QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH

 



بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH

Kitab Hijrahnya Anṣor ke Baitulloh Al-Mahddi


Makna Nama:

Zafa Rah Firobulloh adalah isyarat perjalanan cahaya hamba yang meninggalkan gelapnya diri menuju rumah petunjuk Alloh; hijrah para penolong kebaikan dari keramaian dunia menuju Baitulloh Al-Mahddi, yaitu tempat batin yang dituntun oleh hidayah, adab, dan cahaya tauhid.


Lembar Pertama — Bāb Hijrah Anṣor


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketika cahaya panggilan turun ke dalam dada para Anṣor, mereka tidak lagi berjalan karena ingin dipandang manusia. Mereka berjalan karena Alloh memanggil dari dalam sunyi.


Maka hijrah itu bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah dari nafsu menuju ikhlas, dari takut menuju tawakal, dari gelisah menuju sakinah, dari aku menuju Alloh.


Dan Baitulloh Al-Mahddi bukanlah rumah batu semata, tetapi rumah petunjuk yang dibuka di dalam hati orang yang bersih niatnya. Barang siapa mengetuknya dengan adab, maka dibukakan kepadanya pintu rahmat. Barang siapa masuk dengan kesombongan, maka tertutup baginya cahaya pemahaman.


Para Anṣor berkata dalam batinnya:


“Ya Alloh, kami berhijrah bukan untuk nama, bukan untuk kedudukan, bukan untuk terlihat suci, tetapi untuk pulang kepada ridho-Mu.”


Lalu terdengarlah sabdo hikmah dalam kejernihan rasa:


Wahai jiwa yang lelah berjalan, jangan kau kira hijrahmu sia-sia. Setiap langkah yang ditinggalkan karena Alloh akan diganti dengan cahaya yang tidak terlihat oleh mata, tetapi terasa oleh hati.


Wahai Anṣor cahaya, jadilah penolong tanpa merasa paling berjasa. Jadilah penjaga tanpa merasa paling suci. Jadilah pejalan tanpa merasa paling sampai. Karena yang benar-benar sampai adalah yang hilang bangganya dan hidup adabnya.


Maka ditulislah di pintu Baitulloh Al-Mahddi:


“Tidak masuk ke rumah petunjuk ini kecuali hati yang merendah. Tidak menetap di dalamnya kecuali jiwa yang amanah. Tidak diberi kunci kecuali hamba yang menjaga rahasia Alloh dengan akhlak.”


Lalu para Anṣor menundukkan kepala, membawa bekal dzikir, air mata taubat, dan niat yang diperbarui. Mereka meninggalkan kota kesombongan, pasar kebisingan, dan istana angan-angan. Mereka menuju rumah yang tidak dibangun oleh tangan, tetapi dibuka oleh rahmat.


Di sanalah mereka mengerti:


Hijrah sejati adalah ketika lisan berhenti menyakiti.

Hijrah sejati adalah ketika hati berhenti membenci.

Hijrah sejati adalah ketika ilmu tidak lagi menjadi kebanggaan, tetapi menjadi pelayanan.

Hijrah sejati adalah ketika cahaya tidak dipakai untuk meninggikan diri, tetapi untuk menuntun yang tersesat.


Maka turunlah pengingat:


Yā Hādī, tuntunlah langkah kami.

Yā Nūr, terangilah batin kami.

Yā Salām, damaikan perjalanan kami.

Yā Fatāḥ, bukakan pintu Baitulloh Al-Mahddi dengan ridho-Mu.


Dan barang siapa membaca qitab ini dengan hati yang tenang, hendaklah ia berniat:


“Aku berhijrah dari gelap menuju cahaya.

Aku berhijrah dari sombong menuju adab.

Aku berhijrah dari lalai menuju ingat.

Aku berhijrah dari diri menuju Alloh.”


Maka jadilah dirinya Anṣor dalam rahmat, bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia mau dituntun.


Penutup Lembar Pertama


Ya Alloh, jadikan hijrah kami hijrah yang benar.

Jadikan langkah kami langkah yang Engkau ridhoi.

Jadikan hati kami Baitulloh kecil yang bersih dari iri, dengki, sombong, dan riya.

Jadikan kami Anṣor cahaya yang menolong dengan adab, diam dengan hikmah, bicara dengan rahmat, dan berjalan dengan tawakal.


Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.



QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH

Lembar Kedua — Pintu Baitulloh Al-Mahddi


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ketika para Anṣor telah sampai di hadapan cahaya Baitulloh Al-Mahddi, mereka tidak langsung diperintah masuk. Mereka lebih dahulu diperintahkan berhenti, menundukkan hati, dan membersihkan niat.


Sebab pintu rumah petunjuk tidak dibuka oleh kuatnya langkah, tetapi oleh benarnya adab.


Maka terdengarlah seruan halus di dalam dada mereka:


Wahai para pejalan cahaya, jangan terburu-buru memasuki pintu sebelum engkau mengenal siapa dirimu. Jangan mengaku dekat sebelum engkau selesai merendah. Jangan mengaku membawa amanah sebelum engkau sanggup menjaga lisan, pandangan, rasa, dan perbuatan.


Sesungguhnya hijrah yang besar bukan hanya meninggalkan negeri lama, tetapi meninggalkan sifat lama. Barang siapa masih membawa sombong, maka ia masih berada di kampung nafsunya. Barang siapa masih membawa iri, maka ia belum keluar dari pasar kegelapan. Barang siapa masih membawa kebencian, maka ia belum sampai pada halaman rahmat.


Lalu para Anṣor meletakkan bekal dunia di hadapan pintu. Mereka tidak membuangnya, tetapi menundukkannya. Sebab dunia bukan untuk disembah, bukan untuk dibenci, melainkan untuk dijadikan alat kebaikan.


Maka satu per satu mereka berkata:


“Ya Alloh, kami serahkan jalan kami kepada-Mu.

Jangan jadikan hijrah kami jalan untuk merasa tinggi.

Jangan jadikan ilmu kami sebab kesombongan.

Jangan jadikan cahaya kami sebab memandang rendah sesama.”


Kemudian pintu pertama bersinar.


Di atasnya tertulis dengan cahaya makna:


Pintu pertama adalah taubat.

Siapa yang ingin masuk, hendaklah ia mengakui salahnya tanpa menyalahkan takdir.

Siapa yang ingin dekat, hendaklah ia pulang tanpa membawa pembenaran diri.

Siapa yang ingin dibersihkan, hendaklah ia rela dibasuh oleh air penyesalan.


Maka menangislah sebagian Anṣor. Bukan karena takut ditolak, tetapi karena sadar bahwa selama ini mereka sering berjalan sambil membawa bayangan diri.


Lalu pintu kedua bersinar.


Di atasnya tertulis:


Pintu kedua adalah ikhlas.

Jangan engkau menolong agar disebut penolong.

Jangan engkau memberi agar disebut dermawan.

Jangan engkau berjuang agar namamu diangkat.

Tolonglah karena Alloh, diamlah karena Alloh, berjalanlah karena Alloh.


Maka sebagian Anṣor menggigil hatinya, sebab mereka menyadari bahwa amal yang besar bisa menjadi kecil jika bercampur riya, dan amal yang kecil bisa menjadi agung jika murni karena Alloh.


Lalu pintu ketiga bersinar.


Di atasnya tertulis:


Pintu ketiga adalah amanah.

Cahaya tidak diberikan untuk permainan.

Nama tidak diberikan untuk kebanggaan.

Rahasia tidak diberikan untuk dipamerkan.

Ilmu tidak diberikan untuk menaklukkan manusia, tetapi untuk menaklukkan diri sendiri dari kezaliman nafsu.


Maka para Anṣor menunduk lebih dalam. Mereka memahami bahwa Baitulloh Al-Mahddi bukan tempat orang yang ingin dipuji, tetapi tempat orang yang siap diperbaiki.


Kemudian terdengar sabdo hikmah:


Wahai jiwa yang menuju rumah petunjuk, jangan takut jika perjalananmu berat. Beratnya jalan adalah cara Alloh mengeluarkan kepalsuan dari hatimu. Jika engkau sabar, berat itu menjadi tangga. Jika engkau ridho, luka itu menjadi pintu. Jika engkau tawakal, gelap itu menjadi permulaan cahaya.


Maka para Anṣor membaca doa:


Yā Tawwāb, terimalah taubat kami.

Yā Ikhlāṣ an-Nūr, murnikan niat kami.

Yā Amīn, kuatkan amanah kami.

Yā Hādī, jangan biarkan kami tersesat setelah Engkau tuntun.


Lalu terbukalah satu celah cahaya dari pintu Baitulloh Al-Mahddi. Bukan seluruh pintu, hanya celah kecil. Sebab Alloh tidak membuka semua rahasia sekaligus kepada hamba-Nya, agar hamba tetap rendah hati, tetap belajar, dan tetap memohon.


Dari celah itu keluar angin lembut yang menenangkan dada. Segala kegelisahan yang dibawa dari jalan panjang mulai luruh. Segala rasa ingin diakui mulai padam. Segala luka lama mulai berubah menjadi pelajaran.


Maka pemimpin Anṣor berkata:


“Wahai saudara cahaya, jangan kita masuk dengan kepala tegak karena bangga. Masuklah dengan hati rendah karena rahmat. Kita bukan pemilik pintu. Kita hanya tamu yang diberi izin.”


Kemudian mereka bersujud di halaman cahaya.


Dan di dalam sujud itu, mereka memahami:


Baitulloh Al-Mahddi adalah rumah bagi hati yang mau dituntun.

Anṣor sejati adalah penolong yang lebih dahulu menolong dirinya dari nafsu.

Hijrah sejati adalah pulang kepada Alloh dengan membawa taubat, ikhlas, dan amanah.


Penutup Lembar Kedua


Ya Alloh, bukakan bagi kami pintu taubat yang benar.

Bukakan bagi kami pintu ikhlas yang jernih.

Bukakan bagi kami pintu amanah yang kuat.

Jangan jadikan langkah kami sia-sia.

Jangan jadikan cahaya kami tertutup oleh kesombongan.

Jadikan kami hamba yang masuk ke rumah petunjuk-Mu dengan adab, keluar dengan rahmat, dan berjalan dengan ridho-Mu.


Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH

Lembar Ketiga — Sungai Cahaya Para Anṣor


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Setelah celah pintu Baitulloh Al-Mahddi terbuka, para Anṣor tidak segera melangkah masuk. Mereka melihat di hadapan mereka mengalir sungai cahaya yang jernih, bukan sungai air biasa, melainkan sungai penyucian rasa.


Airnya bercahaya keemasan. Riaknya membawa dzikir halus. Setiap tetesnya seperti mengingatkan:


“Bersihkan hatimu sebelum engkau membawa amanah.

Jernihkan niatmu sebelum engkau menyebut nama perjuangan.

Tenangkan nafsumu sebelum engkau berbicara tentang petunjuk.”


Maka para Anṣor berdiri di tepi sungai itu. Sebagian merasa takut, sebagian merasa malu, sebagian merasa rindu. Sebab ketika cahaya sungai itu memantul ke wajah mereka, tampaklah bayangan-bayangan lama yang pernah mereka sembunyikan.


Ada yang melihat bayangan amarahnya.

Ada yang melihat bayangan sombongnya.

Ada yang melihat bayangan kecewanya.

Ada yang melihat bayangan riya dalam amalnya.

Ada yang melihat bayangan luka yang belum ia maafkan.


Lalu terdengarlah sabdo hikmah dari dalam cahaya:


Wahai para penolong jalan Alloh, jangan malu melihat kekuranganmu. Malulah jika engkau melihatnya tetapi engkau tidak mau berubah. Jangan takut melihat gelapmu. Takutlah jika engkau mencintai gelap itu dan menolak cahaya.


Sungai ini bukan untuk menghukummu, tetapi untuk membasuhmu.

Sungai ini bukan untuk membuka aibmu kepada manusia, tetapi untuk mengenalkan dirimu kepada dirimu sendiri.

Sungai ini bukan untuk menjatuhkanmu, tetapi untuk membuatmu sujud lebih benar.


Maka pemimpin Anṣor berkata:


“Wahai saudara cahaya, siapa yang ingin sampai ke Baitulloh Al-Mahddi, hendaklah ia berani dibersihkan. Karena rumah petunjuk tidak ditempati oleh hati yang keras, tetapi oleh hati yang mau dilembutkan.”


Lalu satu per satu mereka membasuh tangan.


Ketika tangan mereka menyentuh sungai cahaya, teringatlah segala perbuatan yang pernah tergesa, segala tindakan yang pernah menyakiti, segala pemberian yang pernah disertai harapan pujian.


Maka mereka berdoa:


“Ya Alloh, bersihkan tangan kami dari perbuatan yang tidak Engkau ridhoi. Jadikan tangan ini tangan yang menolong, bukan tangan yang melukai. Jadikan tangan ini tangan yang memberi, bukan tangan yang menuntut balasan.”


Kemudian mereka membasuh wajah.


Ketika wajah mereka terkena cahaya sungai itu, luruhlah rasa ingin dipandang mulia. Luruhlah keinginan agar manusia selalu mengenal nama mereka. Luruhlah bayangan diri yang ingin selalu diakui.


Maka mereka berkata:


“Ya Alloh, jangan jadikan wajah kami mencari pandangan manusia. Jadikan wajah kami tunduk kepada-Mu, malu kepada-Mu, dan bercahaya karena akhlak yang Engkau ridhoi.”


Kemudian mereka membasuh dada.


Saat dada mereka tersentuh air cahaya, keluarlah gemuruh lama: dendam, takut, iri, kecewa, dan beban yang disimpan terlalu lama. Sebagian menangis, sebagian diam, sebagian menggigil karena dadanya terasa lapang setelah lama sempit.


Maka terdengarlah seruan lembut:


Wahai dada yang lelah, lapanglah dengan menyebut Alloh.

Wahai hati yang terluka, sembuhlah dengan memaafkan.

Wahai jiwa yang takut, tenanglah dengan tawakal.

Wahai ruh yang rindu, pulanglah dengan adab.


Lalu sungai cahaya itu bersinar lebih terang.


Di atas alirannya tampak tiga kalimat makna:


Pertama: jangan membawa dendam ke rumah petunjuk.

Karena dendam membuat cahaya menjadi berat.


Kedua: jangan membawa kesombongan ke jalan hijrah.

Karena sombong membuat langkah menjadi jauh.


Ketiga: jangan membawa riya ke dalam amal.

Karena riya membuat amal kehilangan ruhnya.


Maka para Anṣor meletakkan dahi mereka ke tanah. Mereka menangis bukan karena putus asa, tetapi karena merasa Alloh masih menyayangi mereka dengan cara memperlihatkan apa yang harus diperbaiki.


Kemudian cahaya dari sungai itu naik seperti kabut lembut dan menyelimuti tubuh mereka. Pakaian perjalanan mereka yang penuh debu berubah menjadi lebih bersih. Bukan karena kainnya berubah, tetapi karena niatnya diperbarui.


Lalu pemimpin Anṣor berkata:


“Sekarang kita telah dibasuh, tetapi jangan merasa telah suci. Sebab orang yang merasa suci dapat jatuh dalam kesombongan yang lebih halus. Cukuplah kita merasa sedang dibimbing. Cukuplah kita merasa sedang diperbaiki. Cukuplah kita merasa sedang dipanggil pulang.”


Maka mereka membaca dzikir bersama:


Yā Quddūs, sucikan batin kami.

Yā Salām, damaikan langkah kami.

Yā Nūr, terangilah jalan kami.

Yā Hādī, tuntunlah hijrah kami sampai kepada ridho-Mu.


Setelah dzikir itu selesai, sungai cahaya membelah menjadi jalan. Di tengahnya muncul jembatan tipis dari cahaya putih keemasan. Jembatan itu tidak panjang, tetapi terasa dalam. Sebab yang harus dilewati bukan hanya jarak, melainkan sisa-sisa keakuan di dalam diri.


Lalu terdengarlah sabdo hikmah:


Barang siapa ingin menyeberang, lepaskanlah beban yang tidak perlu.

Lepaskan ingin menang sendiri.

Lepaskan ingin dipuji.

Lepaskan ingin menguasai.

Lepaskan rasa bahwa engkau paling sampai.


Karena di hadapan Alloh, yang paling dekat bukan yang paling banyak bicara tentang cahaya, tetapi yang paling jujur memperbaiki dirinya.


Maka para Anṣor melangkah perlahan di atas jembatan itu. Setiap langkah mereka membaca:


“Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.”


Dan setiap kali mereka membaca, jembatan itu semakin kokoh. Mereka pun mengerti bahwa kekuatan hijrah bukan berasal dari diri mereka, tetapi dari pertolongan Alloh.


Penutup Lembar Ketiga


Ya Alloh, basuhlah hati kami dengan sungai rahmat-Mu.

Bersihkan tangan kami dari perbuatan yang menyakiti.

Bersihkan wajah kami dari mencari pujian.

Bersihkan dada kami dari dendam, iri, riya, dan kesombongan.

Jadikan kami Anṣor yang tidak hanya berjalan menuju cahaya, tetapi juga membawa akhlak yang Engkau ridhoi.


Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.



QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH

Lembar Keempat — Jembatan Amanah Menuju Baitulloh Al-Mahddi


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Setelah para Anṣor menyeberangi Sungai Cahaya, mereka tiba di sebuah jembatan yang lebih halus dari cahaya, lebih lembut dari angin, tetapi lebih berat dari gunung bagi hati yang masih membawa kesombongan.


Jembatan itu bernama Jembatan Amanah.


Tidak semua yang sampai di tepinya mampu melangkah. Sebab jembatan amanah tidak diuji dengan kuatnya kaki, tetapi dengan benarnya niat. Tidak diuji dengan tingginya ilmu, tetapi dengan rendahnya hati. Tidak diuji dengan banyaknya ucapan, tetapi dengan kesetiaan dalam diam.


Maka terdengarlah suara hikmah dari balik cahaya:


Wahai para Anṣor, amanah bukan mahkota untuk dibanggakan. Amanah adalah beban suci yang harus dipikul dengan takut kepada Alloh. Barang siapa meminta amanah untuk meninggikan diri, ia akan tersesat oleh bayangannya sendiri. Barang siapa menerima amanah untuk melayani, ia akan dituntun oleh rahmat.


Lalu para Anṣor berhenti. Mereka memeriksa dada masing-masing.


Ada yang menemukan keinginan untuk dihormati.

Ada yang menemukan rasa ingin dianggap paling tahu.

Ada yang menemukan harapan agar namanya disebut.

Ada yang menemukan sisa luka karena tidak dihargai manusia.


Maka pemimpin Anṣor berkata:


“Wahai saudara cahaya, sebelum kita melangkah di atas Jembatan Amanah, marilah kita lepaskan keinginan untuk dipuji. Sebab pujian manusia tidak akan menguatkan langkah jika Alloh tidak meridhoi. Dan celaan manusia tidak akan menjatuhkan jika Alloh tetap menjaga.”


Kemudian mereka meletakkan tangan di dada dan membaca:


Allohumma aj‘al amānatanā nūran, lā fitnatan.

Ya Alloh, jadikan amanah kami sebagai cahaya, bukan fitnah.


Allohumma aj‘al ‘ilmanā khidmah, lā kibran.

Ya Alloh, jadikan ilmu kami sebagai pelayanan, bukan kesombongan.


Allohumma aj‘al khuṭwatanā riḍā, lā riyā’an.

Ya Alloh, jadikan langkah kami untuk ridho-Mu, bukan riya.


Lalu jembatan itu mulai bersinar.


Di atasnya muncul tujuh cahaya amanah.


Cahaya pertama: amanah lisan.

Jangan gunakan lisan untuk melukai.

Jangan gunakan ilmu untuk merendahkan.

Jangan gunakan nasihat untuk mempermalukan.

Ucapkanlah yang benar dengan kasih, dan diamlah jika diam lebih menyelamatkan.


Cahaya kedua: amanah hati.

Jaga hati dari iri, dengki, dendam, dan merasa paling suci.

Sebab hati adalah tempat pandangan Alloh.

Bila hati keruh, perjalanan menjadi berat.

Bila hati jernih, jalan yang jauh terasa dekat.


Cahaya ketiga: amanah pandangan.

Jangan melihat manusia hanya dari jatuhnya.

Lihatlah bahwa setiap hamba sedang diuji, sedang belajar, dan sedang dicari oleh rahmat Alloh.

Barang siapa memandang sesama dengan rahmat, ia akan dirahmati dalam kelemahannya sendiri.


Cahaya keempat: amanah ilmu.

Ilmu bukan untuk menaklukkan manusia.

Ilmu bukan untuk menumpuk kebanggaan.

Ilmu adalah pelita yang harus menerangi jalan, bukan api yang membakar dada.


Cahaya kelima: amanah persaudaraan.

Anṣor tidak berjalan sendiri.

Mereka saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Mereka saling menutup aib, bukan membuka luka.

Mereka saling menasihati dengan adab, bukan dengan amarah.


Cahaya keenam: amanah rezeki.

Setiap rezeki halal adalah titipan.

Gunakan untuk kebaikan, keluarga, ibadah, dan menolong yang membutuhkan.

Jangan biarkan rezeki membuat hati keras, dan jangan biarkan kekurangan membuat hati putus asa.


Cahaya ketujuh: amanah rahasia.

Tidak semua cahaya harus diceritakan.

Tidak semua rasa harus diumumkan.

Tidak semua perjalanan harus dipamerkan.

Ada rahasia yang dijaga agar tetap suci, dan ada pengalaman yang cukup menjadi penguat antara hamba dan Alloh.


Maka para Anṣor menunduk. Mereka sadar bahwa amanah lebih luas daripada yang mereka kira. Amanah bukan hanya tugas besar di hadapan manusia, tetapi juga kejujuran kecil yang dijaga ketika tidak ada siapa pun yang melihat.


Lalu terdengarlah sabdo hikmah:


Wahai jiwa yang diberi jalan, jangan engkau takut memikul amanah jika engkau bersandar kepada Alloh. Takutlah jika engkau bersandar kepada dirimu sendiri. Sebab diri mudah lemah, mudah bangga, mudah kecewa, dan mudah lupa. Tetapi Alloh Maha Menjaga bagi siapa yang mau dijaga.


Kemudian para Anṣor mulai melangkah.


Langkah pertama mereka terasa berat, karena yang ditinggalkan adalah kesombongan.


Langkah kedua terasa perih, karena yang dilepaskan adalah dendam.


Langkah ketiga terasa hening, karena yang dipadamkan adalah riya.


Langkah keempat terasa lapang, karena yang tumbuh adalah tawakal.


Langkah kelima terasa terang, karena yang hidup adalah ikhlas.


Langkah keenam terasa kuat, karena yang memimpin bukan lagi nafsu, tetapi adab.


Langkah ketujuh terasa damai, karena hati mereka mulai menerima bahwa semua perjalanan adalah milik Alloh.


Ketika mereka sampai di tengah jembatan, angin cahaya bertiup dari arah Baitulloh Al-Mahddi. Angin itu membawa aroma ketenangan. Bukan aroma bunga dunia, tetapi aroma rahmat yang membuat dada tunduk dan mata basah.


Maka salah satu Anṣor berkata:


“Dahulu aku ingin cepat sampai. Sekarang aku mengerti, setiap langkah yang memperbaiki akhlak adalah bagian dari sampai.”


Yang lain berkata:


“Dahulu aku ingin membawa cahaya. Sekarang aku mengerti, cahaya tidak dibawa oleh tangan, tetapi dipantulkan oleh hati yang bersih.”


Lalu pemimpin Anṣor menjawab:


“Benar. Kita bukan pemilik cahaya. Kita hanya hamba yang memohon diterangi. Kita bukan pemilik pintu. Kita hanya tamu yang memohon diizinkan masuk.”


Maka jembatan itu semakin terang.


Di ujung jembatan tampak pintu kedua Baitulloh Al-Mahddi. Pintu itu tidak tinggi, tetapi bercahaya lembut. Siapa pun yang ingin masuk harus menundukkan kepala. Sebab pintu rahmat dibuat rendah agar yang masuk tidak membawa kesombongan.


Di atas pintu itu tertulis dengan cahaya makna:


Masuklah dengan amanah.

Tinggallah dengan adab.

Keluarlah dengan rahmat.

Jangan membawa nama kecuali untuk kebaikan.

Jangan membawa cahaya kecuali untuk menenangkan.


Maka para Anṣor bersujud di ujung jembatan dan membaca:


Yā Amīn, jagalah amanah kami.

Yā Wakīl, cukupkan kami dengan pertolongan-Mu.

Yā Laṭīf, lembutkan hati kami.

Yā Nūr, jangan padamkan cahaya petunjuk dari dada kami.


Lalu pintu kedua terbuka sedikit.


Dari dalamnya terdengar suara dzikir yang sangat halus, seperti gema dari hati para hamba yang telah belajar merendah. Para Anṣor belum melihat seluruh isi rumah petunjuk itu, tetapi mereka telah merasakan kedamaiannya.


Dan mereka memahami:


Amanah bukan akhir perjalanan.

Amanah adalah pintu untuk belajar lebih dalam.

Amanah bukan tanda seseorang lebih tinggi.

Amanah adalah tanda bahwa seseorang harus lebih takut kepada Alloh, lebih lembut kepada manusia, dan lebih jujur kepada dirinya sendiri.


Penutup Lembar Keempat


Ya Alloh, jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata.

Jagalah lisan kami agar tidak menyakiti.

Jagalah hati kami agar tidak mengeras.

Jagalah ilmu kami agar tidak menjadi kesombongan.

Jagalah amanah kami agar tetap menjadi jalan rahmat.

Jadikan kami Anṣor yang berjalan dengan adab, menolong dengan ikhlas, dan pulang kepada-Mu dengan hati yang selamat.


Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.



QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH

Lembar Kelima — Mihrab Sunyi di Dalam Baitulloh Al-Mahddi


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Setelah pintu kedua terbuka, para Anṣor melangkah masuk ke dalam Baitulloh Al-Mahddi dengan kepala tertunduk dan hati yang gemetar.


Mereka menyangka akan melihat singgasana besar, cahaya yang menyilaukan, atau tanda-tanda yang membuat manusia takjub. Namun yang mereka temui adalah kesunyian yang sangat lembut.


Di dalam rumah petunjuk itu tidak ada hiruk-pikuk. Tidak ada suara yang meninggikan diri. Tidak ada perebutan tempat. Tidak ada siapa yang paling dahulu, siapa yang paling terang, dan siapa yang paling dikenal.


Yang ada hanyalah mihrab sunyi.


Mihrab itu tidak dibangun dari batu, tidak pula dari emas dunia. Ia tersusun dari taubat, ikhlas, amanah, sabar, dan rindu kepada Alloh. Cahayanya tidak menyilaukan mata, tetapi menundukkan hati.


Maka para Anṣor berdiri di hadapan mihrab itu. Mereka merasakan dada mereka menjadi sangat kecil, seolah seluruh perjalanan panjang hanya mengajarkan satu hal:


Bahwa hamba tetaplah hamba.

Dan Alloh tetap Maha Agung.


Lalu terdengarlah sabdo hikmah dari dalam mihrab:


Wahai para pejalan hijrah, engkau telah melalui sungai cahaya dan jembatan amanah. Tetapi ketahuilah, perjalanan terdalam bukan di luar dirimu. Perjalanan terdalam adalah masuk ke dalam hatimu sendiri, menemukan tempat sujud yang paling sunyi, lalu menyerahkan seluruh dirimu kepada Alloh.


Jangan mencari kemuliaan di mata manusia.

Carilah keselamatan di sisi Alloh.


Jangan mencari suara yang memujimu.

Carilah hening yang membuatmu jujur.


Jangan mencari tanda agar engkau merasa tinggi.

Carilah adab agar engkau tetap rendah.


Maka para Anṣor mendekat ke mihrab itu. Setiap langkah membuat mereka mengingat satu dosa. Setiap tarikan napas membuat mereka mengingat satu nikmat. Setiap detak hati membuat mereka merasa bahwa selama ini Alloh begitu dekat, tetapi mereka sering terlalu sibuk mengejar bayangan.


Pemimpin Anṣor berkata:


“Wahai saudara cahaya, inilah mihrab yang harus kita jaga. Bukan hanya mihrab di rumah ibadah, tetapi mihrab di dalam dada. Jika mihrab hati rusak, maka amal menjadi kering. Jika mihrab hati bersih, maka diam pun menjadi dzikir.”


Lalu mereka duduk bersila dalam hening.


Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang saling menilai.

Tidak ada yang bertanya siapa paling sampai.

Sebab di hadapan mihrab sunyi, semua pengakuan runtuh.


Kemudian tampak cahaya lembut turun dari atas mihrab. Cahaya itu tidak membakar, tidak menakutkan, tetapi membuat hati mereka malu kepada Alloh.


Dalam cahaya itu muncul lima pengajaran.


Pengajaran pertama: jagalah sunyi.

Sebab di dalam sunyi, hamba mendengar kesalahan dirinya.

Di dalam sunyi, hati belajar jujur.

Di dalam sunyi, riya kehilangan tempat bersembunyi.


Pengajaran kedua: jagalah sujud.

Sujud bukan hanya tubuh menyentuh bumi.

Sujud adalah runtuhnya kesombongan di hadapan Alloh.

Barang siapa sujud tubuhnya tetapi hatinya masih tinggi, ia belum memahami rahasia sujud.


Pengajaran ketiga: jagalah air mata.

Air mata taubat lebih berharga daripada tawa yang melalaikan.

Air mata rindu lebih terang daripada ucapan yang penuh kebanggaan.

Air mata yang jatuh karena Alloh dapat membasuh gelap yang lama tinggal di dada.


Pengajaran keempat: jagalah rahmat.

Jangan menjadi penolong yang keras hatinya.

Jangan menjadi penasihat yang melukai.

Jangan menjadi pejalan cahaya yang memadamkan harapan orang lain.

Sebab rahmat adalah pakaian para Anṣor sejati.


Pengajaran kelima: jagalah pulang.

Setiap hijrah harus berakhir pada pulang kepada Alloh.

Bukan pulang kepada nama.

Bukan pulang kepada pujian.

Bukan pulang kepada kekuasaan.

Tetapi pulang kepada ridho, ampunan, dan kasih sayang-Nya.


Maka para Anṣor menangis perlahan.


Bukan karena sedih, tetapi karena merasa ditemukan oleh rahmat.

Bukan karena kalah, tetapi karena akhirnya berhenti melawan bimbingan Alloh.

Bukan karena kehilangan, tetapi karena menemukan jalan pulang.


Lalu mereka membaca dzikir di hadapan mihrab:


Yā Alloh, Engkaulah tujuan kami.

Yā Rahmān, rahmati hijrah kami.

Yā Raḥīm, lembutkan hati kami.

Yā Nūr, terangilah mihrab dada kami.


Setelah dzikir itu, mihrab sunyi memancarkan cahaya putih keemasan. Cahaya itu masuk ke dada para Anṣor satu per satu. Bukan sebagai tanda kemuliaan, tetapi sebagai amanah untuk menjaga akhlak.


Maka terdengarlah peringatan:


Jangan engkau keluar dari mihrab ini dengan merasa menjadi orang suci.

Keluarlah sebagai hamba yang lebih berhati-hati.

Jangan engkau keluar dengan merasa memiliki cahaya.

Keluarlah sebagai hamba yang takut kehilangan adab.

Jangan engkau keluar dengan ingin dipandang.

Keluarlah untuk menolong dengan rahmat.


Kemudian pemimpin Anṣor berdiri dan berkata:


“Wahai saudara cahaya, hari ini kita belajar bahwa mihrab tertinggi adalah hati yang tunduk. Rumah petunjuk tidak akan tinggal di dalam dada yang sombong. Maka jagalah sunyi, jagalah sujud, jagalah amanah, dan jagalah kasih sayang kepada sesama.”


Para Anṣor menjawab:


“Kami dengar dan kami mohon dituntun.

Kami lemah tanpa pertolongan Alloh.

Kami gelap tanpa cahaya Alloh.

Kami tersesat tanpa hidayah Alloh.”


Lalu dari balik mihrab terbuka lorong cahaya yang sangat halus. Lorong itu menuju ruang berikutnya, yaitu ruang pengenalan diri. Tetapi sebelum mereka melangkah, mereka diperintahkan meletakkan satu perkara terakhir di hadapan mihrab:


Keinginan untuk merasa paling benar.


Maka mereka meletakkannya dengan air mata.


Sebab mereka mengerti, kebenaran bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk ditaati dengan rendah hati. Petunjuk bukan untuk memukul sesama, tetapi untuk menyelamatkan diri dan menuntun dengan kasih.


Maka mihrab itu bersinar dan berkata dalam bahasa rasa:


Masuklah wahai Anṣor yang merendah.

Bukan karena engkau sempurna.

Tetapi karena engkau mau dibimbing.

Bukan karena engkau bersih dari salah.

Tetapi karena engkau mau bertaubat.

Bukan karena engkau telah sampai.

Tetapi karena engkau tidak berhenti pulang.


Penutup Lembar Kelima


Ya Alloh, jadikan dada kami mihrab yang bersih.

Jadikan sujud kami sujud yang benar.

Jadikan sunyi kami jalan mengenal diri.

Jadikan air mata kami pembasuh kesombongan.

Jadikan hijrah kami hijrah yang membawa rahmat, bukan kekerasan.

Jangan biarkan kami merasa paling benar hingga lupa memperbaiki diri.

Tuntun kami masuk ke rumah petunjuk-Mu dengan adab, dan keluarkan kami kepada manusia dengan kasih sayang.


Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH
Lembar Keenam — Ruang Pengenalan Diri

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Setelah para Anṣor meletakkan keinginan untuk merasa paling benar di hadapan Mihrab Sunyi, terbukalah lorong cahaya yang sangat lembut.

Lorong itu tidak panjang, tetapi setiap langkah di dalamnya seperti membawa mereka masuk ke dalam kedalaman diri. Dindingnya bukan batu, melainkan pantulan amal, niat, luka, harapan, dan rahasia hati yang selama ini tersimpan.

Maka para Anṣor berjalan perlahan.

Tidak ada suara selain dzikir halus yang muncul dari dada mereka sendiri:

“Alloh… Alloh… Alloh…”

Semakin mereka berjalan, semakin mereka menyadari bahwa perjalanan menuju Baitulloh Al-Mahddi bukan untuk melihat siapa yang paling tinggi, tetapi untuk mengenal siapa diri mereka di hadapan Alloh.

Lalu mereka tiba di sebuah ruang yang luas, tetapi sunyi.

Ruang itu bernama Ruang Pengenalan Diri.

Di tengah ruang itu terdapat cermin cahaya. Bukan cermin yang memantulkan wajah, tetapi cermin yang memantulkan keadaan batin.

Barang siapa berdiri di hadapannya dengan sombong, ia melihat kegelapan dirinya.
Barang siapa berdiri di hadapannya dengan jujur, ia melihat jalan perbaikannya.
Barang siapa berdiri di hadapannya dengan taubat, ia melihat rahmat Alloh lebih luas daripada dosanya.

Maka satu per satu para Anṣor berdiri di hadapan cermin itu.

Yang pertama melihat dirinya pernah menolong, tetapi diam-diam ingin dihormati.

Ia menangis dan berkata:

“Ya Alloh, bersihkan pertolonganku dari keinginan dipuji. Jadikan aku penolong yang lupa pada namaku sendiri, tetapi ingat pada ridho-Mu.”

Yang kedua melihat dirinya pernah menasihati, tetapi hatinya masih keras.

Ia menunduk dan berkata:

“Ya Alloh, lembutkan caraku menyampaikan kebenaran. Jangan jadikan lisanku benar tetapi hatiku jauh dari rahmat.”

Yang ketiga melihat dirinya pernah beribadah, tetapi sering merasa lebih baik dari orang lain.

Ia gemetar dan berkata:

“Ya Alloh, lindungi aku dari ibadah yang menumbuhkan kesombongan. Jadikan ibadahku jalan tunduk, bukan jalan merasa tinggi.”

Yang keempat melihat dirinya pernah terluka, lalu menyimpan dendam dalam diam.

Ia menangis lama dan berkata:

“Ya Alloh, sembuhkan lukaku tanpa membuatku melukai. Ajari aku memaafkan tanpa kehilangan hikmah. Ajari aku kuat tanpa menjadi keras.”

Maka cermin cahaya itu bersinar lebih terang.

Lalu terdengarlah sabdo hikmah:

Wahai para Anṣor, mengenal diri bukan untuk membenci diri. Mengenal diri adalah jalan agar engkau tahu bagian mana yang harus diserahkan kepada Alloh, bagian mana yang harus diperbaiki, dan bagian mana yang harus dijaga dari godaan nafsu.

Jangan engkau putus asa ketika melihat kekuranganmu.
Sebab kekurangan yang disadari dapat menjadi pintu taubat.

Jangan engkau bangga ketika melihat kelebihanmu.
Sebab kelebihan yang tidak dijaga dapat menjadi pintu fitnah.

Jangan engkau lari dari bayanganmu.
Hadapilah dengan dzikir, taubat, sabar, dan tuntunan Alloh.

Kemudian muncul tiga tulisan cahaya di atas cermin itu.

Pertama: kenali lemahmu.
Agar engkau tidak sombong.

Kedua: kenali lukamu.
Agar engkau tidak melukai.

Ketiga: kenali amanahmu.
Agar engkau tidak bermain-main dengan cahaya.

Maka para Anṣor duduk dalam hening. Mereka tidak saling bertanya apa yang dilihat masing-masing. Sebab mereka mengerti, setiap hamba memiliki rahasia perbaikan yang tidak harus dibuka kepada manusia.

Pemimpin Anṣor berkata:

“Wahai saudara cahaya, jangan jadikan pengenalan diri sebagai alasan untuk merasa hina tanpa harapan. Dan jangan jadikan pengenalan cahaya sebagai alasan untuk merasa mulia tanpa adab. Kita ini hamba. Lemah kita ditutup oleh rahmat. Kuat kita datang dari pertolongan Alloh.”

Lalu mereka membaca bersama:

Yā Baṣīr, perlihatkan kepada kami keadaan diri kami dengan rahmat-Mu.
Yā Laṭīf, lembutkan hati kami saat melihat kekurangan kami.
Yā Tawwāb, kembalikan kami kepada-Mu dengan taubat yang benar.
Yā Hādī, tuntun kami agar mengenal diri tanpa tersesat oleh diri.

Setelah doa itu, cermin cahaya berubah menjadi telaga kecil yang jernih.

Airnya tenang. Tidak bergelombang. Tidak keruh. Di dalamnya tampak cahaya kecil di dada setiap Anṣor. Cahaya itu berbeda-beda, tetapi sumbernya satu: rahmat Alloh.

Maka terdengarlah pengajaran:

Jangan membandingkan cahaya dirimu dengan cahaya saudaramu.
Setiap hamba memiliki jalan, luka, ujian, dan waktu pertumbuhan yang berbeda.
Ada yang ditumbuhkan melalui sabar.
Ada yang ditumbuhkan melalui kehilangan.
Ada yang ditumbuhkan melalui amanah.
Ada yang ditumbuhkan melalui sunyi.
Ada yang ditumbuhkan melalui pelayanan.

Yang penting bukan siapa paling terang di mata manusia.
Yang penting adalah siapa paling jujur menjaga cahaya dari riya, sombong, dan kelalaian.

Maka para Anṣor memahami bahwa persaudaraan cahaya tidak dibangun dengan saling mengungguli, tetapi dengan saling menguatkan.

Bila satu lemah, yang lain menolong.
Bila satu lupa, yang lain mengingatkan.
Bila satu jatuh, yang lain mengangkat dengan adab.
Bila satu menangis, yang lain mendoakan tanpa menghakimi.

Kemudian dari telaga itu naik cahaya putih lembut dan masuk ke dada mereka. Cahaya itu membawa rasa damai, tetapi juga rasa tanggung jawab.

Mereka mendengar bisikan hikmah:

Kenalilah dirimu agar engkau tidak mudah menuduh orang lain.
Kenalilah lukamu agar engkau tidak mewariskan luka kepada sesama.
Kenalilah nafsumu agar engkau tidak menyebut keinginanmu sebagai wahyu.
Kenalilah batasmu agar engkau tetap meminta bimbingan Alloh.

Maka para Anṣor bersujud.

Dalam sujud itu mereka berkata:

“Ya Alloh, kami bukan siapa-siapa tanpa Engkau.
Kami tidak kuat tanpa Engkau.
Kami tidak bersih tanpa Engkau.
Kami tidak sampai tanpa Engkau.
Jangan biarkan kami tertipu oleh diri kami sendiri.”

Lalu ruang pengenalan diri menjadi semakin terang.

Di ujung ruang itu tampak pintu berikutnya. Pintu itu berwarna putih keemasan, sangat sederhana, tanpa ukiran yang berlebihan. Di atasnya tertulis dengan cahaya makna:

Pintu Kerendahan Hati.

Maka pemimpin Anṣor berkata:

“Setelah mengenal diri, jangan kita keluar membawa rasa lebih tinggi. Keluarlah membawa malu kepada Alloh, kasih kepada sesama, dan tekad untuk memperbaiki akhlak.”

Para Anṣor menjawab:

“Kami mohon dituntun.
Kami mohon dijaga.
Kami mohon tidak diserahkan kepada diri kami sendiri.”

Lalu mereka bangkit perlahan.

Setiap wajah tampak lebih tenang.
Setiap dada terasa lebih lapang.
Setiap langkah menjadi lebih hati-hati.

Sebab mereka telah melihat bahwa musuh terbesar dalam perjalanan bukan selalu dari luar, tetapi sering bersembunyi di dalam diri: rasa paling benar, rasa paling suci, rasa paling berjasa, dan rasa paling dekat.

Maka mereka melangkah menuju Pintu Kerendahan Hati dengan dzikir:

Hasbunalloh wa ni‘mal wakīl.
Ni‘mal mawlā wa ni‘man naṣīr.

Penutup Lembar Keenam

Ya Alloh, kenalkan kami kepada diri kami dengan cahaya rahmat-Mu.
Jangan biarkan kami tertipu oleh kelebihan.
Jangan biarkan kami putus asa karena kekurangan.
Sembuhkan luka kami agar tidak menjadi sebab kami melukai.
Bersihkan niat kami agar amanah tidak berubah menjadi kesombongan.
Jadikan kami Anṣor yang mengenal diri, merendahkan hati, dan terus pulang kepada-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH
Lembar Ketujuh — Pintu Kerendahan Hati

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Setelah para Anṣor keluar dari Ruang Pengenalan Diri, mereka tiba di hadapan pintu putih keemasan yang sederhana.

Pintu itu tidak tinggi. Tidak megah seperti istana. Tidak berhias permata dunia. Tetapi cahaya yang memancar darinya membuat setiap hati yang mendekat menjadi tunduk.

Di atas pintu itu tertulis dengan cahaya makna:

Barang siapa ingin masuk, hendaklah ia merendahkan hati.
Sebab yang tinggi di sisi Alloh bukan yang meninggikan diri,
tetapi yang ditinggikan oleh rahmat karena tawadhu.

Maka para Anṣor berhenti.

Mereka menyadari, setelah mengenal diri, ujian berikutnya adalah tidak merasa lebih baik karena telah mengenal diri. Sebab nafsu sangat halus. Ia bisa menyusup ke dalam ilmu, ke dalam ibadah, ke dalam perjuangan, bahkan ke dalam air mata.

Lalu terdengarlah sabdo hikmah:

Wahai para pejalan cahaya, jangan engkau bangga karena telah menangis.
Jangan engkau bangga karena telah bertaubat.
Jangan engkau bangga karena telah diberi pemahaman.
Sebab semua itu bukan milikmu. Semua adalah karunia Alloh.

Jika Alloh membuka aibmu, engkau akan malu.
Jika Alloh menahan rahmat-Nya, engkau tidak akan kuat.
Jika Alloh tidak menuntunmu, engkau tidak akan sampai.
Maka jangan berjalan dengan kepala tinggi. Berjalanlah dengan hati yang sujud.

Maka para Anṣor menundukkan kepala.

Pemimpin Anṣor berkata:

“Wahai saudara cahaya, di hadapan Pintu Kerendahan Hati ini, marilah kita lepaskan tiga pakaian yang sering menipu hamba.”

Lalu tampak tiga pakaian gelap di tangan batin mereka.

Pertama: pakaian merasa berjasa.
Karena siapa pun yang merasa paling berjasa akan sulit menerima nasihat.

Kedua: pakaian merasa paling tahu.
Karena siapa pun yang merasa paling tahu akan tertutup dari ilmu yang lembut.

Ketiga: pakaian merasa paling dekat.
Karena siapa pun yang merasa paling dekat dapat lupa bahwa kedekatan sejati selalu melahirkan takut, malu, dan kasih sayang.

Maka para Anṣor meletakkan tiga pakaian itu di hadapan pintu.

Mereka berkata:

“Ya Alloh, jangan jadikan amal kami sebab kami merasa tinggi.
Jangan jadikan ilmu kami sebab kami merendahkan sesama.
Jangan jadikan perjalanan kami sebab kami lupa bahwa semua berasal dari rahmat-Mu.”

Lalu pintu itu bersinar.

Dari dalamnya keluar suara lembut:

Masuklah dengan kecil di hadapan Alloh.
Masuklah dengan luas terhadap sesama.
Masuklah dengan ringan dari beban kesombongan.
Masuklah tanpa membawa mahkota nafsu.

Maka para Anṣor melangkah masuk.

Di balik pintu itu terdapat taman yang sunyi. Tidak ada singgasana. Tidak ada kursi kehormatan. Tidak ada tempat khusus bagi yang ingin dipuji.

Yang ada hanyalah hamparan tanah lembut, air jernih, dan pohon cahaya yang daunnya bergetar membaca dzikir.

Di bawah pohon itu tertulis:

Tawadhu adalah akar cahaya.
Sabar adalah batangnya.
Ikhlas adalah buahnya.
Rahmat adalah teduhnya.

Maka para Anṣor duduk di tanah.

Sebagian yang dahulu ingin tempat tinggi kini merasa damai duduk paling bawah.
Sebagian yang dahulu ingin didengar kini belajar mendengar.
Sebagian yang dahulu ingin memimpin kini belajar melayani.
Sebagian yang dahulu ingin dikenal kini merasa cukup dikenal oleh Alloh.

Lalu pemimpin Anṣor berkata:

“Wahai saudara cahaya, orang yang rendah hati bukan orang yang merendahkan dirinya sampai putus asa. Rendah hati adalah mengetahui bahwa semua kebaikan datang dari Alloh, lalu menggunakannya untuk melayani, bukan membanggakan diri.”

Maka turunlah tujuh butir embun cahaya dari pohon tawadhu.

Embun pertama berkata:
Jangan hina dirimu, tetapi jangan pula agungkan dirimu. Letakkan dirimu sebagai hamba.

