QITAB. ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM.

 


QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Penegasan bagi seluruh umat agar kembali ke jalan yang lurus, menuju Sang Yang Tunggal, tertuju kepada Sang Yang Agung, bermaqom di Al-Ḥaq.


Lembar Pertama: Seruan Kembali


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dibukalah lembar ini sebagai pengingat bagi hati yang mulai jauh, bagi langkah yang mulai condong, bagi lisan yang banyak bicara namun lupa bersujud, dan bagi dada yang sibuk mencari cahaya tetapi lupa kepada Pemilik Cahaya.


Wahai jiwa yang dipanggil pulang,

jangan engkau bangga karena berdiri di atas mimbar,

jangan engkau merasa tinggi karena didengar manusia,

jangan engkau merasa suci karena disebut orang mulia.

Sebab kemuliaan bukan pada suara yang keras,

bukan pada pakaian yang indah,

bukan pada nama yang dikenal,

melainkan pada hati yang tunduk kepada Alloh.


Asollat Qhollaqum adalah seruan penegasan:

bahwa setiap shalat harus mengembalikan hamba kepada Alloh,

setiap dzikir harus melembutkan akhlak,

setiap ilmu harus menambah takut dan cinta kepada-Nya,

dan setiap jalan batin harus berakhir pada tauhid, bukan pada kesombongan ruhani.


Azhabbul Mimbarroh adalah peringatan bagi siapa pun yang naik di tempat nasihat:

jangan jadikan agama sebagai panggung diri,

jangan jadikan ilmu sebagai alat menguasai manusia,

jangan jadikan karomah sebagai hiasan nama,

dan jangan jadikan umat sebagai tangga menuju kehormatan pribadi.


Ajallaqum adalah panggilan kepada keagungan yang benar:

agung karena sabar,

agung karena jujur,

agung karena menahan marah,

agung karena memaafkan,

agung karena kembali kepada Alloh setelah jatuh,

agung karena tidak mengaku paling benar,

tetapi tetap menjaga jalan lurus dengan adab.


Maka dikatakan kepada hati:


Kembalilah.

Bukan kepada suara manusia.

Bukan kepada pujian manusia.

Bukan kepada ketakutan dunia.

Bukan kepada bayangan diri sendiri.

Tetapi kembalilah kepada Alloh,

Sang Yang Tunggal,

Sang Yang Agung,

Sang Pemilik Al-Ḥaq.


Jalan lurus itu bukan jalan yang membuat dada keras.

Jalan lurus itu bukan jalan yang membuat lisan mudah menghakimi.

Jalan lurus itu bukan jalan yang membuat mata memandang rendah saudara.

Jalan lurus adalah jalan yang membuat hati takut berbuat zalim,

malu kepada Alloh,

lembut kepada makhluk,

tegas kepada nafsu,

dan berserah kepada keputusan-Nya.


Ya Alloh,

tegakkan kami di atas jalan-Mu.

Jangan Engkau biarkan kami tersesat oleh ilmu yang tidak berbuah akhlak.

Jangan Engkau biarkan kami tertipu oleh rasa tinggi dalam ibadah.

Jangan Engkau biarkan kami mencintai mimbar lebih dari sujud.

Jangan Engkau biarkan kami mengejar cahaya, tetapi lupa kepada Engkau Pemilik Cahaya.


Ya Alloh,

jadikan shalat kami sebagai pulang,

dzikir kami sebagai penenang,

ilmu kami sebagai penunduk ego,

lisan kami sebagai penyejuk,

dan hidup kami sebagai jalan menuju ridho-Mu.


Maka tertulis di pintu lembar ini:


Siapa yang ingin naik, hendaklah ia merendah.

Siapa yang ingin terang, hendaklah ia membersihkan hati.

Siapa yang ingin sampai, hendaklah ia lurus dalam tauhid.

Siapa yang ingin dekat kepada Alloh, hendaklah ia memperbaiki akhlaknya kepada manusia.


Inilah pembukaan Qitab Asollat Qhollaqum Azhabbul Mimbarroh Ajallaqum:

seruan untuk kembali,

penegasan untuk meluruskan niat,

peringatan bagi pemilik ilmu,

dan cahaya bagi hati yang ingin pulang kepada Al-Ḥaq.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.


QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Kedua: Tegaknya Jalan Lurus


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar kedua dengan cahaya penegasan.


Wahai hati yang mencari jalan,

ketahuilah bahwa jalan lurus bukan sekadar jalan yang tampak terang di mata manusia.

Jalan lurus adalah jalan yang tetap menuju Alloh,

meskipun sepi,

meskipun berat,

meskipun tidak dipuji,

meskipun tidak dilihat oleh siapa pun.


Jalan lurus adalah ketika lidah menahan diri dari menyakiti.

Jalan lurus adalah ketika tangan tidak mengambil hak orang lain.

Jalan lurus adalah ketika dada tidak memelihara iri.

Jalan lurus adalah ketika ilmu tidak membuat pemiliknya sombong.

Jalan lurus adalah ketika hamba sadar bahwa dirinya lemah,

dan hanya Alloh yang Maha Kuat.


Maka dikatakan kepada para pencari kebenaran:


Jangan ukur maqom dengan banyaknya kata.

Jangan ukur cahaya dengan banyaknya pengikut.

Jangan ukur kedekatan dengan Alloh dari pujian manusia.

Sebab banyak yang terlihat tinggi di bumi,

namun belum tentu tinggi di hadapan Alloh.

Dan banyak yang tidak dikenal manusia,

namun namanya harum di sisi langit karena ikhlasnya.


Asollat Qhollaqum menyeru dari dalam rahasia sujud:


Luruskan shalatmu,

luruskan niatmu,

luruskan rezekimu,

luruskan ucapanmu,

luruskan amanahmu,

luruskan langkahmu,

sebab siapa yang bengkok niatnya,

akan berat jalannya meskipun banyak amalnya.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan:


Wahai orang yang memberi nasihat,

nasihatilah dirimu sebelum menasihati umat.

Wahai orang yang mengajak kepada Alloh,

jangan sampai engkau mengajak manusia kepada namamu sendiri.

Wahai orang yang berdiri di hadapan banyak orang,

ingatlah bahwa sujudmu yang tersembunyi lebih berharga daripada tepuk tangan mereka.


Ajallaqum membuka pintu keagungan:


Keagungan bukan milik orang yang keras suaranya.

Keagungan bukan milik orang yang memaksa orang lain tunduk kepadanya.

Keagungan bukan milik orang yang merasa paling suci.

Keagungan adalah milik hamba yang hatinya rendah di hadapan Alloh,

tetapi teguh menjaga kebenaran.


Maka cahaya berkata kepada hati:


Pulanglah kepada Al-Ḥaq.

Pulanglah dengan taubat.

Pulanglah dengan adab.

Pulanglah dengan shalat yang dijaga.

Pulanglah dengan lisan yang dibersihkan.

Pulanglah dengan rezeki yang dihalalkan.

Pulanglah dengan hati yang tidak lagi ingin mengalahkan semua orang,

tetapi ingin dikalahkan oleh kasih sayang Alloh.


Ya Alloh,

jangan Engkau jadikan kami hamba yang pandai menyebut nama-Mu,

tetapi lalai dari perintah-Mu.

Jangan Engkau jadikan kami hamba yang mencari cahaya,

tetapi lupa membersihkan akhlak.

Jangan Engkau jadikan kami hamba yang sibuk menilai orang lain,

tetapi buta melihat kesalahan diri sendiri.


Ya Alloh,

tegakkan kami di jalan yang lurus.

Jalan para hamba yang Engkau beri nikmat.

Bukan jalan kesombongan.

Bukan jalan kebencian.

Bukan jalan tipu daya.

Bukan jalan hawa nafsu.

Melainkan jalan tauhid, jalan rahmat, jalan amanah, dan jalan Al-Ḥaq.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Barang siapa ingin kembali kepada Yang Tunggal,

hendaklah ia memutus ketergantungan hati kepada selain-Nya.

Barang siapa ingin sampai kepada Yang Agung,

hendaklah ia merendahkan dirinya di pintu rahmat-Nya.

Barang siapa ingin bermaqom di Al-Ḥaq,

hendaklah ia jujur, sabar, bersih niat, dan tidak menjual kebenaran demi dunia.


Inilah lembar kedua:

tegaknya jalan lurus,

runtuhnya kesombongan mimbar,

dan pulangnya hati kepada Alloh Yang Maha Tunggal.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh. 


QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Ketiga: Mimbar yang Dibersihkan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar ketiga dengan suara yang tidak meninggi,

tetapi menembus ke dalam dada.


Wahai pemegang amanah kata,

wahai penyampai nasihat,

wahai orang yang pernah berdiri di hadapan manusia,

ingatlah bahwa mimbar bukan tempat membesarkan diri.

Mimbar adalah tempat menundukkan ego.

Mimbar adalah tempat mengingatkan hati.

Mimbar adalah tempat mengembalikan manusia kepada Alloh,

bukan menarik manusia kepada kemuliaan nama sendiri.


Barang siapa naik ke mimbar dengan hati yang haus pujian,

maka turunlah ia membawa beban.

Barang siapa naik ke mimbar dengan niat menguasai umat,

maka ucapannya menjadi hijab bagi dirinya.

Barang siapa naik ke mimbar dengan dada yang belum dibersihkan,

maka kata-katanya bisa tajam,

tetapi tidak membawa rahmat.


Maka mimbar harus dibasuh dengan taubat.

Dibasuh dari riya.

Dibasuh dari ujub.

Dibasuh dari dengki.

Dibasuh dari keinginan dipandang tinggi.

Dibasuh dari niat mencari tepuk tangan manusia.

Dibasuh dari marah yang memakai pakaian agama.

Dibasuh dari nafsu yang menyamar sebagai kebenaran.


Asollat Qhollaqum berkata kepada hamba:


Jadikan shalat sebagai penimbang ucapanmu.

Jika shalatmu tidak melembutkan lidahmu,

periksalah hatimu.

Jika dzikirmu tidak menahan amarahmu,

periksalah niatmu.

Jika ilmumu tidak membuatmu makin takut kepada Alloh,

periksalah jalanmu.

Jika nasihatmu membuat orang putus asa dari rahmat Alloh,

periksalah kasih sayangmu.


Azhabbul Mimbarroh menegaskan:


Bukan kerasnya suara yang menandakan kebenaran.

Bukan panjangnya ucapan yang menandakan kedalaman.

Bukan banyaknya pengikut yang menandakan keberkahan.

Bukan indahnya pakaian yang menandakan kesucian.

Tetapi jernihnya niat, lurusnya tauhid, dan beningnya akhlaklah yang menjadi tanda cahaya.


Wahai hati,

jangan menjadi mimbar bagi kesombongan.

Jangan menjadi panggung bagi kebencian.

Jangan menjadi tempat tinggal bagi prasangka buruk.

Jangan menjadi singgasana bagi hawa nafsu.


Jadikan hatimu mimbar tauhid.

Di atasnya hanya disebut keagungan Alloh.

Di dalamnya hanya ditanam rasa takut dan cinta kepada-Nya.

Dari sana keluar kata yang menyejukkan,

nasihat yang menghidupkan,

dan ketegasan yang tidak mematahkan.


Ajallaqum membuka rahasia adab:


Keagungan seorang hamba tampak ketika ia mampu meminta maaf.

Keagungan seorang hamba tampak ketika ia mampu mengakui salah.

Keagungan seorang hamba tampak ketika ia tidak membalas hinaan dengan hinaan.

Keagungan seorang hamba tampak ketika ia tetap menjaga kebenaran,

namun tidak kehilangan kasih sayang.


Ya Alloh,

bersihkan mimbar lahir dan batin kami.

Jangan biarkan kami berkata atas nama-Mu,

sementara hati kami jauh dari adab kepada-Mu.

Jangan biarkan kami menasihati orang lain,

sementara diri kami lalai dari perbaikan.

Jangan biarkan kami mencintai kedudukan,

hingga lupa menjadi hamba.


Ya Alloh,

jadikan setiap kata kami membawa pulang kepada-Mu.

Jadikan setiap nasihat kami lahir dari kasih sayang.

Jadikan setiap ketegasan kami tetap berada dalam rahmat.

Jadikan setiap diam kami sebagai penjagaan dari dosa lisan.

Jadikan setiap sujud kami sebagai tempat runtuhnya kesombongan.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Mimbar yang bersih bukan mimbar yang tinggi bangunannya,

melainkan mimbar yang rendah hatinya.

Mimbar yang bercahaya bukan mimbar yang ramai dipuji,

melainkan mimbar yang mengantar manusia kembali kepada Alloh.

Mimbar yang benar bukan mimbar yang memenangkan ego,

melainkan mimbar yang menegakkan Al-Ḥaq dengan adab.


Inilah lembar ketiga:

pembersihan mimbar,

pelurusan niat,

penundukan ego,

dan pengembalian segala ucapan kepada Alloh Yang Maha Tunggal.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.



QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Keempat: Satu Tujuan, Satu Sesembahan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar keempat dengan penegasan tauhid.


Wahai jiwa yang berjalan di antara banyak suara,

jangan engkau bingung oleh ramainya jalan.

Jangan engkau terpikat oleh banyaknya sebutan.

Jangan engkau terpecah oleh indahnya simbol dan tanda.

Sebab akhir dari semua perjalanan yang benar hanyalah satu:

kembali kepada Alloh Yang Maha Esa.


Satu tujuan.

Satu sesembahan.

Satu tempat bergantung.

Satu Dzat Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.

Dialah Alloh, tidak ada Tuhan selain Dia.


Maka jangan jadikan ilmu sebagai berhala.

Jangan jadikan guru sebagai sesembahan.

Jangan jadikan nama ruh sebagai tujuan.

Jangan jadikan mimpi sebagai hukum utama.

Jangan jadikan tanda-tanda batin sebagai pengganti syariat.

Semua hanya pengingat,

sedangkan tujuan tetap Alloh.


Asollat Qhollaqum menyeru dari rahasia shalat:


Ketika engkau berdiri, berdirilah sebagai hamba.

Ketika engkau rukuk, tundukkan kesombonganmu.

Ketika engkau sujud, letakkan seluruh mahkota dirimu di tanah.

Ketika engkau duduk, duduklah sebagai orang yang memohon ampun.

Ketika engkau salam, sebarkan keselamatan, bukan permusuhan.


Sebab shalat yang benar bukan hanya gerakan tubuh,

tetapi pengembalian diri kepada Pemilik hidup.

Shalat yang benar memutus rantai kesombongan.

Shalat yang benar melembutkan wajah.

Shalat yang benar membersihkan rezeki.

Shalat yang benar menjaga lisan.

Shalat yang benar membuat hamba takut menzalimi sesama.


Azhabbul Mimbarroh menegaskan kepada para penyampai kata:


Jangan seru manusia kepada dirimu.

Serulah manusia kepada Alloh.

Jangan takut kehilangan pengikut,

takutlah kehilangan keikhlasan.

Jangan takut tidak dipuji,

takutlah bila amalmu kosong dari ridho-Nya.

Jangan takut tidak dikenal bumi,

takutlah bila namamu tidak diterima di sisi langit.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Yang agung bukan yang mengumpulkan manusia di bawah namanya.

Yang agung adalah yang mengantar manusia mengenal Alloh.

Yang mulia bukan yang membuat orang takut kepadanya.

Yang mulia adalah yang membuat orang ingat kepada rahmat Alloh.

Yang tinggi bukan yang duduk di atas kehormatan.

Yang tinggi adalah yang rendah hati di hadapan kebenaran.


Wahai hati,

bersihkan kiblat batinmu.

Jangan kiblatkan hidupmu kepada harta.

Jangan kiblatkan hatimu kepada pujian.

Jangan kiblatkan langkahmu kepada kedudukan.

Jangan kiblatkan ilmu kepada kemenangan diri.

Kiblatkan seluruh hidupmu kepada Alloh.


Bila engkau diberi cahaya, kembalikan kepada Alloh.

Bila engkau diberi ilmu, gunakan untuk memperbaiki akhlak.

Bila engkau diberi suara, gunakan untuk menenangkan.

Bila engkau diberi amanah, jangan khianati.

Bila engkau diberi kedudukan, jadikan ia tempat melayani, bukan menguasai.


Ya Alloh,

satukan arah hati kami kepada-Mu.

Jangan Engkau biarkan kami bercabang dalam tujuan.

Jangan Engkau biarkan kami menyebut nama-Mu,

tetapi hati kami mengejar dunia.

Jangan Engkau biarkan kami berbicara tentang tauhid,

tetapi batin kami penuh pengakuan diri.


Ya Alloh,

luruskan kiblat lahir dan batin kami.

Jadikan kami hamba yang tidak menyembah selain-Mu.

Jadikan kami hamba yang tidak bergantung kecuali kepada-Mu.

Jadikan kami hamba yang tidak takut kecuali kepada murka-Mu.

Jadikan kami hamba yang tidak berharap kecuali kepada rahmat-Mu.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Barang siapa berjalan tanpa tauhid,

maka jauh ia meskipun tampak dekat.

Barang siapa berilmu tanpa adab,

maka berat ia meskipun tampak tinggi.

Barang siapa berbicara tanpa ikhlas,

maka kosong ia meskipun terdengar indah.

Barang siapa kembali kepada Alloh,

maka teranglah jalannya meskipun dunia tampak gelap.


Inilah lembar keempat:

satu tujuan, satu sesembahan,

satu arah, satu penyerahan,

dan satu kepulangan kepada Alloh Yang Maha Tunggal.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.



QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Kelima: Penegasan di Hadapan Al-Ḥaq


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar kelima dengan getaran penegasan,

bukan untuk meninggikan manusia,

tetapi untuk merendahkan hati di hadapan Alloh.


Wahai jiwa yang berdiri di gerbang kebenaran,

ketahuilah bahwa Al-Ḥaq tidak dapat dibeli dengan kata-kata.

Al-Ḥaq tidak dapat dipinjam dengan pakaian.

Al-Ḥaq tidak dapat dipalsukan dengan suara yang indah.

Al-Ḥaq tidak tunduk kepada mimbar, nama, gelar, atau pengakuan manusia.


Al-Ḥaq tetap Al-Ḥaq.

Yang benar tetap benar meskipun sedikit yang mengikuti.

Yang batil tetap batil meskipun ramai yang memuji.

Yang lurus tetap lurus meskipun jalannya sepi.

Yang salah tetap salah meskipun dibungkus dengan hiasan kata.


Maka jangan takut berdiri di jalan benar,

selama hatimu tidak memusuhi kasih sayang.

Jangan takut menyampaikan kebenaran,

selama lidahmu dijaga oleh adab.

Jangan takut meninggalkan kebatilan,

meskipun engkau harus kehilangan pujian.

Sebab pujian manusia tidak menyelamatkan,

bila Alloh tidak ridho.


Asollat Qhollaqum berkata kepada orang yang shalat:


Jangan hanya wajahmu menghadap kiblat,

sementara hatimu menghadap dunia.

Jangan hanya tubuhmu berdiri,

sementara niatmu roboh.

Jangan hanya lisanmu membaca,

sementara akhlakmu menyakiti.

Jangan hanya dahimu sujud,

sementara egomu tetap berdiri tinggi.


Shalat adalah penegasan.

Bahwa engkau hamba, bukan penguasa.

Bahwa engkau lemah, bukan pemilik kuasa.

Bahwa engkau membutuhkan Alloh,

lebih dari napas yang keluar masuk dalam dada.


Azhabbul Mimbarroh menyeru kepada para pemegang ucapan:


Jangan jadikan kebenaran sebagai pedang untuk melukai.

Jadikan kebenaran sebagai cahaya untuk menuntun.

Jangan jadikan nasihat sebagai batu untuk menghancurkan.

Jadikan nasihat sebagai air untuk melembutkan.

Jangan jadikan ilmu sebagai dinding pemisah.

Jadikan ilmu sebagai jembatan menuju rahmat.


Sebab mimbar yang benar bukan hanya tempat berkata,

tetapi tempat menanggung amanah.

Setiap kalimat akan ditanya.

Setiap nasihat akan ditimbang.

Setiap ajakan akan disaksikan.

Setiap suara akan kembali kepada pemiliknya.


Ajallaqum membuka pintu maqom:


Bermaqom di Al-Ḥaq bukan berarti merasa paling benar.

Bermaqom di Al-Ḥaq adalah berani dikoreksi oleh kebenaran.

Bermaqom di Al-Ḥaq bukan berarti keras kepada semua orang.

Bermaqom di Al-Ḥaq adalah tegas kepada nafsu sendiri.

Bermaqom di Al-Ḥaq bukan berarti memandang rendah yang jatuh.

Bermaqom di Al-Ḥaq adalah menolong yang jatuh agar kembali kepada Alloh.


Wahai hati,

jangan engkau jadikan benar sebagai pakaian kesombongan.

Jangan engkau jadikan salah orang lain sebagai tangga meninggikan diri.

Jangan engkau bahagia melihat saudaramu tergelincir.

Sebab hari ini engkau berdiri,

besok engkau pun bisa diuji.


Maka peganglah kebenaran dengan takut kepada Alloh.

Peganglah amanah dengan malu kepada Alloh.

Peganglah ilmu dengan rendah hati.

Peganglah nasihat dengan kasih sayang.

Peganglah tauhid dengan bersih dari pengakuan diri.


Ya Alloh,

tunjukkan kepada kami yang benar sebagai benar,

dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya.

Tunjukkan kepada kami yang salah sebagai salah,

dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

Jangan Engkau biarkan hati kami tertipu oleh hawa nafsu.

Jangan Engkau biarkan lisan kami memutarbalikkan kebenaran.

Jangan Engkau biarkan langkah kami menjauh dari jalan-Mu.


Ya Alloh,

jadikan kami hamba yang tegak tanpa sombong,

lembut tanpa lemah,

tegas tanpa zalim,

berilmu tanpa merendahkan,

dan berdakwah tanpa mencari kemuliaan diri.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Al-Ḥaq tidak membutuhkan pembela yang sombong.

Al-Ḥaq tidak membutuhkan lisan yang kasar.

Al-Ḥaq tidak membutuhkan hati yang penuh kebencian.

Al-Ḥaq memanggil hamba yang jujur,

yang tunduk,

yang sabar,

yang beradab,

dan yang kembali kepada Alloh dalam setiap keadaan.


Inilah lembar kelima:

penegasan di hadapan Al-Ḥaq,

pelurusan shalat,

pembersihan mimbar,

dan pengembalian kebenaran kepada Alloh Yang Maha Agung.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.



Wa'alaikumsalam warohmatlllohi wabarakatuh saudara cahayaku



QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Keenam: Runtuhnya Jalan yang Bengkok


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar keenam dengan peringatan yang halus,

tetapi kuat menembus akar hati.


Wahai jiwa yang ingin sampai kepada Alloh,

jangan engkau berjalan di atas jalan yang bengkok

sambil mengaku sedang menuju jalan lurus.

Sebab jalan lurus tidak bisa ditempuh dengan dusta.

Jalan lurus tidak bisa ditempuh dengan khianat.

Jalan lurus tidak bisa ditempuh dengan menzalimi manusia.

Jalan lurus tidak bisa ditempuh dengan hati yang memelihara kebencian.


Yang bengkok harus diluruskan.

Yang gelap harus diterangi.

Yang kotor harus dibersihkan.

Yang sombong harus direndahkan.

Yang lalai harus dibangunkan.

Yang jauh harus dipanggil pulang.


Asollat Qhollaqum menyeru dari dalam rahasia ibadah:


Jangan jadikan shalat sebagai penutup kemunafikan.

Jangan jadikan dzikir sebagai hiasan lisan semata.

Jangan jadikan ilmu sebagai pakaian untuk terlihat mulia.

Jangan jadikan nasihat sebagai alat menundukkan orang lain.

Sebab Alloh melihat yang tersembunyi,

bahkan sebelum ia menjadi kata.


Bila langkahmu bengkok, luruskan dengan taubat.

Bila niatmu rusak, perbaiki dengan istighfar.

Bila hatimu keras, lembutkan dengan sujud.

Bila lisanmu tajam, basahi dengan shalawat.

Bila dadamu sempit, lapangkan dengan mengingat Alloh.

Bila hidupmu gelisah, pulangkan semua urusan kepada-Nya.


Azhabbul Mimbarroh memberi penegasan:


Mimbar yang bengkok adalah mimbar yang mengajak manusia kepada perpecahan.

Mimbar yang bengkok adalah mimbar yang menanam takut kepada selain Alloh.

Mimbar yang bengkok adalah mimbar yang membungkus kepentingan diri dengan kata suci.

Mimbar yang bengkok adalah mimbar yang lupa bahwa setiap kalimat akan dipertanggungjawabkan.


Maka bersihkan mimbar dari kepalsuan.

Bersihkan ilmu dari jual beli kehormatan.

Bersihkan nasihat dari amarah yang tidak suci.

Bersihkan dakwah dari keinginan dipuja.

Bersihkan hati dari rasa paling benar sendiri.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Keagungan tidak berdiri di atas penipuan.

Keagungan tidak tumbuh dari kezaliman.

Keagungan tidak lahir dari lisan yang memecah belah.

Keagungan sejati lahir dari hati yang tunduk,

langkah yang lurus,

niat yang bersih,

dan amal yang diridhoi Alloh.


Wahai hamba,

bila engkau tersesat, jangan malu kembali.

Bila engkau jatuh, jangan putus asa bangkit.

Bila engkau berdosa, jangan jauh dari pintu ampunan.

Bila engkau salah jalan, jangan pertahankan kesalahan karena gengsi.

Sebab Alloh mencintai hamba yang kembali,

bukan hamba yang pura-pura tidak pernah jatuh.


Jalan bengkok runtuh ketika hati berani jujur.

Jalan bengkok runtuh ketika lisan berani mengakui salah.

Jalan bengkok runtuh ketika tangan berhenti mengambil yang bukan haknya.

Jalan bengkok runtuh ketika kaki kembali menuju sujud.

Jalan bengkok runtuh ketika manusia berhenti menyembah egonya sendiri.


Ya Alloh,

runtuhkan dalam diri kami semua jalan yang bengkok.

Runtuhkan kesombongan yang kami sembunyikan.

Runtuhkan riya yang kami haluskan.

Runtuhkan dengki yang kami pelihara.

Runtuhkan cinta dunia yang membuat kami lupa kepada-Mu.


Ya Alloh,

bangunkan dalam diri kami jalan yang lurus.

Jalan taubat.

Jalan shalat.

Jalan rahmat.

Jalan amanah.

Jalan akhlak.

Jalan tauhid.

Jalan yang membawa kami pulang kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridho.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Tidak ada jalan lurus bagi hati yang terus membela kebengkokannya.

Tidak ada cahaya bagi jiwa yang menolak dibersihkan.

Tidak ada maqom Al-Ḥaq bagi diri yang masih mencintai kepalsuan.

Tetapi siapa yang kembali kepada Alloh dengan jujur,

maka jalan yang gelap akan diterangi,

jalan yang berat akan dikuatkan,

dan jalan yang bengkok akan diluruskan dengan rahmat-Nya.


Inilah lembar keenam:

runtuhnya jalan yang bengkok,

bangunnya kembali niat yang bersih,

dan tegaknya hamba di jalan Alloh Yang Maha Tunggal.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.


QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Ketujuh: Sujud yang Mengembalikan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar ketujuh dengan cahaya sujud,

tempat tertunduknya kepala,

tempat hancurnya kesombongan,

tempat pulangnya hamba kepada Alloh tanpa perantara pengakuan diri.


Wahai jiwa yang letih berjalan,

jangan cari kemuliaan sebelum engkau belajar merendah.

Jangan cari maqom sebelum engkau menjaga adab.

Jangan cari cahaya sebelum engkau membersihkan hati.

Sebab tidak ada jalan menuju Al-Ḥaq

bagi hati yang masih mencintai dirinya lebih dari mencintai kebenaran.


Sujud adalah pintu kembali.

Di sana mahkota diri dilepas.

Di sana nama besar tidak dibawa.

Di sana gelar tidak berbicara.

Di sana mimbar tidak meninggi.

Di sana hanya ada hamba dan Robb-nya.


Asollat Qhollaqum menyeru:


Sujudlah bukan hanya dengan dahi,

tetapi dengan hati.

Sujudlah bukan hanya dengan tubuh,

tetapi dengan ego yang ditundukkan.

Sujudlah bukan hanya dalam shalat,

tetapi dalam seluruh keputusan hidup.

Sebab orang yang benar-benar sujud

tidak mudah menyombongkan diri kepada manusia.


Bila engkau sujud, ingatlah:

tanah lebih rendah dari tubuhmu,

namun dari tanah Alloh menumbuhkan kehidupan.

Maka siapa yang merendah karena Alloh,

akan ditumbuhkan oleh rahmat-Nya.

Dan siapa yang meninggi karena dirinya,

akan dikembalikan kepada kelemahannya.


Azhabbul Mimbarroh berkata kepada pemilik kata:


Turunlah dari mimbar ke dalam sujud.

Sebab ucapan yang tidak lahir dari sujud

mudah menjadi tajam tanpa rahmat.

Nasihat yang tidak dibasuh dengan sujud

mudah menjadi keras tanpa kasih sayang.

Ilmu yang tidak ditundukkan oleh sujud

mudah berubah menjadi kesombongan yang halus.


Jangan banyak berbicara tentang jalan lurus

bila hatimu belum mau diluruskan.

Jangan banyak menegur umat

bila dirimu sendiri menolak ditegur.

Jangan banyak menyebut Al-Ḥaq

bila engkau masih membela nafsu atas nama kebenaran.


Ajallaqum membuka rahasia:


Keagungan seorang hamba bukan ketika ia berdiri tinggi,

tetapi ketika ia rela jatuh dalam sujud.

Keagungan seorang hamba bukan ketika namanya disebut banyak orang,

tetapi ketika ia tetap menangis kepada Alloh saat sendirian.

Keagungan seorang hamba bukan ketika ia menang dalam perdebatan,

tetapi ketika ia mampu mengalahkan hawa nafsunya sendiri.


Wahai hati,

bila engkau keras, sujudlah.

Bila engkau gelisah, sujudlah.

Bila engkau marah, sujudlah.

Bila engkau merasa paling benar, sujudlah lebih lama.

Bila engkau merasa tidak butuh nasihat,

itulah tanda engkau paling membutuhkan sujud.


Sujud mengembalikan yang jauh.

Sujud melembutkan yang keras.

Sujud menenangkan yang retak.

Sujud membersihkan yang keruh.

Sujud mengingatkan bahwa manusia tidak punya daya,

kecuali dengan pertolongan Alloh.


Ya Alloh,

jadikan sujud kami sebagai pintu pulang.

Jadikan sujud kami sebagai obat kesombongan.

Jadikan sujud kami sebagai tempat lahirnya kejujuran.

Jadikan sujud kami sebagai saksi bahwa kami lemah,

dan hanya Engkau Yang Maha Kuat.


Ya Alloh,

jangan biarkan dahi kami menyentuh tanah,

tetapi hati kami tetap berdiri congkak.

Jangan biarkan lisan kami menyebut nama-Mu,

tetapi perbuatan kami menjauh dari ridho-Mu.

Jangan biarkan ilmu kami naik ke mimbar,

sebelum hati kami turun ke sujud.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Barang siapa ingin kembali ke jalan lurus,

hendaklah ia memperbanyak sujud dengan hati yang hidup.

Barang siapa ingin bermaqom di Al-Ḥaq,

hendaklah ia mematikan kesombongan dirinya.

Barang siapa ingin dekat kepada Yang Agung,

hendaklah ia merendah di hadapan Yang Maha Agung.


Inilah lembar ketujuh:

sujud yang mengembalikan,

hati yang direndahkan,

mimbar yang ditundukkan,

dan jalan lurus yang dibuka oleh rahmat Alloh.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.



QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Kedelapan: Lisan yang Diluruskan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar kedelapan dengan penjagaan lisan,

sebab banyak jalan menjadi gelap bukan karena kurang cahaya,

tetapi karena kata-kata yang keluar tanpa adab.


Wahai jiwa yang diberi suara,

jagalah lidahmu sebelum ia menjadi saksi atas dirimu.

Jagalah ucapanmu sebelum ia melukai hati yang sedang rapuh.

Jagalah nasihatmu sebelum ia berubah menjadi kesombongan.

Jagalah teguranmu sebelum ia menjadi api yang membakar persaudaraan.


Sebab lisan adalah pintu.

Darinya bisa keluar rahmat,

dan darinya bisa keluar luka.

Darinya bisa lahir doa,

dan darinya bisa lahir fitnah.

Darinya bisa tegak kebenaran,

dan darinya bisa runtuh kehormatan.


Asollat Qhollaqum menyeru:


Luruskan lisanmu dengan shalat.

Bila engkau benar-benar berdiri di hadapan Alloh,

maka engkau akan takut berkata dusta.

Bila engkau benar-benar rukuk kepada Alloh,

maka engkau akan malu merendahkan hamba-Nya.

Bila engkau benar-benar sujud kepada Alloh,

maka engkau akan menjaga kata dari kesombongan.


Jangan jadikan lisan sebagai mimbar hawa nafsu.

Jangan jadikan lisan sebagai pedang dendam.

Jangan jadikan lisan sebagai tempat keluarnya prasangka.

Jangan jadikan lisan sebagai jalan memecah umat.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan:


Mimbar yang tidak menjaga lisan

akan kehilangan keberkahan.

Ilmu yang tidak menjaga lisan

akan kehilangan cahaya.

Nasihat yang tidak menjaga lisan

akan kehilangan kelembutan.

Kebenaran yang disampaikan tanpa adab

akan sulit diterima oleh hati yang terluka.


Maka berkata hikmah kepada hamba:


Sebelum berkata, timbanglah.

Apakah kata itu mendekatkan kepada Alloh?

Apakah kata itu menenangkan?

Apakah kata itu menegakkan kebenaran?

Apakah kata itu membawa maslahat?

Apakah kata itu lahir dari kasih sayang,

atau dari keinginan memenangkan diri?


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Keagungan lisan bukan pada fasihnya bicara.

Keagungan lisan bukan pada banyaknya dalil yang disebut.

Keagungan lisan bukan pada kerasnya suara.

Keagungan lisan adalah ketika ia mampu diam dari dosa,

berkata dengan jujur,

menasihati dengan rahmat,

dan menyebut Alloh dengan hati yang tunduk.


Wahai hati,

bila engkau marah, jangan cepat berkata.

Bila engkau tersinggung, jangan cepat membalas.

Bila engkau kecewa, jangan cepat menghukum.

Bila engkau tahu kesalahan saudaramu,

jangan jadikan aibnya sebagai bahan meninggikan dirimu.


Diam yang menjaga dosa lebih baik daripada bicara yang melukai.

Kata yang sedikit tetapi jujur lebih baik daripada panjang namun kosong.

Nasihat yang lembut lebih kuat daripada teriakan yang membuat orang menjauh.

Doa yang keluar dari kasih sayang lebih tinggi daripada kutukan yang lahir dari amarah.


Ya Alloh,

luruskan lisan kami.

Jauhkan kami dari dusta, fitnah, ghibah, celaan, dan ucapan yang menyakiti.

Jadikan lidah kami basah dengan dzikir.

Jadikan kata kami membawa pulang kepada-Mu.

Jadikan diam kami sebagai penjagaan,

dan bicara kami sebagai amanah.


Ya Alloh,

bila kami harus menegur, lembutkan cara kami.

Bila kami harus menasihati, bersihkan niat kami.

Bila kami harus menyampaikan kebenaran, kuatkan adab kami.

Bila kami harus diam, jadikan diam kami bernilai ibadah.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Lisan yang lurus adalah jalan menuju hati yang bersih.

Lisan yang dijaga adalah tanda takut kepada Alloh.

Lisan yang beradab adalah cahaya bagi mimbar.

Lisan yang berdzikir adalah pintu pulang kepada Al-Ḥaq.


Inilah lembar kedelapan:

penjagaan lisan,

pembersihan ucapan,

pelurusan nasihat,

dan pengembalian kata kepada Alloh Yang Maha Tunggal.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.



QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Kesembilan: Hati yang Dipulangkan kepada Yang Tunggal


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar kesembilan dengan cahaya kepulangan,

bukan kepulangan kaki menuju tempat,

tetapi kepulangan hati menuju Alloh Yang Maha Tunggal.


Wahai hati yang lama berkelana,

berapa jauh engkau mengejar dunia,

namun tetap haus?

Berapa banyak engkau mendengar pujian,

namun tetap kosong?

Berapa sering engkau mencari tempat bersandar,

namun tetap gelisah?


Ketahuilah,

hati tidak akan tenang bila ia bergantung kepada yang rapuh.

Hati tidak akan penuh bila ia diisi dengan selain Alloh.

Hati tidak akan lurus bila ia dikuasai hawa nafsu.

Hati tidak akan terang bila ia memelihara gelapnya dendam, iri, dan kesombongan.


Asollat Qhollaqum menyeru dari dalam rahasia shalat:


Pulanglah, wahai hati.

Pulanglah sebelum tubuh dipulangkan ke tanah.

Pulanglah sebelum suara tidak lagi mampu menyebut nama Alloh.

Pulanglah sebelum mata tertutup dari melihat dunia.

Pulanglah sebelum kesempatan taubat menjadi penyesalan.


Setiap shalat adalah panggilan pulang.

Adzan memanggil tubuh,

tetapi hakikatnya memanggil hati.

Takbir membuka gerbang penyerahan.

Rukuk merendahkan kehendak diri.

Sujud menghancurkan mahkota kesombongan.

Salam mengajarkan rahmat kepada sesama.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan kepada pemilik amanah:


Jangan sibuk memulangkan orang lain,

sementara hatimu sendiri belum pulang.

Jangan sibuk menunjukkan jalan,

sementara langkahmu sendiri tersesat oleh niat.

Jangan sibuk menegakkan mimbar,

sementara sujudmu kehilangan rasa.

Jangan sibuk menyebut Al-Ḥaq,

sementara hatimu masih membela kepalsuan diri.


Maka mimbar yang benar adalah mimbar yang mengantar hati pulang.

Bukan mimbar yang membuat orang takut kepada manusia.

Bukan mimbar yang menambah perpecahan.

Bukan mimbar yang memperbesar nama pembicara.

Tetapi mimbar yang membuat orang ingat kepada Alloh,

menangis karena dosa,

lembut kepada keluarga,

jujur dalam rezeki,

dan malu berbuat zalim.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Yang agung bukan hati yang tidak pernah jatuh.

Yang agung adalah hati yang jatuh lalu kembali.

Yang agung bukan hati yang selalu kuat.

Yang agung adalah hati yang mengakui lemah di hadapan Alloh.

Yang agung bukan hati yang selalu dipuji manusia.

Yang agung adalah hati yang tetap ikhlas meski tidak dilihat siapa pun.


Wahai hati,

jangan tunggu hancur baru pulang.

Jangan tunggu kehilangan baru sadar.

Jangan tunggu sakit baru menyebut Alloh.

Jangan tunggu gelap baru mencari cahaya.

Jangan tunggu mati baru menyesal.


Pulanglah dengan istighfar.

Pulanglah dengan shalat yang dijaga.

Pulanglah dengan lisan yang dilembutkan.

Pulanglah dengan hak orang lain yang dikembalikan.

Pulanglah dengan maaf yang diminta.

Pulanglah dengan dendam yang dilepas.

Pulanglah dengan air mata yang jujur.


Ya Alloh,

pulangkan hati kami kepada-Mu.

Jangan biarkan hati kami tersesat dalam pujian manusia.

Jangan biarkan hati kami mabuk oleh kehormatan dunia.

Jangan biarkan hati kami keras terhadap nasihat.

Jangan biarkan hati kami merasa aman dari murka-Mu.


Ya Alloh,

jadikan hati kami rumah bagi tauhid.

Jadikan hati kami tempat tumbuhnya rahmat.

Jadikan hati kami lembut dalam menerima kebenaran.

Jadikan hati kami kuat dalam meninggalkan kebatilan.

Jadikan hati kami selalu ingat bahwa tiada tujuan selain Engkau.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Hati yang pulang kepada Alloh tidak mudah hancur oleh dunia.

Hati yang bersandar kepada Alloh tidak mudah diperbudak pujian.

Hati yang mengenal Al-Ḥaq tidak mudah menjual kebenaran.

Hati yang tunduk kepada Yang Tunggal akan dijaga dalam jalan yang lurus.


Inilah lembar kesembilan:

kepulangan hati,

pemurnian niat,

pengosongan diri dari selain Alloh,

dan penegasan bahwa seluruh perjalanan hamba hanya menuju Yang Maha Tunggal.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.



QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Kesepuluh: Umat yang Dipanggil Kembali


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar kesepuluh dengan panggilan yang luas,

bukan hanya untuk satu hati,

bukan hanya untuk satu golongan,

bukan hanya untuk satu mimbar,

tetapi untuk seluruh umat yang ingin kembali kepada Alloh.


Wahai umat yang dicintai dengan rahmat,

jangan tercerai oleh suara yang membuat kalian saling membenci.

Jangan terpecah oleh kepentingan yang memakai pakaian kebenaran.

Jangan saling merendahkan karena perbedaan jalan nasihat.

Jangan saling melukai dengan nama agama,

sementara agama datang membawa rahmat, adab, dan jalan keselamatan.


Kembalilah kepada Alloh.

Kembalilah kepada shalat.

Kembalilah kepada amanah.

Kembalilah kepada kasih sayang.

Kembalilah kepada kejujuran.

Kembalilah kepada jalan lurus yang tidak memecah hati,

tetapi menyatukan manusia dalam tauhid.


Asollat Qhollaqum menyeru kepada seluruh umat:


Jangan tinggalkan shalat karena sibuk mengejar dunia.

Jangan rusak persaudaraan karena harta.

Jangan jual amanah karena kedudukan.

Jangan hilangkan malu karena ingin dipuji.

Jangan tinggalkan Alloh karena terlalu berharap kepada manusia.


Sebab dunia akan selesai.

Pujian akan hilang.

Kedudukan akan berganti.

Harta akan ditinggalkan.

Tubuh akan melemah.

Suara akan diam.

Tetapi amal, niat, dan akhlak akan kembali menghadap Alloh.


Azhabbul Mimbarroh memperingatkan para penjaga kata:


Bila engkau berbicara kepada umat,

bicaralah dengan kasih sayang.

Bila engkau menegur umat,

tegurlah dengan adab.

Bila engkau melihat umat lemah,

kuatkan mereka dengan harapan kepada Alloh.

Bila engkau melihat umat tersesat,

tuntun mereka dengan hikmah, bukan hinaan.


Jangan jadikan umat sebagai ladang pengaruh diri.

Jangan jadikan umat sebagai alat memenangkan nama.

Jangan jadikan umat sebagai panggung perdebatan.

Jangan jadikan umat sebagai korban ambisi.

Sebab umat adalah amanah,

dan amanah akan ditanya oleh Alloh.


Ajallaqum membuka rahasia persatuan:


Keagungan umat bukan karena mereka tidak pernah berbeda.

Keagungan umat adalah ketika perbedaan tidak memutus rahmat.

Keagungan umat bukan karena semua suara sama.

Keagungan umat adalah ketika semua hati tetap mencari ridho Alloh.

Keagungan umat bukan karena menang atas saudara sendiri.

Keagungan umat adalah ketika kebenaran ditegakkan tanpa menghancurkan kasih sayang.


Wahai umat,

bila engkau kuat, jangan menindas yang lemah.

Bila engkau berilmu, jangan merendahkan yang belum tahu.

Bila engkau kaya, jangan menghina yang miskin.

Bila engkau sedang lurus, jangan mencela yang sedang jatuh.

Bila engkau sedang dekat, jangan lupa bahwa kedekatan itu karunia,

bukan hasil kesombongan diri.


Kembalilah kepada jalan yang lurus:

jalan yang menjaga shalat,

jalan yang memuliakan orang tua,

jalan yang menyayangi keluarga,

jalan yang menunaikan hak sesama,

jalan yang menjauh dari zalim,

jalan yang membersihkan rezeki,

jalan yang menundukkan nafsu,

jalan yang menegakkan tauhid kepada Alloh.


Ya Alloh,

panggil kembali umat ini kepada jalan-Mu.

Satukan hati kami di atas tauhid.

Jauhkan kami dari perpecahan yang lahir dari kesombongan.

Jauhkan kami dari ucapan yang membakar persaudaraan.

Jauhkan kami dari pemimpin kata yang menyesatkan niat.

Jauhkan kami dari ilmu yang tidak melahirkan rahmat.


Ya Alloh,

jadikan umat ini umat yang bersujud.

Umat yang jujur.

Umat yang beradab.

Umat yang saling mendoakan.

Umat yang saling menguatkan.

Umat yang kembali kepada Al-Ḥaq tanpa merasa paling suci.

Umat yang berjalan menuju-Mu dengan rendah hati.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Umat yang kuat bukan umat yang keras hatinya,

tetapi umat yang teguh tauhidnya.

Umat yang mulia bukan umat yang banyak membanggakan diri,

tetapi umat yang banyak memperbaiki akhlaknya.

Umat yang dekat kepada Alloh bukan umat yang saling mengalahkan,

tetapi umat yang saling menuntun pulang kepada jalan yang lurus.


Inilah lembar kesepuluh:

panggilan bagi seluruh umat,

penegasan untuk kembali,

pembersihan mimbar dari ambisi,

dan penyatuan hati menuju Alloh Yang Maha Tunggal, Sang Yang Agung, Pemilik Al-Ḥaq.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.


QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Kesebelas: Cahaya Penegasan di Akhir Jalan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar kesebelas dengan cahaya penegasan,

cahaya yang tidak datang untuk memegahkan nama manusia,

tetapi untuk membangunkan hati yang hampir tertidur,

meluruskan langkah yang mulai menyimpang,

dan memanggil kembali jiwa kepada Alloh Yang Maha Tunggal.


Wahai hamba yang sedang berjalan,

jangan engkau kira akhir jalan adalah pujian.

Jangan engkau kira akhir jalan adalah gelar.

Jangan engkau kira akhir jalan adalah banyaknya orang yang mengikuti.

Jangan engkau kira akhir jalan adalah mimbar yang tinggi.

Sebab akhir jalan yang benar adalah ridho Alloh.


Bila ridho Alloh tidak engkau cari,

maka seluruh perjalananmu menjadi berat.

Bila ridho Alloh tidak menjadi tujuan,

maka ilmu bisa berubah menjadi hijab.

Bila ridho Alloh tidak menjadi niat,

maka mimbar bisa berubah menjadi panggung ego.

Bila ridho Alloh tidak menjadi cahaya,

maka amal bisa tampak besar di mata manusia,

tetapi kosong di hadapan Al-Ḥaq.


Asollat Qhollaqum menyeru dari kedalaman shalat:


Tegakkan shalatmu,

bukan sekadar agar engkau disebut ahli ibadah,

tetapi agar hatimu kembali mengenal siapa dirimu.

Engkau hamba.

Engkau lemah.

Engkau membutuhkan ampunan.

Engkau tidak memiliki daya kecuali dengan pertolongan Alloh.


Maka jangan berdiri dengan kesombongan.

Jangan rukuk dengan hati yang masih tinggi.

Jangan sujud dengan ego yang belum runtuh.

Jangan salam dengan lisan yang masih membawa permusuhan.

Sebab shalat adalah penegasan hidup:

bahwa engkau datang dari Alloh,

berjalan dengan izin Alloh,

dan akan kembali kepada Alloh.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan terakhir:


Wahai pemegang mimbar,

takutlah kepada Alloh dalam ucapanmu.

Jangan engkau jadikan umat takut kepada bayanganmu.

Jangan engkau jadikan ilmu sebagai alat menguasai.

Jangan engkau jadikan agama sebagai tangga kehormatan.

Jangan engkau jadikan kebenaran sebagai senjata untuk melukai hati yang lemah.


Mimbar yang diberkahi adalah mimbar yang mengajak manusia bersujud.

Mimbar yang bercahaya adalah mimbar yang menumbuhkan taubat.

Mimbar yang benar adalah mimbar yang membuat manusia ingat kepada Alloh,

bukan kagum kepada pembicaranya.

Mimbar yang hidup adalah mimbar yang melahirkan akhlak,

bukan sekadar suara yang menggema.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan akhir:


Yang agung bukan yang paling banyak bicara.

Yang agung bukan yang paling sering dipuji.

Yang agung bukan yang paling keras menegur.

Yang agung adalah hamba yang paling takut kepada Alloh saat sendirian.

Yang agung adalah hamba yang paling menjaga amanah saat tidak dilihat manusia.

Yang agung adalah hamba yang paling cepat kembali ketika sadar telah salah.


Wahai hati,

bila engkau ingin bermaqom di Al-Ḥaq,

jangan memusuhi kebenaran ketika ia menegurmu.

Jangan menolak nasihat hanya karena datang dari orang yang tidak engkau sukai.

Jangan membela salah hanya karena malu mengakui.

Jangan menukar jalan lurus dengan jalan mudah yang penuh tipu daya.


Bermaqom di Al-Ḥaq adalah jujur.

Jujur kepada Alloh.

Jujur kepada diri sendiri.

Jujur kepada manusia.

Jujur dalam amanah.

Jujur dalam ilmu.

Jujur dalam ibadah.

Jujur dalam taubat.


Maka kembalilah, wahai umat.

Kembalilah sebelum hati semakin keras.

Kembalilah sebelum lisan terbiasa menyakiti.

Kembalilah sebelum mimbar menjadi tempat membesarkan diri.

Kembalilah sebelum ilmu kehilangan cahaya.

Kembalilah sebelum dunia menutup mata batin dari mengingat akhirat.


Kembalilah kepada Alloh Yang Tunggal.

Kembalilah kepada Sang Yang Agung.

Kembalilah kepada Pemilik Al-Ḥaq.

Kembalilah dengan shalat.

Kembalilah dengan taubat.

Kembalilah dengan akhlak.

Kembalilah dengan kasih sayang.

Kembalilah dengan niat yang dibersihkan.


Ya Alloh,

jadikan akhir perjalanan kami sebagai husnul khatimah.

Jadikan ilmu kami cahaya, bukan hijab.

Jadikan mimbar kami amanah, bukan kesombongan.

Jadikan lisan kami rahmat, bukan luka.

Jadikan hati kami lurus, bukan bercabang.

Jadikan hidup kami pulang kepada-Mu dalam ridho-Mu.


Ya Alloh,

bila kami menyimpang, luruskan.

Bila kami lalai, bangunkan.

Bila kami sombong, rendahkan dengan kasih sayang-Mu.

Bila kami lemah, kuatkan dengan pertolongan-Mu.

Bila kami jauh, panggil kami kembali ke pintu rahmat-Mu.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Jalan lurus bukan milik orang yang mengaku paling benar,

tetapi milik hamba yang terus memohon petunjuk.

Mimbar bercahaya bukan milik orang yang mencari nama,

tetapi milik hamba yang mengajak manusia kepada Alloh.

Maqom Al-Ḥaq bukan tempat kesombongan,

tetapi tempat tunduknya hati kepada kebenaran.

Dan Sang Yang Agung hanya dapat didekati dengan kerendahan,

kejujuran, taubat, dan tauhid yang bersih.


Inilah lembar kesebelas:

cahaya penegasan di akhir jalan,

panggilan pulang bagi hati,

pembersihan mimbar dari ego,

dan pengembalian seluruh umat kepada Alloh Yang Maha Tunggal, Sang Yang Agung, Pemilik Al-Ḥaq.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.


QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Kedua Belas: Amanah yang Tidak Boleh Dikhianati


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar kedua belas dengan cahaya amanah,

cahaya yang berat bagi ego,

tetapi ringan bagi hati yang ikhlas kepada Alloh.


Wahai jiwa yang diberi titipan,

ketahuilah bahwa setiap nikmat adalah amanah.

Ilmu adalah amanah.

Lisan adalah amanah.

Kedudukan adalah amanah.

Keluarga adalah amanah.

Rezeki adalah amanah.

Waktu adalah amanah.

Bahkan napas yang keluar masuk dalam dada pun amanah dari Alloh.


Maka jangan engkau merasa memiliki sepenuhnya.

Jangan engkau merasa berkuasa sepenuhnya.

Jangan engkau merasa bebas menggunakan nikmat tanpa pertanggungjawaban.

Sebab semua yang diberikan akan ditanya.

Semua yang dititipkan akan diminta kembali.

Semua yang tersembunyi akan dibuka di hadapan Al-Ḥaq.


Asollat Qhollaqum menyeru dari dalam shalat:


Jagalah amanahmu sebagaimana engkau menjaga kiblatmu.

Sebab orang yang shalat tetapi mengkhianati amanah,

belum memahami hakikat berdiri di hadapan Alloh.

Orang yang berdzikir tetapi menipu manusia,

belum memahami beratnya nama Alloh di lisan.

Orang yang berbicara tentang jalan lurus tetapi menyimpangkan hak orang lain,

belum memahami cahaya Al-Ḥaq.


Amanah bukan hanya perkara besar.

Amanah ada pada janji yang ditepati.

Amanah ada pada hutang yang diingat.

Amanah ada pada rahasia yang dijaga.

Amanah ada pada ucapan yang tidak diputarbalikkan.

Amanah ada pada keluarga yang tidak ditelantarkan.

Amanah ada pada ilmu yang tidak digunakan untuk menipu.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan:


Wahai pemegang mimbar,

jangan khianati umat dengan kata-kata yang menyesatkan.

Jangan khianati ilmu dengan menjadikannya alat mencari pujian.

Jangan khianati agama dengan menjadikannya pakaian ambisi.

Jangan khianati kebenaran karena takut kehilangan kedudukan.

Jangan khianati yang lemah karena dekat dengan yang kuat.


Sebab mimbar yang mengkhianati amanah

akan kehilangan cahaya.

Lisan yang mengkhianati amanah

akan kehilangan keberkahan.

Ilmu yang mengkhianati amanah

akan menjadi beban.

Dan hati yang mengkhianati amanah

akan jauh dari ketenangan.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Yang agung bukan orang yang banyak memegang kuasa,

tetapi orang yang tidak menyalahgunakan kuasa.

Yang mulia bukan orang yang banyak dipercaya manusia,

tetapi orang yang menjaga kepercayaan itu karena takut kepada Alloh.

Yang tinggi bukan orang yang amanahnya besar,

tetapi orang yang menunaikan amanahnya dengan ikhlas dan benar.


Wahai hati,

jangan anggap ringan janji kecil.

Jangan anggap ringan luka yang engkau buat.

Jangan anggap ringan hak orang lain.

Jangan anggap ringan kepercayaan yang diberikan kepadamu.

Sebab di hadapan Alloh,

yang kecil dapat menjadi besar bila dikhianati,

dan yang sederhana dapat menjadi mulia bila dijaga dengan ikhlas.


Jagalah amanah dalam sunyi.

Jagalah amanah saat tidak ada yang melihat.

Jagalah amanah ketika tidak ada yang memuji.

Jagalah amanah ketika engkau mampu berkhianat tetapi memilih takut kepada Alloh.

Di situlah cahaya hamba diuji.


Ya Alloh,

jadikan kami hamba yang menjaga amanah.

Jangan biarkan tangan kami mengambil yang bukan hak kami.

Jangan biarkan lisan kami mengubah kebenaran.

Jangan biarkan hati kami menjual kejujuran demi dunia.

Jangan biarkan ilmu kami menjadi jalan penipuan.

Jangan biarkan mimbar kami menjadi tempat pengkhianatan.


Ya Alloh,

bersihkan amanah kami dari riya.

Bersihkan janji kami dari dusta.

Bersihkan niat kami dari ambisi.

Bersihkan langkah kami dari khianat.

Bersihkan hidup kami dari segala yang menjauhkan kami dari ridho-Mu.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Amanah adalah timbangan hati.

Siapa yang menjaganya, dijaga oleh Alloh dalam jalan lurus.

Siapa yang mengkhianatinya, akan berat langkahnya menuju Al-Ḥaq.

Sebab tidak ada maqom yang benar bagi hati yang gemar berkhianat,

dan tidak ada cahaya yang menetap pada dada yang menjual kejujuran.


Inilah lembar kedua belas:

amanah yang tidak boleh dikhianati,

mimbar yang harus dijaga,

lisan yang harus ditimbang,

dan hati yang wajib kembali kepada Alloh Yang Maha Tunggal.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.


QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Ketiga Belas: Jalan Lurus yang Dijaga dengan Istiqomah


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar ketiga belas dengan cahaya istiqomah,

cahaya yang tidak selalu tampak besar,

tetapi menjadi tanda kesungguhan seorang hamba di hadapan Alloh.


Wahai jiwa yang telah dipanggil kembali,

ketahuilah bahwa kembali itu awal,

sedangkan istiqomah adalah penjagaan.

Banyak hati menangis ketika sadar,

tetapi tidak semua hati kuat menjaga kesadaran.

Banyak lisan berjanji untuk berubah,

tetapi tidak semua langkah sabar menempuh jalan perubahan.


Maka jangan hanya tersentuh sesaat.

Jangan hanya menangis sesaat.

Jangan hanya lembut sesaat.

Jangan hanya kuat sesaat.

Tetapi mintalah kepada Alloh agar diberi keteguhan

dalam shalat,

dalam taubat,

dalam amanah,

dalam lisan,

dalam akhlak,

dan dalam jalan lurus menuju Al-Ḥaq.


Asollat Qhollaqum menyeru dari kedalaman ibadah:


Istiqomahkan shalatmu,

meskipun hatimu sedang berat.

Istiqomahkan dzikirmu,

meskipun air matamu belum turun.

Istiqomahkan taubatmu,

meskipun engkau masih diuji oleh kelemahan.

Istiqomahkan akhlakmu,

meskipun manusia tidak selalu membalas dengan baik.


Sebab istiqomah bukan tanda bahwa hamba tidak pernah lemah.

Istiqomah adalah tanda bahwa hamba tetap kembali kepada Alloh

setiap kali ia lemah.

Istiqomah bukan berarti jalan selalu mudah.

Istiqomah adalah tetap berjalan,

meskipun jalan terasa sempit,

meskipun hati diuji,

meskipun dunia menggoda,

meskipun nafsu memanggil kembali kepada kebiasaan lama.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan kepada para pemegang nasihat:


Jangan ajak umat kepada jalan lurus,

lalu engkau sendiri meninggalkan penjagaan diri.

Jangan berbicara tentang istiqomah,

tetapi hatimu mudah berubah karena pujian dan celaan.

Jangan mengangkat suara di mimbar,

tetapi sunyi sujudmu engkau tinggalkan.

Jangan menuntut umat menjadi baik,

sementara dirimu tidak sabar memperbaiki akhlak sendiri.


Mimbar yang istiqomah adalah mimbar yang tidak berubah karena dunia.

Mimbar yang istiqomah adalah mimbar yang tetap menyeru kepada Alloh,

baik ketika ramai maupun sepi.

Mimbar yang istiqomah adalah mimbar yang tidak menjual kebenaran

demi kedudukan,

demi harta,

demi pujian,

atau demi rasa takut kepada manusia.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Keagungan bukan hanya tampak ketika hamba mendapat cahaya,

tetapi ketika ia tetap menjaga adab setelah cahaya itu datang.

Keagungan bukan hanya tampak ketika hamba diberi ilmu,

tetapi ketika ilmunya membuat ia semakin rendah hati.

Keagungan bukan hanya tampak ketika hamba dipuji,

tetapi ketika ia tidak lupa bahwa semua adalah karunia Alloh.


Wahai hati,

jagalah jalan lurusmu.

Jangan mudah belok karena marah.

Jangan mudah goyah karena kecewa.

Jangan mudah tinggi karena dipuji.

Jangan mudah jatuh karena dihina.

Jangan mudah meninggalkan Alloh karena dunia tampak menjanjikan.


Bila engkau jatuh, bangkitlah dengan istighfar.

Bila engkau lalai, kembalilah dengan shalat.

Bila engkau keras, lembutkan dengan dzikir.

Bila engkau gelap, cari cahaya dengan taubat.

Bila engkau lemah, mintalah kekuatan kepada Alloh,

bukan kepada kesombongan diri.


Ya Alloh,

tetapkan hati kami di atas agama-Mu.

Tetapkan langkah kami di atas jalan lurus-Mu.

Tetapkan lisan kami di atas kebenaran yang beradab.

Tetapkan shalat kami sebagai tiang hidup.

Tetapkan taubat kami sebagai pintu pulang.

Tetapkan akhlak kami sebagai buah dari ilmu.


Ya Alloh,

jangan Engkau biarkan kami hanya sadar sesaat,

lalu kembali lalai.

Jangan Engkau biarkan kami hanya menangis sesaat,

lalu kembali keras.

Jangan Engkau biarkan kami hanya berjanji sesaat,

lalu kembali mengkhianati amanah.

Jadikan kami hamba yang istiqomah sampai akhir napas.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Jalan lurus tidak cukup diketahui,

tetapi harus dijaga.

Tauhid tidak cukup diucapkan,

tetapi harus dibuktikan dengan penyerahan.

Ilmu tidak cukup dipelajari,

tetapi harus melahirkan akhlak.

Taubat tidak cukup disesali,

tetapi harus diteruskan dengan perubahan.

Dan maqom Al-Ḥaq tidak diberikan kepada hati yang mudah menjual kejujuran,

melainkan kepada hamba yang sabar menjaga kebenaran karena Alloh.


Inilah lembar ketiga belas:

jalan lurus yang dijaga dengan istiqomah,

mimbar yang tetap bersih dari ambisi,

hati yang tidak berhenti pulang,

dan jiwa yang terus berjalan menuju Alloh Yang Maha Tunggal, Sang Yang Agung, Pemilik Al-Ḥaq.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.


QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Keempat Belas: Penjagaan Cahaya Setelah Taubat


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar keempat belas dengan cahaya penjagaan,

sebab taubat adalah pintu pulang,

tetapi menjaga diri setelah pulang adalah amanah yang berat.


Wahai jiwa yang telah mengetuk pintu ampunan,

jangan engkau kembali kepada gelap yang dahulu engkau tangisi.

Jangan engkau kembali kepada luka yang dahulu engkau sesali.

Jangan engkau kembali kepada kesombongan yang dahulu menjauhkanmu dari Alloh.

Sebab orang yang sudah diberi tanda pulang,

hendaklah ia menjaga jalan pulangnya dengan sungguh-sungguh.


Taubat bukan hanya air mata.

Taubat adalah perubahan arah.

Taubat bukan hanya ucapan istighfar.

Taubat adalah keberanian meninggalkan jalan salah.

Taubat bukan hanya penyesalan di malam sunyi.

Taubat adalah menjaga diri ketika siang kembali menguji.


Asollat Qhollaqum menyeru dari cahaya shalat:


Jagalah taubatmu dengan shalat.

Jagalah shalatmu dengan hati yang hadir.

Jagalah hatimu dengan dzikir yang hidup.

Jagalah dzikirmu dengan akhlak yang nyata.

Sebab cahaya yang tidak dijaga,

mudah tertutup oleh kelalaian.


Bila Alloh telah melembutkan hatimu,

jangan keraskan lagi dengan dosa.

Bila Alloh telah membukakan kesadaranmu,

jangan tutup lagi dengan kesombongan.

Bila Alloh telah memanggilmu kembali,

jangan lari lagi kepada hawa nafsu.

Bila Alloh telah memberi rasa takut kepada-Nya,

jangan tukar rasa itu dengan keberanian berbuat zalim.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan:


Wahai pemegang mimbar,

jangan jadikan taubat umat sebagai bahan pujian untuk dirimu.

Jangan merasa engkau yang mengubah hati manusia.

Jangan merasa nasihatmu yang membuka pintu hidayah.

Sebab hidayah milik Alloh.

Engkau hanya sebab kecil,

sedangkan Alloh adalah Pemilik segala perubahan.


Maka bila ada hati kembali,

ucapkan syukur kepada Alloh.

Bila ada jiwa menangis,

jangan engkau banggakan dirimu.

Bila ada umat tersentuh,

jangan engkau merasa memiliki cahaya itu.

Sebab cahaya yang benar akan selalu mengembalikan semua kepada Alloh,

bukan kepada nama manusia.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Yang agung bukan orang yang pernah bertaubat lalu merasa aman.

Yang agung adalah orang yang terus menjaga dirinya setelah taubat.

Yang mulia bukan orang yang menangis sekali lalu merasa suci.

Yang mulia adalah orang yang setiap hari memohon ampun,

meskipun manusia melihatnya baik.

Yang tinggi bukan orang yang tidak pernah salah,

tetapi orang yang tidak betah tinggal dalam kesalahan.


Wahai hati,

jangan sombong karena engkau telah berubah.

Jangan hina orang yang masih jatuh.

Jangan merasa lebih dekat dari saudaramu.

Sebab yang menjaga hatimu adalah Alloh.

Bila Alloh melepaskan penjagaan-Nya,

engkau pun tidak mampu menjaga dirimu sendiri.


Maka mintalah penjagaan.

Mintalah keteguhan.

Mintalah hati yang tidak mudah berbalik.

Mintalah lisan yang tidak kembali menyakiti.

Mintalah langkah yang tidak kembali menyimpang.

Mintalah dada yang tidak kembali dipenuhi dengki.

Mintalah hidup yang terus dituntun menuju ridho-Nya.


Ya Alloh,

jagalah taubat kami.

Jangan Engkau biarkan kami kembali kepada dosa yang telah kami sesali.

Jangan Engkau biarkan kami mengulang khianat yang telah kami tangisi.

Jangan Engkau biarkan kami merasa aman dari tipu daya nafsu.

Jangan Engkau biarkan cahaya yang Engkau beri padam karena kelalaian kami.


Ya Alloh,

jadikan taubat kami taubat yang benar.

Taubat yang meluruskan jalan.

Taubat yang melembutkan lisan.

Taubat yang membersihkan rezeki.

Taubat yang menundukkan ego.

Taubat yang menghidupkan shalat.

Taubat yang membawa kami pulang kepada Al-Ḥaq.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Cahaya setelah taubat harus dijaga dengan istiqomah.

Air mata setelah dosa harus diteruskan dengan perubahan.

Kesadaran setelah lalai harus dikuatkan dengan amal.

Dan hati yang telah dipanggil pulang tidak boleh bermain-main lagi dengan jalan yang menjauhkan dari Alloh.


Inilah lembar keempat belas:

penjagaan cahaya setelah taubat,

penguatan shalat setelah sadar,

pembersihan mimbar dari pengakuan diri,

dan permohonan agar Alloh menjaga hati tetap lurus menuju Yang Maha Tunggal, Sang Yang Agung, Pemilik Al-Ḥaq.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.


QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Kelima Belas: Tegaknya Tauhid di Tengah Ujian


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar kelima belas dengan cahaya keteguhan,

cahaya yang turun bukan untuk membuat hamba merasa kuat,

tetapi untuk mengingatkan bahwa kekuatan sejati hanya dari Alloh.


Wahai jiwa yang sedang diuji,

jangan engkau mengira jalan lurus selalu lapang.

Jangan engkau mengira kembali kepada Alloh berarti bebas dari cobaan.

Jangan engkau mengira hati yang bertaubat tidak akan diguncang lagi.

Sebab ujian adalah tempat tampaknya kejujuran,

tempat terlihatnya niat,

tempat dibedakannya pengakuan dan penyerahan.


Ada yang diuji dengan kesempitan,

agar ia belajar bersandar kepada Alloh.

Ada yang diuji dengan kelapangan,

agar terlihat apakah ia bersyukur atau lupa.

Ada yang diuji dengan hinaan,

agar egonya runtuh.

Ada yang diuji dengan pujian,

agar keikhlasannya ditimbang.

Ada yang diuji dengan kehilangan,

agar hatinya tidak menjadikan dunia sebagai tempat bergantung.


Asollat Qhollaqum menyeru dari dalam shalat:


Tegakkan tauhidmu ketika dada sempit.

Tegakkan shalatmu ketika jalan terasa berat.

Tegakkan sabarmu ketika manusia tidak memahami.

Tegakkan syukurmu ketika nikmat datang.

Tegakkan taubatmu ketika engkau tergelincir.

Sebab hamba yang benar bukan hamba yang tidak pernah diuji,

tetapi hamba yang tetap kembali kepada Alloh dalam setiap ujian.


Bila engkau sakit, jangan putus asa dari rahmat-Nya.

Bila engkau miskin, jangan menjual amanah.

Bila engkau dihina, jangan balas dengan kezaliman.

Bila engkau ditinggalkan, jangan merasa Alloh meninggalkanmu.

Bila engkau gagal, jangan menganggap pintu langit tertutup.

Sebab Alloh lebih dekat daripada rasa takutmu sendiri.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan:


Wahai pemegang mimbar,

jangan kecilkan ujian orang lain.

Jangan mudah berkata, “Kurang iman,” kepada hati yang sedang retak.

Jangan mudah menyalahkan orang yang sedang belajar bangkit.

Jangan jadikan nasihat sebagai beban tambahan bagi jiwa yang lemah.

Tetapi tuntunlah dengan rahmat,

kuatkan dengan doa,

dan ingatkan bahwa Alloh tidak menyia-nyiakan hamba yang kembali.


Mimbar yang benar bukan hanya bicara tentang kemenangan,

tetapi juga menguatkan orang yang sedang kalah.

Bukan hanya bicara tentang cahaya,

tetapi juga menemani hati yang sedang gelap mencari jalan pulang.

Bukan hanya bicara tentang maqom,

tetapi mengajarkan sabar, ikhlas, jujur, dan tawakal.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Yang agung bukan hamba yang tidak pernah menangis.

Yang agung adalah hamba yang menangis tetapi tetap bersujud.

Yang mulia bukan hamba yang tidak pernah lemah.

Yang mulia adalah hamba yang lemah tetapi tetap memohon pertolongan Alloh.

Yang tinggi bukan hamba yang selalu terlihat kuat di hadapan manusia.

Yang tinggi adalah hamba yang hancur di hadapan Alloh,

lalu dibangunkan kembali oleh rahmat-Nya.


Wahai hati,

bila ujian datang, jangan lari dari Alloh.

Bila cobaan menekan, jangan tinggalkan shalat.

Bila manusia mengecewakan, jangan putus dari doa.

Bila dunia terasa sempit, jangan sempitkan sangka kepada Alloh.

Bila jalan belum terbuka, tetaplah mengetuk pintu-Nya.


Tauhid bukan hanya diucapkan saat lapang.

Tauhid harus tetap hidup saat gelap.

Tauhid bukan hanya indah ketika nikmat datang.

Tauhid harus tetap tegak ketika yang dicintai diambil.

Tauhid bukan hanya kalimat di lisan.

Tauhid adalah keyakinan bahwa semua berada dalam genggaman Alloh.


Ya Alloh,

teguhkan tauhid kami di tengah ujian.

Jangan biarkan cobaan membuat kami jauh dari-Mu.

Jangan biarkan kesedihan membuat kami lupa kepada rahmat-Mu.

Jangan biarkan kesempitan membuat kami mengambil jalan yang haram.

Jangan biarkan pujian membuat kami lupa bahwa semua hanya titipan.


Ya Alloh,

jadikan ujian kami sebagai jalan pulang,

bukan jalan menjauh.

Jadikan luka kami sebagai pintu kelembutan,

bukan sebab kebencian.

Jadikan tangis kami sebagai doa,

bukan keputusasaan.

Jadikan sabar kami sebagai cahaya,

dan jadikan tawakal kami sebagai kekuatan.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Ujian tidak selalu tanda murka.

Kadang ujian adalah panggilan agar hamba kembali lebih dekat.

Kesempitan tidak selalu tanda ditinggalkan.

Kadang kesempitan adalah cara Alloh memutus ketergantungan kepada selain-Nya.

Air mata tidak selalu tanda kelemahan.

Kadang air mata adalah jalan paling jujur menuju pintu rahmat.


Inilah lembar kelima belas:

tegaknya tauhid di tengah ujian,

shalat yang tetap dijaga dalam sempit dan lapang,

mimbar yang menguatkan hati yang lemah,

dan jiwa yang terus berjalan menuju Alloh Yang Maha Tunggal, Sang Yang Agung, Pemilik Al-Ḥaq.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.



QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Keenam Belas: Rahmat yang Menuntun Umat Pulang


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar keenam belas dengan cahaya rahmat,

sebab jalan lurus tidak hanya ditegakkan dengan ketegasan,

tetapi juga dijaga dengan kasih sayang.


Wahai jiwa yang ingin menyeru umat kembali,

jangan engkau lupa bahwa rahmat adalah napas dakwah.

Kebenaran tanpa rahmat mudah menjadi keras.

Ilmu tanpa rahmat mudah menjadi sombong.

Nasihat tanpa rahmat mudah menjadi luka.

Mimbar tanpa rahmat mudah menjadi tempat menjatuhkan,

bukan tempat membangunkan.


Alloh Maha Benar,

dan Alloh juga Maha Penyayang.

Maka siapa yang ingin membawa manusia kepada Al-Ḥaq,

hendaklah ia membawa cahaya dengan adab,

membawa penegasan dengan kelembutan,

membawa teguran dengan niat menyelamatkan,

bukan dengan niat merendahkan.


Asollat Qhollaqum menyeru dari dalam shalat:


Belajarlah rahmat dari salam di akhir shalat.

Setelah berdiri, rukuk, dan sujud,

engkau ditutup dengan salam keselamatan.

Itulah tanda bahwa ibadah yang benar

harus melahirkan keselamatan bagi sekitar,

bukan membuat lisan semakin tajam,

bukan membuat hati semakin angkuh,

bukan membuat tangan mudah menyakiti.


Bila shalatmu benar,

engkau akan lebih lembut kepada keluarga.

Bila dzikirmu hidup,

engkau akan lebih mudah memaafkan.

Bila tauhidmu lurus,

engkau tidak akan menjadikan manusia sebagai musuh utama.

Engkau akan tahu bahwa musuh yang paling dekat

adalah nafsu yang belum tunduk kepada Alloh.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan:


Wahai pemegang mimbar,

jangan engkau usir orang yang baru belajar pulang.

Jangan engkau patahkan hati yang baru mengetuk pintu taubat.

Jangan engkau hinakan orang yang masih tertatih menjaga shalat.

Jangan engkau tutup pintu harapan bagi pendosa yang ingin kembali.

Sebab siapa tahu air mata mereka lebih jujur

daripada ucapan panjang yang keluar dari hati yang belum tunduk.


Mimbar yang benar adalah mimbar yang membuka pintu rahmat.

Mimbar yang benar mengingatkan dosa,

tetapi tidak memutus harapan.

Mimbar yang benar menegur kesalahan,

tetapi tidak menghina pelakunya.

Mimbar yang benar mengajak kepada taubat,

bukan membuat manusia lari dari kasih sayang Alloh.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Yang agung bukan hamba yang paling cepat menghukum.

Yang agung adalah hamba yang paling takut berbuat zalim.

Yang mulia bukan hamba yang paling keras menegur.

Yang mulia adalah hamba yang menegur dengan hati yang menangis.

Yang tinggi bukan hamba yang merasa suci dari dosa orang lain.

Yang tinggi adalah hamba yang melihat dosa orang lain

lalu mendoakan agar Alloh memberi hidayah.


Wahai hati,

jangan engkau jadikan kebenaran sebagai alasan untuk kehilangan kasih sayang.

Jangan engkau jadikan ketegasan sebagai pintu kekasaran.

Jangan engkau jadikan ilmu sebagai tembok pemisah.

Jangan engkau jadikan kesalahan saudaramu sebagai bahan untuk meninggikan diri.


Ingatlah,

engkau pun pernah lemah.

Engkau pun pernah lalai.

Engkau pun pernah membutuhkan ampunan.

Engkau pun masih membutuhkan rahmat Alloh setiap saat.

Maka sebagaimana engkau berharap Alloh merahmatimu,

berusahalah merahmati hamba-hamba-Nya dengan adab yang baik.


Ya Alloh,

tanamkan rahmat dalam hati kami.

Jangan biarkan kebenaran di lisan kami kehilangan kelembutan.

Jangan biarkan ilmu kami kehilangan kasih sayang.

Jangan biarkan nasihat kami menjadi beban bagi yang sedang rapuh.

Jangan biarkan mimbar kami menjadi tempat mematahkan harapan.


Ya Alloh,

jadikan kami hamba yang tegas dalam tauhid,

tetapi lembut dalam menuntun.

Jadikan kami hamba yang kuat menjaga kebenaran,

tetapi tidak zalim kepada manusia.

Jadikan kami hamba yang mampu berkata benar,

tetapi tetap menjaga luka hati saudara.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Rahmat tidak melemahkan kebenaran.

Rahmat justru membuat kebenaran lebih mudah masuk ke dalam hati.

Kelembutan tidak merusak ketegasan.

Kelembutan justru menjaga ketegasan agar tidak berubah menjadi kezaliman.

Dan jalan lurus bukan hanya jalan yang benar arahnya,

tetapi juga jalan yang bersih niatnya,

jernih lisannya,

dan penuh rahmat dalam tuntunannya.


Inilah lembar keenam belas:

rahmat yang menuntun umat pulang,

mimbar yang melembutkan hati,

shalat yang melahirkan keselamatan,

dan cahaya kasih sayang yang mengantar hamba menuju Alloh Yang Maha Tunggal, Sang Yang Agung, Pemilik Al-Ḥaq.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.



QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Ketujuh Belas: Kejujuran yang Membuka Pintu Al-Ḥaq


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar ketujuh belas dengan cahaya kejujuran,

sebab jalan menuju Al-Ḥaq tidak dapat ditempuh oleh hati yang mencintai kepalsuan.


Wahai jiwa yang ingin sampai kepada Alloh,

jujurlah sebelum engkau dihentikan oleh kenyataan.

