SABDO QIYAMAT TULLOH BILHQI BULLOH

 




SABDO QIYAMAT TULLOH BILHQI BULLOH


Binazahnya Umat Diawali dari Perjalanan Leburnya Umat, Diakhiri dari Bahayanya


بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan yang menggenggam awal dan akhir, yang menghidupkan hati setelah matinya, yang menegakkan kebenaran di tengah kerusakan, serta yang memperingatkan manusia agar tidak berjalan menuju kehancuran dengan tangannya sendiri.


Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, pembawa cahaya petunjuk, penuntun umat dari gelapnya kesesatan menuju jalan keselamatan.


Mukadimah Sabdo


SABDO QIYAMAT TULLOH BILHQI BULLOH adalah lembar peringatan tentang runtuhnya kekuatan suatu umat ketika kebenaran telah ditinggalkan, amanah diperdagangkan, rasa malu dilenyapkan, dan manusia saling membinasakan demi kepentingan dunia.


Sabdo ini tidak berbicara tentang penentuan waktu hari kiamat, sebab hanya Alloh yang mengetahui waktunya.


Sabdo ini berbicara tentang kiamatnya akhlak, kiamatnya persaudaraan, kiamatnya kejujuran, dan kiamatnya rasa kemanusiaan yang dapat terjadi di tengah kehidupan manusia sebelum datangnya kiamat yang sesungguhnya.


Kehancuran umat tidak selalu dimulai oleh gempa bumi, peperangan besar, atau jatuhnya api dari langit.


Ia sering dimulai dari perkara yang dianggap kecil:


dari dusta yang dibiarkan,


dari amanah yang diselewengkan,


dari fitnah yang disebarkan,


dari orang lemah yang tidak dibela,


dan dari hati yang tidak lagi takut menyakiti sesamanya.


Lembar Pertama


Awal Leburnya Umat


Leburnya umat dimulai ketika manusia masih mengucapkan nama Alloh, tetapi hatinya tidak lagi tunduk kepada perintah-Nya.


Mereka berbicara tentang agama, tetapi menjadikan agama sebagai alat untuk mengangkat diri.


Mereka memakai pakaian kehormatan, tetapi menyembunyikan kerakusan di dalam dada.


Mereka menyeru kepada persatuan, tetapi diam-diam menanam perpecahan.


Mereka berbicara tentang kasih sayang, tetapi mempermalukan saudaranya di hadapan manusia.


Pada masa itu, kebenaran tidak lagi diukur dari dalil dan kejujuran, tetapi dari siapa yang memiliki pengikut paling banyak, suara paling keras, kekayaan paling besar, atau kedudukan paling tinggi.


Orang yang jujur dianggap mengganggu.


Orang yang menasihati dianggap memusuhi.


Orang yang memilih diam dianggap lemah.


Sedangkan orang yang pandai memutar kata dipandang sebagai orang yang paling bijaksana.


Inilah awal leburnya umat:


ketika yang benar dijadikan asing,


dan yang salah dijadikan kebiasaan.


Lembar Kedua


Binazahnya Umat Berasal dari Dalam Diri


Tidak ada umat yang langsung binasa hanya karena musuh dari luar.


Kebinasaan menjadi dekat ketika kerusakan telah tumbuh dari dalam:


ketika pemimpin kehilangan kasih sayang,


ketika rakyat kehilangan kesabaran,


ketika orang alim kehilangan keberanian menyampaikan kebenaran,


ketika orang kaya kehilangan kepedulian,


ketika orang miskin kehilangan harapan,


dan ketika keluarga kehilangan ruang untuk saling mendengarkan.


Musuh dari luar hanya akan memasuki pintu yang telah dibuka oleh perpecahan dari dalam.


Apabila hati telah dipenuhi dengki, manusia mudah diadu.


Apabila pikiran telah dipenuhi prasangka, manusia mudah difitnah.


Apabila perut telah dikuasai kerakusan, manusia mudah dibeli.


Apabila kedudukan telah dijadikan tujuan, manusia mudah mengkhianati saudara sendiri.


Maka binazahnya umat bukan hanya karena datangnya hukuman, tetapi karena manusia terus memilih jalan yang menjauhkan dirinya dari rahmat Alloh.


Lembar Ketiga


Bahaya Ketika Amanah Menjadi Barang Dagangan


Amanah adalah tiang kehidupan.


Apabila amanah runtuh, kepercayaan ikut runtuh.


Apabila kepercayaan runtuh, persaudaraan menjadi rapuh.


Apabila persaudaraan rapuh, masyarakat akan hidup dalam kecurigaan.


Pada masa leburnya umat, jabatan dicari bukan untuk melayani, tetapi untuk menguasai.


Ilmu dipelajari bukan untuk menerangi, tetapi untuk membungkam.


Kekayaan dikumpulkan bukan untuk mencukupi, tetapi untuk meninggikan diri.


Agama disampaikan bukan untuk memperbaiki akhlak, tetapi untuk mencari pujian dan pengaruh.


Mereka menjaga tampilan di hadapan manusia, tetapi tidak menjaga batinnya di hadapan Alloh.


Mereka takut kehilangan kedudukan, tetapi tidak takut kehilangan kejujuran.


Mereka takut kehilangan pengikut, tetapi tidak takut kehilangan keberkahan.


Ketika amanah telah diperjualbelikan, maka keselamatan umat berada dalam bahaya.


Lembar Keempat


Ketika Fitnah Menjadi Makanan Sehari-hari


Fitnah berjalan lebih cepat daripada langkah kaki.


Satu ucapan dapat merusak persahabatan.


Satu kabar palsu dapat membakar sebuah kampung.


Satu potongan cerita dapat menghancurkan kehormatan seseorang.


Pada masa kerusakan, manusia lebih senang menyebarkan daripada memeriksa.


Mereka lebih cepat menghakimi daripada memahami.


Mereka lebih suka melihat saudaranya jatuh daripada menolongnya bangkit.


Kabar buruk disambut dengan kegembiraan.


Aib seseorang dijadikan hiburan.


Kesalahan kecil diperbesar, sedangkan kebaikannya dilupakan.


Orang yang menyebarkan fitnah merasa dirinya hanya menyampaikan berita, padahal ia sedang membantu membangun api yang kelak dapat membakar dirinya sendiri.


Karena itu, jagalah lisan.


Jagalah tulisan.


Jagalah jari yang menekan tombol untuk menyebarkan sesuatu.


Sebab setiap kata memiliki perjalanan, dan setiap perjalanan akan dimintai pertanggungjawaban.


Lembar Kelima


Qiyamatnya Rasa Malu


Rasa malu adalah penjaga batin.


Ketika rasa malu hidup, manusia menahan dirinya dari kezaliman.


Ketika rasa malu mati, manusia melakukan kesalahan tanpa merasa bersalah.


Qiyamatnya rasa malu terjadi ketika dosa dibanggakan, penghinaan dijadikan tontonan, dan kejahatan dianggap kecerdikan.


Anak tidak lagi menghormati orang tua.


Orang tua tidak lagi memberi teladan kepada anak.


Guru kehilangan kasih sayang kepada murid.


Murid kehilangan adab kepada guru.


Pemimpin mencela rakyat.


Rakyat mencaci pemimpin.


Suami dan istri membuka aib rumah tangga di hadapan banyak orang.


Saudara berselisih karena harta yang akan ditinggalkan.


Pada saat itu, manusia merasa dirinya bebas, padahal sesungguhnya ia sedang diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri.


Lembar Keenam


Tanda Leburnya Persaudaraan


Persaudaraan tidak selalu hancur karena perbedaan besar.


Kadang ia hancur karena kalimat kecil yang tidak dijaga.


Karena merasa paling benar.


Karena enggan meminta maaf.


Karena tidak mau mendengar.


Karena menganggap rendah orang lain.


Ketika manusia hanya mau berkumpul dengan orang yang selalu membenarkannya, maka hatinya akan semakin sempit.


Ketika nasihat dianggap penghinaan, kesalahan akan terus dipelihara.


Ketika perbedaan dianggap permusuhan, maka jalan perdamaian akan tertutup.


Leburnya umat adalah saat satu golongan merasa hanya dirinya yang pantas selamat, sedangkan semua golongan lain dianggap tidak memiliki kebaikan.


Padahal Alloh mengetahui isi hati, kadar keikhlasan, dan akhir perjalanan setiap hamba.


Jangan mengambil tempat Alloh dengan menghakimi nasib akhir manusia.


Tugas manusia adalah menyampaikan kebenaran dengan adab, menolak kezaliman dengan keadilan, dan mendoakan agar semua hati memperoleh petunjuk.


Lembar Ketujuh


Bahaya Kesombongan Ruhani


Kesombongan tidak hanya tumbuh dari kekayaan.


Kesombongan juga dapat tumbuh dari ilmu, ibadah, nasab, pakaian, pengikut, dan pengalaman ruhani.


Seseorang dapat merasa dirinya dekat dengan Alloh, lalu memandang orang lain sebagai manusia yang rendah.


Ia dapat merasa doanya paling mustajab, pendapatnya paling suci, dan perkataannya tidak boleh dibantah.


Inilah bahaya yang halus.


Ketika manusia mengaku membawa cahaya, tetapi kehadirannya membuat orang lain merasa gelap, maka ia perlu memeriksa kembali batinnya.


Ketika manusia mengaku membawa kedamaian, tetapi lisannya melukai banyak hati, maka ia perlu kembali belajar akhlak.


Ketika manusia mengaku mengenal rahasia langit, tetapi melupakan kewajiban bumi, maka ia telah tertipu oleh bayangan dirinya sendiri.


Cahaya sejati tidak membuat manusia sombong.


Cahaya sejati membuatnya semakin takut berbuat zalim, semakin lembut kepada sesama, dan semakin rendah hati di hadapan Alloh.


Lembar Kedelapan


Peringatan bagi Pemegang Kekuasaan


Wahai pemegang kekuasaan, jabatan bukan mahkota yang kekal.


Ia adalah amanah yang akan ditanya.


Setiap keputusan yang membuat orang lemah semakin menderita akan memiliki perhitungan.


Setiap harta umat yang disalahgunakan akan menjadi beban.


Setiap suara rakyat yang sengaja dibungkam akan menjadi saksi.


Jangan merasa aman hanya karena manusia tidak mampu menghukummu.


Jangan merasa benar hanya karena banyak orang memujimu.


Jangan merasa kuat hanya karena memiliki pasukan, kekayaan, atau pendukung.


Fir’aun pernah merasa sangat kuat.


Qarun pernah merasa sangat kaya.


Namun kekuatan dan kekayaan tidak mampu menyelamatkan kesombongan dari keputusan Alloh.


Pemimpin yang selamat adalah pemimpin yang mau mendengar, mau mengoreksi diri, melindungi yang lemah, dan tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya dirinya sendiri.


Lembar Kesembilan


Peringatan bagi Para Pembawa Ilmu


Wahai pembawa ilmu, ilmu adalah cahaya apabila disertai keikhlasan.


Namun ilmu dapat menjadi hijab apabila digunakan untuk mencari kemenangan pribadi.


Jangan menjadikan ayat sebagai senjata untuk melukai.


Jangan menjadikan mimbar sebagai tempat mempermalukan.


Jangan menjadikan perbedaan sebagai jalan mencari musuh.


Jangan menjual ketakutan kepada umat untuk memperoleh keuntungan.


Sampaikan kebenaran dengan kasih sayang.


Tegurlah kesalahan tanpa merampas kehormatan.


Bedakan antara melawan kezaliman dan memuaskan amarah.


Orang berilmu tidak dinilai hanya dari banyaknya hafalan, tetapi dari ketundukan akhlaknya kepada kebenaran yang ia sampaikan.


Apabila ilmunya bertambah tetapi kesombongannya juga bertambah, maka ia belum mengambil inti dari ilmu tersebut.


Lembar Kesepuluh


Jalan Kembali Sebelum Kebinasaan


Selama matahari masih terbit, pintu perbaikan belum tertutup.


Selama hati masih dapat menyesal, jalan taubat masih terbentang.


Selama manusia masih mau meminta maaf, persaudaraan masih dapat dipulihkan.


Jalan kembali dimulai bukan dengan menunggu orang lain berubah.


Jalan kembali dimulai dari diri sendiri.


Periksa ucapanmu.


Periksa hartamu.


Periksa tanggung jawabmu.


Periksa cara engkau memperlakukan keluarga.


Periksa apakah ibadahmu membuat akhlakmu semakin baik.


Periksa apakah ilmumu membuatmu semakin rendah hati.


Periksa apakah perjuanganmu benar-benar untuk Alloh atau hanya untuk membesarkan namamu.


Umat akan diselamatkan apabila setiap manusia berani membenahi satu bagian kerusakan yang berada dalam kuasanya.


Seorang ayah membenahi keluarganya.


Seorang ibu membimbing anaknya.


Seorang guru menjaga muridnya.


Seorang pedagang berlaku jujur.


Seorang pemimpin menegakkan keadilan.


Seorang alim menjaga kemurnian nasihatnya.


Seorang pemuda menjaga kehormatan dirinya.


Dari perbaikan kecil yang dilakukan dengan istiqamah, rahmat dapat turun kepada suatu negeri.


Penutup Sabdo


Ketahuilah, kehancuran terbesar bukan saat bangunan roboh, tetapi saat hati tidak lagi mengenal belas kasih.


Bencana terbesar bukan saat harta hilang, tetapi saat manusia kehilangan iman dan amanah.


Kematian sebuah umat bukan hanya ketika banyak manusia meninggal, tetapi ketika orang hidup tidak lagi mampu membedakan kebenaran dari kepentingan.


Maka jangan menunggu bumi berguncang untuk mengingat Alloh.


Jangan menunggu keluarga hancur untuk belajar memaafkan.


Jangan menunggu amanah dicabut untuk belajar jujur.


Jangan menunggu kematian datang untuk memperbaiki perjalanan hidup.


Kembalilah kepada Alloh sebelum engkau dipaksa kembali kepada-Nya.


Luruskan niat sebelum amalmu kehilangan ruh.


Jaga persaudaraan sebelum perbedaan berubah menjadi permusuhan.


Tegakkan kebenaran tanpa kehilangan kasih sayang.


Sebab umat tidak diselamatkan oleh banyaknya slogan, tetapi oleh tumbuhnya kejujuran, keadilan, taubat, dan akhlak mulia di dalam kehidupan.


Doa Penutup


اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا، وَطَهِّرْ نِيَّاتِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ وَالْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ.


Allohumma aṣliḥ qulūbanā, waḥfaẓ alsinatanā, wa ṭahhir niyyātinā, waj‘alnā min ahlish-shidqi wal-amānati wal-‘adli war-raḥmah.


Ya Alloh, perbaikilah hati kami, jagalah lisan kami, sucikanlah niat kami, dan jadikanlah kami termasuk golongan yang menjaga kejujuran, amanah, keadilan, dan kasih sayang.


Ya Alloh, jangan Engkau jadikan kami bagian dari kerusakan yang kami keluhkan.


Jadikanlah kami pembawa perdamaian tanpa melemahkan kebenaran, pembela kebenaran tanpa kehilangan kasih sayang, dan penjaga amanah sampai akhir kehidupan.


آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


SABDO QIYAMAT TULLOH BILHQI BULLOH

Binazahnya Umat Diawali dari Perjalanan Leburnya Umat, Diakhiri dari Bahayanya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh