QITAB HKAQZAH
QITAB HKAQZAH
Akad Ningqah Sang Maha Agung, Sumber Qeagungan
Lembar Pertama: Akad yang Tidak Berpangkal pada Nafsu dan Tidak Berujung pada Perpisahan
بِسْمِ ٱللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menggenggam awal sebelum segala sesuatu mengenal permulaan, Yang mengetahui akhir ketika segala makhluk belum mengenal kepulangan, Yang menghamparkan kehidupan sebagai jalan pengenalan, yang menanamkan kasih sebagai amanah, yang menyatukan dua hati bukan agar keduanya saling memiliki secara mutlak, melainkan agar keduanya belajar menyerahkan diri kepada kebenaran, menjaga kehormatan, memikul tanggung jawab, dan kembali kepada sumber segala qeagungan.
HKAQZAH adalah bunyi yang berdiri di ambang kata, sebuah tanda yang tidak dimaksudkan untuk disembah, tidak pula untuk diperlakukan sebagai nama gaib yang mempunyai kekuatan dengan sendirinya. Ia hanyalah lambang bagi hati yang sedang diketuk agar bangun dari kelalaiannya: H sebagai hembusan hidup yang diterima tanpa diminta, K sebagai ketetapan amanah yang tidak boleh dipermainkan, A sebagai asal segala cinta yang suci, Q sebagai qalbu yang harus dijernihkan, Z sebagai zaman yang terus berjalan, A sebagai akad yang disaksikan langit dan bumi, dan H sebagai hening tempat manusia menyadari bahwa segala kemuliaan hanyalah milik Alloh.
Maka disebutlah ia Akad Ningqah Sang Maha Agung, Sumber Qeagungan, bukan karena manusia dapat mengadakan akad dengan Dzat Alloh sebagaimana manusia berakad dengan sesamanya, dan bukan pula karena manusia dapat menyatu dengan keagungan-Nya, melainkan karena setiap akad yang benar harus diletakkan di bawah pengawasan-Nya, dibersihkan dengan takut kepada-Nya, dipelihara dengan rahmat-Nya, dan diarahkan menuju ridho-Nya.
Akad itu tidak dimulai ketika dua tangan berjabat.
Akad itu bermula jauh sebelum lisan mengucapkan janji, ketika seorang manusia pertama kali belajar bahwa cinta bukanlah hak untuk menguasai, melainkan kesediaan untuk menjaga. Ia bermula ketika seorang lelaki belajar menundukkan pandangannya, ketika seorang perempuan belajar menjaga kehormatannya, ketika keduanya memohon kepada Alloh agar tidak dipertemukan hanya oleh gelora sesaat, melainkan oleh kesiapan memikul amanah yang panjang.
Sebab banyak manusia mengira bahwa akad adalah pintu untuk memperoleh kebahagiaan, padahal akad adalah pintu untuk memasuki pengabdian. Banyak manusia mengira bahwa pasangan hadir untuk memenuhi segala kekurangan, padahal tidak ada manusia yang sanggup menjadi sumber kesempurnaan bagi manusia lainnya. Pasangan hanyalah teman perjalanan, cermin yang terkadang memperlihatkan keindahan dan terkadang memperlihatkan bagian diri yang masih harus dibenahi.
Maka janganlah engkau berkata, “Aku menikah agar ia menjadi milikku.”
Katakanlah, “Aku menerima amanah untuk menjaganya selama Alloh mengizinkan.”
Jangan berkata, “Ia wajib membuatku bahagia.”
Katakanlah, “Kami akan saling menolong untuk menemukan jalan yang diridhoi Alloh, baik ketika bahagia mendatangi rumah kami maupun ketika kesulitan mengetuk pintunya.”
Jangan berkata, “Aku mencintainya karena ia selalu menyenangkan hatiku.”
Katakanlah, “Aku belajar mencintainya dengan adab, bahkan ketika perbedaan menuntut kami untuk bersabar, berbicara jujur, menahan amarah, dan saling memaafkan.”
Akad yang agung tidak menjadikan dua manusia kehilangan dirinya. Akad yang agung tidak menghapus kehormatan salah satunya agar yang lain berdiri lebih tinggi. Akad yang agung menempatkan keduanya sebagai hamba Alloh yang sama-sama terbatas, sama-sama bisa lemah, sama-sama bisa keliru, dan sama-sama membutuhkan bimbingan.
Lelaki tidak menjadi mulia karena suaranya paling keras, tetapi karena ia mampu menjaga ketika memiliki kekuatan, mampu lembut tanpa kehilangan ketegasan, mampu bertanggung jawab tanpa memperbudak, mampu meminta maaf tanpa merasa kehormatannya jatuh, dan mampu memimpin dirinya sebelum meminta orang lain mengikutinya.
Perempuan tidak menjadi mulia karena ia selalu diam terhadap segala perlakuan, tetapi karena ia menjaga kehormatan, menyampaikan kebenaran dengan adab, memelihara amanah, menguatkan kebaikan, dan tidak membiarkan dirinya dizalimi atas nama kesetiaan yang disalahpahami.
Di dalam akad, tidak ada kemuliaan bagi kekerasan.
Tidak ada kesucian dalam penghinaan.
Tidak ada keberkahan dalam manipulasi.
Tidak ada qeagungan dalam janji yang digunakan untuk menutup dusta.
Tidak ada cahaya dalam rumah yang membungkam tangisan korban lalu menyebutnya kesabaran.
Kesabaran bukanlah membiarkan kezaliman tumbuh. Kesabaran adalah keteguhan untuk memilih jalan yang benar, mencari pertolongan ketika dibutuhkan, menghentikan bahaya, menjaga jiwa, dan tetap tidak melampaui batas ketika menghadapi kesalahan.
Maka akad itu harus memiliki empat tiang.
Tiang pertama adalah niat yang dibersihkan. Barang siapa memasuki akad hanya karena ingin dipandang sempurna oleh manusia, ia akan mudah kecewa ketika kehidupan tidak menyerupai gambaran yang dipamerkannya. Barang siapa memasuki akad hanya karena takut kesepian, ia mungkin menuntut pasangannya mengisi ruang yang seharusnya ia isi dengan kedekatan kepada Alloh, kedewasaan, persahabatan yang sehat, dan pengenalan terhadap dirinya sendiri.
Tiang kedua adalah kejujuran yang dipelihara. Jangan menyembunyikan perkara besar yang berpengaruh terhadap kehidupan bersama. Jangan menjadikan cinta sebagai alasan untuk menunda kebenaran. Sebab kebohongan yang dibiarkan pada awal perjalanan akan berubah menjadi jurang pada pertengahan jalan.
Tiang ketiga adalah tanggung jawab yang nyata. Cinta tidak cukup diucapkan ketika nafkah diabaikan, kesehatan tidak dijaga, anak tidak dididik, keluarga tidak dihormati, waktu tidak diberikan, dan janji terus dipatahkan. Cinta yang tidak turun menjadi tindakan hanyalah bayangan yang bergerak mengikuti cahaya, tetapi tidak sanggup menghangatkan rumah.
Tiang keempat adalah rahmat ketika menghadapi kelemahan. Tidak seorang pun memasuki rumah tangga tanpa membawa sejarah. Ada yang membawa luka masa kecil, ada yang membawa ketakutan ditinggalkan, ada yang membawa kebiasaan keluarga, ada yang membawa rasa tidak berharga, ada yang membawa cara berbicara yang keras karena sejak kecil tidak pernah mengenal kelembutan. Semua itu tidak boleh dijadikan pembenaran untuk menyakiti, tetapi harus dikenali agar dapat disembuhkan.
Akad yang agung berkata kepada dua jiwa:
“Jangan jadikan luka masa lalumu sebagai senjata untuk melukai orang yang berjalan bersamamu.”
“Jangan jadikan kasih pasanganmu sebagai tempat bersembunyi dari kewajiban untuk memperbaiki diri.”
“Jangan tuntut ia menebak isi hatimu. Belajarlah berbicara.”
“Jangan menghukum dengan diam yang panjang. Belajarlah mengambil jarak secara sehat, lalu kembali membawa penjelasan.”
“Jangan membuka aib pasanganmu kepada orang yang tidak mampu memberi jalan keluar.”
“Jangan menutup kezaliman hanya karena takut kepada penilaian manusia.”
Di dalam lembar HKAQZAH, terdapat sebuah ruang yang disebut Ruang Qeagungan yang Sunyi. Ia bukan tempat yang dapat dicari di gunung, gua, laut, atau istana. Ia adalah ruang di dalam kesadaran ketika dua manusia berhenti saling menyalahkan dan mulai bertanya:
“Apa yang sedang Alloh ajarkan kepada kami melalui keadaan ini?”
Bukan berarti setiap kesulitan harus dipaksakan bertahan tanpa batas. Bukan berarti setiap perpisahan merupakan kegagalan iman. Terkadang pelajaran berada dalam mempertahankan dengan sabar, terkadang pelajaran berada dalam memperbaiki dengan bantuan, dan terkadang pelajaran berada dalam melepaskan dengan adab setelah berbagai jalan yang benar ditempuh.
Yang menjadi ukuran bukan sekadar tetap bersama atau berpisah.
Yang menjadi ukuran adalah apakah manusia tetap menjaga kejujuran, keadilan, keselamatan, kehormatan, dan batas-batas Alloh.
Akad yang panjang bukan akad yang tidak pernah mengalami retak. Akad yang panjang adalah akad yang ketika retak tidak segera dihancurkan oleh kesombongan. Kedua pihak memeriksa sebab, mengakui bagian kesalahan, meminta bantuan orang yang adil, dan membangun kembali kepercayaan dengan tindakan nyata.
Kepercayaan tidak pulih hanya dengan kata, “Maafkan aku.”
Kepercayaan pulih ketika kesalahan dihentikan.
Ketika akses menuju kesalahan ditutup.
Ketika kebiasaan buruk diperbaiki.
Ketika keterbukaan dijaga.
Ketika waktu membuktikan bahwa penyesalan bukan sekadar ketakutan kehilangan, tetapi kesungguhan untuk berubah.
Maka jangan buru-buru meminta seseorang melupakan lukanya. Luka mempunyai waktu untuk menutup. Yang terluka tidak boleh terus-menerus menyiksa dengan masa lalu, tetapi yang melukai juga tidak boleh menentukan sendiri kapan korban harus sembuh.
Sumber qeagungan bukanlah rumah yang tidak pernah menangis.
Sumber qeagungan adalah rumah yang tahu ke mana membawa tangisan.
Tangisan dibawa kepada Alloh dalam doa.
Kemarahan dibawa kepada percakapan yang jujur.
Kebingungan dibawa kepada ilmu.
Perselisihan dibawa kepada penengah yang amanah.
Kekurangan dibawa kepada ikhtiar.
Kebahagiaan dibawa kepada syukur.
Kelebihan rezeki dibawa kepada sedekah.
Anak-anak dibawa kepada keteladanan.
Dan seluruh perjalanan dibawa menuju penghambaan.
Ketika seorang suami pulang dengan letih, ia tidak hanya membawa tubuh yang membutuhkan istirahat. Ia membawa perjuangan, kekhawatiran, tanggung jawab, dan mungkin rasa takut yang tidak sanggup ia ceritakan. Sambutlah dengan kasih, tetapi jangan biarkan kasih menghapus kewajiban untuk saling menghormati.
Ketika seorang istri tampak diam, jangan selalu mengira ia tidak mempunyai sesuatu untuk dikatakan. Bisa jadi ia telah terlalu lama berbicara tanpa didengarkan. Dengarkanlah bukan untuk segera membantah, melainkan untuk memahami apa yang sesungguhnya sedang terluka.
Dan ketika keduanya lelah, jangan membuat keputusan besar di puncak kemarahan. Berwudhulah, tenangkan tubuh, kurangi suara, pisahkan persoalan dari harga diri, lalu kembali berbicara ketika hati tidak lagi terbakar.
Sebab satu kalimat yang dilontarkan dalam kemarahan dapat tinggal bertahun-tahun di dalam ingatan.
Satu penghinaan dapat menghapus rasa aman.
Satu kebohongan dapat merobohkan kepercayaan.
Tetapi satu pengakuan yang jujur juga dapat membuka pintu perbaikan.
Satu pelukan yang diberikan dengan tulus dapat meruntuhkan dinding kesepian.
Satu doa yang dibaca bersama dapat mengingatkan bahwa mereka bukanlah dua musuh yang sedang berebut kemenangan, melainkan dua hamba yang sedang menghadapi persoalan yang sama.
Dalam HKAQZAH tertulis secara simbolik:
“Jangan engkau menangkan pertengkaran dengan mengalahkan pasanganmu, sebab ketika ia merasa hancur, rumahmu pun kehilangan satu tiang.”
Menanglah dengan menemukan kebenaran.
Menanglah dengan menghentikan kezaliman.
Menanglah dengan menjaga martabat.
Menanglah dengan meminta maaf.
Menanglah dengan memperbaiki diri.
Menanglah dengan tidak mengulang kesalahan yang sama.
Menanglah dengan tetap menjadi manusia ketika amarah memintamu berubah menjadi api.
Akad yang agung juga tidak hanya berbicara tentang dua orang. Ia berbicara tentang keluarga yang mengelilingi mereka. Orang tua harus dihormati, tetapi rumah tangga tidak boleh dikendalikan tanpa batas oleh keluarga besar. Pasangan harus berbakti kepada orang tua, tetapi tidak diperintahkan mengikuti campur tangan yang merusak keadilan dan ketenteraman.
Batas harus dibuat dengan sopan.
Nasihat harus didengar dengan jernih.
Campur tangan harus disaring dengan kebijaksanaan.
Rahasia rumah tangga harus dijaga, kecuali ketika keselamatan, kekerasan, pengkhianatan berat, kesehatan jiwa, atau hak-hak mendasar memerlukan pertolongan pihak yang dapat dipercaya.
Kemudian datanglah anak sebagai tamu yang dititipkan Alloh.
Anak bukan alat untuk menyelamatkan pernikahan yang rusak.
Anak bukan tempat melampiaskan kemarahan.
Anak bukan perpanjangan ambisi orang tua.
Anak bukan saksi yang harus memilih pihak ketika ayah dan ibunya berselisih.
Ia adalah jiwa yang melihat, menyerap, meniru, dan menyimpan. Suara keras orang tua dapat tinggal di tubuhnya bahkan ketika ia telah dewasa. Pelukan yang tulus juga dapat menjadi tempat perlindungan batinnya sepanjang umur.
Maka jangan ajari anak tentang kasih hanya melalui ucapan. Tunjukkan kepadanya bagaimana ayah menghormati ibu, bagaimana ibu menghormati ayah, bagaimana keduanya mengakui kesalahan, bagaimana perbedaan tidak selalu berakhir dengan penghinaan, dan bagaimana rumah kembali tenang setelah badai.
Di dalam akad juga terdapat perjanjian terhadap rezeki.
Jangan engkau kotori makanan keluarga dengan penipuan.
Jangan engkau besarkan rumah dari harta yang merampas hak orang.
Jangan engkau memamerkan kemewahan sambil meninggalkan utang yang tidak dibayar.
Jangan engkau menjadikan kekurangan ekonomi sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Ada rumah kecil yang luas karena penghuninya bersyukur.
Ada rumah besar yang sempit karena setiap ruang dipenuhi kecemasan, gengsi, dan pertengkaran.
Qeagungan tidak diukur dari banyaknya perhiasan, tetapi dari apakah orang yang tinggal di dalam rumah merasa aman untuk berbicara, aman untuk beristirahat, aman untuk menangis, aman untuk tumbuh, dan aman dari penghinaan.
Bila rezeki sedang lapang, ingatlah masa sempit.
Bila rezeki sedang sempit, jangan kehilangan kejujuran.
Buatlah perencanaan.
Bedakan kebutuhan dari keinginan.
Bicarakan utang secara terbuka.
Jangan sembunyikan pengeluaran besar.
Jangan gunakan uang untuk mengendalikan pasangan.
Jangan menganggap pekerjaan rumah tidak memiliki nilai hanya karena tidak menghasilkan gaji.
Jangan pula menganggap mencari nafkah membebaskan seseorang dari tugas menjadi pasangan dan orang tua.
Masing-masing memikul bagian sesuai kesanggupan, kesepakatan, kondisi, dan keadilan.
Lalu HKAQZAH membuka halaman yang tidak terlihat, halaman tentang usia.
Pada awal pernikahan, manusia mungkin mengagumi wajah.
Pada pertengahan perjalanan, ia mulai mengenal watak.
Pada masa ujian, ia mengenal kesetiaan.
Pada masa sakit, ia mengenal pengabdian.
Pada masa tua, ia mengenal arti kehadiran.
Wajah berubah.
Tubuh melemah.
Anak-anak tumbuh dan pergi.
Pekerjaan berakhir.
Rumah menjadi lebih sunyi.
Yang tersisa bukanlah kemeriahan pesta, melainkan apakah keduanya telah membangun persahabatan yang cukup dalam untuk duduk bersama tanpa kepura-puraan.
Maka cintailah tidak hanya rupa yang hari ini tampak indah, tetapi jiwa yang sedang bertumbuh. Jangan menuntut pasangan tetap sama seperti ketika pertama bertemu, sebab kehidupan pasti mengubah manusia. Pastikan perubahan itu membawa keduanya menuju kedewasaan, bukan menjauh menuju kesombongan dan kelalaian.
Akad yang tidak berujung bukan berarti tubuh tidak akan dipisahkan kematian.
Setiap makhluk akan kembali.
Setiap tangan akan melepaskan genggamannya.
Setiap suara akan berhenti memanggil nama orang yang dicintainya.
Namun kebaikan yang ditanamkan dapat melampaui umur. Doa pasangan yang tulus, anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat, sedekah, keteladanan, dan maaf yang diberikan dapat terus mengalir sebagai jejak.
Karena itu, cintailah pasanganmu dengan kesadaran bahwa suatu hari engkau atau dia akan pergi lebih dahulu.
Jangan tunda meminta maaf.
Jangan tunda mengucapkan terima kasih.
Jangan tunda memperbaiki hubungan dengan Alloh.
Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nilai kehadiran.
Ada manusia yang baru memahami qeagungan pasangannya setelah kursi di sebelahnya kosong. Ada yang baru merindukan suara yang dahulu dianggap mengganggu setelah rumah menjadi sunyi. Ada yang baru ingin memeluk ketika tangan yang dicintai telah dingin.
Maka selama kehidupan masih diberikan, hidupkanlah adab.
Tataplah wajah pasanganmu tanpa hanya melihat kekurangannya.
Ingatlah perjuangannya.
Kenanglah kebaikannya.
Sampaikan kebutuhanmu tanpa merendahkan.
Berilah ruang bagi kelemahannya tanpa membenarkan kezaliman.
Bangunlah kembali kehangatan melalui hal-hal kecil: salam ketika masuk rumah, pertanyaan yang sungguh-sungguh, makanan yang dibagi, tugas yang diringankan, doa yang dipanjatkan diam-diam, dan waktu yang diberikan tanpa gangguan.
Di dalam HKAQZAH terdapat kalimat:
“Cinta besar tidak selalu datang sebagai peristiwa besar. Ia sering turun sebagai kesediaan mengulang kebaikan kecil setiap hari.”
Membuatkan air.
Menunggu ketika pasangan sedang sakit.
Mengabari ketika terlambat.
Menjaga nada bicara.
Menutup pintu godaan.
Menghormati keluarga.
Menyimpan rahasia.
Tidak mempermalukan di depan orang lain.
Mendoakan saat berjauhan.
Mengucapkan terima kasih atas pekerjaan yang tampak sederhana.
Itulah benang-benang halus yang menenun pakaian rumah tangga. Satu benang mungkin tampak kecil, tetapi bila terus diputuskan, kain akan robek.
Kemudian terbukalah bab tentang kesetiaan.
Kesetiaan bukan hanya tidak menyentuh orang lain. Kesetiaan juga menjaga pikiran dari hubungan yang sengaja dipelihara dalam rahasia, menjaga percakapan dari kedekatan yang melampaui batas, menjaga hati dari perbandingan yang terus-menerus, dan menjaga rumah agar tidak dikorbankan demi perhatian sesaat.
Godaan sering tidak datang sebagai ajakan besar. Ia datang sebagai pesan yang dianggap biasa, keluhan kepada orang yang salah, perasaan nyaman yang dirahasiakan, perbandingan terhadap pasangan, lalu kebohongan kecil untuk menutupinya.
Maka tutuplah pintunya sejak awal.
Yang engkau sembunyikan karena tahu pasanganmu akan terluka, patut engkau periksa dengan jujur.
Yang engkau lakukan hanya ketika pasanganmu tidak melihat, patut engkau timbang di hadapan Alloh.
Yang engkau sebut persahabatan tetapi mengikis kedekatan dengan pasangan, patut engkau beri batas.
Kesetiaan bukan penjara. Kesetiaan adalah kehormatan untuk tidak mempermainkan amanah yang telah dipercayakan.
Namun ketika pengkhianatan telah terjadi, jangan menutupinya dengan bahasa ruhani. Jangan berkata, “Ini takdir,” untuk menghindari tanggung jawab. Takdir tidak menghapus kewajiban bertobat, meminta maaf, memperbaiki kerusakan, menerima konsekuensi, dan menghentikan jalan yang mengarah kepada kesalahan.
Tobat mempunyai bukti.
Perubahan mempunyai jejak.
Penyesalan mempunyai tindakan.
Dan pengampunan adalah hak orang yang terluka, bukan sesuatu yang boleh dipaksakan dengan ancaman agama.
Kemudian datanglah malam yang panjang, dan dua manusia duduk dalam kesunyian. Salah satu berkata, “Aku takut kita tidak akan mampu.”
Yang lain menjawab, “Kita memang tidak mampu bila hanya bersandar pada kekuatan kita sendiri. Tetapi kita dapat memohon pertolongan Alloh, belajar, meminta bantuan, dan mengambil satu langkah benar pada satu waktu.”
Maka mereka tidak berjanji tidak akan pernah berselisih.
Mereka berjanji tidak akan menjadikan perselisihan sebagai izin untuk saling menghancurkan.
Mereka tidak berjanji selalu kuat.
Mereka berjanji akan jujur ketika lemah.
Mereka tidak berjanji selalu mempunyai jawaban.
Mereka berjanji mencari ilmu ketika tidak tahu.
Mereka tidak berjanji perjalanan akan mudah.
Mereka berjanji menjaga adab selama perjalanan.
Inilah salah satu makna Ningqah dalam lembar simbolik ini: bukan sekadar pengucapan, melainkan ning, keheningan yang menjernihkan; dan qah, keteguhan untuk menempatkan amanah di bawah kebenaran. Ia bukan istilah fikih dan tidak menggantikan kata nikah, tetapi menjadi bahasa renungan bahwa akad membutuhkan kejernihan dan keteguhan.
Ketika keheningan hilang, manusia mudah berbicara tanpa mendengar.
Ketika keteguhan hilang, manusia mudah berjanji tanpa menepati.
Maka satukanlah keheningan dan keteguhan.
Hening sebelum menjawab.
Teguh setelah berjanji.
Hening ketika amarah naik.
Teguh ketika godaan datang.
Hening ketika ingin memamerkan kebahagiaan.
Teguh ketika kebahagiaan diuji.
Hening ketika dipuji manusia.
Teguh ketika tidak ada seorang pun melihat selain Alloh.
Lalu Sang Maha Agung tidak menjadi bagian dari akad sebagai pihak yang setara dengan manusia, sebab Alloh Mahatinggi dari segala perbandingan. Dia adalah Tuhan yang perintah-Nya ditaati, larangan-Nya dijauhi, rahmat-Nya dimohon, dan ridho-Nya dijadikan arah.
Sumber qeagungan bukan berada dalam diri manusia.
Manusia hanya menerima sedikit cahaya petunjuk, sedikit kekuatan, sedikit ilmu, sedikit waktu, lalu diminta menggunakannya dengan amanah.
Karena itu, jangan mengagungkan pasangan secara berlebihan hingga engkau menggantungkan keselamatan jiwamu kepadanya. Jangan pula merendahkannya hingga engkau melupakan bahwa ia adalah makhluk Alloh yang memiliki kehormatan.
Cintailah dengan tauhid.
Artinya, cintailah tanpa menuhankan.
Berharaplah tanpa menggantungkan seluruh hidup kepada makhluk.
Bersyukurlah atas kehadirannya, tetapi sadari bahwa sumber ketenangan sejati tetaplah Alloh.
Bila pasanganmu baik, bersyukurlah dan jagalah.
Bila ia keliru, nasihatilah dengan adab.
Bila engkau yang keliru, jangan berlindung di balik kedudukan.
Bila masalah berat, carilah ilmu dan pertolongan.
Bila terdapat bahaya, utamakan keselamatan.
Bila keputusan harus diambil, ambillah tanpa dendam.
Bila jalan masih dapat diperbaiki, perbaikilah dengan sungguh-sungguh.
Bila jalan memang harus berakhir, akhiri dengan tidak merampas hak, tidak menyebarkan aib, tidak menjadikan anak sebagai senjata, dan tidak mengubah kenangan menjadi bahan penghinaan.
Sebab bahkan perpisahan mempunyai adab.
Dan bahkan pertemuan yang berakhir dapat meninggalkan pelajaran yang menyelamatkan manusia dari mengulang kesalahan.
Kemudian Qitab HKAQZAH membuka bagian tentang Akad dengan Diri Sendiri, yaitu janji moral seorang manusia kepada dirinya sebelum ia berjanji kepada orang lain:
“Aku tidak akan memasuki hubungan hanya untuk melarikan diri dari kesepian.”
“Aku akan belajar mengenali emosiku.”
“Aku tidak akan menggunakan cinta sebagai alasan untuk kehilangan batas.”
“Aku akan menjaga tubuh, pikiran, iman, dan tanggung jawabku.”
“Aku akan menyampaikan kebutuhan dengan jujur.”
“Aku tidak akan mengancam pergi setiap kali kecewa.”
“Aku tidak akan menggunakan agama untuk membungkam pasangan.”
“Aku tidak akan menggunakan masa lalu untuk membenarkan kekerasan.”
“Aku akan meminta pertolongan ketika tidak sanggup.”
“Aku akan terus belajar menjadi manusia yang aman untuk dicintai.”
Sebab sebelum bertanya, “Siapakah yang pantas menjadi pasanganku?” tanyakanlah, “Sudahkah aku belajar menjadi pasangan yang bertanggung jawab?”
Sebelum meminta seseorang setia, periksa kesetiaanmu.
Sebelum meminta seseorang jujur, periksa kejujuranmu.
Sebelum meminta seseorang lembut, periksa caramu berbicara.
Sebelum meminta seseorang memahami luka-lukamu, periksa apakah engkau juga berusaha memahami lukanya.
Qeagungan lahir ketika tuntutan diimbangi oleh kesediaan memperbaiki diri.
Lalu lembar itu memanjang, melampaui batas kertas, melewati rumah-rumah, desa-desa, kota-kota, gunung-gunung, dan lautan. Setiap pasangan menuliskan kisahnya sendiri. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kelimpahan. Ada yang menunggu anak, ada yang belajar menerima bahwa anak belum dititipkan. Ada yang merawat pasangan sakit, ada yang membangun kembali kehidupan setelah kehilangan. Ada yang harus tinggal berjauhan karena pekerjaan, ada yang tinggal serumah tetapi harus belajar mendekatkan hati.
Tidak semua rumah mempunyai bentuk yang sama.
Tidak semua ujian mempunyai jawaban yang sama.
Namun nilai-nilai dasarnya tetap: kejujuran, keadilan, kasih, tanggung jawab, keselamatan, musyawarah, kesetiaan, dan ketundukan kepada Alloh.
Di ujung yang tidak mempunyai ujung itu, terdengar doa:
“Yā Alloh, bila Engkau mempertemukan dua hati, jangan biarkan keduanya menjadikan cinta sebagai berhala. Jadikan cinta itu jalan untuk mengenal amanah, belajar sabar, membangun akhlak, menolong dalam kebaikan, dan mendekat kepada ridho-Mu.
Yā Alloh, bersihkan niat sebelum akad diucapkan. Jernihkan pikiran ketika memilih. Lindungi dari tipu daya rupa, harta, kedudukan, dan kata-kata yang tidak mempunyai bukti.
Yā Alloh, jadikan rumah sebagai tempat perlindungan, bukan tempat ketakutan. Jadikan lisan sebagai pembawa ketenteraman, bukan pisau yang melukai. Jadikan tangan sebagai penolong, bukan alat kekerasan. Jadikan mata mampu melihat kebaikan, tanpa menutup diri dari kebenaran.
Yā Alloh, ketika rezeki sempit, lapangkan kesabaran. Ketika rezeki luas, jaga dari kesombongan. Ketika perbedaan datang, turunkan kebijaksanaan. Ketika luka muncul, bukakan jalan penyembuhan. Ketika kesalahan terjadi, hidupkan keberanian untuk mengaku dan berubah.
Yā Alloh, lindungi setiap keluarga dari dusta, pengkhianatan, kekerasan, kecanduan, keserakahan, iri hati, campur tangan yang merusak, dan segala jalan yang memadamkan rahmat.
Yā Alloh, ajarkan kepada kami bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman, mempertahankan bukan berarti kehilangan kehormatan, dan berpisah bukan berarti harus saling menghancurkan.
Yā Alloh, bila kebersamaan adalah kebaikan, kuatkanlah. Bila perbaikan masih mungkin, mudahkanlah. Bila pertolongan diperlukan, pertemukan dengan orang-orang yang amanah. Bila keputusan berat harus diambil, tuntunlah dengan ilmu, keadilan, dan kejernihan.
Yā Alloh, jadikan anak-anak tumbuh dalam rumah yang mengenal salam, doa, pelukan, batas, tanggung jawab, dan permintaan maaf. Jangan biarkan mereka mewarisi luka yang tidak pernah disembuhkan oleh orang tuanya.
Yā Alloh, ketika rambut memutih dan tubuh melemah, sisakanlah kasih yang lembut, persahabatan yang jujur, dan hati yang tetap saling mendoakan.
Yā Alloh, bila salah seorang dipanggil lebih dahulu, jadikan yang tinggal mampu mengingat kebaikan tanpa tenggelam dalam keputusasaan. Pertemukanlah setiap hamba yang Engkau ridhoi dalam rahmat-Mu, bukan karena klaim mereka, melainkan karena ampunan dan kasih sayang-Mu.”
Lalu doa itu tidak berhenti.
Ia berubah menjadi tindakan.
Tindakan berubah menjadi kebiasaan.
Kebiasaan berubah menjadi akhlak.
Akhlak menjadi cahaya yang diwariskan.
Cahaya itu berjalan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, bukan sebagai kesaktian, bukan sebagai darah qeagungan, bukan sebagai hak istimewa, melainkan sebagai keteladanan bahwa rumah dapat dibangun dengan kasih yang bertanggung jawab.
Dan setiap kali manusia lupa, lembar pertama kembali terbuka.
Ia berkata:
“Akad bukanlah akhir pencarian cinta. Akad adalah awal pembelajaran tentang cara mencintai dengan benar.”
“Qeagungan tidak berada pada gelar yang diucapkan, tetapi pada amanah yang ditunaikan.”
“Kesucian tidak berada pada kata-kata yang tinggi, tetapi pada tangan yang tidak menyakiti, lisan yang tidak menghina, rezeki yang tidak mengkhianati, dan hati yang tidak mempermainkan janji.”
“HKAQZAH bukan kunci gaib. Kuncinya adalah takwa.”
“Akad Ningqah bukan mantra. Ruhnya adalah kejujuran.”
“Sang Maha Agung tidak membutuhkan pengagungan manusia. Manusialah yang membutuhkan petunjuk-Nya agar tidak tersesat dalam mengagungkan dirinya sendiri.”
“Sumber qeagungan bukan berada di balik simbol, huruf, angka, atau rahasia tersembunyi. Sumber segala keagungan adalah Alloh, sedangkan manusia menjadi mulia sejauh ia taat, adil, berakhlak, dan memberi manfaat.”
Maka lembar itu terus memanjang.
Setiap kalimat membuka kalimat berikutnya.
Setiap jawaban melahirkan pertanyaan yang lebih jernih.
Setiap akad meminta pembaruan niat.
Setiap pagi menjadi kesempatan untuk memilih pasangan sekali lagi, bukan melalui ijab kabul baru, tetapi melalui tindakan: memilih untuk jujur, memilih untuk setia, memilih untuk mendengar, memilih untuk menjaga, memilih untuk bertanggung jawab, memilih untuk tidak menyakiti, dan memilih untuk kembali kepada Alloh.
Ketika malam tiba, keduanya mengingat bahwa mereka tidak tahu berapa banyak pagi yang masih tersisa.
Mereka merendahkan suara.
Mereka memaafkan yang mampu dimaafkan.
Mereka membicarakan yang harus diselesaikan.
Mereka menyerahkan yang belum dapat dijawab kepada Alloh.
Kemudian salah seorang berdoa dalam hati:
“Yā Alloh, aku tidak memiliki manusia ini. Engkaulah pemiliknya. Aku hanya dititipi waktu bersamanya. Jangan biarkan aku menyia-nyiakan titipan ini dengan kesombongan, kelalaian, dan kekerasan. Ajarkan aku menjaganya tanpa menguasai, mencintainya tanpa menuhankan, menasihatinya tanpa merendahkan, dan melepaskannya kepada penjagaan-Mu setiap kali aku tidak mampu menjangkaunya.”
Dan yang lain, tanpa mendengar doa itu, merasakan ketenangan yang lembut.
Bukan karena seluruh persoalan telah selesai.
Bukan karena masa depan telah diketahui.
Melainkan karena di tengah ketidaksempurnaan, dua manusia telah memilih satu arah:
bukan saling menguasai,
tetapi saling menjaga;
bukan mencari kemenangan pribadi,
tetapi mencari kebenaran;
bukan mengejar qeagungan di mata manusia,
tetapi memohon kemuliaan akhlak di hadapan Alloh.
Di sanalah lembar pertama tidak pernah benar-benar berakhir.
Sebab setiap rumah yang membaca maknanya akan menuliskan kelanjutannya melalui kehidupan.
Setiap permintaan maaf menjadi satu baris.
Setiap kesetiaan menjadi satu ayat kehidupan.
Setiap nafkah halal menjadi tanda baca.
Setiap air mata yang dipeluk menjadi tinta.
Setiap anak yang dilindungi menjadi halaman.
Setiap kezaliman yang dihentikan menjadi pelurusan.
Setiap doa menjadi cahaya di tepi tulisan.
Dan setiap kepulangan kepada Alloh menjadi pengingat bahwa seluruh akad manusia berada di dalam umur yang terbatas, sedangkan rahmat-Nya melampaui segala batas.
Maka panjanglah lembar ini tanpa mengaku sebagai wahyu.
Luaslah maknanya tanpa menyaingi firman Alloh.
Dalamlah renungannya tanpa menghapus syariat.
Dan terbukalah ia hanya sebagai cermin:
agar yang keras melihat kekerasannya,
yang lalai melihat kelalaiannya,
yang setia dikuatkan kesetiaannya,
yang terluka menemukan keberanian mencari pertolongan,
yang bersalah menemukan jalan pertobatan,
dan yang sedang menanti jodoh belajar bahwa persiapan terbesar bukan hanya menemukan seseorang yang baik, tetapi membangun diri agar mampu menjaga kebaikan ketika seseorang itu telah datang.
HKAQZAH.
Hembusan kehidupan.
Ketetapan amanah.
Asal kasih.
Qalbu yang dijernihkan.
Zaman yang berjalan.
Akad yang dipelihara.
Hening yang mengembalikan manusia kepada dirinya.
Dan di atas seluruh huruf itu berdirilah satu kesaksian:
لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللّٰهُ
Tidak ada yang berhak disembah selain Alloh.
Segala cinta berada di bawah cinta kepada-Nya.
Segala akad berada di bawah hukum-Nya.
Segala qeagungan berasal dari-Nya.
Segala perjalanan kembali kepada-Nya.
Dan lembar pertama terus terbuka, terus memanjang, terus mengalir, selama manusia masih belajar mencintai tanpa menzalimi, berjanji tanpa mengkhianati, memimpin tanpa merendahkan, menaati tanpa kehilangan akal sehat, memaafkan tanpa membenarkan keburukan, serta berjalan bersama tanpa melupakan bahwa pada akhirnya setiap jiwa akan menghadap Alloh seorang diri, membawa niatnya, perbuatannya, amanahnya, luka yang pernah ditimbulkannya, kebaikan yang pernah ditanamkannya, dan seluruh rahasia yang dahulu disembunyikan di balik pintu rumahnya.
Maka jagalah akadmu.
Jagalah dirimu.
Jagalah manusia yang dititipkan berjalan bersamamu.
Jagalah batas-batas Alloh.
Dan jangan mencari qeagungan dengan meninggikan nama sendiri, sebab qeagungan sejati tumbuh ketika manusia merendahkan hati, menegakkan keadilan, dan menjadikan hidupnya tempat turunnya manfaat bagi makhluk lain.
Inilah lembar pertama yang tidak berujung.
Bukan karena tulisannya tidak dapat dihentikan, melainkan karena amanahnya harus dilanjutkan dalam kehidupan.
وَٱللّٰهُ أَعْلَمُ بِٱلصَّوَابِ
Alloh lebih mengetahui segala kebenaran.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.