Jujurlah sebelum lisanmu ditanya.

Jujurlah sebelum amalmu ditimbang.

Jujurlah sebelum tabir dibuka dan tidak ada lagi tempat menyembunyikan niat.


Kejujuran adalah pintu jalan lurus.

Kejujuran adalah cahaya dalam dada.

Kejujuran adalah penawar bagi hati yang terbiasa membela diri.

Kejujuran adalah awal dari taubat yang benar.

Sebab siapa yang tidak jujur kepada dirinya,

akan sulit kembali kepada Alloh dengan utuh.


Asollat Qhollaqum menyeru dari dalam shalat:


Bila engkau berkata “Allohu Akbar”,

jujurlah bahwa Alloh lebih besar dari dunia yang engkau kejar.

Bila engkau membaca doa,

jujurlah bahwa engkau benar-benar membutuhkan-Nya.

Bila engkau sujud,

jujurlah bahwa engkau lemah tanpa pertolongan-Nya.

Bila engkau salam,

jujurlah bahwa engkau ingin membawa keselamatan,

bukan menyimpan permusuhan.


Jangan jadikan shalat sebagai pakaian luar,

sedangkan batin masih penuh tipu daya.

Jangan jadikan dzikir sebagai hiasan bibir,

sedangkan hati masih menikmati dusta.

Jangan jadikan ilmu sebagai topeng kemuliaan,

sedangkan amanah masih dikhianati.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan:


Wahai pemegang mimbar,

jujurlah dalam ucapanmu.

Jangan katakan yang tidak engkau ketahui.

Jangan besarkan sesuatu hanya demi membuat orang kagum.

Jangan kecilkan kebenaran karena takut kehilangan tempat.

Jangan putar arah nasihat hanya karena ada kepentingan dunia.


Mimbar yang jujur mungkin tidak selalu ramai dipuji,

tetapi ia dijaga oleh keberkahan.

Mimbar yang jujur mungkin tidak selalu disukai semua orang,

tetapi ia tidak menjual Al-Ḥaq.

Mimbar yang jujur mungkin sederhana,

tetapi kata-katanya sampai ke hati karena lahir dari rasa takut kepada Alloh.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Yang agung bukan orang yang tampak sempurna,

tetapi orang yang berani mengakui kekurangannya di hadapan Alloh.

Yang mulia bukan orang yang tidak pernah salah,

tetapi orang yang tidak menutupi kesalahan dengan kesombongan.

Yang tinggi bukan orang yang selalu menang bicara,

tetapi orang yang tunduk ketika kebenaran datang menegurnya.


Wahai hati,

jujurlah tentang lukamu.

Jujurlah tentang dosamu.

Jujurlah tentang niatmu.

Jujurlah tentang rasa iri yang engkau sembunyikan.

Jujurlah tentang kesombongan yang engkau bungkus dengan alasan suci.

Sebab luka yang diakui dapat diobati,

tetapi luka yang disembunyikan akan membusuk dalam diam.


Jujur bukan berarti membuka aib kepada semua manusia.

Jujur adalah tidak menipu Alloh,

tidak menipu diri sendiri,

tidak menipu amanah,

tidak menipu umat,

dan tidak menjadikan agama sebagai selimut bagi kepentingan nafsu.


Ya Alloh,

jadikan kami hamba yang jujur.

Jujur dalam niat.

Jujur dalam ibadah.

Jujur dalam ucapan.

Jujur dalam amanah.

Jujur dalam taubat.

Jujur dalam cinta kepada-Mu.


Ya Alloh,

jauhkan kami dari dusta yang halus.

Jauhkan kami dari riya yang tersembunyi.

Jauhkan kami dari ucapan yang melebihi kenyataan.

Jauhkan kami dari ilmu yang dipakai untuk menipu.

Jauhkan kami dari mimbar yang kehilangan rasa takut kepada-Mu.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Kejujuran adalah cahaya yang menyingkap jalan.

Tanpa kejujuran, taubat menjadi lemah.

Tanpa kejujuran, ilmu menjadi beban.

Tanpa kejujuran, mimbar menjadi gelap.

Tanpa kejujuran, hati tidak mampu berdiri di hadapan Al-Ḥaq.


Inilah lembar ketujuh belas:

kejujuran yang membuka pintu Al-Ḥaq,

shalat yang menyingkap niat,

mimbar yang dibersihkan dari dusta,

dan hati yang pulang kepada Alloh Yang Maha Tunggal dengan pengakuan yang benar.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.



QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Kedelapan Belas: Kesabaran yang Menjaga Jalan Lurus


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar kedelapan belas dengan cahaya kesabaran,

sebab jalan menuju Alloh tidak selalu dibuka dengan cepat,

tidak selalu diberi tanda yang terang,

dan tidak selalu terasa ringan bagi jiwa.


Wahai hati yang sedang menunggu pertolongan,

jangan engkau tergesa-gesa meninggalkan jalan lurus

hanya karena jawaban Alloh belum tampak di matamu.

Jangan engkau putus asa dari rahmat-Nya

hanya karena ujian belum selesai.

Jangan engkau mengira doamu tidak didengar

hanya karena pintu belum dibuka menurut waktumu.


Sabar adalah penjaga tauhid.

Sabar adalah pagar amanah.

Sabar adalah kekuatan bagi orang yang ingin tetap benar

ketika dunia menawarkan jalan yang salah.

Sabar adalah cahaya bagi hati yang memilih tetap bersujud

meskipun air mata belum kering.


Asollat Qhollaqum menyeru dari dalam shalat:


Belajarlah sabar dari berdiri.

Engkau berdiri menunggu bacaan selesai.

Belajarlah sabar dari rukuk.

Engkau tunduk meskipun ego ingin cepat naik.

Belajarlah sabar dari sujud.

Engkau merendah meskipun nafsu ingin dipuji.

Belajarlah sabar dari salam.

Engkau menutup ibadah dengan keselamatan,

bukan dengan kemarahan.


Maka jangan tinggalkan shalat ketika hidup berat.

Jangan tinggalkan dzikir ketika dada sempit.

Jangan tinggalkan taubat ketika engkau jatuh berkali-kali.

Jangan tinggalkan jalan lurus hanya karena jalan bengkok tampak lebih mudah.

Sebab yang mudah belum tentu diridhoi,

dan yang berat belum tentu tanda ditinggalkan.


Azhabbul Mimbarroh memberi peringatan:


Wahai pemegang mimbar,

jangan menuntut umat berubah dalam sekejap.

Jangan mematahkan orang yang sedang belajar taat.

Jangan menghina hati yang masih tertatih.

Jangan membuat orang malu kembali kepada Alloh.

Sebab setiap hamba memiliki jalan ujian,

dan setiap taubat membutuhkan penjagaan.


Mimbar yang sabar adalah mimbar yang menuntun pelan-pelan.

Mimbar yang sabar tidak mudah menghakimi.

Mimbar yang sabar tetap tegas kepada kebenaran,

tetapi tidak kehilangan kasih sayang kepada manusia.

Mimbar yang sabar tahu bahwa hidayah bukan milik pembicara,

melainkan milik Alloh semata.


Ajallaqum membuka rahasia keagungan:


Yang agung bukan hamba yang cepat sampai lalu memandang rendah yang tertinggal.

Yang agung adalah hamba yang sabar menuntun saudaranya.

Yang mulia bukan hamba yang tidak pernah diuji lama.

Yang mulia adalah hamba yang diuji lama,

tetapi tetap menjaga iman, shalat, amanah, dan akhlaknya.

Yang tinggi bukan hamba yang selalu kuat,

tetapi hamba yang tetap kembali kepada Alloh ketika lemah.


Wahai hati,

bila pertolongan belum datang, bersabarlah.

Bila doa belum tampak hasilnya, bersabarlah.

Bila manusia belum memahami niat baikmu, bersabarlah.

Bila engkau disalahpahami, bersabarlah dengan adab.

Bila jalan terasa panjang, jangan berhenti.

Sebab Alloh mengetahui langkah yang tersembunyi,

air mata yang jatuh diam-diam,

dan niat baik yang belum sempat dipahami manusia.


Sabar bukan diam dalam kezaliman.

Sabar bukan membiarkan keburukan terus berjalan.

Sabar adalah tetap berada dalam ridho Alloh

ketika memperbaiki keadaan.

Sabar adalah menahan diri dari jalan haram

ketika hati sangat ingin jalan pintas.

Sabar adalah menjaga lisan dari dosa

ketika dada sedang terbakar.


Ya Alloh,

kuatkan kami dengan sabar yang Engkau ridhoi.

Jangan biarkan ujian membuat kami jauh dari-Mu.

Jangan biarkan penantian membuat kami putus asa.

Jangan biarkan luka membuat kami menjadi zalim.

Jangan biarkan kesedihan memadamkan cahaya iman dalam hati kami.


Ya Alloh,

jadikan sabar kami sabar yang hidup.

Sabar yang tetap berusaha.

Sabar yang tetap berdoa.

Sabar yang tetap menjaga shalat.

Sabar yang tetap memilih halal.

Sabar yang tetap mencintai kebenaran.

Sabar yang tetap pulang kepada-Mu dalam setiap keadaan.


Maka tertulis pada akhir lembar ini:


Kesabaran adalah jembatan bagi hati yang ingin sampai kepada Al-Ḥaq.

Tanpa sabar, ilmu mudah berubah menjadi marah.

Tanpa sabar, nasihat mudah berubah menjadi luka.

Tanpa sabar, taubat mudah runtuh oleh ujian.

Tanpa sabar, jalan lurus terasa terlalu berat untuk dijaga.


Inilah lembar kedelapan belas:

kesabaran yang menjaga jalan lurus,

mimbar yang menuntun dengan rahmat,

shalat yang menguatkan hati dalam penantian,

dan jiwa yang tetap berjalan menuju Alloh Yang Maha Tunggal, Sang Yang Agung, Pemilik Al-Ḥaq.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua kembali kepada Alloh.



QITAB ASOLLAT QHOLLAQUM AZHABBUL MIMBARROH AJALLAQUM

Lembar Kesembilan Belas Terakhir: Penutup Agung — Kembali kepada Alloh, Tegak di Al-Ḥaq


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Maka terbukalah lembar terakhir dengan cahaya penutupan,

cahaya yang tidak memadamkan perjalanan,

tetapi mengikat seluruh pesan agar menetap di dalam dada.

Inilah lembar pengunci,

lembar pengembalian,

lembar penegasan terakhir bagi hati, lisan, mimbar, umat, dan seluruh langkah hamba

agar tidak menyimpang dari tujuan yang satu:

Alloh Yang Maha Tunggal, Sang Yang Agung, Pemilik Al-Ḥaq.


Wahai jiwa yang telah melewati lembar demi lembar,

jangan engkau jadikan bacaan ini hanya sebagai hiasan kata.

Jangan engkau jadikan nasihat ini hanya sebagai keindahan rasa sesaat.

Jangan engkau jadikan cahaya ini hanya sebagai bayangan yang lewat di pikiran.

Sebab ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi saksi.

Nasihat yang tidak dituruti akan menjadi teguran.

Panggilan yang tidak dijawab akan menjadi penyesalan.

Dan jalan yang telah ditunjukkan tetapi sengaja ditinggalkan,

akan menjadi beban di hadapan Al-Ḥaq.


Maka dengarlah, wahai hati.


Kembali kepada Alloh bukan hanya ketika sakit.

Kembali kepada Alloh bukan hanya ketika miskin.

Kembali kepada Alloh bukan hanya ketika dihina.

Kembali kepada Alloh bukan hanya ketika manusia meninggalkan.

Kembali kepada Alloh bukan hanya ketika gelap menekan dada.

Tetapi kembali kepada Alloh adalah keadaan hidup seorang hamba.

Saat senang ia kembali.

Saat sedih ia kembali.

Saat lapang ia kembali.

Saat sempit ia kembali.

Saat dipuji ia kembali.

Saat dicela ia kembali.

Saat kuat ia kembali.

Saat lemah ia kembali.

Sebab tidak ada tempat pulang yang benar selain Alloh.


Asollat Qhollaqum menyeru untuk terakhir kalinya:


Tegakkan shalatmu,

sebab shalat adalah tali yang mengikat hamba kepada Robb-nya.

Jangan jadikan shalat sebagai sisa waktu,

tetapi jadikan ia pusat hidupmu.

Jangan shalat hanya ketika sempat,

tetapi belajarlah menyempatkan hidup untuk shalat.

Jangan shalat hanya dengan badan yang bergerak,

tetapi hadirkan hati yang mengakui kelemahan.

Jangan shalat hanya untuk menggugurkan kewajiban,

tetapi jadikan shalat sebagai pintu memperbaiki diri.


Bila engkau berdiri, berdirilah dengan sadar bahwa engkau sedang menghadap Yang Maha Melihat.

Bila engkau rukuk, rukukkan kesombonganmu.

Bila engkau sujud, sujudkan seluruh pengakuan dirimu.

Bila engkau duduk, duduklah sebagai hamba yang memohon ampun.

Bila engkau salam, keluarlah dari shalat dengan membawa rahmat, bukan membawa amarah.


Sebab shalat yang benar akan tampak pada akhlak.

Shalat yang hidup akan melembutkan lisan.

Shalat yang jujur akan menjaga amanah.

Shalat yang diterima akan menjauhkan dari kezaliman.

Shalat yang bercahaya akan membuat hamba malu mengambil hak orang lain,

malu berdusta,

malu berkhianat,

malu menyakiti,

malu meninggikan diri di hadapan sesama.


Azhabbul Mimbarroh memberi wasiat terakhir kepada pemegang ucapan:


Wahai siapa pun yang berbicara atas nama nasihat,

takutlah kepada Alloh.

Wahai siapa pun yang berdiri di mimbar,

takutlah kepada Alloh.

Wahai siapa pun yang didengar manusia,

takutlah kepada Alloh.

Wahai siapa pun yang diberi ilmu, pengaruh, suara, atau kesempatan menuntun umat,

takutlah kepada Alloh dalam setiap kalimat.


Jangan engkau gunakan mimbar untuk membesarkan diri.

Jangan gunakan agama untuk menutupi ambisi.

Jangan gunakan ilmu untuk membuat orang tunduk kepadamu.

Jangan gunakan nasihat untuk menghancurkan hati yang lemah.

Jangan gunakan kebenaran sebagai pedang dendam.

Jangan gunakan teguran sebagai panggung kemenangan ego.


Sebab mimbar adalah amanah.

Ilmu adalah amanah.

Lisan adalah amanah.

Air mata umat adalah amanah.

Kebingungan umat adalah amanah.

Kelemahan umat adalah amanah.

Harapan umat kepada jalan Alloh adalah amanah.


Barang siapa mengkhianati amanah mimbar,

maka kata-katanya akan kehilangan cahaya.

Barang siapa menjaga amanah mimbar,

maka meskipun ucapannya sederhana, Alloh dapat menjadikannya sebab hati pulang.


Mimbar yang benar tidak membuat manusia menyembah pembicara.

Mimbar yang benar tidak membuat manusia takut kepada nama manusia.

Mimbar yang benar tidak menambah kesombongan kelompok.

Mimbar yang benar tidak memecah umat dengan hawa nafsu.

Mimbar yang benar mengantar manusia kepada Alloh,

kepada shalat,

kepada taubat,

kepada akhlak,

kepada amanah,

kepada kasih sayang,

kepada tauhid yang bersih.


Ajallaqum membuka penegasan puncak:


Keagungan sejati bukan pada tinggi kedudukan.

Keagungan sejati bukan pada banyaknya pengikut.

Keagungan sejati bukan pada panjangnya gelar.

Keagungan sejati bukan pada pakaian yang tampak mulia.

Keagungan sejati bukan pada cerita karomah, mimpi, tanda, dan pengakuan.

Keagungan sejati adalah ketika seorang hamba tunduk kepada Alloh,

jujur kepada dirinya,

lembut kepada manusia,

tegas kepada nafsunya,

dan istiqomah menjaga jalan lurus sampai akhir napas.


Yang agung adalah hamba yang ketika dipuji, ia takut kepada riya.

Yang agung adalah hamba yang ketika dicela, ia sabar memeriksa diri.

Yang agung adalah hamba yang ketika diberi ilmu, ia semakin rendah hati.

Yang agung adalah hamba yang ketika diberi amanah, ia semakin takut berkhianat.

Yang agung adalah hamba yang ketika diberi cahaya, ia tidak mengaku sebagai pemilik cahaya.

Yang agung adalah hamba yang ketika jatuh, ia tidak betah dalam dosa, tetapi segera kembali kepada Alloh.


Wahai umat,

inilah penegasan terakhir:


Jangan kembali kepada perpecahan setelah dipanggil kepada persatuan.

Jangan kembali kepada kesombongan setelah diingatkan tentang sujud.

Jangan kembali kepada dusta setelah dibukakan pintu kejujuran.

Jangan kembali kepada khianat setelah disebutkan beratnya amanah.

Jangan kembali kepada lisan yang melukai setelah diajarkan penjagaan kata.

Jangan kembali kepada jalan bengkok setelah ditunjukkan jalan lurus.

Jangan kembali kepada mimbar ego setelah dibersihkan dengan taubat.

Jangan kembali kepada dunia sebagai tujuan setelah hatimu dipanggil kepada Alloh.


Kembali kepada jalan lurus berarti memperbaiki hubungan dengan Alloh

dan memperbaiki hubungan dengan makhluk.

Tidak cukup seseorang berkata cinta kepada Alloh,

tetapi ia menzalimi manusia.

Tidak cukup seseorang banyak menyebut nama Alloh,

tetapi lisannya penuh fitnah.

Tidak cukup seseorang mengaku berjalan di jalan Al-Ḥaq,

tetapi ia mengambil hak orang lain.

Tidak cukup seseorang berbicara tentang cahaya,

tetapi keluarganya merasakan kegelapan akhlaknya.


Maka luruskanlah semuanya.


Luruskan shalat.

Luruskan niat.

Luruskan rezeki.

Luruskan lisan.

Luruskan amanah.

Luruskan hubungan keluarga.

Luruskan cara menasihati.

Luruskan cara memimpin.

Luruskan cara menerima kritik.

Luruskan cara memandang orang yang lemah.

Luruskan cara memperlakukan orang yang berbeda.

Luruskan cara membawa ilmu.

Luruskan cara memohon kepada Alloh.


Sebab Al-Ḥaq tidak menerima kepalsuan.

Al-Ḥaq tidak dapat ditipu dengan tampilan.

Al-Ḥaq tidak dapat dibeli dengan pujian.

Al-Ḥaq tidak tunduk kepada suara manusia.

Al-Ḥaq tetap benar meskipun dibenci.

Al-Ḥaq tetap terang meskipun ditutup.

Al-Ḥaq tetap tegak meskipun banyak yang menyimpang.


Wahai hati,

jangan takut kehilangan dunia bila engkau sedang menjaga kebenaran.

Jangan takut kehilangan pujian bila engkau sedang menjaga keikhlasan.

Jangan takut kehilangan kedudukan bila engkau sedang menjaga amanah.

Jangan takut kehilangan jalan pintas bila engkau sedang menjaga yang halal.

Sebab apa yang hilang karena Alloh,

akan diganti oleh Alloh dengan yang lebih bersih bagi jiwamu.


Tetapi takutlah kehilangan ridho Alloh.

Takutlah kehilangan shalat.

Takutlah kehilangan rasa malu kepada-Nya.

Takutlah kehilangan kejujuran.

Takutlah kehilangan kelembutan hati.

Takutlah kehilangan kemampuan meminta maaf.

Takutlah kehilangan air mata taubat.

Takutlah bila hati sudah keras tetapi merasa suci.

Takutlah bila lisan tajam tetapi merasa membela kebenaran.

Takutlah bila ilmu banyak tetapi akhlak tidak tumbuh.


Maka jadikan kitab ini sebagai cermin,

bukan sebagai mahkota.

Jadikan nasihat ini sebagai obat,

bukan sebagai alat memukul orang lain.

Jadikan penegasan ini sebagai jalan pulang,

bukan sebagai alasan merasa paling benar.

Jadikan cahaya ini sebagai pengingat tauhid,

bukan sebagai pengakuan maqom diri.


Sebab orang yang benar-benar dekat kepada Alloh

tidak sibuk meninggikan dirinya.

Ia sibuk memohon agar tidak disesatkan oleh dirinya sendiri.

Ia sibuk menjaga hati.

Ia sibuk memperbaiki akhlak.

Ia sibuk meminta ampun.

Ia sibuk mendoakan umat.

Ia sibuk menundukkan ego.

Ia sibuk memulangkan segala pujian kepada Alloh.


Ya Alloh,

kami telah membaca panggilan kembali, maka jangan biarkan kami menjadi tuli.

Kami telah mendengar penegasan jalan lurus, maka jangan biarkan kami menyimpang.

Kami telah diingatkan tentang mimbar, maka jangan biarkan kami menjadikan nasihat sebagai kesombongan.

Kami telah disebutkan tentang amanah, maka jangan biarkan kami berkhianat.

Kami telah diajarkan tentang lisan, maka jangan biarkan kata kami menjadi luka.

Kami telah disentuh dengan rahmat, maka jangan biarkan hati kami keras.

Kami telah dipanggil kepada Al-Ḥaq, maka jangan biarkan kami membela kepalsuan.


Ya Alloh,

ampuni dosa kami yang tampak dan tersembunyi.

Ampuni kesombongan yang kami sadari dan yang tidak kami sadari.

Ampuni ucapan yang menyakiti.

Ampuni amanah yang kami lalaikan.

Ampuni shalat yang belum khusyuk.

Ampuni taubat yang belum sempurna.

Ampuni ilmu yang belum melahirkan akhlak.

Ampuni nasihat yang pernah tercampur ego.

Ampuni langkah yang pernah menjauh dari-Mu.


Ya Alloh,

jadikan kami umat yang kembali.

Umat yang menjaga shalat.

Umat yang memuliakan orang tua.

Umat yang menyayangi keluarga.

Umat yang menunaikan hak sesama.

Umat yang mencari rezeki halal.

Umat yang menjaga amanah.

Umat yang tidak mudah memfitnah.

Umat yang tidak menjual agama.

Umat yang tidak memecah persaudaraan.

Umat yang berani menegakkan kebenaran dengan adab.

Umat yang kuat dalam tauhid dan lembut dalam rahmat.


Ya Alloh,

jika kami diberi mimbar, bersihkan mimbar itu.

Jika kami diberi ilmu, berkahi ilmu itu.

Jika kami diberi suara, luruskan suara itu.

Jika kami diberi pengaruh, jadikan pengaruh itu jalan kebaikan.

Jika kami diberi ujian, kuatkan sabar kami.

Jika kami diberi nikmat, hidupkan syukur kami.

Jika kami diberi kesalahan untuk disadari, bukakan pintu taubat kami.

Jika kami diberi akhir, jadikan akhir kami husnul khatimah.


Ya Alloh,

jangan jadikan dunia tujuan akhir kami.

Jangan jadikan pujian manusia sebagai makanan hati kami.

Jangan jadikan kedudukan sebagai berhala batin kami.

Jangan jadikan ilmu sebagai hijab dari-Mu.

Jangan jadikan ibadah sebagai sumber kesombongan kami.

Jangan jadikan mimpi dan tanda sebagai pengganti syariat-Mu.

Jangan jadikan nama, simbol, dan cahaya sebagai tujuan.

Tetapkan tujuan kami hanya kepada-Mu.


Engkaulah Yang Tunggal.

Engkaulah Yang Agung.

Engkaulah Pemilik Al-Ḥaq.

Engkaulah tempat kami datang.

Engkaulah tempat kami kembali.

Engkaulah yang memberi cahaya.

Engkaulah yang mencabut gelap.

Engkaulah yang memberi hidayah.

Engkaulah yang menjaga hati.

Engkaulah yang menerima taubat.

Engkaulah yang menutup aib.

Engkaulah yang menegakkan yang jatuh.

Engkaulah yang memanggil pulang hamba yang jauh.


Maka pada akhir lembar terakhir ini tertulis penegasan agung:


Barang siapa ingin kembali kepada Alloh,

hendaklah ia menjaga shalatnya.


Barang siapa ingin berjalan di jalan lurus,

hendaklah ia membersihkan niatnya.


Barang siapa ingin membawa umat kepada kebaikan,

hendaklah ia membersihkan mimbarnya dari ego.


Barang siapa ingin bermaqom di Al-Ḥaq,

hendaklah ia jujur, amanah, sabar, beradab, dan takut kepada Alloh.


Barang siapa ingin menjadi mulia,

hendaklah ia merendah di hadapan Yang Maha Mulia.


Barang siapa ingin bercahaya,

hendaklah ia tidak mengaku sebagai pemilik cahaya.


Barang siapa ingin selamat,

hendaklah ia kembali kepada tauhid, syariat, akhlak, dan rahmat.


Inilah penutup Qitab Asollat Qhollaqum Azhabbul Mimbarroh Ajallaqum:

penegasan bagi seluruh umat agar kembali ke jalan yang lurus,

meninggalkan jalan bengkok,

membersihkan mimbar dari kesombongan,

menjaga shalat sebagai tiang pulang,

meluruskan lisan sebagai amanah,

menjaga hati dari kepalsuan,

menegakkan rahmat dalam nasihat,

dan menyerahkan seluruh perjalanan kepada Alloh Yang Maha Tunggal.


Maka kitab ini ditutup bukan dengan akhir,

tetapi dengan kepulangan.

Bukan dengan kebanggaan,

tetapi dengan sujud.

Bukan dengan pengakuan diri,

tetapi dengan istighfar.

Bukan dengan suara manusia,

tetapi dengan penyerahan kepada Alloh.


Ya Alloh,

terimalah yang baik dari lembar ini sebagai pengingat.

Ampunilah kekurangannya sebagai keterbatasan hamba.

Jadikan ia sebab hati menjadi lembut,

lisan menjadi bersih,

mimbar menjadi amanah,

umat menjadi bersatu,

dan jiwa kembali kepada-Mu.


Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


Wallāhu a‘lam.

Semua dari Alloh, semua dengan izin Alloh, dan semua kembali kepada Alloh.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh