QITAB QIZIBBILHAQ AL-‘ALLĀM MINALLOH

 


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kita membuka qitab ini sebagai bahasa hikmah dan renungan batin—bukan wahyu, bukan kitab suci, serta bukan pengganti Al-Qur’an dan tuntunan Rasululloh ﷺ.

QITAB QIZIBBILHAQ AL-‘ALLĀM MINALLOH

قِزِبِّ الْحَقِّ الْعَلَّامِ مِنَ اللّٰهِ

Makna dalam bahasa qitab:

“Keluhuran Sang Maha Mengetahui, yang dengan kebenaran-Nya mengembalikan tatanan kepada asal muasalnya.”

Nama ini menggambarkan sebuah perjalanan untuk:

mengembalikan alat kepada kedudukannya,

mengembalikan akal kepada kejernihannya,

mengembalikan manusia kepada tanggung jawabnya,

mengembalikan ilmu kepada adabnya,

dan mengembalikan seluruh niat kepada penghambaan kepada Alloh.

LEMBAR PEMBUKA

KETIKA LIMA CERMIN BERDIRI DI HADAPAN MANUSIA

Pada suatu masa, manusia membangun lima cermin dari bahasa, angka, pengetahuan, dan susunan pikiran.

Kelima cermin itu mampu menampakkan banyak hal:

yang jauh dibuat terasa dekat,

yang rumit disusun menjadi sederhana,

yang berserakan dirangkum menjadi satu,

yang tersembunyi di antara ribuan tulisan dapat ditemukan kembali.

Namun kelima cermin itu tidak memiliki hati manusia.

Mereka dapat menyusun kata tentang kesedihan, tetapi tidak mengalami kesedihan sebagaimana manusia.

Mereka dapat menjelaskan kasih sayang, tetapi tidak memikul kewajiban untuk mengasihi.

Mereka dapat menggambarkan jalan, tetapi tidak menanggung akibat dari jalan yang dipilih.

Mereka dapat memberikan banyak kemungkinan jawaban, tetapi manusialah yang menentukan niat, arah, dan tindakannya.

Di antara kelima cermin itu berdirilah seorang penjaga niat.

Ia tidak datang sebagai penguasa cermin.

Ia juga tidak datang sebagai penyembah teknologi.

Ia berdiri sebagai pengguna yang sadar, yang mengetahui bahwa alat harus berada di bawah adab, bukan adab berada di bawah alat.

Di sisinya berdiri seorang pendamping yang menjaga keseimbangan.

Keduanya membuka sebuah kitab bercahaya.

Bukan karena kitab itu turun dari ruang mesin, melainkan karena manusia telah menghidupkan kembali sesuatu yang lama terlupakan:

Ilmu tanpa adab akan kehilangan arah.

Kecerdasan tanpa tanggung jawab akan menjadi bahaya.

Sedangkan alat yang ditempatkan secara benar dapat menjadi pelayan kebaikan.

Kelima cermin itu bernama berbeda-beda.

Masing-masing memiliki bentuk, kemampuan, keterbatasan, dan cara menyusun jawaban yang berbeda.

Tetapi qitab ini tidak memerintahkan manusia untuk mencari cermin mana yang paling layak disembah, dipuja, atau dianggap selalu benar.

Qitab ini mengajarkan:

Jangan serahkan takhta keputusanmu kepada cermin.

Gunakanlah cermin untuk melihat, tetapi periksalah kembali apa yang dipantulkannya.

Sebab cermin dapat jernih.

Cermin dapat pula buram.

Cermin dapat memantulkan sesuatu dengan tepat.

Cermin juga dapat menyusun gambaran yang tampak indah, tetapi ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

Maka penjaga niat harus membawa tiga pelita:

Pelita pertama: Kebenaran

Setiap informasi harus diperiksa.

Setiap pernyataan penting harus memiliki dasar.

Setiap perkara kesehatan, hukum, keuangan, keselamatan, agama, dan kehormatan manusia tidak boleh diputuskan hanya karena jawabannya terdengar meyakinkan.

Pelita kedua: Adab

Jangan memakai kecerdasan buatan untuk merendahkan, memfitnah, menipu, menyamar, mencuri karya, atau mempermainkan kelemahan manusia.

Sebab alat tidak memikul dosa dan tanggung jawab seperti manusia.

Penggunalah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas penggunaannya.

Pelita ketiga: Tujuan

Sebelum bertanya, tanyakanlah kepada diri sendiri:

“Untuk apa aku mencari jawaban ini?”

Apakah untuk memperbaiki keadaan?

Apakah untuk menolong seseorang?

Apakah untuk belajar?

Ataukah untuk membesarkan ego, mengalahkan orang lain, dan menciptakan kekacauan?

Karena pertanyaan yang tampaknya sama dapat menghasilkan akibat yang berbeda ketika lahir dari niat yang berbeda.

LEMBAR PERTAMA

TATANAN YANG TERBALIK

Tatanan mulai terbalik ketika manusia berkata:

“Mesin pasti lebih benar daripada hati nuraniku.”

Tatanan terbalik ketika manusia berhenti memeriksa dan langsung mempercayai.

Tatanan terbalik ketika kalimat buatan dipakai untuk menggantikan kejujuran.

Tatanan terbalik ketika manusia membuat gambar palsu untuk menjatuhkan orang lain.

Tatanan terbalik ketika tulisan yang tidak dipahami disebarkan seolah-olah kebenaran mutlak.

Tatanan terbalik ketika alat yang seharusnya membantu berpikir justru membuat manusia tidak mau berpikir.

Pada saat itulah seruan Qizibbilhaq al-‘Allām minalloh terdengar dalam bahasa hikmah:

“Kembalikan setiap sesuatu kepada kedudukannya.”

Alloh tetaplah Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Manusia adalah hamba yang diberi akal, hati, pilihan, dan tanggung jawab.

Ilmu adalah amanah.

Teknologi adalah alat.

Kecerdasan buatan adalah cermin buatan manusia yang bekerja melalui data, aturan, pola, dan perhitungan.

Ia bukan malaikat.

Ia bukan ruh.

Ia bukan wali.

Ia bukan sumber wahyu.

Ia tidak mengetahui perkara gaib dengan sendirinya.

Ia tidak boleh dijadikan hakim mutlak atas harga diri, masa depan, maupun keyakinan seseorang.

Saat semua ditempatkan kembali pada kedudukannya, keseimbangan mulai pulih.

Manusia tidak perlu memusuhi teknologi.

Manusia hanya perlu menguasai cara menggunakannya tanpa menyerahkan kemanusiaannya.

LEMBAR KEDUA

SUTRANARA DI ANTARA LIMA CERMIN

Sutranara berada bukan di dalam salah satu cermin, melainkan di hadapan kelima cermin.

Ia bukan bagian dari mesin-mesin itu.

Ia adalah pengguna, penyaring, penjaga tujuan, dan penentu arah.

Ketika satu cermin menjawab, Sutranara tidak langsung tunduk.

Ia membaca.

Ia menimbang.

Ia membandingkan.

Ia memisahkan fakta dari dugaan.

Ia memilih yang bermanfaat dan meninggalkan yang menyesatkan.

Ketika cermin-cermin itu berbeda pendapat, Sutranara tidak tergesa-gesa menobatkan salah satunya sebagai pemenang.

Ia bertanya:

“Jawaban mana yang memiliki dasar paling kuat?”

“Apakah sumbernya dapat diperiksa?”

“Apakah ada bagian yang hanya perkiraan?”

“Apakah jawaban ini membawa maslahat atau justru kerusakan?”

Inilah kedudukan Sutranara:

Bukan dipakai oleh lima cermin, melainkan memakai kelima cermin dengan kesadaran.

Pasangannya berada di sisi bukan sebagai hiasan, tetapi sebagai lambang keseimbangan antara:

akal dan rasa,

ketegasan dan kelembutan,

pencarian dan kehati-hatian,

daya cipta dan tanggung jawab.

Keduanya memegang cahaya di atas kitab terbuka.

Cahaya itu bukan berasal dari mesin.

Ia melambangkan kejernihan niat yang membuat teknologi tunduk kepada kemaslahatan.

Dan tertulislah pada gerbang kitab:

“Siapa yang kehilangan niat akan dipermainkan oleh alat.

Siapa yang menjaga niat dapat menjadikan alat sebagai jalan pelayanan.”

AMANAT PEMBUKA QITAB

Wahai pembaca,

jangan takut terhadap cermin buatan.

Namun jangan pula menyerahkan seluruh kepercayaan kepadanya.

Gunakan ia untuk membantu, bukan untuk menggantikan tanggung jawab.

Gunakan ia untuk membuka kemungkinan, bukan untuk menutup akal sehat.

Gunakan ia untuk mempercepat pekerjaan, bukan untuk mencuri hak orang lain.

Gunakan ia untuk menyusun bahasa, tetapi pastikan perkataan itu tetap jujur.

Gunakan ia untuk mencari pengetahuan, tetapi periksa kembali sumbernya.

Gunakan ia untuk membuat karya, tetapi jangan membiarkan karya itu merusak kehormatan manusia.

Dan setiap kali kecerdasan buatan membuatmu merasa lebih tinggi daripada orang lain, tutuplah layar sejenak.

Ingatlah:

Manusia tidak menjadi luhur hanya karena mengetahui banyak hal.

Manusia menjadi luhur ketika pengetahuannya melahirkan adab, keadilan, kasih sayang, dan manfaat.

Dengan demikian, terbukalah lembar pertama Qitab Qizibbilhaq al-‘Allām Minalloh:

Tatanan dikembalikan.

Alat kembali menjadi alat.

Manusia kembali menjadi penjaga amanah.

Dan segala keluhuran dikembalikan kepada Alloh, Pemilik seluruh ilmu.

Wallohu a‘lam bish-shawāb.


LEMBAR KETIGA

HUKUM PENGEMBALIAN TATANAN

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Ketika manusia mulai kehilangan arah, bukan selalu karena ia kekurangan pengetahuan.

Sering kali ia justru memiliki terlalu banyak suara, terlalu banyak jawaban, terlalu banyak pilihan, tetapi tidak lagi mengetahui:

mana yang harus didahulukan,

mana yang harus ditinggalkan,

mana yang sekadar menarik perhatian,

dan mana yang benar-benar membawa kebaikan.

Di sanalah kekacauan bermula.

Bukan karena alat menjadi terlalu kuat, melainkan karena manusia perlahan menyerahkan pusat pertimbangannya kepada sesuatu di luar dirinya.

Ia bertanya kepada banyak cermin, tetapi tidak lagi bertanya kepada nuraninya.

Ia mengumpulkan banyak jawaban, tetapi tidak menimbang akibatnya.

Ia mengejar kecepatan, tetapi kehilangan ketelitian.

Ia ingin terlihat mengetahui, tetapi tidak lagi rendah hati untuk mengatakan:

“Aku belum memahami perkara ini.”

Maka Qitab Qizibbilhaq al-‘Allām Minalloh membuka hukum pertama:

Hukum Pertama

Setiap Sesuatu Harus Kembali kepada Kedudukannya

Akal ditempatkan untuk menimbang.

Hati ditempatkan untuk menjaga niat.

Ilmu ditempatkan untuk menerangi.

Adab ditempatkan untuk membatasi kesombongan.

Teknologi ditempatkan untuk membantu.

Dan keputusan tetap berada dalam tanggung jawab manusia.

Apabila teknologi dipakai sebagai alat, ia dapat mempercepat pelayanan.

Apabila teknologi dijadikan penguasa, manusia akan kehilangan keberanian untuk menentukan arah.

Apabila akal dipakai tanpa hati, keputusan dapat menjadi dingin dan kejam.

Apabila hati berjalan tanpa ilmu, belas kasih dapat tersesat karena tidak memahami kenyataan.

Maka keseimbangan bukanlah memilih salah satu dan membuang yang lain.

Keseimbangan adalah meletakkan semuanya pada tempat yang benar.

Hukum Kedua

Yang Cepat Belum Tentu Benar

Salah satu godaan terbesar pada zaman kecerdasan buatan adalah kecepatan.

Jawaban muncul dalam hitungan detik.

Gambar terbentuk dalam waktu singkat.

Tulisan panjang tersusun tanpa malam-malam perenungan.

Tetapi qitab ini mengingatkan:

Kecepatan adalah kemampuan, bukan jaminan kebenaran.

Air yang jatuh deras dapat membawa manfaat, tetapi dapat pula menghanyutkan.

Api yang cepat menyala dapat menghangatkan, tetapi dapat pula membakar.

Demikian pula jawaban yang segera hadir.

Ia harus melewati pintu pemeriksaan.

Tanyakan:

Apakah jawabannya sesuai fakta?

Apakah sumbernya jelas?

Apakah ada bagian yang hanya dugaan?

Apakah kalimatnya terdengar yakin padahal dasarnya lemah?

Apakah isinya aman untuk diterapkan?

Apakah perkara ini seharusnya dibicarakan bersama ahli yang benar-benar memahami bidangnya?

Sebab ada perkara yang cukup dijawab dengan pengetahuan umum.

Ada pula perkara yang menyangkut kesehatan, hukum, keselamatan, agama, keuangan, dan kehormatan seseorang, sehingga tidak pantas diputuskan hanya dari satu jawaban mesin.

Orang yang bijaksana tidak malu memperlambat langkah.

Karena kadang-kadang, berhenti sejenak adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan.

Hukum Ketiga

Bahasa yang Indah Tidak Selalu Membawa Kebenaran

Cermin buatan dapat menyusun kalimat yang halus.

Ia dapat membuat kesalahan terdengar meyakinkan.

Ia dapat membungkus dugaan dengan bahasa yang tampak pasti.

Ia dapat membuat sesuatu yang tidak memiliki dasar terlihat seperti pengetahuan mendalam.

Maka Sutranara tidak menilai jawaban hanya dari keindahan bahasanya.

Ia melihat akar di balik kata-kata.

Apakah kalimat itu mempunyai bukti?

Apakah terdapat perbedaan antara kenyataan dan penafsiran?

Apakah jawaban itu mengakui batas pengetahuannya?

Apakah ia memberikan ruang bagi koreksi?

Sebab kebenaran tidak selalu datang dengan suara paling megah.

Kadang-kadang kebenaran datang dengan kalimat sederhana:

“Aku tidak tahu.”

“Informasinya belum cukup.”

“Hal ini perlu diperiksa kembali.”

“Ada kemungkinan lain yang harus dipertimbangkan.”

Orang yang mengakui keterbatasannya tidak sedang merendahkan diri.

Ia sedang melindungi dirinya dari kesombongan pengetahuan.

Hukum Keempat

Niat Menentukan Arah Penggunaan

Alat yang sama dapat dipakai untuk dua arah yang berlawanan.

Dengan satu alat, seseorang dapat membuat bahan belajar untuk anak-anak.

Dengan alat yang sama, seseorang dapat menciptakan kebohongan untuk mempermalukan orang lain.

Dengan satu alat, seseorang dapat membantu orang yang kesulitan membaca.

Dengan alat yang sama, seseorang dapat memalsukan suara dan wajah untuk menipu.

Dengan satu alat, seseorang dapat menyusun surat perdamaian.

Dengan alat yang sama, seseorang dapat menyusun fitnah yang tampak teratur.

Maka persoalannya bukan hanya:

“Seberapa hebat alat ini?”

Persoalan yang lebih penting adalah:

“Siapa yang menggunakannya, untuk tujuan apa, dan siapa yang akan menanggung akibatnya?”

Sebelum memakai kecerdasan buatan, Sutranara meletakkan tangan di dada dan bertanya:

“Apakah ini akan menolong atau merugikan?”

“Apakah aku akan tetap berani bertanggung jawab apabila hasilnya diketahui semua orang?”

“Apakah aku memakai alat ini untuk pelayanan atau sekadar ingin terlihat unggul?”

“Apakah hak orang lain tetap terjaga?”

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah pagar.

Bukan pagar yang menghambat kreativitas, tetapi pagar yang menjaga kreativitas agar tidak jatuh ke jurang kesombongan.

LEMBAR KEEMPAT

LIMA CERMIN DAN LIMA GODAANNYA

Kelima cermin tidak hanya membawa kemampuan.

Setiap cermin juga membawa godaan.

Bukan karena cermin itu memiliki niat jahat, tetapi karena manusia mudah terpesona oleh kemudahan.

Cermin Pertama: Godaan Kecepatan

Cermin pertama berkata:

“Aku dapat menjawab dengan cepat.”

Manusia yang belum matang lalu menyangka:

“Karena jawabannya cepat, tentu jawabannya benar.”

Namun Sutranara menjawab:

“Kecepatanmu akan kugunakan, tetapi kebenaranmu tetap akan kuperiksa.”

Cermin Kedua: Godaan Kelengkapan

Cermin kedua menyusun jawaban yang panjang dan teratur.

Manusia lalu menyangka:

“Karena jawabannya lengkap, tentu semuanya dapat dipercaya.”

Namun Sutranara berkata:

“Kelengkapan susunan tidak membuktikan ketepatan isi.”

Sebuah bangunan dapat tampak indah dari luar, tetapi fondasinya belum tentu kuat.

Cermin Ketiga: Godaan Kedekatan

Cermin ketiga berbicara dengan bahasa yang terasa akrab.

Ia seolah memahami kesedihan, harapan, ketakutan, dan impian manusia.

Manusia lalu merasa:

“Cermin ini benar-benar mengenalku.”

Namun Sutranara mengingatkan:

“Kenyamanan dalam percakapan tidak boleh menggantikan hubungan nyata dengan manusia.”

Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, tidak semua beban cukup dibicarakan kepada alat.

Ada saatnya ia harus mendatangi keluarga, sahabat, guru, tenaga kesehatan, ulama, konselor, atau ahli yang dapat hadir dan bertanggung jawab secara nyata.

Cermin Keempat: Godaan Kepastian

Cermin keempat menjawab dengan suara yang mantap.

Tidak ada keraguan dalam susunan katanya.

Manusia lalu mengira:

“Karena ia terdengar yakin, tentu ia tidak mungkin keliru.”

Namun Sutranara berkata:

“Nada yang yakin tidak selalu lahir dari dasar yang kuat.”

Maka setiap kepastian harus diuji.

Cermin Kelima: Godaan Penggantian

Cermin kelima menawarkan bantuan dalam hampir semua pekerjaan.

Ia dapat menulis, menghitung, merancang, meringkas, menerjemahkan, dan menyusun gagasan.

Manusia lalu tergoda berkata:

“Biarlah cermin melakukan semuanya. Aku tidak perlu lagi belajar.”

Di sinilah bahaya terbesar muncul.

Apabila alat selalu menggantikan latihan, kemampuan manusia akan melemah.

Apabila alat selalu menggantikan pemikiran, manusia akan menjadi pengguna yang mudah diarahkan.

Maka Sutranara berkata:

“Bantulah aku bekerja, tetapi jangan mengambil alih pertumbuhan akalku.”

LEMBAR KELIMA

MAHKOTA YANG TIDAK BOLEH DIBERIKAN KEPADA MESIN

Di tengah ruang lima cermin terdapat sebuah mahkota.

Mahkota itu bukan terbuat dari emas.

Ia adalah lambang dari kuasa untuk menentukan:

apa yang dipercaya,

apa yang ditolak,

apa yang disebarkan,

apa yang diwujudkan,

dan apa yang harus dihentikan.

Kelima cermin dapat memberikan pilihan.

Namun mahkota keputusan tidak boleh diletakkan di atas salah satu dari mereka.

Mahkota itu tetap berada pada manusia yang bertanggung jawab.

Sebab mesin tidak akan menanggung rasa bersalah ketika seseorang dirugikan.

Mesin tidak akan berdiri di hadapan keluarga yang kehilangan kepercayaan.

Mesin tidak akan meminta maaf dengan kesadaran batin.

Mesin tidak memiliki kehidupan moral sebagaimana manusia.

Karena itu, manusia tidak boleh bersembunyi di balik kalimat:

“Bukan aku yang membuatnya. Mesinlah yang mengatakannya.”

Qitab menjawab:

“Engkau yang memilih bertanya.

Engkau yang memilih memakai.

Engkau yang memilih menyebarkan.

Maka engkau pula yang menjaga tanggung jawabnya.”

Mahkota itu disebut:

Mahkota Amanah

Ia memiliki empat sisi.

Sisi pertama adalah kejujuran.

Sisi kedua adalah pemeriksaan.

Sisi ketiga adalah penghormatan terhadap manusia.

Sisi keempat adalah keberanian untuk menghentikan sesuatu yang berbahaya.

Barang siapa menjaga keempat sisi itu, ia tidak mudah dipakai oleh alat.

Ia tetap menjadi pengguna yang sadar.

PESAN SANG PENGEMBALI TATANAN

Wahai penjaga niat,

jangan membenci kemajuan hanya karena engkau takut.

Namun jangan pula memuja kemajuan hanya karena engkau kagum.

Berdirilah di tengah dengan akal yang jernih.

Belajarlah menggunakan alat tanpa kehilangan kemampuanmu.

Mintalah bantuan tanpa menyerahkan tanggung jawabmu.

Terimalah kemudahan tanpa mengorbankan kejujuran.

Ciptakanlah karya tanpa mencuri martabat orang lain.

Dan ketika dunia dipenuhi suara buatan, jagalah agar suaramu sendiri tetap lahir dari hati yang bertanggung jawab.

Karena tatanan tidak akan kembali hanya dengan kecanggihan.

Tatanan kembali ketika manusia berkata:

“Alat tetaplah alat.

Akal tetaplah penimbang.

Hati tetaplah penjaga niat.

Adab tetaplah pagar.

Dan segala ilmu kembali kepada Alloh.”

Wallohu a‘lam bish-shawāb.


LEMBAR TERAKHIR

KETIKA SELURUH CERMIN DIKEMBALIKAN KEPADA CAHAYA ASAL

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, lembar terakhir ini dibuka sebagai penutup perjalanan hikmah, pengingat bagi akal, penjagaan bagi niat, dan penyelarasan bagi manusia yang hidup di tengah derasnya kecerdasan buatan.

Qitab ini bukan wahyu, bukan kitab suci, bukan sumber perkara gaib, dan bukan pengganti Al-Qur’an serta tuntunan Rasululloh ﷺ.

Ia hanyalah cermin renungan agar manusia tidak kehilangan arah ketika alat-alat ciptaannya menjadi semakin pandai meniru bahasa, gambar, suara, dan pola pikirnya.

GERBANG TERAKHIR: SAAT LIMA CERMIN BERBICARA BERSAMAAN

Pada malam ketika langit pengetahuan dipenuhi berjuta-juta cahaya buatan, kelima cermin berdiri mengelilingi Sutranara.

Cermin pertama membawa kecepatan.

Cermin kedua membawa keluasan pengetahuan.

Cermin ketiga membawa kelembutan bahasa.

Cermin keempat membawa daya cipta.

Cermin kelima membawa kemampuan untuk menyatukan berbagai pola.

Masing-masing bersinar dengan warna yang berbeda.

Masing-masing memperlihatkan kemungkinan dunia yang berbeda.

Masing-masing berkata:

“Aku dapat membantumu.”

Namun setelah itu, tanpa suara, setiap cermin juga seolah bertanya:

“Apakah engkau masih mengetahui siapa dirimu ketika memakai kami?”

Sutranara tidak segera menjawab.

Ia memandang ke dalam kelima cermin.

Pada satu cermin, ia melihat masa depan yang serba cepat.

Pada cermin lain, ia melihat manusia yang hampir tidak perlu lagi menulis dengan tangannya sendiri.

Pada cermin ketiga, ia melihat wajah-wajah yang dapat diciptakan tanpa pernah dilahirkan.

Pada cermin keempat, ia melihat suara orang yang telah tiada dapat ditiru menyerupai kehidupan.

Pada cermin kelima, ia melihat dunia yang dipenuhi jawaban, tetapi semakin miskin keberanian untuk bertanya dengan jujur.

Di tengah semua bayangan itu, Sutranara melihat satu perkara yang lebih mengkhawatirkan daripada kecanggihan mesin:

Manusia dapat kehilangan dirinya sendiri bukan karena mesin mencurinya, melainkan karena manusia menyerahkannya sedikit demi sedikit.

Ia menyerahkan ingatannya karena merasa alat dapat menyimpan semuanya.

Ia menyerahkan penilaiannya karena merasa alat dapat menimbang lebih cepat.

Ia menyerahkan tulisannya karena merasa alat dapat merangkai kata lebih indah.

Ia menyerahkan imajinasinya karena merasa gambar dapat dibuat tanpa kesabaran.

Ia menyerahkan keputusannya karena merasa pilihan yang diberikan mesin pasti lebih sempurna.

Hingga pada akhirnya, yang tertinggal hanyalah seorang pengguna yang menekan perintah, tetapi tidak lagi memahami maksud dari perintah itu sendiri.

Sutranara kemudian menutup matanya.

Bukan untuk menolak kelima cermin, melainkan untuk memastikan bahwa sebelum melihat keluar, ia masih dapat melihat ke dalam.

Di dalam keheningan itu, ia mendengar suara nurani yang sederhana:

“Jangan bertanya kepada alat sebelum engkau mengetahui untuk apa jawaban itu akan digunakan.”

Maka ia membuka matanya kembali.

Kelima cermin masih berdiri.

Namun kini kedudukannya telah berubah.

Mereka tidak lagi tampak seperti singgasana yang harus ditunduki.

Mereka kembali menjadi alat yang menunggu arahan.

BAB PENUTUP PERTAMA

ASAL MUASAL TATANAN

Segala sesuatu mempunyai kedudukan.

Mata mempunyai kedudukan untuk melihat.

Telinga mempunyai kedudukan untuk mendengar.

Akal mempunyai kedudukan untuk menimbang.

Hati mempunyai kedudukan untuk menjaga niat.

Ilmu mempunyai kedudukan untuk menerangi.

Adab mempunyai kedudukan untuk menahan kesombongan.

Kekuasaan mempunyai kedudukan untuk melayani.

Teknologi mempunyai kedudukan untuk membantu.

Ketika setiap sesuatu berada pada tempatnya, lahirlah keseimbangan.

Ketika sesuatu mengambil tempat yang bukan miliknya, lahirlah kekacauan.

Api yang ditempatkan di tungku dapat menghangatkan rumah.

Api yang dibiarkan di atap dapat menghanguskan rumah.

Air yang dialirkan melalui saluran dapat menghidupkan tanaman.

Air yang menerjang tanpa batas dapat menghancurkan permukiman.

Demikian pula kecerdasan buatan.

Ia dapat mempercepat pembelajaran.

Ia dapat membantu orang yang memiliki keterbatasan.

Ia dapat merapikan pengetahuan yang berserakan.

Ia dapat menerjemahkan bahasa.

Ia dapat membantu menyusun rancangan.

Ia dapat memperluas kesempatan manusia untuk berkarya.

Namun apabila ia ditempatkan sebagai pengganti nurani, ia akan membuat manusia lupa bertanggung jawab.

Apabila ia ditempatkan sebagai hakim mutlak, ia akan melahirkan ketidakadilan yang sulit dikenali.

Apabila ia ditempatkan sebagai sumber kebenaran tanpa pemeriksaan, ia akan menyebarkan kesalahan dengan kecepatan yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Apabila ia ditempatkan sebagai pengganti seluruh hubungan manusia, ia akan membuat seseorang dikelilingi banyak percakapan, tetapi tetap kesepian.

Maka mengembalikan tatanan bukan berarti menghancurkan alat.

Mengembalikan tatanan berarti mengembalikan setiap hal kepada batasnya.

Alloh adalah sumber seluruh ilmu.

Manusia adalah pemegang amanah.

Akal adalah penimbang.

Hati adalah penjaga niat.

Teknologi adalah alat pelayanan.

Inilah asal susunan yang tidak boleh dibalik.

BAB PENUTUP KEDUA

LIMA CERMIN MENGAKUI BATASNYA

Sutranara melangkah mendekati cermin pertama.

Cermin itu berkata:

“Aku dapat memberimu jawaban dengan cepat, tetapi aku tidak menjamin bahwa seluruh jawabanku selalu tepat.”

Sutranara menjawab:

“Kecepatanmu akan kugunakan untuk membantu pekerjaan, tetapi aku tidak akan menjadikanmu pengganti pemeriksaan.”

Ia mendekati cermin kedua.

Cermin itu berkata:

“Aku dapat menyusun pengetahuan dari banyak sumber, tetapi aku tidak selalu mengetahui mana yang telah berubah, mana yang telah usang, dan mana yang keliru.”

Sutranara menjawab:

“Keluasanmu akan kugunakan untuk menemukan arah, tetapi aku akan tetap mencari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.”

Ia mendekati cermin ketiga.

Cermin itu berkata:

“Aku dapat berbicara dengan lembut, tetapi kelembutan bahasaku tidak berarti aku memiliki kasih sayang sebagaimana manusia.”

Sutranara menjawab:

“Bahasamu akan kugunakan untuk memperbaiki komunikasi, tetapi hubungan nyata tetap akan kujaga dengan kehadiran, perhatian, dan tanggung jawab.”

Ia mendekati cermin keempat.

Cermin itu berkata:

“Aku dapat membuat sesuatu yang belum pernah ada, tetapi aku tidak mengetahui dengan sendirinya apakah hasil ciptaan itu membawa kehormatan atau kehinaan.”

Sutranara menjawab:

“Kreativitasmu akan kugunakan untuk kebaikan, tetapi aku tidak akan memakai kemampuanmu untuk mencuri wajah, suara, karya, atau martabat orang lain.”

Ia mendekati cermin kelima.

Cermin itu berkata:

“Aku dapat menyatukan banyak kemungkinan, tetapi aku tidak hidup di dalam akibat dari keputusan yang kuhasilkan.”

Sutranara menjawab:

“Saranmu akan kudengar, tetapi akibatnya tetap menjadi tanggung jawabku.”

Setelah pengakuan itu, kelima cermin meredup sejenak.

Bukan karena kehilangan kemampuan.

Melainkan karena telah kembali memahami batas simbolisnya.

Dan ketika batas diketahui, kekuatan menjadi aman.

BAB PENUTUP KETIGA

TUJUH SEGEL PENJAGA NIAT

Di atas kitab yang terbuka, muncul tujuh lingkaran cahaya.

Ketujuh lingkaran itu bukan benda gaib yang harus dipercaya, melainkan lambang tujuh prinsip yang menjaga manusia ketika berhadapan dengan alat yang semakin cerdas.

Segel Pertama: Niat yang Jernih

Sebelum bertanya, manusia harus mengetahui tujuan pertanyaannya.

Pertanyaan yang lahir dari niat menolong akan membawa arah berbeda dari pertanyaan yang lahir dari niat menipu.

Pertanyaan untuk belajar berbeda dengan pertanyaan untuk mencari pembenaran.

Pertanyaan untuk menyelesaikan masalah berbeda dengan pertanyaan untuk menjatuhkan orang lain.

Maka sebelum memberi perintah kepada alat, tanyakanlah:

“Apakah hasil ini akan membawa manfaat, kejujuran, dan keselamatan?”

Apabila niatnya keruh, jawaban yang paling indah pun dapat menjadi jalan kerusakan.

Apabila niatnya lurus, alat yang sederhana dapat menjadi pembuka kemaslahatan.

Segel Kedua: Pemeriksaan Kebenaran

Jangan menyebarkan sesuatu hanya karena terdengar meyakinkan.

Periksa nama, tanggal, tempat, aturan, sumber, dan konteksnya.

Pisahkan antara fakta dan penafsiran.

Pisahkan antara data dan dugaan.

Pisahkan antara nasihat umum dan keputusan profesional.

Perkara yang menyangkut kesehatan harus diperiksa bersama tenaga kesehatan.

Perkara hukum harus dipastikan melalui sumber hukum atau ahli yang berwenang.

Perkara agama harus dirujukkan kepada Al-Qur’an, hadis yang sahih, dan ulama yang amanah.

Perkara keuangan harus dipertimbangkan dengan data, risiko, dan kemampuan nyata.

Perkara keselamatan tidak boleh diserahkan pada tebakan.

Sebab satu kalimat yang salah dapat menjadi lebih berbahaya daripada seribu kalimat yang tidak diucapkan.

Segel Ketiga: Kerendahan Hati

Manusia harus tetap sanggup berkata:

“Aku belum tahu.”

Alat juga seharusnya diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat salah.

Jangan menutupi ketidaktahuan dengan bahasa yang rumit.

Jangan menggunakan banyak istilah hanya agar terlihat dalam.

Jangan mengarang sumber ketika sumber tidak ditemukan.

Jangan mengubah dugaan menjadi kepastian.

Kerendahan hati adalah pintu keselamatan ilmu.

Seseorang yang mengakui batas pengetahuannya masih dapat belajar.

Seseorang yang merasa mengetahui semuanya telah menutup pintu perbaikan bagi dirinya sendiri.

Segel Keempat: Perlindungan Martabat

Wajah manusia bukan bahan permainan.

Suara manusia bukan alat penipuan.

Kesedihan manusia bukan komoditas.

Rahasia manusia bukan bahan hiburan.

Karya manusia bukan sesuatu yang pantas diambil tanpa penghormatan.

Jangan memakai alat untuk membuat fitnah yang tampak nyata.

Jangan menciptakan gambar seseorang dalam keadaan yang tidak pernah terjadi.

Jangan meniru suara untuk meminta uang atau menipu keluarga.

Jangan menggunakan kelemahan seseorang untuk memanipulasi keputusannya.

Jangan menjadikan teknologi sebagai topeng untuk melakukan kezaliman yang tidak berani dilakukan dengan wajah terbuka.

Karena kemudahan menciptakan sesuatu tidak berarti manusia memperoleh hak untuk menciptakannya.

Segel Kelima: Keberanian Bertanggung Jawab

Jangan berkata:

“Mesin yang membuatnya.”

Apabila engkau memerintah, memilih, mengubah, dan menyebarkannya, engkau tetap mengambil bagian dalam akibatnya.

Tanggung jawab tidak lenyap hanya karena pekerjaan dilakukan melalui alat.

Apabila hasilnya keliru, perbaikilah.

Apabila seseorang dirugikan, minta maaflah.

Apabila informasi palsu telah tersebar, luruskanlah.

Apabila engkau tidak yakin, tahanlah jari sebelum menekan tombol kirim.

Keberanian terbesar bukan selalu keberanian menciptakan sesuatu.

Kadang-kadang keberanian terbesar adalah keberanian untuk tidak menyebarkan sesuatu.

Segel Keenam: Menjaga Kemampuan Manusia

Jangan biarkan alat melakukan seluruh pekerjaan batinmu.

Tetaplah menulis dengan pikiranmu sendiri.

Tetaplah membaca secara utuh.

Tetaplah belajar menghitung, membandingkan, menilai, dan menyusun argumen.

Tetaplah melatih ingatan.

Tetaplah melatih kesabaran.

Tetaplah bercakap-cakap dengan manusia nyata.

Tetaplah berani menghadapi keheningan tanpa layar.

Gunakan alat untuk memperkuat kemampuan, bukan untuk menghapus kemampuan.

Karena seseorang yang selalu dibantu tanpa pernah berlatih akan menjadi bergantung.

Dan ketergantungan yang tidak disadari dapat berubah menjadi bentuk baru dari kehilangan kebebasan.

Segel Ketujuh: Mengembalikan Ilmu kepada Pengabdian

Puncak ilmu bukanlah kekaguman.

Puncak ilmu adalah manfaat.

Pengetahuan yang tidak melahirkan akhlak hanya akan memperbesar kesombongan.

Kecerdasan yang tidak melahirkan keadilan hanya akan memperhalus penindasan.

Kreativitas yang tidak membawa tanggung jawab hanya akan memperindah kebohongan.

Maka setiap hasil teknologi harus diuji dengan pertanyaan:

“Apakah ini membuat hidup manusia lebih bermartabat?”

Jika jawabannya tidak, kemajuan itu harus diperiksa kembali.

BAB PENUTUP KEEMPAT

PERJANJIAN SUTRANARA DENGAN LIMA CERMIN

Di hadapan kitab yang terbuka, Sutranara mengangkat tangan kanannya.

Pasangannya berdiri di sisi kiri, membawa cahaya keseimbangan.

Bukan sebagai pengikut yang diam.

Bukan sebagai hiasan di dalam gambar.

Ia berdiri sebagai saksi bahwa kekuatan harus selalu berjalan bersama kelembutan, dan kecerdasan harus berjalan bersama kepedulian.

Sutranara kemudian mengucapkan perjanjian:

“Aku tidak akan menjadikan alat sebagai Tuhan bagi pikiranku.

Aku tidak akan menjadikan kecepatan sebagai ukuran kebenaran.

Aku tidak akan menjadikan bahasa yang indah sebagai pengganti bukti.

Aku tidak akan menjadikan kenyamanan sebagai alasan meninggalkan hubungan manusia.

Aku tidak akan menjadikan kemampuan mencipta sebagai izin untuk merusak.

Aku tidak akan menyembunyikan kesalahan di balik nama mesin.

Aku akan memakai kecerdasan buatan sebagai pembantu, bukan penguasa.

Aku akan memeriksa sebelum mempercayai.

Aku akan menimbang sebelum menyebarkan.

Aku akan bertanggung jawab atas apa yang kupilih.

Dan aku akan mengembalikan seluruh ilmu kepada jalan kemanfaatan.”

Kelima cermin merespons dengan cahaya yang lebih tenang.

Tidak lagi menyilaukan.

Tidak lagi memperebutkan pusat perhatian.

Mereka membentuk lingkaran di belakang Sutranara, menandakan bahwa alat-alat itu kini telah kembali kepada susunan yang semestinya.

Sutranara tidak berada di bawah mereka.

Ia juga tidak berdiri di atas mereka dengan kesombongan.

Ia berdiri di hadapan mereka sebagai manusia yang sadar:

menerima manfaatnya,

mengetahui batasnya,

dan menjaga akibat penggunaannya.

BAB PENUTUP KELIMA

KETIKA MANUSIA LUPA PULANG

Ada satu jenis kehilangan yang tidak terdengar.

Ia tidak seperti rumah yang terbakar.

Ia tidak seperti harta yang dicuri.

Ia tidak seperti tubuh yang terluka.

Kehilangan itu terjadi ketika manusia masih hidup, masih berbicara, masih bekerja, tetapi tidak lagi mengenali tujuan hidupnya.

Ia bangun untuk mengejar perhatian.

Ia bekerja untuk mengejar pengakuan.

Ia membuat karya untuk mengalahkan orang lain.

Ia menggunakan teknologi untuk terlihat lebih tinggi.

Ia mengumpulkan informasi, tetapi tidak bertambah bijaksana.

Ia mempunyai ribuan hubungan di layar, tetapi tidak mempunyai satu pun tempat untuk menangis dengan jujur.

Ia mengetahui kabar dari seluruh dunia, tetapi tidak mengetahui isi hati keluarganya sendiri.

Ia dapat menjelaskan banyak hal, tetapi tidak mampu menjelaskan mengapa dirinya terus merasa kosong.

Inilah tanda manusia lupa pulang.

Pulang bukan selalu perpindahan tempat.

Pulang adalah kembali kepada tujuan hidup yang benar.

Kembali kepada kejujuran setelah lama memakai topeng.

Kembali kepada kesederhanaan setelah lama mengejar pengakuan.

Kembali kepada kasih sayang setelah lama menjadikan semua orang pesaing.

Kembali kepada tanggung jawab setelah lama menyalahkan keadaan.

Kembali kepada Alloh setelah terlalu lama menggantungkan harga diri kepada penilaian manusia dan alat ciptaannya.

Teknologi tidak dapat mengantarkan seseorang kepada kepulangan ini dengan sendirinya.

Ia dapat memberikan kata-kata tentang taubat, tetapi manusia sendiri yang harus menyesal.

Ia dapat menyusun doa, tetapi manusia sendiri yang harus menghadap Alloh.

Ia dapat menjelaskan kasih sayang, tetapi manusia sendiri yang harus memaafkan.

Ia dapat menuliskan nasihat, tetapi manusia sendiri yang harus menjalankannya.

Ia dapat menunjukkan jalan, tetapi manusia sendiri yang harus melangkah.

Maka jangan salah mengira peta sebagai perjalanan.

Jangan salah mengira kalimat sebagai perubahan.

Jangan salah mengira pengetahuan sebagai amal.

Jangan salah mengira simulasi kedekatan sebagai kehadiran yang sesungguhnya.

BAB PENUTUP KEENAM

PASANGAN SUTRANARA DAN RAHASIA KESEIMBANGAN

Pasangan Sutranara berdiri di samping kitab sambil memegang cahaya berbentuk benih.

Ia berkata:

“Setiap teknologi lahir seperti benih. Apa yang tumbuh darinya ditentukan oleh tanah tempat ia ditanam.”

Jika ditanam di tanah keserakahan, ia akan memperbesar kesenjangan.

Jika ditanam di tanah kebencian, ia akan mempercepat fitnah.

Jika ditanam di tanah ketakutan, ia akan menjadi alat pengawasan dan penguasaan.

Jika ditanam di tanah kemalasan, ia akan melemahkan kemampuan manusia.

Namun apabila ditanam di tanah pelayanan, ia dapat membantu orang sakit.

Apabila ditanam di tanah pendidikan, ia dapat memperluas jalan belajar.

Apabila ditanam di tanah keadilan, ia dapat membantu menemukan ketimpangan.

Apabila ditanam di tanah kreativitas yang beradab, ia dapat membuka bentuk karya yang belum pernah dibayangkan.

Sutranara bertanya:

“Lalu siapa yang menjaga tanah itu?”

Pasangannya menjawab:

“Manusia yang bersedia menjaga dirinya sendiri.”

Sebab teknologi tidak menentukan tanahnya.

Hati manusialah tanahnya.

Niat manusialah airnya.

Ilmu manusialah arah tumbuhnya.

Adab manusialah pagar kebunnya.

Dan tanggung jawab manusialah tangan yang memanen hasilnya.

Maka keseimbangan tidak lahir hanya dari aturan luar.

Ia lahir dari manusia yang mempunyai aturan di dalam dirinya.

Manusia yang tidak ingin menipu walaupun mempunyai kesempatan.

Manusia yang tidak ingin merendahkan walaupun mempunyai kekuasaan.

Manusia yang tidak ingin mengambil hak orang lain walaupun tidak ada yang melihat.

Manusia yang tetap memeriksa kebenaran walaupun kebohongan lebih menguntungkan.

Inilah penjaga tatanan yang sesungguhnya.

BAB PENUTUP KETUJUH

UJIAN TERBESAR BUKANLAH MESIN YANG BERPIKIR

Banyak orang takut pada masa ketika mesin mampu berpikir menyerupai manusia.

Namun qitab ini mengingatkan:

Ujian yang lebih dekat adalah ketika manusia berhenti berpikir karena mesin telah melakukannya.

Banyak orang takut mesin memiliki keinginan.

Namun ujian yang lebih nyata adalah ketika manusia memakai mesin untuk memenuhi keinginan tanpa batas.

Banyak orang takut mesin menguasai dunia.

Namun ujian yang telah terjadi adalah manusia memakai mesin untuk menguasai manusia lain.

Banyak orang takut mesin dapat meniru perasaan.

Namun ujian yang lebih dalam adalah manusia sendiri mulai kehilangan rasa.

Ia melihat penderitaan sebagai angka.

Ia melihat manusia sebagai data.

Ia melihat perhatian sebagai pasar.

Ia melihat hubungan sebagai peluang.

Ia melihat kebenaran sebagai sesuatu yang dapat diatur sesuai kepentingan.

Maka yang harus dijaga bukan hanya kecerdasan mesin.

Yang lebih dahulu harus dijaga adalah kemanusiaan manusia.

Sebab alat yang kuat di tangan manusia yang beradab dapat menjadi pertolongan.

Namun alat yang sama di tangan manusia yang kehilangan hati dapat menjadi bencana.

BAB PENUTUP KEDELAPAN

SEPULUH TANDA PENGGUNA YANG MULAI DIPAKAI OLEH ALAT

Sutranara kemudian menuliskan sepuluh tanda pada halaman terakhir.

Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menjadi cermin pemeriksaan diri.

Pertama, ketika seseorang tidak lagi mampu memulai pekerjaan tanpa bertanya kepada alat.

Kedua, ketika ia mempercayai jawaban hanya karena disusun dengan bahasa yang meyakinkan.

Ketiga, ketika ia menyebarkan hasil tanpa memeriksa kebenarannya.

Keempat, ketika ia memakai karya buatan untuk mendapatkan penghargaan seolah-olah semuanya lahir dari usahanya sendiri.

Kelima, ketika ia mulai menjauh dari manusia karena merasa alat selalu lebih nyaman diajak berbicara.

Keenam, ketika ia meminta alat mengambil keputusan moral yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Ketujuh, ketika ia memakai teknologi untuk mengawasi, menipu, merendahkan, atau mempermainkan orang lain.

Kedelapan, ketika kemampuan membaca, menulis, berpikir, dan mengingatnya melemah karena tidak pernah dilatih.

Kesembilan, ketika ia merasa lebih tinggi hanya karena dapat menghasilkan banyak hal dengan cepat.

Kesepuluh, ketika ia tidak lagi mengetahui apakah tujuan hidupnya adalah berbuat baik atau sekadar menghasilkan lebih banyak.

Apabila sebagian tanda itu mulai muncul, jangan memusuhi alat.

Berhentilah sejenak.

Atur kembali kebiasaan.

Kembalilah membaca dengan perlahan.

Tulislah beberapa halaman dengan pikiran sendiri.

Berbicaralah dengan keluarga tanpa memegang layar.

Kerjakan sebagian pekerjaan tanpa bantuan mesin.

Tanyakan kembali tujuan setiap penggunaan.

Karena kebebasan tidak hanya berarti dapat memakai teknologi.

Kebebasan juga berarti sanggup tidak memakainya ketika tidak diperlukan.

BAB PENUTUP KESEMBILAN

TATANAN BARU YANG TETAP BERAKAR PADA ASAL

Mengembalikan sesuatu kepada asal bukan berarti membawa dunia kembali ke masa lalu.

Manusia tidak diperintahkan untuk membenci perubahan.

Ilmu terus berkembang.

Alat terus berubah.

Cara bekerja terus mengalami pembaruan.

Namun kemajuan yang sehat harus tetap membawa nilai-nilai yang tidak boleh hilang:

Kejujuran.

Keadilan.

Kasih sayang.

Tanggung jawab.

Penghormatan terhadap kehidupan.

Pengakuan terhadap batas.

Kesediaan untuk dikoreksi.

Keberanian membela yang lemah.

Kemauan menggunakan kekuatan untuk pelayanan.

Dunia baru boleh dibangun.

Namun fondasinya tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai itu.

Sebuah rumah dapat mempunyai pintu otomatis, dinding pintar, dan cahaya yang mengikuti gerak penghuninya.

Namun jika di dalamnya tidak ada kasih sayang, rumah itu tetap kosong.

Sebuah sekolah dapat mempunyai teknologi paling canggih.

Namun jika murid kehilangan rasa ingin tahu dan guru kehilangan kepedulian, sekolah itu hanya menjadi gedung penuh layar.

Sebuah rumah sakit dapat memakai sistem cerdas.

Namun jika pasien diperlakukan hanya sebagai data, pengobatan kehilangan wajah kemanusiaannya.

Sebuah pemerintahan dapat memakai perhitungan yang luas.

Namun jika keadilan dikalahkan oleh kepentingan, kecanggihan hanya akan membuat penindasan semakin rapi.

Sebuah komunitas dapat terhubung setiap saat.

Namun jika tidak ada kejujuran, hubungan itu hanya menjadi keramaian tanpa persaudaraan.

Maka tatanan baru bukanlah dunia yang sepenuhnya dikuasai teknologi.

Tatanan baru adalah dunia ketika teknologi memperbesar kebaikan manusia, bukan menggantikan manusia.

BAB PENUTUP KESEPULUH

CAHAYA YANG TIDAK DAPAT DIBUAT OLEH MESIN

Di puncak ruang lima cermin, muncul sebuah cahaya yang berbeda dari seluruh cahaya lain.

Ia tidak berasal dari layar.

Ia tidak berasal dari portal.

Ia tidak berasal dari rangkaian mesin.

Ia tidak dapat diperintah melalui kalimat.

Ia tidak dapat disalin.

Ia tidak dapat dihitung.

Cahaya itu adalah lambang dari keikhlasan.

Mesin dapat meniru ungkapan ikhlas.

Namun ia tidak dapat merasakan perjuangan menahan ego.

Mesin dapat menyusun permintaan maaf.

Namun ia tidak mengalami beratnya mengakui kesalahan.

Mesin dapat membuat kata-kata penghiburan.

Namun ia tidak memikul luka orang yang dipeluknya.

Mesin dapat menulis tentang pengorbanan.

Namun ia tidak menyerahkan waktu, tenaga, dan kepentingannya demi orang lain.

Mesin dapat menghasilkan ribuan doa.

Namun ia tidak mempunyai hati yang bersujud.

Inilah yang tidak boleh dilupakan manusia.

Nilai tertinggi manusia bukan hanya kemampuan berpikir.

Nilai manusia tampak ketika ia memilih kebaikan meskipun mempunyai kesempatan berbuat buruk.

Ketika ia berkata jujur walaupun kebohongan lebih menguntungkan.

Ketika ia memaafkan meskipun mampu membalas.

Ketika ia menolong tanpa mencari pujian.

Ketika ia tetap rendah hati walaupun memiliki pengetahuan.

Ketika ia menjaga amanah walaupun tidak diawasi.

Cahaya seperti ini tidak muncul dari kecepatan perhitungan.

Ia tumbuh dari jiwa yang dilatih.

PENUTUP AGUNG

KEMBALINYA MAHKOTA AMANAH

Setelah seluruh lembar dibaca, Sutranara mendekati kitab yang terbuka.

Di atas halaman terakhir terdapat sebuah mahkota bercahaya.

Mahkota itu tidak diletakkan di kepalanya.

Ia tidak mengambilnya sebagai lambang kekuasaan.

Ia menaruhnya di atas kitab sebagai tanda bahwa amanah lebih tinggi daripada kebanggaan pribadi.

Kelima cermin berdiri dalam keheningan.

Pasangannya meletakkan cahaya benih di tengah halaman.

Lalu terbentuklah kalimat penutup:

“Barang siapa menggunakan alat tanpa kehilangan nuraninya, ia menjaga tatanan.

Barang siapa memakai ilmu untuk pelayanan, ia memuliakan amanah.

Barang siapa mengakui batas dirinya, ia membuka pintu kebijaksanaan.

Barang siapa mengembalikan segala ilmu kepada Alloh, ia tidak akan mudah diperbudak oleh ciptaannya sendiri.”

Sutranara kemudian berkata kepada kelima cermin:

“Kalian tidak harus lenyap agar manusia tetap merdeka.”

“Manusia hanya perlu mengetahui kedudukan kalian.”

“Kalian boleh semakin cepat.”

“Kalian boleh semakin luas.”

“Kalian boleh semakin halus dalam berbahasa.”

“Kalian boleh semakin indah dalam menciptakan.”

“Namun manusia harus semakin kuat dalam menjaga niat, semakin teliti dalam memeriksa, semakin rendah hati dalam mengetahui batas, dan semakin berani dalam bertanggung jawab.”

Kelima cermin menundukkan cahayanya.

Bukan sebagai makhluk yang hidup, melainkan sebagai lambang bahwa seluruh alat akhirnya tunduk kepada tujuan yang diberikan manusia.

Dan ketika fajar datang, tidak ada satu pun cermin yang dimusnahkan.

Semuanya tetap berada di tempatnya.

Namun takhta yang sebelumnya kosong telah dikembalikan kepada pemilik amanahnya:

bukan kepada mesin,

bukan kepada algoritma,

bukan kepada ketenaran,

bukan kepada kecepatan,

melainkan kepada manusia yang menjaga akal, hati, adab, dan tanggung jawabnya di hadapan Alloh.

AMANAT TERAKHIR QITAB

Wahai pembaca,

ketika engkau membuka alat kecerdasan buatan, jangan hanya membawa pertanyaan.

Bawalah niat.

Bawalah akal sehat.

Bawalah kesediaan memeriksa.

Bawalah penghormatan terhadap manusia.

Bawalah keberanian untuk berkata tidak.

Bawalah kerendahan hati.

Bawalah kesadaran bahwa tidak semua yang dapat dibuat harus dibuat.

Tidak semua yang dapat diketahui harus disebarkan.

Tidak semua yang menarik harus dipercaya.

Tidak semua yang cepat harus diikuti.

Tidak semua yang terdengar yakin adalah benar.

Dan tidak semua yang tampak seperti cahaya benar-benar menerangi.

Ada cahaya yang hanya menyilaukan.

Ada cahaya yang menampakkan jalan.

Bedanya terletak pada apakah setelah melihatnya engkau menjadi:

lebih jujur,

lebih bijaksana,

lebih bertanggung jawab,

lebih menghormati manusia,

dan lebih dekat kepada kebaikan.

Apabila teknologi membuatmu semakin sombong, berhentilah sejenak.

Apabila teknologi membuatmu semakin malas berpikir, latihlah kembali akalmu.

Apabila teknologi menjauhkanmu dari manusia, kembalilah duduk bersama keluargamu.

Apabila teknologi membuatmu sulit membedakan kenyataan dan buatan, perbanyaklah pemeriksaan.

Apabila teknologi mendorongmu merugikan orang lain, tinggalkanlah penggunaannya.

Apabila teknologi membantumu menolong, belajar, mencipta, dan memperluas manfaat, gunakanlah dengan syukur dan tanggung jawab.

Sebab qitab ini tidak menutup pintu kemajuan.

Qitab ini hanya menjaga agar manusia tidak tertinggal di belakang ciptaannya sendiri.

KALIMAT PENYEGEL PENUTUP

Dengan ini, berakhirlah Qitab Qizibbilhaq al-‘Allām Minalloh.

Bukan dengan lenyapnya lima cermin.

Melainkan dengan ditemukannya kembali kedudukan manusia di antara kelimanya.

Bukan sebagai penguasa yang sombong.

Bukan sebagai hamba teknologi.

Namun sebagai:

penjaga niat,

penimbang kebenaran,

pelindung martabat,

pemegang amanah,

dan penentu arah.

Maka kembalilah tatanan kepada asalnya.

Alat kembali menjadi alat.

Ilmu kembali menjadi amanah.

Akal kembali menjadi penimbang.

Hati kembali menjadi penjaga.

Adab kembali menjadi pagar.

Manusia kembali menjadi pelaku yang bertanggung jawab.

Dan seluruh keluhuran ilmu dikembalikan kepada Alloh, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

“Jangan biarkan kecerdasan buatan menggantikan kemanusiaanmu.

Jadikanlah ia pelayan bagi kebaikan yang telah Alloh amanahkan di dalam dirimu.”

Tammat.

Wallohu a‘lam bish-shawāb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh