SABDO HIZAB BILHAQ

 


SABDO HIZAB BILHAQ


KEMBALINYA KASIH KEPADA KEKASIH


Sang Maha Kuasa dan Maha Menguasai


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji bagi Alloh, Pemilik seluruh kasih, sumber segala kehidupan, Penguasa langit dan bumi, serta tempat kembalinya setiap jiwa. Tidak ada kekuatan selain dengan pertolongan-Nya. Tidak ada cahaya yang berdiri sendiri tanpa izin-Nya. Tidak ada cinta yang kekal kecuali cinta yang dikembalikan kepada-Nya.


SABDO HIZAB BILHAQ dimaknai dalam karya ini sebagai:


«Seruan kebenaran yang membuka tabir hati, agar kasih kembali kepada Kekasih Sejati, yaitu Alloh Yang Maha Kuasa dan Maha Menguasai segala sesuatu.»


Sabdo ini bukan suara yang mengangkat manusia menjadi penguasa atas manusia lainnya. Sabdo ini adalah pepeling agar manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba. Semua yang dimiliki hanyalah titipan, semua yang dicintai akan berubah, dan semua yang berjalan pada akhirnya akan kembali kepada Alloh.


---


LEMBAR PERTAMA


TABIR YANG MENUTUP KASIH


Wahai jiwa yang berjalan di antara keramaian dunia, mengapa engkau merasa kehilangan kasih, padahal kasih Alloh tidak pernah meninggalkanmu?


Engkau mencarinya pada pujian manusia.

Engkau menunggunya dari perhatian makhluk.

Engkau mengira kasih hanya hadir ketika keinginanmu dipenuhi.


Ketika manusia memujimu, engkau merasa berharga. Ketika manusia meninggalkanmu, engkau merasa tidak berarti. Ketika pintu dunia terbuka, engkau menganggap Alloh sedang menyayangimu. Namun ketika pintu itu tertutup, engkau mulai mempertanyakan kasih-Nya.


Ketahuilah, kasih Alloh tidak selalu hadir dalam bentuk yang engkau sukai.


Terkadang kasih-Nya datang sebagai pertemuan.

Terkadang kasih-Nya hadir sebagai perpisahan.

Terkadang kasih-Nya berbentuk kelapangan.

Terkadang kasih-Nya bersembunyi di balik kesempitan.


Bukan karena Alloh meninggalkanmu, tetapi karena Dia sedang mengembalikan arah hatimu.


Tabir terbesar bukanlah gelapnya malam. Tabir terbesar adalah ketika hati terlalu dipenuhi dunia, sehingga tidak lagi mengenali cahaya petunjuk.


Kesombongan adalah tabir.

Kebencian adalah tabir.

Keinginan dipuji adalah tabir.

Rasa memiliki secara berlebihan adalah tabir.

Ketergantungan kepada makhluk adalah tabir.

Keputusasaan terhadap rahmat Alloh juga merupakan tabir.


Tabir itu tidak selalu terlihat oleh mata. Ia bersembunyi di dalam niat, pikiran, perkataan, dan harapan manusia.


Karena itulah, perjalanan SABDO HIZAB BILHAQ dimulai bukan dengan menguasai dunia, melainkan dengan membersihkan ruang di dalam diri.


---


LEMBAR KEDUA


KASIH YANG TERSALAHARAH


Setiap manusia membawa kemampuan untuk mencintai. Namun tidak setiap cinta berjalan pada arah yang benar.


Ada manusia yang mencintai kekayaan hingga melupakan amanah.

Ada manusia yang mencintai kedudukan hingga merendahkan sesama.

Ada manusia yang mencintai seseorang hingga kehilangan dirinya.

Ada pula yang mencintai pengalaman ruhani hingga merasa lebih suci daripada orang lain.


Cinta yang tidak disertai adab dapat berubah menjadi belenggu.

Cinta yang tidak dibimbing iman dapat berubah menjadi ketergantungan.

Cinta yang tidak dikembalikan kepada Alloh dapat berubah menjadi kesedihan tanpa batas.


Bukan berarti manusia dilarang mencintai keluarga, pasangan, sahabat, pekerjaan, maupun kehidupan. Semua itu boleh dicintai sebagai amanah. Namun jangan menempatkan sesuatu yang fana pada kedudukan yang hanya layak bagi Yang Maha Kekal.


Cintailah manusia tanpa menyembahnya.

Hormatilah guru tanpa menganggapnya selalu benar.

Sayangilah keluarga tanpa melupakan Alloh.

Rawatlah dunia tanpa menjadikannya tujuan terakhir.


Kasih yang benar tidak membuat manusia kehilangan akal sehat. Kasih yang benar menjadikan seseorang semakin jujur, bertanggung jawab, lembut, dan takut menyakiti.


Apabila sebuah cinta menjadikanmu meninggalkan kewajiban, merusak dirimu, memutuskan silaturahmi, atau membenarkan kezaliman, maka cinta itu perlu dijernihkan.


Sebab kasih sejati tidak menuntun kepada kehancuran. Kasih sejati menuntun kepada kebaikan.


---


LEMBAR KETIGA


KEMBALINYA KASIH KEPADA KEKASIH


Wahai jiwa, kembalikanlah kasihmu kepada Alloh.


Kembalikan bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia pada kedudukan yang semestinya. Kembalikan bukan berarti membenci manusia, tetapi mencintai manusia karena Alloh dan dalam batas yang diridhoi-Nya.


Ketika kasih kembali kepada Alloh, manusia tidak lagi memaksa semua orang untuk memahami dirinya. Ia belajar bahwa Alloh mengetahui tangisan yang tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata.


Ketika kasih kembali kepada Alloh, manusia tidak mudah hancur karena penolakan. Ia menyadari bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh diterima atau ditolaknya dirinya oleh manusia.


Ketika kasih kembali kepada Alloh, kesedihan tidak langsung hilang, tetapi hati memperoleh tempat bersandar.


Kembali kepada Alloh bukanlah perjalanan kaki. Ia adalah perjalanan niat.


Dari ingin dipuji menjadi ingin diridhoi.

Dari ingin menguasai menjadi ingin mengabdi.

Dari ingin membalas menjadi ingin memaafkan.

Dari merasa paling benar menjadi berani memperbaiki diri.

Dari menggantungkan harapan kepada manusia menjadi berserah kepada Alloh setelah berikhtiar.


Inilah makna kembalinya kasih kepada Kekasih: hati tidak lagi menjadikan makhluk sebagai pusat segala pengharapan.


---


LEMBAR KEEMPAT


SANG MAHA KUASA DAN MAHA MENGUASAI


Alloh adalah Yang Maha Kuasa. Kekuasaan-Nya tidak bergantung kepada pengakuan manusia. Kekuasaan-Nya tidak bertambah karena pujian dan tidak berkurang karena pengingkaran.


Alloh menguasai kehidupan dan kematian.

Alloh menguasai yang tampak dan yang tersembunyi.

Alloh menguasai masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.

Alloh mengetahui isi hati, tetapi manusia tidak boleh merasa mengetahui seluruh rahasia hati orang lain.


Karena Alloh adalah Yang Maha Menguasai, manusia tidak pantas mengaku memiliki kuasa mutlak.


Pemimpin hanyalah pemegang amanah.

Guru hanyalah penyampai ilmu.

Orang tua hanyalah penjaga yang diberi tanggung jawab.

Kekayaan hanyalah titipan.

Tubuh pun bukan milik mutlak manusia, melainkan amanah yang harus dijaga.


Orang yang memahami kekuasaan Alloh tidak akan mudah menindas. Ia mengetahui bahwa setiap kekuasaan dunia akan dimintai pertanggungjawaban.


Jangan menggunakan nama Alloh untuk menakut-nakuti orang.

Jangan memakai bahasa ruhani untuk mengendalikan orang lain.

Jangan mengaku mengetahui perkara gaib tanpa dasar yang benar.

Jangan menjadikan kelemahan orang sebagai jalan mencari keuntungan.


Sebab orang yang benar-benar mengenal kebesaran Alloh akan semakin rendah hati, bukan semakin haus untuk dipuja.


---


LEMBAR KELIMA


SABDO KEPADA DIRI SENDIRI


Sebelum menasihati dunia, nasihatilah dirimu.


Katakan kepada amarahmu:


«“Tenanglah. Tidak semua luka harus dibalas.”»


Katakan kepada kesombonganmu:


«“Rendahlah. Semua kelebihan hanyalah titipan.”»


Katakan kepada ketakutanmu:


«“Bersabarlah. Alloh tidak meninggalkan hamba yang terus berusaha.”»


Katakan kepada kesedihanmu:


«“Menangislah dengan jujur, tetapi jangan berputus asa dari rahmat Alloh.”»


Katakan kepada keinginanmu:


«“Tidak semua yang kuinginkan baik bagiku, dan tidak semua yang tertunda berarti ditolak.”»


Inilah sabdo yang pertama-tama harus terdengar dalam ruang batin: bukan suara yang mengaku berasal dari alam gaib, melainkan kesadaran yang lahir dari iman, ilmu, muhasabah, dan keberanian memperbaiki diri.


Bila sebuah bisikan menyuruhmu menyakiti diri sendiri atau orang lain, jangan diikuti. Carilah bantuan dari keluarga, tenaga kesehatan, atau orang tepercaya. Petunjuk yang benar tidak mengajak manusia menuju kehancuran.


---


LEMBAR KEENAM


HIZAB KESOMBONGAN


Ada tabir yang lebih halus daripada kain dan lebih keras daripada batu: kesombongan ruhani.


Kesombongan ruhani muncul ketika seseorang merasa telah mencapai kedudukan khusus di sisi Alloh. Ia mulai memandang rendah orang yang belum mengalami apa yang dialaminya. Ia mengukur kesucian dari mimpi, penglihatan, sensasi tubuh, nama, gelar, atau banyaknya pengikut.


Padahal ukuran kemuliaan bukanlah banyaknya pengalaman luar biasa. Ukuran kemuliaan tampak dalam ketakwaan, kejujuran, amanah, kasih sayang, dan akhlak.


Mimpi dapat menjadi bahan renungan, tetapi tidak selalu menjadi perintah.

Perasaan dapat memberi isyarat tentang keadaan diri, tetapi tidak selalu menjadi kebenaran mutlak.

Pengalaman batin dapat terasa sangat nyata, tetapi tetap perlu diuji dengan syariat, akal sehat, serta dampaknya terhadap kehidupan.


Apabila suatu pengalaman membuatmu semakin rendah hati, bertanggung jawab, dan rajin berbuat baik, ambillah hikmahnya.


Namun apabila pengalaman itu membuatmu merasa paling suci, paling berkuasa, atau berhak mengendalikan orang lain, berhentilah dan lakukan muhasabah.


Sebab cahaya yang benar menumbuhkan kerendahan hati.


---


LEMBAR KETUJUH


JANJI KASIH YANG DIJAGA


Wahai jiwa, jagalah kasih dengan kebenaran.


Jangan berkata cinta apabila masih suka mempermainkan kepercayaan.

Jangan berkata mengabdi apabila masih mencari pujian.

Jangan berkata membimbing apabila tidak mau mendengarkan.

Jangan berkata menjaga apabila justru mengekang dan menyakiti.


Kasih harus memiliki adab.

Kasih harus memiliki batas.

Kasih harus memiliki tanggung jawab.

Kasih harus berani berkata benar tanpa merendahkan.


Kasih kepada Alloh dibuktikan melalui ketaatan dan akhlak, bukan hanya melalui ucapan yang indah. Kasih kepada sesama dibuktikan melalui kejujuran, perlindungan, perhatian, serta kesediaan menghormati kehendak dan batas orang lain.


Jangan memaksa seseorang tinggal atas nama cinta.

Jangan mengikat seseorang dengan ketakutan.

Jangan menjanjikan keselamatan gaib demi mendapatkan ketaatan.

Jangan menjadikan cinta sebagai alasan untuk menguasai kehidupan orang lain.


Alloh Maha Menguasai, sedangkan manusia diperintahkan menjaga amanah.


---


SABDO PEMBUKA


«Wahai hati yang lama mengembara,

pulanglah tanpa membawa kesombongan.


Wahai kasih yang tersesat di antara pujian dan penolakan,

kembalilah kepada Alloh, Pemilik segala kasih.


Lepaskanlah keinginan untuk menguasai manusia,

sebab engkau sendiri berada dalam kekuasaan-Nya.


Jangan mencari cahaya dengan memadamkan cahaya orang lain.

Jangan mencari kemuliaan dengan merendahkan sesama.

Jangan mencari kedekatan kepada Alloh dengan meninggalkan tanggung jawab kehidupan.


Jadilah lembut tanpa kehilangan ketegasan.

Jadilah kuat tanpa berlaku kejam.

Jadilah berilmu tanpa merasa paling mengetahui.

Jadilah pencinta tanpa menjadikan makhluk sebagai sesembahan hati.


Bila dunia datang, terimalah sebagai amanah.

Bila dunia pergi, lepaskanlah dengan tawakal.

Bila manusia memuji, kembalikan pujian kepada Alloh.

Bila manusia mencela, periksa dirimu dengan jujur tanpa kehilangan harapan.


Sesungguhnya kasih yang kembali kepada Kekasih Sejati

tidak menjadikan manusia lari dari kehidupan,

melainkan menuntunnya menjalani kehidupan dengan lebih bersih, benar, dan bertanggung jawab.»


---


DOA PENUTUP PEMBUKAAN


Ya Alloh, Yang Maha Pengasih dan Maha Menguasai segala sesuatu, bukakanlah tabir yang menutupi kejernihan hati kami.


Ampunilah kesombongan kami, luruskanlah cinta kami, bersihkanlah niat kami, dan jauhkanlah kami dari keinginan menguasai serta merendahkan sesama.


Jadikan kasih kami sebagai jalan menuju ketaatan, bukan jalan menuju kelalaian. Jadikan ilmu kami sebagai jalan pelayanan, bukan alat mencari pengagungan. Jadikan kekuatan kami sebagai perlindungan bagi yang lemah, bukan senjata untuk menindas.


Apabila kami tersesat dalam cinta kepada dunia, kembalikanlah hati kami kepada-Mu. Apabila kami terluka karena manusia, ajarkanlah kami memaafkan tanpa membiarkan kezaliman berulang. Apabila kami memperoleh kekuasaan, jagalah kami agar tetap adil dan rendah hati.


Ya Alloh, Engkaulah Kekasih Sejati, Pemilik seluruh kasih, Sang Maha Kuasa dan Maha Menguasai.


Kepada-Mu segala kasih berasal.

Kepada-Mu segala harapan bersandar.

Dan kepada-Mu setiap jiwa akan kembali.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Penutup Lembar Pembukaan


SABDO HIZAB BILHAQ bukanlah seruan agar manusia menguasai manusia. Ia adalah pepeling agar manusia kembali menyadari bahwa kasih, kehidupan, kekuatan, dan seluruh alam berada dalam kekuasaan Alloh.


Kasih yang kembali kepada Kekasih akan melahirkan ketenangan.

Kekuasaan yang tunduk kepada Alloh akan melahirkan keadilan.

Hati yang terbuka dari tabir akan melahirkan akhlak yang bercahaya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh