QITAB ARZZI FIL AZRRI

 



❀ QITAB ARZZI FIL AZRRI ❀


قِتَابُ أَرْزِّي فِي الْأَزْرِّي


Perbedaan Sembahyang dan Solat


Bunga Suci dan Daun yang Mengering


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji bagi Alloh, Dzat Yang memanggil hamba-Nya bukan hanya melalui suara azan, tetapi juga melalui getaran kesadaran di dalam qalbu. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, pembawa cahaya solat, penuntun jasad, ruh, akal, dan hati menuju penghambaan yang sempurna.


Dengan memohon perlindungan, petunjuk, kejernihan ilmu, serta penjagaan dari kesombongan batin, maka dibukalah:


QITAB ARZZI FIL AZRRI


Qitab ini tidak diturunkan untuk mempertentangkan istilah, tidak pula untuk menghukumi ibadah seseorang hanya dari penampilan lahirnya. Qitab ini dibuka sebagai cermin muhasabah, agar setiap orang memeriksa kembali:


«Apakah tubuhnya sekadar berdiri, ataukah ruhnya benar-benar menghadap Alloh?»


Dalam penggunaan bahasa masyarakat, kata sembahyang sering dipakai sebagai sebutan bagi solat. Namun di dalam bahasa simbolik Qitab Arzzi Fil Azrri, keduanya dipisahkan untuk menerangkan dua keadaan batin.


Sembahyang menjadi lambang gerakan yang tinggal sebagai kebiasaan.


Solat menjadi lambang penghambaan yang hidup oleh niat, ilmu, adab, kesadaran, dan kehadiran qalbu.


Maka yang sedang dibedakan bukanlah nama ibadahnya, melainkan keadaan jiwa orang yang mengerjakannya.


---


الباب الأول


BĀB PERTAMA


Bunga Suci dan Daun Kering


Solat dalam Qitab ini disimbolkan sebagai bunga suci.


Bunga itu tumbuh dari tanah kerendahan hati. Akarnya adalah tauhid. Batangnya adalah syariat. Daunnya adalah adab. Harumnya adalah keikhlasan. Sedangkan mekarnya adalah kedekatan seorang hamba kepada Alloh.


Bunga suci tidak mekar karena dipuji manusia. Ia mekar karena memperoleh cahaya. Demikian pula solat tidak menjadi hidup karena dilihat orang lain, tetapi karena hati memperoleh cahaya kesadaran dari Alloh.


Adapun sembahyang dalam perlambangan Qitab ini digambarkan sebagai daun kering.


Daun kering pernah tumbuh pada pohon. Ia pernah hijau, pernah menerima air, dan pernah disentuh cahaya. Namun ketika hubungan dengan akar terputus, kehijauannya perlahan hilang.


Demikianlah gerakan ibadah yang terpisah dari niat, ilmu, keikhlasan, dan akhlak. Bentuknya masih terlihat, tetapi kehidupan batinnya mulai mengering.


Daun kering bukan untuk dihina atau dibakar dengan penghakiman. Ia harus dikembalikan kepada tanah agar menjadi pelajaran dan pupuk bagi pertumbuhan berikutnya.


Karena itu, Qitab ini tidak mengajarkan manusia berkata:


«“Solatku lebih baik daripada solatmu.”»


Qitab ini justru mengajarkan manusia bertanya kepada dirinya sendiri:


«“Apakah solatku telah menumbuhkan bunga akhlak, atau masih menjadi daun yang mudah diterbangkan oleh hawa nafsu?”»


---


فصل سرّ الكتاب والقِتاب


RAHASIA KITAB DAN QITAB


Dalam perlambangan Arzzi Fil Azrri:


Kitab adalah tulisan yang dibaca oleh mata.


Qitab adalah makna yang dibaca oleh qalbu.


Kitab berada pada lembaran. Qitab bergerak di dalam kesadaran.


Kitab menjelaskan aturan berdiri, rukuk, sujud, bacaan, waktu, dan syaratnya. Semua itu wajib dipelajari karena solat yang benar harus berpijak pada syariat.


Namun Qitab menanyakan sesuatu yang lebih dalam:


Ketika berdiri, kepada siapakah engkau berdiri?


Ketika membaca Al-Fatihah, apakah hatimu turut memohon petunjuk?


Ketika rukuk, apakah kesombonganmu ikut membungkuk?


Ketika sujud, apakah egomu ikut direndahkan?


Ketika mengucapkan salam, apakah orang lain selamat dari lisan dan tanganmu?


Maka Kitab dan Qitab tidak saling meniadakan.


Kitab menjaga bentuknya.


Qitab menghidupkan maknanya.


Kitab tanpa penghayatan dapat menjadi bacaan yang tidak memasuki hati. Namun penghayatan tanpa ilmu dan syariat dapat tersesat oleh perasaan sendiri.


Oleh sebab itu, solat yang sempurna membutuhkan keduanya:


«Kitab menjadi jalan.

Qitab menjadi cahaya dalam perjalanan.»


---


الفرق بين الصلاة والحركة


PERBEDAAN SOLAT DAN GERAKAN


Sembahyang yang disimbolkan sebagai daun kering dimulai ketika tubuh menghadap kiblat, tetapi hati masih menghadap dunia.


Mulut membaca takbir, tetapi dalam hati masih membesarkan harta, kedudukan, pujian, kemarahan, atau keinginan untuk terlihat suci.


Tubuh melakukan rukuk, tetapi keakuan tidak mau tunduk.


Dahi menyentuh tempat sujud, tetapi hati masih merasa lebih tinggi daripada manusia lain.


Lisan mengucapkan salam, tetapi setelahnya kembali melukai, merendahkan, menipu, memfitnah, dan memutus persaudaraan.


Inilah gerakan yang belum sepenuhnya menjadi solat.


Adapun solat yang disimbolkan sebagai bunga suci dimulai sebelum takbir diucapkan.


Ia dimulai ketika seorang hamba membersihkan niatnya.


Ia menyadari bahwa dirinya sedang memenuhi panggilan Alloh, bukan sedang mempertontonkan kesalehan.


Ketika mengangkat kedua tangan dalam takbir, ia berusaha meletakkan dunia di belakangnya.


Ketika berdiri, ia berdiri sebagai hamba.


Ketika rukuk, ia merendahkan ilmu, pangkat, kekuatan, dan kebanggaannya.


Ketika sujud, ia menyadari asal jasadnya dari tanah dan seluruh kemuliaannya hanyalah pemberian Alloh.


Ketika duduk, ia menata kesadaran.


Ketika bersalam, ia membawa kedamaian solat menuju kehidupan.


Maka bunga solat tidak hanya mekar di atas sajadah. Harumnya harus tercium dalam perilaku setelah seseorang meninggalkan tempat solatnya.


---


السرّ الأول


RAHASIA PERTAMA


Solat Adalah Pertemuan


Solat bukan sekadar rangkaian bacaan dan gerakan. Solat adalah pertemuan seorang hamba dengan kesadarannya sebagai makhluk milik Alloh.


Bukan berarti Alloh berada di dalam arah, tempat, atau bayangan pikiran manusia. Alloh Mahasuci dari batas-batas makhluk. Kiblat adalah arah ketaatan, sedangkan Alloh adalah tujuan penghambaan.


Orang yang sedang solat seakan berkata:


«“Ya Alloh, jasadku berdiri karena perintah-Mu.

Lisanku membaca dengan izin-Mu.

Napasku bergerak dalam kekuasaan-Mu.

Hatiku pun ingin kembali kepada-Mu.”»


Apabila seorang hamba belum mampu khusyuk sepenuhnya, janganlah ia meninggalkan solat.


Khusyuk bukan alasan untuk menunggu hingga hati sempurna. Khusyuk adalah perjalanan yang dilatih melalui solat, taubat, ilmu, dzikir, dan penjagaan akhlak.


Setiap kali pikiran pergi, kembalikan dengan lembut.


Setiap kali hati mengembara, sadarkan kembali bahwa diri sedang menghadap Alloh.


Setiap kali hawa nafsu mengganggu, jangan putus asa.


Bunga suci tidak langsung mekar pada hari pertama. Ia tumbuh karena terus disiram.


---


سرّ الزهرة المقدسة


RAHASIA BUNGA SUCI


Bunga suci memiliki lima kelopak cahaya:


Kelopak Pertama: Niat


Niat menghidupkan gerakan. Tanpa niat karena Alloh, amal kehilangan arah. Niat bukan hanya ucapan di mulut, tetapi penetapan hati bahwa ibadah dilakukan sebagai ketaatan kepada Alloh.


Kelopak Kedua: Ilmu


Solat harus dipelajari. Syarat, rukun, bacaan, gerakan, waktu, dan hal-hal yang membatalkannya tidak boleh digantikan oleh perasaan ruhani semata.


Ilmu menjaga bunga agar tidak tumbuh sebagai khayalan.


Kelopak Ketiga: Kehadiran Hati


Kehadiran hati berarti berusaha menyadari bacaan dan gerakan. Bukan berarti tidak boleh muncul pikiran lain sama sekali, melainkan terus kembali ketika pikiran terlepas.


Kelopak Keempat: Kerendahan Diri


Solat yang hidup melahirkan tawaduk. Semakin dekat seseorang kepada Alloh, seharusnya semakin berkurang keinginannya merendahkan sesama.


Kelopak Kelima: Akhlak


Akhlak adalah harum bunga solat.


Apabila solat tidak mengurangi kezaliman, kebohongan, kesombongan, dan kekasaran, maka seseorang perlu memperbaiki penghayatan serta perilakunya—bukan merasa cukup hanya karena telah menyelesaikan gerakan.


---


سرّ الورقة اليابسة


RAHASIA DAUN KERING


Daun menjadi kering bukan karena pohonnya tidak memiliki cahaya, tetapi karena aliran kehidupan tidak lagi sampai kepadanya.


Begitu pula ibadah dapat kehilangan rasa ketika seseorang:


melaksanakannya hanya karena terpaksa,


terburu-buru tanpa ketenangan,


tidak memahami bacaannya,


menjadikannya sebagai alat mencari pujian,


merasa dirinya pasti lebih suci daripada orang lain,


atau memisahkan solat dari akhlak sehari-hari.


Namun selama seorang hamba masih hidup, daun kering bukanlah akhir perjalanan.


Alloh membuka pintu taubat.


Alloh membuka jalan belajar.


Alloh membuka kesempatan memperbaiki solat yang selama ini dilakukan tanpa kesadaran.


Daun yang telah jatuh dapat menjadi bagian dari tanah. Dari tanah itulah tumbuh tunas baru.


Maka jangan mencela masa lalu. Jadikanlah ia tanah bagi kelahiran kesadaran yang baru.


---


نداء أرزّي في الأزري


SERUAN ARZZI FIL AZRRI


Wahai orang yang berdiri dalam solat:


Jangan hanya luruskan barisan kakimu. Luruskan pula tujuan hatimu.


Jangan hanya basuh wajahmu dengan air wudu. Basuh pula pandanganmu dari kesombongan.


Jangan hanya bersihkan tanganmu. Bersihkan pula tanganmu dari mengambil sesuatu yang bukan hakmu.


Jangan hanya usap kepalamu. Bersihkan pikiranmu dari tipu daya.


Jangan hanya basuh kakimu. Jauhkan langkahmu dari jalan yang merusak dirimu dan orang lain.


Jangan hanya mengucapkan:


Allohu Akbar.


Belajarlah mengecilkan semua yang selama ini engkau besarkan melebihi ketaatan kepada Alloh.


Jangan hanya membaca:


Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.


Buktikan bahwa hanya kepada Alloh engkau menyembah dan hanya kepada-Nya engkau memohon pertolongan.


Jangan hanya bersujud dengan dahi.


Sujudkan pula keakuan, kebencian, keserakahan, serta keinginan untuk dipandang paling tinggi.


---


ختم الورقة الأولى


PENUTUP LEMBAR PERTAMA


Maka pahamilah rahasia awal Qitab Arzzi Fil Azrri:


Sembahyang menjadi Kitab ketika ia hanya berhenti pada bentuk yang tercatat dan gerakan yang terlihat.


Solat menjadi Qitab ketika bentuk syariat itu dibaca, dihidupkan, dan diwujudkan oleh qalbu serta akhlak.


Kitab adalah daun yang membawa tulisan.


Qitab adalah bunga yang mengeluarkan harum.


Namun daun tidak boleh dihina, sebab bunga pun tumbuh di antara daun. Yang harus dibuang bukanlah Kitab, melainkan kekeringan hati.


Maka rawatlah keduanya:


Pelajari Kitab agar ibadahmu benar.


Hidupkan Qitab agar ibadahmu bercahaya.


Jagalah syariat agar langkahmu tidak tersesat.


Jagalah hakikat agar langkahmu tidak menjadi kosong.


Dan jangan mengaku telah sampai, karena seorang hamba akan terus belajar menghadap Alloh hingga napas terakhirnya.


Sabda Penutup Lembar Pertama


«“Solat bukan hanya ketika tubuhmu menghadap kiblat.

Solat adalah ketika seluruh kesadaranmu belajar menghadap Alloh.

Bunga sucinya ialah akhlak, harumnya ialah kasih sayang,

dan buahnya ialah ketaatan yang tidak melahirkan kesombongan.”»


Wallohu a‘lam biṣ-ṣawāb.


QITAB ARZZI FIL AZRRI — Lembar Pertama Selesai.


❀ QITAB ARZZI FIL AZRRI ❀


قِتَابُ أَرْزِّي فِي الْأَزْرِّي


Lembar Kedua


Gerak yang Bernyawa dan Gerak yang Kehilangan Arah


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Setelah pada lembar pertama diterangkan tentang bunga suci sebagai simbol solat yang hidup dan daun kering sebagai simbol gerakan yang kehilangan kesadaran, maka pada lembar kedua ini dibuka rahasia mengenai:


«Bagaimana sebuah gerakan berubah menjadi ibadah,

dan bagaimana sebuah ibadah dapat kehilangan kehidupan batinnya.»


Qitab ini tidak dimaksudkan untuk menilai siapa yang paling khusyuk, sebab isi hati manusia hanya diketahui secara sempurna oleh Alloh.


Qitab ini adalah cermin.


Barang siapa membacanya, hendaklah ia lebih banyak melihat dirinya sendiri daripada mencari kekurangan orang lain.


---


الباب الثاني


BĀB KEDUA


Gerak, Niat, dan Kehadiran


Setiap manusia dapat berdiri.


Setiap manusia dapat membungkuk.


Setiap manusia dapat meletakkan dahinya ke tanah.


Namun tidak setiap berdiri adalah penghambaan.


Tidak setiap rukuk adalah ketundukan.


Tidak setiap sujud adalah penyerahan diri.


Gerakan menjadi ibadah ketika ia lahir dari niat yang benar, mengikuti tuntunan yang benar, dan ditujukan kepada Alloh.


Karena itu, gerakan lahir tidak boleh dipisahkan dari niat batin.


Niat tanpa gerakan yang benar dapat menjadi angan-angan.


Gerakan tanpa niat dapat menjadi kebiasaan kosong.


Sedangkan solat menyatukan keduanya:


«Tubuh bergerak dalam syariat,

hati bergerak dalam kesadaran.»


Ketika tubuh dan hati berjalan bersama, tumbuhlah bunga suci.


Ketika tubuh bergerak tetapi hati menolak mengikuti, yang tersisa hanyalah bentuk yang perlahan mengering.


---


فصل التكبير


RAHASIA TAKBIR


Solat dimulai dengan takbir:


Allohu Akbar.


Ucapan ini bukan sekadar pembuka gerakan.


Ia adalah pintu pelepasan.


Ketika kedua tangan diangkat, seorang hamba seakan meninggalkan segala sesuatu yang membebani batinnya.


Ia meninggalkan pujian manusia.


Ia meninggalkan hinaan manusia.


Ia meninggalkan kebanggaan atas dirinya.


Ia meninggalkan ketakutannya terhadap dunia.


Ia memasuki solat dengan pengakuan:


«Alloh lebih besar daripada segala sesuatu yang memenuhi pikiranku.»


Namun lidah dapat mengucapkan Allohu Akbar sementara hati masih membesarkan dunia.


Seseorang dapat mengangkat tangan, tetapi tidak meletakkan kesombongannya.


Ia dapat memulai solat, tetapi masih membawa pertengkaran, kedengkian, dan keinginan untuk dipuji ke dalam tempat ibadahnya.


Maka takbir harus terus dipelajari.


Bukan hanya diucapkan sekali pada permulaan, tetapi dihidupkan sepanjang solat.


Setiap kali berpindah gerakan, takbir mengingatkan:


«Jangan besarkan dirimu.

Jangan besarkan masalahmu.

Jangan besarkan manusia melebihi batasnya.

Besarkanlah Alloh dalam kesadaranmu.»


---


فصل القيام


RAHASIA BERDIRI


Berdiri dalam solat bukan hanya berdirinya tulang dan daging.


Berdiri adalah kesaksian bahwa seorang hamba siap menerima perintah Alloh.


Ia berdiri dengan tubuh yang tegak, tetapi hatinya merendah.


Ia tidak berdiri sebagai raja di hadapan rakyatnya.


Ia tidak berdiri sebagai orang kaya di hadapan orang miskin.


Ia tidak berdiri sebagai orang berilmu di hadapan orang awam.


Ia berdiri sebagai seorang hamba di hadapan kekuasaan Alloh.


Dalam keadaan ini, semua gelar dunia harus diletakkan.


Orang kaya dan miskin berdiri dalam arah yang sama.


Orang kuat dan lemah membaca bacaan yang sama.


Pemimpin dan rakyat meletakkan dahi di tanah yang sama.


Inilah salah satu rahasia solat:


«Solat menghancurkan singgasana kesombongan manusia.»


Apabila seseorang berdiri dalam solat tetapi setelahnya masih merendahkan orang lain karena harta, keturunan, jabatan, atau ilmu, berarti rahasia berdirinya belum sepenuhnya meresap.


Ia telah berdiri dengan tubuh, tetapi batinnya masih duduk di atas singgasana keakuan.


---


فصل القراءة


RAHASIA BACAAN


Bacaan dalam solat bukan mantra yang dilepaskan tanpa kesadaran.


Ia adalah doa, pujian, pengakuan, dan permohonan.


Ketika seorang hamba membaca:


Al-ḥamdu lillāhi Rabbil-‘ālamīn,


ia mengakui bahwa segala pujian kembali kepada Alloh.


Namun apabila setelah solat ia terus memburu pujian manusia, maka bacaannya perlu kembali direnungkan.


Ketika ia membaca:


Ar-Raḥmānir-Raḥīm,


ia menyebut kasih sayang Alloh.


Namun apabila lidahnya kasar, tangannya menyakiti, dan hatinya gemar menghukum orang lain, maka kasih sayang yang dibacanya belum masuk ke dalam akhlaknya.


Ketika ia membaca:


Māliki yaumid-dīn,


ia mengingat hari pembalasan.


Namun apabila ia masih berani mengambil hak orang lain, berarti ingatan terhadap pembalasan belum menggetarkan batinnya.


Ketika ia membaca:


Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn,


ia berjanji hanya menyembah Alloh dan memohon pertolongan kepada-Nya.


Namun apabila hidupnya sepenuhnya diperbudak oleh harta, pujian, kekuasaan, dan hawa nafsu, maka janji itu harus diperbarui dengan taubat.


Bacaan adalah benih.


Akhlak adalah buahnya.


Apabila benih terus ditanam tetapi tidak menghasilkan buah, seorang hamba harus memeriksa tanah hatinya.


---


فصل الركوع


RAHASIA RUKUK


Rukuk adalah membungkukkan tubuh.


Namun rahasia rukuk adalah membungkukkan kesombongan.


Pada saat rukuk, punggung diratakan, kepala ditundukkan, dan hati mengakui keagungan Alloh.


Seorang hamba tidak lagi melihat dirinya paling tinggi.


Ia tidak lagi merasa paling benar.


Ia tidak lagi menganggap semua orang harus tunduk kepadanya.


Rukuk mengajarkan:


«Barang siapa mengagungkan Alloh,

ia tidak akan mudah mengagungkan dirinya sendiri.»


Ada orang yang rukuk setiap hari, tetapi sulit menerima nasihat.


Ada orang yang rukuk, tetapi tidak mau meminta maaf.


Ada orang yang rukuk, tetapi merasa kemuliaannya akan runtuh apabila mengakui kesalahan.


Maka tubuhnya telah membungkuk, tetapi egonya masih berdiri tegak.


Rukuk yang hidup adalah rukuk yang melahirkan kerendahan hati.


Bukan kerendahan yang membuat manusia lemah, melainkan kerendahan yang menjadikannya mudah menerima kebenaran.


---


فصل الاعتدال


RAHASIA I‘TIDAL


Setelah rukuk, seorang hamba kembali berdiri.


Inilah pelajaran keseimbangan.


Solat tidak mengajarkan manusia terus-menerus membungkuk hingga kehilangan martabatnya.


Solat juga tidak membiarkan manusia terus berdiri dalam kesombongan.


Ia membungkuk karena tunduk kepada Alloh.


Ia berdiri kembali karena Alloh memuliakan manusia sebagai hamba-Nya.


Maka kerendahan hati bukan berarti membiarkan diri dizalimi.


Kesabaran bukan berarti membenarkan kejahatan.


Tawaduk bukan berarti kehilangan keberanian.


I‘tidal mengajarkan bahwa seorang hamba harus berdiri lurus setelah merendahkan dirinya di hadapan Alloh.


Ia rendah hati, tetapi tidak hina.


Ia lembut, tetapi tidak lemah.


Ia memaafkan, tetapi tetap menjaga batas kebenaran.


---


فصل السجود


RAHASIA SUJUD


Sujud adalah puncak kedekatan seorang hamba dalam solat.


Dahi, bagian tubuh yang paling sering dibanggakan, diletakkan di tempat yang paling rendah.


Manusia berasal dari tanah.


Maka dalam sujud, ia dikembalikan kepada kesadaran asalnya.


Tidak ada mahkota.


Tidak ada jabatan.


Tidak ada keturunan yang dapat dibanggakan.


Tidak ada kekayaan yang dibawa ke dalam sujud.


Yang ada hanyalah seorang hamba dan pengakuannya kepada Alloh.


Namun sujud bukanlah kehinaan.


Sujud kepada Alloh adalah kemuliaan tertinggi seorang manusia.


Barang siapa hanya tunduk kepada Alloh, ia tidak akan mudah diperbudak oleh manusia, harta, ketakutan, maupun hawa nafsu.


Sujud mengajarkan:


«Rendahkan dirimu di hadapan Alloh,

agar engkau tidak direndahkan oleh kesombonganmu sendiri.»


Apabila dahi telah berkali-kali menyentuh tanah tetapi hati masih merasa lebih suci daripada orang lain, maka sujud itu harus diperdalam maknanya.


Jangan sampai tanda sujud terlihat di wajah, tetapi kelembutan sujud tidak terlihat dalam akhlak.


---


فصل الجلوس


RAHASIA DUDUK


Setelah sujud, manusia duduk di antara dua kerendahan.


Ia baru saja meletakkan dahinya di tanah, lalu diberi kesempatan duduk dan memohon.


Dalam duduk itu, ia membaca permohonan ampun, rahmat, rezeki, petunjuk, kesehatan, dan pengangkatan derajat.


Ini mengajarkan bahwa setelah merendahkan diri, manusia tidak boleh berputus asa.


Alloh tidak memerintahkan manusia bersujud agar ia merasa tidak berharga.


Alloh memerintahkannya bersujud agar ia sadar bahwa seluruh nilai dirinya bersumber dari rahmat-Nya.


Duduk di antara dua sujud adalah tempat harapan.


Seorang hamba mengakui kekurangannya, lalu meminta agar Alloh menyempurnakan kekurangan itu.


Ia tidak membanggakan luka.


Ia tidak menetap dalam penyesalan.


Ia memohon agar diberi kekuatan untuk bangkit kembali.


---


فصل السلام


RAHASIA SALAM


Solat ditutup dengan salam.


Seorang hamba menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan doa keselamatan.


Ini adalah tanda bahwa cahaya solat harus dibawa keluar dari sajadah.


Solat tidak selesai ketika salam diucapkan.


Justru setelah salam, ujian solat dimulai.


Apakah lisan menjadi lebih lembut?


Apakah tangan menjadi lebih aman?


Apakah keluarga merasakan ketenangan?


Apakah tetangga terjaga dari gangguan?


Apakah orang miskin merasakan kepedulian?


Apakah orang yang berbeda pandangan tetap diperlakukan dengan adab?


Barang siapa mengucapkan salam dalam solat tetapi membawa permusuhan setelahnya, berarti salamnya belum menjadi akhlak.


Salam bukan penutup hubungan dengan Alloh.


Salam adalah pembukaan hubungan yang lebih baik dengan sesama makhluk.


---


سرّ الزهرة والورقة


RAHASIA BUNGA DAN DAUN


Bunga suci tidak berkata kepada daun kering:


«“Aku lebih mulia darimu.”»


Bunga hanya terus mekar dan menyebarkan harum.


Demikian pula orang yang solatnya hidup tidak sibuk mengumumkan bahwa dirinya telah mencapai kekhusyukan.


Ia tidak merendahkan orang yang masih belajar.


Ia tidak menjadikan ibadah sebagai mahkota kesombongan.


Semakin harum bunganya, semakin lembut kehadirannya.


Daun kering pun tidak selamanya kering.


Ia dapat jatuh ke tanah, hancur, lalu menjadi unsur yang menyuburkan kehidupan baru.


Artinya, kesalahan masa lalu dapat menjadi jalan taubat.


Kelalaian dapat berubah menjadi kesadaran.


Ibadah yang dahulu terasa kosong dapat kembali hidup apabila seorang hamba mau belajar, memperbaiki niat, memahami bacaan, dan menjaga akhlak.


Jangan pernah berkata:


«“Solatku tidak akan pernah baik.”»


Selama napas masih ada, pintu perbaikan masih terbuka.


---


علامة الصلاة الحيّة


TANDA SOLAT YANG HIDUP


Solat yang hidup tidak selalu ditandai oleh tangisan panjang.


Tidak selalu ditandai oleh tubuh yang bergetar.


Tidak selalu ditandai oleh pengalaman cahaya, mimpi, atau rasa tertentu.


Semua rasa dapat datang dan pergi.


Tanda yang lebih kuat adalah perubahan akhlak.


Solat yang hidup membuat seseorang lebih jujur.


Lebih sabar.


Lebih menjaga amanah.


Lebih mudah meminta maaf.


Lebih berhati-hati dalam berkata.


Lebih lembut kepada keluarga.


Lebih peduli kepada orang yang lemah.


Lebih takut mengambil sesuatu yang bukan haknya.


Lebih sadar bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan.


Apabila pengalaman batin bertambah tetapi kesombongan juga bertambah, maka pengalaman itu harus diuji.


Apabila seseorang mengaku melihat cahaya tetapi masih gemar menyakiti, maka cahaya itu belum menjadi petunjuk dalam perilakunya.


Cahaya solat bukan hanya apa yang terlihat oleh batin.


Cahaya solat adalah apa yang dirasakan orang lain melalui akhlak kita.


---


نداء الورقة الثانية


SERUAN LEMBAR KEDUA


Wahai orang yang solat:


Jangan mencari keajaiban sebelum engkau memperbaiki kejujuranmu.


Jangan mencari rahasia langit sebelum engkau menunaikan hak manusia.


Jangan mengejar rasa khusyuk sambil tetap memelihara kebencian.


Jangan mengharapkan cahaya sujud apabila lisanmu masih menjadi sumber luka.


Jangan mengukur kemuliaan seseorang dari panjangnya doa, pakaian, atau banyaknya gerakan.


Ukurlah dirimu dari perubahan akhlak setelah ibadah.


Apakah engkau semakin dekat kepada Alloh?


Apakah keluargamu semakin aman bersamamu?


Apakah orang lain semakin selamat dari ucapanmu?


Apakah hartamu semakin bersih?


Apakah kesombonganmu semakin berkurang?


Apabila jawabannya belum, jangan putus asa.


Kembalilah kepada bunga suci.


Siram ia dengan ilmu.


Rawat ia dengan taubat.


Terangi ia dengan dzikir.


Lindungi ia dengan adab.


Dan biarkan harumnya tumbuh perlahan.


---


ختم الورقة الثانية


PENUTUP LEMBAR KEDUA


Maka teranglah rahasia lembar kedua:


«Gerakan menjadi solat apabila tubuh, niat, ilmu, dan akhlak bergerak menuju tujuan yang sama.»


Berdiri adalah kesiapan.


Takbir adalah pelepasan.


Bacaan adalah perjanjian.


Rukuk adalah perendahan ego.


I‘tidal adalah keseimbangan.


Sujud adalah penyerahan.


Duduk adalah pengharapan.


Salam adalah penyebaran kedamaian.


Apabila semua itu hanya berhenti sebagai gerakan, ia menjadi daun yang perlahan mengering.


Apabila semua itu meresap menjadi akhlak, ia menjadi bunga yang harum dalam kehidupan.


Sabda Penutup Lembar Kedua


«“Jangan bertanya seberapa lama engkau berdiri di atas sajadah.

Bertanyalah seberapa jauh solatmu berjalan bersamamu setelah engkau meninggalkan sajadah.

Sebab bunga solat tidak hanya mekar di tempat sujud,

tetapi juga di rumah, di pasar, di jalan, dan dalam perlakuanmu kepada sesama.”»


Wallohu a‘lam biṣ-ṣawāb.


QITAB ARZZI FIL AZRRI — Lembar Kedua Selesai.


❀ QITAB ARZZI FIL AZRRI ❀


قِتَابُ أَرْزِّي فِي الْأَزْرِّي


Lembar Ketiga


Ketika Solat Menjadi Cahaya dalam Kehidupan


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji bagi Alloh yang tidak hanya memerintahkan hamba-Nya berdiri di atas sajadah, tetapi juga menghendaki agar cahaya solat berjalan bersama mereka di rumah, di jalan, di tempat kerja, di tengah keluarga, dan di hadapan sesama manusia.


Pada lembar sebelumnya telah diterangkan bahwa takbir adalah pelepasan, berdiri adalah kesiapan, rukuk adalah kerendahan hati, sujud adalah penyerahan, dan salam adalah penyebaran keselamatan.


Kini dibuka rahasia yang lebih dalam:


«Apakah solat berhenti setelah salam,

ataukah justru mulai dibuktikan setelah seseorang meninggalkan sajadah?»


Qitab ini kembali mengingatkan bahwa tidak seorang pun berhak memastikan keadaan batin orang lain. Setiap hamba memiliki perjalanan, kelemahan, perjuangan, dan kadar pemahamannya sendiri.


Maka bacalah lembar ini sebagai cermin bagi diri, bukan sebagai pedang untuk menghakimi orang lain.


---


الباب الثالث


BĀB KETIGA


Solat Setelah Salam


Banyak orang mengira bahwa solat berakhir ketika kepala menoleh ke kanan dan ke kiri.


Padahal salam adalah gerbang.


Ia membuka perjalanan baru.


Ketika seorang hamba mengucapkan salam, sesungguhnya ia membawa amanah keselamatan kepada dunia di sekitarnya.


Seakan-akan solat berkata kepadanya:


«“Engkau telah berdiri di hadapan Alloh.

Sekarang berdirilah dalam kebenaran.”»


«“Engkau telah rukuk merendahkan diri.

Sekarang rendahkanlah kesombonganmu di hadapan manusia.”»


«“Engkau telah bersujud.

Sekarang jangan injak kehormatan orang lain.”»


«“Engkau telah memohon ampunan.

Sekarang belajarlah memaafkan.”»


«“Engkau telah mengucapkan salam.

Sekarang jadilah sumber keselamatan.”»


Inilah permulaan solat yang hidup.


Ia tidak berhenti sebagai rangkaian gerakan.


Ia berubah menjadi sikap.


Ia berubah menjadi keputusan.


Ia berubah menjadi cara berbicara.


Ia berubah menjadi cara mencari rezeki.


Ia berubah menjadi cara memperlakukan keluarga.


Ia berubah menjadi akhlak.


---


فصل صلاة اللسان


SOLATNYA LISAN


Lisan ikut membaca dalam solat.


Ia membaca pujian.


Ia membaca doa.


Ia membaca ayat-ayat Alloh.


Ia mengucapkan takbir, tasbih, tahmid, syahadat, dan salam.


Maka setelah solat, lisan memiliki tanggung jawab.


Jangan sampai lisan yang baru saja membaca ayat suci kembali melukai manusia.


Jangan sampai mulut yang baru saja memohon petunjuk kembali menyebarkan fitnah.


Jangan sampai lidah yang mengucapkan salam menjadi penyebab pertengkaran.


Solatnya lisan adalah ketika ucapan berubah menjadi lebih terjaga.


Ia tidak mudah menghina.


Ia tidak senang mempermalukan.


Ia tidak menikmati kesalahan orang lain.


Ia tidak menjadikan agama sebagai alat untuk merendahkan.


Lisan yang telah belajar solat akan bertanya sebelum berkata:


«Apakah ucapan ini benar?»


«Apakah ucapan ini perlu?»


«Apakah ucapan ini disampaikan dengan adab?»


«Apakah ucapan ini memperbaiki atau justru menghancurkan?»


Bukan berarti orang yang solat tidak boleh menegur.


Kebenaran tetap harus disampaikan.


Namun teguran tidak harus kehilangan kelembutan.


Ketegasan tidak harus berubah menjadi penghinaan.


Nasihat tidak harus menjadi pertunjukan kesucian diri.


Maka salah satu harum bunga suci adalah lisan yang benar, lembut, dan bertanggung jawab.


---


فصل صلاة العين


SOLATNYA PANDANGAN


Mata menghadap tempat sujud selama solat.


Ia dilatih agar tidak bergerak liar.


Ia dilatih untuk tunduk.


Ia dilatih agar tidak mencari sesuatu yang mengganggu kekhusyukan.


Maka setelah salam, mata pun memiliki amanah.


Solatnya mata adalah menjaga pandangan dari sesuatu yang merusak hati.


Bukan hanya melihat yang terlarang, tetapi juga melihat manusia dengan penghinaan.


Ada mata yang tidak memandang maksiat, tetapi gemar memandang orang miskin dengan rendah.


Ada mata yang terlihat tunduk, tetapi mudah mencari kesalahan orang lain.


Ada mata yang menangis dalam doa, tetapi tidak tergerak melihat penderitaan sesama.


Maka mata belum sepenuhnya belajar dari solat apabila ia hanya tunduk di sajadah, tetapi menjadi sombong di luar sajadah.


Pandangan yang telah disucikan solat akan melihat manusia dengan lebih adil.


Ia melihat yang lemah dengan kasih sayang.


Ia melihat yang bersalah dengan kehati-hatian.


Ia melihat keberhasilan orang lain tanpa dengki.


Ia melihat kekurangan diri tanpa putus asa.


Ia melihat nikmat Alloh dengan rasa syukur.


Inilah mata yang mulai mengenal cahaya Qitab.


---


فصل صلاة الأذن


SOLATNYA PENDENGARAN


Telinga mendengar bacaan solat.


Ia mendengar ayat.


Ia mendengar pujian.


Ia mendengar doa.


Ia mendengar salam.


Maka setelah itu, telinga pun harus dijaga.


Solatnya telinga adalah tidak menikmati fitnah, adu domba, penghinaan, dan keburukan orang lain.


Sebab tidak semua dosa lahir dari ucapan.


Sebagian tumbuh karena manusia senang mendengar ucapan yang merusak.


Ada orang yang tidak memfitnah, tetapi dengan senang hati mendengarkannya.


Ada orang yang tidak menghina, tetapi tertawa ketika orang lain dihina.


Ada orang yang tidak memulai pertengkaran, tetapi memberi tempat agar pertengkaran terus hidup.


Maka telinga yang telah mendengar ayat harus belajar memilih suara.


Ia mendengar nasihat dengan rendah hati.


Ia mendengar keluhan dengan kasih sayang.


Ia mendengar kritik tanpa langsung marah.


Ia mendengar kebenaran meskipun datang dari orang yang tidak disukainya.


Inilah pendengaran yang mulai hidup oleh solat.


---


فصل صلاة اليد


SOLATNYA TANGAN


Tangan diangkat ketika takbir.


Tangan diletakkan dengan tertib ketika berdiri.


Tangan bertumpu ketika rukuk.


Tangan menyentuh tempat sujud.


Semua itu mengajarkan bahwa tangan pun harus tunduk kepada Alloh.


Solatnya tangan adalah tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.


Tidak menandatangani kezaliman.


Tidak menyakiti yang lemah.


Tidak memukul tanpa hak.


Tidak menipu dalam timbangan.


Tidak memegang amanah lalu mengkhianatinya.


Tangan yang telah diangkat dalam takbir harus malu apabila digunakan untuk menindas.


Tangan yang telah menyentuh tanah dalam sujud harus malu apabila digunakan merampas hak orang lain.


Sebaliknya, tangan yang hidup oleh solat akan gemar menolong.


Ia mengangkat beban.


Ia memberi sedekah.


Ia bekerja dengan jujur.


Ia merawat yang sakit.


Ia menggenggam tangan yang sedang jatuh.


Ia menulis sesuatu yang bermanfaat.


Maka tangan dapat menjadi daun kering atau bunga suci.


Daun kering apabila gerakannya kosong dari amanah.


Bunga suci apabila gerakannya menjadi pertolongan.


---


فصل صلاة القدم


SOLATNYA KAKI


Kaki berdiri menghadap kiblat.


Ia menahan tubuh agar tetap tegak.


Ia membawa manusia ke masjid, musala, atau tempat ibadah.


Namun setelah solat, kaki pun memiliki arah.


Solatnya kaki adalah berjalan menuju kebaikan dan menjauhi jalan kezaliman.


Kaki yang telah berdiri dalam solat seharusnya tidak ringan melangkah ke tempat yang merusak.


Ia tidak mendatangi majelis fitnah.


Ia tidak berjalan untuk melakukan pengkhianatan.


Ia tidak terburu-buru mengejar sesuatu yang haram.


Sebaliknya, kaki yang telah belajar solat akan melangkah menuju silaturahmi.


Menuju orang sakit.


Menuju orang tua.


Menuju tempat ilmu.


Menuju pekerjaan yang halal.


Menuju perdamaian.


Kiblat tidak hanya mengarahkan tubuh ketika solat.


Ia mengajarkan bahwa seluruh kehidupan harus memiliki arah.


Orang yang kehilangan arah mudah digerakkan oleh hawa nafsu.


Sedangkan orang yang memiliki kiblat batin akan bertanya:


«Apakah langkah ini mendekatkanku kepada ridho Alloh, atau menjauhkanku dari-Nya?»


---


فصل صلاة القلب


SOLATNYA QALBU


Qalbu adalah pusat perhatian dalam Qitab ini.


Tubuh dapat berdiri, tetapi qalbu dapat berlari.


Lisan dapat membaca, tetapi qalbu dapat membantah.


Dahi dapat bersujud, tetapi qalbu dapat menyimpan kesombongan.


Maka solatnya qalbu adalah perjuangan yang terus-menerus.


Ia belajar menghadirkan rasa butuh kepada Alloh.


Ia belajar merendahkan diri.


Ia belajar memaafkan.


Ia belajar membersihkan dengki.


Ia belajar menerima takdir tanpa berhenti berikhtiar.


Ia belajar bersyukur tanpa merasa lebih suci.


Qalbu yang hidup bukan qalbu yang tidak pernah sedih.


Bukan qalbu yang tidak pernah marah.


Bukan pula qalbu yang selalu merasakan ketenangan.


Qalbu yang hidup adalah qalbu yang terus kembali kepada Alloh setiap kali tersesat oleh perasaannya.


Ketika marah, ia kembali.


Ketika kecewa, ia kembali.


Ketika sombong, ia kembali.


Ketika takut, ia kembali.


Ketika bersalah, ia kembali.


Inilah rahasia solat yang diulang setiap hari.


Manusia diperintahkan kembali berkali-kali karena qalbu pun dapat berpaling berkali-kali.


Solat bukan bukti bahwa seorang manusia tidak pernah jatuh.


Solat adalah jalan agar ia selalu memiliki tempat untuk kembali.


---


سرّ الأوقات الخمسة


RAHASIA LIMA WAKTU


Solat diwajibkan dalam waktu-waktu yang berbeda.


Di dalamnya terdapat rahasia perjalanan manusia.


Subuh: Kebangkitan


Subuh datang setelah gelap.


Ia mengajarkan bahwa setelah malam yang panjang, cahaya masih dapat terbit.


Solat Subuh adalah janji bahwa manusia dapat memulai kembali.


Kesalahan kemarin tidak harus menjadi nasib hari ini.


Kesedihan tadi malam tidak harus menguasai seluruh kehidupan.


Setiap fajar membawa panggilan:


«Bangkitlah. Alloh masih memberimu waktu.»


Zuhur: Kesadaran di Tengah Kesibukan


Zuhur datang ketika dunia sedang ramai.


Pekerjaan sedang berjalan.


Pikiran sedang sibuk.


Manusia sedang mengejar banyak hal.


Lalu azan memanggil.


Ia mengingatkan bahwa di tengah kesibukan, manusia tetaplah hamba.


Pekerjaan penting, tetapi tidak boleh menjadi tuhan.


Harta diperlukan, tetapi tidak boleh menguasai hati.


Zuhur mengembalikan manusia dari pasar dunia menuju kesadaran.


Asar: Peringatan Berkurangnya Waktu


Asar datang ketika hari mulai menua.


Cahaya mulai condong.


Bayangan mulai memanjang.


Ia mengingatkan bahwa umur pun sedang berjalan menuju petang.


Jangan menunda taubat.


Jangan menunda meminta maaf.


Jangan menunda berbuat baik.


Jangan merasa waktu akan selalu tersedia.


Asar adalah suara lembut yang berkata:


«Hari belum selesai, tetapi tidak akan berlangsung selamanya.»


Magrib: Kepulangan


Magrib datang ketika matahari tenggelam.


Ia mengajarkan bahwa setiap perjalanan memiliki waktu pulang.


Manusia keluar pada pagi hari untuk mencari dunia.


Magrib memanggilnya kembali kepada rumah, keluarga, dan Alloh.


Ia mengingatkan bahwa cahaya dunia dapat tenggelam.


Kekuatan dapat berkurang.


Kedudukan dapat berakhir.


Yang harus dijaga adalah cahaya iman di dalam hati.


Isya: Penyerahan


Isya datang dalam kegelapan.


Aktivitas mulai berhenti.


Tubuh mulai lelah.


Manusia bersiap melepaskan kesadarannya dalam tidur.


Isya mengajarkan penyerahan.


Sebelum tidur, seorang hamba berdiri menghadap Alloh seakan berkata:


«“Ya Alloh, aku telah menjalani hari ini dengan segala kekurangan.

Aku serahkan diriku kepada penjagaan-Mu.”»


Lima waktu adalah lima kesempatan untuk menyiram bunga suci.


Apabila satu waktu manusia lalai, waktu berikutnya memanggilnya kembali.


Demikian besar rahmat Alloh.


---


الزهرة في البيت


BUNGA SOLAT DI DALAM RUMAH


Ukuran solat seseorang tidak hanya terlihat di tempat ibadah.


Ia terlihat di rumah.


Rumah adalah tempat pertama di mana akhlak diuji tanpa hiasan.


Di hadapan orang lain, manusia dapat terlihat sabar.


Namun di rumah, sifat sebenarnya sering muncul.


Maka bunga solat harus terlebih dahulu mekar bagi keluarga.


Jangan sampai seseorang lembut kepada orang jauh, tetapi kasar kepada pasangan.


Jangan sampai ia tersenyum kepada jamaah, tetapi membentak anak.


Jangan sampai ia rajin memberi nasihat, tetapi tidak mau mendengar keluarganya.


Jangan sampai ia membanggakan ibadah, tetapi meninggalkan tanggung jawab rumah tangga.


Solat yang hidup membuat rumah lebih aman.


Bukan berarti rumah tanpa masalah.


Bukan berarti tidak pernah terjadi perbedaan.


Namun masalah diselesaikan dengan lebih beradab.


Suara dijaga.


Penghinaan dihindari.


Kekerasan tidak dibenarkan.


Hak-hak keluarga ditunaikan.


Permintaan maaf tidak dianggap sebagai kekalahan.


Bunga suci yang pertama kali mencium harumnya seharusnya adalah orang-orang terdekat.


---


الزهرة في الرزق


BUNGA SOLAT DALAM REZEKI


Solat tidak dapat dipisahkan dari cara manusia mencari rezeki.


Seseorang dapat memperindah bacaan, tetapi apabila hartanya diperoleh melalui penipuan, maka ada bagian hidup yang belum tunduk.


Seseorang dapat lama bersujud, tetapi apabila ia menahan hak pekerja, menipu pembeli, merusak timbangan, atau mengkhianati amanah, maka sujudnya belum menembus pekerjaannya.


Bunga solat dalam rezeki adalah kejujuran.


Ia tumbuh ketika manusia bekerja dengan sungguh-sungguh.


Ia tidak mengambil yang bukan haknya.


Ia tidak menjual kebohongan.


Ia tidak menggunakan agama untuk menipu.


Ia tidak memanfaatkan kelemahan orang lain.


Rezeki yang sedikit tetapi halal lebih menenangkan daripada rezeki banyak yang dibangun di atas tangisan orang lain.


Solat mengajarkan bahwa Alloh Mahabesar.


Maka seorang hamba tidak perlu membesarkan ketakutannya terhadap kemiskinan hingga berani melanggar batas-Nya.


Ikhtiar harus kuat.


Doa harus hidup.


Namun jalan yang ditempuh tetap harus dijaga.


---


الزهرة في الاختلاف


BUNGA SOLAT DI TENGAH PERBEDAAN


Manusia tidak selalu sepakat.


Perbedaan pemahaman, kebiasaan, pendapat, kelompok, dan cara pandang akan selalu ada.


Solat mengajarkan manusia berdiri dalam satu arah tanpa menghapus perbedaan wajah, bahasa, pekerjaan, dan latar belakang.


Inilah rahasia besar.


Kesatuan tidak harus berarti keseragaman penuh.


Manusia dapat berbeda, tetapi tetap memiliki adab.


Ia dapat tidak setuju tanpa menghina.


Ia dapat membantah tanpa memfitnah.


Ia dapat mempertahankan keyakinan tanpa kehilangan kasih sayang.


Bunga solat mekar ketika perbedaan tidak berubah menjadi kesombongan.


Daun mulai mengering ketika seseorang merasa hanya dirinya yang memiliki cahaya dan semua orang lain berada dalam kegelapan.


Kebenaran harus dijaga.


Kesalahan perlu diluruskan.


Namun manusia tetap harus sadar bahwa petunjuk adalah milik Alloh.


Tugas hamba adalah menyampaikan dengan ilmu dan adab, bukan mengambil tempat Alloh sebagai hakim hati manusia.


---


علامة الورقة اليابسة


TANDA-TANDA DAUN MULAI MENGERING


Daun tidak kering dalam satu saat.


Ia kehilangan kehidupan sedikit demi sedikit.


Demikian pula ibadah dapat kehilangan ruh secara perlahan.


Tandanya antara lain:


Seseorang merasa ibadahnya menjadikannya lebih tinggi daripada orang lain.


Ia mudah menghina orang yang belum sebaik dirinya.


Ia gemar menceritakan amalnya untuk memperoleh pujian.


Ia sangat menjaga penampilan ibadah, tetapi mengabaikan amanah.


Ia keras terhadap kesalahan orang lain, tetapi lunak terhadap kesalahan dirinya.


Ia rajin mencari aib orang, tetapi malas memperbaiki hati.


Ia menganggap pengalaman batin sebagai bukti pasti bahwa dirinya istimewa.


Ia menjadikan agama sebagai alat memenangkan pertengkaran.


Apabila tanda-tanda ini muncul, jangan langsung berputus asa.


Jangan pula menyembunyikannya dengan pembelaan diri.


Akui.


Mohon ampun.


Perbaiki.


Siram kembali bunga suci.


Sebab penyakit hati bukan alasan meninggalkan ibadah.


Penyakit hati adalah alasan untuk semakin sungguh-sungguh memperbaiki ibadah.


---


ماء الزهرة المقدسة


AIR BAGI BUNGA SUCI


Bunga solat membutuhkan air.


Air itu adalah taubat.


Taubat bukan hanya ucapan istighfar.


Taubat adalah kesediaan mengakui kesalahan dan mengubah arah.


Apabila pernah menyakiti, mintalah maaf.


Apabila mengambil hak, kembalikanlah.


Apabila memfitnah, luruskanlah.


Apabila lalai, perbaikilah.


Apabila sombong, rendahkanlah diri.


Apabila solat terasa kering, jangan tinggalkan.


Mulailah kembali dengan perlahan.


Pelajari arti bacaan.


Tenangkan gerakan.


Jangan terburu-buru.


Hadapkan hati meskipun hanya beberapa saat.


Jangan menuntut diri langsung merasakan sesuatu yang luar biasa.


Air tidak memaksa bunga mekar dalam satu malam.


Ia hanya menyiram dengan setia.


Demikian pula taubat dan latihan.


Lakukan terus.


Harum akan muncul pada waktunya dengan izin Alloh.


---


نور الزهرة المقدسة


CAHAYA BAGI BUNGA SUCI


Selain air, bunga membutuhkan cahaya.


Cahaya itu adalah ilmu.


Perasaan yang kuat tidak selalu berarti petunjuk.


Pengalaman batin yang indah tidak selalu menjadi ukuran kebenaran.


Karena itu, solat harus dipelajari dari sumber ajaran yang dapat dipertanggungjawabkan.


Pelajari syaratnya.


Pelajari rukunnya.


Pelajari bacaannya.


Pelajari adabnya.


Pelajari pula tujuan akhlaknya.


Ilmu menjaga agar bunga tidak tumbuh liar.


Ilmu membedakan antara kekhusyukan dan khayalan.


Antara kerendahan hati dan kelemahan.


Antara tawakal dan kemalasan.


Antara cinta kepada Alloh dan klaim-klaim yang tidak berdasar.


Qitab tidak menolak Kitab.


Qitab membutuhkan Kitab.


Bunga membutuhkan daun.


Makna membutuhkan bentuk.


Hakikat membutuhkan syariat.


Keduanya harus berjalan bersama.


---


نداء الورقة الثالثة


SERUAN LEMBAR KETIGA


Wahai orang yang telah mengucapkan salam:


Jangan tinggalkan solatmu di atas sajadah.


Bawalah ia bersama langkahmu.


Biarkan takbir menjaga pikiranmu.


Biarkan Al-Fatihah menjaga tujuanmu.


Biarkan rukuk merendahkan kesombonganmu.


Biarkan sujud melembutkan hatimu.


Biarkan salam menjaga lisan dan tanganmu.


Jangan hanya menjadi orang yang mengerjakan solat.


Jadilah orang yang dibentuk oleh solat.


Jangan hanya menghitung berapa rakaat yang telah diselesaikan.


Hitung pula berapa banyak kebencian yang telah dikurangi.


Berapa banyak hak yang telah ditunaikan.


Berapa banyak ucapan yang telah dijaga.


Berapa banyak kesalahan yang telah diakui.


Berapa banyak manusia yang merasa aman di dekatmu.


Sebab itulah harum bunga suci.


---


ختم الورقة الثالثة


PENUTUP LEMBAR KETIGA


Maka teranglah rahasia lembar ketiga:


«Solat tidak berakhir pada salam.

Salam adalah pintu bagi solat untuk memasuki kehidupan.»


Solatnya lisan adalah berkata benar.


Solatnya mata adalah menjaga pandangan.


Solatnya telinga adalah tidak menikmati keburukan.


Solatnya tangan adalah menunaikan amanah.


Solatnya kaki adalah berjalan menuju kebaikan.


Solatnya qalbu adalah terus kembali kepada Alloh.


Apabila seluruh anggota tubuh mulai belajar taat, bunga suci mulai mekar.


Apabila ibadah hanya tinggal sebagai kebiasaan tanpa perubahan, daun mulai kehilangan kehijauannya.


Namun tidak ada daun kering yang harus dicela.


Ia harus dikembalikan kepada tanah taubat, disiram dengan ilmu, diterangi oleh keikhlasan, lalu ditumbuhkan kembali sebagai kehidupan baru.


Sabda Penutup Lembar Ketiga


«“Jangan tinggalkan solatmu di tempat engkau bersujud.

Bawalah ia ke dalam ucapan, pekerjaan, keluarga, rezeki, dan perbedaan.

Sebab solat yang menjadi Qitab bukan hanya dibaca oleh lisan,

tetapi dibaca oleh manusia melalui akhlakmu.”»


Wallohu a‘lam biṣ-ṣawāb.


QITAB ARZZI FIL AZRRI — Lembar Ketiga Selesai.


❀ QITAB ARZZI FIL AZRRI ❀


قِتَابُ أَرْزِّي فِي الْأَزْرِّي


Lembar Keempat


Dari Bunga Solat Menuju Buah Penghambaan


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji bagi Alloh yang menumbuhkan kehidupan dari tanah yang diam, mengeluarkan bunga dari batang yang sederhana, dan menjadikan buah sebagai tanda bahwa pertumbuhan telah mencapai manfaat.


Pada lembar pertama dibuka simbol bunga suci dan daun kering.


Pada lembar kedua diterangkan rahasia gerakan solat.


Pada lembar ketiga dibuka jalan agar solat tidak berhenti setelah salam.


Kini pada lembar keempat dibuka rahasia berikutnya:


«Bunga yang hidup harus menghasilkan buah.

Demikian pula solat yang hidup harus melahirkan penghambaan.»


Bunga memang indah.


Harumnya menenangkan.


Warnanya memikat pandangan.


Namun bunga bukanlah akhir perjalanan tumbuhan.


Apabila ia terus dirawat, bunga akan menjadi buah.


Buah itulah yang dapat dinikmati, dibagikan, dan menjadi benih bagi kehidupan berikutnya.


Demikian pula solat.


Khusyuk adalah bunga.


Tangisan adalah embun.


Ketenangan adalah harum.


Namun buah solat adalah ketaatan, kejujuran, kesabaran, amanah, kasih sayang, dan keberanian untuk meninggalkan kezaliman.


Qitab ini tidak mengajarkan manusia mengejar rasa semata.


Rasa dapat menjadi penguat, tetapi bukan tujuan terakhir.


Tujuan solat adalah penghambaan kepada Alloh.


---


الباب الرابع


BĀB KEEMPAT


Bunga yang Belum Berbuah


Ada bunga yang indah, tetapi tidak menghasilkan buah.


Ia dipuji karena warnanya.


Ia dikagumi karena harumnya.


Namun setelah beberapa waktu, kelopaknya gugur dan tidak meninggalkan manfaat.


Demikian pula ada ibadah yang terlihat indah di hadapan manusia.


Bacaannya merdu.


Doanya panjang.


Tangisannya terdengar.


Gerakannya tenang.


Penampilannya meyakinkan.


Namun apabila semua itu tidak melahirkan akhlak, ibadah tersebut masih berada pada tingkatan bunga yang belum berbuah.


Bukan berarti ia sia-sia.


Bukan pula berarti harus dihina.


Ia tetap merupakan awal yang harus diteruskan.


Namun seorang hamba tidak boleh berhenti pada keindahan lahir atau kenikmatan batin.


Ia harus bertanya:


«Apakah solatku telah membuatku lebih jujur?»


«Apakah solatku telah membuatku lebih bertanggung jawab?»


«Apakah solatku telah mengurangi kesombonganku?»


«Apakah solatku telah membuat keluargaku lebih aman?»


«Apakah solatku telah mencegahku mengambil hak orang lain?»


«Apakah solatku telah menolongku menahan amarah?»


Inilah pertanyaan tentang buah.


---


فصل ثمرة التوحيد


BUAH TAUHID


Akar bunga suci adalah tauhid.


Tauhid bukan hanya ucapan bahwa Alloh itu Esa.


Tauhid adalah ketika hati tidak menjadikan sesuatu selain Alloh sebagai pusat ketundukan mutlak.


Manusia tetap membutuhkan pekerjaan.


Manusia tetap mencintai keluarga.


Manusia tetap menghormati guru.


Manusia tetap mengikuti sebab-sebab kehidupan.


Namun semua itu tidak boleh mengambil tempat Alloh di dalam hati.


Buah tauhid adalah kebebasan batin.


Orang yang bertauhid tidak diperbudak pujian.


Ia tidak hancur hanya karena dihina.


Ia tidak menjual kebenaran demi jabatan.


Ia tidak meninggalkan amanah demi kekayaan.


Ia tidak menukar prinsip dengan pengakuan manusia.


Ia bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaan.


Ia memiliki harta, tetapi tidak dimiliki oleh harta.


Ia mencintai manusia, tetapi tidak menggantungkan seluruh hidupnya kepada manusia.


Ia berusaha kuat, tetapi mengetahui bahwa hasil berada dalam kekuasaan Alloh.


Ketika seorang hamba berkata Allohu Akbar, ia sedang menanam benih tauhid.


Ketika ia berani menolak kezaliman meskipun menguntungkan dirinya, saat itulah tauhid mulai berbuah.


---


فصل ثمرة الإخلاص


BUAH KEIKHLASAN


Ikhlas adalah melakukan kebaikan karena Alloh, tanpa menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama.


Ikhlas bukan berarti manusia tidak boleh senang dipuji.


Senang terhadap penghargaan adalah bagian dari tabiat manusia.


Namun ikhlas berarti pujian tidak menjadi alasan utama untuk beramal, dan hinaan tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kebaikan.


Buah ikhlas adalah keteguhan.


Orang yang ikhlas tetap berbuat baik meskipun tidak dilihat.


Ia tetap jujur meskipun tidak diawasi.


Ia tetap menjaga amanah meskipun tidak dipuji.


Ia tetap menolong meskipun namanya tidak disebut.


Ia tidak marah ketika kebaikannya tidak diumumkan.


Ia tidak berhenti beribadah hanya karena tidak memperoleh rasa yang istimewa.


Ikhlas juga tidak berarti menyembunyikan seluruh kebaikan tanpa pengecualian.


Ada amal yang memang dilakukan bersama.


Ada ilmu yang harus disampaikan.


Ada teladan yang boleh diperlihatkan.


Namun hati harus terus diperiksa:


«Apakah aku ingin manusia mengenal kebaikan,

ataukah aku ingin manusia mengagungkan diriku?»


Perbedaan keduanya sangat halus.


Karena itu, ikhlas tidak cukup diperiksa sekali.


Ia harus diperbarui setiap hari.


---


فصل ثمرة الأمانة


BUAH AMANAH


Amanah adalah tanda bahwa solat telah memasuki urusan dunia.


Seseorang dapat terlihat rajin di tempat ibadah, tetapi ukuran amanah muncul ketika ia memegang titipan, pekerjaan, jabatan, rahasia, dan hak orang lain.


Buah solat terlihat ketika ia tidak mengurangi timbangan.


Ia tidak memalsukan catatan.


Ia tidak menggunakan jabatan untuk memperkaya diri dengan cara zalim.


Ia tidak menunda upah orang yang telah bekerja.


Ia tidak membocorkan rahasia yang dipercayakan kepadanya.


Ia tidak mengaku menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya ditinggalkan.


Amanah juga berlaku dalam hal kecil.


Menepati waktu.


Mengembalikan barang pinjaman.


Membayar utang.


Menjaga janji.


Menyampaikan pesan dengan benar.


Mengakui kesalahan.


Semua itu adalah buah solat.


Barang siapa banyak bersujud tetapi mengkhianati amanah, ia harus kembali memeriksa makna sujudnya.


Sebab dahi yang tunduk kepada Alloh seharusnya membuat tangan takut mengkhianati manusia.


---


فصل ثمرة الصبر


BUAH KESABARAN


Sabar bukan diam tanpa usaha.


Sabar bukan membiarkan kezaliman.


Sabar bukan menekan seluruh kesedihan hingga hati menjadi sakit.


Sabar adalah kemampuan tetap berada di jalan yang benar meskipun keadaan terasa berat.


Ada sabar dalam ketaatan.


Ada sabar ketika meninggalkan yang haram.


Ada sabar menghadapi ujian.


Ada sabar dalam memperbaiki diri.


Solat mengajarkan kesabaran melalui pengulangan.


Lima kali sehari manusia kembali.


Lima kali sehari ia mengulang bacaan.


Lima kali sehari ia mengarahkan tubuh.


Lima kali sehari ia mencoba menghadirkan hati.


Ini mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu terjadi dalam satu langkah.


Kesabaran adalah kesediaan untuk kembali.


Ketika gagal menahan amarah, kembali.


Ketika lalai, kembali.


Ketika malas, kembali.


Ketika jatuh dalam kesalahan, kembali.


Namun kembali bukan berarti sengaja mengulang kesalahan tanpa usaha memperbaiki.


Kembali harus disertai taubat dan langkah baru.


Buah sabar adalah keteguhan tanpa kekerasan.


Ia kuat, tetapi tidak membatu.


Ia tahan, tetapi tidak kehilangan rasa.


Ia menunggu, tetapi tetap berikhtiar.


---


فصل ثمرة الرحمة


BUAH KASIH SAYANG


Dalam setiap rakaat, seorang hamba menyebut Alloh sebagai Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm.


Ia mengulang nama kasih sayang itu berkali-kali.


Maka pertanyaan berikutnya adalah:


«Apakah kasih sayang tersebut mulai terlihat dalam dirinya?»


Kasih sayang bukan hanya perasaan lembut.


Kasih sayang adalah tindakan menjaga.


Orang tua menyayangi anak dengan mendidik, bukan hanya memanjakan.


Pemimpin menyayangi rakyat dengan menegakkan keadilan, bukan hanya memberi kata-kata.


Guru menyayangi murid dengan membimbing, bukan mempermalukan.


Seorang sahabat menyayangi sahabatnya dengan mengingatkan, bukan membiarkan kehancuran.


Kasih sayang dapat lembut.


Kasih sayang juga dapat tegas.


Namun ketegasan yang lahir dari kasih sayang tidak bertujuan menghina.


Ia bertujuan memperbaiki.


Buah kasih sayang tampak ketika seseorang tidak menikmati penderitaan orang lain.


Ia tidak merasa puas melihat orang yang dibencinya jatuh.


Ia tidak merayakan aib.


Ia tidak memanfaatkan kelemahan.


Ia tidak menjadikan nasihat sebagai pisau.


Inilah harum solat yang telah berubah menjadi buah.


---


فصل ثمرة العدل


BUAH KEADILAN


Keadilan berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada yang berhak.


Solat melatih keadilan melalui keteraturan.


Ada waktunya.


Ada arahnya.


Ada rukunnya.


Ada batasnya.


Tidak semua gerakan dapat dipindahkan sesuka hati.


Tidak semua bacaan dapat ditinggalkan semaunya.


Keteraturan ini mengajarkan bahwa hidup pun memiliki hak dan batas.


Adil tidak berarti menyamakan semua perkara.


Adil berarti memperlakukan sesuatu sesuai hak dan keadaannya.


Keadilan diuji ketika berhadapan dengan orang yang tidak disukai.


Mudah berlaku adil kepada sahabat.


Sulit berlaku adil kepada lawan.


Mudah mengakui kesalahan orang lain.


Sulit mengakui kebenaran orang yang berbeda.


Mudah membela keluarga.


Sulit menegur keluarga ketika melakukan kesalahan.


Buah solat tampak ketika seseorang tidak membiarkan kebencian menghapus keadilan.


Ia tidak memutar fakta demi kelompoknya.


Ia tidak membela kesalahan hanya karena pelakunya orang dekat.


Ia tidak menghukum orang lain lebih keras daripada dirinya.


Keadilan adalah buah yang berat, tetapi sangat mulia.


---


فصل ثمرة التواضع


BUAH KERENDAHAN HATI


Tawaduk bukan merasa diri tidak memiliki nilai.


Tawaduk adalah mengetahui nilai diri tanpa merendahkan orang lain.


Seseorang boleh memiliki ilmu.


Ia boleh memiliki kemampuan.


Ia boleh memiliki kedudukan.


Ia boleh memiliki pengalaman ruhani.


Namun semua itu adalah karunia Alloh.


Karena itu, tidak layak dijadikan alasan untuk menghina.


Orang yang tawaduk tidak harus menutupi seluruh kemampuannya.


Ia dapat berbicara ketika diperlukan.


Ia dapat memimpin ketika dipercaya.


Ia dapat mengajarkan ilmu yang dimilikinya.


Namun ia tidak merasa dirinya sumber segala cahaya.


Ia tahu bahwa dirinya tetap dapat salah.


Ia bersedia dikoreksi.


Ia tidak marah hanya karena pendapatnya tidak diikuti.


Ia tidak menjadikan gelar sebagai dinding.


Buah sujud adalah tawaduk.


Apabila sujud bertambah tetapi keinginan untuk diagungkan semakin besar, berarti buahnya belum matang.


---


فصل ثمرة الشجاعة


BUAH KEBERANIAN


Sebagian orang mengira bahwa ibadah hanya melahirkan kelembutan.


Padahal solat juga melahirkan keberanian.


Orang yang hanya takut kepada Alloh akan lebih berani menghadapi kebatilan.


Ia tidak mudah dibeli.


Ia tidak mudah diancam.


Ia tidak mudah ikut arus hanya karena takut dijauhi.


Keberanian bukan nekat.


Keberanian bukan marah tanpa kendali.


Keberanian adalah berdiri pada kebenaran dengan ilmu, adab, dan kesiapan menanggung akibat.


Ada keberanian untuk berkata jujur.


Ada keberanian untuk meminta maaf.


Ada keberanian untuk meninggalkan lingkungan yang merusak.


Ada keberanian untuk mengakui bahwa dirinya belum tahu.


Ada keberanian untuk menghentikan keuntungan yang haram.


Ada keberanian untuk membela orang yang dizalimi.


Takbir melahirkan keberanian karena hati menyadari bahwa Alloh Mahabesar.


Ketika Alloh dibesarkan dalam hati, ancaman dunia tidak lagi menjadi penguasa mutlak.


---


درجات الصلاة


TINGKATAN PENGHAYATAN SOLAT


Qitab ini membagi penghayatan solat dalam beberapa tingkat sebagai cermin muhasabah, bukan sebagai alat untuk menetapkan derajat manusia.


Tingkat Pertama: Solat Tubuh


Pada tingkat ini, tubuh belajar memenuhi gerakan dan bacaan sesuai syariat.


Ini adalah dasar yang tidak boleh direndahkan.


Tanpa bentuk yang benar, perjalanan kehilangan pijakan.


Tingkat Kedua: Solat Pikiran


Pikiran mulai memahami arti bacaan dan tujuan gerakan.


Ia tidak hanya mengucapkan, tetapi mencoba mengerti.


Tingkat Ketiga: Solat Qalbu


Hati mulai hadir.


Ia merasakan kebutuhan kepada Alloh.


Ia mulai malu, berharap, takut, mencintai, dan berserah.


Tingkat Keempat: Solat Akhlak


Makna solat keluar dari sajadah dan memasuki perilaku.


Kejujuran, amanah, kasih sayang, dan keadilan mulai tumbuh.


Tingkat Kelima: Solat Kehidupan


Seluruh aktivitas diarahkan menjadi penghambaan.


Bekerja menjadi amanah.


Belajar menjadi ibadah.


Menafkahi keluarga menjadi ketaatan.


Menolong menjadi sedekah.


Diam menjadi penjagaan.


Berbicara menjadi manfaat.


Pada tingkatan ini, bukan berarti seseorang terus-menerus melakukan gerakan solat.


Maksudnya, kesadaran sebagai hamba mulai menyertai kehidupannya.


---


خطر ادعاء المقام


BAHAYA MENGAKU TELAH SAMPAI


Semakin dalam seseorang mempelajari makna solat, semakin besar godaan untuk merasa telah sampai.


Ia mulai merasakan ketenangan.


Ia memperoleh pengalaman batin.


Ia melihat perubahan dalam dirinya.


Lalu ia dapat tergelincir kepada pengakuan.


Ia merasa lebih dekat kepada Alloh dibandingkan orang lain.


Ia menganggap dirinya telah memahami hakikat.


Ia memandang rendah orang yang masih belajar bentuk lahir.


Inilah salah satu kekeringan yang paling tersembunyi.


Daun kering mudah dikenali.


Namun bunga yang diserang penyakit dari dalam sering tetap terlihat indah.


Kesombongan ruhani adalah penyakit yang tersembunyi di balik bahasa kesucian.


Tandanya:


Seseorang merasa nasihat tidak lagi diperlukan.


Ia menganggap kritik sebagai penghinaan.


Ia mengukur orang lain berdasarkan pengalaman pribadinya.


Ia merasa setiap bisikan hatinya pasti petunjuk.


Ia menjadikan perasaan sebagai pengganti ilmu.


Ia mulai meremehkan syariat karena merasa telah mengenal hakikat.


Qitab Arzzi Fil Azrri menegaskan:


«Tidak ada hakikat yang membatalkan syariat.

Tidak ada cahaya yang membenarkan kesombongan.

Tidak ada kedekatan kepada Alloh yang melahirkan penghinaan kepada hamba-Nya.»


Semakin tinggi pohon, semakin dalam akarnya.


Semakin berbuah, semakin menunduk dahannya.


Demikian pula seorang hamba.


Semakin bertambah ilmunya, semakin bertambah kehati-hatiannya.


Semakin dalam ibadahnya, semakin sedikit pengakuannya.


---


الورقة اليابسة المتخفية


DAUN KERING YANG MENYAMAR


Ada daun kering yang terlihat jelas.


Ada pula kekeringan yang menyamar sebagai kesalehan.


Kekeringan itu muncul ketika seseorang:


Rajin berdebat, tetapi malas memperbaiki diri.


Cepat menilai ibadah orang lain, tetapi tidak memeriksa amanahnya sendiri.


Membicarakan cinta kepada Alloh, tetapi kasar kepada keluarga.


Menuntut penghormatan karena ilmu, tetapi tidak menghormati orang lain.


Mengejar pengalaman gaib, tetapi mengabaikan kewajiban.


Membanggakan dzikir, tetapi tidak membayar utang.


Mengaku membawa kedamaian, tetapi kehadirannya menimbulkan ketakutan.


Menyebut dirinya pembawa cahaya, tetapi gemar mempermalukan manusia.


Semua ini harus diperiksa dengan jujur.


Kekeringan tidak sembuh dengan hiasan baru.


Ia sembuh dengan air taubat.


---


ميزان الثمرة


TIMBANGAN BUAH SOLAT


Untuk memeriksa buah solat, gunakanlah timbangan berikut.


Bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi untuk memeriksa diri sendiri.


Timbangan Pertama: Saat Sendiri


Apakah kita tetap menjaga batas ketika tidak ada manusia yang melihat?


Timbangan Kedua: Saat Marah


Apakah solat membantu kita menahan ucapan dan tindakan zalim?


Timbangan Ketiga: Saat Memegang Kekuasaan


Apakah kita menggunakan kekuatan untuk melindungi atau menindas?


Timbangan Keempat: Saat Memiliki Kesempatan Berbuat Curang


Apakah kita tetap jujur ketika kecurangan mudah dilakukan?


Timbangan Kelima: Saat Dihina


Apakah kita membalas secara berlebihan atau tetap menjaga batas?


Timbangan Keenam: Saat Dipuji


Apakah kita bersyukur atau mulai merasa lebih suci?


Timbangan Ketujuh: Saat Berbeda Pendapat


Apakah kita mampu menjaga adab tanpa mengorbankan kebenaran?


Timbangan Kedelapan: Saat Bersalah


Apakah kita mencari alasan atau berani mengakui dan memperbaiki?


Dari sinilah buah solat dapat mulai dikenali.


---


صلاة الفقير والغني


SOLAT ORANG MISKIN DAN ORANG KAYA


Kemiskinan tidak otomatis menjadikan seseorang lebih suci.


Kekayaan juga tidak otomatis menjadikan seseorang lebih jauh dari Alloh.


Keduanya adalah ujian.


Orang miskin diuji dengan kesabaran, kejujuran, dan penjagaan dari keputusasaan.


Orang kaya diuji dengan syukur, amanah, sedekah, dan penjagaan dari kesombongan.


Di dalam solat, keduanya berdiri dalam barisan.


Tidak ada tempat khusus bagi harta di hadapan Alloh.


Orang kaya tidak membawa rumahnya ke dalam sujud.


Orang miskin tidak membawa kekurangannya sebagai kehinaan.


Keduanya datang sebagai hamba.


Buah solat orang kaya adalah kemurahan dan keadilan.


Buah solat orang miskin adalah keteguhan dan kemuliaan jiwa.


Namun keduanya harus saling menjaga.


Yang kaya jangan menghina.


Yang miskin jangan dengki.


Yang kuat menolong.


Yang lemah tidak menyerah.


---


صلاة العالم والجاهل


SOLAT ORANG BERILMU DAN ORANG YANG MASIH BELAJAR


Ilmu adalah cahaya.


Namun ilmu dapat berubah menjadi tabir apabila melahirkan kesombongan.


Orang berilmu diuji melalui sikapnya kepada orang yang belum tahu.


Apakah ia membimbing atau mempermalukan?


Apakah ia menjelaskan atau memamerkan?


Apakah ia sabar atau mudah merendahkan?


Orang yang masih belajar pun memiliki amanah.


Ia tidak boleh menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk menolak ilmu.


Ia harus bertanya.


Ia harus belajar.


Ia harus memeriksa sumber.


Ia tidak boleh mengikuti setiap ucapan hanya karena terdengar indah.


Dalam solat, orang berilmu dan orang yang masih belajar sama-sama mengucapkan:


Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm.


“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”


Ini menunjukkan bahwa semua manusia tetap membutuhkan petunjuk.


Orang berilmu masih membutuhkan petunjuk agar ilmunya benar.


Orang awam membutuhkan petunjuk agar langkahnya tidak tersesat.


Tidak ada seorang pun yang boleh merasa tidak lagi membutuhkan bimbingan Alloh.


---


صلاة الحاكم والمحكوم


SOLAT PEMIMPIN DAN YANG DIPIMPIN


Pemimpin memiliki ujian besar.


Ketika berdiri dalam solat, ia berdiri sebagai hamba.


Jabatan tidak ikut bersujud.


Kekuasaan tidak dapat menjawab pertanyaan Alloh.


Rakyat yang dipimpinnya adalah amanah.


Buah solat seorang pemimpin adalah keadilan.


Ia mendengar keluhan.


Ia tidak mengutamakan keluarganya secara zalim.


Ia tidak menggunakan agama untuk membungkam kritik.


Ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai milik pribadi.


Adapun yang dipimpin juga memiliki tanggung jawab.


Ia harus taat dalam kebaikan.


Ia memberi nasihat dengan adab.


Ia tidak menyebarkan fitnah.


Ia tidak membenarkan kezaliman karena takut.


Ia tidak merusak ketertiban tanpa alasan yang benar.


Solat menyatukan pemimpin dan rakyat dalam penghambaan.


Keduanya sama-sama akan kembali kepada Alloh.


---


من الزهرة إلى البذرة


DARI BUNGA MENUJU BENIH


Buah tidak hanya untuk dimakan.


Di dalam buah terdapat benih.


Benih menyimpan kehidupan baru.


Demikian pula buah solat tidak hanya memberi manfaat kepada diri sendiri.


Ia harus menumbuhkan kebaikan pada generasi berikutnya.


Orang tua yang solat tidak cukup hanya memerintahkan anak solat.


Ia harus memperlihatkan akhlak solat.


Anak akan sulit memahami kelembutan Alloh apabila rumahnya dipenuhi kekerasan atas nama agama.


Anak akan sulit mencintai ibadah apabila ibadah hanya dikenalkan melalui ancaman.


Ajarkan dengan teladan.


Ajak dengan kasih sayang.


Tegur dengan batas yang benar.


Jelaskan bahwa solat bukan beban, melainkan tempat kembali.


Bunga solat orang tua menjadi benih dalam hati anak.


Apabila benih itu ditanam dengan cinta dan teladan, ia akan tumbuh kuat.


---


إذا ذبلت الزهرة


KETIKA BUNGA MULAI LAYU


Tidak setiap hari hati terasa ringan.


Ada masa ketika solat terasa nikmat.


Ada masa ketika solat terasa berat.


Ada masa ketika bacaan menggetarkan.


Ada masa ketika pikiran terus berkelana.


Jangan mengukur seluruh iman hanya dari rasa.


Bunga dapat layu karena cuaca, tetapi akarnya masih hidup.


Apabila solat terasa kering:


Jangan tinggalkan solat.


Periksa kelelahan tubuh.


Periksa dosa yang belum ditaubati.


Periksa hak manusia yang belum diselesaikan.


Periksa apakah hidup terlalu dipenuhi kebisingan.


Periksa apakah bacaan dipahami.


Periksa apakah gerakan terlalu terburu-buru.


Kurangi tuntutan untuk memperoleh pengalaman luar biasa.


Datanglah sebagai hamba yang membutuhkan Alloh.


Kadang-kadang ketekunan dalam kekeringan lebih tulus daripada semangat ketika hati sedang dipenuhi rasa.


---


دعاء الثمرة


DOA BUAH SOLAT


Ya Alloh,


Jangan jadikan solat kami hanya indah dalam pandangan manusia.


Jadikanlah ia benar dalam syariat, hidup dalam qalbu, dan nyata dalam akhlak.


Ya Alloh,


Apabila solat kami masih menjadi daun kering, siramilah dengan rahmat-Mu.


Apabila telah menjadi bunga, lindungilah dari kesombongan.


Apabila telah menghasilkan buah, jadikan buah itu bermanfaat bagi sesama.


Ya Alloh,


Jadikan takbir kami membebaskan hati dari perbudakan dunia.


Jadikan rukuk kami merendahkan kesombongan.


Jadikan sujud kami melahirkan tawaduk.


Jadikan salam kami membawa keselamatan.


Ya Alloh,


Jadikan solat kami mencegah kezaliman.


Jadikan lisan kami jujur.


Jadikan tangan kami amanah.


Jadikan rezeki kami halal.


Jadikan rumah kami dipenuhi kasih sayang.


Jadikan ilmu kami bermanfaat.


Jadikan kekuatan kami sebagai perlindungan bagi yang lemah.


Ya Alloh,


Jangan biarkan kami tertipu oleh penampilan kesalehan.


Tunjukkan kekurangan kami sebelum kami sibuk mencari kekurangan orang lain.


Ampuni kami, bimbing kami, dan wafatkan kami dalam keadaan berserah kepada-Mu.


Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.


---


نداء الورقة الرابعة


SERUAN LEMBAR KEEMPAT


Wahai orang yang mencintai bunga suci:


Jangan hanya mengagumi cahayanya.


Tunggulah buahnya.


Jangan hanya mencari ketenangan dalam solat.


Carilah kekuatan untuk berlaku benar.


Jangan hanya mencari tangisan.


Carilah keberanian untuk meminta maaf.


Jangan hanya mencari pengalaman batin.


Carilah kejujuran dalam pekerjaan.


Jangan hanya ingin disebut dekat dengan Alloh.


Jadilah manusia yang membuat makhluk Alloh merasa aman.


Jangan hanya menghiasi sajadah.


Hiasilah rumah dengan kasih sayang.


Hiasilah pasar dengan kejujuran.


Hiasilah jabatan dengan keadilan.


Hiasilah ilmu dengan kerendahan hati.


Hiasilah perbedaan dengan adab.


Bunga suci bukan lambang bahwa seseorang telah sempurna.


Ia adalah tanda bahwa kehidupan batin sedang tumbuh.


Buahnya pun bukan alasan untuk berbangga.


Buah adalah amanah untuk dibagikan.


---


ختم الورقة الرابعة


PENUTUP LEMBAR KEEMPAT


Maka teranglah rahasia lembar keempat:


«Solat yang hidup tidak berhenti menjadi bunga.

Ia harus berubah menjadi buah penghambaan.»


Tauhid adalah akarnya.


Syariat adalah batangnya.


Adab adalah daunnya.


Khusyuk adalah bunganya.


Akhlak adalah buahnya.


Manfaat bagi sesama adalah benihnya.


Apabila bunga tidak berbuah, jangan ditebang.


Rawatlah.


Apabila buah belum manis, jangan berputus asa.


Matangkanlah dengan taubat, ilmu, kesabaran, dan keikhlasan.


Apabila buah telah tumbuh, jangan memakannya sendirian.


Bagikan kepada keluarga, tetangga, masyarakat, dan seluruh kehidupan melalui akhlak yang baik.


Sabda Penutup Lembar Keempat


«“Bunga solat adalah keindahan ketika menghadap Alloh.

Buah solat adalah kebaikan ketika menghadapi manusia.

Barang siapa mengaku memiliki bunga tetapi tidak memberi buah,

hendaklah ia kembali menyiram akarnya dengan tauhid, taubat, ilmu, dan adab.”»


Wallohu a‘lam biṣ-ṣawāb.


QITAB ARZZI FIL AZRRI — Lembar Keempat Selesai.


❀ QITAB ARZZI FIL AZRRI ❀


قِتَابُ أَرْزِّي فِي الْأَزْرِّي


Lembar Kelima


Kiblat Lahir, Kiblat Batin, dan Arah Kehidupan


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji bagi Alloh yang menetapkan kiblat bagi tubuh agar umat tidak kehilangan arah dalam ibadah, serta menurunkan petunjuk agar hati tidak tersesat dalam perjalanan kehidupan.


Pada lembar terdahulu telah diterangkan bahwa bunga solat harus menghasilkan buah penghambaan. Kini dibuka satu rahasia yang menjaga bunga itu agar tidak tumbuh tanpa arah:


«Tubuh membutuhkan kiblat lahir,

sedangkan hati membutuhkan kiblat batin.»


Kiblat lahir menyatukan arah berdirinya jasad.


Kiblat batin menyatukan niat, tujuan, kehendak, dan perjalanan hidup agar menghadap kepada ridho Alloh.


Kiblat lahir tidak boleh digantikan oleh perasaan.


Kiblat batin tidak boleh dilupakan hanya karena tubuh telah berada pada arah yang benar.


Seseorang dapat menghadap kiblat dengan tubuh, tetapi membelakangi kebenaran dalam kehidupannya.


Ia dapat berdiri lurus menuju Ka’bah, tetapi tujuan hidupnya menghadap pujian manusia.


Ia dapat merapatkan barisan, tetapi memutus persaudaraan.


Ia dapat menjaga arah tempat sujud, tetapi kehilangan arah ketika mencari harta, kekuasaan, cinta, dan pengakuan.


Maka Qitab Arzzi Fil Azrri membuka cermin:


«Apakah tubuhmu saja yang memiliki kiblat,

ataukah seluruh kehidupanmu juga telah memiliki arah?»


---


الباب الخامس


BĀB KELIMA


Rahasia Arah


Manusia membutuhkan arah.


Tanpa arah, langkah menjadi perjalanan yang melelahkan tanpa tujuan.


Orang dapat berjalan jauh, tetapi apabila arahnya salah, jarak hanya membuatnya semakin jauh dari tempat yang dituju.


Demikian pula ibadah.


Banyaknya gerakan tidak selalu menunjukkan dekatnya perjalanan.


Panjangnya bacaan tidak selalu menjadi tanda bahwa hati telah sampai.


Lamanya sujud tidak selalu berarti kehidupan telah menghadap kepada Alloh.


Semua harus diperiksa melalui arah.


Arah niat.


Arah ilmu.


Arah pekerjaan.


Arah hubungan.


Arah kekuasaan.


Arah penggunaan harta.


Arah ucapan.


Arah seluruh kehidupan.


Seseorang yang tidak mengetahui arah mudah mengikuti apa pun yang sedang ramai.


Ketika manusia memuji, ia bergerak.


Ketika manusia menghina, ia berhenti.


Ketika dunia menawarkan keuntungan, ia melupakan batas.


Ketika menghadapi kesulitan, ia kehilangan keyakinan.


Namun orang yang memiliki kiblat batin akan terus bertanya:


«“Ke manakah langkah ini membawaku?”»


«“Apakah keputusan ini mendekatkan diriku kepada ridho Alloh?”»


«“Apakah keuntungan ini diperoleh melalui jalan yang benar?”»


«“Apakah ucapan ini lahir dari kebenaran atau hanya dari luka?”»


«“Apakah ibadah ini dilakukan karena Alloh atau demi pengakuan?”»


Inilah pertanyaan penjaga arah.


---


فصل القبلة الظاهرة


KIBLAT LAHIR


Kiblat lahir adalah arah yang telah ditetapkan dalam syariat untuk solat.


Ia bukan sekadar lambang.


Ia merupakan bagian dari keteraturan penghambaan.


Seluruh umat berdiri menghadap satu arah, meskipun mereka berasal dari berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, kedudukan, dan keadaan hidup.


Kiblat mengajarkan bahwa manusia tidak boleh membuat arah ibadah menurut keinginannya sendiri.


Penghambaan memiliki tuntunan.


Cinta membutuhkan ketaatan.


Perasaan membutuhkan ilmu.


Keinginan mendekat kepada Alloh harus berjalan melalui jalan yang benar.


Karena itu, tidak cukup seseorang berkata:


«“Hatiku sudah menghadap Alloh, maka arah tubuh tidak penting.”»


Ucapan seperti itu memisahkan batin dari syariat.


Padahal manusia diciptakan dengan jasad dan ruh.


Keduanya harus tunduk.


Tubuh tunduk melalui gerakan dan arah yang telah ditentukan.


Hati tunduk melalui niat, keikhlasan, kekhusyukan, dan akhlak.


Kiblat lahir menjaga agar ibadah tidak menjadi ciptaan perasaan manusia.


---


فصل القبلة الباطنة


KIBLAT BATIN


Kiblat batin bukan arah geografis.


Ia adalah arah tujuan hati.


Kiblat batin berarti menjadikan ridho Alloh sebagai tujuan tertinggi dalam seluruh perjalanan.


Harta tetap dicari, tetapi bukan sebagai tuhan.


Kedudukan boleh diterima, tetapi bukan sebagai sumber kemuliaan mutlak.


Cinta kepada manusia tetap dijaga, tetapi tidak melampaui ketaatan kepada Alloh.


Ilmu dipelajari, tetapi tidak untuk membangun singgasana kesombongan.


Ibadah dilakukan, tetapi tidak untuk membeli pujian.


Kiblat batin tidak berarti manusia meninggalkan dunia.


Ia berarti manusia menempatkan dunia sebagai jalan, bukan tujuan terakhir.


Ia bekerja karena amanah.


Ia menafkahi keluarga karena ketaatan.


Ia belajar karena tanggung jawab.


Ia memimpin karena pelayanan.


Ia berbicara karena manfaat.


Ia diam karena penjagaan.


Semua diarahkan menuju satu tujuan:


«Mencari ridho Alloh melalui jalan yang benar dan bermanfaat.»


---


وجه الجسد ووجه القلب


WAJAH JASAD DAN WAJAH QALBU


Manusia memiliki wajah jasad yang dapat dilihat.


Namun ia juga memiliki wajah qalbu yang tidak terlihat.


Wajah jasad menghadap kiblat ketika solat.


Wajah qalbu menghadap sesuatu yang paling dibesarkan, paling ditakuti, paling dicintai, dan paling dikejar.


Maka seseorang perlu bertanya:


Ke manakah wajah qalbuku menghadap?


Apakah ia menghadap Alloh?


Ataukah ia menghadap penilaian manusia?


Apakah ia mencari kebenaran?


Ataukah hanya mencari kemenangan?


Apakah ia mengharapkan ridho Alloh?


Ataukah hanya mengejar kedudukan?


Apakah ia beribadah karena cinta dan taat?


Ataukah karena ingin dikenal sebagai orang suci?


Tubuh dapat diarahkan dalam satu saat.


Namun wajah qalbu membutuhkan latihan panjang.


Ia mudah berpaling.


Hari ini menghadap kepada Alloh.


Besok menghadap pujian.


Sesaat tunduk dalam sujud.


Setelahnya mengejar kemegahan.


Karena itu, solat diulang.


Bukan karena Alloh membutuhkan pengulangan manusia.


Tetapi karena hati manusia membutuhkan berkali-kali panggilan untuk kembali.


---


انحراف القبلة الباطنة


KETIKA KIBLAT BATIN MENYIMPANG


Penyimpangan kiblat batin sering tidak terlihat.


Tubuh masih solat.


Bacaan masih dilafalkan.


Pakaian ibadah masih dikenakan.


Namun tujuan hati telah bergeser.


Ada beberapa bentuk penyimpangan.


Pertama: Menghadap Pujian


Seseorang berbuat baik, tetapi kegembiraan terbesarnya bukan karena Alloh menerima amal, melainkan karena manusia mengetahuinya.


Ketika tidak dipuji, semangatnya hilang.


Ketika tidak disebut, ia kecewa.


Ketika orang lain memperoleh penghargaan, ia merasa tersisih.


Ini pertanda kiblat hati mulai menghadap pujian.


Kedua: Menghadap Kekuasaan


Ibadah digunakan untuk membangun pengaruh.


Nasihat digunakan untuk mengendalikan.


Gelar ruhani digunakan agar orang tunduk.


Kebenaran dipilih sesuai keuntungan.


Ini pertanda kiblat hati mulai menghadap kuasa.


Ketiga: Menghadap Harta


Manusia menghalalkan segala cara agar memperoleh kekayaan.


Doa diperlakukan seperti alat dagang.


Agama dijual demi keuntungan.


Orang lemah dimanfaatkan.


Ini pertanda kiblat hati mulai menghadap harta.


Keempat: Menghadap Diri Sendiri


Seseorang menganggap dirinya pusat kebenaran.


Semua harus mengikuti pemahamannya.


Ia sulit dikoreksi.


Ia menilai orang lain hanya dari ukuran dirinya.


Ini pertanda kiblat hati menghadap ego.


Kelima: Menghadap Pengalaman Batin


Seseorang mengejar cahaya, mimpi, getaran, penglihatan, dan rasa tertentu.


Ia menjadi lebih tertarik kepada pengalaman daripada ketaatan.


Apabila pengalaman tidak datang, ia malas beribadah.


Apabila pengalaman datang, ia merasa telah mencapai derajat khusus.


Ini pertanda kiblat batin berpaling dari Alloh menuju rasa.


---


تصحيح القبلة الباطنة


MELURUSKAN KIBLAT BATIN


Kiblat lahir dapat diperiksa melalui arah.


Kiblat batin diperiksa melalui muhasabah.


Untuk meluruskannya, seorang hamba perlu menempuh beberapa jalan.


Jalan Pertama: Memperbarui Niat


Sebelum beramal, tanyakan:


«“Untuk siapa aku melakukan ini?”»


Ketika amal sedang dilakukan, tanyakan kembali:


«“Apakah niatku masih sama?”»


Setelah selesai, jangan buru-buru menuntut penghargaan.


Serahkan hasilnya kepada Alloh.


Jalan Kedua: Menerima Koreksi


Orang yang kiblat batinnya lurus tidak merasa setiap koreksi adalah serangan.


Ia memeriksa nasihat.


Apabila benar, ia menerima.


Apabila salah, ia menjawab dengan adab.


Koreksi dapat menjadi kompas yang mengembalikan arah.


Jalan Ketiga: Menjaga Amal Tersembunyi


Miliki amal yang tidak perlu diketahui manusia.


Doa.


Sedekah.


Dzikir.


Pertolongan.


Tangisan taubat.


Amal tersembunyi menjaga hati agar tidak sepenuhnya bergantung pada pandangan manusia.


Jalan Keempat: Menyelesaikan Hak Manusia


Tidak cukup menangis dalam sujud apabila masih menyimpan hak orang lain.


Kembalikan titipan.


Bayar utang.


Minta maaf.


Perbaiki fitnah.


Tunaikan janji.


Hak manusia adalah penunjuk arah yang tidak boleh diabaikan.


Jalan Kelima: Mengingat Kematian


Kematian meruntuhkan seluruh kiblat palsu.


Pujian tidak ikut ke kubur.


Jabatan tidak memberi perlindungan.


Harta tidak menjadi teman kecuali yang digunakan dalam kebaikan.


Yang dibawa adalah amal dan rahmat Alloh.


Mengingat kematian bukan untuk membuat manusia putus asa.


Ia untuk meluruskan arah sebelum perjalanan berakhir.


---


سرّ الصف


RAHASIA BARISAN SOLAT


Dalam solat berjamaah, manusia diperintahkan meluruskan dan merapatkan barisan.


Barisan memiliki rahasia besar.


Ia menunjukkan bahwa setiap orang memiliki tempat.


Tidak boleh seseorang maju tanpa hak.


Tidak boleh pula mundur karena merasa tidak berguna.


Masing-masing berdiri dalam kedudukan yang telah ditetapkan.


Bahu bertemu bahu.


Tidak ditanyakan siapa paling kaya.


Tidak ditanyakan siapa paling terkenal.


Tidak ditanyakan siapa memiliki pengikut paling banyak.


Di hadapan Alloh, semuanya berdiri sebagai hamba.


Namun setelah solat, manusia sering kembali membangun tembok.


Mereka memisahkan diri karena status.


Mereka merendahkan karena keturunan.


Mereka bertengkar karena kelompok.


Mereka menganggap barisannya paling suci.


Maka Qitab ini bertanya:


«Apakah barisanmu hanya lurus ketika solat,

ataukah hubunganmu dengan manusia juga mulai diluruskan?»


Meluruskan barisan kehidupan berarti menempatkan hak secara adil.


Yang tua dihormati.


Yang muda disayangi.


Yang berilmu didengar.


Yang belum tahu dibimbing.


Yang lemah dilindungi.


Yang salah dinasihati.


Yang benar diakui, meskipun datang dari pihak yang berbeda.


---


الإمام والمأموم


IMAM DAN MAKMUM


Imam berdiri di depan.


Makmum mengikutinya.


Namun imam bukan raja yang bebas berbuat sesuka hati.


Ia memiliki tanggung jawab.


Bacaannya harus dijaga.


Gerakannya harus tertib.


Ia harus memperhatikan keadaan jamaah.


Ia tidak boleh menjadikan posisi depan sebagai alasan untuk sombong.


Demikian pula dalam kehidupan.


Orang yang berada di depan harus lebih besar tanggung jawabnya, bukan lebih besar kesombongannya.


Pemimpin harus menjadi penjaga arah.


Ia tidak membawa orang menuju kepentingan pribadinya.


Ia membawa mereka menuju kebaikan bersama.


Makmum pun tidak sekadar mengikuti tanpa ilmu.


Apabila imam salah dalam gerakan, makmum mengingatkan dengan cara yang telah diajarkan.


Ini menunjukkan bahwa pemimpin dapat salah.


Dan yang dipimpin memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan dengan adab.


Dalam kehidupan, ketaatan bukan kebutaan.


Nasihat bukan pemberontakan.


Kepemimpinan bukan kekuasaan tanpa batas.


Semuanya tunduk kepada kebenaran.


---


من سبق الإمام


MENDAHULUI IMAM


Dalam solat berjamaah, makmum tidak boleh sengaja mendahului imam.


Ada hikmah di dalamnya.


Manusia sering tergesa-gesa.


Ia ingin sampai sebelum waktunya.


Ia ingin memperoleh kedudukan sebelum matang.


Ia ingin berbicara sebelum belajar.


Ia ingin memimpin sebelum mampu menjaga diri.


Ia ingin disebut wali sebelum menjadi hamba yang jujur.


Ia ingin memetik buah sebelum bunga tumbuh.


Mendahului proses dapat merusak perjalanan.


Solat mengajarkan tertib.


Ada waktu berdiri.


Ada waktu rukuk.


Ada waktu sujud.


Tidak boleh dipertukarkan menurut keinginan.


Demikian pula perjalanan ruhani.


Tidak ada jalan pintas menuju kedewasaan batin.


Ia dibangun melalui ketaatan, taubat, ilmu, kesabaran, tanggung jawab, dan waktu.


Barang siapa terlalu cepat mengaku telah sampai, sering kali sebenarnya baru memulai.


---


من تخلّف عن الإمام


TERTINGGAL DARI IMAM


Sebaliknya, makmum juga tidak boleh sengaja tertinggal tanpa alasan.


Ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak boleh selalu ditunda.


Ada orang yang memahami kebaikan, tetapi terus menunggu.


Ia berkata akan bertaubat nanti.


Akan meminta maaf nanti.


Akan mulai solat nanti.


Akan membayar utang nanti.


Akan meninggalkan kebiasaan buruk nanti.


Hari demi hari berlalu.


Ia tertinggal dari panggilan.


Solat mengajarkan untuk bergerak ketika waktu gerakan tiba.


Ketika azan memanggil, datanglah.


Ketika menyadari kesalahan, bertaubatlah.


Ketika memiliki kesempatan berbuat baik, lakukanlah.


Ketika harus meminta maaf, jangan menunggu hati menjadi sempurna.


Terlalu cepat dapat merusak.


Terlalu lambat pun dapat membuat kesempatan hilang.


Arah yang lurus membutuhkan ketepatan waktu.


---


استقبال القبلة عند الخوف


MENGHADAP KIBLAT KETIKA TAKUT


Ketika manusia takut, arah mudah berubah.


Ketakutan dapat membuat orang menghadap kepada siapa pun yang dianggap kuat.


Ia dapat menjual prinsip.


Ia dapat mengkhianati amanah.


Ia dapat menyakiti orang lain demi menyelamatkan diri.


Namun solat mengajarkan bahwa dalam ketakutan pun, seorang hamba tetap memiliki kiblat.


Takut kepada manusia tidak boleh menghapus takut kepada Alloh.


Takut miskin tidak boleh membenarkan penipuan.


Takut kehilangan jabatan tidak boleh membenarkan kezaliman.


Takut ditinggalkan tidak boleh membuat manusia kehilangan harga diri.


Takut gagal tidak boleh membuatnya berhenti berikhtiar.


Kiblat batin menjaga agar ketakutan tidak mengambil alih seluruh hidup.


Seorang hamba boleh takut.


Tetapi ia membawa ketakutannya menghadap Alloh.


Ia berdoa.


Ia berusaha.


Ia mencari pertolongan yang benar.


Ia tidak menyerahkan dirinya kepada kepanikan.


---


استقبال القبلة عند النعمة


MENGHADAP KIBLAT KETIKA MENERIMA NIKMAT


Tidak hanya kesulitan yang dapat mengubah arah.


Nikmat juga dapat membelokkan kiblat batin.


Ketika miskin, manusia berdoa.


Ketika kaya, ia merasa cukup.


Ketika lemah, ia memohon.


Ketika kuat, ia melupakan sumber kekuatan.


Ketika tidak dikenal, ia rendah hati.


Ketika terkenal, ia mulai menuntut penghormatan.


Karena itu, nikmat adalah ujian arah.


Apakah keberhasilan membuat manusia semakin bersyukur atau semakin sombong?


Apakah harta membuatnya semakin dermawan atau semakin keras?


Apakah ilmu membuatnya semakin tawaduk atau semakin suka merendahkan?


Apakah pengikut membuatnya semakin bertanggung jawab atau semakin merasa suci?


Orang yang kiblat batinnya lurus akan membawa nikmat kembali kepada Alloh melalui syukur.


Syukur bukan hanya berkata Alhamdulillah.


Syukur adalah menggunakan nikmat pada jalan yang benar.


---


الكعبة والقلب


KA’BAH DAN QALBU


Ka’bah adalah kiblat solat.


Qalbu bukan Ka’bah.


Manusia tidak boleh menyamakan keduanya.


Namun dalam bahasa perenungan, qalbu dapat disebut tempat arah niat diperiksa.


Ka’bah tetap menjadi arah tubuh dalam solat.


Qalbu menjadi tempat manusia menata tujuan.


Jangan menuhankan qalbu.


Tidak setiap rasa di dalam hati adalah petunjuk.


Hati dapat jernih.


Hati juga dapat tertipu.


Karena itu, qalbu harus dibimbing oleh wahyu, ilmu, akal sehat, adab, dan syariat.


Perasaan yang bertentangan dengan kebenaran tidak boleh diikuti hanya karena terasa kuat.


Bisikan yang melahirkan kesombongan harus dicurigai.


Pengalaman yang mendorong meninggalkan kewajiban harus ditolak.


Cahaya yang benar tidak membakar syariat.


Cahaya yang benar menerangi ketaatan.


---


القبلة في الرزق


KIBLAT DALAM REZEKI


Setiap orang mencari rezeki.


Namun arah pencarian rezeki harus diperiksa.


Apakah rezeki dicari untuk menunaikan amanah, menjaga keluarga, membantu sesama, dan membangun kehidupan yang baik?


Ataukah harta dicari agar manusia dapat meninggikan dirinya di atas orang lain?


Dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama, tetapi kiblat batinnya berbeda.


Yang satu bekerja karena amanah.


Yang lain bekerja karena keserakahan.


Yang satu berusaha agar keluarganya tercukupi.


Yang lain menumpuk tanpa batas sambil mengabaikan hak manusia.


Kiblat rezeki yang lurus memiliki tanda:


Cara memperolehnya halal.


Cara menggunakannya bertanggung jawab.


Cara menyimpannya tidak melahirkan kesombongan.


Cara membagikannya tidak disertai penghinaan.


Harta adalah alat.


Apabila ia menjadi kiblat, manusia akan diperbudak.


Apabila ia diarahkan kepada ridho Alloh, ia dapat menjadi jalan ibadah.


---


القبلة في الحب


KIBLAT DALAM CINTA


Cinta adalah karunia.


Namun cinta pun membutuhkan kiblat.


Cinta yang kehilangan arah dapat berubah menjadi kepemilikan, ketergantungan, kecemburuan berlebihan, pengorbanan tanpa batas yang merusak, atau pembenaran terhadap kesalahan.


Cinta yang memiliki arah akan menjaga.


Ia tidak memaksa.


Ia tidak menzalimi.


Ia tidak mengajak meninggalkan kewajiban.


Ia tidak menempatkan makhluk di atas Alloh.


Mencintai seseorang bukan berarti membenarkan seluruh tindakannya.


Kadang-kadang cinta harus berbentuk nasihat.


Kadang-kadang cinta harus memberi jarak.


Kadang-kadang cinta harus melepaskan demi mencegah kerusakan.


Kiblat cinta adalah ridho Alloh.


Apabila cinta membuat manusia lebih jujur, lebih bertanggung jawab, lebih lembut, dan lebih dekat kepada kebaikan, cinta itu sedang berada pada arah yang baik.


Apabila cinta membuatnya meninggalkan Alloh, mengkhianati amanah, atau merusak dirinya sendiri, arah itu harus diperbaiki.


---


القبلة في العلم


KIBLAT DALAM ILMU


Ilmu dapat menjadi cahaya.


Ilmu juga dapat menjadi jalan menuju kesombongan.


Kiblat ilmu harus jelas.


Apakah manusia belajar agar dapat memberi manfaat?


Ataukah agar dapat memenangkan perdebatan?


Apakah ia mencari kebenaran?


Ataukah hanya mencari alasan untuk membenarkan dirinya?


Apakah ilmu membuatnya semakin takut kepada Alloh?


Ataukah membuatnya merasa tidak membutuhkan siapa pun?


Kiblat ilmu yang lurus melahirkan beberapa tanda:


Semakin tahu, semakin sadar luasnya hal yang belum diketahui.


Semakin tinggi pemahaman, semakin hati-hati dalam berbicara.


Semakin banyak pengalaman, semakin lembut dalam membimbing.


Semakin kuat argumen, semakin terjaga adabnya.


Ilmu yang kehilangan kiblat berubah menjadi senjata ego.


Ia dipakai untuk mempermalukan.


Ia dipakai untuk menguasai.


Ia dipakai untuk menjual kesucian.


Qitab ini mengingatkan:


«Ilmu yang benar menunjukkan jalan menuju Alloh,

bukan membangun patung diri agar disembah oleh manusia.»


---


بوصلة القلب


KOMPAS QALBU


Seorang musafir membutuhkan kompas.


Qalbu pun membutuhkan kompas agar tidak tersesat.


Kompas qalbu terdiri dari lima penjaga:


Pertama: Tauhid


Apakah keputusan ini tetap menempatkan Alloh sebagai tujuan tertinggi?


Kedua: Syariat


Apakah jalan ini dibenarkan oleh ajaran yang benar?


Ketiga: Akhlak


Apakah keputusan ini melahirkan kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan amanah?


Keempat: Akal Sehat


Apakah langkah ini dapat dipertanggungjawabkan dan tidak dibangun di atas khayalan?


Kelima: Dampak


Apakah jalan ini membawa manfaat atau justru kerusakan bagi diri dan orang lain?


Apabila sebuah dorongan mengaku sebagai cahaya tetapi bertentangan dengan tauhid, syariat, akhlak, akal sehat, dan membawa kerusakan, maka dorongan itu bukan arah yang patut diikuti.


---


الريح التي تغيّر الاتجاه


ANGIN YANG MENGUBAH ARAH


Daun kering mudah diterbangkan oleh angin.


Ia tidak memiliki pegangan pada akar.


Demikian pula manusia yang tidak memiliki kiblat batin mudah berubah oleh keadaan.


Ada beberapa angin yang sering mengubah arah.


Angin pujian.


Angin hinaan.


Angin popularitas.


Angin ketakutan.


Angin kemarahan.


Angin cinta buta.


Angin keuntungan.


Angin kelompok.


Angin pengalaman batin.


Ketika pujian datang, ia terbang.


Ketika hinaan datang, ia terlempar.


Ketika ramai, ia bersemangat.


Ketika sepi, ia berhenti.


Inilah keadaan daun kering.


Adapun bunga suci tetap berada pada batangnya.


Ia dapat bergoyang karena angin.


Namun akarnya menjaga agar tidak tercabut.


Orang yang memiliki kiblat batin boleh sedih, marah, senang, takut, dan kecewa.


Namun semua perasaan itu tidak memutuskan akarnya dari Alloh.


---


تثبيت الاتجاه


MENEGUHKAN ARAH


Arah batin perlu diteguhkan setiap hari.


Bukan sekali seumur hidup.


Setiap pagi, niatkan kehidupan sebagai amanah.


Setiap masuk waktu solat, kembalilah kepada kiblat.


Setiap menerima nikmat, bersyukurlah.


Setiap melakukan kesalahan, bertaubatlah.


Setiap hendak mengambil keputusan besar, timbanglah dengan ilmu dan adab.


Setiap menerima pujian, kembalikan kemuliaan kepada Alloh.


Setiap dihina, periksa diri tanpa kehilangan martabat.


Setiap memperoleh kekuasaan, ingatlah pertanggungjawaban.


Setiap mengalami kesulitan, jangan mengubah arah menuju jalan haram.


Meneguhkan arah bukan berarti tidak pernah goyah.


Meneguhkan arah berarti setiap kali goyah, manusia mengetahui ke mana harus kembali.


---


دعاء تصحيح القبلة


DOA MELURUSKAN ARAH


Ya Alloh,


Sebagaimana Engkau mengarahkan tubuh kami kepada kiblat ketika solat, arahkan pula qalbu kami kepada ridho-Mu.


Jangan biarkan wajah kami menghadap rumah-Mu, sementara hati kami menghadap pujian manusia.


Jangan biarkan lisan kami bertakbir, sementara hidup kami membesarkan harta dan kedudukan.


Jangan biarkan dahi kami bersujud, sementara ego kami menuntut manusia bersujud kepada kehendak kami.


Ya Alloh,


Luruskan niat kami ketika beribadah.


Luruskan tujuan kami ketika bekerja.


Luruskan cinta kami ketika mencintai.


Luruskan ilmu kami ketika mengajar.


Luruskan kekuasaan kami ketika memimpin.


Luruskan ucapan kami ketika menasihati.


Luruskan langkah kami ketika berada di persimpangan.


Ya Alloh,


Apabila kami menyimpang karena pujian, kembalikanlah.


Apabila kami tersesat karena harta, sadarkanlah.


Apabila kami tertipu oleh pengalaman batin, bimbinglah.


Apabila kami dikuasai kesombongan, rendahkanlah dengan kasih sayang-Mu.


Apabila kami takut, teguhkanlah.


Apabila kami jatuh, bangkitkanlah.


Apabila kami kehilangan arah, panggillah kami kembali melalui solat.


Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.


---


نداء الورقة الخامسة


SERUAN LEMBAR KELIMA


Wahai orang yang menghadap kiblat:


Jangan hanya periksa arah sajadahmu.


Periksa pula arah hidupmu.


Apakah pekerjaanmu menghadap amanah?


Apakah hartamu menghadap manfaat?


Apakah ilmumu menghadap kerendahan hati?


Apakah cintamu menghadap kesucian?


Apakah kekuasaanmu menghadap keadilan?


Apakah ibadahmu menghadap Alloh atau penilaian manusia?


Jangan merasa aman hanya karena tubuh telah lurus.


Tubuh dapat lurus sementara niat menyimpang.


Jangan pula meremehkan arah lahir dengan alasan hati sudah baik.


Hati yang baik akan mencintai ketaatan.


Luruskan keduanya.


Hadapkan jasad melalui syariat.


Hadapkan qalbu melalui keikhlasan.


Hadapkan akal melalui ilmu.


Hadapkan akhlak melalui kasih sayang dan keadilan.


Hadapkan seluruh kehidupan kepada ridho Alloh.


---


ختم الورقة الخامسة


PENUTUP LEMBAR KELIMA


Maka teranglah rahasia lembar kelima:


«Kiblat lahir menyatukan arah tubuh.

Kiblat batin menyatukan arah kehidupan.»


Tubuh yang menghadap kiblat tetapi hati menghadap pujian belum mencapai kesatuan.


Hati yang mengaku menghadap Alloh tetapi meremehkan syariat telah kehilangan pijakan.


Solat yang hidup menyatukan keduanya.


Jasadnya taat.


Qalbunya ikhlas.


Akalnya dibimbing ilmu.


Akhlaknya membawa keselamatan.


Bunga suci tumbuh karena memiliki akar dan arah.


Daun kering terbang karena terputus dari keduanya.


Maka jadikan tauhid sebagai akar.


Jadikan syariat sebagai batang.


Jadikan ilmu sebagai penjaga arah.


Jadikan solat sebagai panggilan untuk kembali.


Jadikan ridho Alloh sebagai tujuan perjalanan.


Sabda Penutup Lembar Kelima


«“Jangan hanya menghadapkan wajahmu kepada kiblat,

tetapi hadapkan pula niat, rezeki, cinta, ilmu, dan kekuasaanmu kepada ridho Alloh.

Sebab tubuh yang memiliki arah tetapi hati kehilangan tujuan

adalah perjalanan yang tampak lurus, namun belum tentu sampai.”»


Wallohu a‘lam biṣ-ṣawāb.


QITAB ARZZI FIL AZRRI — Lembar Kelima Selesai.


❀ QITAB ARZZI FIL AZRRI ❀


قِتَابُ أَرْزِّي فِي الْأَزْرِّي


Lembar Keenam


Solat yang Naik dan Sembahyang yang Berputar di Tempat


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji bagi Alloh yang menerima amal hamba dengan ilmu, keadilan, dan rahmat-Nya. Tidak ada gerakan, ucapan, air mata, maupun rahasia hati yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.


Pada lembar sebelumnya telah dibuka rahasia kiblat lahir dan kiblat batin. Tubuh membutuhkan arah agar gerakannya tertib, sedangkan hati membutuhkan tujuan agar perjalanan hidupnya tidak tersesat.


Kini dibuka satu perumpamaan berikutnya:


«Ada solat yang naik sebagai ketaatan,

dan ada sembahyang yang terus berputar di tempat sebagai kebiasaan.»


Kata naik dalam lembar ini bukanlah perjalanan jasad menuju langit, bukan pula klaim bahwa manusia dapat memastikan amalnya diterima.


Naiknya solat adalah bahasa perumpamaan bagi ibadah yang semakin mendekatkan seorang hamba kepada ridho Alloh melalui keikhlasan, ketaatan, taubat, dan akhlak.


Adapun berputar di tempat adalah lambang gerakan yang terus diulang, tetapi belum mengubah arah kehidupan.


Tubuh bergerak.


Waktu berlalu.


Rakaat bertambah.


Namun kebencian tetap dipelihara.


Kejujuran tidak tumbuh.


Amanah terus dilanggar.


Kesombongan semakin kuat.


Inilah gerakan yang belum membawa pelakunya melangkah maju.


Namun Qitab ini tidak membukanya untuk menghukum orang lain.


Ia dibuka agar setiap pembaca memeriksa dirinya sendiri.


Sebab tidak seorang pun mengetahui secara pasti nilai ibadah manusia di sisi Alloh.


---


الباب السادس


BĀB KEENAM


Tangga Solat dan Lingkaran Kebiasaan


Perjalanan memiliki dua kemungkinan.


Seseorang dapat menaiki tangga.


Atau ia dapat berjalan melingkar di tempat yang sama.


Orang yang menaiki tangga mungkin berjalan perlahan, tetapi kedudukannya berubah.


Ia bergerak dari bawah menuju tingkat berikutnya.


Adapun orang yang berjalan dalam lingkaran dapat menempuh jarak yang panjang, tetapi selalu kembali ke titik semula.


Demikianlah perumpamaan ibadah.


Solat menjadi tangga ketika setiap pelaksanaannya membawa sedikit perbaikan.


Hari ini seseorang masih mudah marah.


Namun setelah terus belajar, ia mulai mampu menahan satu ucapan kasar.


Hari ini ia masih sulit memaafkan.


Namun perlahan ia mulai mampu mendoakan kebaikan tanpa harus kembali dekat dengan orang yang menyakitinya.


Hari ini pikirannya masih berkelana dalam solat.


Namun ia terus mengembalikannya tanpa putus asa.


Inilah perjalanan naik.


Bukan lompatan menuju kesempurnaan.


Melainkan perbaikan kecil yang dijaga secara terus-menerus.


Adapun sembahyang menjadi lingkaran ketika seseorang hanya mengulang gerakan tanpa memperbaiki apa pun.


Ia membaca permohonan petunjuk, tetapi menolak nasihat.


Ia memohon ampun, tetapi tidak mau mengakui kesalahan.


Ia bersujud, tetapi tetap menuntut agar semua manusia tunduk kepada kehendaknya.


Ia mengucapkan salam, tetapi terus menyebarkan permusuhan.


Ia berjalan jauh dalam jumlah gerakan, tetapi batinnya kembali ke tempat yang sama.


---


درج النية


TANGGA PERTAMA: NIAT


Langkah pertama dari solat yang naik adalah niat.


Niat bukan hanya ucapan yang dilafalkan.


Niat adalah arah batin ketika seseorang berdiri memenuhi panggilan Alloh.


Satu gerakan yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda karena niatnya berbeda.


Ada orang yang solat karena taat.


Ada yang solat karena takut dinilai manusia.


Ada yang solat karena kebiasaan keluarga.


Ada yang solat karena ingin dipandang saleh.


Ada pula yang datang dengan hati lemah, penuh dosa, dan tidak mampu khusyuk, tetapi benar-benar ingin kembali kepada Alloh.


Keadaan terakhir itu mungkin tidak terlihat indah oleh manusia.


Namun ketulusan seorang hamba hanya diketahui oleh Alloh.


Karena itu, jangan menilai solat orang lain dari penampilan.


Periksalah niat diri sendiri.


Sebelum takbir, tanyakan:


«“Ya Alloh, mengapa aku berdiri?”»


Apabila ditemukan niat yang bercampur, jangan membatalkan seluruh ibadah karena merasa belum ikhlas sempurna.


Luruskan kembali.


Ikhlas sering kali bukan keadaan yang sekali jadi.


Ia adalah perjuangan untuk terus mengembalikan tujuan.


Setiap kali hati menghadap pujian, kembalikan kepada Alloh.


Setiap kali ingin diperhatikan, ingatkan bahwa Alloh telah melihat.


Setiap kali ingin diakui, ingatkan bahwa penerimaan Alloh lebih utama daripada penilaian manusia.


Inilah anak tangga pertama.


---


درج العلم


TANGGA KEDUA: ILMU


Niat yang baik membutuhkan ilmu.


Semangat tanpa ilmu dapat membuat manusia tersesat.


Perasaan tanpa tuntunan dapat membuat seseorang menganggap semua dorongan batinnya sebagai petunjuk.


Solat yang naik berdiri di atas pengetahuan yang benar.


Seorang hamba belajar tentang waktu solat.


Ia belajar tentang bersuci.


Ia belajar syarat dan rukunnya.


Ia belajar bacaan.


Ia belajar hal-hal yang membatalkannya.


Ia belajar adab dan tujuan akhlaknya.


Ilmu tidak mengurangi rasa ruhani.


Ilmu menjaga agar rasa berjalan pada jalan yang benar.


Bunga suci membutuhkan akar.


Cahaya membutuhkan wadah.


Air membutuhkan saluran.


Demikian pula penghayatan membutuhkan ilmu.


Barang siapa mengejar rahasia solat tetapi meremehkan cara solat yang benar, ia sedang mencari buah tanpa menanam pohon.


Barang siapa mengaku telah memahami hakikat tetapi tidak mau belajar syariat, ia sedang berjalan tanpa arah.


Tangga ilmu mengajarkan kerendahan hati:


«Semakin banyak yang dipelajari, semakin terlihat luasnya hal yang belum diketahui.»


---


درج الحضور


TANGGA KETIGA: KEHADIRAN


Kehadiran berarti menyadari bahwa diri sedang solat.


Bukan berarti pikiran tidak pernah berpindah.


Pikiran manusia dapat mengingat pekerjaan, keluarga, utang, luka, rencana, dan berbagai perkara.


Kehadiran bukan kesempurnaan tanpa gangguan.


Kehadiran adalah kemampuan kembali setiap kali pikiran pergi.


Jangan membenci diri ketika gagal khusyuk.


Kebencian terhadap diri tidak otomatis mendatangkan kekhusyukan.


Kembalilah dengan lembut.


Ketika pikiran mengembara, sadari.


Ketika bacaan berjalan tanpa dipahami, perlambat.


Ketika tubuh terburu-buru, tenangkan gerakan.


Ketika rasa tidak hadir, tetaplah taat.


Sebab solat bukan hanya milik orang yang sedang tenang.


Solat juga tempat kembali bagi orang yang gelisah.


Solat bukan hanya milik orang yang merasa suci.


Solat adalah kebutuhan orang yang sadar dirinya penuh kekurangan.


Setiap kali kembali, seseorang sedang menaiki satu anak tangga.


Walaupun pikirannya pergi seratus kali, apabila ia mengembalikannya seratus kali, berarti ia telah berjuang seratus kali.


---


درج الصدق


TANGGA KEEMPAT: KEJUJURAN


Solat yang naik membutuhkan kejujuran.


Kejujuran pertama adalah jujur di hadapan Alloh.


Seorang hamba tidak perlu berpura-pura kuat.


Ia boleh mengakui:


«“Ya Alloh, aku sedang lelah.”»


«“Ya Alloh, hatiku sedang marah.”»


«“Ya Alloh, aku sedang takut.”»


«“Ya Alloh, aku sulit memaafkan.”»


«“Ya Alloh, aku masih menginginkan pujian.”»


Pengakuan yang jujur lebih dekat kepada perbaikan daripada penampilan suci yang menutupi penyakit.


Kejujuran kedua adalah jujur kepada diri sendiri.


Jangan menyebut kemarahan sebagai ketegasan apabila sebenarnya lahir dari ego.


Jangan menyebut ketakutan sebagai kehati-hatian apabila sebenarnya hanya enggan mengambil tanggung jawab.


Jangan menyebut kemalasan sebagai tawakal.


Jangan menyebut kesombongan sebagai penjagaan wibawa.


Jangan menyebut keinginan menguasai sebagai bimbingan ruhani.


Kejujuran ketiga adalah jujur kepada manusia.


Tidak menipu.


Tidak memalsukan.


Tidak menyembunyikan hak.


Tidak mengubah cerita untuk menyelamatkan citra diri.


Barang siapa mengucapkan kebenaran dalam solat tetapi membangun kehidupannya di atas kebohongan, ia sedang berputar di tempat.


---


درج التوبة


TANGGA KELIMA: TAUBAT


Setiap manusia dapat salah.


Perbedaan bukan terletak pada siapa yang tidak pernah salah, tetapi pada siapa yang mau kembali setelah menyadari kesalahannya.


Taubat adalah gerakan naik.


Kesalahan dapat menjatuhkan seseorang.


Namun pengakuan, penyesalan, penghentian, dan perbaikan dapat menjadi tangga untuk bangkit.


Taubat tidak cukup hanya berkata:


Astaghfirulloh.


Apabila kesalahan berkaitan dengan hak Alloh, tinggalkan kesalahannya dan perbaiki ketaatan.


Apabila berkaitan dengan hak manusia, selesaikan hak tersebut sesuai kemampuan dan cara yang benar.


Kembalikan yang diambil.


Bayar yang terutang.


Minta maaf atas luka yang ditimbulkan.


Hentikan fitnah.


Perbaiki berita yang diselewengkan.


Taubat yang tidak menyentuh tindakan mudah berubah menjadi lingkaran.


Hari ini menyesal.


Besok mengulang tanpa perjuangan.


Lalu menyesal kembali.


Taubat yang naik selalu melahirkan perubahan, walaupun kecil.


Ia menutup satu pintu keburukan.


Ia membangun satu kebiasaan baru.


Ia menjaga jarak dari penyebab dosa.


Ia meminta pertolongan ketika tidak mampu sendirian.


Inilah anak tangga kembali.


---


درج الصبر


TANGGA KEENAM: KESABARAN


Tidak semua perubahan terjadi dengan cepat.


Ada kebiasaan yang telah tumbuh bertahun-tahun.


Ada luka yang tidak sembuh dalam satu malam.


Ada amarah yang membutuhkan latihan panjang untuk dikendalikan.


Ada kekhusyukan yang tumbuh perlahan.


Karena itu, solat yang naik memerlukan kesabaran.


Sabar bukan menunggu tanpa usaha.


Sabar adalah tetap melakukan usaha yang benar meskipun hasil belum terlihat.


Seorang hamba terus solat meskipun rasa nikmat belum hadir.


Ia terus belajar meskipun masih sering keliru.


Ia terus meminta maaf meskipun gengsi masih melawan.


Ia terus menjaga lisan meskipun beberapa kali terpeleset.


Ia tidak berkata:


«“Karena aku belum sempurna, maka tidak ada gunanya mencoba.”»


Kesempurnaan bukan syarat untuk memulai.


Justru latihanlah yang perlahan membentuk perbaikan.


Setiap anak tangga hanya membutuhkan satu langkah.


Tidak perlu melompat ke puncak.


---


درج الأمانة


TANGGA KETUJUH: AMANAH


Amanah adalah bukti bahwa solat telah keluar dari sajadah.


Apabila seseorang dipercaya memegang uang, rahasia, jabatan, ilmu, keluarga, atau tanggung jawab, di situlah solatnya diuji.


Banyak orang dapat terlihat tunduk ketika berada di tempat ibadah.


Namun tidak semua tetap tunduk ketika memegang kekuasaan.


Amanah menguji apakah takbir masih hidup ketika keuntungan datang.


Amanah menguji apakah rukuk masih hidup ketika seseorang memiliki bawahan.


Amanah menguji apakah sujud masih hidup ketika tidak ada yang mengawasi.


Solat yang naik membuat manusia semakin dapat dipercaya.


Bukan berarti ia tidak pernah salah.


Namun apabila salah, ia mengakui.


Apabila lupa, ia memperbaiki.


Apabila belum mampu, ia tidak berpura-pura.


Apabila diberi titipan, ia menjaga.


Apabila memegang rahasia, ia tidak menyebarkan demi hiburan.


Apabila memperoleh jabatan, ia menyadari bahwa kedudukan bukan mahkota, melainkan beban pertanggungjawaban.


---


درج الرحمة


TANGGA KEDELAPAN: KASIH SAYANG


Seorang hamba menyebut nama kasih sayang Alloh dalam solat.


Namun penyebutan itu harus melatih hati agar tidak gemar menyakiti.


Kasih sayang bukan kelemahan.


Ia dapat berbentuk kelembutan.


Ia dapat pula berbentuk ketegasan yang adil.


Orang tua yang mencegah anaknya dari bahaya sedang menyayangi.


Guru yang mengoreksi kesalahan dengan adab sedang menyayangi.


Pemimpin yang menegakkan aturan dengan keadilan sedang menyayangi masyarakat.


Kasih sayang tidak membiarkan kezaliman.


Namun ia juga tidak menikmati penghukuman.


Ia tidak mempermalukan manusia apabila kesalahan dapat diperbaiki dengan cara yang lebih terhormat.


Ia tidak merayakan jatuhnya orang lain.


Ia tidak menggunakan aib sebagai hiburan.


Kasih sayang adalah tanda bahwa bunga solat mulai mengeluarkan harum.


Semakin naik solat seseorang, seharusnya semakin aman makhluk lain berada di dekatnya.


---


درج التواضع


TANGGA KESEMBILAN: TAWADUK


Tawaduk adalah buah sujud.


Dahi yang berkali-kali menyentuh tanah seharusnya mengingatkan bahwa manusia berasal dari tanah.


Ilmu, harta, pengalaman, pengikut, dan kedudukan tidak mengubah asal penciptaan.


Semua adalah titipan.


Orang yang tawaduk tidak selalu diam.


Ia dapat berbicara dengan tegas.


Ia dapat memimpin.


Ia dapat mengajarkan ilmu.


Ia dapat mempertahankan kebenaran.


Namun ia tidak menjadikan semua itu sebagai alasan meminta manusia mengagungkannya.


Ia mampu berkata:


«“Aku belum tahu.”»


Ia mampu berkata:


«“Aku salah.”»


Ia mampu menerima kebenaran dari orang yang lebih muda.


Ia tidak merasa harga dirinya runtuh karena meminta maaf.


Ia tidak menganggap perbedaan pendapat sebagai serangan terhadap kesuciannya.


Solat yang naik mengecilkan ego.


Sembahyang yang berputar di tempat justru dapat membesarkan ego melalui penampilan ibadah.


---


دائرة العادة


LINGKARAN KEBIASAAN


Kebiasaan tidak selalu buruk.


Kebiasaan dapat membantu manusia menjaga ibadah.


Seseorang yang terbiasa solat tepat waktu lebih mudah mempertahankannya.


Namun kebiasaan menjadi lingkaran apabila kesadaran sepenuhnya hilang.


Gerakan dilakukan hanya karena tubuh telah hafal.


Bacaan mengalir tanpa pernah direnungkan.


Tidak ada usaha memperbaiki kesalahan.


Tidak ada hubungan dengan akhlak.


Kebiasaan seperti roda yang berputar.


Rodanya bergerak, tetapi kendaraannya tidak maju karena terangkat dari tanah.


Ada tenaga.


Ada suara.


Ada putaran.


Namun tidak ada perjalanan.


Untuk keluar dari lingkaran, tidak selalu diperlukan pengalaman besar.


Mulailah dari hal kecil.


Pahami satu bacaan.


Perbaiki satu gerakan.


Jaga satu waktu.


Kurangi satu kebiasaan buruk.


Tunaikan satu amanah.


Minta maaf kepada satu orang.


Langkah kecil yang nyata lebih kuat daripada pengakuan besar tanpa perubahan.


---


الصلاة التي تطلب النظر


SEMBAHYANG YANG MENCARI PANDANGAN


Salah satu lingkaran paling halus adalah ibadah yang mencari pandangan manusia.


Ketika dilihat, gerakan diperindah.


Ketika sendiri, ibadah diringankan.


Ketika dipuji, semangat bertambah.


Ketika tidak diperhatikan, semangat menghilang.


Tidak setiap amal yang terlihat manusia adalah riya.


Solat berjamaah memang dilakukan bersama.


Ilmu sering disampaikan di hadapan orang.


Kebaikan terkadang perlu diumumkan agar menjadi ajakan.


Yang harus diperiksa adalah tujuan hati.


Apakah amal terlihat karena memang dilakukan bersama?


Ataukah sengaja dibentuk agar pelakunya memperoleh kemuliaan?


Apakah kebaikan dibagikan agar orang lain terinspirasi?


Ataukah agar nama diri ditinggikan?


Pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab.


Karena hati dapat menipu pemiliknya sendiri.


Maka obatnya bukan meninggalkan semua amal yang terlihat.


Obatnya adalah terus memperbarui niat dan menjaga amal tersembunyi.


Miliki sujud yang tidak diketahui siapa pun.


Miliki sedekah yang tidak disebut.


Miliki doa bagi orang lain tanpa memberitahunya.


Miliki taubat yang hanya diketahui Alloh.


Amal tersembunyi adalah akar yang menjaga bunga agar tidak hidup hanya dari tepuk tangan.


---


الصلاة التي تطلب الشعور


SEMBAHYANG YANG MENGEJAR RASA


Ada pula lingkaran yang dibangun dari keinginan memperoleh rasa tertentu.


Seseorang ingin menangis.


Ingin merasakan cahaya.


Ingin tubuhnya bergetar.


Ingin melihat tanda.


Ingin memperoleh pengalaman yang luar biasa.


Ketika rasa datang, ia bersemangat.


Ketika rasa tidak datang, ia merasa solatnya gagal.


Qitab ini mengingatkan:


«Rasa adalah tamu, bukan tujuan.»


Air mata dapat menjadi rahmat, tetapi tidak selalu menjadi ukuran penerimaan.


Ketenangan dapat menjadi karunia, tetapi tidak selalu hadir pada setiap solat.


Kadang-kadang seseorang solat dalam keadaan damai.


Kadang-kadang dalam kesedihan.


Kadang-kadang dalam ketakutan.


Kadang-kadang dalam kelelahan.


Nilai ketaatan tidak boleh digantungkan hanya pada rasa.


Bisa jadi solat yang dilakukan dalam kekeringan, tetapi tetap dijaga karena taat, merupakan perjuangan yang sangat berharga.


Jangan menyembah rasa.


Sembahlah Alloh.


Apabila rasa datang, bersyukur.


Apabila tidak datang, tetaplah taat.


---


الصلاة التي تطلب الكرامة


SEMBAHYANG YANG MENGEJAR KEISTIMEWAAN


Ada manusia yang beribadah karena ingin menjadi istimewa.


Ia mengharapkan gelar.


Ia mengharapkan pengakuan sebagai orang pilihan.


Ia ingin memiliki pengalaman yang tidak dimiliki orang lain.


Ia ingin diperlakukan sebagai manusia suci.


Keinginan seperti ini dapat mengubah ibadah menjadi lingkaran ego.


Semakin banyak amal, semakin besar tuntutan agar dihormati.


Semakin sering berbicara tentang Alloh, semakin ingin dirinya menjadi pusat perhatian.


Padahal solat seharusnya mengajarkan kehambaan.


Seorang hamba tidak datang untuk memperoleh mahkota di hadapan manusia.


Ia datang untuk merendahkan diri di hadapan Alloh.


Keistimewaan sejati bukanlah banyaknya manusia yang tunduk.


Keistimewaan adalah ketika ego mulai tunduk.


Bukan banyaknya gelar ruhani.


Melainkan banyaknya amanah yang ditunaikan.


Bukan banyaknya pengalaman gaib.


Melainkan kuatnya kejujuran ketika tidak ada yang melihat.


Barang siapa mengejar kedekatan kepada Alloh untuk menjadi lebih tinggi daripada manusia, ia sedang membawa kesombongan menuju tempat sujud.


---


الصلاة التي تحمل المظالم


SEMBAHYANG YANG MEMBAWA KEZALIMAN


Ada orang yang berdiri dalam solat sambil membawa hak manusia yang belum diselesaikan.


Ia membawa utang yang sengaja diabaikan.


Ia membawa upah pekerja yang ditahan.


Ia membawa fitnah yang belum diluruskan.


Ia membawa penghinaan yang belum dimintakan maaf.


Ia membawa harta yang diperoleh dengan cara tidak benar.


Solat tetap tidak boleh ditinggalkan.


Namun hak-hak tersebut tidak boleh dianggap selesai hanya karena seseorang telah beribadah.


Solat seharusnya memberi keberanian untuk memperbaiki.


Jangan gunakan ibadah sebagai tempat bersembunyi dari tanggung jawab.


Jangan merasa air mata menghapus kewajiban mengembalikan hak.


Jangan merasa dzikir menggantikan permintaan maaf.


Alloh dapat mengampuni kesalahan menurut kehendak dan rahmat-Nya.


Namun manusia tetap diperintahkan bertaubat dan menyelesaikan tanggung jawab.


Tangga solat bukan hanya naik melalui bacaan.


Ia juga naik melalui keberanian menutup pintu kezaliman.


---


علامات الصعود


TANDA-TANDA PERJALANAN YANG NAIK


Tidak ada manusia yang dapat memastikan derajat amalnya di sisi Alloh.


Namun beberapa perubahan dapat menjadi tanda bahwa ibadah sedang memberi pengaruh baik.


Pertama: Lebih Cepat Menyadari Kesalahan


Dahulu membutuhkan waktu lama untuk mengakui kesalahan.


Sekarang hati lebih cepat merasa tidak tenang ketika berbuat zalim.


Kedua: Lebih Mudah Meminta Maaf


Gengsi masih ada, tetapi tidak lagi selalu menang.


Ketiga: Lebih Terjaga Saat Sendiri


Ketaatan tidak sepenuhnya bergantung kepada pengawasan manusia.


Keempat: Lebih Lembut kepada Keluarga


Bunga solat mulai mekar di tempat yang paling dekat.


Kelima: Lebih Jujur dalam Rezeki


Keuntungan tidak lagi menjadi alasan untuk melanggar batas.


Keenam: Lebih Hati-Hati Menghakimi


Semakin sadar bahwa hanya Alloh yang mengetahui kedalaman hati manusia.


Ketujuh: Lebih Tahan Menghadapi Ujian


Bukan karena tidak sedih, tetapi karena mengetahui tempat untuk kembali.


Kedelapan: Lebih Sedikit Membanggakan Amal


Ibadah melahirkan rasa butuh, bukan rasa telah sempurna.


Tanda-tanda ini tidak tumbuh sekaligus.


Satu saja yang mulai berubah harus disyukuri dan dijaga.


---


علامات الدوران في المكان


TANDA-TANDA BERPUTAR DI TEMPAT


Gerakan yang berputar di tempat juga memiliki tanda.


Solat bertambah, tetapi kebohongan tidak berkurang.


Dzikir bertambah, tetapi kemarahan semakin liar.


Penampilan ibadah semakin kuat, tetapi keluarga semakin takut.


Nasihat semakin banyak, tetapi amanah semakin diabaikan.


Bahasa ruhani semakin tinggi, tetapi utang tidak diselesaikan.


Pengikut semakin banyak, tetapi kesediaan menerima koreksi semakin kecil.


Pengalaman batin semakin sering diceritakan, tetapi kerendahan hati semakin hilang.


Ketika tanda-tanda ini terlihat dalam diri, jangan mencari pembenaran.


Berhentilah sejenak.


Periksa arah.


Bukan berarti seluruh ibadah sia-sia.


Bukan berarti harus ditinggalkan.


Justru ibadah harus dibersihkan dari sesuatu yang menahannya.


Roda tidak perlu dihancurkan.


Ia harus diturunkan kembali ke tanah agar dapat membawa perjalanan maju.


---


كيف تتحول الدائرة إلى سلّم


MENGUBAH LINGKARAN MENJADI TANGGA


Lingkaran kebiasaan dapat berubah menjadi tangga kesadaran.


Caranya bukan dengan meninggalkan solat, melainkan menghidupkan kembali maknanya.


Pertama: Berhenti Sejenak Sebelum Takbir


Tenangkan napas.


Sadari bahwa diri akan berdiri sebagai hamba.


Kedua: Pahami Satu Bagian Bacaan


Tidak harus memahami semuanya sekaligus.


Mulailah dari satu kalimat, lalu hayati.


Ketiga: Perlambat Gerakan


Berikan waktu kepada tubuh dan pikiran untuk mengikuti perpindahan gerakan.


Keempat: Bawa Satu Pesan Setelah Salam


Misalnya, setelah membaca tentang kasih sayang, jaga ucapan kepada keluarga.


Kelima: Catat Satu Perbaikan


Bukan untuk pamer, tetapi untuk muhasabah.


Apakah hari ini lebih jujur?


Lebih sabar?


Lebih amanah?


Keenam: Selesaikan Satu Hak


Jangan menunggu semua masalah selesai sekaligus.


Mulailah dari satu utang, satu permintaan maaf, atau satu amanah.


Ketujuh: Jaga Konsistensi


Tangga dibangun dari langkah yang berulang.


Perbedaannya dengan lingkaran adalah setiap pengulangan membawa perubahan.


---


من المسجد إلى السوق


DARI TEMPAT SOLAT MENUJU PASAR


Solat yang naik tidak takut dibawa ke dalam urusan dunia.


Di pasar, ia menjadi kejujuran.


Di tempat kerja, ia menjadi amanah.


Di rumah, ia menjadi kelembutan.


Di jalan, ia menjadi kedisiplinan.


Di majelis, ia menjadi adab.


Di media sosial, ia menjadi tanggung jawab ucapan.


Di dalam kekuasaan, ia menjadi keadilan.


Di tengah perbedaan, ia menjadi kemampuan menjaga kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan.


Sembahyang yang berputar di tempat tertinggal di atas sajadah.


Solat yang naik berjalan bersama pemiliknya.


Ia ikut ketika manusia melakukan transaksi.


Ia hadir ketika seseorang tergoda berbohong.


Ia mengingatkan ketika amarah meningkat.


Ia menahan tangan ketika hendak menzalimi.


Ia melembutkan lisan ketika nasihat harus disampaikan.


Inilah Qitab yang hidup.


Bukan sekadar tulisan yang dibaca.


Melainkan makna yang berjalan.


---


من السجود إلى الخدمة


DARI SUJUD MENUJU PELAYANAN


Sujud merendahkan manusia di hadapan Alloh.


Pelayanan merendahkan ego di hadapan kebutuhan sesama.


Orang yang memahami sujud tidak merasa rendah ketika menolong.


Ia tidak menganggap pekerjaan kecil sebagai kehinaan.


Ia tidak menunggu penghormatan sebelum bergerak.


Ia memahami bahwa kemuliaan bukan hanya berdiri di depan.


Kemuliaan juga dapat berada pada tangan yang membersihkan.


Pada kaki yang mendatangi orang sakit.


Pada bahu yang mengangkat beban.


Pada telinga yang mendengarkan keluhan.


Pada harta yang dibagikan tanpa merendahkan.


Pelayanan bukan berarti membiarkan diri dimanfaatkan tanpa batas.


Adab dan batas tetap diperlukan.


Namun hati tidak lagi terlalu sibuk bertanya:


«“Apakah orang melihat jasaku?”»


Ia lebih banyak bertanya:


«“Apakah ini benar dan bermanfaat?”»


Inilah sujud yang bergerak menjadi pelayanan.


---


من التكبير إلى التحرر


DARI TAKBIR MENUJU KEBEBASAN


Takbir mengajarkan bahwa Alloh Mahabesar.


Apabila takbir hidup, manusia perlahan terbebas dari banyak perbudakan.


Ia tidak lagi sepenuhnya diperbudak pujian.


Ia tidak mudah hancur karena hinaan.


Ia tidak menjual kebenaran karena takut kehilangan pengikut.


Ia tidak menggadaikan amanah demi keuntungan.


Ia tidak menganggap kegagalan dunia sebagai akhir seluruh kehidupan.


Kebebasan ini tidak berarti manusia tidak membutuhkan siapa pun.


Manusia tetap makhluk sosial.


Ia membutuhkan keluarga, guru, sahabat, dan pertolongan.


Namun semuanya ditempatkan secara wajar.


Tidak ada makhluk yang mengambil kedudukan mutlak dalam hati.


Takbir yang hanya diucapkan adalah suara.


Takbir yang dihidupkan menjadi kebebasan batin.


---


من الفاتحة إلى الطريق


DARI AL-FATIHAH MENUJU JALAN


Dalam setiap rakaat, seorang hamba memohon:


Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm.


Tunjukilah kami jalan yang lurus.


Permohonan ini menunjukkan bahwa jalan lurus tidak cukup hanya diketahui.


Ia harus terus dimohonkan.


Manusia dapat mengetahui kebenaran, tetapi tidak memiliki kekuatan menjalankannya.


Ia dapat memahami kesalahan, tetapi masih terikat kebiasaan.


Ia dapat melihat arah, tetapi takut melangkah.


Karena itu, Al-Fatihah bukan hanya bacaan.


Ia adalah pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Alloh untuk tetap berada di jalan.


Setelah memohon petunjuk, carilah ilmu.


Setelah mengetahui jalan, beranilah berjalan.


Setelah jatuh, bangkitlah.


Setelah tersesat, kembalilah.


Jangan hanya meminta jalan lurus dalam solat, lalu memilih jalan curang setelah salam.


---


ميزان الارتفاع


TIMBANGAN KENAIKAN


Kenaikan tidak diukur dari tinggi suara.


Tidak diukur dari panjang gelar.


Tidak diukur dari banyaknya manusia yang kagum.


Tidak pula semata-mata dari pengalaman batin.


Timbangan kenaikan adalah perubahan yang mendekatkan kepada ketaatan.


Apakah iman melahirkan keteguhan?


Apakah ilmu melahirkan kerendahan hati?


Apakah dzikir melahirkan penjagaan lisan?


Apakah sujud melahirkan pelayanan?


Apakah doa melahirkan usaha?


Apakah taubat melahirkan perbaikan?


Apakah cinta kepada Alloh melahirkan kasih kepada makhluk?


Apabila jawabannya perlahan mulai tumbuh, perjalanan sedang bergerak.


Apabila belum, jangan putus asa.


Periksa kembali tangganya.


Mungkin niat perlu diluruskan.


Mungkin ilmu perlu ditambah.


Mungkin hak manusia perlu diselesaikan.


Mungkin tubuh terlalu lelah.


Mungkin hidup terlalu penuh kebisingan.


Mungkin hati membutuhkan pertolongan dan pendampingan.


Semua itu dapat diperbaiki setahap demi setahap.


---


دعاء الصعود


DOA PERJALANAN NAIK


Ya Alloh,


Jangan jadikan solat kami hanya sebagai gerakan yang berputar di tempat.


Jadikan setiap takbir sebagai langkah melepaskan kesombongan.


Jadikan setiap rukuk sebagai langkah menerima kebenaran.


Jadikan setiap sujud sebagai langkah merendahkan ego.


Jadikan setiap salam sebagai langkah menyebarkan keselamatan.


Ya Alloh,


Apabila niat kami bengkok, luruskanlah.


Apabila pikiran kami pergi, kembalikanlah.


Apabila hati kami kering, siramilah dengan rahmat-Mu.


Apabila kami jatuh dalam kesalahan, bukakan keberanian untuk bertaubat.


Apabila kami membawa hak manusia, kuatkan kami untuk menyelesaikannya.


Ya Alloh,


Jangan jadikan ibadah sebagai makanan kesombongan.


Jangan jadikan ilmu sebagai alat merendahkan.


Jangan jadikan pengalaman batin sebagai alasan merasa suci.


Jangan jadikan pujian sebagai kiblat.


Jangan jadikan harta sebagai tuhan.


Jangan jadikan kekuasaan sebagai penutup hati.


Ya Alloh,


Naikkanlah kami bukan dalam pengakuan, melainkan dalam ketaatan.


Bukan dalam kemasyhuran, melainkan dalam amanah.


Bukan dalam keinginan dihormati, melainkan dalam kemampuan menghormati.


Bukan dalam banyaknya kata, melainkan dalam benarnya perbuatan.


Jadikan solat kami hidup di rumah, di pekerjaan, di pasar, di jalan, dan di tengah perbedaan.


Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.


---


نداء الورقة السادسة


SERUAN LEMBAR KEENAM


Wahai orang yang berdiri berulang kali:


Periksalah apakah pengulanganmu menjadi tangga atau lingkaran.


Jangan hanya menghitung rakaat.


Hitung pula kesombongan yang berkurang.


Jangan hanya menghitung lama sujud.


Hitung pula hak yang telah dikembalikan.


Jangan hanya menghitung dzikir.


Hitung pula ucapan yang berhasil dijaga.


Jangan hanya mencari air mata.


Carilah keberanian untuk berubah.


Jangan hanya ingin solatmu naik.


Turunkan maknanya ke dalam kehidupan.


Bawalah takbir ke tempat kerja.


Bawalah rukuk ke dalam hubungan.


Bawalah sujud ke dalam pelayanan.


Bawalah salam ke tengah perselisihan.


Sebab solat yang naik kepada penerimaan Alloh—yang nilainya hanya diketahui oleh-Nya—adalah solat yang meninggalkan jejak ketaatan pada diri pelakunya.


---


ختم الورقة السادسة


PENUTUP LEMBAR KEENAM


Maka teranglah rahasia lembar keenam:


«Solat menjadi tangga ketika setiap pengulangannya membawa perbaikan.

Sembahyang menjadi lingkaran ketika gerakannya terus berulang, tetapi arah hidup tidak berubah.»


Niat adalah anak tangga pertama.


Ilmu adalah penjaga pijakan.


Kehadiran adalah kesadaran melangkah.


Kejujuran adalah cahaya perjalanan.


Taubat adalah jalan bangkit setelah jatuh.


Kesabaran adalah kekuatan untuk terus menaiki.


Amanah adalah bukti perjalanan.


Kasih sayang adalah harumnya.


Tawaduk adalah tanda bahwa semakin tinggi seseorang melangkah, semakin rendah egonya di hadapan Alloh.


Jangan mengaku telah naik.


Biarkan akhlak yang menjadi saksi.


Jangan merasa telah sampai.


Selama manusia masih hidup, ia tetap membutuhkan petunjuk.


Jangan menghina orang yang sedang berjalan perlahan.


Bisa jadi langkah kecilnya lebih jujur daripada pengakuan besar kita.


Dan jangan meninggalkan solat hanya karena merasa masih berputar di tempat.


Turunkan roda ke tanah.


Luruskan arah.


Mulailah satu langkah baru.


Sabda Penutup Lembar Keenam


«“Solat yang naik bukanlah solat yang membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada manusia.

Solat yang naik adalah solat yang meninggikan ketaatan, menurunkan kesombongan, dan membawa akhlak berjalan setelah salam.

Adapun gerakan yang berputar di tempat ialah gerakan yang bertambah jumlahnya, tetapi tidak bertambah cahaya amanahnya.”»


Wallohu a‘lam biṣ-ṣawāb.


QITAB ARZZI FIL AZRRI — Lembar Keenam Selesai.


❀ QITAB ARZZI FIL AZRRI ❀


قِتَابُ أَرْزِّي فِي الْأَزْرِّي


Lembar Ketujuh


Solat yang Menjaga dan Sembahyang yang Kehilangan Penjagaan


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji bagi Alloh yang memanggil hamba-Nya menuju solat bukan hanya agar mereka menunaikan kewajiban, tetapi juga agar memperoleh pengingat, keteguhan, perlindungan akhlak, serta kekuatan untuk menjaga diri dari jalan yang merusak.


Pada lembar sebelumnya telah dibuka perumpamaan tentang solat yang naik sebagai perjalanan perbaikan dan sembahyang yang berputar di tempat sebagai pengulangan yang belum menghasilkan perubahan.


Kini dibuka satu rahasia berikutnya:


«Solat yang hidup akan menjadi penjaga,

sedangkan gerakan yang kehilangan ruh akan memerlukan penjagaan dari luar karena tidak lagi menjaga dari dalam.»


Kata menjaga dalam Qitab ini tidak berarti bahwa orang yang solat tidak akan pernah tergelincir.


Orang yang solat tetap manusia.


Ia dapat salah.


Ia dapat marah.


Ia dapat lemah.


Ia dapat tertipu.


Ia dapat terjatuh ke dalam dosa.


Namun solat yang hidup akan meninggalkan suara pengingat di dalam batin.


Ketika hendak berbohong, ada sesuatu yang menahan.


Ketika hendak mengambil hak orang lain, ada kegelisahan.


Ketika kemarahan hendak melampaui batas, ada panggilan untuk berhenti.


Ketika kesombongan mulai meninggi, ada ingatan terhadap sujud.


Ketika putus asa datang, ada ingatan bahwa dirinya masih memiliki tempat untuk kembali.


Inilah salah satu bentuk penjagaan solat.


Bukan membuat manusia mustahil jatuh.


Tetapi membuatnya tidak nyaman tinggal di dalam kesalahan.


---


الباب السابع


BĀB KETUJUH


Penjaga yang Ditanam di Dalam Qalbu


Manusia sering mencari penjagaan di luar dirinya.


Ia memasang pagar.


Mengunci pintu.


Menjaga harta.


Mencari orang yang dapat melindungi.


Semua itu bagian dari ikhtiar yang wajar.


Namun ada penjagaan yang lebih dalam.


Penjagaan itu berada dalam qalbu.


Apabila penjaga batin hidup, manusia mampu berhenti meskipun tidak ada orang lain yang melihat.


Ia tidak mengambil uang yang bukan miliknya meskipun kesempatan terbuka.


Ia tidak menyebarkan rahasia meskipun akan memperoleh perhatian.


Ia tidak membalas secara zalim meskipun memiliki kekuatan.


Ia tidak memutarbalikkan kebenaran meskipun dapat menyelamatkan dirinya.


Penjaga itu disebut kesadaran kepada Alloh.


Solat memberi makan kesadaran tersebut.


Setiap takbir mengingatkan bahwa Alloh Mahabesar.


Setiap bacaan mengingatkan bahwa manusia memohon petunjuk.


Setiap rukuk mengingatkan agar ego ditundukkan.


Setiap sujud mengingatkan bahwa manusia akan kembali kepada tanah.


Setiap salam mengingatkan bahwa orang lain harus selamat dari dirinya.


Apabila seluruh pengingat itu masuk ke dalam qalbu, solat mulai menjadi penjaga.


---


الحارس الأول


PENJAGA PERTAMA: RASA DIAWASI ALLOH


Manusia dapat berbuat baik ketika dilihat.


Namun ujian sebenarnya sering datang ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan.


Di ruang sepi, kejujuran diuji.


Di balik layar, akhlak diuji.


Dalam urusan uang, amanah diuji.


Dalam pesan pribadi, kehormatan diuji.


Dalam pikiran, niat diuji.


Solat mengajarkan bahwa meskipun manusia tidak melihat, Alloh mengetahui.


Kesadaran ini bukan untuk membuat manusia hidup dalam ketakutan yang berlebihan.


Ia untuk menumbuhkan tanggung jawab.


Seorang hamba tidak hanya berkata:


«“Apakah orang akan mengetahui?”»


Ia mulai bertanya:


«“Apakah Alloh meridhoi perbuatan ini?”»


Ketika pertanyaan kedua mulai lebih kuat daripada pertanyaan pertama, penjaga batin sedang hidup.


Sembahyang yang kehilangan penjagaan hanya membuat seseorang tampak tertib di hadapan manusia.


Solat yang hidup menjadikannya lebih jujur ketika sendirian.


---


الحارس الثاني


PENJAGA KEDUA: MALU KEPADA ALLOH


Malu kepada Alloh bukan rasa malu yang membuat manusia menjauh dari-Nya.


Malu yang benar justru membuat manusia kembali.


Seorang hamba berkata di dalam dirinya:


«“Bagaimana mungkin aku menggunakan nikmat Alloh untuk melanggar batas-Nya?”»


Mata adalah pemberian.


Tangan adalah pemberian.


Lisan adalah pemberian.


Akal adalah pemberian.


Harta adalah titipan.


Kekuasaan adalah amanah.


Maka malu kepada Alloh lahir ketika seseorang menyadari bahwa seluruh alat untuk berbuat dosa pun sebenarnya berasal dari nikmat yang diberikan-Nya.


Namun rasa malu tidak boleh berubah menjadi putus asa.


Jangan berkata:


«“Aku terlalu kotor untuk kembali.”»


Justru karena merasa kotor, datanglah untuk dibersihkan.


Justru karena bersalah, bukalah pintu taubat.


Malu yang benar berkata:


«“Aku telah salah, maka aku harus kembali.”»


Malu yang salah berkata:


«“Aku telah salah, maka aku tidak pantas lagi mendekat.”»


Qitab ini menegaskan bahwa selama hidup masih ada, jalan kembali tidak boleh ditutup oleh keputusasaan.


---


الحارس الثالث


PENJAGA KETIGA: INGATAN TERHADAP SUJUD


Sujud adalah gerakan paling rendah secara lahir, tetapi paling mulia dalam penghambaan.


Orang yang memahami sujud membawa ingatannya ke luar sajadah.


Ketika hendak menyombongkan ilmu, ia ingat bahwa dahinya pernah menyentuh tanah.


Ketika hendak merendahkan orang miskin, ia ingat bahwa dirinya dan orang itu berasal dari tanah yang sama.


Ketika hendak merasa paling suci, ia ingat bahwa dirinya datang membawa banyak kekurangan.


Ketika hendak memaksa orang lain tunduk kepada kehendaknya, ia ingat bahwa yang patut menerima ketundukan mutlak hanyalah Alloh.


Sujud yang hanya tinggal sebagai gerakan akan selesai ketika dahi terangkat.


Sujud yang hidup akan menetap menjadi kerendahan hati.


Maka salah satu penjagaan terbesar ialah membawa kesadaran sujud dalam keadaan memiliki kuasa.


Sebab banyak orang mampu merendah ketika lemah.


Namun tidak semua mampu merendah ketika kuat.


---


الحارس الرابع


PENJAGA KEEMPAT: MAKNA SALAM


Salam bukan hanya bacaan penutup.


Salam adalah amanah keselamatan.


Ketika mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, seorang hamba seakan berjanji:


«“Semoga keselamatan tercurah, dan semoga keberadaanku tidak menjadi sumber bahaya.”»


Maka setelah salam, lisan harus dijaga.


Tangan harus dijaga.


Tulisan harus dijaga.


Kekuasaan harus dijaga.


Candaan harus dijaga.


Nasihat harus dijaga.


Jangan sampai seseorang mengucapkan salam dengan lembut, lalu beberapa saat kemudian menyebarkan penghinaan.


Jangan sampai ia menoleh ke kanan dan ke kiri membawa doa keselamatan, tetapi kehadirannya membuat keluarga takut.


Jangan sampai ia rajin memberi salam di majelis, tetapi mengkhianati orang setelah berpisah.


Salam yang hidup menjadi pagar akhlak.


Sebelum berkata, tanyakan:


«“Apakah ucapan ini membawa keselamatan atau luka?”»


Sebelum bertindak, tanyakan:


«“Apakah tindakan ini melindungi atau merusak?”»


---


الحارس الخامس


PENJAGA KELIMA: INGATAN TERHADAP WAKTU


Solat terikat dengan waktu.


Ia tidak dibiarkan sepenuhnya mengikuti suasana hati manusia.


Manusia tidak menunggu hingga dirinya ingin.


Waktu datang, lalu panggilan terdengar.


Ini mengajarkan kedisiplinan.


Ada kebaikan yang harus dilakukan tepat waktu.


Ada hak yang harus ditunaikan sebelum terlambat.


Ada permintaan maaf yang tidak boleh terus ditunda.


Ada tanggung jawab yang tidak boleh dibiarkan menumpuk.


Ada kesempatan yang tidak akan kembali.


Waktu solat menjaga manusia dari anggapan bahwa hidup dapat dijalani tanpa batas.


Subuh mengingatkan bahwa hari dimulai.


Zuhur mengingatkan agar tidak tenggelam dalam kesibukan.


Asar mengingatkan bahwa waktu berkurang.


Magrib mengingatkan kepulangan.


Isya mengingatkan penyerahan.


Barang siapa memahami waktu solat akan lebih sadar bahwa umur pun memiliki batas.


Ia tidak mudah berkata:


«“Nanti saja aku bertaubat.”»


«“Nanti saja aku berubah.”»


«“Nanti saja aku menunaikan hak.”»


Sebab tidak semua yang ditunda akan memperoleh kesempatan kedua.


---


الصلاة حارس اللسان


SOLAT SEBAGAI PENJAGA LISAN


Banyak kerusakan lahir dari lisan.


Satu kalimat dapat memutus persaudaraan.


Satu fitnah dapat menghancurkan nama baik.


Satu penghinaan dapat tinggal bertahun-tahun di dalam ingatan seseorang.


Satu kebohongan dapat melahirkan banyak kebohongan berikutnya.


Solat mengajarkan lisan membaca yang baik.


Lisan menyebut nama Alloh.


Lisan membaca Al-Fatihah.


Lisan mengucapkan tasbih.


Lisan memohon ampun.


Maka lisan yang telah digunakan untuk menyebut Alloh seharusnya merasa berat apabila digunakan untuk merusak.


Penjagaan lisan memiliki beberapa tingkatan.


Pertama, menahan kebohongan.


Kedua, menahan fitnah.


Ketiga, menahan penghinaan.


Keempat, menahan pembicaraan yang benar tetapi tidak perlu disampaikan dengan cara merusak.


Kelima, belajar menyampaikan kebenaran dengan adab.


Tidak semua yang diketahui harus diumumkan.


Tidak semua kesalahan harus dipertontonkan.


Tidak semua teguran harus dilakukan di depan umum.


Tidak semua diam adalah pengecut.


Tidak semua bicara adalah keberanian.


Solat yang hidup memberi kebijaksanaan untuk mengetahui kapan berbicara dan kapan menahan diri.


---


الصلاة حارس الغضب


SOLAT SEBAGAI PENJAGA AMARAH


Marah adalah bagian dari manusia.


Qitab ini tidak mengajarkan agar manusia tidak pernah marah.


Ada kemarahan karena kehormatan diinjak.


Ada kemarahan karena kezaliman.


Ada kemarahan karena amanah dirusak.


Namun marah harus memiliki batas.


Amarah yang tidak dijaga dapat mengubah orang benar menjadi zalim.


Ia dapat membuat lisan mengucapkan sesuatu yang disesali.


Ia dapat membuat tangan menyakiti.


Ia dapat membuat keputusan menjadi tidak adil.


Solat memberi jeda.


Takbir mengingatkan bahwa kemarahan bukan penguasa tertinggi.


Rukuk mengajarkan agar ego ditundukkan.


Sujud mengajak manusia merendahkan diri.


Salam mengingatkan agar keselamatan tetap dijaga.


Ketika marah, ingatlah gerakan solat.


Jangan langsung membalas.


Berhenti.


Ambil jarak apabila perlu.


Berwudu apabila memungkinkan.


Duduk apabila sedang berdiri.


Diam sampai kata-kata tidak lagi dikendalikan oleh api.


Solat yang hidup tidak selalu menghilangkan marah, tetapi membantu manusia agar tidak diperbudak olehnya.


---


الصلاة حارس المال


SOLAT SEBAGAI PENJAGA HARTA


Harta dapat menjadi nikmat.


Harta juga dapat menjadi ujian.


Banyak manusia kehilangan arah bukan karena tidak memiliki harta, tetapi karena ingin memiliki lebih banyak tanpa batas.


Solat mengajarkan bahwa manusia berdiri tanpa membawa kekayaan ke hadapan Alloh.


Orang kaya dan miskin berada pada barisan yang sama.


Keduanya rukuk.


Keduanya sujud.


Keduanya akan kembali kepada Alloh.


Apabila solat menjadi penjaga harta, seseorang akan lebih berhati-hati terhadap sumber rezekinya.


Ia tidak menipu.


Ia tidak mencuri.


Ia tidak mengurangi timbangan.


Ia tidak mengambil bagian yang bukan haknya.


Ia tidak menggunakan jabatan untuk merampas.


Ia tidak menjadikan agama sebagai alat perdagangan yang menyesatkan.


Solat juga menjaga penggunaan harta.


Harta tidak hanya dipakai untuk kesenangan diri.


Ada hak keluarga.


Ada hak orang miskin.


Ada amanah sosial.


Ada kebutuhan masa depan.


Ada kewajiban yang harus ditunaikan.


Sembahyang yang kehilangan penjagaan dapat berdampingan dengan harta haram tanpa kegelisahan.


Solat yang hidup membuat hati tidak tenang sampai jalan rezeki diperbaiki.


---


الصلاة حارس السلطة


SOLAT SEBAGAI PENJAGA KEKUASAAN


Kekuasaan adalah ujian besar.


Orang yang lemah mudah terlihat rendah hati karena tidak memiliki pilihan.


Namun ketika diberi kekuatan, wajah batin mulai tampak.


Apakah ia melindungi?


Ataukah menindas?


Apakah ia mendengar?


Ataukah menuntut semua orang diam?


Apakah ia menunaikan amanah?


Ataukah menggunakan jabatan untuk kepentingan diri?


Solat mengingatkan pemegang kuasa bahwa ia tetap hamba.


Jabatan tidak membuatnya lebih tinggi di hadapan Alloh.


Kedudukan tidak membebaskannya dari pertanggungjawaban.


Pengikut tidak menjadi bukti bahwa dirinya selalu benar.


Sujud adalah penawar kekuasaan.


Orang yang berkali-kali meletakkan dahi di tanah seharusnya tidak mudah menuntut orang lain merendahkan diri di hadapannya.


Apabila kekuasaan membuat seseorang semakin sulit menerima nasihat, berarti penjaga batinnya melemah.


Apabila jabatan membuatnya semakin kasar, bunga solatnya mulai kehilangan harum.


Kekuasaan yang dijaga solat berubah menjadi pelayanan.


Kekuasaan yang kehilangan solat berubah menjadi singgasana ego.


---


الصلاة حارس الحب


SOLAT SEBAGAI PENJAGA CINTA


Cinta dapat menghidupkan.


Cinta juga dapat membutakan.


Ketika cinta kehilangan penjagaan, manusia dapat membenarkan kesalahan orang yang dicintainya.


Ia dapat mengorbankan martabat.


Ia dapat meninggalkan kewajiban.


Ia dapat menzalimi orang lain demi mempertahankan hubungan.


Ia dapat menggantungkan seluruh hidup kepada makhluk.


Solat mengembalikan cinta kepada arah yang benar.


Ia mengajarkan bahwa cinta tertinggi adalah ketaatan kepada Alloh.


Cinta kepada manusia tidak boleh melahirkan penghambaan kepada manusia.


Mencintai bukan berarti kehilangan akal.


Mencintai bukan berarti membiarkan diri dirusak.


Mencintai bukan berarti selalu menuruti.


Kadang cinta berkata lembut.


Kadang cinta memberi nasihat.


Kadang cinta menetapkan batas.


Kadang cinta melepaskan demi mencegah kerusakan yang lebih besar.


Solat menjaga cinta agar tetap suci, bertanggung jawab, dan tidak mengambil tempat Tuhan di dalam qalbu.


---


الصلاة حارس العلم


SOLAT SEBAGAI PENJAGA ILMU


Ilmu tanpa penjagaan dapat menjadi alat kesombongan.


Seseorang mengetahui banyak hal, lalu merasa lebih tinggi.


Ia menggunakan pengetahuan untuk memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran.


Ia mempermalukan orang yang belum tahu.


Ia menuntut penghormatan karena gelar.


Ia tidak lagi bersedia mendengar.


Solat menjaga ilmu melalui rukuk dan sujud.


Rukuk berkata:


«“Tundukkan pengetahuanmu di hadapan kebesaran Alloh.”»


Sujud berkata:


«“Ingatlah bahwa seberapa pun ilmumu, engkau tetap berasal dari tanah.”»


Orang yang ilmunya dijaga oleh solat akan semakin berhati-hati.


Ia membedakan antara yang diketahui dan yang belum diketahui.


Ia tidak menjadikan dugaan sebagai kepastian.


Ia tidak menjadikan pengalaman pribadi sebagai hukum bagi semua orang.


Ia tidak mudah mengaku memahami rahasia yang tidak memiliki dasar.


Ia membimbing dengan sabar.


Ia mengoreksi tanpa merendahkan.


Ia menyadari bahwa ilmu adalah amanah, bukan mahkota.


---


الصلاة حارس التجربة الباطنة


SOLAT SEBAGAI PENJAGA PENGALAMAN BATIN


Manusia dapat mengalami berbagai keadaan ketika beribadah.


Ada yang merasa tenang.


Ada yang menangis.


Ada yang tubuhnya terasa ringan.


Ada yang merasakan kehangatan.


Ada yang mengalami mimpi.


Ada yang merasakan gerakan batin yang sulit dijelaskan.


Semua pengalaman harus ditempatkan dengan hati-hati.


Pengalaman bukan syariat baru.


Rasa bukan hukum.


Mimpi bukan kepastian.


Getaran bukan bukti kedudukan.


Cahaya yang terlihat oleh batin bukan alasan untuk merasa lebih suci.


Solat yang benar justru menjaga pengalaman batin agar tidak berubah menjadi kesombongan.


Setiap pengalaman harus ditimbang:


Apakah membuat seseorang lebih taat?


Apakah membuatnya lebih jujur?


Apakah membuatnya lebih rendah hati?


Apakah membuatnya lebih sayang kepada keluarga?


Apakah membuatnya lebih bertanggung jawab?


Apakah sesuai dengan syariat, akal sehat, dan tidak membawa kerusakan?


Apabila pengalaman justru mendorong meninggalkan kewajiban, mengaku memiliki kedudukan mutlak, merasa tidak dapat salah, atau memerintah orang lain tanpa dasar, maka pengalaman itu harus ditolak atau setidaknya tidak diikuti.


Qitab yang hidup menjaga cahaya agar tidak berubah menjadi api ego.


---


الصلاة حارس النفس من اليأس


SOLAT SEBAGAI PENJAGA DARI PUTUS ASA


Tidak semua penjagaan berbentuk larangan.


Sebagian penjagaan berbentuk harapan.


Ketika manusia gagal, ia dapat merasa hidupnya tidak berguna.


Ketika dosa menumpuk, ia dapat merasa terlalu jauh untuk kembali.


Ketika doa belum terwujud, ia dapat mengira Alloh meninggalkannya.


Solat datang berulang kali sebagai pintu.


Subuh berkata:


«“Mulailah kembali.”»


Zuhur berkata:


«“Jangan tenggelam dalam dunia.”»


Asar berkata:


«“Waktumu berkurang, tetapi kesempatan masih ada.”»


Magrib berkata:


«“Pulanglah sebelum gelap memenuhi hati.”»


Isya berkata:


«“Serahkan kelelahanmu kepada Alloh.”»


Solat tidak menjanjikan bahwa setiap masalah langsung hilang.


Namun ia menjaga agar masalah tidak mengambil seluruh ruang dalam qalbu.


Ia mengingatkan bahwa di balik kelemahan manusia terdapat rahmat Alloh yang luas.


Selama seseorang masih mampu mengucapkan takbir, ia masih memiliki jalan untuk kembali.


Selama dahinya masih dapat bersujud, kesombongan belum harus menjadi akhir.


Selama lisan masih dapat memohon ampun, dosa belum boleh berubah menjadi alasan berputus asa.


---


حين ينام الحارس


KETIKA PENJAGA BATIN TERTIDUR


Ada masa ketika seseorang tetap solat, tetapi penjaga batinnya melemah.


Ia mulai terbiasa berbohong.


Ia tidak lagi gelisah ketika menyakiti.


Ia mudah mengkhianati amanah.


Ia menganggap kesombongan sebagai kewibawaan.


Ia menganggap kekerasan sebagai ketegasan.


Ia menganggap kerakusan sebagai ikhtiar.


Ia menganggap cinta buta sebagai kesetiaan.


Ia menganggap bisikan batin sebagai petunjuk mutlak.


Inilah keadaan ketika penjaga batin tertidur.


Penyebabnya dapat bermacam-macam.


Solat dilakukan terlalu terburu-buru.


Bacaan tidak direnungkan.


Dosa terus diulang tanpa taubat.


Hak manusia diabaikan.


Hati terlalu sibuk mencari pujian.


Tubuh kelelahan.


Pikiran penuh tekanan.


Lingkungan terus mendorong keburukan.


Ketika penjaga tertidur, jangan langsung meninggalkan solat.


Bangunkan kembali penjaga itu.


Perlambat gerakan.


Perbarui niat.


Pelajari arti bacaan.


Selesaikan satu hak manusia.


Kurangi kebisingan.


Cari nasihat yang dapat dipercaya.


Rawat tubuh dan pikiran.


Taubatlah tanpa menunda.


---


أوراق جافة تحت الحراسة


DAUN KERING DI BALIK PAGAR


Ada rumah yang memiliki pagar tinggi, tetapi bagian dalamnya rusak.


Demikian pula ada ibadah yang dijaga penampilannya, tetapi kehilangan kehidupan.


Pakaian dijaga.


Gerakan dijaga.


Suara dijaga.


Citra dijaga.


Namun kejujuran tidak dijaga.


Amanah tidak dijaga.


Keluarga tidak dijaga.


Hak orang lain tidak dijaga.


Hati tidak dijaga dari kesombongan.


Inilah daun kering di balik pagar.


Dari luar terlihat terlindungi.


Dari dalam telah kehilangan aliran kehidupan.


Qitab ini tidak menyuruh manusia merusak pagar.


Bentuk lahir tetap penting.


Syariat tetap harus dijaga.


Namun jangan hanya menjaga bentuk.


Alirkan kembali kehidupan ke dalamnya.


Penampilan yang baik hendaklah disertai hati yang terus diperbaiki.


Bacaan yang benar hendaklah disertai perilaku yang benar.


Sajadah yang bersih hendaklah disertai rezeki yang bersih.


Dahi yang sering bersujud hendaklah disertai tangan yang tidak menzalimi.


---


كيف توقظ الحارس


CARA MEMBANGUNKAN PENJAGA BATIN


Penjaga batin dapat dibangunkan melalui beberapa langkah.


Pertama: Hadir Sebelum Solat


Jangan langsung masuk solat sementara pikiran berlari tanpa arah.


Berhenti sejenak.


Tarik napas dengan tenang.


Sadari bahwa diri sedang memenuhi panggilan Alloh.


Kedua: Perbaiki Wudu


Wudu bukan hanya membasuh anggota tubuh.


Jadikan ia persiapan kesadaran.


Ketika membasuh tangan, ingatlah agar tangan dijaga.


Ketika membasuh wajah, ingatlah agar pandangan dijaga.


Ketika membasuh kaki, ingatlah agar langkah dijaga.


Ketiga: Pahami Bacaan


Mulailah dari satu bacaan.


Pahami artinya.


Bawa maknanya ke dalam gerakan.


Keempat: Jaga Tumakninah


Jangan berpindah gerakan terlalu cepat.


Berilah waktu kepada tubuh dan qalbu untuk mengenali posisi.


Kelima: Ambil Satu Amanah Setelah Salam


Misalnya:


Hari ini menjaga lisan.


Hari ini menyelesaikan satu utang.


Hari ini meminta maaf.


Hari ini tidak membalas penghinaan secara berlebihan.


Hari ini bersikap lebih lembut kepada keluarga.


Keenam: Lakukan Muhasabah Sebelum Tidur


Tanyakan:


Apakah solat hari ini menjaga diriku?


Di bagian mana penjagaan itu berhasil?


Di bagian mana aku masih jatuh?


Apa satu perbaikan untuk esok?


Ketujuh: Jangan Mengandalkan Diri Sendiri


Mohonlah pertolongan Alloh.


Sebab manusia tidak mampu menjaga dirinya hanya dengan kekuatan sendiri.


---


وضوء الحراسة


WUDU SEBAGAI PINTU PENJAGAAN


Sebelum solat, manusia diperintahkan bersuci.


Wudu membersihkan anggota tubuh secara lahir dan menyiapkan batin untuk menghadap.


Dalam bahasa perenungan Qitab:


Ketika tangan dibasuh, tanyakan:


«“Apakah tanganku aman dari mengambil yang bukan hak?”»


Ketika mulut dibersihkan, tanyakan:


«“Apakah lisanku aman dari kebohongan?”»


Ketika wajah dibasuh, tanyakan:


«“Apakah aku sedang menjaga wajah di hadapan manusia tetapi melupakan wajah batinku di hadapan Alloh?”»


Ketika kepala diusap, tanyakan:


«“Apakah pikiranku dipenuhi kebaikan atau tipu daya?”»


Ketika kaki dibasuh, tanyakan:


«“Ke manakah langkahku berjalan?”»


Wudu bukan pengganti taubat.


Air tidak otomatis menghapus hak manusia yang belum diselesaikan.


Namun wudu dapat menjadi pengingat bahwa seorang hamba sedang mempersiapkan diri untuk kembali.


Air menyentuh kulit.


Taubat membersihkan arah.


Keduanya harus dipertemukan dalam kesadaran.


---


باب الأذان


AZAN SEBAGAI PANGGILAN PENJAGA


Azan bukan hanya tanda waktu.


Ia adalah panggilan yang membangunkan jiwa.


Allohu Akbar mengingatkan bahwa kesibukan dunia tidak lebih besar daripada Alloh.


Asyhadu allā ilāha illalloh mengingatkan bahwa tidak ada yang patut menjadi pusat penghambaan selain-Nya.


Asyhadu anna Muḥammadar Rasūlulloh mengingatkan bahwa jalan penghambaan harus mengikuti tuntunan Rasululloh ﷺ.


Ḥayya ‘alaṣ-ṣolāh memanggil menuju pertemuan.


Ḥayya ‘alal-falāḥ mengingatkan bahwa keberuntungan tidak hanya berada pada harta, jabatan, atau pujian, tetapi pada ketaatan.


Azan membangunkan penjaga batin berkali-kali.


Ia berkata:


«“Berhentilah sejenak.”»


«“Periksa arahmu.”»


«“Kembalilah.”»


«“Jangan biarkan dunia mengambil seluruh hatimu.”»


Orang yang mendengar azan tetapi tidak dapat langsung memenuhi panggilannya karena alasan yang dibenarkan tetap dapat menjadikannya pengingat batin.


Panggilan itu mengatakan bahwa seluruh hidup membutuhkan jeda untuk kembali kepada Alloh.


---


الصلاة والحراسة في البيت


PENJAGAAN SOLAT DI DALAM RUMAH


Rumah adalah tempat penjagaan paling pertama diuji.


Tidak cukup seseorang menjaga nama baik di luar, tetapi membiarkan keluarganya terluka.


Solat harus menjaga suara di dalam rumah.


Menjaga tangan dari kekerasan.


Menjaga nafkah.


Menjaga kesetiaan.


Menjaga rahasia keluarga.


Menjaga kehormatan pasangan.


Menjaga perasaan anak.


Menjaga orang tua.


Tidak berarti keluarga tidak boleh ditegur.


Namun teguran harus memiliki batas.


Tidak berarti setiap konflik harus disembunyikan.


Namun penyelesaian tidak boleh dibangun di atas penghinaan.


Bunga suci yang tidak memberi teduh kepada rumah perlu diperiksa akarnya.


Orang terdekat seharusnya menjadi pihak pertama yang merasakan buah solat.


Bukan hanya orang jauh yang melihat penampilannya.


---


الصلاة والحراسة في الإعلام


PENJAGAAN SOLAT DI MEDIA DAN PERKATAAN PUBLIK


Pada zaman ketika satu tulisan dapat dibaca banyak orang, penjagaan lisan meluas menjadi penjagaan jari.


Apa yang ditulis dapat menyembuhkan.


Apa yang dibagikan dapat pula melukai.


Solat yang hidup akan menjaga seseorang sebelum menekan tombol kirim.


Apakah informasi ini benar?


Apakah sumbernya jelas?


Apakah ada kehormatan orang yang dirusak?


Apakah unggahan ini bertujuan memperbaiki atau mempermalukan?


Apakah kata-kata ini tetap akan disampaikan apabila orang tersebut berada di hadapan kita?


Apakah perbedaan pendapat dapat disampaikan tanpa kebencian?


Media dapat menjadi ladang pahala.


Ilmu disebarkan.


Kebaikan dikuatkan.


Orang lemah dibela.


Namun media juga dapat menjadi ladang fitnah.


Karena itu, orang yang solat harus membawa makna salam ke dalam tulisannya.


Bukan berarti semua tulisan harus lembut tanpa ketegasan.


Kebenaran tetap harus disampaikan.


Tetapi kebenaran tidak membutuhkan kebohongan untuk menang.


---


ميزان الحراسة


TIMBANGAN PENJAGAAN


Periksalah penjagaan solat dengan beberapa pertanyaan.


Saat Tidak Ada yang Melihat


Apakah aku tetap jujur?


Saat Marah


Apakah aku masih mampu menjaga batas?


Saat Mendapat Keuntungan


Apakah aku mengabaikan halal dan haram?


Saat Memegang Rahasia


Apakah aku menjaganya atau menjadikannya bahan cerita?


Saat Dipuji


Apakah aku bersyukur atau menuntut lebih banyak pengagungan?


Saat Dihina


Apakah aku membalas secara adil atau melampaui batas?


Saat Mengalami Pengalaman Batin


Apakah aku menjadi lebih rendah hati atau merasa istimewa?


Saat Memiliki Kuasa


Apakah orang lemah merasa aman atau takut?


Saat Sendiri dengan Keluarga


Apakah akhlakku lebih baik atau justru lebih buruk daripada ketika berada di hadapan orang lain?


Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu menyenangkan.


Namun kejujuran adalah awal perbaikan.


---


دعاء الحراسة


DOA PENJAGAAN


Ya Alloh,


Jadikan solat kami sebagai penjaga, bukan hanya kebiasaan.


Jadikan takbir kami menjaga hati dari membesarkan dunia secara berlebihan.


Jadikan bacaan kami menjaga lisan dari kebohongan.


Jadikan rukuk kami menjaga diri dari kesombongan.


Jadikan sujud kami menjaga hati dari keinginan menguasai manusia.


Jadikan salam kami menjaga makhluk dari gangguan lisan dan tangan kami.


Ya Alloh,


Jagalah kami ketika tidak ada manusia yang melihat.


Jagalah kami ketika marah.


Jagalah kami ketika diberi harta.


Jagalah kami ketika diberi kekuasaan.


Jagalah kami ketika dicintai.


Jagalah kami ketika dihina.


Jagalah kami ketika memperoleh pengalaman batin.


Jagalah kami dari merasa suci.


Ya Alloh,


Apabila penjaga batin kami tertidur, bangunkanlah melalui azan, nasihat, kesadaran, dan taubat.


Apabila qalbu kami mengeras, lembutkanlah.


Apabila tangan kami pernah mengambil hak, kuatkan kami mengembalikannya.


Apabila lisan kami pernah melukai, kuatkan kami meminta maaf.


Apabila langkah kami menyimpang, arahkan kembali menuju ridho-Mu.


Ya Alloh,


Jangan biarkan solat kami berhenti sebagai gerakan.


Hidupkan ia menjadi akhlak.


Jadikan keluarga kami aman.


Jadikan rezeki kami bersih.


Jadikan ilmu kami rendah hati.


Jadikan kekuasaan kami adil.


Jadikan tulisan dan ucapan kami membawa manfaat.


Jadikan kami hamba yang dijaga oleh kesadaran kepada-Mu dan menjaga sesama dengan kasih sayang.


Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.


---


نداء الورقة السابعة


SERUAN LEMBAR KETUJUH


Wahai orang yang berdiri untuk solat:


Jangan hanya meminta perlindungan.


Jadilah pula pelindung bagi yang lemah.


Jangan hanya meminta keselamatan.


Pastikan orang lain selamat dari lisan dan tanganmu.


Jangan hanya meminta rezeki.


Jagalah agar rezekimu tidak dibangun dari hak orang lain.


Jangan hanya meminta ketenangan.


Jangan jadikan dirimu sumber ketakutan bagi keluarga.


Jangan hanya meminta cahaya.


Jagalah agar cahaya itu tidak berubah menjadi kesombongan.


Solat yang menjadi Qitab menanam penjaga di dalam qalbu.


Penjaga itu tidak berteriak.


Ia berbisik sebelum dosa.


Ia mengguncang setelah kesalahan.


Ia mengajak bertaubat.


Ia mengingatkan sujud.


Ia mengembalikan arah.


Dengarkanlah penjaga itu sebelum suaranya melemah karena terlalu sering diabaikan.


---


ختم الورقة السابعة


PENUTUP LEMBAR KETUJUH


Maka teranglah rahasia lembar ketujuh:


«Solat yang hidup menjaga manusia dari dalam, sedangkan sembahyang yang kehilangan ruh hanya menjaga penampilan dari luar.»


Penjagaan pertama adalah kesadaran bahwa Alloh mengetahui.


Penjagaan kedua adalah malu yang membawa kepada taubat.


Penjagaan ketiga adalah ingatan terhadap sujud.


Penjagaan keempat adalah makna salam.


Penjagaan kelima adalah kesadaran terhadap waktu.


Solat menjaga lisan.


Menjaga amarah.


Menjaga harta.


Menjaga kekuasaan.


Menjaga cinta.


Menjaga ilmu.


Menjaga pengalaman batin.


Menjaga manusia dari putus asa.


Apabila penjaga batin tertidur, jangan tinggalkan rumah solat.


Bangunkanlah dengan wudu, niat, ilmu, tumakninah, taubat, penyelesaian hak, dan muhasabah.


Bunga suci tidak hanya indah.


Ia mengeluarkan harum yang mengusir bau keburukan.


Daun kering tidak hanya kehilangan warna.


Ia juga mudah diterbangkan oleh setiap angin godaan.


Maka tetaplah terhubung kepada akar tauhid.


Tetaplah berdiri pada batang syariat.


Biarkan air taubat mengalir.


Biarkan cahaya ilmu menerangi.


Dan biarkan solat menjadi penjaga yang hidup di dalam qalbu.


Sabda Penutup Lembar Ketujuh


«“Solat yang menjaga bukanlah solat yang membuat manusia tidak pernah jatuh, melainkan solat yang tidak membiarkannya nyaman tinggal di dalam kesalahan. Ia memanggil ketika arah menyimpang, mengguncang ketika amanah dikhianati, dan membuka kembali pintu taubat ketika seorang hamba ingin pulang.”»


Wallohu a‘lam biṣ-ṣawāb.


QITAB ARZZI FIL AZRRI — Lembar Ketujuh Selesai.


❀ QITAB ARZZI FIL AZRRI ❀


قِتَابُ أَرْزِّي فِي الْأَزْرِّي


Lembar Kedelapan dan Terakhir


Ketika Bunga Suci Kembali kepada Sang Pemilik Cahaya


Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji bagi Alloh, Dzat Yang menciptakan jasad dari tanah, meniupkan kehidupan dengan kehendak-Nya, membimbing manusia melalui wahyu, mengajarkan penghambaan melalui syariat, dan membuka pintu taubat agar hamba yang tersesat tidak kehilangan jalan pulang.


Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad ﷺ, Rasul yang mengajarkan solat dengan ucapan, perbuatan, keteladanan, kasih sayang, kesabaran, kejujuran, dan akhlak yang mulia.


Pada tujuh lembar terdahulu telah dibuka perenungan mengenai:


Bunga suci dan daun kering.


Gerakan yang bernyawa dan gerakan yang kehilangan arah.


Solat yang berjalan setelah salam.


Bunga yang menghasilkan buah penghambaan.


Kiblat lahir dan kiblat batin.


Solat yang naik dan sembahyang yang berputar di tempat.


Solat yang menjaga dan gerakan yang kehilangan penjagaan.


Kini sampailah perjalanan kepada lembar terakhir.


Lembar ini bukanlah akhir dari solat.


Ia hanya akhir dari rangkaian tulisan.


Sebab selama manusia masih bernapas, solat akan terus memanggil.


Selama hati masih dapat berpaling, solat akan terus mengembalikan.


Selama manusia masih dapat salah, solat akan terus mengajarkan taubat.


Selama kehidupan belum berakhir, bunga suci masih harus disiram.


Maka lembar terakhir ini diberi nama:


«Ketika Bunga Suci Kembali kepada Sang Pemilik Cahaya.»


Sebab bunga bukan milik batang.


Harum bukan milik kelopak.


Cahaya bukan milik manusia.


Segala keindahan penghambaan adalah karunia dari Alloh dan harus dikembalikan kepada-Nya dalam bentuk syukur, ketaatan, serta kerendahan hati.


---


تنبيه الختام


PENJELASAN PENTING SEBELUM PENUTUP


Dalam bahasa sehari-hari, kata sembahyang lazim dipakai sebagai sebutan lain bagi solat. Keduanya dapat menunjuk ibadah yang sama.


Namun di dalam perlambangan Qitab Arzzi Fil Azrri, kedua istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan dua keadaan penghayatan, bukan dua ajaran ibadah yang berbeda.


Sembahyang dalam perlambangan Qitab ini menjadi sebutan bagi gerakan yang dilakukan, tetapi belum sepenuhnya hidup dalam kesadaran dan akhlak.


Solat menjadi sebutan bagi ibadah yang bentuk lahirnya dijaga melalui syariat serta makna batinnya dihidupkan melalui niat, ilmu, kekhusyukan, taubat, amanah, dan akhlak.


Karena itu, jangan menggunakan Qitab ini untuk berkata kepada orang lain:


«“Kamu hanya sembahyang, sedangkan aku sudah solat.”»


Ucapan seperti itu justru bertentangan dengan seluruh isi Qitab.


Barang siapa merasa lebih tinggi karena ibadahnya, hendaklah ia kembali mengingat sujud.


Barang siapa merasa pasti mengetahui isi hati manusia, hendaklah ia kembali mengingat bahwa hanya Alloh Yang Maha Mengetahui keadaan batin setiap hamba.


Qitab ini adalah cermin untuk diri sendiri.


Bukan pedang untuk menebas kehormatan orang lain.


---


الباب الثامن


BĀB KEDELAPAN


Pertemuan Kitab dan Qitab


Pada permulaan perjalanan telah dikatakan:


Kitab adalah tulisan yang dibaca oleh mata.


Qitab adalah makna yang dibaca oleh qalbu.


Namun pada penutup ini harus ditegaskan:


Kitab dan Qitab bukan musuh.


Keduanya tidak boleh dipertentangkan.


Kitab menjaga bentuk.


Qitab menghidupkan makna.


Kitab mengajarkan syarat, rukun, waktu, bacaan, gerakan, dan batas.


Qitab mengajak manusia memeriksa niat, kesadaran, kerendahan hati, kejujuran, amanah, dan buah akhlak.


Tanpa Kitab, perasaan dapat berjalan tanpa tuntunan.


Tanpa Qitab, pengetahuan dapat tinggal sebagai huruf yang tidak menyentuh kehidupan.


Kitab adalah peta.


Qitab adalah kesadaran untuk berjalan.


Kitab adalah bejana.


Qitab adalah air yang menghidupkan.


Kitab adalah daun yang menyerap cahaya.


Qitab adalah bunga yang mengeluarkan harum.


Daun yang sehat tidak bertentangan dengan bunga.


Bunga tumbuh karena daun, batang, akar, air, tanah, dan cahaya bekerja bersama.


Demikian pula solat yang hidup tidak memisahkan:


Syariat dari hakikat.


Ilmu dari rasa.


Jasad dari qalbu.


Bacaan dari perbuatan.


Sujud dari akhlak.


Doa dari ikhtiar.


Cinta kepada Alloh dari tanggung jawab kepada manusia.


Pertemuan Kitab dan Qitab melahirkan ibadah yang utuh.


Tubuhnya tertib.


Niatnya lurus.


Ilmunya benar.


Qalbunya terus belajar hadir.


Akhlaknya membawa keselamatan.


---


سرّ الزهرة المقدسة


RAHASIA TERAKHIR BUNGA SUCI


Bunga suci bukanlah bunga yang tidak pernah diterpa angin.


Bunga suci adalah bunga yang tetap terhubung kepada akar ketika angin datang.


Manusia yang solat bukan manusia yang tidak pernah gelisah.


Ia adalah manusia yang mengetahui tempat untuk kembali ketika gelisah.


Ia bukan manusia yang tidak pernah marah.


Ia adalah manusia yang terus belajar agar kemarahannya tidak berubah menjadi kezaliman.


Ia bukan manusia yang tidak pernah salah.


Ia adalah manusia yang tidak membiarkan kesalahan menjadi tempat tinggal.


Ia bukan manusia yang selalu merasakan cahaya.


Ia adalah manusia yang tetap taat ketika rasa cahaya tidak hadir.


Ia bukan manusia yang selalu menangis dalam ibadah.


Ia adalah manusia yang berusaha menjaga hati meskipun matanya tidak meneteskan air.


Ia bukan manusia yang telah sempurna.


Ia adalah manusia yang terus bersedia diperbaiki.


Bunga suci tidak mekar karena manusia telah menjadi malaikat.


Ia mekar karena manusia, dengan segala kelemahannya, masih memilih kembali kepada Alloh.


---


سرّ الورقة اليابسة


RAHASIA TERAKHIR DAUN KERING


Daun kering dalam Qitab ini bukan lambang orang yang harus dihina.


Ia adalah lambang peringatan.


Daun menjadi kering ketika aliran kehidupan terputus.


Namun daun yang jatuh tidak selalu menjadi sia-sia.


Ia kembali ke tanah.


Ia hancur.


Ia menjadi bagian dari unsur yang menyuburkan kehidupan baru.


Demikian pula masa lalu manusia.


Kelalaian yang disesali dapat menjadi tanah taubat.


Kesombongan yang diakui dapat menjadi pintu tawaduk.


Kegagalan yang direnungkan dapat menjadi guru.


Luka yang disembuhkan dengan benar dapat melahirkan kasih sayang.


Kesalahan yang diperbaiki dapat membuat seseorang lebih berhati-hati.


Jangan membanggakan kekeringan.


Namun jangan pula berputus asa karenanya.


Daun kering mengajarkan bahwa sesuatu yang dahulu kehilangan kehidupan masih dapat dikembalikan kepada tanah, kemudian menjadi bagian dari pertumbuhan baru.


Taubat adalah cara manusia kembali ke tanah kerendahan hati.


Di sanalah akar baru dapat tumbuh.


---


من الحركة إلى الحياة


DARI GERAKAN MENUJU KEHIDUPAN


Solat dimulai sebagai gerakan yang diajarkan.


Anak kecil belajar berdiri.


Belajar mengangkat tangan.


Belajar rukuk.


Belajar sujud.


Belajar bacaan.


Belajar salam.


Pada awalnya ia mungkin belum memahami seluruh makna.


Namun bentuk itu penting.


Bentuk adalah pintu.


Ketika usia dan pemahaman bertambah, gerakan harus mulai diisi dengan kesadaran.


Takbir tidak hanya diucapkan, tetapi direnungkan.


Al-Fatihah tidak hanya dibaca, tetapi dipahami.


Rukuk tidak hanya dilakukan, tetapi dibawa menjadi kerendahan hati.


Sujud tidak hanya menyentuhkan dahi, tetapi mengajarkan pelepasan kesombongan.


Salam tidak hanya mengakhiri rakaat, tetapi membuka tanggung jawab terhadap sesama.


Perjalanan dari gerakan menuju kehidupan tidak selalu cepat.


Ada orang yang memahami makna lebih awal.


Ada yang baru tersentuh setelah bertahun-tahun.


Ada yang merasakan perubahan ketika menghadapi ujian.


Ada yang mulai mengerti setelah kehilangan.


Ada yang kembali ketika usia telah menua.


Tidak ada alasan untuk menghina orang yang masih belajar.


Bisa jadi orang yang tampak lambat sedang berjuang dengan beban yang tidak kita ketahui.


Tugas seorang hamba adalah saling mengingatkan dengan ilmu dan kasih sayang.


---


من العادة إلى العبادة


DARI KEBIASAAN MENUJU PENGHAMBAAN


Kebiasaan dapat menjadi pintu kebaikan.


Orang yang terbiasa solat tepat waktu akan lebih mudah menjaga waktu.


Tubuh yang telah terbiasa melakukan gerakan akan lebih mudah menunaikannya.


Namun kebiasaan harus terus disadarkan agar tidak menjadi kosong.


Untuk mengubah kebiasaan menjadi penghambaan, seorang hamba perlu menghadirkan tiga perkara:


Kesadaran Sebelum Solat


Berhenti sejenak.


Sadari bahwa diri sedang memenuhi panggilan Alloh.


Bukan sekadar menggugurkan gerakan.


Bukan sekadar menyelesaikan tugas.


Kesadaran di Dalam Solat


Pahami bahwa setiap gerakan memiliki makna.


Ketika pikiran pergi, kembalikan.


Ketika tubuh terburu-buru, tenangkan.


Ketika rasa tidak hadir, tetaplah taat.


Kesadaran Setelah Solat


Bawa satu pesan ke dalam kehidupan.


Misalnya:


Setelah Subuh, jaga harapan.


Setelah Zuhur, jaga diri dari tenggelam dalam kesibukan.


Setelah Asar, ingat bahwa waktu berkurang.


Setelah Magrib, kembalilah kepada keluarga dan ketenangan.


Setelah Isya, serahkan kelelahan kepada Alloh.


Apabila ini dilakukan terus-menerus, kebiasaan perlahan berubah menjadi jalan kesadaran.


---


من الخشوع إلى الأخلاق


DARI KHUSYUK MENUJU AKHLAK


Khusyuk bukan hanya ketenangan gerak.


Ia bukan sekadar menundukkan kepala.


Ia bukan hanya suara yang dilembutkan.


Khusyuk adalah keadaan hati yang merendah dan sadar sedang menghadap Alloh.


Namun khusyuk tidak boleh berhenti di dalam rakaat.


Ia harus melahirkan akhlak.


Khusyuk dalam berdiri melahirkan kesiapan menerima perintah.


Khusyuk dalam rukuk melahirkan kemampuan menerima nasihat.


Khusyuk dalam sujud melahirkan kerendahan hati.


Khusyuk dalam doa melahirkan kesabaran dalam ikhtiar.


Khusyuk dalam salam melahirkan tanggung jawab untuk menjaga keselamatan orang lain.


Apabila seseorang terlihat tenang dalam solat tetapi sangat kasar di rumah, ia masih harus menghubungkan kekhusyukan dengan akhlak.


Apabila seseorang menangis saat berdoa tetapi tidak mau menyelesaikan hak manusia, air matanya harus dilanjutkan dengan tindakan.


Apabila seseorang gemetar ketika berdzikir tetapi tetap menipu dalam pekerjaan, getaran itu belum menjadi penjaga.


Rasa khusyuk adalah bunga.


Akhlak adalah buahnya.


---


من السجادة إلى الحياة


DARI SAJADAH MENUJU SELURUH KEHIDUPAN


Sajadah adalah tempat dahi bersujud.


Namun seluruh bumi adalah tempat manusia menjalankan amanah.


Setelah sajadah dilipat, solat belum hilang.


Ia harus masuk ke dalam rumah.


Di rumah, solat menjadi kelembutan.


Menjaga ucapan kepada pasangan.


Menghormati orang tua.


Mendidik anak tanpa penghinaan.


Menunaikan nafkah.


Membagi tanggung jawab.


Meminta maaf ketika salah.


Di tempat kerja, solat menjadi amanah.


Datang dengan tanggung jawab.


Tidak memalsukan pekerjaan.


Tidak mengambil hak.


Tidak menipu laporan.


Tidak mengkhianati kepercayaan.


Di pasar, solat menjadi kejujuran.


Timbangan dijaga.


Harga dijelaskan.


Kekurangan barang tidak disembunyikan.


Keuntungan tidak dibangun dari kebohongan.


Di jalan, solat menjadi disiplin dan kepedulian.


Tidak membahayakan pengguna lain.


Tidak merasa jalan milik sendiri.


Tidak melampiaskan amarah.


Di dalam ilmu, solat menjadi tawaduk.


Berani berkata belum tahu.


Tidak menjual dugaan sebagai kepastian.


Tidak mempermalukan orang yang bertanya.


Di media, solat menjadi penjagaan jari.


Tidak menyebarkan kabar yang belum jelas.


Tidak menjadikan aib sebagai hiburan.


Tidak memakai agama untuk memukul kehormatan manusia.


Di tengah perbedaan, solat menjadi adab.


Teguh tanpa menghina.


Berbeda tanpa memfitnah.


Membantah tanpa kehilangan kasih sayang.


Inilah solat yang meninggalkan sajadah, tetapi tidak meninggalkan pemiliknya.


---


الصلاة والحقوق


SOLAT DAN HAK-HAK MANUSIA


Salah satu ujian terbesar ibadah adalah hubungan dengan hak manusia.


Ada manusia yang merasa cukup karena banyak berdoa, tetapi lupa kepada utangnya.


Ada yang panjang sujudnya, tetapi menahan upah orang lain.


Ada yang rajin berdzikir, tetapi menyebarkan fitnah.


Ada yang banyak berbicara tentang cahaya, tetapi keluarga hidup dalam ketakutan.


Ada yang merasa dekat kepada Alloh, tetapi sulit meminta maaf.


Qitab ini menegaskan:


«Ibadah tidak boleh dijadikan tempat bersembunyi dari tanggung jawab.»


Apabila ada hak yang diambil, kembalikan.


Apabila ada utang, usahakan membayar dan jelaskan keadaan dengan jujur.


Apabila ada fitnah, luruskan.


Apabila ada luka yang ditimbulkan, mintalah maaf.


Apabila ada janji, tunaikan.


Apabila belum mampu menyelesaikan semuanya sekaligus, mulailah dengan langkah nyata.


Taubat kepada Alloh harus mendorong keberanian memperbaiki hubungan dengan manusia.


Air mata tidak menggantikan hak.


Dzikir tidak menggantikan amanah.


Doa tidak menggantikan ikhtiar.


Semua harus dipertemukan.


---


الصلاة والرحمة


SOLAT DAN KASIH SAYANG


Setiap hari seorang hamba menyebut:


Ar-Raḥmānir-Raḥīm.


Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Penyebutan itu harus menumbuhkan kasih sayang.


Bukan kasih sayang tanpa batas yang membiarkan kezaliman.


Bukan pula ketegasan yang kehilangan hati.


Kasih sayang yang lahir dari solat memiliki keseimbangan.


Ia lembut kepada yang lemah.


Tegas kepada kezaliman.


Sabar membimbing yang belum tahu.


Berani menghentikan bahaya.


Memaafkan ketika maaf membawa kebaikan.


Menetapkan batas ketika batas diperlukan.


Kasih sayang tidak berarti selalu mengatakan iya.


Kadang-kadang kasih sayang berkata tidak.


Tidak kepada kekerasan.


Tidak kepada penipuan.


Tidak kepada hubungan yang merusak.


Tidak kepada penyalahgunaan agama.


Tidak kepada penghinaan.


Namun penolakan tetap dilakukan dengan adab dan tujuan memperbaiki.


Orang yang solat tidak boleh kehilangan kemanusiaannya.


Semakin sering menyebut rahmat Alloh, seharusnya semakin berat baginya untuk menikmati penderitaan orang lain.


---


الصلاة والعدل


SOLAT DAN KEADILAN


Barisan solat mengajarkan keteraturan.


Semua berdiri pada tempatnya.


Tidak boleh saling mendahului tanpa hak.


Tidak boleh merampas ruang.


Tidak boleh mengganggu jamaah.


Dari sini lahir pelajaran keadilan.


Adil berarti memberikan hak dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.


Keadilan paling sulit diuji ketika berhadapan dengan orang yang tidak disukai.


Apakah kita tetap mengakui kebenarannya?


Apakah kita tetap menolak fitnah terhadapnya?


Apakah kita tetap memberi haknya?


Sebaliknya, keadilan juga diuji ketika orang dekat melakukan kesalahan.


Apakah kita menutup mata karena hubungan?


Apakah kita membela kesalahan hanya karena kelompok?


Apakah kita memutar fakta demi menjaga nama?


Solat yang hidup melatih manusia agar tidak diperbudak kebencian maupun fanatisme.


Kebenaran tetap kebenaran meskipun datang dari orang yang tidak kita sukai.


Kesalahan tetap kesalahan meskipun dilakukan orang yang kita cintai.


---


الصلاة والاختلاف


SOLAT DAN PERBEDAAN


Dalam satu barisan, manusia memiliki wajah, usia, pekerjaan, sifat, dan pengalaman yang berbeda.


Namun mereka menghadap arah yang sama.


Ini mengajarkan bahwa persatuan tidak selalu berarti semua orang harus sama dalam seluruh perkara.


Perbedaan akan selalu ada.


Yang harus dijaga adalah adab, kebenaran, dan tujuan bersama.


Manusia dapat berbeda pendapat tanpa saling mencabut kehormatan.


Ia dapat menjelaskan keyakinannya tanpa memaksakan penghinaan.


Ia dapat menolak pandangan tanpa menuduh isi hati.


Ia dapat menjaga batas agama tanpa berubah menjadi kasar.


Solat mengajarkan bahwa manusia berdiri berdampingan.


Barangkali orang di samping kita memiliki banyak kekurangan.


Namun kita pun memiliki kekurangan yang mungkin tidak terlihat olehnya.


Kesadaran ini melahirkan tawaduk.


Jangan menjadikan perbedaan sebagai makanan ego.


Jangan memakai agama agar diri terlihat paling tinggi.


Sampaikan kebenaran dengan ilmu.


Jaga manusia dengan adab.


Serahkan penilaian hati kepada Alloh.


---


الصلاة والتجربة الروحية


SOLAT DAN PENGALAMAN RUHANI


Dalam perjalanan ibadah, seseorang dapat merasakan banyak hal.


Ketenangan.


Air mata.


Kehangatan.


Getaran.


Keringanan tubuh.


Mimpi.


Bayangan.


Perasaan dekat.


Perasaan takut.


Semua itu dapat menjadi pengalaman pribadi.


Namun pengalaman tidak boleh dijadikan dasar untuk mengubah syariat.


Tidak boleh pula dijadikan bukti pasti bahwa seseorang memiliki kedudukan tinggi.


Timbangan pengalaman ruhani bukan terletak pada keanehannya.


Timbangannya adalah buahnya.


Apakah pengalaman itu membuat seseorang lebih taat?


Lebih jujur?


Lebih amanah?


Lebih rendah hati?


Lebih lembut kepada keluarga?


Lebih hati-hati terhadap hak manusia?


Apabila pengalaman justru menumbuhkan kesombongan, tuntutan untuk dihormati, pengakuan mutlak, atau keberanian meninggalkan kewajiban, maka pengalaman itu harus diperiksa dan tidak boleh diikuti begitu saja.


Qitab bukan pintu untuk membangun pengakuan diri.


Qitab adalah cermin agar manusia semakin sadar sebagai hamba.


---


الصلاة عند الجفاف


SOLAT KETIKA HATI KERING


Tidak semua solat terasa indah.


Ada masa ketika hati ringan.


Ada masa ketika hati berat.


Ada masa ketika bacaan menggetarkan.


Ada masa ketika bacaan terasa biasa.


Ada masa ketika air mata mengalir.


Ada masa ketika mata tetap kering.


Jangan jadikan rasa sebagai satu-satunya ukuran.


Hati yang kering bukan alasan meninggalkan solat.


Bisa jadi justru pada masa kering, ketulusan sedang diuji.


Apakah seseorang beribadah karena Alloh?


Ataukah hanya karena ingin memperoleh rasa?


Ketika hati kering:


Periksa niat.


Pelajari arti bacaan.


Jaga tumakninah.


Kurangi ketergesa-gesaan.


Istirahatkan tubuh apabila sangat lelah.


Selesaikan hak yang belum ditunaikan.


Bertaubat dari kesalahan yang disadari.


Kurangi kebisingan yang memenuhi pikiran.


Mintalah pertolongan kepada Alloh.


Jangan memaksa diri merasakan sesuatu yang luar biasa.


Datanglah apa adanya.


Katakan:


«“Ya Alloh, aku datang meskipun hatiku belum mampu merasakan kedekatan. Aku tetap datang karena Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu.”»


Ketaatan dalam kekeringan dapat menjadi akar yang sangat dalam.


---


الصلاة عند الألم


SOLAT KETIKA MENGALAMI LUKA


Ada orang yang datang kepada solat sambil membawa luka.


Luka kehilangan.


Luka pengkhianatan.


Luka keluarga.


Luka kemiskinan.


Luka kegagalan.


Luka penghinaan.


Luka yang tidak mudah diceritakan.


Solat bukan tempat manusia dipaksa pura-pura baik-baik saja.


Di hadapan Alloh, seorang hamba boleh mengakui kesedihannya.


Ia boleh menangis.


Ia boleh merasa lemah.


Ia boleh memohon kekuatan.


Namun solat juga mengajarkan agar luka tidak berubah menjadi izin untuk menzalimi.


Seseorang yang pernah disakiti tidak otomatis boleh menyakiti.


Seseorang yang dikhianati tidak harus hidup dalam kebencian selamanya.


Memaafkan bukan selalu berarti kembali dekat.


Kadang-kadang memaafkan berarti melepaskan beban sambil tetap menjaga batas.


Solat membawa luka menghadap Alloh agar luka diproses menjadi kebijaksanaan, bukan diwariskan sebagai kekerasan kepada orang lain.


---


الصلاة عند القوة


SOLAT KETIKA MEMILIKI KEKUATAN


Ibadah tidak hanya diuji ketika manusia lemah.


Ia juga diuji ketika kuat.


Ketika memiliki harta.


Ketika memiliki jabatan.


Ketika memiliki pengikut.


Ketika memiliki ilmu.


Ketika ucapannya didengar.


Ketika orang lain takut kepadanya.


Pada saat itulah sujud harus benar-benar hidup.


Apakah kekuatan digunakan untuk melindungi?


Ataukah untuk menguasai?


Apakah jabatan menjadi pelayanan?


Ataukah singgasana ego?


Apakah ilmu menjadi cahaya?


Ataukah alat mempermalukan?


Apakah pengikut dibimbing?


Ataukah dimanfaatkan?


Orang yang memahami solat tidak merasa dirinya menjadi tuhan kecil atas orang lain.


Ia tetap sadar sebagai hamba.


Semakin besar kekuatan, semakin besar pertanggungjawaban.


Semakin tinggi kedudukan, semakin berat amanah.


Semakin banyak pengikut, semakin kuat kebutuhan untuk bersikap jujur dan menerima koreksi.


---


الصلاة عند الضعف


SOLAT KETIKA MERASA LEMAH


Kelemahan juga memiliki ujian.


Manusia dapat merasa tidak berdaya.


Merasa tidak berguna.


Merasa tertinggal.


Merasa hidupnya gagal.


Solat mengingatkan bahwa nilai manusia tidak hanya diukur dari keberhasilan dunia.


Seorang hamba yang sedang sakit tetap memiliki nilai.


Orang yang kehilangan pekerjaan tetap memiliki kehormatan.


Orang yang belum mencapai cita-cita tetap memiliki jalan.


Orang yang pernah jatuh tetap dapat bangkit.


Namun tawakal tidak berarti berhenti berusaha.


Doa harus berjalan bersama ikhtiar.


Solat memberi tempat untuk mengumpulkan kekuatan.


Setelah salam, manusia harus kembali melakukan langkah yang mampu dilakukan.


Mencari pertolongan.


Belajar.


Bekerja.


Berobat.


Memperbaiki hubungan.


Menyusun ulang kehidupan.


Sedikit demi sedikit.


Kelemahan bukan bukti Alloh membenci.


Kekuatan bukan bukti seseorang paling dicintai.


Keduanya adalah keadaan yang mengandung ujian.


---


الصلاة والموت


SOLAT DAN KESADARAN AKAN KEMATIAN


Setiap takbir membawa manusia mendekati satu kenyataan:


Hidup memiliki batas.


Suatu hari, tubuh tidak lagi berdiri.


Mulut tidak lagi membaca.


Dahi tidak lagi bergerak menuju sujud.


Waktu amal akan selesai.


Kesadaran tentang kematian bukan untuk menakut-nakuti hingga manusia kehilangan harapan.


Ia untuk meluruskan prioritas.


Apakah permusuhan kecil layak dibawa bertahun-tahun?


Apakah kesombongan layak dipelihara?


Apakah hak manusia pantas terus ditunda?


Apakah harta haram layak dikumpulkan?


Apakah kita yakin masih memiliki waktu untuk meminta maaf esok hari?


Solat yang dilakukan hari ini mungkin menjadi salah satu solat terakhir tanpa kita ketahui.


Karena itu, berdirilah dengan kesadaran.


Rukuklah dengan kerendahan.


Sujudlah dengan taubat.


Bersalamlah dengan niat membawa kedamaian.


Kematian akan menutup kitab amal manusia.


Namun selama napas masih ada, halaman baru masih dapat ditulis.


---


آخر تكبير


TAKBIR TERAKHIR DALAM KEHIDUPAN


Tidak seorang pun mengetahui kapan ia akan mengucapkan takbir terakhir.


Mungkin pada usia tua.


Mungkin sebelum itu.


Karena ketidakpastian inilah, setiap takbir harus dihargai.


Allohu Akbar.


Alloh lebih besar daripada ketakutan kita.


Lebih besar daripada luka kita.


Lebih besar daripada kesombongan kita.


Lebih besar daripada harta dan jabatan.


Lebih besar daripada pujian dan hinaan.


Lebih besar daripada seluruh masalah yang memenuhi pikiran.


Namun pengucapan itu harus membawa perubahan.


Apabila Alloh Mahabesar, mengapa pujian manusia menjadi penguasa hati?


Apabila Alloh Mahabesar, mengapa harta membuat kita berani melanggar?


Apabila Alloh Mahabesar, mengapa kita merasa tidak perlu bertaubat?


Takbir terakhir tidak diketahui.


Maka jangan menunda untuk menghidupkan takbir hari ini.


---


آخر ركوع


RUKUK TERAKHIR


Suatu hari, manusia akan melakukan rukuk terakhirnya.


Punggung yang dahulu kuat akan melemah.


Tubuh yang dahulu tegak akan kembali ke tanah.


Rukuk mengajarkan sebelum saat itu tiba:


Tundukkan ego.


Terima kebenaran.


Akui kesalahan.


Jangan menunggu hidup merendahkan kita dengan cara yang berat sebelum kita mau merendah di hadapan Alloh.


Rukuk bukan kehinaan.


Ia adalah kesadaran bahwa tidak semua hal harus tunduk kepada kehendak kita.


Manusia memiliki rencana.


Alloh memiliki ketetapan.


Manusia berusaha.


Hasil berada dalam kekuasaan-Nya.


Rukuk mengajarkan penerimaan tanpa kemalasan.


Tunduk tanpa kehilangan ikhtiar.


---


آخر سجود


SUJUD TERAKHIR


Suatu hari, dahi akan melakukan sujud terakhir.


Tidak ada yang mengetahui kapan.


Maka setiap sujud adalah kesempatan.


Kesempatan mengakui kelemahan.


Kesempatan memohon ampun.


Kesempatan meletakkan kesombongan.


Kesempatan memohon petunjuk.


Kesempatan menyerahkan luka.


Kesempatan mengingat asal.


Sujud terakhir nanti mungkin tampak sama dengan sujud sebelumnya.


Namun bagi manusia, ia adalah penutup kesempatan.


Karena itu, jangan isi sujud hanya dengan tuntutan dunia.


Mintalah juga hati yang lurus.


Mintalah rezeki yang halal.


Mintalah keberanian memperbaiki kesalahan.


Mintalah kemampuan menjaga amanah.


Mintalah akhir hidup yang baik.


Dan jangan merasa sujud menjadikan diri lebih tinggi daripada orang lain.


Buah sujud adalah semakin kecilnya ego.


---


آخر سلام


SALAM TERAKHIR


Setiap solat ditutup dengan salam.


Namun suatu hari akan datang salam terakhir yang tidak diikuti solat berikutnya.


Sebelum saat itu tiba, jadikan salam sebagai perjanjian hidup.


Biarkan orang lain selamat dari lisanmu.


Selamat dari tanganmu.


Selamat dari tipu dayamu.


Selamat dari penyalahgunaan kekuasaanmu.


Selamat dari fitnahmu.


Selamat dari kesombonganmu.


Salam tidak berarti manusia harus menyenangkan semua orang.


Kadang-kadang menjaga keselamatan berarti menegur.


Kadang-kadang menetapkan batas.


Kadang-kadang menolak kezaliman.


Namun semuanya dilakukan tanpa kehilangan tanggung jawab dan adab.


Apabila kelak seseorang mengucapkan salam terakhirnya, semoga ia meninggalkan jejak keselamatan, bukan jejak ketakutan.


---


ميثاق الزهرة المقدسة


PERJANJIAN BUNGA SUCI


Wahai pembaca Qitab Arzzi Fil Azrri, jangan membuat perjanjian kepada tulisan ini.


Buatlah komitmen kepada Alloh dalam ketaatan yang sesuai tuntunan.


Perjanjian bunga suci adalah perjanjian muhasabah:


Aku akan menjaga solat tanpa merasa lebih suci daripada manusia lain.


Aku akan terus belajar tata cara dan maknanya.


Aku akan berusaha memahami bacaan.


Aku akan terus kembali ketika pikiran berpaling.


Aku akan membawa sujud menjadi kerendahan hati.


Aku akan membawa salam menjadi keselamatan.


Aku akan menyelesaikan hak manusia semampuku.


Aku akan menguji pengalaman batin dengan syariat, ilmu, akhlak, akal sehat, dan dampaknya.


Aku tidak akan menjadikan ibadah sebagai alat memperoleh pengagungan.


Aku tidak akan menjadikan Qitab sebagai alasan meremehkan Kitab.


Aku tidak akan menjadikan Kitab sebagai huruf yang terpisah dari akhlak.


Aku akan berusaha menjadikan rumah sebagai tempat pertama mekarnya bunga solat.


Aku akan tetap bertaubat ketika jatuh.


Aku akan tetap berharap kepada rahmat Alloh tanpa meremehkan tanggung jawab.


Komitmen ini bukan sumpah kesempurnaan.


Ia adalah pengakuan bahwa perjalanan harus terus dilanjutkan.


---


سبع مرايا للصلاة


TUJUH CERMIN SOLAT


Sebelum Qitab ini ditutup, letakkanlah tujuh cermin di hadapan diri.


Cermin Pertama: Niat


Apakah aku berdiri karena Alloh atau karena penilaian manusia?


Cermin Kedua: Ilmu


Apakah solatku telah mengikuti tuntunan yang benar, atau hanya mengikuti kebiasaan tanpa belajar?


Cermin Ketiga: Kehadiran


Apakah aku berusaha kembali ketika pikiran pergi?


Cermin Keempat: Akhlak


Apakah solat membuat lisanku lebih terjaga dan tanganku lebih aman?


Cermin Kelima: Amanah


Apakah aku menunaikan hak, janji, pekerjaan, dan tanggung jawab?


Cermin Keenam: Kerendahan Hati


Apakah ibadah membuatku semakin mudah menerima nasihat atau semakin sulit dikoreksi?


Cermin Ketujuh: Kasih Sayang


Apakah keluarga dan manusia di sekitarku merasakan keselamatan dari keberadaanku?


Jangan gunakan cermin ini untuk memeriksa wajah orang lain.


Gunakan untuk melihat diri.


Apabila ditemukan noda, bersihkan.


Apabila ditemukan luka, rawat.


Apabila ditemukan kekeringan, siram.


Apabila terlihat bunga mulai tumbuh, bersyukur dan jangan membanggakan.


---


سبع وصايا للورقة اليابسة


TUJUH PESAN BAGI DAUN YANG MENGERING


Apabila hati terasa seperti daun kering, peganglah tujuh pesan ini.


Jangan Tinggalkan Solat


Kekeringan bukan alasan memutus akar.


Jangan Kejar Rasa Secara Berlebihan


Datanglah sebagai hamba, bukan pemburu pengalaman.


Pelajari Kembali Bacaan


Makna yang dipahami dapat menghidupkan kesadaran.


Perbaiki Satu Hak Manusia


Kadang hati kering karena membawa beban tanggung jawab yang belum diselesaikan.


Kurangi Kebisingan


Berikan ruang bagi pikiran untuk tenang.


Rawat Tubuh dan Pikiran


Kelelahan fisik dan tekanan batin dapat memengaruhi kekhusyukan.


Teruslah Bertaubat dan Berharap


Rahmat Alloh tidak boleh dibatasi oleh keputusasaan manusia.


Daun yang mengering masih dapat kembali ke tanah.


Dari tanah, kehidupan dapat dimulai lagi.


---


سبع علامات الزهرة الحية


TUJUH TANDA BUNGA YANG HIDUP


Bunga solat mulai hidup ketika terlihat beberapa tanda.


Kejujuran Bertambah


Walaupun kadang merugikan diri sendiri.


Kesombongan Berkurang


Walaupun ilmu dan pengalaman bertambah.


Amanah Menguat


Walaupun tidak ada yang mengawasi.


Kasih Sayang Meluas


Terutama kepada keluarga dan orang lemah.


Taubat Menjadi Lebih Cepat


Tidak nyaman tinggal lama dalam kesalahan.


Hak Manusia Lebih Diperhatikan


Utang, janji, ucapan, dan titipan tidak dianggap ringan.


Penilaian terhadap Orang Lain Lebih Hati-Hati


Karena sadar hanya Alloh mengetahui seluruh keadaan batin.


Tanda-tanda ini tidak menjadikan seseorang sempurna.


Ia hanya menunjukkan bahwa air mulai mengalir dari akar menuju bunga.


---


وصية إلى أهل الكتاب


PESAN KEPADA ORANG YANG MENJAGA KITAB


Wahai orang yang tekun mempelajari hukum dan bentuk ibadah:


Jagalah ilmu itu.


Syariat adalah cahaya penuntun.


Namun jangan berhenti pada huruf.


Bawalah ilmu menuju akhlak.


Jangan gunakan pengetahuan untuk mempermalukan orang yang belum memahami.


Ajarkan dengan sabar.


Luruskan dengan dalil dan adab.


Jangan merasa ilmu menjadikan diri tidak mungkin salah.


Semakin banyak pengetahuan, semakin besar tanggung jawab.


Kitab yang benar seharusnya mengantar kepada ketundukan.


Apabila ilmu membuat manusia semakin kasar, periksa cara hati membawanya.


Jangan salahkan Kitab.


Perbaikilah pembacanya.


---


وصية إلى أهل القِتاب


PESAN KEPADA ORANG YANG MENGEJAR MAKNA BATIN


Wahai orang yang mencintai rasa, simbol, perenungan, dan makna ruhani:


Jagalah hatimu.


Namun jangan meninggalkan pijakan.


Tidak setiap bisikan adalah petunjuk.


Tidak setiap mimpi adalah pesan.


Tidak setiap rasa adalah kebenaran.


Tidak setiap cahaya batin adalah bukti kedudukan.


Timbanglah dengan tauhid.


Timbanglah dengan Al-Qur’an dan Sunnah melalui pemahaman yang bertanggung jawab.


Timbanglah dengan ilmu.


Timbanglah dengan akhlak.


Timbanglah dengan akal sehat.


Timbanglah dengan dampaknya.


Apabila makna batin membuatmu meremehkan kewajiban, itu bukan jalan yang benar.


Apabila pengalaman membuatmu merasa tidak dapat salah, berhati-hatilah.


Apabila perasaan membuatmu menuntut manusia tunduk, kembalilah kepada sujud.


Qitab yang benar tidak membatalkan Kitab.


Ia menghidupkan ketaatan kepada Alloh.


---


وصية إلى المعلم


PESAN KEPADA PARA PEMBIMBING


Barang siapa membimbing orang lain dalam perkara agama, akhlak, atau keruhanian, hendaklah memegang amanah besar.


Jangan menggunakan ketidaktahuan murid untuk menguasai.


Jangan menggunakan ketakutan mereka untuk mengambil keuntungan secara zalim.


Jangan membangun ketergantungan mutlak kepada diri pembimbing.


Arahkan mereka kepada Alloh.


Ajarkan agar mereka belajar.


Dorong mereka memeriksa sumber.


Jangan klaim mengetahui seluruh rahasia batin seseorang.


Jangan menukar nasihat dengan pengagungan.


Pembimbing yang baik tidak menjadikan dirinya kiblat.


Ia hanya membantu menunjukkan arah.


Ia sadar dirinya pun hamba yang masih membutuhkan petunjuk.


Semakin banyak orang mempercayainya, semakin berhati-hati ia berbicara.


Semakin dihormati, semakin kuat ia menjaga tawaduk.


---


وصية إلى المتعلم


PESAN KEPADA ORANG YANG BELAJAR


Wahai orang yang mencari ilmu:


Hormati guru, tetapi jangan menuhankan manusia.


Terimalah bimbingan, tetapi tetaplah belajar dan memeriksa.


Jangan mengikuti setiap ucapan hanya karena terdengar sakral.


Jangan menganggap seluruh pengalaman pribadi sebagai hukum umum.


Ajukan pertanyaan dengan adab.


Akui ketika belum tahu.


Jangan malu memulai dari dasar.


Tidak ada kehinaan dalam belajar tata cara wudu dan solat dengan benar.


Tidak ada kemuliaan dalam berbicara tinggi tetapi mengabaikan dasar.


Belajar adalah bagian dari tawaduk.


Semakin jujur seseorang mengakui ketidaktahuannya, semakin terbuka pintu ilmu.


---


وصية إلى الأسرة


PESAN KEPADA KELUARGA


Jadikan rumah sebagai taman pertama bunga suci.


Jangan hanya memerintahkan solat.


Bangun suasana yang membuat solat dicintai.


Ajarkan dengan contoh.


Orang tua yang memerintahkan anak solat harus berusaha menunjukkan akhlak solat.


Pasangan yang mengajak kepada ibadah harus saling menjaga kehormatan.


Jangan gunakan agama untuk membenarkan kekerasan.


Jangan jadikan nasihat sebagai penghinaan.


Buatlah ruang untuk bertanya.


Buatlah ruang untuk meminta maaf.


Buatlah ruang untuk belajar bersama.


Rumah tidak harus sempurna.


Namun ia harus menjadi tempat manusia dapat kembali tanpa kehilangan rasa aman.


---


وصية إلى أهل السوق والعمل


PESAN KEPADA PARA PEKERJA DAN PEDAGANG


Bawalah solat ke dalam pekerjaan.


Jangan tinggalkan amanah di atas sajadah.


Hindari penipuan.


Jaga kualitas.


Jelaskan kekurangan barang.


Bayar pekerja dengan adil.


Jangan memalsukan catatan.


Jangan menggunakan agama untuk meyakinkan pembeli terhadap sesuatu yang tidak benar.


Rezeki halal mungkin tidak selalu datang dengan cepat.


Namun ketenangan tidak dapat dibeli oleh keuntungan yang dibangun di atas kezaliman.


Doa meminta rezeki harus disertai penjagaan cara mencarinya.


Bunga solat di pasar bernama kejujuran.


---


وصية إلى صاحب السلطة


PESAN KEPADA PEMEGANG KEKUASAAN


Wahai orang yang dipercaya memimpin:


Ingatlah bahwa dalam solat engkau berdiri sebagai hamba.


Jabatan tidak ikut bersujud.


Kekuasaan bukan bukti bahwa engkau selalu benar.


Dengarkan nasihat.


Jangan takut kepada kritik yang disampaikan dengan benar.


Lindungi yang lemah.


Jangan gunakan agama untuk menutup pertanyaan.


Jangan jadikan pengikut sebagai benteng kesombongan.


Semakin besar kekuasaanmu, semakin besar kebutuhan untuk mengingat tanah tempat dahimu bersujud.


Kekuasaan yang hidup oleh solat akan menjadi pelayanan.


Kekuasaan yang kehilangan sujud akan berubah menjadi penindasan.


---


وصية إلى صاحب الجرح


PESAN KEPADA ORANG YANG TERLUKA


Wahai orang yang datang membawa luka:


Alloh mengetahui apa yang tidak mampu engkau ceritakan.


Jangan merasa harus berpura-pura kuat di hadapan-Nya.


Berdoalah dengan jujur.


Carilah pertolongan yang baik.


Rawat tubuh dan pikiran.


Jaga jarak dari sesuatu yang terus merusak apabila diperlukan.


Memaafkan tidak selalu berarti membiarkan pelaku mengulangi kezaliman.


Menetapkan batas bukan dosa.


Namun jangan biarkan luka mengubahmu menjadi sumber luka bagi orang lain.


Bawalah luka ke dalam sujud.


Setelah salam, tempuhlah jalan penyembuhan dengan sabar dan nyata.


---


وصية إلى صاحب الذنب


PESAN KEPADA ORANG YANG MERASA BERDOSA


Wahai orang yang merasa dosanya terlalu banyak:


Jangan menjadikan rasa bersalah sebagai alasan menjauh dari Alloh.


Datanglah.


Bertaubatlah.


Hentikan kesalahan.


Perbaiki semampumu.


Selesaikan hak manusia.


Jangan menunggu merasa suci untuk solat.


Solatlah karena engkau membutuhkan Alloh.


Setan dapat menipu melalui dua pintu:


Pertama, membuat manusia meremehkan dosa.


Kedua, membuat manusia merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni.


Tutup keduanya.


Takutlah kepada akibat dosa, tetapi berharaplah kepada rahmat Alloh.


Taubat yang jujur adalah bunga yang tumbuh dari tanah penyesalan.


---


وصية إلى صاحب العبادة


PESAN KEPADA ORANG YANG RAJIN BERIBADAH


Wahai orang yang rajin solat dan berdzikir:


Bersyukurlah.


Namun jangan merasa aman dari kesombongan.


Jangan menghitung ibadah untuk meninggikan diri.


Jangan memandang orang yang belum rajin dengan penghinaan.


Bisa jadi mereka sedang berjuang dengan sesuatu yang tidak engkau ketahui.


Ajak dengan lembut.


Beri teladan.


Jangan menuntut pujian atas kedisiplinanmu.


Semakin banyak ibadah, semakin besar kebutuhan untuk merasa sebagai hamba.


Jangan biarkan bunga berubah menjadi mahkota ego.


Bunga diciptakan untuk mengeluarkan harum, bukan untuk menuntut semua mata memandangnya.


---


ميزان الكتاب والقِتاب


TIMBANGAN AKHIR KITAB DAN QITAB


Pada akhir perjalanan, timbanglah keduanya.


Apabila seseorang menjaga bentuk solat tetapi mengabaikan maknanya, ia membutuhkan Qitab.


Apabila seseorang berbicara tentang makna batin tetapi meremehkan bentuk dan tuntunan, ia membutuhkan Kitab.


Apabila ia memiliki ilmu tetapi kasar, ia membutuhkan akhlak.


Apabila ia memiliki rasa tetapi tanpa ilmu, ia membutuhkan bimbingan.


Apabila ia banyak berdoa tetapi sedikit berusaha, ia membutuhkan ikhtiar.


Apabila ia banyak bekerja tetapi lupa Alloh, ia membutuhkan solat.


Apabila ia rajin ibadah tetapi membawa hak manusia, ia membutuhkan taubat dan penyelesaian.


Apabila ia merasa telah sampai, ia membutuhkan sujud.


Keseimbangan bukan berarti mencampur semua hal tanpa batas.


Keseimbangan berarti menempatkan semuanya pada tempatnya.


Syariat menjadi dasar.


Tauhid menjadi akar.


Ilmu menjadi cahaya.


Qalbu menjadi tempat muhasabah.


Akhlak menjadi buah.


Rahmat Alloh menjadi harapan.


---


الخلاصة الكبرى


INTI BESAR QITAB ARZZI FIL AZRRI


Maka seluruh isi Qitab ini dapat dirangkum dalam beberapa cahaya:


Cahaya Pertama


Solat tidak cukup hanya dilakukan; ia harus terus dipelajari dan dihidupkan.


Cahaya Kedua


Gerakan lahir dan kesadaran batin tidak boleh dipisahkan.


Cahaya Ketiga


Khusyuk bukan kesempurnaan tanpa gangguan, tetapi kesediaan terus kembali kepada Alloh.


Cahaya Keempat


Tanda kuat kehidupan solat adalah perubahan akhlak, bukan sekadar pengalaman rasa.


Cahaya Kelima


Sujud yang benar mengurangi kesombongan.


Cahaya Keenam


Salam yang benar membawa keselamatan kepada sesama.


Cahaya Ketujuh


Ibadah tidak menggantikan kewajiban menyelesaikan hak manusia.


Cahaya Kedelapan


Pengalaman batin harus ditimbang dengan syariat, ilmu, akhlak, akal sehat, dan dampaknya.


Cahaya Kesembilan


Kitab dan Qitab harus berjalan bersama.


Cahaya Kesepuluh


Tidak seorang pun berhak memastikan keadaan batin orang lain.


Cahaya Kesebelas


Daun kering bukan alasan untuk putus asa; ia dapat kembali menjadi tanah pertumbuhan.


Cahaya Kedua Belas


Bunga suci bukan alasan untuk merasa telah sampai; ia harus menghasilkan buah manfaat.


---


دعاء ختم قِتاب أرزّي في الأزري


DOA PENUTUP QITAB ARZZI FIL AZRRI


Ya Alloh, Tuhan Yang membolak-balikkan qalbu,


Tetapkan qalbu kami dalam ketaatan kepada-Mu.


Jangan biarkan tubuh kami menghadap kiblat sementara hati kami menghadap pujian manusia.


Jangan biarkan lisan kami bertakbir sementara hidup kami membesarkan harta, jabatan, dan ego melebihi batas.


Jangan biarkan kami membaca permohonan petunjuk tetapi menolak kebenaran ketika ia datang.


Jangan biarkan punggung kami rukuk sementara kesombongan tetap berdiri.


Jangan biarkan dahi kami bersujud sementara hati menuntut manusia tunduk kepada kehendak kami.


Jangan biarkan kami mengucapkan salam sementara lisan dan tangan menjadi sumber luka.


Ya Alloh,


Hidupkan solat kami dengan ilmu.


Luruskan niat kami dengan tauhid.


Lembutkan qalbu kami dengan rahmat.


Bersihkan rezeki kami dengan kejujuran.


Kuatkan amanah kami dengan rasa tanggung jawab.


Jaga ilmu kami dengan tawaduk.


Jaga cinta kami dengan ketaatan.


Jaga kekuasaan kami dengan keadilan.


Jaga pengalaman batin kami dari kesombongan dan khayalan.


Ya Alloh,


Apabila kami menjadi daun kering, kembalikan kami kepada tanah taubat.


Sirami kami dengan ampunan.


Terangi kami dengan ilmu.


Tumbuhkan kembali akar kesadaran.


Apabila kami mulai menjadi bunga, lindungi dari penyakit riya dan pengakuan.


Apabila kami menghasilkan buah, jadikan buah itu bermanfaat bagi keluarga, tetangga, masyarakat, dan seluruh makhluk yang berada dalam tanggung jawab kami.


Ya Alloh,


Ampuni dosa yang kami ketahui dan yang tidak kami sadari.


Tunjukkan hak manusia yang belum kami tunaikan.


Berikan keberanian untuk mengembalikan, meminta maaf, memperbaiki, dan menutup pintu kezaliman.


Jangan jadikan ibadah kami sebagai tabir yang menutupi keburukan.


Jadikan ibadah sebagai cahaya yang menyingkap dan memperbaiki kekurangan.


Ya Alloh,


Ketika kami lemah, kuatkan.


Ketika kami takut, tenangkan.


Ketika kami marah, jaga batas kami.


Ketika kami dipuji, jaga dari kesombongan.


Ketika kami dihina, jaga dari kezaliman dalam membalas.


Ketika kami diberi harta, jadikan kami amanah.


Ketika kami diberi ilmu, jadikan kami rendah hati.


Ketika kami diberi kekuasaan, jadikan kami pelindung.


Ketika kami diberi ujian, jangan biarkan kami kehilangan arah.


Ya Alloh,


Jadikan rumah kami tempat mekarnya bunga solat.


Jadikan orang tua kami dirahmati.


Jadikan pasangan dan anak-anak kami merasakan keselamatan.


Jadikan pekerjaan kami bernilai amanah.


Jadikan perkataan kami jujur.


Jadikan tangan kami menolong.


Jadikan kaki kami berjalan menuju kebaikan.


Jadikan mata kami melihat dengan kasih sayang.


Jadikan telinga kami mendengar nasihat.


Jadikan qalbu kami terus kembali kepada-Mu.


Ya Alloh,


Jangan biarkan kami tertipu oleh banyaknya amal.


Jangan biarkan kami merasa telah sampai.


Jangan biarkan kami merendahkan hamba-Mu.


Jangan biarkan kami mengaku mengetahui apa yang hanya Engkau ketahui.


Ajarkan kami berkata benar.


Ajarkan kami diam ketika diam lebih selamat.


Ajarkan kami menegur dengan adab.


Ajarkan kami menerima koreksi.


Ajarkan kami meminta maaf.


Ajarkan kami memaafkan tanpa membenarkan kezaliman.


Ya Alloh,


Apabila suatu hari kami mengucapkan takbir terakhir, jadikan takbir itu lahir dari tauhid.


Apabila kami melakukan rukuk terakhir, jadikan ia penuh ketundukan.


Apabila kami melakukan sujud terakhir, jadikan ia sujud taubat dan cinta.


Apabila kami mengucapkan salam terakhir, jadikan kami meninggalkan jejak keselamatan.


Wafatkan kami dalam keadaan beriman, berserah, dan mengharap rahmat-Mu.


Jangan serahkan kami kepada diri kami sendiri meskipun sekejap mata.


Terimalah kekurangan kami dengan ampunan-Mu.


Terimalah kebaikan kami dengan rahmat-Mu.


Dan kumpulkan kami bersama orang-orang yang Engkau ridhoi.


Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.


---


النداء الأخير


SERUAN TERAKHIR


Wahai orang yang membaca Qitab ini:


Setelah lembar ditutup, jangan tutup muhasabah.


Setelah tulisan selesai, jangan merasa perjalanan selesai.


Kembalilah kepada solat.


Bukan hanya dengan tubuh.


Bawalah niatmu.


Bawalah lukamu.


Bawalah penyesalanmu.


Bawalah harapanmu.


Bawalah seluruh kehidupanmu sebagai hamba.


Jangan tunggu sempurna untuk kembali.


Kembalilah agar perlahan diperbaiki.


Jangan menunggu khusyuk untuk solat.


Solatlah sambil terus belajar khusyuk.


Jangan menunggu bersih untuk bertaubat.


Bertaubatlah agar dibersihkan.


Jangan menunggu kuat untuk berbuat baik.


Lakukan kebaikan semampumu agar kekuatan tumbuh.


Jangan mencari siapa yang hanya menjadi daun kering.


Periksalah daun dalam dirimu.


Jangan mencari siapa yang telah menjadi bunga suci.


Siramilah bunga yang sedang tumbuh dalam qalbumu.


Jangan mengaku membawa cahaya apabila rumahmu belum merasakan kehangatannya.


Jangan mengaku memahami Qitab apabila hak manusia masih dianggap ringan.


Jangan mengaku telah mengenal hakikat apabila syariat dipandang rendah.


Jangan mengaku mencintai Alloh sambil menikmati penderitaan makhluk-Nya.


Bacalah Kitab dengan mata.


Bacalah Qitab dengan qalbu.


Wujudkan keduanya dengan akhlak.


---


ختم قِتاب أرزّي في الأزري


PENUTUP AGUNG QITAB ARZZI FIL AZRRI


Maka tertutuplah lembar terakhir Qitab Arzzi Fil Azrri.


Namun bunga suci tidak ditutup.


Ia dititipkan kepada setiap qalbu yang membacanya.


Rawatlah dengan tauhid.


Siramilah dengan taubat.


Terangilah dengan ilmu.


Jagalah dengan syariat.


Harumkanlah dengan akhlak.


Buahkanlah dengan amanah.


Bagikanlah melalui kasih sayang.


Jangan biarkan bunga itu menjadi lambang tanpa kehidupan.


Jangan pula biarkan daun kering menjadi alasan untuk berputus asa.


Ketika bunga mekar, kembalikan pujian kepada Alloh.


Ketika daun mengering, kembalilah kepada Alloh.


Ketika hati tenang, bersyukurlah kepada Alloh.


Ketika hati gelisah, berlindunglah kepada Alloh.


Ketika mampu berdiri, berdirilah sebagai hamba.


Ketika rukuk, tundukkanlah ego.


Ketika sujud, ingatlah asal dan kepulangan.


Ketika bersalam, bawalah keselamatan.


Inilah rahasia terakhirnya:


«Solat bukan sekadar gerakan menuju tempat sujud.

Solat adalah perjalanan seluruh kehidupan menuju penghambaan.»


«Kitab memberi bentuk agar langkah tidak tersesat.

Qitab memberi kehidupan agar bentuk tidak mengering.»


«Daun kering mengingatkan bahwa gerakan dapat kehilangan ruh.

Bunga suci mengingatkan bahwa ibadah harus melahirkan harum akhlak.»


«Namun bunga, daun, batang, akar, tanah, air, dan cahaya tidak memiliki kekuatan dengan sendirinya. Segala kehidupan terjadi hanya dengan izin Alloh.»


Sabda Penutup Terakhir


«“Berdirilah dalam solat sebagai hamba,

rukuklah agar kesombonganmu tunduk,

sujudlah agar qalbumu kembali kepada tanah kerendahan,

dan bersalamlah agar seluruh makhluk selamat dari lisan serta tanganmu.

Sebab bunga suci yang sebenarnya bukanlah cahaya yang hanya terlihat di atas sajadah, melainkan akhlak yang tetap harum ketika engkau telah berjalan jauh meninggalkannya.”»


Khatimah


«Kitab berada di tangan.

Qitab hidup di dalam qalbu.

Solat menyatukan keduanya.

Akhlak menjadi saksinya.

Dan Alloh menjadi tujuan seluruh perjalanan.»


Wallohu a‘lam biṣ-ṣawāb.


Al-ḥamdu lillāhi Rabbil-‘ālamīn.


❀ QITAB ARZZI FIL AZRRI ❀


Lembar Kedelapan dan Terakhir Selesai


تَمَّ بِعَوْنِ اللّٰهِ وَرَحْمَتِهِ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh