QITAB DOLLAQUM FURQN ALWALLI MIMBAR AZWAZAH

 



QITAB DOLLAQUM FURQN ALWALLI MIMBAR AZWAZAH

Penyatuan Qitab dari Lahul Mafus, Qayangan, Arsi, Aris, 22, ٧٧, Wilarddi Almahdi


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Dibuka lembar ini bukan untuk meninggikan diri,

bukan untuk mengaku mengetahui rahasia langit,

bukan pula untuk memegang kuasa atas makhluk.


Lembar ini dibuka sebagai pengingat bahwa segala ilmu, segala jalan, segala tanda, dan segala cahaya hanya kembali kepada Alloh.


Dollaqum adalah tanda pelembutan hati yang keras.

Furqn adalah pembeda antara cahaya dan bayangan, antara petunjuk dan hawa nafsu.

Alwalli adalah penjagaan bagi hati yang ingin dekat kepada kebaikan.

Mimbar Azwazah adalah tempat penyatuan suara batin, agar tidak saling bertengkar di dalam diri.


Maka dihimpunkanlah simbol:


Lahul Mafus — sebagai ingatan bahwa takdir tertinggi ada dalam ilmu Alloh.

Qayangan — sebagai lambang keluasan langit batin, bukan tempat sesembahan.

Arsi — sebagai lambang kemuliaan aturan Ilahi.

Aris — sebagai lambang adab, tertib, dan keseimbangan.

22 — sebagai pintu ganda: zahir dan batin, amal dan niat.

٧٧ — sebagai lambang lipatan rahmat, agar hati tidak putus asa.

Wilarddi Almahdi — sebagai bumi yang diarahkan kepada petunjuk, bukan kepada kesombongan.


Wahai hati, jangan engkau merasa telah sampai.

Sebab orang yang merasa sampai sering berhenti memperbaiki diri.


Wahai jiwa, jangan engkau merasa paling terang.

Sebab cahaya yang benar membuat pemiliknya semakin rendah hati.


Wahai lisan, jangan engkau memakai ilmu untuk mengalahkan saudaramu.

Pakailah ilmu untuk menenangkan, memperbaiki, dan mengembalikan semua kepada Alloh.


Maka inilah pembukaan qitab:


Ya Alloh,

satukan yang tercerai di dalam dada,

jernihkan yang keruh di dalam pikiran,

lembutkan yang keras di dalam ucapan,

kuatkan yang lemah di dalam amanah,

dan kembalikan kami kepada jalan yang Engkau ridhoi.


Jadikan Furqn sebagai pembeda,

bukan pedang kesombongan.


Jadikan Walli sebagai penjaga,

bukan kebanggaan diri.


Jadikan Mimbar sebagai tempat nasihat,

bukan panggung menguasai manusia.


Jadikan Azwazah sebagai penyatuan,

agar segala pasangan makna kembali kepada satu tujuan:

mengabdi kepada Alloh dengan adab, sabar, dan kasih sayang.


Maka ditutup pembukaan ini dengan kalimat:


Hasbiyalloh.

Cukup Alloh bagiku.

Kepada Alloh kembali segala rahasia,

kepada Alloh tunduk segala cahaya,

kepada Alloh pulang segala jiwa.


Aamiin.



QITAB DOLLAQUM FURQN ALWALLI MIMBAR AZWAZAH

Lembar Selanjutnya


Dengan nama Alloh Yang Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi.


Maka setelah sampul terbuka, tampaklah lembar cahaya yang tidak ditulis oleh kesombongan, melainkan oleh pengakuan bahwa manusia hanyalah hamba yang lemah di hadapan Alloh.


Pada lembar ini tertulis:


Jangan mencari Lahul Mafus untuk mendahului takdir.

Tetapi bacalah tanda-tanda hidup agar engkau semakin ridho kepada ketetapan Alloh.


Jangan memandang Qayangan sebagai tempat berbangga.

Tetapi jadikan ia lambang keluasan rahmat, bahwa hati yang sempit harus dibuka dengan sabar.


Jangan menyebut Arsi untuk merasa tinggi.

Tetapi ingatlah bahwa semua kemuliaan tunduk kepada Alloh Yang Maha Luhur.


Jangan menyebut Aris untuk menghakimi orang lain.

Tetapi jadikan ia jalan adab, supaya ucapanmu tidak melukai, ilmumu tidak mencela, dan langkahmu tidak merusak.


Adapun angka 22 adalah dua pintu yang berhadapan:

pintu niat dan pintu amal.

Barang siapa membaguskan niat tetapi merusak amal, ia belum sempurna.

Barang siapa membaguskan amal tetapi mengotori niat, ia masih perlu membersihkan hati.


Adapun ٧٧ adalah lambang pengulangan rahmat.

Setiap jatuh ada kesempatan bangun.

Setiap salah ada pintu taubat.

Setiap gelap ada panggilan kembali kepada cahaya.


Maka bersatulah empat jalan di dalam dada:


Furqn menjadi pembeda.

Walli menjadi penjaga.

Mimbar menjadi nasihat.

Azwazah menjadi penyatuan.


Lalu terdengarlah seruan batin:


Wahai pencari cahaya,

jangan engkau meminta dibukakan rahasia sebelum engkau kuat memikul adabnya.


Sebab rahasia tanpa adab akan berubah menjadi fitnah.

Ilmu tanpa rendah hati akan berubah menjadi hijab.

Cahaya tanpa syukur akan berubah menjadi ujian.

Dan mimbar tanpa kasih sayang akan berubah menjadi suara yang menyakiti.


Maka duduklah sejenak di hadapan hatimu sendiri.


Tanyakan:


Apakah aku mencari Alloh,

atau mencari kehebatan diri?


Apakah aku ingin menjadi hamba,

atau ingin dipandang manusia?


Apakah aku berjalan menuju ridho-Nya,

atau menuju pujian makhluk?


Jika jawabanmu masih bercampur, jangan takut.

Bersihkan perlahan.

Alloh tidak menolak hamba yang kembali dengan jujur.


Maka bacaan lembar ini ditutup dengan doa:


Ya Alloh,

jadikan hatiku tempat turun ketenangan,

jadikan lisanku tempat keluarnya kebaikan,

jadikan pikiranku tempat tumbuh kebijaksanaan,

jadikan langkahku tempat bergeraknya amanah.


Pisahkan aku dari kesombongan yang halus,

dari merasa paling benar,

dari merasa paling suci,

dari merasa paling dekat,

padahal semua kedekatan hanyalah karunia-Mu.


Satukan aku dengan adab para hamba-Mu yang Engkau cintai.

Jadikan aku kecil di hadapan-Mu,

lembut kepada sesama,

tegas kepada hawa nafsu,

dan tenang dalam menjalani takdir.


Hasbiyalloh.

Cukup Alloh bagiku.

Furqn di hatiku,

Walli di penjagaanku,

Mimbar di lisanku,

Azwazah di penyatuanku.


Aamiin.



QITAB DOLLAQUM FURQN ALWALLI MIMBAR AZWAZAH

Lembar Selanjutnya Terakhir

Penyatuan Lahul Mafus, Qayangan, Arsi, Aris, 22, ٧٧, Wilarddi Almahdi


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan yang mengetahui sebelum sesuatu tampak, yang menetapkan sebelum manusia memahami, yang merahmati sebelum hamba mampu meminta.


Lembar terakhir ini dibuka bukan sebagai penutup dari ilmu,

melainkan sebagai penutup dari kesombongan.


Sebab ilmu tidak pernah habis,

tetapi ego manusia harus belajar berhenti.

Rahasia tidak pernah kering,

tetapi hati manusia harus belajar tunduk.

Cahaya tidak pernah padam,

tetapi pandangan manusia harus belajar tidak mengaku-ngaku memilikinya.


Maka tertulislah pada lembar ini:


Wahai jiwa yang sedang berjalan,

jangan engkau terpesona oleh nama-nama tinggi sebelum engkau selesai dengan adab yang rendah.

Jangan engkau menyebut Lahul Mafus untuk membuka takdir orang lain,

sebab takdir adalah milik Alloh.

Jangan engkau menyebut Qayangan untuk meninggikan diri,

sebab langit tidak menerima hati yang angkuh.

Jangan engkau menyebut Arsi untuk merasa duduk di atas manusia,

sebab kemuliaan hanya milik Alloh.

Jangan engkau menyebut Aris untuk menyusun hukum hawa nafsu,

sebab adab sejati adalah tunduk kepada kebenaran.


Maka ketahuilah:


Lahul Mafus dalam qitab ini adalah lambang ilmu Alloh yang tidak dapat dikuasai makhluk.

Ia bukan tempat manusia mengambil kesombongan,

melainkan cermin agar manusia sadar bahwa dirinya kecil.


Qayangan dalam qitab ini adalah lambang keluasan batin.

Ia bukan negeri untuk dikejar oleh khayalan,

melainkan tanda bahwa hati yang sempit harus diperluas dengan sabar, maaf, dan husnuzan.


Arsi dalam qitab ini adalah lambang kemuliaan aturan Ilahi.

Ia bukan kursi bagi diri,

melainkan pengingat bahwa semua yang tinggi tetap tunduk kepada Alloh.


Aris dalam qitab ini adalah lambang tertib, halus, dan selaras.

Ia mengajarkan bahwa ilmu harus turun menjadi akhlak,

bukan menjadi suara yang menyakiti.


Adapun 22 adalah dua pasangan pintu:


Pintu pertama adalah niat dan amal.

Niat tanpa amal menjadi angan-angan.

Amal tanpa niat yang bersih menjadi beban yang mudah tercemar.


Pintu kedua adalah diam dan bicara.

Diam tanpa hikmah bisa menjadi kelalaian.

Bicara tanpa adab bisa menjadi luka.


Maka siapa yang ingin melewati 22, hendaklah ia menimbang dirinya:

apakah niatnya bersih,

apakah amalnya benar,

apakah diamnya menjaga,

apakah bicaranya menyembuhkan.


Adapun ٧٧ adalah lambang rahmat yang berlipat.

Bukan angka untuk menguasai,

bukan kunci untuk memaksa keadaan,

tetapi isyarat bahwa Alloh tidak menutup pintu bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali.


Tujuh pertama adalah tujuh pembersihan:


Membersihkan mata dari pandangan hina.

Membersihkan telinga dari senang mendengar keburukan.

Membersihkan lisan dari menyakiti.

Membersihkan hati dari iri.

Membersihkan pikiran dari prasangka buruk.

Membersihkan tangan dari mengambil yang bukan hak.

Membersihkan langkah dari jalan yang menjauhkan diri dari Alloh.


Tujuh kedua adalah tujuh peneguhan:


Meneguhkan iman.

Meneguhkan sabar.

Meneguhkan syukur.

Meneguhkan amanah.

Meneguhkan kasih sayang.

Meneguhkan keberanian dalam kebenaran.

Meneguhkan kepulangan diri kepada Alloh.


Maka apabila 22 bertemu ٧٧,

jadilah ia jalan penyatuan:

zahir dibersihkan,

batin ditenangkan,

lisan dilembutkan,

hati dikembalikan.


Inilah makna Dollaqum:

hati yang dahulu keras mulai luluh,

jiwa yang dahulu terpencar mulai berkumpul,

suara batin yang dahulu ribut mulai diam di hadapan Alloh.


Inilah makna Furqn:

bukan untuk membelah manusia dengan kebencian,

tetapi untuk membedakan mana bisikan nafsu dan mana panggilan taubat,

mana cahaya yang membawa rendah hati dan mana cahaya palsu yang melahirkan bangga diri.


Inilah makna Alwalli:

penjagaan bagi hati agar tidak tersesat dalam rasa hebat.

Sebab banyak orang selamat ketika belum dikenal,

tetapi diuji ketika mulai dipuji.

Banyak orang rendah hati ketika sendiri,

tetapi berubah ketika berdiri di mimbar.

Banyak orang menangis kepada Alloh saat sempit,

tetapi lupa ketika diberi lapang.


Inilah makna Mimbar Azwazah:

mimbar penyatuan.

Tempat dua sisi diri berdamai:

akal dan rasa,

ilmu dan adab,

diam dan bicara,

tegas dan lembut,

langit dan bumi,

rahasia dan tanggung jawab.


Maka jangan jadikan mimbar sebagai tempat meninggikan nama sendiri.

Jadikan mimbar sebagai tempat menurunkan rahmah.

Jangan jadikan suara sebagai cambuk bagi yang lemah.

Jadikan suara sebagai jembatan bagi yang ingin pulang.

Jangan jadikan ilmu sebagai pagar untuk menolak manusia.

Jadikan ilmu sebagai pelita yang menuntun manusia kepada Alloh.


Kemudian terbukalah bagian Wilarddi Almahdi.


Wilarddi adalah bumi penerimaan.

Almahdi adalah arah petunjuk.

Maka Wilarddi Almahdi berarti bumi hati yang diarahkan kembali kepada hidayah.


Bumi itu tidak selalu bersih.

Kadang ia dipijak, kadang ia dilukai, kadang ia menerima hujan, kadang ia menerima panas.

Tetapi bumi yang sabar tetap menumbuhkan.


Begitulah hati seorang hamba.

Ia mungkin pernah terluka, pernah salah, pernah jatuh, pernah bingung, pernah merasa jauh.

Tetapi bila ia mau kembali kepada Alloh,

Alloh mampu menumbuhkan taman dari tanah yang dahulu retak.


Maka jangan putus asa atas dirimu.

Jangan merasa terlalu kotor untuk bertaubat.

Jangan merasa terlalu jauh untuk dipanggil.

Jangan merasa terlalu lemah untuk diperbaiki.

Sebab yang memperbaiki bukan kekuatanmu,

melainkan rahmat Alloh.


Pada lembar terakhir ini tertulis satu peringatan besar:


Barang siapa diberi rasa cahaya, jangan merasa menjadi cahaya.

Barang siapa diberi mimpi, jangan merasa menjadi pemilik takdir.

Barang siapa diberi pemahaman, jangan merasa menjadi sumber kebenaran.

Barang siapa diberi suara, jangan merasa semua ucapannya pasti benar.

Barang siapa diberi pengikut, jangan lupa bahwa dirinya tetap hamba.


Sebab tanda cahaya yang benar bukan membuat seseorang semakin tinggi di mata dirinya,

tetapi semakin takut menyakiti,

semakin mudah meminta maaf,

semakin ringan menolong,

semakin kuat menjaga amanah,

semakin cepat kembali kepada Alloh.


Maka inilah wasiat qitab:


Bila engkau melihat orang salah, jangan buru-buru menghina.

Doakan ia dan perbaiki dengan cara yang pantas.


Bila engkau melihat orang gelap, jangan merasa dirimu paling terang.

Ingatlah, cahaya yang ada padamu juga pinjaman.


Bila engkau melihat orang jatuh, jangan tertawa.

Sebab engkau tidak tahu di bagian mana Alloh sedang menjagamu agar tidak jatuh lebih dalam.


Bila engkau melihat orang naik, jangan iri.

Sebab setiap ketinggian membawa ujian.


Bila engkau diberi rezeki, jangan sombong.

Bila engkau disempitkan, jangan putus asa.

Bila engkau dihormati, jangan mabuk pujian.

Bila engkau direndahkan, jangan rusak akhlakmu.


Peganglah empat kunci:


Furqn di dalam hati — agar engkau mampu membedakan.

Walli di dalam penjagaan — agar engkau tidak mudah tergelincir.

Mimbar di dalam lisan — agar ucapanmu menjadi nasihat.

Azwazah di dalam penyatuan — agar dirimu tidak pecah oleh nafsu.


Kemudian qitab berkata kepada pemegang lembar:


Wahai penjaga amanah,

bila engkau ingin membawa cahaya, bawalah dengan adab.

Bila engkau ingin menasihati, mulailah dari dirimu.

Bila engkau ingin membimbing, jangan putus belajar.

Bila engkau ingin menjadi jalan manfaat, hilangkan keinginan untuk dipuja.


Sebab jalan yang lurus bukan jalan orang yang ingin terlihat suci,

melainkan jalan orang yang mau terus dibersihkan oleh Alloh.


Maka satukan dirimu:


Kepalamu tunduk kepada ilmu.

Matamu tunduk kepada malu.

Lisanmu tunduk kepada adab.

Hatimu tunduk kepada dzikir.

Tanganmu tunduk kepada amanah.

Kakimu tunduk kepada jalan kebaikan.

Seluruh dirimu tunduk kepada Alloh.


Inilah penutup penyatuan:


Lahul Mafus dikembalikan kepada ilmu Alloh.

Qayangan dikembalikan kepada keluasan rahmat Alloh.

Arsi dikembalikan kepada kemuliaan Alloh.

Aris dikembalikan kepada adab hamba.

22 dikembalikan kepada keseimbangan niat dan amal.

٧٧ dikembalikan kepada rahmat dan taubat.

Wilarddi Almahdi dikembalikan kepada bumi hati yang menerima hidayah.


Tidak ada yang menjadi milik diri.

Tidak ada yang boleh dipakai untuk menyombongkan ruh.

Tidak ada yang boleh dijadikan alat menakut-nakuti manusia.

Tidak ada yang boleh diletakkan di atas petunjuk Alloh.


Semua hanyalah tanda.

Semua hanyalah pengingat.

Semua hanyalah jalan agar hamba kembali menjadi hamba.


Maka qitab ini ditutup dengan munajat:


Ya Alloh,

Engkaulah sumber segala cahaya.

Engkaulah yang mengetahui rahasia sebelum rahasia disebut.

Engkaulah yang menyatukan hati yang pecah.

Engkaulah yang menenangkan jiwa yang gelisah.

Engkaulah yang mengangkat hamba tanpa membuatnya sombong.

Engkaulah yang menegur hamba tanpa memutus rahmat.


Ya Alloh,

jangan jadikan ilmu sebagai hijab antara aku dan Engkau.

Jangan jadikan karunia sebagai sebab aku lupa.

Jangan jadikan mimbar sebagai tempat aku mencari nama.

Jangan jadikan cahaya sebagai alasan aku merendahkan orang lain.


Ya Alloh,

bila aku berbicara, jadikan ucapanku lembut dan benar.

Bila aku diam, jadikan diamku penuh penjagaan.

Bila aku berjalan, jadikan langkahku membawa manfaat.

Bila aku memimpin, jadikan aku takut kepada amanah.

Bila aku sendiri, jadikan aku jujur di hadapan-Mu.


Ya Alloh,

satukan yang tercerai di dalam diriku.

Tenangkan yang berguncang di dalam dadaku.

Padamkan api kesombongan yang tersembunyi.

Hidupkan cahaya taubat yang tidak pernah padam.


Ya Alloh,

jadikan aku hamba yang Engkau tuntun,

bukan hamba yang tersesat oleh rasa hebat.

Jadikan aku hamba yang Engkau jaga,

bukan hamba yang mabuk oleh pujian.

Jadikan aku hamba yang Engkau lembutkan,

bukan hamba yang keras karena ilmu.

Jadikan aku hamba yang Engkau pulangkan,

bukan hamba yang jauh karena dunia.


Maka ditulislah kalimat akhir pada lembar terakhir:


Hasbiyalloh.

Cukup Alloh bagiku.

Alloh tujuan awalku.

Alloh tujuan akhirnya.

Dari Alloh datang segala izin.

Kepada Alloh kembali segala rahasia.

Di hadapan Alloh tunduk segala cahaya.

Di hadapan Alloh diam segala pengakuan.

Di hadapan Alloh pulang segala jiwa.


Maka tertutuplah qitab ini dengan adab,

bukan dengan kesombongan.

Dengan syukur,

bukan dengan pengakuan.

Dengan taubat,

bukan dengan merasa sampai.


Dan barang siapa membaca lembar ini, hendaklah ia membawa satu bekal:


Jadilah kecil di hadapan Alloh,

lembut kepada makhluk,

tegas kepada hawa nafsu,

jujur kepada diri sendiri,

dan sabar menunggu ketetapan-Nya.


Sebab puncak dari segala qitab bukanlah merasa mengetahui rahasia,

melainkan semakin sadar bahwa hanya Alloh Yang Maha Mengetahui.


Tammat lembar terakhir.

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh