SABDO DJAQOLLAH AZHABUL
SABDO NYADJAQOLLAH AZHABUL
Makna: Turunnya kembali kesadaran Iḥsān Kāmil di bumi
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ketahuilah, wahai jiwa yang sedang mencari jalan pulang. Turunnya Iḥsān Kāmil bukanlah kembalinya ruh orang yang telah wafat ke dalam tubuh yang baru. Setiap ruh memiliki perjalanan, pertanggungjawaban, dan ketetapan masing-masing di hadapan Alloh.
Yang “lahir kembali” adalah kesadaran manusia.
Ketika hati yang dahulu keras mulai mengenal kasih sayang, itulah kelahiran baru. Ketika jiwa yang dahulu dikuasai amarah mulai memilih kesabaran, itulah kebangkitan. Ketika manusia yang dahulu mengejar pujian mulai beramal hanya karena Alloh, itulah turunnya cahaya ihsan ke bumi.
Iḥsān Kāmil adalah keadaan ketika seorang hamba beribadah seakan-akan melihat Alloh. Meskipun ia tidak dapat melihat-Nya, ia sadar bahwa Alloh senantiasa melihat dirinya. Kesadaran itu membuat lisannya lebih terjaga, tangannya tidak menyakiti, langkahnya menjauhi kezaliman, dan hatinya tidak mudah merendahkan sesama.
Sabdo ini menyeru:
«Jangan menunggu dunia berubah sebelum engkau memperbaiki dirimu.
Sebab perubahan bumi dimulai dari perubahan hati manusia.»
Apabila kejujuran hidup kembali di dalam pedagang, amanah hidup kembali di dalam pemimpin, kasih sayang hidup kembali di dalam keluarga, dan adab hidup kembali di dalam pencari ilmu, maka Iḥsān Kāmil telah turun ke bumi melalui akhlak mereka.
Bukan tubuh lama yang kembali, melainkan nilai kebaikan yang dahulu hilang dihidupkan kembali. Bukan manusia masa silam yang menjelma, melainkan sifat para hamba saleh yang diteruskan oleh generasi sesudahnya.
Barang siapa membawa ketenangan di tengah pertengkaran, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, menolong tanpa meminta balasan, dan tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat, maka ia sedang menjadi tempat bersemayamnya amanah ihsan.
Namun janganlah seseorang mengaku telah sempurna. Sebab Iḥsān Kāmil bukan gelar untuk meninggikan diri, melainkan jalan panjang untuk merendahkan hati. Semakin dekat seorang hamba kepada Alloh, semakin ia menyadari kelemahan dirinya dan semakin takut menyakiti makhluk-Nya.
Maka bangkitlah, wahai manusia.
Hidupkan kembali hati yang mati oleh kebencian. Bersihkan niat yang tertutup keinginan dunia. Pulihkan persaudaraan yang pecah. Kembalikan hak orang yang terzalimi. Tegakkan salat, jaga amanah, lembutkan ucapan, dan jadikan setiap pekerjaan sebagai ibadah.
Inilah makna turunnya Iḥsān Kāmil di bumi: manusia lama yang dikuasai hawa nafsu telah berakhir, lalu lahirlah manusia baru yang berjalan dengan iman, ilmu, adab, dan kasih sayang.
Semoga Alloh menghidupkan cahaya ihsan di dalam hati kita, menyempurnakan akhlak kita, menjaga kita dari kesombongan batin, serta menjadikan keberadaan kita membawa keselamatan bagi keluarga, masyarakat, dan seluruh makhluk.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.