QITAB SHOLAT DĀ’IM DAN SEJATINYA SHOLAT
QITAB SHOLAT DĀ’IM DAN SEJATINYA SHOLAT
Menjaga Sembah Raga, Menghidupkan Sembah Jiwa, dan Menghadapkan Hati kepada Alloh
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Alloh yang memanggil hamba-Nya melalui azan, menyucikan mereka melalui wudhu, menegakkan tubuh mereka dalam sholat, dan menghidupkan hati mereka dengan mengingat-Nya.
Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, serta orang-orang yang menjaga syariat dan membersihkan batinnya dengan keikhlasan.
---
باب الأول
Bab Pertama: Apakah Sholat Dā’im Itu?
Kata dā’im berarti terus-menerus, tetap, berkesinambungan, atau tidak terputus.
Maka, sholat dā’im dapat dipahami sebagai keadaan batin seorang hamba yang senantiasa merasa menghadap, mengingat, diawasi, dan bergantung kepada Alloh dalam seluruh kehidupannya.
Sholat dā’im bukan berarti tubuh melakukan rukuk dan sujud selama dua puluh empat jam. Tubuh memiliki kebutuhan untuk bekerja, tidur, makan, menolong keluarga, dan menjalankan amanah kehidupan.
Yang dijaga terus-menerus adalah:
- ingatan kepada Alloh;
- rasa diawasi oleh Alloh;
- ketundukan kepada perintah-Nya;
- penjagaan hati dari kesombongan;
- penjagaan anggota tubuh dari kemaksiatan;
- niat agar seluruh kehidupan bernilai ibadah.
Orang yang menghidupkan sholat dā’im berusaha menjaga hubungan dengan Alloh setelah salam diucapkan.
Ketika berdagang, ia menjaga kejujuran.
Ketika berbicara, ia menjaga lisannya.
Ketika marah, ia mengingat bahwa Alloh melihatnya.
Ketika memperoleh rezeki, ia bersyukur.
Ketika diuji, ia bersabar.
Ketika tergelincir, ia segera beristighfar.
Inilah salah satu makna sholat yang terus hidup dalam perilaku.
Namun harus ditegaskan:
«Sholat dā’im tidak menggantikan sholat lima waktu.»
Seseorang tidak boleh meninggalkan Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya dengan alasan hatinya sudah selalu mengingat Alloh.
Apabila seseorang benar-benar mencintai Alloh, kecintaannya justru membuatnya semakin taat melaksanakan perintah-Nya.
---
باب الثاني
Bab Kedua: Apakah Sejatinya Sholat Itu?
Istilah sejatinya sholat menunjuk kepada hakikat, tujuan, jiwa, dan makna terdalam dari ibadah sholat.
Secara lahiriah, sholat terdiri atas:
- berdiri;
- membaca;
- rukuk;
- iktidal;
- sujud;
- duduk;
- salam.
Adapun secara batiniah, sholat adalah:
- menghadapkan hati kepada Alloh;
- merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya;
- mengakui kelemahan sebagai hamba;
- memutus kesibukan dunia untuk beberapa saat;
- memohon pertolongan;
- memperbarui janji ketaatan;
- membersihkan jiwa dari kesombongan dan kelalaian.
Maka, sejatinya sholat bukan sekadar gerakan badan, tetapi perjumpaan dalam penghambaan.
Bukan berarti hamba menyatu menjadi Tuhan. Hamba tetaplah hamba, sedangkan Alloh tetaplah Tuhan Yang Maha Esa, tidak menyerupai makhluk dan tidak dapat disamakan dengan apa pun.
Perjumpaan yang dimaksud ialah perjumpaan dalam:
- doa;
- munajat;
- pengagungan;
- penyaksian iman;
- kedekatan rahmat;
- ketundukan hati.
Sejatinya sholat adalah ketika tubuh, lisan, pikiran, dan hati diarahkan kepada Alloh dalam satu penghambaan.
---
باب الثالث
Bab Ketiga: Perbedaan Sholat Dā’im dan Sejatinya Sholat
Sholat dā’im lebih menekankan kesinambungan kesadaran setelah sholat selesai.
Sejatinya sholat lebih menekankan isi, ruh, tujuan, dan kedalaman dari sholat itu sendiri.
Perumpamaannya:
Sholat lima waktu adalah mata air.
Sejatinya sholat adalah air jernih yang diminum dari mata air itu.
Sholat dā’im adalah kesegaran air tersebut yang dibawa dalam perjalanan kehidupan.
Maka urutannya dapat dipahami sebagai berikut:
1. Sholat syariat
Menunaikan sholat sesuai waktu, rukun, syarat, bacaan, dan tuntunan Rasululloh ﷺ.
2. Sejatinya sholat
Menghidupkan kekhusyukan, kerendahan hati, keikhlasan, dan kesadaran kepada Alloh di dalam sholat.
3. Sholat dā’im
Membawa pengaruh sholat ke dalam seluruh perbuatan setelah salam.
Ketiganya tidak boleh dipertentangkan.
Syariat adalah wadahnya.
Hakikat adalah isinya.
Istiqamah adalah penjaga keberlangsungannya.
Tanpa wadah, air akan tumpah.
Tanpa isi, wadah menjadi kosong.
Tanpa penjagaan, keduanya dapat hilang.
---
باب الرابع
Bab Keempat: Sholat Lahir dan Sholat Batin
Sholat lahir dilakukan oleh anggota tubuh.
Sholat batin dihidupkan oleh hati.
Ketika tubuh berdiri, hati berdiri dalam penghambaan.
Ketika lisan bertakbir, hati mengakui bahwa Alloh lebih besar daripada seluruh ketakutan, keinginan, masalah, jabatan, dan pujian manusia.
Ketika tubuh rukuk, kesombongan ditundukkan.
Ketika tubuh sujud, keakuan direndahkan.
Ketika duduk, hati belajar tenang di hadapan keputusan Alloh.
Ketika bersalam, kedamaian yang diperoleh seharusnya disebarkan kepada manusia di kanan dan kiri.
Apabila seseorang rajin sholat tetapi masih sengaja menipu, menyakiti, merendahkan, memfitnah, atau mengambil hak orang lain, berarti pengaruh sholatnya belum sempurna dalam akhlaknya.
Hal itu bukan alasan untuk meninggalkan sholat. Justru sholat harus terus diperbaiki agar perlahan-lahan membersihkan perilaku.
---
باب الخامس
Bab Kelima: Rahasia Takbir
اَللّٰهُ أَكْبَرُ
“Alloh Maha Besar.”
Takbir bukan hanya ucapan pembuka sholat. Takbir adalah pernyataan bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih besar daripada Alloh.
Masalah boleh besar, tetapi Alloh Mahabesar.
Ketakutan boleh datang, tetapi Alloh Mahabesar.
Kehilangan boleh menyakitkan, tetapi Alloh Mahabesar.
Pujian manusia boleh memabukkan, tetapi Alloh Mahabesar.
Orang yang memahami takbir tidak mudah diperbudak oleh dunia. Ia menggunakan dunia sebagai amanah, bukan menjadikan dunia sebagai tuhan dalam hatinya.
---
باب السادس
Bab Keenam: Rahasia Rukuk
Rukuk adalah pembungkukan badan dan penundukan kesombongan.
Dalam rukuk, seorang hamba mengakui bahwa ilmu, kekuatan, harta, kedudukan, dan pengalaman batinnya tidak membuatnya lebih tinggi di hadapan Alloh.
Semakin dalam seseorang mengenal Alloh, seharusnya semakin rendah hatinya.
Apabila pengalaman spiritual membuat seseorang merasa paling suci, paling terpilih, atau lebih tinggi daripada orang lain, pengalaman itu harus diperiksa kembali.
Cahaya yang benar melahirkan tawaduk.
Ilmu yang benar melahirkan kehati-hatian.
Kedekatan yang benar melahirkan ketaatan.
---
باب السابع
Bab Ketujuh: Rahasia Sujud
Sujud adalah kedudukan lahir yang paling rendah, tetapi menjadi salah satu keadaan batin yang paling mulia.
Dahi yang biasa dijaga kehormatannya diletakkan di tanah.
Hal itu mengajarkan:
“Aku berasal dari tanah, hidup karena rahmat Alloh, dan akan kembali kepada-Nya.”
Dalam sujud, seorang hamba tidak sedang kehilangan kemuliaan. Ia justru memperoleh kemuliaan melalui penghambaan.
Sejatinya sujud ialah merendahkan:
- kesombongan;
- keinginan dipuji;
- keinginan menguasai;
- dendam;
- rasa paling benar;
- rasa paling suci.
Sujud yang hidup akan membuat seseorang lebih lembut kepada manusia, bukan semakin kasar dan merasa memiliki derajat khusus.
---
باب الثامن
Bab Kedelapan: Tanda Sholat Mulai Hidup
Sholat tidak dinilai hanya dari sensasi, getaran, cahaya yang terlihat, tubuh yang bergerak, atau pengalaman batin tertentu.
Semua sensasi dapat muncul karena banyak sebab dan bukan ukuran utama kedekatan kepada Alloh.
Tanda yang lebih dapat dijaga ialah perubahan akhlak:
- lebih jujur;
- lebih sabar;
- lebih mampu menahan amarah;
- lebih menjaga ucapan;
- lebih ringan meminta maaf;
- lebih takut mengambil hak orang;
- lebih lembut terhadap keluarga;
- lebih tekun menunaikan kewajiban;
- lebih sedikit merasa diri paling istimewa;
- lebih banyak mengingat kekurangan diri.
Apabila pengalaman batin bertambah, tetapi kesombongan juga bertambah, maka seseorang perlu memperbanyak istighfar dan kembali belajar adab.
---
باب التاسع
Bab Kesembilan: Kekeliruan Memahami Sholat Dā’im
Beberapa kekeliruan yang perlu dihindari:
Pertama: Menganggap zikir hati menggugurkan sholat wajib
Ini keliru. Mengingat Alloh tidak membatalkan kewajiban sholat. Justru orang yang mengingat Alloh akan terdorong menaati-Nya.
Kedua: Menganggap orang yang telah mencapai hakikat tidak memerlukan syariat
Ini juga keliru. Rasululloh ﷺ adalah manusia yang paling mengenal Alloh, tetapi beliau tetap menegakkan sholat hingga akhir kehidupan.
Ketiga: Menganggap semua gerakan spontan sebagai petunjuk khusus
Gerakan tubuh dapat terjadi karena emosi, kelelahan, ketegangan otot, kebiasaan, atau kondisi kesehatan. Jangan terburu-buru menisbatkannya sebagai pesan gaib.
Keempat: Mengejar rasa, tetapi melupakan akhlak
Ketenangan, tangisan, atau keharuan dapat menjadi pengalaman yang baik. Namun tujuan utama bukan mengejar sensasi. Tujuan utama adalah ketaatan dan perbaikan akhlak.
Kelima: Merasa telah menyatu dengan Alloh
Dalam akidah Islam, Alloh adalah Sang Pencipta dan manusia adalah makhluk. Kedekatan kepada Alloh berarti kedekatan rahmat, pertolongan, cinta, dan ketaatan—bukan bercampurnya zat manusia dengan Zat Alloh.
---
باب العاشر
Bab Kesepuluh: Cara Melatih Sholat Dā’im
Sholat dā’im dilatih melalui kesadaran sederhana yang dilakukan berulang-ulang.
Sebelum bekerja, ucapkan dalam hati:
“Bismillāh, pekerjaan ini adalah amanah.”
Ketika memperoleh kebaikan:
“Alhamdulillāh, ini pemberian Alloh.”
Ketika melakukan kesalahan:
“Astaghfirullāh, aku harus memperbaikinya.”
Ketika menghadapi ketakutan:
“Hasbunallohu wa ni‘mal wakīl.”
Ketika akan berbicara:
“Apakah ucapan ini diridai Alloh?”
Ketika akan mengambil keputusan:
“Apakah ini halal, jujur, dan tidak menzalimi?”
Dengan cara tersebut, ingatan kepada Alloh tidak berhenti di atas sajadah, tetapi menyertai seluruh perjalanan hidup.
---
باب الحادي عشر
Bab Kesebelas: Latihan Menghidupkan Sejatinya Sholat
Sebelum takbir, berhentilah sejenak.
Tenangkan napas tanpa membuat pola yang memberatkan.
Sadari bahwa kita sedang berdiri sebagai hamba.
Letakkan urusan dunia di belakang untuk beberapa menit.
Ucapkan dalam hati:
“Yā Alloh, aku datang bukan karena aku telah suci. Aku datang karena aku membutuhkan ampunan dan pertolongan-Mu.”
Ketika membaca Al-Fatihah, jangan terburu-buru.
Ketika rukuk, tundukkan pula rasa paling benar.
Ketika sujud, sampaikan doa dengan rendah hati.
Setelah salam, tanyakan kepada diri sendiri:
“Akhlak apa yang harus aku perbaiki setelah sholat ini?”
Dengan demikian, sholat menjadi sekolah jiwa yang berlangsung lima kali sehari.
---
باب الثاني عشر
Bab Kedua Belas: Dzikir Penjaga Kesadaran
Dzikir ini dapat dibaca sebagai amalan tambahan, bukan sebagai pengganti sholat wajib:
يَا اَللّٰهُ – يَا هَادِي – يَا نُورُ – يَا سَلَامُ
Yā Alloh – Yā Hādī – Yā Nūr – Yā Salām
Dibaca masing-masing 33 kali setelah salah satu sholat atau pada waktu yang lapang.
Niatnya:
“Yā Alloh, tuntunlah hatiku agar mengingat-Mu, terangilah akhlakku, dan selamatkan aku dari kesombongan serta kelalaian.”
Kemudian ditutup dengan doa:
اللّٰهُمَّ أَقِمْ صَلَاتِي فِي جَوَارِحِي،
وَأَحْيِ ذِكْرَكَ فِي قَلْبِي،
وَاجْعَلْ عَمَلِي خَالِصًا لِوَجْهِكَ.
Allohumma aqim sholātī fī jawāriḥī, wa aḥyi dzikraka fī qolbī, waj‘al ‘amalī khāliṣan li wajhik.
“Yā Alloh, tegakkanlah sholat pada anggota tubuhku, hidupkanlah ingatan kepada-Mu dalam hatiku, dan jadikanlah amalanku ikhlas karena-Mu.”
---
الخاتمة
Penutup
Perbedaan keduanya dapat diringkas:
Sejatinya sholat adalah hidupnya ruh, kekhusyukan, penghambaan, dan kesadaran kepada Alloh di dalam sholat.
Sholat dā’im adalah berlanjutnya kesadaran, ketaatan, dan akhlak sholat dalam seluruh kehidupan.
Sholat lima waktu adalah pintunya.
Khusyuk adalah cahayanya.
Akhlak adalah buahnya.
Istiqamah adalah penjaganya.
Jangan meninggalkan pintu dengan alasan telah menemukan cahaya.
Jangan mengaku memiliki cahaya apabila akhlak masih sengaja menyakiti sesama.
Dan jangan berputus asa apabila sholat belum khusyuk. Tetaplah datang kepada Alloh, karena hati yang sering kembali akan perlahan-lahan dilembutkan.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Yā Muqollibal-qulūb, tsabbit qolbī ‘alā dīnik.
“Wahai Zat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
Sinar Batin Sejatinya Sinar
Syariat dijaga, hati dibersihkan, akhlak disempurnakan.
Lembar Selanjutnya
Apakah Sholat Dā’im Memerlukan Niat atau Ucapan Khusus?
Sholat dā’im pada dasarnya tidak memiliki lafaz niat khusus yang wajib dibaca seperti niat sholat lima waktu.
Hal ini karena sholat dā’im bukanlah sholat baru dengan rakaat, waktu, takbiratul ihram, rukuk, dan sujud tersendiri. Sholat dā’im adalah keadaan kesadaran batin yang terus dijaga setelah seseorang menunaikan sholat wajib.
Karena itu, pelaksanaannya dapat tumbuh dalam dua keadaan:
Pertama: Diawali dengan niat sadar
Bagi orang yang baru belajar, niat sederhana sangat membantu agar hati memiliki arah.
Niat itu cukup di dalam hati, misalnya:
«“Yā Alloh, aku berniat menjaga ingatanku kepada-Mu, menjaga ucapan, perbuatan, dan hatiku agar tetap berada dalam ketaatan kepada-Mu.”»
Atau lebih ringkas:
«“Yā Alloh, hidupkanlah sholat dalam hatiku dan akhlakku.”»
Niat tersebut tidak harus diucapkan dengan suara. Tidak pula harus memakai bahasa Arab. Alloh mengetahui isi hati setiap hamba.
Ucapan hanya berfungsi membantu hati agar lebih sadar, bukan menjadi syarat sah.
Kedua: Mengalir secara spontan
Apabila kesadaran kepada Alloh sudah mulai terbiasa, sholat dā’im akan mengalir secara alami.
Ketika hendak bekerja, hati mengingat Alloh.
Ketika akan berbicara, hati berhati-hati.
Ketika muncul amarah, hati segera mengendalikan diri.
Ketika menerima nikmat, lisan mengucapkan alhamdulillāh.
Ketika melakukan kesalahan, hati segera beristighfar.
Ketika bingung, hati memohon petunjuk.
Pada tahap ini, seseorang tidak selalu berkata:
“Aku sedang menjalankan sholat dā’im.”
Namun kesadaran penghambaan telah hidup dalam setiap langkahnya.
Jadi, pada awal latihan boleh menggunakan niat dan doa agar hati mudah diarahkan. Setelah kesadaran itu tumbuh, ia dapat mengalir tanpa banyak ucapan.
Namun mengalir bukan berarti tanpa kendali.
Spontanitas yang benar tetap harus diukur dengan syariat, akal sehat, adab, dan akhlak.
Apabila muncul dorongan batin untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama, merugikan diri sendiri, menyakiti orang lain, atau membuat seseorang merasa paling suci, maka dorongan itu tidak boleh langsung dianggap sebagai petunjuk dari Alloh.
Sholat dā’im yang benar melahirkan:
- ketenangan;
- kehati-hatian;
- kerendahan hati;
- kejujuran;
- kasih sayang;
- ketaatan;
- tanggung jawab.
Bukan melahirkan kesombongan, kegelisahan, tindakan tanpa pertimbangan, atau perasaan lebih tinggi daripada orang lain.
Doa Pembuka Latihan Sholat Dā’im
Sebelum memulai aktivitas pagi, boleh membaca:
«Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā Alloh, sertailah setiap langkahku dengan ingatan kepada-Mu.
Jagalah lisanku, pandanganku, pikiranku, dan perbuatanku.
Jadikan pekerjaanku sebagai amanah, diamku sebagai penjagaan, ucapanku sebagai kebaikan, dan seluruh hidupku sebagai jalan menuju ridho-Mu.»
Kemudian lanjutkan aktivitas seperti biasa.
Tidak perlu menunggu keadaan khusus.
Tidak perlu memakai pakaian tertentu.
Tidak perlu duduk dalam posisi tertentu.
Tidak perlu menahan napas.
Tidak perlu mengosongkan pikiran secara paksa.
Cukup hidupkan kesadaran:
«“Alloh melihatku, Alloh mendengarku, dan aku ingin menjaga adab kepada-Nya.”»
Latihan Sederhana Sepanjang Hari
Ketika bangun tidur:
«“Alhamdulillāh, hari ini adalah amanah.”»
Ketika hendak keluar rumah:
«“Bismillāh, tuntunlah langkahku.”»
Ketika bekerja:
«“Yā Alloh, jadikan pekerjaan ini halal dan bermanfaat.”»
Ketika diuji:
«“Yā Alloh, tuntunlah aku agar tidak berbuat zalim.”»
Ketika memperoleh rezeki:
«“Alhamdulillāh, ini titipan dari-Mu.”»
Ketika melakukan kesalahan:
«“Astaghfirullāh, bantulah aku memperbaikinya.”»
Ketika hendak tidur:
«“Yā Alloh, ampuni kekuranganku hari ini dan bangunkan aku dalam kebaikan.”»
Inilah latihan agar kesadaran kepada Alloh perlahan menjadi kebiasaan.
Perlukah Mengatur Napas?
Napas boleh dijadikan pengingat, tetapi tidak perlu dibuat rumit.
Saat menarik napas, sadari bahwa hidup adalah pemberian Alloh.
Saat mengembuskan napas, lepaskan ketegangan dan istighfarlah.
Namun jangan meyakini bahwa pola napas tertentu menjadi syarat sholat dā’im. Jangan pula menahan napas terlalu lama hingga pusing, sesak, atau mengganggu kesehatan.
Tujuan utamanya bukan menguasai teknik napas, tetapi menjaga hati dan perilaku.
Kesimpulan
Sholat dā’im tidak membutuhkan lafaz niat yang baku.
Pada awal latihan, niat dan doa boleh diucapkan agar hati lebih terarah.
Setelah menjadi kebiasaan, kesadaran itu dapat mengalir dengan spontan dalam kehidupan.
Yang terpenting bukan banyaknya ucapan, melainkan buahnya dalam akhlak.
Apabila semakin mengingat Alloh seseorang semakin jujur, sabar, lembut, bertanggung jawab, dan taat menjalankan sholat lima waktu, maka latihan itu berjalan menuju arah yang baik.
Namun apabila seseorang merasa menjalankan sholat dā’im tetapi meninggalkan sholat wajib, meremehkan syariat, atau merasa dirinya telah mencapai kedudukan khusus, maka pemahamannya harus diluruskan.
Sholat wajib adalah tiangnya.
Sejatinya sholat adalah ruhnya.
Sholat dā’im adalah cahaya akhlaknya yang dibawa sepanjang kehidupan.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.