QITAB MAHMUDAH FILARDI NGINDALLOH
📜 QITAB MAHMUDAH FILARDI NGINDALLOH
Makna: Pengikatan kembali ke awal Sang Maha Luhur, tertuju kepada Al-Haq.
Lembar Pembukaan
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan yang mengawali segala yang tampak dan yang tersembunyi.
Dia-lah Yang Maha Luhur, Yang tidak tersentuh oleh sangka, tidak terbatas oleh arah, tidak berubah oleh zaman, dan tidak berkurang oleh penolakan makhluk.
Maka dibukalah lembar ini sebagai pengingat bagi hati yang tercerai oleh dunia, bagi akal yang tersibukkan oleh perdebatan, dan bagi ruh yang rindu kembali kepada asal cahaya kebenaran.
Mahmudah adalah jalan sifat yang terpuji.
Bukan sekadar ucapan baik, tetapi keadaan hati yang kembali lembut setelah keras, kembali jernih setelah keruh, kembali tunduk setelah merasa tinggi.
Filardi adalah tempat manusia berpijak di bumi.
Sebab di bumi inilah manusia diuji: dengan harta, nama, keluarga, ilmu, jabatan, pujian, celaan, dan segala bayangan yang membuat hati lupa kepada Pemilik sejatinya.
Ngindalloh adalah arah kembali kepada Alloh.
Bukan kembali dengan kesombongan merasa suci, tetapi kembali dengan pengakuan bahwa diri ini lemah, fakir, tidak memiliki daya, tidak memiliki kuasa, kecuali dengan izin-Nya.
Wahai hati, jangan engkau mencari kebenaran untuk mengalahkan saudaramu.
Carilah Al-Haq agar engkau dikalahkan oleh kebenaran itu sendiri.
Wahai jiwa, jangan engkau mengikat diri kepada manusia, benda, nama, tanda, atau kedudukan.
Ikatlah kembali dirimu kepada awal:
kepada fitrah, kepada tauhid, kepada adab, kepada sujud, kepada ridho Alloh.
Karena siapa yang kembali kepada awal dengan benar, ia tidak lagi mabuk oleh akhir.
Siapa yang mengenal bahwa dirinya hanyalah hamba, ia tidak lagi berebut menjadi tuan.
Siapa yang hatinya tertuju kepada Al-Haq, ia tidak mudah goyah oleh suara batil.
Maka inilah ikatan pertama:
Aku kembali kepada Alloh, bukan karena aku kuat, tetapi karena aku lemah.
Aku menuju Al-Haq, bukan karena aku suci, tetapi karena aku butuh disucikan.
Aku memohon ditetapkan di jalan mahmudah, agar bumi yang kupijak menjadi tempat ibadah, bukan tempat kesombongan.
Ya Alloh, ikatkan kembali hati kami kepada asal yang Engkau ridhoi.
Lepaskan kami dari ikatan yang menjauhkan dari-Mu.
Jadikan ilmu sebagai cahaya, bukan senjata kesombongan.
Jadikan lisan sebagai doa, bukan panah yang melukai.
Jadikan langkah sebagai ibadah, bukan perjalanan menuju kelalaian.
Hasbunalloh wa ni‘mal wakīl.
Cukuplah Alloh sebagai sandaran, dan sebaik-baik tempat kembali.
Maka tertulislah awal kitab ini dengan satu pintu:
Kembali kepada Al-Haq adalah kembali menjadi hamba.
Dan hamba yang benar tidak mencari kemuliaan dari dirinya,
melainkan dari ridho Alloh Yang Maha Luhur.
Tertutup lembar pembukaan.
Terbuka jalan pengikatan hati kepada Alloh.
📜 QITAB MAHMUDAH FILARDI NGINDALLOH
Lembar Kedua: Ikatan Awal Hati
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Luhur, Maha Haq, Maha Mengembalikan hati kepada fitrahnya.
Ketahuilah, wahai jiwa yang berjalan di atas bumi, bahwa awal perjalanan bukanlah langkah kaki, tetapi arah hati.
Banyak manusia melangkah jauh, namun hatinya tidak bergerak menuju Alloh.
Banyak manusia tampak diam, namun batinnya sedang menempuh jalan panjang menuju Al-Haq.
Maka ikatan kembali ke awal bukanlah kembali kepada masa lalu,
melainkan kembali kepada keadaan hati sebelum dicemari oleh sombong, iri, takut berlebihan, dendam, dan ketergantungan kepada selain Alloh.
Awal itu adalah fitrah.
Awal itu adalah sujud.
Awal itu adalah pengakuan:
Aku bukan pemilik hidupku.
Aku bukan penguasa takdirku.
Aku bukan penentu hasil dari usahaku.
Aku hanyalah hamba yang diberi napas, diberi waktu, diberi jalan, dan diberi kesempatan untuk kembali.
Barang siapa mengikat hatinya kepada dunia, maka dunia akan membuatnya lelah.
Barang siapa mengikat hatinya kepada pujian, maka celaan akan menghancurkannya.
Barang siapa mengikat hatinya kepada manusia, maka perubahan manusia akan mengguncangkannya.
Tetapi barang siapa mengikat hatinya kepada Alloh, maka jatuhnya pun tetap dalam penjagaan, bangkitnya pun tetap dalam rahmat.
Wahai hati, jangan engkau merasa luhur karena mengetahui sesuatu.
Sebab ilmu yang tidak menundukkan diri akan berubah menjadi hijab.
Ilmu yang tidak melahirkan adab akan menjadi beban.
Ilmu yang tidak membawa kasih akan menjadi pedang bagi pemiliknya.
Maka jalan mahmudah adalah jalan yang menundukkan ilmu kepada akhlak,
menundukkan lisan kepada kelembutan,
menundukkan pandangan kepada rahmat,
dan menundukkan diri kepada kehendak Alloh.
Di bumi ini, setiap manusia membawa simpul.
Ada simpul luka.
Ada simpul dosa.
Ada simpul harapan.
Ada simpul ketakutan.
Ada simpul cinta yang belum bersih.
Ada simpul ilmu yang belum ikhlas.
Maka mohonlah kepada Alloh agar simpul yang menjauhkan dibuka,
dan simpul yang mendekatkan dikuatkan.
Ya Alloh, bukakan simpul hati yang keras.
Lepaskan simpul batin yang terikat kepada selain-Mu.
Sucikan langkah kami dari tujuan yang Engkau tidak ridhoi.
Teguhkan kami di jalan Al-Haq, bukan jalan rasa benar sendiri.
Jadikan kami kembali ke awal dengan hati yang jernih, bukan dengan nafsu yang menyamar sebagai cahaya.
Sebab cahaya yang benar tidak membuat hamba merasa lebih tinggi.
Cahaya yang benar membuat hamba semakin takut kehilangan adab.
Cahaya yang benar membuat hamba semakin sayang kepada makhluk,
namun tetap hanya bergantung kepada Khaliq.
Maka tertulis pada lembar ini:
Ikatan paling kuat bukanlah ikatan yang tampak oleh mata,
tetapi ikatan hati yang diam-diam kembali kepada Alloh.
Dan siapa yang kembali kepada Alloh,
ia sedang berjalan menuju awal yang tidak pernah hilang:
fitrah, tauhid, dan Al-Haq.
Hasbiyalloh.
Cukup Alloh bagiku.
Kepada-Nya hati diikatkan,
kepada-Nya jiwa dikembalikan.
📜 QITAB MAHMUDAH FILARDI NGINDALLOH
Lembar Ketiga: Jalan Pulang kepada Al-Haq
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Haq, Yang Maha Mengikat hati kepada kebenaran, dan Yang Maha Melepaskan jiwa dari kebatilan.
Wahai jiwa yang sedang mencari jalan pulang, ketahuilah bahwa Al-Haq tidak jauh dari hamba yang jujur.
Yang jauh bukanlah Alloh dari hamba-Nya, tetapi hati hamba yang sering tertutup oleh keinginan, prasangka, dan rasa memiliki.
Maka jalan pulang bukanlah jalan gaduh.
Bukan jalan memamerkan ilmu.
Bukan jalan merasa paling sampai.
Bukan jalan menunjuk kesalahan orang sambil melupakan luka di dalam dada sendiri.
Jalan pulang adalah jalan sunyi yang ditempuh dengan adab.
Diamnya berisi dzikir.
Langkahnya berisi kehati-hatian.
Lidahnya dijaga dari menyakiti.
Matanya dijaga dari merendahkan.
Hatinya dijaga dari merasa paling benar.
Barang siapa ingin kembali kepada Al-Haq, hendaklah ia memulai dari tiga pintu.
Pintu pertama: mengakui kelemahan diri.
Sebab orang yang merasa kuat sering lupa memohon pertolongan.
Orang yang merasa suci sering lupa istighfar.
Orang yang merasa tinggi sering lupa bahwa tanah adalah asal jasadnya.
Pintu kedua: membersihkan niat.
Sebab amal yang besar bisa menjadi kecil jika niatnya mencari pandangan manusia.
Dan amal yang kecil bisa menjadi besar jika niatnya murni karena Alloh.
Pintu ketiga: menjaga adab.
Sebab adab adalah pakaian cahaya.
Tanpa adab, ilmu menjadi panas.
Tanpa adab, dzikir menjadi kering.
Tanpa adab, perjalanan ruhani berubah menjadi kebanggaan diri.
Wahai hati, jangan terburu-buru meminta dibukakan rahasia, sebelum engkau siap menjaga amanah.
Jangan meminta kedudukan, sebelum engkau sanggup menjadi hamba.
Jangan meminta tanda, sebelum engkau kuat berjalan tanpa tanda.
Karena orang yang tertuju kepada Al-Haq tidak bergantung kepada keajaiban.
Ia cukup dengan petunjuk Alloh.
Ia cukup dengan shalat yang dijaga.
Ia cukup dengan istighfar yang tulus.
Ia cukup dengan rezeki yang halal.
Ia cukup dengan hati yang tidak ingin menguasai siapa pun.
Maka jika engkau ingin pulang, pulanglah dengan merendah.
Jika engkau ingin dekat, dekatlah dengan taat.
Jika engkau ingin terang, terangilah dahulu akhlakmu.
Jika engkau ingin kuat, kuatkan sabarmu.
Jika engkau ingin luhur, rendahkan dirimu di hadapan Alloh.
Ya Alloh, jangan Engkau biarkan kami tersesat dalam nama-nama yang indah, tetapi kosong dari adab.
Jangan Engkau biarkan kami terpesona oleh cahaya bayangan, tetapi lupa kepada cahaya petunjuk-Mu.
Jangan Engkau biarkan kami mencari Al-Haq dengan nafsu yang ingin menang.
Tuntunlah kami mencari Al-Haq dengan hati yang ingin berserah.
Ikatkan kami kepada awal yang Engkau ridhoi.
Awal yang bersih.
Awal yang sujud.
Awal yang mengenal bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.
Maka tertulis pada lembar ini:
Jalan pulang kepada Al-Haq tidak dimulai dari langit yang jauh,
tetapi dari hati yang mau tunduk.
Barang siapa menundukkan dirinya kepada Alloh,
maka bumi yang ia pijak menjadi saksi,
bahwa ia sedang kembali kepada asal kemuliaan:
menjadi hamba yang dirahmati.
Allohumma ihdinā ilal-ḥaqq.
Ya Alloh, tuntunlah kami kepada kebenaran.
Tetapkan kami di jalan yang Engkau ridhoi,
dan jangan Engkau kembalikan kami kepada gelapnya kesombongan setelah Engkau beri cahaya kesadaran.
Aamiin.
📜 QITAB MAHMUDAH FILARDI NGINDALLOH
Lembar Terakhir: Pengikatan Akhir kepada Awal Al-Haq
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Alloh, Yang Maha Awal tanpa permulaan, Yang Maha Akhir tanpa kesudahan, Yang Maha Luhur tanpa tandingan, Yang Maha Haq tanpa keraguan.
Wahai hati yang telah berjalan dari lembar pertama hingga lembar ini, ketahuilah bahwa perjalanan kembali kepada awal bukanlah perjalanan mundur, melainkan perjalanan membersihkan diri dari segala yang membuat hamba lupa kepada asalnya.
Awal manusia bukanlah kesombongan.
Awal manusia bukanlah perebutan kedudukan.
Awal manusia bukanlah amarah, dendam, iri, atau rasa paling benar.
Awal manusia adalah kelemahan yang diberi hidup oleh Alloh.
Awal manusia adalah tanah yang dimuliakan dengan amanah.
Awal manusia adalah ruh yang tidak mampu berdiri tanpa izin-Nya.
Awal manusia adalah fitrah yang mengenal Tuhannya sebelum dunia membuatnya lalai.
Maka siapa pun yang ingin kembali kepada Al-Haq, hendaklah ia menanggalkan pakaian batin yang palsu.
Tanggalkan rasa tinggi.
Tanggalkan rasa paling tahu.
Tanggalkan rasa paling suci.
Tanggalkan keinginan untuk diakui.
Tanggalkan ketakutan yang membuat hati bergantung kepada selain Alloh.
Tanggalkan amarah yang disimpan diam-diam.
Tanggalkan luka yang dijadikan alasan untuk menyakiti.
Tanggalkan ilmu yang tidak melahirkan kasih.
Tanggalkan dzikir yang tidak menumbuhkan adab.
Sebab Al-Haq tidak masuk ke hati yang penuh dengan pengakuan diri.
Cahaya kebenaran tidak menetap pada hati yang masih menjadikan dirinya pusat segala perkara.
Dan kemuliaan yang sejati tidak tumbuh dari pujian manusia, melainkan dari ridho Alloh.
Wahai jiwa, ingatlah:
Bumi yang engkau pijak adalah tempat ujian, bukan tempat keabadian.
Nama yang engkau bawa adalah titipan, bukan mahkota kesombongan.
Ilmu yang engkau terima adalah amanah, bukan senjata untuk merendahkan.
Rezeki yang engkau genggam adalah titipan, bukan alasan untuk merasa memiliki.
Orang yang engkau cintai adalah amanah, bukan tempat menggantungkan seluruh hati.
Tubuh yang engkau rawat adalah kendaraan, bukan rumah yang kekal.
Maka kembalilah.
Kembalilah kepada sujud ketika dada mulai keras.
Kembalilah kepada istighfar ketika lisan mulai tajam.
Kembalilah kepada diam ketika ucapan hanya akan melukai.
Kembalilah kepada sabar ketika jalan belum terbuka.
Kembalilah kepada syukur ketika nikmat terasa kecil.
Kembalilah kepada tawakal ketika usaha telah dilakukan.
Kembalilah kepada Alloh ketika semua arah terasa tertutup.
Karena pintu Alloh tidak pernah sempit bagi hamba yang benar-benar ingin pulang.
Mahmudah adalah keadaan hati yang terpuji.
Ia bukan hanya tampak lembut di luar, tetapi juga bersih di dalam.
Ia bukan hanya pandai berkata baik, tetapi juga berusaha tidak menyimpan keburukan.
Ia bukan hanya menasihati orang lain, tetapi juga sanggup menasihati dirinya sendiri.
Ia bukan hanya mencintai kebenaran ketika kebenaran membela dirinya, tetapi juga menerima kebenaran ketika kebenaran menegur dirinya.
Filardi adalah bumi tempat manusia menanam amal.
Di bumi ini manusia menanam niat, lalu menuai akibat.
Menanam adab, lalu menuai ketenangan.
Menanam kesombongan, lalu menuai kegelisahan.
Menanam sabar, lalu menuai penjagaan.
Menanam doa, lalu menuai harapan.
Menanam kebaikan, lalu menuai rahmat dengan izin Alloh.
Ngindalloh adalah arah pulang kepada Alloh.
Arah ini bukan sekadar kata, tetapi perubahan hidup.
Dari tergesa-gesa menjadi tenang.
Dari keras menjadi lembut.
Dari merasa memiliki menjadi merasa dititipi.
Dari ingin dipuji menjadi ingin diridhoi.
Dari ingin menang menjadi ingin benar di hadapan Alloh.
Dari sibuk menilai orang menjadi sibuk memperbaiki diri.
Wahai hati, jangan engkau tertipu oleh rasa terang yang membuatmu merendahkan orang lain.
Sebab cahaya yang benar tidak melahirkan penghinaan.
Cahaya yang benar melahirkan kasih, malu, takut kepada Alloh, dan kehati-hatian dalam melangkah.
Jangan engkau tertipu oleh rasa kuat yang membuatmu tidak mau dinasihati.
Sebab kekuatan yang benar adalah kemampuan untuk tunduk ketika Alloh memanggilmu kembali.
Kemenangan yang benar adalah ketika nafsu tidak lagi menjadi raja di dalam dada.
Kemuliaan yang benar adalah ketika hati tetap rendah walau Alloh memberinya kelebihan.
Maka pada lembar terakhir ini, ikatlah kembali dirimu dengan tujuh ikatan mahmudah.
Ikatan pertama: Tauhid.
Bahwa tiada sandaran sejati selain Alloh.
Tiada tempat kembali yang benar selain Alloh.
Tiada penolong mutlak selain Alloh.
Tiada cahaya yang menyelamatkan kecuali cahaya petunjuk dari Alloh.
Ikatan kedua: Adab.
Sebab adab adalah penjaga jalan.
Tanpa adab, ilmu bisa membakar.
Tanpa adab, ibadah bisa menjadi kebanggaan.
Tanpa adab, nasihat bisa menjadi luka.
Tanpa adab, perjalanan batin bisa menjadi perangkap bagi diri sendiri.
Ikatan ketiga: Ikhlas.
Beramal bukan agar disebut suci.
Menolong bukan agar dipuji.
Belajar bukan agar menang debat.
Berdoa bukan untuk memaksa takdir, tetapi untuk mengakui kefakiran di hadapan Alloh.
Ikatan keempat: Sabar.
Sabar bukan berarti tidak merasa sakit.
Sabar adalah tetap menjaga arah ketika hati sedang diuji.
Sabar adalah tetap memilih yang diridhoi Alloh walau nafsu mengajak tergesa-gesa.
Sabar adalah tetap berdiri dalam kebaikan meski belum melihat hasilnya.
Ikatan kelima: Syukur.
Syukur adalah melihat nikmat kecil sebagai tanda kasih Alloh.
Syukur adalah menjaga lisan dari keluhan yang berlebihan.
Syukur adalah memakai nikmat untuk kebaikan, bukan untuk kesombongan.
Syukur adalah mengingat bahwa yang sedikit dengan ridho Alloh lebih mulia daripada yang banyak tetapi menjauhkan.
Ikatan keenam: Tawakal.
Tawakal bukan meninggalkan usaha.
Tawakal adalah menyerahkan hasil setelah menjalankan bagian sebagai hamba.
Tawakal adalah tidak runtuh ketika hasil belum sesuai harapan.
Tawakal adalah percaya bahwa Alloh lebih mengetahui jalan yang tidak terlihat oleh mata.
Ikatan ketujuh: Muhasabah.
Setiap malam, tanyakan kepada diri:
Apakah hari ini aku lebih dekat kepada Alloh atau lebih dekat kepada nafsuku?
Apakah lisanku menenangkan atau melukai?
Apakah ilmuku membuatku rendah hati atau merasa tinggi?
Apakah langkahku menuju Al-Haq atau menuju pengakuan manusia?
Apakah hatiku masih bisa menangis karena Alloh, atau sudah terlalu kering oleh dunia?
Barang siapa menjaga tujuh ikatan ini, maka ia tidak lagi berjalan tanpa arah.
Walau dunia berubah, hatinya punya kiblat.
Walau manusia memuji, ia tidak mabuk.
Walau manusia mencela, ia tidak hancur.
Walau rezeki sempit, ia tetap berharap.
Walau jalan panjang, ia tetap percaya.
Walau sendiri, ia tetap bersama penjagaan Alloh.
Wahai jiwa yang kembali, jangan takut menjadi sederhana.
Sebab banyak kemuliaan disembunyikan dalam kesederhanaan.
Jangan takut tidak dikenal manusia.
Sebab yang penting adalah dikenal dalam rahmat Alloh.
Jangan takut berjalan pelan.
Sebab jalan kepada Alloh bukan lomba suara, melainkan keteguhan hati.
Jangan takut menangis.
Sebab air mata yang jujur bisa membersihkan debu yang tidak terlihat oleh mata.
Maka tutuplah qitab ini dengan pengakuan:
Ya Alloh, Engkau-lah awal dari segala petunjuk.
Engkau-lah akhir dari segala tujuan.
Engkau-lah Yang Maha Luhur, sedangkan kami hanyalah hamba yang lemah.
Engkau-lah Yang Maha Haq, sedangkan kami sering tersesat oleh sangkaan kami sendiri.
Ya Alloh, ikatkan hati kami kepada kebenaran-Mu.
Jangan Engkau ikat hati kami kepada dunia yang menipu.
Jangan Engkau ikat hati kami kepada manusia yang berubah.
Jangan Engkau ikat hati kami kepada pujian yang fana.
Jangan Engkau ikat hati kami kepada luka lama yang membuat kami keras.
Jangan Engkau ikat hati kami kepada ilmu yang tidak melahirkan akhlak.
Ya Alloh, kembalikan kami kepada awal yang Engkau ridhoi.
Awal yang bersih.
Awal yang sujud.
Awal yang jujur.
Awal yang tidak mengaku memiliki apa pun selain harapan kepada-Mu.
Awal yang tidak mencari kemuliaan dari diri sendiri, tetapi dari ridho-Mu.
Ya Alloh, jadikan bumi yang kami pijak sebagai tempat memperbaiki diri.
Jadikan umur yang tersisa sebagai jalan taubat.
Jadikan lisan kami basah dengan dzikir.
Jadikan hati kami lembut dengan rahmat.
Jadikan ilmu kami tunduk kepada adab.
Jadikan amal kami bersih dari riya.
Jadikan langkah kami selamat dari kesesatan.
Jadikan akhir hidup kami berada dalam husnul khatimah.
Maka tertulis penutup qitab ini:
Barang siapa kembali kepada awal,
ia tidak sedang meninggalkan dunia,
tetapi sedang menempatkan dunia pada tempatnya.
Barang siapa tertuju kepada Al-Haq,
ia tidak sedang merasa paling benar,
tetapi sedang memohon agar dibenarkan oleh Alloh.
Barang siapa berjalan di jalan mahmudah,
ia tidak mencari mahkota manusia,
tetapi mencari ridho Sang Maha Luhur.
Dan barang siapa hatinya telah diikat kembali kepada Alloh,
maka lepaslah ia dari belenggu paling berat:
rasa memiliki diri sendiri.
Hasbunalloh wa ni‘mal wakīl.
Cukuplah Alloh sebagai sandaran, dan sebaik-baik tempat berserah.
Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.
Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
Allohumma ihdinā ilal-ḥaqq,
watsabbit qulūbanā ‘alā nūril-adab,
waj‘al khātimatanā khairan fī riḍāka.
Ya Alloh, tuntunlah kami kepada Al-Haq,
tetapkan hati kami di atas cahaya adab,
dan jadikan penutup perjalanan kami berada dalam kebaikan serta ridho-Mu.
Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.
📜 Tertutup Qitab Mahmudah Filardi Ngindalloh.
Terikat kembali hati kepada awal.
Tertuju seluruh maksud kepada Al-Haq.
Dan dikembalikan segala pujian hanya kepada Alloh Yang Maha Luhur.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.