SABDOSABDO AL-QUDUS BILLIMAM & SABDOSABDO AL-ZALLĀQUM BIZZAMĀN

 


SABDOSABDO AL-QUDUS BILLIMAM


Sabdo Kesucian dalam Naungan Iman


Makna nama:


SABDOSABDO AL-QUDUS BILLIMAM adalah sabdo renungan mengenai kesucian yang hakikatnya tidak dapat dikuasai, diukur, dibatasi, atau dijangkau secara sempurna oleh pikiran seluruh umat manusia. Kesucian mutlak hanya milik Sang Maha Tunggal, yaitu Alloh Yang Maha Suci.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ketahuilah, wahai manusia, bahwa kesucian Alloh bukanlah kesucian sebagaimana kesucian makhluk. Makhluk disebut suci setelah dibersihkan dari kotoran, kesalahan, dosa, atau kekurangan. Sedangkan Alloh Mahasuci sejak azali, tidak pernah tersentuh kekurangan, tidak didahului kelemahan, tidak dihinggapi perubahan, dan tidak menyerupai sesuatu pun yang dapat dibayangkan.


Kesucian-Nya tidak dapat dicapai oleh tingginya ilmu manusia.


Tidak dapat ditembus oleh tajamnya akal.


Tidak dapat dikuasai oleh panjangnya perjalanan ruhani.


Tidak dapat dibungkus oleh kata-kata.


Tidak dapat digambar oleh khayalan.


Tidak dapat disamakan dengan cahaya, warna, rupa, suara, ruang, arah, ataupun bentuk makhluk.


Apa pun yang terlintas dalam pikiran mengenai Alloh, maka Alloh tidak terbatas oleh lintasan itu.


Sebab pikiran adalah ciptaan, sedangkan Alloh adalah Sang Pencipta.


Akal mempunyai batas, sedangkan keagungan Alloh tidak berbatas.


Bahasa mempunyai ujung, sedangkan pujian bagi Alloh tidak berujung.


Karena itu, janganlah manusia merasa telah menjangkau hakikat Ketuhanan hanya karena memperoleh pengalaman batin, mimpi, isyarat, getaran tubuh, cahaya dalam pandangan, atau rasa yang sulit dijelaskan. Semua pengalaman tersebut tetap berada dalam wilayah makhluk. Ia dapat menjadi bahan muhasabah, tetapi bukan ukuran mutlak kedekatan seseorang kepada Alloh.


Ukuran kemuliaan bukanlah banyaknya pengakuan tentang rahasia.


Ukuran kesucian bukanlah tingginya gelar ruhani.


Ukuran kedekatan bukanlah kemampuan melihat perkara yang tersembunyi.


Ukuran seorang hamba adalah ketakwaannya, kejujurannya, amanahnya, kelembutan akhlaknya, kesungguhannya dalam beribadah, dan manfaatnya bagi sesama.


Kesucian yang benar tidak membuat seseorang merasa paling tinggi.


Kesucian yang benar menumbuhkan rasa malu untuk merendahkan orang lain.


Kesucian yang benar tidak menjadikan seseorang meminta disembah, diagungkan, atau ditaati tanpa pertimbangan.


Kesucian yang benar menjadikan hati semakin tunduk kepada Alloh dan semakin lembut kepada makhluk-Nya.


Wahai pencari kesucian, jangan engkau mencari kemuliaan dengan memamerkan kelebihanmu. Jangan engkau mengukur kesucian dengan pakaian, gelar, keturunan, pengikut, jumlah wirid, panjangnya munajat, atau cerita tentang pengalaman gaib.


Pakaian dapat tampak bersih sementara hati dipenuhi kesombongan.


Lisan dapat memperbanyak dzikir sementara tangan masih menyakiti.


Seseorang dapat berbicara tentang makrifat sementara hak tetangganya diabaikan.


Seseorang dapat mengaku dekat kepada Alloh sementara dirinya belum mampu meminta maaf kepada orang yang pernah dilukainya.


Maka bersihkanlah dirimu bukan hanya dengan air, tetapi juga dengan taubat.


Sucikanlah lisanmu dari fitnah, dusta, penghinaan, dan janji yang tidak ditepati.


Sucikanlah matamu dari pandangan yang merendahkan kehormatan manusia.


Sucikanlah telingamu dari kesenangan mendengar keburukan orang lain.


Sucikanlah tanganmu dari mengambil sesuatu yang bukan hakmu.


Sucikanlah kakimu dari langkah menuju kezaliman.


Sucikanlah rezekimu dari penipuan, kecurangan, suap, dan perkara yang haram.


Sucikanlah ibadahmu dari keinginan untuk dipuji.


Sucikanlah ilmumu dari kesombongan.


Sucikanlah amalmu dari tuntutan agar manusia membalas kebaikanmu.


Sucikanlah cintamu dari keinginan menguasai.


Sucikanlah kepemimpinanmu dari hawa nafsu untuk dihormati.


Sucikanlah jalan ruhanimu dengan syariat, adab, akal sehat, dan tanggung jawab.


Ketahuilah bahwa seorang hamba tidak menjadi suci karena dirinya tidak pernah salah. Seorang hamba mendekati kesucian akhlak ketika ia menyadari kesalahannya, mengakuinya dengan jujur, memohon ampun kepada Alloh, memperbaiki kerusakan yang ditimbulkannya, dan berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Janganlah engkau berkata, “Aku telah suci.”


Katakanlah, “Aku sedang belajar membersihkan diri.”


Janganlah berkata, “Aku telah sampai.”


Katakanlah, “Aku masih berjalan dengan pertolongan Alloh.”


Janganlah berkata, “Aku mengetahui seluruh rahasia.”


Katakanlah, “Ilmuku sedikit dan Alloh Maha Mengetahui.”


Janganlah berkata, “Aku lebih dekat daripada mereka.”


Sebab boleh jadi orang yang engkau pandang biasa lebih tulus doanya, lebih bersih rezekinya, lebih lembut hatinya, dan lebih mulia di sisi Alloh.


Kesucian mutlak hanya milik Alloh.


Adapun manusia diperintahkan untuk berusaha menyucikan jiwa, bukan mengangkat dirinya sebagai zat yang suci.


Manusia diperintahkan membersihkan hatinya, bukan mengklaim dirinya mengetahui hakikat Alloh.


Manusia diperintahkan bertauhid, bukan menyatukan dirinya dengan Ketuhanan.


Hamba tetaplah hamba.


Alloh tetaplah Tuhan Yang Maha Esa.


Tidak ada ibadah kecuali kepada-Nya.


Tidak ada tempat bergantung yang mutlak kecuali kepada-Nya.


Tidak ada kekuatan yang berdiri sendiri tanpa izin-Nya.


Tidak ada kesucian sempurna kecuali kesucian-Nya.


Apabila engkau memperoleh ilmu, jadikan ilmu itu jalan untuk melayani, bukan meninggikan diri.


Apabila engkau memperoleh kedudukan, jadikan kedudukan itu tempat menegakkan keadilan.


Apabila engkau memperoleh kelapangan rezeki, jadikan ia jalan untuk menolong.


Apabila engkau memperoleh ketenangan batin, jangan menghina mereka yang masih berjuang menghadapi kegelisahan.


Apabila engkau memperoleh pujian, kembalikanlah segala kebaikan kepada karunia Alloh.


Apabila engkau memperoleh teguran, jangan segera memusuhi orang yang menegurmu. Periksalah dirimu dengan jujur. Boleh jadi teguran itu menjadi jalan penyelamatan dari kesombongan yang tidak engkau sadari.


Wahai manusia, jangan menuntut dirimu menjadi makhluk tanpa cacat. Tuntutlah dirimu agar selalu bersedia memperbaiki cacat. Jangan menunggu hati benar-benar bersih untuk berbuat baik. Berbuat baiklah sambil terus membersihkan hati.


Jangan pula merasa tidak layak kembali kepada Alloh hanya karena dosamu banyak. Pintu taubat tidak dibuka hanya bagi orang yang sedikit kesalahan. Pintu taubat dibuka bagi setiap hamba yang benar-benar ingin pulang.


Air mata bukan satu-satunya tanda taubat.


Perubahan perilaku adalah buahnya.


Ucapan istighfar adalah pintunya.


Meninggalkan kezaliman adalah buktinya.


Mengembalikan hak manusia adalah kesungguhannya.


Menjaga diri agar tidak mengulanginya adalah penjagaannya.


Inilah jalan kesucian seorang hamba: bukan menjadi Tuhan, bukan menyatu dengan Tuhan, bukan merasa setara dengan Tuhan, melainkan tunduk, taat, mencintai, berharap, takut, dan berserah diri kepada Alloh sebagai hamba yang sadar akan kelemahannya.


Maka ucapkanlah dalam batinmu:


“Ya Alloh Yang Maha Suci, sucikan niatku tanpa membuatku merasa suci. Bersihkan hatiku tanpa membuatku merendahkan orang lain. Terangi akalku tanpa membuatku merasa mengetahui segala sesuatu. Kuatkan imanku tanpa menjadikanku keras kepada sesama. Dekatkan aku kepada-Mu dengan ketaatan, bukan dengan pengakuan. Jadikan ibadahku benar, rezekiku halal, lisanku jujur, tanganku amanah, dan akhir hidupku dalam husnul khatimah.”


Kesucian sejati tidak berteriak meminta pengakuan.


Ia hadir dalam kejujuran yang sunyi.


Ia hidup dalam amanah yang dijaga.


Ia tampak dalam kesabaran ketika disakiti.


Ia terasa dalam kelembutan kepada yang lemah.


Ia terbukti dalam kemampuan menahan diri ketika memiliki kuasa untuk membalas.


Ia bercahaya dalam keberanian meminta maaf.


Ia tumbuh ketika seorang manusia berhenti menyalahkan seluruh dunia dan mulai memperbaiki dirinya.


Wahai para pencari cahaya, jangan mengejar cahaya yang membuat mata batinmu silau hingga tidak lagi mampu melihat kesalahan diri. Carilah cahaya petunjuk yang membuatmu semakin jujur, semakin rendah hati, semakin bertanggung jawab, dan semakin takut menzalimi makhluk.


Sebab tidak setiap yang berkilau adalah petunjuk.


Tidak setiap bisikan adalah kebenaran.


Tidak setiap mimpi adalah perintah.


Tidak setiap rasa adalah dalil.


Tidak setiap pengalaman batin harus diikuti.


Timbanglah segala sesuatu dengan tauhid, syariat, akhlak, ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan, dan nasihat orang-orang yang jujur.


Apa yang mendorong kepada kesombongan, permusuhan, penghinaan, penipuan, pengabaian ibadah, atau pengkultusan manusia harus ditinggalkan.


Apa yang mendorong kepada taubat, kebaikan, keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan ketundukan kepada Alloh dapat dijadikan bahan muhasabah selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.


SABDOSABDO AL-QUDUS BILLIMAM mengingatkan:


Kesucian Alloh tidak dapat dicapai oleh pikiran, tetapi keagungan-Nya dapat diimani.


Hakikat-Nya tidak dapat digambar, tetapi tanda-tanda kekuasaan-Nya dapat direnungkan.


Rahasia-Nya tidak dapat dikuasai, tetapi perintah-Nya dapat ditaati.


Keagungan-Nya tidak dapat dipeluk oleh bahasa, tetapi nama-Nya dapat disebut dengan penuh cinta dan penghambaan.


Karena itu, berhentilah berusaha menjadi yang paling suci di antara manusia. Berusahalah menjadi manusia yang paling jujur dalam memperbaiki diri.


Berhentilah mengejar pengakuan sebagai orang pilihan. Pilihlah untuk selalu melakukan kebaikan, meskipun tidak seorang pun melihatnya.


Berhentilah membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain. Setiap jiwa memiliki ujian, kemampuan, tanggung jawab, dan waktu pertumbuhan yang berbeda.


Jagalah sholatmu.


Jagalah amanahmu.


Jagalah keluargamu.


Jagalah kehormatan orang lain.


Jagalah perkataanmu.


Jagalah rezekimu.


Jagalah kerendahan hatimu ketika dipuji.


Jagalah kesabaranmu ketika diuji.


Jagalah harapanmu kepada rahmat Alloh ketika terjatuh.


Inilah kesimpulan sabdo:


Alloh adalah Al-Quddūs, Yang Mahasuci dari segala kekurangan, persamaan, batas, bentuk, dan sifat makhluk. Manusia tidak dapat menjangkau hakikat kesucian-Nya, tetapi manusia dapat mendekat kepada ridho-Nya melalui iman, ibadah, taubat, ilmu, kejujuran, dan akhlak yang mulia.


Maka janganlah kesucian dijadikan gelar untuk membesarkan diri.


Jadikanlah kesucian sebagai jalan membersihkan niat.


Janganlah iman dijadikan alasan untuk menghakimi.


Jadikanlah iman sebagai tenaga untuk mengasihi, menegakkan keadilan, dan menjaga amanah.


Janganlah nama Alloh dipakai untuk melegitimasi hawa nafsu.


Sebutlah nama Alloh dengan rasa takut, cinta, harap, adab, dan tanggung jawab.


Semoga Alloh membersihkan hati kita dari kesyirikan, riya, ujub, iri, dendam, dusta, kesombongan, dan kezaliman. Semoga Alloh menghiasi diri kita dengan iman, ilmu, rasa malu, kesabaran, kejujuran, amanah, kasih sayang, dan keteguhan dalam kebaikan.


سُبْحَانَ اللّٰهِ الْقُدُّوْسِ

سُبْحَانَ اللّٰهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ

سُبْحَانَ مَنْ لَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ

وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ


Mahasuci Alloh Yang Mahasuci.

Mahasuci Alloh, Raja Yang Mahabenar.

Mahasuci Dia yang tidak menyerupai sesuatu pun.

Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.


Penutup Sabdo


Yang suci secara mutlak hanyalah Alloh.


Yang wajib bagi manusia adalah terus membersihkan diri.


Yang tinggi bukanlah orang yang banyak mengaku.


Yang tinggi adalah orang yang paling takut berbuat zalim.


Yang dekat bukanlah orang yang merasa telah sampai.


Yang dekat adalah hamba yang terus bersujud, bertaubat, berbuat baik, dan tidak pernah merasa aman dari kesalahan dirinya.


Allohumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.


Walḥamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn.



SABDOSABDO AL-ZALLĀQUM BIZZAMĀN


سَبْدُ الزَّلَّاقُومِ بِالزَّمَانِ


Makna Utama


Al-Zallāqum Bizzamān bermakna:


«“Datangnya masa pelurusan, ketika seorang pemimpin yang adil, bersih hati, dan teguh amanah berdiri untuk mengajak umat manusia kembali kepada kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan penghambaan kepada Alloh.”»


Ratu adil dalam sabdo ini tidak hanya dimaknai sebagai seorang manusia yang memiliki mahkota, pasukan, kekuasaan, atau singgasana dunia. Ratu adil adalah lambang hadirnya keadilan yang hidup, suara nurani yang tidak dapat dibeli, keberanian untuk mengatakan benar sebagai benar, serta keteguhan untuk menolak kezaliman tanpa berubah menjadi zalim.


---


Lembar Pertama: Ketika Zaman Kehilangan Arah


Akan datang suatu keadaan ketika banyak manusia memiliki pengetahuan, tetapi kehilangan kebijaksanaan.


Lisan pandai berbicara, tetapi hati miskin kejujuran.


Rumah-rumah ibadah berdiri megah, tetapi sebagian manusia masih mudah merendahkan, menipu, memfitnah, dan mengambil hak orang lain.


Pemimpin berbicara mengenai kesejahteraan, tetapi sebagian rakyat masih menangis dalam kesunyian.


Orang yang lemah dipaksa diam.


Orang yang jujur dianggap mengganggu.


Orang yang menyampaikan nasihat disebut musuh.


Sedangkan orang yang pandai menjilat ditempatkan dekat dengan kekuasaan.


Pada masa seperti itu, kerusakan tidak selalu berbentuk peperangan. Kerusakan dapat hadir melalui kebohongan yang dianggap biasa, amanah yang diperjualbelikan, hukum yang dibengkokkan, ilmu yang digunakan untuk kesombongan, serta agama yang dijadikan alat untuk menguasai manusia.


Sabdo ini mengingatkan:


«“Janganlah engkau hanya mencari siapa ratu adilnya. Tanyakan terlebih dahulu, apakah keadilan telah hidup dalam dirimu.”»


Sebab manusia yang menunggu perubahan, tetapi tetap memelihara dusta, kedengkian, kerakusan, dan kesombongan, sesungguhnya sedang memperpanjang zaman kerusakan.


---


Lembar Kedua: Turunnya Sang Pelurus


Turunnya ratu adil bukanlah turunnya makhluk dari langit dengan membawa mahkota yang berkilauan.


Turunnya berarti munculnya kesadaran, keberanian, dan kepemimpinan yang bersih pada waktu yang dibutuhkan umat.


Ia dapat lahir di tengah rakyat biasa.


Ia dapat tumbuh dari keluarga sederhana.


Ia mungkin tidak dikenal oleh banyak orang pada permulaan perjalanannya.


Ia tidak menjual kesucian.


Ia tidak memaksa manusia menyembah dirinya.


Ia tidak menyatakan bahwa setiap ucapannya pasti benar.


Ia tidak membangun kekuasaan dengan rasa takut.


Ia tidak menghukum orang hanya karena perbedaan pendapat.


Tanda pemimpin adil bukan banyaknya gelar, pengikut, pujian, atau lambang kebesaran.


Tandanya adalah:


Ia berani memeriksa kesalahannya sendiri.


Ia mendengarkan orang kecil.


Ia menjaga hak orang yang berbeda golongan.


Ia tidak mengambil harta yang bukan miliknya.


Ia mengutamakan musyawarah.


Ia menegakkan hukum tanpa membedakan orang dekat dan orang jauh.


Ia tidak membalas fitnah dengan fitnah.


Ia tidak menjadikan agama sebagai tameng untuk keserakahan.


Ia takut kepada Alloh ketika tidak ada manusia yang melihatnya.


---


Lembar Ketiga: Kesucian Bukan Pengakuan


Kesucian sejati tidak lahir dari seseorang yang berkata:


«“Akulah yang paling suci.”»


Kesucian lahir dari hati yang selalu merasa perlu dibersihkan.


Orang yang benar-benar dekat kepada Alloh tidak mudah menganggap semua orang sesat. Ia sadar bahwa dirinya pun dapat tergelincir apabila meninggalkan adab, ilmu, dan pertolongan Alloh.


Karena itu, pemimpin yang dilambangkan dalam sabdo ini tidak akan membangun kultus terhadap dirinya. Ia mengajarkan manusia agar tunduk kepada Alloh, bukan tunduk secara buta kepada seorang manusia.


Ia tidak meminta umat mematikan akal.


Ia justru menghidupkan ilmu, kejernihan, tanggung jawab, dan keberanian bertanya.


Ia tidak menciptakan ketergantungan batin.


Ia menuntun manusia agar mampu berdiri dalam iman, berusaha dengan benar, serta mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri.


Barang siapa mengaku sebagai penyelamat, tetapi menuntut ketaatan mutlak, mengambil harta tanpa kejelasan, memutus hubungan manusia dengan keluarganya, menanamkan ketakutan, atau menganggap dirinya tidak mungkin salah, maka pengakuannya wajib diuji dengan sangat hati-hati.


Sebab kesucian tidak memerlukan paksaan.


Kebenaran tidak takut kepada pertanyaan.


Dan keadilan tidak tumbuh dari penindasan.


---


Lembar Keempat: Pelurusan Semua Umat


Meluruskan umat tidak berarti menyeragamkan seluruh manusia.


Alloh menciptakan manusia dalam bangsa, bahasa, kebiasaan, pemikiran, dan perjalanan hidup yang beragam.


Pelurusan berarti mengembalikan manusia kepada nilai yang tidak boleh hilang:


Kejujuran.


Keadilan.


Kasih sayang.


Tanggung jawab.


Kesetiaan terhadap amanah.


Penghormatan terhadap kehidupan.


Perlindungan kepada kaum lemah.


Keadaban dalam perbedaan.


Kesungguhan mencari ilmu.


Serta kesadaran bahwa manusia tidak berhak mengambil tempat Alloh dalam menghakimi isi hati sesamanya.


Umat yang lurus bukanlah umat yang tidak pernah melakukan kesalahan.


Umat yang lurus adalah umat yang mau mengakui kesalahan, memperbaikinya, mengembalikan hak, meminta maaf, serta tidak mengulang kezaliman dengan sengaja.


---


Lembar Kelima: Musuh Ratu Adil


Musuh terbesar ratu adil bukan hanya penguasa zalim.


Musuh terbesarnya adalah sifat zalim yang dapat tumbuh dalam setiap manusia.


Keserakahan adalah musuhnya.


Kebencian adalah musuhnya.


Kesombongan adalah musuhnya.


Fanatisme buta adalah musuhnya.


Kebohongan yang dibungkus agama adalah musuhnya.


Perdagangan ketakutan adalah musuhnya.


Pemujaan kepada manusia adalah musuhnya.


Ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama adalah musuhnya.


Oleh sebab itu, peperangan pertama sang pelurus bukanlah perang mengangkat senjata, melainkan perjuangan membersihkan cara berpikir, memperbaiki tata kehidupan, menjaga hukum, mendidik umat, menghidupkan kepedulian, serta menghentikan kebiasaan menindas.


Barang siapa mengalahkan manusia lain, tetapi tidak mampu mengalahkan kerakusan dirinya, belumlah menjadi penegak keadilan.


Barang siapa berbicara tentang kedamaian, tetapi menyebarkan kebencian, belumlah membawa pelurusan.


Barang siapa mengaku membela Alloh, tetapi merendahkan makhluk-Nya tanpa hak, sedang tertipu oleh egonya sendiri.


---


Lembar Keenam: Tanda-Tanda Zaman Pelurusan


Zaman pelurusan mulai terbuka ketika:


Orang-orang jujur tidak lagi takut bersuara.


Ilmu tidak hanya dikuasai oleh orang kaya.


Anak-anak memperoleh pendidikan yang baik.


Petani, nelayan, pekerja, guru, dan rakyat kecil memperoleh penghormatan.


Hukum tidak tunduk kepada uang.


Pemimpin bersedia diperiksa.


Ulama tidak menjual fatwa.


Cendekiawan tidak menjual ilmu.


Pedagang tidak mengurangi timbangan.


Masyarakat tidak mudah dipecah oleh kabar palsu.


Agama menjadi jalan memperhalus akhlak, bukan bahan untuk saling menghina.


Perbedaan diselesaikan dengan ilmu dan musyawarah, bukan dengan amarah dan ancaman.


Pada saat nilai-nilai itu mulai hidup, sesungguhnya cahaya ratu adil telah mulai turun ke dalam kehidupan manusia, walaupun belum ada seorang pun yang memakai gelar tersebut.


---


Lembar Ketujuh: Mahkota Sang Adil


Mahkota sang adil bukanlah emas.


Mahkotanya adalah amanah.


Singgasananya bukanlah kursi kerajaan.


Singgasananya adalah kepercayaan rakyat.


Pakaiannya bukan kemewahan.


Pakaiannya adalah kesederhanaan.


Pedangnya bukan kebencian.


Pedangnya adalah hukum yang benar.


Perisainya bukan pasukan yang menakutkan.


Perisainya adalah doa orang-orang yang haknya ia jaga.


Hartanya bukan tumpukan kekayaan.


Hartanya adalah kesejahteraan masyarakat.


Kemenangannya bukan ketika musuhnya dihancurkan.


Kemenangannya adalah ketika orang zalim berhenti berbuat zalim, orang tersesat menemukan jalan pulang, dan orang yang terluka memperoleh perlindungan.


---


Lembar Kedelapan: Peringatan bagi Orang yang Mengaku


Sabdo Al-Zallāqum Bizzamān memberikan peringatan keras:


«“Jangan mudah percaya kepada siapa pun yang mengaku sebagai ratu adil hanya karena mimpi, garis keturunan, bisikan batin, gelar ruhani, pusaka, jumlah pengikut, atau cerita tentang tanda-tanda gaib.”»


Setiap pengakuan harus diuji melalui akhlak, ilmu, ketakwaan, kejujuran, kesehatan nalar, kepatuhan terhadap hukum yang adil, dan manfaat nyata bagi masyarakat.


Jangan menyerahkan harta.


Jangan menyerahkan keselamatan keluarga.


Jangan mengikuti perintah yang bertentangan dengan syariat, akal sehat, dan kemanusiaan.


Jangan membenarkan kekerasan hanya karena dilakukan atas nama kesucian.


Jangan memutus hubungan dengan orang-orang baik hanya karena diperintah seorang tokoh.


Pemimpin yang benar tidak takut diuji.


Pemimpin yang amanah tidak melarang nasihat.


Pemimpin yang adil tidak memperbudak pengikutnya.


Pemimpin yang bertakwa tidak menjadikan dirinya sejajar dengan wahyu.


---


Lembar Kesembilan: Ratu Adil dalam Diri Manusia


Setiap manusia memiliki wilayah kecil yang harus dipimpinnya.


Tubuhnya adalah wilayahnya.


Pikirannya adalah para penasihatnya.


Hatinya adalah singgasananya.


Nafsu adalah kekuatan yang harus diarahkan.


Lisan adalah utusan yang membawa pesan.


Tangan adalah pelaksana keputusan.


Keluarga adalah amanah terdekatnya.


Pekerjaan adalah tempat kejujurannya diuji.


Ketika seseorang mampu berlaku adil kepada dirinya, keluarganya, tetangganya, pekerjaannya, dan orang yang berbeda dengannya, maka ia telah menumbuhkan benih ratu adil dalam dirinya.


Jangan menunggu seorang penyelamat datang sementara engkau masih menganiaya pasanganmu.


Jangan menyerukan perubahan dunia sementara engkau menipu dalam perdagangan.


Jangan berbicara mengenai kesucian sementara engkau merendahkan orang miskin.


Jangan memohon datangnya pemimpin adil sementara engkau membenarkan ketidakadilan hanya karena dilakukan oleh kelompokmu sendiri.


---


Lembar Kesepuluh: Jalan Kembali


Jalan kembali kepada kebenaran bukan jalan yang dibangun dari ketakutan.


Jalan itu dibangun dari taubat.


Taubat bukan hanya menangis.


Taubat adalah berhenti melakukan kesalahan, menyesali perbuatan, mengembalikan hak manusia, meminta maaf, dan berusaha tidak mengulanginya.


Jalan kembali bukan hanya memperbanyak ucapan suci.


Jalan kembali adalah menjadikan ucapan suci melahirkan perbuatan yang baik.


Sholat harus menumbuhkan kedisiplinan dan mencegah keji.


Dzikir harus melembutkan hati.


Puasa harus mengendalikan kerakusan.


Sedekah harus membersihkan cinta berlebihan kepada harta.


Ilmu harus menghilangkan kesombongan.


Kepemimpinan harus menjadi pelayanan.


Kekuasaan harus menjadi penjagaan terhadap amanah.


Barang siapa semakin banyak ibadahnya tetapi semakin keras hatinya, hendaklah ia memeriksa kembali cara memahami ibadahnya.


Barang siapa semakin tinggi ilmunya tetapi semakin mudah merendahkan orang, hendaklah ia kembali belajar adab.


---


Lembar Kesebelas: Sabdo untuk Para Pemimpin


Wahai para pemimpin,


Jabatan bukan bukti bahwa Alloh mencintaimu.


Jabatan adalah ujian yang akan dimintai pertanggungjawaban.


Jangan engkau kira banyaknya orang yang tunduk berarti semua keputusanmu benar.


Jangan engkau bangun istana dari tangisan rakyat.


Jangan engkau kenyangkan keluargamu dari hak orang miskin.


Jangan engkau lindungi orang dekat yang bersalah.


Jangan engkau menghukum orang lemah untuk menyembunyikan kesalahan orang kuat.


Dengarkan kritik sebelum kritik berubah menjadi kemarahan.


Periksa kekayaanmu sebelum rakyat mempertanyakannya.


Perbaiki kebijakanmu sebelum penderitaan semakin panjang.


Pemimpin sejati tidak merasa kecil ketika meminta maaf.


Ia justru menjadi mulia karena berani mengakui kesalahan.


---


Lembar Kedua Belas: Sabdo untuk Para Ulama dan Guru


Wahai orang-orang yang membawa ilmu,


Jangan jadikan ayat sebagai tangga menuju pujian.


Jangan jadikan ketakutan umat sebagai sumber keuntungan.


Jangan menyembunyikan kebenaran karena takut kehilangan kedudukan.


Jangan memecah umat demi memperbesar pengaruh.


Ajarkan bahwa manusia wajib menghormati guru, tetapi tidak boleh menyembah guru.


Ajarkan bahwa karamah tidak lebih utama daripada istiqamah.


Ajarkan bahwa mimpi tidak menjadi dasar untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.


Ajarkan bahwa jalan ruhani harus melahirkan akhlak, kewarasan, tanggung jawab, dan kasih sayang.


Apabila ilmu membuat manusia merasa dirinya paling suci, maka ilmu itu belum turun menjadi hikmah.


---


Lembar Ketiga Belas: Sabdo untuk Seluruh Umat


Wahai seluruh umat di bumi,


Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling menghancurkan.


Jangan wariskan kebencian kepada anak-anak.


Jangan menilai manusia hanya dari suku, warna kulit, bahasa, kemiskinan, pekerjaan, atau latar belakangnya.


Jagalah bumi, sebab bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan, melainkan titipan untuk generasi yang akan datang.


Jagalah air.


Jagalah hutan.


Jagalah laut.


Jagalah hewan.


Jagalah sumber pangan.


Jangan merusak alam kemudian menyebut bencana sebagai kesalahan alam semata.


Keadilan kepada manusia tidak sempurna tanpa tanggung jawab kepada seluruh ciptaan.


---


Lembar Keempat Belas: Hari Kebangkitan Nurani


Hari kebangkitan nurani terjadi ketika manusia tidak lagi bertanya:


«“Apa keuntungan untuk diriku?”»


Melainkan mulai bertanya:


«“Apakah tindakanku membawa kebaikan dan tidak merampas hak orang lain?”»


Hari itu dimulai ketika orang kaya merasa bertanggung jawab kepada yang miskin.


Ketika orang berilmu bersedia mengajar yang belum tahu.


Ketika orang kuat melindungi yang lemah.


Ketika orang yang pernah bersalah diberi jalan untuk memperbaiki diri.


Ketika korban memperoleh keadilan.


Ketika perempuan, anak-anak, orang tua, penyandang disabilitas, dan kelompok yang sering disisihkan memperoleh perlindungan.


Inilah zaman ketika manusia tidak hanya menunggu ratu adil, tetapi bersama-sama membangun kehidupan yang adil.


---


Lembar Kelima Belas: Sabdo Penutup


Maka terdengarlah seruan dalam batin zaman:


«“Wahai manusia, jangan mencari cahaya hanya di langit, sedangkan engkau membiarkan kegelapan tumbuh dalam perbuatanmu.”»


«“Jangan menunggu pemimpin suci, sedangkan engkau tidak mau membersihkan amanah kecil yang ada di tanganmu.”»


«“Jangan mengaku membela kebenaran, apabila caramu penuh dusta dan kebencian.”»


«“Jangan mengangkat seseorang menjadi manusia tanpa salah, sebab setiap manusia tetap membutuhkan nasihat, pengawasan, dan pertolongan Alloh.”»


Ratu adil sejati tidak datang untuk dipuja.


Ia datang untuk mengembalikan hak.


Ia tidak datang untuk menciptakan ketakutan.


Ia datang untuk menghidupkan keberanian dan harapan.


Ia tidak datang untuk menjadikan manusia bergantung kepadanya.


Ia datang untuk mengingatkan bahwa seluruh kekuasaan hanyalah titipan Alloh.


Dan apabila kelak seorang pemimpin adil benar-benar hadir, janganlah ukur dirinya dari gelar, pakaian, keturunan, atau kisah gaib.


Ukurlah melalui kejujurannya.


Lihatlah cara ia memperlakukan orang yang tidak mampu membalas jasanya.


Lihatlah apakah ia berani menghukum orang dekat yang bersalah.


Lihatlah apakah hidupnya membawa ketenteraman atau ketakutan.


Lihatlah apakah ajarannya mendekatkan manusia kepada Alloh atau justru mengikat manusia kepada dirinya.


Sebab pelurusan zaman tidak dibuktikan melalui pengakuan.


Ia dibuktikan melalui tegaknya keadilan.


---


Doa Penutup Sabdo


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.


Yā Alloh, Tuhan Yang Mahaadil dan Mahabijaksana.


Luruskanlah hati kami sebelum kami berusaha meluruskan orang lain.


Bersihkanlah niat kami dari kesombongan, kerakusan, kebencian, dan keinginan menguasai manusia.


Anugerahkanlah kepada para pemimpin hati yang takut kepada-Mu, akal yang jernih, keberanian mengakui kesalahan, serta keteguhan dalam menjaga hak rakyat.


Lindungilah umat dari pemimpin zalim, guru palsu, penipu agama, fitnah, kekerasan, fanatisme buta, dan pengakuan-pengakuan kesucian yang menyesatkan.


Jadikanlah ilmu sebagai cahaya.


Jadikanlah kekuasaan sebagai pelayanan.


Jadikanlah kekayaan sebagai jalan berbagi.


Jadikanlah perbedaan sebagai ruang saling mengenal.


Jadikanlah ibadah kami melahirkan akhlak yang baik.


Apabila kami memperoleh amanah, jangan biarkan kami mengkhianatinya.


Apabila kami memiliki kekuatan, jangan biarkan kami menindas.


Apabila kami memiliki ilmu, jangan biarkan kami sombong.


Apabila kami memperoleh pujian, jangan biarkan kami lupa diri.


Tuntunlah seluruh umat manusia kepada jalan kebenaran, keadilan, kasih sayang, keselamatan, dan kedamaian yang Engkau ridhoi.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Kunci Sabdo


«“Ratu adil tidak pertama-tama turun melalui mahkota, tetapi melalui bangkitnya nurani, tegaknya amanah, dan keberanian manusia untuk berhenti berlaku zalim.”»

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh