SABDO MUHOLLAH HOLFIQIH AL-BURRUZ

 



SABDO MUHOLLAH HOLFIQIH AL-BURRUZ

Dengarkan Seruan Kekasih yang Suci untuk Kembali kepada Al-Ḥaqq


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Dengarlah wahai hati yang lama berjalan,

seruan kekasih yang suci tidak datang dari bisingnya dunia,

tetapi dari sunyi yang menundukkan ego.


Ia memanggil bukan dengan teriakan,

tetapi dengan rasa yang mengetuk dada:

“Kembalilah kepada Al-Ḥaqq,

sebelum langkahmu terlalu jauh mengejar bayangan.”


Jangan engkau sangka jalan kembali itu jauh.

Yang jauh bukan Alloh dari hamba-Nya,

tetapi hati yang tertutup oleh keinginan,

oleh bangga diri,

oleh luka yang belum diserahkan,

dan oleh ilmu yang belum menjadi akhlak.


Wahai jiwa,

sucikan pendengaranmu dari bisikan yang memecah,

sucikan pandanganmu dari prasangka,

sucikan lisanmu dari kata yang melukai,

sucikan ilmumu dari kesombongan,

dan sucikan ibadahmu dari ingin dipandang.


Karena kekasih yang suci tidak mengajakmu kepada dirinya,

tidak mengikatmu pada nama,

tidak membawamu kepada khayal,

tetapi menunjukmu kembali kepada Alloh,

Tuhan Yang Maha Benar,

Yang Awal sebelum segala awal,

Yang Akhir sesudah segala akhir.


Maka bila seruan itu hadir,

tandanya bukan tubuh gemetar semata,

bukan cahaya yang tampak di mata,

bukan suara yang memukau rasa,

melainkan hati menjadi lebih lembut,

ibadah menjadi lebih jujur,

akhlak menjadi lebih terang,

dan dosa menjadi lebih berat untuk diulangi.


Inilah pintu Al-Burruz:

keluarnya batin dari gelap menuju terang,

keluarnya niat dari kepalsuan menuju amanah,

keluarnya lisan dari debat menuju dzikir,

keluarnya langkah dari sia-sia menuju manfaat.


Wahai yang dipanggil oleh kasih,

jangan menunda taubat.

Jangan menunggu sempurna untuk kembali.

Kembalilah dalam keadaan pecah,

nanti Alloh yang menyatukan.

Kembalilah dalam keadaan lemah,

nanti Alloh yang menguatkan.

Kembalilah dalam keadaan menangis,

nanti Alloh yang menenangkan.


Sebab Al-Ḥaqq tidak membutuhkan hiasanmu.

Al-Ḥaqq menerima kejujuranmu.

Alloh tidak melihat megahnya ucapan,

tetapi melihat arah hati yang benar-benar pulang.


Maka ucapkanlah dengan rendah:


Yā Alloh,

aku mendengar seruan-Mu melalui jalan kasih,

aku kembali dari kelalaian menuju ingat,

aku kembali dari ego menuju tunduk,

aku kembali dari gelap menuju cahaya,

aku kembali dari diriku menuju ridho-Mu.


Jadikan aku hamba yang tidak mabuk oleh rasa,

tidak tersesat oleh tanda,

tidak sombong oleh ilmu,

tidak keras oleh luka,

dan tidak jauh dari syariat Nabi-Mu ﷺ.


Turunkan kepadaku kefahaman yang membawa adab,

ilmu yang membawa takut kepada-Mu,

dzikir yang membawa tenang,

dan cinta yang membawa taat.


Wahai jiwa,

dengarkanlah seruan kekasih yang suci:

pulanglah kepada Al-Ḥaqq.

Pulanglah sebelum dipanggil pulang.

Pulanglah dengan taubat.

Pulanglah dengan sholat.

Pulanglah dengan akhlak.

Pulanglah dengan kasih.

Pulanglah dengan nama Alloh.


Hasbunalloh wa ni‘mal wakīl.

Ni‘mal maulā wa ni‘man naṣīr.


Selesai sabdo ini bukan untuk dibanggakan,

tetapi untuk diamalkan.

Bukan untuk merasa tinggi,

tetapi untuk makin rendah di hadapan Alloh.

Bukan untuk membuka jalan khayal,

tetapi untuk menguatkan jalan pulang kepada Al-Ḥaqq.


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh