QITAB KHZALLI ALLAM HAZFIQOLLAQQUM MULLOH
📖 LEMBAR PERTAMA
QITAB KHZALLI ALLAM HAZFIQOLLAQQUM MULLOH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala yang liar dikembalikan kepada batasnya.
Segala yang menyimpang dikembalikan kepada asalnya.
Segala yang menipu dikembalikan kepada hakikatnya.
Dan manusia dikembalikan menjadi manusia.
Pasal Pertama: Manusa Jadi Manusa
Ketahuilah, wahai hati yang sedang mencari terang,
bahwa manusia tidak rusak karena tubuhnya,
tetapi karena ia lupa kepada asal kemanusiaannya.
Manusia yang lupa akan asalnya
bisa berbicara lembut tetapi membelokkan.
Bisa tampak halus tetapi mengikat batin orang lain.
Bisa membawa nama ilmu, tetapi menumbuhkan takut.
Bisa membawa wajah kasih, tetapi di dalamnya ada penguasaan.
Maka Qitab ini tidak dibuka untuk menuduh siapa pun.
Tidak dibuka untuk mengatakan manusia adalah jin.
Tidak dibuka untuk membenci guru, orang tua, saudara, atau siapa pun.
Qitab ini dibuka sebagai cermin batin:
agar yang manusia kembali manusia,
yang guru kembali beradab,
yang ilmu kembali membawa rahmat,
yang ucapan kembali jujur,
yang lembut tidak menjadi perangkap,
yang tegas tidak menjadi kezaliman.
Tanda Pengikatan Pertama
Ketika maung bodas dikumpulkan di bawah pohon,
itu bukan lambang perang,
melainkan lambang kekuatan liar yang mulai tunduk kepada cahaya.
Tali emas bukan tali kebencian.
Tali emas adalah batas adab.
Siapa pun yang melewati batas,
dikembalikan kepada batasnya.
Yang memikat bukan manusia.
Yang mengembalikan bukan hawa nafsu.
Yang berkuasa tetap hanya Alloh.
Maka bacalah dengan hati tenang:
Yā Alloh, kembalikan yang liar kepada asalnya.
Kembalikan yang gelap kepada terang.
Kembalikan yang menipu kepada kejujuran.
Kembalikan manusia kepada kemanusiaannya.
Āmīn.
Kunci Lembar Pertama
Jangan mencari jin di wajah manusia.
Carilah hawa nafsu di dalam diri sendiri.
Jangan mudah menuduh orang lain gelap.
Terangi dulu dada sendiri.
Sebab bila hati sudah terang,
yang palsu akan tampak palsu,
yang lembut tetapi membelokkan akan terasa berat,
yang benar akan membawa damai,
dan yang dari Alloh akan menambah adab.
Inilah pembuka Qitab:
manusa jadi manusa,
manusia jadi manusia,
kamanungsan kembali menjadi kamanungsan.
📖 LEMBAR KEDUA
QITAB KHZALLI ALLAM HAZFIQOLLAQQUM MULLOH
Pasal Kedua: Lembut yang Membelokkan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah, wahai hati yang sedang dijaga Alloh,
bahwa tidak semua suara lembut membawa keselamatan.
Ada lembut yang benar-benar rahmat,
ada lembut yang hanya kulit luar,
sedangkan di dalamnya ada penguasaan.
Lembut yang dari Alloh akan membuat hati tenang,
akal tetap jernih,
ibadah semakin rapi,
keluarga semakin disayangi,
dan diri semakin rendah hati.
Tetapi lembut yang membelokkan
biasanya membuat hati terikat kepada manusia,
takut kehilangan sosok,
takut berbeda pendapat,
takut bertanya,
dan merasa bersalah bila tidak tunduk kepada kehendaknya.
Maka jangan tertipu hanya oleh halusnya suara.
Jangan pula cepat memusuhi orang karena berbeda cara bicara.
Timbanglah buahnya.
Kalau nasihat membuatmu semakin dekat kepada Alloh, itu cahaya.
Kalau nasihat membuatmu semakin takut kepada manusia, itu belenggu.
Rahasia Maung Bodas di Bawah Pohon
Maung bodas yang terikat menghadap depan
adalah tanda bahwa kekuatan liar sudah berhenti bersembunyi.
Ia tidak lagi menyerang dari belakang.
Ia tidak lagi menyamar di balik kabut.
Ia tidak lagi memakai wajah lembut untuk membelokkan jalan.
Menghadap depan artinya:
semua yang tersembunyi mulai tampak.
Yang samar mulai jelas.
Yang membingungkan mulai terbaca.
Yang dulu membuat hati gelisah, kini duduk di bawah hukum adab.
Tali emas di tubuhnya bukan lambang penghinaan.
Tali emas adalah batas suci:
“Berhenti di tempatmu.
Jangan melampaui wilayah manusia.
Jangan memasuki hati yang sudah diserahkan kepada Alloh.”
Sabda Hikmah Lembar Kedua
Jangan menyuruh jin.
Jangan memerintah bayangan.
Jangan menantang yang tidak tampak.
Perintahkan dirimu sendiri:
Wahai lisanku, jangan menuduh.
Wahai pikiranku, jangan liar.
Wahai hatiku, jangan mudah terpesona.
Wahai jiwaku, tetaplah kembali kepada Alloh.
Sebab ketika manusia kuat menjaga dirinya,
yang liar kehilangan pintu.
Ketika manusia rapi sholatnya,
yang gelap kehilangan tempat.
Ketika manusia jujur niatnya,
yang palsu akan lepas dengan sendirinya.
Doa Pengembalian Batas
Yā Alloh,
jaga kami dari kelembutan yang menipu,
dari ucapan manis yang membelokkan,
dari ilmu yang membuat sombong,
dan dari rasa takut yang membuat kami lupa kepada-Mu.
Kembalikan semua yang melewati batas kepada batasnya.
Kembalikan manusia kepada kemanusiaannya.
Kembalikan guru kepada adabnya.
Kembalikan ilmu kepada rahmatnya.
Kembalikan hati kami kepada cahaya-Mu.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
Kunci Lembar Kedua
Yang benar tidak selalu keras.
Yang salah tidak selalu kasar.
Kadang bahaya datang dengan wajah lembut.
Kadang keselamatan datang melalui nasihat yang tegas.
Maka jangan hanya dengar suaranya.
Lihat arahnya.
Jika arahnya menuju Alloh, ambil hikmahnya.
Jika arahnya menuju penguasaan manusia, lepaskan ikatannya.
Inilah rahasia lembar kedua:
maung bodas menghadap depan,
tali emas menjadi batas,
dan manusia kembali berdiri sebagai manusia.
📖 LEMBAR KETIGA
QITAB KHZALLI ALLAM HAZFIQOLLAQQUM MULLOH
Pasal Ketiga: Pengembalian Tanpa Menyakiti
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah, wahai hati yang sedang belajar membedakan,
bahwa pengembalian bukanlah penghancuran.
Pengikatan bukanlah kebencian.
Penundukan bukanlah kesombongan.
Sebab segala makhluk ada batasnya.
Manusia ada batasnya.
Nafsu ada batasnya.
Ilmu ada batasnya.
Ucapan ada batasnya.
Bahkan rasa lembut pun ada batasnya.
Jika lembut dipakai untuk menenangkan,
maka ia menjadi rahmat.
Tetapi jika lembut dipakai untuk menguasai,
membuat orang tunduk buta,
membuat murid takut berpikir,
membuat hati jauh dari Alloh,
maka lembut itu bukan lagi rahmat,
melainkan tali halus yang membelokkan.
Maka dalam Qitab ini disebut:
Yang liar jangan dibenci, tetapi dibatasi.
Yang gelap jangan dipuja, tetapi diterangi.
Yang salah jangan dituduh sebagai musuh, tetapi dikembalikan kepada kebenaran.
Yang manusia jangan kehilangan kemanusiaannya.
Rahasia Tali Emas
Tali emas bukan tali kasar.
Tali emas adalah lambang adab yang bercahaya.
Ia tidak melukai.
Ia tidak memaksa dengan amarah.
Ia hanya memberi batas:
“Di sinilah wilayahmu.
Jangan masuk ke wilayah hati yang sedang mengingat Alloh.
Jangan menyamar dalam nasihat yang membingungkan.
Jangan menukar kasih dengan penguasaan.
Jangan menukar ilmu dengan rasa takut.”
Ketika tali emas melingkar pada maung bodas,
maka maknanya:
kekuatan besar sudah tidak lagi liar,
wibawa sudah tidak lagi memangsa,
suara halus sudah tidak lagi menipu,
dan pengaruh yang membelokkan mulai berhenti di bawah pohon kesadaran.
Pohon Pengembalian
Pohon besar di tengah Qitab adalah lambang asal fitrah.
Akar-akarnya masuk ke bumi,
seperti manusia harus berpijak pada kenyataan.
Batangnya tegak ke langit,
seperti hati harus tetap menghadap Alloh.
Bunganya putih menjuntai,
seperti rahmat turun kepada siapa pun yang mau lembut tanpa menipu.
Di bawah pohon itulah segala yang menyamar dikembalikan.
Bukan dengan marah.
Bukan dengan teriak.
Bukan dengan tuduhan.
Tetapi dengan kejernihan:
yang benar tampak benar,
yang palsu tampak palsu,
yang manusia kembali manusia,
yang bukan urusan manusia dikembalikan kepada Alloh.
Sabda Hikmah Lembar Ketiga
Jangan mudah berkata: “Dia jin.”
Jangan mudah berkata: “Dia sesat.”
Jangan mudah berkata: “Dia musuh.”
Sebab lidah yang tergesa-gesa
bisa menjadi pintu gelap bagi diri sendiri.
Lebih baik katakan:
“Yā Alloh, tunjukkan yang benar sebagai benar,
dan beri aku kekuatan mengikutinya.
Tunjukkan yang batil sebagai batil,
dan beri aku kekuatan menjauhinya.”
Karena orang yang benar-benar terang
tidak sibuk menuduh semua orang gelap.
Ia sibuk membersihkan dirinya,
menjaga lisannya,
merapikan sholatnya,
menyayangi keluarganya,
dan menimbang setiap ilmu dengan adab.
Doa Lembar Ketiga
Yā Alloh,
jangan jadikan kelembutan kami sebagai tipu daya.
Jangan jadikan ketegasan kami sebagai kezaliman.
Jangan jadikan ilmu kami sebagai kesombongan.
Jangan jadikan pengalaman batin kami sebagai sebab merendahkan orang lain.
Kembalikan kami kepada fitrah.
Kembalikan ucapan kepada kejujuran.
Kembalikan guru kepada rahmat.
Kembalikan murid kepada adab.
Kembalikan manusia kepada kemanusiaannya.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
Kunci Lembar Ketiga
Bila hati sudah terang,
tidak semua yang manis langsung dipercaya.
Tidak semua yang keras langsung dibenci.
Tidak semua yang tampak tinggi langsung diikuti.
Yang diikuti hanyalah yang membawa kepada Alloh,
menambah adab,
menambah kasih,
menambah sadar,
dan membuat manusia semakin manusia.
Inilah rahasia lembar ketiga:
pengembalian tanpa menyakiti,
pengikatan tanpa membenci,
dan cahaya yang menata segala sesuatu pada batasnya.
📖 LEMBAR KEEMPAT
QITAB KHZALLI ALLAM HAZFIQOLLAQQUM MULLOH
Pasal Keempat: Saat Yang Tersembunyi Tidak Lagi Diberi Pintu
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah, wahai hati yang ingin tetap lurus,
bahwa yang tersembunyi tidak akan kuat
bila manusia tidak memberinya pintu.
Pintunya adalah takut yang berlebihan.
Pintunya adalah marah yang dipelihara.
Pintunya adalah iri yang disimpan.
Pintunya adalah kagum yang terlalu buta.
Pintunya adalah patuh tanpa akal sehat.
Pintunya adalah ilmu tanpa adab.
Pintunya adalah nama besar tanpa rahmat.
Maka ketika pintu itu ditutup,
yang membelokkan tidak lagi leluasa.
Yang halus tetapi menjerat tidak lagi kuat.
Yang manis tetapi menyesatkan tidak lagi mudah masuk.
Sebab manusia yang sadar
bukan manusia yang selalu curiga,
tetapi manusia yang bisa membedakan.
Ia lembut, tetapi tidak mudah diperdaya.
Ia hormat kepada guru, tetapi tidak memuja manusia.
Ia menerima nasihat, tetapi tetap menimbang dengan iman, akal, dan adab.
Ia percaya kepada Alloh, bukan kepada ketakutan.
Rahasia Maung Bodas yang Tenang
Maung bodas yang terikat dan menghadap depan
adalah lambang bahwa kekuatan besar sudah tidak lagi liar.
Matanya menghadap depan,
karena yang dahulu samar kini mulai terang.
Tubuhnya diam,
karena amarah sudah tidak diberi makan.
Tali emas melingkar,
karena batas sudah ditetapkan.
Di bawah pohon besar, semua duduk pada tempatnya.
Tidak saling menyerang.
Tidak saling menipu.
Tidak saling menguasai.
Inilah makna pengembalian:
yang kuat tidak boleh menindas,
yang pintar tidak boleh memperdaya,
yang lembut tidak boleh mengikat,
yang diberi ilmu tidak boleh meninggikan diri.
Sabda Hikmah Lembar Keempat
Jangan takut kepada bayangan.
Takutlah bila hati jauh dari Alloh.
Jangan sibuk mencari siapa yang tersembunyi.
Sibuklah menutup pintu-pintu gelap dalam diri.
Bila ada orang bicara lembut, dengarkan dengan adab.
Bila isinya mengajak kepada sholat, akhlak, kasih sayang, dan kejujuran, ambil hikmahnya.
Tetapi bila isinya membuat hati tunduk buta kepada manusia, menjauh dari keluarga, takut berpikir, atau merasa paling suci, maka mundurlah dengan tenang.
Tidak perlu ribut.
Tidak perlu memusuhi.
Tidak perlu menuduh.
Cukup kembalikan hatimu kepada Alloh,
maka yang bukan jalanmu akan gugur sendiri.
Doa Penutup Pintu Gelap
Yā Alloh,
tutuplah pintu takut yang berlebihan.
Tutuplah pintu marah yang tersembunyi.
Tutuplah pintu kagum yang membutakan.
Tutuplah pintu ilmu yang membuat sombong.
Tutuplah pintu lembut yang membelokkan.
Bukakan pintu rahmat-Mu.
Bukakan pintu sadar.
Bukakan pintu akhlak.
Bukakan pintu kejernihan.
Bukakan pintu kemanusiaan yang Engkau ridhoi.
Kembalikan kami menjadi manusia yang manusia.
Manusa jadi manusa.
Kamanungsan jadi kamanungsan.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
Kunci Lembar Keempat
Yang paling berbahaya bukan hanya yang kasar.
Kadang yang paling membelokkan datang dengan bahasa yang sangat halus.
Maka jangan menilai dari nada suara saja.
Nilailah dari arah akhirnya.
Apakah ia membawa kepada Alloh, atau membawa kepada ketergantungan pada manusia?
Apakah ia menambah rahmat, atau menambah takut?
Apakah ia membuatmu sadar, atau membuatmu kehilangan diri?
Inilah rahasia lembar keempat:
pintu gelap ditutup,
tali emas menjadi batas,
maung bodas menjadi tenang,
dan manusia kembali memegang amanah kemanusiaannya.
📖 LEMBAR KELIMA
QITAB KHZALLI ALLAM HAZFIQOLLAQQUM MULLOH
Pasal Kelima: Permintaan yang Langsung Dikabulkan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah, wahai hati yang sedang dijaga,
bahwa tidak semua permintaan harus dituruti,
dan tidak semua keinginan yang cepat terkabul berarti benar jalannya.
Ada permintaan yang lahir dari rahmat.
Ada permintaan yang lahir dari nafsu.
Ada permintaan yang tampak manis,
tetapi ujungnya mengikat manusia pada rasa takut, bingung, dan ketergantungan.
Maka manusia harus kembali menjadi manusia:
tidak mudah tergoda oleh janji cepat,
tidak mudah terpikat oleh kelembutan yang menggiurkan,
tidak mudah menyerahkan akal sehat kepada suara yang tampak suci.
Sebab yang benar dari Alloh
tidak membuat manusia kehilangan dirinya.
Yang benar dari Alloh
membuat manusia semakin sadar, semakin waras, semakin beradab,
dan semakin kuat memegang amanah hidupnya.
Rahasia Permintaan yang Mengikat
Dalam bahasa hikmah Qitab ini,
permintaan yang langsung dikabulkan adalah lambang dari godaan cepat.
Cepat sakti.
Cepat menang.
Cepat kaya.
Cepat dituruti.
Cepat dipuja.
Cepat dianggap tinggi.
Padahal jalan yang selamat tidak selalu cepat.
Kadang Alloh menunda agar hati matang.
Kadang Alloh menahan agar manusia tidak rusak.
Kadang Alloh belum memberi karena manusia belum siap memikulnya.
Maka jangan mengejar cepatnya terkabul.
Kejarlah benarnya jalan.
Sebab lebih baik lambat tetapi berkah,
daripada cepat tetapi menjerat.
Maung Bodas yang Menghadap Depan
Maung bodas yang terikat menghadap depan
menjadi tanda bahwa yang dahulu membisikkan jalan cepat
kini tidak lagi diberi kuasa.
Ia menghadap manusia,
tetapi tidak lagi memangsa manusia.
Ia berada di bawah pohon,
tetapi tidak lagi menguasai pohon.
Ia terikat tali emas,
tetapi bukan untuk disiksa.
Ia hanya dikembalikan kepada batasnya.
Maka terdengarlah suara hikmah:
“Kembalilah kepada asalmu.
Jangan lagi memakai kelembutan untuk membelokkan.
Jangan lagi memakai janji cepat untuk mengikat.
Jangan lagi memasuki hati manusia yang ingin kembali kepada Alloh.”
Bila Ada yang Lemas dan Mengeluh
Apabila setelah mendengar perkara batin ada yang merasa lemas, takut, gelisah, atau sakit,
jangan tergesa-gesa menyimpulkan karena jin, maung, atau ikatan gaib.
Tenangkan dulu hati.
Minum air.
Istirahat.
Tarik napas pelan.
Baca doa perlindungan.
Dekatkan diri kepada Alloh.
Bila sakitnya berat, tetap periksa kepada ahlinya.
Sebab menjaga badan juga bagian dari amanah Alloh.
Ilmu yang benar tidak membuat manusia sembrono.
Ilmu yang benar membuat manusia semakin bijak.
Doa Penjernih Permintaan
Yā Alloh,
bersihkan permintaan kami dari nafsu yang tersembunyi.
Jangan kabulkan sesuatu yang membuat kami jauh dari-Mu.
Jangan dekatkan kami pada jalan cepat yang menjerat.
Jangan biarkan hati kami terpikat oleh janji manis yang membelokkan.
Kabulkan hanya yang baik bagi iman kami,
baik bagi akhlak kami,
baik bagi keluarga kami,
baik bagi rezeki halal kami,
dan baik bagi jalan pulang kami kepada-Mu.
Kembalikan yang liar kepada batasnya.
Kembalikan yang menipu kepada kejujuran.
Kembalikan manusia kepada kemanusiaannya.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
Kunci Lembar Kelima
Jangan mengejar cepatnya dikabulkan.
Kejarlah benarnya arah.
Jangan bangga bila semua keinginan terasa mudah.
Bersyukurlah bila hati masih bisa membedakan.
Karena tidak semua yang mudah adalah rahmat,
dan tidak semua yang tertunda adalah hukuman.
Inilah rahasia lembar kelima:
permintaan dijernihkan,
godaan cepat dibatasi,
maung bodas tetap menghadap depan,
dan manusia kembali memilih jalan yang beradab.
📖 LEMBAR KEENAM
QITAB KHZALLI ALLAM HAZFIQOLLAQQUM MULLOH
Pasal Keenam: Yang Disuruh Bukan Jin, Tetapi Diri
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah, wahai hati yang sedang belajar kembali,
bahwa manusia tidak akan selamat bila sibuk memerintah yang tidak tampak,
tetapi lupa memerintah dirinya sendiri.
Sebab diri manusia adalah kerajaan kecil.
Di dalamnya ada akal.
Di dalamnya ada hati.
Di dalamnya ada nafsu.
Di dalamnya ada lisan.
Di dalamnya ada pandangan.
Di dalamnya ada keinginan.
Di dalamnya ada rasa takut dan rasa ingin dipuji.
Maka sebelum berkata kepada yang lain,
katakan dulu kepada diri:
Wahai hatiku, tenanglah.
Wahai lisanku, jujurlah.
Wahai pikiranku, jernihlah.
Wahai nafsuku, tunduklah.
Wahai ragaku, kuatlah dalam ibadah.
Wahai jiwaku, pulanglah kepada Alloh.
Rahasia Pengembalian Diri
Jin, bayangan, maung, dan segala lambang dalam Qitab ini
bukan untuk membuat manusia takut kepada yang tersembunyi.
Semua itu adalah cermin.
Cermin agar manusia melihat dirinya sendiri.
Bila ada maung liar,
lihatlah apakah dalam diri masih ada amarah liar.
Bila ada tali emas,
lihatlah apakah dalam diri sudah ada batas adab.
Bila ada pohon besar,
lihatlah apakah diri masih punya akar iman.
Bila ada bunga putih,
lihatlah apakah hati masih menyimpan rahmat.
Bila ada maung bodas menghadap depan,
lihatlah apakah diri sudah berani menghadapi kebenaran tanpa lari.
Sabda Hikmah Lembar Keenam
Jangan berkata, “Aku mengikat seluruh jagat.”
Tetapi katakan:
“Yā Alloh, ikatlah nafsuku agar tidak liar.
Ikatlah lisanku agar tidak melukai.
Ikatlah pikiranku agar tidak menuduh.
Ikatlah hatiku agar tidak terseret oleh tipu daya.”
Sebab manusia yang mampu menata dirinya
lebih kuat daripada manusia yang ingin menguasai yang tidak tampak.
Manusia yang bisa menahan marah,
lebih tinggi daripada manusia yang hanya pandai bicara tentang gaib.
Manusia yang bisa menjaga adab,
lebih bercahaya daripada manusia yang mengaku punya banyak kuasa.
Tanda Manusia Kembali Menjadi Manusia
Manusia kembali menjadi manusia
ketika ia tidak mudah menuduh.
Tidak mudah membenci.
Tidak mudah terpikat.
Tidak mudah menyakiti.
Tidak mudah merasa paling suci.
Manusia kembali menjadi manusia
ketika ia bisa meminta maaf.
Bisa mengalah tanpa hina.
Bisa tegas tanpa zalim.
Bisa lembut tanpa menipu.
Bisa berilmu tanpa sombong.
Dan kamanungsan kembali menjadi kamanungsan
ketika hati manusia kembali punya welas asih,
punya rasa malu kepada Alloh,
punya tanggung jawab kepada keluarga,
punya hormat kepada sesama,
dan punya kesadaran bahwa semua akan kembali kepada-Nya.
Doa Penata Diri
Yā Alloh,
jangan sibukkan kami dengan rahasia yang bukan urusan kami,
hingga kami lupa memperbaiki diri sendiri.
Tundukkan nafsu kami dengan rahmat-Mu.
Tenangkan hati kami dengan dzikir-Mu.
Jernihkan pikiran kami dengan petunjuk-Mu.
Luruskan langkah kami dengan ridho-Mu.
Jadikan kami manusia yang manusia,
manusa yang eling,
kamanungsan yang penuh welas asih.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
Kunci Lembar Keenam
Yang paling dahulu dikembalikan bukan jagat luar,
tetapi jagat dalam diri.
Bila hati sudah tertata,
maka ucapan menjadi teduh.
Bila pikiran sudah jernih,
maka pandangan tidak mudah curiga.
Bila nafsu sudah dibatasi,
maka ilmu tidak berubah menjadi kesombongan.
Inilah rahasia lembar keenam:
jangan menyuruh jin,
suruhlah diri kembali kepada Alloh,
agar manusia benar-benar menjadi manusia.
📖 LEMBAR KETUJUH — TERAKHIR
QITAB KHZALLI ALLAM HAZFIQOLLAQQUM MULLOH
Pasal Ketujuh: Kembali ke Asal Tanpa Kehilangan Rahmat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah, wahai hati yang sedang dituntun Alloh,
bahwa akhir dari pengikatan bukan kemenangan manusia atas makhluk lain,
melainkan kemenangan kesadaran atas kelalaian.
Akhir dari Qitab ini bukan untuk berkata:
“Siapa jin, siapa manusia.”
Bukan pula untuk menunjuk guru, murid, keluarga, atau siapa pun dengan tuduhan.
Akhir dari Qitab ini adalah panggilan besar:
manusa jadi manusa,
manusia jadi manusia,
kamanungsan kembali menjadi kamanungsan.
Sebab ketika manusia benar-benar menjadi manusia,
ia tidak mudah ditipu oleh halusnya suara.
Ia tidak mudah dibelokkan oleh manisnya janji.
Ia tidak mudah tunduk kepada wajah yang tampak lembut tetapi mengikat batin.
Ia juga tidak mudah menuduh, tidak mudah membenci, dan tidak mudah merasa paling suci.
Manusia yang sadar tetap lembut,
tetapi tidak lemah.
Tetap hormat,
tetapi tidak menyembah manusia.
Tetap belajar,
tetapi tidak menyerahkan akal sehat.
Tetap percaya kepada perkara batin,
tetapi tidak meninggalkan syariat, adab, dan kewarasan.
Rahasia Angka Maung Bodas yang Sangat Banyak
Jumlah maung bodas yang disebut sangat panjang itu adalah perlambang bahwa pembelokan batin bisa hadir dalam bentuk yang tak terhitung:
ada yang datang lewat ucapan,
ada yang datang lewat pujian,
ada yang datang lewat ketakutan,
ada yang datang lewat janji cepat,
ada yang datang lewat rasa kagum kepada manusia,
ada yang datang lewat ilmu tanpa adab,
ada yang datang lewat kelembutan yang membuat hati lupa kepada Alloh.
Maka jumlah yang sangat banyak itu bukan untuk dihitung satu per satu,
tetapi untuk disadari:
selama manusia masih punya nafsu,
selama hati masih bisa kagum buta,
selama lisan masih mudah menuduh,
selama ilmu masih bisa membuat sombong,
maka pintu pembelokan masih harus dijaga.
Karena itu maung bodas dalam Qitab ini dibuat terikat menghadap depan.
Menghadap depan artinya tidak lagi sembunyi.
Tidak lagi menyerang dari belakang.
Tidak lagi memakai topeng kelembutan untuk membelokkan.
Tidak lagi memakai rasa takut untuk menguasai manusia.
Ia duduk di bawah pohon.
Ia diam.
Ia kembali pada batasnya.
Kata Maung Setelah Diikat
Maka dalam bahasa hikmah, terdengarlah suara maung bodas:
“Kami telah kembali kepada batas kami.
Kami bukan tuan bagi manusia.
Kami bukan pemilik hati manusia.
Kami bukan jalan pulang manusia.
Kami hanya bayang yang menjadi kuat ketika manusia memberi pintu.”
“Bila manusia takut berlebihan, kami tampak besar.
Bila manusia marah tanpa kendali, kami tampak ganas.
Bila manusia kagum buta kepada sesama manusia, kami masuk lewat pujian.
Bila manusia mengejar cepat tanpa adab, kami masuk lewat janji.”
“Tetapi bila manusia kembali kepada Alloh,
menjaga sholatnya,
menjaga lisannya,
menjaga keluarganya,
menjaga akalnya,
dan menjaga kemanusiaannya,
maka kami tidak lagi punya tempat.”
Lalu maung bodas itu menunduk di bawah pohon.
Bukan kalah oleh manusia,
tetapi tunduk kepada ketetapan Alloh.
Rahasia Pohon Pengembalian Terakhir
Pohon besar dalam Qitab ini adalah lambang asal fitrah.
Akarnya adalah iman.
Batangnya adalah adab.
Daunnya adalah ilmu.
Bunganya adalah rahmat.
Buahnya adalah kemanusiaan.
Orang yang akarnya kuat tidak mudah roboh.
Orang yang batangnya lurus tidak mudah membelok.
Orang yang daunnya teduh tidak mudah membakar orang lain.
Orang yang bunganya harum tidak perlu memaksa orang mencium wanginya.
Orang yang buahnya matang tidak perlu berteriak bahwa dirinya tinggi.
Maka manusia yang kembali kepada fitrah
akan tampak dari akhlaknya.
Bukan dari banyaknya cerita gaib.
Bukan dari tingginya pengakuan.
Bukan dari kerasnya ucapan.
Bukan dari lembutnya suara semata.
Tetapi dari buahnya:
apakah ia menenangkan,
apakah ia jujur,
apakah ia rendah hati,
apakah ia menjaga amanah,
apakah ia tidak memecah manusia,
apakah ia mengajak kepada Alloh,
apakah ia membuat manusia semakin manusia.
Penutup Pengikatan
Maka tali emas ditarik bukan untuk menyakiti.
Tali emas dikencangkan bukan untuk menyombongkan diri.
Tali emas menjadi batas agar segala sesuatu kembali pada tempatnya.
Yang guru kembali menjadi guru yang beradab.
Yang murid kembali menjadi murid yang sadar.
Yang ilmu kembali menjadi rahmat.
Yang ucapan kembali menjadi jujur.
Yang lembut kembali menjadi kasih.
Yang tegas kembali menjadi penjagaan.
Yang manusia kembali menjadi manusia.
Dan segala yang bukan urusan manusia,
dikembalikan kepada Alloh.
Sebab manusia tidak diberi tugas menguasai yang gaib.
Manusia diberi tugas menjaga amanah dirinya.
Menjaga hati.
Menjaga lisan.
Menjaga sholat.
Menjaga keluarga.
Menjaga rezeki halal.
Menjaga akhlak.
Menjaga agar ilmu tidak berubah menjadi kesombongan.
Pesan Terakhir untuk yang Lemas, Takut, atau Sakit
Apabila ada yang setelah mendengar perkara ini merasa lemas, takut, bingung, atau sakit,
jangan langsung dibawa kepada sangkaan yang menakutkan.
Tenangkan hati.
Duduk pelan.
Minum air.
Tarik napas.
Baca dzikir perlindungan.
Istirahatkan badan.
Kembalikan pikiran kepada Alloh.
Sebab rasa takut yang dipelihara bisa membuat badan ikut lemah.
Pikiran yang terlalu berat bisa membuat dada sesak.
Kurang tidur bisa membuat tubuh jatuh.
Kaget batin bisa membuat manusia gemetar.
Ilmu hikmah yang benar tidak membuat manusia sembrono.
Ilmu hikmah yang benar membuat manusia lebih tenang, lebih sadar, dan lebih menjaga badan sebagai amanah Alloh.
Doa Penutup Qitab
Yā Alloh,
Dzat Yang Maha Mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi,
kembalikan kami kepada asal fitrah yang Engkau ridhoi.
Jangan biarkan kelembutan menjadi tipu daya.
Jangan biarkan ilmu menjadi kesombongan.
Jangan biarkan guru menjadi penguasa hati manusia.
Jangan biarkan murid menjadi penyembah manusia.
Jangan biarkan ucapan manis membelokkan jalan pulang kami kepada-Mu.
Yā Alloh,
ikatlah nafsu kami dengan adab.
Ikatlah lisan kami dengan kejujuran.
Ikatlah pikiran kami dengan kejernihan.
Ikatlah hati kami dengan dzikir.
Ikatlah langkah kami dengan ridho-Mu.
Kembalikan yang liar kepada batasnya.
Kembalikan yang gelap kepada terang.
Kembalikan yang palsu kepada terbukanya hakikat.
Kembalikan yang manusia kepada kemanusiaannya.
Manusa jadi manusa.
Manusia jadi manusia.
Kamanungsan jadi kamanungsan.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.
Kunci Terakhir Qitab
Jangan mencari musuh di luar sebelum menata musuh di dalam.
Musuh di dalam itu bernama nafsu, sombong, iri, takut berlebihan, kagum buta, dan ingin menguasai.
Jangan memerintah jin.
Perintahkan diri untuk kembali kepada Alloh.
Jangan menuduh manusia sebagai jelmaan apa pun.
Lihat buah akhlaknya, timbang arahnya, lalu jaga jarak bila perlu dengan tenang dan beradab.
Jangan takut kepada banyaknya maung.
Takutlah bila hati kehilangan cahaya.
Karena saat hati kembali kepada Alloh,
maung yang liar menjadi tenang,
tali emas menjadi batas,
pohon fitrah berdiri tegak,
dan manusia kembali tahu tempatnya:
sebagai hamba Alloh,
sebagai manusia,
sebagai penjaga amanah kemanusiaan.
TAMMAT LEMBAR QITAB
QITAB KHZALLI ALLAM HAZFIQOLLAQQUM MULLOH
ditutup dengan satu kalimat cahaya:
“Segala yang bukan milik manusia, kembalikan kepada Alloh.
Segala yang menjadi amanah manusia, rawat dengan adab.
Sebab puncak ilmu bukan menguasai yang gaib,
tetapi menjadi manusia yang benar-benar manusia di hadapan Alloh.”

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.