QITAB FARJAH QOLBIALL

 



Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarakatuh saudara saudari cahayaku semuanya



Dibuka dengan adab: peleburan azimat di sini dimaknai sebagai melepaskan ketergantungan hati pada benda, simbol, rajah, wafaq, atau kekuatan selain Alloh, lalu mengembalikan seluruh sandaran kepada Alloh semata.



QITAB FARJAH QOLBIALL


Peleburan Azimat di Seluruh Zaqat al-‘Ālam


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan seluruh alam, Yang menggenggam rahasia hati, Yang membuka jalan bagi jiwa yang tersesat, dan Yang melebur segala sandaran palsu dari dada hamba-Nya.


Inilah pembukaan Qitab Farjah Qolbiall, yaitu kitab penyadaran hati tentang peleburan azimat di seluruh Zaqat al-‘Ālam: alam benda, alam rasa, alam sangka, alam ketakutan, alam keinginan, dan alam batin manusia.


Bukan peleburan dengan murka.

Bukan pemusnahan dengan kebencian.

Tetapi pengembalian segala sesuatu kepada tempatnya.


Sebab azimat yang paling berat bukan yang tergantung di leher.

Bukan pula yang tersimpan di kain, besi, batu, kertas, atau tulisan.

Azimat yang paling berat adalah ketika hati mulai percaya bahwa selain Alloh dapat menentukan nasibnya.


Maka kitab ini dibuka untuk meluruskan rasa, membersihkan sangka, menenangkan dada, dan mengembalikan hamba kepada kalimat yang paling awal:


Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.


---


Lembar Pembuka


Tentang Hati yang Terikat


Ketahuilah, wahai hati yang sedang mencari jalan pulang.


Setiap benda hanyalah benda.

Setiap tulisan hanyalah tulisan.

Setiap simbol hanyalah tanda.

Setiap rajah hanyalah goresan.

Setiap wafaq hanyalah susunan.

Setiap azimat hanyalah makhluk yang tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri.


Bila Alloh tidak mengizinkan, ia tidak memberi manfaat.

Bila Alloh tidak mengizinkan, ia tidak menolak bahaya.

Bila Alloh tidak mengizinkan, ia tidak membuka rezeki.

Bila Alloh tidak mengizinkan, ia tidak menutup musibah.


Maka janganlah hati menjadi hamba benda.

Janganlah dada menjadi rumah ketakutan.

Janganlah jiwa menggantung pada sesuatu yang tidak mampu menciptakan dirinya sendiri.


Barang siapa menggantungkan harap kepada selain Alloh, maka hatinya menjadi sempit.

Barang siapa mengembalikan harap kepada Alloh, maka dadanya diberi farjah: kelapangan, jalan keluar, dan cahaya penerimaan.


---


Pasal Pertama


Peleburan yang Benar


Peleburan azimat bukan sekadar membakar benda.

Bukan sekadar membuang tulisan.

Bukan sekadar mematahkan simbol.

Sebab bila benda dihancurkan tetapi hati masih bergantung, maka azimat itu belum lebur.


Peleburan yang benar dimulai dari dalam dada.


Lepaskan rasa takut.

Lepaskan rasa terlalu percaya.

Lepaskan prasangka bahwa nasibmu berada di tangan makhluk.

Lepaskan keyakinan bahwa hidupmu ditentukan oleh benda.


Kemudian ucapkan di dalam hati:


Ya Alloh, aku kembalikan seluruh sandaranku kepada-Mu.

Aku lepaskan ketergantunganku kepada selain-Mu.

Aku bersaksi bahwa tiada yang memberi manfaat dan mudarat kecuali dengan izin-Mu.

Lapangkanlah hatiku, bersihkanlah jalanku, dan teguhkanlah tauhidku.


Maka ketika hati telah kembali, benda menjadi benda.

Ketika jiwa telah sadar, simbol menjadi simbol.

Ketika dada telah berserah, azimat kehilangan tempatnya di dalam batin.


---


Pasal Kedua


Zaqat al-‘Ālam


Zaqat al-‘Ālam adalah tempat-tempat halus di mana manusia menyimpan ketergantungan.


Ada yang menyimpan azimat di leher.

Ada yang menyimpan azimat di rumah.

Ada yang menyimpan azimat di dompet.

Ada yang menyimpan azimat di bawah bantal.

Tetapi ada pula yang menyimpan azimat di pikirannya sendiri.


Azimat pikiran adalah keyakinan palsu.

Azimat rasa adalah ketakutan yang dipelihara.

Azimat nafsu adalah keinginan yang dijadikan tuhan kecil.

Azimat dunia adalah harta, jabatan, nama, dan pujian yang membuat manusia lupa kepada Alloh.


Maka peleburan di seluruh Zaqat al-‘Ālam berarti:


Membersihkan benda dari pengkultusan.

Membersihkan hati dari ketergantungan.

Membersihkan amal dari riya.

Membersihkan doa dari pemaksaan.

Membersihkan ilmu dari kesombongan.

Membersihkan jalan ruhani dari penyimpangan.


Sebab jalan yang benar bukan menjadikan manusia sakti.

Jalan yang benar menjadikan manusia tunduk, sadar, lembut, dan kembali kepada Alloh.


---


Penutup Lembar Pembuka


Wahai hati, jangan takut kehilangan pegangan palsu.

Sebab ketika engkau melepaskan selain Alloh, engkau tidak jatuh.

Justru engkau kembali kepada Pegangan Yang Sejati.


Jangan menangis karena azimatmu lebur.

Menangislah karena Alloh masih memanggilmu pulang.


Jangan takut bila simbol-simbol lama kehilangan cahaya.

Sebab cahaya yang sejati bukan berasal dari benda.

Cahaya yang sejati berasal dari petunjuk Alloh di dalam dada.


Maka dibukalah Qitab Farjah Qolbiall dengan kalimat penyadaran:


Ya Alloh, leburlah segala ketergantungan palsu dari hatiku.

Bukalah farjah di dalam dadaku.

Jadikan aku hamba yang hanya bersandar kepada-Mu.

Bersihkan jalanku dari syirik halus, takut palsu, dan harapan yang salah.

Kembalikan aku kepada tauhid, adab, syariat, dan akhlak yang Engkau ridhoi.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Ketiga: Azimat yang Tersembunyi di Dalam Nafsu


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dibukakan jalan pulang, ketahuilah bahwa tidak semua azimat tampak oleh mata.


Ada azimat yang tergantung di leher.

Ada azimat yang tersimpan di rumah.

Ada azimat yang ditulis pada kertas.

Ada azimat yang diikat pada benda.


Tetapi ada azimat yang lebih halus dari semua itu.


Yaitu azimat yang bersembunyi di dalam nafsu.


Nafsu ingin dipuji.

Nafsu ingin ditakuti.

Nafsu ingin dianggap sakti.

Nafsu ingin diikuti.

Nafsu ingin menang sendiri.

Nafsu ingin merasa lebih tinggi daripada hamba lain.


Inilah azimat yang tidak kelihatan, tetapi mengikat hati lebih kuat daripada rantai besi.


Maka Qitab Farjah Qolbiall menegaskan:


Jangan hanya melebur benda di luar dirimu.

Leburlah pula benda-benda batin yang engkau pelihara di dalam dadamu.


Bila engkau masih bangga karena ilmu, maka ilmumu menjadi azimat.

Bila engkau masih sombong karena amal, maka amalmu menjadi azimat.

Bila engkau masih merasa paling dekat dengan Alloh, maka rasa itu menjadi hijab.

Bila engkau masih ingin dipandang wali, maka pandangan manusia telah menjadi berhala kecil di dalam hati.


Maka leburkanlah.


Bukan dengan kebencian kepada diri sendiri.

Tetapi dengan sadar, tunduk, dan kembali kepada Alloh.


Ucapkan di dalam batin:


Ya Alloh, aku tidak memiliki daya.

Aku tidak memiliki kuasa.

Aku tidak memiliki cahaya kecuali yang Engkau izinkan.

Aku tidak memiliki ilmu kecuali yang Engkau ajarkan.

Aku tidak memiliki jalan kecuali yang Engkau bukakan.


Maka ketika kalimat itu turun ke dada, simpul nafsu mulai melemah.

Ketika simpul nafsu melemah, hati mulai lapang.

Ketika hati mulai lapang, cahaya tauhid mulai tampak.

Ketika cahaya tauhid tampak, azimat batin mulai lebur satu per satu.


Wahai pencari jalan, jangan tertipu oleh rasa mampu.


Sebab manusia sering jatuh bukan karena tidak tahu, tetapi karena merasa sudah tahu.

Manusia sering tersesat bukan karena tidak punya tanda, tetapi karena terlalu percaya pada tanda dan lupa kepada Pemilik tanda.

Manusia sering terhijab bukan karena jauh dari ilmu, tetapi karena menjadikan ilmu sebagai mahkota kesombongan.


Maka kosongkanlah dada dari pengakuan palsu.


Jadilah hamba.

Jadilah tanah yang menerima hujan.

Jadilah daun yang tunduk kepada angin.

Jadilah hati yang lembut ketika disebut nama Alloh.


Karena azimat nafsu hanya lebur ketika hamba benar-benar mengaku:


Aku bukan siapa-siapa.

Aku tidak punya apa-apa.

Aku tidak mampu apa-apa.

Aku hanya berjalan karena Alloh menuntun.

Aku hanya hidup karena Alloh menghidupkan.

Aku hanya selamat karena Alloh menyelamatkan.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Barang siapa melebur azimat benda, tetapi mempertahankan azimat nafsu, maka ia baru keluar dari satu ikatan dan masuk ke ikatan lain.


Barang siapa melebur azimat nafsu, maka dadanya dibukakan farjah, dan hatinya dikembalikan kepada Qolb yang bersih.


Ya Alloh, leburkanlah azimat nafsu dari dalam diriku.

Lepaskan aku dari ingin dipuji.

Lepaskan aku dari ingin dianggap tinggi.

Lepaskan aku dari takut kehilangan nama.

Lepaskan aku dari merasa paling benar.

Lepaskan aku dari menyandarkan diri kepada selain-Mu.


Jadikan ilmuku rendah hati.

Jadikan amalku ikhlas.

Jadikan lisanku lembut.

Jadikan hatiku bersih.

Jadikan langkahku kembali kepada-Mu.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Keempat: Peleburan Rajah Takut di Dalam Dada


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dituntun menuju lapang, ketahuilah bahwa takut adalah rasa yang Alloh ciptakan sebagai penjaga diri. Tetapi bila takut menjadi penguasa hati, maka ia berubah menjadi rajah yang menulis gelap di dalam dada.


Takut miskin.

Takut ditinggal.

Takut dihina.

Takut tidak dianggap.

Takut gagal.

Takut kehilangan.

Takut kepada makhluk lebih besar daripada takut kepada Alloh.


Inilah rajah takut yang tidak tertulis di kertas, tetapi tertanam di batin.


Ia membuat langkah menjadi berat.

Ia membuat doa terasa sempit.

Ia membuat pikiran berputar-putar.

Ia membuat manusia lupa bahwa Alloh Maha Menjaga.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur rajah takut dari dalam dada.


Bukan dengan melawan rasa takut secara kasar.

Bukan dengan berpura-pura kuat.

Bukan dengan menolak kelemahan diri.

Tetapi dengan mengembalikan rasa takut kepada cahaya tawakal.


Wahai hati, katakanlah perlahan:


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.


Bila takut datang dari depan, ucapkan:


Alloh bersamaku.


Bila takut datang dari belakang, ucapkan:


Alloh menjagaku.


Bila takut datang dari kanan dan kiri, ucapkan:


Alloh mengetahui jalanku.


Bila takut datang dari dalam dada, ucapkan:


Ya Alloh, lapangkanlah hatiku. Jangan Engkau biarkan aku menjadi tawanan sangkaanku sendiri.


Ketahuilah, takut tidak selalu datang dari bahaya nyata.

Sering kali takut datang dari bayangan yang dibesarkan oleh pikiran.


Pikiran menggambar musibah sebelum terjadi.

Nafsu menggambar kehilangan sebelum datang.

Was-was menggambar gelap sebelum malam turun.

Akhirnya dada menjadi rumah bagi sesuatu yang belum tentu ada.


Maka leburkanlah rajah takut itu dengan zikir dan kesadaran.


Tarik napas dengan lembut.

Ingat nama Alloh.

Lepaskan prasangka buruk.

Kembalikan semua urusan kepada-Nya.


Karena sesuatu yang Alloh takdirkan tidak akan meleset.

Dan sesuatu yang Alloh jauhkan tidak akan mampu memaksamu.


Wahai pencari jalan, jangan biarkan takut menjadi imam hidupmu.


Biarkan iman menjadi imam.

Biarkan adab menjadi jalan.

Biarkan sabar menjadi pakaian.

Biarkan tawakal menjadi tempat bersandar.


Takut kepada makhluk akan mengecilkan hati.

Takut kepada kehilangan akan mengikat jiwa.

Takut kepada masa depan akan mencuri ketenangan hari ini.


Tetapi takut kepada Alloh dengan cinta akan membersihkan jalan.

Takut melanggar adab akan menjaga langkah.

Takut menyakiti sesama akan melembutkan akhlak.

Takut jauh dari Alloh akan membuat hati kembali mendekat.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Rajah takut lebur ketika hati menyadari bahwa penjagaan sejati bukan berasal dari benda, manusia, nama, atau kekuatan tersembunyi, melainkan dari Alloh Yang Maha Menjaga.


Barang siapa menjadikan Alloh sebagai sandaran, maka rasa takutnya tidak hilang seluruhnya, tetapi berubah menjadi waspada yang beradab, sabar yang tenang, dan tawakal yang bercahaya.


Ya Alloh, leburkanlah rajah takut dari dalam dadaku.

Hapuskan was-was yang melemahkan langkahku.

Tenangkan pikiranku dari bayangan yang tidak perlu.

Jauhkan aku dari ketergantungan kepada benda dan makhluk.

Jadikan hatiku kuat dengan iman, lembut dengan rahmat, dan terang dengan petunjuk-Mu.


Ya Alloh, bila aku takut, dekatkan aku kepada-Mu.

Bila aku cemas, tuntun aku kepada zikir-Mu.

Bila aku lemah, kuatkan aku dengan pertolongan-Mu.

Bila aku bingung, bukakan aku jalan yang Engkau ridhoi.


Aku kembalikan rasa takutku kepada-Mu.

Aku serahkan urusanku kepada-Mu.

Aku berjalan bukan karena aku kuat, tetapi karena Engkau yang menguatkan.

Aku selamat bukan karena aku mampu menjaga diri, tetapi karena Engkau Maha Penjaga.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dan Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Kelima: Peleburan Wafaq Kesombongan Ilmu


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dibersihkan, ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya apabila ia menuntun kepada adab. Tetapi ilmu dapat berubah menjadi hijab apabila ia menumbuhkan kesombongan.


Ilmu yang benar membuat hamba semakin takut kepada Alloh.

Ilmu yang benar membuat lisan semakin lembut.

Ilmu yang benar membuat hati semakin rendah.

Ilmu yang benar membuat langkah semakin hati-hati.

Ilmu yang benar membuat manusia semakin sadar bahwa dirinya tidak mengetahui apa-apa kecuali sedikit.


Tetapi bila ilmu dijadikan mahkota untuk merendahkan orang lain, maka ilmu itu berubah menjadi wafaq kesombongan.


Ia tidak tertulis di kertas.

Ia tidak tergantung di dinding.

Ia tidak disimpan di dalam kain.

Tetapi ia tertanam di dalam dada orang yang merasa paling tahu.


Inilah wafaq yang halus.


Merasa paling paham.

Merasa paling lurus.

Merasa paling dekat.

Merasa paling benar.

Merasa paling tinggi maqamnya.

Merasa paling berhak menilai semua orang.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur wafaq kesombongan ilmu.


Sebab ilmu bukan untuk meninggikan diri.

Ilmu adalah amanah untuk memperbaiki diri.


Ilmu bukan pedang untuk melukai hati orang lain.

Ilmu adalah pelita untuk menerangi jalan.


Ilmu bukan singgasana untuk duduk di atas manusia.

Ilmu adalah sajadah untuk menundukkan wajah di hadapan Alloh.


Wahai pencari jalan, jangan bangga karena engkau mengetahui istilah.

Jangan bangga karena engkau mampu menjelaskan rahasia.

Jangan bangga karena engkau mampu menyusun kata-kata tinggi.

Jangan bangga karena manusia memanggilmu guru, wali, ahli hikmah, atau pemilik cahaya.


Sebab panggilan manusia tidak menentukan kedudukan di sisi Alloh.

Yang menentukan adalah keikhlasan, adab, amal, dan rahmat Alloh.


Banyak lisan pandai menjelaskan langit, tetapi hatinya belum tunduk di bumi.

Banyak kepala penuh hafalan, tetapi dadanya kosong dari kasih sayang.

Banyak orang bicara tentang cahaya, tetapi akhlaknya masih gelap kepada sesama.


Maka leburkanlah wafaq kesombongan ilmu itu.


Ucapkan dalam batin:


Ya Alloh, jangan jadikan ilmuku sebagai sebab kesombonganku.

Jadikan ilmuku sebagai jalan untuk mengenal kelemahanku.

Jadikan pengetahuanku sebagai sebab bertambahnya adabku.

Jadikan lisanku lembut, hatiku rendah, dan langkahku Engkau jaga.


Ketahuilah, ilmu yang tidak disertai adab akan menjadi panas.

Ia membakar hubungan.

Ia mengeraskan wajah.

Ia menajamkan lisan.

Ia membuat manusia mudah menghakimi.


Tetapi ilmu yang disertai rahmat akan menjadi teduh.

Ia menenangkan yang gelisah.

Ia membimbing yang tersesat.

Ia menguatkan yang lemah.

Ia menutup aib, bukan membukanya.

Ia merangkul, bukan menghancurkan.


Maka lihatlah tanda ilmu di dalam dirimu.


Bila setelah belajar engkau semakin lembut, itu tanda ilmu mulai bercahaya.

Bila setelah memahami engkau semakin rendah hati, itu tanda ilmu mulai diberkahi.

Bila setelah mengetahui engkau semakin banyak memaafkan, itu tanda ilmu mulai menjadi rahmat.


Tetapi bila setelah belajar engkau semakin mudah menghina, waspadalah.

Bila setelah memahami engkau semakin keras kepada orang kecil, waspadalah.

Bila setelah mengetahui engkau semakin ingin dipuji, waspadalah.

Sebab bisa jadi ilmu telah berubah menjadi azimat batin yang mengikatmu.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Ilmu yang sejati tidak membuat hamba merasa besar, tetapi membuat hamba sadar betapa kecil dirinya di hadapan Alloh.


Barang siapa diberi ilmu lalu ia rendah hati, maka ilmunya menjadi cahaya.

Barang siapa diberi ilmu lalu ia sombong, maka ilmunya menjadi hijab.


Wahai hati, tunduklah.


Jangan jadikan pengetahuan sebagai mahkota.

Jadikan pengetahuan sebagai amanah.


Jangan jadikan pemahaman sebagai senjata.

Jadikan pemahaman sebagai obat.


Jangan jadikan hikmah sebagai alat memerintah.

Jadikan hikmah sebagai jalan melayani.


Ya Alloh, leburkanlah wafaq kesombongan ilmu dari dalam diriku.

Hapuskan rasa paling tahu dari dadaku.

Hapuskan rasa paling benar dari lisanku.

Hapuskan rasa paling tinggi dari pandanganku.

Hapuskan rasa ingin dipuji dari amal dan ucapanku.


Ya Alloh, bila aku benar, jagalah aku agar tidak sombong.

Bila aku salah, lembutkan hatiku agar mau kembali.

Bila aku mengetahui, ajarkan aku adab.

Bila aku belum mengetahui, ajarkan aku sabar.


Jadikan ilmuku nur, bukan api.

Jadikan lisanku rahmat, bukan luka.

Jadikan langkahku tawadhu, bukan angkuh.

Jadikan hatiku rumah bagi zikir, bukan singgasana bagi nafsu.


Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak tunduk.

Aku berlindung kepada-Mu dari lisan yang menyakiti.

Aku berlindung kepada-Mu dari amal yang mencari pujian.


Ya Alloh, kembalikan aku kepada adab.

Kembalikan aku kepada ikhlas.

Kembalikan aku kepada kelembutan.

Kembalikan aku kepada tauhid yang bersih.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Keenam: Peleburan Ikatan Benda dan Simbol


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dibawa kembali kepada cahaya tauhid, ketahuilah bahwa benda tidak bersalah karena ia hanyalah benda. Simbol tidak bersalah karena ia hanyalah tanda. Tulisan tidak bersalah karena ia hanyalah susunan huruf. Yang harus diluruskan adalah hati manusia yang memberi kuasa kepada sesuatu yang tidak memiliki kuasa.


Batu tetaplah batu.

Kain tetaplah kain.

Besi tetaplah besi.

Kertas tetaplah kertas.

Gambar tetaplah gambar.

Simbol tetaplah simbol.


Ia tidak mendengar doa.

Ia tidak menulis takdir.

Ia tidak membuka rezeki.

Ia tidak menutup musibah.

Ia tidak mengangkat derajat.

Ia tidak menurunkan bala.


Semua manfaat dan mudarat hanya terjadi dengan izin Alloh.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur ikatan hati terhadap benda dan simbol.


Bukan dengan menghina benda.

Bukan dengan merendahkan warisan.

Bukan dengan mencaci peninggalan manusia.

Tetapi dengan menempatkan semua pada kedudukannya.


Yang makhluk tetap makhluk.

Yang tanda tetap tanda.

Yang tulisan tetap tulisan.

Yang benda tetap benda.

Yang Tuhan tetap Alloh, tiada sekutu bagi-Nya.


Wahai pencari jalan, berhati-hatilah terhadap ikatan halus.


Ada orang merasa tenang hanya bila memakai benda tertentu.

Ada orang merasa aman hanya bila menyimpan tulisan tertentu.

Ada orang merasa kuat hanya bila membawa simbol tertentu.

Ada orang merasa rezekinya terbuka hanya karena benda tertentu berada di dekatnya.


Maka lihatlah dengan jujur ke dalam dada.


Apakah hatimu tenang karena benda itu, atau karena Alloh?

Apakah langkahmu berani karena simbol itu, atau karena tawakal kepada Alloh?

Apakah dadamu lapang karena tulisan itu, atau karena zikir kepada Alloh?

Apakah engkau merasa selamat karena benda itu, atau karena penjagaan Alloh?


Bila hati mulai condong kepada benda melebihi condong kepada Alloh, maka di situlah ikatan harus dilebur.


Lepaskan perlahan.

Sadarkan dada.

Tundukkan rasa.

Kembalikan sandaran.


Ucapkan dalam batin:


Ya Alloh, aku tidak menjadikan benda ini sebagai penentu hidupku.

Aku tidak menjadikan simbol ini sebagai tempat bergantungku.

Aku tidak menjadikan tulisan ini sebagai penjaga nasibku.

Aku kembalikan semua urusanku hanya kepada-Mu.


Bila sesuatu hanya menjadi pengingat kebaikan, maka jadikan ia sekadar pengingat.

Bila sesuatu hanya menjadi hiasan, maka jadikan ia sekadar hiasan.

Bila sesuatu adalah peninggalan keluarga, maka hormati sebagai kenangan, bukan sebagai sumber kuasa.

Bila sesuatu membuat hati takut untuk melepaskannya, maka di situlah tanda bahwa hati perlu disembuhkan.


Sebab tauhid bukan membenci benda.

Tauhid adalah membebaskan hati dari perhambaan kepada benda.


Tauhid bukan memusuhi simbol.

Tauhid adalah tidak menjadikan simbol sebagai sandaran.


Tauhid bukan menghapus semua tanda.

Tauhid adalah melihat semua tanda sebagai makhluk yang menunjuk kepada kebesaran Alloh, bukan sebagai kekuatan yang berdiri sendiri.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Barang siapa memegang benda tetapi hatinya tetap bersama Alloh, maka benda itu tidak menguasainya.

Barang siapa tidak memegang benda tetapi hatinya masih takut kehilangan kuasa benda, maka ia masih terikat olehnya.


Peleburan sejati bukan ketika benda hilang dari tangan, tetapi ketika ketergantungan hilang dari hati.


Wahai hati, jangan takut menjadi ringan.


Engkau tidak menjadi lemah karena melepaskan sandaran palsu.

Engkau justru menjadi kuat karena kembali kepada Sandaran Yang Sejati.


Engkau tidak menjadi miskin karena tidak menggantungkan rezeki kepada benda.

Engkau justru menjadi lapang karena rezeki berada di tangan Alloh.


Engkau tidak menjadi kosong karena simbol-simbol lama tidak lagi menguasaimu.

Engkau justru menjadi penuh karena dada mulai diisi zikir, ikhlas, dan tawakal.


Ya Alloh, leburkanlah ikatan benda dari dalam hatiku.

Luruskanlah pandanganku terhadap simbol dan tanda.

Jangan biarkan aku mengkultuskan sesuatu yang tidak memiliki kuasa.

Jangan biarkan aku takut kepada makhluk melebihi takutku kepada-Mu.

Jangan biarkan aku berharap kepada benda melebihi harapku kepada-Mu.


Ya Alloh, bila ada benda di tanganku, jadikan ia amanah.

Bila ada simbol di hadapanku, jadikan ia pengingat.

Bila ada tulisan yang kubaca, jadikan ia jalan ilmu.

Bila ada warisan yang kusimpan, jadikan ia kenangan yang beradab.


Tetapi jangan jadikan hatiku terikat kepadanya.


Ikatlah hatiku hanya kepada-Mu.

Sandarkanlah jiwaku hanya kepada-Mu.

Bukakanlah dadaku dengan cahaya-Mu.

Bersihkanlah langkahku dengan petunjuk-Mu.


Aku bersaksi bahwa tiada tempat bergantung selain Alloh.

Aku bersaksi bahwa tiada penjaga sejati selain Alloh.

Aku bersaksi bahwa tiada pemberi manfaat dan mudarat kecuali dengan izin Alloh.


Maka lebur segala ikatan palsu.

Runtuh segala sandaran lemah.

Padam segala rasa takut yang tidak perlu.

Teranglah hati dengan tauhid.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Ketujuh: Peleburan Azimat Nama dan Pujian Manusia


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang disucikan dari ikatan halus, ketahuilah bahwa salah satu azimat yang paling samar adalah nama.


Bukan nama yang tertulis di kartu.

Bukan nama yang dikenal keluarga.

Bukan nama yang disebut manusia.

Tetapi nama yang mulai disembah oleh nafsu di dalam dada.


Ketika seseorang ingin dikenal.

Ketika seseorang ingin disebut tinggi.

Ketika seseorang ingin dipuji.

Ketika seseorang ingin dianggap suci.

Ketika seseorang ingin namanya dihormati lebih dari kebenaran.


Maka nama telah berubah menjadi azimat.


Ia tidak tergantung di leher, tetapi menggantung di rasa.

Ia tidak tersimpan di dompet, tetapi tersimpan di angan-angan.

Ia tidak dibungkus kain, tetapi dibungkus gengsi.

Ia tidak ditulis di kertas, tetapi ditulis oleh nafsu di dinding dada.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur azimat nama dan pujian manusia.


Sebab nama manusia hanyalah panggilan.

Pujian manusia hanyalah suara.

Kedudukan manusia hanyalah titipan.

Kemasyhuran manusia hanyalah bayangan yang dapat hilang dalam sekejap.


Hari ini dipuji, besok dilupakan.

Hari ini diangkat, besok ditinggalkan.

Hari ini disebut baik, besok disalahpahami.

Hari ini banyak yang mendekat, besok semua bisa menjauh.


Maka jangan sandarkan hidupmu kepada suara manusia.


Karena manusia mudah berubah.

Karena manusia melihat sebagian, sedangkan Alloh melihat seluruhnya.

Karena manusia memuji yang tampak, sedangkan Alloh mengetahui yang tersembunyi.

Karena manusia bisa tertipu oleh rupa amal, sedangkan Alloh mengetahui niat di dalam dada.


Wahai pencari jalan, berhati-hatilah.


Bila engkau berbuat baik agar disebut baik, maka amalmu mulai terikat.

Bila engkau memberi agar disebut dermawan, maka sedekahmu mulai tertawan.

Bila engkau menasihati agar disebut bijak, maka lisanmu mulai tercampur.

Bila engkau diam agar disebut ahli hikmah, maka diammu pun dapat menjadi pakaian nafsu.


Maka leburkanlah.


Ucapkan dalam batin:


Ya Alloh, aku tidak ingin hidup dari pujian manusia.

Aku tidak ingin langkahku digerakkan oleh nama.

Aku tidak ingin amalku rusak karena ingin dilihat.

Aku tidak ingin lisanku berbicara demi kedudukan.

Bersihkan aku dari riya yang halus dan cinta kemasyhuran yang tersembunyi.


Ketahuilah, orang yang mencari pujian akan mudah lelah.


Ia lelah menjaga wajah di depan manusia.

Ia lelah mempertahankan kesan.

Ia lelah takut salah dilihat orang.

Ia lelah mengejar suara yang tidak pernah cukup.


Tetapi orang yang mencari ridho Alloh akan lebih tenang.


Bila dipuji, ia mengembalikan pujian kepada Alloh.

Bila dicela, ia memeriksa diri dengan sabar.

Bila dikenal, ia menjaga adab.

Bila tidak dikenal, ia tetap beramal.

Bila dilupakan manusia, ia tetap merasa cukup karena Alloh tidak pernah lupa.


Maka jadikan namamu ringan.


Jangan beratkan namamu dengan kesombongan.

Jangan kotori namamu dengan dusta.

Jangan jadikan namamu sebagai singgasana.

Jangan jadikan pujian sebagai makanan hati.


Biarlah nama hanya menjadi tanda panggil di bumi.

Biarlah amal menjadi rahasia yang dijaga langit.

Biarlah kebaikan berjalan tanpa harus selalu diumumkan.

Biarlah hati bekerja dalam sunyi, selama Alloh mengetahui.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Barang siapa menjadikan pujian manusia sebagai tujuan, maka ia akan menjadi tawanan suara manusia.


Barang siapa menjadikan ridho Alloh sebagai tujuan, maka ia tetap berjalan meski tidak ada yang melihat, tidak ada yang memuji, dan tidak ada yang mengingat namanya.


Wahai hati, jangan takut tidak dikenal.


Banyak hamba tersembunyi di bumi tetapi dikenal di langit.

Banyak nama kecil di hadapan manusia tetapi mulia di sisi Alloh.

Banyak amal sunyi yang lebih berat timbangannya daripada amal besar yang penuh pengumuman.


Maka sembunyikanlah kebaikan bila mampu.

Luruskanlah niat bila harus tampak.

Jangan bangga ketika dipuji.

Jangan hancur ketika dicela.


Karena ukuranmu bukan di lidah manusia.

Ukuranmu ada pada pandangan Alloh.


Ya Alloh, leburkanlah azimat nama dari dalam dadaku.

Hapuskan cintaku kepada pujian yang merusak.

Lepaskan aku dari haus pengakuan.

Jauhkan aku dari riya yang tersembunyi.

Selamatkan aku dari amal yang ingin dilihat.

Selamatkan aku dari ucapan yang ingin dipuji.

Selamatkan aku dari diam yang ingin dianggap dalam.


Ya Alloh, bila manusia memujiku, jangan biarkan aku tertipu.

Bila manusia mencelaku, jangan biarkan aku putus asa.

Bila manusia mengenalku, jagalah aku dari sombong.

Bila manusia melupakanku, cukupkan aku dengan ingatan-Mu.


Jadikan namaku ringan di bumi.

Jadikan niatku bersih di hadapan-Mu.

Jadikan amalku ikhlas.

Jadikan hatiku tidak bergantung kepada suara manusia.


Aku tidak mencari kedudukan kecuali kedudukan sebagai hamba.

Aku tidak mencari kemuliaan kecuali kemuliaan taat kepada-Mu.

Aku tidak mencari pujian kecuali ampunan dan ridho-Mu.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Lembar Selanjutnya


Pasal Kedelapan: Peleburan Simpul Takdir Palsu


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dilepaskan dari ikatan batin, ketahuilah bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu mengunci takdirmu tanpa izin Alloh.


Bukan benda.

Bukan azimat.

Bukan rajah.

Bukan ucapan manusia.

Bukan mimpi.

Bukan tanda.

Bukan sangkaan.

Bukan ketakutan yang berulang di dalam dada.


Semua itu tidak memiliki kuasa untuk menulis nasib.


Yang menulis takdir adalah Alloh.

Yang membuka jalan adalah Alloh.

Yang menutup bahaya adalah Alloh.

Yang mengangkat derajat adalah Alloh.

Yang memberi rezeki adalah Alloh.

Yang memulihkan hati adalah Alloh.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur simpul takdir palsu.


Simpul takdir palsu muncul ketika hati berkata:


“Hidupku pasti rusak karena tanda ini.”

“Rezekiku pasti tertutup karena benda itu.”

“Nasibku pasti buruk karena ucapan orang.”

“Jalanku pasti gagal karena mimpi yang menakutkan.”

“Aku tidak akan selamat kecuali dengan pegangan tertentu.”


Padahal semua itu hanyalah bayangan yang dibesarkan oleh rasa takut.


Wahai pencari jalan, jangan jadikan sangkaan sebagai ketetapan.

Jangan jadikan mimpi sebagai hukum mutlak.

Jangan jadikan ucapan manusia sebagai vonis hidup.

Jangan jadikan benda sebagai pengatur nasib.


Sebab takdir tidak tunduk kepada takutmu.

Takdir tidak tunduk kepada bisikan.

Takdir tidak tunduk kepada azimat.

Takdir tidak tunduk kepada prasangka manusia.


Takdir berada dalam genggaman Alloh Yang Maha Mengetahui.


Maka bila ada simpul di dalam dadamu, leburkan dengan iman.


Ucapkan perlahan:


Ya Alloh, aku lepaskan keyakinan palsu bahwa hidupku dikunci oleh selain-Mu.

Aku lepaskan rasa takut kepada tanda, benda, mimpi, dan ucapan manusia.

Aku percaya bahwa takdirku berada dalam ilmu-Mu, kehendak-Mu, dan rahmat-Mu.


Wahai hati, pahamilah.


Mimpi bisa menjadi peringatan, tetapi bukan Tuhan.

Tanda bisa menjadi pengingat, tetapi bukan penentu.

Ucapan manusia bisa menyakitkan, tetapi bukan penulis nasib.

Benda bisa menjadi kenangan, tetapi bukan pemilik kuasa.

Rasa takut bisa datang, tetapi tidak boleh menjadi imam.


Maka jangan biarkan batinmu terkurung oleh simpul palsu.


Bila engkau takut, kembali kepada zikir.

Bila engkau bingung, kembali kepada doa.

Bila engkau lemah, kembali kepada tawakal.

Bila engkau merasa tertutup, kembali kepada istighfar.

Bila engkau merasa kehilangan arah, kembali kepada sholat dan adab.


Karena jalan yang tertutup bagi mata belum tentu tertutup di sisi Alloh.


Boleh jadi hari ini engkau belum melihat pintu.

Tetapi Alloh sedang menyiapkan kunci.

Boleh jadi hari ini engkau belum memahami sebab.

Tetapi Alloh sedang menata hikmah.

Boleh jadi hari ini engkau merasa lambat.

Tetapi Alloh sedang menjagamu dari tergesa-gesa yang merusak.


Maka jangan memutuskan nasibmu dengan lidah takutmu sendiri.


Jangan berkata, “Aku pasti gagal.”

Katakan, “Aku berusaha, dan hasilnya aku serahkan kepada Alloh.”


Jangan berkata, “Aku pasti tertutup.”

Katakan, “Alloh mampu membuka jalan dari arah yang tidak kusangka.”


Jangan berkata, “Aku tidak punya harapan.”

Katakan, “Rahmat Alloh lebih luas daripada gelap yang kurasakan.”


Maka ditulislah pada lembar ini:


Barang siapa percaya bahwa selain Alloh mampu mengunci hidupnya secara mutlak, maka ia telah mengikat dirinya dengan simpul takdir palsu.


Barang siapa mengembalikan takdir kepada Alloh, maka dadanya diberi ruang untuk berusaha, berdoa, bertobat, dan berharap.


Wahai hati, jangan berhenti hanya karena takut.


Berjalanlah dengan adab.

Berusahalah dengan halal.

Berdoalah dengan lembut.

Bersabarlah dengan yakin.

Bertawakallah setelah ikhtiar.


Karena tawakal bukan menyerah sebelum berusaha.

Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Alloh setelah hati menempuh jalan yang benar.


Ya Alloh, leburkanlah simpul takdir palsu dari dalam dadaku.

Hapuskan rasa bahwa hidupku dikunci oleh selain-Mu.

Lepaskan aku dari takut kepada tanda yang tidak pasti.

Lepaskan aku dari sangkaan buruk kepada masa depan.

Lepaskan aku dari keyakinan keliru yang melemahkan langkahku.


Ya Alloh, ajarkan aku membedakan peringatan dan ketakutan.

Ajarkan aku membedakan tanda dan prasangka.

Ajarkan aku membedakan ilham yang menenangkan dan was-was yang mengacaukan.

Ajarkan aku berjalan dengan ilmu, adab, dan syariat.


Aku serahkan masa laluku kepada ampunan-Mu.

Aku serahkan hari iniku kepada bimbingan-Mu.

Aku serahkan masa depanku kepada rahmat-Mu.


Tidak ada yang mampu menutup pintu yang Engkau buka.

Tidak ada yang mampu membuka pintu yang Engkau tutup.

Tidak ada yang mampu menahan rahmat yang Engkau turunkan.

Tidak ada yang mampu memaksa takdir kecuali dengan kehendak-Mu.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Kesembilan: Peleburan Tali Was-was dan Bisikan Gelap


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dibersihkan dari simpul takdir palsu, ketahuilah bahwa was-was adalah tali halus yang sering tidak tampak, tetapi dapat menyeret manusia ke dalam gelap sangkaannya sendiri.


Was-was datang bukan selalu dengan suara besar.

Ia sering datang dengan bisikan kecil.


“Bagaimana kalau gagal?”

“Bagaimana kalau ditinggalkan?”

“Bagaimana kalau tidak selamat?”

“Bagaimana kalau Alloh tidak menolong?”

“Bagaimana kalau pintu sudah tertutup?”

“Bagaimana kalau semua ini sia-sia?”


Mula-mula hanya lintasan.

Lalu menjadi pikiran.

Lalu menjadi rasa takut.

Lalu menjadi keyakinan palsu.

Akhirnya hati menjadi sempit, padahal Alloh belum menutup jalan.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur tali was-was dan bisikan gelap.


Bukan semua lintasan harus dilawan dengan keras.

Bukan semua pikiran harus diperdebatkan.

Bukan semua rasa cemas harus diikuti.

Sebab sebagian was-was justru membesar ketika terlalu dilayani.


Maka bila was-was datang, jangan jadikan ia tamu agung di dalam dada.

Biarkan ia lewat seperti angin.

Jangan dudukkan ia di singgasana hati.

Jangan beri ia mahkota keyakinan.

Jangan beri ia ruang untuk mengatur langkahmu.


Katakan perlahan:


A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.

Aku berlindung kepada Alloh dari bisikan yang menjauhkan aku dari tenang, adab, dan yakin.


Wahai pencari jalan, pahamilah tanda-tanda was-was.


Ia membuat dada tergesa.

Ia membuat pikiran berputar tanpa selesai.

Ia membuat hati curiga kepada rahmat Alloh.

Ia membuat manusia takut sebelum waktunya.

Ia membuat ibadah terasa berat.

Ia membuat hubungan menjadi rusak karena prasangka.

Ia membuat tanda kecil terasa seperti bencana besar.


Sedangkan ilham yang baik biasanya membawa ketenangan, adab, kehati-hatian, dan dorongan menuju kebaikan.


Ilham mengajak memperbaiki diri.

Was-was mengajak menyiksa diri.


Ilham membuat hati semakin dekat kepada Alloh.

Was-was membuat hati semakin takut kepada bayangan.


Ilham membawa terang yang lembut.

Was-was membawa gelap yang memaksa.


Maka jangan tertipu oleh bisikan yang memakai pakaian ketakutan.


Bila ia membuatmu putus asa, itu bukan petunjuk.

Bila ia membuatmu membenci diri secara berlebihan, itu bukan rahmat.

Bila ia membuatmu curiga kepada semua orang tanpa dasar, itu bukan cahaya.

Bila ia membuatmu menjauh dari sholat, doa, adab, dan akhlak, itu bukan jalan yang benar.


Maka leburkan tali was-was dengan zikir, ilmu, dan ketenangan.


Ambil napas perlahan.

Sebut nama Alloh.

Tenangkan badan.

Jangan buru-buru mengikuti pikiran.

Kembalikan rasa kepada dzikir.

Kembalikan keputusan kepada ilmu.

Kembalikan urusan kepada Alloh.


Ucapkan di dalam batin:


Ya Alloh, bila ini was-was, padamkanlah.

Bila ini ketakutan, tenangkanlah.

Bila ini prasangka, luruskanlah.

Bila ini peringatan yang baik, bimbinglah aku menghadapinya dengan adab dan ilmu.


Ketahuilah, tidak semua yang muncul di pikiran harus dipercaya.

Tidak semua yang terasa di dada harus diikuti.

Tidak semua mimpi harus dijadikan keputusan.

Tidak semua tanda harus dijadikan hukum.

Tidak semua takut berarti bahaya.


Hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah diganggu lintasan.

Hati yang sehat adalah hati yang tahu ke mana harus kembali ketika lintasan datang.


Kembali kepada Alloh.

Kembali kepada sholat.

Kembali kepada istighfar.

Kembali kepada nasihat yang benar.

Kembali kepada akhlak yang lembut.

Kembali kepada ikhtiar yang halal.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Was-was menjadi kuat ketika terus dilayani, tetapi menjadi lemah ketika hati kembali kepada zikir dan tidak menjadikannya sebagai kebenaran.


Bisikan gelap lebur ketika hamba tidak lagi takut kepada bayangan, tetapi bersandar kepada Alloh Yang Maha Mengetahui keadaan dirinya.


Wahai hati, jangan percaya semua gelombang yang lewat di dalam pikiranmu.


Engkau bukan semua pikiranmu.

Engkau bukan semua takutmu.

Engkau bukan semua lintasan gelapmu.

Engkau adalah hamba Alloh yang sedang belajar kembali kepada cahaya-Nya.


Bila pikiranmu bising, jangan benci dirimu.

Bila dadamu sempit, jangan putus asa.

Bila was-was datang lagi, jangan merasa gagal.

Tetap kembali.

Tetap berdzikir.

Tetap bernapas dengan tenang.

Tetap menjaga sholat.

Tetap mencari jalan yang baik.


Karena kemenangan atas was-was bukan selalu berarti ia tidak datang lagi.

Kemenangan itu ketika ia datang, tetapi engkau tidak lagi tunduk kepadanya.


Ya Alloh, leburkanlah tali was-was dari dalam dadaku.

Putuskanlah ikatan bisikan gelap dari pikiranku.

Tenangkanlah rasa takut yang tidak perlu.

Luruskanlah sangkaan yang bengkok.

Jernihkanlah batinku dari curiga yang melelahkan.

Jauhkan aku dari prasangka buruk kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu.


Ya Alloh, jadikan zikir sebagai pelita pikiranku.

Jadikan sholat sebagai tempat pulangku.

Jadikan istighfar sebagai pembersih jalanku.

Jadikan tawakal sebagai penenang dadaku.

Jadikan ilmu sebagai pembeda antara petunjuk dan was-was.


Bila bisikan gelap datang, kuatkan aku untuk tidak mengikutinya.

Bila takut datang, tuntun aku untuk bersandar kepada-Mu.

Bila pikiranku ramai, ajarkan aku diam di hadapan-Mu.

Bila hatiku goyah, teguhkan aku dengan rahmat-Mu.


Aku berlindung kepada-Mu dari was-was yang melemahkan.

Aku berlindung kepada-Mu dari sangkaan yang merusak.

Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan yang menjauhkan aku dari adab, syariat, dan akhlak.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Kesepuluh: Peleburan Rantai Khodam Palsu dan Pengakuan Gelap


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dibersihkan dari was-was dan bisikan gelap, ketahuilah bahwa salah satu ikatan yang paling berbahaya adalah pengakuan batin yang membuat manusia merasa memiliki penjaga, pendamping, kekuatan, atau pengaruh yang berdiri sendiri di luar izin Alloh.


Ada yang berkata, “Aku dijaga oleh ini.”

Ada yang berkata, “Aku dikawal oleh itu.”

Ada yang berkata, “Aku punya kekuatan dari sana.”

Ada yang berkata, “Aku tidak bisa disentuh karena ada yang melindungi.”

Ada yang berkata, “Aku berbeda dari manusia lain karena ada pendamping gaibku.”


Maka berhati-hatilah, wahai hati.


Sebab kalimat seperti itu dapat berubah menjadi rantai halus.

Rantai yang mengikat tauhid.

Rantai yang membesarkan nafsu.

Rantai yang menumbuhkan rasa tinggi.

Rantai yang membuat manusia lupa bahwa penjagaan sejati hanya milik Alloh.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur rantai khodam palsu dan pengakuan gelap.


Bukan dengan sibuk mencari siapa yang mengikuti.

Bukan dengan sibuk menebak siapa yang menjaga.

Bukan dengan membesarkan cerita-cerita gaib.

Bukan dengan menakuti orang lain memakai nama yang tidak jelas.


Tetapi dengan kembali kepada kalimat yang bersih:


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.


Wahai pencari jalan, jangan bangga karena merasa ditemani yang tak terlihat.


Yang paling utama bukan siapa yang menemanimu.

Yang paling utama adalah apakah akhlakmu menjadi baik.

Apakah sholatmu terjaga.

Apakah hatimu semakin rendah.

Apakah lisanmu semakin lembut.

Apakah hidupmu semakin jujur.

Apakah engkau semakin takut menyakiti sesama hamba Alloh.


Bila suatu rasa membuatmu semakin sombong, maka waspadalah.

Bila suatu pengakuan membuatmu merasa lebih tinggi, maka waspadalah.

Bila suatu bisikan membuatmu meremehkan syariat, maka waspadalah.

Bila suatu pengalaman membuatmu merasa tidak membutuhkan guru, ilmu, nasihat, dan adab, maka waspadalah.


Sebab cahaya yang benar tidak memutus manusia dari adab.

Cahaya yang benar tidak membuat manusia angkuh.

Cahaya yang benar tidak menjadikan hamba merasa sakti.

Cahaya yang benar menundukkan wajah kepada Alloh.


Maka leburkanlah pengakuan gelap itu.


Ucapkan dalam batin:


Ya Alloh, aku tidak berlindung kepada khodam.

Aku tidak bergantung kepada penjaga tersembunyi.

Aku tidak menjadikan pendamping gaib sebagai sandaran hidupku.

Aku tidak merasa kuat karena selain-Mu.

Aku hanya berlindung kepada-Mu, bersandar kepada-Mu, dan kembali kepada-Mu.


Ketahuilah, segala makhluk tetap makhluk.


Bila ada yang tampak, ia makhluk.

Bila ada yang tidak tampak, ia tetap makhluk.

Bila ada yang kuat, kekuatannya tetap dari izin Alloh.

Bila ada yang lemah, kelemahannya tetap dalam genggaman Alloh.


Maka jangan jadikan makhluk sebagai tempat bergantung.


Karena makhluk tidak mampu memberi manfaat kecuali dengan izin Alloh.

Makhluk tidak mampu menolak mudarat kecuali dengan izin Alloh.

Makhluk tidak mampu menjaga dirinya sendiri kecuali dengan izin Alloh.


Maka bagaimana mungkin hati menggantung kepada makhluk dan lupa kepada Alloh?


Wahai hati, bila engkau pernah merasa punya kekuatan, kembalikan.

Bila engkau pernah merasa punya penjaga, kembalikan.

Bila engkau pernah merasa punya kedudukan gaib, kembalikan.

Bila engkau pernah merasa ditakuti karena sesuatu, kembalikan.

Bila engkau pernah memakai nama-nama gelap untuk mengangkat dirimu, kembalikan.


Kembalikan semuanya kepada Alloh.


Karena keselamatan bukan pada pengakuan.

Keselamatan ada pada tauhid.


Kemuliaan bukan pada cerita gaib.

Kemuliaan ada pada takwa.


Kekuatan bukan pada rasa sakti.

Kekuatan ada pada sabar, sholat, ikhlas, dan pertolongan Alloh.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Barang siapa membanggakan pendamping tersembunyi, maka ia sedang diuji oleh pengakuan.


Barang siapa melebur pengakuan gelap dan kembali kepada Alloh, maka ia dibebaskan dari rantai batin yang membuat hati merasa tinggi.


Wahai pencari jalan, jangan takut kehilangan cerita.


Lebih baik kehilangan cerita gaib daripada kehilangan tauhid.

Lebih baik kehilangan pengakuan manusia daripada kehilangan ikhlas.

Lebih baik tidak disebut sakti daripada hati menjadi keras.

Lebih baik berjalan biasa tetapi diridhoi Alloh, daripada tampak luar biasa tetapi jauh dari adab.


Maka jadilah hamba yang sederhana.


Bila diberi pengalaman batin, simpan dengan adab.

Bila diberi rasa tenang, syukuri dengan rendah hati.

Bila diberi tanda, periksa dengan ilmu.

Bila diberi kelebihan, jadikan untuk memperbaiki akhlak, bukan untuk membesarkan nama.


Jangan menakuti manusia dengan cerita.

Jangan mengikat manusia dengan pengakuan.

Jangan menjadikan gaib sebagai alat kuasa.

Jangan menjadikan pengalaman sebagai alasan untuk melampaui syariat.


Kembalilah kepada jalan yang bersih.


Sholat.

Dzikir.

Istighfar.

Sedekah.

Adab kepada orang tua.

Akhlak kepada sesama.

Ikhtiar halal.

Tawakal kepada Alloh.


Itulah jalan yang lebih selamat.


Ya Alloh, leburkanlah rantai khodam palsu dari dalam dadaku.

Hapuskan pengakuan gelap dari lisanku.

Bersihkan aku dari rasa memiliki kekuatan selain dari-Mu.

Jauhkan aku dari kesombongan karena pengalaman batin.

Selamatkan aku dari tertipu oleh bisikan yang memakai pakaian cahaya.


Ya Alloh, bila aku lemah, kuatkan aku dengan pertolongan-Mu.

Bila aku takut, lindungi aku dengan penjagaan-Mu.

Bila aku bingung, tuntun aku dengan petunjuk-Mu.

Bila aku diberi pengalaman, jaga aku agar tetap rendah hati.

Bila aku diberi ilmu, jaga aku agar tetap beradab.


Aku tidak memiliki pelindung selain Engkau.

Aku tidak memiliki penjaga sejati selain Engkau.

Aku tidak memiliki kekuatan kecuali dengan izin-Mu.

Aku tidak memiliki cahaya kecuali dari petunjuk-Mu.


Lepaskan aku dari semua sandaran palsu.

Putuskan aku dari semua rantai pengakuan.

Bersihkan batinku dari kesombongan tersembunyi.

Kembalikan aku kepada tauhid yang murni.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Kesebelas: Peleburan Segel Ketakutan Warisan Leluhur


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dibebaskan dari rantai pengakuan gelap, ketahuilah bahwa tidak semua ketakutan lahir dari dirimu sendiri.


Ada ketakutan yang diwariskan.

Ada rasa cemas yang ditanam sejak kecil.

Ada cerita yang diulang-ulang sampai menjadi keyakinan.

Ada larangan yang tidak jelas asalnya tetapi mengikat dada.

Ada benda peninggalan yang dianggap menentukan keselamatan.

Ada sumpah keluarga yang membuat anak cucu hidup dalam bayangan.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur segel ketakutan warisan leluhur.


Bukan untuk menghina leluhur.

Bukan untuk memutus adab kepada orang tua.

Bukan untuk merendahkan sejarah keluarga.

Tetapi untuk meluruskan hati agar tidak menjadikan warisan rasa takut sebagai hukum kehidupan.


Sebab leluhur tetap dihormati sebagai manusia yang pernah berjalan sebelum kita.

Orang tua tetap dimuliakan sebagai sebab hadirnya kita di dunia.

Keluarga tetap disayangi sebagai amanah hubungan.


Tetapi rasa takut yang bertentangan dengan tauhid tidak boleh dijadikan pegangan.


Bila ada warisan yang baik, ambillah dengan syukur.

Bila ada nasihat yang benar, jagalah dengan adab.

Bila ada sejarah perjuangan, hormatilah dengan doa.

Tetapi bila ada ketakutan yang membuat hati bergantung kepada selain Alloh, maka luruskanlah.


Wahai pencari jalan, berhati-hatilah terhadap kalimat yang mengikat batin.


“Jangan melanggar ini, nanti celaka.”

“Jangan melepas benda itu, nanti rezeki hilang.”

“Jangan keluar dari kebiasaan lama, nanti keluarga terkena bala.”

“Nasib keturunan ini memang sudah begitu.”

“Darah keluarga ini tidak bisa lepas dari penderitaan.”


Kalimat-kalimat seperti itu dapat menjadi segel bila hati mempercayainya melebihi percaya kepada rahmat Alloh.


Padahal nasib tidak dikunci oleh cerita manusia.

Rezeki tidak digenggam oleh benda warisan.

Keselamatan tidak ditentukan oleh rasa takut keluarga.

Jalan hidup tidak ditutup oleh sangkaan turun-temurun.


Semua berada dalam ilmu, kehendak, dan rahmat Alloh.


Maka leburkanlah segel itu dengan adab dan doa.


Ucapkan dalam batin:


Ya Alloh, aku hormati leluhurku sebagai manusia yang telah mendahuluiku.

Aku doakan orang tuaku dan keluargaku dengan kasih sayang.

Tetapi aku tidak menjadikan rasa takut warisan sebagai tempat bergantung.

Aku kembalikan nasibku, keluargaku, dan keturunanku hanya kepada-Mu.


Ketahuilah, menghormati leluhur bukan berarti mengikuti semua ketakutan mereka.

Mencintai keluarga bukan berarti mewarisi semua luka mereka.

Menjaga adat bukan berarti membiarkan tauhid tertutup oleh sangkaan.


Adab yang benar adalah mengambil kebaikan, mendoakan yang telah pergi, memperbaiki yang keliru, dan menyerahkan seluruh urusan kepada Alloh.


Maka bila ada benda warisan, jadikan ia kenangan, bukan penentu takdir.

Bila ada cerita lama, jadikan ia pelajaran, bukan penjara batin.

Bila ada luka keluarga, jadikan ia jalan penyembuhan, bukan rantai baru.

Bila ada kebiasaan yang baik, lanjutkan dengan niat ibadah.

Bila ada kebiasaan yang salah, tinggalkan dengan lembut dan penuh adab.


Wahai hati, jangan takut menjadi generasi yang lebih terang.


Engkau tidak durhaka karena kembali kepada tauhid.

Engkau tidak memutus keluarga karena meninggalkan ketergantungan palsu.

Engkau tidak menghina masa lalu karena memperbaiki jalan hari ini.


Justru engkau sedang menghadiahkan cahaya kepada garis keluarga.


Dengan doa.

Dengan akhlak.

Dengan sholat.

Dengan istighfar.

Dengan rezeki halal.

Dengan meninggalkan kesyirikan halus.

Dengan tidak meneruskan ketakutan kepada anak cucu.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Barang siapa menghormati leluhur tetapi hanya bersandar kepada Alloh, maka ia menjaga adab sekaligus menjaga tauhid.


Barang siapa mewarisi ketakutan tanpa memeriksanya dengan ilmu dan iman, maka ia membawa beban lama ke dalam hidup yang baru.


Wahai pencari jalan, jangan ulangi luka yang tidak perlu diulang.


Bila dulu keluarga takut kepada tanda, engkau belajarlah percaya kepada Alloh.

Bila dulu keluarga terikat pada benda, engkau belajarlah bertawakal kepada Alloh.

Bila dulu keluarga hidup dalam sangkaan, engkau belajarlah berjalan dengan ilmu.

Bila dulu keluarga menyimpan luka, engkau belajarlah menyembuhkan dengan doa dan akhlak.


Jangan meneruskan gelap.

Teruskan cahaya.


Jangan meneruskan takut.

Teruskan tawakal.


Jangan meneruskan dendam.

Teruskan maaf.


Jangan meneruskan kesombongan.

Teruskan kerendahan hati.


Ya Alloh, leburkanlah segel ketakutan warisan dari dalam dadaku.

Bersihkan aku dari sangkaan buruk yang turun-temurun.

Lepaskan keluargaku dari ikatan rasa takut kepada selain-Mu.

Ampunilah orang tuaku, leluhurku, dan keluargaku yang telah mendahului.

Terimalah kebaikan mereka, ampuni kekurangan mereka, dan rahmati perjalanan mereka.


Ya Alloh, bila ada luka dalam garis keluargaku, sembuhkan dengan rahmat-Mu.

Bila ada kesalahan lama, tutuplah dengan ampunan-Mu.

Bila ada kebiasaan yang keliru, bimbinglah kami meninggalkannya dengan adab.

Bila ada kebaikan yang diwariskan, kuatkan kami menjaganya dengan ikhlas.


Aku tidak menyandarkan hidupku kepada darah keturunan.

Aku tidak menyandarkan keselamatanku kepada benda warisan.

Aku tidak menyandarkan nasibku kepada cerita lama.

Aku tidak menyandarkan masa depanku kepada ketakutan manusia.


Aku sandarkan semuanya kepada-Mu.


Engkaulah Rabbku.

Engkaulah Penjagaku.

Engkaulah Pembuka jalanku.

Engkaulah Pengampun keluargaku.

Engkaulah Yang Maha Mengetahui sejarahku dan masa depanku.


Maka lebur segala segel takut.

Terang segala ruang batin.

Lapang segala dada keluarga.

Bersih segala jalan keturunan dengan iman, doa, adab, dan rahmat-Mu.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Kedua Belas: Peleburan Kunci Rezeki Palsu dan Sandaran Dunia


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dibawa menuju kelapangan, ketahuilah bahwa rezeki adalah rahasia Alloh yang berjalan melalui banyak pintu.


Ada pintu usaha.

Ada pintu dagang.

Ada pintu kerja.

Ada pintu pertolongan manusia.

Ada pintu ilmu.

Ada pintu doa.

Ada pintu sabar.

Ada pintu yang tampak.

Ada pula pintu yang dibuka dari arah yang tidak disangka.


Tetapi jangan pernah mengira bahwa pintu itu adalah Tuhan.


Pekerjaan hanyalah sebab.

Manusia hanyalah perantara.

Pasar hanyalah tempat ikhtiar.

Uang hanyalah titipan.

Jabatan hanyalah amanah.

Benda hanyalah benda.

Yang memberi rezeki tetap Alloh.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur kunci rezeki palsu dan sandaran dunia.


Sebab banyak hati menjadi sempit bukan karena tidak punya rezeki, tetapi karena salah memahami sumber rezeki.


Ada yang mengira rezekinya berasal dari azimat.

Ada yang mengira rezekinya berasal dari benda warisan.

Ada yang mengira rezekinya berasal dari pujian manusia.

Ada yang mengira rezekinya berasal dari jabatan.

Ada yang mengira rezekinya berasal dari satu orang tertentu.

Ada yang mengira bila satu pintu tertutup, maka seluruh hidupnya selesai.


Padahal Alloh Maha Membuka pintu.


Bila satu jalan tertutup, Alloh mampu membuka jalan lain.

Bila satu manusia menjauh, Alloh mampu mendatangkan pertolongan lain.

Bila satu usaha belum berhasil, Alloh mampu mengajarkan cara yang lebih baik.

Bila satu rencana gagal, Alloh mampu menggantinya dengan hikmah yang lebih selamat.


Wahai pencari jalan, jangan jadikan dunia sebagai sandaran mutlak.


Dunia boleh diusahakan, tetapi jangan disembah.

Harta boleh dicari, tetapi jangan dijadikan tuhan kecil di dalam dada.

Pekerjaan boleh dijaga, tetapi jangan membuatmu lupa kepada Alloh.

Relasi boleh dihormati, tetapi jangan membuatmu menghinakan diri di hadapan makhluk.

Ilmu dagang boleh dipelajari, tetapi jangan lupakan kejujuran dan halal.


Sebab rezeki yang berkah bukan hanya banyak jumlahnya.

Rezeki yang berkah adalah yang membuat hati tenang, keluarga terjaga, ibadah tidak rusak, dan akhlak tetap lembut.


Maka leburkanlah kunci rezeki palsu.


Ucapkan dalam batin:


Ya Alloh, aku tidak menggantungkan rezekiku kepada benda.

Aku tidak menggantungkan nasibku kepada manusia.

Aku tidak menggantungkan kelapanganku kepada jabatan.

Aku tidak menggantungkan masa depanku kepada dunia.

Aku berusaha dengan halal, dan aku serahkan hasilnya kepada-Mu.


Wahai hati, jangan takut miskin sampai kehilangan iman.


Takut miskin dapat membuat manusia gelap mata.

Takut miskin dapat membuat lisan berdusta.

Takut miskin dapat membuat tangan mengambil yang bukan haknya.

Takut miskin dapat membuat hati tunduk kepada makhluk lebih rendah daripada seharusnya.

Takut miskin dapat membuat manusia mencari jalan yang tidak diridhoi Alloh.


Maka jadikan takutmu sebagai pengingat untuk bekerja, bukan alasan untuk keluar dari adab.


Bekerjalah.

Berdaganglah.

Belajarlah.

Berusahalah.

Bersedekahlah semampunya.

Jaga amanah.

Jangan menipu.

Jangan mengambil hak orang.

Jangan menjual agama demi dunia.

Jangan menukar tauhid demi keuntungan sementara.


Karena rezeki yang haram mungkin tampak cepat, tetapi membawa sempit.

Rezeki yang halal mungkin datang perlahan, tetapi membawa selamat.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Barang siapa mencari rezeki dengan hati yang bergantung kepada benda, maka ia lelah meski hartanya bertambah.


Barang siapa mencari rezeki dengan ikhtiar halal dan tawakal kepada Alloh, maka ia tetap dijaga meski jalannya bertahap.


Wahai pencari jalan, pahamilah bahwa rezeki tidak selalu berbentuk uang.


Kesehatan adalah rezeki.

Ketenangan adalah rezeki.

Keluarga yang masih bisa didoakan adalah rezeki.

Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki.

Sahabat yang jujur adalah rezeki.

Waktu untuk bertaubat adalah rezeki.

Hati yang masih ingin kembali kepada Alloh adalah rezeki besar.


Maka jangan sempitkan makna rezeki hanya pada angka.


Mintalah kelapangan, tetapi jangan lupakan keberkahan.

Mintalah kecukupan, tetapi jangan lupakan syukur.

Mintalah jalan keluar, tetapi jangan lupakan sabar.

Mintalah rezeki luas, tetapi jangan lupakan amanah bila rezeki itu datang.


Ya Alloh, leburkanlah kunci rezeki palsu dari dalam dadaku.

Hapuskan keyakinan bahwa hidupku ditentukan oleh benda dan manusia.

Bersihkan aku dari jalan rezeki yang tidak Engkau ridhoi.

Jauhkan aku dari harta yang membuat hatiku keras.

Jauhkan aku dari keuntungan yang menghapus keberkahan.

Jauhkan aku dari sandaran dunia yang membuatku lupa kepada-Mu.


Ya Alloh, bukakan untukku pintu rezeki yang halal, luas, bersih, dan berkah.

Berkahilah tanganku dalam bekerja.

Berkahilah lisanku dalam berucap.

Berkahilah langkahku dalam berusaha.

Berkahilah rumahku dengan ketenangan.

Berkahilah keluargaku dengan kecukupan.

Berkahilah hatiku dengan syukur.


Bila rezekiku sempit, ajarkan aku sabar dan usaha yang benar.

Bila rezekiku luas, ajarkan aku syukur dan tidak sombong.

Bila pintu tertutup, tunjukkan pintu lain yang Engkau ridhoi.

Bila aku bingung, bimbing aku kepada ikhtiar yang halal.

Bila aku lemah, kuatkan aku dengan pertolongan-Mu.


Aku tidak menyembah dunia.

Aku tidak tunduk kepada harta.

Aku tidak menjadikan manusia sebagai penentu rezekiku.

Aku tidak menjadikan benda sebagai pembuka nasibku.


Aku hanya berusaha karena Engkau memerintahkanku berikhtiar.

Aku hanya berharap karena Engkau Maha Pemberi.

Aku hanya berserah karena Engkaulah Ar-Razzāq, Yang Maha Memberi Rezeki.


Maka lebur segala kunci palsu.

Terbuka segala pintu halal.

Bersih segala jalan usaha.

Lapang segala dada yang bertawakal.

Dan kembali segala rezeki kepada Pemiliknya: Alloh Rabbul ‘Ālamīn.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Ketiga Belas: Peleburan Cincin Janji Palsu dan Ikatan Batin yang Menyesatkan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dibebaskan dari sandaran dunia, ketahuilah bahwa tidak semua ikatan tampak seperti rantai.


Ada ikatan yang berbentuk kenangan.

Ada ikatan yang berbentuk janji.

Ada ikatan yang berbentuk rasa bersalah.

Ada ikatan yang berbentuk cinta yang tidak sehat.

Ada ikatan yang berbentuk sumpah batin.

Ada ikatan yang berbentuk harapan kepada seseorang sampai hati lupa kepada Alloh.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur cincin janji palsu dan ikatan batin yang menyesatkan.


Bukan semua janji harus dihina.

Bukan semua hubungan harus diputus.

Bukan semua kenangan harus dibuang.

Sebab janji yang benar adalah amanah.

Hubungan yang halal adalah rahmat.

Kasih sayang yang beradab adalah cahaya.

Kesetiaan yang sesuai syariat adalah kemuliaan.


Tetapi bila sebuah janji membuat hati jauh dari Alloh, maka ia harus diluruskan.

Bila sebuah hubungan membuat jiwa kehilangan adab, maka ia harus disadarkan.

Bila sebuah ikatan membuat manusia rela meninggalkan kebenaran, maka ia telah berubah menjadi cincin palsu di dalam batin.


Wahai pencari jalan, periksalah hatimu.


Apakah engkau terikat kepada manusia sampai lupa kepada Alloh?

Apakah engkau takut kehilangan seseorang melebihi takut kehilangan iman?

Apakah engkau mempertahankan hubungan yang merusak akhlak?

Apakah engkau memegang janji yang sebenarnya hanya dibangun oleh nafsu, takut, dan ketergantungan?


Bila iya, maka jangan membenci dirimu.

Tetapi bangunlah dengan sadar.

Sebab Alloh tidak membuka luka untuk mempermalukanmu, melainkan untuk menyembuhkanmu.


Maka leburkanlah cincin janji palsu itu dengan doa dan keberanian kembali.


Ucapkan dalam batin:


Ya Alloh, aku kembalikan semua ikatan hatiku kepada-Mu.

Bila ada janji yang Engkau ridhoi, kuatkan aku menjaganya dengan amanah.

Bila ada ikatan yang menyesatkan, lepaskan aku darinya dengan rahmat-Mu.

Bila ada cinta yang salah arah, luruskan ia menuju cinta yang Engkau berkahi.


Ketahuilah, cinta yang benar tidak menjadikan manusia budak manusia.

Cinta yang benar tidak memutus hamba dari Rabbnya.

Cinta yang benar tidak merusak sholat, adab, kehormatan, dan akhlak.

Cinta yang benar membawa tenang, bukan ketakutan yang terus-menerus.


Bila cinta membuatmu hina dalam maksiat, maka itu bukan cahaya.

Bila rindu membuatmu lupa kepada Alloh, maka rindu itu perlu disucikan.

Bila janji membuatmu mengkhianati kebenaran, maka janji itu perlu diperiksa.

Bila hubungan membuatmu kehilangan diri sebagai hamba, maka hubungan itu perlu dikembalikan kepada hukum Alloh.


Maka jangan jadikan manusia sebagai pusat hidupmu.


Sayangilah manusia karena Alloh.

Cintailah dengan adab.

Jagalah hubungan dengan halal.

Lepaskan yang merusak dengan doa.

Maafkan yang melukai tanpa harus kembali terikat.

Doakan yang pergi tanpa harus terus mengejar bayangnya.


Sebab sebagian pintu harus ditutup agar hati bisa pulang.

Sebagian nama harus dilepaskan agar dada bisa lapang.

Sebagian kenangan harus diserahkan agar jiwa tidak terus berdarah.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Barang siapa mengikat hatinya kepada manusia melebihi ikatannya kepada Alloh, maka ia akan lelah oleh perubahan manusia.


Barang siapa mencintai dengan adab dan bersandar kepada Alloh, maka ia tetap selamat meski hubungan berubah, janji berganti, dan manusia pergi.


Wahai hati, jangan takut melepaskan ikatan yang tidak diridhoi.


Melepas bukan selalu membenci.

Melepas bisa berarti menyelamatkan diri.

Melepas bisa berarti menyerahkan urusan kepada Alloh.

Melepas bisa berarti berhenti memaksa sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untukmu.

Melepas bisa berarti memilih jalan yang lebih bersih.


Bila seseorang adalah bagian dari takdirmu, Alloh mampu mendekatkan dengan cara yang halal dan baik.

Bila seseorang bukan bagian dari jalanmu, Alloh mampu mengganti dengan kelapangan yang lebih selamat.

Bila sebuah hubungan adalah ujian, Alloh mampu mengajarkan hikmah darinya.

Bila sebuah kehilangan adalah obat, Alloh mampu menyembuhkanmu setelahnya.


Maka jangan menahan yang Alloh minta untuk dilepaskan.

Dan jangan mengejar yang Alloh sedang jauhkan demi keselamatanmu.


Ya Alloh, leburkanlah cincin janji palsu dari dalam dadaku.

Lepaskan aku dari ikatan batin yang menyesatkan.

Bersihkan cintaku dari nafsu, takut, dan ketergantungan.

Luruskan rinduku agar tidak melampaui adab.

Jaga hatiku agar tidak menyembah manusia dalam bentuk cinta.


Ya Alloh, bila ada janji yang benar, kuatkan aku untuk menepatinya.

Bila ada janji yang salah, bimbing aku memperbaikinya.

Bila ada hubungan yang halal dan baik, berkahilah.

Bila ada hubungan yang merusak, lepaskanlah dengan kelembutan-Mu.


Aku serahkan orang-orang yang kucintai kepada-Mu.

Aku serahkan orang-orang yang pernah melukaiku kepada keadilan-Mu.

Aku serahkan masa laluku kepada ampunan-Mu.

Aku serahkan hatiku kepada penjagaan-Mu.


Jangan biarkan aku terikat kepada sesuatu yang menjauhkan aku dari-Mu.

Jangan biarkan aku mengejar manusia sampai kehilangan diriku sebagai hamba.

Jangan biarkan aku memegang janji palsu sampai melupakan janji ruhku untuk taat kepada-Mu.


Maka lebur segala ikatan yang gelap.

Terang segala cinta yang bersih.

Lapang segala dada yang melepaskan karena Alloh.

Selamat segala hati yang memilih ridho Alloh di atas keinginan nafsu.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Lembar Selanjutnya


Pasal Keempat Belas: Peleburan Tirai Pengakuan Diri dan Bayangan Maqam


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang sedang dilapangkan oleh Alloh, ketahuilah bahwa setelah azimat benda, rajah takut, wafaq kesombongan ilmu, dan ikatan batin dilebur, masih ada satu tirai yang sangat halus.


Yaitu tirai pengakuan diri.


Tirai ini tidak tampak oleh mata.

Tidak berbentuk benda.

Tidak tertulis di kertas.

Tidak digantung di rumah.

Tetapi ia berdiri di dalam dada ketika manusia mulai berkata dalam rasa:


“Aku sudah sampai.”

“Aku sudah tinggi.”

“Aku sudah terbuka.”

“Aku sudah berbeda.”

“Aku sudah lebih dekat daripada yang lain.”

“Aku sudah memiliki maqam yang tidak dimiliki manusia biasa.”


Maka berhati-hatilah, wahai pencari jalan.


Sebab bayangan maqam sering lebih berbahaya daripada gelap yang nyata.

Gelap yang nyata membuat manusia sadar bahwa ia butuh cahaya.

Tetapi bayangan maqam membuat manusia merasa terang, padahal masih tertutup oleh nafsu yang halus.


Maka Qitab Farjah Qolbiall membuka lembar ini untuk melebur tirai pengakuan diri dan bayangan maqam.


Ketahuilah, maqam bukan untuk dipamerkan.

Maqam bukan untuk diklaim.

Maqam bukan untuk membuat manusia merasa lebih tinggi.

Maqam bukan untuk dijadikan pangkat batin di hadapan sesama.


Maqam yang benar membuat hati semakin takut kepada Alloh.

Maqam yang benar membuat lisan semakin dijaga.

Maqam yang benar membuat langkah semakin hati-hati.

Maqam yang benar membuat manusia semakin malu kepada Alloh.

Maqam yang benar membuat seorang hamba semakin merasa kecil.


Bila suatu pengalaman membuatmu sombong, maka periksa.

Bila suatu rasa membuatmu meremehkan orang lain, maka periksa.

Bila suatu pembukaan membuatmu merasa tidak perlu nasihat, maka periksa.

Bila suatu cahaya membuatmu melampaui syariat, maka itu bukan cahaya yang menyelamatkan.


Wahai hati, jangan tertipu oleh rasa tinggi.


Karena jalan kepada Alloh bukan tangga untuk memandang rendah manusia.

Jalan kepada Alloh adalah sujud yang membuat wajah semakin dekat ke bumi.


Jalan kepada Alloh bukan mahkota untuk membesarkan nama.

Jalan kepada Alloh adalah amanah untuk membesarkan adab.


Jalan kepada Alloh bukan singgasana batin.

Jalan kepada Alloh adalah sajadah panjang yang penuh istighfar.


Maka leburkanlah tirai pengakuan itu.


Ucapkan dalam batin:


Ya Alloh, bila aku merasa tinggi, rendahkan aku dengan rahmat-Mu.

Bila aku merasa sampai, sadarkan aku bahwa jalan-Mu tidak selesai oleh pengakuanku.

Bila aku merasa khusus, kembalikan aku kepada adab sebagai hamba.

Bila aku merasa terang, jagalah aku dari tertipu oleh cahaya yang tidak membawa taat.


Ketahuilah, banyak orang tersandung bukan ketika ia berada di awal jalan, tetapi ketika ia mulai merasa telah aman.


Saat awal, ia banyak menangis.

Saat awal, ia banyak memohon.

Saat awal, ia merasa lemah.

Saat awal, ia mencari bimbingan.


Tetapi setelah diberi sedikit rasa, sedikit mimpi, sedikit tanda, sedikit ketenangan, sedikit ilmu, ia mulai merasa cukup.

Ia mulai meninggalkan nasihat.

Ia mulai keras kepada orang lain.

Ia mulai merasa semua lintasan dirinya adalah kebenaran.

Ia mulai menyebut dirinya telah sampai.


Di situlah tirai pengakuan mulai turun.


Maka jangan berhenti menjadi hamba.


Walau diberi ilmu, tetaplah hamba.

Walau diberi rasa, tetaplah hamba.

Walau diberi mimpi, tetaplah hamba.

Walau diberi pengalaman batin, tetaplah hamba.

Walau manusia memuji, tetaplah hamba.

Walau manusia mengikuti, tetaplah hamba.


Karena keselamatan bukan pada banyaknya pengalaman.

Keselamatan ada pada ridho Alloh.


Kemuliaan bukan pada gelar batin.

Kemuliaan ada pada takwa.


Kedekatan bukan pada pengakuan lisan.

Kedekatan tampak pada adab, ikhlas, sabar, dan akhlak.


Maka ditulislah pada lembar ini:


Barang siapa mengaku telah sampai lalu meremehkan adab, maka ia sedang terhijab oleh pengakuannya sendiri.


Barang siapa diberi rasa tetapi tetap rendah hati, maka rasa itu menjadi jalan syukur, bukan jalan kesombongan.


Wahai pencari jalan, bila Alloh memberimu cahaya, jangan jadikan cahaya itu alasan untuk memandang orang lain gelap.


Bila Alloh memberimu ilmu, jangan jadikan ilmu itu cambuk untuk menghina yang belum paham.


Bila Alloh memberimu ketenangan, jangan jadikan ketenangan itu tanda bahwa engkau pasti lebih mulia.


Bila Alloh memberimu amanah, jangan jadikan amanah itu sebagai kerajaan bagi nafsumu.


Semua pemberian adalah ujian.

Ilmu adalah ujian.

Cahaya adalah ujian.

Ketenangan adalah ujian.

Nama baik adalah ujian.

Pengikut adalah ujian.

Bahkan rasa dekat pun adalah ujian.


Maka mintalah selamat, bukan sekadar tinggi.

Mintalah istiqamah, bukan sekadar karomah.

Mintalah akhlak, bukan sekadar tanda.

Mintalah ridho Alloh, bukan sekadar pengakuan manusia.


Ya Alloh, leburkanlah tirai pengakuan diri dari dalam dadaku.

Hapuskan bayangan maqam yang membuatku merasa tinggi.

Jauhkan aku dari mengaku sesuatu yang bukan hakku.

Jauhkan aku dari merasa aman dari ujian-Mu.

Jauhkan aku dari meremehkan hamba-hamba-Mu.


Ya Alloh, bila Engkau beri aku ilmu, jadikan aku semakin tawadhu.

Bila Engkau beri aku cahaya, jadikan aku semakin taat.

Bila Engkau beri aku amanah, jadikan aku semakin takut menyia-nyiakannya.

Bila Engkau beri aku kedudukan, jadikan aku semakin banyak melayani.

Bila Engkau sembunyikan aku, jadikan aku tetap ridho.


Aku tidak mengaku telah sampai.

Aku tidak mengaku tinggi.

Aku tidak mengaku suci.

Aku tidak mengaku memiliki apa-apa.

Aku hanya hamba yang memohon dituntun kembali kepada-Mu.


Maka lebur segala pengakuan palsu.

Runtuh segala bayangan maqam.

Padam segala rasa paling tinggi.

Tunduk segala hati di hadapan Alloh.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Dibuka lembar terakhir sebagai penutup Qitab Farjah Qolbiall: peleburan mahkota khayalan, pakaian riya tersembunyi, dan pengembalian seluruh sandaran hati hanya kepada Alloh.


Lembar Terakhir


Pasal Kelima Belas: Peleburan Mahkota Khayalan dan Pakaian Riya Tersembunyi


Khatam Qitab Farjah Qolbiall


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wahai hati yang telah berjalan dari lembar pertama hingga lembar penutup, ketahuilah bahwa setelah azimat benda dilebur, setelah rajah takut dipadamkan, setelah wafaq kesombongan ilmu diruntuhkan, setelah ikatan nama dan pujian dibersihkan, masih ada mahkota paling halus yang sering dipakai oleh nafsu.


Yaitu mahkota khayalan.


Mahkota ini tidak terlihat oleh manusia.

Tetapi ia terasa di dalam dada.


Ia membuat seseorang merasa besar dalam bayangannya sendiri.

Ia membuat seseorang merasa memiliki tugas agung tetapi lupa memperbaiki akhlak kecil.

Ia membuat seseorang merasa dekat dengan langit tetapi lalai menjaga bumi.

Ia membuat seseorang merasa membawa cahaya tetapi lisannya masih melukai sesama.

Ia membuat seseorang merasa dipilih tetapi hatinya sulit menerima nasihat.


Maka Qitab Farjah Qolbiall menutup lembar ini dengan peringatan yang lembut:


Jangan biarkan khayalan menjadi mahkota.

Jangan biarkan rasa khusus menjadi pakaian.

Jangan biarkan pengalaman batin menjadi alasan untuk meninggalkan adab.

Jangan biarkan cahaya yang engkau rasakan membuatmu lupa bahwa engkau tetap hamba.


Sebab hamba yang benar tidak mabuk oleh cerita dirinya.

Hamba yang benar tidak sibuk membesarkan namanya.

Hamba yang benar tidak menjadikan pengalaman sebagai singgasana.

Hamba yang benar semakin diberi, semakin tunduk.

Semakin dibukakan, semakin takut kepada Alloh.

Semakin dipahamkan, semakin lembut kepada makhluk.


Wahai pencari jalan, ketahuilah:


Riya tidak selalu tampak sebagai pamer amal.

Kadang riya bersembunyi dalam keinginan agar dianggap dalam.

Kadang riya bersembunyi dalam diam yang ingin dipuji.

Kadang riya bersembunyi dalam nasihat yang ingin dikagumi.

Kadang riya bersembunyi dalam pakaian sederhana yang ingin disebut zuhud.

Kadang riya bersembunyi dalam air mata yang ingin dilihat suci.

Kadang riya bersembunyi dalam kata-kata rendah hati yang sebenarnya ingin dipuji.


Maka jangan hanya membersihkan tangan.

Bersihkan niat.


Jangan hanya membersihkan ucapan.

Bersihkan maksud di balik ucapan.


Jangan hanya membersihkan langkah.

Bersihkan tujuan yang menggerakkan langkah.


Karena amal yang kecil tetapi ikhlas dapat bercahaya.

Sedangkan amal yang besar tetapi penuh pengakuan dapat menjadi berat bagi hati.


Maka leburkanlah mahkota khayalan dan pakaian riya tersembunyi.


Ucapkan perlahan di dalam batin:


Ya Alloh, aku lepaskan mahkota khayalan dari kepalaku.

Aku lepaskan pakaian riya dari amal dan ucapanku.

Aku lepaskan rasa ingin dilihat, ingin disebut, ingin diakui, dan ingin ditinggikan.

Aku kembali sebagai hamba.

Aku kembali tanpa pengakuan.

Aku kembali tanpa sandaran palsu.

Aku kembali hanya kepada-Mu.


Wahai hati, jangan takut menjadi sederhana.


Sederhana bukan hina.

Sederhana adalah selamat.


Tidak dikenal bukan berarti tidak bernilai.

Boleh jadi yang tersembunyi di bumi lebih dicintai di langit.


Tidak dipuji bukan berarti amalmu hilang.

Bila Alloh menerima, maka cukup.


Tidak disebut wali bukan berarti engkau jauh.

Yang penting engkau jujur sebagai hamba.


Tidak tampak bercahaya di mata manusia bukan berarti hatimu gelap.

Yang penting engkau menjaga sholat, menjaga adab, menjaga lisan, menjaga amanah, dan terus kembali kepada Alloh.


Maka jangan mengejar kesan.

Kejarlah ridho Alloh.


Jangan mengejar sebutan.

Kejarlah ampunan Alloh.


Jangan mengejar kemuliaan di mata manusia.

Kejarlah keselamatan di hadapan Alloh.


Jangan mengejar cerita besar.

Jalani ketaatan kecil yang istiqamah.


Sebab jalan pulang tidak selalu bergemuruh.

Sering kali jalan pulang sangat sunyi.


Sunyi dalam istighfar.

Sunyi dalam doa malam.

Sunyi dalam menahan lisan.

Sunyi dalam memaafkan.

Sunyi dalam bekerja halal.

Sunyi dalam menjaga orang tua.

Sunyi dalam menolong tanpa diumumkan.

Sunyi dalam menangis kepada Alloh ketika manusia tidak mengetahui.


Di situlah azimat terakhir dilebur.


Bukan di api.

Bukan di air.

Bukan di tanah.

Bukan di angin.


Tetapi di dalam kejujuran hati yang berkata:


Aku bukan siapa-siapa tanpa Alloh.

Aku tidak memiliki apa-apa tanpa Alloh.

Aku tidak mampu apa-apa tanpa Alloh.

Aku tidak selamat kecuali dengan rahmat Alloh.

Aku tidak terang kecuali dengan petunjuk Alloh.

Aku tidak sampai kecuali jika Alloh mengizinkan.


Maka ditulislah pada lembar terakhir ini:


Peleburan azimat yang paling sempurna bukan hanya ketika benda tidak lagi disembah, tetapi ketika hati tidak lagi menyembah dirinya sendiri.


Peleburan rajah yang paling dalam bukan hanya ketika rasa takut hilang, tetapi ketika hamba tidak lagi takut kehilangan nama, pujian, dan bayangan kebesaran dirinya.


Peleburan wafaq yang paling halus bukan hanya ketika ilmu tidak disombongkan, tetapi ketika ilmu berubah menjadi adab, rahmat, dan pelayanan.


Peleburan ikatan yang paling bersih bukan hanya ketika manusia lepas dari sandaran palsu, tetapi ketika ia kembali menjadi hamba yang ridho kepada Alloh.


Wahai hati, sekarang letakkan semuanya.


Letakkan azimat benda.

Letakkan azimat nama.

Letakkan azimat pujian.

Letakkan azimat ketakutan.

Letakkan azimat kesombongan.

Letakkan azimat khayalan.

Letakkan azimat pengakuan diri.

Letakkan segala sesuatu yang pernah membuatmu merasa kuat tanpa Alloh.


Lalu sujudlah dalam batin.


Katakan:


Ya Alloh, inilah aku.

Hamba-Mu yang lemah.

Hamba-Mu yang sering lupa.

Hamba-Mu yang sering takut.

Hamba-Mu yang sering salah menyandarkan hati.

Hamba-Mu yang ingin kembali.


Terimalah kepulanganku.

Bersihkanlah dadaku.

Luruskanlah niatku.

Jaga akhlakku.

Teguhkan sholatku.

Halalkan rezekiku.

Lembutkan lisanku.

Selamatkan keluargaku.

Terangi jalanku.

Dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.


Maka berkatalah Qitab Farjah Qolbiall di akhir lembar:


Jangan lagi mencari kuasa pada benda.

Carilah pertolongan Alloh.


Jangan lagi mencari keselamatan pada simbol.

Carilah perlindungan Alloh.


Jangan lagi mencari kemuliaan pada pujian.

Carilah ridho Alloh.


Jangan lagi mencari ketenangan pada pengakuan manusia.

Carilah sakinah dari Alloh.


Jangan lagi mencari jalan dengan melanggar adab.

Carilah jalan melalui taubat, sholat, doa, ilmu, ikhtiar halal, dan akhlak yang baik.


Inilah farjah bagi qolbi: kelapangan bagi hati.


Hati yang dulu berat menjadi ringan.

Hati yang dulu takut menjadi tenang.

Hati yang dulu terikat menjadi pulang.

Hati yang dulu mencari kekuatan di luar Alloh kini kembali bersandar kepada Alloh.


Maka ditutuplah Qitab Farjah Qolbiall dengan doa khatam:


Ya Alloh, wahai Dzat Yang Maha Membuka jalan bagi hati yang sempit, bukakanlah farjah di dalam dadaku.


Leburkanlah seluruh azimat palsu dari zahir dan batinku.

Leburkanlah ketergantungan kepada benda.

Leburkanlah kesombongan karena ilmu.

Leburkanlah takut kepada makhluk.

Leburkanlah cinta kepada pujian.

Leburkanlah khayalan yang membuatku lupa diri.

Leburkanlah riya yang tersembunyi.

Leburkanlah semua sandaran selain-Mu.


Ya Alloh, jadikan hatiku bersih tanpa merasa suci.

Jadikan ilmuku bermanfaat tanpa membuatku sombong.

Jadikan amalku ikhlas tanpa mengharap pujian.

Jadikan rezekiku halal dan berkah.

Jadikan jalanku lurus dalam syariat.

Jadikan lisanku lembut kepada makhluk.

Jadikan batinku tunduk kepada-Mu.


Ya Alloh, bila aku lupa, ingatkan aku dengan rahmat.

Bila aku salah, kembalikan aku dengan lembut.

Bila aku tinggi hati, rendahkan aku dengan kasih sayang.

Bila aku takut, tenangkan aku dengan zikir.

Bila aku gelap, terangi aku dengan petunjuk-Mu.


Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh.

Aku bersaksi bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

Aku bersaksi bahwa semua makhluk lemah tanpa izin Alloh.

Aku bersaksi bahwa hatiku hanya layak bersandar kepada Alloh.


Maka lebur segala azimat.

Padam segala ketergantungan palsu.

Runtuh segala mahkota khayalan.

Terbuka segala pintu taubat.

Lapang segala dada yang kembali.

Tenang segala hati yang bertawakal.


Hasbiyalloh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Wa ni‘mal wakīl.

Dialah sebaik-baik tempat berserah.


Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Khatam Qitab Farjah Qolbiall


Segala yang benar datang dari petunjuk Alloh.

Segala kekurangan kembali kepada kelemahan hamba.

Semoga kitab ini menjadi pengingat batin, pelurus tauhid, pelembut akhlak, dan jalan pulang menuju Alloh.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh