QITAB SABDO QHALLAMMULLOH BILHAQ

 


QITAB SABDO QHALLAMMULLOH BILHAQ

Sabdo tentang Sumber Daya, Pilihan, Perbuatan, dan Pertanggungjawaban

Lembar Pertama

KETIKA SEGALA DAYA BERASAL DARI ALLOH, SIAPAKAH YANG BERBUAT?

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya bagi Alloh, Yang menciptakan manusia, menghidupkan tubuh, menerangkan akal, menggerakkan anggota badan, menyediakan waktu, membuka kesempatan, serta menetapkan hukum sebab dan akibat di seluruh alam.

Tidak ada manusia yang menciptakan dirinya sendiri.

Tidak ada tangan yang menciptakan kekuatannya sendiri.

Tidak ada kaki yang menciptakan kemampuannya untuk berjalan.

Tidak ada lidah yang menciptakan suaranya sendiri.

Tidak ada mata yang menciptakan cahaya penglihatannya sendiri.

Tidak ada akal yang mengadakan dirinya sendiri.

Segala kemampuan itu merupakan pemberian Alloh. Namun ketika pemberian tersebut digunakan, manusia diberi ruang untuk menentukan arah penggunaannya. Dari sinilah lahir pilihan, amal, dosa, pahala, pertobatan, penyesalan, dan pertanggungjawaban.

Maka dibukalah:

SABDO QHALLAMMULLOH BILHAQ

Yakni sabdo perenungan tentang segala perbuatan, perjalanan, pilihan, dan ucapan yang pada akhirnya akan kembali kepada Sang Mahakuasa dan Yang Maha Menguasai.

Qitab ini bukan wahyu baru, bukan kitab suci, dan bukan pengganti Al-Qur’an maupun Sunnah. Ia merupakan rangkaian renungan untuk membantu manusia menempatkan pembicaraan tentang takdir, kehendak, perbuatan, hakikat, syariat, akal, rasa, dan tanggung jawab secara lebih tertib.

Ayat Renungan Pertama: Jangan Mencampurkan Sumber Daya dengan Pelaku Pilihan

Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang mencari duduknya pengertian:

Ada perbedaan antara asal kekuatan dan arah penggunaan kekuatan.

Ada perbedaan antara Alloh sebagai Pencipta kemampuan dan manusia sebagai pengguna kemampuan.

Ada perbedaan antara terjadinya sesuatu di dalam kekuasaan Alloh dan keridhoan Alloh terhadap sesuatu yang dilakukan manusia.

Ada pula perbedaan antara Alloh mengetahui suatu perbuatan dan manusia bertanggung jawab atas perbuatan yang dipilihnya.

Apabila semua perbedaan itu dicampurkan, manusia dapat terjatuh ke dalam kekeliruan. Ia mungkin berkata:

“Karena semuanya berasal dari Alloh, maka perbuatan baik dan buruk semuanya adalah perbuatan Alloh.”

Ucapan tersebut tampak dalam, tetapi apabila tidak dijelaskan secara benar, ia dapat merusak kedudukan tanggung jawab manusia.

Sebab apabila manusia tidak memiliki pilihan sama sekali, untuk apakah Alloh memberikan perintah dan larangan?

Untuk apakah ada pahala dan dosa?

Untuk apakah ada tobat dan penyesalan?

Untuk apakah manusia diminta meninggalkan kezaliman?

Untuk apakah seorang pencuri dihukum, seorang penolong dipuji, seorang pendusta diperingatkan, dan seorang yang bertobat menerima ampunan?

Semua itu menunjukkan bahwa manusia diberi kehendak dan kemampuan memilih, meskipun kehendak tersebut tidak pernah keluar dari kekuasaan Alloh.

Ayat Renungan Kedua: Semua Daya dari Alloh, tetapi Pilihan Dilakukan Manusia

Alloh menciptakan kehidupan.

Alloh menciptakan tubuh.

Alloh menciptakan akal.

Alloh menciptakan kemampuan bergerak.

Alloh menciptakan benda-benda yang digunakan manusia.

Alloh menciptakan waktu, tempat, kesempatan, dan seluruh hukum yang membuat suatu perbuatan dapat terjadi.

Namun manusia diberikan kemampuan untuk memilih.

Tangan yang sama dapat digunakan untuk memberi makanan atau merampas makanan.

Lidah yang sama dapat digunakan untuk berkata jujur atau berdusta.

Kaki yang sama dapat digunakan untuk berjalan menuju masjid atau menuju tempat kemaksiatan.

Harta yang sama dapat digunakan untuk menolong orang miskin atau menindas orang lemah.

Ilmu yang sama dapat digunakan untuk menerangi manusia atau untuk meninggikan diri di hadapan manusia.

Sumber dayanya berasal dari Alloh, tetapi arah penggunaannya dipilih oleh manusia.

Oleh sebab itu, ketika seseorang melakukan kebaikan, ia tidak boleh menyombongkan diri. Ia harus menyadari bahwa kemampuan melakukan kebaikan berasal dari pertolongan Alloh.

Namun ketika seseorang melakukan keburukan, ia juga tidak boleh bersembunyi di balik takdir dengan berkata:

“Ini bukan perbuatanku. Semuanya adalah perbuatan Alloh.”

Ucapan semacam itu bukanlah penyerahan diri yang benar. Ia dapat menjadi usaha melarikan diri dari tanggung jawab.

Adab seorang hamba ialah berkata:

“Ya Alloh, kebaikan yang kulakukan terjadi dengan pertolongan-Mu. Maka jangan biarkan aku menjadi sombong. Adapun kesalahan yang kulakukan terjadi karena aku salah memilih dan salah menggunakan pemberian-Mu. Maka ampunilah aku dan bantulah aku memperbaikinya.”

Inilah pengertian tauhid yang melahirkan akhlak.

Ayat Renungan Ketiga: Siapakah yang Mengambil Keputusan?

Apabila seseorang bertanya:

“Kalau semuanya berasal dari Yang Satu, perbuatan baik dan buruk itu sebenarnya perbuatan siapa?”

Maka jangan tergesa-gesa menjawab dengan satu kalimat yang samar.

Tanyakan kembali:

Siapakah yang memilih berkata jujur atau berdusta?

Siapakah yang memilih menolong atau menyakiti?

Siapakah yang memilih memaafkan atau membalas secara zalim?

Siapakah yang memilih menggunakan tangan untuk memberi atau merampas?

Siapakah yang memilih mengendalikan kemarahan atau melampiaskannya?

Jawabannya ialah: manusia yang mengambil keputusan tersebut.

Alloh menciptakan manusia beserta kemampuan memilihnya. Namun manusia tetap menjadi pihak yang mengarahkan kemampuannya kepada kebaikan atau keburukan.

Apabila manusia mengakui bahwa dirinya mengambil keputusan, berarti ia juga harus mengakui bahwa dirinya mempunyai tanggung jawab.

Tidak benar apabila manusia mengakui dirinya sebagai pengambil keputusan ketika memperoleh pujian, tetapi menyalahkan takdir ketika menerima akibat buruk.

Tidak benar apabila manusia berkata:

“Keberhasilan ini karena kecerdasanku.”

Namun ketika berbuat salah ia berkata:

“Semua sudah ditentukan, jadi aku tidak bertanggung jawab.”

Seorang hamba harus adil terhadap dirinya sendiri.

Ketika berhasil, ia mengingat pertolongan Alloh.

Ketika bersalah, ia mengakui pilihan dan kekurangannya.

Ketika diuji, ia bersabar.

Ketika diberi kesempatan, ia menggunakannya dengan amanah.

Ketika tergelincir, ia bertobat dan memperbaiki diri.

Ayat Renungan Keempat: Perumpamaan tentang Api

Api adalah ciptaan Alloh.

Panasnya api berjalan menurut ketetapan Alloh.

Tubuh yang dapat terbakar juga merupakan ciptaan Alloh.

Tangan yang mampu menyalakan api memperoleh daya dari Alloh.

Namun apabila seseorang dengan sengaja menyalakan api lalu membakar rumah orang lain, siapakah yang mengambil keputusan untuk membakar?

Bukan api.

Bukan rumah.

Bukan orang yang menjadi korban.

Pelakunya adalah manusia yang dengan sadar memilih menggunakan api untuk merusak.

Maka tidak tepat apabila ia berkata:

“Karena api diciptakan Alloh, berarti Alloh yang membakar rumah itu.”

Ucapan tersebut mencampuradukkan antara penciptaan api dan penyalahgunaan api.

Alloh menciptakan sebab dan hukum akibatnya. Namun manusia dapat menggunakan sebab itu secara benar atau menyalahgunakannya.

Api dapat digunakan untuk memasak makanan, menghangatkan tubuh, menerangi kegelapan, dan membantu kehidupan.

Namun api yang sama dapat dipakai untuk membakar, menyiksa, dan menghancurkan.

Api tidak menanggung dosa.

Yang ditimbang ialah niat, pilihan, dan perbuatan manusia yang menggunakannya.

Ayat Renungan Kelima: Perumpamaan tentang Pisau dan Air

Pisau adalah benda.

Ia tidak mempunyai niat.

Ia tidak memilih akan digunakan untuk apa.

Di tangan seorang ibu, pisau dapat digunakan untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya.

Di tangan seorang tabib, pisau dapat digunakan dalam tindakan yang bertujuan menyelamatkan kehidupan.

Namun di tangan seorang yang dikuasai kebencian, pisau dapat digunakan untuk menyakiti.

Bahan pisaunya berasal dari ciptaan Alloh.

Kekuatan tangan berasal dari Alloh.

Kemampuan berpikir berasal dari Alloh.

Akan tetapi, keputusan menggunakan pisau untuk menolong atau menyakiti berada dalam pilihan manusia.

Demikian pula air.

Air dapat diminum.

Air dapat digunakan untuk berwudhu.

Air dapat menghidupkan tanah yang kering.

Air dapat membersihkan kotoran.

Namun air juga dapat disalahgunakan untuk merusak atau menyiksa.

Maka air tidak dapat dipersalahkan.

Yang diperiksa ialah siapa yang menggunakan, dengan niat apa, melalui cara apa, dan untuk tujuan apa.

Dari sini diketahui bahwa sumber benda dan daya berasal dari Alloh, tetapi nilai moral dari penggunaan daya berkaitan dengan pilihan manusia.

Ayat Renungan Keenam: Izin Terjadi Tidak Selalu Berarti Ridho

Tidak semua perkara yang terjadi di alam menunjukkan bahwa Alloh meridhoinya.

Kezaliman dapat terjadi, tetapi Alloh tidak menyukai kezaliman.

Kebohongan dapat diucapkan, tetapi Alloh tidak memerintahkan kebohongan.

Pencurian dapat berlangsung, tetapi Alloh tidak meridhoi pencurian.

Manusia dapat melakukan kemaksiatan karena Alloh tidak mencabut kemampuan memilihnya setiap kali ia hendak berbuat salah. Namun kemampuan terjadinya perbuatan bukan berarti perbuatan tersebut diperintahkan atau diridhoi.

Inilah perbedaan antara izin kauniyah dan ridho syar’iyah.

Secara kauniyah, Alloh membiarkan kehidupan berjalan dengan hukum sebab, akibat, pilihan, ujian, dan kesempatan bertobat.

Secara syar’iyah, Alloh memerintahkan keadilan, kebaikan, kejujuran, amanah, kasih sayang, dan menjauhi kezaliman.

Maka apabila seorang pencuri tidak langsung dihentikan oleh mukjizat, bukan berarti Alloh menyetujui pencurian tersebut.

Boleh jadi ia diberi kesempatan untuk bertobat.

Boleh jadi perbuatannya sedang menjadi ujian bagi dirinya dan orang lain.

Boleh jadi hukumannya ditangguhkan.

Boleh jadi kebenaran akan dibuka pada waktu yang telah ditentukan.

Tidak adanya hukuman seketika bukan bukti bahwa suatu perbuatan dibenarkan.

Ayat Renungan Ketujuh: Jangan Menyalahgunakan Bahasa Hakikat

Bahasa hakikat tidak boleh digunakan untuk membatalkan syariat.

Bahasa rasa tidak boleh digunakan untuk mematikan akal.

Bahasa tauhid tidak boleh digunakan untuk menghapus dosa dan tanggung jawab.

Bahasa kesatuan tidak boleh digunakan untuk menisbatkan kezaliman manusia kepada Alloh.

Apabila seseorang berkata:

“Pada hakikatnya semua adalah perbuatan Alloh.”

Maka ia harus menjelaskan maksudnya dengan sangat hati-hati.

Apabila maksudnya ialah tidak ada sesuatu yang dapat terjadi di luar ilmu dan kekuasaan Alloh, maka pengertian itu dapat diterima.

Namun apabila maksudnya ialah manusia tidak mempunyai pilihan dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya, maka pemahaman tersebut harus diluruskan.

Sebab apabila seorang pembunuh, pencuri, pendusta, atau penganiaya dapat berkata:

“Bukan aku yang melakukannya. Semua hanyalah perbuatan Alloh,”

maka seluruh perintah, larangan, pertobatan, hukum, dan pertanggungjawaban akan kehilangan makna.

Padahal Alloh tidak menzalimi manusia sedikit pun.

Manusia akan menerima akibat dari apa yang dipilih, diusahakan, dan dikerjakannya.

Ayat Renungan Kedelapan: Kasb, Usaha, dan Tanggung Jawab

Dalam pembahasan ilmu kalam dikenal pengertian kasb, yaitu bahwa manusia mengusahakan dan memilih perbuatannya, sedangkan kemampuan untuk melakukan perbuatan itu tetap berada dalam penciptaan dan kekuasaan Alloh.

Manusia tidak berdiri secara mandiri di luar kekuasaan Alloh.

Namun manusia juga bukan benda mati tanpa kehendak.

Ia diberi akal untuk menimbang.

Ia diberi hati untuk merasakan.

Ia diberi peringatan untuk berhati-hati.

Ia diberi petunjuk untuk membedakan.

Ia diberi kemampuan untuk menahan atau melanjutkan suatu perbuatan.

Karena itulah manusia dapat dipuji ketika memilih kebaikan dan dapat ditegur ketika memilih keburukan.

Apabila manusia sama sekali tidak memiliki pilihan, maka nasihat tidak diperlukan.

Apabila manusia tidak memiliki kemampuan memperbaiki diri, maka tobat tidak memiliki makna.

Apabila manusia hanya seperti daun kering yang diterbangkan angin, maka perintah untuk bersabar, jujur, adil, dan bertanggung jawab menjadi sia-sia.

Namun kenyataannya, manusia mengetahui bahwa dalam dirinya terdapat pergulatan antara beberapa pilihan.

Ia dapat menahan kata-kata kasar.

Ia dapat mengurungkan niat buruk.

Ia dapat meminta maaf.

Ia dapat mengembalikan barang yang bukan miliknya.

Ia dapat meninggalkan kebiasaan buruk.

Ia dapat belajar menjadi lebih baik.

Semua itu menunjukkan adanya wilayah pilihan dan usaha, walaupun hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan Alloh.

Ayat Renungan Kesembilan: Tanda Ilmu yang Menjadi Cahaya

Ilmu yang benar tidak hanya membuat seseorang pandai berbicara.

Ilmu yang benar membuat manusia semakin berhati-hati.

Ia tidak mudah menyebut orang lain bodoh.

Ia tidak menjadikan istilah hakikat sebagai alat untuk merendahkan.

Ia tidak mengukur kedalaman rohani dari banyaknya kata-kata samar.

Ia tidak menggunakan rasa sebagai alasan untuk menolak penjelasan yang jernih.

Ilmu yang menjadi cahaya akan menerangi langkah pemiliknya.

Ia menjadikan seseorang semakin jujur.

Semakin rendah hati.

Semakin mampu mengakui kesalahan.

Semakin berani mempertanggungjawabkan pilihan.

Semakin menjaga perkataan.

Semakin lembut ketika berbeda pendapat.

Apabila ilmu justru melahirkan ejekan, kesombongan, dan kegemaran meremehkan orang lain, maka yang bertambah mungkin bukan cahaya, melainkan rasa tinggi diri.

Apabila seseorang selalu berkata:

“Kamu belum sampai pada hakikat.”

“Kamu belum masuk ke tingkat rasa.”

“Kamu hanya pandai berbicara.”

Namun ia sendiri tidak mampu menjelaskan duduk persoalannya dengan terang, maka patut diperiksa:

Apakah yang sedang berbicara benar-benar ilmu?

Ataukah ego yang sedang memakai pakaian rohani?

Makrifat tidak diukur dari keberanian merendahkan orang lain.

Makrifat terlihat dari semakin kuatnya adab kepada Alloh dan kepada sesama.

Ayat Renungan Kesepuluh: Rasa Sejati Tidak Melawan Syariat

Rasa yang sejati tidak menghapus batas antara benar dan salah.

Rasa sejati tidak berkata bahwa kezaliman dan kasih sayang sama saja.

Rasa sejati tidak menghilangkan kewajiban bertobat.

Rasa sejati tidak membenarkan manusia menyandarkan kesalahannya kepada Alloh.

Semakin dalam rasa seseorang, seharusnya semakin kuat kesadarannya bahwa dirinya hanyalah seorang hamba.

Ia tidak mudah merasa telah sampai.

Ia tidak suka memamerkan tingkatan batin.

Ia tidak sibuk mengukur kedalaman orang lain.

Ia lebih sibuk memeriksa niat dan amalnya sendiri.

Orang yang benar-benar mengenal kelemahan dirinya tidak akan mudah menghina kelemahan orang lain.

Orang yang benar-benar menyadari kebesaran Alloh tidak akan menjadikan pembicaraan tentang Alloh sebagai panggung kesombongan.

Rasa yang benar akan melahirkan takut berbuat zalim, bukan merasa bebas dari tanggung jawab.

Rasa yang benar akan melahirkan kasih sayang, bukan ejekan.

Rasa yang benar akan melahirkan kejernihan, bukan kekaburan.

Sabdo Peneguhan Lembar Pertama

Wahai manusia, janganlah engkau mengaku sebagai pemilik mutlak ketika melakukan kebaikan, sebab daya dan pertolonganmu berasal dari Alloh.

Namun jangan pula engkau bersembunyi di balik takdir ketika melakukan keburukan, sebab engkaulah yang memilih arah penggunaan daya tersebut.

Jangan berkata:

“Aku berhasil semata-mata karena diriku.”

Namun jangan pula berkata:

“Aku berbuat zalim karena Alloh telah menentukan demikian.”

Katakanlah:

“Kabecikan yang kulakukan terjadi dengan taufik Alloh, sedangkan kesalahanku terjadi karena aku salah memilih dan salah menggunakan pemberian-Nya.”

Dengan pengakuan seperti itu, manusia terhindar dari dua jurang:

Jurang kesombongan, yaitu merasa mampu tanpa Alloh.

Dan jurang pelarian, yaitu menjadikan takdir sebagai alasan untuk tidak bertanggung jawab.

Inti Pembukaan

Maka jawaban atas pertanyaan:

“Apabila semuanya berasal dari Yang Satu, perbuatan baik dan buruk itu menjadi perbuatan siapa?”

adalah:

Dari sisi penciptaan tubuh, daya, kemampuan, waktu, tempat, sebab, dan kemungkinan terjadinya perbuatan, semuanya tidak keluar dari kekuasaan Alloh.

Namun dari sisi niat, pilihan, usaha, penggunaan kemampuan, nisbat amal, dosa, pahala, dan pertanggungjawaban, perbuatan tersebut dinisbatkan kepada manusia yang memilihnya.

Kebaikan dilakukan manusia dengan pertolongan dan taufik Alloh.

Keburukan dilakukan manusia ketika salah menggunakan pilihan dan kemampuan yang diberikan Alloh.

Alloh Maha Mengetahui segala perbuatan.

Alloh Mahakuasa atas segala kejadian.

Namun Alloh tidak memerintahkan kezaliman dan tidak meridhoi kerusakan.

Maka jangan mencampurkan kemahakuasaan Alloh dengan kesalahan pilihan manusia.

Jangan mencampurkan takdir dengan alasan untuk berbuat maksiat.

Jangan mencampurkan hakikat dengan pembatalan syariat.

Jangan mencampurkan rasa dengan kesombongan rohani.

Doa Penutup Lembar Pertama

Ya Alloh, Yang Maha Mengetahui rahasia hati dan seluruh arah pilihan manusia.

Anugerahkanlah kepada kami ilmu yang menerangi, bukan ilmu yang menyombongkan.

Berikanlah kepada kami rasa yang menundukkan hati, bukan rasa yang membuat kami merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Jadikanlah tauhid kami melahirkan kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan ketundukan kepada-Mu.

Ketika kami melakukan kebaikan, sadarkanlah kami bahwa semuanya terjadi karena pertolongan-Mu.

Ketika kami melakukan kesalahan, kuatkanlah kami untuk mengakuinya, menyesalinya, memohon ampun, dan memperbaikinya.

Jangan biarkan kami menjadikan takdir sebagai alasan untuk mempertahankan keburukan.

Jangan biarkan kami menyandarkan kezaliman kami kepada-Mu.

Jangan biarkan istilah hakikat menutup kejernihan akal dan tuntunan syariat.

Jagalah lisan kami dari merendahkan orang lain.

Jagalah hati kami dari merasa paling memahami rahasia-Mu.

Tuntunlah kami agar dapat membedakan antara daya yang Engkau anugerahkan dan pilihan yang harus kami pertanggungjawabkan.

Sebab kepada-Mu seluruh perjalanan akan kembali.

Di hadapan-Mu seluruh ucapan akan dibuka.

Di hadapan-Mu seluruh niat akan disingkapkan.

Dan di hadapan-Mu setiap manusia akan mengetahui apa yang dahulu dipilih dan dikerjakannya.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


QITAB SABDO QHALLAMMULLOH BILHAQ

Lembar Kedua

DUA NISBAT DALAM SATU PERBUATAN

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang belajar membedakan antara kekuasaan Alloh dan tanggung jawab manusia:

Dalam satu perbuatan terdapat dua sisi yang tidak boleh dicampuradukkan.

Sisi pertama adalah penciptaan dan pemberian kemampuan.

Sisi kedua adalah pemilihan dan penggunaan kemampuan.

Dari sisi penciptaan, manusia tidak memiliki apa pun secara mandiri. Tubuhnya diciptakan. Akalnya dianugerahkan. Tenaganya diberikan. Waktunya dibentangkan. Tempatnya disediakan. Sebab-sebab di sekelilingnya ditetapkan. Bahkan kemampuan untuk memilih pun merupakan karunia yang berada dalam kekuasaan Alloh.

Namun dari sisi penggunaan, manusia menjadi pihak yang mengarahkan pemberian itu. Ia memilih untuk menggunakan mata, telinga, tangan, kaki, lisan, pikiran, dan hartanya menuju kebaikan atau keburukan.

Maka satu perbuatan dapat dipandang dari dua nisbat:

Dari sisi adanya daya dan terjadinya peristiwa, semuanya berada dalam penciptaan dan kekuasaan Alloh.

Dari sisi niat, pilihan, usaha, dan pertanggungjawaban, perbuatan itu dinisbatkan kepada manusia.

Apabila dua sisi ini dipisahkan secara berlebihan, manusia dapat terjatuh ke salah satu dari dua jurang.

Jurang pertama ialah merasa bahwa manusia berkuasa mutlak tanpa Alloh.

Jurang kedua ialah merasa bahwa manusia tidak memiliki tanggung jawab sama sekali.

Keduanya tidak seimbang.

Ayat Renungan Kesebelas: Jangan Mengaku Mandiri dari Alloh

Ada manusia yang berkata di dalam hatinya:

“Keberhasilan ini murni karena kepandaianku.”

Ia lupa bahwa akal yang dipakainya bukan hasil ciptaannya sendiri.

Ia lupa bahwa tubuh yang dipakainya untuk bekerja dapat berhenti kapan saja.

Ia lupa bahwa kesempatan yang diterimanya tidak selalu dapat ia ciptakan.

Ia lupa bahwa ribuan sebab harus bertemu agar satu usaha menghasilkan keberhasilan.

Ia lupa bahwa ada orang yang sama-sama bekerja keras, tetapi menghadapi jalan yang berbeda.

Ketika manusia menyandarkan seluruh keberhasilan hanya kepada dirinya, ia sedang menghapus jejak karunia dari pandangannya.

Padahal seorang hamba yang mengenal Alloh akan berkata:

“Aku telah berusaha, tetapi keberhasilan tidak lahir dari usahaku semata. Ada izin, pertolongan, kesempatan, kesehatan, pertemuan, dan penjagaan Alloh yang tidak mampu kuhitung.”

Kesadaran ini tidak membuat manusia berhenti berusaha.

Sebaliknya, ia membuat manusia semakin bersungguh-sungguh, tetapi tidak sombong.

Ia bekerja, tetapi tidak menyembah hasil.

Ia merencanakan, tetapi tidak menganggap rencananya pasti terjadi.

Ia berikhtiar, tetapi tetap berdoa.

Ia menerima keberhasilan dengan syukur dan menghadapi kegagalan dengan muhasabah.

Inilah kedudukan seorang hamba yang berusaha tanpa mengaku sebagai penguasa mutlak.

Ayat Renungan Kedua Belas: Jangan Menjadikan Takdir sebagai Tempat Bersembunyi

Ada pula manusia yang berbuat salah, lalu berkata:

“Semua sudah menjadi kehendak Alloh.”

Ucapan tersebut dapat benar dari satu sisi, yaitu tidak ada sesuatu yang terjadi di luar pengetahuan dan kekuasaan Alloh.

Namun ucapan itu menjadi keliru apabila digunakan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab.

Seorang pembohong tidak dapat berkata:

“Alloh yang membuatku berdusta.”

Seorang penganiaya tidak dapat berkata:

“Alloh yang menggerakkan tanganku untuk menyakiti.”

Seorang pencuri tidak dapat berkata:

“Aku hanya menjalankan ketentuan.”

Sebab sebelum perbuatan itu dilakukan, terdapat peringatan dalam akal, suara hati, ajaran agama, nasihat orang lain, dan kesempatan untuk menghentikan diri.

Manusia mungkin tidak menguasai seluruh keadaan yang datang kepadanya, tetapi ia tetap bertanggung jawab atas sikap yang dipilihnya dalam menghadapi keadaan tersebut.

Ia tidak memilih dilahirkan di mana.

Ia tidak memilih seluruh ujian yang datang.

Ia tidak dapat mengatur semua ucapan orang lain.

Ia tidak dapat menentukan seluruh hasil.

Namun dalam banyak keadaan, ia tetap diberi ruang untuk memilih:

Akan sabar atau melampiaskan amarah.

Akan berkata jujur atau menipu.

Akan meminta maaf atau mempertahankan kesombongan.

Akan belajar dari kesalahan atau mengulanginya.

Akan menggunakan luka sebagai alasan menyakiti atau menjadikannya jalan untuk lebih memahami penderitaan orang lain.

Maka takdir bukan tempat bersembunyi.

Takdir adalah tempat manusia belajar menerima perkara yang tidak dapat diubah, sambil bertanggung jawab atas perkara yang masih dapat dipilih dan diperbaiki.

Ayat Renungan Ketiga Belas: Perbedaan antara Kehendak Kauniyah dan Perintah Syar’iyah

Alloh menguasai seluruh kejadian di alam.

Tidak ada satu daun pun jatuh di luar pengetahuan-Nya.

Namun kekuasaan Alloh atas suatu kejadian tidak selalu berarti bahwa Alloh menyukai kejadian tersebut.

Ada sesuatu yang Alloh izinkan terjadi sebagai bagian dari hukum alam, ujian, pilihan manusia, dan perjalanan pertanggungjawaban.

Ada pula sesuatu yang Alloh perintahkan, cintai, dan ridhoi sebagai jalan kebaikan.

Maka harus dibedakan antara:

Kehendak kauniyah, yaitu sesuatu yang diizinkan terjadi di alam.

Dan perintah syar’iyah, yaitu sesuatu yang diperintahkan, dicintai, serta diridhoi oleh Alloh.

Kezaliman dapat terjadi secara nyata di alam, tetapi Alloh tidak memerintahkan kezaliman.

Kebohongan dapat terucap, tetapi Alloh tidak mencintai kebohongan.

Pengkhianatan dapat dilakukan, tetapi Alloh tidak meridhoi pengkhianatan.

Manusia dapat menolak kebenaran, tetapi penolakannya tidak menjadikan kebatilan sebagai sesuatu yang dicintai Alloh.

Apabila setiap kejadian dianggap sebagai sesuatu yang pasti diridhoi, maka manusia akan kehilangan ukuran benar dan salah.

Ia dapat membenarkan kejahatan hanya karena kejahatan itu berhasil dilakukan.

Ia dapat menganggap penindasan sebagai kebenaran hanya karena penindas belum dihukum.

Ia dapat menganggap kekayaan sebagai tanda keridhoan, walaupun kekayaan itu diperoleh melalui kezaliman.

Padahal keberhasilan melakukan sesuatu bukan bukti bahwa sesuatu itu benar.

Keterlambatan hukuman bukan bukti bahwa suatu kejahatan telah dimaafkan.

Keluasan rezeki bukan selalu tanda kemuliaan.

Kesempitan hidup bukan selalu tanda kehinaan.

Ada orang yang diberi kelapangan sebagai nikmat.

Ada yang diberi kelapangan sebagai ujian.

Ada yang ditahan rezekinya sebagai perlindungan.

Ada yang diuji melalui kesempitan agar hatinya kembali mengingat Alloh.

Hanya Alloh yang mengetahui hakikat setiap pemberian dan penahanan.

Ayat Renungan Keempat Belas: Nilai Perbuatan Tidak Hanya Terletak pada Bentuknya

Dua orang dapat melakukan perbuatan yang tampak sama, tetapi nilainya berbeda karena niat dan keadaannya berbeda.

Dua orang dapat memberikan harta.

Yang pertama memberi karena kasih sayang dan mengharap ridho Alloh.

Yang kedua memberi agar dipuji dan dianggap paling dermawan.

Dari luar, perbuatannya sama.

Namun di hadapan Alloh, isi hatinya berbeda.

Dua orang dapat diam ketika melihat perselisihan.

Yang pertama diam agar tidak menambah fitnah.

Yang kedua diam karena takut kehilangan keuntungan, walaupun ia mampu menolong orang yang dizalimi.

Bentuk diamnya sama.

Namun alasan dan pertanggungjawabannya berbeda.

Dua orang dapat berbicara keras.

Yang pertama melakukannya karena marah dan ingin merendahkan.

Yang kedua melakukannya dalam keadaan darurat untuk memperingatkan orang dari bahaya.

Bentuk suaranya mungkin sama.

Namun tujuan dan nilainya berbeda.

Karena itu, perbuatan manusia tidak hanya ditimbang dari gerak tubuhnya.

Perbuatan juga berkaitan dengan:

Niat yang mendahuluinya.

Pengetahuan yang dimilikinya.

Kemampuan yang tersedia.

Pilihan yang diambil.

Cara yang ditempuh.

Akibat yang ditinggalkan.

Dan kesediaannya memperbaiki diri ketika mengetahui kesalahannya.

Maka jangan terlalu cepat memuji diri hanya karena bentuk perbuatan tampak baik.

Dan jangan terlalu cepat menghukumi orang lain hanya karena engkau melihat sebagian kecil dari perjalanannya.

Alloh mengetahui apa yang tampak dan tersembunyi.

Ayat Renungan Kelima Belas: Niat Tidak Membenarkan Cara yang Salah

Sebagian manusia berkata:

“Niatku sebenarnya baik.”

Namun niat baik tidak selalu cukup untuk membenarkan cara yang salah.

Seseorang mungkin ingin menasihati, tetapi ia melakukannya dengan mempermalukan orang di hadapan banyak orang.

Seseorang mungkin mengaku ingin menjaga kebenaran, tetapi ia menyebarkan kabar yang belum jelas.

Seseorang mungkin mengaku membela agama, tetapi lisannya dipenuhi hinaan dan kebencian.

Seseorang mungkin mengaku ingin menyadarkan, tetapi ia justru merendahkan martabat orang yang sedang dinasihati.

Maka harus dibedakan antara niat baik dan pelaksanaan yang baik.

Niat perlu dibersihkan.

Cara perlu ditertibkan.

Dampak perlu dipertimbangkan.

Adab perlu dijaga.

Kebenaran yang disampaikan tanpa hikmah dapat ditolak karena kasar.

Nasihat yang disampaikan dengan kesombongan dapat berubah menjadi pertunjukan ego.

Ilmu yang disampaikan untuk menang dalam perdebatan dapat kehilangan cahaya kemanfaatannya.

Karena itu, seorang pencari kebenaran tidak hanya bertanya:

“Apakah niatku baik?”

Ia juga bertanya:

“Apakah caraku benar?”

“Apakah ucapanku menjaga kehormatan?”

“Apakah aku sedang menolong atau hanya ingin terlihat menang?”

“Apakah setelah berbicara, orang semakin dekat kepada kebenaran atau justru semakin terluka?”

Inilah muhasabah bagi lisan dan perbuatan.

Ayat Renungan Keenam Belas: Ucapan Juga Merupakan Perbuatan

Banyak manusia mengira bahwa perbuatan hanya dilakukan dengan tangan dan kaki.

Padahal ucapan juga merupakan perbuatan.

Kata-kata dapat membangun.

Kata-kata dapat menghancurkan.

Kata-kata dapat membuka pintu perdamaian.

Kata-kata dapat menyalakan pertengkaran.

Kata-kata dapat menguatkan orang yang hampir menyerah.

Kata-kata dapat membuat seseorang membawa luka selama bertahun-tahun.

Karena itu, jangan berkata:

“Aku hanya bercanda.”

Apabila candaanmu merendahkan kehormatan orang lain.

Jangan berkata:

“Aku hanya berkata jujur.”

Apabila kejujuran itu sengaja disampaikan dengan cara yang melukai dan mempermalukan.

Jangan berkata:

“Itu hanya tulisan.”

Sebab tulisan dapat berjalan lebih jauh daripada suara.

Tulisan dapat dibaca oleh banyak orang.

Tulisan dapat disimpan.

Tulisan dapat disebarkan.

Tulisan dapat hidup lebih lama daripada penulisnya.

Maka setiap ucapan dan tulisan membawa jejak.

Ketika kata-kata keluar, ia tidak lagi sepenuhnya berada dalam kekuasaan orang yang mengucapkannya.

Ia masuk ke hati orang lain.

Ia memengaruhi pikiran.

Ia dapat diteruskan.

Ia dapat dipahami secara berbeda.

Ia dapat menjadi pahala yang terus mengalir atau dosa yang terus menyebar.

Karena itu, jagalah lisan sebelum lisan menjadi saksi.

Jagalah tulisan sebelum tulisan menjadi perjalanan yang tidak dapat engkau hentikan.

Ayat Renungan Ketujuh Belas: Tanggung Jawab Bertambah Seiring Bertambahnya Pengetahuan

Orang yang tidak mengetahui tidak sama dengan orang yang telah mengetahui.

Orang yang melakukan kesalahan karena benar-benar tidak memahami tidak sama dengan orang yang sengaja menolak kebenaran setelah memahaminya.

Semakin luas ilmu seseorang, semakin besar tanggung jawabnya.

Semakin banyak orang yang mendengar ucapannya, semakin berat ia menjaga kebenaran.

Semakin tinggi kedudukannya, semakin luas akibat dari keputusannya.

Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya.

Keputusannya dapat memengaruhi banyak orang.

Seorang guru tidak hanya bertanggung jawab atas kata-katanya.

Pemahamannya dapat diwarisi murid-muridnya.

Seorang penulis tidak hanya bertanggung jawab pada saat menulis.

Tulisan itu dapat terus hidup ketika dirinya telah meninggalkan dunia.

Seorang tokoh tidak hanya ditimbang dari kesalehan pribadi.

Ia juga ditimbang dari arah yang ia tunjukkan kepada pengikutnya.

Karena itu, jangan tergesa-gesa mengajarkan sesuatu yang belum dipahami dengan matang.

Jangan menjadikan istilah tinggi sebagai perhiasan agar tampak dalam.

Jangan menggunakan nama Alloh untuk menguatkan pendapat pribadi yang belum jelas dasarnya.

Jangan menyebut sesuatu sebagai hakikat hanya karena sulit dibantah.

Hakikat tidak takut kepada penjelasan.

Kebenaran tidak takut kepada pertanyaan.

Ilmu yang kokoh tidak perlu berlindung di balik penghinaan.

Ayat Renungan Kedelapan Belas: Ketika Ego Mengenakan Pakaian Rohani

Ego tidak selalu datang dalam bentuk kesombongan duniawi.

Kadang ego datang melalui pakaian kerendahan hati.

Ia berkata:

“Aku bukan siapa-siapa.”

Namun di dalam hatinya ia ingin dianggap paling tawaduk.

Kadang ego datang melalui bahasa hakikat.

Ia berkata:

“Aku sudah tidak melihat diriku.”

Namun ia marah ketika pendapatnya tidak dihormati.

Kadang ego datang melalui pengakuan telah memasuki rasa.

Ia berkata:

“Kalian masih berada di kulit.”

Namun lisannya gemar merendahkan orang lain.

Kadang ego datang melalui pembicaraan tentang kesatuan.

Ia berkata:

“Semua adalah satu.”

Namun ia tetap membeda-bedakan manusia berdasarkan siapa yang memujinya dan siapa yang mengoreksinya.

Maka jangan hanya memeriksa kata-kata.

Periksalah buahnya.

Apakah ilmu membuatmu semakin sabar?

Apakah rasa membuatmu semakin lembut?

Apakah tauhid membuatmu semakin jujur?

Apakah makrifat membuatmu semakin takut berbuat zalim?

Apakah kedalaman batin membuatmu semakin mudah mengakui kesalahan?

Apabila jawabannya tidak, mungkin yang tumbuh bukanlah cahaya, melainkan ego yang telah belajar menggunakan istilah rohani.

Ego yang berpakaian dunia mudah dikenali.

Namun ego yang berpakaian rohani lebih sulit dibongkar, karena ia merasa sedang membela kebenaran.

Ayat Renungan Kesembilan Belas: Orang yang Benar Tidak Takut Mengakui Kesalahan

Sebagian manusia menganggap mengakui kesalahan sebagai kekalahan.

Padahal dalam perjalanan batin, kemampuan mengakui kesalahan merupakan tanda kekuatan.

Orang lemah mempertahankan kesalahan karena takut kehilangan harga diri.

Orang kuat berani berkata:

“Aku keliru.”

“Aku belum memahami.”

“Penjelasanku perlu diperbaiki.”

“Aku telah menyakiti.”

“Aku harus meminta maaf.”

Mengakui kesalahan tidak merendahkan manusia.

Kesombongan untuk mempertahankan kesalahanlah yang merendahkan manusia.

Orang yang benar-benar mencari kebenaran tidak hanya ingin menang.

Ia ingin diluruskan ketika keliru.

Ia tidak hanya senang ketika ucapannya diterima.

Ia juga bersyukur ketika ada yang menunjukkan kekurangannya.

Ia mengetahui bahwa kebenaran lebih mulia daripada nama dirinya.

Ia mengetahui bahwa menjaga kesalahan demi mempertahankan wibawa adalah bentuk pengkhianatan terhadap ilmu.

Maka ketika engkau dikoreksi, jangan segera memandang orang yang mengoreksi sebagai musuh.

Periksa dahulu isi koreksinya.

Mungkin Alloh sedang mengirimkan pelajaran melalui orang yang tidak engkau sukai.

Mungkin Alloh sedang mematahkan kesombonganmu melalui kalimat sederhana.

Mungkin Alloh sedang menyelamatkanmu dari kesalahan yang lebih besar.

Ayat Renungan Kedua Puluh: Buah Tauhid yang Benar

Tauhid yang benar tidak membuat manusia pasif.

Tauhid yang benar membuat manusia giat berusaha, tetapi tidak sombong.

Tauhid yang benar tidak membuat manusia menyalahkan takdir.

Tauhid yang benar membuat manusia menerima hasil setelah menunaikan ikhtiar.

Tauhid yang benar tidak membuat manusia membenarkan keburukan.

Tauhid yang benar membuat manusia semakin berhati-hati karena mengetahui bahwa setiap pilihan akan kembali di hadapan Alloh.

Tauhid yang benar tidak membuat manusia merendahkan sesama.

Tauhid yang benar membuat manusia melihat bahwa dirinya pun hidup karena karunia.

Tauhid yang benar tidak hanya hadir dalam ucapan:

“Semua dari Alloh.”

Tauhid yang benar tampak ketika seseorang memperoleh keberhasilan lalu bersyukur.

Ketika gagal lalu tidak putus asa.

Ketika berbuat salah lalu bertobat.

Ketika memiliki kekuasaan lalu tidak menzalimi.

Ketika memiliki ilmu lalu tidak merendahkan.

Ketika dipuji lalu tidak mabuk pujian.

Ketika dikritik lalu tidak kehilangan adab.

Ketika memiliki pilihan lalu mengarahkannya kepada kebaikan.

Inilah tauhid yang membuahkan akhlak.

Sabdo Peneguhan Lembar Kedua

Wahai jiwa, jangan pisahkan kehendak Alloh dari usaha manusia sehingga engkau merasa berkuasa tanpa-Nya.

Namun jangan pula hapus usaha manusia atas nama kehendak Alloh sehingga engkau melarikan diri dari pertanggungjawaban.

Engkau tidak menciptakan dayamu.

Namun engkau akan ditanya untuk apa daya itu digunakan.

Engkau tidak menciptakan lisanmu.

Namun engkau akan ditanya kata apa yang keluar darinya.

Engkau tidak menciptakan hartamu dari ketiadaan.

Namun engkau akan ditanya bagaimana engkau memperolehnya dan ke mana engkau membelanjakannya.

Engkau tidak menciptakan ilmumu secara mandiri.

Namun engkau akan ditanya apakah ilmu itu digunakan untuk menerangi atau meninggikan diri.

Engkau tidak menentukan seluruh perjalanan hidupmu.

Namun engkau akan ditanya bagaimana engkau bersikap di sepanjang perjalanan tersebut.

Maka jangan sombong ketika mampu.

Jangan putus asa ketika lemah.

Jangan bersembunyi di balik takdir ketika bersalah.

Jangan mengaku pemilik mutlak ketika berhasil.

Berusahalah sebagai manusia yang diberi pilihan.

Berserah dirilah sebagai hamba yang mengetahui batasnya.

Rahasia Dua Nisbat

Dua nisbat bukanlah dua kekuasaan yang berdiri sendiri.

Alloh tetap Mahakuasa.

Manusia tetap hamba.

Namun dalam kebijaksanaan-Nya, Alloh memberikan ruang ikhtiar agar manusia mengalami ujian, belajar, memilih, bertobat, dan bertanggung jawab.

Maka perbuatan manusia tidak keluar dari kekuasaan Alloh.

Tetapi kekuasaan Alloh juga tidak dapat dijadikan alasan untuk menisbatkan kezaliman kepada-Nya.

Alloh menciptakan kemampuan.

Manusia memilih arah.

Alloh menetapkan akibat.

Manusia memetik tanggung jawab.

Alloh membuka pintu tobat.

Manusia menentukan apakah ia akan kembali atau terus mempertahankan kesalahan.

Doa Penutup Lembar Kedua

Ya Alloh, Yang Maha Menguasai seluruh daya dan gerak.

Jangan biarkan kami merasa mampu tanpa pertolongan-Mu.

Jangan pula biarkan kami menggunakan takdir sebagai alasan untuk mempertahankan kesalahan.

Ajarkan kami membedakan perkara yang harus diterima dengan perkara yang harus diperbaiki.

Berilah kami kekuatan untuk berusaha tanpa kesombongan.

Berilah kami ketenangan untuk berserah tanpa kemalasan.

Berilah kami keberanian untuk mengakui kesalahan.

Berilah kami kerendahan hati untuk menerima nasihat.

Jagalah kami dari ego yang mengenakan pakaian ilmu dan kerohanian.

Jadikan lisan kami menyampaikan kebenaran dengan adab.

Jadikan tangan kami memilih pertolongan, bukan kezaliman.

Jadikan ilmu kami menerangi langkah, bukan meninggikan diri.

Jadikan setiap pilihan kami semakin dekat kepada ridho-Mu.

Ketika kami diberi kebaikan, tumbuhkan syukur.

Ketika kami tergelincir, bukakan pintu tobat.

Ketika kami berbeda pendapat, jagalah kehormatan dan kasih sayang di antara kami.

Sebab seluruh daya berasal dari-Mu.

Seluruh perjalanan berada dalam pengetahuan-Mu.

Dan setiap pilihan akan kembali untuk dipertanggungjawabkan di hadapan-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


QITAB SABDO QHALLAMMULLOH BILHAQ

Lembar Ketiga

JALAN SEBAB, AKIBAT, DAN KEMBALINYA SETIAP PERBUATAN

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang menelusuri rahasia perbuatan:

Tidak ada perbuatan yang berhenti hanya karena gerakan tubuh telah selesai.

Tangan boleh berhenti setelah memberi.

Lidah boleh diam setelah mengucapkan kata.

Kaki boleh pulang setelah menempuh suatu jalan.

Namun pengaruh perbuatan dapat terus berjalan melewati waktu, memasuki hati manusia, membentuk kebiasaan, membuka jalan baru, atau menimbulkan akibat yang tidak langsung terlihat.

Satu perbuatan dapat melahirkan perbuatan berikutnya.

Satu ucapan dapat mengubah keputusan seseorang.

Satu keputusan dapat mengubah arah sebuah keluarga.

Satu kebiasaan dapat membentuk watak.

Satu keteladanan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Maka jangan mengira bahwa perbuatan hanyalah gerak yang terjadi sesaat.

Perbuatan adalah benih.

Niat adalah tanahnya.

Cara adalah airnya.

Kebiasaan adalah pertumbuhannya.

Akibat adalah buahnya.

Dan pertanggungjawaban adalah saat manusia melihat kembali apa yang pernah ditanamnya.

Ayat Renungan Kedua Puluh Satu: Setiap Perbuatan Menanam Jejak

Manusia sering hanya memperhatikan hasil yang terlihat.

Ia menganggap suatu perbuatan selesai ketika tidak ada orang yang membicarakannya.

Ia merasa aman ketika kesalahannya tidak diketahui.

Ia merasa rugi ketika kebaikannya tidak dipuji.

Padahal penilaian manusia bukanlah ukuran terakhir.

Ada kebaikan yang tidak dikenal manusia, tetapi diketahui Alloh.

Ada pengorbanan yang tidak dibalas di dunia, tetapi tidak hilang dalam pengetahuan-Nya.

Ada keburukan yang tertutup bertahun-tahun, tetapi terus membentuk kegelapan di dalam jiwa pelakunya.

Ada kebohongan kecil yang dianggap ringan, lalu menjadi pintu bagi kebohongan berikutnya.

Ada penghinaan yang dianggap bercanda, tetapi tinggal lama sebagai luka di hati orang lain.

Ada bantuan sederhana yang hampir dilupakan pemberinya, tetapi menjadi sebab seseorang kembali memiliki harapan.

Maka satu perbuatan dapat meninggalkan beberapa jejak sekaligus:

Jejak pada diri pelaku.

Jejak pada orang yang menerima akibat.

Jejak pada lingkungan.

Jejak dalam kebiasaan.

Jejak dalam ingatan.

Dan jejak dalam pertanggungjawaban di hadapan Alloh.

Orang yang terus berbuat baik akan lebih mudah memilih kebaikan berikutnya.

Orang yang terbiasa berbohong akan semakin sulit merasakan beratnya kebohongan.

Orang yang sering meminta maaf akan belajar merendahkan ego.

Orang yang selalu mempertahankan kesalahan akan semakin sulit menerima kebenaran.

Inilah salah satu hukum perjalanan jiwa:

Perbuatan yang diulang akan membentuk kebiasaan, kebiasaan yang dipelihara akan membentuk watak, dan watak akan mengarahkan banyak keputusan berikutnya.

Karena itu, jangan meremehkan satu langkah kecil.

Setiap langkah sedang mengajari jiwamu menjadi sesuatu.

Ayat Renungan Kedua Puluh Dua: Sebab Tidak Berdiri Sendiri

Manusia hidup di dalam jaringan sebab.

Tanaman tumbuh melalui tanah, air, cahaya, udara, dan waktu.

Tubuh bertahan melalui makanan, istirahat, kesehatan, dan perlindungan.

Ilmu bertambah melalui belajar, bertanya, membaca, mengingat, dan mengalami.

Rezeki datang melalui banyak jalan yang kadang tidak seluruhnya terlihat.

Namun sebab tidak berkuasa secara mandiri.

Obat dapat menjadi sebab kesembuhan, tetapi bukan penguasa mutlak atas kesembuhan.

Pekerjaan dapat menjadi jalan rezeki, tetapi pekerjaan bukan pencipta rezeki.

Guru dapat menjadi jalan ilmu, tetapi guru bukan sumber mutlak segala pengetahuan.

Makanan dapat menguatkan tubuh, tetapi makanan tidak menjamin kehidupan tanpa izin Alloh.

Karena itu, seorang hamba tidak boleh menolak sebab.

Namun ia juga tidak boleh menyembah sebab.

Ia berobat, tetapi hatinya bergantung kepada Alloh.

Ia bekerja, tetapi tidak menjadikan pekerjaan sebagai tuhan.

Ia belajar kepada guru, tetapi tidak menganggap guru selalu benar.

Ia menyusun rencana, tetapi menyadari bahwa hasil tidak sepenuhnya berada dalam genggamannya.

Menolak sebab dapat menjadi kelalaian.

Menganggap sebab berkuasa sendiri dapat menjadi kesombongan.

Jalan yang lebih tertib ialah:

Gunakan sebab sebagai bentuk ikhtiar, tetapi sandarkan hasil kepada Alloh.

Ayat Renungan Kedua Puluh Tiga: Akibat Tidak Selalu Datang Seketika

Sebagian manusia mengira bahwa setiap perbuatan harus segera memperoleh balasan.

Ketika melihat orang zalim masih hidup nyaman, ia bertanya:

“Mengapa tidak langsung dihukum?”

Ketika melihat orang baik masih mengalami kesulitan, ia bertanya:

“Mengapa kebaikannya belum dibalas?”

Pertanyaan itu lahir karena manusia menilai waktu hanya dari penglihatannya sendiri.

Padahal waktu Alloh tidak tunduk kepada ketergesaan manusia.

Ada akibat yang datang dengan segera.

Ada yang datang setelah bertahun-tahun.

Ada yang muncul melalui perubahan hati.

Ada yang tampak melalui hilangnya kepercayaan.

Ada yang dirasakan melalui kegelisahan.

Ada yang disimpan sampai manusia memasuki kehidupan berikutnya.

Seorang pendusta mungkin belum langsung kehilangan harta, tetapi ia mulai kehilangan ketenangan.

Seorang pengkhianat mungkin belum segera dihukum, tetapi sedikit demi sedikit kehilangan kepercayaan orang-orang di sekitarnya.

Seorang yang tulus mungkin belum memperoleh kelapangan materi, tetapi ia diberi kekuatan hati yang tidak dimiliki banyak orang.

Seorang yang sabar mungkin masih menangis, tetapi tangisnya tidak selalu berarti ia ditinggalkan.

Boleh jadi kesabarannya sedang membentuk keluasan jiwa.

Boleh jadi penderitaannya sedang menghapus kesombongan.

Boleh jadi kesulitannya sedang menjauhkannya dari jalan yang lebih buruk.

Namun manusia tidak boleh memastikan bahwa setiap kesusahan adalah hukuman atau setiap kesenangan adalah keridhoan.

Ada kesusahan sebagai ujian.

Ada kesusahan sebagai akibat kesalahan.

Ada kesusahan sebagai pendidikan.

Ada kesusahan sebagai perlindungan.

Ada kenikmatan sebagai rahmat.

Ada kenikmatan sebagai ujian.

Ada kenikmatan yang membuka rasa syukur.

Ada pula kenikmatan yang membuat manusia semakin lalai.

Alloh mengetahui hakikat setiap keadaan.

Tugas manusia bukan merasa mengetahui seluruh rahasia takdir.

Tugasnya ialah memeriksa diri, memperbaiki kesalahan, bersabar menghadapi yang tidak dapat diubah, dan terus berbuat baik.

Ayat Renungan Kedua Puluh Empat: Perbuatan Kembali melalui Diri Sendiri

Tidak semua balasan datang dari luar.

Sebagian akibat perbuatan kembali melalui perubahan di dalam jiwa pelakunya.

Orang yang terus menyimpan kebencian sedang membawa api di dalam dadanya sendiri.

Orang yang selalu iri akan sulit menikmati karunia yang telah dimilikinya.

Orang yang gemar merendahkan akan hidup dalam kebutuhan untuk selalu merasa lebih tinggi.

Orang yang terbiasa berbohong akan terus mengingat cerita apa yang pernah disampaikannya.

Orang yang suka memanipulasi akan hidup dalam ketakutan bahwa orang lain juga sedang memanipulasinya.

Sebaliknya, orang yang belajar memaafkan sedang membebaskan jiwanya dari beban.

Orang yang jujur tidak perlu menghafal banyak kebohongan.

Orang yang suka menolong sedang melatih hatinya mengenali penderitaan.

Orang yang menjaga amanah sedang membangun keteguhan di dalam dirinya.

Orang yang terbiasa bersyukur akan lebih mudah melihat nikmat di tengah keterbatasan.

Maka jangan hanya memandang balasan sebagai sesuatu yang akan datang dari langit dalam bentuk kejadian besar.

Kadang balasan itu sedang tumbuh di dalam dirimu:

Menjadi ketenteraman atau kegelisahan.

Menjadi keluasan atau kesempitan.

Menjadi keberanian atau ketakutan.

Menjadi kejernihan atau kebingungan.

Menjadi kelembutan atau kekerasan hati.

Setiap perbuatan sedang membentuk siapa dirimu.

Ayat Renungan Kedua Puluh Lima: Perjalanan Ucapan setelah Keluar dari Lisan

Ucapan memiliki perjalanan yang panjang.

Ketika kata masih berada di dalam pikiran, manusia masih dapat menimbangnya.

Ketika kata telah keluar, manusia tidak lagi sepenuhnya menguasai ke mana ia akan pergi.

Ucapan dapat didengar oleh satu orang, lalu diceritakan kepada orang kedua.

Dari orang kedua, ia dapat berpindah kepada orang ketiga.

Sedikit demi sedikit, kata dapat berubah, bertambah, berkurang, dan meluas.

Karena itu, jangan mudah menyampaikan kabar yang belum jelas.

Jangan menambahkan sesuatu yang tidak diketahui.

Jangan menyebarkan aib hanya karena merasa sedang membicarakan kebenaran.

Jangan memotong perkataan seseorang lalu menafsirkannya sesuai keinginan sendiri.

Satu berita palsu dapat merusak nama baik.

Satu tuduhan dapat memutuskan persaudaraan.

Satu ejekan dapat menanam rasa malu.

Satu nasihat yang lembut dapat menyelamatkan seseorang dari keputusan buruk.

Satu permintaan maaf dapat membuka pintu perdamaian yang telah lama tertutup.

Maka sebelum berkata, bertanyalah kepada dirimu:

Apakah aku benar-benar mengetahui?

Apakah perkataan ini perlu?

Apakah cara penyampaiannya beradab?

Apakah aku sedang memperbaiki atau mempermalukan?

Apakah kata-kataku akan membawa cahaya atau menambah kegelapan?

Jika belum jelas, diam lebih selamat.

Namun apabila kebenaran harus disampaikan, sampaikanlah dengan ilmu, keberanian, dan kasih sayang.

Diam tidak selalu mulia.

Berbicara tidak selalu salah.

Yang dinilai ialah niat, kebutuhan, isi, cara, dan akibatnya.

Ayat Renungan Kedua Puluh Enam: Kesalahan yang Tidak Diperbaiki Menjadi Warisan

Satu kesalahan mungkin hanya dilakukan oleh satu orang.

Namun apabila kesalahan itu diajarkan, dibenarkan, atau dicontohkan, akibatnya dapat diwariskan kepada banyak orang.

Seorang ayah yang terbiasa berkata kasar dapat membuat anak mengira bahwa kekerasan adalah cara biasa menyelesaikan masalah.

Seorang guru yang merendahkan murid dapat membuat murid mewarisi ketakutan terhadap ilmu.

Seorang pemimpin yang membenarkan kebohongan demi kepentingan kelompok dapat mengajarkan bahwa hasil lebih penting daripada kejujuran.

Seorang tokoh yang memakai agama untuk menutupi kesombongan dapat membuat pengikut mengira bahwa merendahkan orang lain adalah tanda kedalaman iman.

Maka manusia tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Ia juga dapat menanggung bagian dari akibat ketika perbuatannya menjadi contoh yang diikuti.

Demikian pula dalam kebaikan.

Seseorang yang mengajarkan kejujuran melalui teladan dapat melahirkan generasi yang menjaga amanah.

Seseorang yang mengajarkan anak berdoa dapat terus memperoleh kebaikan dari doa yang diwariskan.

Seseorang yang membuka jalan pendidikan dapat menolong banyak manusia yang bahkan tidak pernah mengenalnya.

Seseorang yang menulis nasihat yang benar dapat meninggalkan cahaya setelah dirinya tiada.

Maka berhati-hatilah terhadap jejak yang engkau wariskan.

Tanyakanlah:

“Apabila perbuatanku ditiru oleh banyak orang, apakah aku akan bahagia melihat hasilnya?”

Jika tidak, hentikanlah sebelum kesalahan itu tumbuh menjadi warisan.

Ayat Renungan Kedua Puluh Tujuh: Tobat Memutus Rantai Keburukan

Manusia dapat bersalah.

Manusia dapat tersesat dalam keputusan.

Manusia dapat melakukan sesuatu yang kemudian disesalinya.

Namun Alloh tidak menutup pintu kembali bagi orang yang sungguh-sungguh bertobat.

Tobat bukan sekadar berkata:

“Aku menyesal.”

Tobat memiliki perjalanan.

Pertama, manusia berhenti dari kesalahan.

Kedua, ia mengakui bahwa perbuatan itu salah.

Ketiga, ia menyesal bukan hanya karena tertangkap atau kehilangan keuntungan, tetapi karena menyadari telah melanggar batas.

Keempat, ia bertekad tidak mengulanginya.

Kelima, apabila kesalahan menyangkut hak manusia, ia berusaha mengembalikan hak, meminta maaf, atau memperbaiki kerusakan sesuai kemampuannya.

Tobat yang benar mengubah arah.

Ia tidak menghapus kenyataan bahwa kesalahan pernah terjadi, tetapi membuka kemungkinan agar kesalahan tidak terus menentukan masa depan.

Orang yang dahulu kasar dapat belajar menjadi lembut.

Orang yang dahulu berbohong dapat membangun kejujuran.

Orang yang dahulu sombong dapat belajar merendahkan diri.

Orang yang dahulu menzalimi dapat mengabdikan hidupnya untuk memperbaiki kerusakan.

Maka jangan menutup harapan bagi orang yang ingin kembali.

Namun jangan pula menggunakan luasnya ampunan sebagai alasan untuk sengaja mengulang kesalahan.

Ampunan adalah pintu pulang.

Bukan izin untuk terus berjalan menjauh.

Ayat Renungan Kedua Puluh Delapan: Meminta Maaf dan Memperbaiki Akibat

Sebagian manusia merasa cukup dengan memohon ampun kepada Alloh, padahal kesalahannya telah melukai orang lain.

Ia berdoa panjang, tetapi tidak mengembalikan barang yang diambil.

Ia menangis dalam ibadah, tetapi tidak meminta maaf kepada orang yang difitnah.

Ia berbicara tentang penyucian jiwa, tetapi tidak memperbaiki hak yang dirusaknya.

Hubungan dengan Alloh tidak boleh dijadikan alasan mengabaikan tanggung jawab kepada manusia.

Apabila kesalahan hanya berkaitan dengan diri sendiri, tobat pribadi dapat menjadi jalan perbaikan.

Namun apabila kesalahan mengenai hak orang lain, harus ada usaha mengembalikan hak tersebut.

Meminta maaf bukan hanya mengucapkan:

“Maaf kalau kamu tersinggung.”

Ucapan itu kadang masih memindahkan kesalahan kepada orang yang terluka.

Permintaan maaf yang lebih jujur ialah:

“Aku telah berkata atau berbuat salah. Aku memahami bahwa perbuatanku melukaimu. Aku tidak akan membenarkannya. Aku akan berusaha memperbaiki dan tidak mengulanginya.”

Namun meminta maaf tidak berarti memaksa orang lain segera memaafkan.

Orang yang terluka mungkin memerlukan waktu.

Tugas pelaku ialah bersungguh-sungguh memperbaiki.

Tugas korban ialah menjaga dirinya dan memilih jalan yang paling sehat tanpa dipaksa oleh tekanan rohani.

Keadilan dan kasih sayang harus berjalan bersama.

Ayat Renungan Kedua Puluh Sembilan: Jangan Menyebut Akibat sebagai Kutukan secara Tergesa-gesa

Ketika seseorang mengalami kesulitan, jangan terburu-buru berkata:

“Itu balasan atas kesalahanmu.”

Manusia tidak mengetahui seluruh rahasia keadaan orang lain.

Ucapan semacam itu dapat menambah luka dan membuat seseorang merasa dihakimi.

Seorang yang sakit belum tentu sedang dihukum.

Seorang yang miskin belum tentu malas.

Seorang yang kehilangan belum tentu berdosa.

Seorang yang mengalami kegagalan belum tentu ditolak Alloh.

Para nabi dan orang-orang saleh pun mengalami kesulitan.

Karena itu, jangan menjadikan hukum sebab-akibat sebagai alat menghakimi penderitaan orang.

Gunakanlah pembahasan sebab-akibat untuk muhasabah diri, bukan untuk merasa mengetahui seluruh rahasia hidup orang lain.

Ketika dirimu mengalami kesulitan, periksalah dengan jujur:

Apakah ada kesalahan yang harus diperbaiki?

Apakah ada sebab nyata yang perlu ditangani?

Apakah ada pertolongan yang perlu diminta?

Apakah keadaan ini merupakan ujian yang harus dihadapi dengan sabar?

Setelah itu, lakukan yang dapat dilakukan dan serahkan yang tidak dapat dikuasai kepada Alloh.

Jangan menyiksa diri dengan tuduhan tanpa dasar.

Jangan pula menolak kemungkinan bahwa sebagian kesulitan memang berasal dari pilihan yang salah.

Muhasabah harus jujur, tetapi tidak kejam.

Ayat Renungan Ketiga Puluh: Ukuran Kedalaman Bukan Keanehan Ucapan

Ada orang yang merasa sebuah ucapan semakin dalam apabila semakin sulit dipahami.

Ia menggunakan istilah tinggi, susunan samar, dan pernyataan yang tidak memiliki batas jelas.

Ketika ditanya, ia berkata:

“Ini hanya dapat dipahami dengan rasa.”

Padahal kebenaran yang dalam tidak harus selalu disampaikan secara kabur.

Air yang dalam tetap dapat terlihat jernih.

Ilmu yang kokoh dapat menjelaskan perbedaan tanpa menyembunyikan diri di balik istilah.

Apabila seseorang mengatakan:

“Semua perbuatan adalah perbuatan Yang Satu,”

maka ia harus menjelaskan:

Apakah manusia masih memiliki pilihan?

Apakah manusia masih bertanggung jawab?

Apakah kezaliman diridhoi?

Apakah dosa dan pahala masih memiliki makna?

Apakah tobat diperlukan?

Apabila pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dijawab, ucapan itu belum duduk.

Kedalaman tidak diukur dari kesulitan bahasa.

Kedalaman diukur dari kemampuan menjelaskan hakikat tanpa merusak syariat, akal, tanggung jawab, dan adab.

Sabdo Peneguhan Lembar Ketiga

Wahai jiwa, ketahuilah bahwa setiap perbuatanmu sedang berjalan.

Ia dapat berjalan menjadi cahaya.

Ia dapat berjalan menjadi luka.

Ia dapat kembali sebagai kepercayaan.

Ia dapat kembali sebagai penyesalan.

Ia dapat diwariskan sebagai keteladanan.

Ia dapat diwariskan sebagai kebiasaan buruk.

Maka jangan hanya bertanya:

“Apakah orang lain melihat?”

Tanyakanlah:

“Jejak apakah yang sedang kutinggalkan?”

Jangan hanya bertanya:

“Apakah aku akan dihukum?”

Tanyakanlah:

“Manusia seperti apakah yang sedang dibentuk oleh perbuatanku?”

Jangan hanya bertanya:

“Siapa yang harus disalahkan?”

Tanyakanlah:

“Bagian mana yang menjadi tanggung jawabku untuk diperbaiki?”

Sebab pencari kebenaran tidak sibuk membenarkan diri.

Ia sibuk membersihkan niat, memperbaiki cara, dan menjaga akibat.

Rahasia Kembalinya Perbuatan

Setiap perbuatan akan kembali dengan jalannya masing-masing.

Ada yang kembali melalui hati pelakunya.

Ada yang kembali melalui reaksi orang lain.

Ada yang kembali melalui kebiasaan.

Ada yang kembali melalui hukum sebab dan akibat.

Ada yang kembali melalui doa orang yang tertolong.

Ada yang kembali melalui tangisan orang yang dizalimi.

Ada yang kembali di dunia.

Ada yang disimpan sampai akhir perjalanan.

Manusia mungkin melupakan.

Orang lain mungkin tidak mengetahui.

Namun Alloh tidak kehilangan jejak apa pun.

Karena itu, jangan putus asa ketika kebaikanmu tidak dilihat.

Dan jangan merasa aman ketika keburukanmu tidak diketahui.

Yang tersembunyi bagi manusia tetap terbuka dalam ilmu Alloh.

Doa Penutup Lembar Ketiga

Ya Alloh, Yang Maha Mengetahui awal dan akhir setiap perbuatan.

Ajarkanlah kami melihat akibat sebelum mengambil keputusan.

Bersihkanlah niat kami sebelum tangan bergerak.

Jagalah lisan kami sebelum kata-kata berjalan memasuki hati orang lain.

Jangan biarkan kami meremehkan kebaikan yang kecil.

Jangan pula biarkan kami menganggap ringan kesalahan yang terus diulang.

Apabila kami telah melukai, berilah keberanian untuk meminta maaf.

Apabila kami telah mengambil hak, kuatkanlah kami untuk mengembalikannya.

Apabila kami telah tersesat, bukakanlah pintu tobat.

Apabila kami sedang diuji, berilah kejernihan agar tidak tergesa-gesa menuduh diri atau menghakimi orang lain.

Jadikan ilmu sebab dan akibat sebagai jalan muhasabah, bukan alat kesombongan.

Jadikan pemahaman takdir sebagai sumber keteguhan, bukan tempat bersembunyi dari tanggung jawab.

Jadikan kami manusia yang menggunakan sebab dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menggantungkan hati kepada sebab.

Jadikan setiap kata kami membawa keselamatan.

Jadikan setiap langkah kami meninggalkan kebaikan.

Jadikan setiap kesalahan sebagai pintu pembelajaran dan pertobatan.

Sebab seluruh perbuatan akan kembali.

Seluruh perjalanan akan dibuka.

Seluruh ucapan akan diperdengarkan.

Dan setiap jiwa akan menyaksikan jejak yang pernah ditanamnya.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


QITAB SABDO QHALLAMMULLOH BILHAQ

Lembar Keempat — Lembar Terakhir

KEMBALINYA SEGALA PILIHAN KEPADA SANG MAHA MENGUASAI

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Alloh, Yang mengetahui gerak sebelum tangan bergerak, mengetahui kata sebelum lisan mengucapkannya, mengetahui maksud sebelum niat berubah menjadi tindakan, dan mengetahui akibat sebelum manusia menyaksikan hasil pilihannya.

Tidak ada perjalanan yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.

Tidak ada ucapan yang hilang begitu saja.

Tidak ada air mata yang jatuh tanpa diketahui.

Tidak ada kebaikan yang lenyap hanya karena tidak dipuji manusia.

Tidak ada kezaliman yang berubah menjadi benar hanya karena pelakunya mempunyai kekuasaan.

Tidak ada keburukan yang menjadi suci hanya karena dibungkus dengan bahasa agama, hakikat, kesatuan, rasa, atau takdir.

Dan tidak ada seorang pun yang dapat berdiri di hadapan Alloh dengan membawa kesalahan, lalu berkata:

“Aku tidak mempunyai pilihan sama sekali. Semua bukan perbuatanku.”

Sebab manusia telah dianugerahi akal untuk menimbang, hati untuk merasakan, peringatan untuk berhenti, ilmu untuk membedakan, kesempatan untuk bertobat, dan kemampuan untuk memilih dalam batas yang telah ditetapkan Alloh.

Maka sampailah Qitab ini pada lembar terakhir:

KEMBALINYA SEGALA PILIHAN

Bukan sekadar kembalinya tubuh kepada tanah.

Bukan hanya kembalinya ruh kepada ketetapan Alloh.

Namun juga kembalinya niat, ucapan, keputusan, pengaruh, sebab, akibat, dan seluruh jejak kehidupan kepada pengadilan Sang Maha Mengetahui.

Ayat Renungan Ketiga Puluh Satu: Manusia Tidak Menguasai Segalanya, tetapi Tetap Memiliki Amanah

Manusia tidak memilih untuk dilahirkan.

Manusia tidak memilih seluruh keluarga, zaman, lingkungan, bentuk tubuh, keadaan ekonomi, atau ujian yang menyambut kehidupannya.

Manusia tidak selalu mampu menentukan siapa yang akan mencintainya dan siapa yang akan meninggalkannya.

Manusia tidak mampu mengendalikan seluruh keadaan.

Ia dapat merencanakan, tetapi hasilnya dapat berubah.

Ia dapat menjaga kesehatan, tetapi tetap mungkin mengalami sakit.

Ia dapat berbuat baik, tetapi tetap mungkin disalahpahami.

Ia dapat mencintai, tetapi belum tentu dicintai dengan cara yang sama.

Ia dapat menanam, tetapi tidak mampu memaksa seluruh benih tumbuh sesuai kehendaknya.

Namun keterbatasan itu tidak berarti manusia sama sekali tidak mempunyai pilihan.

Di antara perkara-perkara yang tidak dapat dikuasainya, Alloh memberikan wilayah amanah.

Manusia tidak selalu memilih ujian yang datang, tetapi ia dapat memilih bagaimana meresponsnya.

Manusia tidak memilih dihina, tetapi ia dapat memilih membalas dengan kezaliman atau menjaga dirinya melalui cara yang benar.

Manusia tidak memilih dilukai, tetapi ia dapat memilih mencari pertolongan, menetapkan batas, memulihkan diri, atau meneruskan luka itu kepada orang lain.

Manusia tidak selalu memilih kehilangan, tetapi ia dapat memilih antara tenggelam dalam keputusasaan atau perlahan belajar menerima.

Manusia tidak dapat menguasai seluruh hasil, tetapi ia bertanggung jawab atas niat, usaha, dan cara yang ditempuhnya.

Inilah amanah yang sering dilupakan:

Manusia tidak diminta menguasai seluruh dunia. Manusia diminta mempertanggungjawabkan bagian yang berada dalam pilihannya.

Jangan menyalahkan dirimu atas seluruh keadaan yang berada di luar kemampuanmu.

Namun jangan pula menjadikan keadaan sebagai alasan untuk tidak memperbaiki bagian yang masih dapat engkau ubah.

Di situlah kejujuran dibutuhkan.

Di situlah akal dan rasa harus berjalan bersama.

Ayat Renungan Ketiga Puluh Dua: Perbuatan Tidak Hanya Dinilai dari Akhirnya

Ada orang yang menganggap suatu perbuatan benar hanya karena berhasil.

Ada pula yang menganggap perjuangannya sia-sia hanya karena hasilnya tidak sesuai harapan.

Padahal keberhasilan bukan satu-satunya ukuran kebenaran.

Seorang penipu dapat berhasil memperoleh keuntungan.

Seorang zalim dapat menang dalam pertengkaran.

Seorang pembohong dapat dipercaya untuk sementara.

Seorang yang sombong dapat memperoleh banyak pengikut.

Namun keberhasilan memperoleh dunia tidak mengubah kebatilan menjadi kebenaran.

Sebaliknya, orang yang jujur dapat mengalami kerugian.

Orang yang membela yang lemah dapat dikucilkan.

Orang yang meminta maaf dapat dipandang kalah.

Orang yang menjaga prinsip dapat kehilangan kedudukan.

Namun kerugian dunia tidak otomatis menghapus kemuliaan sebuah pilihan.

Perbuatan ditimbang dari niatnya, jalannya, caranya, akibatnya, serta kesesuaiannya dengan kebenaran.

Hasil memang penting, tetapi hasil bukan satu-satunya ukuran.

Karena itu, jangan berkata:

“Aku benar karena aku menang.”

Dan jangan pula berkata:

“Aku pasti salah karena aku gagal.”

Boleh jadi seseorang menang karena lebih kuat, bukan karena lebih benar.

Boleh jadi seseorang kalah di hadapan manusia, tetapi tetap menjaga amanahnya di hadapan Alloh.

Tugas manusia bukan menjamin seluruh hasil.

Tugasnya ialah memilih jalan yang benar, berusaha dengan sungguh-sungguh, memperbaiki kesalahan, dan menyerahkan keputusan akhir kepada Alloh.

Ayat Renungan Ketiga Puluh Tiga: Jangan Menjadikan Nama Alloh sebagai Perisai Ego

Ada manusia yang menyebut nama Alloh untuk menenangkan hati.

Ada yang menyebut nama Alloh untuk memohon petunjuk.

Ada yang menyebut nama Alloh sebagai bentuk penghambaan.

Namun ada pula yang menggunakan nama Alloh untuk menguatkan pendapat pribadinya.

Ketika keinginannya terpenuhi, ia berkata:

“Inilah kehendak Alloh.”

Ketika keinginannya ditolak, ia berkata:

“Kalian menolak kebenaran.”

Ketika pendapatnya diterima, ia menganggap dirinya memperoleh isyarat.

Ketika dikoreksi, ia menuduh orang lain belum sampai pada hakikat.

Berhati-hatilah.

Nama Alloh tidak boleh dijadikan pelindung kesombongan.

Takdir tidak boleh dijadikan alat untuk memaksa manusia menerima pendapat pribadi.

Hakikat tidak boleh dijadikan jalan agar seseorang kebal dari koreksi.

Rasa tidak boleh dijadikan bukti tunggal bahwa seluruh pemikiran seseorang pasti benar.

Sebab rasa manusia dapat dipengaruhi oleh harapan, ketakutan, pengalaman, luka, kebiasaan, prasangka, dan keinginan untuk dihormati.

Maka rasa membutuhkan ilmu.

Ilmu membutuhkan adab.

Adab membutuhkan kejujuran.

Kejujuran membutuhkan keberanian untuk mengakui kemungkinan salah.

Apabila seseorang selalu merasa bahwa pendapatnya mewakili kehendak Alloh, ia dapat kehilangan kemampuan membedakan antara petunjuk dan keinginannya sendiri.

Seorang hamba yang berhati-hati akan berkata:

“Inilah pemahamanku menurut ilmu yang kumiliki. Aku berusaha menjaganya agar sesuai dengan kebenaran, tetapi Alloh lebih mengetahui.”

Kerendahan hati seperti itu tidak mengurangi keteguhan.

Justru kerendahan hati menjaga ilmu dari kesombongan.

Ayat Renungan Ketiga Puluh Empat: Kebenaran Tidak Membutuhkan Penghinaan

Apabila engkau memiliki dalil, jelaskanlah.

Apabila engkau memiliki alasan, susunlah dengan jernih.

Apabila engkau melihat kesalahan, tunjukkan bagian yang perlu diperbaiki.

Namun jangan mengganti penjelasan dengan ejekan.

Jangan menjawab pertanyaan dengan merendahkan usia.

Jangan menyebut orang lain bodoh hanya karena ia belum menerima pendapatmu.

Jangan memakai tawa untuk menutup bagian yang belum mampu engkau jawab.

Jangan berkata:

“Kamu belum sampai.”

apabila sebenarnya engkau belum mampu menjelaskan maksudmu dengan tertib.

Kebenaran tidak menjadi lebih benar karena disampaikan dengan penghinaan.

Kesalahan tidak menjadi benar karena dibungkus dengan banyak istilah.

Orang yang berbicara keras belum tentu kuat hujahnya.

Orang yang tertawa paling banyak belum tentu paling memahami.

Orang yang memakai bahasa tinggi belum tentu memiliki pengertian yang dalam.

Dan orang yang menggunakan kalimat sederhana belum tentu dangkal.

Kedalaman ilmu terlihat dari kemampuannya memberikan batas yang jelas.

Ia dapat membedakan penciptaan dari pilihan.

Ia dapat membedakan izin terjadi dari keridhoan.

Ia dapat membedakan takdir dari alasan.

Ia dapat membedakan pengampunan dari pembenaran.

Ia dapat membedakan nasihat dari penghinaan.

Ia dapat membedakan ketegasan dari kesombongan.

Maka siapa pun yang merasa telah memasuki tingkat rasa hendaknya bertanya:

“Apakah rasa ini membuat lisanku semakin terjaga?”

Apabila jawabannya tidak, perjalanan itu belum selesai.

Ayat Renungan Ketiga Puluh Lima: Jangan Menggunakan Takdir untuk Menghapus Korban

Ketika terjadi kezaliman, sebagian orang terlalu cepat berkata kepada korban:

“Terima saja, semuanya sudah kehendak Alloh.”

Ucapan itu dapat terdengar seperti nasihat, tetapi bisa berubah menjadi beban baru.

Takdir tidak boleh dipakai untuk membungkam orang yang dizalimi.

Kesabaran tidak berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung.

Memaafkan tidak berarti korban harus kembali menempatkan dirinya dalam bahaya.

Tawakal tidak berarti menolak pertolongan.

Ridho kepada ketetapan Alloh tidak berarti meridhoi keburukan manusia.

Orang yang disakiti boleh menjaga jarak.

Orang yang dirugikan boleh meminta haknya.

Orang yang ditindas boleh mencari perlindungan.

Orang yang terluka boleh meminta waktu untuk pulih.

Orang yang mengalami kezaliman tidak harus segera memaafkan hanya karena dipaksa oleh bahasa agama.

Memaafkan adalah kemuliaan ketika lahir dari kesadaran, bukan ketika dipaksakan untuk menutup kesalahan pelaku.

Pelaku tidak boleh berkata:

“Kamu harus memaafkanku karena Alloh Maha Pengampun.”

Sebelum meminta pengampunan, ia harus mengakui kesalahan, menghentikan perbuatan, mengembalikan hak, dan menunjukkan perubahan.

Pengampunan Alloh bukan senjata untuk menekan korban.

Rahmat Alloh tidak menghapus kewajiban berlaku adil.

Maka keadilan dan kasih sayang harus berjalan seiring.

Keadilan tanpa kasih sayang dapat menjadi kekerasan.

Kasih sayang tanpa keadilan dapat berubah menjadi pembiaran.

Ayat Renungan Ketiga Puluh Enam: Kesalahan Harus Diakui Sesuai Kadarnya

Ada manusia yang terlalu mudah membela dirinya.

Setiap kesalahan diberi alasan.

Setiap teguran dianggap serangan.

Setiap kritik dianggap iri.

Setiap akibat dianggap fitnah.

Namun ada pula manusia yang menyalahkan dirinya atas segala sesuatu.

Ia merasa setiap kegagalan adalah dosanya.

Ia menganggap semua penderitaan sebagai hukuman.

Ia merasa tidak pantas memperoleh kebaikan.

Kedua sikap tersebut perlu diluruskan.

Jangan menolak seluruh kesalahan.

Namun jangan pula menanggung kesalahan yang bukan milikmu.

Akuilah bagianmu secara jujur.

Apabila engkau bersalah, katakan bahwa engkau bersalah.

Apabila engkau tidak mengetahui, katakan bahwa engkau belum mengetahui.

Apabila engkau telah berusaha dengan benar tetapi hasilnya tidak sesuai harapan, jangan menghukum dirimu tanpa batas.

Apabila orang lain menzalimi, jangan mengambil seluruh kesalahan mereka dan meletakkannya di pundakmu.

Muhasabah bukan berarti membenci diri.

Muhasabah adalah melihat diri dengan jujur agar mengetahui apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus diserahkan kepada Alloh.

Tanggung jawab yang benar memiliki batas.

Ia tidak menghapus kasih sayang kepada diri sendiri.

Ia tidak mengubah penyesalan menjadi keputusasaan.

Ia tidak menutup pintu perbaikan.

Tobat yang benar membuat manusia bangkit.

Bukan membuatnya terus tenggelam dalam kebencian terhadap dirinya sendiri.

Ayat Renungan Ketiga Puluh Tujuh: Pengampunan Tidak Menghapus Pelajaran

Ketika Alloh membuka pintu tobat, itu merupakan rahmat yang sangat luas.

Namun tobat bukan perintah untuk melupakan seluruh pelajaran.

Orang yang pernah berbuat salah perlu mengingat kelemahannya agar tidak mengulangi.

Orang yang pernah ditipu boleh belajar lebih berhati-hati.

Orang yang pernah dikhianati boleh memperbaiki batas.

Orang yang pernah sombong boleh mengingat bagaimana kesombongan itu merusak hubungan.

Orang yang pernah berbicara kasar boleh belajar diam sebelum amarah mengambil alih.

Melupakan pelajaran dapat membuat seseorang kembali kepada kesalahan yang sama.

Namun terus hidup dalam rasa bersalah juga dapat menghalangi pertumbuhan.

Maka ingatlah pelajarannya, tetapi jangan tinggal selamanya di dalam luka.

Akui masa lalu, tetapi jangan jadikan masa lalu sebagai satu-satunya nama dirimu.

Manusia dapat berubah.

Namun perubahan tidak hanya dibuktikan dengan ucapan.

Perubahan terlihat dari pola yang berbeda.

Cara berbicara yang lebih terjaga.

Keputusan yang lebih jujur.

Kesediaan menerima teguran.

Kemampuan mengembalikan hak.

Dan keberanian meninggalkan lingkungan yang terus mengajak kepada keburukan.

Tobat bukan hanya air mata.

Tobat adalah perubahan arah.

Ayat Renungan Ketiga Puluh Delapan: Ketika Ilmu Menjadi Amanah

Ilmu adalah cahaya apabila digunakan untuk menerangi.

Namun ilmu dapat menjadi beban apabila digunakan untuk meninggikan diri.

Semakin banyak seseorang mengetahui, semakin banyak pula yang harus dijaganya.

Ia harus menjaga ketepatan.

Ia harus menjaga kejujuran.

Ia harus membedakan antara kepastian dan dugaan.

Ia harus berani berkata:

“Aku belum tahu.”

Ia tidak boleh menciptakan jawaban hanya agar terlihat mampu.

Ia tidak boleh mengutip nama Alloh untuk menutupi kelemahan pendapatnya.

Ia tidak boleh membuat manusia bergantung kepada dirinya seolah-olah hanya dirinya yang memiliki pintu menuju kebenaran.

Guru yang baik menuntun manusia menuju Alloh, bukan menjadikan dirinya pusat penghambaan.

Pemimpin yang baik menguatkan orang lain agar mampu berpikir dan bertanggung jawab, bukan membuat mereka takut bertanya.

Pencari ilmu yang baik tidak hanya mengumpulkan istilah.

Ia memperbaiki akhlak.

Ia memahami bahwa semakin tinggi pohon, semakin rendah cabang yang membawa buah.

Apabila ilmu tidak melahirkan tanggung jawab, ilmu itu belum menjadi cahaya.

Apabila ilmu membuat seseorang merasa bebas merendahkan, ilmu itu sedang dikuasai oleh ego.

Apabila ilmu membuat seseorang takut mengakui kesalahan, ilmu itu sedang menjadi penjara.

Ayat Renungan Ketiga Puluh Sembilan: Setiap Kedudukan Memiliki Hisabnya

Kekuasaan tidak hanya berarti jabatan besar.

Setiap manusia memiliki wilayah kekuasaan.

Orang tua memiliki pengaruh terhadap anak.

Guru memiliki pengaruh terhadap murid.

Pemimpin memiliki pengaruh terhadap masyarakat.

Penulis memiliki pengaruh terhadap pembaca.

Pedagang memiliki kuasa dalam menjaga kejujuran timbangan.

Orang yang memiliki banyak pengikut memiliki kuasa terhadap arah pikiran mereka.

Bahkan seseorang yang memiliki satu pendengar tetap memegang amanah atas kata-katanya.

Semakin luas pengaruh, semakin besar akibat pilihan.

Satu kesalahan pribadi mungkin melukai satu orang.

Namun kesalahan seorang pemimpin dapat melukai banyak keluarga.

Satu kebohongan biasa mungkin cepat dilupakan.

Namun kebohongan seorang tokoh dapat diwariskan sebagai pemahaman yang salah.

Maka jangan hanya mengejar kedudukan.

Pikirkan pertanggungjawabannya.

Jangan hanya ingin didengar.

Pikirkan akibat ucapanmu.

Jangan hanya ingin dipercaya.

Jaga amanah agar kepercayaan itu tidak menjadi saksi yang memberatkanmu.

Kedudukan bukan selalu kemuliaan.

Kadang kedudukan merupakan ujian yang dibungkus penghormatan.

Ayat Renungan Keempat Puluh: Diam Juga Dapat Menjadi Pilihan

Tidak semua tanggung jawab berkaitan dengan apa yang dilakukan.

Ada tanggung jawab terhadap sesuatu yang sengaja tidak dilakukan.

Seseorang melihat kezaliman, mampu membantu, tetapi memilih diam karena takut kehilangan kenyamanan.

Seseorang mengetahui kebohongan, tetapi ikut menyebarkannya melalui diam yang membiarkan.

Seseorang melihat anggota keluarga sedang menderita, tetapi menolak mendengar karena tidak ingin terganggu.

Diam dapat menjadi kebijaksanaan.

Namun diam juga dapat menjadi pembiaran.

Berbicara dapat menjadi pertolongan.

Namun berbicara juga dapat menjadi fitnah.

Maka jangan menjadikan diam sebagai kemuliaan secara mutlak.

Dan jangan menjadikan keberanian berbicara sebagai kebenaran secara mutlak.

Tanyakanlah:

Apakah diamku menjaga keadaan atau membiarkan kezaliman?

Apakah ucapanku memperbaiki atau memperkeruh?

Apakah aku sungguh tidak mampu membantu atau hanya tidak ingin menanggung risiko?

Apakah aku sedang menjaga rahasia atau menyembunyikan kejahatan?

Nilai perbuatan tidak hanya berada pada bentuknya.

Nilai berada pada niat, keadaan, kemampuan, akibat, dan kebenaran yang sedang dihadapi.

Ayat Renungan Keempat Puluh Satu: Jangan Merasa Suci karena Menunjuk Kesalahan Orang Lain

Mengetahui kesalahan orang lain tidak otomatis membuat dirimu benar.

Mampu membantah tidak otomatis membuatmu bersih.

Mampu menunjukkan kelemahan orang lain tidak berarti engkau telah mengatasi kelemahanmu sendiri.

Ada manusia yang sangat tajam melihat kesalahan orang lain, tetapi sangat lembut terhadap kesalahan dirinya.

Ia menuntut orang lain segera meminta maaf, tetapi dirinya selalu mencari alasan.

Ia meminta orang lain rendah hati, tetapi tidak tahan ketika dikoreksi.

Ia menasihati orang lain menjaga lisan, tetapi ejekannya dianggap candaan.

Ia menuntut kejujuran, tetapi menyembunyikan fakta yang merugikan dirinya.

Maka setiap kali engkau hendak meluruskan orang lain, periksalah dirimu.

Bukan berarti engkau harus sempurna sebelum menyampaikan kebenaran.

Tidak ada manusia yang sempurna.

Namun jangan menggunakan kebenaran sebagai panggung untuk menyucikan diri.

Luruskanlah dengan kesadaran bahwa engkau pun dapat keliru.

Nasihat yang lahir dari kasih sayang terasa berbeda dengan serangan yang lahir dari keinginan menang.

Ketegasan dapat berjalan bersama kerendahan hati.

Kebenaran dapat disampaikan tanpa mematahkan martabat.

Ayat Renungan Keempat Puluh Dua: Pada Akhirnya, Setiap Manusia Akan Berhadapan dengan Dirinya Sendiri

Selama hidup, manusia dapat bersembunyi di balik banyak hal.

Ia dapat bersembunyi di balik kelompok.

Ia dapat bersembunyi di balik jabatan.

Ia dapat bersembunyi di balik banyaknya pengikut.

Ia dapat bersembunyi di balik bahasa tinggi.

Ia dapat bersembunyi di balik takdir.

Ia dapat bersembunyi di balik alasan bahwa orang lain juga melakukan kesalahan yang sama.

Namun akan datang saat semua perlindungan itu tidak lagi berguna.

Pada saat itu, manusia akan berhadapan dengan dirinya sendiri.

Bukan dengan citra yang dibangun di hadapan masyarakat.

Bukan dengan pujian yang diterima.

Bukan dengan gelar yang disandang.

Bukan dengan pengakuan rohani yang sering diucapkan.

Namun dengan niat yang sebenarnya.

Dengan pilihan yang pernah diambil.

Dengan hak yang pernah dirampas.

Dengan luka yang pernah ditinggalkan.

Dengan kebaikan yang pernah dilakukan secara tersembunyi.

Dengan pertobatan yang sungguh-sungguh.

Dengan kesempatan yang digunakan atau disia-siakan.

Di hadapan Alloh, penampilan tidak mengubah hakikat.

Kata-kata tidak dapat menutupi niat.

Banyaknya pengikut tidak membatalkan kesalahan.

Kesendirian tidak menghapus kebaikan.

Maka sebelum datang pengadilan yang tidak dapat dihindari, adakanlah pengadilan di dalam dirimu sendiri.

Tanyakan:

“Apakah aku jujur?”

“Apakah aku telah mengembalikan hak?”

“Apakah aku sedang mencari kebenaran atau hanya kemenangan?”

“Apakah ilmu ini membuatku semakin dekat kepada Alloh atau semakin ingin dipuja manusia?”

“Apakah aku sungguh bertobat atau hanya takut kehilangan nama baik?”

Muhasabah hari ini lebih ringan daripada penyesalan yang datang setelah tidak ada lagi kesempatan memperbaiki.

Ayat Renungan Keempat Puluh Tiga: Kebaikan yang Tidak Diketahui Manusia Tetap Memiliki Cahaya

Jangan berhenti berbuat baik hanya karena tidak ada yang memuji.

Jangan meninggalkan kejujuran hanya karena kebohongan terlihat lebih menguntungkan.

Jangan menyesali sedekah hanya karena penerimanya tidak mampu membalas.

Jangan kecewa kepada Alloh hanya karena perjalananmu belum dipahami orang lain.

Ada kebaikan yang sengaja disembunyikan agar hati tetap bersih.

Ada doa yang dipanjatkan tanpa diketahui orang yang didoakan.

Ada pengorbanan orang tua yang baru dipahami anak setelah bertahun-tahun.

Ada seseorang yang menahan amarah agar keluarga tidak pecah.

Ada orang yang tetap jujur meskipun tidak seorang pun mengawasinya.

Ada manusia yang memilih memaafkan tanpa mengumumkan kebesaran hatinya.

Semua itu tidak hilang.

Kebaikan tidak membutuhkan sorak-sorai agar bernilai.

Cahaya tetap menjadi cahaya meskipun menyala di tempat yang tidak dilihat manusia.

Namun jangan pula menjadikan perbuatan tersembunyi sebagai sumber kebanggaan tersembunyi.

Jangan berkata dalam hati:

“Aku lebih ikhlas daripada mereka.”

Sebab ikhlas yang terus dipuji oleh diri sendiri dapat perlahan berubah menjadi kesombongan.

Berbuatlah karena Alloh.

Lalu serahkan penilaiannya kepada Alloh.

Ayat Renungan Keempat Puluh Empat: Keburukan yang Tersembunyi Membutuhkan Tobat, Bukan Rasa Aman

Sebagaimana kebaikan tersembunyi tidak hilang, keburukan tersembunyi pun tidak lenyap hanya karena tidak diketahui manusia.

Jangan merasa aman karena tidak tertangkap.

Jangan menganggap kesalahan telah selesai karena korban memilih diam.

Jangan mengira kebohongan menjadi benar karena banyak orang mempercayainya.

Jangan menganggap aib hilang karena bukti berhasil disembunyikan.

Rasa aman dari manusia bukan jaminan keselamatan di hadapan Alloh.

Namun apabila Alloh menutup kesalahanmu, jangan membuka aibmu untuk mencari perhatian.

Gunakan penutupan itu sebagai kesempatan bertobat.

Berhentilah.

Sesalilah.

Perbaikilah.

Kembalikan hak.

Jangan menunggu hingga kesalahan dibuka di hadapan banyak manusia.

Penutupan aib bukan pembenaran.

Penutupan aib adalah kesempatan.

Dan kesempatan dapat berakhir.

Ayat Renungan Keempat Puluh Lima: Kematian Menghentikan Pilihan, tetapi Tidak Selalu Menghentikan Akibat

Selama manusia hidup, ia masih dapat mengubah arah.

Ia masih dapat meminta maaf.

Ia masih dapat mengembalikan hak.

Ia masih dapat menulis kebenaran untuk menggantikan kebohongan yang pernah disebarkannya.

Ia masih dapat menghentikan kebiasaan buruk.

Ia masih dapat mengajarkan kebaikan.

Namun ketika kematian datang, wilayah pilihan itu tertutup.

Yang tersisa ialah jejak.

Tulisan yang pernah disebarkan dapat tetap dibaca.

Ilmu yang diajarkan dapat terus diamalkan.

Anak yang dididik dapat melanjutkan kebiasaan orang tuanya.

Luka yang ditinggalkan dapat bertahan.

Kebaikan yang diwariskan dapat berkembang.

Maka pikirkanlah bukan hanya bagaimana engkau akan meninggal.

Pikirkan pula apa yang akan tetap hidup setelah engkau tiada.

Apakah namamu akan dikenang sebagai sumber ketenangan?

Ataukah sebagai sumber luka?

Apakah tulisanmu menjadi jalan ilmu?

Ataukah menjadi jalan kesesatan dan pertengkaran?

Apakah keluargamu mewarisi kasih sayang?

Ataukah mewarisi kemarahan yang tidak pernah diselesaikan?

Apakah hartamu menjadi jalan kebaikan?

Ataukah menjadi sebab permusuhan?

Manusia pergi.

Namun sebagian akibat pilihannya tetap berjalan.

Rahasia Terakhir: Semua Kembali, tetapi Tidak Semua Kembali dengan Bentuk yang Sama

Kebaikan yang engkau tanam mungkin tidak kembali sebagai harta.

Ia dapat kembali sebagai ketenteraman.

Ia dapat kembali sebagai pertolongan ketika engkau tidak menduga.

Ia dapat kembali sebagai anak yang tumbuh dengan akhlak baik.

Ia dapat kembali sebagai doa dari seseorang yang pernah engkau bantu.

Ia dapat kembali sebagai kekuatan hati ketika dunia terasa sempit.

Keburukan pun tidak selalu kembali dalam bentuk yang serupa.

Kebohongan mungkin kembali sebagai hilangnya kepercayaan.

Kesombongan mungkin kembali sebagai kesepian.

Kezaliman mungkin kembali sebagai kegelisahan.

Pengkhianatan mungkin kembali sebagai ketakutan bahwa semua orang akan mengkhianati.

Namun manusia tidak boleh memaksakan tafsir atas setiap kejadian.

Tidak setiap sakit adalah hukuman.

Tidak setiap kemiskinan adalah akibat dosa.

Tidak setiap kemudahan adalah tanda kemuliaan.

Tidak setiap kekayaan adalah tanda keridhoan.

Alloh mengetahui rahasia yang tidak diketahui manusia.

Karena itu, hukum sebab dan akibat hendaknya dipakai untuk memeriksa diri, bukan untuk menghakimi penderitaan orang lain.

Ketika orang lain sedang menderita, dekatilah dengan pertolongan.

Ketika dirimu mengalami kesulitan, lakukan muhasabah tanpa menyiksa diri.

Periksa sebab yang dapat diperbaiki.

Mintalah pertolongan ketika diperlukan.

Berobatlah ketika sakit.

Belajarlah ketika tidak memahami.

Mintalah maaf ketika bersalah.

Bersabarlah terhadap perkara yang belum dapat diubah.

Dan serahkan rahasia akhirnya kepada Alloh.

SABDO QHALLAMMULLOH BILHAQ

Wahai manusia:

Engkau bukan pencipta dirimu.

Namun engkau menjadi pemegang amanah atas dirimu.

Engkau tidak menciptakan daya.

Namun engkau memilih arah penggunaannya.

Engkau tidak menentukan seluruh keadaan.

Namun engkau bertanggung jawab atas sikap yang dipilih dalam menghadapinya.

Engkau tidak menguasai hasil.

Namun engkau akan ditanya tentang niat, usaha, dan cara.

Engkau tidak mampu melihat seluruh akibat.

Namun engkau diperintahkan mempertimbangkan akibat sebelum bertindak.

Engkau tidak mengetahui isi hati semua manusia.

Maka jangan mudah menghakimi.

Engkau pun tidak selalu mengetahui seluruh isi hatimu sendiri.

Maka jangan berhenti bermuhasabah.

Apabila engkau berbuat baik, jangan mengaku sebagai sumber kebaikan.

Katakan:

“Alloh menolongku melakukan kebaikan.”

Apabila engkau berbuat salah, jangan menyalahkan takdir.

Katakan:

“Aku telah salah menggunakan pilihan yang diberikan kepadaku.”

Apabila engkau menerima nasihat, jangan melihat rendahnya orang yang menyampaikan.

Lihatlah kebenaran yang mungkin dibawanya.

Apabila engkau memberi nasihat, jangan meninggikan diri.

Ingatlah bahwa engkau pun masih memerlukan petunjuk.

Apabila engkau berbicara tentang hakikat, jangan merusak syariat.

Apabila engkau berbicara tentang rasa, jangan membuang akal.

Apabila engkau berbicara tentang tauhid, jangan menghapus tanggung jawab.

Apabila engkau berbicara tentang kasih sayang, jangan mengabaikan keadilan.

Apabila engkau berbicara tentang pengampunan, jangan melupakan hak korban.

Apabila engkau berbicara tentang takdir, jangan menutup pintu ikhtiar.

Sebab segala sesuatu mempunyai tempat.

Dan kebijaksanaan ialah menempatkan setiap perkara pada kedudukannya.

Empat Kunci Penutup Qitab

Kunci Pertama: Semua daya berasal dari Alloh

Tidak ada makhluk yang berdiri mandiri di luar kekuasaan-Nya.

Tubuh, akal, kemampuan, waktu, tempat, kesempatan, serta hukum sebab dan akibat semuanya berada dalam penciptaan dan pemeliharaan Alloh.

Kesadaran ini membebaskan manusia dari kesombongan.

Kunci Kedua: Manusia memilih dalam batas yang diberikan

Manusia tidak memiliki kekuasaan mutlak, tetapi bukan berarti ia tidak memiliki pilihan sama sekali.

Ia dapat menimbang, menahan, melanjutkan, meninggalkan, meminta pertolongan, bertobat, dan memperbaiki.

Kesadaran ini menjaga manusia dari pelarian di balik takdir.

Kunci Ketiga: Terjadinya sesuatu tidak selalu berarti diridhoi

Kezaliman dapat terjadi, tetapi tidak menjadi benar.

Kebohongan dapat menyebar, tetapi tidak menjadi suci.

Keburukan dapat menang sementara, tetapi tidak menjadi kebaikan.

Kesadaran ini menjaga manusia agar tidak menyamakan kekuasaan Alloh dengan keridhoan-Nya terhadap semua perbuatan.

Kunci Keempat: Setiap pilihan membawa jejak

Ada jejak yang segera tampak.

Ada yang tumbuh perlahan.

Ada yang menjadi kebiasaan.

Ada yang diwariskan.

Ada yang dibuka di dunia.

Ada yang disimpan sampai seluruh perjalanan berakhir.

Kesadaran ini membuat manusia berhati-hati sebelum bertindak.

Sabdo Kesadaran Total

Jangan berkata engkau telah sampai hanya karena mampu mengucapkan kata-kata yang dalam.

Sampai atau belum sampainya perjalanan batin terlihat dari buahnya.

Apakah engkau semakin jujur?

Apakah engkau semakin bertanggung jawab?

Apakah engkau semakin mampu meminta maaf?

Apakah engkau semakin menghormati orang yang berbeda?

Apakah engkau semakin takut menzalimi?

Apakah engkau semakin sedikit menyalahkan orang lain?

Apakah engkau semakin mampu mengakui keterbatasan?

Apakah ilmumu semakin mendekatkan manusia kepada Alloh atau justru membuat manusia takut kepada dirimu?

Jangan tertipu oleh pakaian rohani.

Kesombongan dapat memakai jubah kerendahan hati.

Ego dapat berbicara atas nama hakikat.

Keinginan menang dapat menyamar sebagai pembelaan terhadap kebenaran.

Rasa ingin dipuji dapat menyamar sebagai dakwah.

Keinginan menguasai dapat menyamar sebagai bimbingan.

Karena itu, periksalah buahnya.

Pohon dikenali dari buah.

Ilmu dikenali dari akhlak.

Tauhid dikenali dari ketundukan.

Rasa dikenali dari kelembutan.

Makrifat dikenali dari semakin kecilnya diri di hadapan kebesaran Alloh.

Apabila seseorang merasa semakin besar setelah berbicara tentang Alloh, mungkin ia belum mengenal kedudukannya sebagai hamba.

Khatam Sabdo

Maka tertutuplah lembar terakhir ini dengan satu pengakuan:

Alloh adalah Sang Maha Menguasai, tetapi manusia tetap menjadi hamba yang memikul amanah pilihan.

Alloh menciptakan daya, tetapi manusia akan ditanya ke mana daya itu diarahkan.

Alloh mengetahui seluruh akibat, tetapi manusia diperintahkan menimbang sebelum bertindak.

Alloh membuka pintu tobat, tetapi manusia harus memilih untuk kembali.

Alloh Maha Pengampun, tetapi pengampunan bukan alasan untuk terus melakukan kezaliman.

Alloh Mahaadil, dan tidak ada satu pun kebaikan atau keburukan yang hilang dari pengetahuan-Nya.

Segala perbuatan akan kembali.

Segala ucapan akan kembali.

Segala perjalanan akan kembali.

Segala pilihan akan kembali.

Kebaikan akan kembali membawa kesaksiannya.

Keburukan akan kembali membawa akibatnya.

Tobat akan kembali membawa harapannya.

Kesombongan akan kembali membawa penyesalannya.

Dan setiap manusia akan mengetahui bahwa tidak ada satu pun langkah yang benar-benar hilang.

Doa Khatam Qitab

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Ya Alloh, Sang Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi.

Kami mengakui bahwa kami tidak mempunyai daya tanpa pertolongan-Mu.

Namun kami juga mengakui bahwa Engkau telah memberikan kepada kami amanah akal, hati, pilihan, dan tanggung jawab.

Jangan biarkan kami menjadi sombong ketika mampu melakukan kebaikan.

Jangan biarkan kami melarikan diri ke balik takdir ketika melakukan kesalahan.

Jangan biarkan kami menggunakan nama-Mu untuk menguatkan ego kami.

Jangan biarkan kami memakai bahasa hakikat untuk membatalkan syariat.

Jangan biarkan kami memakai rasa untuk menolak akal.

Jangan biarkan kami memakai ilmu untuk merendahkan manusia.

Ya Alloh, bersihkan niat kami sebelum berubah menjadi perbuatan.

Jagalah pikiran kami sebelum berubah menjadi keputusan.

Jagalah lisan kami sebelum berubah menjadi luka.

Jagalah tulisan kami sebelum menyebar kepada banyak manusia.

Jagalah tangan kami agar lebih ringan menolong daripada menyakiti.

Jagalah kaki kami agar tidak membawa tubuh menuju jalan kezaliman.

Jagalah harta kami agar tidak menjadi sumber kesombongan dan pertengkaran.

Jagalah ilmu kami agar menjadi cahaya, bukan alat kekuasaan.

Apabila kami telah berbuat salah, bukakan keberanian untuk mengakuinya.

Apabila kami telah melukai, tuntunlah kami meminta maaf dengan jujur.

Apabila kami telah mengambil hak, kuatkanlah kami mengembalikannya.

Apabila kami telah menyebarkan kekeliruan, berilah kami keberanian untuk meluruskannya.

Apabila kami telah dikuasai kesombongan, pecahkanlah kesombongan itu sebelum ia menghancurkan hati kami.

Apabila kami merasa telah sampai, sadarkanlah bahwa perjalanan menuju-Mu tidak berakhir dengan pengakuan manusia.

Ya Alloh, berikanlah kepada orang yang dizalimi perlindungan, kekuatan, pertolongan, dan jalan pemulihan.

Jangan biarkan bahasa kesabaran dipakai untuk membungkam mereka.

Jangan biarkan bahasa pengampunan dipakai untuk menekan mereka.

Jangan biarkan agama dijadikan pelindung bagi kezaliman.

Tegakkan keadilan dengan rahmat-Mu.

Lembutkan hati tanpa menghapus kebenaran.

Kuatkan kasih sayang tanpa membiarkan keburukan.

Ya Alloh, jadikan kami mampu menerima perkara yang tidak dapat kami ubah.

Berikan keberanian untuk memperbaiki perkara yang berada dalam amanah kami.

Dan anugerahkan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.

Ketika kami memperoleh keberhasilan, jadikan kami bersyukur.

Ketika kami mengalami kegagalan, jadikan kami belajar.

Ketika kami dipuji, lindungi kami dari kesombongan.

Ketika kami dikritik, lindungi kami dari kebencian.

Ketika kami benar, jagalah adab kami.

Ketika kami salah, bukakan pintu pengakuan.

Ketika kami berbeda, jangan hilangkan persaudaraan.

Ketika kami marah, jangan serahkan lisan kami kepada amarah.

Ketika kami terluka, jangan biarkan luka menjadikan kami pelaku kezaliman baru.

Ketika kami mempunyai kekuasaan, ingatkan kami bahwa setiap kekuasaan akan ditanya.

Ketika kami memiliki ilmu, ingatkan kami bahwa setiap ilmu adalah amanah.

Ketika kami memiliki pengikut, ingatkan kami bahwa setiap arah yang kami tunjukkan dapat menjadi saksi.

Ya Alloh, jadikan jejak kehidupan kami sebagai jejak kebaikan.

Jadikan ucapan kami menenangkan jiwa yang terluka.

Jadikan keputusan kami melindungi yang lemah.

Jadikan tulisan kami menerangi, bukan menyesatkan.

Jadikan keluarga kami mewarisi kasih sayang, bukan kemarahan.

Jadikan harta kami menjadi jalan pertolongan.

Jadikan waktu kami menjadi saksi kesungguhan.

Jadikan kesalahan kami sebagai pintu pertobatan.

Jadikan pertobatan kami nyata dalam perubahan.

Apabila saat kembali telah tiba, jangan biarkan kami membawa kesombongan yang belum ditundukkan, hak manusia yang belum dikembalikan, kebohongan yang belum diluruskan, atau kezaliman yang belum disesali.

Tuntunlah kami kembali dalam keadaan mengakui kelemahan, mengharap rahmat, dan berusaha memperbaiki amanah.

Sebab dari-Mu kehidupan bermula.

Dalam kekuasaan-Mu perjalanan berlangsung.

Dengan pertolongan-Mu kebaikan dapat dikerjakan.

Di hadapan-Mu seluruh pilihan dipertanggungjawabkan.

Dan hanya kepada-Mu seluruh perbuatan, perjalanan, ucapan, niat, serta rahasia hati akan dikembalikan.

SABDO QHALLAMMULLOH BILHAQ

Segala sesuatu kembali kepada Sang Maha Menguasai dengan membawa kebenarannya masing-masing.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.

TAMMAT — SELESAI

Qitab ini merupakan bahasa renungan dan penyelarasan akhlak, bukan wahyu baru, bukan kitab suci, serta bukan pengganti Al-Qur’an dan Sunnah.

Semoga menjadi pengingat agar manusia tidak merasa mampu tanpa Alloh, tetapi juga tidak bersembunyi di balik takdir untuk menghindari tanggung jawab.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh