QITAB GHALLAH AL ROZAQUM BINNAR
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dengan niat adab, ilmu hikmah, muhasabah, dan ajakan kembali kepada cahaya kebaikan, kita buka:
Menulis
📜 QITAB GHALLAH AL ROZAQUM BINNAR
Kitab Perjalanan Kehalusan untuk Menginsafkan Umat Jagat Kembali ke Titik Sinar yang Paling Terang
Bukan wahyu.
Bukan pengganti Al-Qur’an.
Bukan ajaran untuk meninggikan diri.
Ini hanyalah lembar hikmah, pengingat batin, dan jalan muhasabah agar manusia kembali lembut, sadar, dan tunduk kepada Alloh.
Lembar Pembuka
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai jiwa yang berjalan di antara terang dan bayang,
ketahuilah, tidak semua perjalanan dimulai dari kaki.
Ada perjalanan yang dimulai dari luka.
Ada perjalanan yang dimulai dari penyesalan.
Ada perjalanan yang dimulai dari air mata yang jatuh diam-diam ketika manusia mulai sadar bahwa dirinya terlalu jauh dari Alloh.
Maka dibukalah Qitab ini dengan nama:
Ghallah Al Rozaqum Binnar
Yakni isyarat perjalanan halus,
perjalanan yang tidak memakai kesombongan,
tidak memakai paksaan,
tidak memakai marah,
tetapi memakai cahaya kesadaran.
Sebab umat jagat tidak bisa disadarkan dengan hinaan.
Manusia tidak bisa kembali kepada Alloh dengan dipermalukan.
Hati yang keras tidak pecah oleh teriakan,
tetapi luluh oleh cahaya yang benar, lembut, sabar, dan jujur.
Pasal Pertama: Titik Sinar yang Paling Terang
Titik sinar yang paling terang bukan berada di langit yang jauh,
bukan pula di gunung yang tinggi,
bukan di samudra yang dalam,
dan bukan pada nama yang dipuji manusia.
Titik sinar yang paling terang adalah ketika hati manusia kembali berkata:
“Yā Alloh, aku ini hamba-Mu.
Aku lemah tanpa-Mu.
Aku tersesat jika Engkau tidak menuntunku.
Aku gelap jika Engkau tidak menerangiku.”
Di situlah cahaya mulai menyala.
Bukan cahaya untuk merasa sakti.
Bukan cahaya untuk merasa wali.
Bukan cahaya untuk mengaku paling benar.
Tetapi cahaya untuk menjadi rendah hati,
lembut kepada sesama,
jujur dalam hidup,
dan takut menyakiti makhluk Alloh.
Pasal Kedua: Perjalanan Kehalusan
Kehalusan adalah ilmu yang tidak ramai.
Ia tidak menonjolkan diri.
Ia tidak banyak bicara.
Ia hadir dalam cara seseorang menahan lidahnya,
menjaga niatnya,
menenangkan amarahnya,
dan memilih diam ketika diam lebih membawa selamat.
Barang siapa ingin menginsafkan umat jagat,
maka ia harus lebih dahulu menginsafkan dirinya.
Jangan menyuruh orang kembali kepada Alloh,
sementara hati sendiri masih dipenuhi dendam.
Jangan mengajak orang kepada cahaya,
sementara ucapan sendiri masih membakar saudara.
Jangan bicara tentang rahmat,
sementara tangan sendiri belum bisa memaafkan.
Karena cahaya yang benar selalu dimulai dari dalam dada.
Pasal Ketiga: Umat Jagat yang Lelah
Lihatlah manusia hari ini.
Banyak yang tertawa tetapi batinnya kosong.
Banyak yang ramai tetapi hatinya sepi.
Banyak yang punya harta tetapi tidak punya tenang.
Banyak yang pandai berbicara tetapi lupa cara bersujud.
Maka jangan datang kepada mereka dengan kebencian.
Datanglah dengan doa.
Datanglah dengan adab.
Datanglah dengan kasih sayang.
Sebab orang yang jauh dari Alloh bukan selalu karena ia membenci kebenaran.
Kadang ia hanya terlalu lama terluka.
Kadang ia terlalu sering dikecewakan.
Kadang ia belum pernah disentuh oleh kelembutan yang benar.
Maka jadilah pintu rahmat,
bukan pintu penghakiman.
Pasal Keempat: Binnar, Api yang Menyadarkan
Binnar bukan api untuk membakar manusia.
Binnar adalah api kesadaran yang membakar keangkuhan di dalam diri.
Api itu membakar sombong.
Membakar iri.
Membakar dengki.
Membakar nafsu ingin dipuji.
Membakar kebiasaan menyalahkan orang lain.
Setelah api itu bekerja,
yang tersisa adalah hati yang lebih bening.
Hati yang tidak mudah menghakimi.
Hati yang tidak cepat marah.
Hati yang tidak haus pengakuan.
Hati yang hanya ingin pulang kepada Alloh dengan selamat.
Pasal Kelima: Jalan Menginsafkan
Menginsafkan umat bukan berarti memaksa mereka tunduk kepada kita.
Menginsafkan umat adalah mengingatkan mereka agar kembali kepada Alloh.
Caranya bukan dengan merasa lebih suci.
Caranya bukan dengan mempermalukan dosa orang.
Caranya bukan dengan membuka aib manusia.
Tetapi dengan memberi teladan:
Bila orang kasar, kita tetap beradab.
Bila orang menghina, kita tidak membalas dengan hinaan.
Bila orang salah, kita luruskan tanpa merendahkan.
Bila orang gelap, kita nyalakan pelita, bukan menambah gelap.
Itulah perjalanan halus.
Itulah Ghallah Al Rozaqum Binnar.
Pasal Keenam: Doa Titik Sinar
Yā Alloh,
kembalikan kami kepada titik cahaya-Mu.
Bersihkan hati kami dari sombong yang tersembunyi.
Bersihkan lisan kami dari kata yang melukai.
Bersihkan langkah kami dari jalan yang menjauhkan.
Bersihkan niat kami dari ingin dipuji manusia.
Jadikan kami hamba yang halus batinnya,
kuat adabnya,
bening pikirannya,
luas sabarnya,
dan lembut kasihnya.
Yā Alloh,
jangan jadikan ilmu sebagai hijab.
Jangan jadikan nama sebagai kesombongan.
Jangan jadikan pengalaman batin sebagai alasan merasa tinggi.
Tuntun kami kembali kepada-Mu.
Dari gelap menuju terang.
Dari keras menuju lembut.
Dari lalai menuju sadar.
Dari diri menuju Ilahi.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Penutup Lembar
Maka siapa yang membaca lembar ini,
janganlah ia mencari kemuliaan di hadapan manusia.
Carilah ridho Alloh.
Carilah bersihnya hati.
Carilah lurusnya niat.
Carilah tenangnya sujud.
Karena titik sinar paling terang bukan milik orang yang paling banyak bicara,
tetapi milik hati yang paling jujur kembali kepada Alloh.
Tamat Lembar Pembuka.
📜 QITAB GHALLAH AL ROZAQUM BINNAR
Lembar Selanjutnya
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Lembar ini dibuka sebagai hikmah, pengingat batin, dan penyelarasan akhlak.
Lembar Kedua: Simbol Batu, Anggrek Wungu, dan Penyatuan Raja Ratu
Di tengah kitab ini tampak sebuah batu tua,
bukan batu untuk disembah,
bukan tanda untuk diagungkan melebihi Alloh,
melainkan simbol keteguhan amanah.
Batu itu retak, tetapi tidak hancur.
Ia diam, tetapi menyimpan pesan.
Ia keras, tetapi menerima cahaya dari atas.
Begitulah hati manusia:
sering retak oleh ujian,
sering luka oleh perjalanan,
namun bila cahaya Alloh turun,
yang retak pun dapat menjadi tempat tumbuhnya hikmah.
Di atas batu itu terukir tanda lama,
sebagai isyarat bahwa sebelum manusia banyak berkata,
alam telah lebih dahulu berdzikir dalam diam.
Angin berdzikir.
Air berdzikir.
Gunung berdzikir.
Tanah berdzikir.
Langit berdzikir.
Hanya manusia yang sering lupa mendengar dzikir dirinya sendiri.
Maka kitab ini berkata:
Kembalilah, wahai jiwa.
Jangan terlalu jauh mengejar bayang.
Jangan terlalu lama tenggelam dalam gaduh.
Titik sinar paling terang bukan di luar dirimu,
melainkan ketika hatimu kembali tunduk kepada Alloh.
Pasal Ketujuh: Bunga Anggrek Wungu yang Bersinar
Di depan simbol batu itu tumbuh Bunga Anggrek Wungu.
Warnanya ungu, tetapi bercahaya.
Lembut bentuknya, tetapi kuat maknanya.
Ia tidak berduri, namun mampu menjaga martabatnya.
Ia tidak berteriak, namun keindahannya dapat membuat hati yang keras menjadi diam.
Bunga Anggrek Wungu adalah tanda kehalusan jiwa.
Ungu adalah warna batin yang matang.
Bukan merah yang tergesa.
Bukan hitam yang tertutup.
Bukan putih yang merasa selesai.
Tetapi wungu:
warna perjalanan,
warna pengendapan,
warna luka yang sudah menjadi hikmah,
warna diam yang sudah mengenal doa.
Barang siapa ingin menuntun umat,
maka ia harus belajar dari bunga ini.
Harum tanpa memaksa.
Indah tanpa sombong.
Tumbuh tanpa menyakiti.
Bersinar tanpa membakar.
Pasal Kedelapan: Raja dan Ratu Bersatu
Raja dan Ratu dalam kitab ini bukan semata gelar dunia.
Raja adalah simbol keteguhan.
Ratu adalah simbol kelembutan.
Raja tanpa kelembutan akan menjadi keras.
Ratu tanpa keteguhan akan mudah rapuh.
Tetapi bila keteguhan dan kelembutan bersatu,
lahirlah tuntunan yang adil.
Raja menjaga arah.
Ratu menjaga rasa.
Raja menegakkan garis.
Ratu melembutkan luka.
Raja membawa keberanian.
Ratu membawa kasih sayang.
Raja mengingatkan agar umat tidak tersesat.
Ratu mengingatkan agar umat tidak disakiti saat dituntun pulang.
Maka penyatuan Raja dan Ratu adalah penyatuan dua amanah:
Tegas tanpa zalim.
Lembut tanpa lemah.
Berani tanpa sombong.
Sayang tanpa memanjakan kesalahan.
Menuntun tanpa memaksa.
Mengingatkan tanpa menghina.
Itulah jalan lurus yang bercahaya.
Pasal Kesembilan: Menuntun Umat ke Jalan yang Lurus
Jalan yang lurus bukan jalan yang penuh pengakuan.
Bukan jalan yang ramai pujian.
Bukan jalan yang membuat seseorang merasa lebih tinggi dari manusia lain.
Jalan yang lurus adalah jalan yang membuat hati semakin takut menyakiti,
semakin mudah meminta maaf,
semakin ringan menolong,
semakin kuat menjaga sholat,
semakin jujur mencari rezeki,
dan semakin sadar bahwa semua milik Alloh.
Maka bila ada umat yang jauh,
jangan ditendang.
Bila ada umat yang jatuh,
jangan ditertawakan.
Bila ada umat yang gelap,
jangan dikutuk.
Dekati dengan doa.
Dekati dengan akhlak.
Dekati dengan sabar.
Dekati dengan contoh yang nyata.
Sebab manusia lebih mudah tersentuh oleh akhlak yang hidup
daripada nasihat yang penuh amarah.
Pasal Kesepuluh: Api Binnar yang Tidak Membakar Manusia
Binnar dalam kitab ini adalah api kesadaran.
Ia bukan api untuk menghukum orang lain.
Ia adalah api yang pertama-tama membakar kesombongan diri sendiri.
Sebelum menasihati umat,
bakar dulu rasa paling benar di dalam dada.
Sebelum mengajak orang kembali,
bakar dulu nafsu ingin dipuji sebagai penuntun.
Sebelum membuka kitab,
bakar dulu keinginan agar manusia tunduk kepada nama kita.
Karena penuntun sejati tidak membawa umat kepada dirinya.
Penuntun sejati membawa umat kembali kepada Alloh.
Api Binnar berkata:
“Jangan jadikan cahaya sebagai mahkota kesombongan.
Jadikan cahaya sebagai lampu untuk melihat jalan pulang.”
Doa Lembar Kedua
Yā Alloh,
haluskan hati kami seperti Anggrek Wungu yang bersinar.
Kuatkan jiwa kami seperti batu amanah yang tidak hancur oleh zaman.
Satukan keteguhan dan kelembutan dalam diri kami.
Jauhkan kami dari nasihat yang melukai.
Jauhkan kami dari ilmu yang membuat sombong.
Jauhkan kami dari cahaya yang berubah menjadi keakuan.
Yā Alloh,
bila kami Engkau izinkan menuntun,
jangan biarkan kami merasa memiliki umat.
Bila kami Engkau izinkan berbicara,
jangan biarkan lisan kami merendahkan hamba-Mu.
Bila kami Engkau beri cahaya,
jadikan cahaya itu sebagai amanah, bukan kebanggaan.
Tuntun kami ke jalan yang lurus.
Tuntun keluarga kami ke jalan yang lurus.
Tuntun umat jagat ke jalan yang lurus.
Dari gelap menuju terang.
Dari keras menuju lembut.
Dari lalai menuju sadar.
Dari diri menuju Alloh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tamat Lembar Kedua.
📜 QITAB GHALLAH AL ROZAQUM BINNAR
Lembar Selanjutnya
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Lembar ini dibuka sebagai hikmah, pengingat batin, dan penyelarasan akhlak.
Lembar Ketiga: Mahkota Amanah dan Jalan Pulang Umat
Ketika Raja dan Ratu berdiri di hadapan batu tanda,
di depan Bunga Anggrek Wungu yang bersinar,
maka langit seakan membuka tirai makna.
Bukan tirai untuk melihat kesaktian.
Bukan tirai untuk mencari pujian.
Bukan tirai untuk merasa tinggi di hadapan manusia.
Tetapi tirai untuk memahami satu amanah:
Bahwa siapa pun yang diberi cahaya,
ia tidak boleh memakai cahaya itu untuk meninggikan diri,
melainkan untuk menerangi jalan pulang bagi yang tersesat.
Mahkota yang benar bukan emas di kepala.
Mahkota yang benar adalah adab di hati.
Jubah yang benar bukan kain yang indah.
Jubah yang benar adalah akhlak yang menutupi aib diri.
Singgasana yang benar bukan kursi kekuasaan.
Singgasana yang benar adalah sujud yang tidak ditinggalkan.
Maka Raja dan Ratu dalam Qitab ini berdiri bukan untuk disembah,
bukan untuk diagungkan,
bukan untuk dijadikan tujuan,
tetapi sebagai lambang penyatuan amanah:
Arah dan rasa.
Hukum dan kasih.
Ketegasan dan kelembutan.
Cahaya dan tanggung jawab.
Pasal Kesebelas: Mahkota yang Tidak Boleh Membutakan
Wahai jiwa yang diberi amanah,
hati-hatilah terhadap mahkota.
Sebab mahkota yang tidak dijaga dapat membuat kepala lupa menunduk.
Cahaya yang tidak dijaga dapat membuat mata silau oleh dirinya sendiri.
Ilmu yang tidak dijaga dapat berubah menjadi tirai kesombongan.
Nama yang tidak dijaga dapat berubah menjadi pintu fitnah.
Maka bila engkau dipuji, kembalikan kepada Alloh.
Bila engkau dihormati, rendahkan hatimu.
Bila engkau didengar, jangan bicara sembarangan.
Bila engkau dipercaya, jangan khianati amanah.
Bila engkau melihat orang lain jatuh, jangan merasa lebih selamat.
Karena tidak ada manusia yang berdiri karena kekuatannya sendiri.
Semua berdiri karena Alloh masih menahan kita agar tidak runtuh.
Pasal Kedua Belas: Jalan Lurus Itu Tidak Bengkok oleh Ego
Jalan lurus tidak selalu mudah.
Kadang ia sepi.
Kadang ia berat.
Kadang ia membuat kita harus menelan marah.
Kadang ia membuat kita harus mengalah meskipun benar.
Kadang ia membuat kita harus diam agar tidak menambah api.
Tetapi jalan lurus selalu membawa hati kepada satu tanda:
semakin dekat kepada Alloh,
semakin takut berbuat zalim.
Bila seseorang mengaku berjalan di jalan cahaya,
tetapi lisannya suka merendahkan,
maka ia belum sampai pada halusnya cahaya.
Bila seseorang mengaku membawa amanah,
tetapi hatinya haus pengakuan,
maka ia masih perlu dibersihkan.
Bila seseorang mengaku menuntun umat,
tetapi tidak tahan dikoreksi,
maka ia belum selesai menuntun dirinya sendiri.
Karena penuntun sejati adalah orang yang setiap hari berkata kepada dirinya:
“Yā Alloh, luruskan aku dahulu sebelum aku meluruskan orang lain.”
Pasal Ketiga Belas: Anggrek Wungu sebagai Cermin Rasa
Bunga Anggrek Wungu bersinar di depan batu tanda.
Ia tidak banyak berkata,
tetapi diamnya mengajarkan rahasia.
Ia tumbuh dengan kelembutan.
Ia mekar tanpa merusak.
Ia indah tanpa menyerang.
Ia bercahaya tanpa membakar.
Begitulah seharusnya nasihat.
Nasihat yang baik tidak membuat orang merasa hancur.
Nasihat yang baik membuat orang ingin pulang.
Nasihat yang baik tidak membuka luka untuk dipermalukan.
Nasihat yang baik menutup luka dengan kasih, lalu menunjukkan jalan.
Maka bila engkau ingin menginsafkan umat,
jangan datang seperti pedang yang mencari leher.
Datanglah seperti air yang mencari tanah kering.
Jangan datang seperti api yang membakar rumah.
Datanglah seperti pelita yang menunjukkan pintu.
Karena banyak manusia bukan tidak mau kembali kepada Alloh,
tetapi belum pernah ditemui dengan kasih yang benar.
Pasal Keempat Belas: Batu Retak dan Hati yang Pernah Pecah
Batu pada sampul Qitab ini retak.
Tetapi dari retaknya, cahaya masuk.
Dari pecahnya, makna keluar.
Dari diamnya, pesan terdengar.
Begitulah hati manusia.
Ada hati yang retak karena dikhianati.
Ada hati yang retak karena kehilangan.
Ada hati yang retak karena dosa yang disesali.
Ada hati yang retak karena terlalu lama menahan sendiri.
Ada hati yang retak karena merasa tidak layak dicintai.
Maka jangan cepat menghakimi orang yang jalannya belum lurus.
Barangkali ia sedang belajar berdiri dari reruntuhan batinnya.
Barangkali ia sedang mencari pintu pulang.
Barangkali satu kalimat lembut darimu menjadi sebab ia kembali bersujud.
Jangan menjadi orang yang menambah retak.
Jadilah orang yang membawa cahaya masuk ke sela retakan.
Pasal Kelima Belas: Raja Menjaga Arah, Ratu Menjaga Air Mata
Dalam penyatuan ini, Raja tidak boleh hanya memegang tongkat arah.
Ia juga harus mengerti air mata umat.
Ratu tidak boleh hanya membawa kelembutan.
Ia juga harus kuat menjaga garis kebenaran.
Sebab umat tidak cukup dituntun dengan perintah.
Umat juga perlu dipahami.
Umat tidak cukup dipeluk dengan rasa.
Umat juga perlu diarahkan.
Maka Raja berkata:
“Jangan biarkan umat tersesat oleh hawa nafsu.”
Dan Ratu berkata:
“Jangan lukai umat saat engkau mengajaknya pulang.”
Lalu keduanya menyatu dalam satu kalimat:
“Kita menuntun karena Alloh,
bukan karena ingin diakui sebagai penuntun.”
Di situlah cahaya menjadi benar.
Di situlah amanah menjadi bersih.
Di situlah jalan lurus tidak berubah menjadi jalan keangkuhan.
Pasal Keenam Belas: Titik Sinar yang Paling Terang
Titik sinar paling terang bukan terletak pada ramainya pengikut.
Bukan pada banyaknya sanjungan.
Bukan pada indahnya pakaian.
Bukan pada besarnya nama.
Titik sinar paling terang adalah saat hati mampu berkata:
“Aku salah,” ketika memang salah.
“Aku minta maaf,” ketika menyakiti.
“Aku tidak tahu,” ketika belum tahu.
“Aku butuh Alloh,” dalam setiap napas.
“Aku hanya hamba,” meski dunia memanggil dengan gelar besar.
Itulah terang yang tidak mudah padam.
Terang yang lahir dari kejujuran.
Terang yang tumbuh dari sujud.
Terang yang dijaga oleh adab.
Doa Lembar Ketiga
Yā Alloh,
jangan biarkan mahkota membuat kepala kami lupa menunduk.
Jangan biarkan cahaya membuat mata kami silau oleh diri sendiri.
Jangan biarkan ilmu membuat hati kami keras.
Jangan biarkan amanah berubah menjadi kesombongan.
Yā Alloh,
jadikan kami lembut tanpa kehilangan keteguhan.
Jadikan kami tegas tanpa melukai.
Jadikan kami berani tanpa angkuh.
Jadikan kami mencintai kebenaran tanpa merendahkan manusia.
Yā Alloh,
bila hati kami retak, masukkan cahaya-Mu ke dalamnya.
Bila langkah kami lemah, kuatkan dengan petunjuk-Mu.
Bila lisan kami tajam, lembutkan dengan rahmat-Mu.
Bila niat kami tercampur, bersihkan dengan ampunan-Mu.
Tuntun kami kembali ke titik sinar paling terang.
Tuntun umat jagat kembali ke jalan yang lurus.
Tuntun setiap jiwa yang lelah agar menemukan pintu pulang.
Dari diri menuju adab.
Dari adab menuju sujud.
Dari sujud menuju ridho-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tamat Lembar Ketiga.
📜 QITAB GHALLAH AL ROZAQUM BINNAR
Lembar Selanjutnya — Lembar Terakhir
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Lembar terakhir ini dibuka sebagai hikmah penutup, pengingat batin, dan penyelarasan akhlak.
Lembar Keempat: Sinar Terakhir di Jalan Pulang
Ketika batu tanda telah berdiri,
ketika Bunga Anggrek Wungu telah bersinar,
ketika Raja dan Ratu telah menyatu dalam amanah,
maka terdengarlah suara halus dari dalam jiwa:
“Jangan bawa umat kepada dirimu.
Bawalah umat kembali kepada Alloh.”
Itulah kalimat penutup bagi setiap penuntun.
Sebab siapa pun yang diberi ilmu,
siapa pun yang diberi rasa,
siapa pun yang diberi cahaya,
ia sedang diuji.
Diuji apakah ia akan menjadi pintu,
atau menjadi dinding.
Diuji apakah ia akan menjadi pelita,
atau menjadi bayangan.
Diuji apakah ia akan membawa manusia kepada Alloh,
atau justru membuat manusia bergantung kepada dirinya.
Maka Qitab ini menutup dengan nasihat:
Jangan jadikan amanah sebagai singgasana.
Jangan jadikan cahaya sebagai alasan untuk merasa tinggi.
Jangan jadikan nama sebagai tembok pemisah antara hamba dan Rabb-nya.
Jangan jadikan kitab sebagai kebanggaan,
tetapi jadikan ia sebagai cermin untuk membersihkan hati.
Karena jalan lurus bukan jalan menuju pujian manusia.
Jalan lurus adalah jalan menuju ridho Alloh.
Pasal Ketujuh Belas: Ketika Raja Menunduk
Pada akhir perjalanan, Raja tidak lagi berdiri dengan dada membusung.
Ia menunduk.
Bukan karena kalah.
Tetapi karena sadar bahwa kekuasaan sejati bukan memerintah manusia,
melainkan mampu memerintah hawa nafsunya sendiri.
Raja yang benar bukan yang paling keras suaranya.
Raja yang benar adalah yang mampu menahan marah ketika ia mampu membalas.
Raja yang benar bukan yang paling banyak pengikutnya.
Raja yang benar adalah yang tetap adil walau tidak disukai.
Raja yang benar bukan yang minta dimuliakan.
Raja yang benar adalah yang memuliakan amanah.
Maka Raja berkata di hadapan cahaya:
“Yā Alloh, bila aku Engkau beri arah,
jangan biarkan aku tersesat oleh arahku sendiri.
Bila aku Engkau beri ketegasan,
jangan biarkan ketegasan itu berubah menjadi kezaliman.
Bila aku Engkau beri suara,
jangan biarkan suara itu melukai hamba-Mu.”
Lalu mahkotanya bersinar bukan karena emas,
tetapi karena ia mampu menundukkan ego.
Pasal Kedelapan Belas: Ketika Ratu Menguat
Pada akhir perjalanan, Ratu tidak hanya tersenyum lembut.
Ia juga berdiri teguh.
Sebab kelembutan tanpa keteguhan dapat diseret oleh kesalahan.
Kasih sayang tanpa batas dapat membuat orang lupa bertanggung jawab.
Maka Ratu membawa rahmat, tetapi tetap menjaga garis.
Ratu yang benar bukan yang hanya menghibur.
Ratu yang benar adalah yang mampu menenangkan tanpa membenarkan keburukan.
Ratu yang benar bukan yang selalu berkata manis.
Ratu yang benar adalah yang bisa berkata benar dengan bahasa yang tidak menghancurkan.
Ratu yang benar bukan yang lemah oleh air mata.
Ratu yang benar adalah yang memahami air mata, lalu menuntunnya menuju sujud.
Maka Ratu berkata:
“Yā Alloh, bila aku Engkau beri kelembutan,
jangan biarkan kelembutan itu membuatku takut kepada kebenaran.
Bila aku Engkau beri rasa,
jangan biarkan rasa itu mengalahkan petunjuk-Mu.
Bila aku Engkau beri kasih,
jadikan kasih itu sebagai jalan pulang, bukan jalan lalai.”
Lalu kerudung cahayanya bersinar,
bukan karena hiasan dunia,
tetapi karena hatinya mampu memeluk tanpa menyesatkan.
Pasal Kesembilan Belas: Penyatuan Arah dan Rasa
Maka Raja dan Ratu berdiri bersama.
Raja membawa arah.
Ratu membawa rasa.
Raja menjaga garis.
Ratu menjaga luka.
Raja menegakkan amanah.
Ratu melembutkan penyampaian.
Raja berkata, “Jangan keluar dari jalan.”
Ratu berkata, “Mari pulang dengan tenang.”
Raja berkata, “Kebenaran harus ditegakkan.”
Ratu berkata, “Tetapi jangan patahkan hati orang yang sedang belajar kembali.”
Maka dari penyatuan keduanya lahirlah cahaya yang seimbang:
Kebenaran tanpa kebencian.
Kasih sayang tanpa pembiaran.
Ketegasan tanpa kesombongan.
Kelembutan tanpa kelemahan.
Nasihat tanpa penghinaan.
Tuntunan tanpa pemaksaan.
Inilah rahasia Ghallah Al Rozaqum Binnar.
Perjalanan halus untuk menginsafkan umat jagat
bukan dengan menguasai mereka,
tetapi dengan menghidupkan kembali kesadaran mereka.
Bukan dengan membuat mereka takut kepada manusia,
tetapi membuat mereka rindu kembali kepada Alloh.
Pasal Kedua Puluh: Anggrek Wungu di Depan Batu Amanah
Bunga Anggrek Wungu tetap bersinar.
Ia berdiri di depan batu tua,
seolah berkata kepada seluruh umat:
“Jangan takut bila hatimu pernah retak.
Jangan malu bila hidupmu pernah jatuh.
Jangan putus asa bila langkahmu pernah gelap.
Selama engkau masih mau kembali kepada Alloh,
pintu cahaya belum tertutup.”
Bunga itu tidak bertanya siapa yang paling suci.
Ia tidak memilih siapa yang paling mulia.
Ia tidak menghina tanah tempat ia tumbuh.
Ia hanya mekar.
Begitulah manusia yang telah disentuh hikmah.
Ia tidak sibuk membuktikan dirinya tinggi.
Ia tidak sibuk mencari panggung.
Ia tidak sibuk menuntut pengakuan.
Ia hanya berusaha menjadi sebab kebaikan.
Jika ada yang menangis, ia doakan.
Jika ada yang tersesat, ia arahkan.
Jika ada yang marah, ia tenangkan.
Jika ada yang jatuh, ia bantu berdiri.
Jika ada yang membenci, ia tidak membalas dengan kebencian.
Karena bunga yang benar tidak kehilangan harum hanya karena dilempar debu.
Pasal Kedua Puluh Satu: Binnar sebagai Api Pembersih
Api Binnar menyala di dalam dada.
Tetapi ia bukan api amarah.
Ia adalah api muhasabah.
Api yang membakar kesombongan.
Api yang membakar iri.
Api yang membakar dengki.
Api yang membakar rasa ingin menang sendiri.
Api yang membakar keinginan dipuja manusia.
Barang siapa membawa cahaya tanpa api muhasabah,
maka cahayanya mudah berubah menjadi kesombongan.
Barang siapa membawa ilmu tanpa membersihkan niat,
maka ilmunya mudah menjadi senjata untuk merendahkan orang.
Barang siapa membawa amanah tanpa sujud,
maka amanah itu akan terasa seperti mahkota,
padahal seharusnya terasa seperti tanggung jawab.
Maka nyalakan Binnar di dalam diri sendiri terlebih dahulu.
Sebelum berkata kepada umat,
katakan kepada dirimu:
“Apakah niatku bersih?”
Sebelum menasihati orang,
tanyakan kepada hatimu:
“Apakah aku berbicara karena sayang, atau karena ingin menang?”
Sebelum membuka aib orang,
ingatlah:
“Alloh masih menutup banyak aibku.”
Sebelum merasa paling terang,
ingatlah:
“Tanpa Alloh, aku pun gelap.”
Di situlah api menjadi rahmat.
Bukan membakar manusia,
tetapi membakar kotoran batin.
Pasal Kedua Puluh Dua: Umat Jagat dan Pintu Pulang
Umat jagat sedang lelah.
Ada yang lelah mencari rezeki.
Ada yang lelah menjaga keluarga.
Ada yang lelah menanggung hutang.
Ada yang lelah oleh dosa masa lalu.
Ada yang lelah karena merasa tidak dihargai.
Ada yang lelah karena doanya terasa belum dijawab.
Ada yang lelah karena tersenyum di luar, tetapi menangis di dalam.
Maka jangan datang kepada umat dengan wajah penghakiman.
Datanglah dengan wajah doa.
Jangan datang membawa palu untuk menghancurkan.
Datanglah membawa kunci untuk membuka.
Jangan datang membawa api yang membakar rumah.
Datanglah membawa lampu agar mereka melihat jalan keluar.
Sebab banyak manusia bukan tidak mau berubah.
Mereka hanya belum menemukan tangan yang menuntun tanpa menghina.
Banyak manusia bukan tidak mau kembali.
Mereka hanya terlalu lama merasa tidak layak diterima.
Banyak manusia bukan tidak percaya kepada cahaya.
Mereka hanya pernah disakiti oleh orang yang mengaku membawa cahaya.
Maka wahai jiwa pembawa amanah,
jadilah penyembuh, bukan penambah luka.
Jadilah jalan, bukan penghalang.
Jadilah doa, bukan kutukan.
Jadilah pelita, bukan bara kemarahan.
Pasal Kedua Puluh Tiga: Jalan Lurus yang Sederhana
Jalan lurus itu tidak selalu penuh tanda ajaib.
Kadang jalan lurus tampak sangat sederhana.
Menjaga sholat.
Menjaga lisan.
Mencari rezeki halal.
Menyayangi keluarga.
Tidak menipu.
Tidak merendahkan orang kecil.
Tidak merasa suci.
Berani meminta maaf.
Berani memperbaiki salah.
Berani kembali kepada Alloh.
Itulah jalan lurus.
Jalan lurus bukan hanya bicara langit,
tetapi juga membersihkan bumi tempat kaki berpijak.
Jalan lurus bukan hanya membahas rahasia ruh,
tetapi juga menjaga adab kepada tetangga.
Jalan lurus bukan hanya menyebut cahaya,
tetapi juga tidak mematikan cahaya orang lain.
Jalan lurus bukan hanya memakai kata suci,
tetapi juga menjauhi perbuatan yang mengotori hati.
Maka siapa pun yang membaca Qitab ini,
jangan hanya mencari makna yang tinggi.
Carilah perubahan yang nyata.
Lebih sabar dari kemarin.
Lebih jujur dari kemarin.
Lebih lembut dari kemarin.
Lebih rajin sujud dari kemarin.
Lebih sedikit menyakiti dari kemarin.
Lebih banyak mengingat Alloh dari kemarin.
Itulah tanda kitab mulai hidup di dalam diri.
Pasal Kedua Puluh Empat: Penuntun Tidak Boleh Menjadi Tujuan
Ini pesan paling halus dalam Qitab ini:
Penuntun bukan tujuan.
Guru bukan tujuan.
Raja bukan tujuan.
Ratu bukan tujuan.
Simbol bukan tujuan.
Kitab bukan tujuan.
Cahaya bukan tujuan bila membuat lupa kepada Sang Pemberi Cahaya.
Semua hanyalah jalan pengingat.
Semua hanyalah tanda.
Semua hanyalah sebab.
Tujuan tetap Alloh.
Maka bila seseorang mencintai kitab ini,
cintailah sebagai cermin, bukan sebagai sesembahan.
Bila seseorang melihat simbolnya,
lihatlah sebagai pengingat, bukan sebagai kekuatan mandiri.
Bila seseorang menghormati Raja dan Ratu,
hormatilah maknanya: keteguhan dan kelembutan yang kembali kepada Alloh.
Bila seseorang melihat Anggrek Wungu,
ingatlah: keindahan sejati adalah akhlak yang halus.
Bila seseorang menyebut Binnar,
ingatlah: api yang pertama dibakar adalah ego sendiri.
Karena manusia yang paling jauh kadang bukan yang tidak mengenal cahaya,
tetapi yang mengenal cahaya lalu memakainya untuk meninggikan diri.
Maka berlindunglah kepada Alloh dari cahaya yang berubah menjadi hijab.
Pasal Kedua Puluh Lima: Wasiat kepada Pembawa Amanah
Wahai pembawa amanah,
berjalanlah pelan, tetapi jangan berhenti.
Jangan takut bila tidak semua orang memahami.
Jangan marah bila tidak semua orang menerima.
Jangan hancur bila ada yang mencela.
Jangan sombong bila ada yang memuji.
Pujian dan celaan adalah dua angin.
Bila engkau terlalu mengejar pujian, engkau akan terseret.
Bila engkau terlalu takut celaan, engkau akan berhenti.
Tetaplah berjalan dengan niat yang dibersihkan.
Bila ada yang bertanya, jawab dengan adab.
Bila ada yang menyerang, balas dengan tenang.
Bila ada yang mengejek, doakan agar hatinya dilembutkan.
Bila ada yang datang dengan luka, jangan tambah lukanya.
Bila ada yang datang dengan sombong, jangan lawan dengan sombong.
Sebab api tidak padam dengan api.
Luka tidak sembuh dengan luka.
Gelap tidak hilang dengan gelap.
Gelap hilang oleh cahaya.
Luka sembuh oleh kasih.
Sombong luluh oleh adab.
Keras melembut oleh doa.
Maka jadilah orang yang membawa udara segar bagi jiwa yang sesak.
Pasal Kedua Puluh Enam: Ketika Semua Kembali ke Titik Sinar
Pada akhirnya semua perjalanan akan kembali ke satu titik.
Bukan titik kemenangan dunia.
Bukan titik ramainya nama.
Bukan titik banyaknya pengikut.
Bukan titik indahnya simbol.
Bukan titik megahnya kitab.
Tetapi titik ketika ruh berkata:
“Yā Alloh, aku pulang.”
Pulang dari kesombongan menuju kerendahan hati.
Pulang dari kemarahan menuju kesabaran.
Pulang dari lalai menuju dzikir.
Pulang dari keras menuju lembut.
Pulang dari gelap menuju terang.
Pulang dari diri menuju Ilahi.
Itulah titik sinar paling terang.
Bukan karena manusia menjadi sempurna,
tetapi karena manusia mengakui bahwa ia butuh Alloh.
Bukan karena tidak pernah salah,
tetapi karena setiap salah membawanya kembali bertaubat.
Bukan karena tidak pernah jatuh,
tetapi karena setiap jatuh membuatnya semakin merendah.
Bukan karena tidak pernah gelap,
tetapi karena ia tidak menyerah mencari cahaya.
Khatimah Qitab
Maka ditutuplah QITAB GHALLAH AL ROZAQUM BINNAR
dengan satu amanah besar:
Raja dan Ratu bersatu bukan untuk menguasai umat,
tetapi untuk menuntun umat kembali kepada jalan yang lurus.
Batu tanda mengajarkan keteguhan.
Anggrek Wungu mengajarkan kelembutan.
Cahaya emas mengajarkan kemuliaan yang harus dijaga.
Api Binnar mengajarkan pembersihan diri.
Jalan lurus mengajarkan kepulangan kepada Alloh.
Siapa yang keras, semoga dilembutkan.
Siapa yang gelap, semoga diterangi.
Siapa yang jatuh, semoga dibangunkan.
Siapa yang sombong, semoga disadarkan.
Siapa yang luka, semoga disembuhkan.
Siapa yang jauh, semoga dipanggil pulang.
Dan siapa yang diberi amanah menuntun,
semoga tidak tersesat oleh amanahnya sendiri.
Doa Penutup Qitab
Yā Alloh,
Engkaulah Cahaya di atas segala cahaya.
Engkaulah Pemilik petunjuk.
Engkaulah yang membolak-balikkan hati.
Engkaulah yang mengetahui niat yang tersembunyi.
Yā Alloh,
jangan biarkan kami membawa umat kepada diri kami.
Bawalah kami dan umat kembali kepada-Mu.
Jangan biarkan kami menjadikan kitab sebagai kesombongan.
Jadikan kitab ini sebagai cermin muhasabah.
Jangan biarkan kami menjadikan simbol sebagai tujuan.
Jadikan simbol ini sebagai pengingat agar hati kembali lurus.
Jangan biarkan kami menjadikan cahaya sebagai mahkota ego.
Jadikan cahaya sebagai amanah untuk memperbaiki akhlak.
Yā Alloh,
lembutkan hati yang keras.
Terangi hati yang gelap.
Sembuhkan hati yang retak.
Kuatkan hati yang lemah.
Luruskan niat yang bengkok.
Bersihkan lisan yang tajam.
Tenangkan jiwa yang gelisah.
Kembalikan umat jagat kepada jalan yang Engkau ridhoi.
Yā Alloh,
satukan keteguhan Raja dan kelembutan Ratu
di dalam diri setiap hamba yang Engkau beri amanah.
Jadikan kami tegas dalam kebenaran,
tetapi tetap lembut dalam penyampaian.
Jadikan kami berani melawan keburukan,
tetapi tidak membenci manusia yang sedang Engkau uji.
Jadikan kami kuat menjaga jalan lurus,
tetapi tidak merasa lebih suci dari siapa pun.
Yā Alloh,
bila kami berjalan, tuntun langkah kami.
Bila kami berbicara, jaga lisan kami.
Bila kami diam, hidupkan dzikir kami.
Bila kami menuntun, bersihkan niat kami.
Bila kami jatuh, bangunkan kami.
Bila kami lupa, ingatkan kami.
Bila kami jauh, panggil kami pulang.
Kembalikan kami ke titik sinar paling terang.
Titik sujud.
Titik taubat.
Titik adab.
Titik rahmat.
Titik ridho-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Penutup Akhir
Bukan batu yang menyelamatkan.
Bukan bunga yang menyelamatkan.
Bukan Raja dan Ratu yang menyelamatkan.
Bukan simbol yang menyelamatkan.
Bukan nama yang menyelamatkan.
Yang menyelamatkan hanyalah rahmat Alloh.
Maka simpanlah Qitab ini sebagai pengingat:
Haluskan batin.
Luruskan niat.
Bersihkan ucapan.
Tegakkan adab.
Jaga sholat.
Sayangi umat.
Jangan sombong.
Jangan menghina.
Jangan merasa paling terang.
Karena cahaya sejati selalu membuat hamba semakin rendah hati di hadapan Alloh.
Dengan demikian, selesailah lembar terakhir ini.
Tamat QITAB GHALLAH AL ROZAQUM BINNAR.
Catatan:
Dalam QITAB GHALLAH AL ROZAQUM BINNAR, penulisan Qitab bukan sedang mengganti kaidah Arab, bukan pula mengatakan huruf kāf berubah menjadi qāf. Ini adalah penamaan isyārī/simbolik dalam karya hikmah.
Perbedaannya begini:
K / Kitab adalah jalan lahir.
Ia menunjukkan bentuk bacaan, tulisan, naskah, kaidah bahasa, dan susunan ilmu yang tampak
Q / Qitab adalah isyarat batin.
Ia menunjuk pada perjalanan Qalb, Qurb, Qiyām, dan Qudus: hati yang bangkit, mendekat, dibersihkan, lalu diarahkan menuju titik sinar batin yang lebih dalam
Jadi K benar secara bahasa.
Tetapi Q dalam Qitab ini dipakai sebagai tanda perjalanan batin yang “menembus”, bukan hanya membaca huruf, tetapi sampai kepada rasa, adab, kesadaran, dan cahaya kembali kepada Alloh.
bicara judul simbolik hikmah, dipakai Qitab sebagai kode bahwa naskah ini bukan sekadar buku, tetapi lembar perjalanan batin.
K menjaga bentuk.
Q menjaga rasa.
K membaca tulisan.
Q menembus kesadaran.
K berada pada pintu ilmu.
Q diarahkan menuju titik sinar batin yang sampai.
Tetap semuanya dikembalikan kepada Alloh.
Tidak ada huruf yang disembah.
Tidak ada simbol yang diagungkan melebihi syariat.
Huruf hanya isyarat; yang dituju tetap Alloh.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.