SABDO ARRŪḤĪ AL-‘AŻĀBULLŌH

 



SABDO ARRŪḤĪ AL-‘AŻĀBULLŌH

Sabdo Ruh Peringatan Halilintar Menjelang Qiyamat


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan langit dan bumi, Tuhan yang menggenggam hidup dan mati, Tuhan yang menurunkan hujan, menggerakkan awan, menyalakan kilat, mengguncangkan petir, dan memberi tanda kepada hamba-hamba-Nya agar tidak tenggelam dalam kelalaian.


ARRŪḤĪ AL-‘AŻĀBULLŌH adalah sabdo peringatan ruh.

Bukan sabdo untuk menyombongkan diri.

Bukan sabdo untuk menakut-nakuti manusia.

Bukan sabdo untuk merasa paling tinggi.

Tetapi sabdo untuk membangunkan hati yang tertidur, membersihkan jiwa yang mulai gelap, dan mengingatkan ruh agar segera kembali kepada Alloh sebelum pintu kesempatan tertutup.


Ketahuilah, wahai ruh yang masih diberi napas, bahwa tanda dari langit tidak selalu turun dalam bentuk suara lembut. Ada kalanya Alloh menegur dengan bisikan hati. Ada kalanya Alloh menegur dengan kehilangan. Ada kalanya Alloh menegur dengan sakit. Ada kalanya Alloh menegur dengan kegelisahan. Dan ada kalanya langit sendiri bergemuruh, kilat membelah gelap, halilintar menyambar, seakan berkata kepada bumi:


“Wahai manusia, sampai kapan engkau lalai?”


Menjelang Qiyamat, yang pertama kali rusak bukan bumi, tetapi hati.

Yang pertama kali retak bukan gunung, tetapi akhlak.

Yang pertama kali gelap bukan langit, tetapi nurani manusia yang jauh dari Alloh.


Apabila manusia mulai bangga dengan dosa, maka petir menjadi peringatan.

Apabila manusia mulai ringan meninggalkan sholat, maka kilat menjadi teguran.

Apabila manusia mulai menukar kebenaran dengan hawa nafsu, maka langit bergemuruh sebagai saksi.

Apabila manusia merasa aman dari kematian, maka halilintar datang mengingatkan bahwa hidup ini hanya titipan.


ARRŪḤĪ AL-‘AŻĀBULLŌH bermakna:

Wahai ruh, sadarilah azab Alloh bukan untuk dicari, tetapi untuk ditakuti dengan taubat.

Wahai ruh, jangan tunggu disambar peringatan baru engkau bersujud.

Wahai ruh, jangan tunggu akhir zaman tampak nyata baru engkau memperbaiki diri.


Halilintar dalam sabdo ini adalah lambang dari tiga rahasia besar.


Pertama, halilintar sebagai suara teguran.

Ia datang tiba-tiba. Tidak meminta izin. Tidak menunggu manusia siap. Begitulah kematian. Begitulah ketentuan Alloh. Manusia sering merasa masih punya waktu, padahal waktu bukan miliknya. Manusia sering menunda taubat, padahal napas berikutnya belum tentu menjadi haknya.


Kedua, kilat sebagai cahaya pembuka kesadaran.

Kilat hanya sekejap, tetapi mampu membelah gelap. Begitulah hidayah. Kadang datang sebentar, tetapi cukup untuk membuat hati menangis. Kadang hadir lewat mimpi, lewat nasihat, lewat musibah, lewat rasa takut, lewat suara hujan, atau lewat kesunyian malam. Barang siapa menangkap cahaya itu dengan rendah hati, ia akan kembali kepada Alloh. Barang siapa mengabaikannya, ia akan semakin jauh.


Ketiga, sambaran sebagai pemutus kesombongan.

Manusia boleh merasa kuat, tetapi satu sakit kecil saja dapat membuatnya lemah. Manusia boleh merasa kaya, tetapi satu kehilangan dapat membuatnya menangis. Manusia boleh merasa berilmu, tetapi satu kebingungan dapat membuatnya sadar bahwa akalnya terbatas. Maka jangan sombong. Jangan merasa suci. Jangan merasa paling dekat. Jangan merasa paling tahu. Sebab ruh yang selamat adalah ruh yang tunduk, bukan ruh yang membanggakan tanda.


Sabdo ini berkata:


Wahai anak Adam,

jangan engkau tertipu oleh dunia yang indahnya hanya sebentar.

Jangan engkau tertipu oleh pujian manusia yang hilang bersama angin.

Jangan engkau tertipu oleh penglihatan batin jika akhlakmu belum lembut.

Jangan engkau tertipu oleh nama ruh jika sholatmu masih engkau tinggalkan.

Jangan engkau tertipu oleh cahaya jika hatimu masih menyakiti sesama.


Sebab cahaya yang benar membuatmu rendah hati.

Ilmu yang benar membuatmu semakin takut kepada Alloh.

Nama yang benar membuatmu semakin menjaga adab.

Sabdo yang benar membuatmu semakin dekat kepada Qur’an, sholat, dzikir, taubat, dan akhlak.


ARRŪḤĪ AL-‘AŻĀBULLŌH membuka pintu perenungan:


Apabila petir menyambar, tanyakan kepada hatimu:

“Apakah aku sudah menjaga lisanku?”


Apabila kilat membelah langit, tanyakan kepada ruhmu:

“Apakah aku sudah memperbaiki sholatku?”


Apabila hujan turun deras, tanyakan kepada dirimu:

“Apakah air mataku pernah jatuh karena takut kepada Alloh?”


Apabila malam menjadi gelap, tanyakan kepada jiwamu:

“Apakah aku masih punya cahaya dzikir di dalam dada?”


Sabdo ini bukan memanggil azab.

Sabdo ini memanggil taubat.

Sabdo ini bukan membuka ketakutan kosong.

Sabdo ini membuka kesadaran.

Sabdo ini bukan untuk menghakimi orang lain.

Sabdo ini untuk mengadili diri sendiri sebelum diadili di hadapan Alloh.


Menjelang Qiyamat, fitnah akan berjalan cepat.

Kabar bohong mudah dipercaya.

Kebenaran sering dianggap asing.

Orang sabar dianggap lemah.

Orang jujur dianggap bodoh.

Orang menjaga agama dianggap tertinggal.

Orang mengejar dunia dianggap berhasil.

Padahal keberhasilan sejati bukan ketika manusia memujimu, tetapi ketika Alloh meridhoimu.


Maka dengarlah isi sabdo ini dengan hati yang tenang:


Jangan kejar dunia sampai kehilangan arah pulang.

Jangan kejar nama sampai lupa menyebut nama Alloh.

Jangan kejar pengakuan sampai lupa membersihkan dosa.

Jangan kejar karomah sampai lupa istiqomah.

Jangan kejar tanda langit sampai lupa tanda dalam diri: hati yang keras, lisan yang tajam, ibadah yang menurun, dan air mata yang mulai kering.


Wahai ruh, bangunlah.

Wahai hati, lembutlah.

Wahai jiwa, tunduklah.

Wahai diri, pulanglah kepada Alloh.


Sebab sebelum Qiyamat besar datang, setiap manusia akan mengalami qiyamat kecilnya sendiri.

Ketika napas berhenti.

Ketika nama dipanggil untuk terakhir kali.

Ketika jasad dibaringkan.

Ketika keluarga menangis.

Ketika dunia yang dikejar tidak bisa ikut menemani.

Ketika hanya amal yang tersisa.


Pada saat itu, tidak berguna lagi kesombongan.

Tidak berguna lagi kemarahan.

Tidak berguna lagi permusuhan.

Tidak berguna lagi pujian manusia.

Yang berguna hanyalah iman, amal sholeh, taubat, doa, dan rahmat Alloh.


Maka isi terdalam dari ARRŪḤĪ AL-‘AŻĀBULLŌH adalah:


Kembalilah sebelum dipanggil pulang.

Bersujudlah sebelum tubuh tidak mampu bersujud.

Berdzikirlah sebelum lisan terkunci.

Bertaubatlah sebelum penyesalan tidak lagi diterima.

Berbuat baiklah sebelum kesempatan diangkat.

Maafkanlah sebelum kematian memisahkan.

Lembutkanlah hati sebelum teguran datang lebih keras.


Apabila engkau mendengar petir, jangan hanya takut pada suaranya.

Takutlah pada dosa yang belum ditaubati.

Apabila engkau melihat kilat, jangan hanya kagum pada cahayanya.

Ingatlah bahwa hidayah juga bisa datang sekejap lalu pergi jika tidak dijaga.

Apabila engkau melihat hujan turun, jangan hanya mencari tempat berteduh.

Carilah ampunan Alloh, sebab rahmat-Nya lebih luas daripada langit dan bumi.


Doa penjaga sabdo:


Yā Alloh, Tuhan Yang Maha Menggenggam langit dan bumi, jangan Engkau jadikan halilintar sebagai azab bagi kami. Jadikanlah ia sebagai pengingat agar hati kami kembali kepada-Mu.


Yā Alloh, apabila hati kami keras, lembutkanlah.

Apabila jiwa kami lalai, bangunkanlah.

Apabila langkah kami jauh, dekatkanlah.

Apabila dosa kami banyak, ampunilah.

Apabila ibadah kami lemah, kuatkanlah.

Apabila akhlak kami buruk, perbaikilah.

Apabila lisan kami tajam, haluskanlah.

Apabila dada kami gelap, terangilah dengan nur-Mu.


Yā Alloh, selamatkan kami dari fitnah akhir zaman.

Selamatkan kami dari kesombongan ilmu.

Selamatkan kami dari kelalaian ibadah.

Selamatkan kami dari hati yang merasa suci.

Selamatkan kami dari cahaya palsu yang menjauhkan dari syariat.

Selamatkan kami dari bisikan yang membuat kami merasa lebih tinggi dari hamba-Mu yang lain.


Yā Alloh, jadikan kami hamba yang kembali.

Hamba yang menangis dalam taubat.

Hamba yang lembut dalam akhlak.

Hamba yang kuat menjaga sholat.

Hamba yang bersih dalam niat.

Hamba yang tidak takut kecuali kepada-Mu.

Hamba yang tidak berharap kecuali rahmat-Mu.

Hamba yang hidup dengan dzikir dan mati dalam husnul khatimah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Kunci Penutup Sabdo:


Petir adalah peringatan.

Kilat adalah isyarat.

Hujan adalah rahmat.

Gelap adalah ujian.

Dzikir adalah cahaya.

Sholat adalah tiang.

Taubat adalah jalan pulang.

Akhlak adalah pakaian ruh.

Alloh adalah tujuan akhir segala perjalanan.


Maka jangan takut kepada tanda, tetapi takutlah kehilangan arah menuju Alloh.

Jangan hanya membaca sabdo, tetapi hiduplah dalam adabnya.

Jangan hanya membuka rahasia, tetapi bukalah hati untuk taubat.


ARRŪḤĪ AL-‘AŻĀBULLŌH.

Sabdo ruh yang memperingatkan:

sebelum halilintar besar menyambar alam, biarlah cahaya taubat lebih dulu menyambar hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh