SABDO GHOZZALLI AL-FATAH NGINDALLOH BILFAQOF
SABDO GHOZZALLI AL-FATAH NGINDALLOH BILFAQOF
Makna pokok:
Segala sesuatu berasal dari Yang Satu, berjalan atas kehendak Yang Satu, dan pada akhirnya harus dikembalikan kepada Yang Satu, yaitu Alloh Sang Maha Tunggal.
---
Isi Sabdo
Wahai manusia yang sedang berjalan di antara permulaan dan kepulangan, ketahuilah bahwa sebelum engkau mengenal namamu, bangsamu, keluargamu, kedudukanmu, serta segala sesuatu yang engkau sebut sebagai milikmu, engkau telah lebih dahulu berada dalam ilmu Alloh.
Engkau tidak muncul karena kekuatanmu sendiri.
Engkau tidak hidup karena kemampuanmu sendiri.
Engkau tidak bernapas karena perintah dirimu sendiri.
Engkau datang karena dikehendaki.
Engkau hidup karena dihidupkan.
Engkau bergerak karena diberi daya.
Dan engkau akan kembali ketika panggilan kepulangan telah ditetapkan.
Maka janganlah makhluk mengaku sebagai asal, sebab makhluk hanyalah sesuatu yang diadakan. Janganlah manusia mengaku memiliki kuasa mutlak, sebab seluruh kekuatan yang ada padanya hanyalah titipan sesaat.
Asal segala kejadian adalah kehendak Alloh.
Berdirinya segala kehidupan adalah pertolongan Alloh.
Dan berakhirnya segala perjalanan adalah kembali kepada Alloh.
---
Sabdo tentang Yang Satu
Yang banyak berasal dari Yang Satu, tetapi Yang Satu tidak menjadi banyak.
Cahaya matahari menerangi ribuan tempat, tetapi sumber cahayanya tetap satu. Air turun ke berbagai lembah, mengalir melalui banyak sungai, memasuki sumur, telaga, dan lautan, tetapi hakikat air tidak kehilangan asal kejadiannya.
Demikian pula manusia.
Rupa mereka berbeda.
Bahasa mereka berbeda.
Jalan kehidupan mereka berbeda.
Ujian mereka berbeda.
Kedudukan mereka berbeda.
Namun mereka semua berdiri karena satu rahmat, hidup dalam satu kekuasaan, berada di bawah satu ketetapan, dan akan kembali menghadap kepada satu Tuhan.
Maka siapa yang memandang perbedaan tanpa melihat asalnya akan mudah terpecah. Tetapi siapa yang melihat asal tanpa menghapus batas syariat dan adab akan menemukan persaudaraan.
Yang satu bukan berarti semua hal menjadi sama.
Yang satu berarti semua makhluk sama-sama bergantung kepada Alloh Yang Maha Esa.
---
Jangan Berhenti pada Perantara
Wahai pencari jalan, janganlah engkau berhenti pada sesuatu yang hanya menjadi perantara.
Harta adalah perantara, bukan sumber rezeki.
Manusia adalah perantara, bukan pemilik pertolongan.
Obat adalah perantara, bukan pencipta kesembuhan.
Ilmu adalah perantara, bukan pemilik kebenaran.
Guru adalah penunjuk, bukan tujuan penyembahan.
Dzikir adalah jalan mengingat, bukan pengganti ketaatan.
Doa adalah bentuk penghambaan, bukan alat memaksa kehendak Tuhan.
Apabila rezekimu datang melalui manusia, bersyukurlah kepada manusia dengan adab, tetapi kembalikan sumber syukurmu kepada Alloh.
Apabila engkau memperoleh ilmu melalui seorang guru, muliakan gurumu, tetapi jangan meletakkan guru pada kedudukan yang hanya layak bagi Alloh.
Apabila engkau sembuh melalui obat, gunakan obat dengan benar, tetapi jangan melupakan Alloh yang memberikan khasiat dan kesembuhan.
Sebab siapa yang berhenti pada perantara akan mudah diperbudak oleh perantara. Namun siapa yang melihat Alloh sebagai sumber segala karunia akan menggunakan perantara tanpa kehilangan tauhid.
---
Kembalikan Segala Sesuatu kepada Pemiliknya
Ketika engkau memperoleh nikmat, kembalikan kepada Alloh dengan syukur.
Ketika engkau memiliki ilmu, kembalikan kepada Alloh dengan kerendahan hati.
Ketika engkau menerima jabatan, kembalikan kepada Alloh dengan amanah.
Ketika engkau memperoleh kekayaan, kembalikan kepada Alloh dengan zakat, sedekah, dan pertolongan kepada sesama.
Ketika engkau mendapatkan pujian, kembalikan kepada Alloh dengan membaca:
Alḥamdulillāh.
Ketika engkau diuji, kembalikan kegelisahanmu kepada Alloh dengan sabar dan doa.
Ketika engkau berbuat salah, kembalikan dirimu kepada Alloh dengan taubat.
Ketika engkau merasa memiliki kekuatan, kembalikan pengakuan itu kepada Alloh dengan membaca:
Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.
Ketika datang kepadamu rasa takut, kembalikan perlindungan kepada Alloh:
Ḥasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl.
Dan ketika kehidupanmu telah sampai pada batas yang ditentukan, kembalikan ruhmu kepada Alloh dengan iman, kepasrahan, dan pengharapan atas rahmat-Nya.
---
Faqaf: Berhentilah dan Sadarilah
Bilfaqof adalah isyarat batin agar manusia berhenti sejenak dari kebisingan dunia, kemudian menyadari dari mana ia datang, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa ia akan kembali.
Berhentilah dari kesombongan sebelum kesombongan menghancurkanmu.
Berhentilah dari merasa paling suci sebelum perasaan itu menutup pintu taubatmu.
Berhentilah dari mengejar dunia tanpa batas sebelum dunia menguasai hatimu.
Berhentilah dari menyalahkan semua orang sebelum engkau memeriksa dirimu sendiri.
Berhentilah dari mencari rahasia langit apabila kewajiban di bumi masih engkau tinggalkan.
Berhentilah mengejar karamah apabila akhlakmu masih melukai manusia.
Berhentilah mengaku dekat dengan Alloh apabila hatimu masih merendahkan hamba-hamba-Nya.
Sebab perjalanan menuju Yang Satu bukanlah perjalanan memperbesar nama diri, melainkan perjalanan meruntuhkan keakuan di hadapan kebesaran Alloh.
---
Tanda Seseorang Mulai Kembali kepada Yang Satu
Bukan banyaknya pengakuan yang menjadi tanda kedekatan, tetapi perubahan akhlaknya.
Apabila sebelumnya mudah marah, kemudian belajar menahan diri, itulah kepulangan.
Apabila sebelumnya suka menghina, kemudian belajar menghormati, itulah kepulangan.
Apabila sebelumnya kikir, kemudian mulai berbagi, itulah kepulangan.
Apabila sebelumnya lalai, kemudian menjaga sholat, itulah kepulangan.
Apabila sebelumnya menyimpan dendam, kemudian berusaha memaafkan, itulah kepulangan.
Apabila sebelumnya bergantung kepada manusia, kemudian berharap kepada Alloh tanpa meninggalkan ikhtiar, itulah kepulangan.
Apabila sebelumnya merasa amalnya besar, kemudian melihat amal sebagai pertolongan Alloh, itulah kepulangan.
Semakin dekat seseorang kepada Alloh, semestinya semakin lembut lisannya, semakin jujur perbuatannya, semakin kuat amanahnya, dan semakin rendah hatinya.
Apabila sebuah perjalanan ruhani justru menambah kesombongan, permusuhan, serta perasaan paling tinggi, maka ia belum kembali kepada Yang Satu. Ia baru berputar mengelilingi dirinya sendiri.
---
Rahasia Kepulangan
Kepulangan kepada Alloh tidak harus menunggu kematian.
Setiap taubat adalah kepulangan.
Setiap istighfar adalah kepulangan.
Setiap sujud adalah kepulangan.
Setiap pengakuan atas kelemahan adalah kepulangan.
Setiap sedekah yang ikhlas adalah kepulangan.
Setiap usaha memperbaiki akhlak adalah kepulangan.
Setiap keputusan meninggalkan keburukan adalah kepulangan.
Manusia yang bijaksana adalah manusia yang telah belajar kembali sebelum dipaksa kembali.
Ia mengembalikan keinginannya kepada ridho Alloh.
Ia mengembalikan kekuatannya kepada pertolongan Alloh.
Ia mengembalikan kesalahannya kepada ampunan Alloh.
Ia mengembalikan kesedihannya kepada kasih sayang Alloh.
Ia mengembalikan keberhasilannya kepada karunia Alloh.
Dengan demikian, hatinya tidak hancur ketika kehilangan, sebab ia memahami bahwa yang pergi bukanlah miliknya secara mutlak. Ia juga tidak sombong ketika memperoleh, sebab ia mengetahui bahwa yang datang hanyalah titipan.
---
Wasiat Sang Sabdo
Jangan engkau menyembah sesuatu yang akan lenyap.
Jangan engkau menggantungkan seluruh hatimu kepada sesuatu yang dapat berubah.
Jangan engkau mempertaruhkan akhirat untuk memperoleh dunia yang sebentar.
Jangan engkau merusak persaudaraan hanya karena ingin memenangkan pendapat.
Jangan engkau membawa nama Tuhan untuk membenarkan hawa nafsumu.
Jangan engkau menganggap dirimu sebagai pusat segala perkara.
Engkau bukanlah pusat kehidupan.
Engkau hanyalah seorang hamba yang diberi kesempatan untuk mengenal, mengabdi, memperbaiki, mencintai, dan kembali.
Maka letakkan dunia di tanganmu, jangan di dalam hatimu. Letakkan ilmu dalam akhlakmu, jangan hanya dalam ucapanmu. Letakkan dzikir dalam kesadaranmu, jangan hanya pada hitungan lidahmu.
Dan letakkan Alloh sebagai tujuan tertinggi, bukan sebagai jalan untuk memperoleh keinginan dunia.
---
Puncak Sabdo
Saka Siji kabeh kawiwitan.
Kanthi kersaning Siji kabeh diuripake.
Ing pangwasaning Siji kabeh lumaku.
Lan marang Siji kabeh bakal bali.
Dari Yang Satu segala sesuatu dimulai.
Atas kehendak Yang Satu segala sesuatu dihidupkan.
Di dalam kekuasaan Yang Satu segala sesuatu berjalan.
Dan kepada Yang Satu segala sesuatu akan kembali.
Jangan berkata, “Ini semua karena aku.”
Katakanlah:
“Iki kabeh saka sih, pitulungan, lan idinipun Alloh.”
Jangan berkata, “Aku memiliki segalanya.”
Katakanlah:
“Aku hanya dipercaya menjaga titipan-Nya.”
Jangan berkata, “Aku mampu tanpa pertolongan.”
Katakanlah:
“Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.”
Dan jangan takut kehilangan sesuatu yang berasal dari dunia, selama engkau tidak kehilangan iman, akhlak, dan hubunganmu dengan Alloh.
Sebab siapa yang kehilangan dunia tetapi menemukan Alloh, sesungguhnya ia tidak kehilangan tujuan. Namun siapa yang memiliki dunia tetapi kehilangan arah kepada Alloh, sesungguhnya ia telah kehilangan inti kehidupan.
---
Penutup Sabdo
Wahai jiwa, kembalilah dari kesombongan menuju kerendahan hati.
Kembalilah dari kelalaian menuju dzikir.
Kembalilah dari dosa menuju taubat.
Kembalilah dari kebencian menuju kasih sayang.
Kembalilah dari ketergantungan kepada makhluk menuju tawakal kepada Alloh.
Kembalilah dari banyaknya keinginan menuju satu tujuan:
Ridho Alloh.
Sebab perjalanan yang paling jauh bukan perjalanan menembus langit, melainkan perjalanan dari keakuan menuju kehambaan.
Dan rahasia paling tinggi bukanlah merasa menjadi seseorang, melainkan sadar bahwa tanpa Alloh, manusia tidak memiliki apa-apa.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Kita berasal dalam ketetapan Alloh, hidup dalam kekuasaan Alloh, menerima titipan dari Alloh, dan akhirnya kembali menghadap kepada Alloh.
Sang Maha Tunggal tidak membutuhkan kepulangan kita. Kitalah yang membutuhkan-Nya sebagai tempat kembali.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.