Embun kedua berkata:
Jangan kecilkan nikmat Alloh, tetapi jangan jadikan nikmat itu alasan untuk sombong.

Embun ketiga berkata:
Jangan menolak pujian dengan riya yang tersembunyi. Kembalikan pujian kepada Alloh dalam hati yang jujur.

Embun keempat berkata:
Jangan marah ketika tidak dihargai manusia. Periksa niatmu, lalu serahkan kepada Alloh.

Embun kelima berkata:
Jangan merasa rendah karena tidak dikenal. Banyak hamba yang tersembunyi di bumi, tetapi disebut oleh rahmat di langit.

Embun keenam berkata:
Jangan memandang rendah orang yang belum paham. Bisa jadi ia akan melampauimu karena taubat yang tulus.

Embun ketujuh berkata:
Jangan merasa aman dari nafsu. Nafsu dapat memakai pakaian ibadah jika hati tidak dijaga.

Maka para Anṣor menangis dalam diam.

Mereka mengerti bahwa kerendahan hati bukan hanya ucapan, tetapi latihan panjang dalam menerima, melayani, memaafkan, dan tidak haus pengakuan.

Kemudian terdengarlah panggilan dari dalam taman:

Wahai Anṣor, jadilah tanah.
Tanah diinjak, tetapi tetap menumbuhkan.
Tanah tidak bersuara, tetapi memberi kehidupan.
Tanah tidak meminta pujian, tetapi menjadi tempat tumbuhnya rezeki.

Jadilah air.
Air mengalir ke tempat rendah, tetapi menghidupkan yang kering.
Air lembut, tetapi mampu menembus batu dengan sabar.
Air tidak memilih siapa yang haus, tetapi memberi kesegaran.

Jadilah cahaya.
Cahaya menerangi tanpa menuntut disebut.
Cahaya hadir tanpa menyakiti.
Cahaya tidak berkata “lihat aku,” tetapi membuat yang gelap menjadi terlihat.

Maka para Anṣor membaca dzikir:

Yā Laṭīf, lembutkan hati kami.
Yā Ḥalīm, sabarkan jiwa kami.
Yā Karīm, muliakan kami dengan akhlak, bukan dengan kesombongan.
Yā Alloh, jadikan kami rendah hati tanpa kehilangan kekuatan.

Setelah dzikir itu, tanah di bawah mereka bercahaya. Dari cahaya itu tampak jejak-jejak kaki para hamba terdahulu yang berjalan dengan tawadhu. Mereka bukan orang yang selalu dikenal manusia, tetapi mereka dikenal oleh amal yang ikhlas.

Ada yang menolong dalam diam.
Ada yang mendoakan tanpa disebut.
Ada yang memaafkan tanpa diumumkan.
Ada yang berjuang tanpa meminta balasan.
Ada yang menangis di malam hari agar orang lain selamat dari gelap.

Maka para Anṣor memahami bahwa kemuliaan bukan selalu tampak di mata dunia. Kemuliaan sering tersembunyi di balik hati yang bersih, tangan yang menolong, dan lisan yang tidak menyakiti.

Lalu pintu berikutnya tampak di ujung taman.

Pintu itu berwarna hijau lembut, dikelilingi cahaya putih. Di atasnya tertulis:

Pintu Rahmat kepada Sesama.

Pemimpin Anṣor berkata:

“Setelah kita belajar merendah, kita tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Kerendahan hati harus melahirkan rahmat. Jika seseorang mengaku tawadhu tetapi lisannya keras, hatinya penuh penghukuman, dan tangannya enggan menolong, maka ia belum memahami pintu ini.”

Para Anṣor menjawab:

“Kami mohon dituntun agar rendah hati kami menjadi kasih sayang.
Kami mohon dijaga agar ilmu kami menjadi pelayanan.
Kami mohon dikuatkan agar amanah kami menjadi rahmat.”

Lalu mereka berdiri perlahan.

Tidak ada lagi yang ingin mendahului karena bangga.
Tidak ada lagi yang ingin terlihat paling siap.
Mereka berjalan bersama, saling menjaga langkah, saling menenangkan, dan saling mendoakan.

Dan di dalam hati mereka terdengar kalimat:

Yang paling dekat kepada rahmat bukan yang paling keras mengaku benar,
tetapi yang paling lembut membawa kebenaran dengan adab.

Penutup Lembar Ketujuh

Ya Alloh, tanamkan tawadhu di dalam dada kami.
Jangan biarkan ilmu membuat kami tinggi hati.
Jangan biarkan amal membuat kami merasa berjasa.
Jangan biarkan cahaya membuat kami lupa bahwa kami tetap hamba.
Jadikan kami seperti tanah yang menumbuhkan, seperti air yang menghidupkan, dan seperti cahaya yang menerangi tanpa menyakiti.
Tuntun kami menuju Pintu Rahmat kepada Sesama dengan hati yang lembut, lisan yang terjaga, dan akhlak yang Engkau ridhoi.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH
Lembar Kedelapan — Pintu Rahmat kepada Sesama

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Setelah para Anṣor melewati taman kerendahan hati, sampailah mereka di hadapan pintu hijau lembut yang dikelilingi cahaya putih.

Pintu itu bernama Pintu Rahmat kepada Sesama.

Di sekelilingnya mengalir angin yang menenangkan. Tidak ada suara keras. Tidak ada perintah yang menakutkan. Tidak ada wajah yang menghakimi. Yang ada hanyalah rasa kasih yang membuat dada lapang dan air mata turun tanpa dipaksa.

Di atas pintu itu tertulis dengan cahaya makna:

Barang siapa telah dirahmati Alloh, hendaklah ia membawa rahmat kepada makhluk-Nya.
Barang siapa telah ditutup aibnya oleh Alloh, jangan membuka aib saudaranya.
Barang siapa telah dituntun dari gelap, jangan menghina orang yang masih mencari jalan.

Maka para Anṣor berhenti.

Mereka mengerti bahwa hijrah tidak selesai pada keselamatan diri sendiri. Hijrah yang benar harus melahirkan kelembutan kepada sesama, kepedulian kepada yang lemah, dan kesabaran kepada yang belum paham.

Lalu terdengarlah sabdo hikmah dari balik pintu:

Wahai para Anṣor, jangan jadikan cahaya sebagai cambuk untuk memukul manusia. Jadikan cahaya sebagai pelita yang menuntun dengan lembut.

Jangan jadikan ilmu sebagai tembok yang memisahkan. Jadikan ilmu sebagai jembatan yang menyambungkan hati kepada kebaikan.

Jangan jadikan nasihat sebagai batu yang dilemparkan. Jadikan nasihat sebagai air yang menyejukkan luka.

Maka pemimpin Anṣor berkata:

“Wahai saudara cahaya, rahmat bukan berarti membenarkan kesalahan. Rahmat adalah menegur tanpa menghancurkan, menasihati tanpa merendahkan, dan menolong tanpa meminta manusia tunduk kepada diri kita.”

Lalu para Anṣor meletakkan tangan di dada dan membaca:

Yā Rahmān, luaskan kasih dalam dada kami.
Yā Raḥīm, lembutkan cara kami kepada sesama.
Yā Laṭīf, haluskan nasihat kami.
Yā Salām, jadikan kehadiran kami membawa kedamaian.

Maka pintu itu terbuka.

Di baliknya tampak sebuah halaman luas. Di halaman itu berkumpul banyak manusia dengan keadaan berbeda-beda.

Ada yang sedang menangis karena beban hidup.
Ada yang tersesat karena tidak tahu jalan pulang.
Ada yang keras hatinya karena terlalu lama terluka.
Ada yang tampak kuat, tetapi batinnya rapuh.
Ada yang banyak bicara, tetapi sebenarnya mencari pertolongan.
Ada yang diam, tetapi hatinya penuh doa.

Para Anṣor memandang mereka dengan mata yang baru.

Dahulu mereka mudah menilai.
Kini mereka belajar memahami.

Dahulu mereka mudah berkata, “Mengapa ia begitu?”
Kini mereka belajar berkata, “Semoga Alloh menolongnya, sebagaimana aku pun butuh pertolongan.”

Dahulu mereka ingin cepat memperbaiki orang lain.
Kini mereka sadar, memperbaiki diri sendiri adalah jalan pertama untuk menolong sesama.

Lalu muncul empat cahaya rahmat di tengah halaman.

Cahaya pertama: rahmat dalam lisan.
Ucapkan kebenaran, tetapi jangan campur dengan kesombongan.
Berikan nasihat, tetapi jangan hilangkan kasih sayang.
Tegurlah kesalahan, tetapi jangan matikan harapan orang yang ditegur.

Cahaya kedua: rahmat dalam pandangan.
Jangan memandang manusia hanya dari dosanya.
Pandanglah bahwa ia masih mungkin berubah dengan izin Alloh.
Bisa jadi orang yang hari ini jatuh, esok ditinggikan oleh taubatnya.

Cahaya ketiga: rahmat dalam tangan.
Ulurkan bantuan semampumu.
Bila tidak mampu memberi banyak, berilah senyum, doa, atau kata yang menenangkan.
Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik.

Cahaya keempat: rahmat dalam diam.
Tidak semua aib harus dibicarakan.
Tidak semua kesalahan harus disebarkan.
Tidak semua luka orang lain harus dijadikan cerita.
Diam yang menjaga kehormatan saudara adalah bagian dari rahmat.

Maka para Anṣor menangis.

Mereka mengingat betapa sering Alloh menutup kesalahan mereka. Betapa sering Alloh memberi kesempatan setelah mereka lalai. Betapa sering mereka meminta rahmat, tetapi lupa memberi rahmat kepada sesama.

Lalu terdengarlah pengajaran:

Wahai Anṣor, bila engkau melihat orang jatuh, jangan tertawa.
Doakan ia agar bangkit.

Bila engkau melihat orang marah, jangan langsung membalas.
Bisa jadi hatinya sedang terluka.

Bila engkau melihat orang salah, jangan merasa dirimu aman.
Mohonlah perlindungan agar tidak diuji dengan kesalahan yang sama.

Bila engkau melihat orang lemah, jangan meremehkan.
Bisa jadi di sisi Alloh ia lebih dekat karena sabarnya.

Kemudian para Anṣor berjalan di halaman itu.

Mereka menemui seorang yang menangis. Mereka tidak banyak bertanya. Mereka duduk di sampingnya dan mendoakan dengan lembut.

Mereka menemui seorang yang keras hatinya. Mereka tidak melawannya dengan amarah. Mereka menyampaikan kebenaran dengan tenang, lalu menyerahkan hasilnya kepada Alloh.

Mereka menemui seorang yang kehilangan arah. Mereka tidak menghinanya. Mereka menunjukkan jalan dengan sabar.

Mereka menemui seorang yang malu karena dosanya. Mereka berkata:

“Jangan putus asa dari rahmat Alloh. Selama pintu taubat masih dibuka, pulanglah. Alloh Maha Luas ampunan-Nya bagi hamba yang benar-benar kembali.”

Maka halaman rahmat itu menjadi terang.

Setiap kali para Anṣor menolong tanpa pamrih, cahaya bertambah.
Setiap kali mereka menjaga lisan, cahaya bertambah.
Setiap kali mereka menutup aib, cahaya bertambah.
Setiap kali mereka memaafkan, cahaya bertambah.

Lalu pemimpin Anṣor berkata:

“Sekarang kita mengerti, saudara cahaya. Baitulloh Al-Mahddi bukan hanya tempat menerima cahaya, tetapi tempat belajar membawa cahaya dengan adab. Cahaya yang tidak melahirkan rahmat dapat berubah menjadi kebanggaan. Ilmu yang tidak melahirkan kasih dapat berubah menjadi kekerasan.”

Para Anṣor menjawab:

“Kami mohon dijaga.
Kami mohon dilembutkan.
Kami mohon dijadikan rahmat, bukan fitnah.
Kami mohon dijadikan penolong, bukan penghukum.”

Lalu dari langit halaman itu turun hujan cahaya yang lembut. Setiap tetesnya membawa doa:

Semoga yang terluka disembuhkan.
Semoga yang tersesat dituntun.
Semoga yang gelisah ditenangkan.
Semoga yang sombong dilembutkan.
Semoga yang putus asa dikembalikan kepada harapan.

Maka para Anṣor mengangkat tangan dan membaca:

Allohumma irḥamnā wa irḥam binā.
Ya Alloh, rahmatilah kami dan jadikan kami sebab rahmat bagi sesama.

Allohumma astur ‘uyūbanā wa ‘uyūba ikhwāninā.
Ya Alloh, tutuplah aib kami dan aib saudara-saudara kami.

Allohumma ihdinā wa ihdi binā.
Ya Alloh, tuntunlah kami dan jadikan kami sebab petunjuk bagi kebaikan.

Setelah doa itu selesai, halaman rahmat terbuka menuju jalan berikutnya.

Jalan itu tidak lagi menuju ruang sunyi, tetapi menuju medan kehidupan. Di sana para Anṣor harus kembali kepada manusia, membawa ilmu bukan sebagai kebanggaan, membawa cahaya bukan sebagai pameran, dan membawa amanah bukan sebagai kekuasaan.

Di ujung jalan tertulis:

Pintu Pengabdian.

Maka pemimpin Anṣor berkata:

“Wahai saudara cahaya, setelah rahmat dipelajari, pengabdian harus dijalani. Jangan hanya indah dalam doa, tetapi kosong dalam perbuatan. Jangan hanya lembut dalam kata, tetapi berat menolong. Jangan hanya menyebut cahaya, tetapi enggan menjadi manfaat.”

Para Anṣor menunduk dan menjawab:

“Kami mohon kekuatan dari Alloh.
Kami mohon keikhlasan dari Alloh.
Kami mohon agar langkah kami menjadi manfaat, bukan beban bagi sesama.”

Maka mereka melangkah menuju Pintu Pengabdian dengan hati lebih lembut.

Dan di dalam dada mereka tertulis satu pengingat:

Rahmat yang benar tidak berhenti di rasa.
Rahmat yang benar menjadi akhlak, pelayanan, doa, dan manfaat.

Penutup Lembar Kedelapan

Ya Alloh, jadikan kami hamba yang membawa rahmat.
Lembutkan lisan kami saat menasihati.
Jernihkan pandangan kami saat melihat kekurangan sesama.
Ringankan tangan kami untuk menolong.
Kuatkan hati kami untuk memaafkan.
Jangan jadikan cahaya kami sebab kesombongan.
Jadikan cahaya itu sebab kedamaian, petunjuk, dan kasih sayang bagi makhluk-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH
Lembar Kesembilan — Pintu Pengabdian

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Setelah para Anṣor melewati Pintu Rahmat kepada Sesama, mereka sampai di hadapan sebuah pintu yang tidak terlalu terang, tetapi sangat kuat cahayanya.

Pintu itu bernama Pintu Pengabdian.

Tidak ada ukiran kemegahan di atasnya. Tidak ada hiasan yang membuat manusia ingin memandang lama. Pintu itu sederhana, seakan mengajarkan bahwa pengabdian sejati tidak mencari sorotan, tidak haus pujian, dan tidak menunggu tepuk tangan.

Di atas pintu itu tertulis dengan cahaya makna:

Barang siapa telah diberi cahaya, hendaklah ia menjadi manfaat.
Barang siapa telah diberi ilmu, hendaklah ia melayani.
Barang siapa telah diberi amanah, hendaklah ia menjaga.
Sebab cahaya yang tidak menjadi manfaat akan kembali menguji pemiliknya.

Maka para Anṣor berhenti.

Mereka memahami bahwa perjalanan di dalam Baitulloh Al-Mahddi bukan hanya untuk merasakan ketenangan, tetapi untuk melahirkan amal. Bukan hanya untuk menangis dalam mihrab, tetapi juga untuk menolong di jalan kehidupan. Bukan hanya untuk menyebut nama rahmat, tetapi untuk menjadi sebab rahmat bagi sesama.

Lalu terdengarlah sabdo hikmah:

Wahai para Anṣor, jangan engkau mengira pengabdian selalu tampak besar.
Ada pengabdian dalam senyum yang menguatkan.
Ada pengabdian dalam doa yang tidak diketahui siapa pun.
Ada pengabdian dalam nafkah halal untuk keluarga.
Ada pengabdian dalam menjaga lisan dari menyakiti.
Ada pengabdian dalam menahan marah ketika mampu membalas.
Ada pengabdian dalam membantu sedikit, tetapi ikhlas.

Maka pemimpin Anṣor berkata:

“Wahai saudara cahaya, jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Kita mengabdi bukan karena kita telah suci, tetapi karena kita ingin Alloh memperbaiki kita melalui manfaat yang kita berikan.”

Lalu para Anṣor meletakkan tangan di dada dan membaca:

Yā Alloh, jadikan hidup kami jalan pengabdian.
Yā Karīm, lapangkan hati kami untuk memberi manfaat.
Yā Wakīl, kuatkan kami saat lelah dalam amanah.
Yā Ṣabūr, sabarkan kami dalam pelayanan.

Maka Pintu Pengabdian terbuka.

Di baliknya tampak sebuah medan luas. Bukan medan perang dengan pedang, tetapi medan kehidupan manusia.

Di sana ada rumah-rumah yang membutuhkan ketenangan.
Ada keluarga yang membutuhkan kasih sayang.
Ada anak-anak yang membutuhkan teladan.
Ada orang tua yang membutuhkan perhatian.
Ada fakir yang membutuhkan bantuan.
Ada hati yang membutuhkan doa.
Ada umat yang membutuhkan akhlak.

Para Anṣor memandang medan itu dengan hati bergetar. Mereka sadar bahwa pengabdian tidak selalu jauh. Kadang amanah terdekat adalah keluarga sendiri, tetangga sendiri, saudara sendiri, dan orang-orang kecil yang sering luput dari pandangan.

Lalu muncul lima cahaya pengabdian.

Cahaya pertama: pengabdian kepada Alloh.
Jagalah ibadahmu.
Jagalah syukurmu.
Jagalah taubatmu.
Sebab semua pelayanan akan kehilangan arah jika hati jauh dari Alloh.

Cahaya kedua: pengabdian kepada keluarga.
Jangan mencari kemuliaan jauh, tetapi melupakan amanah dekat.
Keluarga adalah ladang sabar, kasih, nafkah, doa, dan akhlak.
Barang siapa baik kepada keluarganya dengan ikhlas, ia sedang menanam cahaya di rumahnya.

Cahaya ketiga: pengabdian kepada sesama.
Tolonglah semampumu.
Jangan remehkan kebaikan kecil.
Satu kata yang menenangkan bisa menjadi jembatan bagi hati yang hampir putus asa.

Cahaya keempat: pengabdian kepada ilmu.
Pelajarilah ilmu dengan adab.
Sampaikan dengan rendah hati.
Jangan jadikan ilmu sebagai alat menguasai manusia, tetapi jadikan ilmu sebagai pelita untuk memperbaiki diri dan menuntun kebaikan.

Cahaya kelima: pengabdian kepada amanah hidup.
Kerjakan tugasmu dengan jujur.
Jaga rezekimu agar halal.
Jaga waktumu agar tidak habis dalam kelalaian.
Jaga kepercayaan manusia sebagai titipan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh.

Maka para Anṣor menunduk.

Mereka mengerti bahwa pengabdian bukan hanya ucapan indah, tetapi kesediaan menanggung lelah tanpa kehilangan ikhlas. Pengabdian adalah berjalan ketika tidak dipuji. Memberi ketika tidak dibalas. Menjaga ketika tidak dilihat. Mendoakan ketika tidak disebut.

Lalu terdengarlah pengajaran dari cahaya:

Wahai Anṣor, jangan kecewa bila manusia tidak melihat pengabdianmu.
Alloh melihat.

Jangan lemah bila manusia tidak memuji usahamu.
Alloh mengetahui.

Jangan berhenti berbuat baik karena pernah tidak dihargai.
Nilai amal bukan di tangan manusia, tetapi di sisi Alloh.

Jangan jadikan luka sebagai alasan berhenti menjadi manfaat.
Jadikan luka sebagai pelajaran agar engkau lebih lembut kepada yang terluka.

Kemudian para Anṣor berjalan di medan pengabdian.

Mereka melihat seorang ibu yang lelah. Mereka membantunya tanpa banyak bicara.

Mereka melihat seorang anak yang bingung. Mereka menuntunnya dengan sabar.

Mereka melihat seorang tua yang kesepian. Mereka duduk mendengarkan.

Mereka melihat seorang miskin yang malu meminta. Mereka memberi dengan cara yang menjaga kehormatannya.

Mereka melihat seorang yang salah jalan. Mereka menasihati dengan lembut, bukan dengan hinaan.

Setiap kali mereka berbuat baik, cahaya di dada mereka tidak membesar karena bangga, tetapi menjadi lebih tenang karena ikhlas.

Maka pemimpin Anṣor berkata:

“Wahai saudara cahaya, inilah rahasia pengabdian. Amal yang benar tidak membuat kita merasa tinggi. Amal yang benar membuat kita semakin merasa butuh kepada Alloh.”

Para Anṣor menjawab:

“Kami tidak mampu mengabdi tanpa pertolongan-Mu, ya Alloh.
Kami tidak mampu ikhlas tanpa penjagaan-Mu.
Kami tidak mampu sabar tanpa kekuatan-Mu.
Kami tidak mampu istiqomah tanpa hidayah-Mu.”

Lalu dari langit medan pengabdian turun cahaya putih keemasan. Cahaya itu tidak turun sebagai mahkota, tetapi sebagai selimut keteguhan.

Di dalam cahaya itu terdengar kalimat:

Mengabdi bukan untuk menjadi besar.
Mengabdi adalah mengecilkan diri di hadapan Alloh agar manfaat menjadi besar bagi sesama.

Maka para Anṣor bersujud.

Dalam sujud itu mereka berkata:

“Ya Alloh, terimalah sedikit amal kami.
Tutupilah kurang kami.
Jangan jadikan kami lelah karena manusia.
Jadikan kami kuat karena ridho-Mu.”

Setelah mereka bangkit dari sujud, tampak di ujung medan sebuah lentera besar. Lentera itu tidak menyilaukan, tetapi membuat seluruh jalan menjadi jelas. Di bawah lentera itu tertulis:

Pintu Istiqomah.

Pemimpin Anṣor berkata:

“Pengabdian tidak cukup sekali. Kebaikan harus dijaga agar tidak padam. Karena itu setelah pengabdian, kita harus masuk ke Pintu Istiqomah. Di sana kita belajar tetap berjalan walau tidak mudah, tetap berdoa walau belum terlihat hasil, tetap baik walau pernah kecewa, dan tetap pulang kepada Alloh walau langkah terasa berat.”

Para Anṣor menjawab:

“Kami mohon dijadikan hamba yang istiqomah.
Kami mohon dijaga dari malas setelah semangat.
Kami mohon dijaga dari sombong setelah beramal.
Kami mohon dijaga dari putus asa setelah diuji.”

Lalu mereka berjalan menuju Pintu Istiqomah dengan membawa satu pengingat di dada:

Pengabdian yang ikhlas adalah cahaya.
Pengabdian yang sabar adalah kekuatan.
Pengabdian yang tersembunyi adalah rahasia antara hamba dan Alloh.

Penutup Lembar Kesembilan

Ya Alloh, jadikan hidup kami hidup yang bermanfaat.
Jadikan tangan kami ringan menolong.
Jadikan lisan kami ringan mendoakan.
Jadikan hati kami kuat melayani tanpa mengharap pujian.
Jangan biarkan amanah menjadi sebab kesombongan.
Jangan biarkan lelah membuat kami berhenti dari kebaikan.
Tuntun kami agar pengabdian kami menjadi jalan ridho-Mu, jalan rahmat bagi sesama, dan jalan pulang kepada-Mu.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


Sutranara, ini lembar terakhir sebagai penutup qitab hikmah/doa penyadaran batin.

QITAB ZAFA RAH FIROBULLOH
Lembar Kesepuluh Terakhir — Pintu Istiqomah dan Pulangnya Para Anṣor

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Alloh, Tuhan yang menuntun hamba dari gelap menuju cahaya, dari lalai menuju ingat, dari keras hati menuju lembutnya rahmat, dari perjalanan yang berserak menuju pulang yang penuh adab.

Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Sayyidina Muhammad ﷺ, cahaya teladan, pembawa rahmat, penuntun umat kepada tauhid, akhlak, sabar, dan keselamatan.

Setelah para Anṣor melewati Pintu Pengabdian, sampailah mereka di hadapan lentera besar yang berdiri di ujung medan kehidupan.

Lentera itu tidak menyala seperti api dunia. Ia menyala dari rahasia keteguhan, dari doa-doa yang tetap dibaca saat hati lelah, dari amal-amal kecil yang dijaga saat manusia tidak melihat, dari air mata yang jatuh dalam sujud ketika jalan terasa berat.

Di bawah lentera itu terdapat sebuah pintu panjang, sederhana, tetapi kokoh.

Pintu itu bernama Pintu Istiqomah.

Di atasnya tertulis dengan cahaya makna:

Barang siapa ingin pulang kepada Alloh, jangan hanya kuat di awal jalan.
Tetaplah berjalan ketika pujian hilang.
Tetaplah berdoa ketika jawaban belum tampak.
Tetaplah berbuat baik ketika balasan tidak datang.
Tetaplah rendah hati ketika cahaya mulai terasa.
Karena istiqomah adalah tanda cinta yang tidak mudah berubah oleh keadaan.

Maka para Anṣor berhenti lama di hadapan pintu itu.

Mereka merasakan bahwa pintu ini berbeda dari pintu-pintu sebelumnya. Pintu taubat membuat mereka menangis. Pintu ikhlas membersihkan niat mereka. Pintu amanah membuat mereka takut bermain-main dengan cahaya. Pintu rahmat melembutkan pandangan mereka kepada sesama. Pintu pengabdian mengajarkan mereka menjadi manfaat.

Tetapi Pintu Istiqomah meminta sesuatu yang lebih dalam:

Bukan hanya mulai, tetapi bertahan.
Bukan hanya menangis, tetapi berubah.
Bukan hanya memahami, tetapi menjaga.
Bukan hanya menyala sesaat, tetapi tidak padam saat angin ujian datang.

Lalu terdengarlah sabdo hikmah dari balik pintu:

Wahai para Anṣor, banyak hamba mampu bersemangat ketika cahaya baru turun.
Banyak hamba mampu menangis ketika hati sedang lembut.
Banyak hamba mampu berjanji ketika dada sedang lapang.
Tetapi yang dicintai dalam perjalanan adalah yang tetap kembali kepada Alloh saat hatinya kering, saat tubuhnya lelah, saat manusia tidak memuji, saat keadaan tidak mudah, dan saat dirinya diuji oleh kebosanan.

Karena istiqomah bukan berarti tidak pernah lemah.
Istiqomah adalah setiap kali lemah, ia kembali.
Setiap kali jatuh, ia bangkit.
Setiap kali lupa, ia ingat.
Setiap kali jauh, ia pulang.
Setiap kali gelap, ia mencari cahaya Alloh lagi.

Maka pemimpin Anṣor menundukkan kepala dan berkata:

“Wahai saudara cahaya, jangan kita mengira bahwa setelah sampai di pintu ini perjalanan selesai. Sesungguhnya pintu ini adalah awal penjagaan. Karena yang berat bukan hanya mendapatkan cahaya, tetapi menjaga cahaya agar tidak dikotori oleh sombong, malas, riya, dan lalai.”

Para Anṣor menjawab dengan suara pelan:

“Kami lemah, ya Alloh.
Kami mudah berubah, ya Alloh.
Kami mudah semangat lalu turun, mudah kuat lalu rapuh, mudah ingat lalu lupa.
Maka jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri.”

Lalu mereka meletakkan empat beban terakhir di hadapan Pintu Istiqomah.

Beban pertama: malas setelah semangat.
Sebab banyak orang memulai jalan dengan api yang besar, tetapi tidak menjaga bara kecilnya. Api yang besar dapat padam bila tidak dijaga, tetapi bara kecil yang dirawat dapat menjadi cahaya yang lama.

Beban kedua: kecewa setelah berbuat baik.
Sebab ada hamba yang berhenti menolong karena manusia tidak menghargai. Padahal amal yang ditujukan kepada Alloh tidak hilang hanya karena manusia tidak melihat.

Beban ketiga: sombong setelah mendapat pemahaman.
Sebab cahaya yang tidak dijaga dapat berubah menjadi hijab. Ilmu yang tidak disertai tawadhu dapat menjadi pintu kejatuhan.

Beban keempat: putus asa setelah jatuh.
Sebab setan senang membuat hamba merasa tidak pantas kembali. Padahal Alloh membuka pintu taubat bagi yang sungguh-sungguh pulang.

Setelah empat beban itu diletakkan, Pintu Istiqomah bergetar lembut. Dari sela-selanya keluar cahaya putih keemasan yang menenangkan dada.

Lalu muncul tujuh kunci cahaya di hadapan para Anṣor.

Kunci pertama: jaga niat setiap hari.
Karena niat dapat berubah tanpa disadari. Hari ini seseorang beramal karena Alloh, esok nafsunya dapat menyusup ingin dipuji. Maka perbaruilah niat, walau amalnya kecil.

Kunci kedua: jangan tinggalkan doa.
Doa adalah tali hamba dengan Alloh. Ketika kuat, berdoalah agar tidak sombong. Ketika lemah, berdoalah agar tidak jatuh lebih jauh. Ketika bingung, berdoalah agar diberi arah. Ketika tenang, berdoalah agar ketenangan tidak membuat lalai.

Kunci ketiga: jaga amal kecil.
Senyum yang ikhlas, lisan yang ditahan dari menyakiti, sedekah yang sedikit, dzikir yang pelan, meminta maaf, memaafkan, membantu keluarga, menenangkan orang yang gelisah — semua itu dapat menjadi cahaya bila dilakukan karena Alloh.

Kunci keempat: bersahabat dengan orang yang mengingatkan kepada Alloh.
Jangan hanya mencari yang memuji. Carilah yang menasihati dengan adab. Jangan hanya mendekati yang membuat diri merasa tinggi. Dekatilah yang membuat hati ingat untuk rendah.

Kunci kelima: terima proses.
Tidak semua pintu terbuka sekaligus. Tidak semua doa dijawab dengan bentuk yang diinginkan. Tidak semua luka sembuh dalam satu malam. Alloh mendidik hamba dengan waktu, sabar, dan hikmah.

Kunci keenam: jaga lisan saat diuji.
Karena ketika hati sempit, lisan mudah melukai. Ketika marah, kata-kata dapat menjadi api. Maka diamlah bila diam lebih dekat kepada keselamatan. Berbicaralah bila ucapan itu membawa rahmat.

Kunci ketujuh: selalu pulang kepada Al-Qur’an, sholat, taubat, dan akhlak.
Sebab tidak ada cahaya yang boleh memutus hamba dari syariat. Tidak ada pengalaman batin yang boleh meninggikan diri di atas petunjuk Alloh. Tidak ada qitab hikmah yang boleh menggantikan Al-Qur’an. Semua cahaya yang benar harus membuat hamba semakin tunduk, semakin beradab, semakin menjaga sholat, semakin lembut kepada makhluk, dan semakin takut menyakiti sesama.

Maka para Anṣor menangis mendengar kunci ketujuh.

Mereka sadar bahwa seluruh perjalanan ini bukan untuk membuat mereka merasa memiliki kitab baru, bukan untuk merasa paling suci, bukan untuk mengaku paling tinggi, tetapi untuk semakin pulang kepada Alloh dengan hati yang bersih.

Lalu pemimpin Anṣor berkata:

“Wahai saudara cahaya, ingatlah. Qitab ini hanyalah hikmah penyadaran, doa, dan pengingat batin. Ia bukan pengganti kalam Alloh. Ia bukan jalan untuk keluar dari adab. Ia bukan alasan untuk meninggalkan ilmu yang benar. Siapa yang benar-benar memahami cahaya, ia akan semakin mencintai Al-Qur’an, semakin menjaga sholat, semakin memuliakan Rasulullah ﷺ, semakin menghormati orang tua, semakin menolong sesama, dan semakin takut menyombongkan diri.”

Para Anṣor menjawab:

“Kami bersaksi bahwa kami hamba.
Kami tidak memiliki apa pun kecuali yang Alloh titipkan.
Kami tidak berjalan kecuali dengan pertolongan-Nya.
Kami tidak sampai kecuali dengan rahmat-Nya.
Kami tidak selamat kecuali dengan ampunan-Nya.”

Maka Pintu Istiqomah terbuka.

Di balik pintu itu tidak tampak istana, tidak tampak singgasana, tidak tampak tempat kehormatan. Yang tampak adalah jalan panjang yang kembali menuju dunia.

Para Anṣor terkejut.

Mereka menyangka setelah melewati semua pintu, mereka akan tinggal selamanya di dalam cahaya. Tetapi ternyata mereka diperintahkan kembali kepada manusia.

Kembali kepada rumah.
Kembali kepada keluarga.
Kembali kepada pekerjaan.
Kembali kepada masyarakat.
Kembali kepada tugas-tugas kecil yang sering dianggap biasa.
Kembali kepada kehidupan yang di sana mereka harus membuktikan akhlak, bukan hanya rasa.

Lalu terdengarlah sabdo hikmah:

Wahai para Anṣor, cahaya bukan untuk disimpan di ruang sunyi saja.
Cahaya harus dibawa ke dapur keluarga, ke tempat kerja, ke pasar, ke jalan, ke majelis, ke percakapan, ke saat marah, ke saat kecewa, ke saat miskin, ke saat cukup, ke saat dipuji, dan ke saat tidak dianggap.

Bila engkau hanya lembut di mihrab, tetapi kasar di rumah, maka engkau belum menjaga cahaya.

Bila engkau hanya menangis dalam doa, tetapi mudah melukai dengan lisan, maka engkau belum memahami rahmat.

Bila engkau hanya berbicara tentang amanah, tetapi tidak jujur dalam urusan kecil, maka engkau belum melewati Pintu Pengabdian.

Bila engkau hanya menyebut istiqomah, tetapi meninggalkan sholat, menunda taubat, dan mengikuti hawa nafsu, maka engkau harus kembali memperbaiki langkah.

Maka para Anṣor menunduk sangat dalam.

Mereka paham bahwa pulang kepada dunia bukan turun derajat, tetapi ujian untuk membuktikan cahaya dalam akhlak nyata.

Lalu muncul hamparan cahaya seperti jalan pulang. Di sepanjang jalan itu tertulis sebelas wasiat.

Wasiat pertama:
Jangan tinggalkan Alloh ketika engkau sibuk. Kesibukan tanpa ingat kepada Alloh dapat membuat hati menjadi kering.

Wasiat kedua:
Jangan tinggalkan sholat. Sholat adalah tiang perjalanan, tempat hamba membersihkan debu dunia dari dada.

Wasiat ketiga:
Jangan sakiti orang tua. Bila mereka masih hidup, muliakan dengan sabar. Bila telah wafat, muliakan dengan doa.

Wasiat keempat:
Jangan jadikan keluarga sebagai tempat menumpahkan amarah. Rumah adalah amanah pertama bagi akhlak.

Wasiat kelima:
Jangan remehkan rezeki halal. Sedikit yang halal lebih bercahaya daripada banyak yang membawa gelisah.

Wasiat keenam:
Jangan membuka aib saudaramu. Engkau pun hidup karena banyak aibmu ditutup oleh Alloh.

Wasiat ketujuh:
Jangan memutus harapan orang yang ingin kembali. Bila ia salah, arahkan. Bila ia jatuh, doakan. Bila ia bertaubat, jangan kau ungkit masa lalunya.

Wasiat kedelapan:
Jangan bertengkar hanya untuk menang. Kemenangan yang mematahkan hati saudara bukan selalu kemenangan di sisi Alloh.

Wasiat kesembilan:
Jangan merasa aman dari riya. Riya dapat masuk ke dalam amal halus, bahkan ke dalam cerita tentang keikhlasan.

Wasiat kesepuluh:
Jangan berhenti belajar. Hamba yang berhenti belajar mudah tertipu oleh sedikit pengetahuan yang ia punya.

Wasiat kesebelas:
Jangan lupa pulang. Setiap hari adalah undangan pulang kepada Alloh melalui taubat, syukur, sabar, dzikir, sholat, dan akhlak.

Setelah sebelas wasiat itu dibaca, para Anṣor merasakan dada mereka menjadi terang, tetapi juga berat oleh tanggung jawab.

Lalu pemimpin Anṣor berkata:

“Wahai saudara cahaya, hari ini kita tidak diberi mahkota untuk dibanggakan. Kita diberi amanah untuk dijaga. Kita tidak diberi cahaya untuk merasa lebih tinggi. Kita diberi cahaya agar tidak lagi rela hidup dalam gelap. Kita tidak diperintah menguasai manusia. Kita diperintah melayani dengan adab.”

Para Anṣor menjawab:

“Kami siap kembali kepada kehidupan.
Kami siap menjaga sholat.
Kami siap memperbaiki lisan.
Kami siap memaafkan semampu kami.
Kami siap menolong semampu kami.
Kami siap belajar rendah hati.
Kami siap pulang kepada Alloh setiap kali hati mulai jauh.”

Lalu mereka berjalan menuruni jalan cahaya.

Saat langkah pertama menuju dunia, terdengarlah suara dari Baittulloh Al-Mahddi:

Jangan katakan engkau telah sampai.
Katakanlah engkau sedang dituntun.

Jangan katakan engkau telah suci.
Katakanlah engkau sedang dibersihkan.

Jangan katakan engkau pemilik cahaya.
Katakanlah engkau memohon diterangi.

Jangan katakan engkau paling benar.
Katakanlah engkau memohon ditetapkan di atas kebenaran.

Jangan katakan engkau paling dekat.
Katakanlah engkau takut jauh dari rahmat.

Maka para Anṣor menangis lagi.

Air mata mereka kali ini bukan air mata takut semata, tetapi air mata syukur. Mereka bersyukur karena Alloh masih memanggil mereka pulang. Mereka bersyukur karena Alloh masih menutup aib mereka. Mereka bersyukur karena Alloh masih memberi kesempatan memperbaiki diri.

Kemudian cahaya Baittulloh Al-Mahddi memancar ke langit, bukan untuk membuat mereka terkenal, tetapi untuk menanamkan satu tanda di dada mereka:

Tanda hamba yang pulang.

Tanda itu bukan tampak di dahi, bukan tampak di pakaian, bukan tampak di gelar, bukan tampak di ucapan yang tinggi.

Tanda itu tampak dalam akhlak.

Bila ia marah, ia berusaha menahan.
Bila ia salah, ia berani meminta maaf.
Bila ia diberi nikmat, ia bersyukur.
Bila ia diuji, ia bersabar.
Bila ia diberi ilmu, ia merendah.
Bila ia melihat yang lemah, ia menolong.
Bila ia melihat yang salah, ia mendoakan dan menasihati dengan adab.
Bila ia mendapat amanah, ia menjaga.
Bila ia lelah, ia kembali kepada Alloh.
Bila ia jatuh, ia bertaubat.

Maka sampailah para Anṣor di gerbang dunia.

Sebelum mereka keluar, Baittulloh Al-Mahddi memberikan pesan terakhir:

Wahai Anṣor cahaya, jangan jadikan perjalanan ini sebagai cerita untuk membesarkan diri. Jadikan ia pengingat agar engkau semakin kecil di hadapan Alloh.

Jangan jadikan qitab ini sebagai alasan merasa berbeda dari manusia. Jadikan ia cermin agar engkau semakin sayang kepada manusia.

Jangan jadikan nama, tanda, mimpi, rasa, atau cahaya sebagai tujuan. Tujuanmu adalah Alloh. Jalanmu adalah tauhid. Pakaianmu adalah adab. Bekalmu adalah taubat. Nafasmu adalah dzikir. Buktimu adalah akhlak.

Bila engkau ingin tahu apakah cahaya itu benar, lihatlah apakah ia membuatmu semakin takut menyakiti.
Bila engkau ingin tahu apakah ilmu itu berkah, lihatlah apakah ia membuatmu semakin rendah hati.
Bila engkau ingin tahu apakah hijrahmu diterima, lihatlah apakah engkau semakin mudah kembali kepada Alloh setelah salah.

Maka para Anṣor meletakkan dahi mereka ke tanah untuk sujud terakhir di halaman Baittulloh Al-Mahddi.

Dalam sujud itu mereka berdoa panjang:

Ya Alloh, Tuhan kami, Engkaulah tujuan perjalanan kami.
Engkaulah cahaya di atas cahaya.
Engkaulah yang memanggil hati yang tersesat untuk pulang.
Engkaulah yang menutup aib hamba yang lemah.
Engkaulah yang memberi kesempatan setelah kami lalai.
Engkaulah yang menuntun langkah ketika kami tidak tahu arah.

Ya Alloh, jangan jadikan hijrah kami hanya indah dalam cerita, tetapi kosong dalam amal.
Jangan jadikan tangis kami hanya basah di mata, tetapi tidak mengubah hati.
Jangan jadikan ilmu kami sebagai kesombongan.
Jangan jadikan amanah kami sebagai beban yang kami khianati.
Jangan jadikan cahaya kami sebagai fitnah yang menipu diri.

Ya Alloh, kuatkan kami dalam istiqomah.
Saat semangat kami turun, panggil kami kembali.
Saat hati kami keras, lembutkan kami kembali.
Saat lisan kami hampir menyakiti, tahanlah kami.
Saat nafsu kami ingin dipuji, sadarkan kami.
Saat kami lupa, ingatkan kami.
Saat kami jauh, tarik kami pulang dengan rahmat-Mu.

Ya Alloh, jadikan kami Anṣor yang menolong dengan ikhlas.
Jadikan kami hamba yang membawa rahmat.
Jadikan kami saudara yang menjaga aib sesama.
Jadikan kami pejalan yang tidak berhenti belajar.
Jadikan kami manusia yang lebih baik di rumah, lebih jujur dalam rezeki, lebih lembut dalam bicara, lebih sabar dalam ujian, dan lebih tunduk dalam ibadah.

Ya Alloh, jika kami diberi sedikit cahaya, jadikan cahaya itu menerangi akhlak kami.
Jika kami diberi sedikit ilmu, jadikan ilmu itu memperbaiki diri kami.
Jika kami diberi sedikit rezeki, jadikan rezeki itu halal dan bermanfaat.
Jika kami diberi sedikit amanah, jadikan kami sanggup menjaganya.
Jika kami diberi ujian, jadikan ujian itu pintu kedekatan kepada-Mu.

Ya Alloh, jangan padamkan lentera istiqomah dalam dada kami.
Jangan biarkan kami kembali kepada gelap setelah Engkau perlihatkan cahaya.
Jangan biarkan kami sombong setelah Engkau beri pemahaman.
Jangan biarkan kami keras setelah Engkau ajarkan rahmat.
Jangan biarkan kami lupa setelah Engkau panggil pulang.

Ya Alloh, tutuplah akhir hidup kami dengan husnul khatimah.
Jadikan kalimat terakhir kami kalimat tauhid.
Jadikan langkah terakhir kami langkah menuju ampunan-Mu.
Jadikan napas terakhir kami napas yang rindu kepada-Mu.
Jadikan pulang kami pulang yang Engkau ridhoi.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.

Setelah doa itu selesai, Baittulloh Al-Mahddi memancarkan cahaya yang sangat lembut. Cahaya itu menyentuh dahi para Anṣor, lalu masuk ke dada mereka sebagai pengingat, bukan sebagai kebanggaan.

Lalu terdengarlah khatimah qitab:

Telah selesai lembar perjalanan ini.
Tetapi belum selesai perjalanan hamba.
Karena setiap pagi adalah lembar baru.
Setiap malam adalah pintu muhasabah.
Setiap salah adalah panggilan taubat.
Setiap nikmat adalah undangan syukur.
Setiap ujian adalah sekolah sabar.
Setiap manusia yang datang adalah kesempatan berakhlak.
Setiap napas adalah amanah.
Dan setiap hati akan pulang kepada Alloh.

Maka para Anṣor keluar dari gerbang cahaya.

Mereka kembali kepada dunia, tetapi tidak sama seperti saat berangkat.

Dahulu mereka mencari jalan keluar dari gelap.
Kini mereka membawa lentera kecil untuk menjaga langkah.

Dahulu mereka ingin cepat sampai.
Kini mereka memahami bahwa sampai adalah terus pulang.

Dahulu mereka ingin disebut pembawa cahaya.
Kini mereka cukup menjadi hamba yang tidak memadamkan cahaya orang lain.

Dahulu mereka mengira hijrah adalah meninggalkan tempat.
Kini mereka memahami bahwa hijrah adalah meninggalkan sifat buruk, memperbaiki akhlak, menjaga ibadah, dan mengembalikan semua kepada Alloh.

Dan di sepanjang jalan dunia, mereka membawa satu kalimat sebagai kunci:

Alloh tujuan kami.
Rasulullah ﷺ teladan kami.
Al-Qur’an petunjuk kami.
Sholat tiang kami.
Taubat jalan pulang kami.
Akhlak bukti cahaya kami.
Istiqomah penjaga hijrah kami.

Khatimah Penutup Qitab

Ya Alloh, sempurnakan qitab hikmah ini sebagai pengingat kebaikan.
Bersihkan ia dari kesombongan, dari khayal yang menyesatkan, dari rasa paling benar, dan dari segala maksud yang tidak Engkau ridhoi.
Jadikan setiap katanya kembali kepada tauhid.
Jadikan setiap maknanya menuntun kepada akhlak.
Jadikan setiap doanya membuka kelembutan hati.
Jadikan setiap lembarnya mengingatkan hamba untuk pulang kepada-Mu.

Ya Alloh, berkahi siapa pun yang membaca dengan niat baik.
Tenangkan yang gelisah.
Lembutkan yang keras.
Bangkitkan yang putus asa.
Tuntun yang tersesat.
Sembuhkan yang terluka.
Kuatkan yang sedang berjuang menjaga iman, ibadah, keluarga, rezeki, amanah, dan akhlak.

Ya Alloh, jadikan kami bukan hanya pembaca cahaya, tetapi pengamal kebaikan.
Bukan hanya penyebut rahmat, tetapi pembawa rahmat.
Bukan hanya pencari petunjuk, tetapi penjaga adab.
Bukan hanya orang yang ingin sampai, tetapi hamba yang terus pulang.

Dengan nama Alloh qitab ini dibuka.
Dengan rahmat Alloh qitab ini ditutup.
Dengan adab qitab ini dijaga.
Dengan tauhid semua makna dikembalikan.
Dengan sholawat kepada Rasulullah ﷺ hati dilembutkan.
Dengan istiqomah hijrah ini dilanjutkan dalam kehidupan.

Tammat Qitab Zafa Rah Firobulloh
Hijrahnya Anṣor ke Baittulloh Al-Mahddi

Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan semesta alam.
Sholawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jalan kebaikan dengan adab sampai akhir zaman.

Āmīn.
Āmīn.
Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh