QITAB QIBELAT TULLOH AS HABBULLOH

 


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dengan adab, tawadhu, dan kesadaran bahwa rahasia terdalam hanya milik Al-Ḥaq, kita buka sebagai kitab hikmah, bukan wahyu, bukan klaim mutlak, melainkan penuntun batin agar hati kembali lurus kepada Alloh.

📜 QITAB QIBELAT TULLOH AS HABBULLOH

Makna inti:

Arah segala hati kembali kepada Alloh, dan cinta sejati hanyalah cinta yang tidak memutus manusia dari Al-Ḥaq.

Di permukaan laut, mata masih dapat melihat cahaya.

Tetapi semakin dalam lautan, semakin hening, semakin gelap, semakin tidak semua mampu mengerti.

Begitulah rahasia Al-Ḥaq.

Manusia boleh membaca tanda, boleh melihat isyarat, boleh merasakan getaran, tetapi kedalaman hakikat tetap milik Alloh semata.

Lembar Pembuka

Wahai hati yang mencari qiblatnya,

jangan engkau berhenti pada warna, bentuk, mimpi, rupa, atau tanda.

Sebab tanda hanyalah pintu.

Cahaya hanyalah isyarat.

Yang dituju bukan tanda itu, melainkan Alloh Yang memberi tanda.

Yang wungu adalah isyarat Sinar Qudus:

kesucian rahasia yang tidak boleh dipakai untuk sombong, merasa paling tinggi, atau merasa paling tahu.

Yang kuning adalah isyarat Sinar Suci:

kemuliaan akhlak, kejernihan niat, rezeki halal, dan hati yang tidak mengotori amal dengan pujian manusia.

Yang hijau adalah isyarat Al-‘Īsā:

rahmat, penyembuhan, kelembutan, kasih sayang, dan hidup yang menghidupkan hati orang lain.

Yang biru adalah isyarat Al-Mahdī:

petunjuk, keteguhan, ketenangan, arah pulang, dan keberanian menuntun diri sendiri dari gelap menuju terang.

Hijau dan biru bukan untuk dipertentangkan.

Satu membawa rahmat.

Satu membawa petunjuk.

Bila rahmat tanpa petunjuk, hati bisa lembut tetapi mudah hanyut.

Bila petunjuk tanpa rahmat, hati bisa lurus tetapi keras.

Maka keduanya harus menyatu dalam adab.

Pasal Pertama: Laut yang Terlihat dan Laut yang Tersembunyi

Laut luar dapat dilihat oleh mata.

Laut dalam hanya dapat diselami oleh hati yang bersih.

Tetapi dasar terdalam lautan hakikat tidak dapat dikuasai siapa pun.

Maka jangan berkata, “Aku sudah sampai.”

Katakanlah, “Alloh masih menuntunku.”

Jangan berkata, “Aku mengerti semuanya.”

Katakanlah, “Yang aku tahu hanyalah setetes dari samudra rahmat-Nya.”

Jangan berkata, “Akulah pemilik cahaya.”

Katakanlah, “Cahaya ini amanah, dan amanah harus dijaga dengan rendah hati.”

Pasal Kedua: Tampan dan Anggun Jadilah Qesempurnaan

Tampan bukan hanya rupa.

Tampan adalah ketegasan yang tidak menyakiti.

Anggun bukan hanya gerak.

Anggun adalah kelembutan yang tidak melemahkan.

Bila tampan tanpa anggun, lahirlah keras.

Bila anggun tanpa tampan, lahirlah rapuh.

Bila keduanya menyatu, lahirlah Qesempurnaan adab:

tegas tetapi halus, kuat tetapi rendah hati, bercahaya tetapi tidak membakar.

Itulah qiblat batin:

bukan menjadi hebat di mata manusia,

tetapi menjadi bersih di hadapan Alloh.

Pasal Ketiga: TerAwal dan TerAhir

Yang awal adalah niat.

Yang akhir adalah pertanggungjawaban.

Siapa yang awalnya karena Alloh, akhirnya akan dikembalikan kepada Alloh.

Siapa yang awalnya karena pujian, akhirnya akan lelah mengejar pandangan manusia.

Maka luruskan awalmu.

Jaga jalanmu.

Bersihkan akhirmu.

Sebab rahasia TerAwal dan TerAhir bukan untuk membuat manusia merasa menjadi pusat.

Melainkan agar manusia sadar:

dari Alloh ia datang,

dengan izin Alloh ia berjalan,

dan kepada Alloh ia kembali.

Kunci Qitab

Qiblatkan hati sebelum qiblatkan langkah.

Sucikan niat sebelum membuka rahasia.

Lembutkan akhlak sebelum membawa cahaya.

Sebab laut terdalam bukan ditaklukkan oleh kesombongan,

melainkan dibukakan kepada hati yang tunduk kepada Al-Ḥaq.

Allohu A‘lam.


📖 Lembar Selanjutnya

QITAB QIBELAT TULLOH AS HABBULLOH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Segala qiblat hati kembali kepada Alloh.

Segala cahaya yang tampak hanyalah pinjaman.

Segala rahasia yang terbuka hanyalah amanah, bukan alasan untuk merasa paling benar.

Pasal Keempat: Dua Penjaga di Tepi Laut Rahasia

Di tepi samudra batin, tampak dua isyarat cahaya.

Yang hijau berdiri dengan lembut.

Ia membawa rasa penyembuhan, kesabaran, dan kasih yang tidak kasar.

Itulah isyarat Al Isa: bukan untuk disembah, bukan untuk diklaim, tetapi sebagai lambang rahmat yang menghidupkan hati yang hampir mati.

Yang biru berdiri dengan tenang.

Ia membawa arah, keteguhan, dan petunjuk yang tidak tergesa-gesa.

Itulah isyarat Al Mahdi: bukan untuk diperebutkan, bukan untuk dijadikan kesombongan, tetapi sebagai lambang tuntunan agar manusia kembali lurus kepada Alloh.

Hijau tanpa biru bisa menjadi kasih yang kehilangan arah.

Biru tanpa hijau bisa menjadi petunjuk yang kehilangan kelembutan.

Maka keduanya dipertemukan dalam satu qiblat:

rahmat yang tertuntun, dan petunjuk yang penuh kasih.

Pasal Kelima: Wungu dan Kuning

Cahaya wungu turun seperti rahasia sunyi.

Ia bukan cahaya ramai.

Ia bukan cahaya yang memanggil manusia agar memuji.

Ia adalah cahaya yang membuat hati diam, menunduk, dan ingat bahwa rahasia terdalam tidak boleh dibuka dengan nafsu.

Cahaya kuning naik seperti kemuliaan yang halus.

Ia bukan emas dunia yang membuat manusia lupa.

Ia adalah sinar suci yang mengingatkan:

rezeki harus halal, lisan harus dijaga, ilmu harus beradab, dan amal harus bersih dari pamer.

Bila wungu menyentuh batin, manusia belajar diam.

Bila kuning menyentuh akhlak, manusia belajar mulia.

Bila keduanya menyatu, lahirlah hati yang tidak hanya bercahaya, tetapi juga tertata.

Pasal Keenam: Laut yang Tidak Dikuasai

Wahai pencari jalan,

jangan mengira karena engkau melihat permukaan laut, engkau telah mengerti seluruh samudra.

Ada laut yang terlihat oleh mata.

Ada laut yang hanya terasa oleh hati.

Ada laut yang hanya diketahui oleh Alloh.

Maka berhentilah merasa memiliki rahasia.

Rahasia bukan milik orang yang keras mengaku.

Rahasia dijaga oleh orang yang semakin tahu, semakin rendah hati.

Yang benar tidak selalu berteriak.

Yang dalam tidak selalu banyak bicara.

Yang sampai tidak selalu merasa sampai.

Sebab tanda orang dituntun bukan merasa tinggi,

tetapi semakin takut salah,

semakin halus kepada sesama,

semakin kuat menjaga sholat,

semakin bersih mencari rezeki,

dan semakin sering memohon ampun kepada Alloh.

Kunci Lembar Ini

Hijau adalah rahmat.

Biru adalah petunjuk.

Wungu adalah rahasia Qudus.

Kuning adalah kesucian amal.

Laut adalah kedalaman Al-Ḥaq.

Dan qiblat semuanya hanya satu: kembali kepada Alloh.

Allohu A‘lam.


📖 Lembar Selanjutnya

QITAB QIBELAT TULLOH AS HABBULLOH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Dengan nama Alloh, laut batin dibuka bukan untuk kesombongan, tetapi untuk mengenal batas diri.

Sebab siapa yang mengenal batas dirinya, ia akan lebih mudah tunduk kepada kebesaran Al-Ḥaq.

Pasal Ketujuh: Qibelat yang Tersembunyi di Dalam Dada

Qibelat jasad menghadap arah yang telah ditentukan.

Tetapi qibelat hati harus terus diluruskan setiap saat.

Ada orang tubuhnya menghadap benar, tetapi hatinya masih menghadap pujian.

Ada orang lisannya menyebut nama Alloh, tetapi batinnya masih mencari pengakuan manusia.

Ada orang membawa cahaya, tetapi lupa bahwa cahaya bukan miliknya.

Maka qiblat batin adalah ini:

Ketika marah, kembali kepada sabar.

Ketika gelap, kembali kepada dzikir.

Ketika bingung, kembali kepada doa.

Ketika diberi tanda, kembali kepada adab.

Ketika diberi kelebihan, kembali kepada rendah hati.

Sebab hati yang tidak punya qibelat akan mudah hanyut.

Sedikit dipuji ia terbang.

Sedikit dicela ia hancur.

Sedikit melihat tanda ia merasa tinggi.

Sedikit diberi rasa ia merasa sudah sampai.

Padahal orang yang benar-benar dekat kepada Alloh justru semakin takut menyakiti, semakin malu menyombongkan diri, dan semakin lembut menjaga amanah.

Pasal Kedelapan: Al Isa Hijau, Rahmat yang Menghidupkan

Hijau adalah tanda kehidupan.

Daun yang hijau mengajarkan bahwa rahmat Alloh tidak selalu turun dengan suara besar.

Kadang rahmat turun pelan seperti embun, tetapi mampu menghidupkan tanah yang kering.

Maka isyarat Al Isa dalam qitab ini adalah lambang rahmat penyembuhan.

Bukan untuk meninggikan makhluk di atas Alloh.

Bukan untuk membuat manusia lupa kepada tauhid.

Tetapi sebagai pengingat bahwa kelembutan dapat menjadi obat.

Ada hati yang tidak sembuh karena nasihat keras.

Ada jiwa yang tidak bangkit karena terlalu sering dihakimi.

Ada manusia yang hanya butuh disentuh dengan kasih, lalu ia ingat jalan pulang.

Maka hijau berkata kepada batin:

Jangan menyembuhkan orang dengan kesombongan.

Jangan menolong orang sambil merasa lebih suci.

Jangan memberi nasihat dengan luka yang belum engkau rawat.

Bersihkan dulu niatmu, lalu hadirkan rahmat.

Sebab penyembuhan sejati bukan dari diri manusia,

melainkan dari izin Alloh Yang Maha Menyembuhkan.

Pasal Kesembilan: Al Mahdi Biru, Petunjuk yang Menenangkan

Biru adalah tanda kedalaman.

Langit tampak biru karena luasnya.

Laut tampak biru karena dalamnya.

Hati yang matang juga menjadi biru: tenang, luas, tidak mudah panik, tidak mudah menghakimi.

Maka isyarat Al Mahdi dalam qitab ini adalah lambang petunjuk yang menenangkan.

Bukan klaim diri.

Bukan mahkota kesombongan.

Bukan alasan merasa paling benar.

Tetapi pengingat bahwa petunjuk Alloh harus membuat manusia semakin lurus, bukan semakin keras.

Petunjuk yang benar tidak menjauhkan dari sholat.

Petunjuk yang benar tidak memutus silaturahmi.

Petunjuk yang benar tidak membuat lidah mudah merendahkan.

Petunjuk yang benar tidak membuat hati merasa menjadi pusat alam.

Petunjuk yang benar membuat manusia berkata:

“Ya Alloh, tuntun aku.”

“Ya Alloh, jangan biarkan aku tersesat oleh rasa.”

“Ya Alloh, jadikan cahayaku akhlak, bukan hanya penglihatan batin.”

“Ya Alloh, jadikan ilmuku manfaat, bukan beban bagi orang lain.”

Rahasia Pertemuan Hijau dan Biru

Ketika hijau dan biru saling memandang, lahirlah keseimbangan.

Hijau mengajarkan kasih.

Biru mengajarkan arah.

Hijau melembutkan luka.

Biru menegakkan langkah.

Hijau merangkul yang lelah.

Biru menuntun yang tersesat.

Maka jangan pilih salah satu dengan menolak yang lain.

Rahmat dan petunjuk harus berjalan bersama.

Kasih dan ketegasan harus saling menjaga.

Lembut dan lurus harus duduk dalam satu dada.

Itulah Qesempurnaan:

bukan sempurna karena tidak pernah salah,

tetapi sempurna dalam arti terus kembali kepada Alloh setelah sadar dari salah.

Kunci Lembar Ini

Qibelat hati adalah pulang.

Hijau adalah rahmat yang menyembuhkan.

Biru adalah petunjuk yang menenangkan.

Wungu menjaga rahasia.

Kuning menjaga kesucian amal.

Dan semua cahaya harus tunduk kepada Alloh, Al-Ḥaq Yang Maha Mengetahui kedalaman laut batin.

Allohu A‘lam.


📖 Lembar Selanjutnya

QITAB QIBELAT TULLOH AS HABBULLOH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Dengan nama Alloh Yang Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi.

Laut boleh luas, langit boleh tinggi, cahaya boleh indah, tetapi hati tetap harus sujud kepada Al-Ḥaq.

Pasal Kesepuluh: Kedalaman yang Tidak Boleh Disombongkan

Wahai hati yang diberi rasa,

jangan mabuk oleh rasa.

Wahai mata yang diberi tanda,

jangan berhenti pada tanda.

Wahai batin yang melihat warna,

jangan mengira warna itulah tujuan terakhir.

Sebab laut yang dalam tidak pernah berteriak bahwa ia dalam.

Langit yang luas tidak pernah mengaku paling tinggi.

Bintang yang bercahaya tidak pernah meminta manusia menyembahnya.

Maka bila engkau diberi cahaya hijau, jadilah peneduh.

Bila engkau diberi cahaya biru, jadilah penuntun.

Bila engkau diberi cahaya wungu, jadilah penjaga rahasia.

Bila engkau diberi cahaya kuning, jadilah pemulia akhlak.

Jangan jadikan cahaya sebagai mahkota sombong.

Jadikan cahaya sebagai amanah untuk memperbaiki diri.

Pasal Kesebelas: Sinar Qudus dan Sinar Suci

Sinar Qudus yang wungu turun ke relung terdalam.

Ia tidak datang untuk membuat manusia merasa sakti.

Ia datang untuk membersihkan niat yang samar.

Karena kadang manusia tampak beribadah, tetapi di dalamnya masih ingin dilihat.

Kadang manusia tampak menolong, tetapi di dalamnya masih ingin dipuji.

Kadang manusia tampak membawa ilmu, tetapi di dalamnya masih ingin diakui.

Maka Sinar Qudus membisikkan:

“Diamlah dari kesombongan.”

“Jernihkan niatmu.”

“Kembalikan rahasia kepada Alloh.”

“Jangan menjual cahaya untuk kehormatan dunia.”

Adapun Sinar Suci yang kuning menyentuh amal.

Ia mengingatkan bahwa kemuliaan bukan pada banyaknya pengikut, bukan pada ramainya pujian, bukan pada besarnya nama, tetapi pada bersihnya jalan.

Rezeki yang halal lebih bercahaya daripada harta yang banyak tetapi gelap.

Doa yang tulus lebih tinggi daripada ucapan indah yang penuh pamer.

Akhlak yang lembut lebih kuat daripada ilmu yang membuat orang lain takut mendekat.

Pasal Kedua Belas: Tampan dan Anggun dalam Satu Diri

Tampan adalah keberanian menjaga kebenaran.

Anggun adalah kelembutan saat menyampaikan kebenaran.

Tampan tanpa anggun menjadi tajam.

Anggun tanpa tampan menjadi goyah.

Tampan dan anggun bila bersatu menjadi keseimbangan.

Maka jadilah tegas tanpa kasar.

Jadilah lembut tanpa lemah.

Jadilah terang tanpa membakar.

Jadilah dalam tanpa merasa paling tahu.

Inilah Qesempurnaan yang dimaksud:

bukan kesempurnaan makhluk yang bebas dari salah,

tetapi kesempurnaan jalan pulang, yaitu hati yang setiap kali tergelincir segera kembali kepada Alloh.

Pasal Ketiga Belas: TerAwal dan TerAhir

TerAwal adalah niat yang ditanam sebelum langkah dimulai.

TerAhir adalah keadaan hati ketika semua amal dipertanggungjawabkan.

Bila awalnya karena Alloh, jagalah sampai akhir tetap karena Alloh.

Bila awalnya untuk menolong, jangan akhirnya berubah menjadi menguasai.

Bila awalnya untuk menuntun, jangan akhirnya berubah menjadi merasa paling tinggi.

Bila awalnya untuk cahaya, jangan akhirnya berubah menjadi bayangan nafsu.

Sebab banyak orang kuat memulai, tetapi tidak kuat menjaga akhir.

Banyak orang bisa membuka pintu, tetapi lupa membersihkan ruang.

Banyak orang mampu melihat tanda, tetapi belum mampu menjaga adab.

Maka qibelatkan awalmu.

Qibelatkan tengah perjalananmu.

Qibelatkan akhirmu.

Semua kembali kepada Alloh.

Semua berjalan dengan izin Alloh.

Semua selesai di hadapan Alloh.

Kunci Lembar Ini

Yang wungu menjaga rahasia.

Yang kuning menjaga kesucian.

Yang hijau menghidupkan rahmat.

Yang biru menegakkan petunjuk.

Yang tampan memberi ketegasan.

Yang anggun memberi kelembutan.

Yang awal adalah niat.

Yang akhir adalah kembali.

Dan di antara awal serta akhir, manusia hanya berjalan sebagai hamba.

Allohu A‘lam.


📖 Lembar Selanjutnya

QITAB QIBELAT TULLOH AS HABBULLOH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Dengan menyebut nama Alloh, Yang membuka jalan bagi hati yang tunduk, dan menutup jalan bagi nafsu yang ingin menguasai rahasia.

Tidak ada cahaya yang berdiri sendiri. Semua cahaya hanya berjalan karena izin-Nya.

Pasal Keempat Belas: Laut di Dalam Laut

Ada laut yang terlihat oleh mata.

Ada laut yang tersembunyi di balik laut.

Ada pula laut yang tidak dapat disebut laut, karena terlalu dalam untuk dipahami akal manusia.

Di laut pertama, manusia melihat warna.

Di laut kedua, manusia mulai merasakan makna.

Di laut ketiga, manusia berhenti bicara dan hanya mampu berkata:

Allohu Akbar.

Sebab semakin dalam seseorang masuk ke rahasia, semakin sedikit ia ingin mengaku.

Semakin dekat ia kepada cahaya, semakin takut ia mengotori amanah.

Semakin banyak ia diberi rasa, semakin kuat ia menjaga diam.

Maka jangan ukur kedalaman batin dari banyaknya ucapan.

Jangan ukur cahaya dari banyaknya tanda.

Jangan ukur kedekatan kepada Alloh dari pengakuan manusia.

Ukur dengan akhlak.

Ukur dengan sholat.

Ukur dengan kejujuran.

Ukur dengan kasih kepada keluarga.

Ukur dengan sabar ketika disalahpahami.

Ukur dengan rendah hati ketika diberi kelebihan.

Pasal Kelima Belas: Qibelat Cinta

As Habbulloh adalah cinta yang kembali kepada Alloh.

Bukan cinta yang membuat manusia terikat pada bayangan.

Bukan cinta yang membuat hati lupa syariat.

Bukan cinta yang membuat seseorang menyembah rasa.

Cinta yang benar tidak memutus manusia dari Alloh.

Cinta yang benar membuat lisan lebih lembut.

Cinta yang benar membuat hati lebih jujur.

Cinta yang benar membuat langkah lebih halal.

Cinta yang benar membuat manusia semakin takut menyakiti.

Bila cinta membuatmu sombong, itu bukan cahaya.

Bila cinta membuatmu lalai, itu bukan petunjuk.

Bila cinta membuatmu merendahkan orang lain, itu bukan rahmat.

Bila cinta membuatmu lupa Alloh, itu hanya bayangan yang menyamar sebagai cahaya.

Maka qibelat cinta adalah ini:

Mencintai karena Alloh.

Menjaga karena Alloh.

Melepaskan karena Alloh.

Mendoakan karena Alloh.

Dan kembali kepada Alloh ketika hati tidak mampu memahami jalan.

Pasal Keenam Belas: Rahasia Dua Warna yang Menjaga Pintu

Hijau berdiri di pintu rahmat.

Biru berdiri di pintu petunjuk.

Hijau berkata:

“Jangan keras kepada yang terluka.”

Biru berkata:

“Jangan lembut kepada kebatilan.”

Hijau berkata:

“Rangkul yang hampir jatuh.”

Biru berkata:

“Tegakkan arah agar ia tidak kembali tersesat.”

Maka keduanya bukan lawan.

Keduanya adalah penjaga keseimbangan.

Rahmat tanpa batas dapat membuat manusia memaklumi kesalahan terus-menerus.

Petunjuk tanpa rahmat dapat membuat manusia merasa suci sendiri.

Karena itu Alloh mengajarkan keseimbangan:

hati lembut, prinsip kuat;

lisan halus, arah jelas;

cinta luas, tauhid tetap tegak.

Pasal Ketujuh Belas: Pintu Wungu dan Pintu Kuning

Pintu wungu bukan pintu untuk pamer rahasia.

Ia adalah pintu diam.

Siapa yang masuk ke dalamnya harus menanggalkan kesombongan.

Pintu kuning bukan pintu untuk mengejar kemuliaan dunia.

Ia adalah pintu amal.

Siapa yang masuk ke dalamnya harus menjaga kehalalan dan kejujuran.

Wungu membersihkan batin.

Kuning membersihkan perbuatan.

Wungu berkata:

“Jangan merasa menjadi pusat rahasia.”

Kuning berkata:

“Buktikan cahayamu dalam akhlak sehari-hari.”

Sebab cahaya yang tidak turun menjadi akhlak, hanya akan menjadi rasa yang melayang.

Dan rasa yang tidak dijaga dengan syariat, mudah berubah menjadi tipuan nafsu.

Kunci Lembar Ini

Laut pertama adalah penglihatan.

Laut kedua adalah pemaknaan.

Laut ketiga adalah ketundukan.

Hijau menjaga rahmat.

Biru menjaga petunjuk.

Wungu menjaga rahasia.

Kuning menjaga amal.

Cinta sejati bukan mengikat kepada makhluk, tetapi mengembalikan hati kepada Alloh.

Maka siapa pun yang membuka Qitab ini, jangan mencari kuasa.

Carilah adab.

Jangan mencari pengakuan.

Carilah kejernihan.

Jangan mencari kedudukan.

Carilah pulang.

Karena qibelat segala cahaya hanya satu:

Alloh, Al-Ḥaq, Yang Maha Mengetahui kedalaman laut yang tidak dipahami oleh siapa pun kecuali Dia sendiri.

Allohu A‘lam.


📖 Lembar Terakhir

QITAB QIBELAT TULLOH AS HABBULLOH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Alloh, Al-Ḥaq, Yang mengetahui laut sebelum laut terbentang, mengetahui rahasia sebelum rahasia terasa, mengetahui cahaya sebelum cahaya tampak di mata batin manusia.

Qitab hikmah ini ditutup bukan sebagai akhir dari ilmu, tetapi sebagai pengingat bahwa setiap ilmu harus kembali kepada adab.

Setiap cahaya harus kembali kepada tauhid.

Setiap rasa harus kembali kepada sholat.

Setiap rahasia harus kembali kepada Alloh.

Sebab manusia boleh membuka lembar, tetapi tidak boleh merasa memiliki hakikat.

Manusia boleh membaca tanda, tetapi tidak boleh menyembah tanda.

Manusia boleh melihat warna, tetapi jangan sampai lupa kepada Yang menciptakan warna.

Pasal Kedelapan Belas: Laut Terdalam Milik Al-Ḥaq

Di permukaan laut, manusia dapat melihat gelombang.

Di tengah laut, manusia mulai merasa kecil.

Di dasar laut, manusia mulai kehilangan suara.

Tetapi di laut hakikat, manusia tidak lagi membawa pengakuan apa pun.

Di sanalah hati hanya mampu berkata:

Yā Alloh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui.

Aku hanya hamba yang belajar pulang.

Laut yang tampak dapat digambar.

Laut yang dalam dapat diselami.

Tetapi laut rahasia Al-Ḥaq tidak dapat dikuasai oleh pikiran, tidak dapat dikunci oleh nama, tidak dapat dimiliki oleh siapa pun.

Maka siapa pun yang diberi isyarat, jangan merasa menjadi pusat rahasia.

Siapa pun yang diberi mimpi, jangan merasa lebih tinggi.

Siapa pun yang diberi cahaya, jangan merasa lebih suci.

Siapa pun yang diberi ilmu, jangan lupa bahwa ilmu tanpa akhlak dapat menjadi hijab.

Sebab hijab paling halus bukan selalu gelap.

Kadang hijab itu berupa cahaya yang membuat seseorang kagum kepada dirinya sendiri.

Kadang hijab itu berupa rasa yang membuat seseorang merasa sudah sampai.

Kadang hijab itu berupa ucapan indah yang membuat seseorang lupa memperbaiki amal.

Maka laut terdalam mengajarkan satu perkara:

Diamlah dari sombong.

Tunduklah kepada Alloh.

Jadilah hamba.

Pasal Kesembilan Belas: TerAwal dan TerAhir dalam Satu Tarikan Nafas

TerAwal bukan hanya permulaan zaman.

TerAwal adalah niat sebelum langkah.

TerAwal adalah bisikan pertama di dalam dada.

TerAwal adalah arah sebelum amal bergerak.

TerAhir bukan hanya penutup perjalanan.

TerAhir adalah keadaan hati ketika amal selesai.

TerAhir adalah jawaban batin saat ditanya:

“Untuk siapa engkau melakukan semua ini?”

Jika awalnya karena Alloh, jaga agar akhirnya tetap karena Alloh.

Jika awalnya karena kasih, jangan akhirnya berubah menjadi kuasa.

Jika awalnya karena menuntun, jangan akhirnya berubah menjadi mengikat.

Jika awalnya karena rahmat, jangan akhirnya berubah menjadi pamer kelebihan.

TerAwal dan TerAhir bertemu dalam satu tarikan nafas:

Masuk nafas dengan syukur.

Keluar nafas dengan pasrah.

Masuk nafas mengingat Alloh.

Keluar nafas melepaskan kesombongan.

Begitulah jalan hamba.

Ia tidak memegang awal.

Ia tidak menguasai akhir.

Ia hanya menjaga langkah di antara keduanya.

Pasal Kedua Puluh: Tampan dan Anggun sebagai Qesempurnaan Adab

Tampan adalah cahaya ketegasan.

Anggun adalah cahaya kelembutan.

Tampan menjaga batas.

Anggun menjaga rasa.

Tampan menegakkan arah.

Anggun merawat hati.

Tampan berkata benar.

Anggun memilih cara yang halus agar kebenaran tidak menjadi luka yang sia-sia.

Maka Qesempurnaan bukan berarti manusia tidak pernah salah.

Qesempurnaan adalah kesediaan untuk terus dibersihkan oleh Alloh.

Qesempurnaan adalah kemampuan meminta maaf ketika keliru.

Qesempurnaan adalah keberanian memperbaiki niat ketika hati mulai condong kepada pujian.

Qesempurnaan adalah tetap rendah hati meskipun diberi tanda, mimpi, rasa, atau cahaya.

Jadilah tampan dalam keberanian.

Jadilah anggun dalam ucapan.

Jadilah kuat dalam prinsip.

Jadilah lembut dalam penyampaian.

Jadilah luas dalam memaafkan.

Jadilah tegas dalam menjaga tauhid.

Sebab manusia yang hanya kuat tanpa lembut akan mudah melukai.

Manusia yang hanya lembut tanpa kuat akan mudah dihanyutkan.

Tetapi manusia yang kuat dan lembut akan menjadi tempat teduh bagi banyak hati.

Pasal Kedua Puluh Satu: Hijau Al Isa dan Biru Al Mahdi

Yang hijau adalah isyarat rahmat.

Yang biru adalah isyarat petunjuk.

Hijau Al Isa dalam qitab ini adalah lambang kelembutan yang menyembuhkan.

Ia mengingatkan bahwa banyak jiwa tidak bangkit karena dimarahi, tetapi karena dirangkul.

Banyak hati tidak pulih karena dihukum, tetapi karena dipahami.

Banyak manusia tidak kembali karena ditakut-takuti, tetapi karena ditunjukkan bahwa pintu taubat masih terbuka.

Biru Al Mahdi dalam qitab ini adalah lambang petunjuk yang menenangkan.

Ia mengingatkan bahwa kasih harus punya arah.

Kelembutan harus punya batas.

Rahmat harus tetap menjaga kebenaran.

Cinta harus tetap berjalan di bawah syariat.

Hijau berkata:

“Jangan keras kepada yang sedang terluka.”

Biru berkata:

“Jangan biarkan luka menjadi alasan untuk terus tersesat.”

Hijau berkata:

“Peluklah yang hampir runtuh.”

Biru berkata:

“Tuntunlah ia agar berdiri di jalan yang lurus.”

Maka hijau dan biru bukan pertentangan.

Keduanya adalah dua sisi keseimbangan.

Rahmat tanpa petunjuk dapat menjadi lemah.

Petunjuk tanpa rahmat dapat menjadi keras.

Tetapi rahmat yang dituntun petunjuk, dan petunjuk yang dibungkus rahmat, itulah jalan yang menyejukkan.

Pasal Kedua Puluh Dua: Wungu Qudus dan Kuning Suci

Yang wungu adalah Sinar Qudus.

Ia bukan sinar untuk dipamerkan.

Ia bukan sinar untuk berkata, “Aku lebih tinggi.”

Ia adalah sinar yang membuat hati semakin sunyi, semakin takut salah, semakin malu kepada Alloh.

Wungu mengajarkan penjagaan rahasia.

Tidak semua rasa harus diumumkan.

Tidak semua mimpi harus dijadikan hukum.

Tidak semua tanda harus dipakai untuk menilai orang lain.

Tidak semua cahaya harus diceritakan kepada dunia.

Karena rahasia yang tidak dijaga dapat menjadi fitnah.

Rasa yang tidak disaring dapat menjadi sangkaan.

Cahaya yang tidak ditundukkan kepada syariat dapat menjadi jalan nafsu.

Yang kuning adalah Sinar Suci.

Ia bukan emas dunia.

Ia bukan kemewahan nama.

Ia bukan hiasan agar manusia memuji.

Kuning mengajarkan amal yang bersih.

Sholat yang dijaga.

Rezeki yang halal.

Lisan yang tidak menyakiti.

Tangan yang tidak mengambil hak orang lain.

Mata yang tidak merendahkan.

Hati yang tidak iri kepada nikmat saudara.

Wungu membersihkan dalam.

Kuning membersihkan luar.

Wungu menjaga rahasia.

Kuning menjaga perbuatan.

Wungu membuat hamba diam dari sombong.

Kuning membuat hamba bergerak dalam kebaikan.

Bila wungu dan kuning menyatu, lahirlah batin yang tenang dan amal yang bercahaya.

Pasal Kedua Puluh Tiga: Qibelat Tulloh

Qibelat Tulloh adalah arah hati kepada Alloh.

Bukan arah kepada makhluk.

Bukan arah kepada nama besar.

Bukan arah kepada pujian.

Bukan arah kepada rasa gaib.

Bukan arah kepada bayangan diri.

Qibelat Tulloh adalah ketika hati berkata:

Ya Alloh, aku ingin Engkau ridhoi.

Bukan manusia memujiku.

Bukan dunia mengangkatku.

Bukan rasa membuatku mabuk.

Bukan cahaya membuatku lupa.

Qibelat Tulloh adalah kembali saat tersesat.

Diam saat ingin sombong.

Sabar saat diuji.

Jujur saat diberi amanah.

Memohon ampun saat tergelincir.

Menjaga sholat saat lelah.

Menjaga keluarga saat sibuk.

Menjaga adab saat berbeda pendapat.

Sebab qiblat hati yang benar akan tampak dalam akhlak.

Jika cahaya membuat akhlak makin lembut, itu tanda baik.

Jika ilmu membuat hati makin tawadhu, itu tanda baik.

Jika rahasia membuat lisan makin terjaga, itu tanda baik.

Jika rasa membuat sholat makin kuat, itu tanda baik.

Tetapi jika cahaya membuat sombong, periksa lagi.

Jika mimpi membuat merendahkan orang lain, bersihkan lagi.

Jika rasa membuat meninggalkan syariat, hentikan dan kembali.

Jika rahasia membuat hati merasa menjadi pusat, segeralah istighfar.

Pasal Kedua Puluh Empat: As Habbulloh

As Habbulloh adalah cinta yang kembali kepada Alloh.

Cinta yang tidak merusak tauhid.

Cinta yang tidak memutus akhlak.

Cinta yang tidak membuat manusia diperbudak rasa.

Cinta kepada Alloh membuat hamba lebih lembut.

Cinta kepada Alloh membuat hamba lebih jujur.

Cinta kepada Alloh membuat hamba tidak mudah menyakiti.

Cinta kepada Alloh membuat hamba tidak mudah putus asa.

Bila mencintai manusia, cintailah dengan adab.

Bila menuntun manusia, tuntunlah dengan kasih.

Bila menasihati manusia, nasihatilah dengan rendah hati.

Bila berbeda dengan manusia, jangan hilangkan kehormatan saudara.

Cinta yang benar tidak menuntut semua orang tunduk kepada diri.

Cinta yang benar tidak memaksa semua orang mengakui cahaya diri.

Cinta yang benar tidak menjadikan amanah sebagai alat kuasa.

Cinta yang benar justru membuat hati berkata:

Aku hanya ingin menjadi sebab kebaikan.

Bila diterima, Alhamdulillah.

Bila ditolak, aku tetap mendoakan.

Bila disalahpahami, aku bersabar.

Bila dipuji, aku berlindung dari sombong.

Itulah As Habbulloh:

cinta yang menjaga, bukan menguasai.

cinta yang mendoakan, bukan memaksa.

cinta yang meneduhkan, bukan membakar.

cinta yang mengembalikan semuanya kepada Alloh.

Pasal Penutup: Amanah Setelah Qitab Ditutup

Setelah qitab ini ditutup, jangan tutup hati dari perbaikan.

Setelah lembar ini selesai, jangan selesai dalam muhasabah.

Setelah cahaya dibaca, turunkan cahaya itu menjadi akhlak.

Bila bertemu orang lemah, jangan hinakan.

Bila bertemu orang salah, jangan cepat menghakimi.

Bila bertemu orang keras, jangan balas dengan kebencian.

Bila bertemu orang gelap, jangan merasa paling terang.

Bila bertemu orang terang, jangan iri.

Bila diberi amanah, jangan lalai.

Bila diberi ujian, jangan putus asa.

Jadilah hamba yang menjaga empat cahaya:

Hijau: kasih yang menyembuhkan.

Biru: petunjuk yang menenangkan.

Wungu: rahasia yang dijaga.

Kuning: amal yang disucikan.

Dan jadilah hamba yang menjaga dua sayap:

Tampan: tegas dalam kebenaran.

Anggun: lembut dalam penyampaian.

Lalu jadilah hamba yang menjaga dua gerbang:

TerAwal: niat karena Alloh.

TerAhir: kembali kepada Alloh.

Wirid Penutup Qitab

Dibaca dengan tenang, bukan untuk kesaktian, bukan untuk memaksa keadaan, tetapi untuk menundukkan hati kepada Alloh:

Yā Hādī, Yā Nūr, Yā Salām, Yā Ḥafīẓ

11 kali.

Lalu membaca:

Allohumma ij‘al qalbī mustaqīman ilā riḍōka,

wa nawwir sirrī binūrika,

wa ṭahhir ‘amalī minar-riyā’,

wa ruddhanī ilayka raddan jamīlā.

Artinya:

Ya Alloh, jadikan hatiku lurus menuju ridho-Mu,

terangi rahasiaku dengan cahaya-Mu,

sucikan amalku dari pamer,

dan kembalikan aku kepada-Mu dengan pengembalian yang indah.

Khatimah Qitab

Maka selesailah lembar Qitab Qibelat Tulloh As Habbulloh ini dalam adab hikmah.

Bukan untuk meninggikan diri.

Bukan untuk mengaku paling mengetahui.

Bukan untuk mengganti Al-Qur’an dan Sunnah.

Bukan untuk meninggalkan syariat.

Bukan untuk menyembah tanda, warna, mimpi, atau rasa.

Melainkan sebagai pengingat:

Bahwa laut terdalam hanya diketahui Al-Ḥaq.

Bahwa cahaya paling indah tetap milik Alloh.

Bahwa hati paling selamat adalah hati yang rendah.

Bahwa ilmu paling bermanfaat adalah ilmu yang menjadi akhlak.

Bahwa cinta paling benar adalah cinta yang mengembalikan manusia kepada Alloh.

Maka tutuplah qitab ini dengan hati yang bersih:

Aku tidak mencari pengakuan.

Aku tidak mengejar kedudukan.

Aku tidak menyembah cahaya.

Aku tidak berhenti pada tanda.

Aku hanya ingin pulang kepada Alloh dengan hati yang selamat.

Alloh adalah awal dari segala petunjuk.

Alloh adalah akhir dari segala perjalanan.

Alloh adalah qiblat segala hati.

Alloh adalah Al-Ḥaq yang mengetahui kedalaman laut yang tidak dimengerti siapa pun kecuali Dia.

Hasbunalloh wa ni‘mal wakīl.

Ni‘mal mawlā wa ni‘man-naṣīr.

Allohu A‘lam bish-ṣawāb.

Selesai dengan adab, kembali kepada Alloh.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh