggung jawabmu adalah melindungi diri, belajar, memulihkan hati, dan tidak mengulang jalan yang sama.


Ketika Tidak Mendapatkan Permintaan Maaf


Ada luka yang tidak pernah mendapat permintaan maaf.


Ada orang yang pergi tanpa mengakui kesalahan.


Ada pelaku yang merasa benar.


Ada pengkhianat yang hidup seolah-olah tidak pernah berbuat apa-apa.


Apakah engkau harus menunggu mereka berubah agar dapat melanjutkan hidup?


Tidak.


Ketenanganmu tidak boleh seluruhnya digantungkan pada kesadaran orang lain.


Engkau boleh berharap mereka meminta maaf.


Engkau boleh memperjuangkan hakmu.


Namun jangan menunda seluruh kehidupan hanya karena orang lain belum bertanggung jawab.


Kadang penutupan tidak datang dari pengakuan pelaku.


Penutupan datang ketika engkau berkata:


“Aku mengetahui apa yang terjadi.”


“Aku tidak akan menyangkal lukaku.”


“Aku telah belajar.”


“Aku akan melindungi diriku.”


“Aku tidak akan membiarkan kejadian itu menguasai seluruh masa depanku.”


“Aku menyerahkan perkara yang tidak mampu kuselesaikan kepada keadilan Alloh.”


Kasih Sayang kepada Diri setelah Terluka


Kasih sayang kepada diri tidak hanya berupa kata-kata penghiburan.


Ia juga berupa tindakan.


Tidurlah dengan cukup.


Makanlah dengan teratur.


Jagalah tubuh.


Batasi pertemuan yang membuatmu terus tertekan.


Jangan membaca ulang pesan yang menyakitkan sepanjang malam.


Jangan memeriksa kehidupan orang yang melukaimu setiap saat.


Jangan terus mencari penjelasan dari orang yang tidak mau jujur.


Alihkan tenaga kepada pemulihan.


Kembalilah kepada pekerjaan.


Kembalilah kepada keluarga yang menyayangimu.


Kembalilah kepada doa yang menenangkan.


Kembalilah kepada rutinitas kecil yang membuat hidupmu tertata.


Jiwa yang terluka membutuhkan kelembutan.


Namun ia juga membutuhkan arah.


Jangan biarkan kesedihan menjadi rumah permanen.


Beristirahatlah di dalamnya, pahamilah, kemudian perlahan berjalan keluar.


Sabdo Lembar Kelima


«“Jangan izinkan orang yang menyakitimu menentukan siapa dirimu setelah luka itu terjadi. Jagalah kejujuran, pertahankan batas, tempuhlah keadilan, dan jangan ubah luka menjadi alasan untuk menzalimi.”»


Wahai jiwa yang sedang berusaha pulih.


Engkau tidak harus berpura-pura tidak sakit.


Engkau tidak harus segera memaafkan sebelum memahami apa yang terjadi.


Engkau tidak harus kembali dekat hanya karena seseorang berkata menyesal.


Lihatlah perubahannya.


Lihatlah tanggung jawabnya.


Lihatlah kesungguhannya mengembalikan hak dan memperbaiki akibat.


Permintaan maaf yang benar tidak menuntut korban segera melupakan.


Permintaan maaf yang benar bersedia menerima batas.


Permintaan maaf yang benar tidak menyalahkan keadaan.


Permintaan maaf yang benar diikuti perubahan.


Apabila perubahan tidak ada, tetaplah berhati-hati.


Kasih sayang tidak melarangmu menggunakan akal.


Latihan Melepaskan Beban Hati


Lakukan latihan ini pada waktu yang tenang.


Duduklah dengan nyaman.


Tarik napas perlahan.


Jangan memaksa mengingat kejadian terlalu dalam apabila membuatmu sangat terguncang.


Bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā Salām — 33 kali

Yā Laṭīf — 33 kali

Yā Ḥakam — 33 kali

Yā ‘Adl — 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, Engkau mengetahui luka yang tampak dan yang kusembunyikan. Lindungilah aku dari kezaliman, kuatkan aku menegakkan batas, dan tuntun aku mencari keadilan tanpa melampaui batas. Bersihkan hatiku dari dendam yang menghancurkan, tetapi jangan hilangkan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman. Kembalikan ketenangan, keberanian, kehormatan, serta kemampuanku mempercayai kehidupan dengan hati-hati dan benar.»


Setelah itu, tuliskan empat perkara:


Apa yang benar-benar terjadi?


Hak atau batas apa yang telah dilanggar?


Langkah perlindungan apa yang perlu dilakukan?


Beban apa yang harus berhenti kubawa?


Pisahkan antara kenyataan, ketakutan, dan dugaan.


Kenyataan harus dihadapi.


Ketakutan perlu ditenangkan.


Dugaan perlu diperiksa.


Jangan campurkan semuanya hingga hati kehilangan arah.


Tanda Hati Mulai Pulih


Pemulihan tidak selalu ditandai dengan hilangnya seluruh ingatan.


Terkadang kejadian masih diingat, tetapi tidak lagi menguasai tubuh dan pikiran.


Tandanya antara lain:


Engkau dapat menceritakan kejadian tanpa kehilangan kendali.


Engkau tidak lagi terus menyalahkan diri.


Engkau mampu menetapkan batas tanpa rasa bersalah berlebihan.


Engkau tidak lagi ingin membalas dengan kezaliman.


Engkau dapat melihat masa depan tanpa selalu merasa terancam.


Engkau kembali menikmati hal-hal sederhana.


Engkau mampu mempercayai manusia secara bertahap, bukan secara buta.


Engkau belajar dari masa lalu tanpa tinggal di dalamnya.


Itulah tanda bahwa luka mulai berubah menjadi hikmah.


Penutup Lembar Kelima


Wahai jiwa yang sedang berjuang menjaga jalan lurus.


Ketika engkau disakiti, jangan kehilangan dirimu.


Ketika dikhianati, jangan kehilangan seluruh kepercayaan kepada kehidupan.


Ketika direndahkan, jangan merendahkan orang lain agar merasa tinggi.


Ketika dizalimi, jangan menjadikan kezaliman sebagai bahasa balasan.


Lindungilah dirimu.


Perjuangkan hakmu.


Tetapkan batasmu.


Carilah pertolongan.


Pulihkan hatimu.


Namun tetaplah menjaga kejujuran.


Sebab kebohongan tidak akan menyembuhkan kebohongan.


Kebencian tidak akan menyembuhkan kebencian.


Kekerasan tidak akan menyembuhkan kekerasan.


Hanya kebenaran, perlindungan, keadilan, waktu, pertolongan, dan kasih sayang yang dapat menuntun jiwa keluar dari kegelapan luka.


Jangan merasa gagal hanya karena masih menangis.


Air mata tidak selalu menjadi tanda kelemahan.


Kadang ia adalah cara hati membersihkan beban yang terlalu lama dipendam.


Namun setelah air mata turun, bangkitlah perlahan.


Jalan lurus masih terbuka.


Masa depanmu tidak berhenti pada perlakuan buruk seseorang.


Dan nilai dirimu tidak berkurang hanya karena ada manusia yang gagal menghargaimu.


«“Memaafkan membersihkan hati, batas melindungi kehidupan, keadilan mengembalikan hak, dan kasih sayang menjaga agar luka tidak melahirkan kezaliman baru.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh melindungi kita dari kezaliman, menguatkan jiwa yang terluka, menuntun setiap langkah menuju keadilan, serta mengembalikan kedamaian tanpa menghilangkan kebijaksanaan.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Keenam


Menjaga Kejujuran ketika Memegang Amanah, Kekuasaan, dan Kepercayaan


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang menempuh jalan lurus.


Tidak semua ujian datang dalam bentuk kesusahan.


Ada ujian yang datang dalam bentuk kepercayaan.


Ada ujian yang datang dalam bentuk jabatan.


Ada ujian yang datang dalam bentuk ilmu.


Ada ujian yang datang dalam bentuk kekayaan.


Ada pula ujian yang datang ketika banyak manusia mulai mendengar perkataanmu, mengikuti keputusanmu, mempercayai namamu, dan menyerahkan sebagian urusannya kepadamu.


Pada saat seseorang belum memiliki kekuasaan, ia mudah berbicara tentang keadilan.


Namun setelah kekuasaan berada di tangannya, barulah terlihat apakah perkataannya benar-benar hidup di dalam akhlaknya.


Pada saat seseorang belum memiliki harta, ia mudah berkata bahwa kekayaan tidak penting.


Namun setelah harta berada di tangannya, barulah terlihat apakah ia tetap jujur, sederhana, dan peduli terhadap orang yang membutuhkan.


Pada saat seseorang belum dikenal, ia mudah berkata bahwa dirinya tidak mencari pujian.


Namun setelah banyak manusia memujinya, barulah terlihat apakah ia tetap rendah hati atau mulai merasa dirinya lebih mulia.


Karena itu, amanah bukan hanya kehormatan.


Amanah adalah ujian.


Amanah adalah Sesuatu yang Harus Dikembalikan


Segala sesuatu yang berada di tangan manusia hanyalah titipan.


Tubuh adalah titipan.


Waktu adalah titipan.


Ilmu adalah titipan.


Harta adalah titipan.


Anak dan keluarga adalah titipan.


Jabatan adalah titipan.


Kepercayaan orang lain adalah titipan.


Bahkan kemampuan berbicara, menulis, memimpin, mengobati, mengajar, dan menenangkan manusia juga merupakan titipan yang kelak dimintai pertanggungjawaban.


Jangan menganggap amanah sebagai milik yang dapat digunakan sesuka hati.


Sebab sesuatu yang dititipkan harus dijaga, dipergunakan dengan benar, dan dikembalikan dalam keadaan tidak dirusak.


Orang yang memahami amanah tidak akan mudah menyombongkan kedudukan.


Ia mengetahui bahwa semua dapat berpindah.


Hari ini ia dipercaya.


Besok kepercayaan itu dapat dicabut.


Hari ini ia dipuji.


Besok namanya dapat dilupakan.


Hari ini ia memimpin.


Besok ia dapat kembali menjadi orang biasa.


Maka jangan membangun harga diri hanya dari kedudukan yang sementara.


Bangunlah kemuliaan melalui akhlak yang tetap hidup ketika seluruh gelar telah hilang.


Kejujuran dalam Memegang Kepercayaan


Ketika seseorang mempercayaimu, ia sedang menyerahkan sebagian rasa amannya kepadamu.


Jangan mengkhianati rasa aman itu.


Apabila seseorang menitipkan harta, jagalah.


Apabila seseorang menitipkan rahasia, lindungilah.


Apabila seseorang menitipkan pekerjaan, selesaikanlah.


Apabila seseorang menitipkan anak, keluarga, atau orang yang lemah, perlakukanlah dengan penuh tanggung jawab.


Apabila seseorang meminta nasihat, jangan menyesatkannya demi keuntungan pribadi.


Apabila seseorang datang dalam keadaan bingung, jangan memanfaatkan ketakutannya.


Jangan mengambil uang, kehormatan, atau ketaatan manusia dengan membangun ketergantungan yang tidak sehat.


Jangan membuat seseorang merasa bahwa keselamatannya sepenuhnya berada di tanganmu.


Jangan menjadikan pengetahuan, doa, gelar, atau kemampuan tertentu sebagai alat untuk menguasai hati manusia.


Arahkanlah manusia kepada Alloh, kepada doa yang benar, ikhtiar yang sehat, akal yang jernih, serta bantuan yang tepat.


Sebab orang yang memegang amanah bukan pemilik jiwa manusia.


Ia hanya penjaga sementara yang harus membantu orang lain berdiri dengan lebih kuat.


Bahaya ketika Manusia Mulai Merasa Istimewa


Salah satu penyakit paling halus dalam perjalanan batin adalah merasa diri istimewa.


Perasaan itu dapat tumbuh perlahan.


Awalnya seseorang hanya menerima penghormatan.


Kemudian ia mulai menyukainya.


Setelah itu ia merasa harus selalu dihormati.


Lalu ia tidak lagi menerima pertanyaan.


Ia marah ketika dikoreksi.


Ia menganggap setiap perbedaan sebagai pembangkangan.


Ia mengira semua orang yang menjauh adalah musuh.


Ia merasa bahwa dirinya mempunyai hak khusus yang tidak dimiliki orang lain.


Ketahuilah bahwa kedekatan kepada Alloh tidak pernah menjadikan seseorang bebas dari adab, tanggung jawab, dan koreksi.


Semakin tinggi amanah, semakin besar kewajiban untuk merendahkan hati.


Semakin banyak pengikut, semakin besar kewajiban untuk berhati-hati dalam berbicara.


Semakin luas pengaruh, semakin besar bahaya apabila seseorang menggunakan namanya untuk menutupi kesalahan.


Jangan merasa bahwa karena engkau pernah menolong orang lain, maka seluruh keputusanmu pasti benar.


Jangan merasa bahwa karena doamu pernah menenangkan seseorang, maka semua nasihatmu selalu tepat.


Jangan merasa bahwa karena orang lain memanggilmu guru, pemimpin, sesepuh, atau orang yang berilmu, maka engkau tidak lagi membutuhkan nasihat.


Manusia tetap manusia.


Ia dapat benar.


Ia dapat salah.


Ia dapat jernih.


Ia dapat lelah.


Ia dapat ikhlas.


Ia juga dapat tergoda oleh pujian.


Karena itu, tetaplah memohon perlindungan kepada Alloh dari kesombongan yang tidak disadari.


Tanda Amanah Mulai Berubah Menjadi Kekuasaan yang Merusak


Periksalah dirimu apabila mulai mengalami keadaan berikut:


Engkau tidak suka ketika seseorang bertanya.


Engkau merasa orang yang berbeda pendapat pasti tidak beradab.


Engkau menggunakan rasa takut agar manusia tetap patuh.


Engkau membicarakan rahasia seseorang untuk mempertahankan pengaruh.


Engkau membuat orang merasa bersalah ketika tidak memenuhi keinginanmu.


Engkau meminta penghormatan lebih besar daripada tanggung jawab yang engkau berikan.


Engkau mudah menerima hadiah, tetapi sulit menerima kritik.


Engkau memakai nama Alloh untuk menguatkan kepentingan pribadi.


Engkau menganggap semua keberhasilan berasal dari dirimu, tetapi setiap kegagalan selalu menjadi kesalahan orang lain.


Apabila tanda-tanda itu mulai muncul, berhentilah.


Jangan buru-buru membela diri.


Jangan segera menyalahkan orang yang mengingatkan.


Duduklah dalam keheningan.


Periksa niat.


Periksa cara memperlakukan orang.


Periksa apakah amanah telah berubah menjadi keinginan untuk menguasai.


Sebab banyak kerusakan bermula ketika seseorang tidak lagi dapat membedakan antara menjaga amanah dan mempertahankan kekuasaan.


Pemimpin yang Jujur


Pemimpin yang jujur tidak hanya pandai memberi perintah.


Ia bersedia mendengar.


Ia tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan orang yang paling dekat dengannya.


Ia tidak membela keluarga dan sahabat ketika mereka melakukan kesalahan.


Ia tidak menghukum seseorang hanya karena tidak disukai.


Ia berani berkata:


“Aku belum mengetahui.”


Ia juga berani berkata:


“Keputusanku dahulu kurang tepat.”


Ia tidak takut meminta maaf kepada orang yang dipimpinnya.


Ia tidak merasa harga dirinya jatuh karena mengakui kesalahan.


Sebaliknya, pengakuan yang jujur justru memperkuat kepercayaan.


Pemimpin yang baik tidak membangun ketergantungan.


Ia membangun kemampuan.


Ia tidak membuat semua urusan hanya dapat berjalan melalui dirinya.


Ia menyiapkan orang lain untuk memahami, belajar, bertanggung jawab, dan tumbuh.


Ia tidak takut apabila orang yang dipimpinnya menjadi pandai.


Ia tidak merasa terancam apabila orang lain memiliki gagasan yang lebih baik.


Sebab tujuan kepemimpinan bukan membuat nama pemimpin semakin besar.


Tujuannya adalah membuat amanah terlaksana dan kehidupan banyak orang menjadi lebih baik.


Amanah dalam Ilmu dan Nasihat


Ilmu yang disampaikan kepada manusia harus dijaga dengan kejujuran.


Jangan mengaku mengetahui perkara yang sebenarnya tidak diketahui.


Jangan membuat jawaban hanya karena takut terlihat tidak mampu.


Jangan membungkus dugaan sebagai kepastian.


Jangan menyampaikan pengalaman pribadi seolah-olah menjadi aturan yang berlaku bagi semua manusia.


Apabila perkara membutuhkan ahli, arahkanlah kepada ahlinya.


Apabila seseorang sakit, jangan melarangnya berobat.


Apabila seseorang mengalami tekanan berat, jangan hanya menyuruhnya bersabar tanpa membantu mencari perlindungan dan pertolongan yang tepat.


Apabila ada masalah hukum, keuangan, kesehatan, atau keselamatan, jangan memberikan kepastian di luar kemampuan dan pengetahuanmu.


Katakanlah dengan jujur:


“Perkara ini perlu diperiksa oleh orang yang lebih ahli.”


Kejujuran seperti itu bukan tanda kekurangan ilmu.


Itulah tanda amanah.


Orang yang tidak mengetahui batas ilmunya dapat membahayakan banyak manusia.


Sedangkan orang yang mengetahui batas ilmunya sedang menjaga dirinya dan orang lain dari kesalahan.


Amanah dalam Menerima Harta dan Pemberian


Harta dapat menjadi ujian yang sangat halus.


Ketika manusia memberi karena rasa terima kasih, jagalah hati agar tidak berubah menjadi tuntutan.


Jangan membuat seseorang merasa bahwa pertolongan hanya dapat diperoleh apabila ia membayar.


Jangan menjanjikan hasil yang tidak dapat dipastikan.


Jangan memakai ketakutan manusia terhadap penyakit, musibah, jodoh, rezeki, atau masa depan untuk mengambil keuntungan.


Jangan menyatakan bahwa suatu pemberian pasti membuka nasib, mengubah takdir, atau menjamin keselamatan.


Segala hasil berada dalam ketetapan Alloh dan berkaitan pula dengan ikhtiar, keadaan, serta banyak perkara yang tidak berada dalam kuasa manusia.


Apabila menerima upah, jelaskan layanan dengan jujur.


Apabila menerima titipan dana, catat dengan jelas.


Apabila mengelola harta bersama, berikan laporan.


Jangan mencampurkan uang amanah dengan kepentingan pribadi tanpa penjelasan.


Jangan menunda pengembalian apabila amanah telah selesai.


Jangan menganggap kecil uang orang miskin.


Bagi orang berada, suatu jumlah mungkin terlihat ringan.


Namun bagi orang lain, uang itu dapat berasal dari pengorbanan yang besar.


Maka jagalah setiap harta seolah-olah engkau akan segera dimintai pertanggungjawaban.


Kasih Sayang kepada Orang yang Dipimpin


Kasih sayang dalam kepemimpinan bukan hanya berkata lembut.


Kasih sayang berarti tidak memberikan beban yang melampaui kemampuan.


Kasih sayang berarti memberi waktu istirahat.


Kasih sayang berarti memahami keadaan keluarga dan kesehatan.


Kasih sayang berarti menegur secara pribadi apabila kesalahan tidak perlu diketahui banyak orang.


Kasih sayang berarti tidak menjadikan kelemahan seseorang sebagai bahan lelucon.


Kasih sayang berarti memberi kesempatan memperbaiki diri.


Namun kasih sayang juga tetap memiliki batas.


Apabila seseorang terus mengulang pengkhianatan, amanah dapat dicabut.


Apabila seseorang membahayakan banyak orang, ia harus dihentikan.


Apabila seseorang menolak setiap perbaikan, pemimpin harus melindungi kelompok dari kerusakan yang lebih besar.


Mencabut amanah tidak selalu berarti membenci.


Kadang itulah bentuk perlindungan.


Namun lakukan dengan bukti, kejelasan, dan keadilan.


Jangan menjatuhkan seseorang hanya berdasarkan kabar yang belum diperiksa.


Jangan mengambil keputusan ketika sedang dikuasai amarah.


Dengarkan semua pihak sebelum menentukan langkah.


Kejujuran kepada Orang yang Berbeda Pendapat


Perbedaan tidak selalu berarti permusuhan.


Dua orang dapat sama-sama menginginkan kebaikan, tetapi melihat jalan yang berbeda.


Jangan menuduh niat seseorang hanya karena ia tidak menyetujui pendapatmu.


Jangan berkata bahwa semua orang yang berbeda adalah iri, dengki, atau ingin menjatuhkan.


Kadang mereka benar-benar melihat sesuatu yang belum engkau lihat.


Kadang kritik datang dengan cara yang kurang lembut, tetapi tetap mengandung kebenaran.


Pisahkan cara penyampaian dari isi pesannya.


Cara yang kasar dapat ditolak.


Namun kebenaran di dalamnya tetap perlu diperiksa.


Jangan menutup telinga hanya karena engkau tidak menyukai orang yang berbicara.


Dan jangan menerima semua perkataan hanya karena datang dari orang yang engkau cintai.


Timbanglah dengan adil.


Kebenaran bukan milik kelompok tertentu.


Kesalahan juga dapat muncul dari orang yang dekat.


Sabdo Lembar Keenam


«“Amanah tidak mengangkat manusia untuk berdiri di atas orang lain. Amanah menempatkannya di depan agar ia menjadi orang pertama yang bertanggung jawab dan orang terakhir yang mengambil keuntungan.”»


Wahai pemegang amanah.


Jangan meminta pelayanan yang tidak engkau berikan.


Jangan meminta kesetiaan yang tidak engkau balas dengan keadilan.


Jangan meminta kejujuran apabila dirimu menyembunyikan banyak perkara.


Jangan meminta manusia berkorban sementara engkau selalu memilih bagian yang paling nyaman.


Seorang pemimpin harus bersedia menanggung beban.


Seorang guru harus bersedia terus belajar.


Seorang penasihat harus bersedia dikoreksi.


Seorang penjaga amanah harus bersedia diperiksa.


Jangan takut terhadap keterbukaan yang benar.


Catatan yang jelas tidak merendahkan kehormatan.


Laporan yang jujur tidak mengurangi kewibawaan.


Musyawarah tidak melemahkan kepemimpinan.


Justru semua itu melindungi amanah dari prasangka dan penyalahgunaan.


Ketika Amanah Terlalu Berat


Ada saatnya amanah menjadi terlalu berat.


Tubuh melemah.


Pikiran tidak lagi jernih.


Keadaan keluarga membutuhkan perhatian.


Kemampuan tidak lagi cukup.


Pada saat seperti itu, jangan mempertahankan kedudukan hanya karena takut kehilangan penghormatan.


Mengurangi tanggung jawab dapat menjadi kejujuran.


Meminta bantuan dapat menjadi kebijaksanaan.


Menyerahkan sebagian amanah kepada orang yang lebih mampu dapat menjadi bentuk kasih sayang.


Tidak semua hal harus engkau kerjakan sendiri.


Jangan menjadikan kelelahan sebagai bukti pengorbanan apabila akhirnya banyak amanah terbengkalai.


Alloh tidak memerintahkan manusia menjadi pusat seluruh urusan.


Bangunlah kerja sama.


Bagilah tugas.


Ajarkan tanggung jawab.


Berikan kepercayaan kepada orang yang layak.


Namun tetap lakukan pengawasan yang sehat.


Ketika waktunya tiba untuk berhenti, berhentilah dengan terhormat.


Jangan merusak amanah hanya karena tidak rela melihat orang lain menggantikan tempatmu.


Latihan Muhasabah bagi Pemegang Amanah


Pada malam yang tenang, duduklah dan periksalah amanah yang berada di tanganmu.


Bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā Amīn — 33 kali

Yā ‘Adl — 33 kali

Yā Ḥakīm — 33 kali

Yā Laṭīf — 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, jangan biarkan amanah berubah menjadi kesombongan di dalam diriku. Jaga aku dari penyalahgunaan kepercayaan, harta, ilmu, jabatan, dan pengaruh. Tunjukkan kesalahanku sebelum kesalahan itu merusak orang lain. Berikan keberanian untuk mengakui kekurangan, memperbaiki keputusan, mengembalikan hak, dan menyerahkan amanah ketika aku tidak lagi mampu menjaganya dengan baik.»


Setelah itu, jawab dengan jujur:


Amanah apa saja yang sedang berada di tanganku?


Siapa yang dapat dirugikan apabila aku tidak menjaganya?


Apakah ada hak, laporan, janji, atau pekerjaan yang belum kuselesaikan?


Apakah aku masih dapat menerima kritik?


Apakah aku sedang melayani amanah atau justru memakai amanah untuk melayani egoku?


Langkah perbaikan apa yang harus kulakukan mulai sekarang?


Jangan hanya menjawab dengan kata-kata.


Tentukan tindakan.


Buat laporan.


Selesaikan tanggung jawab.


Minta maaf.


Kembalikan hak.


Bagikan tugas.


Atau lepaskan kedudukan apabila itulah jalan yang paling benar.


Tanda Amanah Dijaga dengan Lurus


Amanah yang dijaga dengan benar akan melahirkan beberapa tanda.


Orang yang berada di sekitarmu merasa aman untuk menyampaikan kebenaran.


Keputusan tidak hanya menguntungkan orang terdekat.


Harta dan urusan dapat diperiksa dengan jelas.


Kesalahan tidak disembunyikan.


Kritik tidak selalu dianggap sebagai serangan.


Orang yang lemah tidak takut berbicara.


Tidak ada ancaman untuk memaksa ketaatan.


Tidak ada janji palsu untuk mempertahankan pengaruh.


Pemimpin tetap hidup sederhana.


Orang yang belajar darinya semakin mandiri, bukan semakin bergantung.


Ketika ia tidak hadir, kebaikan tetap berjalan.


Itulah tanda bahwa amanah telah dibangun di atas sistem yang sehat, bukan hanya di atas nama seseorang.


Penutup Lembar Keenam


Wahai jiwa yang menerima kepercayaan.


Jangan mabuk oleh penghormatan.


Jangan tertipu oleh banyaknya pujian.


Jangan merasa besar hanya karena banyak orang mendengarkan.


Sebab banyaknya manusia yang mengikutimu bukan bukti bahwa setiap langkahmu benar.


Kebenaran harus terus diperiksa.


Niat harus terus dibersihkan.


Keputusan harus terus ditimbang.


Hak manusia harus terus dijaga.


Ingatlah bahwa orang yang paling mulia dalam memegang amanah bukanlah orang yang paling banyak dilayani.


Ia adalah orang yang paling banyak menjaga, mendengar, bertanggung jawab, dan bersedia memperbaiki kesalahan.


Jangan gunakan kekuasaan untuk membungkam.


Gunakanlah untuk melindungi.


Jangan gunakan ilmu untuk menguasai.


Gunakanlah untuk menerangi.


Jangan gunakan harta untuk membeli penghormatan.


Gunakanlah untuk menunaikan hak dan menolong kehidupan.


Jangan gunakan kepercayaan untuk membangun ketergantungan.


Gunakanlah untuk membantu manusia menjadi lebih kuat, lebih jernih, dan lebih dekat kepada Alloh.


«“Kejujuran menjaga amanah dari pengkhianatan, keadilan menjaga kekuasaan dari kezaliman, dan kasih sayang menjaga kepemimpinan agar tetap memiliki hati.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh menjadikan kita pemegang amanah yang jujur, pemimpin yang adil, penasihat yang rendah hati, penjaga kepercayaan yang bertanggung jawab, serta manusia yang tetap lembut meskipun memiliki kekuasaan.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Ketujuh


Menjaga Kejujuran dalam Rezeki, Kekurangan, dan Kelapangan Hidup


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang berjalan menuju ridho Alloh.


Rezeki adalah salah satu medan terbesar untuk menguji kejujuran manusia.


Ketika hidup sempit, manusia diuji oleh rasa takut.


Ketika hidup lapang, manusia diuji oleh rasa cukup.


Ketika kebutuhan mendesak, manusia diuji agar tidak mengambil jalan yang batil.


Ketika harta bertambah, manusia diuji agar tidak melupakan orang lain.


Banyak manusia mampu berbicara tentang kejujuran ketika semua kebutuhannya terpenuhi.


Namun ketika keluarga membutuhkan makanan, utang menumpuk, pekerjaan sulit diperoleh, dan pertolongan terasa jauh, barulah terlihat seberapa kuat kejujuran itu berakar di dalam hati.


Demikian pula, banyak manusia dapat hidup sederhana ketika belum memiliki kekayaan.


Namun ketika rezeki terbuka, kedudukan naik, rumah menjadi besar, dan banyak orang mulai menghormati, barulah terlihat apakah hatinya tetap lembut atau berubah menjadi sombong.


Karena itu, kemiskinan dan kekayaan sama-sama ujian.


Keduanya dapat menjadi jalan menuju ridho Alloh apabila dijalani dengan jujur, sabar, adil, dan penuh kasih sayang.


Rezeki Bukan Hanya Uang


Banyak manusia mengira rezeki hanya berupa harta.


Padahal rezeki mempunyai banyak bentuk.


Kesehatan adalah rezeki.


Waktu adalah rezeki.


Keluarga yang baik adalah rezeki.


Teman yang jujur adalah rezeki.


Pikiran yang tenang adalah rezeki.


Kemampuan bekerja adalah rezeki.


Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki.


Kesempatan bertobat adalah rezeki.


Terhindar dari keputusan buruk juga merupakan rezeki.


Ada orang yang memiliki banyak uang, tetapi tidak mempunyai ketenangan.


Ada yang mempunyai rumah besar, tetapi keluarganya dipenuhi pertengkaran.


Ada yang dikenal banyak manusia, tetapi hidupnya dikuasai rasa takut kehilangan pujian.


Ada pula orang yang hidup sederhana, tetapi dapat tidur dengan tenang, makan dengan penuh syukur, dan dikelilingi manusia yang tulus.


Maka jangan mengukur seluruh nilai kehidupan hanya melalui jumlah harta.


Harta penting untuk memenuhi kebutuhan, menjaga keluarga, menunaikan kewajiban, dan membantu sesama.


Namun harta bukan ukuran tunggal kemuliaan.


Yang lebih penting adalah dari mana harta itu diperoleh, bagaimana ia dipergunakan, dan apakah ia membuat hati semakin dekat atau semakin jauh dari Alloh.


Ketika Kekurangan Menekan Kejujuran


Kekurangan dapat membuat hati merasa terdesak.


Dalam keadaan seperti itu, pikiran dapat membisikkan:


“Sedikit berbohong tidak apa-apa.”


“Semua orang juga melakukannya.”


“Aku hanya mengambil sedikit.”


“Nanti akan kukembalikan.”


“Keadaan memaksaku.”


Berhati-hatilah terhadap bisikan seperti itu.


Kesulitan memang berat.


Namun kesulitan tidak menjadikan yang batil berubah menjadi halal.


Jangan mengambil harta orang lain tanpa izin.


Jangan memalsukan keterangan.


Jangan menipu orang yang sedang lengah.


Jangan menjual barang dengan menyembunyikan kerusakannya.


Jangan menggunakan nama agama, doa, atau pertolongan ruhani untuk menjanjikan hasil yang tidak pasti.


Jangan membuat ketakutan palsu agar orang memberikan uang.


Jangan menjadikan kebutuhan sebagai pembenaran untuk mengkhianati amanah.


Apabila sedang kesulitan, mintalah pertolongan dengan jujur.


Katakan kebutuhan sebagaimana adanya.


Jangan menambah-nambahkan penderitaan.


Jangan mengarang penyakit.


Jangan mengaku tidak mempunyai apa-apa apabila sebenarnya masih memiliki simpanan yang disembunyikan.


Pertolongan yang diperoleh melalui kejujuran membawa ketenangan.


Sedangkan pertolongan yang diperoleh melalui kebohongan akan membuat hati terus takut terbongkar.


Meminta Pertolongan Bukan Kehinaan


Ada manusia yang memilih berbohong karena malu meminta pertolongan.


Ia ingin terlihat kuat.


Ia ingin dianggap mampu.


Ia tidak ingin orang lain mengetahui bahwa hidupnya sedang sempit.


Ketahuilah bahwa meminta pertolongan dengan jujur bukanlah kehinaan.


Manusia diciptakan saling membutuhkan.


Hari ini engkau menerima bantuan.


Besok mungkin engkau menjadi penolong bagi orang lain.


Yang harus dijaga adalah adab.


Jelaskan kebutuhan dengan benar.


Jangan memaksa.


Jangan membuat orang merasa berdosa apabila tidak mampu membantu.


Jangan menjanjikan pengembalian pada waktu tertentu apabila belum yakin dapat menepatinya.


Apabila menerima pinjaman, catatlah.


Apabila menerima bantuan, ucapkan terima kasih.


Apabila keadaan membaik, ingatlah orang yang pernah menolongmu.


Dan apabila belum mampu membalas, doakanlah serta jagalah amanah dengan sungguh-sungguh.


Orang yang menerima bantuan tidak menjadi rendah.


Orang yang mengkhianati bantuanlah yang merendahkan dirinya sendiri.


Utang dan Kejujuran


Utang merupakan amanah yang berat.


Jangan berutang hanya untuk mempertahankan gaya hidup.


Jangan membeli sesuatu yang tidak diperlukan hanya agar terlihat setara dengan orang lain.


Jangan menghilang ketika waktu pembayaran tiba.


Jangan menutup komunikasi.


Jangan membuat janji palsu berulang kali.


Apabila belum mampu membayar, bicaralah dengan jujur.


Jelaskan keadaan tanpa berlebihan.


Bayarlah sedikit demi sedikit apabila memungkinkan.


Tunjukkan kesungguhan.


Jangan menunggu mempunyai jumlah besar apabila bagian kecil sudah dapat diberikan.


Orang yang memberi pinjaman juga harus menjaga kasih sayang.


Jangan mempermalukan orang yang benar-benar sedang kesulitan.


Jangan menyebarkan utangnya kepada banyak orang.


Jangan mengancam keluarganya.


Jangan mengambil keuntungan dari kelemahannya secara zalim.


Namun orang yang berutang juga tidak boleh menjadikan kelembutan pemberi pinjaman sebagai alasan untuk terus menunda.


Kasih sayang tidak menghapus tanggung jawab.


Tanggung jawab tidak boleh kehilangan kasih sayang.


Rezeki yang Halal Membawa Ketenangan


Harta yang halal mungkin tidak selalu datang dengan cepat.


Namun ia membawa ketenangan yang tidak dapat dibeli oleh harta batil.


Rezeki halal membuat makanan terasa lebih ringan.


Ia membuat doa tidak dipenuhi rasa takut.


Ia membuat rumah terhindar dari pertengkaran yang lahir dari pengkhianatan.


Ia membuat manusia dapat tidur tanpa memikirkan siapa yang telah dirugikan.


Jangan iri kepada orang yang terlihat cepat kaya melalui jalan yang tidak jelas.


Engkau tidak mengetahui beban yang tersembunyi di balik hartanya.


Jangan merasa usahamu sia-sia hanya karena hasilnya belum besar.


Selama jalannya benar, usahamu telah menjadi ibadah dan pendidikan bagi jiwa.


Lebih baik sedikit tetapi jelas daripada banyak tetapi mengandung hak orang lain.


Lebih baik lambat tetapi tenang daripada cepat tetapi penuh ketakutan.


Lebih baik hidup sederhana dengan kehormatan daripada hidup mewah dengan kebohongan.


Jangan Memakai Takdir untuk Menutupi Kemalasan


Ada manusia yang berkata:


“Kalau memang rezekiku, pasti akan datang.”


Lalu ia berhenti berusaha.


Ia tidak mencari pekerjaan.


Ia tidak belajar keterampilan.


Ia menolak nasihat.


Ia menunggu pertolongan tanpa memperbaiki kebiasaan.


Ketahuilah bahwa tawakal bukan meninggalkan ikhtiar.


Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh sambil menyerahkan hasil kepada Alloh.


Burung keluar dari sarangnya untuk mencari makan.


Petani menanam sebelum menunggu hujan.


Pedagang membuka usahanya sebelum memperoleh pembeli.


Orang berilmu belajar sebelum memberikan nasihat.


Maka jangan gunakan bahasa takdir untuk menutupi kemalasan.


Bangunlah.


Carilah jalan yang halal.


Pelajari kemampuan baru.


Tanyakan peluang kerja.


Perbaiki cara mengelola waktu.


Kurangi pengeluaran yang tidak perlu.


Susun rencana.


Berdoalah.


Kemudian bergeraklah.


Doa tanpa usaha dapat menjadi alasan untuk menunda.


Usaha tanpa doa dapat melahirkan kesombongan.


Keduanya harus berjalan bersama.


Ketika Rezeki Mulai Lapang


Kelapangan hidup membawa ujian yang berbeda.


Ketika harta bertambah, manusia dapat mulai merasa dirinya lebih tinggi.


Ia lupa kepada masa sulit.


Ia mulai merendahkan orang yang kekurangan.


Ia mengira seluruh keberhasilannya hanya berasal dari kecerdasannya.


Ia tidak lagi mau mendengar nasihat.


Ia merasa semua keinginannya harus dipenuhi.


Ia mulai mengukur manusia dari pakaian, kendaraan, rumah, dan kedudukan.


Berhati-hatilah.


Harta dapat memperluas kebaikan, tetapi juga dapat memperbesar penyakit hati yang telah ada.


Apabila seseorang sebelumnya dermawan, kekayaan dapat memperluas manfaatnya.


Apabila sebelumnya sombong, kekayaan dapat memperbesar kesombongannya.


Apabila sebelumnya jujur, kekayaan dapat memperluas amanahnya.


Apabila sebelumnya tamak, kekayaan dapat membuatnya semakin sulit merasa cukup.


Maka ketika rezeki bertambah, jangan hanya menambah kepemilikan.


Tambahlah rasa syukur.


Tambahlah sedekah.


Tambahlah perlindungan kepada keluarga.


Tambahlah kesempatan kerja bagi orang lain.


Tambahlah kepedulian terhadap lingkungan.


Tambahlah kerendahan hati.


Jangan sampai rumah semakin luas, tetapi hati semakin sempit.


Jangan sampai meja makan semakin penuh, tetapi tangan semakin sulit berbagi.


Berbagi dengan Kasih Sayang


Memberi bukan hanya memindahkan harta dari satu tangan menuju tangan yang lain.


Memberi juga membutuhkan adab.


Jangan merendahkan penerima.


Jangan memotretnya tanpa izin.


Jangan memaksa seseorang menunjukkan rasa terima kasih di hadapan banyak orang.


Jangan mengungkit pemberian ketika terjadi perselisihan.


Jangan memakai bantuan untuk menguasai keputusan hidup penerima.


Jangan membuat seseorang terus bergantung apabila ia sebenarnya dapat dibantu menjadi mandiri.


Pertolongan terbaik bukan selalu yang paling besar.


Kadang pertolongan terbaik adalah informasi pekerjaan.


Kadang berupa pelatihan.


Kadang berupa modal kecil dengan pendampingan yang jujur.


Kadang berupa makanan.


Kadang berupa waktu untuk mendengarkan.


Kadang berupa perlindungan dari penipuan.


Berilah sesuai kebutuhan, bukan hanya sesuai keinginanmu untuk terlihat baik.


Dan apabila tidak mampu memberi harta, jangan meremehkan doa, tenaga, ilmu, atau perhatian.


Setiap kebaikan mempunyai tempatnya sendiri.


Jangan Mengubah Kebaikan Menjadi Perdagangan Pujian


Ada orang yang berbuat baik, tetapi hatinya menunggu pengakuan.


Ia kecewa apabila namanya tidak disebut.


Ia marah apabila penerima tidak menunjukkan rasa terima kasih seperti yang diharapkan.


Ia merasa berhak mengatur kehidupan orang yang pernah dibantunya.


Ketahuilah bahwa pemberian yang disertai tuntutan tersembunyi dapat menjadi beban bagi penerima.


Sebelum memberi, periksalah niat.


Apakah engkau benar-benar ingin menolong?


Ataukah engkau ingin dikagumi?


Apakah engkau siap apabila kebaikan itu tidak diketahui manusia?


Apakah engkau tetap ikhlas apabila penerima tidak dapat membalas?


Apabila hati masih mengharapkan pujian, jangan membenci diri.


Akuilah.


Luruskan niat.


Kurangi kebiasaan menceritakan setiap kebaikan.


Biarkan sebagian amal hanya diketahui oleh Alloh.


Amal yang tersembunyi dapat menjadi tempat hati belajar ikhlas.


Kejujuran dalam Menentukan Kebutuhan


Tidak semua keinginan adalah kebutuhan.


Manusia dapat merasa miskin bukan karena benar-benar kekurangan, tetapi karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain.


Ia mempunyai rumah, tetapi melihat rumah yang lebih besar.


Ia mempunyai kendaraan, tetapi melihat kendaraan yang lebih mahal.


Ia mempunyai pakaian yang layak, tetapi ingin mengikuti setiap perubahan.


Ia mempunyai makanan, tetapi tidak pernah merasa cukup karena ingin terus menikmati hal baru.


Perbandingan yang tidak terkendali membuat manusia kehilangan syukur.


Tanyakan kepada dirimu:


“Apakah ini benar-benar kubutuhkan?”


“Apakah pembelian ini akan membebani keuangan?”


“Apakah aku membelinya karena manfaat atau hanya ingin dilihat?”


“Apakah ada tanggung jawab lain yang lebih penting?”


Menahan keinginan bukan berarti membenci dunia.


Menahan keinginan adalah cara menjaga agar dunia tidak menguasai hati.


Gunakanlah harta.


Jangan biarkan harta menggunakanmu.


Miliki sesuatu.


Jangan biarkan sesuatu itu memiliki ketenanganmu.


Rezeki dan Kehormatan Orang Lain


Jangan merendahkan orang berdasarkan pekerjaannya.


Petani, pedagang kecil, buruh, pengemudi, penjaga kebersihan, pekerja rumah tangga, tukang, nelayan, dan semua orang yang mencari nafkah dengan halal memiliki kehormatan.


Jangan menunda upah mereka.


Jangan berbicara kasar hanya karena mereka membutuhkan pekerjaan.


Jangan menganggap waktunya tidak berharga.


Jangan menawar secara berlebihan kepada pedagang kecil, tetapi membayar mahal tanpa keberatan di tempat yang mewah.


Jangan meminta tambahan pekerjaan di luar kesepakatan tanpa memberikan penghargaan yang wajar.


Jangan memperlakukan orang miskin sebagai manusia yang boleh diperintah sesuka hati.


Kemuliaan tidak diukur dari jenis pekerjaan.


Kemuliaan terlihat dari kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak.


Orang yang bekerja dengan tangan kotor oleh tanah dapat memiliki hati yang lebih bersih daripada orang yang berpakaian mewah tetapi hidup dari penipuan.


Sabdo Lembar Ketujuh


«“Rezeki yang lurus bukan hanya rezeki yang banyak, melainkan rezeki yang diperoleh tanpa merampas, dipakai tanpa berlebihan, dibagikan tanpa merendahkan, dan disyukuri tanpa kesombongan.”»


Wahai pencari rezeki.


Jangan hanya memohon agar pintu harta dibuka.


Mohonlah pula agar hatimu mampu menjaganya.


Jangan hanya memohon agar utang segera lunas.


Mohonlah agar engkau diberi disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan mengatur hidup.


Jangan hanya memohon usaha menjadi besar.


Mohonlah agar semakin banyak manusia yang mendapatkan manfaat dan tidak ada hak yang dizalimi.


Jangan hanya memohon dikenal.


Mohonlah agar nama yang dikenal tidak menjadi sebab hati kehilangan keikhlasan.


Jangan hanya memohon kelapangan.


Mohonlah agar kelapangan tidak membuatmu lupa kepada orang yang masih kesulitan.


Latihan Menata Rezeki dengan Jujur


Ambillah waktu untuk memeriksa keadaan rezekimu.


Tuliskan seluruh pemasukan dengan jujur.


Tuliskan pengeluaran.


Tuliskan utang.


Tuliskan amanah orang lain yang berada di tanganmu.


Tuliskan kebutuhan utama.


Tuliskan pengeluaran yang sebenarnya dapat dikurangi.


Jangan menyembunyikan angka dari dirimu sendiri.


Kejujuran terhadap keuangan adalah langkah awal perbaikan.


Setelah sholat atau pada malam yang tenang, bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā Razzāq — 33 kali

Yā Fattāḥ — 33 kali

Yā Amīn — 33 kali

Yā Karīm — 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, bukakanlah bagiku rezeki yang halal, baik, cukup, dan penuh keberkahan. Jauhkan aku dari harta yang diperoleh melalui kebohongan, kezaliman, penipuan, serta pengkhianatan. Ajarkan aku bekerja dengan sungguh-sungguh, hidup dengan seimbang, membayar utang, menjaga amanah, mensyukuri nikmat, dan berbagi tanpa merendahkan. Jangan jadikan kekurangan membuatku berdusta dan jangan jadikan kelapangan membuatku sombong.»


Sesudah itu, lakukan satu tindakan nyata.


Hubungi orang yang harus engkau bayar.


Kurangi satu pengeluaran yang tidak perlu.


Cari satu peluang kerja.


Catat pemasukan.


Kembalikan satu titipan.


Berikan bantuan sesuai kemampuan.


Atau mulai menyisihkan sedikit untuk kebutuhan darurat.


Perubahan rezeki sering dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan disiplin.


Tanda Rezeki Mulai Dijaga dengan Benar


Bukan hanya jumlah harta yang bertambah.


Tandanya dapat berupa:


Hati lebih tenang.


Utang mulai tertata.


Pengeluaran lebih terkendali.


Tidak ada kebutuhan untuk berbohong.


Keluarga mengetahui keadaan dengan lebih jelas.


Pekerjaan dilakukan dengan penuh tanggung jawab.


Hak orang lain tidak ditunda.


Keinginan pamer mulai berkurang.


Sedekah dilakukan tanpa ingin diketahui.


Manusia yang bekerja bersamamu merasa dihargai.


Engkau mampu mengatakan cukup.


Engkau tidak mudah iri melihat rezeki orang lain.


Engkau tetap bersyukur ketika sedikit dan tetap rendah hati ketika banyak.


Itulah sebagian tanda keberkahan.


Penutup Lembar Ketujuh


Wahai jiwa yang sedang mencari kelapangan.


Jangan takut bekerja dari bawah.


Jangan malu memulai dengan sedikit.


Jangan meremehkan pekerjaan halal.


Jangan tergoda oleh jalan cepat yang mengorbankan kehormatan.


Tidak semua yang cepat adalah pertolongan.


Tidak semua yang banyak adalah keberkahan.


Tidak semua yang terlihat kecil adalah kegagalan.


Kadang Alloh menjaga hamba melalui rezeki yang datang perlahan agar hati belajar sabar, disiplin, bersyukur, dan tidak lupa diri.


Teruslah berusaha.


Perbaiki keterampilan.


Jaga kejujuran.


Catat amanah.


Bayar kewajiban.


Hargai pekerjaan orang lain.


Berbagi ketika mampu.


Dan jangan menjadikan harta sebagai tujuan terakhir.


Harta adalah kendaraan.


Ia dapat membawamu menuju kebaikan apabila dikendalikan oleh iman dan akhlak.


Namun ia dapat menyeretmu menuju kesombongan apabila dibiarkan menguasai hati.


«“Kekurangan menguji apakah manusia tetap jujur. Kelapangan menguji apakah manusia tetap rendah hati. Kasih sayang menjaga agar rezeki tidak berhenti pada diri sendiri.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh melapangkan rezeki kita melalui jalan yang halal, menjaga hati kita ketika sempit maupun lapang, melunakkan tangan untuk berbagi, serta menjadikan setiap nikmat sebagai jalan menuju syukur dan ridho-Nya.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Kedelapan


Kejujuran dalam Persaudaraan dan Kasih Sayang di Tengah Perbedaan


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang berjalan menuju jalan yang lurus.


Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian.


Ia membutuhkan keluarga.


Ia membutuhkan sahabat.


Ia membutuhkan tetangga.


Ia membutuhkan orang yang mengingatkan ketika salah, menguatkan ketika lemah, menolong ketika kesulitan, serta menemani ketika perjalanan hidup terasa panjang.


Namun kedekatan juga merupakan ujian.


Semakin dekat seseorang dengan orang lain, semakin banyak kelemahan yang akan terlihat.


Semakin lama persahabatan berjalan, semakin besar kemungkinan munculnya perbedaan, kesalahpahaman, kekecewaan, rasa iri, prasangka, dan luka.


Karena itu, persaudaraan tidak hanya dibangun oleh kesamaan.


Persaudaraan dijaga oleh kejujuran, adab, kesabaran, batas yang sehat, serta kasih sayang yang tidak kehilangan keadilan.


Orang yang hanya mampu menyayangi ketika semua pendapat sama belum benar-benar memahami kasih sayang.


Orang yang hanya dapat bersahabat ketika selalu dipuji belum memahami ketulusan.


Orang yang meninggalkan saudaranya karena satu kesalahan, tetapi melupakan seratus kebaikannya, belum belajar menimbang dengan adil.


Jalan yang lurus mengajarkan manusia agar tidak menutup mata terhadap kesalahan, tetapi juga tidak menghapus seluruh kebaikan seseorang hanya karena satu kekurangan.


Persaudaraan Bukan Kepemilikan


Ada manusia yang menganggap sahabat sebagai miliknya.


Ia ingin selalu didahulukan.


Ia marah apabila sahabatnya dekat dengan orang lain.


Ia merasa berhak mengetahui seluruh rahasia.


Ia menuntut balasan yang sama atas setiap perhatian.


Ia menganggap perubahan dalam kesibukan sebagai tanda tidak setia.


Ketahuilah bahwa persaudaraan bukan kepemilikan.


Sahabat tetap mempunyai kehidupan sendiri.


Ia mempunyai keluarga, pekerjaan, tanggung jawab, kelelahan, dan batas kemampuan.


Jangan mengukur kasih sayang hanya dari seberapa cepat seseorang membalas pesan.


Jangan menilai kesetiaan hanya dari seberapa sering ia hadir.


Ada manusia yang jarang berbicara, tetapi selalu datang ketika benar-benar dibutuhkan.


Ada pula yang setiap hari berkata manis, tetapi pergi ketika amanah menjadi berat.


Nilailah persaudaraan melalui kejujuran, tanggung jawab, dan ketulusan, bukan hanya melalui banyaknya kata.


Kasih sayang tidak memenjarakan.


Kasih sayang memberi ruang.


Kasih sayang tidak menuntut manusia selalu tersedia.


Kasih sayang memahami bahwa setiap jiwa juga membutuhkan waktu untuk menata dirinya.


Kejujuran dalam Persahabatan


Persahabatan yang kuat bukan persahabatan tanpa masalah.


Persahabatan yang kuat adalah hubungan yang mampu melewati masalah tanpa kehilangan kehormatan satu sama lain.


Apabila engkau kecewa, bicaralah dengan jujur.


Jangan menyimpan amarah lalu memperlakukan sahabat dengan dingin tanpa penjelasan.


Jangan menguji kesetiaan melalui permainan batin.


Jangan sengaja menghilang agar ia mencarimu.


Jangan membuat cerita palsu untuk mengetahui apakah ia peduli.


Jangan menebak-nebak isi hatinya tanpa bertanya.


Berkatalah:


“Ada perkataanmu yang membuatku terluka.”


“Aku merasa tidak didengar.”


“Aku membutuhkan penjelasan agar tidak salah memahami.”


“Aku menghargai persahabatan ini, karena itu aku ingin membicarakannya dengan baik.”


Kejujuran yang lembut lebih baik daripada diam yang dipenuhi prasangka.


Namun jangan menyampaikan seluruh emosi tanpa kendali.


Pilih waktu ketika hati lebih tenang.


Sampaikan kejadian dengan jelas.


Jangan mengubah perasaan menjadi tuduhan.


Katakan:


“Aku merasa sedih ketika hal itu terjadi.”


Bukan:


“Engkau memang tidak pernah peduli.”


Katakan:


“Aku berharap kita dapat memperbaikinya.”


Bukan:


“Semua ini salahmu.”


Tujuan percakapan bukan mengalahkan sahabat.


Tujuannya adalah memahami, memperbaiki, dan menentukan langkah yang sehat.


Jangan Membicarakan Sahabat di Belakangnya


Ketika terjadi kekecewaan, manusia sering mencari orang lain untuk membenarkan perasaannya.


Ia menceritakan kesalahan sahabat kepada banyak orang.


Ia membuka rahasia lama.


Ia menambahkan cerita agar terlihat sebagai pihak yang paling terluka.


Ia mengumpulkan dukungan untuk melawan seseorang yang dahulu ia sebut saudara.


Berhati-hatilah.


Jangan mengubah satu masalah menjadi keburukan yang menyebar ke banyak hati.


Apabila persoalan masih dapat dibicarakan langsung, bicaralah kepada orang yang bersangkutan.


Apabila membutuhkan nasihat, pilih satu orang yang bijaksana, dapat dipercaya, dan tidak suka menyebarkan cerita.


Sampaikan secukupnya.


Jangan membuka bagian yang tidak berkaitan.


Jangan menjadikan curahan hati sebagai pintu ghibah, fitnah, dan penghinaan.


Orang yang mendengar kisahmu belum tentu mengetahui seluruh keadaan.


Ia hanya mengetahui bagian yang engkau sampaikan.


Maka jangan meminta seseorang menghukum orang lain berdasarkan cerita yang belum lengkap.


Jagalah nama baik sahabat, bahkan ketika hubungan sedang diuji.


Apabila akhirnya harus berpisah, berpisahlah tanpa merusak seluruh kehormatannya.


Iri di antara Orang yang Dekat


Rasa iri tidak hanya muncul kepada orang asing.


Ia sering tumbuh di antara sahabat, saudara, rekan, dan orang yang berjalan dalam bidang yang sama.


Ketika sahabat berhasil, hati dapat berkata:


“Mengapa bukan aku?”


Ketika ia dipuji, muncul rasa tidak nyaman.


Ketika rezekinya bertambah, manusia mulai mencari kekurangannya.


Ketika banyak orang mendengarkannya, sahabat yang dahulu mendukung dapat merasa tersaingi.


Akuilah perasaan itu sebelum ia berubah menjadi kebencian.


Jangan berpura-pura bahagia apabila hati sedang berjuang.


Namun jangan pula mengikuti iri hingga merusak persaudaraan.


Katakan kepada dirimu:


“Keberhasilan orang lain tidak mengurangi bagian rezekiku.”


“Pujian kepada sahabat tidak merendahkan diriku.”


“Aku dapat belajar dari kebaikannya tanpa kehilangan harga diriku.”


Doakan keberkahannya.


Hentikan kebiasaan membandingkan.


Fokuslah kepada tanggung jawabmu sendiri.


Apabila engkau menemukan kekurangan dalam dirimu, jadikan itu dorongan untuk bertumbuh, bukan alasan untuk menjatuhkan orang lain.


Iri yang diakui dapat dibersihkan.


Iri yang disembunyikan sering berubah menjadi sindiran, fitnah, dan keinginan melihat orang lain gagal.


Ketika Sahabat Lebih Berhasil


Keberhasilan sahabat adalah ujian bagi ketulusan.


Mudah menemani seseorang ketika ia masih berada di bawah.


Lebih sulit tetap tulus ketika ia melangkah lebih tinggi.


Ada orang yang senang melihat sahabat berkembang selama perkembangannya tidak melampaui dirinya.


Ketika sahabat mulai lebih dikenal, lebih kaya, lebih berilmu, atau lebih dipercaya, hubungan berubah.


Pujian menjadi sindiran.


Nasihat menjadi cara merendahkan.


Kesalahan kecil diperbesar.


Keberhasilan dianggap sebagai kesombongan.


Periksalah hatimu.


Apakah engkau benar-benar melihat kesalahan?


Ataukah engkau sedang terluka karena merasa tertinggal?


Kejujuran terhadap diri akan menyelamatkan persaudaraan.


Tidak ada kehinaan dalam mengakui:


“Aku sedang merasa iri dan harus membersihkan hatiku.”


Lebih baik mengakui penyakit hati daripada menyamarkannya sebagai pembelaan kebenaran.


Namun orang yang berhasil juga harus menjaga diri.


Jangan melupakan sahabat yang dahulu menemani.


Jangan merendahkan orang yang belum mencapai hal yang sama.


Jangan memamerkan nikmat untuk membuat orang lain merasa kecil.


Jangan menggunakan keberhasilan sebagai bukti bahwa semua pendapatmu benar.


Kelapangan harus menambah syukur, bukan jarak.


Persaudaraan Tidak Berarti Membenarkan Semua Kesalahan


Sebagian orang menganggap kesetiaan berarti selalu membela sahabat, sekalipun ia bersalah.


Ia menyembunyikan penipuan.


Ia membenarkan kezaliman.


Ia menyerang orang yang menjadi korban.


Ia berkata:


“Aku harus membela saudaraku.”


Padahal pembelaan yang benar bukan membantu seseorang terus melakukan kesalahan.


Sahabat yang baik tidak hanya memuji.


Ia juga berani mengingatkan.


Ia berkata:


“Aku menyayangimu, tetapi perbuatan itu tidak benar.”


“Aku tidak akan ikut menutupi perkara yang merugikan orang lain.”


“Aku akan menemanimu memperbaiki kesalahan, tetapi aku tidak dapat membenarkannya.”


Itulah kesetiaan yang jujur.


Membiarkan sahabat tenggelam dalam keburukan bukanlah kasih sayang.


Membantu mengembalikan hak, meminta maaf, dan bertanggung jawab adalah bentuk persaudaraan yang lebih dalam.


Namun nasihat harus disampaikan dengan adab.


Jangan mempermalukannya di hadapan banyak orang.


Jangan menggunakan kelemahannya untuk merasa lebih suci.


Jangan mengungkit kesalahan setelah ia sungguh-sungguh memperbaiki diri.


Batas dalam Persaudaraan


Kasih sayang membutuhkan batas.


Tanpa batas, hubungan dapat berubah menjadi kelelahan, ketergantungan, dan penguasaan.


Engkau tidak wajib menjawab setiap panggilan pada setiap waktu.


Engkau tidak wajib meminjamkan uang apabila keadaanmu tidak memungkinkan.


Engkau tidak wajib menyimpan rahasia yang membahayakan keselamatan.


Engkau tidak wajib tetap dekat dengan orang yang terus merendahkan, memanipulasi, atau memanfaatkanmu.


Batas dapat disampaikan dengan lembut:


“Aku belum dapat membantu dalam perkara itu.”


“Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.”


“Perkataan seperti itu membuatku tidak nyaman.”


“Aku menghargai hubungan ini, tetapi aku tidak dapat membiarkan hal tersebut terus terjadi.”


Mengatakan tidak bukan berarti tidak memiliki kasih sayang.


Kadang kata tidak menjaga hubungan dari kerusakan yang lebih besar.


Orang yang menghargaimu akan belajar memahami batas.


Orang yang hanya ingin memanfaatkanmu akan marah ketika batas mulai ditegakkan.


Kemarahan mereka tidak selalu berarti batasmu salah.


Periksalah dengan jujur, lalu tetaplah tenang.


Jangan Mengikat Orang dengan Utang Budi


Ada pertolongan yang diberikan bukan untuk menolong, tetapi untuk menguasai.


Seseorang membantu, lalu terus mengungkit.


Ia berkata:


“Dahulu aku telah banyak membantumu.”


Ia menggunakan pemberian lama untuk memaksa keputusan hari ini.


Ia merasa berhak atas waktu, tenaga, dan ketaatan orang yang pernah menerima pertolongannya.


Ketahuilah bahwa bantuan yang dijadikan rantai kehilangan sebagian keindahannya.


Apabila engkau memberi, berilah dengan niat yang bersih.


Jangan menjadikan penerima sebagai milikmu.


Jangan menuntut ia selalu sependapat.


Jangan merasa berhak mengatur hidupnya.


Apabila sejak awal bantuan merupakan pinjaman atau kesepakatan, jelaskanlah dengan jujur.


Namun apabila pemberian itu disebut hadiah atau pertolongan, jangan ubah menjadi utang tersembunyi.


Demikian pula orang yang menerima bantuan harus menjaga adab.


Jangan melupakan kebaikan.


Jangan mengkhianati kepercayaan.


Jangan memperlakukan penolong seolah-olah pertolongannya tidak berarti.


Syukur tidak harus berupa ketundukan tanpa batas.


Syukur diwujudkan melalui penghargaan, doa, kejujuran, dan kebaikan ketika mampu.


Ketika Persaudaraan Harus Berakhir


Tidak semua hubungan dapat dipertahankan selamanya.


Ada persaudaraan yang selesai karena jalan hidup berubah.


Ada yang berakhir karena pengkhianatan.


Ada yang harus dibatasi karena terus membawa kerusakan.


Ada pula yang berakhir tanpa pertengkaran, hanya karena masing-masing telah mempunyai perjalanan berbeda.


Jangan memaksa sesuatu yang telah kehilangan kesehatan.


Namun jangan pula mengakhiri hubungan karena emosi sesaat.


Periksa dengan jernih.


Apakah masalah masih dapat diperbaiki?


Apakah kedua pihak bersedia berubah?


Apakah kepercayaan dapat dibangun kembali?


Apakah hubungan ini masih memiliki rasa aman?


Apabila masih ada ruang, lakukan percakapan yang jujur.


Apabila tidak ada lagi ruang, berpisahlah dengan adab.


Jangan menyebarkan rahasia.


Jangan menghina masa lalu.


Jangan menghapus seluruh kebaikan yang pernah ada.


Jangan mendoakan keburukan.


Katakan di dalam hati:


“Hubungan ini pernah membawa pelajaran. Kini aku memilih menjaga jarak agar tidak saling merusak.”


Berpisah dengan tenang lebih baik daripada bertahan sambil terus saling melukai.


Perbedaan Pendapat dalam Kelompok


Di dalam keluarga, majelis, komunitas, organisasi, atau kelompok, perbedaan pasti muncul.


Tidak semua manusia melihat persoalan dari sudut yang sama.


Perbedaan dapat menjadi jalan menuju kebijaksanaan apabila dijaga dengan adab.


Namun perbedaan berubah menjadi kehancuran ketika manusia lebih mencintai kemenangan daripada kebenaran.


Ketika berdiskusi, dengarkan sampai selesai.


Jangan memotong hanya karena tidak setuju.


Jangan menyerang pribadi.


Jangan membawa asal-usul, keluarga, pendidikan, atau kekurangan seseorang untuk melemahkan pendapatnya.


Tanggapi isi pembicaraan.


Apabila pendapatmu terbukti salah, akuilah.


Berkata:


“Aku perlu memperbaiki pemahamanku.”


Tidak akan merendahkan kehormatan.


Justru itulah tanda bahwa seseorang lebih mencintai kebenaran daripada egonya.


Jangan menjadikan suara terbanyak sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.


Namun jangan pula menolak musyawarah hanya karena keputusan tidak sesuai keinginan.


Jaga aturan yang telah disepakati.


Berikan ruang kepada yang lemah untuk berbicara.


Jangan hanya mendengar orang yang dekat dengan pemimpin.


Kelompok yang sehat bukan kelompok tanpa perbedaan.


Kelompok yang sehat adalah tempat perbedaan dapat disampaikan tanpa ancaman, penghinaan, dan ketakutan.


Bahaya Membentuk Kelompok untuk Membenci


Ketika seseorang terluka, ia dapat mengajak orang lain untuk ikut membenci.


Ia mengumpulkan cerita.


Ia membangun kelompok kecil.


Ia membagikan potongan pesan.


Ia membentuk gambaran bahwa satu pihak sepenuhnya buruk dan pihaknya sendiri sepenuhnya benar.


Lalu perselisihan pribadi berubah menjadi permusuhan banyak orang.


Janganlah demikian.


Jangan menyeret manusia yang tidak mengetahui perkara.


Jangan memakai kelompok untuk menekan seseorang.


Jangan membuat ruang pembicaraan yang isinya hanya membuka aib.


Apabila ada pelanggaran, selesaikan melalui jalan yang jelas.


Bawa bukti.


Gunakan musyawarah.


Libatkan pihak yang adil.


Pisahkan antara perlindungan dan penghancuran.


Memberi peringatan terhadap bahaya nyata dapat dibenarkan apabila dilakukan secara jujur dan kepada pihak yang perlu mengetahui.


Namun menyebarkan kebencian tanpa batas bukanlah keadilan.


Kasih Sayang kepada Orang yang Berbeda


Kasih sayang tidak hanya diberikan kepada orang yang sama dengan kita.


Ia juga harus hadir kepada manusia yang berbeda pendapat, kebiasaan, suku, bahasa, kedudukan, dan latar kehidupan.


Perbedaan tidak menghapus kemanusiaan.


Jangan merendahkan logat seseorang.


Jangan menghina pekerjaannya.


Jangan menertawakan kekurangannya.


Jangan menilai seluruh kelompok hanya dari kesalahan beberapa orang.


Jangan menggunakan agama, ilmu, kekayaan, atau keturunan sebagai alasan untuk merasa lebih mulia.


Setiap manusia membawa perjalanan yang tidak seluruhnya engkau ketahui.


Ada yang terlihat keras karena hidupnya dipenuhi luka.


Ada yang sulit percaya karena pernah dikhianati.


Ada yang lambat memahami karena tidak memperoleh kesempatan belajar.


Ada yang terlihat diam karena takut dipermalukan.


Kasih sayang tidak berarti membenarkan semua perbuatan.


Namun kasih sayang mengingatkan bahwa setiap orang tetap harus diperlakukan dengan kehormatan.


Sabdo Lembar Kedelapan


«“Persaudaraan yang lurus bukanlah hubungan yang meniadakan perbedaan, melainkan hubungan yang menjaga kejujuran tanpa penghinaan, kasih sayang tanpa penguasaan, dan kesetiaan tanpa membenarkan kezaliman.”»


Wahai jiwa yang hidup bersama manusia.


Jangan berharap seluruh orang selalu memahami dirimu.


Engkau pun belum tentu memahami mereka sepenuhnya.


Belajarlah menjelaskan.


Belajarlah mendengar.


Belajarlah bertanya sebelum menuduh.


Belajarlah menahan lisan sebelum menyebarkan cerita.


Belajarlah meminta maaf ketika salah memahami.


Belajarlah menerima bahwa kedekatan dapat berubah.


Belajarlah mencintai tanpa menguasai.


Belajarlah berpisah tanpa menghancurkan.


Sebab kematangan akhlak tidak hanya terlihat dari cara manusia memulai persaudaraan.


Ia juga terlihat dari cara menjaga, memperbaiki, dan apabila diperlukan, mengakhirinya dengan terhormat.


Latihan Membersihkan Hubungan


Pada malam yang tenang, ingatlah hubungan-hubungan penting dalam hidupmu.


Jangan hanya mengingat kesalahan orang lain.


Periksalah pula bagian dirimu sendiri.


Bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā Wadūd — 33 kali

Yā Laṭīf — 33 kali

Yā Hādī — 33 kali

Yā Ṣādiq — 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, bersihkanlah persaudaraanku dari iri, prasangka, dusta, penguasaan, dan keinginan untuk menang sendiri. Ajarkan aku berkata jujur tanpa melukai, mendengar tanpa merendahkan, menasihati tanpa merasa suci, serta menetapkan batas tanpa kebencian. Jagalah aku dari membicarakan aib, mengkhianati rahasia, dan membalas luka dengan fitnah.»


Setelah itu, jawablah dengan jujur:


Siapa yang pernah kulukai melalui perkataan atau sikapku?


Apakah ada rahasia yang belum kujaga dengan baik?


Apakah aku sedang iri terhadap keberhasilan seseorang?


Apakah aku menuntut terlalu banyak dari sahabat atau keluarga?


Apakah ada hubungan yang perlu dibicarakan, diperbaiki, dibatasi, atau dilepaskan?


Apakah aku masih menyimpan kebencian yang terus menguasai hidupku?


Pilih satu tindakan nyata.


Minta maaf.


Hubungi seseorang dengan niat damai.


Berhenti membicarakan aib.


Kembalikan rahasia pada tempatnya.


Ucapkan selamat dengan tulus atas keberhasilan sahabat.


Atau tetapkan batas yang selama ini terus dilanggar.


Jangan menunggu orang lain berubah terlebih dahulu untuk mulai memperbaiki bagianmu.


Tanda Persaudaraan yang Sehat


Persaudaraan yang sehat mempunyai beberapa tanda.


Kedua pihak dapat berkata jujur tanpa merasa terancam.


Kesalahan dapat dibicarakan tanpa penghinaan.


Rahasia dijaga.


Batas dihormati.


Keberhasilan salah satu pihak tidak dianggap ancaman.


Pertolongan tidak selalu diungkit.


Perbedaan tidak langsung berubah menjadi permusuhan.


Tidak ada tuntutan agar salah satu pihak kehilangan dirinya sendiri.


Masing-masing dapat tumbuh.


Masing-masing dapat mempunyai ruang.


Masing-masing dapat berkata tidak.


Masing-masing tetap bertanggung jawab terhadap kesalahannya.


Ketika terjadi masalah, keduanya mencari penyelesaian, bukan pendukung untuk saling menghancurkan.


Ketika salah satu menjadi lemah, yang lain menolong tanpa memperbudak.


Ketika salah satu berhasil, yang lain ikut bersyukur tanpa kehilangan harga diri.


Itulah persaudaraan yang diterangi kejujuran dan kasih sayang.


Penutup Lembar Kedelapan


Wahai jiwa yang berjalan di antara banyak manusia.


Jagalah orang yang mempercayaimu.


Jangan permainkan ketulusan.


Jangan jadikan persahabatan sebagai alat mendapatkan keuntungan.


Jangan gunakan rahasia sebagai senjata.


Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk menghina.


Jangan memelihara iri hingga kebaikan orang lain terasa menyakitkan.


Bersyukurlah atas sahabat yang berani mengingatkanmu.


Hormatilah orang yang menjaga rahasiamu.


Maafkan kesalahan yang sungguh-sungguh diperbaiki.


Tetapkan batas terhadap kesalahan yang terus diulangi.


Doakan orang yang harus engkau tinggalkan.


Dan jangan pernah merasa bahwa kasih sayang membuatmu berhak memiliki kehidupan orang lain.


Setiap persaudaraan adalah titipan.


Ada yang dititipkan untuk waktu panjang.


Ada yang hanya hadir pada satu bagian perjalanan.


Ada yang datang untuk menguatkan.


Ada yang datang untuk mengajarkan batas.


Ada pula yang datang agar engkau belajar melepaskan tanpa membenci.


Terimalah setiap pelajaran dengan kebijaksanaan.


Jagalah yang masih dapat dijaga.


Perbaikilah yang masih dapat diperbaiki.


Lepaskanlah yang harus dilepaskan.


Namun tetaplah berada di jalan kejujuran dan kasih sayang.


«“Sahabat sejati bukan orang yang selalu membenarkan, melainkan orang yang tetap menjaga kehormatanmu ketika menasihati, tetap mendoakanmu ketika berjauhan, dan tidak memakai kelemahanmu untuk meninggikan dirinya.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh menjaga persaudaraan kita dari fitnah, iri, pengkhianatan, dan kesalahpahaman. Semoga Dia melembutkan hati kita untuk saling mendengar, menguatkan keberanian kita untuk berkata jujur, serta mengajarkan kita mencintai tanpa menguasai dan berpisah tanpa saling menghancurkan.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Kesembilan


Kejujuran dalam Doa, Ibadah, dan Pencarian Kedekatan kepada Alloh


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang mencari jalan pulang.


Kejujuran yang paling dalam adalah kejujuran seorang hamba ketika menghadap Alloh.


Manusia dapat menyembunyikan kelemahannya dari keluarga.


Ia dapat menutup kesedihan di hadapan sahabat.


Ia dapat menampilkan ketenangan di tengah masyarakat.


Ia dapat mengucapkan kata-kata yang indah agar terlihat kuat, sabar, dan beriman.


Namun ketika berdiri di hadapan Alloh, seluruh tabir itu tidak lagi diperlukan.


Alloh mengetahui tangisan yang disembunyikan.


Alloh mengetahui niat yang belum sepenuhnya bersih.


Alloh mengetahui ibadah yang masih bercampur dengan keinginan dipuji.


Alloh mengetahui doa yang lahir dari ketakutan, kesepian, rasa bersalah, harapan, dan kebutuhan yang tidak mampu diucapkan kepada manusia.


Karena itu, jangan datang kepada Alloh dengan kepura-puraan.


Datanglah dengan keadaan yang sebenarnya.


Apabila lemah, akuilah kelemahanmu.


Apabila takut, sampaikan ketakutanmu.


Apabila bingung, mohonlah petunjuk.


Apabila marah dan kecewa, jangan menjauh dari-Nya.


Bawalah seluruh keadaan itu ke dalam doa dengan adab, kerendahan hati, dan kejujuran.


Sebab Alloh tidak membutuhkan penampilan kesalehan manusia.


Manusialah yang membutuhkan rahmat dan pertolongan Alloh.


Ibadah Bukan Panggung untuk Meninggikan Diri


Ibadah adalah jalan penghambaan.


Ia bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling suci.


Ia bukan alat untuk mendapatkan penghormatan.


Ia bukan cara untuk menguasai manusia.


Ia bukan pula ukuran yang dapat dipakai dengan mudah untuk menghukum seluruh kehidupan orang lain.


Ada manusia yang memperbanyak ibadah, lalu merasa lebih mulia daripada orang yang masih berjuang.


Ia mudah mencela.


Ia cepat menuduh.


Ia menganggap dirinya telah selamat, sedangkan orang lain berada dalam kegelapan.


Ketahuilah bahwa ibadah yang benar seharusnya membuat hati semakin rendah.


Semakin seseorang mengenal kebesaran Alloh, semakin ia menyadari kecilnya dirinya.


Semakin ia merasakan banyaknya nikmat, semakin ia malu atas kelalaian.


Semakin ia beribadah, semakin ia berhati-hati menilai manusia.


Apabila ibadah membuatmu semakin kasar, periksalah hatimu.


Apabila dzikir membuatmu merasa paling istimewa, periksalah niatmu.


Apabila ilmu membuatmu senang merendahkan orang yang belum mengetahui, periksalah penyakit kesombongan.


Apabila doa membuatmu menuntut Alloh memenuhi seluruh keinginan sesuai waktumu, periksalah apakah engkau sedang beribadah atau sedang memerintah.


Ibadah tidak mengangkat manusia menjadi pemilik kehendak Alloh.


Ibadah mendidik manusia untuk tunduk kepada kebijaksanaan-Nya.


Kejujuran Niat dalam Ibadah


Niat adalah ruh dari perbuatan.


Dua orang dapat melakukan ibadah yang sama, tetapi membawa keadaan hati yang berbeda.


Seseorang bersedekah untuk menolong.


Seseorang yang lain bersedekah agar dipuji.


Seseorang membaca doa karena merindukan Alloh.


Seseorang yang lain membacanya agar dianggap mempunyai pengetahuan khusus.


Seseorang menasihati untuk memperbaiki.


Seseorang yang lain menasihati untuk meninggikan dirinya.


Tidak mudah mengetahui seluruh kedalaman niat.


Bahkan manusia sering tidak memahami niatnya sendiri.


Karena itu, niat harus diperiksa berulang kali.


Sebelum beribadah, tanyakan:


“Untuk siapa aku melakukan ini?”


Ketika sedang beribadah, tanyakan:


“Apakah hatiku masih menghadap Alloh atau mulai mencari perhatian manusia?”


Setelah selesai, tanyakan:


“Apakah aku menunggu pujian dan pengakuan?”


Apabila menemukan niat yang bercampur, jangan langsung meninggalkan kebaikan.


Perbaikilah niat.


Mintalah ampun.


Teruskan amal dengan lebih tenang dan tersembunyi apabila memungkinkan.


Jangan membenci diri hanya karena niat belum sempurna.


Kejujuran dalam melihat niat adalah bagian dari penyucian hati.


Namun jangan pula menggunakan ketidaksempurnaan niat sebagai alasan untuk tidak pernah memperbaikinya.


Jangan Menukar Ibadah dengan Pujian


Pujian manusia terasa manis.


Namun apabila hati terlalu sering meminumnya, ia dapat kehilangan arah.


Seseorang mulai beribadah agar dikenal tekun.


Ia mengabarkan seluruh amalnya.


Ia kecewa ketika tidak dihargai.


Ia merasa sedih bukan karena ibadahnya kurang baik, tetapi karena tidak ada yang melihat.


Periksalah keadaan seperti itu.


Tidak semua amal harus diumumkan.


Tidak semua dzikir harus diceritakan.


Tidak semua sedekah harus diketahui.


Tidak semua tangisan harus dipertontonkan.


Simpanlah sebagian hubunganmu dengan Alloh sebagai rahasia yang suci.


Biarkan ada amal yang tidak diketahui keluarga.


Biarkan ada doa yang tidak didengar sahabat.


Biarkan ada kebaikan yang hanya tercatat di sisi Alloh.


Amal tersembunyi adalah tempat hati berlatih melepaskan ketergantungan kepada penilaian manusia.


Namun apabila suatu amal perlu disampaikan untuk pendidikan, laporan, tanggung jawab, atau mengajak kebaikan, sampaikanlah dengan niat yang dijaga.


Jangan merasa pasti ikhlas.


Tetaplah memohon perlindungan dari riya dan kesombongan.


Doa yang Jujur


Doa bukan hanya rangkaian kata yang indah.


Doa adalah pengakuan bahwa manusia membutuhkan Alloh.


Ada saatnya manusia tidak mampu menyusun kalimat panjang.


Ia hanya dapat berkata:


“Yā Alloh, aku lelah.”


“Yā Alloh, aku takut.”


“Yā Alloh, aku tidak mengetahui jalan keluar.”


“Yā Alloh, jangan tinggalkan aku bersama kelemahanku sendiri.”


Doa seperti itu tetap bernilai apabila lahir dari hati yang tunduk.


Jangan merasa doa harus selalu memakai kata-kata yang sulit.


Alloh memahami air mata sebelum lisan berbicara.


Alloh mengetahui kebutuhan sebelum manusia memintanya.


Namun doa diberikan agar manusia belajar menghadap, berharap, mengakui kelemahan, dan menjaga hubungannya dengan Alloh.


Berdoalah dengan adab.


Jangan menuntut seolah-olah Alloh berutang kepadamu.


Jangan berkata:


“Aku telah banyak beribadah, mengapa permintaanku belum diberikan?”


Ibadah bukan pembayaran untuk membeli kehendak Alloh.


Ibadah adalah kewajiban dan kebutuhan jiwa.


Doa adalah permohonan.


Sedangkan jawaban berada dalam kebijaksanaan Alloh.


Ada doa yang dikabulkan sesuai permintaan.


Ada yang ditunda.


Ada yang diganti dengan sesuatu yang lebih baik.


Ada pula keadaan ketika manusia baru memahami hikmah setelah perjalanan panjang.


Karena itu, teruslah berdoa tanpa menjadikan keterlambatan sebagai alasan untuk berburuk sangka kepada Alloh.


Ketika Doa Belum Terjawab seperti yang Diharapkan


Manusia sering menentukan bentuk jawaban doanya sendiri.


Ia berkata:


“Aku akan tenang apabila perkara ini terjadi.”


“Aku akan yakin apabila orang itu kembali.”


“Aku akan bersyukur apabila rezekiku datang melalui jalan tertentu.”


Lalu ketika keadaan berjalan berbeda, ia merasa doanya tidak didengar.


Berhentilah mengurung pertolongan Alloh dalam satu bentuk.


Mungkin engkau memohon agar satu pintu dibuka, tetapi keselamatanmu justru berada pada pintu itu tetap tertutup.


Mungkin engkau memohon agar seseorang bertahan, tetapi kepergiannya menyelamatkanmu dari luka yang lebih panjang.


Mungkin engkau meminta kelapangan secepatnya, tetapi masa penantian sedang membentuk kedisiplinan dan kebijaksanaan yang kelak engkau perlukan.


Ini bukan berarti manusia harus diam tanpa usaha.


Doa harus disertai ikhtiar.


Penyakit perlu diperiksa dan diobati.


Utang perlu ditata dan dibayar.


Hubungan perlu dibicarakan.


Pekerjaan perlu dicari.


Kesalahan perlu diperbaiki.


Doa bukan pengganti tanggung jawab.


Doa adalah cahaya yang menuntun manusia menjalankan tanggung jawabnya.


Ibadah Tidak Boleh Menjadi Pelarian dari Kenyataan


Ada manusia yang memakai ibadah untuk menghindari persoalan yang sebenarnya harus dihadapi.


Ia memperbanyak doa, tetapi menolak meminta maaf.


Ia berdzikir, tetapi tidak mau mengembalikan hak.


Ia memohon rezeki, tetapi tidak berusaha.


Ia meminta ketenangan, tetapi terus tinggal dalam kebiasaan yang merusak.


Ia memohon kesembuhan, tetapi menolak pertolongan medis yang diperlukan.


Ia meminta hubungan menjadi baik, tetapi tidak mau berbicara jujur.


Ketahuilah bahwa ibadah tidak menghapus kewajiban untuk memperbaiki kehidupan nyata.


Jangan memakai kata tawakal untuk menutupi rasa takut bertindak.


Jangan memakai kata sabar untuk membiarkan kezaliman terus terjadi.


Jangan memakai kata ikhlas untuk menghindari pembicaraan yang penting.


Jangan memakai kata takdir untuk membenarkan kelalaian.


Ibadah yang benar menguatkan manusia menghadapi kenyataan.


Ia membuat langkah lebih jernih.


Ia menumbuhkan keberanian.


Ia melembutkan cara.


Ia menjaga agar usaha tidak berubah menjadi kesombongan.


Kejujuran ketika Iman Sedang Lemah


Tidak setiap hari hati terasa kuat.


Ada waktu ibadah terasa ringan.


Ada waktu doa mengalir dengan mudah.


Namun ada pula hari ketika hati terasa kering, tubuh lelah, pikiran penuh, dan ibadah terasa berat.


Jangan langsung menganggap dirimu telah kehilangan seluruh iman.


Manusia mempunyai perubahan keadaan.


Tubuh dapat lelah.


Pikiran dapat sakit.


Hati dapat terluka.


Dalam keadaan seperti itu, jangan meninggalkan semuanya.


Peganglah yang paling dasar.


Jagalah sholat sesuai kemampuan dan ketentuan.


Bacalah doa pendek.


Istighfarlah perlahan.


Sampaikan keadaanmu kepada Alloh.


Katakan:


“Yā Alloh, hari ini aku lemah, tetapi aku tidak ingin menjauh.”


Tidak perlu memaksakan ibadah tambahan hingga tubuh dan pikiran semakin terganggu.


Alloh tidak memerlukan manusia menyakiti dirinya atas nama pengabdian.


Ibadah membutuhkan keseimbangan.


Tubuh memiliki hak.


Keluarga memiliki hak.


Pekerjaan memiliki hak.


Tidur memiliki hak.


Istirahat dapat menjadi bagian dari amanah apabila dilakukan untuk memulihkan kemampuan menjalankan kewajiban.


Jangan Mengukur Kedekatan kepada Alloh melalui Sensasi


Sebagian manusia mengukur keadaan ruhani melalui sensasi tertentu.


Ia merasa dekat ketika tubuh bergetar.


Ia merasa diterima ketika melihat cahaya.


Ia merasa doanya dikabulkan ketika mengalami mimpi tertentu.


Ia merasa mundur apabila tidak merasakan apa pun.


Berhati-hatilah.


Sensasi dapat muncul karena banyak sebab.


Tubuh, emosi, kelelahan, suasana, harapan, dan pikiran dapat memengaruhi pengalaman seseorang.


Jangan menjadikan sensasi sebagai ukuran utama kedekatan kepada Alloh.


Ukuran yang lebih aman terlihat dalam akhlak.


Apakah engkau semakin jujur?


Apakah semakin menjaga amanah?


Apakah semakin sabar?


Apakah semakin mudah meminta maaf?


Apakah semakin menghormati manusia?


Apakah semakin takut mengambil hak orang lain?


Apakah ibadah membuatmu lebih mampu menghadapi kehidupan dengan jernih?


Pengalaman batin boleh direnungkan dengan rendah hati.


Namun jangan dibesar-besarkan hingga menjadi dasar merasa lebih tinggi daripada orang lain.


Jangan membuat keputusan besar hanya berdasarkan mimpi atau sensasi.


Timbanglah dengan ajaran agama, akal yang sehat, kenyataan, musyawarah, serta nasihat orang yang berilmu dan dapat dipercaya.


Kasih Sayang dalam Mengajak Ibadah


Mengajak manusia kepada kebaikan membutuhkan kasih sayang.


Jangan memaksa dengan penghinaan.


Jangan mempermalukan orang yang masih belajar.


Jangan menertawakan bacaan yang belum sempurna.


Jangan membuat orang yang baru kembali kepada ibadah merasa tidak pantas berada di antara orang-orang baik.


Setiap manusia mempunyai perjalanan.


Ada yang tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan agama.


Ada yang baru mengenal setelah dewasa.


Ada yang datang membawa banyak luka.


Ada yang pernah dikecewakan oleh perilaku orang yang memakai nama agama.


Maka sambutlah dengan kelembutan.


Ajarkan sedikit demi sedikit.


Berikan ruang bertanya.


Jangan marah hanya karena seseorang belum memahami.


Tegaslah dalam prinsip, tetapi lembutlah dalam bimbingan.


Tujuan dakwah bukan membuat manusia takut kepada pembawanya.


Tujuannya adalah membantu hati mengenal kebenaran dan mendekat kepada Alloh.


Jangan Memanfaatkan Ketakutan Ruhani


Ada orang yang datang dalam keadaan takut.


Ia mengira dirinya diganggu.


Ia merasa hidupnya tertutup.


Ia menganggap seluruh kesulitan berasal dari sebab gaib.


Dalam keadaan seperti itu, ia mudah dipengaruhi.


Jangan memanfaatkan ketakutannya.


Jangan membuat ancaman yang tidak mempunyai dasar.


Jangan berkata bahwa ia pasti celaka apabila tidak mengikuti perintahmu.


Jangan menjual kepastian keselamatan.


Jangan menjanjikan kekayaan, jodoh, kesembuhan, atau kedudukan gaib melalui jalan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.


Arahkanlah kepada langkah yang aman.


Apabila sakit, sarankan pemeriksaan kesehatan.


Apabila mengalami kecemasan berat, bantu mencari dukungan yang tepat.


Apabila mempunyai masalah ekonomi, bantu menata ikhtiar.


Apabila ada persoalan keluarga, dorong komunikasi dan perlindungan.


Doa dapat menyertai semua ikhtiar itu.


Namun doa tidak boleh dipakai untuk menggantikan bantuan yang memang dibutuhkan.


Kasih sayang melindungi orang yang sedang lemah dari ketergantungan, ketakutan, dan penipuan.


Ibadah dan Hak Manusia


Jangan merasa hubungan dengan Alloh telah baik apabila hubungan dengan manusia dipenuhi pengkhianatan.


Sholat tidak memberi izin untuk menipu.


Dzikir tidak menghapus kewajiban membayar utang.


Puasa tidak membenarkan seseorang bersikap kasar kepada keluarga.


Sedekah tidak dapat dipakai untuk menutupi harta yang diperoleh melalui kezaliman.


Membaca kitab tidak menggugurkan kewajiban meminta maaf.


Ibadah harus membentuk akhlak.


Apabila terdapat hak manusia, selesaikanlah.


Apabila tidak mampu sekaligus, buat langkah yang jujur.


Hubungi orangnya.


Akui tanggung jawab.


Susun penyelesaian.


Jangan menunggu kesempurnaan.


Mulailah dari yang dapat dilakukan.


Hubungan kepada Alloh dan tanggung jawab kepada manusia bukan dua jalan yang terpisah.


Kejujuran menyatukan keduanya.


Ketika Merasa Jauh dari Alloh


Ada masa manusia merasa doanya hampa.


Ia tidak merasakan ketenangan.


Ia menganggap dirinya terlalu kotor untuk kembali.


Ia berkata:


“Aku telah terlalu banyak melakukan kesalahan.”


Ketahuilah bahwa rasa bersalah dapat menjadi pintu taubat apabila diarahkan dengan benar.


Namun rasa bersalah dapat berubah menjadi perangkap apabila membuatmu berhenti berharap.


Jangan menunggu menjadi bersih untuk kembali kepada Alloh.


Kembalilah agar perlahan dibersihkan.


Jangan menunggu hati sempurna untuk berdoa.


Berdoalah dengan hati yang sedang rusak.


Jangan menunggu hidup tertata untuk mulai memperbaiki ibadah.


Mulailah dari satu langkah.


Berwudhulah.


Dirikan sholat.


Ucapkan istighfar.


Hentikan satu kesalahan.


Minta maaf kepada satu orang.


Kembalikan satu hak.


Alloh mengetahui perjuangan yang tidak dilihat manusia.


Jangan meremehkan langkah kecil menuju kebaikan.


Sabdo Lembar Kesembilan


«“Ibadah yang jujur tidak membuat manusia merasa memiliki Alloh. Ibadah membuat manusia sadar bahwa seluruh hidupnya berada dalam rahmat, pengetahuan, dan kekuasaan Alloh.”»


Wahai jiwa yang beribadah.


Jangan bertanya hanya:


“Berapa banyak yang telah kubaca?”


Tanyakan pula:


“Apa yang telah berubah dalam akhlakku?”


Jangan bertanya hanya:


“Apakah doaku telah dikabulkan?”


Tanyakan pula:


“Apakah doa membuatku lebih sabar dan bertanggung jawab?”


Jangan bertanya hanya:


“Apakah aku telah merasakan cahaya?”


Tanyakan pula:


“Apakah kehadiranku menjadi cahaya bagi keluarga dan sesama?”


Jangan hanya mengejar pengalaman ruhani.


Kejar pula kejujuran dalam pekerjaan.


Kejar amanah dalam keluarga.


Kejar kelembutan dalam berbicara.


Kejar keberanian mengakui kesalahan.


Sebab ibadah yang lurus akan turun dari sajadah menuju kehidupan.


Ia hidup dalam tangan yang tidak mengambil hak.


Ia hidup dalam lisan yang tidak memfitnah.


Ia hidup dalam keputusan yang adil.


Ia hidup dalam kasih sayang kepada makhluk.


Latihan Kejujuran dalam Ibadah


Lakukan latihan ini dengan tenang tanpa mengejar pengalaman tertentu.


Sebelum memulai, duduklah dan luruskan niat.


Bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā Alloh — 33 kali

Yā Hādī — 33 kali

Yā Laṭīf — 33 kali

Yā Raḥmān, Yā Raḥīm — masing-masing 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, aku datang kepada-Mu dengan kelemahan, kekurangan, dan harapanku. Bersihkan ibadahku dari riya, kesombongan, kepalsuan, dan keinginan menguasai manusia. Ajarkan aku berdoa dengan rendah hati, berusaha dengan sungguh-sungguh, menerima ketetapan-Mu dengan sabar, serta membuktikan ibadah melalui kejujuran dan kasih sayang dalam kehidupan. Jangan biarkan aku mengejar pujian, sensasi, dan kedudukan ruhani hingga melupakan akhlak dan tanggung jawab.»


Setelah itu, renungkan lima pertanyaan:


Apakah ibadahku membuatku semakin rendah hati?


Apakah ada amal yang kulakukan hanya agar diketahui manusia?


Apakah aku memakai doa untuk menghindari tanggung jawab nyata?


Apakah ada hak manusia yang belum kuselesaikan?


Apakah aku masih memperlakukan orang yang lemah dengan kasih sayang?


Pilih satu perbaikan nyata.


Sembunyikan satu amal.


Minta maaf.


Bayar sebagian utang.


Hentikan kebiasaan memamerkan ibadah.


Bantulah seseorang tanpa diketahui.


Atau kurangi ibadah tambahan yang berlebihan apabila tubuh membutuhkan pemulihan, lalu jagalah kewajiban dengan lebih baik.


Tanda Ibadah Mulai Berbuah


Buah ibadah tidak selalu berupa pengalaman luar biasa.


Tandanya sering tumbuh perlahan.


Hati lebih mudah bersyukur.


Lisan lebih terjaga.


Kemarahan lebih cepat reda.


Kesalahan lebih mudah diakui.


Hak manusia lebih diperhatikan.


Kebutuhan untuk dipuji berkurang.


Manusia tidak mudah menghukum orang lain.


Kesulitan tidak langsung membuatnya meninggalkan doa.


Kelapangan tidak membuatnya lupa diri.


Ia semakin sadar bahwa dirinya membutuhkan Alloh setiap saat.


Ia tidak merasa suci.


Ia justru semakin berhati-hati.


Ia mampu beribadah dalam keheningan tanpa membutuhkan pengakuan.


Ia tetap berusaha meskipun hasil belum terlihat.


Ia menerima bahwa tidak semua pertanyaan memperoleh jawaban segera.


Itulah sebagian buah penghambaan yang jujur.


Penutup Lembar Kesembilan


Wahai jiwa yang sedang mengetuk pintu rahmat.


Datanglah kepada Alloh dengan jujur.


Jangan sembunyikan kelemahanmu.


Jangan hiasi doa untuk membuat dirimu terlihat suci.


Jangan gunakan ibadah untuk meninggikan diri.


Jangan gunakan agama untuk menguasai manusia.


Jangan menjadikan keterlambatan jawaban doa sebagai alasan untuk berputus asa.


Teruslah menghadap.


Teruslah berusaha.


Teruslah memperbaiki akhlak.


Jagalah kewajiban.


Selesaikan amanah.


Mintalah pertolongan ketika membutuhkan.


Berobatlah ketika sakit.


Musyawarahkan ketika bingung.


Minta maaf ketika salah.


Kembalikan hak ketika berutang.


Sebab jalan menuju Alloh tidak menjauhkan manusia dari kenyataan.


Jalan itu membuat manusia semakin berani menjalani kenyataan dengan jujur, sabar, dan penuh kasih sayang.


Jangan ukur kedekatan hanya dari apa yang engkau rasakan.


Ukurlah pula dari kebaikan yang tumbuh melalui dirimu.


Apakah keluarga merasa aman?


Apakah orang lain dapat mempercayaimu?


Apakah tanganmu menjaga amanah?


Apakah lisanmu membawa kedamaian?


Apakah hatimu semakin lembut kepada yang lemah?


Apabila jawabannya perlahan menjadi lebih baik, teruslah berjalan.


Tidak perlu merasa telah sampai.


Cukuplah menjadi hamba yang setiap hari bersedia kembali.


«“Doa adalah kejujuran seorang hamba tentang kebutuhannya. Ibadah adalah kesetiaannya dalam menghadap. Akhlak adalah bukti bahwa perjumpaan itu telah menyentuh kehidupannya.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh membersihkan niat kita, menerima ibadah kita, meneguhkan doa dan ikhtiar kita, serta menjadikan kedekatan kepada-Nya melahirkan kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang kepada seluruh makhluk.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Kesepuluh


Kejujuran dalam Ilmu, Petunjuk, dan Penyampaian Perkara Ruhani


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang menempuh jalan lurus.


Ilmu adalah cahaya apabila dijaga dengan kejujuran.


Namun ilmu dapat berubah menjadi hijab apabila dipakai untuk meninggikan diri, menakut-nakuti manusia, mencari pengaruh, atau menyampaikan sesuatu yang belum diketahui seolah-olah telah pasti.


Tidak semua yang terlintas di dalam pikiran adalah petunjuk.


Tidak semua yang dirasakan oleh tubuh adalah tanda ruhani.


Tidak semua mimpi adalah pesan yang harus diikuti.


Tidak semua perkataan yang terdengar indah berasal dari kebenaran.


Tidak semua orang yang berbicara dengan penuh keyakinan benar-benar memiliki pengetahuan.


Karena itu, penempuh jalan harus memiliki kejujuran, ketelitian, kerendahan hati, serta keberanian untuk berkata:


“Aku belum mengetahui.”


Kalimat itu bukan tanda kebodohan.


Kalimat itu adalah pagar amanah.


Orang yang jujur terhadap batas pengetahuannya lebih selamat daripada orang yang memberikan jawaban kepada setiap persoalan hanya agar terlihat tinggi.


Ilmu Bukan Milik untuk Disombongkan


Manusia tidak menciptakan akalnya sendiri.


Ia tidak menciptakan kemampuan mengingat.


Ia tidak menciptakan kesempatan belajar.


Ia tidak menentukan siapa yang mempertemukannya dengan guru, buku, pengalaman, dan pelajaran kehidupan.


Karena itu, ilmu adalah titipan.


Semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar tanggung jawabnya untuk menjaga ucapan dan perbuatan.


Ilmu seharusnya melahirkan ketenangan.


Ilmu seharusnya menambah kehati-hatian.


Ilmu seharusnya membuat manusia menyadari betapa luas perkara yang belum diketahui.


Apabila pengetahuan membuat seseorang merasa dapat memastikan seluruh perkara, maka ia perlu memeriksa dirinya.


Apabila ilmu membuatnya menolak setiap koreksi, maka kesombongan mungkin telah memakai pakaian pengetahuan.


Apabila ia selalu ingin menjadi orang yang paling didengar, tetapi tidak pernah bersedia mendengar, maka ilmu belum sepenuhnya menjadi cahaya.


Orang berilmu tidak harus mempunyai jawaban untuk semuanya.


Ia justru memahami kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus mencari sumber, serta kapan harus menyerahkan perkara kepada orang yang lebih ahli.


Bahaya Membungkus Dugaan sebagai Kepastian


Dugaan dapat muncul dari pengalaman, perasaan, mimpi, prasangka, atau potongan informasi yang belum lengkap.


Dugaan tidak selalu salah.


Namun dugaan tidak boleh disampaikan sebagai kepastian.


Katakan dengan jujur:


“Menurut perkiraanku.”


“Aku belum dapat memastikan.”


“Perkara ini perlu diperiksa kembali.”


“Ada kemungkinan lain yang juga harus dipertimbangkan.”


Jangan berkata:


“Pasti demikian.”


Apabila engkau tidak mempunyai dasar yang cukup.


Satu kepastian palsu dapat membuat manusia mengambil keputusan yang merugikan.


Seseorang dapat meninggalkan pekerjaan.


Seseorang dapat memutuskan hubungan.


Seseorang dapat menolak pengobatan.


Seseorang dapat menuduh keluarga.


Seseorang dapat menghabiskan harta.


Seseorang dapat hidup dalam ketakutan hanya karena menerima perkataan yang disampaikan seolah-olah pasti.


Maka jagalah lisan.


Kekuatan suara tidak menjadikan perkataan benar.


Keyakinan seseorang terhadap ucapannya juga tidak selalu menjadi bukti.


Kebenaran harus diperiksa dengan dasar, kenyataan, akal sehat, ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan, dan akibat yang ditimbulkannya.


Ketika Pengalaman Pribadi Dianggap Berlaku untuk Semua Orang


Setiap manusia mempunyai perjalanan yang berbeda.


Ada amalan yang membuat seseorang merasa tenang.


Namun orang lain mungkin tidak mengalami hal yang sama.


Ada kebiasaan yang membantu satu tubuh.


Namun tubuh lain memiliki keadaan yang berbeda.


Ada cara hidup yang sesuai bagi seseorang.


Namun belum tentu sesuai bagi semua keluarga.


Jangan menjadikan pengalaman pribadi sebagai hukum umum.


Katakan:


“Cara ini membantuku.”


Bukan:


“Semua orang harus melakukan cara ini.”


Katakan:


“Aku merasakan manfaatnya.”


Bukan:


“Siapa pun yang tidak merasakan berarti kurang iman.”


Katakan:


“Ini adalah pemahamanku saat ini.”


Bukan:


“Inilah satu-satunya kebenaran.”


Kejujuran mengakui bahwa pengalaman pribadi mempunyai batas.


Apa yang dirasakan manusia dapat dipengaruhi oleh kesehatan, emosi, lingkungan, harapan, rasa takut, dan keadaan hidupnya.


Karena itu, pengalaman dapat dijadikan bahan perenungan, tetapi jangan langsung dijadikan perintah bagi orang lain.


Mimpi dan Isyarat Batin


Mimpi dapat datang dari banyak keadaan.


Ada mimpi yang lahir dari pikiran sehari-hari.


Ada yang dipengaruhi ketakutan.


Ada yang muncul karena tubuh lelah.


Ada yang mengingatkan manusia kepada perkara yang perlu direnungkan.


Namun tidak setiap mimpi menjadi perintah.


Jangan membuat keputusan besar hanya karena satu mimpi.


Jangan menuduh seseorang berdasarkan mimpi.


Jangan membatalkan pernikahan, pekerjaan, pengobatan, perjalanan, atau hubungan keluarga hanya karena gambaran tidur yang belum jelas.


Renungkanlah dengan tenang.


Ambil pesan moral yang baik apabila ada.


Namun timbanglah keputusan melalui kenyataan, musyawarah, ilmu, bukti, dan pertimbangan yang sehat.


Mimpi yang baik tidak membutuhkan manusia menjadi ceroboh.


Petunjuk yang benar tidak akan mengajarkan kezaliman, kebohongan, kesombongan, atau perusakan hak.


Apabila suatu mimpi membuatmu merasa paling istimewa, paling tinggi, atau berhak menguasai manusia, jangan segera mengikutinya.


Periksa kembali hatimu.


Sebab hawa nafsu juga dapat berbicara melalui gambaran yang disukai manusia.


Sensasi Tubuh dan Pengalaman Ruhani


Dalam doa, dzikir, keheningan, atau ketika mendengar suara tertentu, tubuh dapat mengalami berbagai sensasi.


Dada dapat terasa berdebar.


Telinga dapat berdenging.


Tubuh dapat menjadi hangat atau dingin.


Napas dapat berubah.


Tangan dapat kesemutan.


Kepala dapat terasa berat.


Semua itu tidak boleh langsung dipastikan sebagai tanda ruhani.


Tubuh mempunyai sistem saraf, pernapasan, peredaran darah, dan keadaan kesehatan yang dapat memengaruhi sensasi.


Apabila sensasi ringan dan segera hilang, tenangkan diri dan beristirahat.


Namun apabila muncul sesak napas, nyeri dada, pingsan, kelemahan tubuh, pandangan terganggu, kesemutan berat, atau rasa sakit yang menetap, carilah pertolongan kesehatan.


Jangan menunda pemeriksaan hanya karena menganggap semuanya sebagai proses batin.


Menjaga tubuh adalah amanah.


Doa dapat dilakukan bersama ikhtiar kesehatan.


Keduanya tidak harus saling meniadakan.


Kasih sayang kepada diri berarti tidak memaksa tubuh melalui latihan yang membuat keadaan semakin buruk.


Jangan Menjadikan Ketakutan sebagai Jalan Mengajar


Ada orang yang mudah percaya ketika sedang takut.


Ia takut terhadap penyakit.


Ia takut kehilangan rezeki.


Ia takut rumah tangganya rusak.


Ia takut mendapat gangguan.


Ia takut hidupnya tertutup.


Dalam keadaan itu, ia membutuhkan ketenangan dan penjelasan yang jujur.


Jangan menambah ketakutannya.


Jangan berkata bahwa ada bahaya besar apabila engkau tidak mempunyai dasar.


Jangan mengancam bahwa ia akan celaka apabila tidak mengikuti suatu ritual.


Jangan membuat manusia merasa hanya dirimu yang mampu menyelamatkannya.


Jangan membuat biaya yang terus bertambah dengan alasan gangguan semakin berat.


Jangan menjadikan ketakutan sebagai pintu mengambil harta.


Orang yang benar-benar ingin menolong akan mengarahkan manusia kepada ketenangan, doa yang baik, pemeriksaan yang sesuai, perlindungan yang nyata, serta keputusan yang tidak tergesa-gesa.


Ia tidak menumbuhkan ketergantungan.


Ia membantu orang lain kembali mampu berdiri.


Perkara Ruhani Tidak Menghapus Kenyataan


Apabila seseorang kehilangan pekerjaan, jangan langsung menyimpulkan bahwa jalan rezekinya ditutup oleh kekuatan tertentu.


Periksa keterampilan, keadaan usaha, hubungan kerja, kondisi ekonomi, dan langkah yang dapat diperbaiki.


Apabila hubungan keluarga bermasalah, jangan langsung menuduh adanya pengaruh gaib.


Periksa komunikasi, kejujuran, pengelolaan keuangan, kesetiaan, kelelahan, dan luka yang belum diselesaikan.


Apabila seseorang sakit, jangan langsung menyatakan penyebabnya ruhani.


Periksakan kesehatannya.


Apabila seseorang mengalami ketakutan, sulit tidur, mendengar atau melihat sesuatu yang membuatnya terganggu, bantu ia memperoleh dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan yang tepat.


Doa boleh menyertai.


Dzikir boleh menenangkan.


Namun jangan mengabaikan kenyataan yang dapat diperiksa.


Jalan lurus tidak membuat manusia lari dari dunia nyata.


Jalan lurus menuntun manusia melihat seluruh perkara dengan lebih jernih.


Mengakui Kesalahan dalam Mengajar


Guru, pemimpin, penulis, dan penasihat tetap dapat melakukan kesalahan.


Tidak ada kehinaan dalam mengoreksi perkataan yang kurang tepat.


Katakan:


“Penjelasanku sebelumnya perlu diperbaiki.”


“Aku memperoleh informasi baru.”


“Aku terlalu cepat menyimpulkan.”


“Dalam perkara ini, aku harus meminta maaf.”


Pengakuan seperti itu justru menjaga kepercayaan.


Orang yang selalu mempertahankan perkataan lama hanya demi menjaga wibawa dapat menyesatkan dirinya dan orang lain.


Kebenaran lebih besar daripada harga diri.


Apabila suatu nasihat telah merugikan seseorang, jangan hanya menghapus atau melupakannya.


Hubungi orang yang terdampak apabila memungkinkan.


Luruskan pemahaman.


Minta maaf.


Bantu memperbaiki akibat yang masih dapat diperbaiki.


Ilmu yang jujur tidak takut dikoreksi.


Ia tumbuh melalui pemeriksaan.


Ia menjadi lebih bersih melalui pengakuan.


Memilih Sumber dan Orang yang Dipercaya


Jangan menyerahkan seluruh keputusan hidup kepada seseorang hanya karena ia berbicara dengan indah.


Lihatlah akhlaknya.


Lihatlah apakah ia menjaga amanah.


Lihatlah apakah ia bersedia dikoreksi.


Lihatlah apakah ia membedakan fakta, dugaan, pengalaman pribadi, dan keyakinan.


Lihatlah apakah ia mendorong manusia menjadi mandiri atau semakin bergantung.


Lihatlah apakah ia menghormati ilmu lain.


Lihatlah apakah ia menyarankan pertolongan medis, hukum, atau keuangan ketika memang diperlukan.


Lihatlah pula apakah urusan harta dijelaskan dengan jujur.


Orang yang dapat dipercaya tidak selalu memakai kata-kata yang tinggi.


Kadang ia berkata sederhana:


“Periksakan dahulu.”


“Jangan terburu-buru.”


“Aku tidak mempunyai cukup pengetahuan.”


“Carilah pendapat kedua.”


“Jangan hentikan pengobatan tanpa arahan tenaga kesehatan.”


Perkataan sederhana seperti itu dapat menjadi bentuk amanah yang sangat besar.


Jangan Mengagungkan Nama Melebihi Kebenaran


Manusia mudah terpesona oleh gelar.


Guru.


Ustadz.


Kiai.


Pemimpin.


Penyembuh.


Ahli hikmah.


Orang pilihan.


Pemegang rahasia.


Namun gelar tidak membuat seseorang selalu benar.


Hormatilah orang yang berilmu, tetapi jangan meninggalkan akal sehat.


Jaga adab, tetapi jangan takut mengajukan pertanyaan.


Terima nasihat, tetapi periksa akibatnya.


Jangan menganggap bertanya sebagai pembangkangan.


Jangan menganggap koreksi sebagai penghinaan.


Kehormatan seseorang tidak boleh dibangun dengan membungkam pertanyaan.


Pemimpin yang jujur tidak takut apabila ucapannya diperiksa.


Guru yang amanah tidak membuat murid kehilangan kemampuan berpikir.


Ia mengajarkan dasar, adab, dan tanggung jawab.


Ia tidak menjadikan dirinya sebagai pusat segala kebenaran.


Kejujuran dalam Menulis dan Menyampaikan Kitab


Tulisan mempunyai umur yang panjang.


Perkataan lisan mungkin segera hilang, tetapi tulisan dapat dibaca berulang kali dan berpindah kepada banyak manusia.


Karena itu, penulis harus menjaga amanah.


Bedakan antara wahyu, ajaran agama, pendapat ulama, tafsir pribadi, renungan, sastra, simbol, dan nasihat moral.


Jangan menyebut karya renungan manusia sebagai wahyu.


Jangan mengaku suatu tulisan turun langsung dari langit apabila tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.


Apabila sebuah kitab disusun sebagai karya renungan, katakanlah dengan jujur bahwa ia merupakan tulisan pengingat, nasihat, dan perenungan.


Jangan menjadikannya tandingan kitab suci.


Jangan pula menggunakan kalimat yang membuat pembaca mengira bahwa seluruh isinya pasti berasal dari ketetapan ilahi.


Kejujuran tidak mengurangi nilai karya.


Justru kejujuran membuat karya berada pada tempat yang benar.


Tulisan yang baik tidak harus mengaku berasal dari sumber yang luar biasa.


Kebaikan, kelembutan, akhlak, dan manfaat dapat menjadi keindahan yang cukup.


Menjaga Adab terhadap Al-Qur’an dan Ajaran Agama


Al-Qur’an mempunyai kedudukan yang tidak sama dengan tulisan manusia.


Karena itu, jangan menyebut bagian karya pribadi sebagai ayat Al-Qur’an.


Jangan membuat susunan yang membingungkan pembaca seolah-olah menjadi bagian dari wahyu.


Apabila mengutip ayat atau hadis, periksa sumber dan maknanya.


Jangan mengubah arti untuk mendukung keinginan pribadi.


Jangan memakai potongan ayat untuk menakut-nakuti manusia tanpa menjelaskan konteksnya.


Jangan menggunakan nama Alloh untuk mengesahkan keputusan yang sebenarnya berasal dari pendapat sendiri.


Katakan:


“Menurut pemahamanku.”


Bukan:


“Alloh pasti menghendaki seperti yang kukatakan.”


Manusia harus berhati-hati ketika membawa nama Alloh.


Semakin suci nama yang disebut, semakin besar tanggung jawab menjaga kebenaran ucapan.


Kasih Sayang dalam Menyampaikan Ilmu


Ilmu bukan hanya perkara benar atau salah.


Cara menyampaikannya juga penting.


Ada orang yang belum memahami karena belum pernah belajar.


Ada yang lambat karena mempunyai keterbatasan.


Ada yang takut bertanya karena pernah dipermalukan.


Ada yang membawa pemahaman keliru karena dibesarkan dalam lingkungan tertentu.


Jangan merendahkan.


Jelaskan dengan sabar.


Gunakan bahasa yang dapat dipahami.


Jangan sengaja memakai istilah sulit agar terlihat tinggi.


Jangan marah ketika pertanyaan diulang.


Jangan membuat orang malu karena tidak mengetahui.


Tujuan ilmu adalah membuka jalan.


Bukan membuat manusia merasa bodoh dan tidak layak.


Apabila harus mengoreksi, koreksilah isi tanpa menghancurkan harga diri.


Katakan:


“Pemahaman itu perlu diluruskan.”


Bukan:


“Engkau tidak mempunyai akal.”


Kasih sayang menjadikan ilmu terasa seperti cahaya, bukan cambuk.


Ketika Ilmu Digunakan untuk Mencari Pengikut


Ada manusia yang tidak lagi mencari kebenaran.


Ia mencari jumlah pengikut.


Ia mengatakan hal-hal yang disukai banyak orang.


Ia memberikan janji besar.


Ia membuat cerita luar biasa.


Ia membangun kesan bahwa kelompoknya mempunyai kedudukan paling tinggi.


Ia membuat orang takut keluar.


Ia mengajarkan bahwa keselamatan hanya ada melalui ketaatan kepada dirinya.


Berhati-hatilah.


Kebenaran tidak membutuhkan ancaman agar tetap benar.


Kelompok yang sehat memberi ruang pertanyaan.


Ia tidak memutus manusia dari keluarga tanpa sebab yang benar.


Ia tidak meminta penyerahan harta secara tertutup.


Ia tidak mengatur seluruh kehidupan pribadi.


Ia tidak membuat anggota merasa berdosa hanya karena ingin beristirahat atau berbeda pendapat.


Persaudaraan yang baik membantu manusia tumbuh.


Bukan kehilangan dirinya.


Sabdo Lembar Kesepuluh


«“Ilmu yang lurus tidak membuat manusia merasa mengetahui segala sesuatu. Ia membuat manusia semakin jujur terhadap apa yang diketahui, semakin hati-hati terhadap apa yang belum diketahui, dan semakin penuh kasih kepada orang yang sedang belajar.”»


Wahai jiwa yang menerima pengetahuan.


Jangan terburu-buru menyebut setiap rasa sebagai isyarat.


Jangan terburu-buru menyebut setiap mimpi sebagai petunjuk.


Jangan terburu-buru menyebut setiap penyakit sebagai gangguan ruhani.


Jangan terburu-buru menyebut setiap kesulitan sebagai hukuman.


Jangan terburu-buru menyebut setiap keberhasilan sebagai bukti kemuliaan.


Periksa.


Renungkan.


Musyawarahkan.


Carilah ahli.


Lihatlah akibatnya.


Dan jangan takut berkata:


“Aku perlu waktu untuk memahami.”


Keterlambatan dalam menjawab lebih baik daripada kepastian yang menyesatkan.


Latihan Kejujuran dalam Ilmu


Pada waktu yang tenang, duduklah dan periksalah seluruh pengetahuan yang sering engkau sampaikan.


Bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā ‘Alīm — 33 kali

Yā Ḥakīm — 33 kali

Yā Hādī — 33 kali

Yā Laṭīf — 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, lindungilah aku dari berbicara tanpa ilmu, memastikan sesuatu yang masih berupa dugaan, serta menggunakan nama-Mu untuk membesarkan pendapatku sendiri. Ajarkan aku mengetahui batas pengetahuanku, menerima koreksi, mencari sumber yang benar, dan menyampaikan ilmu dengan kasih sayang. Jadikan setiap perkataanku membawa kejernihan, bukan ketakutan; kemandirian, bukan ketergantungan; dan perbaikan, bukan kesombongan.»


Setelah itu, renungkan:


Apakah aku pernah menyampaikan dugaan sebagai kepastian?


Apakah aku pernah menakut-nakuti seseorang tanpa dasar yang jelas?


Apakah aku mampu berkata bahwa aku belum mengetahui?


Apakah aku membedakan pengalaman pribadi dari ajaran yang berlaku umum?


Apakah nasihatku membuat manusia semakin tenang dan bertanggung jawab atau semakin takut dan bergantung?


Apakah ada penjelasan lama yang harus diperbaiki?


Pilih satu tindakan nyata.


Luruskan satu informasi.


Minta maaf atas satu kesimpulan yang terlalu cepat.


Berhenti menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.


Arahkan seseorang kepada tenaga ahli.


Berikan sumber yang lebih jelas.


Atau hapus tulisan yang dapat menyesatkan apabila tidak dapat diperbaiki.


Kejujuran dalam ilmu bukan hanya perkara hati.


Ia harus tampak dalam keberanian memperbaiki kesalahan.


Tanda Ilmu Mulai Menjadi Cahaya


Ilmu yang menjadi cahaya mempunyai tanda.


Orang yang memilikinya semakin rendah hati.


Ia tidak tergesa-gesa menjawab.


Ia dapat membedakan antara fakta dan pendapat.


Ia tidak takut mengaku salah.


Ia menghormati bidang keahlian lain.


Ia tidak membuat manusia takut bertanya.


Ia tidak menjanjikan hasil yang tidak pasti.


Ia tidak memakai gelar untuk menuntut ketaatan.


Ia membantu orang lain berpikir lebih jernih.


Ia tidak menumbuhkan ketergantungan.


Ia menjaga kesehatan, keselamatan, kehormatan, serta hak manusia.


Ia memahami bahwa ilmu yang benar harus mendatangkan manfaat dan mencegah kerusakan.


Ia juga tidak menganggap dirinya sebagai sumber cahaya.


Ia sadar bahwa dirinya hanyalah manusia yang sedang belajar membawa amanah.


Penutup Lembar Kesepuluh


Wahai jiwa yang berjalan melalui ilmu.


Jangan takut terlihat belum mengetahui.


Takutlah apabila berkata tanpa dasar lalu merugikan manusia.


Jangan takut dikoreksi.


Takutlah apabila kesombongan membuatmu mempertahankan kesalahan.


Jangan takut kehilangan pujian.


Takutlah apabila pujian membuatmu kehilangan kejujuran.


Jangan membangun kewibawaan dengan ketakutan.


Bangunlah kepercayaan dengan amanah.


Jangan membuat manusia bergantung kepada namamu.


Bantulah mereka kembali berdiri dengan doa, ilmu, akal sehat, dan tanggung jawab.


Gunakan ilmu untuk menenangkan.


Gunakan pengetahuan untuk melindungi.


Gunakan tulisan untuk mengingatkan.


Gunakan pengaruh untuk membuka jalan kebaikan.


Dan ketika engkau belum mengetahui, diamlah dengan rendah hati sampai memperoleh kejelasan.


Sebab diam yang jujur lebih mulia daripada jawaban panjang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.


«“Kejujuran adalah penjaga ilmu. Kerendahan hati adalah pintunya. Kasih sayang adalah cara menyampaikannya. Dan kemaslahatan manusia adalah salah satu tanda bahwa ilmu telah berjalan pada tempatnya.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh menjaga kita dari kesombongan ilmu, melindungi lisan dari perkataan tanpa dasar, membukakan pemahaman yang benar, serta menjadikan seluruh pengetahuan kita sebagai jalan keselamatan, kejernihan, dan kasih sayang bagi kehidupan.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Kesebelas


Kejujuran Mengakui Kesalahan, Menempuh Taubat, dan Memulai Jalan yang Baru


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang belajar kembali kepada jalan yang lurus.


Tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan.


Ada kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan.


Ada yang muncul karena kelemahan.


Ada yang dilakukan ketika hati dikuasai kemarahan, ketakutan, kesombongan, ketamakan, atau keinginan mendapatkan sesuatu dengan cepat.


Ada pula kesalahan yang terus diulangi, meskipun hati sebenarnya telah mengetahui bahwa jalan itu tidak benar.


Namun besarnya kesalahan tidak boleh membuat manusia menutup pintu harapan.


Selama kehidupan masih diberikan, jalan untuk kembali masih terbuka.


Taubat bukan hanya tangisan.


Taubat bukan hanya ucapan istighfar.


Taubat adalah keberanian menghadap kebenaran, mengakui kesalahan, menyesalinya, menghentikannya, memperbaiki akibatnya, dan berusaha tidak kembali kepada jalan yang sama.


Orang yang bertobat bukan orang yang tidak mempunyai masa lalu.


Ia adalah orang yang tidak lagi membiarkan masa lalunya menguasai arah masa depan.


Langkah Pertama: Berhenti Menyangkal


Kesalahan sulit diperbaiki selama manusia masih menyangkalnya.


Ada orang yang berkata:


“Aku tidak bersalah.”


Padahal ia mengetahui ada hak yang telah dilanggar.


Ada yang berkata:


“Aku hanya mengikuti keadaan.”


Padahal ia masih mempunyai pilihan.


Ada yang berkata:


“Semua orang juga melakukannya.”


Seolah-olah banyaknya orang yang salah dapat mengubah kesalahan menjadi benar.


Ada pula yang menyalahkan keluarga, lingkungan, masa lalu, kemiskinan, kemarahan, atau orang yang menjadi korban.


Keadaan memang dapat memengaruhi manusia.


Luka masa lalu dapat membentuk kebiasaan.


Lingkungan buruk dapat membuka pintu kesalahan.


Keterdesakan dapat melemahkan pertimbangan.


Namun penjelasan tidak selalu menghapus tanggung jawab.


Kejujuran berkata:


“Aku dapat memahami sebab mengapa aku melakukan kesalahan, tetapi aku tetap harus bertanggung jawab atas akibatnya.”


Inilah pintu awal taubat.


Bukan menghancurkan diri.


Bukan pula mencari alasan.


Melainkan melihat kenyataan dengan jernih.


Penyesalan yang Menghidupkan


Penyesalan mempunyai dua jalan.


Penyesalan pertama menghancurkan.


Ia berkata:


“Aku tidak berguna.”


“Aku terlalu kotor untuk kembali.”


“Tidak ada lagi harapan untukku.”


“Semua kebaikan telah tertutup.”


Penyesalan seperti ini membuat manusia tenggelam dalam rasa bersalah tanpa perubahan.


Sedangkan penyesalan kedua menghidupkan.


Ia berkata:


“Perbuatanku salah.”


“Aku tidak ingin mengulanginya.”


“Aku harus memperbaiki yang masih dapat diperbaiki.”


“Aku membutuhkan ampunan dan pertolongan Alloh.”


Penyesalan yang benar tidak berhenti pada air mata.


Ia melahirkan langkah.


Ia membuat manusia menjauh dari jalan yang buruk.


Ia mengembalikan hak.


Ia mencari pertolongan.


Ia memperbaiki kebiasaan.


Ia menjadi lebih berhati-hati agar kesalahan yang sama tidak kembali.


Jangan mengira bahwa semakin lama engkau menghukum diri, semakin sempurna taubatmu.


Taubat bukan menyiksa diri.


Taubat adalah kembali kepada kebenaran.


Mengakui Kesalahan tanpa Membenci Diri


Bedakan antara dirimu dan perbuatanmu.


Engkau dapat berkata:


“Aku telah melakukan keburukan.”


Tanpa harus berkata:


“Aku adalah keburukan itu sendiri.”


Perbuatan harus dinilai dengan jujur.


Namun manusia tetap mempunyai kesempatan berubah.


Jangan menggunakan kasih sayang kepada diri untuk mengecilkan kesalahan.


Tetapi jangan menggunakan kesalahan untuk menghapus seluruh nilai dirimu.


Katakanlah:


“Aku mempunyai tanggung jawab memperbaiki kesalahan ini.”


Bukan:


“Aku tidak pantas menjalani kehidupan yang lebih baik.”


Apabila seseorang merasa dirinya tidak layak menerima kebaikan, ia dapat kembali kepada kebiasaan lama karena menganggap perubahan tidak lagi berguna.


Itulah salah satu jebakan putus asa.


Janganlah engkau masuk ke dalamnya.


Rahmat Alloh bukan alasan untuk meremehkan dosa.


Namun dosa juga bukan alasan untuk berputus asa dari rahmat Alloh.


Jalan yang lurus berada di antara keduanya:


Takut kepada akibat kesalahan.


Berharap kepada ampunan Alloh.


Dan bersungguh-sungguh melakukan perbaikan.


Taubat Tidak Hanya antara Hamba dan Alloh


Ada kesalahan yang hanya berkaitan dengan diri dan hubungan kepada Alloh.


Namun ada pula kesalahan yang melibatkan manusia.


Apabila kesalahan menyangkut hak manusia, taubat membutuhkan perbaikan nyata.


Apabila mengambil harta, kembalikan.


Apabila mempunyai utang, bayarlah sesuai kemampuan dan buatlah kesepakatan yang jujur.


Apabila menyebarkan kebohongan, luruskan.


Apabila merusak nama baik, hentikan cerita dan pulihkan kehormatannya sejauh yang mampu dilakukan.


Apabila melakukan kekerasan, berhentilah, akui kesalahan, terima batas, dan cari bantuan agar tidak mengulanginya.


Apabila mengabaikan amanah, selesaikan atau serahkan kepada orang yang mampu menjaganya.


Apabila telah menipu, jangan hanya beristighfar dalam kesendirian sementara kerugian masih ditanggung orang lain.


Istighfar adalah pengakuan kepada Alloh.


Mengembalikan hak adalah bukti bahwa pengakuan itu hidup dalam perbuatan.


Meminta Maaf dengan Benar


Tidak semua permintaan maaf membawa perbaikan.


Ada permintaan maaf yang masih dipenuhi pembelaan:


“Maaf, tetapi engkau juga salah.”


Ada yang menyalahkan perasaan korban:


“Maaf apabila engkau merasa tersinggung.”


Ada yang menuntut agar segera dimaafkan:


“Aku sudah meminta maaf, mengapa engkau masih membahasnya?”


Permintaan maaf yang jujur tidak memaksa korban segera pulih.


Ia mengakui perbuatan dengan jelas.


Ia tidak mengecilkan akibat.


Ia tidak menyalahkan orang yang terluka.


Ia bersedia menerima bahwa kepercayaan membutuhkan waktu untuk dibangun kembali.


Katakanlah:


“Aku telah melakukan kesalahan.”


“Perbuatanku membuatmu terluka.”


“Aku tidak mempunyai alasan untuk membenarkannya.”


“Aku akan memperbaiki bagian yang masih dapat diperbaiki.”


“Aku memahami apabila engkau membutuhkan jarak dan waktu.”


Permintaan maaf tidak memberi hak untuk memaksa orang kembali dekat.


Memaafkan adalah hak orang yang terluka.


Tanggung jawab pelaku adalah berubah, meskipun pengampunan manusia belum diperoleh.


Ketika Orang Lain Belum Memaafkan


Ada kalanya seseorang telah menyesal, tetapi orang yang disakiti belum mampu memaafkan.


Jangan marah.


Jangan menuduhnya tidak memiliki kasih sayang.


Engkau mungkin telah memikirkan kesalahanmu selama beberapa hari.


Namun ia mungkin telah menanggung lukanya selama bertahun-tahun.


Berilah ruang.


Tunjukkan perubahan melalui waktu.


Jangan terus mendatanginya apabila ia meminta jarak.


Jangan memakai keluarga atau sahabat untuk menekannya.


Jangan membuat dirimu menjadi korban hanya karena permintaan maaf belum diterima.


Terimalah bahwa setiap perbuatan mempunyai akibat.


Taubat tidak selalu menghapus seluruh konsekuensi dunia.


Seseorang dapat benar-benar menyesal, tetapi tetap harus membayar kerugian.


Ia dapat bertobat, tetapi tetap kehilangan kedudukan.


Ia dapat berubah, tetapi hubungan tidak selalu kembali seperti dahulu.


Menerima akibat dengan jujur merupakan bagian dari tanggung jawab.


Memperbaiki Tanpa Mencari Pengakuan


Ada orang yang ingin segera dikenal sebagai manusia yang telah berubah.


Ia menceritakan taubatnya kepada banyak orang.


Ia meminta orang lain melupakan masa lalu.


Ia marah apabila masih dicurigai.


Ketahuilah bahwa perubahan tidak membutuhkan pengumuman besar.


Biarkan waktu menjadi saksi.


Biarkan kebiasaan baru berbicara.


Biarkan amanah yang dijaga perlahan membangun kepercayaan.


Jangan menuntut pujian karena telah berhenti melakukan keburukan.


Berhenti dari keburukan adalah kewajiban.


Memperbaiki kerusakan adalah tanggung jawab.


Apabila manusia melihat perubahanmu, bersyukurlah.


Apabila mereka belum percaya, tetaplah menjaga jalan.


Taubat dilakukan untuk kembali kepada ridho Alloh, bukan hanya untuk memperoleh kembali penilaian baik dari manusia.


Menutup Pintu yang Membawa kepada Kesalahan


Taubat yang sungguh-sungguh tidak hanya berhenti melakukan kesalahan.


Ia juga menutup jalan yang biasa membawa kepadanya.


Apabila lingkungan mendorongmu kepada keburukan, kurangi atau tinggalkan.


Apabila suatu pertemanan selalu mengajak kepada penipuan, kemaksiatan, atau kekerasan, ambillah jarak.


Apabila telepon, aplikasi, tempat, uang, atau kebiasaan tertentu terus menjadi pintu kesalahan, buatlah batas yang nyata.


Apabila marah membuatmu melukai, belajar meninggalkan ruangan sebelum kemarahan memuncak.


Apabila utang konsumtif selalu berulang, hentikan pembelian yang tidak perlu.


Apabila pujian membuatmu sombong, kurangi kebiasaan mencari perhatian.


Apabila kesepian membuatmu kembali kepada hubungan yang merusak, carilah dukungan yang sehat.


Jangan berkata:


“Aku akan kuat menghadapi godaan yang sama.”


Sementara engkau sengaja tetap berdiri di depan pintunya.


Kekuatan juga berarti mengetahui kapan harus menjauh.


Jangan Kembali karena Rasa Rindu terhadap Kebiasaan Lama


Manusia dapat merindukan kebiasaan yang sebenarnya telah merusaknya.


Bukan karena kebiasaan itu baik.


Namun karena ia telah lama menjadi tempat pelarian.


Ketika sedih, ia kembali kepada jalan lama.


Ketika kesepian, ia menghubungi orang yang merusak.


Ketika tertekan, ia mencari ketenangan sesaat melalui perbuatan yang kemudian disesali.


Pahami pola itu.


Jangan hanya melawan perbuatannya.


Carilah kebutuhan yang tersembunyi di belakangnya.


Apakah engkau membutuhkan dukungan?


Apakah engkau sedang lelah?


Apakah engkau merasa tidak berharga?


Apakah engkau membutuhkan pertolongan untuk mengelola emosi?


Apakah tubuh dan pikiranmu membutuhkan perawatan?


Taubat yang kuat tidak hanya berkata:


“Aku tidak akan melakukannya lagi.”


Ia juga bertanya:


“Apa yang harus kuubah agar aku tidak kembali mencari perlindungan pada jalan yang salah?”


Taubat Membutuhkan Kesabaran


Perubahan tidak selalu terjadi sekaligus.


Ada kebiasaan yang telah dibangun bertahun-tahun.


Ia membutuhkan waktu untuk dilemahkan.


Ada luka yang membuat manusia mudah kembali kepada pola lama.


Ia membutuhkan pendampingan dan latihan.


Ada kecanduan, kemarahan, kebohongan, serta pola kekerasan yang mungkin membutuhkan bantuan ahli.


Jangan malu mencari pertolongan.


Doa tidak bertentangan dengan bantuan profesional.


Nasihat agama tidak bertentangan dengan perawatan kesehatan dan psikologis.


Musyawarah keluarga tidak bertentangan dengan pendampingan hukum apabila keselamatan terancam.


Alloh membuka pertolongan melalui banyak jalan.


Gunakanlah jalan yang baik dan bertanggung jawab.


Apabila engkau jatuh lagi, jangan menjadikan kejatuhan itu alasan untuk menyerah sepenuhnya.


Berhenti.


Akui.


Perbaiki.


Cari sebabnya.


Perkuat perlindungan.


Kemudian bangkit kembali.


Jangan berkata:


“Karena aku telah mengulanginya, seluruh usahaku sia-sia.”


Satu kegagalan tidak menghapus semua langkah baik.


Namun kegagalan juga tidak boleh diremehkan.


Ambillah pelajaran dan buat perubahan yang lebih nyata.


Kesalahan Masa Lalu Bukan Gelar Abadi


Manusia sering mengikat dirinya kepada satu sebutan.


Pendusta.


Pengkhianat.


Orang gagal.


Pendosa.


Korban.


Orang yang rusak.


Sebutan itu kemudian menjadi penjara.


Ia berkata:


“Aku memang seperti ini.”


Padahal kebiasaan dapat diubah.


Perbuatan dapat ditinggalkan.


Akhlak dapat dididik.


Luka dapat dipulihkan.


Jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk tidak bertumbuh.


Namun jangan pula menghapus masa lalu seolah-olah tidak pernah terjadi.


Bawalah sebagai pelajaran.


Bukan sebagai mahkota.


Bukan pula sebagai rantai.


Orang yang pernah berdusta dapat belajar menjadi sangat jujur karena mengetahui pahitnya hidup dalam kebohongan.


Orang yang pernah menyakiti dapat menjadi pelindung apabila benar-benar memahami akibat kekerasan.


Orang yang pernah tersesat dapat membantu orang lain menemukan jalan, selama ia tetap rendah hati dan tidak menganggap pengalaman pribadinya berlaku bagi semua orang.


Masa lalu dapat menjadi tanah tempat hikmah tumbuh, apabila disiram dengan kejujuran dan tanggung jawab.


Jangan Mengungkit Taubat Orang Lain


Apabila seseorang telah benar-benar berubah, jangan terus menjadikan masa lalunya sebagai senjata.


Jangan mempermalukannya setiap kali terjadi perbedaan.


Jangan berkata:


“Dahulu engkau juga seperti itu.”


Hanya untuk memenangkan pertengkaran.


Jangan menyebarkan kesalahannya kepada orang yang tidak perlu mengetahui.


Jangan membuat manusia merasa bahwa tidak ada gunanya bertobat karena masyarakat akan selalu mengikatnya kepada masa lalu.


Namun memaafkan tidak berarti menghapus kehati-hatian.


Apabila kesalahannya menyangkut amanah besar, kepercayaan dapat dibangun secara bertahap.


Berikan kesempatan sesuai bukti.


Jangan menyerahkan amanah yang sama terlalu cepat hanya karena kasihan.


Kasih sayang dan kehati-hatian dapat berjalan bersama.


Orang yang sungguh-sungguh bertobat akan memahami mengapa kepercayaan membutuhkan waktu.


Memaafkan Diri setelah Bertanggung Jawab


Sebagian manusia telah meminta maaf, mengembalikan hak, mengubah kebiasaan, dan menjalani kehidupan baru.


Namun ia masih terus menghukum dirinya.


Ia merasa tidak boleh bahagia.


Ia menolak cinta.


Ia menolak kesempatan.


Ia mengira penderitaan terus-menerus adalah bentuk pembayaran atas masa lalu.


Ketahuilah bahwa setelah tanggung jawab dijalankan dengan sungguh-sungguh, engkau perlu belajar menerima kesempatan hidup yang baru.


Memaafkan diri bukan berarti melupakan kesalahan.


Memaafkan diri adalah berhenti menggunakan kesalahan sebagai alasan untuk terus merusak kehidupan.


Katakanlah:


“Aku tidak membenarkan masa laluku.”


“Aku telah belajar darinya.”


“Aku akan membawa pelajarannya tanpa terus mencambuk diriku.”


“Aku akan menggunakan hidup yang masih diberikan untuk menanam kebaikan.”


Engkau tidak dapat kembali untuk mengubah kejadian yang telah berlalu.


Namun engkau dapat menentukan perbuatan hari ini.


Sabdo Lembar Kesebelas


«“Taubat bukan menghapus kenyataan masa lalu, melainkan mengubah arah langkah setelah kebenaran diakui. Penyesalan membersihkan hati, tanggung jawab memperbaiki akibat, dan keteguhan menjaga agar kaki tidak kembali ke jalan yang sama.”»


Wahai jiwa yang pernah bersalah.


Jangan bersembunyi di balik alasan.


Namun jangan pula tenggelam dalam putus asa.


Akui kesalahanmu.


Mohonlah ampun kepada Alloh.


Hentikan keburukan.


Kembalikan hak.


Mintalah maaf dengan rendah hati.


Terimalah akibat.


Tutup pintu yang membawa kepada pengulangan.


Carilah bantuan apabila tidak mampu berjalan sendiri.


Kemudian gunakanlah waktu yang tersisa untuk memperbanyak kebaikan.


Kebaikan baru tidak mengubah keburukan masa lalu menjadi benar.


Namun kebaikan baru membuktikan bahwa engkau tidak lagi memilih jalan yang sama.


Latihan Muhasabah Taubat dan Perbaikan


Lakukan latihan ini pada waktu yang tenang.


Jangan memaksa membuka luka yang sangat berat tanpa pendampingan apabila hal itu membuat keadaanmu terguncang.


Bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā Ghaffār — 33 kali

Yā Tawwāb — 33 kali

Yā Hādī — 33 kali

Yā Laṭīf — 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, aku mengakui kelemahan dan kesalahanku. Jangan biarkan aku menutupinya dengan kebohongan, dan jangan biarkan penyesalan menyeretku menuju putus asa. Tunjukkan hak yang harus kukembalikan, manusia yang harus kumintai maaf, kebiasaan yang harus kuhentikan, serta pintu keburukan yang harus kututup. Terimalah taubatku, kuatkan perubahanku, dan jadikan sisa hidupku sebagai jalan memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki.»


Sesudah itu, jawablah dengan jujur:


Kesalahan apa yang terus kuhindari untuk kuakui?


Siapa yang telah dirugikan oleh perbuatanku?


Hak apa yang masih harus kukembalikan?


Apakah aku telah meminta maaf tanpa mencari pembenaran?


Pintu apa yang membuat kesalahan itu terus berulang?


Pertolongan apa yang kubutuhkan agar dapat berubah dengan lebih kuat?


Kebaikan nyata apa yang dapat kulakukan mulai hari ini?


Tuliskan jawaban tanpa melebihkan dan tanpa mengecilkan.


Kemudian buat satu langkah nyata.


Hubungi orang yang harus engkau temui.


Susun rencana pembayaran.


Hentikan akses kepada kebiasaan buruk.


Minta bantuan keluarga.


Temui orang yang ahli.


Atau akui kesalahan yang selama ini terus disembunyikan kepada pihak yang tepat.


Jangan mencoba menyelesaikan semua dalam satu malam apabila masalahnya besar.


Namun jangan menunda langkah pertama.


Tanda Taubat Mulai Tumbuh


Taubat yang hidup mempunyai beberapa tanda.


Manusia tidak lagi membela kesalahan lamanya.


Ia berhenti menyalahkan orang lain.


Ia tidak mencari kesempatan kembali kepada kebiasaan buruk.


Ia lebih berhati-hati terhadap hak manusia.


Ia menerima koreksi.


Ia tidak marah apabila kepercayaan belum segera kembali.


Ia bersedia menanggung akibat perbuatannya.


Ia tidak menjadikan taubat sebagai bahan mencari pujian.


Ia mulai melakukan kebaikan secara tenang.


Ia mempunyai batas yang lebih kuat terhadap lingkungan buruk.


Ia mencari pertolongan ketika merasa akan jatuh.


Ia semakin lembut kepada manusia yang sedang berjuang meninggalkan kesalahan, tanpa membenarkan keburukan mereka.


Ia tidak merasa suci karena telah bertobat.


Ia justru semakin menyadari kebutuhan kepada penjagaan Alloh.


Memulai Kehidupan yang Baru


Kehidupan baru tidak selalu berarti pindah tempat, mengganti nama, atau meninggalkan semua manusia.


Kehidupan baru dimulai ketika pilihan lama tidak lagi dipertahankan.


Ia dimulai ketika seseorang memilih berkata jujur meskipun sulit.


Ketika ia memilih bekerja halal meskipun hasilnya lambat.


Ketika ia memilih meminta maaf daripada mempertahankan gengsi.


Ketika ia memilih keluar dari hubungan yang merusak.


Ketika ia memilih berobat daripada menyangkal keadaan.


Ketika ia memilih menjaga ibadah tanpa memamerkannya.


Ketika ia memilih menolong tanpa menguasai.


Ketika ia memilih membangun kepercayaan melalui tindakan.


Hidup baru dibangun setiap hari.


Bukan melalui satu janji besar.


Melainkan melalui keputusan-keputusan kecil yang terus dijaga.


Hari ini engkau berkata benar.


Besok engkau menyelesaikan amanah.


Lusa engkau menahan diri dari kebiasaan lama.


Kemudian perlahan, jalan baru terbentuk.


Penutup Lembar Kesebelas


Wahai jiwa yang membawa masa lalu.


Jangan menyangkalnya.


Namun jangan pula tinggal selamanya di dalamnya.


Masa lalu telah menjadi pelajaran.


Hari ini adalah amanah.


Dan masa depan adalah ruang yang belum ditulisi oleh perbuatanmu.


Jangan berkata bahwa semuanya telah terlambat selama masih ada kesempatan memperbaiki satu langkah.


Jangan menunggu seluruh rasa bersalah hilang untuk mulai berubah.


Perubahanlah yang perlahan akan menenangkan rasa bersalah.


Jangan menunggu manusia percaya kepadamu.


Bangunlah kepercayaan dengan ketekunan.


Jangan menunggu semua akibat selesai.


Hadapilah satu demi satu.


Jangan menjadikan rahmat Alloh sebagai alasan meremehkan kesalahan.


Dan jangan menjadikan kesalahan sebagai alasan meremehkan rahmat Alloh.


Berjalanlah di antara takut dan harap.


Berjalanlah dengan kejujuran.


Berjalanlah dengan tanggung jawab.


Berjalanlah dengan kasih sayang kepada orang yang pernah engkau sakiti dan kepada dirimu yang sedang belajar berubah.


«“Orang yang kembali bukanlah orang yang menghapus masa lalunya, melainkan orang yang menjadikan masa lalu sebagai peringatan agar langkah hari ini lebih jujur, lebih bertanggung jawab, dan lebih dekat kepada ridho Alloh.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh menerima taubat kita, menguatkan kita meninggalkan keburukan, memudahkan pengembalian setiap hak, menyembuhkan hati yang pernah terluka oleh perbuatan kita, serta membimbing langkah kita memasuki kehidupan yang baru dengan kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Kedua Belas


Keteguhan Menjaga Perubahan ketika Masa Lalu Kembali Menggoda


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai jiwa yang telah memutuskan untuk kembali kepada jalan yang lurus.


Memulai perubahan adalah keberanian.


Namun menjaga perubahan adalah kesetiaan.


Banyak manusia mampu membuat keputusan besar ketika hati sedang tersentuh.


Ia menangis.


Ia memohon ampun.


Ia berjanji tidak akan kembali.


Ia merasa telah menemukan jalan baru.


Namun setelah beberapa waktu, keadaan berubah.


Semangat mulai menurun.


Luka lama kembali terasa.


Kebiasaan lama memanggil.


Lingkungan lama mengajak.


Orang-orang masih mengingat kesalahannya.


Sebagian manusia tidak percaya bahwa ia benar-benar berubah.


Pada saat itulah perjalanan yang sebenarnya dimulai.


Perubahan bukan hanya perkara satu malam penuh air mata.


Perubahan adalah kemampuan memilih kebenaran berulang kali, termasuk ketika hati tidak lagi merasakan semangat yang sama.


Jalan lurus tidak hanya membutuhkan niat.


Ia membutuhkan ketekunan.


Ia membutuhkan batas.


Ia membutuhkan kesabaran.


Ia membutuhkan lingkungan yang sehat.


Dan yang paling penting, ia membutuhkan kejujuran untuk mengakui bahwa manusia masih dapat lemah.


Jangan Menganggap Diri Telah Aman


Salah satu bahaya setelah meninggalkan kesalahan adalah merasa telah benar-benar aman.


Seseorang berkata:


“Aku tidak mungkin kembali lagi.”


Lalu ia mulai mendekati lingkungan lama.


Ia membuka kembali hubungan yang dahulu merusak.


Ia menganggap dirinya cukup kuat menghadapi godaan.


Ia berhenti menjaga kebiasaan baik.


Ia tidak lagi meminta pertolongan.


Ia mulai meremehkan peringatan.


Berhati-hatilah.


Kewaspadaan bukan tanda lemahnya iman.


Kewaspadaan adalah bentuk pengenalan terhadap kelemahan diri.


Orang yang mengetahui dirinya pernah jatuh di sebuah lubang seharusnya lebih berhati-hati ketika melewati jalan yang sama.


Jangan berdiri terlalu dekat dengan pintu yang dahulu menyeretmu.


Jangan menguji kekuatanmu tanpa kebutuhan.


Jangan merasa malu menghindari tempat, orang, atau keadaan yang dapat melemahkanmu.


Ada kemenangan yang diperoleh bukan dengan menghadapi seluruh godaan, tetapi dengan menjauh sebelum godaan menjadi kuat.


Masa Lalu Mempunyai Cara untuk Memanggil


Masa lalu tidak selalu datang dalam bentuk yang menakutkan.


Kadang ia datang sebagai kenangan yang terasa indah.


Manusia hanya mengingat kesenangan sesaat, tetapi melupakan akibat panjangnya.


Ia mengingat rasa diterima, tetapi melupakan pengkhianatan.


Ia mengingat keuntungan cepat, tetapi melupakan rasa takut ketika kebohongan hampir terbongkar.


Ia mengingat kenikmatan, tetapi melupakan kehancuran yang mengikutinya.


Inilah cara masa lalu memanggil.


Ia menampilkan bagian yang menyenangkan dan menyembunyikan luka.


Maka ketika rasa rindu kepada kebiasaan lama datang, jangan hanya bertanya:


“Apa yang dahulu kurasakan?”


Tanyakan pula:


“Apa akibat yang dahulu kutanggung?”


“Siapa yang terluka?”


“Apa yang hilang?”


“Berapa lama aku membutuhkan waktu untuk pulih?”


Ingatan yang jujur tidak hanya mengingat kesenangan.


Ia juga mengingat harga yang harus dibayar.


Ketika Hati Sedang Lemah


Banyak kesalahan berulang bukan karena manusia benar-benar ingin kembali, tetapi karena ia sedang lemah.


Ia kurang tidur.


Ia lapar.


Ia kesepian.


Ia sedang tertekan.


Ia merasa ditolak.


Ia kehilangan pekerjaan.


Ia bertengkar dengan keluarga.


Ia merasa seluruh usahanya tidak dihargai.


Dalam keadaan seperti itu, pertimbangan menjadi rapuh.


Kebiasaan lama tampak seperti tempat pelarian.


Karena itu, jagalah keadaan dasar kehidupan.


Jangan meremehkan tidur.


Jangan mengabaikan makan dan kesehatan.


Jangan menutup diri dari semua manusia.


Jangan memendam tekanan hingga meledak.


Jangan menunggu keadaan terlalu berat sebelum mencari pertolongan.


Kelelahan dapat memperlemah keteguhan.


Kesepian dapat membuat manusia mencari kembali orang yang merusaknya.


Tekanan ekonomi dapat membuat jalan batil terlihat seolah-olah menjadi satu-satunya pilihan.


Jiwa membutuhkan ibadah.


Namun tubuh juga membutuhkan perawatan.


Hati membutuhkan doa.


Namun kehidupan juga membutuhkan dukungan nyata.


Keteguhan dibangun melalui keseimbangan.


Tidak Semua Hari Akan Terasa Kuat


Ada hari ketika engkau merasa sangat yakin.


Ada hari ketika langkah terasa ringan.


Namun ada pula hari ketika engkau hanya mampu bertahan.


Jangan meremehkan hari-hari seperti itu.


Tidak melakukan keburukan ketika hati sedang kuat memang baik.


Namun menahan diri ketika hati sedang sangat lemah adalah perjuangan yang besar.


Pada hari ketika engkau tidak mampu melakukan banyak kebaikan, jagalah agar tidak kembali kepada kerusakan.


Apabila tidak mampu berlari, berjalanlah.


Apabila tidak mampu berjalan, berhentilah di tempat yang aman.


Jangan kembali ke arah yang salah.


Jangan memaksa diri harus selalu tampak kuat.


Katakan:


“Hari ini aku sedang rapuh.”


“Aku membutuhkan dukungan.”


“Aku harus mengurangi beban.”


“Aku tidak boleh mengambil keputusan besar dalam keadaan ini.”


Kejujuran terhadap kelemahan melindungi manusia dari keputusan yang kelak disesali.


Jangan Menunggu Semangat untuk Berbuat Benar


Semangat datang dan pergi.


Sedangkan disiplin menjaga manusia ketika semangat tidak hadir.


Seseorang yang hanya berbuat baik ketika hatinya terasa ringan akan mudah berhenti.


Karena itu, bangunlah kebiasaan kecil.


Jagalah waktu tidur.


Jagalah sholat.


Jagalah pekerjaan.


Jagalah catatan utang.


Jagalah komunikasi dengan orang yang mendukung perubahanmu.


Jagalah jarak dari lingkungan buruk.


Jagalah satu amal yang dapat dilakukan setiap hari.


Tidak perlu terlalu banyak.


Lebih baik sedikit tetapi terus dijaga daripada banyak lalu ditinggalkan.


Perubahan besar sering berdiri di atas kebiasaan sederhana yang tidak dilihat manusia.


Merapikan tempat tidur.


Datang tepat waktu.


Tidak membawa telepon ke tempat yang biasa menjadi pintu keburukan.


Menyimpan uang secara teratur.


Menghubungi seseorang ketika pikiran mulai kacau.


Beristirahat sebelum kemarahan menjadi besar.


Semua itu adalah pagar perubahan.


Ketika Manusia Masih Meragukanmu


Ada masa ketika engkau telah berusaha berubah, tetapi manusia belum percaya.


Mereka masih melihat masa lalumu.


Mereka masih menjaga jarak.


Mereka masih memeriksa perkataanmu.


Mereka belum berani memberikan amanah.


Hal itu dapat menyakitkan.


Engkau mungkin berkata:


“Aku sudah berubah, mengapa mereka masih memperlakukanku seperti dahulu?”


Ketahuilah bahwa perubahanmu terjadi di dalam dirimu.


Namun kepercayaan mereka pernah rusak melalui pengalaman.


Mereka membutuhkan waktu untuk melihat bukti.


Jangan menuntut kepercayaan kembali hanya melalui kata-kata.


Bangunlah melalui ketekunan.


Tepati janji kecil.


Datang tepat waktu.


Jangan menyembunyikan keadaan.


Terima pengawasan yang wajar.


Jangan marah ketika ditanya.


Jangan menganggap kehati-hatian mereka sebagai penghinaan.


Kepercayaan yang rusak dapat kembali, tetapi sering kali tumbuh lebih lambat daripada kehancurannya.


Satu pengkhianatan dapat meruntuhkan kepercayaan dalam sehari.


Namun membangunnya kembali mungkin membutuhkan bulan atau tahun.


Terimalah proses itu dengan rendah hati.


Jangan Hidup Hanya untuk Membuktikan Diri kepada Manusia


Meskipun kepercayaan manusia penting, jangan menjadikan seluruh hidupmu bergantung pada apakah mereka percaya atau tidak.


Ada orang yang mungkin tidak pernah mengubah pandangannya.


Ia terus mengingat masa lalu.


Ia menolak melihat kebaikan baru.


Ia menggunakan kesalahan lama untuk merendahkanmu.


Apabila engkau telah mengakui kesalahan, memperbaiki akibat, dan menjalani perubahan dengan sungguh-sungguh, jangan biarkan penilaian mereka menghentikan hidupmu.


Engkau tidak dapat memaksa semua orang memahami.


Tugasmu adalah menjaga jalan.


Bukan mengendalikan seluruh pandangan manusia.


Jangan berbuat baik hanya agar seseorang akhirnya berkata:


“Sekarang aku percaya kepadamu.”


Berbuatlah baik karena itulah jalan yang benar.


Apabila kepercayaan datang, syukurilah.


Apabila belum datang, tetaplah jujur.


Keteguhan yang hanya bergantung pada pujian akan goyah ketika pujian tidak diberikan.


Ketika Masa Lalu Terus Diungkit


Ada orang yang setiap kali terjadi perbedaan selalu membawa kesalahan masa lalu.


Ia berkata:


“Dahulu engkau juga pernah begitu.”


“Orang sepertimu tidak mungkin berubah.”


“Jangan berpura-pura menjadi baik.”


Perkataan itu dapat membuka kembali rasa bersalah.


Namun jangan membalas dengan kemarahan yang merusak.


Apabila kesalahanmu memang berkaitan dengan persoalan yang sedang dibicarakan, dengarkan.


Mungkin masih ada akibat yang belum diselesaikan.


Namun apabila masa lalu hanya digunakan untuk mempermalukan dan mengendalikanmu, tetapkan batas.


Katakan dengan tenang:


“Aku mengakui kesalahanku dahulu dan telah berusaha memperbaikinya. Apabila masih ada hak yang belum selesai, mari kita bicarakan dengan jelas. Namun aku tidak dapat terus menerima penghinaan tanpa tujuan perbaikan.”


Kejujuran tidak berarti engkau harus membiarkan dirimu dihukum tanpa akhir oleh manusia.


Taubat membutuhkan tanggung jawab.


Namun ia juga membuka kesempatan untuk menjalani kehidupan baru.


Jangan Membalas Keraguan dengan Kepura-puraan


Ketika merasa tidak dipercaya, manusia dapat tergoda untuk terlihat lebih baik daripada kenyataan.


Ia mulai menyembunyikan kelemahan.


Ia berpura-pura selalu kuat.


Ia membuat cerita agar dianggap telah berubah sempurna.


Berhati-hatilah.


Jangan membangun kepercayaan baru di atas kebohongan baru.


Katakan apabila engkau masih berjuang.


Katakan apabila membutuhkan bantuan.


Katakan apabila belum mampu memegang amanah tertentu.


Lebih baik berkata:


“Aku belum siap menerima tanggung jawab itu.”


Daripada menerimanya lalu mengulang kerusakan.


Lebih baik mengakui:


“Aku masih mempunyai godaan.”


Daripada menutupi hingga akhirnya jatuh sendirian.


Perubahan yang jujur tidak menuntut manusia terlihat sempurna.


Ia menuntut manusia terus bertanggung jawab.


Lingkungan Baru dan Kebiasaan Baru


Perubahan sulit bertahan apabila seseorang tetap hidup sepenuhnya dalam pola lama.


Ia masih bertemu dengan orang yang sama.


Ia masih melakukan kegiatan yang sama.


Ia masih mengunjungi tempat yang sama.


Ia masih menyimpan akses kepada hal yang sama.


Namun berharap hasil yang berbeda.


Kadang hidup memerlukan penataan ulang.


Carilah lingkungan yang menghargai kebaikan.


Dekatlah dengan orang yang dapat mengingatkan tanpa menghina.


Isi waktu kosong dengan pekerjaan, belajar, olahraga ringan, ibadah, atau kegiatan yang bermanfaat.


Jangan biarkan terlalu banyak ruang kosong menjadi pintu pikiran kembali kepada kebiasaan lama.


Namun jangan pula memenuhi seluruh waktu hingga tubuh kelelahan.


Lingkungan baru tidak harus berarti memutus semua hubungan.


Namun engkau harus dapat membedakan:


Siapa yang mendukung perubahan?


Siapa yang netral?


Siapa yang terus menarikmu kembali?


Perlakukan setiap hubungan sesuai pengaruhnya.


Memilih Orang Tempat Meminta Pertolongan


Jangan menjalani perubahan sendirian apabila engkau tahu kelemahanmu besar.


Pilih satu atau beberapa orang yang dapat dipercaya.


Bukan orang yang hanya pandai menghakimi.


Bukan pula orang yang selalu membenarkan.


Pilih orang yang dapat berkata:


“Aku akan membantumu, tetapi engkau harus tetap bertanggung jawab.”


Beritahukan tanda-tanda ketika engkau mulai lemah.


Minta mereka menghubungimu.


Berikan izin untuk mengingatkan.


Apabila kesalahan berkaitan dengan kecanduan, kekerasan, kesehatan mental, atau kebiasaan yang sulit dihentikan, carilah bantuan ahli.


Tidak semua perjuangan cukup diselesaikan dengan tekad.


Tekad penting.


Namun sebagian keadaan membutuhkan pendampingan, perawatan, strategi, dan pengawasan.


Mencari bantuan bukan kegagalan.


Itulah bentuk kesungguhan.


Ketika Terjatuh Lagi


Ada manusia yang telah berjalan cukup lama, lalu terjatuh kembali.


Ia mengulang satu kesalahan.


Kemudian rasa malu berkata:


“Semua usahamu telah gagal.”


“Engkau tidak pernah berubah.”


“Sekarang tidak ada gunanya kembali.”


Jangan percaya kepada suara itu.


Satu kejatuhan harus dianggap serius.


Namun ia tidak harus menjadi akhir perjalanan.


Berhenti secepat mungkin.


Jangan berkata:


“Karena sudah jatuh sekali, biarlah aku kembali sepenuhnya.”


Itulah cara satu kesalahan berubah menjadi kehancuran panjang.


Akui apa yang terjadi.


Jangan sembunyikan dari orang yang membantu menjaga perubahanmu.


Periksa sebabnya.


Apakah engkau kelelahan?


Apakah terlalu percaya diri?


Apakah kembali kepada lingkungan lama?


Apakah berhenti menjaga rutinitas?


Apakah ada masalah baru yang belum ditangani?


Perbaiki pagar yang rusak.


Kemudian kembali berjalan.


Kegagalan tidak harus menghapus pelajaran.


Namun pelajaran hanya berguna apabila diwujudkan menjadi perubahan strategi.


Jangan Menjadikan Rasa Malu sebagai Alasan Bersembunyi


Setelah melakukan kesalahan, rasa malu membuat manusia menjauh.


Ia tidak lagi datang kepada keluarga.


Ia meninggalkan orang yang mendukung.


Ia berhenti berdoa.


Ia menganggap dirinya tidak pantas kembali.


Padahal ketika jatuh, manusia justru membutuhkan pertolongan.


Jangan menunggu keadaan menjadi lebih buruk.


Katakan:


“Aku telah melakukan kesalahan lagi.”


Kalimat itu mungkin berat.


Namun ia membuka pintu bantuan.


Menyembunyikan kejatuhan sering membuat kesalahan tumbuh dalam gelap.


Membawanya kepada orang yang tepat dapat menghentikan kerusakan.


Rasa malu mempunyai tempat.


Ia mengingatkan bahwa perbuatan itu tidak sesuai dengan jalan yang dipilih.


Namun rasa malu tidak boleh menutup pintu taubat.


Perubahan Tidak Selalu Terlihat dari Luar


Kadang manusia merasa tidak berkembang karena hidupnya belum banyak berubah secara lahir.


Ia belum kaya.


Ia belum memperoleh jabatan.


Ia masih tinggal di tempat yang sama.


Ia masih menjalani pekerjaan sederhana.


Namun lihatlah perubahan di dalam:


Dahulu ia mudah berdusta, sekarang ia lebih berani berkata benar.


Dahulu ia lari dari tanggung jawab, sekarang ia mulai menyelesaikan amanah.


Dahulu ia membalas kemarahan dengan kekerasan, sekarang ia belajar mengambil jarak.


Dahulu ia terus menyalahkan orang lain, sekarang ia mampu melihat bagiannya.


Dahulu ia mencari jalan cepat, sekarang ia bersedia berjalan perlahan melalui cara halal.


Itulah perubahan.


Jangan hanya mengukur kemajuan melalui hasil luar.


Akhlak yang berubah adalah kemenangan besar.


Sabar terhadap Proses Diri


Perubahan membutuhkan waktu.


Namun sabar bukan berarti pasif.


Sabar berarti tetap melakukan langkah benar meskipun hasil belum sempurna.


Sabar berarti menerima bahwa kebiasaan lama tidak hilang sekaligus.


Sabar berarti tidak menghina diri ketika proses terasa lambat.


Sabar juga berarti tidak memanjakan diri dengan alasan:


“Aku masih dalam proses.”


Kalimat itu tidak boleh menjadi pembenaran untuk terus mengulang kesalahan tanpa perbaikan.


Proses harus mempunyai arah.


Harus ada perubahan nyata.


Mungkin kecil, tetapi dapat dilihat.


Mungkin perlahan, tetapi terus berjalan.


Apabila bertahun-tahun tidak ada perubahan karena engkau selalu memakai kata proses, periksa kembali kesungguhanmu.


Sabar terhadap Pandangan Manusia


Sebagian orang akan menerima perubahanmu.


Sebagian masih ragu.


Sebagian mungkin tidak peduli.


Sebagian bahkan merasa terganggu karena perubahanmu membuat mereka harus melihat kesalahannya sendiri.


Jangan terlalu terikat kepada semua reaksi.


Jangan sombong ketika dipuji.


Jangan runtuh ketika diragukan.


Tetaplah berada di tengah.


Terima dukungan dengan syukur.


Terima kritik dengan pemeriksaan.


Tolak penghinaan dengan batas.


Dan serahkan penilaian akhir kepada Alloh.


Manusia hanya melihat bagian luar.


Alloh mengetahui perjuangan yang tersembunyi.


Namun jangan memakai kalimat itu untuk menolak seluruh koreksi.


Kejujuran tetap menuntutmu memeriksa diri.


Ketika Orang Lama Mengajak Kembali


Ada orang yang tidak menyukai perubahanmu.


Dahulu engkau mudah diajak berdusta.


Sekarang engkau menolak.


Dahulu engkau ikut mempermainkan orang lain.


Sekarang engkau menjaga jarak.


Dahulu engkau menjadi bagian dari kebiasaan buruk kelompok.


Sekarang engkau berhenti.


Mereka mungkin berkata:


“Engkau sudah berubah.”


“Sekarang merasa paling suci.”


“Jangan berpura-pura.”


Jangan terpancing.


Katakan dengan tenang:


“Aku tidak merasa lebih baik daripada siapa pun. Aku hanya sedang berusaha meninggalkan jalan yang merusakku.”


Tidak perlu berdebat panjang.


Tidak perlu membuktikan kesucian.


Tegaskan batas.


Kemudian menjauhlah apabila ajakan terus diulang.


Tidak semua hubungan harus diselamatkan apabila harga yang diminta adalah kembalinya dirimu kepada keburukan.


Godaan untuk Menjadi Berlebihan


Setelah meninggalkan masa lalu, sebagian manusia bergerak terlalu jauh ke arah sebaliknya.


Dahulu ia lalai, sekarang ia memaksa diri tanpa istirahat.


Dahulu ia hidup tanpa aturan, sekarang ia menjadi sangat keras kepada diri dan orang lain.


Dahulu ia melakukan kesalahan, sekarang ia menghukum setiap orang yang mempunyai kesalahan serupa.


Berhati-hatilah.


Perubahan tidak harus melahirkan kekerasan.


Jangan gunakan pengalaman taubat untuk merasa lebih suci.


Jangan berkata:


“Aku mampu meninggalkannya, mengapa orang lain tidak?”


Setiap manusia mempunyai keadaan berbeda.


Gunakan pengalamanmu untuk memahami.


Bukan untuk merendahkan.


Tegaslah terhadap perbuatan buruk.


Namun tetaplah lembut kepada manusia yang sedang berjuang.


Engkau mengetahui betapa sulitnya keluar.


Maka jadilah tangan yang menolong, bukan suara yang menambah rasa putus asa.


Sabdo Lembar Kedua Belas


«“Perubahan tidak dibuktikan oleh satu janji besar, melainkan oleh pilihan kecil yang terus dijaga ketika semangat menurun, godaan kembali, dan manusia belum memberikan kepercayaan.”»


Wahai jiwa yang sedang mempertahankan jalan baru.


Jangan hanya menjaga dirimu ketika keadaan mudah.


Jaga pula ketika sedang lelah.


Jangan hanya jujur ketika tidak ada kerugian.


Jujurlah ketika kebenaran menuntut pengorbanan.


Jangan hanya sabar ketika manusia memuji.


Tetaplah tenang ketika mereka meragukan.


Jangan hanya berharap kepada perubahan suasana.


Bangunlah kebiasaan.


Bangunlah batas.


Bangunlah lingkungan.


Bangunlah dukungan.


Dan apabila jatuh, jangan berbaring terlalu lama di tempat kejatuhan.


Latihan Menjaga Keteguhan


Pada waktu yang tenang, periksalah perjalanan perubahanmu.


Bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā Muqallibal-qulūb — 11 kali

Yā Hādī — 33 kali

Yā Qawiyy — 33 kali

Yā Matīn — 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, teguhkanlah hatiku ketika semangat menurun, lindungilah aku ketika masa lalu memanggil, dan jangan biarkan keraguan manusia membuatku meninggalkan jalan yang benar. Tunjukkan kelemahanku agar dapat kujaga, kuatkan batas yang melindungiku, dekatkan aku kepada orang yang mendukung kebaikan, serta berikan keberanian untuk meminta pertolongan ketika aku mulai rapuh. Apabila aku jatuh, jangan biarkan aku berputus asa. Tuntun aku untuk segera mengakui, memperbaiki, dan kembali berjalan.»


Setelah itu, jawablah dengan jujur:


Dalam keadaan apa aku paling mudah kembali kepada kebiasaan lama?


Siapa atau apa yang paling sering membuka pintu godaan?


Tanda apa yang muncul ketika keteguhanku mulai melemah?


Siapa yang dapat kuhubungi ketika aku membutuhkan bantuan?


Kebiasaan kecil apa yang selama ini paling menjaga diriku?


Batas apa yang perlu diperkuat?


Apakah aku masih terlalu bergantung kepada pengakuan manusia?


Tuliskan jawabanmu.


Kemudian buat rencana sederhana:


Apabila lelah, aku akan beristirahat sebelum mengambil keputusan.


Apabila tergoda, aku akan meninggalkan tempat dan menghubungi orang tepercaya.


Apabila menerima ajakan lama, aku akan menolak tanpa perdebatan panjang.


Apabila jatuh, aku akan mengakuinya dalam waktu secepat mungkin.


Apabila diragukan, aku akan membuktikan perubahan melalui tindakan, bukan kemarahan.


Rencana yang jelas membantu hati ketika pikiran sedang tidak jernih.


Tanda Perubahan Mulai Berakar


Perubahan yang mulai berakar mempunyai beberapa tanda.


Engkau tidak lagi mudah terpancing oleh ajakan lama.


Engkau dapat mengenali kelemahan sebelum jatuh.


Engkau berani meminta bantuan.


Engkau tidak marah ketika kepercayaan diberikan secara bertahap.


Engkau tidak lagi menyembunyikan perjuangan hanya demi terlihat sempurna.


Kebiasaan baik mulai terasa sebagai bagian dari hidup.


Kesenangan lama tidak lagi tampak seindah dahulu karena engkau mengingat akibatnya.


Ketika terjatuh, engkau lebih cepat kembali.


Engkau tidak menggunakan rahmat Alloh sebagai alasan untuk ceroboh.


Engkau juga tidak menggunakan rasa bersalah sebagai alasan untuk menyerah.


Manusia mungkin belum melihat seluruh perubahanmu.


Namun pilihanmu semakin berbeda.


Itulah akar yang mulai tumbuh.


Penutup Lembar Kedua Belas


Wahai jiwa yang sedang menjaga kehidupan baru.


Jangan merasa kecil hanya karena perubahanmu berjalan perlahan.


Pohon besar juga tumbuh melalui akar yang tidak terlihat.


Hari-hari ketika engkau menahan diri mungkin tidak diketahui manusia.


Namun setiap pilihan benar sedang membentuk dirimu.


Jangan kembali hanya karena rindu kepada masa lalu.


Rindu tidak selalu menjadi tanda bahwa sesuatu itu baik.


Kadang rindu hanyalah kebiasaan yang belum sepenuhnya lepas.


Jangan menyerah hanya karena manusia belum percaya.


Kepercayaan tidak dapat dipaksa.


Ia ditanam melalui kejujuran dan disiram melalui waktu.


Jangan merasa seluruh perjalanan gagal apabila suatu hari engkau jatuh.


Namun jangan pula meremehkan kejatuhan.


Segera bangkit.


Perbaiki pagar.


Perkuat dukungan.


Dan lanjutkan langkah.


Jalan lurus tidak dijaga oleh kesombongan yang berkata:


“Aku tidak mungkin jatuh.”


Jalan lurus dijaga oleh kerendahan hati yang berkata:


“Aku dapat lemah, karena itu aku membutuhkan pertolongan Alloh, disiplin, batas, dan manusia yang baik.”


Berjalanlah.


Tidak perlu terlalu cepat.


Namun jangan kembali.


Beristirahatlah apabila lelah.


Namun jangan membangun rumah di tempat kelemahan.


Terimalah masa lalumu sebagai pelajaran.


Namun jangan izinkan ia mengambil kembali masa depanmu.


«“Keteguhan bukan berarti tidak pernah tergoda. Keteguhan adalah kemampuan mengenali godaan, menjaga batas, meminta pertolongan, dan tetap memilih jalan yang benar meskipun tidak ada seorang pun yang memuji.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh meneguhkan hati kita dalam perubahan, menjaga langkah dari godaan masa lalu, menguatkan kita ketika diragukan, menghadirkan lingkungan yang baik, serta menjadikan setiap kejatuhan sebagai pelajaran untuk kembali dengan lebih jujur dan lebih kuat.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


Lembar Ketiga Belas — Lembar Terakhir


Penutup Agung: Perjanjian Hati untuk Berjalan Lurus dalam Kejujuran dan Kasih Sayang


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan yang mengetahui arah setiap langkah, mendengar doa yang tidak mampu disuarakan, menyaksikan air mata yang disembunyikan, serta membuka jalan kembali bagi hamba yang bersedia mengakui kesalahan dan memperbaiki kehidupannya.


Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam kejujuran, amanah, keadilan, keberanian, kesabaran, dan kasih sayang bagi seluruh alam.


Ketahuilah, wahai jiwa yang telah berjalan dari lembar pertama hingga lembar terakhir.


Engkau telah membaca tentang kejujuran kepada diri sendiri.


Engkau telah diingatkan untuk menjaga lisan, menepati janji, mengembalikan hak, meluruskan rezeki, memegang amanah, merawat persaudaraan, menjaga ibadah, berhati-hati menyampaikan ilmu, bertobat dari kesalahan, dan tetap teguh ketika masa lalu kembali menggoda.


Namun seluruh pengetahuan itu belum menjadi jalan apabila hanya tinggal di dalam tulisan.


Kitab dapat ditutup.


Halaman dapat berhenti.


Kalimat dapat selesai.


Namun perjalanan akhlak tidak pernah selesai selama kehidupan masih diberikan.


Setelah lembar terakhir ini, kitab yang sebenarnya berpindah ke dalam kehidupanmu.


Tubuhmu menjadi halamannya.


Niatmu menjadi tinta.


Lisanmu menjadi penanya.


Perbuatanmu menjadi kalimatnya.


Sedangkan manusia yang hidup bersamamu akan membaca kitab itu melalui cara engkau memperlakukan mereka.


Mereka mungkin tidak pernah mengetahui seluruh doa yang engkau baca.


Mereka mungkin tidak pernah melihat tangisanmu dalam kesendirian.


Mereka mungkin tidak mengetahui berapa banyak dzikir yang engkau ucapkan.


Namun mereka akan mengetahui apakah engkau dapat dipercaya.


Mereka akan merasakan apakah ucapanmu membawa ketenangan atau ketakutan.


Mereka akan menyaksikan apakah tanganmu menjaga amanah atau mengambil hak.


Mereka akan mengenali apakah ilmu membuatmu rendah hati atau justru merasa paling tinggi.


Mereka akan mengetahui apakah kedekatanmu kepada Alloh membuatmu semakin penuh kasih atau semakin mudah menghukum.


Maka jangan hanya membaca kitab ini.


Jadilah halaman hidup dari pesan yang dibawanya.


Jalan Lurus Bukan Jalan Kesempurnaan


Jalan yang lurus bukanlah jalan manusia yang tidak pernah salah.


Tidak ada manusia yang selalu jernih.


Tidak ada manusia yang tidak pernah tergoda.


Tidak ada manusia yang seluruh niatnya selalu bersih.


Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami kelemahan, kebingungan, kemarahan, kesedihan, atau keinginan untuk menyerah.


Jalan yang lurus adalah jalan manusia yang setiap kali menyadari kesalahan, ia bersedia berhenti.


Ketika berdusta, ia meluruskan.


Ketika menyakiti, ia meminta maaf.


Ketika mengambil hak, ia mengembalikan.


Ketika sombong, ia merendahkan hati.


Ketika tersesat, ia mencari petunjuk.


Ketika terjatuh, ia tidak membangun rumah di tempat kejatuhannya.


Ia bangkit.


Ia belajar.


Ia memperbaiki pagar.


Kemudian berjalan kembali.


Jangan menunggu menjadi sempurna untuk memulai kebaikan.


Kesempurnaan bukan syarat untuk melangkah.


Yang dibutuhkan adalah kejujuran terhadap keadaan diri dan kesungguhan untuk memperbaikinya.


Hari ini mungkin engkau hanya mampu menahan satu perkataan kasar.


Jagalah itu.


Besok mungkin engkau mampu meminta maaf kepada satu orang.


Lakukanlah.


Lusa mungkin engkau mampu membayar sedikit utang.


Tunaikanlah.


Hari berikutnya mungkin engkau mampu meninggalkan satu kebiasaan buruk.


Pertahankanlah.


Langkah-langkah kecil yang jujur akan membentuk jalan besar.


Tujuh Kesaksian Jalan Alzalaqum Ngindalloh


Sebelum kitab ini ditutup, teguhkan tujuh kesaksian akhlak di dalam hatimu.


Kesaksian Pertama: Aku Bukan Pemilik Kebenaran


Kebenaran tidak menjadi milikku hanya karena aku mengucapkannya.


Aku dapat memahami sebagian dan keliru pada bagian yang lain.


Aku dapat memberikan nasihat, tetapi tetap membutuhkan nasihat.


Aku dapat menolong orang lain, tetapi tetap membutuhkan pertolongan.


Aku dapat melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak boleh melupakan kekuranganku sendiri.


Karena itu, aku tidak akan menjadikan pengetahuan sebagai alasan untuk merendahkan.


Aku tidak akan menjadikan gelar sebagai benteng dari koreksi.


Aku tidak akan menganggap setiap orang yang berbeda pendapat sebagai musuh.


Aku akan memeriksa.


Aku akan mendengar.


Aku akan belajar.


Dan ketika belum mengetahui, aku akan berkata dengan jujur:


“Aku belum mengetahui.”


Sebab ketidaktahuan yang diakui dapat menjadi pintu ilmu.


Sedangkan ketidaktahuan yang disembunyikan di balik kesombongan dapat menjadi pintu kerusakan.


Kesaksian Kedua: Aku Bertanggung Jawab atas Lisan dan Tanganku


Setiap perkataan meninggalkan jejak.


Ada kata-kata yang cepat hilang dari ingatan orang yang mengucapkannya, tetapi menetap bertahun-tahun di dalam hati orang yang menerimanya.


Karena itu, aku akan berusaha tidak menjadikan kejujuran sebagai alasan untuk berlaku kasar.


Aku akan berbicara benar dengan adab.


Aku akan menasihati tanpa mempermalukan.


Aku akan mengingatkan tanpa merasa suci.


Aku akan menolak keburukan tanpa membenci kemanusiaan pelakunya.


Aku akan menjaga rahasia.


Aku akan menghentikan kabar yang belum jelas.


Aku akan meminta maaf ketika perkataanku melukai.


Aku juga bertanggung jawab atas tanganku.


Aku tidak akan mengambil yang bukan hakku.


Aku tidak akan menahan upah.


Aku tidak akan memanfaatkan kelemahan manusia.


Aku tidak akan menggunakan kekuasaan untuk menekan.


Aku tidak akan memakai ilmu, doa, kedudukan, atau ketakutan manusia sebagai jalan memperoleh keuntungan yang batil.


Sebab jalan lurus tidak hanya dibaca melalui ucapan.


Ia dibuktikan oleh tangan yang amanah.


Kesaksian Ketiga: Aku Tidak Akan Memisahkan Ibadah dari Akhlak


Aku tidak akan merasa cukup hanya karena telah membaca banyak doa.


Aku tidak akan menganggap diriku mulia hanya karena orang lain melihat ibadahku.


Aku tidak akan memakai dzikir untuk menutupi tanggung jawab yang belum diselesaikan.


Aku tidak akan meminta ketenangan kepada Alloh sambil terus menyakiti manusia.


Aku tidak akan memohon rezeki yang luas sambil menahan hak orang lain.


Aku tidak akan memohon ampun sambil mempertahankan kebohongan.


Aku ingin ibadah turun dari sajadah menuju kehidupan.


Aku ingin sholat membimbingku menjaga waktu dan amanah.


Aku ingin istighfar membuatku berani mengakui kesalahan.


Aku ingin sholawat melembutkan lisanku.


Aku ingin doa menguatkanku menjalankan ikhtiar.


Aku ingin kedekatan kepada Alloh terlihat melalui keamanan yang dirasakan manusia ketika berada di dekatku.


Apabila ibadah belum memperbaiki akhlakku, aku tidak akan meninggalkan ibadah.


Namun aku akan memeriksa cara dan niatku, lalu berusaha memperbaiki kehidupan dengan lebih sungguh-sungguh.


Kesaksian Keempat: Aku Akan Menjaga Rezeki dari Jalan yang Batil


Aku akan bekerja sesuai kemampuan.


Aku akan belajar apabila belum mampu.


Aku akan meminta pertolongan dengan jujur apabila berada dalam kesulitan.


Aku tidak akan menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk menipu.


Aku tidak akan menjadikan kekayaan sebagai alasan untuk merendahkan.


Aku tidak akan menyembunyikan cacat barang.


Aku tidak akan membuat janji hasil yang tidak dapat dipastikan.


Aku tidak akan menjual ketakutan.


Aku tidak akan menjadikan nama Alloh sebagai alat perdagangan kepentingan pribadi.


Apabila berutang, aku akan mencatat dan berusaha membayar.


Apabila belum mampu, aku akan berkomunikasi dengan jujur.


Apabila menerima titipan, aku akan menjaganya.


Apabila menerima kelapangan, aku akan mengingat orang yang masih kesulitan.


Aku akan belajar membedakan kebutuhan dari keinginan.


Aku akan menggunakan harta, tetapi tidak membiarkan harta menguasai harga diriku.


Sebab rezeki yang banyak belum tentu menenangkan.


Sedangkan rezeki yang halal, cukup, dan disyukuri dapat menjadi taman ketenteraman.


Kesaksian Kelima: Aku Akan Mencintai tanpa Menguasai


Aku akan menyayangi keluarga tanpa menjadikan mereka milikku.


Aku akan menghormati pasangan, sahabat, anak, orang tua, murid, pengikut, dan orang yang meminta nasihat tanpa menguasai seluruh pilihan hidup mereka.


Aku tidak akan mengikat manusia dengan utang budi.


Aku tidak akan menggunakan pemberian lama untuk memaksa keputusan hari ini.


Aku tidak akan meminta kesetiaan yang menuntut seseorang meninggalkan akal sehat dan kehormatannya.


Aku akan memberikan ruang.


Aku akan menghormati batas.


Aku akan belajar menerima kata tidak.


Aku akan memahami bahwa manusia dapat mencintaiku, tetapi tetap mempunyai jalan dan tanggung jawabnya sendiri.


Apabila hubungan dapat diperbaiki, aku akan berusaha memperbaikinya.


Apabila hubungan harus dibatasi, aku akan menjaga jarak tanpa menambah kebencian.


Apabila hubungan harus berakhir, aku akan berusaha berpisah tanpa membongkar rahasia dan menghancurkan kehormatan.


Sebab kasih sayang yang benar tidak memenjarakan.


Kasih sayang membantu manusia bertumbuh.


Kesaksian Keenam: Aku Tidak Akan Menjadikan Luka sebagai Alasan Menyakiti


Aku mengakui bahwa pernah ada perkataan yang melukaiku.


Mungkin pernah ada manusia yang mengkhianati kepercayaanku.


Mungkin pernah ada ketidakadilan yang belum selesai.


Mungkin ada masa lalu yang masih meninggalkan ketegangan di dalam tubuh dan hati.


Aku tidak akan menyangkal luka itu.


Namun aku juga tidak akan menyerahkan seluruh masa depanku kepadanya.


Aku akan mencari perlindungan ketika bahaya nyata.


Aku akan menempuh keadilan tanpa menambah kebohongan.


Aku akan menetapkan batas tanpa rasa bersalah berlebihan.


Aku akan meminta bantuan ketika beban terlalu berat.


Aku akan belajar memaafkan tanpa kembali membiarkan kezaliman.


Aku tidak akan membalas dusta dengan dusta.


Aku tidak akan membalas penghinaan dengan fitnah.


Aku tidak akan menghukum semua manusia karena kesalahan satu orang.


Luka boleh menjadi pelajaran.


Namun luka tidak boleh menjadi pemimpin.


Kesaksian Ketujuh: Aku Akan Terus Kembali


Aku mengetahui bahwa semangat dapat naik dan turun.


Aku mengetahui bahwa diriku dapat lelah.


Aku mengetahui bahwa masa lalu dapat memanggil.


Aku mengetahui bahwa godaan dapat datang ketika kesepian, marah, takut, atau tertekan.


Karena itu, aku tidak akan bersikap sombong dengan berkata:


“Aku tidak mungkin jatuh.”


Aku akan berkata:


“Aku dapat lemah, maka aku membutuhkan penjagaan Alloh, kebiasaan yang baik, batas yang sehat, dan orang-orang yang dapat dipercaya.”


Apabila aku terjatuh, aku tidak akan menyembunyikannya hingga kerusakan menjadi lebih besar.


Aku akan mengakui.


Aku akan memperbaiki.


Aku akan mencari sebab.


Aku akan memperkuat perlindungan.


Kemudian aku akan kembali berjalan.


Sebab jalan lurus bukan milik manusia yang tidak pernah jatuh.


Jalan lurus adalah jalan manusia yang tidak berhenti kembali.


Kejujuran ketika Tidak Ada Seorang Pun yang Memahami


Ada masa ketika engkau telah berusaha berkata benar, tetapi orang lain tetap salah memahami.


Ada masa ketika engkau telah meminta maaf, tetapi permintaan itu belum diterima.


Ada masa ketika engkau telah berubah, tetapi manusia masih menilai dari masa lalu.


Ada masa ketika engkau telah membantu, tetapi kebaikanmu dilupakan.


Ada masa ketika engkau telah berusaha dengan halal, tetapi hasil belum datang.


Pada masa seperti itu, jangan meninggalkan jalan hanya karena tidak memperoleh pengakuan.


Kebaikan tidak selalu langsung terlihat buahnya.


Sebagian benih tumbuh cepat.


Sebagian lain berdiam lama di dalam tanah sebelum menampakkan tunas.


Tugasmu bukan memaksa seluruh manusia memahami.


Tugasmu adalah menjaga agar penilaian mereka tidak membuatmu meninggalkan kebenaran.


Namun jangan pula memakai kalimat:


“Hanya Alloh yang memahami diriku.”


Sebagai alasan untuk menolak seluruh nasihat.


Periksalah kritik dengan jujur.


Mungkin cara penyampaiannya kasar, tetapi ada bagian yang perlu diperbaiki.


Mungkin engkau benar dalam niat, tetapi kurang tepat dalam cara.


Mungkin engkau merasa menolong, tetapi orang lain merasa dikuasai.


Mungkin engkau merasa tegas, tetapi ternyata lisannya terlalu melukai.


Kembalilah kepada timbangan:


Apakah ucapan itu benar?


Apakah caranya baik?


Apakah waktunya tepat?


Apakah akibatnya membawa perbaikan?


Kejujuran tidak takut diperiksa.


Kasih Sayang yang Tidak Kehilangan Ketegasan


Kasih sayang bukan berarti menyetujui seluruh keinginan.


Orang tua yang penuh kasih tetap memberikan batas kepada anak.


Pemimpin yang penuh kasih tetap menghentikan pengkhianatan.


Sahabat yang penuh kasih tetap mengingatkan ketika terjadi kesalahan.


Manusia yang menyayangi dirinya tetap berkata tidak kepada kebiasaan yang merusak.


Karena itu, jangan mengira kelembutan selalu berarti membiarkan.


Ada kelembutan yang memeluk.


Ada kelembutan yang mendengarkan.


Ada pula kelembutan yang berkata:


“Cukup. Perbuatan ini tidak boleh terus terjadi.”


Ketegasan dapat menjadi kasih sayang apabila tujuannya melindungi, caranya adil, dan tidak diliputi keinginan menghancurkan.


Namun ketegasan harus selalu diperiksa.


Apakah engkau sedang melindungi?


Ataukah sedang membalas?


Apakah engkau sedang menegakkan batas?


Ataukah ingin menguasai?


Apakah engkau sedang menjaga kebenaran?


Ataukah hanya mempertahankan harga diri?


Hati dapat menyamarkan dendam dengan nama keadilan.


Karena itu, teruslah memohon kejernihan.


Jalan Lurus ketika Memegang Kekuasaan


Apabila suatu hari engkau dipercaya memimpin, ingatlah bahwa jabatan bukan mahkota untuk meninggikan diri.


Jabatan adalah beban untuk dipertanggungjawabkan.


Jangan hanya meminta manusia menghormatimu.


Hormatilah mereka.


Jangan hanya menuntut kejujuran.


Bukalah laporan dan keputusanmu dengan jernih.


Jangan hanya meminta pengorbanan.


Jadilah orang pertama yang menanggung kesulitan dan orang terakhir yang mengambil keuntungan.


Jangan menggunakan rasa takut untuk mempertahankan pengikut.


Jangan menjadikan kritik sebagai dosa.


Jangan memisahkan seseorang dari keluarga atau sahabatnya agar ia mudah dikendalikan.


Jangan membuat manusia merasa bahwa keselamatannya hanya berada di tanganmu.


Pemimpin yang lurus tidak menciptakan ketergantungan kepada dirinya.


Ia menyiapkan manusia agar mampu berdiri, belajar, berpikir, dan bertanggung jawab.


Apabila amanah terlalu berat, mintalah bantuan.


Apabila tidak lagi mampu, serahkan kepada orang yang lebih layak.


Melepaskan kedudukan demi menjaga amanah dapat lebih mulia daripada mempertahankannya sambil merusak banyak kehidupan.


Jalan Lurus ketika Menyampaikan Ilmu


Apabila engkau menulis, mengajar, menafsirkan, atau memberi nasihat, bedakan dengan jujur antara ajaran agama, pendapat, pengalaman pribadi, simbol, sastra, dan renungan.


Jangan menyebut tulisan manusia sebagai wahyu.


Jangan menyatakan dugaan sebagai kepastian ilahi.


Jangan memakai nama Alloh untuk menguatkan kehendak pribadi.


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH ini adalah karya renungan dan pengingat akhlak.


Ia bukan Al-Qur’an.


Ia bukan wahyu baru.


Ia tidak menggantikan ajaran agama, bimbingan ulama yang amanah, pemeriksaan kesehatan, pertolongan hukum, musyawarah keluarga, atau keahlian yang diperlukan dalam persoalan nyata.


Nilai kitab ini bukan karena pengakuan luar biasa tentang asalnya.


Nilainya terletak pada ajakan untuk berlaku jujur, bertanggung jawab, menjaga amanah, menolong tanpa menguasai, serta menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan.


Apabila ada bagian yang baik, ambillah sebagai pengingat.


Apabila ada kekurangan, perbaikilah dengan ilmu, adab, dan sumber yang dapat dipercaya.


Kejujuran seperti itu tidak mengurangi kehormatan sebuah karya.


Kejujuran menempatkan karya pada kedudukannya yang benar.


Jangan Mencari Cahaya sambil Meninggalkan Manusia yang Terluka


Banyak manusia mencari cahaya dalam doa, dzikir, keheningan, dan pengalaman batin.


Namun jangan lupa bahwa salah satu tempat cahaya diuji adalah ketika engkau bertemu manusia yang lemah.


Apakah engkau tetap sopan kepada orang miskin?


Apakah engkau menghargai pekerja sederhana?


Apakah engkau sabar terhadap orang tua yang mulai lambat?


Apakah engkau melindungi anak dari penghinaan?


Apakah engkau membayar upah tepat waktu?


Apakah engkau mendengarkan orang yang tidak mempunyai kedudukan?


Apakah engkau tetap jujur kepada orang yang tidak dapat memberimu keuntungan?


Jangan mengaku membawa cahaya apabila kehadiranmu membuat orang lemah semakin takut.


Jangan mengaku memahami kasih sayang apabila engkau hanya lembut kepada orang yang memujimu.


Cahaya akhlak terlihat ketika manusia yang paling lemah merasa aman dari lisan, tangan, dan kekuasaanmu.


Ketika Tubuh dan Jiwa Meminta Pertolongan


Jangan memaksa tubuh atas nama perjalanan batin.


Tubuh adalah amanah.


Apabila sesak napas, nyeri dada, kelemahan, pingsan, pandangan terganggu, kesemutan berat, atau sakit yang menetap muncul, carilah pertolongan kesehatan.


Apabila pikiran sangat tertekan, tidur terus terganggu, muncul rasa ingin menyakiti diri, putus asa berat, atau pengalaman yang membuatmu kehilangan kemampuan menjalani kehidupan, carilah dukungan keluarga dan tenaga profesional.


Doa dapat menyertai pengobatan.


Dzikir dapat menyertai pertolongan psikologis.


Ibadah dapat berjalan bersama pemeriksaan kesehatan.


Tidak ada kehinaan dalam meminta bantuan.


Menjaga keselamatan adalah bagian dari tanggung jawab.


Jangan menyebut setiap keluhan sebagai tanda ruhani.


Jangan menganggap seluruh sensasi sebagai proses penyucian.


Tubuh mempunyai bahasa biologis.


Pikiran mempunyai batas.


Kelelahan mempunyai akibat.


Jalan lurus tidak mengajarkan manusia mengabaikan kenyataan.


Ia mengajarkan manusia melihat kenyataan dengan jernih dan menempuh pertolongan yang aman.


Perjanjian Hati Alzalaqum Ngindalloh


Pada penutupan kitab ini, bacalah perjanjian hati berikut secara perlahan.


Bukan sebagai sumpah yang memberatkan.


Bukan sebagai ritual yang menjanjikan kesaktian.


Namun sebagai pengingat akhlak yang dapat engkau ulang ketika arah langkah mulai kabur.


«Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Aku berniat berjalan menuju kebaikan dengan kejujuran dan kasih sayang.


Aku tidak mengaku sempurna.


Aku mengakui bahwa diriku dapat salah, lemah, dan membutuhkan pertolongan.


Aku akan berusaha berkata benar tanpa menjadi kasar.


Aku akan berlaku lembut tanpa membenarkan kezaliman.


Aku akan menjaga amanah, menepati janji, dan mengembalikan hak.


Aku akan mencari rezeki melalui jalan yang halal dan tidak memanfaatkan ketakutan manusia.


Aku akan menggunakan ilmu untuk menerangi, bukan menguasai.


Aku akan menggunakan kekuasaan untuk melindungi, bukan menekan.


Aku akan mencintai tanpa memiliki dan menolong tanpa memperbudak.


Aku akan menghormati batas diri sendiri dan batas orang lain.


Aku akan meminta maaf ketika salah dan memperbaiki akibat perbuatanku.


Aku akan menerima nasihat dan tidak menutupi ketidaktahuan dengan kepastian palsu.


Aku akan menjaga ibadah agar melahirkan akhlak.


Aku akan mencari pertolongan yang tepat ketika tubuh, pikiran, dan kehidupanku membutuhkannya.


Apabila aku terluka, aku tidak akan menjadikan luka sebagai alasan untuk menzalimi.


Apabila aku jatuh, aku tidak akan berputus asa dari rahmat Alloh.


Aku akan kembali, memperbaiki, dan melanjutkan perjalanan.


Yā Alloh, saksikanlah niat baikku, ampuni kekuranganku, dan kuatkanlah aku mewujudkannya melalui perbuatan.»


Setelah membaca perjanjian itu, jangan menunggu perasaan luar biasa.


Tanyakan:


“Langkah apa yang harus kulakukan hari ini?”


Mungkin jawabannya sederhana.


Menghubungi orang yang menunggu pembayaran.


Meminta maaf kepada keluarga.


Beristirahat agar tubuh pulih.


Menghentikan satu kebohongan.


Mengembalikan barang.


Merapikan pekerjaan.


Mendengarkan seseorang.


Menolak ajakan buruk.


Mencari bantuan.


Atau diam sejenak agar kemarahan tidak berubah menjadi perkataan yang disesali.


Lakukanlah langkah itu.


Sebab perjanjian hati memperoleh makna melalui tindakan.


Amalan Penutup Kitab


Amalan ini merupakan doa dan muhasabah.


Ia bukan jaminan memperoleh kekuatan gaib, kekayaan mendadak, keselamatan mutlak, atau kedudukan tertentu.


Lakukan dengan tenang sesuai kemampuan.


Tidak perlu memaksakan jumlah apabila tubuh lelah atau keadaan tidak memungkinkan.


Setelah sholat atau pada waktu yang tenang, bacalah:


Astaghfirullohal ‘Aẓīm — 33 kali

Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — 11 kali

Yā Hādī — 33 kali

Yā Ṣādiq — 33 kali

Yā ‘Adl — 33 kali

Yā Laṭīf — 33 kali

Yā Raḥmān, Yā Raḥīm — masing-masing 33 kali


Kemudian berdoalah:


«Yā Alloh, Tuhan yang mengetahui jalan yang tampak dan tersembunyi, luruskanlah niatku, jujurkanlah lisanku, amanahkanlah tanganku, adilkanlah keputusanku, dan lembutkanlah hatiku.


Jangan biarkan ilmu menjadikanku sombong. Jangan biarkan kekuasaan menjadikanku zalim. Jangan biarkan kekurangan menjadikanku berdusta. Jangan biarkan kelapangan menjadikanku lupa diri. Jangan biarkan luka menjadikanku sumber luka.


Ajarkan aku mengakui kesalahan tanpa berputus asa, meminta maaf tanpa pembelaan, mengembalikan hak tanpa menunda, menegakkan batas tanpa kebencian, dan mencintai tanpa menguasai.


Jaga aku ketika tidak ada manusia yang melihat. Jaga aku ketika banyak manusia memuji. Jaga aku ketika masa lalu kembali memanggil. Jaga aku ketika tubuh lelah dan hati rapuh.


Dekatkan aku kepada orang yang jujur, bijaksana, dan penuh kasih. Jauhkan aku dari lingkungan yang mengajak kepada dusta, penipuan, kesombongan, dan kezaliman.


Berikan keberanian untuk mencari pertolongan ketika aku tidak mampu berjalan sendiri.


Jadikan ibadahku melahirkan akhlak, rezekiku membawa manfaat, ilmuku menjaga keselamatan, dan hidupku menjadi jalan kebaikan bagi keluarga serta sesama.


Apabila aku tersesat, panggillah aku kembali. Apabila aku terjatuh, kuatkan aku bangkit. Apabila aku berhasil, lindungi aku dari kesombongan. Apabila aku diuji, jangan biarkan aku kehilangan kasih sayang.


Tuntunlah aku menempuh jalan yang lurus dengan kejujuran penuh kasih sayang hingga akhir kehidupanku.


Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.»


Sabdo Penutup Agung


«“Jangan mencari jalan lurus hanya di kejauhan, sebab ia dimulai dari kebenaran yang engkau akui hari ini.”


“Jangan mencari cahaya hanya di langit, sebab cahaya akhlak terlihat ketika manusia merasa aman dari lisan dan tanganmu.”


“Jangan mencari kasih sayang hanya dalam kata-kata, sebab kasih sayang dibuktikan melalui hak yang dijaga, luka yang tidak dibalas, dan pertolongan yang tidak menguasai.”


“Jangan mengaku telah sampai, sebab selama kehidupan masih diberikan, hati masih harus dijaga, niat masih harus dibersihkan, dan langkah masih harus diluruskan.”


“Kejujuran adalah arah. Kasih sayang adalah cahaya. Keadilan adalah pagar. Amanah adalah bekal. Taubat adalah pintu kembali. Ridho Alloh adalah tujuan perjalanan.”»


Pesan bagi Orang yang Kelak Membaca Kitab Ini


Apabila kitab ini sampai kepada seseorang yang sedang merasa bersalah, jangan gunakan isinya untuk menambah kehancuran hatinya.


Gunakanlah untuk membantunya bertanggung jawab tanpa berputus asa.


Apabila kitab ini dibaca oleh orang yang sedang marah, jangan gunakan kalimat-kalimatnya untuk membenarkan pembalasan.


Gunakanlah untuk mencari keadilan tanpa berubah menjadi zalim.


Apabila kitab ini dibaca oleh orang yang memegang kekuasaan, jangan gunakan isinya untuk menuntut ketaatan.


Gunakanlah untuk memeriksa amanah dan melindungi yang lemah.


Apabila kitab ini dibaca oleh orang yang berilmu, jangan gunakan isinya untuk merasa lebih tinggi.


Gunakanlah untuk mengingat batas pengetahuan dan adab menyampaikan kebenaran.


Apabila kitab ini dibaca oleh orang yang sedang sakit atau mengalami tekanan berat, jangan gantikan pertolongan yang diperlukan hanya dengan bacaan.


Gunakan doa sebagai penguat sambil menempuh pemeriksaan, pengobatan, perlindungan, dan bantuan yang tepat.


Apabila kitab ini dibaca oleh orang yang sedang mencari rezeki, jangan gunakan amalan di dalamnya sebagai janji kekayaan mendadak.


Gunakanlah sebagai pengingat agar bekerja halal, menjaga amanah, menata utang, dan tidak menipu.


Apabila kitab ini dibaca oleh seseorang yang merasa telah sangat dekat kepada Alloh, gunakanlah untuk bertanya:


“Apakah kedekatan itu telah membuatku lebih rendah hati dan lebih aman bagi sesama?”


Itulah salah satu ujian yang paling jujur.


Ketika Kitab Telah Ditutup


Setelah menutup kitab ini, jangan merasa perjalanan selesai.


Besok engkau mungkin kembali diuji.


Seseorang mungkin berkata kasar.


Janji lama mungkin menuntut penyelesaian.


Utang mungkin belum lunas.


Tubuh mungkin merasa lelah.


Keluarga mungkin membutuhkan kesabaran.


Pekerjaan mungkin tidak berjalan sesuai harapan.


Masa lalu mungkin kembali mengetuk.


Pada saat itu, engkau tidak perlu mengingat seluruh halaman sekaligus.


Ingatlah satu kalimat:


“Jalan yang lurus harus ditempuh dengan kejujuran penuh kasih sayang.”


Kemudian tanyakan:


Apa yang benar dalam keadaan ini?


Apa tanggung jawabku?


Siapa yang harus kulindungi?


Hak siapa yang harus kujaga?


Bagaimana aku dapat bertindak tegas tanpa menjadi zalim?


Bagaimana aku dapat berlaku lembut tanpa berdusta?


Apakah aku membutuhkan bantuan?


Apakah keputusan ini lahir dari kejernihan atau kemarahan?


Pertanyaan-pertanyaan itu akan menjadi tongkat perjalanan.


Wasiat Terakhir untuk Hati


Wahai hati.


Apabila engkau dipuji, jangan mabuk.


Apabila engkau dicela, jangan segera membalas.


Apabila engkau memperoleh harta, jangan lupa diri.


Apabila engkau mengalami kekurangan, jangan kehilangan kehormatan.


Apabila engkau mengetahui sesuatu, jangan merasa mengetahui semuanya.


Apabila engkau salah, jangan menutupinya.


Apabila engkau benar, jangan merendahkan.


Apabila engkau mencintai, jangan menguasai.


Apabila engkau terluka, jangan menzalimi.


Apabila engkau memimpin, jadilah pelindung.


Apabila engkau mengikuti, tetap gunakan akal dan tanggung jawab.


Apabila engkau berdoa, jangan meninggalkan ikhtiar.


Apabila engkau berikhtiar, jangan melupakan Alloh.


Apabila engkau jatuh, jangan berputus asa.


Apabila engkau bangkit, jangan sombong.


Dan apabila suatu hari perjalanan dunia mendekati akhirnya, semoga engkau dapat melihat ke belakang bukan sebagai manusia tanpa kesalahan, melainkan sebagai hamba yang terus berusaha kembali, terus memperbaiki, dan tidak berhenti memohon rahmat Alloh.


Khatimah Qitab


Dengan ini, selesailah lembar-lembar QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH.


Bukan sebagai akhir pencarian.


Melainkan sebagai awal pengamalan.


Bukan sebagai kitab yang menuntut pengagungan.


Melainkan sebagai cermin untuk memeriksa diri.


Bukan sebagai jalan untuk merasa paling benar.


Melainkan sebagai pengingat agar kebenaran selalu ditempuh dengan adab.


Bukan sebagai alat menguasai manusia.


Melainkan sebagai ajakan menjaga kemanusiaan.


Apabila tulisan ini membuat seseorang lebih jujur, semoga kejujuran itu dijaga.


Apabila membuat seseorang ingin meminta maaf, semoga ia diberi keberanian.


Apabila membuat seseorang menyadari hak yang belum dikembalikan, semoga ia dimudahkan menunaikannya.


Apabila membuat seseorang berhenti menzalimi, semoga perubahan itu diteguhkan.


Apabila membuat seseorang berani mencari pertolongan, semoga ia dipertemukan dengan bantuan yang aman dan tepat.


Apabila membuat seseorang merasa masih mempunyai kesempatan kembali, semoga harapan itu menjadi langkah nyata.


Dan apabila di dalam kitab ini terdapat kekurangan, semoga Alloh mengampuni penulisnya, menjaga pembacanya dari kekeliruan, serta membukakan jalan perbaikan melalui ilmu dan orang-orang yang amanah.


«“Kejujuran membawa manusia melihat jalan. Kasih sayang membuatnya sanggup berjalan bersama sesama. Dan rahmat Alloh menjadi tempat berharap ketika kekuatan manusia telah sampai pada batasnya.”»


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Semoga Alloh meluruskan setiap niat yang bengkok.


Semoga Alloh membersihkan setiap lisan dari dusta.


Semoga Alloh mengembalikan setiap amanah kepada tempatnya.


Semoga Alloh melindungi orang yang lemah dari kezaliman.


Semoga Alloh memberi keberanian kepada orang yang bersalah untuk bertobat.


Semoga Alloh memberi ketenangan kepada hati yang terluka.


Semoga Alloh melapangkan rezeki melalui jalan yang halal.


Semoga Alloh meneguhkan orang yang sedang berubah.


Semoga Alloh menjadikan ilmu sebagai cahaya, bukan kesombongan.


Semoga Alloh menjadikan ibadah sebagai sumber akhlak, bukan panggung pujian.


Semoga Alloh membimbing kita berjalan dalam kebenaran tanpa kehilangan kelembutan, menegakkan keadilan tanpa memelihara dendam, mencintai tanpa menguasai, serta hidup sebagai manusia yang dapat dipercaya.


Āmīn, Āmīn, Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.


Tamat


QITAB ALZALAQUM NGINDALLOH


“Jalan yang lurus harus berjalan dengan kejujuran penuh kasih sayang.”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh