TURUN SABDO (393)

 




TURUN SABDO (393)


MIMBAR AZMA HIJAHIYYAH


Keluasan Alam Semesta Berada di Dalam Qolbu Sejati


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Segala puji bagi Alloh, Rabb seluruh alam, Yang membentangkan langit tanpa tiang yang terlihat, menghamparkan bumi sebagai tempat berjalan, menyalakan matahari, meneduhkan malam, mengatur bintang-bintang, meniupkan angin, menurunkan hujan, menumbuhkan kehidupan, dan mengajarkan manusia untuk membaca tanda-tanda kebesaran-Nya.


Sabdo ini berbicara tentang satu rahasia yang sangat dekat, tetapi sering dicari terlalu jauh.


Manusia memandang langit dan merasa alam semesta begitu luas.

Manusia melihat gunung dan merasa dirinya kecil.

Manusia menatap samudra dan merasa pengetahuannya dangkal.

Manusia melihat bintang-bintang dan merasa perjalanannya belum seberapa.


Akan tetapi, ada satu keluasan yang tidak dapat diukur dengan jarak, tidak dapat ditimbang dengan angka, tidak dapat dibatasi oleh dinding, dan tidak dapat dipetakan dengan arah.


Keluasan itu adalah keluasan qolbu.


Bukan qolbu sebagai daging yang berdetak di dalam dada, melainkan qolbu dalam makna batin: tempat manusia menerima iman, mengolah rasa, menyimpan niat, menimbang pilihan, merasakan takut, berharap, mencintai, menyesal, memaafkan, dan kembali kepada Alloh.


Maka ungkapan:


“Keluasan alam semesta berada di dalam qolbu sejati”


bukan berarti alam semesta secara harfiah masuk ke dalam tubuh manusia. Maksudnya adalah, seluruh tanda kebesaran alam dapat dipahami, direnungkan, disyukuri, dan dijadikan jalan kembali kepada Alloh melalui qolbu yang hidup.


Qolbu sejati adalah qolbu yang tidak berhenti pada bentuk.


Ia melihat air, lalu mengingat rahmat.

Ia melihat api, lalu mengingat kekuatan dan peringatan.

Ia melihat angin, lalu mengingat perkara yang tidak tampak tetapi terasa.

Ia melihat bumi, lalu belajar rendah hati.

Ia melihat langit, lalu belajar tentang keluasan.

Ia melihat kematian, lalu belajar tentang batas waktu.

Ia melihat kehidupan, lalu belajar tentang amanah.


Qolbu sejati bukan qolbu yang mengaku telah mengetahui semua rahasia.

Qolbu sejati justru semakin tunduk ketika pengetahuannya bertambah.


Semakin ia melihat kebesaran ciptaan, semakin ia sadar bahwa dirinya terbatas.

Semakin ia memahami hikmah, semakin ia berhati-hati dalam berbicara.

Semakin ia banyak berdoa, semakin ia sadar bahwa segala daya hanyalah milik Alloh.


Bab Pertama


Mimbar yang Berada di Dalam Diri


Mimbar biasanya dipahami sebagai tempat seseorang berdiri dan menyampaikan pesan. Akan tetapi, Mimbar Azma Hijahiyyah mengajarkan bahwa sebelum manusia berbicara kepada orang lain, ia harus lebih dahulu berbicara kepada dirinya sendiri.


Ada mimbar di dalam diri.


Di atas mimbar itu, niat berbicara.

Di atas mimbar itu, hawa nafsu berbicara.

Di atas mimbar itu, ketakutan berbicara.

Di atas mimbar itu, pengalaman lama berbicara.

Di atas mimbar itu, iman juga berbicara.


Pertanyaannya bukan apakah di dalam diri ada suara, melainkan suara mana yang paling sering diberi tempat tertinggi.


Apabila hawa nafsu duduk di atas mimbar, ia akan berkata:


“Aku harus menang.”

“Aku harus dipuji.”

“Aku harus diakui.”

“Aku harus lebih tinggi dari orang lain.”

“Aku tidak boleh terlihat salah.”


Apabila ketakutan duduk di atas mimbar, ia akan berkata:


“Aku tidak mampu.”

“Aku pasti gagal.”

“Aku akan ditinggalkan.”

“Aku tidak layak.”

“Aku tidak punya jalan.”


Apabila luka lama duduk di atas mimbar, ia akan berkata:


“Semua orang akan menyakitiku.”

“Aku tidak akan percaya lagi.”

“Aku harus membalas.”

“Aku tidak akan memaafkan.”


Namun apabila iman duduk di atas mimbar, ia akan berkata:


“Alloh masih membuka jalan.”

“Aku boleh lemah, tetapi tidak boleh menyerah.”

“Aku boleh sedih, tetapi tidak boleh kehilangan arah.”

“Aku boleh terluka, tetapi tidak boleh berubah menjadi zalim.”

“Aku boleh gagal, tetapi aku harus belajar.”

“Aku boleh kehilangan sesuatu, tetapi aku tidak boleh kehilangan Alloh.”


Maka sebelum manusia menasihati dunia, ia harus menertibkan mimbar di dalam qolbunya.


Bab Kedua


Azma: Besarnya Tekad yang Ditundukkan


Azma mengandung isyarat tentang tekad yang besar.


Namun tekad yang besar tidak selalu suci.


Ada tekad besar untuk menolong.

Ada tekad besar untuk menguasai.

Ada tekad besar untuk membangun.

Ada tekad besar untuk membalas.

Ada tekad besar untuk memberi manfaat.

Ada tekad besar untuk menjadi terkenal.


Karena itu, tekad harus dibersihkan.


Tekad yang bersih tidak hanya bertanya:


“Apa yang ingin aku capai?”


Tetapi juga bertanya:


“Untuk siapa aku melakukan ini?”

“Apakah cara yang kupakai benar?”

“Apakah keberhasilanku akan membawa manfaat?”

“Apakah aku tetap menjaga adab?”

“Apakah aku melukai orang lain demi mencapai tujuan?”

“Apakah aku mendekat kepada Alloh atau justru semakin jauh?”


Tekad yang besar tanpa adab dapat menjadi kesombongan.

Tekad yang besar tanpa ilmu dapat menjadi kecerobohan.

Tekad yang besar tanpa sabar dapat menjadi kemarahan.

Tekad yang besar tanpa doa dapat menjadi ketergantungan kepada diri sendiri.


Maka Azma yang sejati adalah tekad yang kuat tetapi tetap bersujud.


Ia berjalan, tetapi tidak sombong.

Ia berjuang, tetapi tidak menindas.

Ia memiliki cita-cita, tetapi tidak menghalalkan segala cara.

Ia ingin maju, tetapi tidak meninggalkan yang lemah.

Ia ingin berhasil, tetapi tidak melupakan bahwa hasil berada dalam ketetapan Alloh.


Bab Ketiga


Hijahiyyah: Perjalanan dari Keramaian Menuju Kejernihan


Hijahiyyah dapat dibaca sebagai lambang hijrah batin.


Hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat.


Ada orang yang berpindah kota tetapi tetap membawa kesombongan yang sama.

Ada orang yang berganti lingkungan tetapi tetap menyimpan kebencian yang sama.

Ada orang yang mengenakan pakaian baru tetapi tidak memperbarui akhlaknya.


Hijrah sejati dimulai ketika manusia berpindah:


Dari marah menuju sabar.

Dari riya menuju ikhlas.

Dari malas menuju disiplin.

Dari dendam menuju maaf.

Dari keluh kesah menuju syukur.

Dari bergantung kepada manusia menuju bertawakal kepada Alloh.

Dari merasa paling benar menuju kerendahan hati.

Dari banyak bicara menuju banyak memperbaiki diri.


Hijrah batin adalah perjalanan yang sunyi.


Tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Tidak selalu mendapat pujian.

Tidak selalu disaksikan banyak orang.

Namun Alloh mengetahui setiap pergulatan yang terjadi di dalam dada.


Seseorang mungkin terlihat biasa, tetapi setiap malam ia berjuang menahan kemarahan.

Seseorang mungkin tidak dikenal, tetapi ia sedang belajar memaafkan orang yang melukainya.

Seseorang mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi ia menjaga diri dari mengambil yang bukan haknya.

Seseorang mungkin tidak banyak bicara, tetapi ia sedang membangun rumah cahaya di dalam akhlaknya.


Itulah hijrah yang hidup.


Bab Keempat


Qolbu Sejati Bukan Tempat Kesombongan Ruhani


Qolbu sejati tidak berkata:


“Aku lebih suci.”

“Aku lebih tinggi.”

“Aku lebih dekat.”

“Aku lebih tahu rahasia.”

“Aku lebih khusus daripada orang lain.”


Sebab kesombongan yang dibungkus bahasa ruhani tetaplah kesombongan.


Qolbu yang benar semakin halus kepada manusia karena ia sadar bahwa setiap orang sedang berjuang.


Ia tidak mudah merendahkan orang yang belum mengerti.

Ia tidak mudah menghina orang yang sedang jatuh.

Ia tidak mudah menertawakan orang yang sedang mencari jalan.

Ia tidak menggunakan agama untuk meninggikan dirinya.


Qolbu sejati memahami bahwa ilmu bukan mahkota untuk pamer, tetapi amanah untuk diamalkan.


Semakin dalam ilmu, semakin lembut ucapan.

Semakin banyak pengalaman, semakin sedikit merasa paling tahu.

Semakin dekat kepada Alloh, semakin takut menyakiti makhluk-Nya.


Apabila seseorang merasa perjalanan ruhani membuatnya lebih tinggi dari semua orang, maka ia harus berhenti sejenak dan memeriksa dirinya.


Barangkali yang tumbuh bukan cahaya, tetapi keakuan.


Bab Kelima


Alam Semesta sebagai Cermin Qolbu


Alam semesta tidak hanya berada di luar diri. Ia juga memantulkan keadaan yang terjadi di dalam diri.


Ada langit di dalam qolbu.


Ketika qolbu lapang, masalah tidak langsung hilang, tetapi manusia dapat melihatnya dengan jernih.


Ada malam di dalam qolbu.


Ketika manusia kehilangan arah, ia merasa gelap walaupun berada di tengah keramaian.


Ada matahari di dalam qolbu.


Ketika iman hidup, satu nasihat dapat menerangi banyak kebingungan.


Ada hujan di dalam qolbu.


Air mata terkadang turun untuk membersihkan beban yang terlalu lama disimpan.


Ada badai di dalam qolbu.


Marah, kecewa, takut, cemas, dan luka dapat datang bersamaan.


Ada musim di dalam qolbu.


Tidak setiap hari manusia merasa kuat.

Tidak setiap waktu manusia merasa tenang.

Tidak setiap masa terasa subur.


Ada masa menanam.

Ada masa merawat.

Ada masa menunggu.

Ada masa memanen.

Ada masa kehilangan.

Ada masa memulai kembali.


Maka orang yang memahami qolbunya tidak akan memaksa dirinya selalu tampak kuat.


Ia belajar jujur.


Ketika lelah, ia beristirahat.

Ketika salah, ia meminta maaf.

Ketika bingung, ia mencari ilmu.

Ketika takut, ia berdoa.

Ketika marah, ia menunda keputusan.

Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur.

Ketika mendapat ujian, ia berusaha dan bertawakal.


Bab Keenam


Keluasan Bukan Banyaknya Pengetahuan


Banyak mengetahui belum tentu berhati luas.


Ada orang yang hafal banyak kalimat, tetapi mudah menghina.

Ada orang yang banyak membaca, tetapi tidak mau mendengar.

Ada orang yang pandai berbicara tentang kasih sayang, tetapi kasar kepada keluarganya.

Ada orang yang berbicara tentang ketenangan, tetapi menciptakan ketakutan.


Keluasan qolbu bukan diukur dari banyaknya istilah, tetapi dari besarnya kemampuan untuk menjaga akhlak.


Mampukah ia tetap santun ketika berbeda pendapat?

Mampukah ia menahan diri ketika dihina?

Mampukah ia mengakui kesalahan?

Mampukah ia memaafkan tanpa harus merasa lebih suci?

Mampukah ia membantu tanpa mengungkit?

Mampukah ia menerima takdir tanpa berhenti berusaha?


Itulah ukuran yang lebih berat.


Ilmu yang masuk ke kepala dapat membuat seseorang pandai.

Ilmu yang turun ke qolbu dapat membuat seseorang bijaksana.

Ilmu yang menjadi amal dapat membuat seseorang bermanfaat.


Bab Ketujuh


Qolbu yang Sempit


Qolbu menjadi sempit ketika semua perkara dipusatkan kepada diri sendiri.


“Aku yang paling menderita.”

“Aku yang paling berjasa.”

“Aku yang paling benar.”

“Aku yang paling tidak dihargai.”

“Aku yang paling pantas.”


Semakin besar “aku”, semakin sempit qolbu.


Qolbu yang sempit sulit menerima nasihat karena merasa diserang.

Sulit meminta maaf karena merasa direndahkan.

Sulit bersyukur karena selalu membandingkan.

Sulit tenang karena ingin mengendalikan semua keadaan.


Maka obat pertama dari kesempitan adalah menyadari keterbatasan.


Tidak semua harus dimiliki.

Tidak semua harus dijawab.

Tidak semua harus dimenangkan.

Tidak semua harus dipaksakan.

Tidak semua orang harus memahami kita.

Tidak semua keinginan harus menjadi kenyataan.


Sebagian perkara harus diperjuangkan.

Sebagian perkara harus ditunggu.

Sebagian perkara harus dilepaskan.

Sebagian perkara harus diserahkan kepada Alloh.


Bab Kedelapan


Qolbu yang Luas


Qolbu yang luas tidak berarti tidak pernah sedih.


Ia tetap dapat menangis, tetapi tidak tenggelam dalam putus asa.


Qolbu yang luas tidak berarti selalu setuju.


Ia dapat berbeda, tetapi tidak merendahkan.


Qolbu yang luas tidak berarti membiarkan kezaliman.


Ia dapat tegas, tetapi tidak kehilangan adab.


Qolbu yang luas tidak berarti tidak pernah kecewa.


Ia dapat terluka, tetapi tidak menjadikan lukanya alasan untuk melukai orang lain.


Qolbu yang luas memiliki ruang untuk:


Mengakui kelemahan.

Belajar dari kesalahan.

Memaafkan.

Menerima nasihat.

Mengubah keputusan.

Mendengarkan orang lain.

Menjaga rahasia.

Menolong tanpa pamrih.

Berdiam ketika ucapan hanya akan memperkeruh keadaan.


Keluasan qolbu adalah kemampuan menampung kenyataan tanpa kehilangan arah kepada Alloh.


Bab Kesembilan


Jagat Kecil dan Jagat Besar


Manusia sering disebut sebagai jagat kecil karena di dalam dirinya terdapat banyak tanda yang juga terlihat di alam.


Di alam ada pusat keseimbangan.

Di dalam diri ada akal yang menimbang.


Di alam ada air yang menghidupkan.

Di dalam diri ada kasih sayang yang melembutkan.


Di alam ada api yang menghangatkan dan membakar.

Di dalam diri ada semangat yang membangun dan amarah yang merusak.


Di alam ada angin yang bergerak.

Di dalam diri ada keinginan yang terus berubah.


Di alam ada tanah yang kokoh.

Di dalam diri ada keteguhan.


Di alam ada malam.

Di dalam diri ada kesunyian.


Di alam ada fajar.

Di dalam diri ada harapan baru.


Namun manusia bukan Tuhan kecil dan bukan bagian dari zat Alloh.


Manusia tetap makhluk.

Alloh tetap Al-Khāliq, Sang Pencipta.


Manusia terbatas.

Alloh Mahasempurna.


Manusia membutuhkan.

Alloh Mahakaya dan tidak membutuhkan apa pun.


Karena itu, membaca alam di dalam qolbu tidak boleh membawa manusia kepada penyatuan zat, pengakuan ketuhanan, atau keyakinan bahwa manusia memiliki kuasa mutlak.


Semua harus kembali kepada tauhid.


Bab Kesepuluh


Keluasan yang Lahir dari Tauhid


Tauhid membuat qolbu menjadi lapang karena manusia tidak lagi menggantungkan seluruh hidupnya kepada penilaian makhluk.


Ia bekerja, tetapi hasil tidak disembah.

Ia mencintai, tetapi manusia tidak dijadikan Tuhan.

Ia memiliki harta, tetapi harta tidak menguasai jiwanya.

Ia memiliki jabatan, tetapi jabatan tidak membuatnya lupa diri.

Ia mempunyai ilmu, tetapi ilmu tidak menjadikannya sombong.


Orang yang bertauhid memahami:


Rezeki bukan hanya uang.

Kemenangan bukan hanya mengalahkan orang lain.

Kekayaan bukan hanya banyaknya harta.

Kehormatan bukan hanya tingginya kedudukan.

Kedekatan kepada Alloh bukan hanya banyaknya ucapan ruhani.


Rezeki juga berupa tubuh yang sehat.

Pikiran yang jernih.

Keluarga yang rukun.

Teman yang baik.

Kemampuan untuk tidur dengan tenang.

Kesempatan memperbaiki kesalahan.

Hati yang masih dapat menangis ketika mengingat dosa.


Tauhid menempatkan semuanya pada ukuran yang benar.


Bab Kesebelas


Menertibkan Isi Qolbu


Qolbu sejati bukan qolbu yang kosong dari semua rasa, melainkan qolbu yang tertib.


Cinta ditempatkan pada jalan yang benar.

Marah ditempatkan pada batas yang benar.

Takut diarahkan kepada kehati-hatian.

Harapan diarahkan kepada usaha dan doa.

Sedih diarahkan kepada muhasabah.

Gembira diarahkan kepada syukur.


Apabila semua rasa tidak ditertibkan, qolbu akan seperti kerajaan tanpa pemimpin.


Marah mengambil alih.

Takut menguasai.

Keinginan memerintah.

Luka lama menentukan keputusan.


Karena itu, manusia membutuhkan dzikir, doa, ilmu, ibadah, istirahat, nasihat, dan lingkungan yang baik.


Bukan untuk menghapus kemanusiaan, tetapi untuk menertibkannya.


Bab Kedua Belas


Pintu-Pintu Keluasan


Ada beberapa pintu yang membuat qolbu menjadi luas.


Pintu Syukur


Syukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah.


Syukur adalah melihat nikmat dengan sadar lalu menggunakannya pada jalan yang baik.


Mata disyukuri dengan menjaga pandangan.

Lisan disyukuri dengan ucapan yang benar.

Tangan disyukuri dengan menolong.

Harta disyukuri dengan berbagi.

Ilmu disyukuri dengan mengamalkan.

Waktu disyukuri dengan tidak menyia-nyiakannya.


Pintu Sabar


Sabar bukan diam tanpa ikhtiar.


Sabar adalah tetap berada di jalan yang benar ketika hasil belum terlihat.


Sabar adalah tidak membalas keburukan dengan keburukan yang lebih besar.

Sabar adalah memberi waktu kepada proses.

Sabar adalah menahan lisan ketika marah.

Sabar adalah tetap berbuat baik walaupun tidak dipuji.


Pintu Taubat


Taubat membuat qolbu luas karena manusia berhenti menyembunyikan kesalahan dari dirinya sendiri.


Ia mengakui.

Ia menyesal.

Ia memohon ampun.

Ia memperbaiki.

Ia tidak membanggakan dosa masa lalu.

Ia tidak putus asa dari rahmat Alloh.


Pintu Maaf


Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman.


Memaafkan adalah membebaskan qolbu dari keinginan terus-menerus untuk membalas.


Batas tetap boleh dijaga.

Jarak tetap boleh dibuat.

Keadilan tetap boleh diperjuangkan.


Namun qolbu tidak dibiarkan menjadi rumah kebencian.


Pintu Ikhlas


Ikhlas adalah bekerja tanpa menjadikan pujian manusia sebagai sumber kehidupan.


Ketika dipuji, tidak terbang.

Ketika dilupakan, tidak runtuh.

Ketika usaha tidak diketahui, tetap berbuat baik.


Ikhlas membuat qolbu tidak mudah diperbudak oleh penilaian orang lain.


Bab Ketiga Belas


Saat Alam Terasa Sempit


Ada masa ketika hidup terasa sempit.


Rezeki berat.

Hubungan retak.

Tubuh sakit.

Harapan tertunda.

Doa belum terlihat jawabannya.

Orang yang dipercaya mengecewakan.

Rencana besar berhenti di tengah jalan.


Pada masa seperti itu, jangan memaksa diri mengucapkan kalimat besar apabila qolbu sedang sangat lemah.


Mulailah dari yang sederhana.


Bernapas dengan tenang.

Berwudhu.

Duduk.

Mengurangi ucapan yang tidak perlu.

Menangis di hadapan Alloh.

Menyebut satu per satu nikmat yang masih tersisa.

Meminta bantuan kepada orang yang amanah.

Mengerjakan satu kewajiban pada satu waktu.


Keluasan tidak selalu datang sebagai perasaan agung.


Terkadang keluasan datang sebagai kemampuan bertahan satu hari lagi tanpa menyerah.


Bab Keempat Belas


Jangan Mengukur Kedalaman dari Pengalaman Aneh


Perjalanan qolbu tidak diukur dari banyaknya mimpi, penampakan, suara batin, rasa bergetar, cahaya yang terlihat, atau pengalaman yang sulit dijelaskan.


Pengalaman seperti itu bisa memiliki banyak sebab: pikiran, emosi, kelelahan, sugesti, kondisi tubuh, atau pengalaman spiritual pribadi yang tetap harus ditimbang dengan hati-hati.


Ukuran yang lebih aman adalah akhlak.


Apakah setelah perjalanan batin seseorang menjadi lebih jujur?

Lebih amanah?

Lebih sabar?

Lebih bertanggung jawab?

Lebih lembut kepada keluarga?

Lebih rajin bekerja?

Lebih sedikit menyakiti orang lain?


Apabila pengalaman ruhani bertambah tetapi akhlak memburuk, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa.


Qolbu sejati tidak mengejar keanehan.


Ia mengejar ridha Alloh.


Bab Kelima Belas


Menjadi Langit bagi Orang Lain


Keluasan qolbu tidak berhenti pada diri sendiri.


Orang yang qolbunya luas dapat menjadi tempat teduh bagi orang lain.


Ia tidak harus menyelesaikan semua masalah.

Kadang ia cukup mendengar.


Ia tidak harus selalu memberi nasihat.

Kadang ia cukup hadir.


Ia tidak harus memiliki banyak harta.

Kadang satu piring makanan sudah sangat berarti.


Ia tidak harus berbicara panjang.

Kadang satu kalimat yang lembut menyelamatkan seseorang dari keputusasaan.


Menjadi langit bagi orang lain berarti:


Tidak cepat menghakimi.

Tidak menyebarkan rahasia.

Tidak menambah beban orang yang sudah terluka.

Tidak memanfaatkan kelemahan orang lain.

Tidak menjadikan pertolongan sebagai alat menguasai.


Bab Keenam Belas


Ujian Terbesar Keluasan Qolbu


Ujian keluasan bukan ketika semua orang baik kepada kita.


Ujian terbesar datang ketika:


Kita difitnah.

Kita dilupakan.

Jasa kita tidak disebut.

Niat baik disalahpahami.

Orang yang ditolong berbalik menyakiti.

Doa terasa lama dijawab.


Pada saat seperti itu, manusia akan melihat isi qolbunya sendiri.


Apakah ia tetap adil?

Apakah ia menjaga lisannya?

Apakah ia tidak menyebarkan aib?

Apakah ia tidak memukul rata semua manusia?

Apakah ia tidak menggunakan nama Alloh untuk membenarkan dendamnya?


Keluasan qolbu bukan kelemahan.


Ia adalah kekuatan yang telah ditertibkan.


Bab Ketujuh Belas


Menjaga Batas


Qolbu luas bukan berarti semua orang boleh masuk tanpa batas.


Kasih sayang membutuhkan kebijaksanaan.

Kepercayaan membutuhkan bukti.

Pertolongan membutuhkan kemampuan.

Kedekatan membutuhkan adab.


Ada orang yang harus dimaafkan tetapi tidak harus diberi akses yang sama.

Ada orang yang harus didoakan tetapi perlu dijaga jaraknya.

Ada perkara yang harus diterima tetapi tidak boleh diulang.


Keluasan tanpa batas dapat berubah menjadi kecerobohan.

Ketegasan tanpa kasih sayang dapat berubah menjadi kekerasan.


Maka qolbu sejati belajar menyeimbangkan keduanya.


Bab Kedelapan Belas


Alam Semesta di Dalam Satu Keputusan


Terkadang seluruh keluasan hidup berubah karena satu keputusan kecil.


Memilih diam daripada menghina.

Memilih jujur daripada menipu.

Memilih meminta maaf daripada mempertahankan gengsi.

Memilih berhenti daripada terus merusak.

Memilih bangkit daripada berlarut dalam penyesalan.

Memilih mencari pertolongan daripada menyimpan semuanya sendirian.


Satu keputusan dapat membuka langit baru di dalam qolbu.


Sebab perubahan besar tidak selalu dimulai dari perkara besar.


Ia sering dimulai dari satu niat yang benar dan satu langkah yang dijaga.


Bab Kesembilan Belas


Sabdo untuk Orang yang Sedang Mencari Diri


Wahai jiwa yang sedang mencari jalan, jangan terlalu sibuk mengejar nama besar sampai lupa memperbaiki hal kecil.


Jangan terlalu jauh mencari tanda, sedangkan tanggung jawab di depan mata belum selesai.


Jangan terlalu tinggi berbicara tentang langit, sementara orang tua, pasangan, anak, saudara, tetangga, dan pekerjaan belum diperlakukan dengan baik.


Jangan mengaku membawa cahaya apabila ucapanmu membuat orang lain semakin takut, bingung, dan bergantung kepadamu.


Cahaya yang benar menuntun orang kepada Alloh, tanggung jawab, akhlak, ilmu, dan kemandirian.


Bukan kepada pengkultusan diri.


Bab Kedua Puluh


Sabdo Peneguhan


Wahai qolbu, lapanglah dengan mengingat Alloh.


Jangan jadikan kesalahan masa lalu sebagai penjara tanpa pintu.

Jangan jadikan pujian sebagai makanan utama.

Jangan jadikan kegagalan sebagai identitas.

Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk berubah zalim.


Kembalilah.


Kembalilah kepada doa.

Kembalilah kepada sholat.

Kembalilah kepada kejujuran.

Kembalilah kepada tanggung jawab.

Kembalilah kepada keluarga yang membutuhkan kelembutanmu.

Kembalilah kepada pekerjaan yang harus dituntaskan.

Kembalilah kepada Alloh dengan hati yang tidak merasa suci.


Langit yang luas tidak pernah meminta pujian karena keluasannya.

Matahari tidak menagih terima kasih setiap kali terbit.

Bumi tidak menyebut jasanya setiap kali menumbuhkan makanan.


Belajarlah dari alam.


Berbuatlah baik tanpa terlalu sibuk mengumumkan kebaikanmu.


Khatimah Sabdo


Mimbar Azma Hijahiyyah adalah mimbar kesadaran.


Ia tidak didirikan untuk meninggikan manusia, tetapi untuk merendahkan keakuan.


Ia tidak dibuka untuk mengejar kesaktian, tetapi untuk membangun keteguhan.


Ia tidak dibaca untuk melarikan diri dari kenyataan, tetapi untuk menata kenyataan dengan qolbu yang lebih jernih.


Keluasan alam semesta berada di dalam qolbu sejati ketika manusia mampu membaca seluruh kehidupan sebagai tanda kebesaran Alloh.


Ia melihat nikmat lalu bersyukur.

Ia melihat ujian lalu belajar.

Ia melihat kelemahan lalu memohon pertolongan.

Ia melihat kesalahan lalu bertaubat.

Ia melihat orang lain lalu menjaga kasih sayang.

Ia melihat kematian lalu memperbaiki hidup.


Pada akhirnya, keluasan terbesar bukanlah mampu mengetahui segala sesuatu.


Keluasan terbesar adalah tetap menjadi hamba ketika diberi ilmu, tetap rendah hati ketika diberi kedudukan, tetap amanah ketika diberi kekuasaan, tetap bersyukur ketika diberi nikmat, dan tetap berharap kepada Alloh ketika keadaan sedang gelap.


Doa Penutup


Yā Alloh, lapangkanlah qolbu kami dengan iman.


Bersihkanlah niat kami dari riya, kesombongan, dendam, iri, dan keinginan untuk meninggikan diri.


Jadikanlah ilmu yang kami terima sebagai jalan menuju akhlak yang lebih baik.


Jadikanlah kesedihan kami sebagai pintu kedekatan, bukan pintu keputusasaan.


Jadikanlah kekuatan kami sebagai perlindungan bagi yang lemah, bukan alat untuk menindas.


Jadikanlah lisan kami lembut tanpa kehilangan kebenaran, dan tegas tanpa kehilangan kasih sayang.


Yā Muqallibal-qulūb, teguhkanlah qolbu kami di atas agama-Mu.


Yā Fattāḥ, bukakanlah pintu pemahaman yang benar.


Yā Hādī, tuntunlah kami ketika jalan terasa kabur.


Yā Nūr, terangilah batin kami dengan iman dan kebijaksanaan.


Yā Salām, turunkanlah ketenangan ke dalam dada kami.


Yā Raḥmān, jangan biarkan kami menjadi keras setelah menerima ilmu.


Yā Raḥīm, ampunilah kesalahan kami yang tampak maupun yang tersembunyi.


Jadikanlah qolbu kami luas untuk memaafkan, kuat untuk bertahan, jernih untuk menimbang, lembut untuk mengasihi, dan tunduk untuk menyembah-Mu.


Jangan jadikan kami orang yang berbicara tentang cahaya tetapi lupa menjadi manfaat.


Jangan jadikan kami orang yang mencari rahasia langit tetapi mengabaikan amanah di bumi.


Terimalah langkah kecil kami, perbaiki niat kami, cukupkan rezeki kami, lindungi keluarga kami, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

AYAT NURUL AWWAL 289-500

Apa Manfaat Nama Ruh