SABDO AHLĀQ BISROH AL-MUTTAQĪN
SABDO AHLĀQ BISROH AL-MUTTAQĪN
سَبْدُو أَخْلَاقِ بِسْرَةِ الْمُتَّقِيْنَ
Makna:
“Jiwa yang bersandar dan kembali ke jalan yang lurus akan menemukan ketenangan yang abadi.”
Lembar Pembukaan
Jalan Pulang Jiwa Menuju Ketenangan
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji hanya milik Alloh, Tuhan yang menciptakan jiwa, menanamkan fitrah kebaikan, menunjukkan jalan yang lurus, serta membuka pintu kembali bagi setiap hamba yang pernah tersesat, terluka, lalai, ataupun kehilangan arah.
Sabdo Ahlaq Bisroh Al-Mutaqin bukanlah sabdo untuk mencari kekuatan gaib, meninggikan diri, menundukkan orang lain, ataupun merasa lebih suci daripada sesama manusia.
Sabdo ini adalah pengingat akhlak.
Ia mengajak jiwa yang lelah untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, memeriksa niat, memperbaiki perkataan, serta mengembalikan seluruh perjalanan hidup kepada Alloh.
Sebab tidak semua kegelisahan datang karena dunia yang kurang.
Terkadang kegelisahan muncul karena jiwa terlalu jauh berjalan tanpa mengingat arah pulangnya.
Manusia mencari ketenangan melalui harta, kedudukan, pengakuan, pujian, hubungan, dan berbagai kesenangan. Namun ketika semuanya telah diperoleh, hati tetap dapat merasa kosong.
Kekosongan itu bukan selalu pertanda bahwa hidup telah gagal.
Kekosongan dapat menjadi panggilan agar manusia kembali bertanya:
“Untuk siapa aku hidup?”
“Ke mana aku sedang berjalan?”
“Apakah langkahku semakin mendekatkan diri kepada Alloh, atau justru menjauhkan?”
Jiwa yang kembali kepada jalan lurus bukanlah jiwa yang tidak pernah berbuat salah.
Jiwa yang kembali adalah jiwa yang menyadari kesalahannya, mengakui kelemahannya, memohon ampun kepada Alloh, lalu berusaha memperbaiki langkahnya.
Ia tidak menunggu menjadi sempurna untuk bertobat.
Ia bertobat agar sedikit demi sedikit hidupnya diperbaiki.
Sabdo Pertama
Bersandarlah Hanya kepada Alloh
Wahai jiwa yang sedang lelah,
Jangan engkau sandarkan seluruh ketenanganmu kepada manusia, karena manusia dapat berubah.
Jangan engkau sandarkan seluruh harapanmu kepada harta, karena harta dapat berkurang.
Jangan engkau sandarkan kemuliaanmu kepada pujian, karena pujian dapat berganti menjadi celaan.
Jangan pula engkau sandarkan keyakinanmu kepada mimpi, pertanda, benda, suara, atau pengalaman batin, karena semuanya harus tetap ditimbang dengan kejernihan akal, tuntunan agama, dan akhlak yang baik.
Sandarkanlah hatimu kepada Alloh.
Bersandar kepada Alloh bukan berarti meninggalkan ikhtiar.
Bersandar kepada Alloh berarti tetap bekerja tanpa mempertuhankan pekerjaan, tetap mencari rezeki tanpa menghalalkan segala cara, tetap mencintai manusia tanpa menggantungkan seluruh hidup kepadanya, serta tetap berusaha tanpa merasa bahwa hasil sepenuhnya berada dalam kekuasaan diri.
Jiwa yang bersandar kepada Alloh akan berkata:
“Aku akan berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi aku menyerahkan hasilnya kepada Alloh.”
“Aku akan menjaga manusia dengan kasih sayang, tetapi aku tidak akan menggantikan kedudukan Alloh dengan manusia.”
“Aku akan memperbaiki hidupku, tetapi aku sadar bahwa pertolongan sejati datang hanya atas izin Alloh.”
Sabdo Kedua
Jalan Lurus Dimulai dari Akhlak
Jalan lurus tidak hanya dibicarakan oleh lisan.
Jalan lurus harus tampak dalam cara manusia menjalani kehidupan.
Ia tampak ketika seseorang memilih jujur meskipun kebohongan terlihat lebih menguntungkan.
Ia tampak ketika seseorang menahan kemarahan walaupun mampu membalas.
Ia tampak ketika seseorang meminta maaf tanpa mencari pembenaran.
Ia tampak ketika seseorang menepati janji, menjaga amanah, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, menolong yang lemah, serta tidak merendahkan orang yang berbeda keadaan.
Akhlak adalah cermin dari apa yang sedang tumbuh di dalam hati.
Dzikir yang benar semestinya melembutkan lisan.
Doa yang benar semestinya menguatkan kesabaran.
Ilmu yang benar semestinya mengurangi kesombongan.
Ibadah yang benar semestinya melahirkan kasih sayang, tanggung jawab, kejujuran, dan rasa takut untuk menyakiti sesama.
Apabila seseorang merasa semakin tinggi secara ruhani tetapi semakin mudah menghina, marah, menuduh, menakut-nakuti, atau merendahkan orang lain, maka ia perlu berhenti dan memeriksa kembali jalannya.
Sebab jalan menuju Alloh tidak dibangun dengan kesombongan.
Jalan itu dibangun dengan iman, ilmu, taubat, kesabaran, kerendahan hati, dan akhlak yang mulia.
Sabdo Ketiga
Ketenangan Bukan Berarti Tanpa Ujian
Ketenangan abadi bukan berarti hidup selalu mudah.
Bukan berarti tubuh tidak pernah sakit.
Bukan berarti rezeki selalu berlimpah.
Bukan berarti keluarga tidak pernah menghadapi masalah.
Bukan pula berarti manusia tidak pernah menangis.
Ketenangan adalah keadaan ketika hati tetap mengetahui tempat kembalinya, meskipun kehidupan sedang berguncang.
Orang yang tenang masih dapat merasa sedih, tetapi kesedihannya tidak memutus harapan kepada Alloh.
Ia masih dapat merasa takut, tetapi rasa takutnya tidak mendorongnya berlaku zalim.
Ia masih dapat merasa marah, tetapi kemarahannya tidak menghilangkan akhlak.
Ia masih dapat mengalami kegagalan, tetapi kegagalan tidak membuatnya menganggap dirinya tidak berharga.
Ketenangan tumbuh ketika manusia menerima bahwa dirinya adalah hamba.
Ia tidak menguasai seluruh kejadian.
Ia tidak mengetahui seluruh rahasia masa depan.
Ia tidak dapat memaksa semua orang memahami dirinya.
Namun ia masih dapat memilih untuk menjaga niat, memperbaiki langkah, berdoa, berikhtiar, dan menyerahkan hasilnya kepada Alloh.
Sabdo Keempat
Lepaskan Beban yang Bukan Milikmu
Wahai jiwa,
Tidak semua perkataan manusia harus engkau bawa sampai ke dalam tidurmu.
Tidak semua penilaian harus engkau jadikan ukuran harga dirimu.
Tidak semua masalah harus engkau selesaikan seorang diri.
Tidak semua kesalahan masa lalu harus terus-menerus engkau gunakan untuk menghukum dirimu.
Ambillah pelajarannya.
Perbaiki yang masih dapat diperbaiki.
Mintalah maaf apabila engkau bersalah.
Kembalikan hak apabila engkau pernah merugikan.
Namun setelah bertobat dan berusaha memperbaiki diri, jangan terus memenjarakan jiwa di dalam masa lalu.
Alloh membuka pintu ampunan agar manusia berani kembali, bukan agar manusia kehilangan harapan.
Lepaskan kesombongan yang membuatmu sulit meminta maaf.
Lepaskan iri yang membuatmu tidak mampu mensyukuri nikmat sendiri.
Lepaskan dendam yang menghabiskan tenaga batin.
Lepaskan keinginan untuk selalu dianggap benar.
Lepaskan pula rasa bersalah yang berlebihan setelah engkau benar-benar bertobat dan memperbaiki kesalahan.
Jiwa yang sehat bukan jiwa yang melupakan tanggung jawab.
Jiwa yang sehat adalah jiwa yang belajar, bertanggung jawab, lalu melanjutkan hidup dengan lebih bijaksana.
Sabdo Kelima
Jaga Lima Pintu Jiwa
Jaga pikiranmu agar tidak dipenuhi prasangka tanpa bukti.
Jaga matamu agar tidak gemar mencari kekurangan manusia.
Jaga telingamu agar tidak menikmati fitnah dan adu domba.
Jaga lisanmu agar tidak melukai kehormatan orang lain.
Jaga hatimu agar tidak menganggap dirimu lebih suci.
Kelima pintu tersebut menentukan apa yang masuk dan tumbuh di dalam jiwa.
Apa yang sering dilihat akan memengaruhi pikiran.
Apa yang sering didengar akan memengaruhi perasaan.
Apa yang sering diucapkan akan membentuk kebiasaan.
Apa yang terus dipelihara di dalam hati akan menjadi watak.
Karena itu, jalan ketenangan harus disertai penjagaan diri.
Kurangi perkara yang membuat hati semakin keruh.
Berhenti sejenak dari perdebatan yang tidak bermanfaat.
Jangan mudah menerima kabar sebelum memeriksa kebenarannya.
Jangan memutuskan sesuatu ketika kemarahan sedang memuncak.
Berilah waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat.
Sebab tubuh yang sangat lelah dapat membuat pikiran lebih mudah cemas, tersinggung, dan kehilangan kejernihan.
Sabdo Keenam
Tanda Jiwa Mulai Kembali
Jiwa yang mulai kembali kepada jalan lurus tidak selalu melihat cahaya atau mengalami kejadian luar biasa.
Tanda yang lebih nyata justru terlihat dalam perubahan akhlak.
Ia mulai lebih mudah mengakui kesalahan.
Ia mulai menjaga ucapan.
Ia mulai mengurangi kebencian.
Ia mulai mencintai rezeki yang halal, meskipun sederhana.
Ia mulai menghormati tubuh dan kesehatannya.
Ia mulai memahami bahwa berobat bukan tanda lemahnya iman.
Ia mulai dapat membedakan antara perasaan, kekhawatiran, kenyataan, dan keyakinan.
Ia tidak mudah menganggap setiap sensasi tubuh sebagai tanda gaib.
Ia tidak mudah menghakimi manusia berdasarkan mimpi atau firasat.
Ia semakin rajin beribadah, tetapi juga semakin lembut kepada keluarga.
Ia semakin banyak berdoa, tetapi juga semakin bertanggung jawab dalam pekerjaan.
Ia semakin memahami ilmu, tetapi semakin sedikit membanggakan diri.
Itulah sebagian tanda bahwa cahaya akhlak mulai hidup.
Sabdo Ketujuh
Kembali Melalui Taubat
Taubat adalah pintu kepulangan.
Ia dimulai dengan kesadaran.
Dilanjutkan dengan penyesalan yang sehat.
Dikuatkan dengan memohon ampun.
Dibuktikan dengan meninggalkan kesalahan.
Disempurnakan dengan memperbaiki hak manusia yang pernah dilanggar.
Ucapkanlah dengan hati yang jujur:
“Ya Alloh, aku mengakui kelemahanku. Ampunilah kesalahanku, bersihkan niatku, luruskan langkahku, dan jangan biarkan aku kembali kepada perbuatan yang menjauhkan diriku dari ridho-Mu.”
Jangan menunggu hati terasa sempurna untuk kembali.
Kembalilah dalam keadaan lemah.
Kembalilah dalam keadaan menangis.
Kembalilah meskipun langkahmu masih tertatih.
Alloh mengetahui ketulusan yang tidak mampu dijelaskan oleh kata-kata.
Sabdo Kedelapan
Ketenangan Harus Dijaga dengan Ikhtiar
Ketenangan tidak cukup hanya diminta.
Ia harus dijaga.
Jagalah sholat.
Jagalah makanan yang halal dan baik.
Jagalah waktu istirahat.
Jagalah tubuh dari hal-hal yang membahayakan.
Jagalah hubungan dengan keluarga.
Jagalah diri dari utang yang tidak perlu.
Jagalah lisan dari janji yang tidak mampu ditepati.
Jagalah pikiran dari informasi yang membuat ketakutan berlebihan.
Apabila tubuh mengalami sesak napas, nyeri dada, pingsan, kebas atau kelemahan pada anggota tubuh, sakit kepala berat, pandangan terganggu, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, carilah pertolongan medis.
Doa dan pengobatan tidak saling bertentangan.
Berobat adalah bagian dari ikhtiar menjaga amanah tubuh yang diberikan Alloh.
Sabdo Kesembilan
Rahasia Ketenangan Abadi
Ketenangan abadi bukan berarti memiliki semua yang diinginkan.
Ketenangan abadi adalah ketika keinginan telah tunduk kepada kebijaksanaan Alloh.
Hati tidak lagi berkata:
“Aku hanya akan tenang apabila semua terjadi sesuai kemauanku.”
Hati mulai belajar berkata:
“Aku akan memohon yang terbaik, berusaha dengan benar, menerima ketetapan Alloh, dan tetap menjaga akhlak dalam setiap keadaan.”
Di sanalah jiwa menemukan ruang yang luas.
Ia tidak lagi berperang dengan seluruh kenyataan.
Ia belajar membedakan perkara yang harus diperjuangkan, perkara yang harus diperbaiki, dan perkara yang harus diterima dengan sabar.
Ia tidak menyerah kepada kezaliman.
Namun ia juga tidak membiarkan kebencian menguasai dirinya.
Ia teguh tanpa menjadi kasar.
Ia lembut tanpa menjadi lemah.
Ia memaafkan tanpa mengabaikan batas.
Ia mencintai tanpa kehilangan akal sehat.
Ia berserah tanpa meninggalkan usaha.
Sabdo Penutup
Wahai jiwa yang sedang mencari jalan pulang,
Jangan mencari jalan terlalu jauh sebelum memeriksa akhlakmu sendiri.
Mulailah dari niat yang dibersihkan.
Mulailah dari sholat yang dijaga.
Mulailah dari lisan yang dilembutkan.
Mulailah dari rezeki yang dihalalkan.
Mulailah dari kesalahan yang diakui.
Mulailah dari hak manusia yang dikembalikan.
Mulailah dari tubuh yang dirawat.
Mulailah dari keluarga yang diperlakukan dengan kasih sayang.
Mulailah dari hati yang berhenti merasa paling benar.
Barang siapa bersandar kepada Alloh, berjalan dalam kejujuran, menjaga batas-batas kebaikan, serta terus memperbaiki akhlaknya, maka jiwanya akan menemukan ketenangan.
Bukan karena semua masalah telah hilang.
Melainkan karena ia telah menemukan arah pulang.
Jalan lurus itu tidak selalu ramai oleh pujian.
Terkadang ia sunyi.
Terkadang ia menuntut pengorbanan.
Terkadang ia memaksa manusia meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini terasa nyaman.
Namun pada jalan itulah jiwa diselamatkan dari kesesatan, kesombongan, kebencian, serta ketergantungan kepada selain Alloh.
Doa Sabdo Ahlaq Bisroh Al-Mutaqin
Bismillāhir-roḥmānir-roḥīm.
Ya Alloh, Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas jalan-Mu yang lurus.
Ampunilah kesalahan kami, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami sadari.
Bersihkanlah pikiran kami dari prasangka, bersihkanlah lisan kami dari perkataan yang melukai, bersihkanlah hati kami dari iri, dendam, kesombongan, dan keinginan untuk dipuji.
Jadikanlah ibadah kami melahirkan akhlak yang baik.
Jadikanlah ilmu kami melahirkan kerendahan hati.
Jadikanlah rezeki kami halal, cukup, bermanfaat, dan penuh keberkahan.
Jadikanlah rumah kami tempat tumbuhnya kasih sayang, kejujuran, kesabaran, dan saling memaafkan.
Ketika kami gelisah, tuntunlah kami kepada kejernihan.
Ketika kami tersesat, kembalikanlah kami kepada petunjuk.
Ketika kami lemah, kuatkanlah kami tanpa menjadikan kami sombong.
Ketika kami memperoleh nikmat, jadikanlah kami bersyukur.
Ketika kami menghadapi ujian, jadikanlah kami sabar dan tetap berikhtiar.
Jangan Engkau biarkan hati kami bergantung kepada selain-Mu.
Jangan Engkau biarkan pengalaman batin membuat kami kehilangan akal sehat, tanggung jawab, dan akhlak.
Karuniakanlah kepada kami ketenangan yang lahir dari iman, taubat, kejujuran, dan penyerahan diri kepada-Mu.
Bimbinglah langkah kami hingga akhir kehidupan.
Wafatkanlah kami dalam iman, tauhid, ampunan, dan husnul khatimah.
Āmīn, yā Robbal ‘ālamīn.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.