QITAB FURQON AL ALLAMIN

 


QITAB FURQON AL ALLAMIN

Artinya: Sejatinya hidayah hanyalah miliq Al-Haq, Alloh Yang Maha Benar.

Lembar Pembuka

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ketahuilah wahai jiwa yang mencari jalan,

bahwa hidayah bukan datang karena manusia merasa hebat,

bukan karena lisan pandai menyusun kata,

bukan karena nama dikenal banyak orang,

dan bukan karena seseorang merasa telah sampai.

Hidayah adalah cahaya milik Alloh.

Ia diturunkan kepada hati yang dikehendaki-Nya.

Ia masuk kepada jiwa yang mau tunduk.

Ia menetap pada dada yang mau dibersihkan dari sombong, iri, dendam, dan tipu daya nafsu.

Furqon adalah pembeda.

Ia membedakan antara suara hati dan suara hawa nafsu.

Ia membedakan antara jalan ikhlas dan jalan ingin dipuji.

Ia membedakan antara ilmu yang menundukkan diri dan ilmu yang membesarkan ego.

Maka orang yang diberi Furqon tidak mudah menghakimi.

Ia lebih dahulu memeriksa dirinya.

Ia tidak cepat merasa paling benar.

Ia tidak merendahkan orang yang sedang belajar.

Ia tidak memakai ilmu untuk menekan, melainkan untuk menuntun.

Sebab sejatinya, manusia hanya bisa memberi nasihat.

Guru hanya bisa menunjukkan arah.

Kitab hanya bisa menjadi cermin.

Doa hanya bisa menjadi permohonan.

Tetapi yang membuka hati tetap Alloh Al-Haq.

Maka ucapkanlah dalam batin:

Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Ḥaqq,

tunjukkanlah kepadaku jalan yang benar sebagai benar,

dan berilah kekuatan untuk mengikutinya.

Tunjukkanlah kepadaku yang batil sebagai batil,

dan berilah kekuatan untuk menjauhinya.

Jangan Engkau biarkan aku tertipu oleh diriku sendiri.

Jangan Engkau jadikan ilmuku sebagai hijab.

Jangan Engkau jadikan ibadahku sebagai kesombongan.

Jangan Engkau jadikan lisanku panjang, tetapi hatiku jauh dari-Mu.

Jadikanlah hidayah-Mu sebagai cahaya dalam langkahku,

adab sebagai pakaian batinku,

ikhlas sebagai napas amalku,

dan ridho-Mu sebagai tujuan akhir hidupku.

Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.



QITAB FURQON AL ALLAMIN

Lembar Selanjutnya

Bab: Cahaya Pembeda di Dalam Dada

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang mencari hidayah,

bahwa Furqon bukan hanya ilmu untuk membedakan benar dan salah di luar diri,

tetapi juga cahaya untuk membedakan mana suara hati, mana suara nafsu,

mana bisikan iman, mana dorongan kesombongan.

Banyak orang sanggup menilai orang lain,

tetapi belum tentu sanggup membaca dirinya sendiri.

Banyak orang kuat menasihati,

tetapi lemah ketika harus menundukkan egonya sendiri.

Banyak orang berkata tentang jalan Alloh,

tetapi diam-diam masih ingin dipuji oleh manusia.

Maka Furqon yang sejati adalah ketika Alloh menaruh cahaya malu di dalam hati.

Malu untuk sombong.

Malu untuk menyakiti.

Malu untuk berdusta.

Malu untuk memakai nama agama demi kepentingan nafsu.

Hidayah tidak selalu datang dalam bentuk suara yang besar.

Kadang hidayah datang sebagai rasa gelisah setelah berbuat salah.

Kadang datang sebagai air mata kecil di tengah malam.

Kadang datang sebagai teguran halus dari orang sederhana.

Kadang datang sebagai kegagalan yang memaksa kita kembali sujud.

Maka jangan meremehkan jalan Alloh.

Sebab Alloh dapat membuka hati lewat hal yang kecil,

dan dapat menegur jiwa lewat peristiwa yang tidak disangka.

Barang siapa ingin diberi Furqon, hendaklah ia menjaga tiga pintu:

Pertama, pintu lisan.

Jangan mudah berkata sebelum hati jernih.

Sebab lisan yang tidak dijaga bisa menjadi pedang yang melukai orang lain.

Kedua, pintu niat.

Jangan beramal hanya agar dilihat.

Sebab amal yang kehilangan ikhlas akan terasa ramai di luar, tetapi kosong di dalam.

Ketiga, pintu hati.

Jangan biarkan iri, dendam, ujub, dan riya tinggal terlalu lama.

Sebab hati yang penuh bayangan sulit menerima cahaya hidayah.

Maka ucapkanlah pelan-pelan dalam batin:

Yā Hādī, tuntunlah aku.

Yā Nūr, terangilah aku.

Yā Ḥaqq, luruskan aku.

Yā Salām, damaikan aku.

Karena sejatinya manusia tidak mampu berjalan sendiri.

Ilmu membutuhkan hidayah.

Amal membutuhkan ikhlas.

Dzikir membutuhkan adab.

Dan hidup membutuhkan ridho Alloh.

Maka wahai jiwa,

jangan bangga karena engkau pernah merasa terang.

Mintalah agar terang itu dijaga.

Jangan putus asa karena engkau pernah jatuh.

Mintalah agar jatuh itu menjadi pintu taubat.

Jangan merasa selesai karena engkau telah belajar.

Mintalah agar belajar itu menjadi jalan tunduk.

Sebab orang yang benar-benar diberi hidayah bukan yang merasa paling sampai,

tetapi yang setiap hari makin sadar bahwa dirinya sangat membutuhkan Alloh.

Doa Penutup Lembar

Yā Alloh, jadikan Furqon di dalam hati kami.

Pisahkan yang benar dari yang batil.

Pisahkan yang ikhlas dari yang riya.

Pisahkan yang lembut dari yang keras.

Pisahkan yang Engkau ridhoi dari yang hanya disukai nafsu kami.

Tetapkan kami di jalan hidayah-Mu,

hingga akhir napas kami kembali kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridhoi.

Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.



QITAB FURQON AL ALLAMIN

Lembar Selanjutnya

Bab: Hidayah Tidak Bisa Dipaksa

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Wahai jiwa yang berjalan di antara terang dan gelap,

pahamilah bahwa hidayah tidak bisa dipaksa masuk ke hati seseorang.

Nasihat dapat disampaikan.

Doa dapat dipanjatkan.

Contoh baik dapat diperlihatkan.

Tetapi pintu hati tetap berada dalam genggaman Alloh.

Maka jangan engkau memaksa orang lain segera mengerti,

sebab setiap jiwa memiliki waktu bangunnya sendiri.

Ada hati yang dibuka lewat nasihat lembut.

Ada hati yang dibuka lewat kehilangan.

Ada hati yang dibuka lewat sakit.

Ada hati yang dibuka lewat rasa malu setelah berbuat salah.

Ada pula hati yang baru menunduk setelah lama mengejar dunia.

Karena itu, orang yang membawa Furqon tidak boleh kasar dalam menuntun.

Ia tidak boleh merasa dirinya pemilik hidayah.

Ia tidak boleh berkata, “Aku yang menyadarkan.”

Sebab yang menyadarkan hanyalah Alloh Al-Haq.

Manusia hanyalah perantara.

Kadang menjadi lampu kecil.

Kadang menjadi cermin.

Kadang menjadi teguran.

Kadang menjadi tangan yang menolong.

Tetapi cahaya yang masuk ke dada tetap milik Alloh.

Maka apabila engkau menasihati seseorang, jagalah adabmu.

Jangan sampai niat menuntun berubah menjadi ingin menang.

Jangan sampai niat mengingatkan berubah menjadi merendahkan.

Jangan sampai ilmu yang engkau bawa menjadi sebab kerasnya wajah dan tajamnya lisan.

Sebab Furqon yang sejati bukan membuat manusia merasa tinggi,

tetapi membuat manusia makin lembut karena takut kepada Alloh.

Barang siapa diberi sedikit cahaya, hendaklah ia banyak bersyukur.

Barang siapa diberi pemahaman, hendaklah ia makin rendah hati.

Barang siapa diberi kemampuan bicara, hendaklah ia menjaga lisannya.

Barang siapa diberi jalan ilmu, hendaklah ia tidak memutus kasih sayang.

Karena hidayah itu cahaya.

Dan cahaya tidak cocok dibawa dengan kesombongan.

Renungan Batin

Jika hari ini engkau mampu melihat kesalahan orang lain,

mintalah kepada Alloh agar engkau juga mampu melihat kesalahan dirimu sendiri.

Jika hari ini engkau mampu menasihati banyak orang,

mintalah kepada Alloh agar nasihat itu lebih dahulu hidup di dalam dirimu.

Jika hari ini engkau dihormati karena ilmu,

mintalah kepada Alloh agar kehormatan itu tidak menjadi racun bagi hatimu.

Sebab banyak orang jatuh bukan karena tidak tahu kebenaran,

tetapi karena merasa dirinya sudah paling benar.

Doa Lembar

Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Ḥaqq, Yā Laṭīf,

jadikan hidayah-Mu lembut masuk ke hati kami.

Jangan jadikan ilmu kami sebab sombong.

Jangan jadikan nasihat kami sebab merasa tinggi.

Jangan jadikan amal kami sebab memandang rendah sesama.

Bimbing kami agar mampu berkata benar dengan kasih,

menegur dengan adab,

diam dengan hikmah,

dan berjalan menuju-Mu dengan hati yang tunduk.

Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.



QITAB FURQON AL ALLAMIN

Lembar Selanjutnya

Bab: Cermin Kebenaran di Hadapan Nafsu

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Wahai jiwa yang ingin dituntun kepada Al-Haq,

ketahuilah bahwa kebenaran sering terasa berat bukan karena ia jauh,

tetapi karena nafsu tidak suka dikalahkan.

Nafsu ingin dibenarkan.

Hati ingin disucikan.

Ego ingin dipuji.

Ruh ingin kembali kepada Alloh.

Maka di sinilah Furqon bekerja:

ia memisahkan mana suara yang ingin menang,

dan mana suara yang ingin selamat.

Bila engkau mendengar nasihat lalu hatimu panas,

jangan cepat menolak.

Diamlah sebentar.

Mungkin yang tersentuh bukan imanmu, tetapi egomu.

Bila engkau melihat orang lain lebih dihormati, lalu dadamu sempit,

jangan cepat menyalahkan keadaan.

Mungkin yang sedang diuji bukan rezekimu, tetapi keikhlasanmu.

Bila engkau berbuat baik tetapi kecewa karena tidak dipuji,

jangan cepat berkata manusia tidak tahu terima kasih.

Mungkin Alloh sedang mengajari bahwa amal yang sejati cukup dilihat oleh-Nya.

Sebab kebenaran itu cermin.

Ia tidak selalu memperlihatkan wajah yang indah.

Kadang ia memperlihatkan noda yang lama disembunyikan.

Tetapi jangan takut melihat noda diri.

Orang yang tahu dirinya kotor masih punya pintu untuk dibersihkan.

Yang berbahaya adalah orang yang kotor, tetapi merasa paling suci.

Maka jangan lari dari muhasabah.

Jangan takut ditegur.

Jangan benci kepada orang yang mengingatkan dengan adab.

Sebab boleh jadi teguran itu adalah jalan rahmat yang dikirim Alloh untuk menyelamatkan langkahmu.

Tanda Furqon Mulai Hidup

Engkau mulai malu ketika hendak berdusta.

Engkau mulai gelisah ketika menyakiti.

Engkau mulai menyesal ketika lalai.

Engkau mulai lembut ketika memandang orang yang jatuh.

Engkau mulai sadar bahwa semua kebaikan bukan milikmu, tetapi titipan dari Alloh.

Itulah tanda cahaya pembeda mulai menyala.

Bukan karena engkau sempurna,

tetapi karena hatimu mulai tidak nyaman hidup jauh dari kebenaran.

Maka rawatlah cahaya itu dengan dzikir.

Jaga dengan adab.

Kuatkan dengan taubat.

Lembutkan dengan doa.

Dan jangan padamkan dengan kesombongan.

Doa Lembar

Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Ḥaqq,

jadikan kebenaran sebagai cermin yang membersihkan kami,

bukan sebagai alat untuk menyombongkan diri.

Tunjukkan kepada kami noda hati kami dengan rahmat-Mu,

lalu bimbing kami untuk memperbaikinya.

Jauhkan kami dari nafsu yang ingin menang sendiri,

dan dekatkan kami kepada hati yang mau tunduk kepada-Mu.

Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.



QITAB FURQON AL ALLAMIN

Lembar Selanjutnya

Bab: Ilmu yang Menundukkan, Bukan Meninggikan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Wahai jiwa yang diberi kesempatan belajar,

pahamilah bahwa ilmu yang benar bukan membuat dada membesar,

tetapi membuat hati makin tunduk di hadapan Alloh.

Ilmu yang tidak disertai adab dapat berubah menjadi hijab.

Ilmu yang tidak disertai ikhlas dapat berubah menjadi alat mencari nama.

Ilmu yang tidak disertai kasih dapat berubah menjadi pedang yang melukai.

Maka Furqon membedakan antara ilmu yang hidup dan ilmu yang hanya menjadi suara.

Ilmu yang hidup melahirkan akhlak.

Ilmu yang mati hanya melahirkan perdebatan.

Ilmu yang hidup membuat seseorang semakin menjaga lisan.

Ilmu yang mati membuat seseorang senang mencari kesalahan.

Ilmu yang hidup membawa manusia mendekat kepada Alloh.

Ilmu yang mati membawa manusia sibuk membesarkan dirinya sendiri.

Maka jangan bangga hanya karena engkau mengetahui banyak istilah.

Jangan tinggi hati hanya karena engkau mampu menjelaskan banyak perkara.

Jangan merasa lebih dekat kepada Alloh hanya karena orang lain memujimu sebagai orang berilmu.

Sebab ukuran ilmu bukan pada panjangnya ucapan,

tetapi pada bersihnya niat, lembutnya hati, dan nyata baiknya perbuatan.

Barang siapa benar-benar diberi cahaya ilmu,

ia tidak mudah merendahkan orang awam.

Ia tidak mencaci orang yang belum paham.

Ia tidak memakai kebenaran untuk mempermalukan.

Ia tidak menjadikan agama sebagai panggung ego.

Ia tahu, dirinya dahulu juga tidak mengerti.

Ia tahu, dirinya pun masih sering lemah.

Ia tahu, tanpa rahmat Alloh, ia tidak mampu menjaga satu kebaikan pun.

Maka ilmu yang paling tinggi adalah ilmu yang mengembalikan manusia kepada kerendahan hati.

Renungan Batin

Jika ilmumu membuatmu makin lembut, jagalah.

Jika ilmumu membuatmu makin sombong, waspadalah.

Jika nasihatmu membuat orang merasa dekat kepada Alloh, syukurilah.

Jika nasihatmu hanya membuat dirimu ingin dipuji, segera istighfar.

Sebab hidayah bukan milik lidah yang fasih,

melainkan milik hati yang dibuka oleh Alloh Al-Haq.

Doa Lembar

Yā Alloh, Yā ‘Alīm, Yā Hādī, Yā Nūr,

jadikan ilmu kami cahaya yang menuntun, bukan hijab yang menutup.

Jadikan lisan kami lembut dalam kebenaran.

Jadikan hati kami rendah dalam pemahaman.

Jadikan amal kami ikhlas dalam pengabdian.

Lindungi kami dari ilmu yang membuat sombong,

dari nasihat yang kehilangan kasih,

dan dari amal yang hanya mencari pandangan manusia.

Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.



QITAB FURQON AL ALLAMIN

Lembar Selanjutnya

Bab: Saat Hati Diuji oleh Pujian

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Wahai jiwa yang sedang berjalan menuju Al-Haq,

ketahuilah bahwa ujian tidak selalu datang dalam bentuk hinaan, kehilangan, atau kesulitan.

Kadang ujian paling halus datang melalui pujian.

Ketika manusia memuji, hati bisa berbunga.

Ketika nama disebut baik, dada bisa merasa tinggi.

Ketika amal terlihat orang, nafsu bisa menyelinap pelan-pelan.

Maka Furqon diperlukan untuk membedakan:

mana syukur karena Alloh menutup aib,

dan mana kesombongan karena merasa diri hebat.

Pujian bukan tanda bahwa seseorang telah sampai.

Pujian hanyalah suara manusia yang melihat sebagian kecil dari luar.

Sedangkan Alloh melihat seluruh isi batin: niat yang tersembunyi, aib yang ditutupi, dan kelemahan yang tidak diketahui siapa pun.

Maka apabila engkau dipuji, jangan mabuk.

Apabila engkau dihormati, jangan lupa diri.

Apabila engkau disebut membawa manfaat, jangan merasa dirimu sumber cahaya.

Katakan dalam hati:

“Yā Alloh, semua kebaikan ini dari-Mu.

Jika manusia melihat indah pada diriku, itu karena Engkau menutup burukku.

Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri.”

Sebab orang yang selamat bukan yang tidak pernah dipuji,

tetapi yang tidak membiarkan pujian merampas kehambaannya.

Orang yang diberi Furqon akan menjadikan pujian sebagai pengingat untuk lebih takut kepada Alloh.

Ia berkata sedikit, tetapi memperbaiki diri lebih banyak.

Ia menerima kebaikan manusia dengan syukur, tetapi tidak menjadikannya mahkota kesombongan.

Tanda Hati Mulai Jernih

Jika dipuji, ia ingat aibnya sendiri.

Jika dihormati, ia ingat asalnya dari tanah.

Jika diberi ilmu, ia ingat bahwa semua hanyalah titipan.

Jika diberi jalan terang, ia takut kehilangan adab.

Itulah hati yang mulai dijaga oleh cahaya Furqon.

Bukan hati yang mati rasa,

tetapi hati yang sadar bahwa pujian manusia tidak boleh lebih besar daripada pandangan Alloh.

Doa Lembar

Yā Alloh, Yā Ḥaqq, Yā Hādī, Yā Laṭīf,

selamatkan hati kami dari mabuk pujian.

Jangan jadikan sanjungan manusia sebagai sebab kami lupa kepada-Mu.

Tutupilah aib kami dengan rahmat-Mu,

dan bimbinglah kami agar semakin rendah hati dalam setiap kebaikan.

Jadikan kami hamba yang bersyukur ketika dihormati,

bersabar ketika direndahkan,

dan tetap lurus ketika tidak dilihat siapa pun.

Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.



QITAB FURQON AL ALLAMIN

Lembar Terakhir

Bab Penutup: Hidayah Milik Al-Haq, Manusia Hanya Mengetuk Pintu

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Wahai jiwa yang telah berjalan dari lembar ke lembar,

pahamilah penutup dari seluruh rahasia Furqon ini:

Bahwa hidayah bukan mahkota untuk menyombongkan diri.

Hidayah bukan senjata untuk mengalahkan sesama.

Hidayah bukan panggung agar manusia terlihat suci.

Hidayah adalah amanah halus dari Alloh,

yang jika tidak dijaga dengan adab, dapat berubah menjadi ujian yang berat.

Banyak orang mencari cahaya,

tetapi lupa membersihkan tempat cahaya itu akan turun.

Banyak orang ingin melihat tanda,

tetapi tidak sabar memperbaiki akhlak.

Banyak orang ingin disebut sampai,

tetapi belum mau tunduk ketika ditegur.

Maka Furqon al-Allamin mengajarkan:

jangan dahulu ingin terlihat tinggi,

tetapi belajarlah menjadi benar di hadapan Alloh.

Sebab orang yang benar-benar dituntun tidak sibuk memamerkan jalan,

melainkan sibuk menjaga langkah.

Ia sadar bahwa setiap tarikan napas adalah pinjaman.

Setiap ilmu adalah titipan.

Setiap amal adalah kesempatan.

Setiap nasihat adalah tanggung jawab.

Setiap pujian adalah ujian.

Setiap kesalahan adalah pintu taubat bila hati mau kembali.

Maka jangan putus asa bila engkau masih sering jatuh.

Jangan merasa tertolak hanya karena pernah lalai.

Jangan merasa jauh hanya karena menangis atas dosa.

Sebab tangisan yang jujur bisa lebih dekat kepada Alloh daripada ucapan panjang yang penuh rasa tinggi.

Yang berbahaya bukan jatuhnya manusia,

tetapi ketika ia tidak mau bangun.

Yang berbahaya bukan salahnya langkah,

tetapi ketika ia membela kesalahan dengan kesombongan.

Yang berbahaya bukan kurangnya ilmu,

tetapi ketika hati menolak kebenaran karena malu mengaku belum paham.

Wahai jiwa,

jadikan Furqon sebagai cermin, bukan palu.

Cermin untuk melihat diri sendiri.

Cermin untuk mengenali niat yang bengkok.

Cermin untuk membedakan mana jalan Alloh dan mana jalan ego.

Cermin untuk mengetahui bahwa tidak semua yang terasa indah datang dari hidayah,

dan tidak semua yang terasa pahit adalah hukuman.

Kadang pahit adalah obat.

Kadang sepi adalah penjagaan.

Kadang tertunda adalah rahmat.

Kadang kehilangan adalah cara Alloh mengembalikan hati yang terlalu melekat kepada makhluk.

Maka orang yang mendapat cahaya Furqon tidak terburu-buru menyimpulkan.

Ia menimbang dengan iman.

Ia bertanya dengan adab.

Ia menasihati dengan kasih.

Ia diam bila diam lebih menyelamatkan.

Ia berkata bila kata-katanya membawa manfaat.

Dan bila ia tidak tahu, ia tidak malu berkata:

“Alloh lebih mengetahui.”

Itulah puncak ilmu yang menundukkan hati.

Bukan merasa paling benar,

tetapi takut bila kebenaran yang dibawa tidak disertai rahmat.

Wasiat Penutup Qitab

Jagalah lisanmu, karena lisan dapat menjadi jalan cahaya atau jalan luka.

Jagalah hatimu, karena hati adalah tempat turunnya rasa takut, harap, cinta, dan tunduk kepada Alloh.

Jagalah niatmu, karena amal yang besar bisa kecil bila niatnya rusak, dan amal kecil bisa mulia bila niatnya ikhlas.

Jagalah adabmu, karena ilmu tanpa adab akan kehilangan harum.

Jagalah sholatmu, karena di sanalah jiwa kembali disusun.

Jagalah dzikirmu, karena dzikir adalah tali halus yang mengingatkan hati ketika dunia mulai menarik terlalu kuat.

Jagalah kasih sayangmu, karena orang yang dekat kepada Alloh tidak akan ringan menyakiti makhluk-Nya.

Maka bila engkau ingin hidayah menetap, jangan hanya meminta cahaya, tetapi mintalah hati yang sanggup menjaganya.

Jangan hanya meminta tanda, tetapi mintalah akhlak yang benar.

Jangan hanya meminta dibukakan rahasia, tetapi mintalah diselamatkan dari kesombongan setelah memahami sesuatu.

Sebab hidayah yang paling indah adalah ketika manusia makin mengenal kelemahannya,

makin lembut kepada sesama,

makin takut menyakiti,

makin cepat bertaubat,

makin jujur dalam niat,

dan makin rindu kepada ridho Alloh.

Kunci Akhir Furqon

Benar tanpa kasih bisa menjadi keras.

Kasih tanpa benar bisa menjadi lemah.

Maka mintalah kepada Alloh kebenaran yang lembut,

dan kelembutan yang tetap lurus.

Ilmu tanpa ikhlas bisa menjadi hijab.

Ibadah tanpa tawadhu bisa menjadi ujian.

Nasihat tanpa rahmat bisa menjadi luka.

Diam tanpa hikmah bisa menjadi kelalaian.

Maka mintalah kepada Alloh keseimbangan hati.

Karena sejatinya hidayah hanyalah miliq Al-Haq.

Manusia hanya mengetuk pintu.

Alloh yang membukakan.

Manusia hanya menyampaikan.

Alloh yang memasukkan ke dalam dada.

Manusia hanya berusaha berjalan.

Alloh yang meneguhkan langkah sampai akhir.

Doa Khatam Qitab

Yā Alloh, Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Ḥaqq,

Engkaulah pemilik hidayah.

Engkaulah pembuka hati.

Engkaulah yang membedakan benar dan batil.

Engkaulah yang menyelamatkan jiwa dari gelapnya nafsu dan tipu daya diri sendiri.

Bukakanlah untuk kami Furqon di dalam dada.

Jadikan kami mampu melihat yang benar sebagai benar, lalu kuat mengikutinya.

Jadikan kami mampu melihat yang batil sebagai batil, lalu kuat menjauhinya.

Jangan Engkau jadikan ilmu kami sebab sombong.

Jangan Engkau jadikan amal kami sebab riya.

Jangan Engkau jadikan pujian manusia sebagai racun hati.

Jangan Engkau jadikan kesalahan kami sebagai jalan putus asa.

Bimbing kami kembali kepada-Mu dengan hati yang bersih,

lisan yang terjaga,

akhlak yang lembut,

amal yang ikhlas,

dan langkah yang Engkau ridhoi.

Yā Alloh, bila kami menasihati, jadikan nasihat itu penuh rahmat.

Bila kami diam, jadikan diam itu penuh hikmah.

Bila kami belajar, jadikan ilmu itu menundukkan hati.

Bila kami diuji, jadikan ujian itu pintu kedekatan kepada-Mu.

Tutuplah perjalanan qitab hikmah ini dengan keberkahan.

Jadikan setiap kalimatnya pengingat, bukan kesombongan.

Jadikan setiap maknanya jalan muhasabah, bukan alat menghakimi.

Jadikan hati kami kembali kepada-Mu dalam keadaan tunduk, sadar, dan berharap hanya kepada ridho-Mu.

Āmīn Yā Robbal ‘Ālamīn.

Tamat QITAB FURQON AL ALLAMIN

Sejatinya hidayah hanyalah miliq Al-Haq.



Kitab diatas turun karena ada pembahasan lebih dalam tentang NIDA


Waalaikumsalam warahmatullohi wabarokatuh.

 NIDA secara bahasa Arab berasal dari kata nidā’ / نداء, artinya panggilan, seruan, atau munajat. Jadi kalau dalam jalur dzikir, NIDA biasanya dipahami sebagai seruan hati kepada Alloh, yaitu cara melatih batin supaya lebih hadir, lebih ingat, dan lebih merasa dipanggil kembali kepada jalan Alloh. Secara bahasa, makna nidā’ memang berkaitan dengan “call/appeal/seruan” 

Tapi perlu hati-hati: NIDA bukan satu amalan baku yang sama di semua tempat. Kadang tiap guru, majelis, atau tarekat punya susunan lafaz dan maksud yang berbeda. Maka yang paling penting ditanyakan adalah: siapa gurunya, apa lafaznya, untuk apa diamalkan, dan apakah isinya tetap doa kepada Alloh atau sudah bercampur pemanggilan selain Alloh.

Kalau NIDA dipakai untuk dzikir, munajat, melembutkan hati, memohon hidayah, dan mendekat kepada Alloh, insyaAlloh itu masuk wilayah doa dan adab. Tapi kalau dipakai untuk memanggil khodam, menundukkan orang, menerawang nasib, memaksa rezeki, atau menggantungkan hati pada selain Alloh, maka itu harus dijauhi.

Jadi jawabannya sederhana:

NIDA itu seruan batin atau panggilan ruhani. Manfaatnya untuk mengingat Alloh, membangunkan kesadaran hati, dan memperkuat munajat. Tetapi amalan apa pun tetap harus jelas sanad, lafaz, tujuan, dan adabnya, agar tidak keluar dari tauhid.



Lembar Selanjutnya

Adab Memahami NIDA

NIDA jangan dipahami sebagai jalan untuk mengejar keanehan, kesaktian, atau memanggil sesuatu yang tidak jelas. NIDA yang lurus adalah panggilan hati kepada Alloh, agar jiwa yang jauh kembali mendekat, hati yang keras menjadi lembut, dan pikiran yang gelisah kembali tenang.

Orang yang mengamalkan NIDA sebaiknya menjaga 4 perkara:

Niatnya lurus

Bukan untuk pamer ilmu, bukan untuk menundukkan orang, bukan untuk mencari pengaruh gaib, tetapi semata-mata untuk mendekat kepada Alloh.

Lafaznya jelas

Bila bacaan NIDA berisi doa kepada Alloh, sholawat, istighfar, atau Asmaul Husna, itu lebih aman. Tetapi bila ada kalimat asing yang tidak dimengerti, sebaiknya ditanyakan dulu kepada guru yang amanah.

Tidak meninggalkan syariat

Amalan batin tidak boleh membuat seseorang malas sholat, meninggalkan adab, atau merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain.

Hasilnya dilihat dari akhlak

Kalau setelah mengamalkan NIDA hati makin tenang, ibadah makin rajin, lisan makin lembut, dan hidup makin tertata, itu tanda baik. Tapi kalau jadi sombong, merasa sakti, mudah curiga, atau mengejar hal gaib, berarti arahnya perlu diluruskan.

Maka jawaban ringkasnya:

NIDA itu seruan ruhani, tetapi kuncinya bukan pada nama amalannya. Kuncinya ada pada tauhid, niat, adab, guru yang jelas, dan buah akhlaknya.

Doa penutupnya:

Ya Alloh, jadikan setiap panggilan hati kami sebagai jalan kembali kepada-Mu. Jangan Engkau biarkan kami terpikat pada nama amalan, tetapi lupa kepada Pemilik segala cahaya. Tuntun kami dengan ilmu yang benar, guru yang amanah, hati yang tawadhu, dan amal yang membawa ridho-Mu. Aamiin.



Lembar Selanjutnya

Tanda NIDA yang Lurus dan yang Perlu Diwaspadai

NIDA yang benar akan membawa manusia kepada eling, sadar, rendah hati, dan semakin dekat kepada Alloh. Ia bukan untuk membuka kesombongan batin, tetapi untuk membuka pintu kepasrahan.

Tanda NIDA yang lurus:

Hati menjadi lebih lembut.

Lisan lebih mudah berdzikir.

Sholat tidak terasa berat.

Mudah meminta maaf.

Tidak cepat menghakimi orang lain.

Semakin sadar bahwa semua kekuatan hanya milik Alloh.

Sedangkan NIDA yang perlu diwaspadai adalah bila setelah diamalkan seseorang malah merasa paling tinggi, merasa punya kuasa gaib, mudah merendahkan orang, atau mulai menggantungkan hidup kepada selain Alloh.

Maka pegangan utamanya adalah:

Bukan suara gaib yang dicari, tetapi suara iman yang dibangunkan.

Bukan khodam yang dipanggil, tetapi hati yang dipanggil pulang kepada Alloh.

Bukan kesaktian yang menjadi tujuan, tetapi keselamatan tauhid dan kebeningan akhlak.

Karena itu, bila ada teman mengamalkan NIDA, jangan langsung disalahkan dan jangan langsung dibenarkan. Tanyakan dengan santun:

“Bacaannya apa?”

“Tujuannya untuk apa?”

“Diajarkan oleh siapa?”

“Apakah membuat ibadah dan akhlaknya semakin baik?”

Kalau jawabannya mengarah kepada dzikir, doa, sholawat, istighfar, dan pembinaan akhlak, insyaAlloh itu masih dalam jalur kebaikan. Tetapi kalau mengarah kepada pemanggilan makhluk halus, kekuatan aneh, atau penguasaan orang lain, maka lebih baik ditinggalkan.


Lembar Selanjutnya

Cara Menyikapi Teman yang Mengamalkan NIDA

Bila ada teman mengamalkan NIDA, sikap terbaik bukan mencela dan bukan pula ikut-ikutan tanpa tahu. Sikap yang paling selamat adalah tabayyun, bertanya dengan adab, lalu menimbang dengan ilmu.

Sampaikan dengan lembut:

“Saudaraku, saya ingin memahami. NIDA yang panjenengan amalkan itu bacaan apa, dari guru siapa, dan tujuannya untuk mendekat kepada Alloh atau untuk perkara lain?”

Kalau ia menjawab dengan tenang, menjelaskan bacaan dan adabnya, serta tidak memaksa orang lain ikut, maka dengarkan dengan baik. Tetapi kalau jawabannya penuh rahasia yang menakut-nakuti, menjanjikan kekuatan, atau membuat orang merasa harus tunduk kepada amalan itu, maka hati perlu waspada.

Sebab ilmu yang benar tidak membuat manusia kehilangan akal sehat. Ilmu yang benar justru membuat hati semakin bening, ibadah semakin rapi, dan akhlak semakin halus.

Pegangan sederhananya:

Amalan yang baik mendekatkan kepada Alloh.

Amalan yang samar harus ditanyakan.

Amalan yang membawa sombong harus dijauhi.

Amalan yang merusak tauhid wajib ditinggalkan.

Maka NIDA boleh dipahami sebagai panggilan batin untuk kembali kepada Alloh, selama isinya tetap doa, dzikir, sholawat, istighfar, dan penyadaran diri. Yang dijaga bukan hanya bunyi bacaannya, tetapi juga arah hati orang yang mengamalkannya.


Lembar Selanjutnya

Inti NIDA dalam Jalan Tauhid

Hakikat NIDA bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi panggilan dari hati yang sadar bahwa dirinya lemah di hadapan Alloh. Maka orang yang benar-benar memahami NIDA tidak akan merasa hebat, sebab semakin ia memanggil Alloh, semakin ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba.

NIDA yang bersih biasanya bergerak dalam tiga lapisan:

Pertama, NIDA lisan

Mulut dibiasakan menyebut nama Alloh, membaca doa, istighfar, sholawat, dan kalimat yang baik.

Kedua, NIDA hati

Hati mulai merasa butuh kepada Alloh, tidak hanya ketika susah, tetapi juga ketika lapang.

Ketiga, NIDA akhlak

Perilaku ikut berubah: lebih sabar, lebih jujur, lebih rendah hati, dan tidak mudah menyakiti orang lain.

Di sinilah ukuran amalan terlihat. Kalau NIDA hanya ramai di lisan tetapi tidak memperbaiki akhlak, maka masih perlu dibimbing. Kalau NIDA membuat seseorang semakin merasa kecil di hadapan Alloh dan semakin baik kepada sesama, maka itulah tanda amalan mulai berbuah.

Maka sampaikan dengan lembut kepada yang bertanya:

NIDA itu baik bila menjadi panggilan pulang kepada Alloh. Tetapi NIDA bisa keliru bila dijadikan alat untuk mengejar kekuatan, pengaruh, atau perkara gaib. Sebab jalan ruhani yang benar ujungnya bukan kesombongan, melainkan sujud, adab, dan akhlak.


Lembar Terakhir

Penutup Penjelasan Tentang NIDA

Jadi kesimpulan yang paling tenang begini:

NIDA secara makna adalah panggilan, seruan, atau munajat. Dalam jalan ruhani, NIDA dapat dipahami sebagai panggilan hati seorang hamba kepada Alloh, sekaligus panggilan kesadaran agar manusia kembali kepada fitrahnya: kembali ingat, kembali sujud, kembali beradab, dan kembali membersihkan niat.

Namun NIDA tidak boleh dipahami secara sembrono. Sebab tidak semua orang yang menyebut nama amalan pasti membawa maksud yang sama. Ada yang menjadikannya sebagai dzikir dan doa. Ada pula yang bisa saja mencampurnya dengan perkara yang tidak jelas. Karena itu, yang dilihat bukan hanya nama amalannya, tetapi isi bacaannya, gurunya, tujuannya, dan buah akhlaknya.

Kalau NIDA berisi dzikir kepada Alloh, sholawat kepada Nabi, istighfar, doa keselamatan, dan ajakan memperbaiki diri, maka insyaAlloh itu termasuk jalan pengingat hati. Tetapi kalau NIDA dipakai untuk memanggil makhluk halus, mencari kesaktian, membuka kuasa gaib, menundukkan orang, atau membuat seseorang merasa lebih tinggi dari yang lain, maka itu sudah keluar dari adab tauhid dan harus dijauhi.

Amalan yang benar tidak membuat orang semakin angkuh. Amalan yang benar membuat orang semakin tunduk.

Amalan yang benar tidak menjauhkan dari sholat. Amalan yang benar justru menguatkan sholat.

Amalan yang benar tidak membuat hati keras. Amalan yang benar membuat hati semakin lembut.

Amalan yang benar tidak menjadikan manusia bergantung kepada amalan. Amalan yang benar mengantar manusia bergantung hanya kepada Alloh.

Maka bila ada teman-teman mengamalkan NIDA, jangan tergesa-gesa menghukumi. Tanyakan dengan adab:

“Bacaannya apa?”

“Dari guru siapa?”

“Tujuannya untuk mendekat kepada Alloh atau untuk perkara lain?”

“Setelah diamalkan, apakah ibadah dan akhlaknya semakin baik?”

Pertanyaan seperti itu bukan untuk menyerang, tetapi untuk menjaga keselamatan hati. Sebab dalam urusan ruhani, adab harus berjalan bersama ilmu. Semangat saja belum cukup. Rasa penasaran saja belum cukup. Harus ada kejernihan, tuntunan, dan batas tauhid yang dijaga.

Hakikat NIDA yang paling selamat adalah nidā’ul qalb, panggilan hati:

Ketika hati mulai jauh, ia dipanggil pulang.

Ketika lisan mulai lalai, ia dipanggil berdzikir.

Ketika jiwa mulai gelisah, ia dipanggil berserah.

Ketika manusia mulai sombong, ia dipanggil untuk sujud.

Ketika amal mulai bercampur riya, ia dipanggil kembali ikhlas.

Itulah NIDA yang bersih: bukan suara aneh yang dicari, bukan rahasia gaib yang dikejar, bukan pengaruh atas manusia yang diinginkan, tetapi kesadaran untuk kembali kepada Alloh.

Maka sampaikanlah jawaban ini dengan lembut:

“NIDA itu maknanya panggilan atau seruan. Bila dijadikan dzikir dan munajat kepada Alloh, maka tujuannya untuk membangunkan hati agar lebih ingat, lebih tenang, dan lebih taat. Tetapi bila diarahkan kepada kesaktian, pemanggilan gaib, atau pengaruh terhadap orang lain, maka itu harus diwaspadai. Ukuran amalan yang benar adalah tauhidnya bersih, gurunya jelas, bacaannya baik, dan akhlaknya semakin mulia.”

Semoga Alloh menjaga kita semua dari ilmu yang membuat sombong, dari amalan yang membuat lalai, dan dari jalan yang tampak bercahaya tetapi menjauhkan dari ridho-Nya.

Allohumma yā Hādī, yā Nūr, yā Salām.

Tuntun hati kami kepada jalan yang benar.

Bersihkan niat kami dari riya dan kesombongan.

Jadikan setiap dzikir sebagai cahaya, setiap ilmu sebagai adab, dan setiap amalan sebagai jalan pulang kepada-Mu.

Jangan Engkau biarkan kami bergantung kepada selain-Mu.

Tetapkan kami dalam iman, Islam, ihsan, dan akhlak yang Engkau ridhoi.

Aamiin yā Rabbal ‘ālamīn.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh